S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan.
Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah.
"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu.
Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar.
Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia.
Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang.
Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu.
Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film.
Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.
Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.
Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun.
Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang.
Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku.
Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988

No comments:
Post a Comment