Saturday, October 3, 2026

EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI

 


EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Emma Febry, dia datang ke Jakarta dengan segudang prestasi. Dengan modal prestasi itu, dia ingin menguak Jakarta. maka pada pertengahan tahun 1987 Emma Febry datang ke Jakarta. Tujuan semula bukanlah menjadi bintang film, melainkan ingin menggelar karir di bidang peragawati dan model. Karena di kota kelahirannya Medan, dia cukum di kenal sebagai seorang peragawati. Tapi anehnya setelah tiba di Jakarta, dia menjadi bintang film. 

"Sebenarnya sebelum jadi bintang film saya mau masuk IKJ bidang sinematografi. Tapi karena satu dan lain hal niat saya itu jadi gagal, "kata gadis kelahiran Medan, 18 Februari 1966 ini. Lalu gadis mungil ini mendapat tawaran main film. Kontan saja diterimanya. Rupanya dia memiliki bakat dan pernah berakting di TVRI sta. Medan dalam drama-drama maupun film TV. 

"Siapa sih yang tak tertarik main film? Kalau tidak itu namanya munafik. Melihat kesempatan ini, tentu tidak saya sia siakan, "kata anak ke 2 dari 5 bersaudara ini polos. Sampai sekarang gadis yang memiliki tinggi 160 dan berkulit putih mulus ini telah membintangi 5 film nasional. 

Diantaranya Jubah Hitam, Peluu dan mesiu, Pendekar Lembah Kuning, Pendekar Ilmu Api dan Pertarungan. Sebelum main film Pendekar Lembah Kuning, Emma demikian panggilan akrab gadis ini hanya mendapat peran pembantu utama. "Walau saya ketika itu belum mendapat peran utama, tapi saya tidak berkecil hati. Saya yakin suatu saat akan mendapat peran utama, "ujarnya mengenang. Ternyata angan-angannya itu terkabul, dari 5 film yang dibintanginya dia telah tiga kali mendapat peran utama. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990


DOYOK SUDARMADJI


 DOYOK SUDARMADJI (berita lawas). Roda kehidupannya yang setiap saat berputar, kini sedang berada diatas. Ada pula yang bilang, bintangnya sedang terang, itulah nasib Doyok Sudarmadji, pelawak bertubuh kerempeng yang juga menambang uang di dunia layar perak. 

Berkat tangan Nyak Abbas Akup, pelawak yang mengaku pernah hidup terlunta-lunta ini jadi populer. Memang, lewat Rumah Susun, karya Nya Abbas Akup bersama pasangannya , Kadir ia kemudian menjadi tenar. 

Kedua pelawak yang selalu muncul bersama dalam film, namun berbeda grup dalam melawak, kini sedang meniti sukses di jalur bioskop. Dua produser, Ram Punjabi (Parkit Film) yang memproduksi Rumah Susun dan Gope Samtani (Rapi Film) tak mau membiarkan kedua pelawak tersebut disambar produser lain. 

Terbukti, satu film belum selesai suting, kontrak baru telah di sodorkan. Mereka ini seakan-akan dikontrak jangka panjang. Padahal menurut pengakuannya, kontrak yang diteken tiap satu produksi. 

Film mereka kemudian yang di produksi Parkit Film adalah Antri Doong. Muncul bersama dua bintang cantik Lydia Kandou dan Eva Arnaz. Lalu filmnya yang siap memasuki gedung bioskop dan menurut rencana akan ikut menyemarakan malam Takbiran, Makelar Kodok, produksi Rapi Film. 

Dalam Makelar Kodok yang disutradarai Norman Benny, Doyok dan Kadir didampingi bintang remaja yang juga sedang naik daun. Paramitha Rusady. Disamping Ully Artha, Rudy Salam, Mang Udel, Ida Kusumah dan Gugun Benget. 

Meniti karir dalam dunia kesenian, menurut pengakuan Doyok, telah dirintis sejak beberapa tahun silam. "Sudah lama!" Jelasnya singkat. Namun, tambahnya, baru dua tahun atau tiga tahun terakhir menikmati hasilnya. 

"Sebelum melawak saya pernah kerja bangunan. Pernah pula kerja di bengkel. Pokoknya sengsara!"kenangnya. "Sekarang siih, lumayan!" ngakunya. 

Ketika disinggung tentang honornya main film, iapun cepat-cepat bilang, "Rahasia dapur!". Yang jelas katanya, mobil sih juga yang dulu, Fiat tua!. 

Kecuali main film dan melawak, Doyok masih punya penghasilan tambahan, juga masih dari dunia seni. Kekocakannya, sering pula dimanfaatkan produser kaset rekaman, ikut joget mengiringi penyanyi yang tampil mempromosikan lagu-lagu baru dalam Aneka Ria Safari. Tampil kurang lebih lima menit sebagai backing, atau suting yang hanya sehari, honornya justru lebih besar dibandingkan main film dengan suting 3 - 5 hari. "Enakan di teve, sehari bisa sejuta, "jelas Doyok jujur. 

Memang sedang terang bintangnya, rezekipun mengalir terus. Jadwal suting padat, jadwal melawak pun rentet, masih juga ada yang menawari bisnis lain. Cuma ketika bisnis apa yang ditawarkan kepadanya, Doyok tak mau menyebutkan jenisnya. "Ada aja!" katanya singkat. MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990



Friday, October 2, 2026

YANA ZEIN,

 



YANA ZEIN, Berperan sebagai Gadis Cantik tapi Penyakitan. (Berita lawas). Ada yang ingat sosok Yana Zein? Sosok ini memang sudah mennggal beberapa tahun yang lalu. Kali ini Yana berperan sebagai Gadis cantik tapi penyakian. "Ya, memang begitu peran Yana dalam film Panah dan Jantung. Film pertamanya dimana ia harus memerankan Winny, sebagai gadis Bandung yang lembut, jago bermain piano namun selalu mengurung diri dalam rumah lantaran penyakit jantung yang diidapnya. Sesudah film pertamanya, Yana kemudian main untuk film Ranjau Ranjau Cinta garapan sutradara Nasri Cheppy, jadi adiknya Rano Karno. Dan yang terakhir Yana bermain dalam film Cintaku Di Rumah Susun, jadi anak orang kaya yang dicintai oleh Kadir yang teman ayahnya. 

Lantaran sering berlenggak lenggok diatas catwalk dan sering berhadapan dengan kamera, baik untuk cover majalah, kalender dan iklan. 

Yana lahir di Moskow. Ia anak sulung dari dua bersaudara yang lahir dari ayahnya, yang asli Riau , Ir. Nur Zaman Zein dan Ibu yang berasal dari Polandia. Yana sendiri nggak begitu tahu tentang negara kelahirannya. "Maklum ketika masih sekolah Taman Kanak-kanak saya sudah di boyong ke Indonesia."

Yana yang kini studi di sebuah Universitas di Jakarta, pasti akan kebingungan memilih karir yang ditekuni sekarang ini. Mana yang mau dipegang, Peragawati, Model iklan, kalender atau bintang film? Yang jelas, Yana  yang memiliki kecantikan tersendiri ini, punya pilihannya sendiri. 


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI

 


LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI (berita lawas). Mengingat sudah berkali-kali menjelaskan perihal belum bubarnya kelompok komedi Lenong Rumpi, mak asang komandan grup, yakni Harry De Fretes lebih suka berbincang berita baru yang dianggapnya bisa mengabarkan sosoknya yang selama ini seolah menghilang dari layar RCTI, sebagai media yagn membesarkan nama serta kelompoknya. 

Harry yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di FE Untar, Jakarta menganggap adalah satu hal yang mendesak apabila hampir seluruh pesonil Lenong Rumpi terjun ke pentas lain, Keluarga Van Danu dan Salah Sambung. Sedangkan tak satupun diluar sinetron RCTI itu Harry bersedia tampil. Sebab, bila Harr pun ikut main dalam acara lain atau kelompok yang disutradarai seniman lainnya, tentunya seolah memperkuat kesan bahwa sebagai pimpinan grup sudah bersedia main diluar, dan bisa dianggap Lenong Rumpi memang benar bubar adanya. 

"Tetapi bukan berarti kreatifitas saya mandeg,"ujarnya saat ditemui di kantornya, di Jakarta Flash Production yang merupakan tempat kumpulnya kru Lenong Rumpi. "Meskipun mereka padat oleh berbagai acara tapi setiap saat kami tetap bisa berkumpul untuk meeting kerja, "ujar Harry. 

Ihwal kreatifitas, Harry mengaku tetap rutin manggung bersama LR di berbagai pentas acara. Disamping itu film Lenong Rumpi yang bulan Maret ini sedang di proses episode yang ke III, tetap tidak akan merubah niat Harry yang juga siap memperoduksi film Si Boim lewat produksi Jakarta Flash Production. Yang menurutnya juga, film jenis komedi yang akan digarapnya itu, tetap di dukung oleh seluruh kelompok, yakni Debby Sahertian, Titi Dwijayanti, Robby Tumewu, Ade Libertifa, Tata Dado, Ferina Widodo dan Ira Wibowo. 

Tapi yang kini sedang digarap pemuda blasteran Padang-Menado ini, adalah ihwal vocalnya yang sedang di proses oleh Musica Studio. Namun meski sosok Harry sebagai pemuda, tapi ia melantunkan lagu anak-anak. "Hanya ada perbedaan dengan kebiasaan. Kalau anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, justru gue menyanyikan lagu-lagu untuk anak, "gelaknya yang mencanangkan hit lagu Si Boim. Sedang rentetan lagu-lagu lainnya sebetulnya bukan merupakan lagu-lagu baru di publik musik Indonesia. Misalnya saja Naik Delman, Beca, Selamat Ulang Tahun, Balonku, adalah lagu-lagu yang sudah sangat akrab dengan masyarakat kita. Namun yang berbeda hanyalah pada syair maupun pengucapannya disesuaikan dengan status Harry sebagai komedian. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Thursday, October 1, 2026

FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94

 


FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94 (berita lawas). Forum Film Bandung (FFB) memilih Didi Petet sebagai pemain terpuji berkat kinerjanya dalam film Si Kabayan Mencari Jodoh. Pada film itu, Didi Petet dinilai berhasil memerankan dua watak dari seorang tokoh bernama Si Kabayan. Yakni sebagai Si Kabayan yang berbaju kampung yang lugu dan Si Kabayan yang menjadi konglomerat gadungan. 

Regu Pengamat FFB yang diketuai Prof. Sudjoko, PhD dalam pengumumannya di Bandung, juga menentukan film Yang Muda Yang Becinta sebagai penerima pegnhargaan khusus. Film karya almarhum Syumanjaya pada tahun 70-an itu dinilai tetap aktual untuk keadaan dewasa ini.

Di tilik segala unsur, seperti sinematografi, pilihan pemain, kekuatan cerita maupun skenario, film tersebut dinilai hampir tiada cela. Di bandingkan dengan film seks yang banyak diproduksi belakangan ini, film Yang Muda yang Bercinta masih tetap unggul dalam tema maupun mutu garapan. 

Penghargaan lain diberikan kepada Harry Susanto, sebagai penata kame

ra terpuji dalam film Asmara. Ia dinilai telah bagus dari berbagai sudut sehingga berbicara dalam beragam suasana dan tempat. Menurut ketua FFB Bram M Darmaprawira, FFB menilai 204 film terdiri 31 film nasional, 69 film Eropa/AS, 56 film Mandarin dan 28 film non Mandarin. Film yang dinilai adalah semua filmyang di putar diboskop tanahair tanpa memperhatikan tahun pembuatannya. 

Terhadap film asing, FFB memilih film City of Joy sebagai film drama rakyat yang mendapat pujian. Scent of Woman yang dibintangi Al Pacino sebagai drama pribadi yang terpuji dan mrs. Doubtfire yang dibintangi Robin William sebagai film canda yang mendapat pujian. ~MF no. 203/169/TH.X, 9-22 April 1994



Wednesday, September 30, 2026

SINETRON : PARIBAN DARI BANDUNG, MENGUAK KERUKUNAN ADAT

 


Tidak Banyak sinetron yang temanya menggarap kehidupan antar suku yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah "Pariban Dari Bandung" karya Edward Pesta Sirait, sutradara yang sudah cukup banyak menggelar film layar lebar. Kini, Edward terjun ke sinetron lagi, dan karyanya yang kedua ini dan sedianya ditayangkan di layar TPI pada bulan Maret 1993, sedang memasuki tahap editing pihak penggarap, PT. Cipta Isthika Rucitra Indonesia. 

Dua kubu yang dibaurkan dalam sinetron yang proses sutingnya ditargetkan 4 bulan, namun berhasil diselesaikan hanya dengan 3,5 bulan ini, adalah dari suku Sunda dan Batak. Dimana mempertentangkan kedua suku. Namun justru harmonisasi perkawinan beda suku mereka justru mencuat cerita yang cukup menarik. Sebelum ini, Edward pernah membuat sinetron Suster Bulan. 

Awal Cerita dimulai dari kehidupan rumah tangga Asep Sastranegara (Robert Syarif) yang asal Parahiyangan serta Nurmala (Tarida Gloria), wanita Tapanuli, yang meski lain suku dan latar budayannya, namun digambarkan hidup ideal. Keduanya juga dikaruniai 3 orang anak serta menetap di Kalimantan. 

Namun setelah mereka masuk ke dalam jenjang usia tua dan selama ini lalai dan larut dalam waktu, belum pernah berkunjung bahkan berkirim surat selembarpun pada keluarga yang di Medan. Baru setelah berada di Bandung, serta anak sulung mereka, Daniel (Cok Simbara) berhasil menjadi seorang pengusaha muda sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur ITB dan MSC dari Amerika. 

Kebanggaan Asep dan Nurmala akan keberhasilan Daniel sebetulnya selalu di gelisahkan oleh ketenangan Daniel yang pada usia ke 34 tahun seakan tak punya waktu dan minat untuk berumahtangga. Sehingga suatu saat Daniel mau mengembangkan usahanya ke Batam, ibunya meminta agar mampir ke Medan untuk mengunjungi Tulang (Paman) dan Paribannya (Anak gadis paman). Daniel yang menginginkan wanita yang bakal menjadi istrinya nanti tidak hanya melihat kedudukan maupun kekayaan semata. Maka dengan mengisyaratkan pada seluruh keluarganya agar kunjungannya ke Medan nanti dengan caranya sendiri. Terutama dalam melekatkan hubungannya dengan calon istrinya. 

Konflik cerita dari sinilah berawal. Dimana munculnya Daniel yang dengan penampilan seorang pemuda miskin serta bego, sangat menghancurkan harapan Paribannya, Betty (Nella Regar). Mengingat bualnya kepada semua orang-orang yang dekat dengan gadis ini maupun sahabat-sahabatnya di kampus, bahwa lelaki yang akan menjadi pacarnya, sekaligus calon suaminya adalah pemuda intelek, terhormat sekaligus kaya. 

Kekuatan permainan Cok Simbara yang sekaligus memainkan dua peran antara pemuda kota, kaya dan intelek, serta merubah menjadi lugu, miskin dan tentunya diperhinakan. Juga sosoknya sebagai lelaki yang perilakunya melebur dari perpaduan Batak-Sunda, memperkuat perannya. Hingga sebagai  hitam putih, kasar, gagah dan terpelajar, lembut, bego namun kritis, dimankan secara lentur oleh Cok dalam perannya sebagai Daniel. 

Namun seperti yang diungkapkan oleh Edward PS, bahwa ia sangat memuji oleh jempolnya akting Nella Regar. Mengingat dunia akting, baik film maupun sinetron hal yang betul-betul baru bagi keberadaannya sebagai penyanyi. Disinilah muncul kesabaran serta penanaman pemahaman Edward sebagai sutradara. Dari keragu-raguan Nella saat disodorkan peran , namun justru jadi lebur oleh minatnya artis ini yang cukup besar untuk mencoba langkah baru di dunia akting. 

Ternyata, bakat Nella yang sudah lama terpendam perlahan-lahan mencuat. Cocoknya sebagai gadis Batak, walau tidak seluruhnya ditunjang oleh karakternya yang kebetulan dialiri darah Sumatera Utara. Karena ayahnya yang memang berasal dari sana, serta memiliki marga Siregar. Namun ia ternyata punya tingkat santun yang cenderung nyunda berkat didikan ibunya, berasal dari Parahiyangan, Garut. 

Padahal dalam perannya sebagai Betty, gadis Batak yang masih totok. Disertai warna perilaku, yang sombong, kasar serta sok intelek. Sosok ini mampu diwujudkan oleh Nella. Tak kalah dengan kemampuan Cok Simbara dalam perannya sebagai Daniel. Nilai lebihnya adalah , cok tentunya sudah tak asing dalam memainkan peran dihadapan kamera film maupun TV. 

Secara keseluruhan cerita Pariban Dari Bandung yang kisahnya berasal dari cerita bersambung yang dimuat di Sinar Indonesia Pembangunan (SIP) karya Arifin Siregar, sebetulnya sudah cukup lama mengendap di benak Edward. Hanya baru sekarang tiba kesempatan untuk menumpahkan mencari karya sinetronnya. Sedangkan pendukung dari penggarapannya adalah Nestor Rico Tambunan (Skenario), Yusup/Fauzy (Kameramen), Edward Pesta Sirait (Editor) Indah/Charles (Tata Rias) dan Tarida Panjaitan (Musik). 

Para pemain yang menurut Edward, hampir semua berasal dan memahami adat istiadat Batak serta Sunda, yakni Cok Simbara, Nella Regar, Robert Syarif, Ida Kusumah, Ully Artha, Tarida Gloria, serta pendukung dari Sanggar Devimir, Bandung. Serta para pemain dari Medan. 

Penayangannya yang dipastikan di layar TPI sebanyak 10 sd 12 episode, memakan waktu 30 menit setiap episode. 

~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Tuesday, September 29, 2026

EENG SAPTOHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA JOB


EENG SAPTAHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA  JOB (berita lawas). Lama sudah Eeng Saptohadi tak ketiban tawaran untuk berlakon di film. Kondisi perfilman negeri ini masih di tutupi awan tebal. Tapi tidak begitu dengan seni peran, media sinetron masih menghembuskan angin segar. Semakin tegarnya TV swasta dan menjamurnya Production House (Rumah Produksi) membuat artis mendapat nafas baru. 

"Banyak peran menghampiri, banyak pula yang saya tolak. Bukan soal honor, tapi soal peran yang akan dilakoni, "kata artis jebolan IKJ ini.

Awal tahun 1993, Eeng langsung di berondong tawaran dan semuanya untuk media televisi. Sekian banyak Eeng hanya menerima Untung Nak (TVRI), Badai Pasti Berlalu (TPI) dan sinetron Rumah Tuhan Rumah Kehidupan (TPI).

Bagi Eeng untuk menjadi artis di negeri ini banyak pengorbanan. Sebab, artis Indonesia harus lebih pintar, punya waktu, lebih cerdas, lebih ngotot dan harus bisa segalanya. "Karena iklim yang menciptakan artis Indonesia harus bersikap seperti ini. Sebab, berurusan dengan ngepulnya dapur sang artis. Honor artis di negeri ini sangat minim sekali. Karena itu ia terjebak kerja rutinitas, begitu ia selesai berlakon, mau tidak mau menerima pesan apa aja. Kalau sudah terjebak dengan iklim ini maka kreatifitas akan buntu, "ujarnya berapi-api. 

Justru itu tak jarang Eeng mengorbankan honornya hanya untuk membeli kostum. Untuk supaya tampil eksis, bila mendapat peran beruntun, tak jarang mengurung diri di kamar untuk analisa skenario. "Kan sudah saya katakan artis Indonesia harus bisa menitih bui. Dengan honor kecil harus bisa berakting semaksimal mungkin,"kilahnya. Maka tak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa artis Indonesia di dalam satu atmosfir memeras akting. "Akhirnya lupa bagaimana caranya mengembangkan akting. Seperti inilah iklim artis Indonesia, "lanjutnya. 

Eeng mengakui ia juga terjebak dengan kenyataan itu, tapi ia tetap mencoba keluar dari lingkaran atmosfir yang gelap gulita itu. Meski  ia juga salah seorang pengajar IKJ, untuk menjadi  seorang aktor perlu jam terbang tertentu dalam seni peran. "Jam terbang bisa dilakukan di film, sinetron maupun panggung, semua itu aalah medianya untuk seorang aktor, dengan bahasa kerennya media ekspresi".

Eeng mencoba melawan iri walau dalam keadaan krisis setia dengan keinginan jiwanya, menjadi seorang aktor. "Cukup banyak artis di negeri ini orientasinya adalah job. Ini sangat disayangkan. 

Di Indonesia masih mejual yang namanya fisik, bukan menjual ilmu. Orientasinya masih fisik, "ada sebuah istilah. Biarkan tokoh itu mencari manusianya. Watak yang ada di dalam skenario akan mencari manusianya. Seorang pemain harus ada dialog antara penulis skenario dan sutradara. Sampai mencapai yang namanya kesepakatan dalam persepsi. Begitu sudah ada kaa sepakat, barulah  ia mncari manusianya. Jadi bukan karena komersial dari apapun namanya. 

Obsesi Eeng sebagai seorang pelakon cukup sederhana dalam jangka dekat ini, katanya "Kita sudah kalah di bioskop tapi jangan kalah dirumah kita sendiri. Sebab, bila kesenian dicampur adukan dengan birokrasi, pasti akan timbil keterbatasan-keterbatasan. Kita perlu keterbatasan-keterbatasan. Kta perlu kebebasan dan kemerdekaan untuk  berkesenian apapun namanya. 

Karena itu Eeng mempersiapkan moral untuk berkarya meski sekarang ini ia hanya menjadi seorang pemain. "Hanya kematian yang memisahkan saya dengan seni peran,"katanya dengan bersemangat. Ada PH yang menawarkan kepadanya untuk menjadi sutradara, kontan ditolaknya. Alasannya ia masih setia dengan profesi yang digelutinya. 

"Mulai tahun gajah, tetap saja honor sinetron selalu kecil. Bagaimana seorang artis bisa bermain baik, bila honor yang diterimanya pas-pasan? sampai saat ini saya hanya menyampaikan kepada  semua PH supaya meningkatkan kualitas sinetron maupun pemberian honor  kepada pemainnya. Menurut saya, selama saya berlakon dalam sinetron hanya "Tasi Oh Tasi" sutradara Arifin C Noer, yang memberikan honor paling besar, "katanya dengan tangan gemetar. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993




Monday, September 28, 2026

ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH

 


ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH (berita lawas). Katanya ia tidak merasa 'tolol' meninggalkan bangku kuliah untuk film. Padahal tak selamanya dunia ini menjanjikan harapan baik. Ada apa dengan anak muda ini hingga nekad berlaku seperti itu?

"Cukup lama saya ingin bergelut di film. Keinginan yang membuat saya berani bertaruh,"katanya. 

Diselidiki, ternyata di UNRI (Universitas Riau) ia tidak menemukan bentuk pengembangan bakat. Akibatnya Ervan Yudha mandek di Fak. Ilmu Pemerintahan sampai semester II. "Ketika kuliah berlangsung, pikiran senang melayang-layang jadi artis. Semangat ke Jakarta pun menggebu-gebu,"kata pemuda kelahiran Pekanbaru 13 Maret 1969 ini. 

Setelah tekad diambil, apapun persoalannya harus ditempuh dan pemuda yang memiliki tinggi 176 cm ini terdampar di ibukota. "Jalan hidup yang saya pilih dunia peragawan. Dari situ saya mencari loncatan ke film. Bukan gampang mendapatkan koneksi di film, "ujarnya. Nasibnya mujur, anak ke2 pasangan Yul Akib dan Wirda tergaet dalam film Peluk Daku dan Lepaskan. 

"Lewat film ini peran saya tidak berarti. Saya tetap bertekad maju, malahan keluarga dan teman-teman mencemooh tapi saya tidak perdulikan, katanya. 

Dengan pengetahuan minim di bidang akting, Ervan terseok-seok mendekatkan diri  pada orang film. Tak jarang muncul ke perusahaan film untuk melamar. Tak jarang pula oang-orang menolaknya mentah-mentah. 

Tjut Djalil, sutradara gaek itu yang memberikan kesempatan lewat film Misteri Janda Kembang, sebagai pemeran pembantu utama. Tokoh Arman, dalam lakon kedua ini, menjanjikan harapan, asalkan berani beradegan cinta. "Saya buang rasa sungkan. Biarlak komentar orang bermacam-macam. yang penting saya kerja, "katanya. Hati kecilnya katanya menolak untuk beradegan ranjang dengan Sally Marcellina. 

"Ketika mendapat peran pembantu utama, saya malah susah, nyaris putus dengan pacar" katanya dengan gelak yang lepas. Takut di cap artis tanpa akting, maka dengan penuh semangat, hari-hari berikutnya melatih diri dalam akting. "Caranya saya latihan ekspresi depan kaca. kadang-kadang muka dibuat macam-macam.

Niatnya menolak awaran adegan ranjang, tiba-tiba Sisworo Gautama, sutradara spesial horor menawarkan peran seperti Tjut Djalil. Ervan puyeng sendiri. Mau menolak kesempaa lain belum juga datang. "karena ada ksempatan lagi, saya persetankan niat tadi. maka berlakonlahsaya dalam film Ajian Ratu Laut Kidul". Rupanya pengorbanan untuk filmnya yang ke 3 itu cukup besar. Sudah adegan ranjang, kepala pun harus dibotaki. 

"Pokoknya, kalau untuk film sekarang saya rela diapakan, yang penting dapat menunjang karier, "tekadnya. Rupanya melihat kondisi Ervan yang sudah berantakan di film, sang pacar malah jadi kabur. "Masak saya serius di film dibilang berantakan? Di film kan harus ada pengorbanan. Kalau tak mau memberi pengertian buat apa punya pacar?". ~MF No. 150/117/TH VIII, 28 Mar - 10 Apr 1992