Showing posts with label aktor Indonesia. Show all posts
Showing posts with label aktor Indonesia. Show all posts

Thursday, April 2, 2026

S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON


 S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. 

Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah. 

"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu. 

Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar. 

Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia. 

Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang. 

Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu. 

Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja  bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama  kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film. 

Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.

Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.



Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun. 

Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang. 

Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku. 

Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988

Saturday, March 28, 2026

DODDY SUKMA, TELAH TIADA


 DODDY SUKMA, TELAH TIADA  (Kabar Lawas). Doddy Sukma Wijaya pemain film yang sering berperan sebagai dokter, hari Senin, 21 Januari 1991 pukul 11.50 WIB telah berpulang kerahmatullah dalam usia 49 tahun. Almarhum mengidap penyakit lever yang di derita beberapa minggu belakangan. Hari Sabut, 5 Januari 1991, almarhum di bawa ke Rumah Sakit selama seminggu, karena penyakit  yang diderita makin parah akhirnya atas saran dokter, almarhum harus dipindahkan ke Paviliun yang khusus menangani penderita penyakit lever. 

Selama berada di Pavilyun dari tanggal 12 Januari 1991 keadaan almarhum masih belum ada perubahan, ia minta pada keluarganya untuk di bawa pulang kerumah. "Saya ingin bertemu keluarga", kata Kartika putri pertama almarhum. Almarhum segera di bawa pulang dan pada hari Minggu, 20 Januari 1991 tepat pukul 02.00 WIB dini hari almarhum dalam keadaan kritis.

Semenjak itulah, almarhum sempat memberikan pesan-pesan terakhir pada keluarganya, isteri dan putra putrinya. Antara lain pesannya, agar isteri dan putra putrinya jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu, selalu berziarah ke makam ayah untuk mengirim doa. 

Pesan terakhir disampaikan kepada isterinya agar menjaga anak-anaknya baik-baik. 

Pukul 17.00 WIB almarhum di makamkan di pemakaman Umum Karet Jakarta. Kawan-kawan seprofesi yang hadir saat itu antara lain Ade Irawan, Agus Melasz, El Manik, Irwinsyah serta karyawan TVRI, Mardali Syarief dan banyak lagi artis serta karyawan film yang mengantarkan dari rumah duka hingga ke pemakaman. Salah satu kawan akrab yang sering menjadi lawan mainnya adalah Ade Irawan. "Saya merasa benar-benar kehilangan seorang sahabat, sebab mas Doddy ternyata banyak memberikan input tentang masalah agama. Walau dia lagi suting sembahyang lima waktu tak pernah di tinggalkan. Kadang kadang saya juga ditegur agar banyak-banyak beristighfar, selalu ingat kepada Allah SWT. Saat saya temui dirumah sakit seminggu setelah dirawat mas Doddy bilang bahwa pekerjaannya yang terakhir beristighfar dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, " jelas Ade sambil mengenang saat pertemuan terakhir dengan almarhum. 

Doddy Sukma yang dilahirkan di Betawi, 11 Juli 1941 mulai terjun kedunia film tahun 1972 lewat film pertama "Samtidar". Doddy telah bermain lebih dari 50 film, yang terkesan saat dia memerankan Umar Wirahadikusumah pada film penumpasan G 30 S PKI.

Sebelum meninggal, Doddy SUkma telah menandatangani kontrak film Catatan Si Emon berpasangan dengan Ade Irawan. Almarhum mengusulkan kepada sutradara dan produser agar peranannya di gantikan saja dengan orang lain, sebab dia disarankan istirahat paling kurang tiga bulan. Sedang dalam sinetron TV yang terakhir almarhum main dalam cerita Cak Gaol yang ditayangkan di TVRI. Almarhum meninggalkan seorang isteri bernama Ny. Noverny, tiga orang putri Kartika, Sita Dewi, Yusnita Irawati serta dua orang putra , Doddy Mulyono dan Feby Darmawan. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991


Wednesday, February 25, 2026

JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Wednesday, January 7, 2026

DOLLY MARTIN

 


DOLLY MARTIN, AWAL MASUK AKTING. Nasib memang sulit di tebak. Setidaknya hal itu berlaku bagi lelaki kelahiran Jember, 8 Maret 1961 ini . Dolly Martin usai menamatkan SMA-nya di tahun 1979, meninggalkan kampung halamannya untuk test jadi Akabri di Jakarta. Tapi cita-cita itu kandas. Ia gagal masuk Akabri. Dalam kebingungan antara balik ke kampung dengan mencari kerja lain, tak disangka muncullah Frank Rorimpandey, sutradara ini kemudian memintanya ikut main film "Selamat Tinggal Masa Remaja" meskipun cuma figuran. 

"Itu masih tahun 1979. Yah daripada nganggur, saya mau saja. Hitung-hitung mengembangkan rasa ingin tahu saya. Soalnya sejak kecil saya sudah senang nonton film dan berakting", ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini. Dolly yang main terbarunya di film "Kamus Cinta Sang Primadona" mengaku tidak pernah membayangkan bakal jadi pemain film. Anak pasangan pak Umar dan Ibu Tien ini malah bukan dari sekolah film. "Saya main film dari alam. Bukan dari akademis. Ya paling-paling ikut kursus akting yang diadakan Parfi," tuturnya. 

Biar begitu, sejak tahun 1979 Dolly sudah ikut membintangi sekitar 15 judul film (Sampai th 1988). Dari yang cuma peran kecil sampai peran utama sudah ia rasakan. "Pokoknya saya mulai yakin bahwa di filmlah jalan hidup saya. Untuk itu saya ingin jadi aktor hebat. Tapi memang sekarang ini saya masih dalam proses mencari, " jelas Dolly yang filmnya antara lain "Bibir Bibir Bergincu", "Gerhana", "Putri Kuntilanak",  "Gadis Penakluk" "Untuk Sebuah Nama", "Kenikmatan Ranjang Semua Orang", "Pacar Pertama", "Pencuri Cinta", "Kamus Cinta Sang Primadona", dan lain-lain. 

Pengalaman pertama main film, Dolly mengaku grogi. "Saya gemetaran waktu pertama kali di sut. Tapi sekarang sudah enggak kok. Sudah biasa. Untuk berakting itu, Dolly memang tidak masuk sanggar atau sekolah khusus film. "Saya cuma membaca buku-buku, konsultasi dengan para senior dan belajar dari kehidupan sehari-hari", tambahnya. 

Selain itu, untuk selalu tampil lebih baik, Dolly pun selalu menjaga tubuhnya. "Saya setiap hari melakukan jogging. Lari lari di sekitar rumah saja," kata bintang film yang mengaku cuma terima bayaran 1,5 juta rupiah saat main film Kamus Cinta Sang Primadona. Film itu sendiri menurutnya biasa-biasa saja. "Cuma untuk hiburan aja kok", tutur bintang yang baru terima bayaran tertinggi 2 juta rupiah untuk sebuah film. 


~MF 063/31/Tahun V 26 Nov-9 Des 1988

Tuesday, December 16, 2025

MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU


 MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU. Ada yang tahu aktor kecil ini? Baru berumur 3 bulan ayahnya meninggal. Dan ketika dia berusia 2 bulan, ibunya meninggal. Lalu sejak itu dia berpetualang dalam kehidupannya. Lebih dari itu, dia lahir sudah memiliki cacat. Kakinya letter O lalu diapun diberi nama Muhammad Yatim alias Mamat Yatim. 

Walau tingginya tidak sampai 1 meter, namun Mamat Yatim tidak pernah putus asa. 

Sekali waktu, Ratno Timoer mengenalnya di suatu tempat. Melihat Mamat, hati Ratno Timoer tergetar. Dan dia pun di beri kesempatan berperan dalam film Misteri Candi Borobudur (Misteri Borobudur) dan Pendekar Bambu Kuning, tahun 70an. Dan sejak saat itulah Mamat terlibat dalam film nasional secara penuh. Ratno, memberi nama Mamat yatim. Dan sampai sekarang (tahun 1990) telah membintangi lebih dari 40 judul film nasional. 

Aktor cebol ini lahir pada tanggal 16, bulannya lupa, tahunnya 1930. Artinya usianya sudah menginjak 60 tahun pada tahun 1990. Walau usia telah diambang senja, namun fisiknya kelihatan seperti anak berusia 5 tahun. Wajahnya pun belum menggambarkan usianya telah demikian matang. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, layaknya kebanyakan orang tua. Namun begitu kalau sedang berakting, gerakannya masih gesit, begitu pula jurus-jurus yagn dimainkannya. Bahkan dia bisa loncat dari ketinggian 3 sampai 5 meter. Dan itu dilakukan dengan baik. 

Walau tubuhnya cebol, Mamat rajin bekerja. Sering dia sebagai pembantu umum dalam sebuah produksi film. Mamat senang guyon. Dan tak jarang kru artis ngakak dibuatnya. "Andaikata ada yang membawa saya, saya bisa menjadi pelawak. Kalau yang namanya Jojon bisa putus saya buat," katanya sambil ngakak. 

Mamat memiliki 6 anak dan bercucu 5 orang. Rumah tangganya selalu bahagia dan rukun. Sekarang ini anaknya yang perempuan selalu mendampingi Mamat pergi suting. "Barangkali mereka kuatir karena saya sudah tua," katanya. 

Sebagai aktor, Mamat selalu mendapat honor sesuai dengan perannya. Pertama sekali main film dia dapat honor sebesar lima ratus ribu rupiah. "Saya ucapkan terima kasih kepada mas Ratno, kalau tidak ada dia mungkin saya tidak jadi artis," lanjutsta. Kan tidak baik untuk  menolak pemberian orang  apa lagi orang itu ikhlas?" lanjutnya. 

Namun demikian bila naik bis kota, Mamat Yatim tetap bayar. "Sebagai bintang film malu kalau tidak bayar ongkos. Apalagi saya sudah di kenal," katanya guyon.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Saturday, October 4, 2025

BARON HERMANTO, DIBENTUK NASIB BINTANG LAGA

 


Baron Hermanto mengaku sejak kecil sudah mengenal dunia film, tapi baru benar-benar terlibat setelah berusia 20an, "Setelah saya tamat SMA" , ujarna. Dan itulah awal karir putra aktor Bambang Hermanto. Tapi bukan itu yang menarik dari karir dan perjalanan karir Baron Hermanto, "Bahwa saya pertama kali main film bukan film laga lho," ujarnya. Tapi itulah yang justru menarik ketika Baron ternyata lebih banyak di pakai untuk film-film laga. 

"Saya sendiri enggak tahu kenapa begitu. Mungkin nasib yang membentuk saya jadi bintang laga," katanya. Sebab menurut Karateka DAN II (Saat berita ini diturunkan th 1989) ini, awal keterlbatannya sebagai pemain film justru lewat film drama. "Saya main film pertama kali tahun 1984 dalam film "Permata Biru". Heran memang kalau belakangan ini saya justru banyak diminta main dalam film aksi,"katanya. 

Baron yang sempat menamatkan studinya di sebuah Akademi Pariwisata tersebut, ketika disinggung hasratnya didunia film menyebutkan ingin berusaha terus di dunia yang terlanjur digelutinya itu. "Dari putra putri bapak, cuma saya lho yang terjun di film. Padahal saya sendiri waktu kecil enggak punya cita-cita jadi pemain film,"tuturnya. Tapi karena keseringan diajak sang bapak ke lokasi suting sejak ia masih kecil itulah yang menurut Baron, membuatnya perlahan-lahan jadi dekat dengan dunia film. "Sampai sekarang saya sendiri sudah lupa berapa judul film yang pernah ikut saya bintangi," jelasnya . dan yang baru dirampungkan saat itu adalah film Misteri Dari Gunung Merapi. 

Biar begitu, Baron toh tak menampik kenyataan yang dihadapinya kini. "Sebagai pemain, saya memang kepingin dapat peran yang besar dengan sutradara yang besar. Tapi keinginan seperti itu tampaknya memang belum bisa diwujudkan. Tapi saya yakin satu saat nanti keinginan seperti itu bisa terwujud kok,"katanya. Bukan berarti Baron seperti diakuinya ngoyo untuk bisa dapat  peranan besar. "Saya tidak punya persiapan khusus untuk itu. Dalam soal akting saja saya lebih banyak belajar sendiri kok, " ujarnya lagi tanpa malu-malu.

Dan kalau tahun-tahun terakhir ini ia memang lebih sering muncul dalam film-film aksi dan kebagian peran sebagai antagonis, itupun diakuinya sebagai bagian dari perjalanan karir filmnya.


~sumber : MF 090/58/TahunVI 9 - 22 Des 1989~~

Tuesday, October 22, 2024

MENZANO, MENGABDI UNTUK DUNIA FILM

 


MENZANO, mengabdi di Dunia film hingga akhir hayat adalah tekadnya. Lahir di Bukit Tinggi Sumatera Barat 30 Desember 1918 adalah merupakan salah satu aktor Indonesia. adalah pada tahun 1954 lewat film "Debu Revolusi"

Berawal dari film tersebut, ternyata kemampuan Menzano di Film cukup menonjol, gaya ekspresi serta cara ia berakting sangat bagus, hingga banyak tawaran buat menzano, baik yang datang dari para sutradara maupun produser sendiri.  Selama di film Menzano terkenal dengan pembawaanya yaitu sebagai tokoh jahat. Film-film Menzano kebanyakan bertema horor, namun tak lepas  dari antomi wajahna yang sangat mendukung dalam film jenis horor. Film yang bertema action maupun drama  tak pernah ketinggalan. Ia berusaha untuk membintangi semua jenis film. 

Sebelum bermain di film, ia pernah menjadi seorang penyanyi dan pemain musik yang cukup handal di tahun 40an. Ia juga menekuni dunia teater dan sering main sandiwara. Ketika bergabung dengan  Kesatuan Penerangan Divisi VIII,  pada tahun 1945 dan veteran dengan pangkat sersan mayor.  Menzano banyak menimba ilmu dan pengalaman terutama tentang pentingnya Kesatuan dan Persatuan untuk dapat memberikan penerakan kepada masyarakat. Dari pengalaman ini ia ingin mmeberikan kepada masyarakat lewat layar lebar yakni sebagai media dakwah. Menzano juga bercerita pernah di benci orang gara-gara main film saat itu memainkan tokoh jahat, secara langsung saya disangka jahat pada masyarakat padahal  yang sesungguhnya saya tidak demikian", kata Menzano. 

Menzano meninggal pada 18 Juni 1996.

Sumber MF No.123/90 tanggal 15 Maret - 30 Maret 1991


Berikut filmmografi Menzano dikutip dari wikipedia

1955Di Balik Dinding
Oh, Ibuku
Puteri Revolusi
Senjum Derita
1956Pesan Terakhir
1957Tiga Buronan
1958Djenderal Kantjil
Titi dan Tito
Tjambuk Api
1959Habis Gelap Terbitlah Terang
1960Desa yang Dilupakan
1961Malam Tak Berembun
Masih Ada Hari Esok
1964Djiwa Kolonial
1965Liburan Seniman
1966Kini Kau Kembali
Tikungan Maut
19672 x 24 Djam
1968Ja, Mualim
Nenny
Djampang Mentjari Naga Hitam
1969Big Village
1970Kutukan Dewata
Ananda
Dendam Berdarah
1971Tjisadane
1972Romusha
Desa di Kaki Bukit
1973Last Tango in Jakarta
Napsu Gila
Bumi Makin Panas
Cincin Berdarah
Sopir Taksi
A Virgin in Bali
1977Tuan Besar
Petualang Cilik
Gara-Gara Janda Kaya
Suci Sang Primadona
1978Si Ronda Macan Betawi
Bulu-Bulu Cendrawasih
1979Demi Anakku
1980Hallo Sayang
Kau Tercipta Untukku
Juara Cilik
Yang Kembali Bersemi
Selamat Tinggal Duka
Pintar Pintar Bodoh
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya
1981Medali Bukit Selatan
Jangan Ambil Nyawaku
Bukan Istri Pilihan
Bodoh Bodoh Mujur
Gondoruwo
1982Panasnya Selimut Malam
Sorta, Tumbuh Bunga di Sela Batu
Titian Serambut Dibelah Tujuh
1983Maju Kena Mundur Kena
1984Permata Biru
1985Semua karena Ginah
1988Bangkitnya Si Mata Malaikat