Saturday, May 16, 2026

BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI

 


BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI (berita lawas) . Sudahlama juga bintang film laga ini tak berciat-ciat di depan kamera film. Dia yang biasa di panggil Bertus namun populer sebutan Barry Prima saat ditemui di Bandung, kembali kepada profesi semula, pengajar taekwondo yang sempat terhenti karena kesibukan di film. 

Kepada MF ia bercerita tentang nostalgianya. 

Pagi itu meskipun sinar mentari sudah menyemprot dari lubang jendela, namun Barry masih tidur pulas di kamarnya. Sampai datang adiknya, Max membangunkannya, bahwa ada tamu yang betul-betul serius hendak menemuinya. 

Di ruang tamu memagn sudah menunggu sepasang muda mudi yang mengaku suami istri yang sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka. Sang istri dalam keadaan hamil 5 bulan itu permintaannya aneh-aneh, yakni ingin makan nasi yang sebelumnya sudah di cocolkan ke pipi Barry Prima. 

"Yahoi, apa nggak kaget tuh mendapat permintaan unik seperti itu?" tawa Barry. 

Selanjutnya tamu yang sudah sengaja berbekal nasi, setelah permintaannya disetujui, kontan mencocolkan nasi ke pipi Barry dan blep langsung di lahapnya dengan senyum malu dbawah tatapan bingung bintang film laga itu. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

GITO ROLLIES, BERHENTI JADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA


 GITO ROLLIES, BERHENTI MENJADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA (berita lawas). Musik rock terkadang diidentikkan dengan narkotik, walaupun pandangan tersebut salah. Nyanyi atau bermain musik rock (baca berkesenian) merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketekunan tanpa harus ditunggangi oleh obat-obatan terlarang. Seni ya seni, narkotik ya... teler itulah.

Nah ungkapan diatas tadi meluncur dari rocker Gito Rollies (Bangun Sugito) yang mengaku sudah selama 7 tahun berhenti total memakai barang-barang memabukkan itu. Padahal sebelumnya sudah diketahui umum, saat masih gabung dengan grup The Rollies, Gito terkenal brutal dan sering tampil dipanggung dalam kondisi 'tinggi'.

Lalu apa yang menyebabkan vokalis, berambut kribo ini menghentikan kebiasaan yang dianggap negatif itu? Tentunya ada suatu proses yang datang menyadarkannya, sehingga ia mampu melepas belenggu kecanduan narkotik ria. 

Awalnya pada tahun 1985 saat Gito naik panggung di Gedung Saparua, Bandung pada acara duel meet The Rollies & God Bless. Seperti biasa Bangun Sugito tampil dengan kondisi yang 'panas' kalau tidak bisa di katakan 'over drugs. Itu semua diketahui penonton dan juga istrinya, Michelle yang bersama putra mereka Puja Antar Bangsa (2 tahun) menyaksikan dari sisi panggung. Publik yang mayoritas kaum remaja tak perduli dan menganggap atraksi Gito sah-sah saja. Begitu memang penampilan rocker, demikian tanggapan mereka. Dari sambutan dan yel-yel rock yang mereka teriakkan, membuat Gito kian bersemangat saja, berjingkrak-jingkrak diatas panggung. 

Selesai melantunkan beberapa lagu, Gito keluar dari panggung dan langsung menemui istri dan anaknya. Wajah Michelle biasanya cerah menyambut Gito usai nyanyi, kini malah ubah muram. Tiada kata dan tiada tawa, juga saat keduanya sudah mengendarai mobil menuju k epemukiman orangtua Gito di perumahan Cibeureum Permai. 

Ini tentu saja membuat Gito bertanya-tanya dalam hati. Karena tak tahan atas perang dingin ini, Gito mencoba mengorek apa mau MIchelle yang begitu dicintainya, sehingga saat pacaranpun setiap bulan Gito mengirimkan berbagai jamu-jamuan untuk Michelle yang kala itu masih guru Taman Kanak-Kanak di Belanda. 

Mendapat desakkan gencar dari suaminya, lalu apa jawaban Michelle? "Saya tidak melihat kamu sebagai penyanyi tapi melihat seorang pemabuk diatas panggung. Coba buktikan suatu saat, bahwa tanpa mabuk pun kamu mampu menyanyi dan beraksi dengan wajar, " ungkap Michelle ketus. 

Mendengar kecaman  dari orang yang paling dicintainya ini, sedangkan penonton begitu mengelu-elukannya, tentu saja Gito merasa terpukul. Namun hikmahnya, semenjak itu Gito berusaha tampil di panggung tanpa narkotik dan menurut pengakuannya mampu diatasinya dengan baik. Itulah Gito, binal dan dinamis diatas panggung, tapi berkat bimbingan istrinya tercinta ia mampu mengobati diri tanpa keharusan memasuki panti rehabilitasi. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Gito Rollies meninggal 28 Feb 2008 . Akhir yang baik

MUCHSIN ALATAS & TITIK SANDHORA


 ADA YANG INGAT PASANGAN INI? MUCHSIN ALATAS & TITIEK SANDHORA, (berita lawas). Terdorong kewajiban dan kecintaannya pada sang istri, Muchsin Alatas selalu kerja keras. Untuk memberikan nafkah materi, selain semakin eksis di dunia artis, diapun berusaha di bidang pengerahan tenaga kerja. Alhamdulillah berkat usahanya itu, kondisi rumahtangganya dengan Titiek Sandhora terbilang mapan kendati belum konglomerat. 

Muchsin tidak cuma berupaya mencukupi istri dari segi materi. Sebagai muslim yang baik diapun selalu beusaha memuaskan istri dalam urusan nafkah batin. Resepnya? "Selain menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan perkasa, juga dikitab suci Al Quran banyak ditemukan kiat yang paten untuk urusan itu!" kata Muchsin yang jumpa MF ketika mengantar istrinya ke TVRI.

Urusan tersebut ungkap Muchsin memang urusan peningkatan servis batin kepada istri supaya istri puas. "Sungguh mati ini bukan soal porno. jadi layak saja bila di ketahui orang banyak. Masa memuaskan istri diranjang dibilang porno? Yang benar saja. Bahkan menurut Islam, hal itu wajib hukumnya. Dosa lho kalau kita tak mampu melayani istri!".

Ucapan Muchsin memang bukan cuma omongan muluk. Dia sendiri bisa membuktikan, pada tingkat usia sepuluh tahun lebih tua dari Titiek, Muchsin ttap galant dan perkasa. Akibatnya, rumah tangga mereka rukun-rukun saja hingga kini. 

Titiek bukan tidak pernah rewel atau merajuk. "Kalau istri kita begitu, kita harus tahu diri. Bujuk dia lalu rayu dan servis dengan gaya lain dari yang lain. Pasti sikapnya kembali baik. Itu saja rahasianya, " katanya setengah berbisik sebab Titiek baru saja selesai rekaman, muncul dan kemudian ikut nimbrung. ~sumber MF. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

Ada yang masih ingat film-film yang dibintangi mereka bersama?

Friday, May 15, 2026

KEPINGIN SIH KEPINGIN,

 


KEPINGIN SIH KEPINGIN, Cewek Gampang Dapat Kerja. Cari pekerjaan memang tidak gampang di Jakarta. Setiap ada satu lowongan langsung diserbu olehpuluhan bahkan ratusan pelamar. Arkadi yang lulusan Bussines Administration sudah setahun berusaha tanpa hasil. Tapi ketika di test mengetik di PT. Bumi Tak Berdaya, ia mendapat pujian Kepala Kantor. Sayang, harapan diterima bekerja buyar lagi gara-gara muncul cewek yang berani nyobek rok. Padahal ngetiknya tak karuan. Kepala kantor yang mata keranjang langsung membatalkan Arkadi dan menerima si cewek rusak. 

Arkadi yang sakit hati sampai pada kesimpulan, "Cewek lebih gampang dapat pekerjaan!". Maka iapun menyamar sebagai Dorce Sinthesa dan menirukan gaya mengetik yagn mirip nabuh gendang. Benar saja, pak Sori langsung menerimanya sebagai sekretaris. 

Tapi mulai timbul problema ketika Dirut Masri yang sudah lama menduda jatuh hati padanya. Juga Murce yang dikenal sebagai perempuan dingin berlesbi dengannya. Bagaimana cara Dorce alias Arkadi memecahkan semua problema ini?

Sutradara Hengky Solaiman menyebutkan karya ini sebagai sebuah "komedi ajaib" karena Akating Deddy Mizwar sebagai Dorce lain dari yagn lain. Kendati menimbulkan gelitik dihati penonton namun lain dengan gelitik yang ditimbulkan Emon misalnya.

Komedi yang skenarionya ditulis oleh Drs. Asrul Sani ini memadukan kelucuan-kelucuan yang halus dengan kasar. permainan Lydia Kandou sebagai si perawan tua Murce menampilkan kematangan dan juga kelainan. Sedangkan Wahab Abdi yang sudah lama absen dari menyutradarai bermain kocak, berhadapan dengan Paul Polii pelawak veteran Srimulat. Didukung pula oleh Pak Tile, Barkah, Nasir, Anen dan si gigi mencuat Diding Z.A. 

Thursday, May 14, 2026

SALAH SATU LOKASI SUTING BADAI LAUT SELATAN ADA DI GOA PETRUK


SUTING BADAI LAUT SELATAN.  SALAH SATU LOKASI  ADA DI GOA PETRUK (berita lawas).Badai Laut Selatan dijadikan judul film, hanya sebuah kiasan untuk memberikan makna dahsyat dalam sebuah perjuangan. Film yang di komandoi oleh Nurhadie Irawan mulai proses suting. Semua itu akan tergambar dalam berbagai adegan. Jago-jago perang misalnya dapat kita lihat kesaktiannya dalam pertempuran, dimana mereka berterbangan di udara. 

Untuk memberikan kesan bahwa peperangan itu adu kesaktian ilmu yang dimiliki kedua belah pihak, khususnya ilmu bela diri, Eddy S Jonathan dipilih oleh Nurhadie Irawan sebagai penata kelahi. Saat di temui di lokasi suting film tersebut, Eddy Jonathan yang termasuk penata kelahi terbaik sedang sibuk melatih Dede Yusuf yang berperan sebagai Pujo. Idola remaja itu harus melayang-layang diudara dengan sling. Di sling, menurut Dede, merupakan pengalaman baru. "Saya baru sekali ii di sling. Rasanya, ngeri juga!" ujarnya saat selesai latihan. 

Menampilkan adegan trick di udara, bagi Nurhadi memang bukan yang pertama kali. Film terakhir yang sudah beredar, Tutur Tinular telah membuktikan bahwa Nurhadi bisa membuat film laga, silat. Walau ia mengakui penata kelahi yang diimpor dari Hongkong cukup besar peranannya. 

Badai laut selatan yang ditangani seluruhnya oleh tenaga dalam negeri, bagi Nurhadi merupakan batu ujian untuk membuktikan kepiawiaiannya. Nampaknya, Nurhadi juga ingin menampilkan  peperangan sedahsyat Badai Laut Selatan yagn terkenal sangat ganas itu. 

Niat itu terlihat dari keseriusannya sejak waktu persiapan. Berbulan-bulan ia menyempurnakan skenario, lalu berminggu-minggu pula ia keliling berbagai daerah, mencari lokasi suting yang cocok. 

Suting, kecuali menggunakan studio Penas untuk membuat set interior, juga membangun set besar di tepian kali Cisadane, di daerah Ciseeng Bogor, Jawa Barat. Rencananya semua keru dan pemain juga di boyong ke Jembar - Jawa Timur dan pindah ke Gua Petruk di dekat Purwokerto , Jawa Tengah. Benar benar berat! Tapi saya ingin menampilkan sesuatu yang belum pernah ditampilkan dalam film kita, " jelas Nurhadi. 

Di samping lokasi suting  yang sukup jauh, medannya berat iapun bilang, "film ini membutuhkan ketelitian kerja ekstra berat pula." Sebab , katanya menambahkan, ceritanya memang berdasarkan sejarah. Yaitu sejarah Kahuripan (dimajalah tertulis Majapahit)yang tokoh-tokohnya sangat dikenal masyarakat. 

Untuk memberikan kesan kemegahan kerajaan-kerajaan di jaman tersebut, sekitar abat ke VII-VIII, penata artistiknya dipercayakan kepada Mantri. Salah satu set besar, istana Selopenangkep dipeankan Prof. Dr. Wisnu Wardana, raja di Singasari, dibangun Mantri di tepi sungai Cisadane itu. "Setnya luar biasa. Padahal semua itu digarap karyawan kita sendiri!" Tukas Nurhadi memuji karya anak buahnya. 

Dalam pembuatan Set, Katanya, pernik-pernik istana diusahakan bisa menekati realitas. Dari cerita, lokasi suting, dari lamanya suting, Badai Laut Selatan juga bisa digolongkan sebagai film besar. "Film-film semacam ini, sangat jarang di produksi!" kata Prof. Wisnu Wardana memberikan komentar, karena itu, lanjutnya layak mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak. Baik saat suting, dengan cara memberikan  suatu fasilitas , kemudhanan-kemudahan misalnya maupun saat film itu mulai beredar di bioskop dengan memberikan toleransi hari putar yang lebih lama. 

Profesor yang sangat mencintai kebudayaan tradisional itu juga memberikan penilaian bahwa Badai Laut Selatan, ceritanya relevan dengan pendidikan di negara kita. "Film ini kan tentang sejarah bangsa, sehingga anak-anak sekolah perlu ngerti sejarah bangsanya,!" tegas Wisnu Wardana yang Rektor IKIP Yogyakarta. 

Relevansi Badai laut Selatan dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, kata Nurhadi, masih sangat besar. Sebab, katanya memberi alasan, tokoh-tokoh yang ditampilkan, benar-benar ada pada zamannya. "Ini bukan cerita fiktif!" tegas sutradara yang mengawali karirnya dengan film Bulu-bulu Cendrawasih, produksi akhir tahun 70an. Karena relevansinya dengan dunia pendidikan sangat besar, ia pun mengharapkan kelak mendapat perlakuan yang layak dan ditonton banyak orang, "Ini yang terpenting!" tegasnya. 

Disamping Wisnu Wardana, (Budayawan, Cendekiawan dari bidang pendidikan, Mantan wakil rakyat di DPR MPR)  dan Idolah remaja Dede Yusuf, Nurhadi juga menggaet beberapa nama tenar lainnya seperti Deddy Mizwar, Gito Gilas, maupun cewek kece Fitria Anwar yang mulai ngetop. 

Badai laut selatan mulai suting pertama pada 18 Februari 1991. Kekhawatiran Nurhadi akan lamanya waktu suting karena lokasi sutingnya yang berjauhan. Lokasi di Jember dan Goa Petruk medannya berat. Di Jember, lokasinya masih sangat perawan, lalu di Goa Petruk medannya berat karena jalanan naik gunung. "Kalau kami suting di Goa Petruk, kami harus menambah kabel diesel sekitar 600 meter lagi. Soalnya kabel yang ada sekarang pasti kurang, diesel nggak bisa ditarik keatas!" jelas Nurhadi. Tapi tantangan-tantangan seperti itu, katanya justru mengasyikkan. ~MF 126/93 tahun VI, 17 April - 10 Mei 1991


SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK


 SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK (berita lawas). Sejak siang bumi Perkemahan Pramuka Pasar Minggu, Jakarta Selatan diguyur hujan. Malamnya udara dingin, embun turun mengantar udara basah. Kelihatan kru film Selir Adipati Gendrasakti sutradara Tjut Djalil terseok-seok bekerja dibawah rerimbunan pohon akasia. Meski begitu semua kelihatan serius, ingin cepat selesai, demikian terkesan. 

Dari kejauhan, lampu-lampu dipasang dua kelompok, saling berdekatan, tapi tidak saling menyambung. Meski dalam satu arena namun dua suting dalam satu cerita. Disatu tempat untuk mensuting adegan perkelahian antara Selir Adipati dan jaka Galing. Sementara tempat lain suting membuat trik-trik, kamera dipercayakan dengan Tjutju Sutedja dan dikomandoi langsung oleh Tjut Djalil. Adegan perkelahian dipercayakan kepada astrada Fredy S dibantu instruktur laga, Heru. 

Hampir separuh suting beradegan malam hari, kondisi ini membuat kru sepanjang suting lebih banyak melek di malam hari. Sehingga baru jam menunjukkan pukul 24.00 WIB para kru sudah ngantuk. Begitu juga suting adegan perkelahian, artisnya berlaga tanpa konsentrasi sehingga suting banyak ngaconya. Beberapa kali adegan harus di re-take. Eric Soemadinata yang menjadi Jaka Galing suka ngomel kepada lawan mainnya. 

Kontan saja pelakin Selir Adipati Gendra Sakti, yang dilakoni Lela Anggraeni hanya bisa menahan emosi. Di asadar bahwa lakonnya sebagai artis laga baru kali ini diberikan kesempatan. 

"Saya sudah ngantuk berat, tapi harus tetap suting. Padahal sekarang saya sakit, ini saya paksakan datang ke lokasi suting, " kata Lela Anggraeni. Karena itu pula Lela acap melakukan kesalahan. Sedihnya, ketika serius rumput becek membuat Lela terpeleset, spontan kru dan penonton yang menyaksikan tertawa lepas. 

Dua kamera di pakai untuk mengejar waktu suting. Konon kabarnya kru supaya menerima lunas honor untuk bisa dipakai berlebaran. Karena bersisa delapan hari puasa lagi. 

Film produksi PT. Virgo Putra Film ini bertemakan action klasik dengan mengambil latar belakang masa Majapahit. Terang-terangan Tjut Djalil mengatakan bahwa filmnya ini tidak menyinggung soal kultur masa itu. Hanya saja, meminjam settingny atok. "Mau tidak mau harus begitu karena film ini sendiri mengangkat cerita Kho Ping Hoo dan diskenariokan oleh Djoko Kusdiman. Tapi saya tidak bicara soal kultur yagn ada pada saat itu,' kata sutradara kelahiran Tanah Rencong , Aceh ini. 

Ceritanya berkisah tentang "selir" Adipati Gendra Sakti yang menggila. Selir ini punya ambisi untuk menghancurkan kerajaan, karena  rasa sakit hatinya. Maka sang selir yagn memiliki ilmu siluman itu berusaha mempengaruhi Adipati Gendra Sakti. Maka tercampaklah permaisuri, lalu selir yang seksi ini melakukan fitnahan-fitnahan kepada eisi isitana. Sehingga istana menjadi kacau. 

Film ini di dukung oleh Dolly Martenn, Lela Anggraeni, Eric Soemadinata, Mandara, Hesti Syani, Haris, dan Meise Arista. Dengan lokasi suting Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Bumi Perkemahan Pasar Minggu serta Sukabumi dan Jawa Barat dan sekitarnya.  ~sumber : MF 126/93 tahun VII, 27 April - 10 Mei 1991. 

LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE


 LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE (berita lawas). Jika ingatan kita terbayang cerita sandiwara radio Saur Sepuh, maka kita akan mengenal seorang pendekar cewek, jago silat, tapi ia sangatmanja pada saudaranya terutama Brama. Dia adalah Mantili yang diperankan Elly Ermawatie. 

Keberadaan Elly, panggilan akrabnya, di kancah perfilman Indonesia bermula dari film laga,setelah Imam Tantowi bersama PT Kanta Indah Film mencoba mengangkat cerita ini ke layar lebar. Diakui, ketika terlibat sebagai pemain yang memerankan tokoh Mantili, Elly berhasil menyisihkan beberapa calon yang akan memerankan tokoh tersebut. Elly pun mendalami atas bimbingan penulis cerita Niki Kosasih. Elly pun selalu bertanya kepada Imam Tantowi. Sebab waktu itu ia awam sekali dengan dunia film. Ia sempat terkejut ketika dijelaskan honornya, yang ternyata jauh lebih kecil dari honor main sandiwara radio. Karena ia ingin mencoba , ia terima tawaran itu. Dan akhirnya lewat Saur Sepuh I Elly menjadi ketagihan main film. 

Secara beruntun ia dikontrak PT. Kanta Indah Film untuk serial Saur Sepuh II dan III. Kini wanita kelahiran Solo ini menjadi milik masyarakat sebagai tokoh Mantili yang digemari dari kota sampai pelosok pedesaan. 

Namun demikian Elly tidak hanya menekuni karir di film. Ia juga punya usaha sebagai kontraktor. Usaha itu didirikan sebelum terlibat di film. Dalam film Tutur Tinular arahan Nurhadie Irawan, Elly memegang jabatan produser pelaksana di samping tetap sebagai pemain. 

Agaknya ia merasa cocok dengan jalur yang ditempuh. Mendapat pengalaman baru, mengenai seluk beluk film, mulai deri menentukan pemain, pengatur jadwal kegiatan, sampai management keuangan. Bukan semata rakus dalam profesi dan kedudukan tapi Elly ingin menjadi insan film seutuhnya. Diakui, semula ia mengalami kerepotan antara menentukan dirinya dengan pemain lain, Itu ia sadari karena masih banyak kekurangan. 

"Kalau tidak gigih kemungkinan akan mengalami kegagalan, sebab semua itu membutuhkan kesabaran dan  keuletan, " kata Elly yang kini juga terlibat dalam film Lima Harimau Nusantara arahan Pietrajaya Burnama produksi PT. Galunggung Putra Perkasa Film. 

Sebagai artis film laga yagn sudah membintangi 7 film banyak pengalaman didapat. Semenjak terlibat film Elly mulai menekuni ilmu bela diri silat sebab itu sangat menentukan dirinya sebagai pemain film laga. 

Saya nggak pernah mimpi jadi artis film. Kesempatan itu datang secara tiba-tiba. Kalau sekarang saya jadi artis, buat saya biasa-biasa saja. Nggak berbeda jauh saat saya mengisi sandiwara radio, " tandas Elly yang juga terjun sebagai penyanyi. 

Usahanya belakangan ini ckup lancar dengan memproduksi rekaman casette sandiwara cerita anak-anak maupun cerita legenda. Karena Elly juga sibuk suting film, maka untuk sementara ini memakai tenaga ari luar. Setiap kali produksi, Elly juga melihat pasaran. Sebagai wanita yang ingin sukses dalam meniti karir, Elly tak henti-hentinya cari terobosan baru guna meningkatkan prestasi. 

Ia juga menekuni dunia tarik suara yang sudah merampungkan 3 volume. Kini Elly juga bikin lagu pop Jawa yang dinyanyikan sendiri. Dari lagu ini ia mencoba memproduksi sendiri. Tapi untuk sementara ia tidak memberi keterangan mengenai berapa lagu yang akan direkam. Alasannya masih mencari maskot lagu tersebut. Dikatakan, dalam persiapan rekaman dilakukan dengan cermat dan penuh kesabaran. 

"Ini volume saya yagn keempat. Produksi sendiri. Coba-coba kan boleh siapa tahu Tuhan memberi jalan dan sukse, " ujar wanita kelahiran 19 Desember , tahunnya dirahasiakan. 

Hasil pasangan Siswoyo dengan Sulisdiyah (Solo) memang cukup sibuk. Setelah menyelesaikanjuga  dubbing Lima Harimau Nusantara, Elly mendapat tawaran film Perjanjian Malam Keramat produksi PT. Soraya Intercine Film berperan seabgai gadis muslim. 

Menurut Pengakuannya, selama terlibat di film, baru kali ini mendapat peran yang sangat menantang. Terlebih dengan kepercayaan yang dianutnya selama ini. Sebagai pemain, harus mampu memerankan berbagai karakter yang sedang divisualkan. 

Untuk memerankan tokoh dalam film ini, ia sering mengamati kebiasaan yang dilakukan gadis-gadis muslim, mulai dari busana hingga kehidupan sehari-hari. Dalam film ini Elly punya ilmu bela diri dan ilmu kebatinan yang apat mengusir roh gentayangan. Walau demikian, kepercayaannya tidak mudah dipengaruhi, Ia menganggap ini merupakan pengalaman yang baru selama hidupnya. 

Menurut pengakuannya, selama peran yang diberikan itu baik dan tidak menyimpang dari keinginannya, ia akan memerankannya. Sebagai pemain harus bisa membedakan antara masalah pribadi dengan kepentingan umum. Ini merupakan prinsipnya selama berkiprah diperfilman Indonesia. Di tambahkan, selama suting Perjanjian Malam Keramat, Elly juga selalu bertanya kepada kru yang mampu diajak bicara tentang perannya. Untung semua menyadari bahwa yang dilakukan Elly adalah kepentingan bersama. 

"Awalnya saya terima tawaran ini memang ceritanya bik. Saya ingin mencoba memerankan tokoh yang lain agar permainan bervariasi. "Selama ini banyak tawaran film laga. Karena saya dikenal sebagai artis film laga. Sebetulnya tidak demikian. Seandainya ada tawaran film drama keluarga atau komedi saya bersedia", kata Elly penuh harap. 

Ketika terlibat dalam Saur Sepuh II, ia pernah mendapat tawaran film Dewi Cipluk semua Sayang kamu. karena sudah kontrak dengan Saur Sepuh II, ia tidak menerima tawaran tersebut. 

"Sekarang ini saya konsentrasi bisnis dan film sebab keduanya akan menentukan masa depan, " imbuhnya. ~dikutip dari MF 129/96 tahun VI, 8 - 21 Juni 1991

SUROMENGGOLO

 


SUROMENGGOLO, (berita lawas). PT. Simbar Inan Film bekerjasama dengan Pemda jawa Timur menggarap sebuah film kolosal yang diangkat dari cerita legenda sejarah dengan melibatkan ratusan pendukung dan menelan biaya lebih kurang satu milyar. 

Bisa kita lihat dari pemain intinya saja ada 26 orang, belum peran tambahan atau figuran yang bakal melibatkan ratusan warga Jawa Timur  dan enam puluh lebih karyawan yang akan diboyong ke lokasi didaerah Ponorogo. Ponorogo adalah sumber cerita yang otentik dari kisah keperwiraan seorangWarok Suromenggolo. 

Kendatipun cerita ini sudah sangat tua, yaitu pada abad ke XV pada masa menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit, namun hingga sekarang masih cukup populer. Kesaktian Warok Suromenggolo selain fakta sejarah juga sudah menjadi kisah yang legendaris sifatnya bagi masyarakat jawa. Panggung panggung ketoprak masih sering melakonkan cerita ini yang biasanya diambbil hanya cuplikan-cuplikan saja, seperto lakon yang cukup populer "SUMINTEN EDAN".

Maka dalam film ini hampir-hampir diceritakan secara lengkap kisa petualangan seorang Warok, nyaris berupa "Banjaran" Suromenggolo. Sehingga film ini mau tak mau harus menyeret banyak pihak untuk berpartisipasi. Seperti orang-orang ahli kebudayaan Jawa Timur. Orang-orang yang masih merupakan pewaris dari sebuah institusi kuno seperti bekel atau lurah, pemuka adat, para pemain reog bahkan sampai Juru Kunci makam para Warok. Keterlibatan mereka adalah untuk menghindari kejanggalan dan penggarapan film yang berlatar belakang sejarah ini sekalipun sudah dikemasnya menjadi film hiburan yang full action. 

Spekulasi yang cukup berani dari PT. Simbar Intan Film, selain menelan dana yang besar juga membutuhkan persiapan yang memakan waktu panjang. Sementara pasar yang diharapkan  hanya daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah saja. 

Pada tanggal 17 Februari 1991 telah diadakan upacara selamatan pembukaan suting Suromenggolo di TMII anjungan Jawa Timur dengan puluhan pemain yang berpakaian lengkap. Diantaranya Benny G Rahardja pemeran tokoh Suromenggolo Gitty Srinita pemeran Suminten, JOhny Sitepu sebagai Suro Handoko, Fendy Pradana sebagai Raden Subroto, Yan Bastian sebagai Batara Katong dan masih bayak lagi yang lain. Lakon ini di dalangi oleh kepala suku Dasri Yacob. 

~Sumber MF 122/90 Tahun VII, 2 - 15 Maret 1991