Sunday, September 27, 2026

JEMMY GIDEON,

 


JEMMY GIDEON (berita lawas). Eksistensi Jemmy Gideon sebagai pelawak tak diragukan lagi. Tapi, untuk pertama kali mendampingi Lydia Kandou, buat sinetron RCTI Gara-Gara, kepiawaiannya seabgai pelawak masih harus diuji. 

"Kalau kamu bisa membuat semua hadirin tertawa, maka kau diberikan kepercayaan melakoni Gara Gara, "ujarnya menirukan omongan sang produser. Nasib baik masih menyertai Gideon Group, ketika tampil di Hotel Borobudur, semua hadirinbisa ngakak, termasuk produser, penulis skenario dan sutradara. Begitu dinyatakan lulus, Jemmy tak langsung menerima, alasannya ia tak biasa bermain dengan naskah, "Gaya saya adalah spontanitas dan improvisasi, begitu juga ketika saya bergabung dengan Lenong Rumpi, tidak pakai naskah, "kilahnya. 

Bagi Jemmy merupakan tantangan bisa bermain sinetron komedi. Sebab ia tidak hanya sekedar nyerocos, tapi ada karakter yang diemban. "Terbukti dari jalinan cerita Jemmy bukan Jemmy yang melawak, melainkan Jemmy yang suka membuat kesal hati isteri. Meski ia sangat menyayangi isterinya. Sedikit bloon, tapi banyak pintarnya juga ada juga sok tahunya. Lewat Gara-garalah saya pertama kalinya bermain dengan karakter meski dalam tema komedi,"ujar bapak yang sudah memiliki anak dua ini. 

"Saya bisa menjadi Bapak, karena saya sudah berumah tangga. Pertama tama antara saya dengan Lydia agak canggung begitu, tapi karena pengarahan sutradara, semuanya bisa berjalan dengan lancar. "

Gara Gara belum mencapai klimaks, bila ia sukses di film merupakan awal dari klimaks. Bila sukses di film, Gideon group akan tetap bertahta di film. "Sebab generasi pengganti Warkop DKI belum ada. Ada group lawak yang main film, tapi hasilnya belum memuaskan,"katanya. 

Pihak Parkit Film produser film Gara Gara sepakat supaya Gideon Group dikontrak tiga film. Tapi Jemmy tahu diri, ia tidk cepat silau dengan popularitas dan rupiah. "Kami dalam Groum saya Jemmy, Simon dan Habil mengharapkan film dari klimaks kaya lawakan".

"Bila kami dikotrak langsung tiga film, andai saja filmnya meledak, kami rugi dong. Begitu juga sebaliknya produser, bila filmnya nggak laku kan produsernya menanggung rugi. Jadi kami nggak mau sok-sokan,"katanya. 

Cahaya Gideon Group mulai bersinar, hari-hari kelompok ini dihiasi dengan tawaran manggung disana sini. Sampai hari-hari mereka banyak dihabiskan diluar kota. "Kami masih mencari bentuk lawak yang sejati. Meski gaya sudah kami punya, yakni keseharian, artinya mencari dan menggali ide-ide yang muncul dan hangat dari masyarakat, katanya. 

Di film kami belum apa-apa tapi kami tidak mau terjun langsung ambruk, "ujarnya bersemangat mengakhiri obrolannya . ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993

Saturday, September 26, 2026

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2


 IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2 (berita lawas). Gepeng Menikah !. Perkenalan dengan Supiah beberapa tahun kemudian, membawa mereka ke jenjang pernikahan. Waktu itu hari Minggu tanggal 18 Agustus 1971, Gepeng berusia 21 tahun sedang Supiah setahun lebih tua. Dan , di grup WO (Wayang Orang) Edi Budoyo ini pulalah Gepeng yagn nama aslinya Arismanto itu berganti nama jadi FREDDY. Sedang nama GEPENG sendiri baru ia gunakan setelah bergabung dengan Srimulat pimpinan Teguh atas usul isterinya di Solo. 

Gepeng lantas ikut Tegus Srimulat dan tinggal di barak gudang lawak ini di dekat rerumputan liar di Balai Kambang Solo, 5 meter ari tempatnya melawak tiap malam. Gepeng belum punya nama. Disana ada seorang pelawak top yakni Pak Panggung. 
Gaya pak Panggung memang khas sekali. Bicaranya terteteh-teteh, lebih-lebih kalau memakai bahasa Indonesia. Terus matanya merem melek dan kalau berjalan kakinya diseret-seret sembari mengibas-ibas sapu tangan atau serbet, properti khasnya. 

Inilah gaya komedian yang kemudian diserap oleh Gepeng.Kalau Pak Panggung tidak naik arena untuk melawak, maka Teguh lalu memasang Gepeng agar fans pak Panggung yang melimpah itu tersedot sedikit. Honor pak Panggung waktu itu paling tinggi yakni Rp. 600,- sementara Gepeng memperoleh Rp. 250,- sampai Rp. 400,-. Tidak termasuk lemparan rokok dan uang saat mereka melawak. 

Pada siang hari Gepeng selalu keluyuran ke daerah Taman Tirtonadi Balai Kambang itu dengan dada telanjang , tanpa alas kaki sembari melinting rokok, lalu sering terlibat mengajak ngobrol dengan Pak Panggung. Sayang , Pak Panggung kemudian meninggal karena penyakit bronkhitis dan Gepeng seperti kehilangan pegangan, tapi sebuah peluang terbuka. 

Untung Srimulat hijrah ke Jakarta. Dan Untung Gepeng ikut memperkuat barisan lawak ini. Dan keajaiban semua ini ialah ketika Srimulat tampil  di teve dan tanpa sengaja dari mulut Gepeng meluncur kalimat "Untung Ada Saya. Sejak itu hidup Gepeng beruntung. Sukses yang diraih Gepeng terlalu cepat dan ia sebenarnya belum akrab benar dengan Jakarta, dengan segala kehidupan, sanjungan serta harta yang melimpah dengan cepat. Kehidupan keseniannya lenyap. 

Nenggak Alkohol!.

Bahkan Gepeng juga menggaet film dan ia jadi bintang istimewa dalam film-film "Gaya merayu", "Untung Ada Saya", "Gepeng Cari Untung" serta "Gepeng Bayar Kontan". Kebanyakan film-film ini mengeksploitasi kepopuleran dan citra komediannya habis-habisan secara ringan. Dan Gepeng agak kehilangan kontrol. Ia seperti membalas dendam atas kemiskinan yang pernah direguknya. 

Kebiasaan buruknya tak kuasa ia lawan. Ia sering nampak mabuk-mabukan, dan dengan gaya aristokrat ia dengan ketawa menenggak alkohol berbotol-botol diiringi tepuk tangan dan layanan teman-temannya yang baru yang selalu melayani Gepeng. Perempuan demi perempuan yang mendekati dan membujuk tak kuasa ia tolak. 

Puncak kehilangan irinya yakni ketika ia terlibat dalam pemilikan sebuah pistol yang konon menurut rekan dekatnya, "Gepeng ketakutan berada di mana-mana sehingga ia perlu berada dekat dengan orang-orang kuat atau benda yang bisa membuat ia sedikit tenang. "Lebih fatal lagi, Gepeng menceraikan istrinya yang selama ini lara menemani bintang lawak ini. Tak hanya istrinya yang dicerai, Srimulat yang membesarkan dirinya yang membuat perubahan hidupnya ia tinggalkan karena ia tak ingin hasil lawakannya yang populer  itu dinikmati banyak orang termasuk boss dimana ia bekerja. "Saya ingin mandiri dan meraih apa yang saya hasilkan ,"ucapnya. 

Diam-diam Gepeng seperti mencari musuh diantara rekannya sendiri. Ia juga menjadi boss dari pertunjukkannya yang ia beli setelah kaya dan mengusahakan hiburan lawak sendiri di Semarang dan Solo. 

Namun Gepeng bukan seorang pengusaha, bukan seorang bisnis apalagi boss yang baik, Gepeng lupa bahwa ia sebenarnya seorang komedian berbakat cemerlang. Ia lupa itu. 

Maka, Syahdan, roda nasib berputar lagi. pertunjukkan Gepeng sepi. Duit banyak eluar dan tawaran tak lagi melimpah. Seperti sebuah film pendidikan, maka dalam keadaan begini kesadaranpun datang. 

Supiah, mantan istrinya lalu dinikahi lagi. Ia kembali ke pabrik tawa Srimulat dan berjanji akan merubah hidupnya. Tubuhnya tak lagi Gepeng seperti ketika ia bergabung dengan Srimulat. Dan tubuh inilah yang tak mau kompromi. Levernya membengkak, menggerogoti usianya dan tampak pada adegan inilah Gepeng terpaksa menyerah pada nasib. 

Dalam usia 30 tahun, saat pulih kesadarannya untuk berbuat baik, Gepeng meninggalkan istrinya Supiah, 4 orang puteranya , Tatang (Sekolah di SMP), Nanang, Putri dan Ayu duduk di SD serta kita sekalian, yang pernah terhibur oleh lawakannya serta dengan rela memberi tepuk tangan gegap gempita kepada almarhum Gepeng. 

Barangkali ungkapan sekarang ini (Tidak) Untung. (Tidak) Ada Gepeng! Betapapun ia pernah menjadi fenomena. Selamat Jalan Peng. ~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


**Dari dua bagian tulisan ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, hikmah yang bisa kita ambil atas perjalanan seorang Gepeng.

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1


IN MEMORIAM!  (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1 (Berita Lawas). Gepeng, Anak Panggung yang Tragis! "Saya sekarang sadar apa artinya punya banyak teman. Saya ternyata tidak bisa sendiri terus. Saya masih membutuhkan bimbingan. Dan itulah yang membuat mengapa saya kembali ke Srimulat. Dan saya berjanji tidak akan bertingkah lagi, "ujar Gepeng, suatu hari ketika ia baru saja bergabung dengan Srimulat, pada Majalah "FILM".

Namun, disaat ia baru saja hendak memenuhi janjinya itu, nasib lain datang lebih cepat. Gepeng pergi untuk selama-lamanya, setelah penyakit lever yang ia derita merenggut nyawanya. Dunia hiburan Indonesia kehilangan satu lagi artisnya. Gaung kalimat yang mempropulerkannya "Untung Ada Saya..." mungkin  saja akan terus bergema sampai beberapa tahun mendatang. Tapi kita tidak akan pernah lagi menyaksikan seorang lelaki b e g o , dengan kumis menumpuk di ujung bibir dan bicara tersendat-sendat, beraksi diatas panggung dengan langkah kaki diseret. 

Lahir di desa kecil Muntilan, Jawa Tengah pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 1950. Gepeng meninggal dalam usia menjelang 38 tahun di Rumas Sakit Panti Waluyo, Solo, Pukul 13. 05 WIB, Kamis 16 Juni 1988 akibat lever yang dideritanya kambuh. Ia kemudian dimakamkan keesokan harinya, Jumat, 17 Juni 1988 di pemakaman umum Bonoloyo Solo dengan dihadiri kerabat terdekatnya dan teman-temannya sesama pelawak. 

Tapi siapakah Gepeng?

Lahir dari perkawinan Karso, seorang tukang kendang berusia 30 tahun dengan Tami, seorang pengrawit berusia 27 tahun dan sudah janda, putri seorang bangsawan dari Tempel, Muntilan, Gepeng adalah anak pertama yang hidupnya menjadi potret yang jelas tentang keadaan seniman-seniman tradisional pada waktu itu. Sekalipun ibunya adalah putri bangsawan, namun hidup Gepeng tidaklah gemerlapan. Sebagai anak keluarga seniman panggung, bisa dibayangkan bagaimana Gepeng kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Ia lebih suka memilih ikut Bapak ibunya manggung dan belajar mendalang ketimbang pergi sekolah. Tak heran kalau iapun cuma bisa menyelesaikan sekolah hanya sampai kelas dua SD. 

Kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak menentu, akhirnya menyeret Gepeng nekat berangkat ke Jakarta dalam usianya yang masih 12 tahun. Namun ia kemudian dijemput Bapaknya untuk ikut bergabung dengan URRIL (Urusan Moril) yakni grup kesenian tentera. Namun Gepeng dan Bapaknya tak bertahan lama di grup ini. Dari sini ia kemudian gabung dengan grup wayang orang Edi Budoyo setelah sebelumnya, ketika masih di Jakarta , ia bergabung dengan Wayang Orang Pancamurti. Di WO Edi Budoyo - ini pulalah ia mengenal Supiah yang waktu kecil jadi penari dan masih kecil.~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

~~ Bersambung Bag 2, Gepeng Menikah dan Nenggak Alkohol 

Friday, September 25, 2026

SUTI KARNO MERANGKAK DARI NOL

 


SUTI KARNO MERANGKAK DARI NOL, (berita lawas). SUTI KARNO menyanggah bahwa popularitas yang diperoehnya di dunia film dan sinetron semata-mata terciprat oleh kebesaran nama ayah dan kakak-kakaknya. Alm. Soekarno M Noor, Rano Karno serta Tino Karno. "Walau memang saya akui bahwa merekapun kerap mendorong ikhwal karir, tapi untuk bisa eksis dalam peran maupun langkah karir saya, saya mendapatkannya dengan merangkak, dari nol, "ujar artis gemuk hitam manis, yang melangit setelah bergabung dengan Lenong Rumpi ini. 

Suti Karno mengakui saat ayahnya masih ada dulu, disaat makan bersama dengan anggota keluarga lainnya,  ia mendapatkan kritikan maupun komentar tentang penampilan aktingnya. Juga saudara-saudaranya yang lain, waktu itu. Masing-masing diatara mereka didorong untuk menjadi diri sendiri. 

"Diantara kami akan mendapat kritikan keras, bila ada yang hanya mau mendompleng nama ayah atau nama Rano, "ungkap Suti dalam obrolannya. 

Seperti halnya Alm. Soekarno M Noor, Suti mantap menjawab pertanyaan penonton film Nasional, dalam suatu jumpa penggemar, yang menyatakan, film Nasional belum layak banding untuk satu bioskop yang sedang memutar film Barat.

"Semua film nasional layak banding. Dari segi cerita, sudah banyak bagus. Artinya sudah banyak yang cantik, Meriam Bellina, misalnya, nggak kalah deh, dengan pemain film impor. Tapi kalau berbicara masalah mutu film kita, maka kita harus ingat bahwa negara kita masih dalam taraf berkembang. Begitu juga filmnya. kalau teknologi kita sudah maju seperti Amerika, pasti kita juga mampu bikin film sehebat "Terminator", jawab Suti.~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Thursday, September 24, 2026

ROBIN PANJAITAN, PENGGEMAR TAK TAHU DIRI BISA REPOT

 


ROBIN PANJAITAN, PENGGEMAR TAK TAHU DIRI BISA REPOT (Berita Lawas). Ada yang kenal Robin Panjaitan, sosok artis film dan juga penyanyi? Artis dan penggemar merupakan hubungan yang saling terkait. Pihak kesatu membutuhkan pihak lainnya itu. Pun demikian sebaliknya. "Kita nggak jadi apa-apa kalau nggak ada penggemar kita, "ujar Robin Panjaitan, penyanyi dan pemain film. Rupanya ia menyadari posisi dirinya di masyarakat. Namun terlontar pula kekesalan Robin terhadap penggemarnya. penggemar yang tak tahu diri, bisa merepotkan, katanya. "Gila banget tuh orang-orang. Lagi enak-enaknya tidur, mereka gedor-gedor pintu kamar hotel dimana aku menginap. Paling-paling mereka minta tandatangan dan ngobrol ngalor ngidul. Padahal aku butuh istirahat, "keluhnya. 

Bukankah itu resiko? "Sesekali sih boleh saja. Aku mengerti maksud mereka, tapi mereka juga mengerti aku dong. Namun lambat laun akupun sudah siap menghadapi yang begitu, "tegas Robin. Kakak kandung penyanyi yang sudah ngetop duluan, Christine Panjaitan. 

Artis yang pertam akali dikenal lewat menyanyi, kini Roin Saut Panjaitan, nama aslinya, pun turut berkiprah di dunia layar putih. Terakhir sekali ia ikut merampungkan film "Akibat Terlalu Bebas" arahan sutradara A. Rachman. Film yang bertema komedi ini, ia berperan sebagai pria yang penghayl sewaktu melihat lukisan. Ia membayangkan wanita dalam lukisan tersebut menjadi wanita utuh. Eh, malah benar jadi kenyataan, ia malah dapat berjogging dan berdisco bersama. Wanita itu dimainkan oleh artis bule, Kristine E Weitz, yang pernah meraih Miss American Beauty 1982. Film produksi PT. Soraya Intercine Films ini juga dimeriahkan oleh Asmuni, Tarsan dan Debby Rio. 

Kendati dalam film tersebut Robin diberi honor Rp. 11,5 juta rupiah, ia merasa kurang sreg dalam peranannya. "Di komedi kayaknya aku kurang pas. Dan menurutku tuntutan akting lebih sulit dibanding dengan drama misalnya, "ungkapnya sambil merangkul pundak kekasih yang duduk disampingnya. 

Pria yang berambut lurus dan dibalik telapak tangan kirinya ditato namanya sendiri, Robin, dilahirkan pada tanggal 29 Desember 1959. Kini ia disibuki kuliah yang terbengkalai tiga tahun di jurusan Humas Institute Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Katanya karena studinya ini yang akan ia selesaikan tahun ini. Robin menolak tawaran film dari tiga pihak yakni Virgo Film, sutradara Wim Umboh dan sutradara Ali Shahab. "Karena datangnya berbarengan, maka main film ntar dulu deh. "Aku pilih study dulu, "ucapnya seraya mengerlingkan mata pada wanita disampingnya. Kerlingan itu hanya mereka yang tahu artinya. Dan Robin menyambar, "Gini gini aku sedang dipersiapkan jadi diplomat lho!..


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

Wednesday, September 23, 2026

ARTI NENEK BAGI DESY RATNASARI

 


ARTI NENEK BAGI DESY RATNASARI (berita lawas). Bagi Desy Ratnasari, di manapun berada, maka tak pelak neneknya selalu berada disisinya. Bukan karena ia terlalu ingin di manjakan dan tak mampu mengatasi kesulitan tanpa sang Nenek.

Kehadiran neneknya bagi artis ini sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Baik sebagai remaja maupun selaku artis film. Apalagi mengingat Desy sudah sejak kecil memang di momong oleh sang nenek yang karena ibunya, Ny. Nurjanah selalu sibuk sebagai karyawati PLN Sukabumi, dan ayahnya pegawai Departemen Pertambangan. Menyebabkan Desy yang putri sulung dari empat bersaudara merasa lebih dekat kepada neneknya. 

Sampai kini, disaat 8 buah film sudah dibuah film sudah dibintangi dan populer sebagai artis bersosok anggun, Desy yang gagal masuk ke Fakultas Kedokteran UI, lebih memilih tinggal dengan sang nenek. Meskipun rumah orangtuanya berada persis didepan tempat Desy tinggal. 

"Sudah sejak kecil komunikasi saya selalu lancar bila dilangsungkan dengan nenek daripada dengan ayah dan ibu, "tuturnya saat ditemui di tempat kediamannya di Gg Pelita Sukabumi. 

"Kayaknya ada sesuatu yang hilang bila nenek tak ada di sisi saya, terlebih kalau dia sakit, dimanapun berada saya selalu gelisah, "katanya. Malah kata Desy, Ia membatalkan tawaran show atau menyanyi, bila melihat neneknya sedang dalam keadaan sakit dan perlu dirawat secara telaten. "Pokoknya nenek diatas segalanya, dibanding kepentingan keartisan saya. Yang mungkin tidak akan selamanya saya tetap bisa populer, dibanding besarnya kasih sayang nenek yang telah saya terima, "ujar Desy lirih. 

Desy yang kini sedang melakoni sinetron Pelangi Dihatiku produksi RCTI kembali merasa resah mengingat kursus komputer maupun Bahasa Inggris seringkali ditinggalkannya. Mengingat aktifitasnya di dunia artis menyebabkan ia harus selalu berada di Jakarta. Dan kota Sukabumi yang jaraknya bisa ditempuh dengan 2,5 jam dari ibukota, tetap saja membuat Desy maupun sang nenek sering kepayahan bila harus tiap hari pulang ke SUkabumi. Jadi rencananya akan hijrah ke jakarta Dess? "Maunya sih begitu. Tapi ya pikir-pikir dulu deh, meski sekarang saya menempati sebuah kontrakan rumah di daerah Lenteng Agung, "ujar Desy dengan senyum dan dekik di pipinya. 


~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Tuesday, September 22, 2026

TIMBUL SUHARDI

 


TIMBUL SUHARDI (Berita Lawas). Timbul dari Batik Group, baru saja menyelesaikan filmnya terbaru "Bendi Keramat" yang lokasinya di Garut. Film ini disutradarai oleh A. Harris, bercorak komedi, meski judulnya berbau horor. Timbul Suhardi ayah dua anak ini bermain sebagai play boy tua ayah Lydia Kandou. 

"Selama nyebur ke dunia film saya dipasang sebaai peran pembantu utama. Film ini merupakan film saya yang keempat, "ujar Timbul yang baru saja terkena penyakit radang tenggorokan, akibat cuaca di Garut yang tak cocok, waktu suting. 

"Meski demikian saya tidak mau disebut sebagai bintang film. Kalau pelawak boleh, saya masih belajar kok, "tuturnya merendah. 

"Untunglah mas, gini-gini bisa main film. Tapi kalau ada orang bilang saya sudah 'Top", topnya apaan? ujarnya berseloroh. Kalau artis yang top itu seperti Roy Marten, Yenny Rachman, mereka kan punya mobil, punya rumah. Saya sendiri sampai sekarang masih ngontrak, dan kalau hujan deras, air bisa menyatroni rumah. Lihat sendiri lantainya baru saja ditinggkan!"ujarnya serius. Jadi saya ini top karena nama saja, "sambungnya. 

Walau demikian, ungkapnya lebih lanjut, saya kalau keluar rumah tidak mau nglomprot, biar dirumah cuma pakai kaos singlet atau celana pendek. 

"Saya sadar kehidupan di Jakarta menghendaki demikian. Harus tampil keren, bukan karena gengsi mas, tetapi mencoba menghargai diri sendiri, "tambahnya. 

Sebagai manusia, saya ini punya jiwa yang tidak tgaan, artinya tidak pelit, "ujarnya sambil mengepalkan tangannya. Timbul memang puny asaudara banyak, juga keponakan, dan orang tua. "Ibu baru saja meninggal". Mereka sering bantu, juga ketika ibu masih hidup, bahkan sampai kematiannya. Timbul yang menanggung. "Kalau saya pelit wah mungkin sudah bisa punya rumah, "ucapnya yang begitu mendambakan tempat tinggal. 

Menurut rencana, Timbul berniat mengambil rumah di Bumi Artis. "Tapi jauhnya itu mas. Tambahan pula sulit kalau mengadakan komunikasi dengan rekan profesi". Tampaknya istri Timbul, Sukarti setuju jika ditempati oleh ponakan atau kerabat dekat untuk menunggunya. Maka sekarang banyak main film dulu, siapa tahu dapat duit banyak, lalu beli rumah. Sebuah cita-cita wajar, ngakunya. ~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

*Timbul lebih dikenal sebagai Timbul Srimulat dibanding Timbul Batik Group ya...


Monday, September 21, 2026

DONNY DAMARA PRASADHA


 DONNY DAMARA PRASADHA (Berita lawas). "Saya belum apa-apa kok. Malu", itu kalimat pertama yang keluar dari muut cowok bertubuh tinggi ini. Namun ia tak kuasa menampik  ajakan wartawan MF yang terus mengubernya. "Oke deh, gua nyerah,"ujarnya pasrah. Namun mahasiswa FISIP UI semester VI yang lahir 12 Oktober 1966 ini sempat berang ketika disinggung keintimannya dengan Paramitha Rusady, pasangan mainnya dalam film "Cinta Anak Zaman, " arahan sutradara Buce Malawau. 

"Kami cuma teman biasa kok. Apa enggak boleh kita akrab dengan teman? tanyanya. Tapi ah, siapa sebenarnya lelaki itu? Dialah Donny Damara Prasadhana, bintang baru temuan Buce. Lahir dari darah campuran Jawa-Sunda, Donny mengaku bermula dari modeling dan ikut bantu-bantu pementasan drama anak-anak SMA. "Sebenarnya sudah beberapa kali saya ditawari untuk ikut main film sebelum film ini. Tapi karena sutingnya selalu bentrok dengan kuliah, ya saya tolak"ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini. 

Lalu kenapa tawaran yang ini kamu terima , Don? "Saya sih enggak tahu siapa yang meminta saya ikut main. Apakah Buce atau produser. Saya terima karena sutingnya enggak mengganggu kuliah saya. Terus terang saja, sekarang saya lebih mementingkan kuliah kok, "katanya. Dan orang tuamu?"Mereka sih oke-oke saja sepanjang saya tidak melupakan kuliah saya."

Donny yang dalam film pertamanya ini langsung sebagai pemeran utama, bicara panjang lebar tentang wanita. "Pokoknya pacar gue sendiri sedang dalam penjajakan. Tapi gua enggak milih-milih kok. Yang pokok cewek ideal bagi gue itu orangnya komunikatif dan pengertian,"ujarnya. 

Dalam film tersebut Donny berperan sebagai Randy, penyiar radio yang diperebutkan dua cewek, akhirnya menikahi Heidy. Tapi perkawinan merek aternyata tak berjalan mulus. Sebagai cowok urakan terang saja ia selalu bertengkar dengan Heidy. Tapi akhirnya mereka rujuk lag setelah Heidy hamil. "Nah, bergitu ceritanay mas. Saya sendiri enggak bisa mengambil perbandingan ke film lain. Soalnya saya jarang sih nonton film. Yah, pkoknya say aikuti aja apa maunya skenario dan sutradara. 

Donny yang masih tinggal dengan orang tuanya di Tanah Mas Blok H/87 Pulo Mas ini, menurut teman kuliahnya suka tidur di kelas. Dan Donny tak punya komentar tentang hal ini. 

~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988