JEMMY GIDEON (berita lawas). Eksistensi Jemmy Gideon sebagai pelawak tak diragukan lagi. Tapi, untuk pertama kali mendampingi Lydia Kandou, buat sinetron RCTI Gara-Gara, kepiawaiannya seabgai pelawak masih harus diuji.
"Kalau kamu bisa membuat semua hadirin tertawa, maka kau diberikan kepercayaan melakoni Gara Gara, "ujarnya menirukan omongan sang produser. Nasib baik masih menyertai Gideon Group, ketika tampil di Hotel Borobudur, semua hadirinbisa ngakak, termasuk produser, penulis skenario dan sutradara. Begitu dinyatakan lulus, Jemmy tak langsung menerima, alasannya ia tak biasa bermain dengan naskah, "Gaya saya adalah spontanitas dan improvisasi, begitu juga ketika saya bergabung dengan Lenong Rumpi, tidak pakai naskah, "kilahnya.
Bagi Jemmy merupakan tantangan bisa bermain sinetron komedi. Sebab ia tidak hanya sekedar nyerocos, tapi ada karakter yang diemban. "Terbukti dari jalinan cerita Jemmy bukan Jemmy yang melawak, melainkan Jemmy yang suka membuat kesal hati isteri. Meski ia sangat menyayangi isterinya. Sedikit bloon, tapi banyak pintarnya juga ada juga sok tahunya. Lewat Gara-garalah saya pertama kalinya bermain dengan karakter meski dalam tema komedi,"ujar bapak yang sudah memiliki anak dua ini.
"Saya bisa menjadi Bapak, karena saya sudah berumah tangga. Pertama tama antara saya dengan Lydia agak canggung begitu, tapi karena pengarahan sutradara, semuanya bisa berjalan dengan lancar. "
Gara Gara belum mencapai klimaks, bila ia sukses di film merupakan awal dari klimaks. Bila sukses di film, Gideon group akan tetap bertahta di film. "Sebab generasi pengganti Warkop DKI belum ada. Ada group lawak yang main film, tapi hasilnya belum memuaskan,"katanya.
Pihak Parkit Film produser film Gara Gara sepakat supaya Gideon Group dikontrak tiga film. Tapi Jemmy tahu diri, ia tidk cepat silau dengan popularitas dan rupiah. "Kami dalam Groum saya Jemmy, Simon dan Habil mengharapkan film dari klimaks kaya lawakan".
"Bila kami dikotrak langsung tiga film, andai saja filmnya meledak, kami rugi dong. Begitu juga sebaliknya produser, bila filmnya nggak laku kan produsernya menanggung rugi. Jadi kami nggak mau sok-sokan,"katanya.
Cahaya Gideon Group mulai bersinar, hari-hari kelompok ini dihiasi dengan tawaran manggung disana sini. Sampai hari-hari mereka banyak dihabiskan diluar kota. "Kami masih mencari bentuk lawak yang sejati. Meski gaya sudah kami punya, yakni keseharian, artinya mencari dan menggali ide-ide yang muncul dan hangat dari masyarakat, katanya.
Di film kami belum apa-apa tapi kami tidak mau terjun langsung ambruk, "ujarnya bersemangat mengakhiri obrolannya . ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993







