RENGGA TAKENGON, TENTANG DUBBING FILM TV, (Berita Lawas), Dubbing film TV di cap jelek, kontan saja Rengga Takengon berang. Sebab tidak semua dubbing film asing dibuat asal jadi. "Jangan dibandingkan dengan 'Little Missy' , karena TVRI membelinya dari Malaysia dan di dub dalam bahasa Melayu, " kata Rengga Takengon.
Persaingan mutu siaran semakin ketat antara TVRI, RCTI, SCTV dan TPI (saat stasiun tv belum banyak seperti sekarang) untuk merebut hati pemirsa. Akibatnya, mutu pengisian suara film TV pun diusahakan bertambah baik. Lalu TVRI melatih dubber untuk film seri 'Rin'.
Menurut Rengga, yang perlu dilakukan adalah perbaikan segi non teknis, yakni kemampuan dubber seperti vokal, karakter suara dan penghayatan serta sinkronisasi emosi. "Terus terang, ketika saya menjadi dubber film Nasional ada rasa ketidakpuasan. Perusahaan Viva Pro memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin penggarapan dubbing film TV. Rengga Takengon membuktikan hasilnya lewat seri TPI Emilie, Shanon Deal, Tika dan Family serta beberapa film lepas.
"Pertama yang dibenahi adalah emosi. Saya selalu menyuruh para dubber berakting kembali. Supaya emosi pelakon dan dubber bisa sinkron, " kata Rengga, ketika ditemui di studio Irama Tara saat dubbing. Diakui pula oleh kelompok dubber seperti Nuraini Lubis, Dennis, Ariyo Sugiarto dan Anies bahwa "Rengga selalu tidak puas, sehingga menuntut kami bekerja keras."
Kendala yang dihadapi dubber adalah perbedaan gerak bibir bahasa asing dengan bahasa Indonesia. "Penerjemah juga punya peranan penting. Supaya sinkron harus kayak perbendaharaan sinonim kata. Gunaya untuk mencari kesamaan gerak bibir dengan kalimat, " ujar Anis. Film-film TV biasanya dibeli dari berbagai negara. Bahasa aslinya bermacam-macam. Contohnya film Emilie bahasa aslinya Prancis.
Keapikan hasil dubbing tergantung bahan baku tersedia. Sebab cara kerjanya menggunakan alat elektronik tak sama dengan memakai seluloid (film), Alat elektronik semua unsurnya, seperti musik dan efek telah menyatu dengan gambar. "Ketika proses dubbing tidak bisa dihapus suaranya saja. maka, harus membuat musik dan efek sendiri. Bila film itu memiliki master, tanpa suara, hanya musik dan efek, kami hanya mendub. Hasilnya akan lebih apik, " kata Aguston, pimpinan Viva Pro. Musik dan efek yagn dikerjakan sendiri, hasilnya kuran memadai. "Kemampuan kerja alat efek kita belum memadai. Padahal asam garamnya film tergantung efek dan musik, " ujar Aguston memaparkan.
Tidak semua film TV layak di dub ke bahasa Indonesia. Sebab kalau dilakukan akan mengurangi keapikan. Di dub supaya pemirsa cepat mencerna, semisal film anak-anak. "Kan nggak lucu kalau Mac Gyver di dub bahasa Indonesia. Tentu keapikannya hilang. Kalau film LA Law, tentang kehakiman itu perlu, sebab bicara soal hukum, agar pemirsa dapat menangkap maksud cerita film itu sendiri, " tambahnya. ~dikutip dari MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992
.png)






