Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3


Thursday, July 2, 2026

FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG


 FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG (film lawas). Buce Malawau sudah boleh diakui sebagai salah seorang sutradara muda berbakat dalam perfilman negeri kita. Karyanya memang masih bisa dihitung dengan jari. Dimulai dari debutnya "Gerhana" kemudian beruntum menggarap "Beri Aku Waktu", "Cinta Anak Jaman", "Tragedi Bintaro", "Ketika Dia Pergi" dan yang ke enam adalah "Potret".

Ciri khas dari kelima karyanya terdahulu, kecuali Cinta Anak Jaman , semuanya kurang mendapat sambutan dalam peredarannya. Sudah begitu lagi-lagi kecuali Cinta Anak Jaman yang membuahkan Piala Citra Aktor Pembantu Terbaik untuk Didi Petet, semuanya paling banter cuma sampai pada level unggulan belaka, untuk kandas dalam final setiap FFI. 

Apakah nasib yang sama bakal menghantui "Potret"? Yang jelas, kendati sudah masuk 8 unggulan termasuk sebagai calon film, sutradara dan aktor-aktrisnya dalam FFI 1991, toh akhirnya tak satupun Citra yang bisa diraih. 

Satu-satunya yang dimenangkan hanyalah Piala S Toetoer untuk Poster Terbaik. Padahal terus terang saja, poster garapan Gunawan Paggaru dan Adjie Mamat Borneo ini kelewat sangat bersahaja untuk ukuran sebuah poster film Indonesia. Sama sekali tak punya daya tarik komersial, tapi mungkin justru karena kesederhanaannya inilah Dewan Juri Poster yang diketuai Sukanto berbelashati untuk menganugerahi piala penggembira. 

"Potret" dibintang utamai Rachmat Hidayat yang sekali lagi menampilkan kualitas keaktorannya. Di dukung sebarisan pemain mulai dari Ully Artha, Asrul Zulmi, Nani Somanegara, Nani Vidya, Rondald Kansil dan Mega Sylvia, namun yang berhasil mencuri perhatian dengan gayanya yang rada urakan justru bintang muda Gusti Randa. Sebagai anak, ia seenaknya saja memanggil ayahnya tanpa sebutan 'Bapak' atau ' Papa', tak ubahnya seperti kawan saja, langsung menyebut nama. "Man, Herman!". Boleh di puji Gusti mamppu mengimbangi akting kawakn seperti Rachmat Hidayat dengan menarik. Sejak penampilannya film yang semula terasa berlarut-larut berubah menjadi segar dan riang. 

Patut di catat pula penampilan bintang-bintang tua seperti Ema Gangga, Laelasari, Menzano, Pak Tile dan sejumlah penghuni asli Panti Jompo betulan. Hampir separoh awal film memang berlokasi di Panti Jompo. 

AYAH YANG TERBUANG. Herman Kawilarang (Rachmat Hidayat) tua dan buta, memergoki istrinya yang masih muda usia, Lisa (Ully Artha), menyeleweng dengan Robin (Ronald Kansil). Sakit hati merasa disia-siakan, ia meninggalkan rumah. Tertatih-tatih ditampung di Panti Jompo. 

Pimpinan Panti Jompo (Sinta Muin) diam-diam mencari keluarga Herman lewat fam Kawilarang. Sampai ke Victor (Asrul Zulmi) yang nampaknya cukup sukses sebagai manager. Kendati mengenali ayahnya, namun ia menolak mengakuinya. 

Pasalnya, dulu Herman meninggalkan keluarganya untuk kawin lagi. Maka, Ibu (Nani Somanegara) dibantu si sulung Victor mencari nafkah dengan berjualan gado-gado, tapi dua adik Victor, Anton (Gusti Randa) dan Vina (Mega Sylvia), berbeda pendapat dengannya. 

Anton yang bekerja di bengkel, mengangkangi mobil yang di bawa Robin, karena mengenalinya sebagai milih ayahnya. Antonpun datang menjenguk ke panti jompo. Herman yang semula rada frustasi dan sering ribut dengan sesama penghuni Panti, bagai mendapat semangat baru dari anaknya ini. Anton malah mengajaknya ke kelab malam tempat Vina menyanyi. 

Kekerasan Victor mulai runtuh ketika isterinya (Nani Vidya) pun membela adik-adiknya. Bagaimana kalau ia kelak di perlakukan serupa oleh Andri, anaknya sendir?. Lewat dialog dengan ibu dan Anton, terungkap kalau dulu pun ibu pernah tersesat menjadi wanita penghibur sampai dikawini ayah. 

Klimaks terjadi di Pengadilan yang memutuskan perceraian antara Herman dengan Lisa. Perempuan yang menjadi isteri muda ini mengungkapkan segalanya. "Aku ditipu Herman yang mengaku duda kematian isteri, hingga bersedia menjadi isterinya, ".

Herman sama sekali tak membantah. Ia pasrah menerima segalanya. Dan ternyata ia masih bisa menikmati sisa hari tuanya dalam kedamaian, karena diterima kembali dalam keluarga. 

Ini cerita memang teasa serupa tapi tak sama dengan film "Ayahku (1987)" arahan Agus Elyas. Padahal film itupun digubah dari sandiwara zaman Jepang. "Chichi Kaeru". Untuk ini, dipembuka film Buce sudah berdalih lewat pesan!. "Tidak ada yang baru dibawah matahari, yang sekarang ada dulu sudah pernah ada". ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA


Tuesday, June 30, 2026

PRILLY PRISCILIA


 PRILLY PRISCILIA (berita lawas). Trio Centil. Itu nama grup voal yang melibatkan Prilly Priscilia. Mungkin nama komplotan yang semunya cewek ini identik dengan watak Prilly. Sekilas, tak ada bagian tubuh tertentu yang berkesan menggoda dari mahasiswi Universitas Pancasila ini. Asal tahu saja, kalau sudah bicara dengannya, asal mampu menahan goncangan perut. Apa lantaran ia doyoan humor hingga memilih pacar pun kebingungan? "Nggak tahu, tuh. Mama juga bingung, kok yang namanya cewek kalau sudah ngakak kedengarannya kayak raksasa. Sampai ia bilang lama-lama mulut saya bisa cablak. Enak kan cablak. Buktinya Sophia Loren punya bibir cablak malah laku keras, " celoteh Prilly yang lagi-lagi memasang jurus candanya. 

Prilly jelas bukan Sophia Loren yang kadangkala bersaing dengan Elizabeth Taylor dalam hal koleksi pacar. "Rasanya tiada hari tanpa ketawa. Mungkin sayalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Saya bisa kurang ajar juga, lho. Kalau teman marahan, lantaran tersinggung. Saya melawannya dengan humor. Jadi, jangan harap marahannya bertahan lama, " ucap pesinden lagu-lagu ceria yang pernah main di film Lintar, Ketika Musim Duren Tiba racikan Abdi Wiyono. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Sunday, June 28, 2026

LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat

 


LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat (kisah lawas).  Betapa riangnya Lela Monica dapat kesempatan berlakon dalam film Bangkit Dari Kubur (1988). Sudah lama keinginan main film dipendamnya dan sekarang kesempatan itu datang. 

Dirumah sebelum berangkat ke lokasi suting, ia harus "bertempur" dengan orangtua. "Mulanya saya tak direstui main film, padahal hari itu sudah harus berangkat ke lokasi suting. Saya harus mati-matian meyakinkan orangtua, " katanya. Tekad Lela yang kuat sampai orangtua tak kuasa menahan keinginan anaknya. 

Tiba di lokasi suting, di kawasan Dago Bandung, Lela masih yakin akan kemampuan dirinya berlagak di depan kamera. Begitu suting akan dimulai, baru merasakan betapa jantungnya berdebar kencang, rasa takut menghantui. Dari dahinya yang putih mulus mengucur deras keringat. 

"Kok saya jadi demam kamera? Lalu, saya coba menarik nafas dalam-dalam untuk konsentrasi. Terasa kini seluruh tubuhnya basah kuyup, padahal Dago tempat yang sejuk," ujarnya mengenang. Saat kamera mulai berputar tetap saja Lela buat kesalahan. Sutradara "ngebomnya" dengan omelan-omelan pedas. 

"Saat itu saya ingin lari dari lokasi. Habis Lela belum pernah dihina seperti itu sih".

"Sejak mendapat pengalaman itu, saya tak berani lagi sok yakin. Hikmah kenangan itu sekarang adalah, setiap mendapat tawaran main film atau nyanyi, selalu minta restu orang tua, " katanya. 

Memang, sejak melakoni film perdananya itu Lela semakin gencar mendapat tawaran difilm, sinetron maupun rekaman lagu. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992

Saturday, June 27, 2026

FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN


FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN (berita lawas). Bagaimana menyuguhkan sebuah film komedi yang utuh cerita dan leluconnya, bukan cuma penggalan dagelan sudah menjadi obsesi insan film sejak lama. Hal ini coba diwujudkan lewat film gess PT. Parkit Film yang trio produsernya Raam-Dhamoo-Gobind Punjabi kian lihai meracik ide-ide lucu. Apalagi ditangani Chaerul Umam yang punya Sense of Humor Tinggi. 

Dengan barisan pemain langganan Parkit, Ray Sahetapi, Lydia Kandou, Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Zaenal Abidin, Baby Zelvia, Ida kusumah, Kadir, Doyok plus Pak Tile, maka bom tawa dipasang pada setiap adegan sampai meledak dalam huru hara klimaksnya. 

Cerita berporos pada pengantin baru Rio-Anita yang tinggal di Gedung mewah mertua. Sejak mengantar keberangkatan ayahnya ke bandara, sudah terjadi kesalahpahaman gara-gara Rio dikecup cewek yang salah kira. 

Kecemburuan Anita berkembang saat  Rio tak pulang dari rapat di Puncak. Padahal ia diajak atasannya menghadiri ultah rekanan. Untuk melunakkan isteri ngambek, Rio cari akal bulus. Advis Kadir untuk mengajak teman fiktif bernama unik, Hamid Hamad bin Himad Hamid, disambar bulat-bulat. Sobat lama Oskar Hutajunjung, yang diminta menyamar langsung akur. 

Padahal orang bernama Hamid Hamad bin Himad Hamid itu benar ada. bahkan Anita datang kerumahnya untuk mengundang makan. Maka semuanya tumplek bleg datang, termasuk Om Bowo, Tante Emma, Nyonya Hamid, bahkan Nyonya Oskar, semua rahasia terbongkar!. Ditengah kekacauan tinggal Kadir yang bernafsu melahap hidangan lezat. Tak terduga selop Tante Emma melayang ke mulutnya. 

Kalau dalam film-film terdahulu biasanya Anita diperankan Ida Iasha, sekarang digantikan Lydia Kandou yang ternyata bermain lebih matang sebagai isteri pencemburu. Begitu pula Nurul kebagian peran jadi istri muda Doyok yang galak dengan suara melengking-lengking. 

Deddy sebagai anak lelaki Batak yang sok tinggal di hotel mewah, padahal masih menganggur dan cuma mengandalkan isteri yang bekerja, tinggal juga di losmen murahan, bagai mengulang peran Eddy Pasaribu dalam "Kanan Kiri Oke". Begitu pula halnya dengan Ray, Zaenal dan Idakusumah, tetap dengan stereo-type peran mereka biasanya.

Adalah Kadir, yang diberi porsi lebih. Kendati begitu, tokoh batur (pelayan) sok pintar yang sering diminta advisna oleh majikan jelas di comot dari pakem "Srimulat". Bedanya, pengarahan Mamang membuat segala gimmick dan jogetan Kadir lebih kocak. Dan sekali urat syaraf geli penonton sudah tergelitik, sekedar bunyi-bunyian bel atau  telepon yang unik saja bisa jadi letusan gerrr!. Iseng-iseng cobalah hitung berapa kali pesan "Jangan Bilang Siapa Siapa!" diucapkan sepanjang film.   ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

NENO WARISMAN


 NENO WARISMAN (berita lawas). Selepas berlakon di film Cipluk Semua Sayang Kamu (1989) karya sutradara Ida Farida, Neno Warisman tak pernah muncul lagi di kancah produksi film. Seakan tenggelam "dilautan" arus artis muda. Untung saja ia dapat bermain bagus dalam sinetron Sayekti dan Hanafi, garapan almarhum Irwinsyah, yang kembali mengorbitkan namanya dalam seni peran. 

Isyu terakhir yang tersiar mengatakan, bahwa perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman ini, akan menanggalkan baju kerartisannya untuk mendalami Islam. Ternyata itsyu itu hanya berita burung. Sampai saat ini Neno Warisan merasa tetap eksis menggeluti seni. Lalu, bagaimana dengan isyu tidak akan melepaskan jilbab?

"Itu baru berita benar", katanya tanpa komentar panjang lagi. 

Bukankah jilbab akan membatasi kegiatan dalam berkesenian? "Saya kira tidak, tergantung materi yang disodorkan," kilahnya. Tekadnya untuk tidak membuka jilbab sudah "membatu". Meski dibayar mahal, ini tantangan lain yang harus diwaspadainya. 

Disaat artis lagi mau-maunya buka-bukaan, mengapa kamu menutup diri, jeng?

"Itu prinsip hidup," katanya singkat. karena alasan itu pula Neno Warisman bersedia menjadi pelayan masyarakat yang berangkat menunaikan Haji. Kalau tahun lalu ia ke Mekkah menjadi tamu Allah tok, "tapi sekali ini saya harus bisa melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Ini tugas yang berat juga."

Untuk membuktikan keberadaanya bergelut akrab dalam napas Islam, Neno mencoba tetap eksis dalam jalur musik dakwah. Kenyataan itu erat kaitannya dengan meledaknya album "Mutiara Hikmah, produksi Rintop Record yang dirilis awal tahun 1992 ini. Sepulang dari Mekah Neno akan membuat gebrakan baru lagi, yaitu satu ini adalah kesinambungan album sebelumnya, Senandung Mutiara, demikian nama album itu. 

"Dengan adanya "Senandung Mutiara" ini adalah salah satu kiat berdakwah lewat jalur musik, " katanya singkat. Alasan itu sudah menggambarkan maksudnya. lalu bagaimana dengan seni peran? "Saya masih pikir-pikir, " lanjutnya. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992