Monday, September 7, 2026

BABAD TANAH LELUHUR 2, TETAP JUAL ADEGAN LAGA

 


BABAD TANAH LELUHUR 2, TETAP JUAL ADEGAN LAGA (berita lawas). Wajahnya keriput. Jenggot panjang, rambutnya tak sehelaipun yang hitam. Menandakan usianya telah lanjut. Tapi, penampilannya masih gagah, energik dan lincah. 

Bahkan ia masih mampu menampilkan atraksi menagumkan, terbang dan jumpalitan di udara, untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Jelas, ia bukan orang sembarangan. Pasti ia orang sakti yang mempunyai ilmu tinggi. 

Menurut cerita, orang sakti yang bisa terbang, menghancurkan batu besar, bahkan merontokkan gunung, memang pernah ada zaman kerajaan dulu. Begitu saktinya, ia bisa menghilang saat orang dihadapannya baru mengedipkan mata. Begitu cepat!. 

Tentang orang sakti semacam itu, kini memang hanya kita temui dalam layar perak, melalui rekayasa dan tipuan yang digarap secara cermat oleh sutradara dan juru kamera. 

Denny HW, termasuk salah seorang sutradara kita yang gemar merekayasa pemainnya menjadi orang-orang sakti. Berkelahi di udara, terbang dari satu pohon ke pohon lain atau meledakkan batu-batu besar dengan tenaga dalam, pernah di munculkan. 

"Salah satu filmnya yang sukses dengan atraksi tersebut, Babad Tanah Leluhur yang di produksi oleh PT. Kanta Indah Film. Memang, Babad Tanah leluhur secara komersial belum mampu menyaingi sukses Saur Sepuhnya Imam Tantowi. Tapi, film garapan Denny itu juga menghasilkan keuntungan cukup besar. Karenanya, Denny  dipercayai lagi untuk membuat serial berikutnya. 

Untuk yang kedua ini, Denny tetap menyodorkan konsep pertama, untuk merebut hati penonton akan menampilkan adegan laga di udara. Saat dikunjungi di lokasi suting, Deny bilang, untuk menampilkan adegan terbang diudara membutuhkan persiapan lama dan ruwet. 

"Bukan hanya itu", katanya , ketelitian kerja agar rekayasa tipuan tidak mudah diketahui penonton, harus mampu menciptakan modus-modus baru. Saya tidak ingin mengulang dari apa yang pernah ditampilkan dalam film terdahulu. Kalaupun harus ada, kadarnya ditekan sekecil mungkin, !"

Saat ditemui di lokasi suting, Denny HW sedang mempersiapkan untuk syut adegan seorang jagoan harus melayang-layang diudara. Untuk memperoleh kecepatan dan ketepatan sasaran, kekompakkan kerja antara juru kamera, penarik sling dan orang yang memegangi oran gyang akan disyut memang harus prima. 

"untuk satu syut itu saja, kami harus mempersiapkannya berjam-jam!" jelas Denny yang sebelumnya menyutradarai Si Rawing, juga produksi PT. Kanta Indah Film. "Buat saya terlibat pembuatan film laga seperti ini memang belum begitu banyak. Sehingga, ada penambahan pengalaman!", kata Sutomo GS, juru kamera kawakan yang terlibat dalam pembuatan Babat Tanah Leluhur II itu. 

Sunday, September 6, 2026

SUSI ADELLA

 


SUSI ADELLA (berita lawas). Film Boneka Dari Indiana lolos dari Komite Seleksi FFI '91 bersama 18 judul film lainnya. Ini menandakan bahwa Nya' Abbas Akup masih sakti dalam hal mengekspresikan kemampuannya. Diperkirakan akan lolos pula dari sergapan penilaian dewan juri. Selain Meriam Bellina, Lydia Kandou, Didi Petet, Susi Adella pendatang baru pada film ini ikut bersuka cita. "Kalau saja menang, ini berarti kenangan manis bagi Oom Abbas. Termasuk saya sangat beruntung. Main sebagai pembantu bernama Inah, bukan hal yang gampang,"begitu kesan Susi. 

Susi Adella, kader bintang berani. Bukan cuma sehubungan dengan kebutuhan film, juga dalam hal pemotretan. Sifat manjanya kadang bikin orang lain geregetan. Malah sewaktu pembuatan film Boneka Dari Indiana, ia dituding ada main dengan sutradara yang kini sudah almarhum itu, Sampai kepada MF (Majalah Film), sutradara kondang tersebut pernah berujar begini , "Ini anak saya. Kalianboleh mnulis apa saja tentang keganjilan pada diri kami, "tandasnya tanpa ragu-ragu. 

Hampir semua mingguan menyoroti Susi, namun cewek keren berkulit putih ini seolat tidak perduli. Bagaikan anjing menggonggong, tapi kafilah tetap berlalu. "Gue juga udah punya pacar, kok. Kenapa mesti diributin? Bodo ah, gue udah siap dengan kemungkinan serangan gosip. Sekalipun nantinya pacar gue minta bubaran, no problem. Cowok gampang di cari, tapi kesempatan main film sangat sulit, apalagi pendatang baru macem gue".

Kata Susi, jika ada seorang pemain berhubungan intim dengan sutradaranya, wajar-wajar saja. Disamping untuk sumber pengarahan, juga perlindungan dari gangguan anggota unit di lokasi. Kalau memang si pemain itu suka, itupun tak perlu dipergunjingkan. "Jangan munafik. Ketimbang pacaran sama anak kru, mendingan sama sutradara, kan? Barangkali aja besok dapat peran lebih besar lagi ha...ha...ha....,"canda Susi. 

Biar bagaimanapun, Susi punya bakat jadi artis bermasa depan cerah. Daya tangkapnya cemerlang sebagaimana yang disaksikan selama suting film Boneka Dari Indiana. Mudah-mudahan saja bakatnya yang bagus itu tidak dibarengi dengan skandal , ya Sus. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991

Saturday, September 5, 2026

NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA

 


NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA (berita lawas). Drs. Asrul Sani, habis-habisan mengeritik Dedi Setiadi yang meramu sinetron Siti Nurbaya. Sebagai penulis skenario, ia merasa kurang sepaham dengan persepsi sutradara TVRI itu. Yang pasti Siti Nurbaya dimata Asrul tidak sesuai dan tidak mencerminkan kebudayaan Sumatera Barat (Minang).

Novia Kolopaking selaku pemain utama tidak lepas dari serangankritik. Itu pasti. Mulai dari dialog sampai ekspresi Via dirasakan kurang pas. "Malah dengan kritik tajam itu saya bisa mengoreksi sekaligus bangga. Iya dong. Masalahnya, perhatian masyarakat kepada saya begitu besar. Setidaknya ini menjadi tolok ukur untuk menentukan langkah saya selanjutnya di bidang film, "kata Via yang mengaku kenal buku Siti Nurbaya waktu kelas 2 SMP. 

Bahkan Via merasa yakin kritik itu terlempar dari mereka yang mengerti dan paham akan kebudayaan Sumatera Barat. Sedangkan untuk kalangan seusianya, tidak mungkin berpendapat demikian. 

"Buktinya, setiap hari saya kebanjiran surat rata-rata 80 pucuk, cuma membicarakan peran saya sebagai Nur. Tak berlebihan jika saya mengungkap omongan diantara mereka yang sebagian besar memuji permainan saya. Tak percaya? Boleh baca sendiri, "tukas Via sembari memberikan setumpuk surat .

Surat-surat dari daerah, ada yang baru mengenal bintang gres ini lewat sinetron tersebut. Biar keterlibatan Via diladang akting sudah empat tahun lalu, "Lima langkah dari pintu rumah saja, saya sudah ganti nama, tetangga seolah menghalalkan sebutan Nur dalam keseharian saya. Itu biasa. Tapi bila dibandingkan dengan gencarnya kritik, sungguh ironis, bukan? Saya kira kejadianini sebagai perselisihan paham saja.Tak ada yang perlu kita salahkan. 

Mas Dedi punya persepsi dan penafsira akan figur dari masing-masing peran. Nah, dengan begitu saya merasa tidak suka persoalan ini didramatisir, karena menyangkut hak  seseorang, "celetuk Novia. 

~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991

Friday, September 4, 2026

PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK

 


PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK (film lawas). Pak Tile Buta Huruf, tapi tidak pernah menyesal. Begitu adanya. Namun, paling sedih dirasakan artis jebolan "Lenong" ini adalah ketika dibelenggu kontrak. Akibat secarik kertas "perjanjian" itu tak berkutik, tak bisa berbuat banyak, dan rupiah pun berlalu. Oleh produser yang ada dinegeri ini, Pak Tile dibelenggu kontrak, isinya, setahun tak boleh ikut produksi lain. Sesuai perjanjian, Pak Tile perbulan dibayar Rp. 100.000,-, walau tidak suting. Bila suting dibayar Rp. 200.000,' sebagai honor. Selama setahun, cuma kebagian produksi 4 film. Tentu saja anak Betawi yang tidak tahu tanggal lahir ini hanya bisa menerima apa adanya. 

"Waktu itu begitu awam dengan film. Tak mengerti soal kontrak. Dan saya bersyukur karenanya, "katanya mengenang. Kontrak itu pula membelenggu dirinya. Sehingga tidak bisa berbuat apa. meski produser lain tertarik atas kemampuanya guyonannya. Soraya Intercine Film misalnya, ingin memakai Pak Tile. Honor sudah dibayar separuh, Tapi apa lacur, kabar akan berlakon di perusahaan lain sempat juga ketelinga bos pengontrak. 

"Saya tidak diizinkan, "kenangnya. Sederhana itukah alasannya? "Oh tidak! Katanya, nanti Pak Tile kalah, "sambar gaek bergigi ompong ini. Kalimat itu merupakan 'basa basi'. Kalimat semacam ini sering meluncur dari mulut produser dinegeri ini. Sebab, untuk bersikap tegas, terkadang tak punya nyali. 

"Saya malu pada produser yang akan memakai. Syukur saja dapat memakluminya,"lanjutnya sambil terkekeh. Semestinya, sebagai seorang artis Pak Tile bebas bekerja dengan perusahaan film manapun. Akibatnya, kesempatan untuk berbuat banyak berlalu, dkubur belenggu. Meski, lakonan Pak Tile cukup mujarab untuk memasukkan uang ke kocek produser. Tapi hasil honor selama dikontrak setahun, paling banter Pak Tile mendapat Dua Juta Rupiah. Meski begitu pahit, namun bapak yang kocak ini selalu bersyukur. Memang sudah menjadi pribadinya artis bernama lengkap Tile Bayan. 

Masa pahit telah berlalu. "Sekarang ogah dikontrak panjang. Sekarang, saya baru tahu gayanya  orang film,"ujar artis komedi yang melejit lewat film Cintaku Di Rumah Susun. Sutradara Nyak Abbas Akup. 

Jadilah sekarang seperti burung. Karena itu, Pak Tile telah menyelesaikan film Pasti Bisa Tahan, sutradara A Rizal. Kini lagi ikut suting film Lupus V, kebagian peran menjadi pelayan hotel,"Lumayan, honor sehari dapat dua ratus lima puluh ribu. Enaknya bisa bebas berbuat apa saja, " kata gaek yagn telah berlakon lebih dari 17 film selama berkutat 4 tauun sebagai artis nasional. 

Itu kisah sedih si buta aksara. Tapi, masih ada manusia memanfaatkan situasi ketika tahuannya itu tentang tulis menulis, "Sekarang telah bisa menentukan diri sendiri, justru itu saya bisa ikut Lenong Kembang Sereh untuk Pesta Istiqlal,"katanya sambil menarik rokok dalam-dalam saat latihan di Gelanggang Remaja Jakarta Timur. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991. 


Wednesday, September 2, 2026

SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy?


 SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy? (berita lawas). Maka, Mantan Prabu Brama Kumbara yang telah menjadi  resi pertapa itu menasihati wanapati, si raja baru. "Jangan buru-buru membuat peraturan, sebab peraturan Raja adalah hukum yang sulit untuk dicabut kembali".

Sabdo Pandito Ratu!

Dialog ini bisa ditemukan dalam adegan terakhir "Saur Sepuh 4, Titisan Darah Biru" yang sudah lulus sensor BSF tanpa potong satu frame pun, pada Senin 8 Juli 1991. 

Menurut perhitungan Handi Mulyono, produser PT. Kanta Indah Film, produksi terbarunya ini memang pasti lulus dengan mulus. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari, ia sudah menetapkan tanggal mainnya, yakni pada hari Kamis, 11 Juli 1991, sesuai dengan kalender acara yang dikeluarkan oleh PT. PERFIN 

Bukan cuma untuk penayangan di Jakarta saja, namun serentak di banyak kota besar seperti Surabaya, Semarang, Medang, Ujungpandang dan lain-lainnya. 

Namun hambatan justru datang dari pihak Inter Studio yang mencetak copy filmnya!. 

"Mixing sebanyak 6 rel, sudah selesai pada 24 Juni. Dan sebenarnyalah sejak saat itu sudah diorder pencetakan copynya ke Inter, "ungkap sutradara Imam Tantowi. 

"Semula kami memesan 100 copy, tapi mereka menyatakan tak menyanggupi. Maka kami turunkan sampai menjadi 60 copy saja dulu, "ungkap Handi. "Ternyata sampai hari Selasa, 9 Juli dilaporkan baru bisa dibuat lima copy!. Mana Cukup? Sedangkan untuk di Jakarta aja bakal main di 30an gedung. Meskipun dilakukan sistem penggabungan tiap copy ditayangkan pada lebih dari satu gedung, tetap paling sedikit dibutuhkan 20 copy. Belum lagi untuk diluar ibokota!. 

Kerja keras pihak Interstudio kemudian memang mampu mencetak lebih dari 20 copy, Kendati begitu penayangan di bioskop-bioskop Jakarta, tetap harus diundurkan. Kalau semula diharapkan sudah main pada 11 Juli, terpaksa ditunda sehari. Sedangkan penayangan di Surabaya terpaksa dimundurkan mungkin sampai awal Agustus nanti. Sedangkan trailer atau ekstra film sepajang tiga menit yang juga dipesan sebanyak 100 copy, sama sekali tidak bisa dicetak satupun. Padahal seharusnya seminggu menjelang Gala Premiernya, sudah dipasang trailernya untuk bahan promosi menarik calon penonton, tapi sampai sekang filmnya sudah main, terpaksa tanpa trailer. 

"jelas kami tak bisa menunda berlama-lama, mengingat iklan promosi sudah dipasang dikoran-koran terkemuka di Jakarta dan jawa Timur selama beberapa hari ini, disamping baliho besar yang dipajang di depan beberapa bioskop sejak sebulan yang lalu!"Kesal sang produser. 

"Itikad baik produser untuk memenuhi peraturn mengenai prosesing dalam negeri, justru terbentur oleh kekurangsiapan kerja pihak studio sendiri. 

Sejak episode pertama sampai yang ketiga, setiap judul selalu di cetak sebanyak 100 sampai 120 copy", keterangan Tantowi. "Selama ini memang dicetak di Mandarin Lab. Hongkong, Cukup lima hari sudah siap semuanya. Rata-rata maereka mampu mencetak 20 copy perharinya. Kalau perhitungannya wajar, normal-normal saja, dengan tiga unit mesin sudah bisa dicetak minimal 12 copy dalam satu hari kerja. Nah, kalau dikebut siang malam, tentunya bisa dua kali lipat kan?

Ini baru bicara soal kecepatan cetak saja, belum lagi mengenai kualitas hasil cetaknya, keprofesionalan kerja, serta harganya. Mau dibandingkan bagaimanapun juga, semua hal diatas harus diakui masih jauh lebih unggul kerja lab di luar negeri. 

"Sampai kapan baru kita mempunyai laboratorium film yang profesional? "Keluh beberapa insan film yang enggan disebut jatidirinya. ~MF No. 132/99/Tahun VII/20 Juli - 2 Agustus 1991


Monday, August 31, 2026

NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992

 


NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992 (berita lawas). MADE DARMI, wanita bisu tuli yang tertindas. Sebagai wanita bersuami, dia bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya. Suaminya hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk sabung ayam. Puncaknya, wanita yang dirundung duka panjang itu ditinggal minggat suaminya ke luar negeri mengkuti pacarnya yang berasal dari negeri seberang. 

Neno "Made Darmi" Warisman, Sabtu malam, 21 November 1992 tak sanggup menyimpan tangis kegembiraan ketika Dewan Juri Festival Sinetron Indonesia (FSI) menobatkannya sebagai  aktris terbaik dalam festival  yang baru pertama kalinya dipisahkan dari Festival Film Indonesia (FFI) itu. "Kalau saya boleh mengucap doa, dan terima kasih saya tujukan kepada Bang Irwinsyah, guru saya. Juga pada Aji, guru pertama saya di Teater Bulungan, "kata Neno Warisman. 

Piala Vidia yang direngkuhnya kali ini, adalah Piala Vidia kedua. Artis yang bernama asli Titi Widoretno itu, pernah memperoleh ketika terlibat dalam Sayekti dan Hanafi, dua tahun lalu. "Sungguh, saya tidak pernah menyangka dan mengharap memperoleh PIala Vidia. Kalau teman-teman wartawan jauh-jauh hari sudah menelpon dan mengucapkan selamat, saya sendiri kaget. Mereka sekarang ini amatannya sudah tidak pernah meleset, "ungkapnya. 

Terus Terang, Neno mengukap, sampai saat ini dia merasa berutang budi pada Irwinsyah. "Saya tidak bisa begitu saja menghilangkan nama Bang Irwin dalam benak saya. Sampai saat ini pun, apalagi ketika Aksara Tanpa Kata disebut-sebut sebagai nominator, hati saya banyak berdebar-debar mengingat ketelatenan dan kesabaran Bang Irwin mengarahkan saya hingga maksimal, "ungkapnya membuka catatan lama. 

Dalam Aksara Tanpa Kata, selain langsung observasi ke Bali, Neno belajar banyak kepada penderita cacat tunarungu-wicara di Jakarta. Bahkan, dia harus beberapa kali berkunjung ke sekolah luar biasa tunarungu-wicara untuk mempelajari karakter penderita tersebut. 

"Disini selama satu bulan saya harus belajar Isado,"katanya. 

Bukan hanya itu dia amati dan pelajari gaya bicara maupun lagak mereka ketika jengkel maupun marah. "Pertama tentu lewat cermin dulu."

Semua itu diperlukan untuk kesempurnaan akting maupun perubahan emosi yang harus dilakukan agar sinetron itu punya nafas tersendiri. Gaya hidup wanita Bali dipelajarinya untuk beberapa lama di perkampungan-perkampunan desa di Bali yang tidak jauh dari tempat wisata. "Syutingnya, sebagian besar memang di daerah Kuta, "akunya. 

Karenanya, Neno Warisman mengaku terus terang, tingkat kesulitan yang diperolehnya dalam casting Made Darmi, lebih tinggi dibanding ketika ia harus memerankan Sayekti dalam Sayekti dan Hanafi beberapa waktu yang lalu. "Kalau boleh menyebut, memang tingkat kesulitan yang saya peroleh dalam Made Darmi lebih berat, "akunya. 

Neno barangkali bukan potret artis kita kebanyakan. Sebelum dikukuhkan menjadi artis terbaik versi FSI '92, Neno mengaku tidak mengharapkan banyak dari permainannya. "Biasa biasa saja. Pokoknya, skenario yang disodorkan sutradara saya pelajari dengan baik sesuai dengan kemampuan yang saya miliki",katanya. 

Karena, dengan apa yang diperolehnya sekarang, "Saya harus semakin selektif memilih peran," katanya. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992



Sunday, August 30, 2026

FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON


FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON  (Berita Lawas). Dalam ruang sempit, muat hanya seratus pengunjung plus dua puluhan tamu kehormatan termasuk Menteri Penerangan ditayangkan secara langsung pengumuman dan Penyerahan Piala Vidia, Festival Sinetron Indonesia 1992 untuk pertama kalinya. 

Mengandalkan dekorasi panggung yang megah, dengan menghabiskan biaya Rp. 40.000.000,- paket itu, diharapkan menyajikan tayangan yang ..wah. Justru tetap ngotot dipilih Studio TVRI itu demi untuk kepentingan broadcast Empu, yang pakar di TVRI dalam bidang penyiaran itu, berupaya maksimal?

Nasib, kalau program yang sudah dirancang itu akhirnya mengundang kecewa, termasuk Menteri Penerangan. Masalahnya, acara siaran langsung seperti itu, harus pandai-pandai menguasai waktu. Acara siaran dimulai pukul 19.35 dan harus selesai pukul 21.05 lalu masuk Dunia Dalam Berita. 

Nyatanya moloor, Rupanya diawal acara, Didi Petet yang berduet dengan Nita Bonita keasyikan nyeloteh, berupaya membangun dan menghidupkan suasana, dan mereka berhasil. Tapi...detik demi detik terlewat, akhirnya tidak pas dengan jadwal yang tercantum dibuku acara.

Bertambah lengkaplah penderitaan acara tersebut, manakala pemenang yang dipanggil ternyata tidak datang dan...terjadi kevakuman beberapa saat karena belum dipersiapkan wakilnya, tambah lagi artis sinetron pembaca pemenang agak lamban langkahnya, maklum banyak yang pakai kain. Perhitungan detik demi detik inilah yang membuat suasana awal jadi grusa grusu. Dan pada "gong" acara ini juga antiklimaks, sehingga Pak Menteri hanya menyalami pemenang Piala Vidia untuk sinetron cerita. 

Cerita Lepas Terbaik : Aksara Tanpa Kata 

Penulis Teleplay Terbaik : Alex Soeprapto Yudho dalam sinetron Keringat

Penyutradaraan Terbaik : Irwinsyah dalam Aksara Tanpa Kata

Penata Sinematografi : Yadi Suganda dan Yayat Muslihat dalam sinetron Hilang

Pemeran Pembantu Pria : Herdin Hidayat (Fajar Sadiq)

Pemeran Pembantu Wanita : Renny Jayusman (Aksara Tanpa Kata)

Pemeran Utama Pria  : Aspar Paturusi (Anak Hilang)

Pemeran Utama Wanita : Neno Warisman (Aksara Tanpa Kata)

Penata Artistik : Satari SK (Anak Hilang)

Editor Terbaik : Iqbal Agus dan Robby Rumoso (Anak Hilang)

Penata Musik Terbaik : Igor Tamerlan (Aksara Tanpa Kata)

Penata Suara Terbaik : Adi Krisnandi dan Eddy Krisnandi (Aksara Tanpa Kata)

Kritik Sinetron : Sugeng Setyadharm) Produksi TVRI Pusat dan 

Cerita Episode Terbaik (Gadis Manis Dalam Gerimis - Ismail Sofyan Sani dalam serial Jendela Rumah Kita)

Peraih Piala Khusus  FSI '92 pemeran Anak Harapan (Erlina Gede) dalam sinetron Aida (TPI, Piala Vidia untuk dokumenter terbaik "Disini Kita Bernyanyi ", SCTV, Piala Vidia Pendidikan dan Penerangan "Si Leher Panjang dari Mojoslawi".

Menteri Penerangan Harmoko dalam pidato sambutannya mengatakan  bahwa proses teknologi belakangan ini makin pesat dan itu harus diantisipasi oleh dunia sinetron. Dalam kaitan itu, kitapun  harus berani menjawab tantangan dengan adanya dukungan peralatan teknologi tersebut. 

Menpen mengharapkan  pada masa mendatang produksi sinetron bisa lebih baik lagi karena selama ini sinetron dianggap sebagai pesaing film Indonesia. "Jadi secara tidak langsung, kompetisinya semakin cukup kuat, " kata Harmoko menyitir ungkapan almarhum Wahyu Sihombing. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992





Friday, August 28, 2026

KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI

 


KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI, (Berita lawas). Dua tahun lalu (1987), lewat S.K 007/PB.PARFI/1987, pernah dihimbau agar artis-artis yang direkomendir oleh PARFI diasuransikan. Menurut Sekretaris Parfi, Reza Pahlawan, "Sudah pernah dibicarakan dengan Asuransi Timur Jauh. Kemudian diajukan juga usulan ini pada PPFI. Tapi belum ada tanggapan. Konon PPFI masih ingin meminta saran dulu pihak Deppen. Akhirnyaya terlupakan sapai sekaran, "Smpa terjadilah peristiwa naas yang meinmpa korban di awal September kemarin (1989)!. 

Aktor yang dokter dan kolonel Amoroso Katamsi, saat bertemu wartawan , sama-sama melayat pemakaman Tuti Indra Malaon, mengakui "Terjadinya musibah tersebut membuat PARFI berusaha mendorong kembali himbauan untuk mengasuransikan para artisnya!".

Sutradara Buce Malawau yang baru saja merampungkan film kecelakaan kereta api, "Tragedi Bintaro", berpendapat, "Sebenarnya kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bukan saja di dalam suting film. Tapi saya setuju sekali pada ide yang dicetuskan oleh Parfi tersebut. Yang penting jangan sampai teledor, karena fatal akibatnya!".

Ditanggapi oleh sutradara Imam Tantowi, yang sedang menyiapkan "Saur Sepuh III, Kembang Gunung Lawu". Di kantor PT. Kanta Indah Film, "Yang terpenting harus selalu ada safety. Misalnya sebelum mengambil adegan salto disediakan kardus secukupnya untuk jatuhnya. Pada saat adegan lompat dari ketinggian ada safety-belt, Untuk adegan melayang ada sling yang sentosa. Asuransi dan santunannya kan hanya untukkeluarga yang ditinggalkan. Yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali. Cuma memang beban yang harus ditanggung produser menjad lebih ringan karena sebagian menjadi tanggungan pihak asuransi. 

Tantowi yang sering membuat film laga, pernah sekali mengalami musibah saat pembuatan film pertamanya "Pasukan Berani Mati". Justru menimpa salah seorang pemain utamanya, Barry Prima. Adegannya Barry melakukan salto dan terjatuh sampai tulang panggulnya patah. Di duga kesalahan pada Barry sendiri yang terlalu memaksakan diri, dan sebenarnya dalam keadaan kurang sehat. Memang seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh PT. Rapi Film, namun bagaimanapun juga tulang panggul Barry sudah menderita cacat. 

"Kecelakan tidak kita minta, safety yang dibutuhkan," ulang Tantowi,. "Asuransi bukan menyelesaikan masalah. Salah satu cara untuk safety misalnya dengan menggunakan kendaraan angkutan ke dan dari lokasi suting. Biasanya dipilih kendaraan yang cenderung murah sewanya. karena berselisih sekitar Rp. 100 rb dengan kendaraan  yang baik. Tapi kalau imbalannya nyawa? Betapa murahnya nyawa orang film kalau begitu!".

Sutradara Abnar Romli yang sedang merampungkan film silat "Pancasona" menambahkan "Diperlukan orang-orang yang profesional untuk menyiapkan sarana sebelum melakukan adegan berbahaya!".

Abnar teringat pengalaman ketika suting film "Six Balax dalam Penculikan Pengantin". Adegannya sang tokoh mengebutkan motor sampai melompati mobil polisi yang menghadangnya. Mungkin karena persiapannya kurang matang, motor yang terbang itu melambung kelewat tinggi. Stuntmannya terjatuh, untung tak sampai cidera berat!".

"Terkadang saya amati mereka kurang memikirkan diri sendiri,"komentar Abnar terhadap para stuntman berani mati itu. 

Dibenarkan oleh Subagyo Samtani, Produser Pelaksana PT. Rapi Film, yang teringat pengalaman saat suting film "Dendam Membara", ingat pada adegan mobil menerjang supermarket? Nah, saya sudah pesan wanti-wanti agar bensin mobil yang digunakan untuk menabrak etalase Supermarket itu diisi seliter saja. Asal cukup untuk jalan. Jangan diisi penuh-penuh, takut kalau terjadi kecelakaan kan bisa terbakar dan meledak. Eh ternyata diisi cukup banyak oleh stuntman Gatot, ketika saya tahu, langsung saya marahi habis-habisan. Untunglah sutingnya berjalan lancar dan selamat!".

Tantowi pun pernah memarahi adiknya sendiri, Eddy, yang menjabat asisten special effect saat suting "Saur Sepuh II, Pesanggrahan Keramat" di hutan lindung Pangadaran. "Dia memanjat pohon beringin tinggi, meniti dahan kecil untuk memasang sling (Kabel kawat) tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Langsung saya suruh turun dan harus memakai safety belt dulu baru melanjutkan kerjanya. Setidaknya kalau sampai tergantung-gantung, tak sampai terbanting!".

Saat suting film silat "Pembalasan Si mata Elang" bintang laga Atut Agustinanto juga mengalami kecelakaan. Tangannya patah karena terjatuh ketika adegan bertarung dengan Advent Bangun. Namun sesudah dirawat oleh "orang panti" yang ahli patah tulang, ia bisa dipulihkan, dan melanjutkan suting kembali dalam waktu relatif singkat.

"Tapi mulai sekarang, Virgo Putra Film mengasuransikan seluruh pemain dan karyawannya, " tegas Ferry Angriawan yang memetik hikmah dari musibah "Si Roy".

Untuk produksi terbarunya "Joe Turun Ke Desa", Ferry  mengasuransikan seluruh pemain dan karyawan pada PT. Asuransi Agung Asia,". "Perusahaan yang membayarkan asuransi sebesar Rp. 52 ribu per orang atau jangka waktu satu tahn." Jadi kalau produksi menggunakan sekitar 50 artis dan karyawan, maka produser menyetorkan Rp. 2,6 juta. Relatif kecil dibandingbiaya produksi rata-rata diatas Rp. 200 juta. 

Dengan pembayaran asuransi tersebut, setiap orang dipertanggungkan nominal Rp. 10 juta. Bila mendapatkan kecelakaan sampai masuk rumah sakit, mendapat penggantian maksimal sebesar Rp. 1 juta. Bila sampai meninggal santunannya sebesar Rp. 10 juta. Bila cacad sampai kehilangan anggota badan, diperhitungkan secara prosentase. Misalnya bila kehilangan sebelah tangan mendapat 20% dari santunan maksimal. Bila kehilangan sebelah mata mendapatkan 40%. Demikian seterusnya, ada perhitungan terperinci masing-masing. 

Chaerul Umam yang sedang menyiapkan "Joe Turun Ke Desa" menyebutkan  tiga unsur, "Pertama, pehatian untuk staf non artistik. Kecelakaan itu sebenarnya terjadi karena kecerobohan manusianya. Mustinya sebelum mengendarai mobil periksa dulu olinya, temperatur dan lain-lainnya, Kedua kendaraan yang dipergunakan mbok ya jangan yang terlalu tua, tidak siap itu. Ketiga asuransi memang belum populer dalam perfilman. Betapapun uang santunannya bisa membantu keluarga yang ditinggalkan. 

Sebagai produser, Ferry Angriawan sebenarnya sudah menyarankan agar selalu memilih kendaraan yang baik untuk sarana angkutan. "Namun bukan tidak mungkin ada pimpinan Unit atau Pimpinan Produksi yang ingin menghemat dengan menyewa kendaraan yang lebih murah. Untuk selanjutnya perlu ditekankan lebih berhati-hati dalam memilih kendaraan angkutan dan jangan lalai untuk selalu memeriksakan kondisinya sebelum digunakan!".

Nampaknya sesudah musibah "Si Roy", asuransi akan mulai masuk dunia film Termasuk suting kelanjutannya pun kelak mulai diasuransikan. Demikian juga untuk produksi Andalas Kencana mendatang, "Melacak Dendam".sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989