LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU(berita lawas). Kenapa Liliek Sudjio mau menangani film musik? Bukankah dia seorang pembuat film-film horor dan laga? "Mas Lili zaman film hitam putih sudah banyakbikin film. Saya cukup percaya, dan dia juga sudah membuktikannya. Bikin film besar mampu, bikin film sederhana mampu," ucap Shindu Dharma BA, Pemimpin produksi film Jaka Swara produksi PT. Firman Mecu Alam Film.
"Jaka Swara" sendiri kalau melihat dari para pendukungya memang tak salah lagi, film musik. Ada Rhoma irama, Camelia Malik, Heidy Diana, Diana Yusuf. Semuanya penyanyi, dibantu dan diperkuat oleh Arman Effendi, Piet Pagau, Bung Salim, Ade Irawan, dll. Tapi sebenarnya film ini adalah film laga.
Liliek sutradara yang dikenal sebagai bapak trick, syarat dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Lahir di Makassar, 14 Mei 1930. Pendidikan Sekolah Tekhnik, kemudian belajar Teknik Montage di LVN Manila, Sekolah Sinematografi di Los Angeles A.S selama dua tahun dari 1960-1962.
Menurut pengakuannya, dulu lebih banyak menggeluti dunia panggung. terjun ke film pada tahun 1949 sebagai pemeran pembantu untuk film "Sapu Tangan" yang dibikin pada tahun 1949. Tahun 1951 beralih menjadi clepperboy dan pencatat skrip di Persari.
Akhirnya menjadi sutradara penuh pada tahun 1957 untuk film "Anakku Sayang". Dalam FFI 1955, terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya "Tarmina" Kemudian mencapai prestasi di bidang editing sebagai penyuntik terbaik pada Pekan Apresiasi film Nasional '67 untuk film Yudha Saba Desa.
"Jaka Swara" ini, film laga dengan biaya besar. Selain kolosal, ada trick, juga ada set dan menggunakan miniatur. Film besar, biayanya juga besar. Tapi ada yang lain, ada istimewanya. jadi ada sesuatu yang baru disini, yaitu laga. Dimana Rhoma irama sebagai penyanyi, tidak hanya menyanyi kemudian ada jalinan cinta yang membalut cerita, tapi juga full laga.
Rhoma disini terbang melayang dalam duel dengan para jawara pribumi yang jadi kaki tangan orang-orang Portugis. Reaksi Rhoma "Memang lebih berat ketimbang film-film sebelumnya. Tapi saya harus bisa, karena ini tuntutan".
Untuk pembuatan trick di film ini Liliek tidak mengalami kesulitan. "Sudah terbiasa", katanya. Ketika sekolah di Amerika dia menemui hal yang aneh-aneh dalam pembuatan film yang menggunakan trick. Terus dikembangkan disini.
"Kita harus membuat dengan cara kita. Kalau di Amerika mereka membuat dengan peralatan yang canggih, disini ada saja gantinya, minsalnya menggunakan peralatan bambu. Tapi semua itu sebetulnya sama. Seperti glass shot dibikin efect untuk hantu. Saya pelajari dan bisa dikembangkan untuk adegan kebakaran orang tidak kena api. Jadi adegan berbahaya itu tidak berbahaya jadinya. Dalam film "Jaka Swara" tak ada kesukaran, karena tim kerja, misalnya untuk effect diserahkan pada El Badrun, Juru Kamera Suryo Susanto yang bsudah biasa dengan glass shot dan bekerjasama dengan saya cukup lama."
"Jaka Swara" yang baru saja menyelesaikan proses dan menuju pintu sensor menurut keterangan Liliek Sudjio punya alasan mendasar sebagai film yang memiliki nilai tambah. Rhoma sebagai raja dangdut punya penggemar dengan balutan lagu-lagu terbaru. Tambah lagi dengan penggemar film-film laga yang lagi trend masa kini sesuai tema film tersebut. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990







