EENG SAPTAHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA JOB (berita lawas). Lama sudah Eeng Saptohadi tak ketiban tawaran untuk berlakon di film. Kondisi perfilman negeri ini masih di tutupi awan tebal. Tapi tidak begitu dengan seni peran, media sinetron masih menghembuskan angin segar. Semakin tegarnya TV swasta dan menjamurnya Production House (Rumah Produksi) membuat artis mendapat nafas baru.
"Banyak peran menghampiri, banyak pula yang saya tolak. Bukan soal honor, tapi soal peran yang akan dilakoni, "kata artis jebolan IKJ ini.
Awal tahun 1993, Eeng langsung di berondong tawaran dan semuanya untuk media televisi. Sekian banyak Eeng hanya menerima Untung Nak (TVRI), Badai Pasti Berlalu (TPI) dan sinetron Rumah Tuhan Rumah Kehidupan (TPI).
Bagi Eeng untuk menjadi artis di negeri ini banyak pengorbanan. Sebab, artis Indonesia harus lebih pintar, punya waktu, lebih cerdas, lebih ngotot dan harus bisa segalanya. "Karena iklim yang menciptakan artis Indonesia harus bersikap seperti ini. Sebab, berurusan dengan ngepulnya dapur sang artis. Honor artis di negeri ini sangat minim sekali. Karena itu ia terjebak kerja rutinitas, begitu ia selesai berlakon, mau tidak mau menerima pesan apa aja. Kalau sudah terjebak dengan iklim ini maka kreatifitas akan buntu, "ujarnya berapi-api.
Justru itu tak jarang Eeng mengorbankan honornya hanya untuk membeli kostum. Untuk supaya tampil eksis, bila mendapat peran beruntun, tak jarang mengurung diri di kamar untuk analisa skenario. "Kan sudah saya katakan artis Indonesia harus bisa menitih bui. Dengan honor kecil harus bisa berakting semaksimal mungkin,"kilahnya. Maka tak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa artis Indonesia di dalam satu atmosfir memeras akting. "Akhirnya lupa bagaimana caranya mengembangkan akting. Seperti inilah iklim artis Indonesia, "lanjutnya.
Eeng mengakui ia juga terjebak dengan kenyataan itu, tapi ia tetap mencoba keluar dari lingkaran atmosfir yang gelap gulita itu. Meski ia juga salah seorang pengajar IKJ, untuk menjadi seorang aktor perlu jam terbang tertentu dalam seni peran. "Jam terbang bisa dilakukan di film, sinetron maupun panggung, semua itu aalah medianya untuk seorang aktor, dengan bahasa kerennya media ekspresi".
Eeng mencoba melawan iri walau dalam keadaan krisis setia dengan keinginan jiwanya, menjadi seorang aktor. "Cukup banyak artis di negeri ini orientasinya adalah job. Ini sangat disayangkan.
Di Indonesia masih mejual yang namanya fisik, bukan menjual ilmu. Orientasinya masih fisik, "ada sebuah istilah. Biarkan tokoh itu mencari manusianya. Watak yang ada di dalam skenario akan mencari manusianya. Seorang pemain harus ada dialog antara penulis skenario dan sutradara. Sampai mencapai yang namanya kesepakatan dalam persepsi. Begitu sudah ada kaa sepakat, barulah ia mncari manusianya. Jadi bukan karena komersial dari apapun namanya.
Obsesi Eeng sebagai seorang pelakon cukup sederhana dalam jangka dekat ini, katanya "Kita sudah kalah di bioskop tapi jangan kalah dirumah kita sendiri. Sebab, bila kesenian dicampur adukan dengan birokrasi, pasti akan timbil keterbatasan-keterbatasan. Kita perlu keterbatasan-keterbatasan. Kta perlu kebebasan dan kemerdekaan untuk berkesenian apapun namanya.
Karena itu Eeng mempersiapkan moral untuk berkarya meski sekarang ini ia hanya menjadi seorang pemain. "Hanya kematian yang memisahkan saya dengan seni peran,"katanya dengan bersemangat. Ada PH yang menawarkan kepadanya untuk menjadi sutradara, kontan ditolaknya. Alasannya ia masih setia dengan profesi yang digelutinya.
"Mulai tahun gajah, tetap saja honor sinetron selalu kecil. Bagaimana seorang artis bisa bermain baik, bila honor yang diterimanya pas-pasan? sampai saat ini saya hanya menyampaikan kepada semua PH supaya meningkatkan kualitas sinetron maupun pemberian honor kepada pemainnya. Menurut saya, selama saya berlakon dalam sinetron hanya "Tasi Oh Tasi" sutradara Arifin C Noer, yang memberikan honor paling besar, "katanya dengan tangan gemetar. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993







