Wednesday, March 18, 2026

RITA ZAHARA

 


RITA ZAHARA, Mengejar Sutradara Mati Hidup di Film (Cerita Lawas). Ada orang yang senang mem bunuh? Dengan menghunus rencong di tangan kanan, dan tanpa ragu-ragu ia hunjam senjata khas daerah Aceh itu ke tubuh wanita di hadapannya. Bles. Darahpun bersimbah di sekujur tubuh fatimah. Wanita itu mengerang dan roboh disaksikan banyak orang. 

Mengapa itu dilakukan, tanya pemimpinnya. Maafkan saya, jawab wanita yang memegang senjata rencong itu. 

"Diantara semua adegan, cuma adegan diatas yang paling saya senangi," ujar Rita Zahara yang berperan sebagai Nya' Bantu dalam film "Tjoet Nja' Dhien". Meski jawaban Nya' Bantu singkat, menurut Rita, mempunyai arti yang sangat dalam. "Karena adegan tersebut dapat dikatakan titik puncak kemarahan Tjoet Nja Dhien kepada pengkhianat, yang dapat dirasakan, lalu di terjemahkan oleh Nya' Bantu. Bagi pengkhianat hukumannya kan jelas mati. Maka secara spontan saya, eh maksudnya Nya' Bantu, harus membunuhnya, ' tutur Rita di kediamannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. 

"Film ini memang banyak memeras tenaga, waktu dan biaya. Tapi hasilnya dong, luar biasa sekali, cetus Rita Zahara sambil menggeleng-gelengkan kepala kagum. Dan ia sendiri salut pada keberanian Eros yang memvisualkan wanita Aceh itu. Dikatakannya bahwa Eros tekun dan teliti. Tak pelak, Rita pun dituntut untuk menghayati peran, yang meurutnya boleh dikatakan agak berat juga.  Karena itu Rita melakukan observasi secara langsung hidup dan bergaul dengan masyarakat terutama di Sigli. Maka ia mengerti dan memahami bahasa setempat, yang bicaranya tidak lemah lembut, cara berjalan yang gagah berani. Pokoknya saya tidur dan bergaul dengan mereka, sehingga tahu cara hidup mereka, kata Rita. 

Ria Zahara, Ibu 7 anak dan lahir di Singapura pada 5 Desember 1942, sedang magang sebagai asisten sutradara dalam film "Pacar Ketinggalan Kereta" garapan Teguh Karya. Lulusan ATNI tahun 1964 ini berniat mengisi profesi sutradara wanita yang masih langka di negeri ini. Sebelumnya, ia pun telah menjajal kemampuannya sebagai pembuat skenario sekaligus pengatur laku dalam sandiwara "Rona Rona" di TVRI. Juga ia telah merampungkan beberapa skenario film dan teve, yang ia beri judul "Darah Hitam", "Tangismu Milikku", "Keramat Batu Lebur" serta "Usia dan Cinta".

"Saya sangat mencintai dunia film ini. Saya tidak akan menyeleweng dari dunia seni. Kalau film lagi sepi, maka saya berusaha nyanyi, main drama atau menulis skenario. Saya hidup sekaligus membesarkan anak-anak dari hasil dunia ini. Saya nggak punya bakat bisnis, misalnya," tutur istri Piet Pagau yang juga pemain film. "Dan mudah-mudahan cita-cita sutradara itu tercapai. Namun saya beranjakdari tidak punya duit, yang saya andalkan adalah kemampuan dan pengalaman serta dorongan sutradara Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, " ungkap Rita sungguh sungguh. 

Rita Zahara pertama kali terjun ke layar putih lewat film "Gaya Remaja" (1960) Film-film selanjutna seperti "Teror Di Sulawesi Selatan", Macan Kemayoran", "Fajar Di Tengah Kabut", "Senja Di Jakarta", "Honey Money & Jakarta Fair", Misteri Di Borobudur, "Panji Tengkorak", "Manusia terakhir", "Kemasukan Setan", "Pembalasan Si Pitung" serta ikut pula dalam Jakarta 66" dan Noesa Penida".

Rita menceritakan bahwa kehidupan keluarganya yang berdarah seni itu telah di tularkan pada anak-anaknya. Ketujun anaknya, bahkan cucunya telah mencicipi dunia seni, entah di film, teve maupun nyanyi. Pokoknya saya menganjurkan pada mereka menggeluti dunia seni. Kan seni tak begitu banyak memerlukan pendidikan dan biaya, " katanya. "Apalagi sekarang betapa sulitnya cari kerjaan", tambahnya, Rita yang pernah terkenal sebagai penjaga gawang sepakbola pertama di Indonesia selain menikah 3 kali. sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988


LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR


 LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR (Berita Lawas). Tantangan bintang Indo tampaknya lebih banyak. Mereka umumnya menjadi sasaran dagang bagi produser dan sutradara. Ini dirasakan sekali oleh Lisa Patsy, cewek yagn di besarkan di negeri Paman Sam sana. Ia mengungkapkan ogah bradegan berbuka ria dan ciuman bibir. Waktu itu bertepatan dengan shooting film "Godain Kita Dong" bersama Warkop DKI. Rupanya sikapnya ini goyah juga, dan tak mampu berkutik pada sutradara Arizal. Dalang komersil ii menyuruhnya mengenakan pakaian seksi dan merangsang dalam film "Membakar Lingkaran Api". Bahkan ada satu adegan pemer kosaan dimana sebagian tubuhnya tersingkap bebas. "Biarin deh, asal tidak berkesan jorok. Kang nggak semua adegan buka-buka menimbulkan kejorokan. Lagian disitu kan saya di per kosa masa sih mesti tertutup rapat kayak mayat, " tandas Lisa yang mulai lancar bahasa Indonesia. 

Sebetulnya, kata Lisa soal pakaian seksi atau adegan buka-bukaan baginya secara pribadi tidak keberatan. Yag menjadi persoalan menjaga nama baiknya di sekolah dan lingkungan di mana ia tinggal. "Bohong kalau saya bilang nggak pernah main "begituan" contohnya ciuman atau main raba. Saya kan udah punya pacar, jadi logis saja bercinta di barengi usap-usap," akunya polos. Tapi yang satu ini Lisa pesan jangan ditiru cewek ingusan yang lain. Ia sendiri memang baru menginjak usia 15. Soal sudah matang dalam bercinta, mungkin lingkungan negara tempat membesarkannya menghendaki begitu. 

Cewek bernama asli Priscilia Lisa Maria ini masih sangat polos, hal ini disadarinya betul. Cuma yang paling sulit baginya untuk melawan perasaan dan kemauan orang lain. Nah, sekarang lIsa teguh tidak main buka-bukaan yang vulgar, tapi ia sendiri nggak tahu untuk esok. "Saya berani bilang begitu, karena hidup ini lewat proses. Sikap oran gbisa berubah dengan sendirinya seusai tuntutan perasaan tadi. Pokoknya untuk film saya nggak bisa obral janji dulu baik yang menyangkut batasan peran atau segalanya, nanti takut dibilang munafik, " begitu prinsip Lisa. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE


NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE (Berita Lawas). Butuh waktu sebulan lebih untuk menghayati perannya, Nani Wijaya masih harus membaca buku, mengamati kehidupan Keraton, melihat pertunjukkan kesenian dan nonton pertunjukkan wayang orang Sriwedari untuk bisa menyatu dengan tokoh yang dimainkan, Kanjeng Gusti Gusdini Suryo dalam film "Selamat Tinggal Jeanette".

"Inilah film terberat buat saya selama main film. Saya ditantang untuk bisa benar-benar menjadi wanita Kraton," ujar peraih Citra FFI 1978 lewat film Yang Muda Yang Bercinta. 

"Hambatan moral dan psikologis jelas ada. Tapi syukurlah sutingnya kebetulan di Kraton. Lokasi itu jelas sangat menolong saya, " tambah istri tokoh Sinematek Indonesia, H. Misbach Yusa Biran ini. 

"Saya memang berusaha sebisa mungkin untuk menyatu dengan Kraton. Menjadi wanita Kraton. Dan itu sangat berat," tuturnya Bayangkan Saja saya harus memerankan tokoh yang introvert. Tokoh yang pengetahuannya tentang dunia luar sangat terbatas. Sampai akhirnya saya harus menyerah karena saya tidak bisa mengatasi kenyataan yang terjadi, " katanya lagi. 

Dengan perannya yang seperti itu, Nani mengaku memang tidak terlalu optimis bakal tampil sebagai aktris peraih piala citra. Ia pun mengatakan tidak pesimis. "Mudah-mudahan saya deh yang meraih Citra tahun ini," katanya. Tapi tanpa citrapun saya sudah cukup senang karena orang-orang merasa puas denga permainan saya di film ini, " kilahnya. 

"Tapi kalau saya yang tampil sebagai peraih Citra, saya akan senang sekali. Soalnya saya merasa sudah bermain sebaik mungkin. Sayangnya saya tidak menyimak permainan rekan-rekan saya yang lain sih, ujarnya lagi. "Yang jelas banyak tantangan yagn aya hadapi dalam film ini. Termasuk beberapa isyarat yagn diberikan kerabat kraton agar tidak melakukan ini dan itu, cerita ibu lima anak ini. ~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 16, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


 EDWARD PESTA SIRAIT, Periode 88/89 Edward Pesta Sirait sempat menghilang, namun kemudian muncul kembali menyutradarai film. "Soalnya proyek saya tentang film alternatif lewat video gagal, " katanya. 

Dan kegagalan itulah yang agak membawa Edo, begitu ia akrab di panggil, kembali ke Jakarta dan kembali menyutradarai film bioskop. 

Adalah "Dua diatara tiga pria" film pertamanya setelah come back. Produksi PT. Raviman Film yang berkisah tentang penyelewengan kaum lelaki seperti penelitian yang dilakukan Dr. Naek L Tobing yang pernah menghebohkan itu.

Sutradara jebolan ATNI dan Kino WOrkshop ini, memang di kenal sebagai sutradara berbakat yang melahirkan film-film bagus. Beberapa kali ia masuk sutradara unggulan FFI karena film-film yang digarapnya. Film Tinggal Sesaat Lagi juga masuk dalam film nominasi FFI 1987. 

Memulai kariernya sebagai pembantu Sutradara tahun 1966. Edo yang pernah jadi asisten show manager Sarinah ini mengawali karir sutradaranya secara penuh lewat film "Chica" tahun 1976 dan berhasil mendapatkan penghargaan pada Festival Film di Kairo setahun kemudian. Setelah itu beberap afilm lahir dan tampil sebagai film yang berhasil dan menjadi pembicaraan. Mala filmnya "Gadis Penakluk" berhasil menempatkan namanya sebagai sutradara muda berbakat dan mendapat perhatian kalangan film. 

Lantas mengapa Edo kini menyutradarai film komedi?. Hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain saja". kilahnya. Dan sesuatu yang lain itu isa jadi sesuatu yang menghibur. Dan sama seperti film-film Edo yang terdahulu, kali inipun sutradara ini tetap  melibatkan Remy Silado sebagai salah seorang pemainnya. "Soalnya saya cocok dan seide dengan Remy, " begitu dia pernah bilang. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Thursday, March 12, 2026

SI CEWEK GENDUT ILLA DOTH


 ILLA DOTH. (Kisah Lawas). Artis bertubuh subur dengan bobot hampir satu kwintal itu punya kebiasaan menarik. Kalau biasanya orang yang lagi sedih tidak doyan makan, lain lagi dengan Illa Doth, kalau dia sedih justru makannya banyak. Kebiasaan ini ia jalani sejak kecil. Baginya hidup ini cuma sekali jadi harus senantiasa gembira. itulah sebabnya ia selalu menghindari kesedihan. Maka tak perlu heran jika tubuhnya subur. 

Orangnya cuek, ngomongnya ceplas ceplos penuh humor. Barangkali inilah yang membuat ia awet gemuk. Ia begitu bangga dengan keadaannya, sementara banyak orang melakukan diet jika merasa sedikit gemuk, tapi Illadoth cuek saja. "Kalau orang langsing dan cantik itu banyak tapi cewek gendut kayak Illadoth banyak yang cari. "akunya sambil mengunyah coklat, makanan kesukaan yang tidak pernah ketinggalan setiap hari. 

Ia tidak takut dengan nafsu makannya yang kuat, sebaliknya ia akan bertanya-tanya jika nafsu makan itu tiba-tiba menurun. Gemuk baginya adalah karunia Tuhan. Memang benar, dengan kegemukannya itulah membuat ia laris menerima tawaran main film. Sudah puluhan film yang dibintangi. Juga laris untuk backing vocal penyanyi. Dalam siaran TPI ia pun nongol untuk menghibur anak-anak balita lewat acara yang diasuh oleh Titi Qadarsih. 

Belakangan ini beratnya naik 3kg gara-gara dikecewakan cowoknya membuat ia menambah porsi makannya. Makan adalah kesukaannya, sehingga makanan akan menghibur dirinya bilamana menghadapi kesusahan. "Pokoknya gua emang gak mau susah, jika gua  punya persoalan berat, gua makan sekenyang-kenyangnya. NGapain mikirin yang susah-susah:, jelas Illa Doth yang beratnya mencapai 90 kg. 

Pada suatu hari, cewek Nasution yang satu ini pernah mencoba mengukur sejauh mana kekuatan makannya. Menurut pengakuannya jika lagi mood makan rasanya tidak ada kenyangya. Setelah di cobanya ia mampu melahap satu bakul nasi berikut lauk pauknya dan makanan lain yang memenuhi meja makan. Habis itu ia terkapar dan tidak bisa bangu lagi sampai esok harinya. 

~MF

Wednesday, March 11, 2026

SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK

 


SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK, Angin laut selatan menerpa-nerpa pantai wisata karang Tirta Pangandaran, Jawa Barat. Udara membawa uap panas, membuat suasana semakin gerah. Namun tidak membuat kru film Saur Sepuh IV episode Titisan Darah Biru larut dengan udara panas, menyengat dan membakar kulit. Jauh-jauh hari kru artistik yang di komandoi El Badrun dan Dellsy Syamsumar telah bekerja membangun set candi tua, mempersiapkan properti dan atribut-atribut lainnya menurut sejarah masa Majapahit yang menjadi patokan ide cerita Nikki Kosasih.

Dari arah jalan, tempat wisata Karang Tirta seperti sebuah "pasar seni" meriah dan tak pernah terjadi suasana seperti ini sebelumnya. Biasanya pantai Karang Tirta hanya sebuah semi padang rumput dan dihiasi semak belukar tak terawat. Dengan berdirinya gapura istana Madangkara setinggi 15 meter, membuat tempat rekreasi lokal yang tak pernah disentuh Pemda Jabar ini semakin anggun. Sebelah kanan arah jalan terdapat sebuah istana Keputren. Istana itu dibangun diatas padang rumput dengan memanfaatkan belukar liar sebagai pepohonan rindang. Sekali pandang, kita akan asing dengan dua bentuk istana keputren itu. Selain warna cat nan legam, relief lengket di dinding berkesan magis. Sehingga seperti rumah orang bunian (jin), begitu mencekam. Padahal bangunan istana keputren ini terbuat dari tripleks , sedang atapnya terbuat dari fom (gabus) yagn di cat berwarna hitam. "Sebelum suting, kami bertiga , saya, Badrun dan Tantowi telah membaut seketnya. Jadi bangunan dirancang jauh-jauh hari, " kata Dellsy Syamsumar. 

Sebelah kiri jalan terbentang perkampungan era Majapahit, atapnya membumbung tinggi beratap rumbia. Sementara dindingnya terbuat dari kayu-kayu laut tanpa di ketam (serut). Kawasan bangunan itu memiliki lima bangunan induk yang begitu asing. "Kami tidak hanya mereka-reka bentuk rumah penduduk masa Majapahit. Kami mencari bentuknya dari literatur, yakni dari buk karangan Rafles. Dari buku karangan Rafles ini kami berani membuatnya. Jadi punya argumentasi kuat membuat bangunan ini, ' ujar Dellsy meyakinkan. 

Setting interior Istana Madangkara dibuat jauh dari bangunan induk lainnya. Karena keadaan di Karang Tirta tidak memadai, istana itu dibuat megah, semegah nama Madangkara. Oleh karena itu dibutuhkan lapangan yang luas, tempat berdirinya dinding dan sangkutan lampu. Tidak ada jalan lain, kecuali membuatnya di lapangan terbuka. Karena angin laut langsung menerpa dinding istana, membuat Istana Madangkara ambruk dua kali. 

Setiap episode seri Saur Sepuh sutradara Imam Tantowi, selalu memiliki binatang maskot seperti burung Rajawali, Buaya dan di saur sepuh ke 4 adalah kelelawar. Ini yang membedakan saur sepuh dengan tema klasik lainnya. Justru itu Imam Tantowi harus bekerja keras. Tidak hanya memanpilkan ketrampilan laga, tapi juga seni membuat adegan fantastik, seperti yagn terdapat dalam dongeng-dongeng. Variasi antara fantastik dengan drama action klasik menjadikan Saur Sepuh IV  lain dari episode sebelumnya. Karena kreatifitas ini membuat Saur Sepuh tidak pernah kalah pamor dengan film sejenisnya. Meski banyak suradara maupun produser meniru suksesnya Saur sepuh agaknya Tantowi tidak pernah gentar.

Rencana Imam Tantowi membuat hutan absurd sudah ada ketika dia menggarap film Soerabaia '45. Konon angan-angannya itu sudah sekian tahun yang lampau. Lewat Saur sepuh IV ini keinginannya itu terwujud. "Kawasan hutan itu merupakan hutan raksasa, dimana dua puluh orang tidak akan bisa merangkulnya, " kata Imam Tantowi. "Hutan seperti ini zaman dulu pasti ada, tapi sekarang menjadi absurd, ? kilahnya pula.

Nyata sekali Imam Tantowi menyuguhkan suasana yang lain. Dimana kelak hutan raksasa akan membuat suasana yang lain. Mencoba keluar dari kebiasaan, dimana setiap film yang meminjau masa Majapaphit, selalu membaut hutan dengan batang pohon kecil. 

Ternyata membuat film klasik membutuhkan kerja keras, kalau digarap serius. karena membutuhkan property serta set dan atribut lainnya yang tidak ada dijual, kecuali membuat sendiri. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sediki. 150 juga rupiah dana  disediakan produser PT Kanta Indah film untuk artistik. 

Titisan Darah Biru mengungkap suksesi yang terjadi di kerajaan Madangkara. Dimana terjadi pemberontakan dari pihak yang lalim, untuk menumpas generasi muda Madangkara keturunan Brahma Kumbara ingin di tumpas. Karena generasi muda Madangkara ingin membangun kerajaan seperti jayanya Majapahit. Sementara kaum tuanya menginginkan  kerajaan Madangkara tanpa ada kemajuan. 

Maka kaum tua melakukan penghkhianatan, isteri Brahma Kumbara di culik oleh manusia berhati iblis. Sebab manusia berhati iblis itu berniat menguasai Kerajaan Madangkara dengan otak liciknya. Ternyata Imam Tantowi juga bicara politik lewat episode Titisan Darah Biru

Film ini dibintangi oleh Candy Satrio, Anneke Putri, WIda Nathasa, Baron Achmadi, Rita , Hans Wanagi, Devi Pertama Sari, Agus Kuncoro, Belkies Rahman, Annas Rohisszein dan Satria S, serta ratusan film figuran. 


Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Sunday, March 8, 2026

TORRO MARGENS

 


WAWANCARA DENGAN TORRO MARGENS! (Berita Lawas). Sementara sutradara lain tengah membelot ke sinetron sebagai pelarian tidak adanya produksi film, Torro Margens sutradara muda (kala itu) kelahiran Tegal (Pemalang?) Jawa Tengah ini justru laris manis. 

Di paruh tahun 1994 ini Torro kembali menyutradarai film Sorgaku Nerakaku dan film ini cukup sukses di gedung-gedung bioskop kelas B di Jabotabek. Sementara film sejenis sudah jeblok dan dijauhi pentonton. Karenanya, Parkit Film perusahaan yang cukup produktif memproduksi film memberikan kepercayaan lagi pada sutradara yang juga seorang dubber tangguh ini untuk menggarap film drama percintaan yang dibumbui adegan-adegan syurr. 

Apa resepnya dalam menggarap film sehingga film-filmnya banyak meraih penonton? Apakah Torro hanya mampu menggarap film-film tema esek-esek atau "Action tanggung" macam Anglingdarma 3 atau Saur Sepuh V? berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film No. 216/182/ThXI/24 Sept - 7 Okt 1994 di lokasi suting film Kabut Asmara di Anyer Jawa Barat (sekarang Banten).

Apa Yang membuat anda begitu menggebu untuk tetap menyutradarai film, sementara sutradara lain lari ke sinetron?

Kalau boleh bicara sombong, kembalinya saya menyutradarai film karena saya merasa prihatin dengan keadaan film sekarang ini yang kata orang mengalami kelumpuhan. Nah supaya jangan lumpuh total, saya berkewajiban untuk menyembuhkan kelumpuhan itu. Memang saya bukan dokter, tapi paling tidak saya berharap bisa ikut menyembuhkan dari sisi yang saya bisa. Karenanya saya cukup bangga dan senang apabila ada produser yang mengontrak saya untuk menyutradarai film. Sekarang ini saya malah sampai menolak tawaran. 

Apa alasan Anda untuk bertahan di film sementara para sutradara lain serta para produser begitu pesimis akan perkembangan dunia film kita saat ini?

Nggak tahu ya, saya kok berkeyakinan kalau film kita akan terus bertahan. Kenapa? Karena dengan perkembangan penduduk Indonesia yang begitu pesat, tentunya membutuhkan pasokan film yang begitu besar. Nah sekarang bagaimana insan film kita mencari formoulanya agar film Indonesia bisa digemari lagi. 

Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat kita di pedesaan masih membutuhkan film Indonesia. Hanya masalahnya sekarang sampai nggak film kita ke polosok tanah air. 

Ada beberapa sutradara dan produser yang mengeluhkan sistem peredaran film Indonesia yang dilakukan PT. Perfin karena tidak seperti yang diharapkan mereka. Seperti kasus film Langitku Rumahku. Apa komentar anda?

Buat saya dan film saya nggak ada masalah, buktinya Sorgaku Nerakaku bisa bertahan 3 hari di Studio 21, di Roi saya lihat sendiri sampai 14 hari, begitu juga di Kramat. Saya yakin kalau tidak ada kasus penurunan poster, akan bisa bertahan lebih lama lagi. 

Anda begitu yakin kalau film anda, Sorgaku Nerakaku bisa bertahan lama di bioskop Jakarta dan daerah. Apa alasan anda?

Karena saya punya kartu As, yakni yang mengedarkan film itu jagonya pengedar film. Selain itu film ini kan hasil kerja bareng beberapa produser (konsorsium). Begitu juga film saya sebelumnya, alhamdulillah banyak meraih penonton. 

Apa resep anda dalam menggarap film jenis action dan "esek-esek". Sehingga film anda selalu meraih penonton?

Mungkin karen saya dalam menggarap film tema esek-esek tidak terlalu nge-seks, apalagi digarap secara serampangan. Karena saya selalu memegang prinsip bahwa film bukan sekedar tontonan tapu juga tuntunan dan panutan. Dan saya selalu menggarapnya seartistik dan sehalus mungkin, sehingga tidak dibabat BSF. 

Seperti film Sorgaku Nerakaku , sebagai contoh itu film sebenarnya juga "esek-esek" tapi karena di dukung cerita yang menyentuh sehingga film itu bisa diterima masyarakat. 

Apakah film anda selalu menganut falsafah, tontonan, tuntunan dan panutan?

Selalu. Kalau hiburannya 80% tuntunannya 20%.

Sangat disayangkan oleh sebagian insan film bahwa kegairahan sesaat produksi film dibarengi ulah produser yang membuat poster film yang seronok sehingga muncul protes, dan klimaksnya terjadi penurunan poster oleh Bapfida-bapfida setempat. Apa komentar anda tentang hal ini?

Terus terang saya sangat menyayangkan dengan sikap sebagian produser kita, yang justru terlalu mengeksploitisir poster. Padahal kalau dipilih ada gambar yang bagus dan artistik yang pantas untuk dijadikan poster. Tapi anehnya produser memilih gambar yang murahan seperti itu. Akhirnya terjadi protes. Kalau sudah terlanjur seperti ini, semua kan kena getahnya. 

Pernahkah anda mengajukan keberatan pada produser masalah poster yang nggak sesuai dengan harapan anda?

Pernah!. Tapi kalau kemudian produser memberikan alasan apa yang dilakukaknya untuk meraih penonton, itu kan kaitannya dengan bisnis, jasi sudah bukan wewenang saya. 

Dengan kasus penurunan poster beberapa waktu lalu, menurut anda siapa yang salah. Produserkah, Bapfida atau BSF sebagai penjaga gawang?

Bapfida, karena poster sendiri sebelum di pasang dan diedarkan sudah diseleksi melalui badan sensor film. Nah kalau BSF sudah meloloskan itu artinya baik poster maupun filmnya sudah layak di konsumsi masyarakat. Tapi pada kenyataannya kok terjadi penurunan poster. Saya juga nggak habis pikir dengan kejadian seperti ini. 

Kalau begitu Bapfida melangkahi BSF?

Ya. Jelas dong! Karenanya untuk menjernihkan masalah ini antara Bapfida dan BSF perlu lobying serta mengadakan dialog. Supaya bisa satu kata dan satu pandangan supaya kasus penurunan poster tidak terulang lagi. 

Kenapa anda selalu menggarap tema "esek-esek" dan semi action. Apa nggak kepingin menggarap tema lain?

Lha, kalau yang datang film-film tema "esek-esek" seperti itu. Apa saya harus menolak? Sementara hati kecil saya sedih melihat film nasional lumpuh seperti sekarang. Soalnya keinginan menggarap tema lain, saya juga punya keinginan. Malah saya punya obsesi untuk menggarap film musikal seperti film-film Rhoma Irama. 

Dulu anda produktif menulis skenario, kenapa sekarang tidak lagi?

Biasanya, saya menulis kalau saya berkeinginan untuk menggarap tema lain. Seperti ketika saya menggarap film Pernikahan Berdarah dulu, saya yang menulis skenarionya. Keinginan untuk menulis skenario terus menyala dalam dada saya, cuma waktunya yang agak sulit. Karena beberapa kesibukan saya akhir-akhir ini seperti dubbing. 

Sepertinya anda setiap selesai menggarap film, kemudian break beberapa saat. Apa alasannya?

Terus terang saya tidak ingin tubuh saya di peras untuk suatu pekerjaan, dan tubuh ini kan butuh keseimbangan. Jadi begitu kerj yang melelahkan, saya mesti istirahat. Kalau dalam satu minggu kerja enam hari, ya saya mesti istirahat satu hari . Ini namanya keseimbangan Setelah itu baru kerja kembali.

Sebagai sutradara nampaknya anda sangat disiplin soal waktu, terbukti anda tidak pernah melakukan syuting hingga diatas jam 24.00 WIB?

Alasannya, jiwa raga saya dan kru, ini kan butuh istirahat dan butuh keseimbangan seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi buat apa kita kerja mati-matian, tapi kemudian  kerja teman-teman nggak maksimal. Dan saya punya jam kerja 8 jam, misalnya kita bekerja mulai pukul 10.00 pagi, pukul 18.00 mesti break. 

Disiplin waktu itu mulai anda terapkan sejak kapan?

Sejak saya mulai merasakan capai dan jenuh menyutradarai, karena sebelumnya kerja saya tidak kenal waktu. Sehingga badan saya merasakan cepat capek dan jenuh. Setelah break panjang, saya kemudian menemukan formula disiplin 8-10 jam itu tadi. 

Gaya kerja anda beda dari sutradara yang ada. Anda nampak santai dan terkesan guyon. Apa anda tidak takut dilecehkan kru anda?

Dengan sikap saya yang santai dan penuh guyon, mereka justru enjoy dalam bekerja. Bahkan mereka lebih menghargai , lebih serius dalam bekerja. 

Kenapa setiap anda menyelesaikan satu adegan kemudian anda minta tepuk tangan kepada para hadirin yang ada?

Saya hanya memberi semangat  kepada para pemain yang telah bekerja dengan baik. Karena dengan tepuk tangan, buat pemain itu merupakan penghargaan. Kalau sudah begitu bisanaya mereka akan bekerja lebih giat lagi.