Thursday, April 9, 2026

SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA

 


SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA (Kisah Lawas). Ketika Diah Permatasari teken kontrak, sudah pasti ia siap menjadi si Manis buat sinetron Si Manis Jembatan Ancol. Dalam kontrak, Diah harus berlakon sebanyak 6 episode. Atok Suharto yang dipercayakan Creativision Visual Arts Production begitu bersemangat untuk menyutradarai, karena ia yakin Diah benar pas melakoni tema horor buat tayangan RCTI. 

Begitu gebrakan pertama penayangan Si Manis Jembatan Ancol, kontan mendapat sambutan . Sebab sinetron seri yang diangkat dari legenda masyarakat Jakarta ini memiliki keunikan tersendiri. 

Seyogyanya penayangan si Manis pada akhir tahun 1992, karen apembuatannya baru 3 episode, pihak RCTI belum memberi jam siaran. Di akhir tahun 1992, Si Manis Jembatan Ancol opname kembali, tapi begitu suting akan dimulai, tiba-tiba Diah Permatasari membuat 'sentakan'. Ia tidak bersedia melanjutkan lakonnya sebagai Si Manis. Alasannya, akan bersekolah ke Amerika pada akhir tahun 1992. Atok Suharto langsung mencak-mencak. Bagaimana tidak, semua yang sudah direncanakan jadi berantakan. 

Seharusnya, Diah Permatasari harus berlakon dalam episode ke 4 (Rahasia Malam Pengantin), ke 5 (Terjerat Karma), dan ke 6 (Tragedi Di Balik Warisan). Suting sempat ditunda karena kasus Diah belum tuntas. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya Diah mau juga berlakon kembali dalam episode ke 4, itu pun hanya beberapa scene. 

"Untung dia masih mau, jadi kita bisa pasang akal. Sebelum Diah Permatasari keluar dari Si manis Jembatan Ancol kita sudah cari gantinya, " ujar Atok Suharto. Diah Permatasari digantikan oleh Poppy Farida, artis pendatang baru yagn tak kalah sensualnya.

"Caranya, sebelum digantikan kita buat scene dimana wajah Diah berubah menjadi wajahnya Poppy Farida. Secara total, Diah Permatasari hanya berlakon dalam tiga episode, sedangkan episode empat keatas Si Manis dilakoni oleh Poppy Farida. 

"Dalam kontraknya Diah bersedia main dalam enam episode, tapi karena katanya mau sekolah selama enam bulan di Amerika, ya kita tidak bisa memaksanya. Dan kami pun tidak mau ribut-ribut," kata Herry Topan selaku produser. 

Anehnya, pada medio Januari 1993 Diah masih berada di Jakarta. Tapi, biah Creativision Visual Arts Production tidak mempermasalahkannya. "Saya berangkat ke Amerika dalam beberapa hari ini," ujar Diah Permatasari. Sumber lain mengatakan, bahwa Diah sempat pula bersedia di potret oleh sebuah majalah remaja wanita. 

Sementara isyu lain mengatakan, Diah Permatasari bersedia kembali jadi Si Manis, tatkala melihat sukses sinetron komedi horor Si Manis Jembatan Ancol, ketika ditayangkan di layar RCTI, awal Januari 1993. "Tapi Si Manis sudah terlanjur diberikan kepada Poppy Farida, " kata sebuah sumber. 

Apa sesungguhnya yang kau inginkan Diah? Kalimat seperti itu setidaknya akan melintas di benak setiap pembaca berita tentang perilaku Diah Permatasari yang kurang simpatik. Tidak hanya terhadap kalangan pers, film, relasi tapi juga kawan-kawannya yang tahu persis bagaimana karakter Diah senenarnya. ~ selengkapnya dapat di baca di MF No. 171/138/Th.IV, 23 Jan - 5 Feb 1993 dengan judul artikel Diah Permatasari Kuntilanak Ancol yang Ingkar Janji

Wednesday, April 8, 2026

ARIE WIBOWO TAK MENYANGKA ILMU BELA DIRINYA BERMANFAAT


ARIE WIBOWO TAK MENYANGKA ILMU BELA DIRINYA BERMANFAAT (Kabar Lawas) Arie Wibowo, nama yang berkibar berkat lakonnya di drama eksyen Jacky dan kemudian di Perjalanan yang tayang di SCTV tiap Rabu malam tahun 1998, terlihat lincah menggerakan tubuhnya setiap kali ia melakukan adegan perkelahian. Sinetron eksyen ternyata makin mengukuhkan namanya sebagai aktor laga sukses setelah kembalinya ke drama seri lepas dari Jacky.

Sukses Ari di laga tentu tak lepas karena Ari punya dasar-dasar ilmu bela diri yang dimilikinya. Katanya, sejak tinggal di Jerman, ia sudah memperdalam ilmu karate bahkan Tae Kwon Donya sudah mencapai ban merah. 

"Dulu waktu masih SD memang suka latihan Karate untuk menyalurkan hobby dan sekaligus untuk jaga diri. Saya tidak nyangka kalau ilmu yang saya pelajari itu sekarang ada manfaatnya di dunia akting, khususnya yang bertema laga, " ujar adik kandung artis Ira Wibowo yang kini mendapat lawan main supermodel Tamara Blezynski. 

Walau sukses dengan adegan-adegan tarung dan tendangan, Ari  khusus untuk adegan salto perannya terpaksa digantikan orang lain. "Soalnya untuk melakukan salto saya memang nggak bisa, jadi terpaksa cari atlet yang bisa melakukan adegan itu, ' tutur Ari jujur. Selain tentu adegan tersebut beresiko cedera, yang bisa merusak skedul suting bila ada 'masalah' bila ia harus melakukannya sendiri. 

Ari juga mengaku, ketika melakukan adegan tarung, ia sering tergebug sungguhan, hingga bengkak atau lecet-lecet karena lawan mainnya sering memukul yang betul-betul susah dihindarinya, " itulah resiko main eksyen, " ujar Ari. 

Sebagai bintang eksyen Ari menyatakan, tuntutan utamanya adalah kondisi fisik yang selalu prima. Untuk itu ia selalu menjaga badannya dengan cara fitnes dan jogging, di sekitar rumahnya. 

Disinggung soal permainanya yang terlihat mesra dengan pengantin baru Tamara Blezynski, Ari mengaku tak kikuk melakukannya. "Yang saya lakukan biasa saja dan tidak berlebihan. Jadi, kenapa musti takut main dengan pengantin baru, ha ha ha, " kata ari. 

Baik resiko bengkak-bengkak , lecet maupun resiko senang , bermesraan dengan Tamara, diambil dan dilakukan oleh Ari, tentulah untuk menyenangkan peononton dan penggemarnya. ~MF 308/274/XIV, 4-17 April 1998

Tuesday, April 7, 2026

PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA


 PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA (Kabar Lawas). Sejak Perfilman dilanda lesu darah, sejak itu pula S Parya, penata artistik dan spesial effect ini, tak mendapatkan job. Kalaupun ada tantangannya tak berarti. Begitu ia dinyatakan terlibat sebagai penata artistik dalam sinetron miniseri Gema dari Kaki Gunung, semngatatnya bercahaya kembali. 

Sebagai orang Sunda, ia berbicara kultur Batak lewat visualisasi penata artistik. Katanya, tantangan ini belum ditemukanya dalam film komersial. Sinetron miniseri garapan Matnoor Tindaon total bicara soal kultur Batak. "Jadi kultur Batak bukan sebuah tempelan. Melainkan harus hidup seiring perjalanan ceritanya, " kata penata artistik yang telah berkutat di film sejak lama. 

"Terus terang saja, lewat sinetron kita banyak dihadapkan dengan tantangan berbagai budaya. Namun, saya sedikit sedih banyak sutradara selalu bervisual dengan gambar-gambar besar," ujarnya. Padahal katanya, penata artistik tidak akan berarti bila 80% visual dengan gambar-gambar besar. "Kalau semua gambar besar, kapan kesempatan penata artistik mengembangkan kemampuannya? Dan bukan itu saja cerita akan jadi semacam reportase. Maka, pada prinsipnya artistik film maupun sinetron sama saja"

S. Parya datang ke sinetron dengan konsep filmis. Sentuhan budaya karakter tokoh harus hadir dalam artistik. Ia juga mengakui banyak sinetron digarap tanpa memiliki karakter budaya yang jelas. Lebih ekstrimnya, kultur dihadirkan dengan eksen dan kostum semata. 

"Selalu saja penggarapan sinetron menganggap tv dengan frame kecil. Dan lewat sinetron Gema Dari Kaki Gunung cukup kerja keras. Sebelum membikin artistik, saya banyak bicara dengan orang Batak. Sebab apa? Kalau saya salah menempatkan artistik orang akan tertawa. Bekerja tanpa riset, " katanya. 

"Cukup Banyak sutradara membikin sinetron dengan menjual bintangnya, bukan sinetron secara keseluruhan, apakah itu artistik, gambar ataupun ceritanya, " paparnya. ~sumber : MF No. 179/146/Th IV 15-28 Mei 1993

*sebagai informasi, selain ikut bermain dalam beberapa film, S Parya juga penah meraih penghargaan pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 1981 , Piala PLKJ untuk tekhnik pembuatan special effect dalam kondisi teknologi film dalam film "Ratu Pantai Selatan"..

Monday, April 6, 2026

CORRY CONSTANTIA


CORRY CONSTANTIA, SALAH SATU PASANGAN FILM BARRY PRIMA. (Berita Lawas). Ada Conny Constantia biduanita berdarah Kawanua yang juga main film, ada pula Corry Constantia. Bukan saudara bukan sanak kendati nama mereka nyaris sama. Sedangkan wajahnya sepintas kilas rada mirip dengan si seksi Ranieta Manopo. 

Menilik namanya memang Corry juga berasal dari sana. "Saya boleh dibilang kombinasi Palembang-Manado. Ayah saya Naing Junaidi asli Palembang, sedangkan ibu Irna Constantin dari Manado ia sendiri dilahirkan di Palembang pada tanggal 17 April 1968, sebagai si bungsu dari empat bersaudara. 

"Sebenarnya nama lengkap saya Mis Corry Constantia, ujar pendatang baru dalam film silat erotis Selir Sriti ini. 

"Dibilang baru sekali juga kurang benar, " tukasnya. "Habis dulu saya sudah pernah juga ikutan main film. Antara lain dalam drama menyentuh Bila Saatnya Tiba arahan Eduart Pesta Sirait yang dibintangi Christine Hakim, Deddy Mizwar dan Ria Irawan, lalu film laga Preman arahan Torro Margens yang dibintangi oleh Barry Prima dan Ayu Azhari. 

"Saya main film itu waktu masih duduk di bangku kelas 3 SMEA PGRI, kira-kira pada tahun 1985," kenangnya. 

Sesudah lulus sekolah, pernah timbul hasrat untuk terus main film. Namun keburu bekerja memegang pembukuan sebuah Firma Taiwan yang buka cabang di Jakarta. Kesibukan disini ditambah pacarnya tak menghendakinya main film lagi, membuat ia menjaui dunia film. 

Ternyata kemesraan dengan sang pacar tak bermuara ke pelaminan sebagaimana diharapkan, kendati hubungan mereka terjalin sekitar lima tahun. Perpisahan yang menyakitkan membuat Corry patah hati. Maka iapun memutuskan untuk main film lagi. Kebetulan bertemu Ronny Burnama, produser pelaksana dari PT. Virgo Putra Film yang tengah menyiapkan pembuatan Selir 2 alias Selir Sriti dengan sutradara Tommy Burnama. 

"Ronny sudah mengenal saya, hingga langsung menawarkan peran sebagai ibu Selir Sriti yagn di perankan oleh Lela Anggraini, " tutur COrry. "Disini diselipkan adegan saya merayu Sang Prabu Sepuh dengan tujuan ingin membunuhnya. Wah pokoknya seru deh."

Corry memaklumi, ia harus merangkak dari bawah kembali untuk mencapai kepopuleran sebagai bintang. "Biar sekarang jadi pembantu dulu, tapi lambat laun saya ingin maju. Itu sebabnya saya bersedia bermain sebagai apa saja dalam film apapun, juga sinetron atau iklan." ~MF No. 182/149/Th IV. 26 Juni - 9 Juli 1993

Selain di film tersebut diatas , Corry Constantia juga bermain bersama dengan Barry Prima dalam film Pedang Ulung dan Jurus Dewa Kobra (Rawing 3)

SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI


SUTING SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI! Sejak Senja, Elly Ermawatie dan Murti Sari Dewi sudah bermake up dibantu oleh kru rias. Lepas magrib keduanya belum juga usai 'mempermak' wajah. Kru film telah siap untuk bekerja. Penata lampu telah pula menarik kabel dan menempatkan lampu-lampu di depan dan di belakang set rumah, yang berlokasi di Kebon Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. 

Kamerawan, Tantra Suryadi lama duduk santai sendiri disebuah kursi, merenung, memperhatikan kru yang bekerja dan artis yagn pasa make-up. Matanya sesekali memperhatikan sekeliling halaman rumah, tentulah yang dipikirkan dimana dan bagaimana ia memantek kameranya. Om Tan, demikian panggilan akrabnya seorang ssok yang tak banyak omong. 

"Mas Torro mana?,' tanya seorang kru kepada rekannya. 

"Dia lagi dubbing, barangkali ia tak muncul, " kata seorang kru menjawab sekenanya. 

"Lantas siapa yang menyutradarai?".

"Eddy Jonathan, kan hari ini pengambilan gambar cuma adegan perkelahian. Biasakan, kalau film action, dimanapun seorang instruktur kelahi semacam bung Eddy Jonathan, biasa untuk menyutradrai, " lajut seorang kru muda menjelaskan setelah mengumpulkan gelas-gelas agn berserakan, iapun berlalu. 

Meski semangat kru untuk bekerja masih prima, namun nampak di wajah mereka keletihan dan rasa jenuh. Sebab, nyaris selama dua minggu berturut-tutur suting selepas Magrib sampai azan Subuh menggema, mengusik sepinya pagi. 

Ketika semua kru sudah siap, Elly Ermawatie dan Murtisari Dewi belum juga usai di make up. Beberapa kru datang untuk membantu, supaya kedua artis tersebut cepat 'mempermak' wajahnya. 

"Mas, kostum Saur Sepuh V, jauh berbeda dengan Kostum saur sepuh sebelumnya. Kalau saur sepuh terdahulu, garis Jawanya begitu kentara. Sekarang, sedikit agak ke Bali Balian " ujar seorang kru dari departemen artistik.

Memang terasa sekali perbedaan kostum Saur Sepuh V dengan Saur Sepuh sebelumnya. Kalau dahulu, dengan kombinasi hijau dan kuning keemasan membuat kostum terkesan mewah, layaknya pembesar-pembesar Istana Tempoe Doeloe. Kostum saur sepuh V, dirancang khusus oleh seorang designer. 

Sebagai Designer, Nelwan Anwar mencoba merombak tradisi, bahwa setiap film action klasik tidak mesti seperti kostum sandiwara rakyat: Wayang Orang. Pemilihan warna yang lembut, membuat pemain saur sepuh V, bila berada di interior seperti tenggelam dengan warna latar belakang. Sebab, setiap rumah tradisional Jawa warna catnya selalu rada gelap, bahkan sering memakai warna coklat.

Atribut yang dipakai Mantili dan Lasmini maupun para pembesar Madangkara terasa aneh, begitu apik sehingga terkesan bahwa kostum jaman sekarang yang disulap menjadi kostum jaman Madangkara. Karena kostum yang rada jelimet itu, sehingga membuat artis untuk berdandan bisa menelan waktu dua sampai tiga jam. 

Menjelang Isya, barulah suting dimulai, adegan malam itu hanya mengambil adegan perkelahian. Sebagai sutradara, Torro Margens memang tak perluh hadir. Eddy Jonathan, selaku instruktur perkelahian begitu teliti memilih shot demi shot. 

"Suting ini memakan waktu tiga bulan penuh. Kita mulai dari bulan Desember 1992 dan usai bulan Februari 1993. Film ini dibikin untuk diedarkan pada saat lebaran 1993. Mau tidak mau film nini harus selesai sesuai target, " ujar Khisore, selaku produser pelaksana. 

Menengok proses dubbing saur Sepuh V di studio Perfini, pada tanggal 12 Januari, kelihatan Torro Margens lagi sibuk mengatur emosi suara dubber supaya sesuai engan emosi gambar. Karena suting dan dubbing berjalan seiring, matu tidak mau artis yang mendub suaranya sendiri, harus ekstra kerja keras. 

"Saya ketika pulagn suting pagi hari paling banyak hanya tidur satu atau dua jam, setelah itu saya harus berada di studio Perfini, untuk mendub suara sendiri, ' kata Elly Ermawati, ketika break dubbing. 

Torro Margens mengakui bahwa film garapannya ini mencoba merombak tradisi yang telah baku. Maksudnya, supaya zaman "keemasan" tema tema action klasik supaya pulih kembali seperti di tahun 1990 dan 1992. 

"Kira kira begini hitungan kasarnya. 60% dramatik, 30% action dan trik filmnya 10%. Dengan kita seperti ini, saya mencoba menjelaskannya. Tentu dengan kembalinya kepercayaan penonton terhadap film nasional, sudahlah pasti, perfilman nasional akan bangkit kembali, begitulah harapan saya ketika awal menggarap film ini, " ujarnya.

Film produksi PT. Elang Perkasa Film ini dihiasi oleh taburan bintang seperti Fendy Pradana, Elly Ermawatie, Murti Sari Dewi, Candy Satrio, Hans Wanaghi, Fitria Anwar, Baron Hermanto, Agus Kuncoro, dan Golden Kasmara. Dengan kru Torro Margens sebagai sutradara, Dellsy Sjamsumar penata artistik dan Kamerawan Tantra Suryadi. 

Anggaran produksi film Saur Sepuh V bisa menelan 500 juta. Dengan hadirnya bintang-bintang spesialis film laga yang cukup beken, diperkirakan akan menghasilkan rupiah yang lumayan. 

Waktu produksi Saur Sepuh IV masih di sutradarai Imam Tantowi dan masih di pegang PT. Kanta Indah Film, sang sutradara pernah meminta supaya Elly ermawatie, Murtisari Dewi dan Fendy Pradana ikut nimbrung, tapi pihak produser menolaknya. Anehnya ketika Saur Sepuh V dipegang Torro Margens, ketiga artis tersebut sang produser memintanya.~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993

Nah ini nih, di alinea terakhir. andai saur sepuh IV mereka tetap dilibatkan bisa jadi ceritanya jadi lain kan, kan jeblok




Sunday, April 5, 2026

ANWAR FUADY

 


ANWAR FUADY, (Berita Lawas). "Kalau aku tidak meninggalkan Palembang tahun 60an, barangkali aku akan jadi bajingan tengik," kalimat ini meluncur spontan dari mulut Anwar Fuady. Masa remajanya penuh dengan liku-liku kenakalan. Saban Minggu, minimal sekali ia baku hantam. Tak jarang pula mukanya pulang ke rumah memar dan bengkak-bengkak. 

"Aku punya bakat jadi ba jingan, itu kata kawan-kawan sepermainan. Setelah aku merenung, lalu aku putuskan preman bukan bidangku, dan akupun hengkang ke Jakarta, " ujarnya. Dengan modal apa adanya, lelaki kelahiran Palembang, 14 Maret 1947 ini cari nasib ke ibukota. Perjalanannya tak mulus, ia sempat terlunta-lunta. Katanya, ia tanpa sanak saudara di Tanah betawi. Modalnya hanya semangat dan keyakinan. 

Langkahnya yang terseok-seok itu, membuatnya berani bertarung apa saja. yang penting perut selamat. Kenyataan itu membuatnya menggelandang di Terminal Tanah Abang. "Karena itu aku pernah berumah di terminal, bergaul dengan para bromocorah, " kenangnya.

Rupanya begitu sampai di Jakarta, niatnya hanya satu, ingin jadi bintang film. Ingin jadi terkenal. Namun keinginannya tak cepat terkabul. Meski punya niat, namun nyali masih juga ciut berhadapan dengan bintang film, apalagi produser. 

"Apa saja aku kerjakan untuk cari hidup, " katanya. Berangkat dari kelas paling bawah tidak membuat Anwar Fuady minder. Malahan semangatnya semakin membara. "Aku mengikuti beberapa kursus-kursus dan kegiatan apa saja. Langkah untuk masuk kesini peran belum juga terkuak. Tapi keinginan itu terus membara,".

Sejak SD ia telah gemar menonton, kebetulan rumahnya sangat dekat dengan bioskop. Sehingga hampir semua film Barat tak luput dilahapnya. "Waktu itu anak-anak dibawah umur 17 tahun dilarang menonton, karena tidak cukup umur. Aku tidak habis akal. Penjaga bioskop aku ajak main mata. Supaya aku bisa lolos masuk setiap nonton penjaga karcis kuberikan tip. Kalau sudah pulang dari nonotn, maka lagakkupun tak ubahnya seperti bintang film yang baru aku saksikan, " katanya dengan tertawa. Gila nonton membuatnya bercita-cita jadi bintang film. 

Sampai tahun 70, film belum memberikan nafas, iapun menyelonong ke tv. Dari layar kaca debutnya dimulai. Tahun 1978 beneranya seni peran mulai berkibar. Sampai sekarang ia telah membintangi puluhan sinetron. Melihat kemampuannya di seni peran, sutradara Bahcrum Halilintar memasangnya untuk film "Mendung tak selamanya kelabu (1982), menyusul kemudian film-film Sunan Kalijaga (1983), Syech Siti Jenar (1983), Merangkul Langit (1985), Arini (1986), Ayu dan Ayu (1987), Suami (1988) , Lupus V (1991) dan Kuberikan Segalanya (1992).

"Film hanya bisa top atau populer, namun tak menjanjikan apa-apa untuk masa depan. Maka, bagi aku seni peran hanya sampingan, semacam hobby. Prioritas utama adalah bekerja," katanya. Cukup banyak tawaran main film yang ditolaknya. Adanya yang memberikan honor yang menggiurkan, namun harus beradegan ranjang. "Meski aku begini, untuk menerima peran harus pilih-pilih. Berapa jutapun dibayar kalau beradegan ranjang aku pasti tolak. Aku punya anak bini, dan kita ini orang timur, hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi masalah besar. 

Mantan koordinator artis Parfi periode 83/86 dan periode 86/89 ini sempat menjadi Corporate Secretary di PT. Mas Ayu dan Kiagoes. Ia juga menjadi staff direksi sebuah perusahaan kontraktor Elektoroni. Karena kesibukannya di kantor membuat Sanggar Gending Sriwijaya, pimpinannya ikut terlunta-lunta. Padahal sanggar pimpinannya nyaris sebulan dua kali tampil di TVRI, baik membawakan fragmen maupun drama televisi. ~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993


Saturday, April 4, 2026

AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM

 


AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM, (Berita Lawas). Warung Tegal (Warteg) sangat berarti bagi Agus Kuncoro. Tidak hanya tempat makan murah meriah (dulu ya hehe kalau skg kayaknya mahal juga), juga tempat beranjak ke profesi baru. Yang tidak pernah diimpikan , yakni menjadi artis film. Ketika itu, lelaki kelahiran 11 Agustus 1972 ini bersama teman sekampusnya, Fak Seni Rupa IKJ makan dan obrol seni di warteg TIM (Taman Ismail Marzuki). Tanpa diketahui, Bambang Subeno soerang unit film Saur Sepuh 4 episode TItisan Darah Biru mengamati gerak geriknya. Merasa Cocok, Bambang Subeno menghampirinya. Lalu menawarkan main film, Agus hanya tertawa mendengarnya. 

"Tak menduga sama sekali,saya pikir cuma bcanda, dan tak menanggapinya, " kata pemuda blasteran Jawa-Madura ini. Segera Bambang Subeno melapor kepada Imam Tantowi dan segera meng ok kan. 

"Setelah teken kontrak baru yakin bahwa akan main film," ujarnya bangga. Sebelumnya pemilik tinggi 170 cm dan berat 52 ini hanya berkutat di bidang seni rupa. Tujuannya masuk IKJ, menjadi desainer interior. Justeru itu, Agus tidak mengenal akting. "Mau tidak mau harus belajar akting, " Perannya di film Saur Sepuh cukup berarti, melakoni Wana pati, generasi ketiga(kedua bukannya ya..)dinasti "Madangkara". Karena itu, Agus tidak cuma mengandalkan adegan laga, tapi juga kemampuan penghayatan peran. Sungguh berat memang bila buta akting disodorkan peran agak rumit. "Tapi belajar kilat dengan kru film. Mas Imam Tantowi banyak memberikan pengarahan kepada saya. Ini sangat berarti sekali sebagai artis baru," kilahnya merendah. 

Agus akan melejit menjadi jagoan Saur Sepuh, namun belum menemukan harapannya di film. Baginya, ladang film masih sebuah mimpi. Harapan belum bisa digantungkan sepenuhnya. Ini membuat lebih mencinai sebi rupa dan menggantungkan harapan. "Saya masih muda. Belum dapat memilih terbaik. Tapi, bagaimanapun akan tetap eksis di study saya, fak seni rupa IKJ, kata anak ke 4 dari 5 bersaudara ini yakin. 

Setelah berkenalan dengan akting jalan pikiran Agus seketika berubah, yakni ingin seni rupa dan seni peran berjalan berdampingan. "Seni rupa untuk masa depan, seni peran untuk cari uang".

Namun pemuda berbintang Leo ini juga berharap banyak akan meraih sukses di seni peran. Selain saingan menumpuk, sadar bahwa kemampuan akting masih terbatas. "Kalau dipikir-pikir, antara seni rupa dan seni peran tidak jauh beda Sama-sama penghayatan. Hanya visualnya yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa seni peran itu gampang. "

Untuk mencapai akting maksimal, disela-sela suting, Agus selalu 'bertapa' dengan skenario. Membolak baliknya, dan menterjemahkannya sendiri tentang karakter yang dilakoni. Jiwanya juga berharap, lewat Saur Sepuh dia bisa menggebrak perfilman. Dan menjadikannya sebagai artis muda berbakat, selain artis-artis muda yang telah kadung ngetop, meski kehadiran didunia peran lewat keberuntungan nangkring di warteg. ~MF 127/94 Tahun VII, 11-24 Mei 1991

Friday, April 3, 2026

HERBY LATUPERISA


 HERBY LATUPERISSA, DIHAJAR ARI WIBOWO! (Berita Lawas). Ingin tahu siapa yang menjadikan Ari Wibowo, tokoh jagoan Jacky, bisa ilmu bela diri Tae Kwon Do? Inilah orangnya, Herby Latuperissa, pelanggan adegan-adegan berbahaya dalam film dan sinetron laga. Ketika jadi pelatih Tae Kwon Do di Universitas Trisakti, Ari Wibowo adalah salah seorang muridnya. Kini, antara murid dengan guru saling bermusuha, tentunya sebatas dalam cerita sinetron Deru Debu dan Jacky. 

Herby, penyandang DAN III Internasional Tae Kwon Do, memang jauh dari publikasi. Padahal perannya sangat besar dalam film dan sinetron laga. Bahkan, Film Macho I, hampir semua adegan perkelahian Barry Prima, dia yang melakukan. "Barry hanya melakukan dialognya saja, " kata Herby. 

Mantan juara Nasional kelas welter Tae Kwon Do tahun 1978 hingga 1991 ini, adalah salah seorang atlet nasional, seperti Lamting dan Joseph Hungan. "Lamting dari Jawa Barat, Joseph dari Jawa Tengah dan saya dariJakarta, " ujar Herby. Sekarang , disamping terus main, pelanggan tokoh antagonis, Herby jadi pelatih di berbagai tempat seperti di Universitas Tarumanegara, Trisakti dan instansi perkantoran. "karena terlalu banyak, bsiasanya saya percayakan pada asisten, ' katanya. 

Seperti juga Tanaka, Herby selalu harus puas dengan peran-peran tambahan, tapi adegannya beresiko tinggi. Puluhan film sudah diikutinya, puluhan kali pul akakinya retak, minimal keseleo. "Pengobatan terapi sudah langganan saya, " kata Herby. 

Herby sedikitpun tidak merasa risih, tatkala harus bertekuk lutut dihajar Ari Wibowo muridnya sendiri. Bahkan dia rela mengorbankan diri, terjatuh dalam posisi sulit tatkala Ari Wibowo melakukan kesalahan. Dalam sebuah scene, Herby harus melakukan tendangan putar di udara sebanyak 3 kali. Untuk menghindari pukulan telak ke wajah Ari, diingatkan agar Ari sedikit menghindar. 

"Tapi ketika itu saya lakukan entah kenapa Ari hanya berdiam diri saja. Saya cepat ambil inisiatif, tidak jadi menendang. Sebab bila saya tendang dengan kekuatan penuh, saya nggak bisa bayangkan, bagaimana resiko yang bakal dialaminya. Ketimbang berakibat fatal buat Ari mendingan saya keseleo, karena jatuh dalam suasana kurang kontrol. Akibatnya persendian kaki saya bergeser," tutur Herby yang juga main dalam sinetron Singgasana Brama Kumbara dan Kaca Benggala. ~257/223/XII/20Apr - 3 Mei 1996