TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, (Film Lawas). Mencari nilai jual yang tinggi merupakan angan-angan pertama yang melintas di benak pedagang. Termasuk produser film, tentunya. Pemikiran mereka sangat sederhana dan wajar, ingin untuk. Syukur bila keuntungan besar.
Untuk meraih apa yang diharapkan, para produser itu selalu berusaha menggali dan menampilkan sesuatu yang baru dan menarik. Memilih cerita yang baik, berbobot dan cukup populer dikalangan masyarakat luas, merupakan langkah awal dari upaya mereka.
Bila produser telah mendapatkan cerita yang diharapkan dan dinilai cukup komersil, memilih bintang pendukung pun segera dilakukan. Tentu saja, pilihan jatuh kepada aktor dan aktris yang masih menjadi idola masyarakat. Soal resiko salah casting, bagi produser biasanya menomorduakan. Yang penting bagi pedagan ini adalah Filmnya bisa laku.
Judul yang komunikatif dan gampang memasyarakat, juga diyakini sebagai salah satu faktor penting atas sukses tidaknya peredaran film tersebut. Begitu besar pranan sebuah judul, sering menimbulkan keributan diantara sesama produser.
Kitapun tak perlu heran mendengar terjadi jual beli judul film. Kabarnya pasarannya cukup tinggi. Sebuah judul bisa mencapai jutaan rupiah, bila produser menganggapnya punya nilai komersil.
Dan soal judul ini, sering pula dikaitkan dengan urusan mistik. Judul yang baik, komunikatif dan komersil, menurut keyakinan produser, setengah perjalanan untuk mencapai sukses. Sebaliknya, judul yang aneh-aneh konon sering pula berdampak negatif dan membawa malapetaka.
Dalam upaya mencari nilai jual yang tinggi itu, Gope T Samtani, Produser PT. Rapi Film nampak lebih serius. Mengontrak bintang termahal saat ini, Meriam Bellina juga dilakukan untuk mengangkat film Saat Kukatakan Cinta.
Untuk Film keduanya, Tiada Titik Balik, Gope kembali mengimpor bintang bule, Cindy Rothrock bersama beberapa pemain bule lainnya untuk mengadu ketangkasan dengan aktor laga kita Advent Bangun.
Masih dalam upaya mencari terobosan, Tiada Titik Balik yang melibatkan ribuan pemain, termasuk figuran, diboyong ke Amerika untuk penggarapan sound effect yang menggunakan system ultra stereo . Menurut Gope yang menguras kocek hampir satu miliar rupiah, sekarang ini kita memang harus berani mencari terobosan baru dan mengeluarkan biaya yang relatif besar.
Dengan menggunakan ultra stereo sound katanya, film ini diharapkan mampu menembus kelesuan pasar dan dominasi film impor di bioskop kelas atas. "Kalau bisa sukses di bioskop atas, biasanya di bioskop bawahnya juga sukses," katanya.
Sasaran lain yang ingin di capai, kata Gope penuh optimisme, menerobos pasaran luar negeri. Bahkan diharapkan dari pasaran luar negeri itu biasa produksinya sudah bisa tertutup, sehingga hasil pemasaran di dalam negeri sudah merupakan keuntungan.
Menyinggung entang penyelesaian film yang agak lambat, Gope bilang "Prosessing tidak mengalami hambatan, hanya karena banyak pembuatan spesial effect dan animasi yang harus digarap di Hongkong dan ultra stereo sound-nya di Amerika, membuatnya lebih lama".
Ia mengaku dibandingkan dengan pembuatan biasa yang semua di kerjakan di dalam negeri film ini lebih lama sekitar satu bulan. "Biasanya , empat bulan setelah suting, sudah selesai copy A-nya tapi dengan menggunakan ultra stereo, baru selesai sekitar 5-6 bulan, ' jelasnya.
Setelah berkutat di Amerika untuk menyelesaikan penggarapan ultra stereonya, Tiada Titik Balik tidak akan bisa langsung pulang ke Indonesia. Kata Gope, ia harus mampir lagi ke Hongkong, prosesing berikutnya sampai Copy A. ~MF No. 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


.png)




