Wednesday, July 29, 2026

CAROLINE ZACHRIE

 


CAROLINE ZAHRIE (berita lawas). Kalau pernah nonton acara KISMIS kisah Misteri, tentu tahu si pembawa acaranyanya yaitu Caroline Zachrie. Ia seorang peragawati lulusan Amerika yang kemudian sukses di negerinya sendiri. Setelah melanglang buana ke berbagai negera untuk mengadakan fashion, akhirnya perempuan semampai yang menjandang gelar Sarjana Ekonomi ini mencoba mengasah bakatnya di jagat akting. "Ya sejak kecil memang menyukai akting cuma kebetulan saya melibatkan dunia fashion dulu. Sehingga saya lebih dikenal sebagai model dan peragawati, nah ketika Starvision menawari saya untuk main sinetron Jalan Kehidupan dan Selalu Untuk Selamanya langsung saya terima, "cetusnya. 

Permainan Caroline di Jalan Kehidupan memang masih terkesan main-main, hal itu bisa di maklumi, karena peran gadis yang menghabiskan masa remaja di negeri orang ini masih peran tempelan atau numpang lewat. Tapi di sinetron keduanya yang berjudul "Selalu Untuk Selamanya" besutan sutradara Yopie Burnama, permainan Caloline mulai menonjol. 

"Saya banyak mendapat tantangan di Selalu Untuk Selamanya karena saya harus mempermainkan dua karakter sekaligus, " aku Caroline dengan bahasa Indonesia yang belum begitu fasih. 

berikut petikan wawancara dengan Caroline Zachrie yang dimuat di MF No. 309/275/XIV, 18 Apr - 1 Mei 1998

T : Bagaimana ceritanya Caroline terlibat dengan dunia keperagawatian?

J : Saya waktu itu tengah sekolah di San Fransisco, kebetulan Papa sedang bertugas di sana. Untuk mengisi waktu luang saya bergabung dengan Prestise Model, di Prestise saya diajari bagaimana berjalan, etiket, berskap serta yang lainnya. 

Kemudian akhir 1993, saya balik ke Jakarta, saya kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Esa Unggul. Baru di tahun 1995 saya dikenalkan pada Ibu Ghea Soekasah (sekarang Ghea Panggabean) dan ibu Ghealah yang membawa saya ke Milan Itali untuk mengadakan fasion disana. 

Dan itu fashion pertama saya sebagai peragawati profesional, kemudian Ibu Ghea juga yang memperkenalkan saya kepada Mbak Larasati, Kintan dan Ratih yang sama-sama kita kenal sebagai peragawati papan atas dan juga seorang pemilik Expose Model. Lewat Expos Model itulah saya mengawali karir sebagai seorang model dan peragawati. 

T : Apa yang mendorong Caroline terjun ke dunia fashion?

J : Dari kecil saya memang sudah menyukai hal-hal yang berbau fashion karena dunia fashion glamour dan saya suka tantangan serta berkompetisi. 

T : Terus bagaimana pula Caroline terjun ke dunia sinetron siapa yang pertama kali nawari?

J : Saya di datangi salah seorang staf Starvision yang menawari saya untuk main di Jalan Kehidupan garapan bapak Achiel Nasrun. Karena memang kepingin main sinetron atau film, makanya tawaran itu langsung saya terima. 

T : Menyesal setelah terjun kedunia sinetron?

J : Nggak lah, dunia akting memang impian saya selama ini. 

T : Bagaimana komentar Caroline tentang  'jam karet' yang terjadi di dunia sinetron?

J : Itulah yagn saya sayangkan, seandainya para pelaku sinetron menyadari profesinya. Saya yakin jam karet tidak pernah terjadi, karena masing-masing profesi, baik pemain, sutradara maupun kru akan disiplin demi profesinya. 

T : Ada keinginan untuk menjadi artis sinetron kenamaan?

J ; Siapa sih yang nggak kepingin, cuma saya harus realistis. Saya masih baru, masih banyak yang mesti saya perbaiki untuk kemajuan karir saya. 

T : Kalau Caroline harus memilih, Caroline pilih dunia sinetron apa dunia fashion?

J : Sama-sama berat ya? tapi saya sangat menyadari kalau dunia fashion dan sinetron tidak akan selamanya saya sandang. 



FARID HARDJA, DALAM KENANGAN


 FARID HARDJA, DALAM KENANGAN (Berita Lawas). 

Kukenal dikau lalu jatuh cinta

bagai pertama

dan kucumbu dikau penuh kasih mesra

bagai cerita

wo wo Karmila...

Lagu berjudul Karmila itu kini tak lagi bersanding dengan pelantunnya, Farid Harja yang telah meninggal dunia. Bertubuh tambun, bergaya raper, berbusana gombor dan kacamata, serta syair sedikit nakal. Itulah beberapa ciri yang dimiliki almarhum yang lahir di Sukabumi, 7 September 1950. 

Farid Hrja telah pergi meninggalkan pencintanya. Diam-diam almarhum di akhir hayatnya sering di rongrong penyakit diabetes dan jantung. Rupanya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakrta merupakan tempat penyanyi ini menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Almarhum Farid meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung 8 bulan serta setumpuk lagu ciptaannya yang belum sempat dihancurkan. Menurut keluarganya, almarhum seakan tak mengindahkan penyakit yang selama ini diidapnya. "Almarhum dirawat karena penyakit gula dan sempat mengalami stroke sebelum akhirnya kami bawa kerumah sakit di Sukabumi dan dilarikan ke RSCM di Jakarta, " jelas kakak almarhum, Ny. Tati Harja. 

Banyak seniman musik yang merasa kehilangan artis yang disebut sebagai pendiam, tapi juga pemilik humor khas ini. Selain teman-teman almarhum semasa di kelompok Bani Adam (yang melahirkan lagu Karmila), juga artis-artis pendukung lagu dan klip lagu terbarunya, Partai Sembako, mengaku terkejut atas kepergian Farid Harja. 

Erie Susan, penyanyi dangdut yang pernah mendampingi almarhum untuk album dangdut berjudul Itu Cinta mengaku kaget mendengar berita kematian Farid Harja lewat berita SCTV. "Saya benar-benar nggak nyangka, Saya kaget dan ikut sedih, " komentar Erie yang mengaku  punya kenangan bagus selama rekaman lagu Itu Cinta bersama almarhum, "Almarhum orangnya baik dan taat pada agamanya, " komenar Erie akhirnya. 

Terlahir di kota Sukabumi, almarhum pada akhirnya pun dikebumikan di daerah yang sama. Setelah Akang pergi tak ada lagi tubuh besar yang siap menggoyang panggung dengan suara bariton dan nada yang kocak. 

Dalam perfilman, Farid Harga juga bermain di film Ini Rindu bersama Arianto Wibowo, dan Ayu Lestari. ~MF 328/294/XV, 9 - 22 Jan 1999

Tuesday, July 28, 2026

MURTI SARIDEWI, MAMPU BERPERAN PENGGODA

 


MURTI SARIDEWI, MAMPU BERPERAN PENGGODA(berita lawas RF). Dara manis, putri Solo ini punya nama lengkap Raden Roro Murti Saridewi. Sejak tahun 1988 lalu gelar 'Raden-nya terpaksa ditanggalkan, manakala ia mulai melibatkan diri kedunia perfilman. Tergolong prestasi yang luar biasa. 

Bayangkan dari sekitar 12.000 cewek pelamar untuk 'peran perayu' LASMINI dalam film "Saur Sepuh" yang pertama, hanya Murti yang berhasil kejaring. Sejak itu jadilah ia bintang film. Dan ternyata terbukti kalau dia 'mampu' berperan sebagai Lasmini, maka kontrakpun memanjang sampai seri yang ke III. 

Waktu itu Murti masih duduk di bangku SMA kelas I di perguruan swasta Muhammadiyah di Surakarta. Jenjang kelasnya bersamaan dengan seri filmnya hingga kelas III sekarang ia memerankan tokoh Lasmini dalam "Saur Sepuh" yang ke III. Malah berkembang dengan peran utama untuk film jenis remaja dari PT. Tiga Sinar Mutiara Film dengan judul "Catat Namaku Rintan" yang kemudian berganti judul "Cinta Punya Mau". Disini ia berpasangan dengan bintang Citra, Mathias Muchus. 

Putri Solo yang manis dan luwes ini ternyata punya banyak bidang keahlian seni. Yang menonjol tercatat sebagai peragawati, foto model dan penari. pernah jadi juara alam peragaan busana lurik, keluwesan berkebaya dan model beberapa produk di Surakarta. Sempat mendapat kesempatan sebagai  misi kebudayaan Indonesia ke Australia. Namun diurungkannya karena pada kesempatan yang sama dia sudah harus ikutan memerankan tokoh Lasmini sebagai debut pertamanya di film. 

"Keluar negeri kapan saja kan bisa. Kalau kesempatan shooting film ini, kan nggak bisa ditunda-tunda, ' kilahnya dengan ramah. Dan dari keadaan ini terbukti kesungguhannya untuk melibatkan diri kedunia film Dan bukti lain, kesempatan sebagai pemeran utama dalam film remaja yang digarap sutradara berbakat Chris Helwedery, Murti tampak ingin terus menekuni bidang film secara baik. 

Para penggarap "Cinta Punya Mau" juga menyebutkan kalau Murti sebagai punya kemauan dalam meningkatkan jenjang karirnya. Untuk itu dia sudah siap dengan kerepotannya. Karena selain ia sekolah di Solo, pada saat yang sama terlibat produksi film "Saur Sepuh III" yang lokasi sutingnya di Pangandaran Jawa Barat, dan di Jakarta untuk film "Cinta Punya Mau".

Dalam Percakapan Murti mengakui kalau saat itu betul-betul capek. "Bagaimana ya, yaitulah sudah resiko", ujarnya datar. Hanya sempat jadi was-was tentang pendidikannya. Soalnya kini tengah duduk di bangku kelas terakhir, dimana siap-siap pula menghadapi Ebta dan Ebtanas. Apakah Murti akan berhasil menyelesaikannya nanti, soalnya selama ini selalu dikorbankan sekolahnya demi karir. 

Menyangkut pemerannya, baik di Saur Sepuh maupun di Cinta Punya Mau , Murti digambarkan hampir sama, yakni sebagai penggoda. Menurut Murti di Saur Sepuh sebagai Lasmini, karena tokoh itu dianggap fiktif, jadi Murti katanya bisa membuat interpretasi sendiri. Lain halnya di Cinta Punya Mau, sebagai gadis remaja yang mirip dengan keadaanya, dirasakan sedikit kikuk. Apalagi dalam beberapa adegan dia diperlihatkan terlibat asmara atau mengharuskan menggunakan pakaian minim, seperti baju renang. Murti terlihat sedikit risi. 

Tapi Murti mengatakan sebagai masih beruntung karena pihak sutradaranya, Chris bisa mengerti dan mau memahami keinginannya. Sehingga  kostum yang semula  bikini, bisa diganti dengan pakaian renang hitam. Sementara untuk adegan kissing, dengan Mathias Muchus, Murti juga mengatakan masih kikuk. 

"Terus terang saya belum biasa. Dan sampai sekarang saya memang belum punya pacar. Jadi soal ini lihat nanti saja, " ujarnya, menanggapi kemungkinan adegan ciuman dari mulut ke mulut dengan lawan mainnya, Muchus. Serta kekikukan lain bagi Murti adalah mengenai dialek Jakarta. Tidak heran, untuk perannya kali ini suaranya di percayakan pada orang lain. ~~sumber Ria Film No. 832

Monday, July 27, 2026

CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA

 


CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA (berita lawas). Setelah sekian tahun absen di perfilman nasional, Clift Sangra muncul kembali sebagai jagoan. Sekali ini, dia muncul lewat arahan Sutradara Imam Putra Piliang dalam film Tapak-Tapak Berdarah. Meski lima tahun absen, tapi Clift merasa selalu berada di lingkungan film. Wajar saja, sebab isterinya sendiri artis beken. Bagaimana kalau Suzanna dapat tawaran Clrift selalu terlibat. 

"Kalau pergi dan pulang suting, saya harus menjemput istri, "katanya bangga. Alasan inilah membuat artis berbadan gempal tak akan meninggalkan film.  Banyak yang menduga Clrift selalu cemburu melihat Suzanna selalu suting. Sehingga dia harus mengawal isterinya kemanapun. "Tidak, saya sangat sayang kepada isteri," kilahnya blak-blakan. Memang usia Suzanna dan Clift jauh berbeda, bukan berarti jauh pula tali kasih. 

Banyak pula artis yang memuji kesetiaan Clift atas isterinya. Jarang orang muda yang tidak suka melirik wanita lain. Itulah dizaman atis lagi musim kawin cerai ini api cinta Clift atas isterinya tak pernah padam. Mengekori Suzanna bukan cemburu tapi karena sayang. 

Setelah lama absen di film tidak mempengaruhi penampilannya di depan kamera. Kemampuan dan sosoknya sama ketika pertama kali tampil dalam film. Tubuhnya yang kekar dan alot itu tetap stabil. Bahkan lebih ideal dari kemarin-kemarin. 

"Sarapan saya besi," ujarnya berkelakar. Kalau  tidak angkat barbel setiap pagi, rasanya badan ini terasa sakit,"katanya menyambung. Itulah sebabnya dia harus angkat besi dulu sebelum sarapan pagi. "Kalau tidak, ada saja yang kurang. Hidup jadi tidak bergairah, "selanya sambil ngakak. 

Tidak hanya angkat besi, Clift juga melakukan latihan bela diri. "Terus terang saja, bela diri merupakan sebagian dari hidup saya," selanya. Itulah ketika dia berlakon dalamfilm action yang mendapat peran Hendra, tubuhnya begitu lentur melakukan latihan perkelahian."Kalau tidak latihan setiap hari bagaimana saya bisa berlakon dengan baik, "Lalu apakah tak kepingin berlakon dalam film Drama?"Saya senang sekali. Saya juga mampu berlakon apa saja, katanya mantap. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA

 


RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA (berita lawas). Wajahnya masih tetap cantik. Tubuhnya masih terlihat seksi dan sintal. Sementara gaya bicaranya masih seperti dulu, ceplas ceplos. Lalu adakah yang berubah dari diri seorang Rani Soraya?

Tentu saja Rani yang beken jadi pasangan Richie Ricardo di film layar lebar bertajuk "Bercinta" banyak yang sudah berubah. Kalau dulu ia masih single, sekarang sudah menjadi nyonya Michael Backman dengan dua anak Andre Sopandi Backman (5) dan Jonatan Sopandi Backman (4 bln). Perubahan lainnya, wanita kelahiran Bandung, 18 Januari 1967 ini kini lebih serius menekuni dunia bisnis bersama suaminya. 

Jika dia kini kembali hadir sebagai pendukung Senandungkan Damai dan bakal ditayangkan di TVRI itu tak lain karena Rani kangen sekali dengan hiruk pikuknya suasana syuting. "Enam tahun nggak berhadapan dengan kamera membuat hati ini terus berontak,  " ujar yang punya nama lengkap Rani Soraya Backam.

Masalahnya selama 6 tahun Rani memilih ikut suaminya tinggal di Finlandia. Dasar orang film, selama d Finlandia wanita asal Garut Jawa Barat ini tak seluruh waktunya dihabiskan jadi ibu rumahtangga yang baik. Ia kursus bahasa nenek moyang suaminya, yaitu bahasa Finlandia. Satu lagi, Rani masuk sekolah leater Internasional, yang muridnya datang dari berbagai negara sepeti Argentina, Afrika, Brazil, Jerman, Rusia, Spanyol dan beberapa negara lainnya. 

Kata penyuka warna merah , biru dan hitam ini, dari Indonesia muridnya bukan hanya dia seorang. Ada satu seniman beken asal Bali. "Maaf saya lupa namanya,"ujar Rani. Yang jelas Rani merasa beruntung sekali bisa sekolah disana, karena ilmu aktingnya jadi tambah matang. Bahkan Rani sempat tampil di layar lebar produksi negara yang hanya berpenduduk 5 juta jiwa itu. 

Tapi, lagi-lagi Rani lupa akan judul film yang dilakoninya. "Yang jelas saya main termasuk peran utama, "kilahnya yang terakhir tampil di layar kaca dengan judul "Mahkota Mayangkara" dimana saat itu Rani dalam keadaan hamil 3 bulan. 

"Selain tampil di layar lebar, sebetulnya tawaran lain banyak berdatangan tapi waktu saya nggak ada dan saya pribadi sudah berjanji hanya mau jadi ibu rumah tangga yang baik, "paparnya. 

Kalaupun ia kii bersedia tampil kembali disini, seperti yang dikatakannya tadi hanya karena kangen saja. "Tak ada pikiran saya berlakon karena ingin mengejar popularitas, ataupun dari sisi materi, " tegas cewek yang di tahun 90an termasuk salah satu artis bom seks layar lebar. "Niat saya sekarang tak lain ingin jadi pemain yang baik dan berlakon sebaik-baiknya," lanjut Rani yang dinikahi bule asal Finlandia Michael Backman di Garut 13 Januari 1996.

Walau niat awalnya ingin bermain sebaik mungkin sebagai pelakon, Rani mengakui saat kembali berhadapan di depan kamera, ia merasa nervous dan gugup. Untunglah teman-teman lamanya, seperti Uci Bing Slamet, Eddy Chaniago, Fuad Baraja, Lela Anggraeni dan Kamel Marvin selaku sutradara terus memberi dukungan dan memberi kritik membangun. Akhirnya semangat dan motivasinya untuk tampil sebaik mungkin di "Senandungkan Damai" sesuai yang diinginkan. Yaitu tampil jadi ibu rumahtangga yang baik berlakon sebagai Rogaya istri dari Fuad Baraja. 

Apa kesan Rani setelah 6 tahun tidak tampil sebagai pelakon? "bisa dikatakan saya cukup prihatin, karena gaya bekerja orang film ternyata masih jalan di tempat. "Maksudnya dalam sebuah penggarapan film , mereka bekerja belum taktis. Masih banyak ngaretnya. Beda sekali saat saya main di Finlandia semua serba profesional dan terarah,"urainya. 

"Melihat keadaan seperti itu, tentu saja ada keinginan memproduksi sendir. Tentu saja kalau saya punya timwork yang bagus dan profesional, " kata artis yang terakhir terlibat dalam film Komodo (1992) itu. 

Namun untuk saat ini, konsentrasi Rani yang utama adalah membangun perusahaan internet bersama suaminya yang baru beberapa bulan dijalani. "Saya ingin membangun usaha yang kami bangun ini sangat beda dengan usaha internet yang sudah ada yaitu bergerak di bidang Company Profile, COntact Person, Map dan Direct acces to update, " tandas Rani serius. 

Rani ingin membuktikan kalau dirinya sekarang sudah berubah jauh. Jelasnya, Rani sudah berjanji pada diri sendiri untuk merubah image dirinya yang dulu dijuluki salah satu artis bom seks, dan kini julukan itu sudah tidak berlaku lagi. "Rani sekarang sudah beda dengan Rani yang dulu", tegasnya. ~~MF 405/371/XVII 21 Des 2001 - 4 Jan 2002



Sunday, July 26, 2026

ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME

 


ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME (FTV Lawas). Ada yang masih ingat Angin Rumput Savana? Garin Nugroho kembali menafsir Sumba lewat Angin Rumput Savana. Lewan sinetron yang merupakan kerja bareng John Hopkins University, BKKBN dan TPI dengan biaya produksi sekitar Rp. 250 juta ini Garin mencoba untuk melakukan penjelajahan artistik, penjelajahan dokumentasi dan juga penjelajahan romantis. 

"Angin...memang beda dengan Surat. Angin saya garap dengan romantis. Katakanlah, dia seperti musim penghujan. Sementara Surat merupakan musim kemarau. Film ini adalah film personal, keras, dengan tingkat absurditas sangat tinggi,"paparnya. "Biarpun pihak John Hopkins University menargetkan sinetron ini memperoleh International Award, saya pribadi tidak mentargetkan untuk itu. Target saya hanyalah agar karya ini mempunyai nilai baru. Seperti pada proyek pembuatan dokumenter Anak-Anak Jalanan yang dibiayai NHK, Jepang, beberapa waktu lalu. Disinipun saya tidak ingin didikte."

T : Angin Rumput Savana ini bertutur tentang apa?

J : Cinta kasih. Cinta seorang ibu pada anak, hubungan manusia dengan manusia. Disini dituturkan tentang Rambu Anak Wulung seorang gadis yang menentang adat perkawinan culik yang dialami ibu dan neneknya. Untuk itu ia pergi dan memutuskan untuk menjadi dokter. Namun ketika kembali ke Sumba, perkawinan culik itu terjadi padanya. Pria yang menculiknya, sesungguhnya telah kawin dengan Rambu Awang Intan. Dan sesungguhnya juga, mereka bertiga itu bersahabat sejak kecil. Saat melahirkan, Rambu Intan meninggal. Dan anak yang ditinggalkannya itu, hanya mau tidur jika ditidurkan Rambu Awang dengan mendengarkan lagu "Why Do You Love Me".

Kawin Culik itu sendiri, sekarang ini sudah sulit ditemui. 

T : Untuk kedua kalinya, Anda memilih Sumba sebagai setting. Sumba, tampaknya memiliki arti penting bagi Anda?

J : Seharusnya Sumba bukan cuma dua kali ditafsir. Daerah ini unik. Selain masih menyisakan masa lampau-zaman megalitikum - tetapi juga daerah yang menerima masa kini. Di sini selain terjadi gegar budaya juga terjadi pertumbuhan bersama. Masyarakatnya selain berkutat dengan masa lampau, juga telah menerima modernisasi. Parabola sudah biasa digunakan disini. Saya menganalogikan Angin Rumput Savana sebagai musim penghujan. Penuh romantisme. Beda sekali dengan Surat Untuk Bidadari yang keras, dan tingkat absurditas yang tinggi. 

Disini juga saya menampilkan kembali upacara tarik batu atau upacara pemakaman. Biaya untuk tarik batu itu cukup besar. Sehari bisa menghabiskan Rp. 3 juta belum termasuk orangnya. Saat penggarapan sinetron ini, sesungguhnya, mereka sedang istirahat dari upacara tersebut. Tetapi berkat bantuan Umbu Awi, raja Kalang, upacara tersebut dapat ditampilkan. Masyarakat Sumba Barat sangat membantu. DiSumba Timur, kamrena ada kesalahpahaman dalam soal izin produksi, agak timbul masalah. Tapi itu sudah diselesaikan dengan baik. 

T : Kalau tidak salah di Angin Rumput Savana ini Anda menggabungkan keindahan iklan, dokumenter, cerita dengan video. Dan nyatanya hasil gambar lewat video lebih bagus dibanding film 35 mm atau 16 mm?

J : Video punya kelemahan dan kelebihan tersendiri. Hasil gambar dari video, lebih indah dari gambar aslinya. Untuk itu kita harus tahu karakter. pemilihan filter yang tepat, dan desain warna. Karakter yang kurang tepat, harus kita hindari. Potensi yang dimilikinya, harus kita manfaatkan. Misalnya begini, Kalau cuaca kelewat panas, hasilnya akan kurang bagus, mendung sedikit juga kurang bagus. Menghadapi cuaca yang berubah setiap hari seperti ini , kita break. Tunggu waktu yang pas. Memang ini yang pertama kalinya buat saya menggarap sinetron cerita dengan full video. Sebelumnya saya hanya menggarap iklan. Penggarapan ini sebagai tatecase dan ujicoba. 

T : Romantisme dan agak pop, bisa dibaca untuk melakukan dialog dan mengkomunikasikan dengan penonton?

J : Dalam Surat Untuk Bidadari, sebetulnya juga telah terjadi dialog. Dialognya bisa sangat keras, mungkin sangat pahit. Tetapi itu harus dilakukan. Kalau kita tidak menafsir kebudayaan dengan berbagai cara, kemungkinan terjadi friksi besar sekali. Perang antar suku, misalnya, kalau saya menafsir Sumba sebagai lembut, lebih romantis, tentu untuk menyerap penonton yang lebih banyak, Saya tetap meyakini personal seperti Surat, hanya golongan tertentu yang menontonnya. Sebuah karya yang utama adalah tidak mengubah dirinya sendiri. 

Jika mengubah dari dirinya sendiri, dia pasti jelek dan itu akan menghasilkan industri. Contoh sederhana begini. Jika ada orang minta agar Budy Allen merombak karyanya agar banyak ditonton orang, orang itu sebaiknya ditempeleng. Film-film personal, saya yakini tetap akan tumbuh dan punya pasar tersendiri. 

Tetapi disini, tidak berlaku demikian. Disini kita menginginkan keseragaman dan penonton yang banyak. Maka, wajar jika film nasional bangkrut. Sebuah film seharusnya tidak musti dikomunikasikan banyak orang tetapi film itu memperbanyak penonton. 

T : Artinya tidak musti seragam?

J : Kalau kita bikin film laku dan semuanya melakukan hal yang sama, lalu buat apa kita bikin film. Pertanyaanya, mengapa opera sabun Jepang diproduksi? Mengapa tidak mengikuti opera sabun ala Amerika Latin yang lebih laku? Itu karena opera sabun Jepang punya penonton yang berbeda. Artinya kita perlu dan harus punya keanekaragaman. 

T : Anda tidak mengalami kesulitan dengan medan yang berubah-ubah dan tim kerja yang baru?

J : Memang tim yang ikut saya ini, adalah generasi baru dibawah tim Kuldesak. Tetapi mereka memiliki spirit dan semangat kerja yang bagus. Begitu juga dengan pemain. Mereka bermain bagus sekali seperti keinginan saya. Buat saya tahun ini merupakan tahun yang bagus bagi pertumbuhan. 

(Tahun lalu, ditengah 'upacara' dan gegap gempita menyambut peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, Garin Nugroho di percaya NHK menggarap film dokumenter, Dongeng Kancil, Anak-anak Jalanan. Disini, Garin memperlihatkan kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta. Anak-anak yang diasuh malam. Disini diperlihatkan bagaimana agar mabuk, bocah-bocah itu menghisap lem Aika Aibon - karena ketidakmampuannya beli minuman keras. Atau tentang bocah-bocah yang sudah mengenal hubungan seks dengan pelacur. Garin, ingin jujur dan memperlihatkan sesuatu yangboleh jadi , asing dan belum pernah kita lihat. Tetapi, kejujuran itu, bisa jadi ditafsirkan salah. Ada yang menilai dokumenter ini seperti menjemur celana dalam dipagar rumah).

Menurut Garin, pertanyaan seperti itu memang bakal muncul dari banyak pihak. Hal itu bisa terjadi karena, "Komunikasi kita selama ini sangat eufisme sekali. Ketika saya memperlihatkan, orang kaget. Kekagetan itu bisa dimaklumi, karena film seperti ini tidak pernah dibuat. Film ini dibuat bukan untuk memperolok-olok bangsa sendiri, " akunya. Pemda Yogya, seharusnya malah berterima kasih dengan dokumenter seperti ini. 

Dokumenter ini, justru dapat digunakan sebagai bahan studi dan banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu. "Dokumenter ini paling laku selama dua tahun. Buat Rumah Sakit, katakanlah RS Islam, wajib nonton film ini untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Dari sini mereka dapat mengatasi masalah AIDS, misalnya atau pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak-anak".

T : Sisi gelap ini memang perlu diperlihatkan?

J : Pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter di Berlin beberapa waktu lalu, Amerika Serikat justru memperlihatkan kehidupan yang lebih sadis, lebih gelap dari film saya ini. Dan orang-orang justru bangga dengan Amerika. Pertanyaannya , kenapa bisa terjadi? Orang Amerika memperlihatkan fakta-fakta dan betapa demokratisnya mereka. Guna memperingati kemerdekaannya, Amerika menampilkan demonstrasi dan rasialisme. 

Kalau kita ingin menerangi satu tempat, sementara Anda nggak tahu dimana sisi gelapnya, itu tidak mungkin terjadi. ~dari MF No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


19 FILM PILIHAN FFI 1989

 


19 FILM PILIHAN FFI 1989. (berita lawas). Sebanyak 19 judul film Indonesia dipilih oleh Dewan Komite Seleksi FFI dari 92 judul film peserta FFI 1989. berikut adalah 19 judul film tersebut : 

1. Judul : Arini, Biarkan Kereta Api itu Lewat

    Sutradara  : Wim Umboh

    Pemain : Rano Karno, Ida Iasha, Rico Tampatty, Rima melati, Rani Soraya dll

 2. Judul : Namaku Joe, 

    Sutradara : Nasri Cheppy, 

    Pemain : Didi Petet, Onky Alexander, Meriam Bellina, Paramitha Rusady , dll

3. Judul : Semua Sayang Kamu, Dewi Cipluk

    Sutradara : Ida Farida, 

    Pemain : Neno Warisman, Eeng Saptahadi, Uci Bing Slamet , dll

4. Judul : Bayi Tabung

   Sutradara : Nurhadie Irawan

   Pemain : Widyawati, Deddy Mizwar, Essila Emir, Baharudin, Haji Omar, Vivi Samodro, dll

5. Judul : Catatan Si Boy III

    Sutradara : Nasri Cheppy

   Pemain : Onky Alexander, Meriam Bellina, Didi Petet, Leroy Osmani, dll

6. Judul : Kipas-Kipas Cari Angin

    Sutradara : Nya' Abbas Akup

    Pemain : Mathias Muchus, Nurul Arifin, Didi Petet, Eeng Saptahadi, Raja ema, pak Tile dll

7. Judul : Malioboro

    Sutradara : Chaerul Umam

    Pemain : Nungki Kusumastuti, Ira Wibowo, Sigit Hardadi, dll

8. Judul : Omong Besar

    Sutradara : MT. Risyaf

    Pemain : Deddy Mizwar, Eeng Saptahadi, Sylvana Herman, Mr. Os, Raja Ema, James Lapian , dll

9. Judul : Tragedi Bintaro

    Sutradara : Buce Malawau 

    Pemain : Asrul Zulmi, Lia Chaidir, Ferry Octora, Roldiah Maulessi , dll

10. Judul : Jeram Cinta

     Sutradara : Wahab Abdi

     Pemain : Ida Iasha, Athina Fransisca, Cok Simbara, Harry Capri, Dian Nitami, dll

11. Judul : Ketika Cinta Tlah Berlalu

     Sutradara : Adi Surya Abdi

    Pemain : Doni Damara, Sophia Latjuba, Nurul Arifin, Sena A Utoyo, dll

12. Judul : Noesa Penida

     Sutradara : Galeb Husin

     Pemain : Ray Sahetapy, Rita Zahara, Ida Ayu Made Diastini, Gusti Randa, Piet Burnama, dll

13. Judul : Dia Bukan Bayiku

      Sutradara : Hasmanan

     Pemain : Rano Karno, Marissa Haque, Yoseano Waas, dll

14. Judul : Pacar Ketinggalan Kereta

     Sutradara : Teguh Karya

    Pemain : Rachmat Hidayat, Tuti Indra Malaon, Niniek L Karim, Nurul Arifin, Alex Komang, Didi Petet, dll

15. Judul : Saskia

      Sutradara : Boyke Roring

      Pemain : Rico Tampatty, Nurul Arifin, Desy Ratnasari, dll

16. Judul : Si Badung

      Sutradara : Imam Tantowi

      Pemain : Rully Djohan, Mang Udel, Mien Brodjo, dll

17. Judul : Suami

      Sutradara : Sophan Sophian

      Pemain : Sophan Sophiaan, Widyawati, Ria Irawan, Desi Yull, Yoseano Waas, dll

18. Judul : Putihnya Duka, Kelabunya Bahagia

      Sutradara : Frank Rorimpandey

      Pemain : Eva Rosdiana Dewi, Joice Erna, Dwi Yan, Deddy Mizwar

19. Judul : Si Kbayan Saba Kota

      Sutradara Maman Firmansyah

     Pemain : Didi Petet, Paramitha Rusady, Nurul Arifin  dll


    Demikian di sadur dari MF No. 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989. Dalam artikel aslinya terdapat sinopsis dari masing-masing film. 

LINA BUDIARTI, "SAYA INI MEMANG PANTAS JADI HOSTES ATAU PELACUR", PERTAMA MAIN FILM HONORNYA 60 RIBU DISURUH TELANJANG

 


LINA BUDIARTI, (berita lawas). Waktu pertama main film honor Lina Budiarti cuma Rp. 60.000, itupun sudah berdua dengan suami. Untuk honor sebesar itu Lina disuruh melakukan adegan serem, buka baju dan bergumul diatas ranjang. Hanya sedikit saja bagian dalam busana yang menutupi tubuhnya yang gempal berisi itu, celana dalam dan BH. Lina disuruh bergumul dengan lelaki yang menggaulinya. Hemmm

"Wah saya merasa terperangkap waktu itu. Untuk menolak tidak mungkin karena honornya sudah saya terima. Tapi kalau harus melakukan adegan seperti itu rasanya juga mustahil. Jelek-jelek saya ini kan ibu dari anak-anak saya. Apa kata orang nanti, "kata Lina Budirati menceritakan pengalamannya pertama terjun kedunia film. 

Itu terjadi tahun 1976, saat ia ditawari numpang lewat dalam film "Bernafas Diatas Ranjang" arahan Dasri Yacob. Tapi jangan salah, honor sebesar itu sudah bisa beli lebih dari 25 gram emas, mengingat harganya Rp. 2500/gram. (wah murah sekali kalau diukur jaman sekarang ya hehe...)

Mulai kenal film dibisikin oleh seorang wartawan, tak lama sesudah Lina mengikuti pemilihan None Jakarta wilayah Jakarta Timur tahun 1976. Pemilihan yang tidak membedakan status (gadis, janda atau sudah beranak) itu sempat mengangkat Sukarlina Budiarty kelahiran Banjarnegara ini tampil sebagai pemenang harapan. 

Dari situ seolah jalan menuju bintang terbuka buat Lina istri Budyanto, pengarang buku cergam paling produktif saat itu. Bahkan dia bisa disebut pelopor pengarang buku-buku komik bergambar bertemakan remaja. Tahun 67 Budyanto S menghentikan kegiatan lamanya membuat cerita komik dan bersama-sama sang istri terus mengarungi dunia film. Sang istri terus menekuni akting sementara Budyanto S jadi penata busana. Lantas dia pulalah yang mendorong istrinya jadi foto model. Kalau perlu pakai bikini atau menampilkan bagian-bagian yang sensual. Bermunculanlah foto-foto Lina Budiarti sebagai penghias kalender atau majalah dengan pose ngeseks. 

Penampilan yang seksi ini terus berlanjut di film. Tak lain karena banyak sutradara memanfaatkan postur tubuhnya. Seperti diakui sendiri oleh Lina ,"Dalam film saya ini memang pantesnya jadi perempuan penggoda, hostess atau pela cur"itulah peran-peran yang pas buat saya, "katanya sambil memberi contoh perannya dalam film "Ponirah terpidana" (Slamet Rahardjo) , dia bermain sebagai pela cur, dari satu lelaki pindah ke lelaki lain, "Itulah film yang palin gberkesan selama say aikut membintangi film, "katanya. 

Meski di cap perempuan penggoda dalam film, tetapi diluar itu, Lina mengaku tak seburuk sangkaan orang. Lina tetap Lina Budiarti, ibu lima anak dan istri setia.

"Film kan cuma bohon-bohongan, ya saya lakukan itu dengan bohong-bohongan pula. Selesai suting ya sudah," katanya yang megnaku tidak pernah risi melakukan adegan ranjang atau ciuman dengan setiap lawan main. Umumnya semua lawan main sudah kenal atau bahkan kawan-kawan dekat, timpal Budiyanto. "Lagi pula adegan ranjang ataupun cium yang dilakukan LIna selama ini masih dalam batas-batas terlalu wajar. Busana dibuka sedikit atau cium dikening atau leher. Ya, lumrah saja, "sergah Budiyanto yang sudah 20 tahun kawin sama Lina Budiarti. 

Karena penampilannya yang cenderung ngesek itu, Lina Budiarti sering diperingati induk oraganisasinya Parfi. Sudah berkali-kali dapat peringatan keras tapi Lina cuek saja. "Lha menurut saya foto bikini adalah pekerjaan yang paling sopan dan halal, ketimbang di film harus telanjang bulat, "celotehnya. Kalau parfi mau peringati, itu dong artis-artis yang tiba-tiba naik mobil bagus, punya rumah, padahal tidak pernah dapat peran utama. Darimana duitnya tuh, kata Budyanto setengah menuding. Siapa bud? Akh ya nggak perlu kita sebut.Pokoknya kita taulah permainannya mereka, lanjutnya. ~sumber : MF 073/41/TH.V/15-28 April 1989