Wednesday, April 15, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


EDWARD PESTA SIRAIT : Sebelum terjun didunia film, Edo (Panggilan akrabnya) pernah menjadi asisten Show Manager Sarinah, bekerja di Miraca Sky Club (1967-1970).

Kemudian setelah 4 tahun belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) ia mengikuti Kinoworkshop (1973), Edo, yang putra Batak itu dilahirkan di Siraituruk, Tapanuli 7 Agustus 1942. 

Memulai  karirnya di dunia film sebagai pembantu Sutradara sejak 1966 untuk film-film dokumenter, disamping sebagai pembantu editor dan sutradara film-film iklan pada perusahaan Ariza Jaya Flm. Film-filmnya ketika masih jadi pembantu sutradara antara lain : Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974), dan Malin Kundang (1973). Sedangkan karyanya yang pertama sebagai sutradara penuh adalah film "Chicha" (1976). Film tersebut mendapat penghargaan pada Festival Film Kairo (1977). 

Karya-karyanya kemudian menyusul berturut-tutur diantaranya "Sang Guru", Manis-manis Sombong, Gadis Penakluk dan Bukan Istri Pilihan dan sebagainya. 

Dalam film "Gadis Penakluk" Edward menempatkan namanya pada deretan Sutradara Muda berbakat dan banyak jadi perhatian oleh kalangan insan perfilman dan para kritisi film. Dalam film tersebut Edward Pesta Sirait meraih dua buah Piala "Citra" FFI 1981 di Surabaya untuk Ita Mustafa Pemeran Pembantu Wanita Terbaik dan Parakitri Tahi Simbolon untuk Penulis Skenario Terbaik. 

Sedang yang masuk dalam deretan unggulan (nominasi) : Edward Pesta Sirait untuk Sutradara Terbaik (Gadis Penakluk), Norman Benny (Editor) dan Adi Kurdi (Pemeran Utama Pria). Dalam Festival Film Indonesia 1982 di Jakarta, Edo berhasil mengikutsertakan dua buah filmnya : "Bukan Istri Prilihannya" dan "Sang Guru" . Dari kedua film tersebut beberapa diantaranya masuk dalam deretan unggulan antara lain Edo sendiri Sutradara - untuk filmnya "bukan Istri Pilihan" dan beberapa lagi yang lainnya. 

WD MOCHTAR


 WAGINO DACHRIN MOCHTAR atau WD Mochtar adalah aktor Indonesia yang lahir di Pontianak, 9 Mei 1928. 

Dalam Bidang kesenian ia mula mula dikenal dikalangan terbatas sewaktu bergabung dengan suatu kesatuan tentara Jepang antara tahun 1942 - 1945 di Pontianak Kalbar. Dalam kesatuan itu ia suka tampil sebagai penyanyi dan penari. Tahun 1946 ia hijrah ke Jawa dan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Karawang, lalu hijrah ke Yogyakarta dan bergerilya di Jawa Barat. 

Keluar dari ketentaraan selepas peralihan kekuasaan, ia langsung terlibat dalam film  "Tirtonadi" 1950 kemudian sampai tahun 1955 ia menjadi pemain tetap  studio Tan & Wong Bross yang kemudian berganti nama jadi Cenderawasih Film. Namanya kemudian beberapa tahun tengelam di dunia perfilman waktu itu antara 1955-1956, baru muncul lagi pada tahun 1960 lewat film "Badai Selatan" lewat tangan sutradara Sofia Waldy yang kemudian menjadi istrinya (Sofia WD). Mengisi kegiatan dari masa kosong pembuatan film, WD Mochtar bersama istrinya mendirikan "Libra Music Al Show" yang menyelenggarakan pertunjukkan ke berbagai pelosok tanah air. 

Memasuki era film berwarna ia mulai banyak tampil lagi seperti di film "Macan Kemayoran" 1965.Namanya tiba-tiba melambung berkat permainannya yang bagus, sejak saat itu ia mulai bermain di film film  yang disutradarai Wim Umboh. 

Berkat permainannya di film "Sanrego" ia dinobatkan sebagai The Best Actor dalam pemilihan Best actor/actress PWI Jaya pada tahun 1971. Film-film berikutnya : Pengantin Remaja, Melawan Badai, Tokoh, Mama, Badai, Petualang-petualang, Krakatau, Si Ayub, yuyun, Jaka Sembung dan Juga Ratu Ilmu Hitam. 

Pada tahun 1980 ia masuk Nominasi dalam FFI sebagai peran utama dalam film Yuyun garapan Arifin C Noer dan dalam FFI 1982 juga menjadi nominasi dalam sebagai peran pembantu terbaik dalam film "Ratu Ilmu Hitam"

Telah puluhan film yang dibintangi oleh WD Mochtar. Bermain bagus dalam film Lara Jonggrang dan Roro Mendut dan juga film-film lainnya termasuk beberapa kali bermain dalam film yang dibintangi Rhoma Irama. Kerap bermain antagonis meski juga bermain protagonis.

WD Mochtar tutup usia pada 13 Desember 1997 .

#wdmochtar #aktorindonesia

Sumber buku ffi 83

MENGENANG DHALIA, AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA


DHALIA,  AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA, Menjelang Idul Fitri 1941 H tepatnya Minggu, 14 April 1991, Dhalia tutup usia. Aktris kelahiran Medan 10 Februari 1927 itu erat berkait dengan sejarah Festival Film Indonesia. Dialah Aktris Utama Terbaik Festival Film Indonesia yang pertama (1955) dalam film Lewat Djam Malam (LDM).

Dalam LDM itu juga terpilih aktor utama A.N. Alcaff serta 2 aktor pembantu, Awaludin dan Bambang Hemanto. Film terbaik adalah LDM yang disutradarai Usmar Ismail. Tapi yang terpilih sebagai sutradara terbaik adalah Lilik Sudjio dalam Tarmina.

Pada Festival pertama itu muncul pemenang ganda untuk aktor utama dan aktris utama. Selain Dhalia dan Alcaff, terpilih pula Fifi Young dan A. Hadi dalam Tarmina. Film ini juga menghasilkan aktris pembantu terbaik, Endang Kusdiningsih. Diantara pemenang lain terdapat Harimau Tjampa untuk skenario. 

Festival dimaksud untuk memasyarakatkan film nasional, yang saat itu sedang tergencet oleh film-film impor. Bioskop-bioskop kelas satu terutama dikota-kota besar di dominasi produksi Holywood. Film Indonesia diputar hanya di bioskop kelas dua. Tapi disitu pula di putar film-film Malaya (Malaysia) dan India yang ternyata lebih disenangi publik. 

Usmar, bersama Djamaluddin Malik ikut dalam pembentukan Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA) di Manila, November 1953. Diantara usaha FPA adalah menyelnggarakan festival regional. Mulai tahun 1954 Tokyo, Jepang, tapi Indonesia belum sempat berpartisipasi. 

Ketika Festival Film Asia (Tenggara) diadakan di Singapura tahun 1955, maka tampillah Indonesia dengan film-film pilihan dari festival. Termasuk LDM dan Harimau Tjampa, yang dibintangutamai Bambang Hermanto dan Nurnaningsih. Harimau Tjampa berhasil meraih piala untuk ilustrasi musik terbaik. Kemenangan Indonesia pertama dalam Festival antar Bangsa. 

Mulai 1957 kata "Tenggara" dibuang di ganti Festival Film Asia (FFA), Festival 1955 ternyata tak dapat berlangsung setiap tahun. Baru terselenggara lagi 5 tahun kemudian, 1960 kembali tak ada Festival. keramian serupa itu muncul pada 1967, disebut Pekan Apresiasi Film Indonesia. 

Yang berkesinambungan terselenggara sejak 1973 , Festival Film Indonesia (FFI), Pelopor festival 1956, telah meninggal dunia, Djamaludin Malik (1970), dan Usmar Ismail (1971). Begitu pula dengan A Hadi (1971), dan Fifi Young (1975). Disusul oleh Awaludin kelahiran Padang 11 November 1916 pada 24 Februari 1980 di Jakarta. 

A.N Alcaff lahir di Jambi pada 17 Agustus 1925, main pertama kali dalam produksi Perfini, dosa Tak Berampun (1951), Menyusul Embun 1951, LDM 1954, Serta Mendung Sendja Hari (1960), Apa Jang Kau Tngisi (1965), dan Krakatau - 1977 , Intan Perawan Kubu 1972.Alcaff meninggal dunia di Jakarta pada 22 Desember 1987.

Bambang Hermanto juga menorehkan prestasi di usia senja, terpilih sebagai aktor pembantu terbaik pada FFI 1984 lewat film Ponirah Terpidana. Sebelum itu, Dhalia cuma masuk nominasi sebagai aktris pembantu masing-masing dalam Usia 18 pada FFi 1981 dan Bukan Isteri Pilihan pada FFI 1981.

Melanjutkan tradisi keluarga, Miss Intan (Ibu) adalah primadona sebuah rombongan sandiwara, Dhalia memulai karir seninya juga diatas pentas. Kemudian terjun pula ke dunia film, melalui Pantjawarna (40) dan Moestika dari Djenar (41). Dimasa pendudukan Jepang, selain main sandiwara, juga tampil dalam film Berdjoang (44) lalu ke panggung dan kembali ke film mulai Sangkar Emas tahun 1952.

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET

 


DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET, (Kabar lawas), Memasuki bulan Februari 1991, suting film "Saur Sepuh IV" dengan episode "Titisan Darah Biru" berlangsung di hutan belantara di Pangandara, Jawa Barat. Suting yang berlangsung siang dan malam didaerah cagar alam tersebut sungguh mengasyikan, selain Kijang, Banteng serta berbagai jenis burung, hidup pula segerombolan monyet, jumlahnya ribuan ekor dan memang binatang ini paling dominan. 

Awalnya, bergaul dengan monyet-monyet itu cukup menyenangkan, mereka lucu-lucu dan bisa diajak bercanda. Tapi akibatnya monyet-monyet tersebut berani usil. Dasar monyet nakalnya pun timbul kendati para kru Saur Sepuh IV sudah ngajak "berdamai".

Udara yang cukup panas membuat para kru kegerahan, makin siang yang disiapkan ibu Ita dan bagian konsumsi sudah tersedia, tapi kru tetap menunggu aba-aba break dari sutradara Imam Tantowi. Begitu Imam teriak "break" para kru langsung menyerbu sayur asem yang masih ngebul itu. Sial, begitu penutup panci besar sayur asem dibuka, mengujur air dari atas pohon, posisinya tetpat masuk ke panci. Usut punya usut, si monyet badung yang kencing. Pantas, nggak ada hujan kok ada air ngucur dari atas, maka terpaksalah sayur asem satu panci besar di buang. Dasar Monyet. 

Ulah monyet-monyet hutan lindung memang sudah kelewatan, bangunan, pertapaan Brama jadi sasaran. Kerja keras art Delsy berantakan, atap-atap bangunan dan bahan karen hitam mungkin disangka codot. Akibatnya begitu hujan turun bangunan kebanjiran sebab atapnya bocor....!.

Imam Tantowi sang sutradara dan William Samara - Kameraman penasara dengan ulah si monyet yang brutal. Tiap hari ada saja yang diambil, bila tidak gelas, piring ya peralatan lain, bahkan seringkali mengecohkan para kru, piringnya yang 'dicuri' itu dilempar dari atas dan pecah. Untuk menakut-nakuti para monyet, mereka membuat ketapel alias jepretan terbuat dari karet gelang. Maka mulailah perang melawan gerombolan monyet. Memang buat menakut-nakuti monyet kecil mereka berhasil tapi giliran monyet besar..justru sebaliknya monyet yang sebesar manusia itu balik menyerang. William yang semula gagah berani, jadi sasaran. Dia di kejar-kejar William kalang kabut menyelamatkan diri. "Busyet, ngeri gua habis yang nyerang dedengkotnya," kata William dengan nafas masih tersengal-sengal. 

Partisipasi masyarakat Pangandaran dan sekitarnya untuk pembuatan film Saur Sepuh IV ini cukup besar. Hampir setiap hari mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan suting, tak peduli siang ataupun malam, panas terik ataupun hujan. Bukan cuma para pejalan kaki, tapi yang naik mobil omprengan atau berkendaraan motor cukup banyak. Bahkan dengan truk mereka datang dari Bandung, Ciamis dan Tasikmalaya. Untungnya pihak keamanan dari Koramil dan Polsek setempat cukup tanggap sehingga suting tetap berjalan lancar. 

Yang menarik masyarakat rupanya Istana yang dibangun si Badrun dan stafnya. Karang Tirta yang biasa-biasa saja diubah menjadi bangunan Keputren, ada tamannya, ada bangunan desa Madangkara serta tembok istana setinggi 6 meter, bahkan gapura raksasa setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Persis ketika zaman baheula, ini rupanya yang menarik minat masyarakat. 

Maka, sekejap Karang Tirta berubah menjadi seperti pasar malam. Banyak pedagang bergelar, mulai dari tukang rokok, bakso, buah-buahan bahkan warung nasipun ada.

Puncak dari lubernya masyarakat terjadi tanggal 23 Maret yaitu ketika terjadi pertarungan antara Bentar dan Dewi Harnum melawan dua iblis kecil yang diperankanoleh Wartono dan Mamat. Dua iblis ini dimodifikasi oleh El Badrun dan Delsy Sjamsyumar menjadi makhluk siluman, wajahnya hijau dan merah menyeramkan. Ketika terjadi pertarungan tak sedikit orang yang menjerit ngeri. Yang paling parah lagi, ada bocah yang saking takutnya akhirnya sawan, pingsan dan terpaksa dibawa ke Puskesmas. 

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

Sunday, April 12, 2026

DALANG DALANG SAUR SEPUH


DALANG DALANG SAUR SEPUH, Film memang kerja kolektif. Tidak seorangpun berhak mengklaim diri sebagai yang paling berperan dalam proses pembuatannya. Catatan kecil tentang 3 dalang saur sepuh ini sekedar memperlihatkan posisi mereka pada peta perfilman nasional. 

Imam Tantowi, Sutradara kelahiran Tegal, patut untuk disebut "dalang" film-film laga handal. Ketika mam Tantowi dipercaya PT Kanta Indah Film untuk mengangkat cerita fiktif berlatar belakang kerajaan Majapahit itu, capaian penontonnya diatas capaian penonton film Indonesia lain, Malah melebihi jumlah penonton film impor kala itu. 

Ia sutradara keras, Menumpas Teroris, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh juga Soerabaia 45, menempatkan film tersebut dalam daftar film nominasi festival film Indonesia. Malah Soerabaia 45 memberikan Piala Citra kedua dalam karier Towi. Sutradara ini juga dikenal sebagai penulis skenario. Si Badung, memberkan Piala CItra buatnya dalam kapasitas sebagai penulis skenario. 

Torro Margens, dalam Istana Atap Langit, lebih dulu dikenal sebagai pemain teater handal. Dia, pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival teater se DKI, Sanggar Prakarya yang dipimpinnya, berulangkali muncul sebagai grup terbaik dalam festival teater SLTA di Jakarta. 

Sebagai sutradara nama Torro diperhitungkan ketika berhasil memasuki film Pernikahan Berdarah dalam film pilihan di festival film Indonesia tahun 1988.

Di banding keduanya, Abdul Kadir terbilang sutradara "wajah baru" dalam pembuatan film laga. Toh begitu, film Pendekar Cabe Rawit yang ceritanya diilhami dari film Big Boss, masuk dalam 18 besar film pilihan Komite Seleksi FFI 1990. "Saya bangga, karena film gedebag gedebug yagn selama ini disepelekan, mulai dihargai, dinilai dan diperhitungkan, ini satu langkah yang menggembirakan. 

Abdul Kadir dipercaya PT. Global Sarana Media Nusantara yang bekerjasama dengan produsen obat PT. Kalbe Farma membuat Saur Sepuh ke panggung sinetron yang ditayangkan di TPI dengan bintang utama George Rudy sebagai Brama Kumbara. 

Jam terbangnya sebagai sutradara terbilang masih pendek namun sebagai astrada, Abdul Kadir terbilang lebih dari cukup. Duapuluh empat film dengan sutradara-sutradara beken lain, pernah diikuti mantan mahasiswa ASDRAFI Yogya tahun 1972 ini. "Saya sempat jenuh dan ingin meninggalkan dunia film, " katanya suatu ketika. ~MF 179/146/Th IX, 15 Mei - 18 Mei 1993

Selain tiga dalang diatas, ada satu lagi yang juga 'dalang' Saur Sepuh meski mengambil judul lain yaitu Singgasana Brama Kumbara. Dia adalah Denny HW yang di peraya oleh PT. Menara Gading Citra Perkasa yang menggarap Singgasana Brama Kumbara dengan bintang utama Anto Wijaya sebagai Brama Kumbara dan tayang di ANTEVE. 

TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER


 TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER, Tatkala selamatan suting sinetron Tirai Kasi Yang Terkoyak, produksi Starvision, Ismail Soebardjo sutradaranya, ditanya seorang wartawan apakah 'perkosaan telah menjadi suatu masalah universal sehingga layak diangkat sebagai tema sinetron?

Dalam jawabannya, Ismail Soebardjo memberi suatu ilustrasi. Sepuluh tahun lalu, kita tercengang dan terkesiap mendengar berita-berita perkosaan. Tapi saat ini, tak jarang kita membaca berita koran tentang seorang ayah memperkosa anak kandungnya. Di Bekasi kerap terjadi perkosaan beruntun. Kita juga kerap masih mempersoalkan sebutan 'anak haram' kepada seorang anak yang lahir dari wanita korban perkosaan.

"Sinetron ini justru menggugat melalui gambaran bagaimana nasib wanita korban perkosaan, anak yang lahir dari korban, dan apa latar belakang hal itu bisa terjadi, kata peraih Piala Citra Sutradara Terbaik FFI 1981 itu. 

Ungkapan Ismail bisa diartikan, gambaran itu akan membuat seseorang berpikir lebih jauh untuk melakukan tindak pemerkosaan. Korbannya bukan hanya wanita yang diperkosa tapi juga anak serta masa depan dan lingkngan yang kompleks. Untuk mengantarkan teman ini, dibutuhkan peran-peran dengan berbagai karakter. Skenario yagn ditulis oleh Eddy D Iskandar bersama Ismail Soebardjo ini cukup cerdik menghadirkan karakter-karakter yang menciptakan multikonflik. 

KEMALA (Bella Esperance), seorang pramugari yang siap menikah dengan HARRY (Ponco Buwono), diculik lalu di perkosa DION (Ryan Hidayat) yang dendam karena lamarannya di tolak. Akibat perkosaan itu, juga karena kematian ayahnya yang dibunuh kawan-kawan Dion, Kemala terganggu jiwanya. Perkawinan Harry dengan DIANA (Lia Waroka) bersamaan dengan kelahiran anak hasil perkosaan, membuat jiwa Kemala makin parah. Goncangan jiwanya tak terusik oleh kesetiaan dan pengabdian SATRIA kecil (Alam Putra) , anak yang ia lahirkan itu dalam merawatnya selama di RS jiwa. 

Beruntung ada dr. LEO (ZO Kotten) yang simpatik atas penderitaan Kemala meski ia sendiri harus sering berselisih dengan isterinya. Meski iunya tak menghendaki kelahirannya, Satria tak pernah putus asa merawat Kemala. Bagi Satria (yang setelah dewasa di perankan SULTAN DJORGHI), kebahagiaanya akan tergapai bila ibunya sembuh. 

Pengabdiannya tak pernah surut walau bertemu kembali dengan DEWI (Inneke Koesherawati) anak majikannya semasa kecil, yang kemudian menyatakan cintanya. 

Kendati demikian, ia sangat menghargai hak Dewi yang menolak dijodohkan dengan GERRY (Teguh Julianto), anak KEVIN JONES (Rudy Wowor). Kevin Jones ini tak lain adalah nama samaran Dion, yang buron setelah memperkosa Kemala, dan berarti ayah kandung Satria. 

Satu persoalan menarik ditawarkan sinetron ini, menyangkut perkembangan jiwa Satria dan Gerry yang sebenarnya saudara seayah. Satria yang sempat dipelihara oleh PAK RIDWAN pegawai RS Jiwa yang sangat toleran terhadap penderitaan orang lain, tumbuh menjadi pemuda yagn bertanggungjawab dan peduli terhadap derita orang lain meski dalam dirinya mengalir darah seorang ba jingan seperti Dion alias Kevin Jones. Berbeda dengan Gerry yang sejak kecil berada dalam asuhan ayahnya, lebih senang berfoya-foya dan malas bahkan arogan seperti bapaknya. Kedua karakter ini dipertemukan pada suatu adegan ketika Gerry hendak memperkosa TANTI (Mirelle Sulilatu) anak Harry dan Diana di sebuah hotel, muncul Satria yang bermaksud menolong Tanti. Tampaknya Ismail Soebardjo ingin memberi pesan, karakter dan pribadi seseorang lebih tergantung pada lingkungan ketimbang darah keturunan. 

Casting merupakan suatu hal patut dipujikan dari sinetron ini setidaknya dari sudut persamaan wajah. 

Ryan Hidayat yang memerankan Dion ddan Alam Putra yang memerankan Satria kecil, memiliki kesamaan raut wajah. Demikian juga Anggi yagn memerankan Dewi masa kecil dengan Inneke Koesherawati yang memerankan Dewi dimasa dewasa. Semula, Satria dewasa akan diperankan oleh Ryan Hidayat juga. Namun berhubung Ryan meninggal setelah suting beberapa episode, peran itu diberikan pada Sultan Djorghi. Memang ada garis kemiripan tapi perbedaannya pun sangat kentara pula. 

Namun , agaknya, Ismail Soebardjo memiliki beberapa alasan mengenai pemilihan Sultan Djorghi untuk menggantikan Ryan Hidayat. Sultan Djorghi adalah bintang baru, yang belum banyak dikenal sebagai pemain sinetron dan belum memberi image tertentu pada publik penonton. Sebelum madin dalam Tirai Kasih Yang Terkoyak, ia hanya main dalam sinetron diantaranya Keluargaku Sorgaku produksi Starvision ~MF 285/252/XIII/17-30 Mei 1997

Friday, April 10, 2026

DENNY HW, PENATA LAGA SEKALIGUS SUTRADARA


DENNY HW, PENATA LAGA SEKALIGUS SUTRADARA (Berita Lawas) dikutip dari MF. Berpostur gempal dengan suara ringan. Terkesan agak kalem di lokasi suting. Sabar setiap mengarahkan para bintang laga, walau agak sulit melihat senyumnya. Sutradara merangkap action director atau fighting director ini, Denny HW namanya. Mahir olahraga beladiri Kempo. Dia juga sempat mempelajari karate, silat dan Aikido. Dengan bekal itu, Denny tampil sebagai sutradara laga handal. Dia juga adalah lulusan LPKJ tahun 1980.

Lewat film Pertarungan Iblis Merah yang dibintangi Barry Prima, anak kelima dari tujuh bersaudara ini tampil utuh sebagai sutradara merangkap action director, setelah sebelumnya ia tampil sebagai astrada untuk beberapa judul film seperti film Gema Hati bernyanyi. 

Putra Pasangan Hadi Wijaya dengan Sumiati yang asli berdara Sunda ini selanjutnya aktif menggarap film-film laga klasik seperti Pertarungan Iblis Merah, Babad Tanah Leluhu II, Si Rawing I dan lain-lain. 

Sukses menggarap serial kolosal Singgasana Brama Kumbara yang di tayangkan di  AN-Teve , kemudian Denny HW kembali menunjukkan kepiawaiannya di jalur laga. Sinetron laga "Perjalanan"  yang dibintangi Ari Wibowo dan Tamara Blezynski menyusul kesuksesan beberapa sinetron laga sebelumnya seperti Jacklyn, Tiga Bidadari dan lain-lain. Bahkan sinetron produksi Multivision ini mulai jadi pusat pehatian mengingat kemampuan dan ketenaran nama Ari Wibowo sebagai bintang laga yagn tampan bersama kepopuleran sosok Tamara sebagai bintang iklan termahal. 

Denny HW sendiri mengaku merasa bangga bisa menghasilkan karya sebagus Perjalanan. "Itu juga berkat kerja duet antara saya dengan Arturo  yang menggarap unsur dramatiknya, "kata Denny. Sejak awal dia merasa yakin bahwa serial Perjalanan akan sukses. Karena itu pula Denny  hanya bisa menggarap serial Tutur Tinular 6 episode saja. Padahal dia ditawarkan 52 episode. "Bukan apa-apa, hanya terlanjur teken kontrak dengan Multivision. Nggak benar kalau saya memilih Perjalanan karena honor kontraknya lebih mahal, " ujar Denny. 

Putra Asli Sunda Kelahiran Bandung, 5 Mei 1955 yang menikah dengan Soevi, juga pernah menggarap serial kolosal Perawan Lembah Wilis. Saya akan terus menekuni profesi sebagai action director, karena posisi ini adalah hidup mati saya. Sedangkan posisi Sutradara penuh, kayaknya sudah tidak mampu lagi, karena saya mengidap penyakit lever. Saya harus memperhatikan waktu kerja, " tutur Denny , selengkapnya wawancara dengan Denny HW dapat di lihat di MF No. 308/274/XIV, 4-17 April 1998

Thursday, April 9, 2026

SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA

 


SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA (Kisah Lawas). Ketika Diah Permatasari teken kontrak, sudah pasti ia siap menjadi si Manis buat sinetron Si Manis Jembatan Ancol. Dalam kontrak, Diah harus berlakon sebanyak 6 episode. Atok Suharto yang dipercayakan Creativision Visual Arts Production begitu bersemangat untuk menyutradarai, karena ia yakin Diah benar pas melakoni tema horor buat tayangan RCTI. 

Begitu gebrakan pertama penayangan Si Manis Jembatan Ancol, kontan mendapat sambutan . Sebab sinetron seri yang diangkat dari legenda masyarakat Jakarta ini memiliki keunikan tersendiri. 

Seyogyanya penayangan si Manis pada akhir tahun 1992, karen apembuatannya baru 3 episode, pihak RCTI belum memberi jam siaran. Di akhir tahun 1992, Si Manis Jembatan Ancol opname kembali, tapi begitu suting akan dimulai, tiba-tiba Diah Permatasari membuat 'sentakan'. Ia tidak bersedia melanjutkan lakonnya sebagai Si Manis. Alasannya, akan bersekolah ke Amerika pada akhir tahun 1992. Atok Suharto langsung mencak-mencak. Bagaimana tidak, semua yang sudah direncanakan jadi berantakan. 

Seharusnya, Diah Permatasari harus berlakon dalam episode ke 4 (Rahasia Malam Pengantin), ke 5 (Terjerat Karma), dan ke 6 (Tragedi Di Balik Warisan). Suting sempat ditunda karena kasus Diah belum tuntas. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya Diah mau juga berlakon kembali dalam episode ke 4, itu pun hanya beberapa scene. 

"Untung dia masih mau, jadi kita bisa pasang akal. Sebelum Diah Permatasari keluar dari Si manis Jembatan Ancol kita sudah cari gantinya, " ujar Atok Suharto. Diah Permatasari digantikan oleh Poppy Farida, artis pendatang baru yagn tak kalah sensualnya.

"Caranya, sebelum digantikan kita buat scene dimana wajah Diah berubah menjadi wajahnya Poppy Farida. Secara total, Diah Permatasari hanya berlakon dalam tiga episode, sedangkan episode empat keatas Si Manis dilakoni oleh Poppy Farida. 

"Dalam kontraknya Diah bersedia main dalam enam episode, tapi karena katanya mau sekolah selama enam bulan di Amerika, ya kita tidak bisa memaksanya. Dan kami pun tidak mau ribut-ribut," kata Herry Topan selaku produser. 

Anehnya, pada medio Januari 1993 Diah masih berada di Jakarta. Tapi, biah Creativision Visual Arts Production tidak mempermasalahkannya. "Saya berangkat ke Amerika dalam beberapa hari ini," ujar Diah Permatasari. Sumber lain mengatakan, bahwa Diah sempat pula bersedia di potret oleh sebuah majalah remaja wanita. 

Sementara isyu lain mengatakan, Diah Permatasari bersedia kembali jadi Si Manis, tatkala melihat sukses sinetron komedi horor Si Manis Jembatan Ancol, ketika ditayangkan di layar RCTI, awal Januari 1993. "Tapi Si Manis sudah terlanjur diberikan kepada Poppy Farida, " kata sebuah sumber. 

Apa sesungguhnya yang kau inginkan Diah? Kalimat seperti itu setidaknya akan melintas di benak setiap pembaca berita tentang perilaku Diah Permatasari yang kurang simpatik. Tidak hanya terhadap kalangan pers, film, relasi tapi juga kawan-kawannya yang tahu persis bagaimana karakter Diah senenarnya. ~ selengkapnya dapat di baca di MF No. 171/138/Th.IV, 23 Jan - 5 Feb 1993 dengan judul artikel Diah Permatasari Kuntilanak Ancol yang Ingkar Janji