KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI, (Berita lawas). Dua tahun lalu (1987), lewat S.K 007/PB.PARFI/1987, pernah dihimbau agar artis-artis yang direkomendir oleh PARFI diasuransikan. Menurut Sekretaris Parfi, Reza Pahlawan, "Sudah pernah dibicarakan dengan Asuransi Timur Jauh. Kemudian diajukan juga usulan ini pada PPFI. Tapi belum ada tanggapan. Konon PPFI masih ingin meminta saran dulu pihak Deppen. Akhirnyaya terlupakan sapai sekaran, "Smpa terjadilah peristiwa naas yang meinmpa korban di awal September kemarin (1989)!.
Aktor yang dokter dan kolonel Amoroso Katamsi, saat bertemu wartawan , sama-sama melayat pemakaman Tuti Indra Malaon, mengakui "Terjadinya musibah tersebut membuat PARFI berusaha mendorong kembali himbauan untuk mengasuransikan para artisnya!".
Sutradara Buce Malawau yang baru saja merampungkan film kecelakaan kereta api, "Tragedi Bintaro", berpendapat, "Sebenarnya kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bukan saja di dalam suting film. Tapi saya setuju sekali pada ide yang dicetuskan oleh Parfi tersebut. Yang penting jangan sampai teledor, karena fatal akibatnya!".
Ditanggapi oleh sutradara Imam Tantowi, yang sedang menyiapkan "Saur Sepuh III, Kembang Gunung Lawu". Di kantor PT. Kanta Indah Film, "Yang terpenting harus selalu ada safety. Misalnya sebelum mengambil adegan salto disediakan kardus secukupnya untuk jatuhnya. Pada saat adegan lompat dari ketinggian ada safety-belt, Untuk adegan melayang ada sling yang sentosa. Asuransi dan santunannya kan hanya untukkeluarga yang ditinggalkan. Yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali. Cuma memang beban yang harus ditanggung produser menjad lebih ringan karena sebagian menjadi tanggungan pihak asuransi.
Tantowi yang sering membuat film laga, pernah sekali mengalami musibah saat pembuatan film pertamanya "Pasukan Berani Mati". Justru menimpa salah seorang pemain utamanya, Barry Prima. Adegannya Barry melakukan salto dan terjatuh sampai tulang panggulnya patah. Di duga kesalahan pada Barry sendiri yang terlalu memaksakan diri, dan sebenarnya dalam keadaan kurang sehat. Memang seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh PT. Rapi Film, namun bagaimanapun juga tulang panggul Barry sudah menderita cacat.
"Kecelakan tidak kita minta, safety yang dibutuhkan," ulang Tantowi,. "Asuransi bukan menyelesaikan masalah. Salah satu cara untuk safety misalnya dengan menggunakan kendaraan angkutan ke dan dari lokasi suting. Biasanya dipilih kendaraan yang cenderung murah sewanya. karena berselisih sekitar Rp. 100 rb dengan kendaraan yang baik. Tapi kalau imbalannya nyawa? Betapa murahnya nyawa orang film kalau begitu!".
Sutradara Abnar Romli yang sedang merampungkan film silat "Pancasona" menambahkan "Diperlukan orang-orang yang profesional untuk menyiapkan sarana sebelum melakukan adegan berbahaya!".
Abnar teringat pengalaman ketika suting film "Six Balax dalam Penculikan Pengantin". Adegannya sang tokoh mengebutkan motor sampai melompati mobil polisi yang menghadangnya. Mungkin karena persiapannya kurang matang, motor yang terbang itu melambung kelewat tinggi. Stuntmannya terjatuh, untung tak sampai cidera berat!".
"Terkadang saya amati mereka kurang memikirkan diri sendiri,"komentar Abnar terhadap para stuntman berani mati itu.
Dibenarkan oleh Subagyo Samtani, Produser Pelaksana PT. Rapi Film, yang teringat pengalaman saat suting film "Dendam Membara", ingat pada adegan mobil menerjang supermarket? Nah, saya sudah pesan wanti-wanti agar bensin mobil yang digunakan untuk menabrak etalase Supermarket itu diisi seliter saja. Asal cukup untuk jalan. Jangan diisi penuh-penuh, takut kalau terjadi kecelakaan kan bisa terbakar dan meledak. Eh ternyata diisi cukup banyak oleh stuntman Gatot, ketika saya tahu, langsung saya marahi habis-habisan. Untunglah sutingnya berjalan lancar dan selamat!".
Tantowi pun pernah memarahi adiknya sendiri, Eddy, yang menjabat asisten special effect saat suting "Saur Sepuh II, Pesanggrahan Keramat" di hutan lindung Pangadaran. "Dia memanjat pohon beringin tinggi, meniti dahan kecil untuk memasang sling (Kabel kawat) tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Langsung saya suruh turun dan harus memakai safety belt dulu baru melanjutkan kerjanya. Setidaknya kalau sampai tergantung-gantung, tak sampai terbanting!".
Saat suting film silat "Pembalasan Si mata Elang" bintang laga Atut Agustinanto juga mengalami kecelakaan. Tangannya patah karena terjatuh ketika adegan bertarung dengan Advent Bangun. Namun sesudah dirawat oleh "orang panti" yang ahli patah tulang, ia bisa dipulihkan, dan melanjutkan suting kembali dalam waktu relatif singkat.
"Tapi mulai sekarang, Virgo Putra Film mengasuransikan seluruh pemain dan karyawannya, " tegas Ferry Angriawan yang memetik hikmah dari musibah "Si Roy".
Untuk produksi terbarunya "Joe Turun Ke Desa", Ferry mengasuransikan seluruh pemain dan karyawan pada PT. Asuransi Agung Asia,". "Perusahaan yang membayarkan asuransi sebesar Rp. 52 ribu per orang atau jangka waktu satu tahn." Jadi kalau produksi menggunakan sekitar 50 artis dan karyawan, maka produser menyetorkan Rp. 2,6 juta. Relatif kecil dibandingbiaya produksi rata-rata diatas Rp. 200 juta.
Dengan pembayaran asuransi tersebut, setiap orang dipertanggungkan nominal Rp. 10 juta. Bila mendapatkan kecelakaan sampai masuk rumah sakit, mendapat penggantian maksimal sebesar Rp. 1 juta. Bila sampai meninggal santunannya sebesar Rp. 10 juta. Bila cacad sampai kehilangan anggota badan, diperhitungkan secara prosentase. Misalnya bila kehilangan sebelah tangan mendapat 20% dari santunan maksimal. Bila kehilangan sebelah mata mendapatkan 40%. Demikian seterusnya, ada perhitungan terperinci masing-masing.
Chaerul Umam yang sedang menyiapkan "Joe Turun Ke Desa" menyebutkan tiga unsur, "Pertama, pehatian untuk staf non artistik. Kecelakaan itu sebenarnya terjadi karena kecerobohan manusianya. Mustinya sebelum mengendarai mobil periksa dulu olinya, temperatur dan lain-lainnya, Kedua kendaraan yang dipergunakan mbok ya jangan yang terlalu tua, tidak siap itu. Ketiga asuransi memang belum populer dalam perfilman. Betapapun uang santunannya bisa membantu keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai produser, Ferry Angriawan sebenarnya sudah menyarankan agar selalu memilih kendaraan yang baik untuk sarana angkutan. "Namun bukan tidak mungkin ada pimpinan Unit atau Pimpinan Produksi yang ingin menghemat dengan menyewa kendaraan yang lebih murah. Untuk selanjutnya perlu ditekankan lebih berhati-hati dalam memilih kendaraan angkutan dan jangan lalai untuk selalu memeriksakan kondisinya sebelum digunakan!".
Nampaknya sesudah musibah "Si Roy", asuransi akan mulai masuk dunia film Termasuk suting kelanjutannya pun kelak mulai diasuransikan. Demikian juga untuk produksi Andalas Kencana mendatang, "Melacak Dendam".sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989







