Thursday, February 26, 2026

NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O

 


NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O . Kalau ada anak-anak yang butuh perhatian oleh Ibu atau neneknya itu lumrah. Tapi kalau sebaliknya, ada nenek yang butuh di perhatikan oleh anak dan cucunya? itu juga wajar kalau dilihat dari kebutuhannya, " tegas seorang nenek. 

Adalah Nani Somanegara, si Nenek itu yagn asli Sunda. Tahun 1968/1969 itu awal kariernya dalam film. Ketika itu ia masih menjadi figuran dalam film "Kamar 13". Kemudian oleh Nyak Abbas Acup, ia dilibatkan dalam film yang berjudul "Nency". Lalu cukup lama beristirahat, tapi kecintaanya terhadap dunia film ternyata mampu menunjukkan jalan. 

Lalu ia terlibat dalam film Kasmaran, Gema Kampus, Pacar Ketinggalan Kereta dan  film komedi situasi "Cas Cis Cus" arahan sutradara Putu Wijaya. 

Dalam film Cas Cis Cus, Nani mendapat peran yang cukup penting. Memerankan tokoh nenek yang sempat sewot karena nggak boleh nonton film video p o r n o . Perannya emmang berat. Perwatakannya jauh berbeda dengan keadaan saya. Itu peran antagonis, yang menantang saya, " ujar ibu yang pernah aktif di Studi Teater Bandung ini. 

"Saya dulu pernah merasa sangsi, apakah bisa dan cocok memerankan tokoh nenek seperti itu, peranan Putu Wijaya dalam menggarap watak dan emosi saya cukup besar, " papar ibu Nani yang pada tahun 1974 sampai pembuatan film Kasmaran sempat istirahat total dari film. "Sekarang anak-anak sudah gede-gede, jadi bisa ditinggal kemana-mana, " jelasnya dengan nada rendah berwibawa. 

"Kalau saya melihat jauh keluar, saya membayangkan, kok ada orang tua yang mempunyai sifat sperti itu? Kalau ada nenek tau kakek yang ingin menikah lagi, itu banyak penyebabnya, tapi sebenarnya juga tergantung pada pribadinya dalam pergaulan, " tambah Nani lagi. 

Seperti yang ia katakan, masa-masa tua memang merupakan masa yang serba susah. Seperti nenek dalam film Cas Cis Cus itu misalnya, sebenarnya ia ingin sekali di perhatikan anak-anak , menantu dan cucu-cucunya, Kalau ada orang tua yang keinginannya tidak dituruti, tentu ia akan bereaksi. 

Nani Somanegera, memang seorang nenek setia. Bukan hanya setia pada keluarga, juga setia pada perfilman Indonesia. "Saya seperti punya tanggungjawab pada dunia film. Pertama saya senang . Dan saya memang punya keinginan menyukseskan perfilman. Kalau untuk menyalurkan bakat, saya memang sudah terlambat, "ujarnya merendah.

Sebagai seorang nenek yagn mempunyai lima putra dan 13 cucu, Nani ternyata masih giat dan tekun bekerja. Selain main film dan drama televisi, juga mempunyai kesibukan lain di rumah, yaitu merias pengantin. 

Sosok nenek yang lahir di Bandung, 17 Juli 1937 masih giat bekerja dan mampu berakting dengan mantap. Tak perlu heran, karena dia terlahir dari keluarga seni. "Suami saya juga dari teater, jadi untuk kegiatan saya di film dan seni nggak ada hambatan. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 25, 2026

FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN?


 FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN? (Berita lawas). Anggapan bahwa film bermutu kurang laku dalam peredarannya nampaknya memang belum mau sirna. Hal itu memang banyak buktinya. Kalau soal mutu diukur dari hasil penilaian Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Cukup banyak contohnya yang bisa ditampilkan. 

Kita lihat saja misalnya FFI '79 dimana sistem nomine mulai diterapkan. Kecuali November 1928 garapan Teguh Karya yang akhirnya terpilih sebagai Film terbaik di FFI Palembang. Masih ada beberapa film lain yang tergolong bermutu. Pengemis dan Tukang Becak garapan Wim Umboh, Buaya Deli yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ada pula Kemelut Hidup garapan Asrul Sani. Film-film tersebut dalam peredarannya boleh dibilang kurang berhasil, bila dibandingkan dengan Inem Pelayan Sexy atau Rahasia Perkawinan yang meraih Piala Antemas sebagai film terlaris dan banyak dibicarakan masyarakat luas. 

Tahun berikutnya, FFI '80 di Semarang, Perawan Desa terpilih sebagai film terbaik. Nah film unggulan lainnya, Kabut Sutera Ungu yang disutradarai Sjumandjaya, Rembulan dan Matahari karya pertama Slamet Rahardjo yang akhirnya terpilih sebagai film terbaik kedua , ada pula Yuyun (Pasien Rumah Sakit Jiwa) garapan Arifin C Noer, Gadis Penakluk arahan Eduard Pesta Sirait. 

Namun dibangingkan Gita Cinta Dari SMA-nya Arizal, Iramaya dan Kakek Ateng, Film-film nominasi itu dalam mengumpulkan penonton jauh ketinggalan. 

Perempuan Dalam Pasungan barangkali memiliki keistimewaan tersendiri. Film terbaik arahan Ismail Soebardjo ini memang sukses di peredran. Hal itu dimungkinkan karena peredaran film patungan Garuda film, Gemini Satria Film dan Interstudio itu memang pas masa peredarannya. Setelah terpilih sebagai film terbaik FFi '81 segera pula beredar di bioskop. 

Yang juga sukses tahun itu dalam segi mutu masih ada beberapa film . Para Perintis Kemerdekaan (Dibawah Lindungan Kabah), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Laki-laki dari Nusakambangan yang memberikan piala citra pertama buat maruli Sitompul. Teguh Karyapun menyodorkan satu film, Usia 18.

Sundel Bolong, film mistik garapan Sisworo Gautama Putra yang mendapat Piala Antemas di Medan, kembali membuyarkan image yang mulai di bangun Perempuan Dalam pasungan dan Kabut Sutra ungu sebagai film bermutu dan laku. Pada tahun berikutnya tak ada film terbaik yang penontonnya mampu menyaingi perolehan penonton yang dikumpulkan film-film Warkop DKI . pertanyaan tersebut memang sulit untuk memperoleh jawaban yang pasti. Yang jelas film bermutu memang  sulit bersaing dalam pengumpulan penonton. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.


JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Tuesday, February 24, 2026

TUANKU TAMBUSAI


 TUANKU TAMBUSAI, SINETRON TERBAIK PADA FESTIVAL FILM INDONESIA TAHUN 1990 DAN MERAIH PIALA VIDIA. "Tuanku Tambusai" sinetron peroduksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta bekerjasama dengan Pemda Riau merupakan yang terbaik pada FFI 1990. Sinetron yang menggali Pahlawan yang kurang dikenal ini disutradarai oleh Irwinsyah. Empat Saingan Tuanku Tambusai adalah sinetron "Anak" produksi TVRI sta Jakarta Pusat Sutadara Dedi Setiadi, "Dibalik Tobong" produksi TVRI Sta. Pusat Jakarta sutradara Ananto Widodo, "Masih Ada Cinta di Prambanan" produksi BKKBN-TVRI dan PT. Sentra Focus Audio Visual sutradara Ali Sahab dan "Wahyu dan Wahyuni" produksi PT. Inconesia Mandiri sutradara Ali Sahab.

Kalau di kaji, sudah sewajarnya Tuanku Tambusai merupakan sinetron terbaik. Pembuatan sinetron boleh dibilang tidak ala kadarnya. Bahkan sangat serius untuk kerja sebuah media televisi. Persiapan sinetron yang konon merupakan kerja "kolosal" pertama kru TVRI ini cukup berarti membuat sinetron ini berjaya. Masa pra produksi dan riset tentang kesejarahannya memakan waktu 6 bulan. Untuk set markas tentara Belanda, tidak tanggung-tanggung kru membangunnya dengan biaya yang cukup mahal. Begitu juga dengan "hends property" seperti topi, sepatu, ikat pinggang dan tentu kostum tentara Belanda dan tentara Padri. Sebelum ke lapangan untukpengambilan gambar yang berlokasi di Riau dan Sumatera Barat serta Bandung, Kru Tuanku Tambusai mempelajari miniatur lokasi suting, ini membuktikan bahwa Tuanku Tambusai benar-benar digarap serius.

Alex Suprapto Yudo, penulis skenario cukup 'Babak Belur" untuk mengangkat pahlawan yagn kurang di kenal ini. Beberapa  kali skenario dirombak dan direvisi. Tanpa refernsi dan bantuan pihak Pemda Riau dalam keberaadaan sejarahnya, takkan mungkin sinetron Tuanku Tambusai menjadi tontonan yang menarik ketika ditayangkan TVRI.

Irwinsyah takkan diragukan berkarya lewat audio visual elektronik itu, Pada FFI 1988 dia mendapat piala Vidia untuk sinetron "Sayekti dan Hanafi" dan konon telah di putar di seratus negara, selalu diikutsertakan di berbagai festival dil luar negeri. 

Banyak yang pro dan kontra tentang hasil garapan Irwinsyah lewat Tuanku Tambusai. Hasil 'lukisan'nya itu ada yang mengatakan 'mengada-ada'. Namun Irwinsyah telah mencoba mendekati sejarah Tambusai. Dan membangkitkan semangat orang muda untuk mengenal pahlawannya. 

Sinetron Tuanku Tambusai dilakoni oleh Cok Simbara sebagai Tuanku Tambusai, Tino Karno sebagai Bidin, Ferry Fadly sebagai Maringgit, Renny Djayusman sebagai Isteri Tuanku Tambusai, Agus Melasz sebagai De Stuller, S. Bono sebagai Be Richmond, Ahmad Nugraha sebagai Kohar dan didukung oleh ratusan figuran Riau dan Sumatera Barat. 

Tuanku Tambusai demikian namanya. Merupakan salah seorang panglima Tuanku Imam Bonjol yang berperang melawan Belanda, setelah Pangeran Diponegoro dapat di taklukkan Belanda. Sejarah membuktikan bahwa Tuanku Imam Bonjol dan sekutunya dapat di taklukkan pula oleh Belanda. Tapi dengan perlawanan yang sengit dan pantang menyerah dari tentara Padri. 

Sinetron ini tidak selalu menggambarkan suasana peperangan. Tapi juga konflik-konflik batin yang berkecamuk pada pasukan Tambusai. Untuk itu, Tuanku Tambusai selalu berhati dingin dan berlapang dada dengan laporan-laporan prajuritnya. Meski anak buahnya sudah kena penyakit rindu kampung halaman, karena bertahun-tahun bergerilya. Tuanku Tambusai tidak hanya pimpinan perang, tapi dia juga ulama yang disegani. Lewat keberadaannya inilah, petuah-petuah berhamburan, dia tidak hanya mengupas strategi perang, tapi juga manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia. Meski adegan Tambusai berkhotbah seakan lamban, namun Irwinsyah tak membuangnya, karena ada 'missi' didalamnya. 

Penataan Cahaya cukp apik. Lorong-lorong markas Belanda yang di Bandung cukup menggambarkan suasana. Kamera cukup jeli menangkap detail-detail setiap adegan yang dihadirkan. Apa yagn di sampaikan Tambusai cukup kompleks. Soal toleransi beragama dipaparkan lewat peran Maringgit, sosok pemuda animisme yang bersimpatik terhadap gerakan tentara Padri, Lalu sosok Bidin yang hilang keseimbangan melihat isterinya gantung diri, menggila dan membakar tempat perjudian. Lewat sosok ilmuwan Belanda yang riset, lalu tertangkapnya Tambusai tidak memerlakukannya sebagai musuh. Terbuktilah tak semua orang Belanda suka penjajahan, seperti Multatuli. 

Dengan dana 300 juta, wajar kalau sinetron ini menjadi yang terbaik. Sebab segala sesuatu dikerjakan sesuai konsep yang telah di sepakati. Inilah membuat sinetron Tambusai menjadi tontonan menarik. Meski secara sinematography sinetron Tambusai bisa lebih baik, tapi Irwinsyah hanya memberikan batas waktu 40 hari untuk menyelesaikan suting yang sarat dengan misi, baik sejarah maupun agama. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.

Monday, February 23, 2026

ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM

 


ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM , (Berita Lawas). Pada era 1960an, film-film Italia pernah merajalela di bioskop-bioskop Indonesia. Di antara bintang-bintang koboi yang sangat terkenal adalah Giuliano Gemma. Nah, sekarang dalam perfilman Indonesia juga ada Ade Giuliano. Lalu apa kira-kira ada hubungan dengan kedua Giuliano ini?

"Memang sih hubungan darah tidak ada, tapi dalam tubuh saya juga masih terdapat darah Italia, " aku Ade. Indo-Italia berasal dari ayah Primus Saleh, yang asli sunda bergabung dengan ibu Ellydemezza dari Italia.

Dilahirkan pada 22 September 1968, sejak kecil Ade sudah akrab dengan mobil. Harap maklum, bokapnya memang jual beli mobil, khususnya Datsun Nissan. "Dulu papa bergabung dengan Indo kaya, tapi sekarang sudah berdiri sendiri, ".

Kemahiran Ade mengendarai mobil berlanjut hingga hobi rally. "Saya ikut perkumpulan penggemar rally mobil Artajaya yang di pimpin Benny Kurnadi." Kegemaran yang lain, memangkas dan menata rambut . Ilmunya di pelajari dari Rudy Hadisuwarno yang sudah sangat tersohor di ibukota. Selepas SMA, Ade malah menjadi hairdresser di "Rudy Salon", Ratu Plaza. 

"Tapi sekarang saya mulai sibuk main film, terpaksa kerjaan di salon cuma freelancer saja, dalam arti kalau sedang senggang saya datang, kalau tidak ya tidak apa-apa," kilahnya. 

Debutnya di film diawali lewat film remaja "Si Roy" arahan Achiel Nasrun. Perannya sebagai pemuda gedongan yang bersaing dengan Ryan Hidayat untuk mendapatkan cinta Margie Dayana. Persaingan berlangsung cukup seru sampai terjadi adu j o t o s beberapa kali. 

Denga perawakan tinggi 1,77 meter dan berat 72 kilo ini sebenarnya Ade lebih tegap daripada Ryan. Tak urung karena heronya Ryan, maka tokoh yang diperankan Ade harus kalah, kena gebuk sampai terjungkal. Apa Ade punya bekal ilmu bela diri? "Dulu pernah juga belajar sedikit sedikit , tapi kemudian lebih memilih hobi berenang. Terus terang saya kurang senang main kasar, kala dalam film kelihatannya saya saling membenci Ryan, itu kan cuma pura-pura. Diluar film bersahabat kok. Film kedua Nakalnya Anak Muda tetap diarahkan Achiel Nasrun, juga kembali berhadapan dengan Ryan Hidayat. Sedangkan film ketiga adalah Boleh-boleh saja dengan sutradara Hadi Purnomo, merupakan drama remaja campur komedi. 


MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Saturday, February 21, 2026

NIKE ARDILLA MELAHAP APA SAJA


Nike Ardilla, nama cewek ini. Ia memang berawal dari menekuni dunia nyanyi. Manggung kesana kemari hingga memasuki dapur rekaman.

Kasmaran yang di tangani Slamet Rahardjo merupakan debut pertamanya. Lalu Nike kebagian casting dalam film Kabayan Saba Gota dan Gadis Foto Model. Belum lagi dalam dunia layar kaca, Nike sempat nongol dalam sinetron yang berjudul Cinta Alisa. 

Tak heran, Achiel Nasrun sutradara film Nakalnya Anak Muda berani menggaet Nike Ardilla menjadi peran utamanya dengan memerankan dua tokoh sekaligus dalam film itu. 

Ternyata sejak kecil nama Nike yang lahir 27 Desember 1975 sudah punya cita-cita jadi bintang film. "Waktu saya belum sekolah, saya sering nyanyi di atas meja makan. Dan kalau setiap bangun tidur harus di foto. Kalau nggak saya nangis, " begitu kenang Nike Ardilla yang merupakan siswi kelas III SMP 30 Bandung. 

"Jangan Lupa ya, Nike Ardilla ini nama untuk main film. Nama aslinya Nike Ratnadilla, Nama itu dari produser yang sudah disetujui mama. Nah , kalau Nike Astrina itu yang ngasih mas Denny Sabri, itu untuk musik. "

Nike Ardilla suka makanan jenis apa saja. Suka jenis musik apa saja, Suka kerja apa saja, Suka peran apa saja, tapi untuk memilih cowok idamamnya Nike tetap punya Idola, "Pokoknya yang nggak suka merokok, mengerti sama ike, baik sama Nike dan.. tentu yang Nike Suka.".


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990~

AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak!

 


AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak! (Berita Lawas). Dr. Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI ternyata pernah menjadi soerang penarik becak. Tapi jangan salah, pekerjaan yagn mengandalkan otot-otot itu dia geluti hanya dalam cerita sandiwara TVRI. Persisnya tahun 1973 tak lama sesudah dia dipindahkan tugasnya ke Jakarta dari Cilacap. 

"Begitu saya pindah ke Jakarta, langsung diajak kawan-kawan main sandiwara lagi," kenang Amoroso Katamsi jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogya tahun 1966. Apa judul Sandiwaranya? "Wah saya lupa. Yang saya ingat cuma pengarah acaranya Amir Hamzah, "katanya sambil mencoba mengingat ingat. 

Pamen ABRI berpangkat kolonel TNI AL ii memang bukan orang baru di bidang teater. Ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, Tam demikian panggilan akrabnya terlibat aktif dalam kegiatan pentas. Tahun '62-64 dia jadi anggota grup studi drama Yogya dibawah asuhan WS Rendra, kemudian Tater Muslim ('63-66). Selesai kuliah Amoroso memasuki dinas TNI AL (1966) dan selama tiga tahun hingga 1969 ditempatkan di kapal Skadron 31 (Sebagai dokter kapal). Turun dari kapal dia ditempatkan di Lanal TNI AL  Cilacap seabgai kepala kesehatan, hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 1973. Selama bertugas di darat itu Amoroso sempat membentuk grup Teater Widjajakusumah di Cilacap. 

Kecintaanya terhadap dunia teater ini rupanya sudah mendarah daging bagi putra pasangan Pak Slamet Martorahardjo/Iman Sopijay yang dilahirkan di Jakarta  21 Oktober 1940. Walaupun sehari-harinya dia cukup sibuk dengan tugasnya di lingkungan TNI AL, namun dia tak melewatkan kesempatan untuk tetap manggung, termasuk kegiatannya dengan Teater Kecilnya Arifin C Noer. 

Bertolak dari dunia panggung pulalah Amoroso Katamsi diajak main film. Dimulai dengan film semi dokumenter Darah Ibuku (1976). Disusul Cinta Abadi, Menanti Kelahiran, Terminal Cinta dan banyak lagi. Kesempatan paling berharga dan mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup ialah ketika dipercaya memerankan tokoh Mayjen Soeharto dalam film Penumpasan G 30 S/PKI, sebuah film yang mengungkap peristiwa berdarah G 30 S/PKI.

Tidak banyak orang tahu, bahwa Amoroso ketika masih menjadi mahasiswa dulu (1962-1966) adalah juga seorang penyanyi seriosa di samping penyanyi koor. Kegiatan dunia tarik suara memang sejak lama dia tinggalkan, namun kegiatan akting tetap akan dia pertahankan sampai entah kapan. 

"Kebetulan pimpinan memaklumi kegemaran saya," paparnya perihal dunia akting yagn digelutinya selama ini. Jadi kalau ada tawaran main film dan kebetulan waktunya memungkinkan biasanya Pak Dokter yang Pamen ABRI ini diberi kelonggaran oleh pimpinannya. Tapi seringkali juga persis ada tawaran dia sedang sibuk-sibuknya di kantor, sehingga sulit meninggalkan tugas. Kalau terjadi begitu maka panggilan tugas biasanya lebih diutamakan. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990