Sunday, March 8, 2026

TORRO MARGENS

 


WAWANCARA DENGAN TORRO MARGENS! (Berita Lawas). Sementara sutradara lain tengah membelot ke sinetron sebagai pelarian tidak adanya produksi film, Torro Margens sutradara muda (kala itu) kelahiran Tegal (Pemalang?) Jawa Tengah ini justru laris manis. 

Di paruh tahun 1994 ini Torro kembali menyutradarai film Sorgaku Nerakaku dan film ini cukup sukses di gedung-gedung bioskop kelas B di Jabotabek. Sementara film sejenis sudah jeblok dan dijauhi pentonton. Karenanya, Parkit Film perusahaan yang cukup produktif memproduksi film memberikan kepercayaan lagi pada sutradara yang juga seorang dubber tangguh ini untuk menggarap film drama percintaan yang dibumbui adegan-adegan syurr. 

Apa resepnya dalam menggarap film sehingga film-filmnya banyak meraih penonton? Apakah Torro hanya mampu menggarap film-film tema esek-esek atau "Action tanggung" macam Anglingdarma 3 atau Saur Sepuh V? berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film No. 216/182/ThXI/24 Sept - 7 Okt 1994 di lokasi suting film Kabut Asmara di Anyer Jawa Barat (sekarang Banten).

Apa Yang membuat anda begitu menggebu untuk tetap menyutradarai film, sementara sutradara lain lari ke sinetron?

Kalau boleh bicara sombong, kembalinya saya menyutradarai film karena saya merasa prihatin dengan keadaan film sekarang ini yang kata orang mengalami kelumpuhan. Nah supaya jangan lumpuh total, saya berkewajiban untuk menyembuhkan kelumpuhan itu. Memang saya bukan dokter, tapi paling tidak saya berharap bisa ikut menyembuhkan dari sisi yang saya bisa. Karenanya saya cukup bangga dan senang apabila ada produser yang mengontrak saya untuk menyutradarai film. Sekarang ini saya malah sampai menolak tawaran. 

Apa alasan Anda untuk bertahan di film sementara para sutradara lain serta para produser begitu pesimis akan perkembangan dunia film kita saat ini?

Nggak tahu ya, saya kok berkeyakinan kalau film kita akan terus bertahan. Kenapa? Karena dengan perkembangan penduduk Indonesia yang begitu pesat, tentunya membutuhkan pasokan film yang begitu besar. Nah sekarang bagaimana insan film kita mencari formoulanya agar film Indonesia bisa digemari lagi. 

Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat kita di pedesaan masih membutuhkan film Indonesia. Hanya masalahnya sekarang sampai nggak film kita ke polosok tanah air. 

Ada beberapa sutradara dan produser yang mengeluhkan sistem peredaran film Indonesia yang dilakukan PT. Perfin karena tidak seperti yang diharapkan mereka. Seperti kasus film Langitku Rumahku. Apa komentar anda?

Buat saya dan film saya nggak ada masalah, buktinya Sorgaku Nerakaku bisa bertahan 3 hari di Studio 21, di Roi saya lihat sendiri sampai 14 hari, begitu juga di Kramat. Saya yakin kalau tidak ada kasus penurunan poster, akan bisa bertahan lebih lama lagi. 

Anda begitu yakin kalau film anda, Sorgaku Nerakaku bisa bertahan lama di bioskop Jakarta dan daerah. Apa alasan anda?

Karena saya punya kartu As, yakni yang mengedarkan film itu jagonya pengedar film. Selain itu film ini kan hasil kerja bareng beberapa produser (konsorsium). Begitu juga film saya sebelumnya, alhamdulillah banyak meraih penonton. 

Apa resep anda dalam menggarap film jenis action dan "esek-esek". Sehingga film anda selalu meraih penonton?

Mungkin karen saya dalam menggarap film tema esek-esek tidak terlalu nge-seks, apalagi digarap secara serampangan. Karena saya selalu memegang prinsip bahwa film bukan sekedar tontonan tapu juga tuntunan dan panutan. Dan saya selalu menggarapnya seartistik dan sehalus mungkin, sehingga tidak dibabat BSF. 

Seperti film Sorgaku Nerakaku , sebagai contoh itu film sebenarnya juga "esek-esek" tapi karena di dukung cerita yang menyentuh sehingga film itu bisa diterima masyarakat. 

Apakah film anda selalu menganut falsafah, tontonan, tuntunan dan panutan?

Selalu. Kalau hiburannya 80% tuntunannya 20%.

Sangat disayangkan oleh sebagian insan film bahwa kegairahan sesaat produksi film dibarengi ulah produser yang membuat poster film yang seronok sehingga muncul protes, dan klimaksnya terjadi penurunan poster oleh Bapfida-bapfida setempat. Apa komentar anda tentang hal ini?

Terus terang saya sangat menyayangkan dengan sikap sebagian produser kita, yang justru terlalu mengeksploitisir poster. Padahal kalau dipilih ada gambar yang bagus dan artistik yang pantas untuk dijadikan poster. Tapi anehnya produser memilih gambar yang murahan seperti itu. Akhirnya terjadi protes. Kalau sudah terlanjur seperti ini, semua kan kena getahnya. 

Pernahkah anda mengajukan keberatan pada produser masalah poster yang nggak sesuai dengan harapan anda?

Pernah!. Tapi kalau kemudian produser memberikan alasan apa yang dilakukaknya untuk meraih penonton, itu kan kaitannya dengan bisnis, jasi sudah bukan wewenang saya. 

Dengan kasus penurunan poster beberapa waktu lalu, menurut anda siapa yang salah. Produserkah, Bapfida atau BSF sebagai penjaga gawang?

Bapfida, karena poster sendiri sebelum di pasang dan diedarkan sudah diseleksi melalui badan sensor film. Nah kalau BSF sudah meloloskan itu artinya baik poster maupun filmnya sudah layak di konsumsi masyarakat. Tapi pada kenyataannya kok terjadi penurunan poster. Saya juga nggak habis pikir dengan kejadian seperti ini. 

Kalau begitu Bapfida melangkahi BSF?

Ya. Jelas dong! Karenanya untuk menjernihkan masalah ini antara Bapfida dan BSF perlu lobying serta mengadakan dialog. Supaya bisa satu kata dan satu pandangan supaya kasus penurunan poster tidak terulang lagi. 

Kenapa anda selalu menggarap tema "esek-esek" dan semi action. Apa nggak kepingin menggarap tema lain?

Lha, kalau yang datang film-film tema "esek-esek" seperti itu. Apa saya harus menolak? Sementara hati kecil saya sedih melihat film nasional lumpuh seperti sekarang. Soalnya keinginan menggarap tema lain, saya juga punya keinginan. Malah saya punya obsesi untuk menggarap film musikal seperti film-film Rhoma Irama. 

Dulu anda produktif menulis skenario, kenapa sekarang tidak lagi?

Biasanya, saya menulis kalau saya berkeinginan untuk menggarap tema lain. Seperti ketika saya menggarap film Pernikahan Berdarah dulu, saya yang menulis skenarionya. Keinginan untuk menulis skenario terus menyala dalam dada saya, cuma waktunya yang agak sulit. Karena beberapa kesibukan saya akhir-akhir ini seperti dubbing. 

Sepertinya anda setiap selesai menggarap film, kemudian break beberapa saat. Apa alasannya?

Terus terang saya tidak ingin tubuh saya di peras untuk suatu pekerjaan, dan tubuh ini kan butuh keseimbangan. Jadi begitu kerj yang melelahkan, saya mesti istirahat. Kalau dalam satu minggu kerja enam hari, ya saya mesti istirahat satu hari . Ini namanya keseimbangan Setelah itu baru kerja kembali.

Sebagai sutradara nampaknya anda sangat disiplin soal waktu, terbukti anda tidak pernah melakukan syuting hingga diatas jam 24.00 WIB?

Alasannya, jiwa raga saya dan kru, ini kan butuh istirahat dan butuh keseimbangan seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi buat apa kita kerja mati-matian, tapi kemudian  kerja teman-teman nggak maksimal. Dan saya punya jam kerja 8 jam, misalnya kita bekerja mulai pukul 10.00 pagi, pukul 18.00 mesti break. 

Disiplin waktu itu mulai anda terapkan sejak kapan?

Sejak saya mulai merasakan capai dan jenuh menyutradarai, karena sebelumnya kerja saya tidak kenal waktu. Sehingga badan saya merasakan cepat capek dan jenuh. Setelah break panjang, saya kemudian menemukan formula disiplin 8-10 jam itu tadi. 

Gaya kerja anda beda dari sutradara yang ada. Anda nampak santai dan terkesan guyon. Apa anda tidak takut dilecehkan kru anda?

Dengan sikap saya yang santai dan penuh guyon, mereka justru enjoy dalam bekerja. Bahkan mereka lebih menghargai , lebih serius dalam bekerja. 

Kenapa setiap anda menyelesaikan satu adegan kemudian anda minta tepuk tangan kepada para hadirin yang ada?

Saya hanya memberi semangat  kepada para pemain yang telah bekerja dengan baik. Karena dengan tepuk tangan, buat pemain itu merupakan penghargaan. Kalau sudah begitu bisanaya mereka akan bekerja lebih giat lagi. 

SINETRON WARISAN II, KEBANGKITAN DARTO JONED DI SINETRON SERIAL


 SINETRON WARISAN II, KEBANGKITAN DARTO JONED DI SINETRON SERIAL (Berita lawas).Waktu Warisan I yang di bikin sebanyak 6 episode dan di tayangkan RCTI tahun 1993, sinetron drama seri ini berada "diatas angin" dalam perolehan iklan. Jeda tayangan 18.5 menit yang di sediakan langsung banjir dengan iklan. Maka wajar kalau sinetron produksi Joned Vidia Sinema sekaligus arahan pemiliknya, Darto Joned ini meraih rating 52 dalam perolehan iklan. Satu hal yang tidak diduga oleh banyak pihak, terutama RCTI sendiri. 

Januari 1995 pihak RCTI memperpanjang kerjasama dengan Joned Vidia Sinema untuk memproduksi sinetron seri Warisan II (mulai episode 7 sampai 33) dibikin sebanyak 26 episode. Penayangan ditetapkan pada 7 Maret 1995 pukul 19.30 dengan durasi 48 menit. 

Langkah yang luar biasa bagi Darto Joned, disaat menjamurnya sinetron ia tetap berdiri tegar dan dapat berdiri sejajar dengan sutradara-sutradara beken RCTI. 

"Kiat saya dalam membuat sinetron adalah bagus dan komersil. Artinya saya tidak ingin membikin sinetron sok seni, tetapi tidak banyak yang menantinya, akibatnya tidak komersial, " katanya di sela break suting di kawasan Cipanas, Jawa Barat. 

Darto Joned dikenal sebagai sineas yang pendiam, tapi produktif. Bersama-sama Ali Shahab, ia termasuk perintis dan "pembabat hutan" persinetronan Indonesia. Dari tangannya banyak lahir sinetron-sinetron panjang dan populer, seperti diantaranya "Serumpun Bambu, Tembang Di Tengah Padang, Minarti Bidan Tercinta, semuanya ditayangkan di TVRI saat stasiun itu masih satu-satunya yang mendominasi pemirsa TV . Tak heran jika jumlah penggemar yang cukup membanggakan. 

Dengan ketrampilan dan produktivitas serta jam terbang yang dimilikinya, kini Darto Joned menjadi rebutan televisi swasta. Seusai menggarap Jalur Putih untuk Indosiar, langsung di cecar stasiun televisi lainnya. Lepas Warisan II ia segera memproduksi tiga sinetron yakni, Lampor Bala Tentara Ratu Kidul, Dua Pilar dan Darah Leluhur. 

Joned Vidia Sinema mampu membikin 6 hari suting untuk satu episode dengan durasi 48 menit. "Bagi saya membikin sinetron harus cepat, namun laku dan komersial. Tidak zamamnya lagi membikin sinetron berlama-lama," ujarnya. 

Dari Setting, property, dan para pendukung sinetron Warisan II kelihatan keinginan Darto Joned untuk merebut pasar. Wajar saja bila anggaran untuk satu episodenya mencapai 50 juta rupiah. 

Lihat para pelakonnya, Nike Ardilla, Tabah Penemuan, drg. Fadly, Anggraini Joned, El Manik, Alicia Djohar, Firdha Razak, Eeng Saptahadi, Clara Shinta, Sigit Hardadi, Retno Mulandari, Tahta Perlawanan, Rita Zahara, Nizar Zulmi, Herman Ngantuk, Roldiah Matulessy, Elly Ermawatie, BZ Kadaryono dll. Sinetron terbilang mahal ini mengambil lokasi suting diantaranya Jakarta, Sukabumi, Bogor, Cipanas dan Jawa Barat lainnya. 

Pada Warisan episode sebelumnya telah di ceritakan bahwa Bayu yang dulu dibuang oleh orang tuanya, kini hidup dan besar di kalangan keluarga Danu Prakosa, pemilik pabrik dan perkebunan teh. Dalam Warisan II ini, mengkisahkan tentang apa saja yang terjadi terhadap Bayu, setelah ia kembali kepada orang tuanya. Banyak persoalan yang dihadirkan, sebagai sebuah fenomena dalam kehidupan sekarang. 

Dengan penceritaan yang melemparkan masalah besar tapi dapat di cerna oleh segala level kehidupan ini semakin keatas semakin tajam. Ada suspance, laga dan diramu dengan drama keluarga yagn menegangkan. Untuk mewujudkan visual itu direkrut kru handal seperti Ambari BA (Kamerawan), Surya Haditya (Co Sutradara) Ninos Retna Niswara (Editor), Nanang Hidayat (Penata Suara), Wandhono Trinugroho (penata Artistik), Srie M Ariesa (Penata Rias) , Bogel Alkatiri (Pimpinan Unit) dan M Daim Pohan (Pimpinan Perusahaan).~MF 227/193/XI/25 Feb - 10 Maret 1995

Saturday, March 7, 2026

BANDIT BANDIT FILM INDONESIA

 


BANDIT-BANDIT FILM INDONESIA. (Bahasan Lawas). Tukang per kosa, peram pok, pembuat onar, pengganggu rumahtangga orang, pembacking rumah pelacu ran, penculik anak gadis, lalu ber kelahi, main keroyok, gebrak-gebrak meja, akhirnya kalah, menyerah, bertobat atau mati sekalian. 

Itulah potret paling kentara dari sosok bandit-bandit dalam film Indonesia sejak dulu . Gambaran yang muncul selalu saja beringas pada awalnya, kemudian loyo dan kalah diakhir cerita. Biasa.

"Memang begitu. Masa ada sih bandit yang bisa jadi pemenang? Di luar negeri mungkin ada. Tapi di negara kita kan lain? kondisinya berbeda. Belum banyak masyarakat kita yang bisa menerima kemenangan bandit-bandit dalam sebuah cerita, " ujar Advent Bangun, bintang laga yang sering jadi bandit.  "Tapi masalahnya bukan itu. Bermain dengan peran antagonis. Semua harus total. Semuanya menuntut kemampuan, " tambahnya. 

Namun Advent menyadari, terus menerus bermain dalam peran bandit membuatnya sering kesal. "Efek psikologisnya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga saya memang ada. Tapi saya tidak bisa berbuat lain. Produser meminta dengan alasan para booker yang menuntut, padahal saya yakin bisa main tidak cuma jadi bandit ", tutur lawan main Barry Prima ini. "Memang istri saya pernah menjadi kurus ketika menonton film saya dimana saya melakukan adegan per kosaan, "tambahnya. Soalnya istri saya bukan dari kalangan orang film.  Orang batak lagi, wajar kalau ia menjadi shock. Tapi sekarang istri saya kayaknya sudah mulai ngerti, " kata Advent. 

Tapi Advent tidak sendiri. Banyak bandit-bandit lain dalam film Indonesia. Baik yang terus menerus kebagian peran bandit maupun yang satu dua kali menyelinginya sebagai hero. Ada Farouk Afero, Pong Harjatmo, Muni Cader, Harun Syarief, Hendra Cipta atau Soultan Salading, adalah beberapa nama yang akrab sebagai pemain antagonis dalam film-film Indonesia.

"Memang betul keberhasilan kita berperan sebagai bandit, sering membuat produser ketagihan dan terus menerus meminta kita main jadi bandit. Akibatnya memang terasa. Masyarakat ikut-ikutan antipati pada kita. Sosok kita sebagai bandit akhirnya mengental dalam diri mereka, " ujar Farouk Afero, bandit yang melonjak lewat film "Bernafas Dalam Lumpur" itu. Tapi sekarang masyarakat kita sudah maju. Mulai mengerti bahwa semua itu cuma dalam film. Saya akui efek psikologis memang ada. 

Beda dengan Advent dan Farouk, Harun Syarief mengaku tidak punya beban apa-apa. "Wong itu permintaan sutradara," katanya. Namun tak cuma itu yang membuat Harun tak merasa perlu menanggungkan dosa. "Saya ini bandit yang selalu bertobat. Dan itu meringankan beban saya, "ujar bintang yang akrab dengan drama panggung dan TV ini. Tapi Harun mengakui memang itdak enak terus menerus ditokohkan sebagai bandit. "Saya memang pernah main tidak sebagai bandit, tapi itu belum cukup untuk menghilangkan citra kebanditan saya. Sekalipun saya tahu masyarakat tidak pernah menggugat saya. 

Sama seperti ketiga bandit diatas, HIM Damsyik juga merasakan hal yang seperti itu. Cuma Damsyik agaknya lebih realistis. Sadar akan potensi yang dimilikinya, Damsyik mengaku sulit untuk memilih-milih peran begitu produser menyodorkan skenario kepadanya, "Sebenarnya saya sih kepingin sama seperti rekan-rekan yang lain, tapi imej penonton memang sudah terbentuk sedemikian rupa bahwa saya ini bandit. Melulu jadi tokoh antagonis, " ujarnya. 

Lalu apakah tidak ada gugatan dari keluarga? "Enggak juga. Saya sering ditanya teman-teman dan  saudara-saudara saya, kenapa mau memerankan tokoh itu. Dan saya berusaha keras menjelaskannya. Sampai mereka mengerti bahwa semua yang saya lakukan itu, hanya trick-trick kamera saja, " jawab Advent. "Kalau saya sih enggak punya anak. jadi enggak ada tuntutan macem-macem," tutur Harun Syarief pula. 

Kenyataan-kenyataan seperti itu, memang dihadapi oleh hampir semua bintang yang kerap kebagian peran antagonis. Pong Harjatmo, Soultan Salading, Muni Cader juga mengalami nasib yang sama. Sekalipun mereka menginginkan peran yang lain, menjadi hero misalnya, tapi imej yang sudah terbentuk seperti pengakuan mereka, sulit sekali di hapuskan. Meskipun mereka sendiri pernah menjadi tokoh baik-baik dalam beberapa film yang mereka bintangi. 

"Itulah yang selalu menuntut saya. Saya ingin tidak terus-terusan menjadi bayang-bayang Barry. Menjadi lawan Barry. Saya ingin tampil bukan sebagai tokoh antagonis. Tapi produser selalu saja menolak dengan alasan yang sama. Produser takut kalau saya yang jadi hero film tidak bakal laku Pahadal saya berani jamin, fans saya ini banyak. Mereka malah selalu mengirim surat pada saya kenapa sih saya enggak main  sebagai orang yang menang", Ujar Advent Bangun kesal. Dan kalau sekarang saya coba-coba kerjasama dengan Dedi Setiadi untuk main dalam drama TV, itu saya lakukan karena saya ingin sesuatu yang baru. Peran-peran yang tidak keras melulu, " katanya lagi. 

Kekerasan itu memang menjadi gambaran yang sangat identik dengan mereka, tokoh-tokoh antagonis ini. Muni Cader, Faouk Afero, Rachmat Hidayat, Hendra Cipta, Harun Syarief, dan Advent Bangun adalah bintang-bintang yang selalu menggebrak, memelototkan mata, menyandang sejata api atau menyelipkan senjata tajam di pinggangnya. Memang ada kekecualian. Damsyik atau Pong Harjatmo malah sama sekali tanpa wajah yang keras dan garang. Namun kesan sebagai bandit yang licik tak bisa mereka elakkan. Dan itu semuanya merupakan satu bangunan yang mempertebal sosok mereka dalam imej masyarakat. ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

Thursday, March 5, 2026

LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG"



SALAH SATU  LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG". Serombongan anak-anak berseragam merah ptih SD meluncur dengan sepeda mereka dari puncak jalan menurun. Ramai berceloteh merundingkan apa yang dihadiahkan untuk ulang tahun guru mereka. Segalanya berjalan cukup lancar, tapi mendadak Imam Tantowi yang berdiri di tepi jalan berteriak, "Cut! Cut".

Dengan cepat Kamerawan Tjutju Sutedja menghentikan kerja kameranya. Apa pasal? Ternyata salah seorang anak itu ada yang melirik kearah kamera. Kesal Tantowi mengomel, "Sudah berapa kali saya bilang, jangan memandang ke arah kamera. Ya wajar saja, Ayo ulangi lagi!.

Begitulah adegan anak-anak bersepeda di jalanan desa Cibadak itu harus diulangi sampai tiga kali. Menyusul adegan berikutnya, anak-anak badung bermain di pematang sawah. Dasar anak-anak, senang saja main belepotan lumpur. !

"Memang ada kesalnya, tapi ada pula lucunya, mernyutradarai anak-anak ini", aku Tantowi. "Kebanyakan mereka memang bandel bande. dan baru kenal disini, tapi cepat sekali menjadi akrab. Wah, waktu malam pertama, kami hampir tak bisa tidur, karena mereka ramai bermain terus. Malah ada yang lompat-lompatan di tempat tidur segala. 

Semua pemain anak-anak ini memang di boyong dari Jakarta. Ditempatkan di Wisma Haji, Jl. A Yani 37 Sukabumi. Saking ramainya kemudian diambil inisiatif, rombongan anak-anak dibagi dua. Sebagian di Wisma PGRI yang letaknya tak berjauhan. Sebagian anak-anak memagn disertai oleh ibu mereka, terutama anak-anak perempuan. Namun para ibu yang ngumpul sendiri, membebaskan anak-anak mereka bermain diluar suting. 

"Si Badung" yang semula rencananya berjudul "Si Badung Naik Kelas" ini memang dibintangi oleh belasan anak. Sebagian diantaranya adalah anak-anak bintang populer. Seperti misalnya Toma alias Torro Margens Jr. (Anak Torro Margens) dan Rini yang puterinya Elly Ermawatie. Kawanan yang menyebut dirinya "Kelompok Lima" dimainkan oleh Renno, Viona, Reymon, Rini dan Adam Sandi. Dua bocah badung diperankan oleh Nelson dan Rully. Ikut mendukung Shereen Regina Dau, Jaka dan Adi. 

Peran Kepala Sekolah Pak Jarir di mainkan oleh Drs Purnomo alias Mang Udel. Istrinya oleh Mien Brodjo. Guru baru oleh Nurhuda, Pak Kebon oleh Belqiz Rachman. Masih ada lagi Eva Putri, Arbain, Tarsan, Syamsuri Kaempuan dan lain-lainnya. 

Lokasi sengaja di pilih di sebuah SD Negeri Cibadak diluar kota Sukabumi, karena ceritanya memang dikisahkan terjadi di sebuah kota kecil diluar Jakarta. Keseluruhan suting berakhir tanggal 12 Agustus 1989. Giliran Embie C Noer untuk mengisi ilustrasi musiknya, disamping ada enam lagu anak-anak agn khusus disiapkan olehnya . 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

WIDYANINGSIH PENGISI SUARA BU RADEN, JUGA MAIN FILM

 


WIDYANINGSIH PENGISI SUARA BU RADEN, JUGA MAIN FILM (Berita Lawas) Kalau seorang dubber beralih profesi apa jadinya. Bisakah dia tak mengandalkan vocalnya? Bagi pengisi suara Bu Raden "Si Unyil" ini kiranya jadi masalah juga. Bukan karena dia tak bisa berakting, tapi di atak bisa menguasai ilmu silat dengan baik. Untung suami WIdyaningsih seorang pendekar silat. Sehingga sang suami Atin Martino dapat melatihnya tiap hari, untuk dapat melakoni adegan film "Ajian Gunung Jati" (Nyi Mas Gandasari).

"Itu semua karena suami saya. Saya di paksa tak boleh cengeng . Dan tidak boleh menangis, katanya. Walau suaminya sendiri yang melatih, tapi Ningsih diperlakukan seperti orang lain. "Terkadang kaki saya ditendang sampai biru-biru. Pokoknya seperti latihan silat sungguhan. Saya tetap tak menangis, walau sakitnya tak ketulungan, ujar ibu berbintang Aquarius ini. Latihan keras macam itu juga membuat Ningsih dapat menguasai ilmu silat dengan baik. Dan ia merasa berhasil melakoni film "Pertarungan di Bukit Perawan".

Debutnya tampil di film nasional sudah lama di alakukan, pada tahun 1983 lewat Hati Yang Perawan, Saat Saat yang Indah dan Biar Damai Sepanjang Hari. 

"Nah ternyata saya bisaa akting kan?. Orang film banyak yang tak tahu bahwa saya pnya simpanan juga," kata anak kedua dari 13 bersaudara dari ayah Cirebon dan Ibu Sukabumi ini tegas. 

Kenapa mau main film, bukankah jadi dubber itu lebih enak? "Saya kesal juga bila keluar kota. Sebab saya lebih dikenal sebagai Bu Raden daripada diri saya sendiri. karena itu saya main film. Ingin membuktikan bahwa saya bukan Bu Raden sesungguhnya. Diluar rumah saya juga sering diteriaki Bu Raden, " katanya. 

Toh begitu dunia dubber lebih mengenakkan."Sebab nggak pakai ke lokasi, kalau jadi dubber cuma di studio saja, " lanjutnya. Karena jadi dubber itulah dia bisa menghidupi keluarga dan anak-anaknya. 

Widyaningsih tidak pernah bermimpi bisa sukses sebagau dubber. Awal pertama sekali ikut mengisi suara sandiwara RRI Pada tahun 1970 hanya menggantikan temannya yang tidak datang. Karena vocal baik dan penuh penghayatan dia kontan di puji rekan-rekanya. Lalu menyusul kemudian sandiwara-sandiwara radio "Meniti di Dahan Lapuk", "Yoyom"(Serial Betawi) dan lain-lainnya.  ~MF 087/055/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov

Wednesday, March 4, 2026

SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA

 


SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA. Kristal-kristal Cinta film garapan Wim Umboh. Sesuai dengan judul ceritanya, sudah barang tentu berkisar tentang cinta. Kebanyakan film garapan Wim selalu bertutur masalah cinta. Ingat saja film macam Pengantin Remaja (1971), Pengantin Pantai Biru (84), Serpihan Mutiara Retak (85), Secawan Anggur Kebimbangan (86) atau Adikku Kekasihku (89) dan masih banyak lagi. 

Dalam film "Kristal-Kristal Cinta", Wim mencoba mempertemukan bintang film yang sedang naik daun Onky Alexander dan pendaang baru Anna Valiana Aprilini. 

Sutingnya lebih dari 3 bulan diantaranya di Yogya. Selebihnya di Jakarta. Pada 5 Januari 1990 seharusnya kontrak bintang dan karyawannya sudah selesai, tapi Wim belum menyelesaikan suting. "Sekali ini Oom Wim memang agak kedodoran . Seharusnya kami sudah rampung sekitar Awal Desember 1989 lalu, " kata salah seorang kru. Kenapa? Ya, banyaklah hambatannya. Pemain utama wanita kami sakit tiga minggu, Belum lagi keterlambatan suting karena ulah pemain, katanya lebih lanjut. "Lebih-lebih pendatang baru yang satu itu, Rupanya dia belum bisa menyesuaikan diri kerja di film", kata seorang kru lain. 

Wim Umboh sendiri memaklumi penemuan barunya itu. Sebagai orang baru dia mungkin belum memahami betul cara kerja orang film. Belum menjiwai pekerjaan ini, kata Wim Umboh. Selama suting emosi Wim nampak selalu meledak-ledak. Tak jarang seorang pemain di bentaknya. "Dia sih memang begitu, " kata salah seorang kru seolah membela. 

Onky Alexander menilai mungkin lawan mainnya itu belum total di film. "Bisa main film, jadi enggapun ya tidak apa-apa," paparnya. 

Onky dalam film ini justru di kenal sangat disiplin. Hampir semua kru mengacungkan jempol buatnya. "Wah dalam film ini Onky betul-betul menyenangkan. Kami tidak pernah dibuat susah, " kata Inge penata busana. 

Hari-hari terakhir suting Kristal Kristal Cinta di lakukan di sebuah rumah mewah di kawasan Cinere Jakarta Selatan. Rumah milik Tommy ini diangkat dengan sebuah kolam renang mini, tanaman hias dan bunga-bungaan Kamarnya besar-besar lengkap dengan segala macam perabotan mutakhir. Belakangan ini rumah tersebut semakin sering digunakan oleh orang film. Nyaris tidak putus-putusnya. Selesai satu film disusul film lainnya. 

Pada Januari 1990, misalnya disaat Wim Umboh break suting sehari, langsung di serobot oleh Tiga Sinar Mutiara Film yang sedang menggarap Catat Namaku Rintan yang kemudian berganti judul Cinta Punya Mau. 

Cerita dari film ini adalah : Bomantara (Onky Alexander) teman kuliah Karina (Anna Valiana). Selesai kuliah mereka melanjutkan hidup berumah tangga. Boma kemudian dipercaya menduduki jabatan penting dalam perusahaan milik orang tua Karina. Jadilah keluarga muda ini hidup berkecukupan, tenteram dan bahagia, tapi kebahagiaan berakhir di tengah jalan. Karina ketahuan mengidap penyakit kanker darah. Jiwanya tak tertolong. 

Saat-saat terakhir sebelum di panggil menghadap Tuhan YME, Karina sempat merelakan Boma menikah lagi dengan perempuan lain. Tiara namanya. Pada saat kritis dan sangan mengharukan seperti itu barulah terungkap bahwa Tiara sebenarnya adik kembar Karina yang sengaja di pisah sejak bayi. Pasalnya karena hari lahir Karina dan Tiara persis sama dengan hari lahir ibunya. Tiara dititipkan pada Sopir ayah (WD Mochtar). 

Apa yang ingin disampaikan lewat film ini oleh Oom Wim? "Hidup ini kan penuh persaudaraan, Kita kita ini pada dasarnya kan saudara. Perlu saling kasih mengasihi, itu saja, " jelas Wim Umboh

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Tuesday, March 3, 2026

IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI


 IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI (Berita Lawas). Sedikitnya 15 mobil di hancurkan. Empat gedung mewah di bakar dan sebuah pesawat heli diledakkan. "Itulah usaha kami mencari terobosan baru," ujar Gope Samtani produser Rapi Film, mempromosikan film "Dendam Membara".

Gope mengakui, filmnya yang di dukung Christ Mitchum bintang impor dari Hollywood, yang di kawasan Asia cukup tenar, belum sehebat film laga buatan luar negeri. "Tapi bolehlah dibandingkan dengan film aksi Indonesia lainnya," tukas produser yang mulai aktif sejak 1970 itu. 

Impor bintang asing, khususnya bintang bule, katanya juga merupakan upaya mencari terobosan baru di pasaran luar negeri. "Sementara ini, baru ada titik terang, " jelas produser yagn telah memproduksi banyak film. 

Titik terang yang dimaksud, film-film yang dibintangi pemain bule, cukuplaku di pasaran luar. "Menentang maut" film pertama Christ Mitchum produksi Indonesia, laku terjual di beberapa negara. Dan yang kedua adalah "Dendam Membara" tahap pertama di bursa film Canes, 4 negara membeli masing-masing Spanyol, Korea, Yunani dan Timur Tengah. 

"Karena kami menjualnya lewat forum festival, mudah-mudahan di forum festival yang lain, juga terjual," kata Gope. Karena titik terang itu pula, katanya untuk ketiga kalinya, Christ Mitchum di kontrak film "Pembunuh Berdarah Dingin".

Kenapa Christ Mitchum? "Yaa karena dengan Christ kita sudah tahu tentang dia. Ia cukup disiplin, mudah diajak kerjasama, " sergah Gope. 

Di Indonesia, Christ cukup punya penggemar. Di beberapa daerah macam Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah , film "Dendam Membara" cukup baik peredarannya. "Film aksi di beberapa bioskop kelas atas memang agak kurang. Tapi di kelas menengah dan bawah baik sekali, " jelasnya. 

Iapun segera mengambil contoh, di Depok misalnya "Dendam Membara" mampu bertahan sampai 10 hari dan selalu penuh penonton. Gope agaknya terus melanjutkan sistem terobosan pemasaran ini, yakni sukses di dalam dan luar negeri.  ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988