Thursday, May 21, 2026

FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK

 


FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK (berita lawas). Barangkali dua bocah inilah yang paling sering nampak dalam perfilman Indonesia di akhir 80an. Yang laki-laki bernama Ferry Octora Fahmi dan yang cewek Viona Rosalina. Kedua bintang cilik ini, naga-naganya masih mampu bertahan untuk nongol di layar lebar, setelah keduanya menunjukkan bakat ampuhny lewat film mereka. Ferry dalam Tragedi Bintaro dan Viona dalam Si Badung. 

Mereka kemudian bertemu dalam satu film komedi tragedi arahan sutradara Putu Wijaya. Dalam film Cas Cis Cus, kedua bocah ini unjuk gigi. Ferry Octora yang kini sudah duduk di bangku kelas III SMP terus saja sibuk dengan kegiatannya di teater Adinda. Sedangkan Viona Rosalina yang kini naik kelas VI SD, malah akrab dengan beberapa orang film. 

Kedua bocah ini seakan jalan berdampingan, menyelesaikan dari satu film ke film yang lain. Misalnya saja, selesai membintangi Cas Cis Cus, lalu sama-sama masuk film Jaka Swara memerankan tokoh Rhoma Irama dan Camelia Malik kecil. 

"Yah saya hanya ikutan main saja. Semua yang ngurus mama, " jelas Ferry Octora pemeran tokoh Junet dalam film Tragedi Bintaro. 

Ia sangat senang bisa main dalam film itu yang dianggapnya cukup mengesankan. Lalu bagaimana kesan kamu dalam film Cas Cis Cus? "Wah, kalau aku punya nenek kayak gitu, ngeri.. hii....."jerit Ferry Octora meringis. 

Lain Ferry Octora, lain pula Viona yang masih nampak sifat kanak-kanaknya.  Begitu ditanya namanya, sontak penuh spontanitas ia balik menanyakan. " Om, dari majalah apa sih?" Kemudian dia lebih banyak berdiam diri. 

Mampukah kedua bocah ini mengikuti irama perfilman yang semakin lama semakin 'maju'? Masih adakah tempat bagi anak-anak seperti kedua bocah ini dalam perfilman nasional kita?

Dan masih saja ada ratusan pertanyaan yang belum terungkap tentang eksistensi bintang anak-anak selagi film untuk anak-anak dan dari anak-anak belum mempu menggugah nurani penontonnya.  ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG"


 IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG" (berita lawas). Berakhirnya sinetron "Keluarga Rahmat" bukan berarti putusnya karier Thenzara Zaid sebagai artis. Perempuan parobaya bertubuh gemuk yang ngetop lewat peran yang di"Bu Subangun" terjun ke dunia film. 

Adalah producer Lucy Sukardi dan sutradara Chris Helweldery yang mengajaknya tampil dalam produksi PT. Cipta Permai Indah Film "Jangan Paksa Dong". 

Yang berperan sebagai suami Zara bukan lagi Haryo Sungkono (pemera Pak Subangun yang sabar kelewat itu), melainkan Robert Syarief yang juga terkenal peran ayah angkat Dewi Yull dalam serial sinetron "Dr. Sartika".

Kalau dalam serial yang cerita-skenarionya digarap oleh Tatiek Maliyati WS itu, Robert selalu tampil serius, sekarang justru dijajal kebolehnnya berperan komik, termasuk mengekspos kepalanya yang botak berkilat. 

"Kalau peran saya sih masih serupa dengan perwatakan Bu Subangun yang cerewet, bawel dan nyerocos terus, apalagi saking cemburu pada suami yang dikira nyeleweng dengan cewek muda, " ungkap Zara. 

Sebagaian besar suting berlokasi di kota gudeg Yogya, menyusul bagian akhirnya diambil dikawasan real estate mewah Cinere, Jakarta Selatan. Suting hari terakhir mempertemukan para pemain utama, Zara, Robert, Sylvana Herman, Basuki dan Malih Bokir. 

Terlihat adegan Zara ngomel panjang memaki maki Robert yang dituduh pacaran dengan Syl. Mungkin saking takutnya mendengar omelan Zara yang merentet persis mercon, maka Basuki dan malih lari terbirit-birit. Begitu gugupnya sampai mereka tercebur ke empang! "Byurr!".

"Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kalau saya bisa main film," berterus terang Zara yang berasal dari Padang ini. "Saya  tak pernah belajar akting, tapi Pak Fritz G Schadt minta saya untuk mencoba bermain dalam serial produksi PPFN itu, eh keterusan sampai sekarang. Belum tahun sesudah film ini nanti ada yang mengajak main lagi atau tidak."

Berapa besar honornya, Zara segan menyebutkan. Yang jelas, sesudah hampir 10 tahun ditinggalkan suami, ia merasa bersyukur karena dari imbalan sebagai pemain mampu  memberi nafkah keluarga serta membiayai kuliah dua anaknya Leticia Alfrieda dan Muhammad Alfredo. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Tuesday, May 19, 2026

SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL


SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL (berita lawas). Hari itu, 31 Desember 1970 siang, Usmar Ismail berdiri dihadapan 160 karyawan PT. Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Tidak seperti biasanya, sekali ini Pak Usmar yang dirut Ria Sari/Miraca Sky Club itu akan melepas karyawannya yang terkena PHK. Bisa dibayangkan betawa beratnya perasaan Usmar saat itu. Dengan nada terbata-bata dia mengatakan; baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya , katanya. 

Memang, Usmar Ismail yang saat itu mati-matian mempertahankan Perfini Film masih tetap mempertahankan karyawannya yang masih ada. Tak satupun karyawan Perfini yang diberhentikan. Untuk menggaji mereka, satu persatu peralatan studio Perfini di Cijantung di lego. Barulah sesudah tidak ada lagi yang bisa di lego, sisa karyawan Perfini itu mengundurkan diri (sebelumnya diantaranya yang mengundurkan diri).

Sebelum memPHK karyawan PT. Ria Sari itu Pak Usmar baru saja kembali copy  film BALI, kerjasama Perfini dengan pihak Itali. Setelah ditunggu-tunggu copy film tersebut mejadi bagian Perfini untuk mengedarkan di Indonesia, tidak  juga dikirim. Pulang dari Itali, Pak Usmar tidak bisa menyebunyikan kekecewaanya pada UGO film, partner jointnya itu. Bahkan ia merasa ditipu oleh partnernya itu. Pak Usmar mengatakan kalau kita kerjasama dengan Itali harus jelas, terperinci dan saklek. 

Belum habis rasa kecewanya dengan produser film Itali itu , setiba di Indonesia ditimpa musibah, karena PT. Ria Sari/Miraca Sky Club yang dia bangun sejak 1967 diliwidir oleh caretaker Sarinah saat itu, PT. Ria Sari di bubaran dan karyawan di PHK. Inilah yang sangat memukul perasaan saat itu. Lewat Miraca Sky Club, Pak Usmar telah mendorong night life di Jakarta. Upaya ini juga membantu Pemda DKI dalam menarik arus wisatawan, disamping kedudukan Jakarta sebagai pintu gerbang RI dan kota turis internasional. Atas jasa-jasanya itu Pak Usmar kemudian mendapat penghargaan sebagai warga teladan dari Pemda DKI-Jaya disamping alm. Syamsudin Mangan. 

Esok harinya, 1 Januari 1971 siang Pak Usmar diboyong ke rumah sakit. Belakangan diketahui beliau menderita pendarahan Otak, disusul dengan kematiannya pada Subuh jam 5.20 tanggal 2 Januari 1971. Saya tak habis pikir ketika RRI jam 7.00 pagi menyiarkan kepergian Pak Usmar untuk selama-lamanya. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju Pegangsaan, tempat tinggal almarhum. dari kejauhan saya melihat sejumlah karangan bunga dan orang-orang mulai kumpul. "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" Pak Usmar sudah tiada. 

Acara tutup tahun 31 Desember 1970 di Miraca Sky Club benar-benar terakhir kalinya Pak Usmar berkumpul dengan segenap kerabat, handai taulan dan karyawan yang dikenal sangat akrab dan bersahaja. Waktu itu seperti bisasa dia mengajak keluarga dan handai taulannya dalama cara tutup tahun tersebut. Yang agak lain dari biasanya ialah kami, orang-orang yang dekat dengan beliau tidak boleh jauh-jauh. Dia mengajak hampir semua bawahannya untuk berfoto bersama. Tak terlintas di hati kami para bawahannya termasuk Yusman Djamaris, Photograper Miraca bahwa malam itu adalah saat-saat kami akan berpisah selamanya dengan Pak Usmar.

Bagi saya Pak Usmar bukan saja sebagai pimpinan, tapi lebih dari itu dia adalah seorang guru dan bapak yang baik. Kepemimpinannya patut diteladani. Sulit saya menemukan seorang pemimpin seperti beliau. Masih terngiang-ngiang ditelinga saya ketika 31 Desember siang almarhum sempat berbicara empat mata dengan saya. "you ikut saya ya, kita bangun Perfini". katanya tak lama sesudah acara pelepasan karyawan yang terkena PHK termasuk saya. 

Memang diluar kesibukannya memimpin Miraca, Pak Usmar mulai bangkit dengan produksi-produksi filmnya. Pada masa-masa itu beliau sempat merampungkan fim Ya Mualim, Djakarta The Big Village, Bali dan terakhir Ananda. Bahkan saat dia meninggal, film Ananda baru saja merampungkan sutingnya, sehingga Pak Usmar tak sempat menyaksikan karya terakhirnya itu. Dia juga tak sempat menyaksikan kehebatan Lenny Marlina, aktir penemuannya yang terakhir itu. Tentang lenny Marlina, Pak Usmar pernah mengatakan bahwa selama 20 tahun menggeluti dunia film, baru sekali itulah dia menemukan apa yang dia cari. Ya, Lenny Marlina itulah. 

Keteladanannya dan kepemimpinannya sangat dihargai oleh segenap karyawan Miraca maupun Perfini film. Rasa kami ingin berbuat apa saja demi Pak Usmar. Tak pernah kami mengeluh, tak pernah kami mempersoalkan ini itu. Pak Usmar meninggalkan kita disaat tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh dunia perfilman nasional. ~~demikian tulisan dari MH Yusuf yang dimuat di MF No. 119/87 tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991


Monday, May 18, 2026

WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR


 WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR (berita lawas). Sudah pernah nonton film Steven Spielberg "Who Framed Roger Rabbit?" Dalam film itu muncul bersama tokoh detektif manusia (diperankan aktor Bob Hoskins) dengan tokoh kartun si Kelinci Floger Rabbit. 

Kelihaian Spielberg ini kemudian ditiru oleh Tsul Hark dari perfilman Hong Kong, yang menggarap adegan klimaks "Happy Ghost IV" dimana Raymond Wong terlibat pergumulan dengan hantu jahat, pendekar Wu Sng dan harimau yang muncul dari pigura lukisan. Dengan tekhnik serupa pada akhir "Modern Buddha Palm" direkayasa pula duet antara Andy Lau kontra Yen Hua yang melibatkan kartun seekor siluman kura-kura hijau. 

Dan di film Indonesia, "SURO MENGGOLO" berhasil ditampilkan pula adegan yang menggunakan teknik komputer animasi tersebut. Digarap di studio yang sama, Hong Kong Screen Art, untuk menggabungkan reality dengan animasi. Hasilnya terlihat Warok Suro Menggolo (Diperankan Benny G Rahardja) bergumul mati-matian dengan seekor macan tulen. Namun untuk kepentingan filmisnya pada beberapa sekuen, sang macan berubah wujud menjadi animasi kartun. 

"Pembuatan komputer animasi inilah  yang memakan waktu lama", ungkap produser Rudy W dari PT. Simbar Intan Film. Jadi sejak start suting sampai sekarang tak terasa sudah satu setengah tahun. Sedang bahan baku yang dihabiskan tak kurang dari 140 can negative film. 

Ditanya besarnya biasa, disebutkan lebih dari Rp. 900juta atau bolehlah di bulatkan menjadi 1 milyar. Dengan demikian, film ini telah melampaui biaya pembuatan film-film silat kolosal yang dirajai "Saur Sepuh".

Disebutkan oleh Pak Sukanto, Ketua Badan Sensor Film, "Dalam Suasana yang disebut-sebut orang sebagai masa kelesuan film nasional, justru Suro Menggolo hadir untuk memberikan gambaran baru dengan tekhnik mutakhir. Disamping film ini diproduksi bekerjasama dengan Pemda Jatim dalam rangka menggali kebudayaan serta cita-cita tradisional. 

Suro Menggolo yang terasa padat dengan masa putra 1 jam 35 menit, masih menjanjikan pembuatan sekuelnya di masa mendatang mengingat stock shot yang tersisa. Sumber MF No. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


SUROMENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK


 SURO MENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK (berita lawas) . Warok adalah istilah khas masyarakat Jawa Timur ntuk menyebutkan pendekar digdaya atau tokoh sakti yang menguasai ilmu silat tinggi. Senjata khas mereka adalah tali kolor yang bisa dijadikan cambuk. Konon sekali lecut mampu melumpuhkan orang. 

Tersohornya legenda tentang Warok Suro Menggolo bukan saja dari mulut ke mlut didongengkan secara turun termurun, tapi juga lewat pagelaran ludruk dan ketoprak. 

Juga sudah pernah di filmkan oleh sutradara kawakan Nawi Ismail dengan judul "Warok Singa Kobra" dibintangi oleh Dicky Zulkarnaen, Ratno Timoer, Harry Capri, Eva Arnaz, Kusno Soedjarwadi, Hanna Wijaya, Jeffry Sani dan lain-lain. 

Dan kemudian di produksi secara kolosal spektakuler oleh PT. Simbar Intan Film dengan runtut cerita yang lebih lengkap dan komplit bertajuk "SURO MENGGOLO". Skenarionya ditulis ulang oleh Sofyan Sharna. 

Menurut produsernya, Rudy W, "Melingkupi sejarah, asal usul terbentuknya Ponorogo, konflik antar warok, babakan Suminten Edan (Suminten Gila), Putri Kuning, sampai ke penyerahan tahta, pokoknya padat sekali. 

Sebagai Komandan dilapangan, Produser Pelaksana Arlanto Sukanto menunjuk Dasri Yacob, yang sudah berpengalaman menggarap puluhan film aksi silat termasuk "Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat".

Bintang-bintang laga populer dikerahkan untuk menghidupkan tokoh-tokoh legendaris. Dimulai dari Benny G Rahardja sebagai Suro Menggolo, Fendy Pradana sebagai R. Subroto, Jhoni F Sitepu (Suro Handoko), Yan Bastian (Panembahan Agung) Gitty Srinita (Suminten),  sampai Kies Slamet (Singo Bowo).

Dibantu lagi oleh sebarisan bintang seperti Teddy Purba, Kitty Katrino, Ayuni Sukarman, Oyib Burnama dan El Kusno. 

Kamera diarahkan oleh Yan Mayar, tata artistik oleh Yasin Kalu, sedangkan penyuntingan oleh Djuki Palmin, serta ilustrasi musik digarap Chossy Pratama. 

PADA Tahun 1495, Bathara Katong, adik Sultan Demak membangun Kadipaten Ponorogo dengan semangat Islam. Justru Ki Demang Kutu menganut agama Hindu dari Majapahit yang semakin mundur. Akibatnya sering terjadi bentrokan yang berakhir dengan musnahnya Demang Kutu. 

Saat Bathara Katong mutlak menguasai Ponorogo, ia mengangkat Suro menggolo menjadi Manggala. Sepeninggalnya, tahta diwariskan pada putranya Panembahan Agung. Mulailah terjadi intrik yang berkembang menjadi kekacauan. 

Suro Handoko, adik Suro Menggolo menghimpun warok-warok sakti, Gunoseco, Honggojoyo dan Singa Kobra untuk memberontak. Tak berhasil mengajak Suro Menggolo bersekongkol, mereka berbalik ingin menghabisinya. Namun kesaktian Suro Menggolo setingkat lebih tinggi dari mereka. 

Maka kawanan warok ini mencari guru lagi, Singobowo dari Perguruan Argo Wilis. Ancaman lain bagi Suro Menggolo datang dari Bondan Sariti, paman Penembahan Agung yang pernah kepergok main serong dengan Putri Kuning, istri Bathara Katong. Ada lagi, Suro Gento, mantan patih Deman gkutu yang tetap menyimpan dendam kesumat. 

Di tengah kesibukan Suro Menggolo menghadapi  ancaman musuh-musuhnya, mendadak Raden Subroto, putra Panembahan Agung, hilang dari Keraton. Ia di culik oleh dua jin Kluntung Wuluh dan Kluntung Mungil, yang ditugasi oleh Suro Handoko. Ternyata putra mahkota yang tersohor kegantengannya ini hendak dipaksa kawin dengan Suminten, anak Warok Gunoseco. 

Ketampanan Subroto membuat Suminten Gandrung tergila gila. Namun Subroto sudah jatuh hati pada Cempluk, putri Suro Menggolo. Ditolak cintanya membuat Suminten Shock berat dan gila. 

Fitnah dilimpahkan pada Suro Menggolo. Untuk membersihkan namanya, mau tak mau terpaksa Suro Menggolo menerima tantangan adu kesaktian dari Warok-warok lainnya. Paling akhir, ia pun harus bertarung mati-matian dengan adiknya sendiri, Suro Handoko. ~~ sumber : MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Saturday, May 16, 2026

BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI

 


BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI (berita lawas) . Sudahlama juga bintang film laga ini tak berciat-ciat di depan kamera film. Dia yang biasa di panggil Bertus namun populer sebutan Barry Prima saat ditemui di Bandung, kembali kepada profesi semula, pengajar taekwondo yang sempat terhenti karena kesibukan di film. 

Kepada MF ia bercerita tentang nostalgianya. 

Pagi itu meskipun sinar mentari sudah menyemprot dari lubang jendela, namun Barry masih tidur pulas di kamarnya. Sampai datang adiknya, Max membangunkannya, bahwa ada tamu yang betul-betul serius hendak menemuinya. 

Di ruang tamu memagn sudah menunggu sepasang muda mudi yang mengaku suami istri yang sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka. Sang istri dalam keadaan hamil 5 bulan itu permintaannya aneh-aneh, yakni ingin makan nasi yang sebelumnya sudah di cocolkan ke pipi Barry Prima. 

"Yahoi, apa nggak kaget tuh mendapat permintaan unik seperti itu?" tawa Barry. 

Selanjutnya tamu yang sudah sengaja berbekal nasi, setelah permintaannya disetujui, kontan mencocolkan nasi ke pipi Barry dan blep langsung di lahapnya dengan senyum malu dbawah tatapan bingung bintang film laga itu. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

GITO ROLLIES, BERHENTI JADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA


 GITO ROLLIES, BERHENTI MENJADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA (berita lawas). Musik rock terkadang diidentikkan dengan narkotik, walaupun pandangan tersebut salah. Nyanyi atau bermain musik rock (baca berkesenian) merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketekunan tanpa harus ditunggangi oleh obat-obatan terlarang. Seni ya seni, narkotik ya... teler itulah.

Nah ungkapan diatas tadi meluncur dari rocker Gito Rollies (Bangun Sugito) yang mengaku sudah selama 7 tahun berhenti total memakai barang-barang memabukkan itu. Padahal sebelumnya sudah diketahui umum, saat masih gabung dengan grup The Rollies, Gito terkenal brutal dan sering tampil dipanggung dalam kondisi 'tinggi'.

Lalu apa yang menyebabkan vokalis, berambut kribo ini menghentikan kebiasaan yang dianggap negatif itu? Tentunya ada suatu proses yang datang menyadarkannya, sehingga ia mampu melepas belenggu kecanduan narkotik ria. 

Awalnya pada tahun 1985 saat Gito naik panggung di Gedung Saparua, Bandung pada acara duel meet The Rollies & God Bless. Seperti biasa Bangun Sugito tampil dengan kondisi yang 'panas' kalau tidak bisa di katakan 'over drugs. Itu semua diketahui penonton dan juga istrinya, Michelle yang bersama putra mereka Puja Antar Bangsa (2 tahun) menyaksikan dari sisi panggung. Publik yang mayoritas kaum remaja tak perduli dan menganggap atraksi Gito sah-sah saja. Begitu memang penampilan rocker, demikian tanggapan mereka. Dari sambutan dan yel-yel rock yang mereka teriakkan, membuat Gito kian bersemangat saja, berjingkrak-jingkrak diatas panggung. 

Selesai melantunkan beberapa lagu, Gito keluar dari panggung dan langsung menemui istri dan anaknya. Wajah Michelle biasanya cerah menyambut Gito usai nyanyi, kini malah ubah muram. Tiada kata dan tiada tawa, juga saat keduanya sudah mengendarai mobil menuju k epemukiman orangtua Gito di perumahan Cibeureum Permai. 

Ini tentu saja membuat Gito bertanya-tanya dalam hati. Karena tak tahan atas perang dingin ini, Gito mencoba mengorek apa mau MIchelle yang begitu dicintainya, sehingga saat pacaranpun setiap bulan Gito mengirimkan berbagai jamu-jamuan untuk Michelle yang kala itu masih guru Taman Kanak-Kanak di Belanda. 

Mendapat desakkan gencar dari suaminya, lalu apa jawaban Michelle? "Saya tidak melihat kamu sebagai penyanyi tapi melihat seorang pemabuk diatas panggung. Coba buktikan suatu saat, bahwa tanpa mabuk pun kamu mampu menyanyi dan beraksi dengan wajar, " ungkap Michelle ketus. 

Mendengar kecaman  dari orang yang paling dicintainya ini, sedangkan penonton begitu mengelu-elukannya, tentu saja Gito merasa terpukul. Namun hikmahnya, semenjak itu Gito berusaha tampil di panggung tanpa narkotik dan menurut pengakuannya mampu diatasinya dengan baik. Itulah Gito, binal dan dinamis diatas panggung, tapi berkat bimbingan istrinya tercinta ia mampu mengobati diri tanpa keharusan memasuki panti rehabilitasi. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Gito Rollies meninggal 28 Feb 2008 . Akhir yang baik

MUCHSIN ALATAS & TITIK SANDHORA


 ADA YANG INGAT PASANGAN INI? MUCHSIN ALATAS & TITIEK SANDHORA, (berita lawas). Terdorong kewajiban dan kecintaannya pada sang istri, Muchsin Alatas selalu kerja keras. Untuk memberikan nafkah materi, selain semakin eksis di dunia artis, diapun berusaha di bidang pengerahan tenaga kerja. Alhamdulillah berkat usahanya itu, kondisi rumahtangganya dengan Titiek Sandhora terbilang mapan kendati belum konglomerat. 

Muchsin tidak cuma berupaya mencukupi istri dari segi materi. Sebagai muslim yang baik diapun selalu beusaha memuaskan istri dalam urusan nafkah batin. Resepnya? "Selain menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan perkasa, juga dikitab suci Al Quran banyak ditemukan kiat yang paten untuk urusan itu!" kata Muchsin yang jumpa MF ketika mengantar istrinya ke TVRI.

Urusan tersebut ungkap Muchsin memang urusan peningkatan servis batin kepada istri supaya istri puas. "Sungguh mati ini bukan soal porno. jadi layak saja bila di ketahui orang banyak. Masa memuaskan istri diranjang dibilang porno? Yang benar saja. Bahkan menurut Islam, hal itu wajib hukumnya. Dosa lho kalau kita tak mampu melayani istri!".

Ucapan Muchsin memang bukan cuma omongan muluk. Dia sendiri bisa membuktikan, pada tingkat usia sepuluh tahun lebih tua dari Titiek, Muchsin ttap galant dan perkasa. Akibatnya, rumah tangga mereka rukun-rukun saja hingga kini. 

Titiek bukan tidak pernah rewel atau merajuk. "Kalau istri kita begitu, kita harus tahu diri. Bujuk dia lalu rayu dan servis dengan gaya lain dari yang lain. Pasti sikapnya kembali baik. Itu saja rahasianya, " katanya setengah berbisik sebab Titiek baru saja selesai rekaman, muncul dan kemudian ikut nimbrung. ~sumber MF. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

Ada yang masih ingat film-film yang dibintangi mereka bersama?