Pages

Sunday, April 5, 2026

ANWAR FUADY

 


ANWAR FUADY, (Berita Lawas). "Kalau aku tidak meninggalkan Palembang tahun 60an, barangkali aku akan jadi bajingan tengik," kalimat ini meluncur spontan dari mulut Anwar Fuady. Masa remajanya penuh dengan liku-liku kenakalan. Saban Minggu, minimal sekali ia baku hantam. Tak jarang pula mukanya pulang ke rumah memar dan bengkak-bengkak. 

"Aku punya bakat jadi ba jingan, itu kata kawan-kawan sepermainan. Setelah aku merenung, lalu aku putuskan preman bukan bidangku, dan akupun hengkang ke Jakarta, " ujarnya. Dengan modal apa adanya, lelaki kelahiran Palembang, 14 Maret 1947 ini cari nasib ke ibukota. Perjalanannya tak mulus, ia sempat terlunta-lunta. Katanya, ia tanpa sanak saudara di Tanah betawi. Modalnya hanya semangat dan keyakinan. 

Langkahnya yang terseok-seok itu, membuatnya berani bertarung apa saja. yang penting perut selamat. Kenyataan itu membuatnya menggelandang di Terminal Tanah Abang. "Karena itu aku pernah berumah di terminal, bergaul dengan para bromocorah, " kenangnya.

Rupanya begitu sampai di Jakarta, niatnya hanya satu, ingin jadi bintang film. Ingin jadi terkenal. Namun keinginannya tak cepat terkabul. Meski punya niat, namun nyali masih juga ciut berhadapan dengan bintang film, apalagi produser. 

"Apa saja aku kerjakan untuk cari hidup, " katanya. Berangkat dari kelas paling bawah tidak membuat Anwar Fuady minder. Malahan semangatnya semakin membara. "Aku mengikuti beberapa kursus-kursus dan kegiatan apa saja. Langkah untuk masuk kesini peran belum juga terkuak. Tapi keinginan itu terus membara,".

Sejak SD ia telah gemar menonton, kebetulan rumahnya sangat dekat dengan bioskop. Sehingga hampir semua film Barat tak luput dilahapnya. "Waktu itu anak-anak dibawah umur 17 tahun dilarang menonton, karena tidak cukup umur. Aku tidak habis akal. Penjaga bioskop aku ajak main mata. Supaya aku bisa lolos masuk setiap nonton penjaga karcis kuberikan tip. Kalau sudah pulang dari nonotn, maka lagakkupun tak ubahnya seperti bintang film yang baru aku saksikan, " katanya dengan tertawa. Gila nonton membuatnya bercita-cita jadi bintang film. 

Sampai tahun 70, film belum memberikan nafas, iapun menyelonong ke tv. Dari layar kaca debutnya dimulai. Tahun 1978 beneranya seni peran mulai berkibar. Sampai sekarang ia telah membintangi puluhan sinetron. Melihat kemampuannya di seni peran, sutradara Bahcrum Halilintar memasangnya untuk film "Mendung tak selamanya kelabu (1982), menyusul kemudian film-film Sunan Kalijaga (1983), Syech Siti Jenar (1983), Merangkul Langit (1985), Arini (1986), Ayu dan Ayu (1987), Suami (1988) , Lupus V (1991) dan Kuberikan Segalanya (1992).

"Film hanya bisa top atau populer, namun tak menjanjikan apa-apa untuk masa depan. Maka, bagi aku seni peran hanya sampingan, semacam hobby. Prioritas utama adalah bekerja," katanya. Cukup banyak tawaran main film yang ditolaknya. Adanya yang memberikan honor yang menggiurkan, namun harus beradegan ranjang. "Meski aku begini, untuk menerima peran harus pilih-pilih. Berapa jutapun dibayar kalau beradegan ranjang aku pasti tolak. Aku punya anak bini, dan kita ini orang timur, hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi masalah besar. 

Mantan koordinator artis Parfi periode 83/86 dan periode 86/89 ini sempat menjadi Corporate Secretary di PT. Mas Ayu dan Kiagoes. Ia juga menjadi staff direksi sebuah perusahaan kontraktor Elektoroni. Karena kesibukannya di kantor membuat Sanggar Gending Sriwijaya, pimpinannya ikut terlunta-lunta. Padahal sanggar pimpinannya nyaris sebulan dua kali tampil di TVRI, baik membawakan fragmen maupun drama televisi. ~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993


No comments:

Post a Comment