Saturday, April 4, 2026

AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM

 


AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM, (Berita Lawas). Warung Tegal (Warteg) sangat berarti bagi Agus Kuncoro. Tidak hanya tempat makan murah meriah (dulu ya hehe kalau skg kayaknya mahal juga), juga tempat beranjak ke profesi baru. Yang tidak pernah diimpikan , yakni menjadi artis film. Ketika itu, lelaki kelahiran 11 Agustus 1972 ini bersama teman sekampusnya, Fak Seni Rupa IKJ makan dan obrol seni di warteg TIM (Taman Ismail Marzuki). Tanpa diketahui, Bambang Subeno soerang unit film Saur Sepuh 4 episode TItisan Darah Biru mengamati gerak geriknya. Merasa Cocok, Bambang Subeno menghampirinya. Lalu menawarkan main film, Agus hanya tertawa mendengarnya. 

"Tak menduga sama sekali,saya pikir cuma bcanda, dan tak menanggapinya, " kata pemuda blasteran Jawa-Madura ini. Segera Bambang Subeno melapor kepada Imam Tantowi dan segera meng ok kan. 

"Setelah teken kontrak baru yakin bahwa akan main film," ujarnya bangga. Sebelumnya pemilik tinggi 170 cm dan berat 52 ini hanya berkutat di bidang seni rupa. Tujuannya masuk IKJ, menjadi desainer interior. Justeru itu, Agus tidak mengenal akting. "Mau tidak mau harus belajar akting, " Perannya di film Saur Sepuh cukup berarti, melakoni Wana pati, generasi ketiga(kedua bukannya ya..)dinasti "Madangkara". Karena itu, Agus tidak cuma mengandalkan adegan laga, tapi juga kemampuan penghayatan peran. Sungguh berat memang bila buta akting disodorkan peran agak rumit. "Tapi belajar kilat dengan kru film. Mas Imam Tantowi banyak memberikan pengarahan kepada saya. Ini sangat berarti sekali sebagai artis baru," kilahnya merendah. 

Agus akan melejit menjadi jagoan Saur Sepuh, namun belum menemukan harapannya di film. Baginya, ladang film masih sebuah mimpi. Harapan belum bisa digantungkan sepenuhnya. Ini membuat lebih mencinai sebi rupa dan menggantungkan harapan. "Saya masih muda. Belum dapat memilih terbaik. Tapi, bagaimanapun akan tetap eksis di study saya, fak seni rupa IKJ, kata anak ke 4 dari 5 bersaudara ini yakin. 

Setelah berkenalan dengan akting jalan pikiran Agus seketika berubah, yakni ingin seni rupa dan seni peran berjalan berdampingan. "Seni rupa untuk masa depan, seni peran untuk cari uang".

Namun pemuda berbintang Leo ini juga berharap banyak akan meraih sukses di seni peran. Selain saingan menumpuk, sadar bahwa kemampuan akting masih terbatas. "Kalau dipikir-pikir, antara seni rupa dan seni peran tidak jauh beda Sama-sama penghayatan. Hanya visualnya yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa seni peran itu gampang. "

Untuk mencapai akting maksimal, disela-sela suting, Agus selalu 'bertapa' dengan skenario. Membolak baliknya, dan menterjemahkannya sendiri tentang karakter yang dilakoni. Jiwanya juga berharap, lewat Saur Sepuh dia bisa menggebrak perfilman. Dan menjadikannya sebagai artis muda berbakat, selain artis-artis muda yang telah kadung ngetop, meski kehadiran didunia peran lewat keberuntungan nangkring di warteg. ~MF 127/94 Tahun VII, 11-24 Mei 1991

Friday, April 3, 2026

HERBY LATUPERISA


 HERBY LATUPERISSA, DIHAJAR ARI WIBOWO! (Berita Lawas). Ingin tahu siapa yang menjadikan Ari Wibowo, tokoh jagoan Jacky, bisa ilmu bela diri Tae Kwon Do? Inilah orangnya, Herby Latuperissa, pelanggan adegan-adegan berbahaya dalam film dan sinetron laga. Ketika jadi pelatih Tae Kwon Do di Universitas Trisakti, Ari Wibowo adalah salah seorang muridnya. Kini, antara murid dengan guru saling bermusuha, tentunya sebatas dalam cerita sinetron Deru Debu dan Jacky. 

Herby, penyandang DAN III Internasional Tae Kwon Do, memang jauh dari publikasi. Padahal perannya sangat besar dalam film dan sinetron laga. Bahkan, Film Macho I, hampir semua adegan perkelahian Barry Prima, dia yang melakukan. "Barry hanya melakukan dialognya saja, " kata Herby. 

Mantan juara Nasional kelas welter Tae Kwon Do tahun 1978 hingga 1991 ini, adalah salah seorang atlet nasional, seperti Lamting dan Joseph Hungan. "Lamting dari Jawa Barat, Joseph dari Jawa Tengah dan saya dariJakarta, " ujar Herby. Sekarang , disamping terus main, pelanggan tokoh antagonis, Herby jadi pelatih di berbagai tempat seperti di Universitas Tarumanegara, Trisakti dan instansi perkantoran. "karena terlalu banyak, bsiasanya saya percayakan pada asisten, ' katanya. 

Seperti juga Tanaka, Herby selalu harus puas dengan peran-peran tambahan, tapi adegannya beresiko tinggi. Puluhan film sudah diikutinya, puluhan kali pul akakinya retak, minimal keseleo. "Pengobatan terapi sudah langganan saya, " kata Herby. 

Herby sedikitpun tidak merasa risih, tatkala harus bertekuk lutut dihajar Ari Wibowo muridnya sendiri. Bahkan dia rela mengorbankan diri, terjatuh dalam posisi sulit tatkala Ari Wibowo melakukan kesalahan. Dalam sebuah scene, Herby harus melakukan tendangan putar di udara sebanyak 3 kali. Untuk menghindari pukulan telak ke wajah Ari, diingatkan agar Ari sedikit menghindar. 

"Tapi ketika itu saya lakukan entah kenapa Ari hanya berdiam diri saja. Saya cepat ambil inisiatif, tidak jadi menendang. Sebab bila saya tendang dengan kekuatan penuh, saya nggak bisa bayangkan, bagaimana resiko yang bakal dialaminya. Ketimbang berakibat fatal buat Ari mendingan saya keseleo, karena jatuh dalam suasana kurang kontrol. Akibatnya persendian kaki saya bergeser," tutur Herby yang juga main dalam sinetron Singgasana Brama Kumbara dan Kaca Benggala. ~257/223/XII/20Apr - 3 Mei 1996

Thursday, April 2, 2026

S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON


 S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. 

Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah. 

"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu. 

Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar. 

Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia. 

Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang. 

Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu. 

Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja  bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama  kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film. 

Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.

Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.



Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun. 

Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang. 

Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku. 

Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988

Wednesday, April 1, 2026

RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI

 


RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI, (Kabar lawas). Bukan frustasi kalau Ricca Rahim mengaku tak lagi merasa suka main film. Bukan tak ada tawaran, tapi karena ia memang lagi tidak suka saja. Ricca Rahim kelahiran Bandung, 17 April 1956. 

"Film bagi saya bukan segala-galanya kok," kilah istri raja dangdut Rhoma Irama ini. Dan karena bukan segala-galanya inilah mengapa Ricca tenang-tenang saja meskipun tak lagi muncul di layar putih. "Saya bahagia dengan keadaan saya sekarang kok. Sekarang ini saya merasa lebih nikmat ngurus suami, rumah tangga dan anak-anak, " kata artis yang terjun ke film tahun 1977 lewat film "Jakarta Jakarta" garapan Ami Priyono, sekaligus sebagai film terbaik FFI 1978.

Main film terakhir dalam "Sunan Gunung Jati" garapan Bay Isbahi sebagai Nyi Mas Gandasari, sampai kini Ricca memagn sudah terbilang lama tidak muncul di film. "Bukan saya tidak mau. Tawaran ada kok, pak haji juga tidak melarang saya main film terus. Tapi sekarang ini saya belum siap. Saya lagi mood ngurusin rumah tangga, " ujarnya. 

Begitupun, Ricca punya alasan lain mengapa ia lebih suka ngurus rumah tangga ketimbang main film, "Saya enggak mau sembarangan lagi menerima peran. Saya tidak mau main film asal main saja. Kalau saya main film lagi, perannya harus benar-benar menantang. Harus serius dan tidak gampangan. Soalnya kalau saya main lagi, saya punya target khusus, katanya lagi..

Tak takut kehilanggan penggemar? Tak takut menjadi tidak terkenal? "Tidak. Saya tidak takut, saya sudah siap kok untuk tidak terkenal, untuk kehilangan penggemar, " jawabnya. "Kalau saya sudah merasa bahagia dengan keadaan saya sekarang ini, keadaan saya yang begitni, kenapa saya mesti takut. Tujuan hidup saya hanyalah untuk membahagiaan diri saya," katanya lagi. 

Biar begitu toh Ricca tak bisa sepenuhnya melepasan dari dunia yang pernah membawanya dikenal banyak orang tersebut. Sebagai isteri, ia toh masih setia mendampingi sang suami, Rhoma Irama kemanapun bila suting film. "Saya memang enggak bisa melupakan film, tapi untuk main film lagi, saya memang harus berpikir panjang. Betapapun saya ingin melakukan sesuatu dengan konsentrasi yang penuh. Kalau saya main film lagi sekarang ini, siapa yang bisa menjamin rumah tangga saya enggak terabaikan?" kilahnya. 

Alasan tak ingin membagi konsentrasi itu, menurutnya merupakan alasan utama yang membuatnya menghindar dari dunia film. "Tapi kalau beberapa tahun mendatang ada tawaran yang cukup menantang dalam rti peran yang diberikan pada saya itu peran yang serius bisa jadi saya akan main film lagi, " katanya. "Bagaimanapun saya harus memilih satu saja dalam hidup ini kalau mau berhasil, " tambahnya. "Soalnya apa sih yang ingin saya capai dalam hidup ini kecuali kebahagiaan?" katanya lagi. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989

SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI


SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI (Kabar Lawas). Tak Seorangpun diantara pengurus Parfi muncul disaat pemakaman artis tiga jaman Netty Herawati, Selasa siang 7 Februari 1989. Namun sejumlah artis tua dan muda turut mengantarnya sampai ke liang lahat. Pemakaman Karet yang menjadi saksi bisu pada upacara pemakaman bintang film layar putih dan TV itu dipenuhi oleh sejumlah masyarakat pecinta film Nasional, para kerabat baik kalangan artis tua maupun muda. Bahkan superstar Persari di jaman tahun 50an, Rd. Mochtar yang menetap di Cimahi Bandung menyempatkan diri memberikan penghormatan terakhir kepada bekas lawan mainnya pada jaman jaya-jayanya dulu. 

"Heran ya, kok pada saat-saat begini tidak satupun pengurus harian Parfi yang hadir, " kata salah seorang artis muda yang tak mau disebutkan namanya. "Kalau terhadap seorang Netty Herawati yang demikian besar jasanya terhadap perfilman kita, mereka para pengurus Parfi maksutnya seolah olah tidak mau tahu apalagi terhadap kami yang masih belum apa-apa," katanya lebih lanjut. Salah seorang menimpali, apakah ini krisis kewibawaanpengurus Parfi itu terhadap anggotanya. Sepantasnya untuk hal-hal seperti ini merek amemerlukan datang sebagai tanda ikut berbelasungkawa, lanjutnya. 

Dalam hal-hal seperti ini sepertinya para pengurus Parfi itu memang acuh tak acuh. COntohnya ketika pemakaman aktor tiga jaman A.N. Alcaf, Sulastri atau bahkan mantan Ketua Umum Parfi , Sudewo beberapa waktu lalu. Para pengurus organisasi artis film itu sepertinya tidak tahu menahu terhadap anggotanya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Malah orang-orang seperti Dicky Zulkarnaen bersama istrinya Mieke Wijaya, Basuki Zaelany, Rachmat Kartolo, Misbach Yusa Biran, Sumardjono dan sejumlah nama lainnya selalu memerlukan datang melayat dan menghantarkannya ke pemakaman. 

Sejak berangkat dari rumah duka di Jl. Otista Jakarta Timur, solidaritas justru lebih tercermin dari kalangan angkatan tua seperti janda mendiang Djamaludin Malik, Rahayu Effendi, Wahyu Sihombing dan masih banyak lagi para artis tua dan muda serta insan insan TVRI. 

Dicky Zulkarnaen sempat mengusahakan pasukan bermotor Polantas yang memandu iring-iringan jenazah Netty Herawati hingga ke pemakaman Karet. Dalam hal beginian, Dicky Zulkarnaen, Rachmat Kartolo memang selalu tampil didepan. Mereka tak segan-segan menyingsingkan lengan bajunya untuk sekedar meringankan para keluarga yang sedang berduka cita. 

Sehari sesudah pemakamanya, Rabu 8 Februari 1989 , TVRI menayangkan sinetron "Jangan Ganti Namaku" yang direncanakan terdiri tiga episode. Episode berikutnya ditayangkan 15 dan 22 Februari 1989. Drama keluarga arahan Darto Joned ini antara lain dibintangi oleh Netty Herawati dan Drs. Usman Effendi. Sesudah itu mungkin masih akan muncul cerita sinetron lainnya yang dibintangi oleh artis kelahiran Surabaya, 4 April 1930 ini karena beliau aktif sekali bermain dilayar kaca TVRI stasiun Pusat Jakarta. Seperti diketahui bersama suaminya, Darussalam, almarhumah mendirikan grup Senyum Jakarta yang selama beberapa tahun hingga akhir 70an manggung di TVRI. 

Kecuali sering tampil dalam drama TV, fragmen dan sebagainya, Netty Herawati masih sering main di film. Setelah meyelesaikan pendidikannya pada R.K. Zuzter School, almarhumah sempat malang melintang di panggung pertunjukan. Pernah ikutan dengan grup sandiwara Irama Mas, Tri Murti, Bintang Surabaya dan Bintang Timur. 

Karirnya di film dimulai tahun 1949 langsung jadi bintang utama dalam film "Sapu Tangan" tapi namanya kemudian melonjak lewat "Jembatan Merah", "Lewat Djam Malam", "Calon Duta". Dia kemudian dikontrak Persari dan menjadi bintang andalannya. 

Dikalangan artis tua, dia dikenal sebagai seorang kolega yang baik, ramah dan rendah hati. Sementara dikalangan artis-artis muda diapun dikenal sebagai seorang ibu, guru dan sekaligus sahabat yang suka memberi dan membimbing. Keteladanannya sebagai pasangan suami istri Darusalam dan Netty Herawati tetap konsisten dalam dunianya. Dan lebih dari itu baik Netty Herawati almarhumah maupun suaminya adalah insan film yang selalu setia pada profesinya dan dicintai jutaan penggemarnya. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989

Monday, March 30, 2026

QOMAR MUNDUR DARI KWARTET TOM TAM , BIKIN GRUP BARU 4 SEKAWAN

 


QOMAR MUNDUR DARI KWARTET TOM TAM , BIKIN GRUP BARU 4 SEKAWAN (Kabar lawas). Nurul Qomar selama ini dikenal sebagai motor Kwartet Tom Tam. Sunggu tak disangka, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba tepat pada tanggal 1 Januari 1991, ia mengajukan surat pengunduran diri, dari kelompoknya. Wah, berarti bubar dong, salah satu grup lawak yang sebenarnya sudah punya ciri khas dan penggemarnya sendiri ini. 

"Lho belum tentu, cuma saya saja kok yang mundur. Yang lain mungkin akan terus melanjutkan, mungkin dengan cari anggota baru pengganti saya, atau bertiga saja, " kilah Qomar. 

Yang bisa menjawabnya tentu saja tiga anggota Tom Tam lainnya, Firman, Kimung dan Ogut (nama aslinya Rosihan Anwar).

Saat penampilan bersama mereka yang terakhir pad amalam menyambut Tahun Baru 1991, di Ancol, bagaimanapun juga Qomar merasa sangat trenyuh, sampai nyaris tak kuasa berkata-kata di panggung. "Ya saya merasa berat dan sedih selama 14 tahun 6 bulan, kami bersama. Jadi, kendati kami berpisah lahiriah, tapi kekeluargaan tetap bersahabat."

Lantas apa yang menyebabkan Qomar membuat tindakan drastis ini?

"Saya berkeyakinan, soerang pelawak harus full profesional. Sejak lama saya berusaha mengajak kawan-kawan saya itu mencurahkan seluruh perhatian pada grup kita. Itu tiga kawan saya rupanya sulit melepaskan jabatan sebagai karyawan Pemerintah. Akibatnya kesibukan masing-masing menimbulkan kesenjangan komunikasi. Perbedaan sikap dan pandangan, khususnya perbedaan idealisme dalam sikap berkesenian, inilah yang akhirnya membuat saya keluar,".

Tapi bukan berarti Qomar lalu mundur dari dunia lawak, karena dalam tempo tak sampai seminggu, memasuki tahun baru 1991 ia telah mengibarkan bendera baru , "4 Sekawan" dengan merekrut bintang pelawak yang naik daun, yaitu Derry, Ginanjar dan Eman. 

"Ini upaya kami untuk memanage grup lawak dengan lebih baik lagi, kami berempat ingin full profesional, " promosi grup baru yang terutama ingin berkiprah di masyarakat kalangan menengah. 

Qomar yang punya acara OPTIMIS, (Obrolan Pagi Tentang Iman dan Islam) Setiap Kamis subuh di radio SK (Suara Kejayaan), membuatnya sering bertemu dengan tiga kawan barunya yang juga ngetem disana. Diawali dari bingan-bincang tukar pengalaman, terasa kesamaan pandangan dalam melihat film mereka. 

"Bahwa untuk memulai sebuah kerja yagn akan menghasilkan sebuah karya yang baik., maka salah satu syaratnya harus di rencanakan dengan baik, maka salah satu syaratnya harus direncanakan dengan baik. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991



Sunday, March 29, 2026

PERANG DI TELUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOSKOP INDONESIA


 PERANG DI TELUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOSKOP INDONESIA (Berita Lawas). Siapa bilang perang Teluk tak berdampak bagi perfilman dan perbioskopan Indonesia? Bukti-bukti kongkrit menunjukkan merosotnya jumlah penonton sejak meletusnya perang Teluk pada tanggal 16 Januari 1991. 

Masyarakat yang mendadak gandrung berita Perang Teluk selalu menanti-nantikan berita terbaru dari medan perang yang disiarkan baik oleh koran, radio, maupun televisi. Bukan kebetulan kalau TVRI menyiarkan berita Internasional justru setiap pukul 19.00 dalam bahasa Inggris dan Dunia Dalam Berita pada pukul 21.00. Justru pada jam-jam tersebut itulah bioskop baru membuka pintunya. Otomatis karena orang lebih tertarik menunggu berita di TV, maka niat untuk berangkat menonton ke bioskop pun sering diurungkan. 

Akibatnya, sejumlah film Indonesia yang kebetulan mendapatkan jadwal penayangan mulai medio Januari, kontan sepi dari penonotn.Bisa disebutkan contohnya, film-film seperti "Jangan Renggut Cintaku", "Si Buta Dari Gua Hantu di Lembah Maut", "Pendekar Cabe Rawit", dan "Tak Kan lari Jodoh Di Kejar", rata-rata film ersebut cuma sempat ditayangkan satu hari saja di sinepleks pada tahap pertama. 

Yang memetik keuntungan dari Perang Teluk, justru media cetak. Harian-harian melonjak tirasnya sampai 200-300 persen dalam minggu terakhir . Bagaimana dengan film impor?

"Sama saja, penonton juga merosot drastis, terutama untuk pertunjukkan terakhir pukul 21.30, jumlah penonton bisa dihitung dengan jari," ujar sumber dari booker jakarta. 

Mari kita lihat jumlah penonton di Studio 21 pada pukul 21.30. Tiga dari empat layar cuma diisi di bawah angka 50 penonton. Bahkan film yang diangkat dari karya William Shakespeare cuma mendapatkan 15 penonton. Kontradiksinya adalah film action Steven Seagal "Hard To Kill" yang berhasil mengumpulkan lebih dari 90 orang, hampir separuh dari kapasitas 260 kursi!.

Sebagai perbandingan pengamatan pada sinepleks Globe 21 di kawasan ramai Pasar baru. Empat film Barat ditayangkan serentak disini. Jumlah penonton pada pukul 22.00 adalah sebagai berikut : Pretty Woman" (26 Orang), "The God Must Be CrazyII" (11 orang) , "Miami Blues" (9 orang) dan "Dean Poets Society"terpaksa tak diputar karena tiada pembeli karcis.!

Mengamati jalan di sekitar Pasar baru pada jam sekian terasa lengang. jarang orang keluyuran malam, kalau tak sangat terpaksa. Bahkan tanda-tanda penjual makanan sepanjang jalan Pacenongan yang biasanya sampai lewat tengah malam masih ramai dikunjungi orang, sekarang mengalami masa sepi juga!. 

"Semoga saja perang cepat berakhir, hingga semuanya bisa pulih kembali seperti semula", itu harapan semua pihak yang merasa dirugikan. 

Tapi kalau perang bakal berlarut-larut berkepanjangan sampai berbulan-bulan? Ya siapa yang tahu?

Menyiasati suasana sepi seperti ini, pihak importir pun tak buru-buru menayangkan film-film pilihan mereka yang disuguhkan dalam event "Old and New Night" lalu. 

Maka film-film seru seperti "A.W.O.L", "Sea of Love", "Lethal Weapon 2" , "Desperate Hours" dan lain-lainnya disimpan saja dulu di dalam gudang. "Kuota film impor untuk tahun 1991 memang masih belum diketahui berapa jumlahnya, apakah tetap sama seperti tahun lalu, atau dikurangi sepuluh judul lagi, " ujar pihak asosiasi importir.  ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991 dengan judul Perang di Teluk, sepi Di Bioskop


Wah, miris juga ya kalau lihat jumlah penontonnya yang cuma hitungan jari..




Saturday, March 28, 2026

KENDATI DI GUNTING SENSOR "ISABELLA" TETAP BERJAYA


KENDATI DI GUNTING SENSOR "ISABELLA" TETAP BERJAYA, CIUMAN ISABELLA TIDAK LOLOS SENSOR DI MALAYSIA. (berita lawas). Sempat terjadi ribut-ribut polemik diantara berbagai media massa di Malaysia, menjelang penayangan film patungan "Isabella" disana. Pasalnya adegan ciuman yang dilakukan Amy dan Nia Zulkarnaen dinilai kurang sesuai dengan budaya Timur. Apa boleh buat adegan yang di Inodnesia di luluskan dengan mulus oleh BSF, tidak demikian halnya diMalaysia, Badan Penapis Film setempat mengguinting adegan "kissing" tersebut. 

Bukan cuma itu, juga adegan dimana Amy dan Nia berboncengan motor , ikut terbabat. Apa pasal? Ternyata karena Amy dan Nia sama-sama tidak pakai helm. Padahal menurut Undang-undang lalu lintas pengendara motor dan pemboncengnya harus berhelm!. 

Tapi tersiarnya berita pengguntingan ini justru semakin menarik minat orang untuk menontonnya. Malah jadi semacam publikasi gratis. Terbukti sejak di tayangkan pada akhir Agustus 1990 di sepuluh gedung bioskop di Kualalumpur, Penang, Alor , Kelang, Melaka, Kinabalu, Seremban, Johor Bharu dan kolta Baru, dalam tempo cuma empat hari saja telah mengumpulkan hasil leih dari 405 ribu ringgit.!

"Memasuki minggu pertama diperkirakan pasti berhasil melampaui jumlah 500ribu ringgit!"keyakinan Haji Tajuddin Yahya, pengarah urusan Syarikat Film Pengedar utama, "Kalau demikian halnya jelas film ini akan ditayangkan  nonstop dalam satu bulan!".

Bukan Cuma di Malaysia, tapi juga di Singapura, meskipun cuma ditayangkan di satu bioskop saja," Isabella" mendapat sambutan yang sangat memuaskan. harga tiket rata-rata dua setengah ringgit (lebih kurang 1500 rupiah kalau di kurs pada jaman itu). Dengan begitu bisa dihitung kalau jumlah penontonnya sudah melebihi 200 ribu orang. Ini menjebol rekor box offiice untuk semua film baik produksi lokal maupun impor. Termasuk mengungguli produksi kebanggaan Malaysia sendiri, "Fenomena" yang juga dibintangi oleh Amy sebagai pemeran pembantu. 

Mohammad Nor Abu Shahid dari Finas menyebutkan meski pun adegan cium dalam "Isabella" sudah tak bisa di saksikan di bioskop, ternyata dalam videy gelap yang beredar di lebih dari 2000 rental, masih terpampang jelas "Video gelap jelas berada di luar jangkauan badan sensor. ~berita MF No. 110/78 Tahun VI, 15-28 Sept 1990



DODDY SUKMA, TELAH TIADA


 DODDY SUKMA, TELAH TIADA  (Kabar Lawas). Doddy Sukma Wijaya pemain film yang sering berperan sebagai dokter, hari Senin, 21 Januari 1991 pukul 11.50 WIB telah berpulang kerahmatullah dalam usia 49 tahun. Almarhum mengidap penyakit lever yang di derita beberapa minggu belakangan. Hari Sabut, 5 Januari 1991, almarhum di bawa ke Rumah Sakit selama seminggu, karena penyakit  yang diderita makin parah akhirnya atas saran dokter, almarhum harus dipindahkan ke Paviliun yang khusus menangani penderita penyakit lever. 

Selama berada di Pavilyun dari tanggal 12 Januari 1991 keadaan almarhum masih belum ada perubahan, ia minta pada keluarganya untuk di bawa pulang kerumah. "Saya ingin bertemu keluarga", kata Kartika putri pertama almarhum. Almarhum segera di bawa pulang dan pada hari Minggu, 20 Januari 1991 tepat pukul 02.00 WIB dini hari almarhum dalam keadaan kritis.

Semenjak itulah, almarhum sempat memberikan pesan-pesan terakhir pada keluarganya, isteri dan putra putrinya. Antara lain pesannya, agar isteri dan putra putrinya jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu, selalu berziarah ke makam ayah untuk mengirim doa. 

Pesan terakhir disampaikan kepada isterinya agar menjaga anak-anaknya baik-baik. 

Pukul 17.00 WIB almarhum di makamkan di pemakaman Umum Karet Jakarta. Kawan-kawan seprofesi yang hadir saat itu antara lain Ade Irawan, Agus Melasz, El Manik, Irwinsyah serta karyawan TVRI, Mardali Syarief dan banyak lagi artis serta karyawan film yang mengantarkan dari rumah duka hingga ke pemakaman. Salah satu kawan akrab yang sering menjadi lawan mainnya adalah Ade Irawan. "Saya merasa benar-benar kehilangan seorang sahabat, sebab mas Doddy ternyata banyak memberikan input tentang masalah agama. Walau dia lagi suting sembahyang lima waktu tak pernah di tinggalkan. Kadang kadang saya juga ditegur agar banyak-banyak beristighfar, selalu ingat kepada Allah SWT. Saat saya temui dirumah sakit seminggu setelah dirawat mas Doddy bilang bahwa pekerjaannya yang terakhir beristighfar dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, " jelas Ade sambil mengenang saat pertemuan terakhir dengan almarhum. 

Doddy Sukma yang dilahirkan di Betawi, 11 Juli 1941 mulai terjun kedunia film tahun 1972 lewat film pertama "Samtidar". Doddy telah bermain lebih dari 50 film, yang terkesan saat dia memerankan Umar Wirahadikusumah pada film penumpasan G 30 S PKI.

Sebelum meninggal, Doddy SUkma telah menandatangani kontrak film Catatan Si Emon berpasangan dengan Ade Irawan. Almarhum mengusulkan kepada sutradara dan produser agar peranannya di gantikan saja dengan orang lain, sebab dia disarankan istirahat paling kurang tiga bulan. Sedang dalam sinetron TV yang terakhir almarhum main dalam cerita Cak Gaol yang ditayangkan di TVRI. Almarhum meninggalkan seorang isteri bernama Ny. Noverny, tiga orang putri Kartika, Sita Dewi, Yusnita Irawati serta dua orang putra , Doddy Mulyono dan Feby Darmawan. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA

 


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA (Berita lawas) Ternyata di balik wajah manis, Alba Fuad tersimpan kesedihan yang menahun. Sepintas kelihatan seperti gadis periang, tak pernah murung, tapi dibalik ceritanya tersimpan duka panjang. "Ketika masih kecil tidak pernah ada rasa rindu dengan papa. Setelah gede seperti ini rasanya butuh kehangatan kasih sayang papa," katanya mengungkap. Dia merasa dirinya orang yang paling "tol*l". Ketika papanya terbaring kaku, dan dibawa ke pemakaman, Alba tidak pernah tahu itu perpisahan dengan papa. Bocah centil malah asyik bermain. "Ketika itu umur saya baru lima tahun, tidak tahu arti kematian" , kata putri tunggal alm. Fuad Hasan, drumer beken God Bless dengan suara parau. 

Selepas SMA, dia baru kenal rasa rindu dan duka.  Sebelumnya di acewek periang, menikmati masa puber dengan gelak tawa. Di SMA dia cukup badung. Sering bolos sekolah. "Kalau bolos suka ke Ancol. Main di Dunia Fantasi kayak anak-anak," ngakunya. Mama jarang marah kepadanya. Begitu juga saudara dari mamanya, Achmad Albar dan Camelia Malik. Dimanja, tapi dia tahu diri. Mengaji pelajaran yang membosankan tapi dia jarang bolos . 

Perempuan bernama lengkap Monna Alba Fuad ini lahir di Jakarta 4 Maret, 1969. Tadinya dia seorang modelling. Bergabung dalam blantika Studio. Ketika itu dia cukup menarik perhatian. Ketika Iwan, sang boss Blantika Studio dapat order mencari artis pendatang baru dari produser, pilihan kontan jatuh kepada perempuan berbintang Pisces ini. Alba kelabakan ketika berhadapan dengan produser. Perjalanannya tidak mulus. Harus di tes dulu. "Eeh..engak tahunya saya berhasil test. Padahal saya kikuk lho. Ndak perna latihan akting, mungkin bakat dari sono kali ," cetusnya rada bangga. 

Kontan Maman Firmansyah memberikannya peran utama sebagai Mila dalam Permainan di Balik Tirai (1988). Lakonnya pertama kurang menggigit. Tapi cukup baik sebagai artis pemula. 

Lalu Abnar Romli menggarapnya lewat Tumbal Siluman Kera (1988), beberapa sutradara beruntun menggaetnya, Ratno Timoer lewat Si Buta Dari Goa Hantu (Lembah Maut) 1990, Lilik Sudjio lewat  Pembalasan Si mata Elang, Slamet Riyadi lewat Pedang Naga Pasa (1990), Lilik Sudjio lewat Misteri dari Gunung Merapi II (1990), NOrman Benny lewat Makelar Kodok II (1990), Acuk Rachman lewat Guntur Tengah Malam (1990), Abdul Kadir lewat Perjanjian Terlarang (1991) dan juga Achiel Nasrun lewat Olga dan sepatu Roda (1991). 

Ditanya Apa arti film bagi Alba Fuad, "Kalau saya bilang, film cuma hobby, itu konyol. Film tempat cari uang dan sebagai profesi saya ndak munafik. Dan bukan batu loncatan untuk ajang lain, katanya ceplas ceplos. 

Rupanya Alba mengintip profesi lain di film. Tidak semata sebagai anak wayang. Nah, ini membuatnya sering kasak kusuk. Tanya sana, tanya sini. Rasa ingin tahu soal kamera, sutradara, tata lampu, skrip, tata busana, sampai pross film di lab sangat besar sekali. "Saya tidak mau jadi artis terus sampai tua. Cuma belum tahu pilih profesi apa selain artis. Terkadang pengin jadi sutradra, terkadang ingin jadi penulis skenario, pokoknya masih ngaco deh!. 

Karena dia pintar mengambil hati kru film, jadi banyak yang suka menjelaskan kepadanya. "Modal kita kan cuma pergaulan dan keseriusan, " sergapnya tanpa tedeng aling-aling. Toh tak salah merebut hati orang untuk baik. 

 ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991

Wednesday, March 25, 2026

NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS


 NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS (berita lawas). Tiga jam Nasri Cheppy menongkrongi satu lob untuk dubbing film Catatan Si boy IV. Biasanya dub satu lob paling lama satu jam. Sehingga banyak pemain menjadi nganggur. Meriam Bellina kelihatan tertidur di bangku, Paramitha Rusady sibuk dengan temannya latihan bahasa Prancis, Ida Kusuma cuma bengong sementara Nani Widjaya yang lagi dubbing menjadi kesal melihat pemeran Abud dilakoni oleh Budi. Sebab pengisi Abut ini selama tigak jam tidak becus dialognya. Ada saja salahnya. 

Hal ini membuat Nasry Cheppy nampak sedikit stress. Dia telah mencoba berbuat baik. tapi sang artis tak juga bisa membenarkan dialognya. 

"Gua dari dingin sampa jadi gerah,' katanya. Padahal AC interstudio cukup dingin. Sampai akhirnya ia membuka jaketnya. Lalu dia marah-marah, namun tak menemui hasil. Tetap saja pelakon berdialog tidak becus. 

"Biasa pemain baru. Begini tah jadinya. Kalau tidak pemain baru, sudah saya maki-maki, " ujarnya kesal setangah mati. "Sudah! ini tidak bisa diperbaiki. Seratus tahun juga tetap salah, " teriak Cheppy marah-marah. Akhirnya Cheppy bingung sendiri. Jalan keluarnya sutradara ini meng ok kan take dub yang menurutnya masih tetap salah. "Kita cari jalan keluarnyalah, " gerutunya kesal .

"Bayangkan, Mitha (Paramitha Rusady), belum lagi mengisi suara. Padahal dia artis pertama sekali datang, " kilahnya. Mitha yang mendengar cuma bisa tersenyum hambar. Sebab ketika berdialog latihan si Abut yang dilakoni Budi ini lancar, tapi begitu recording kalau nggakbuntutnya yang salah pasti awalnya. Keluar dari bilik rekaman Budi jadi keringat dingin. Barangkali grogi berhadapan dengan artis beken. Apalagi Budi baru untuk pertama kalinya mengisi suaranya. 

"Gua nggak grogi kok," bela Budi. Tapi Cheppy hanya bisa menarik nafas mendengar bicara Budi. Sehingga iba juga hati Cheppy melihat pendatang baru ini.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


Tuesday, March 24, 2026

LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO

 


LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO, (Berita Lawas).Sebuah sedan Twincam merah meluncur mulus dari arah Lido menuju kota Bogor. Di dalam mobil yang benar-benar masih gres, maklum baru beberapa hari di ambil dari dealer, nampak sutradara Abdi Wiyono duduk di samping Sarijo, sopirnya. Sementara Bagong kru film dari PT. Virgo Putra  duduk di kursi belakang dengan santainya. Memang siang itu, tepatnya Kamis 20 Oktober 1988,direncanakan akan suting film "Lintar, Ketika Musim Durian Tiba" di sekitar Puncak. Baru beberapa kilometer mau memasuki daerah Ciawi, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah Minibus L300 putih, menyenggol sisi kanan sedang merah yagn ditumpangi sutradra itu. Braak!.

Abdi Wiyono langsung mengambil tas besar yang dibawanya untuk melindungi kepalanya dari benturan yang lebih keras. Begitupun sang sopir yang dengan sigap membanting stir untuk menghindari. Tapi mobil tak terkendali dan malah melayang, membentur tembok bertulang beton langsung nyelonong sebelah kiri jalan . Bruuk....! Abdi Wiyono langsung memerintahkan untuk segera meninggalkan mobil yang terperosok itu. Bagong, langsung mendobrak pintu yang masih terkunci secara otomatis. Akhirnya semua berhasil , bisa keluar dengan segar bugar. Tetapi baru beberapa meter dari mobil ketiganya jatuh terkulai serta merintih kesakitan. Sementara mobil putih yang bikin penyebab kecelakaan itu, malah tancap gas dan kabur. 

Untunglah beberapa mobil kru film yang beriringan masih ada di belakang, sehingga ketiga korban bisa di tolong dan dibawa kerumah sakit yang terdekat di Ciawi. Walau sutradara tak mengalami luka yang parah, tetapi rencana suting film yang nyaris hampir selesai di hari itu pun jadi berantakan. 

Akibat kecelakaan itu, selain suting gagal, produser pun dituntut tanggung jawab untuk mengganti kerusakan kendaraan. Memang sedang merah dipinjamkan pihak sponsor untuk perlengkapan film."Lintar Ketika Musim Durian Tiba" ini. Yang jelas semua kerugian ditanggung Ferry Angriawan selaku produser film.~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN


 FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN. Langkah Langkah Pasti merupakan karya ke 7 sutradara Acok Rahman, Produksi ke II PT. Metro Vistaria Film . Pendukung film ini cukup bisa diandalkan. Menggunakan artis besar yagn sebagian remaja seperty Hengky Tornando, Sally Marcellina, Vivian Boyoh, Simon Cader, Johny Indo, Rudy Salam dll. Sementara tokoh old crack Muni Cader yang biasa dapat peran antagonis, dalam film ini diberi peran sebagai orang baik yagn selalu jadi tumpuan nasihat dan harapan anak-anak muda. 

Film laga ini oleh Acok Rahman sengaja tidak di visualikan untuk lebih banyak meletuskan senjata api. Yang dominan justru fight menggunakan tangan kosong. 

"Saya ingin menonjolkan Indonesianya di film ini. Jika dengan senjata modern seperti aetion modern Barat atau HOngkong, saya rasa kuran sreg. Ada adegan mobil nyebur, atau menembus pertokoan atau lewat etalase kaca. "Saya perlu menampilkannya, mengingat cerita itu sendiri, kata sutradara Acok Rahman, yang sudah menangani 7 film, sejak film pertamanya "Mandi Madu" pada tahun 1984.~MF 095/63/Tahun VI, 17 Feb - 2 Mar 1990


SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


TIEN ISTRI BZ KADARYONO

 


TIEN ISTRI BZ KADARYONO, (berita lawas). BZ Kadaryono salah satu nama sutradara yang terkadang jadi bulan-bulanan pemain orbitannya, tentu saja yang dimaksud pemain cewek. Berbagai tudingan pun mampir bertubi-tubi bahwa sutradara bertubuh jangkung ini cenderung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti memacari si pemain atau mengintiminya dengan maksud-maksud tertentu. Benar atau tidak kabar burung ini hanya yang bersangkutan yang lebih tahu. 

Tapi istrinya, Tien Kadaryono malah membenarnkan, meski tidak seratus persen,. "Omongan oran gluar itu pernah saya buktikan kok. Cuma saja kita orang-orang tua berpikir panjang kalau sampai persoalan ini menjadi malapetaka dalam keluarga. Ya sudahlah selama ia masih memperhatikan kebutuhan anak-anak dan saya, macam gituan saya redam saja, " tukas Tien maklum. 

Karena Tien juga sebagai pemain sering mendapat godaan dari sutradara atau sesama pemain. Di lokasi itu segalanya bisa saja terjadi, namun Tien bilang kompensasi itu perlu asal tidak melahirkan ekses. Nah, bagi Tien soal pergi ke disko misalnya, tetap masih suka. penah suatu saat Tien juga dikait-kaitkan dengan Hengky Tornando. "Ya saya sering jalan bareng dengannya, namun tuduhan itu nggak mutlak, karena disamping Hengky saya ditemani Lina Budiarti,  papar Tien. 

Ulah suaminya yang sering dipanggi Mas Yon, Tien bilang wajar-wajar saja. Yang namanya manusia, ada yang tahan atau tidak menepis godaan. Mungkin, kata Tien suaminya puya maksud baik dalam pendekatannya kepada pemain, tinggal tergantung pemain itu sendiri menentukan sikap. "Karena pernah suatu hari saya kedatangan cewek yang juga pemain film. Gara-gara berita dimajalah, bahwa Mas YOn makin intim dengannya. Saya tenang saja dan ia minta maaf. Justru dengan maaf itu saya tambah bingung. Masalahnya jika orang itu minta maaf berarti punya salah kan?, "Sikap mas Yon sendiri, ya gitulah namanya aja laki-laki, ' gumamnya seperti ada sesuatu yang mengganjal. 

Tien berterus terang segala macam kabar buruk tentang suaminya diluar itu tanggungjawabnya. "Tugas saya menetralisir keburukan itu kepada anak-anak. Abis mau gimana. Mas Yon kan manusia bukan hewan, masa sih mau kita paksa untuk takluk pada pendirian kita. Mana mungkin?, serganya. "Dirumah ia suami saya dan diluar milik publik. Saya pasrah saja dengan takdir. Jika memang kabar burung itu menjadi kenyataan, " tandasnya agak klise. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN


 MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN, (Berita lawas). Serial Keluarga Van Danoe memang berbeda dengan lenong Rumpi. Kalau dalam serialnya Boim dan kawan-kawan itu, tokoh dan profesinya terus berganti-ganti setiap minggu, maka sekarang karakter setiap tokoh sudah paten. Robby Tumewu sebagi si kepala keluarga konglomerat Karel Van Danoe Wiryo, Ferina (Isterinya, Ceu Kokom), Debby Sahertian (Adiknya, Zus Zeba Van Santen), Ari Wibowo sebagai anak sulunya, Jansen, Dina Laenia (Si Bungsu Leince), Merry Hakim (Si Pembantu Madonnah). Hengky Solaeman selain mengarahkan juga berperan sebagai Oom Piet, si penasehat yang di sebelin dan sesekali tampil Bob Sadino (Oom Koes, sesepuh keluarga).

Sudah pernah ditampilkan bintang-bintang tamu dari si pesulap Frans Harrary sampai Rano Karno, Chintami Atmanegara dan lain-lainnya. 

Untuk menyambut Idul Fitri (1413 H) bertepatan dengan tahun 1993 Masehi, disiapkan episode spesial bertajuk Maaf, Maaf, Maaf. Seluruh keluarga main semua, plus bintang-bintang tamu Anna Shirley, Chintami Atmanegara dan Merdy Salim. Durasinya dilipat duakan menjadi satu jam penayangan. 

Ceritanya keluarga Van Danoe merencanakan bet-long-week-end ke Los Angeles. Belum apa apa, Kokom dan Koba sudah ribut sendiri menentukan tujuan mereka, sedang Karel memilih menginap di Santa Monica, lokasi suting serial Bay Watch dimana banyak cewek seksi berbikini berseeliweran. 

Si Sopir Ono dan si babu Onah diajak juga. Tugas Oom Piet untuk menyiapkan paspor mereka. Eh, Oom Piet sendiri jebul tak diajak, "Jij jaga rumah saya ya, kan lebaran banyak tamu yang datang, cuma jij Piet yagn ike percaya, " ujar karel. 

Karual Oom Piet kecewa berat. Kebetulan Oom Koes datang. Langsung  Oom Piet menghasutnya. berhasil. Oom Koes memarahi seluruh keluarga Karel. "Kalian sok kaya ya, sudah melupakan adat timur Lebaran kok malah jalan-jalan ke LA bukan di rumah!".

Batallah rencana muluk-muluk mereka. Tibanya Hari Raya disambut dengan acara sungkem seluruh keluarga. Tamu berdatangan bagai tak putusnya,sampai Karel kelelaha. Eh mendadak datang juga biduanita kece, Chintami Atmanegara. Tergugah semangan Karel mengajaknya ke ruang privae. Kokom yang sudah bangun tidur jadi cemburu banget. 

Keluarga Van Danoe tayang di saluran RCTI. ~ Mf 175/142/Th. IX 20 Maret - 3 Apr 1993

PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN!

 


PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN! (Cerita Lawas). Menurut data produksi dari sekretariat PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), sebenarnya masih cukup banyak film tema action yang di produksi para produser kita. Namn semua itu seakan tenggelam oleh sukses besar Saur Sepuh yang telah beberapa serial di produksi. 

Kecuali PT. Inem Film yang tetap produktif dengan tema action untuk penonton bioskop kelas menengah kebawah. Beberapa perusahaan lain tak mau ketinggalan. Mercu Alam Abadi menggiring H. Rhoma Irama untuk tidak selalu berda'wah lewat Jaka Swara, Raja dangdut yang kini mulai memudar pamornya, diorbitkan sebagai bintang action baru. Ini adalah film full action Rhoma Irama yang pertama. 

Masih dari perusahaan yang sama, Liliek Sudjio  yang memang sejak dulu telah dikenal sebagai sutradara trampil dalam menggarap film-film action, menangani Misteri dari Gunung Merapi. Cerita tersebut juga diangkat dari cerita sandiwara radio yang telah populer dikalangan masyarakat. Ternyata Misteri dari Gunung Merapi sukses besar. Alhasil dilanjutkan dengan film keduanya.

Lalu, Rapi Film perusahaan yang cukup produktif tahun 90 ini memproduksi sekitar 12 judul, dimana dalam berproduksi cukup bervariasi, tak mau pula ketinggalan untuk menampilknan tema action. Pedang Naga Pasa judul film yang beredar serentak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur dan Sumatera Utara 24 September 1990.

Film yang dibintangi oleh Advent bangun, WD Mochtar, Erick Soemadinata, Baron Hermanto, Devi Ivone, Anneke Putri, Alba Fuad, dan ratusan pemain lain, termasuk puluhan pemain yang menguasai ilmu bela diri pencak silat dan karate. Jumlah tersebut masih ditambah lagi dengan keterlibatan sekitar 100 ekor kuda, sehingga benar-benar nampak sangat kolosal. 

Memang tidak ada burung raksasanya yang terbang gagah diangkasa. Tapi soal adegan adegan terbang yagn sangat mendebarkan. Dalam pedang Naga Pasa yang cerita dan skenarionya ditulis oleh Baron Achmadi dan disutradarai Slamet Riyadi, tidak kalah dengan Saur Sepuh. 

Walau mengaku telah berpengalaman untuk adegan terbang, ternyata Pedang naga Pasa, Devi Ivone yang sudah bermain dalam 20 film, dimana 15 diantaranya film action. Terpaksa harus sering menahan kesakitan. "Tangan saya sempat nyaris patah tulang!" kenang Devi yang juga menambah profesi jadi penyanyi. 

"Soal di gantung-gantung (sling) sudah biasa. Tapi yang satu ini memang benar-benar berat!" tukas Alba menimpali. Pendatang baru yang mengawali karirnya di film Permainan Di Balik Tirai, juga produksi Rapi film, memang tidak sempat menderita separah Devi. "Lecet-lecet kecil, biasa. Namanya juga film beranteman!" tukas putri Fuad Hasan drummer God Bless (Alm) yang mendapat kecelakaan lalulintas itu. 

"Kala saja tidak di dukung bintang-bintang action saya pasti akan banyak mengalami kesulitan. Beruntung pemain yang terlibat tidak saja mempunyai ilmu bela diri yang tangguh. Mereka selama ini telah dikenal sebagai aktor laga!" tukas Slamet Riyadi sang sutradara.

Meski proses ke luar negeri ini bukan pelanggaran. Sebab peraturannya masih memungkinkan sebuah film yang bagian-bagiannya belum bisa dikerjakan di dalam negeri, masih bisa diberikan izin untuk prosesing keluar negeri. Dan Pedang Naga Pasa keluar negeri seizin pemerintah. 

"Film action sukmanya pada spesial efek. Kalau spesial efeknya kurang sempurna, pasti kurang menarik. karena itu kami tak segan ke luar negeri, meski dengan biaya yang relatif lebih mahal, " tukas Gope T Samtani sang produser. Mudah-mudahan masyarakat tidak kecewa dengan film ini, tambah Gpe lagi. MF 110/78 Tahun VI 15-28 September 1990

Wednesday, March 18, 2026

RITA ZAHARA

 


RITA ZAHARA, Mengejar Sutradara Mati Hidup di Film (Cerita Lawas). Ada orang yang senang mem bunuh? Dengan menghunus rencong di tangan kanan, dan tanpa ragu-ragu ia hunjam senjata khas daerah Aceh itu ke tubuh wanita di hadapannya. Bles. Darahpun bersimbah di sekujur tubuh fatimah. Wanita itu mengerang dan roboh disaksikan banyak orang. 

Mengapa itu dilakukan, tanya pemimpinnya. Maafkan saya, jawab wanita yang memegang senjata rencong itu. 

"Diantara semua adegan, cuma adegan diatas yang paling saya senangi," ujar Rita Zahara yang berperan sebagai Nya' Bantu dalam film "Tjoet Nja' Dhien". Meski jawaban Nya' Bantu singkat, menurut Rita, mempunyai arti yang sangat dalam. "Karena adegan tersebut dapat dikatakan titik puncak kemarahan Tjoet Nja Dhien kepada pengkhianat, yang dapat dirasakan, lalu di terjemahkan oleh Nya' Bantu. Bagi pengkhianat hukumannya kan jelas mati. Maka secara spontan saya, eh maksudnya Nya' Bantu, harus membunuhnya, ' tutur Rita di kediamannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. 

"Film ini memang banyak memeras tenaga, waktu dan biaya. Tapi hasilnya dong, luar biasa sekali, cetus Rita Zahara sambil menggeleng-gelengkan kepala kagum. Dan ia sendiri salut pada keberanian Eros yang memvisualkan wanita Aceh itu. Dikatakannya bahwa Eros tekun dan teliti. Tak pelak, Rita pun dituntut untuk menghayati peran, yang meurutnya boleh dikatakan agak berat juga.  Karena itu Rita melakukan observasi secara langsung hidup dan bergaul dengan masyarakat terutama di Sigli. Maka ia mengerti dan memahami bahasa setempat, yang bicaranya tidak lemah lembut, cara berjalan yang gagah berani. Pokoknya saya tidur dan bergaul dengan mereka, sehingga tahu cara hidup mereka, kata Rita. 

Ria Zahara, Ibu 7 anak dan lahir di Singapura pada 5 Desember 1942, sedang magang sebagai asisten sutradara dalam film "Pacar Ketinggalan Kereta" garapan Teguh Karya. Lulusan ATNI tahun 1964 ini berniat mengisi profesi sutradara wanita yang masih langka di negeri ini. Sebelumnya, ia pun telah menjajal kemampuannya sebagai pembuat skenario sekaligus pengatur laku dalam sandiwara "Rona Rona" di TVRI. Juga ia telah merampungkan beberapa skenario film dan teve, yang ia beri judul "Darah Hitam", "Tangismu Milikku", "Keramat Batu Lebur" serta "Usia dan Cinta".

"Saya sangat mencintai dunia film ini. Saya tidak akan menyeleweng dari dunia seni. Kalau film lagi sepi, maka saya berusaha nyanyi, main drama atau menulis skenario. Saya hidup sekaligus membesarkan anak-anak dari hasil dunia ini. Saya nggak punya bakat bisnis, misalnya," tutur istri Piet Pagau yang juga pemain film. "Dan mudah-mudahan cita-cita sutradara itu tercapai. Namun saya beranjakdari tidak punya duit, yang saya andalkan adalah kemampuan dan pengalaman serta dorongan sutradara Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, " ungkap Rita sungguh sungguh. 

Rita Zahara pertama kali terjun ke layar putih lewat film "Gaya Remaja" (1960) Film-film selanjutna seperti "Teror Di Sulawesi Selatan", Macan Kemayoran", "Fajar Di Tengah Kabut", "Senja Di Jakarta", "Honey Money & Jakarta Fair", Misteri Di Borobudur, "Panji Tengkorak", "Manusia terakhir", "Kemasukan Setan", "Pembalasan Si Pitung" serta ikut pula dalam Jakarta 66" dan Noesa Penida".

Rita menceritakan bahwa kehidupan keluarganya yang berdarah seni itu telah di tularkan pada anak-anaknya. Ketujun anaknya, bahkan cucunya telah mencicipi dunia seni, entah di film, teve maupun nyanyi. Pokoknya saya menganjurkan pada mereka menggeluti dunia seni. Kan seni tak begitu banyak memerlukan pendidikan dan biaya, " katanya. "Apalagi sekarang betapa sulitnya cari kerjaan", tambahnya, Rita yang pernah terkenal sebagai penjaga gawang sepakbola pertama di Indonesia selain menikah 3 kali. sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988


LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR


 LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR (Berita Lawas). Tantangan bintang Indo tampaknya lebih banyak. Mereka umumnya menjadi sasaran dagang bagi produser dan sutradara. Ini dirasakan sekali oleh Lisa Patsy, cewek yagn di besarkan di negeri Paman Sam sana. Ia mengungkapkan ogah bradegan berbuka ria dan ciuman bibir. Waktu itu bertepatan dengan shooting film "Godain Kita Dong" bersama Warkop DKI. Rupanya sikapnya ini goyah juga, dan tak mampu berkutik pada sutradara Arizal. Dalang komersil ii menyuruhnya mengenakan pakaian seksi dan merangsang dalam film "Membakar Lingkaran Api". Bahkan ada satu adegan pemer kosaan dimana sebagian tubuhnya tersingkap bebas. "Biarin deh, asal tidak berkesan jorok. Kang nggak semua adegan buka-buka menimbulkan kejorokan. Lagian disitu kan saya di per kosa masa sih mesti tertutup rapat kayak mayat, " tandas Lisa yang mulai lancar bahasa Indonesia. 

Sebetulnya, kata Lisa soal pakaian seksi atau adegan buka-bukaan baginya secara pribadi tidak keberatan. Yag menjadi persoalan menjaga nama baiknya di sekolah dan lingkungan di mana ia tinggal. "Bohong kalau saya bilang nggak pernah main "begituan" contohnya ciuman atau main raba. Saya kan udah punya pacar, jadi logis saja bercinta di barengi usap-usap," akunya polos. Tapi yang satu ini Lisa pesan jangan ditiru cewek ingusan yang lain. Ia sendiri memang baru menginjak usia 15. Soal sudah matang dalam bercinta, mungkin lingkungan negara tempat membesarkannya menghendaki begitu. 

Cewek bernama asli Priscilia Lisa Maria ini masih sangat polos, hal ini disadarinya betul. Cuma yang paling sulit baginya untuk melawan perasaan dan kemauan orang lain. Nah, sekarang lIsa teguh tidak main buka-bukaan yang vulgar, tapi ia sendiri nggak tahu untuk esok. "Saya berani bilang begitu, karena hidup ini lewat proses. Sikap oran gbisa berubah dengan sendirinya seusai tuntutan perasaan tadi. Pokoknya untuk film saya nggak bisa obral janji dulu baik yang menyangkut batasan peran atau segalanya, nanti takut dibilang munafik, " begitu prinsip Lisa. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE


NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE (Berita Lawas). Butuh waktu sebulan lebih untuk menghayati perannya, Nani Wijaya masih harus membaca buku, mengamati kehidupan Keraton, melihat pertunjukkan kesenian dan nonton pertunjukkan wayang orang Sriwedari untuk bisa menyatu dengan tokoh yang dimainkan, Kanjeng Gusti Gusdini Suryo dalam film "Selamat Tinggal Jeanette".

"Inilah film terberat buat saya selama main film. Saya ditantang untuk bisa benar-benar menjadi wanita Kraton," ujar peraih Citra FFI 1978 lewat film Yang Muda Yang Bercinta. 

"Hambatan moral dan psikologis jelas ada. Tapi syukurlah sutingnya kebetulan di Kraton. Lokasi itu jelas sangat menolong saya, " tambah istri tokoh Sinematek Indonesia, H. Misbach Yusa Biran ini. 

"Saya memang berusaha sebisa mungkin untuk menyatu dengan Kraton. Menjadi wanita Kraton. Dan itu sangat berat," tuturnya Bayangkan Saja saya harus memerankan tokoh yang introvert. Tokoh yang pengetahuannya tentang dunia luar sangat terbatas. Sampai akhirnya saya harus menyerah karena saya tidak bisa mengatasi kenyataan yang terjadi, " katanya lagi. 

Dengan perannya yang seperti itu, Nani mengaku memang tidak terlalu optimis bakal tampil sebagai aktris peraih piala citra. Ia pun mengatakan tidak pesimis. "Mudah-mudahan saya deh yang meraih Citra tahun ini," katanya. Tapi tanpa citrapun saya sudah cukup senang karena orang-orang merasa puas denga permainan saya di film ini, " kilahnya. 

"Tapi kalau saya yang tampil sebagai peraih Citra, saya akan senang sekali. Soalnya saya merasa sudah bermain sebaik mungkin. Sayangnya saya tidak menyimak permainan rekan-rekan saya yang lain sih, ujarnya lagi. "Yang jelas banyak tantangan yagn aya hadapi dalam film ini. Termasuk beberapa isyarat yagn diberikan kerabat kraton agar tidak melakukan ini dan itu, cerita ibu lima anak ini. ~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 16, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


 EDWARD PESTA SIRAIT, Periode 88/89 Edward Pesta Sirait sempat menghilang, namun kemudian muncul kembali menyutradarai film. "Soalnya proyek saya tentang film alternatif lewat video gagal, " katanya. 

Dan kegagalan itulah yang agak membawa Edo, begitu ia akrab di panggil, kembali ke Jakarta dan kembali menyutradarai film bioskop. 

Adalah "Dua diatara tiga pria" film pertamanya setelah come back. Produksi PT. Raviman Film yang berkisah tentang penyelewengan kaum lelaki seperti penelitian yang dilakukan Dr. Naek L Tobing yang pernah menghebohkan itu.

Sutradara jebolan ATNI dan Kino WOrkshop ini, memang di kenal sebagai sutradara berbakat yang melahirkan film-film bagus. Beberapa kali ia masuk sutradara unggulan FFI karena film-film yang digarapnya. Film Tinggal Sesaat Lagi juga masuk dalam film nominasi FFI 1987. 

Memulai kariernya sebagai pembantu Sutradara tahun 1966. Edo yang pernah jadi asisten show manager Sarinah ini mengawali karir sutradaranya secara penuh lewat film "Chica" tahun 1976 dan berhasil mendapatkan penghargaan pada Festival Film di Kairo setahun kemudian. Setelah itu beberap afilm lahir dan tampil sebagai film yang berhasil dan menjadi pembicaraan. Mala filmnya "Gadis Penakluk" berhasil menempatkan namanya sebagai sutradara muda berbakat dan mendapat perhatian kalangan film. 

Lantas mengapa Edo kini menyutradarai film komedi?. Hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain saja". kilahnya. Dan sesuatu yang lain itu isa jadi sesuatu yang menghibur. Dan sama seperti film-film Edo yang terdahulu, kali inipun sutradara ini tetap  melibatkan Remy Silado sebagai salah seorang pemainnya. "Soalnya saya cocok dan seide dengan Remy, " begitu dia pernah bilang. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Thursday, March 12, 2026

SI CEWEK GENDUT ILLA DOTH


 ILLA DOTH. (Kisah Lawas). Artis bertubuh subur dengan bobot hampir satu kwintal itu punya kebiasaan menarik. Kalau biasanya orang yang lagi sedih tidak doyan makan, lain lagi dengan Illa Doth, kalau dia sedih justru makannya banyak. Kebiasaan ini ia jalani sejak kecil. Baginya hidup ini cuma sekali jadi harus senantiasa gembira. itulah sebabnya ia selalu menghindari kesedihan. Maka tak perlu heran jika tubuhnya subur. 

Orangnya cuek, ngomongnya ceplas ceplos penuh humor. Barangkali inilah yang membuat ia awet gemuk. Ia begitu bangga dengan keadaannya, sementara banyak orang melakukan diet jika merasa sedikit gemuk, tapi Illadoth cuek saja. "Kalau orang langsing dan cantik itu banyak tapi cewek gendut kayak Illadoth banyak yang cari. "akunya sambil mengunyah coklat, makanan kesukaan yang tidak pernah ketinggalan setiap hari. 

Ia tidak takut dengan nafsu makannya yang kuat, sebaliknya ia akan bertanya-tanya jika nafsu makan itu tiba-tiba menurun. Gemuk baginya adalah karunia Tuhan. Memang benar, dengan kegemukannya itulah membuat ia laris menerima tawaran main film. Sudah puluhan film yang dibintangi. Juga laris untuk backing vocal penyanyi. Dalam siaran TPI ia pun nongol untuk menghibur anak-anak balita lewat acara yang diasuh oleh Titi Qadarsih. 

Belakangan ini beratnya naik 3kg gara-gara dikecewakan cowoknya membuat ia menambah porsi makannya. Makan adalah kesukaannya, sehingga makanan akan menghibur dirinya bilamana menghadapi kesusahan. "Pokoknya gua emang gak mau susah, jika gua  punya persoalan berat, gua makan sekenyang-kenyangnya. NGapain mikirin yang susah-susah:, jelas Illa Doth yang beratnya mencapai 90 kg. 

Pada suatu hari, cewek Nasution yang satu ini pernah mencoba mengukur sejauh mana kekuatan makannya. Menurut pengakuannya jika lagi mood makan rasanya tidak ada kenyangya. Setelah di cobanya ia mampu melahap satu bakul nasi berikut lauk pauknya dan makanan lain yang memenuhi meja makan. Habis itu ia terkapar dan tidak bisa bangu lagi sampai esok harinya. 

~MF

Wednesday, March 11, 2026

SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK

 


SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK, Angin laut selatan menerpa-nerpa pantai wisata karang Tirta Pangandaran, Jawa Barat. Udara membawa uap panas, membuat suasana semakin gerah. Namun tidak membuat kru film Saur Sepuh IV episode Titisan Darah Biru larut dengan udara panas, menyengat dan membakar kulit. Jauh-jauh hari kru artistik yang di komandoi El Badrun dan Dellsy Syamsumar telah bekerja membangun set candi tua, mempersiapkan properti dan atribut-atribut lainnya menurut sejarah masa Majapahit yang menjadi patokan ide cerita Nikki Kosasih.

Dari arah jalan, tempat wisata Karang Tirta seperti sebuah "pasar seni" meriah dan tak pernah terjadi suasana seperti ini sebelumnya. Biasanya pantai Karang Tirta hanya sebuah semi padang rumput dan dihiasi semak belukar tak terawat. Dengan berdirinya gapura istana Madangkara setinggi 15 meter, membuat tempat rekreasi lokal yang tak pernah disentuh Pemda Jabar ini semakin anggun. Sebelah kanan arah jalan terdapat sebuah istana Keputren. Istana itu dibangun diatas padang rumput dengan memanfaatkan belukar liar sebagai pepohonan rindang. Sekali pandang, kita akan asing dengan dua bentuk istana keputren itu. Selain warna cat nan legam, relief lengket di dinding berkesan magis. Sehingga seperti rumah orang bunian (jin), begitu mencekam. Padahal bangunan istana keputren ini terbuat dari tripleks , sedang atapnya terbuat dari fom (gabus) yagn di cat berwarna hitam. "Sebelum suting, kami bertiga , saya, Badrun dan Tantowi telah membaut seketnya. Jadi bangunan dirancang jauh-jauh hari, " kata Dellsy Syamsumar. 

Sebelah kiri jalan terbentang perkampungan era Majapahit, atapnya membumbung tinggi beratap rumbia. Sementara dindingnya terbuat dari kayu-kayu laut tanpa di ketam (serut). Kawasan bangunan itu memiliki lima bangunan induk yang begitu asing. "Kami tidak hanya mereka-reka bentuk rumah penduduk masa Majapahit. Kami mencari bentuknya dari literatur, yakni dari buk karangan Rafles. Dari buku karangan Rafles ini kami berani membuatnya. Jadi punya argumentasi kuat membuat bangunan ini, ' ujar Dellsy meyakinkan. 

Setting interior Istana Madangkara dibuat jauh dari bangunan induk lainnya. Karena keadaan di Karang Tirta tidak memadai, istana itu dibuat megah, semegah nama Madangkara. Oleh karena itu dibutuhkan lapangan yang luas, tempat berdirinya dinding dan sangkutan lampu. Tidak ada jalan lain, kecuali membuatnya di lapangan terbuka. Karena angin laut langsung menerpa dinding istana, membuat Istana Madangkara ambruk dua kali. 

Setiap episode seri Saur Sepuh sutradara Imam Tantowi, selalu memiliki binatang maskot seperti burung Rajawali, Buaya dan di saur sepuh ke 4 adalah kelelawar. Ini yang membedakan saur sepuh dengan tema klasik lainnya. Justru itu Imam Tantowi harus bekerja keras. Tidak hanya memanpilkan ketrampilan laga, tapi juga seni membuat adegan fantastik, seperti yagn terdapat dalam dongeng-dongeng. Variasi antara fantastik dengan drama action klasik menjadikan Saur Sepuh IV  lain dari episode sebelumnya. Karena kreatifitas ini membuat Saur Sepuh tidak pernah kalah pamor dengan film sejenisnya. Meski banyak suradara maupun produser meniru suksesnya Saur sepuh agaknya Tantowi tidak pernah gentar.

Rencana Imam Tantowi membuat hutan absurd sudah ada ketika dia menggarap film Soerabaia '45. Konon angan-angannya itu sudah sekian tahun yang lampau. Lewat Saur sepuh IV ini keinginannya itu terwujud. "Kawasan hutan itu merupakan hutan raksasa, dimana dua puluh orang tidak akan bisa merangkulnya, " kata Imam Tantowi. "Hutan seperti ini zaman dulu pasti ada, tapi sekarang menjadi absurd, ? kilahnya pula.

Nyata sekali Imam Tantowi menyuguhkan suasana yang lain. Dimana kelak hutan raksasa akan membuat suasana yang lain. Mencoba keluar dari kebiasaan, dimana setiap film yang meminjau masa Majapaphit, selalu membaut hutan dengan batang pohon kecil. 

Ternyata membuat film klasik membutuhkan kerja keras, kalau digarap serius. karena membutuhkan property serta set dan atribut lainnya yang tidak ada dijual, kecuali membuat sendiri. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sediki. 150 juga rupiah dana  disediakan produser PT Kanta Indah film untuk artistik. 

Titisan Darah Biru mengungkap suksesi yang terjadi di kerajaan Madangkara. Dimana terjadi pemberontakan dari pihak yang lalim, untuk menumpas generasi muda Madangkara keturunan Brahma Kumbara ingin di tumpas. Karena generasi muda Madangkara ingin membangun kerajaan seperti jayanya Majapahit. Sementara kaum tuanya menginginkan  kerajaan Madangkara tanpa ada kemajuan. 

Maka kaum tua melakukan penghkhianatan, isteri Brahma Kumbara di culik oleh manusia berhati iblis. Sebab manusia berhati iblis itu berniat menguasai Kerajaan Madangkara dengan otak liciknya. Ternyata Imam Tantowi juga bicara politik lewat episode Titisan Darah Biru

Film ini dibintangi oleh Candy Satrio, Anneke Putri, WIda Nathasa, Baron Achmadi, Rita , Hans Wanagi, Devi Pertama Sari, Agus Kuncoro, Belkies Rahman, Annas Rohisszein dan Satria S, serta ratusan film figuran. 


Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990