Thursday, June 25, 2026

BELLA ESPERANCE, FIGUR CEWEK "AUSTRALIA"


BELLA ESPERANCE (berita lawas). Empat judul film sudah disabetnya, tapi belum mampu menggedor pecandu film nasional. Terakhir Edwar Pesta Sirait memasangnya di film Getar-Getar Melodi mendampingi Onky Alexander. Sayang, film ini tertunda lama dalam peredaran. Sedikitnya ini merupakan pukulan berat bagi Bella Esperance. bagaimana tidak, film ini pula yang mengangkatnya sebagai pemegang rol utama. 

Film-film Bella sebelumnya Catatan Si Boy III dan Perasaan Perempuan, ia mejeng selaku pemeran pembantu saja, tapi bukan lantaran itu, kemudian Bella cari kompensasi main di sinetron HALIMUN produksi RCTI . "Susah ya, kalau udah ngebet di film. Terkadang saya menyesal kenapa dulu mau diajak Cabo III, " Ujar Bella, entah apa maksud dari omongannya ini.

Berlakon sebagai Poppy pada Halimun, terasa pas. Poppy adalah lambang wanita materialistis. Sampai memilih tunangan saja, harus orang kaya, "Saya bilang pas, Poppy dalam kesehariannya senang pesta, Itu saja!.  Sedangkan mengukur segalanya dari uang, wah najis bagi saya. Bagaimana mungkin kebahagiaan hidup bisa tercipta? Uang itu sebetulnya membahayakan manakala kita mengabdi padanya, " papar Bella saat dihubungi di suting Halimun di Sukamindi, jabar. 

Dengan istilah lain, peran Poppy menurut Bella adalah cewek asusila. Waktu di Cabo III, ia juga sebagai wanita lesbi. Justru yagn punya ciri lain ya dalam film Getar-Getar Melodi itu. Konon oleh PT. Mega Artha Film yang mengeluarkan film tersebut, Bella di bayar cukup mahal, setelah proses tawar menawar harga sampai satu bulan. Kenapa sih kamu minta dibayar mahal dari film sebelumnya?

"Lumrah, tapi saya juga tidak menuntut. Tanpa gebrakan begitu, selamanya pemain pendatang baru dianggap murahan. Saya  kan mencoba membela yang lain, " cetusnya. 

Dalam menentukan honor, Bella boleh selangit, tapi kesehariannya Bella sederhana, bahkan ada kesan sangat ekonomis dalam pengeluaran uang. Buktinya makan yang dilahap setiap pagi cukup merebus mie. 

"Sekarang lagi paceklik, main sinetron, berapa sih honornya? Ketimbang gue ngecerin diri kan lebih adil ngirit. Tul nggak?ha..ha...ha, Bella mengumbartawa, tawa persembahan Poppy yang khas sebagaimana terlihat di sinetron Halimun. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Tuesday, June 23, 2026

NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT

 


NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT (berita lawas). Nunu Datau yang adik kandung mantan artis Mutia Datau ini, boleh diharapkan sebagai bintang remaja potensial. Pengalaman main film memang sudah dikenalnya sejak usia anak-anak, antaranya di tahun 1985, pernah memerankan adik Iwan Fals dalam "Damai Kami Sepanjang Hari"nya Sophan Sophiaan. 

Kini, memasuki usia remaja, Nunu pun sering ikut mendukung film-film bertemakan keremajaan. Sebutlah misalnya serial "Lupus" yang mempertemukannya dengan sang gacoan Ryan Hidayat. Namun memang hampir selalu Nunu cuma kebagian peran pembantu saja, masih belum mendapatkan kesempatan untuk memainkan peran utama. 

Begitu juga dalam filmnya yang beredar medio Januari 1992 ini, "Pesta" arahan Eduard Pesta Sirait. Disini ia berperan sebagai teman sebangku si tokoh utama Desy Ratnasari di sebuah SMA. Walau tetap jadi pemeran pembantu, namun penampilannya yang manis ceria bisa mencuri perhatian penonton. 

Menyusul untuk pembuatan "Rini Tomboy" menjelang akhir tahun 1991, Nunu pun ikutan ke Pantai Kukup di selatan Yogya. Terjadi suati peristiwa yang sangat menggelikan menjelang suting. Untuk menghidupkan suasana alam pedesaan, sutradara Noto Bagaskoro meminta Yadi dari Bagian Unit untuk menyiapkan beberapa ekor kambing yang disewa dari penduduk setempat. 

Ternyata seekor kambing jantan besar yang lazimnya disebut bandot, sangat nakal. Yadi yagn membawanya dengan tali pengikat leher sempat diseruduk sampai tunggang langgang. 

Eh, di pantai kebetulan Nunu sedang membungkuk sampai nungging, untuk membetulkan tali sepatunya. Si Bandot langsung nafsu melihat pinggul Nunu yang membulat didepannya. Mungkin disangkanya Nunu sengaja menantangnya dengan menunggung begitu. Tanpa bisa di cegah lagi, si bandot langsung menerjang, "Brasss?!)

Nunu tersungkur ke pasir sambil menjerit.

Noto, Yadi, Adjie, Jujur Prananto dan lain-lainnya buru-buru menolong Nunu dan mengamankan si bandot galak. Bagi Nunu, mungkin sakitnya sih tak seberapa, tapi kagetnya itu lho! Untungnya, tak sampai terluka, tapi beritanya cepat tersiar malah di bumbu-bumbui menjadi "Nunu Diseruduk bandot birahi!~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.


Monday, June 22, 2026

MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN'

 


MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN' (berita lawas). Suting film "Rini Tomboy" nyaris terhenti pada saat sudah mencapai 75 persen. Produser Handi Muljono dari PT. Kanta Indah Film, bagai kehabisan nafas karena beberapa film produksinya berbujet besar sebutlah seperti "Saur Sepuh 4", "Tutur Tinular 2" dan "Balada Cinta Anglingdarma" kurang begitu berhasil dalam peredarannya. Akibatnya modal sekitar 3 milyar rupiah, sulit kembali. 

Maka, kelanjutan penyelesaian tiga film produksi terakhirnya pun menjadi tersendat-sendat. Tiga film tersebut adalah "Badai Laut Selatan", "Kamandaka" dan "Rini Tomboy" ini. 

Untunglah kemudian dicapai kesepakatan dengan pihak Subentra Bank yang bersedia mendukung dana untuk merampungkan film-film diatas. 

Di pimpin Megawati Santoso yagn melanjutkan kerjanya sebagai Produser Pelaksana, sutradara, pemain dan kru Rini Tomboy berangkat ke Yogya. Seperti di ketahui, pemeran Rini adalah pendatang baru Cornelia Agatha Dachlia, didukung oleh bintang-bintang muda seperti : Adjie Massaid, Titi Dwi Jayati, Nunu Datau serta dua remaja gres lainnya, Ninette Maritya dan Hendri Hendarto. 

Mereka berenam nampak kompak bersepeda berkeliling desa di Pantai Kukup, sekitar 60 kilometer di selatan Yogya. Dalam foto diatas terlihat Titi memboncengkan Nunu, dan Adjie memboncengkan Hendri masing-masing dengan sepeda perempuan. Tapi lihatlah Lia yang  memboncengkan Ninette, sengaja tampil beda dengan sepeda jantan.!

"Ho..ho..hoo, itu memang disengaja, " tawa sutradara Noto Bagaskoro yang setambun Samo Hung, " itu ciri khas untuk menunjukkan watak tomboy Rini yang selalu ingin tampil sportif dan boyish, kendati begitu ia masih tetap nampak manis kan?.~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Sunday, June 21, 2026

ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU


ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU (berita lawas). Ada semacam rasa ketakutan dari para produser film bekerjasama dengan sutradara yang biasa kerja berlambat-lambat, sekalipun dengan alasan untuk menghasilkan film yang kualitasnya lebih baik. Logikanya memang, bekerja dengan waktu yang cukup, tidak terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. 

Namun bukan jaminan. Semua tergantung dari orang yang mengerjakan dan tergantung dari kebutuhannya. Arifin C Noer, sutradara kenamaan itu memberikan contoh dari film yang dikerjakannya. Ketika membuat film G 30 S/PKI, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sebab film yang menggambarkan salah satu perjuangan bangsa itu harus di dukung oleh data sejarah yang lengkap dan penanganan yang teliti. Demikian pula untuk film lanjutannya, Super Semar. 

Waktu menggarap G. 30.S / PKI, mulai dari persiapan sampai edar, memakan waktu hampir dua tahun. Sedangkan Super Semar, lebih lama lagi. Bila kualitas kedua film tersebut diukur melalui Festival Film Indonesia (FFI), kualitasnya masih di bawah Taksi, yang digarapnya. Karena kedua film diatas tidak terpilih seabgai film terbaik, sedangkan Taksi terpilih sebagai film terbaik FFI 1990. Dengan contoh tersebut, memperkuat argumentasinya, bahwa bukan waktu yang menentukan baik buruknya hasil pekerjaan. 

"Saya kira, memang tidak ada satu orangpun yang mempunyai suatu keinginan mengulur-ulur waktu, kalau memang kebutuhannya tidak banyak. Mengulur waktu, tidak saja akan merugikan produser seabgai partner, tapi juga merugikan diri sendiri!" Tegas Arifin C Noer yang oleh sementara produser di klasifikasikan sebagai sutradara yang suka mengulur ulur waktu. Walaupun ia sudah membuktikan bisa bekerja cepat dengan kualitas terbaik dan punya nilai ekonomi tinggi. 

Sekarang ini, katanya, untuk menyelesaikan Bibir Mer, iapun akan berusaha bekerja maksimal, cepat dan tentu cermat. Alasannya masuk akal, karena katanya ia harus segera bersiap-siap mementas lagi dengan Teater Kecil yang dipimpinnya. "Setelah sukses di Singapura dengan Ozon, datang tawaran lagi untuk tampil disana , dilanjutkan ke Hongkong dan Tokyo. "Kami sudah menerima tawaran itu lewat faksimili, tapi kami belum memberi jawaban. Kami pikir, memang perlu diterima tawaran tersebut agar kita juga di kenal lebih luas di luar negeri. Kesempatan-kesempatan semacam ini, akan memberikan pengalaman yang berharga.,"katanya seraya menjelaskan pementasannya di luar negeri menggunakan dialog bahasa Inggris. Karena dialognya dalam bahasa Inggris, mau tidak mau kita berlatih lebih serius. Hal demikian dapat mematangkan diri kita sendiri. 

Mengomentari tentang pemain film Indonesia, Arifin bilang "Pada dasarnya pemain Indonesia itu berbakat, cuma katanya, penempatan untuk mematangkan kemampuan pemain tersebut diperlukan keseriusan dari para sutradara. ~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.


Friday, June 19, 2026

ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT


 ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT (berita lawas). Ia terbilang 'gres', bahkan masih 'bau kencur'. Terakhir kali ia terlibat film Blok M. Siapa dia? Dia Aldonna Viveronica. Biasa dipanggil Donna saja. Dengan celana jeans dan T.shirt menempel di badannya, sebagaimana layak pada gadis usia tujuh belasan. Apalagi dengan melihat foto-fotonya yang sempat menjadi sampul di beberapa penerbitan ibukota. Padahal 14 Januari (1992) yang lalu berusia 13 tahun. Dilahirkan di Bandung, 14 Januari 1979 dari pasangan Aldo Toncic dan Ika. 

"Hanya badan saya saja yang kelihatan bongsor, padahal saya ini masih kecil. Kalau tidur saja masih suka dikeloni oleh mama dan papa, " kata si bontot dari 6 bersaudara ini. 

Bagi Donna, bidang seni pada umumnya tidaklah asing. Tahun 1989 pernah tampil sebagai penyanyi cilik. Dua album yang dihasilkannya adalah "Apa Namanya" dan "Jangan Menangis Isabella". Waktu itu saya sering muncul di TVRI, lewat acara lagu Anak-Anak, sehingga dilirik oleh produser dan selanjutnya diajak rekaman. Karena kesempatan itu sangat menarik, tentu saya tidak sia-siakan. Kebetulan mama, papa dan seluruh keluarga memberi dorongan, " cerita Donna. 

Bicara soal kesempatan main film pun tidak dilewatkan. "Mama berpesan, semua yang terbaik untuk Donna tidak akan dilarang. Menyangkut soal gosip dalam kehidupan artis, tentu saja saya harus pandai-pandai menjaga diri. Soal gosip itu sendiri sudah konsekuensi semua artis, " kata pemilik tinggi dan berat 160 cm dan 39 kg ini, sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. 

Film dan musik memang sudah jadi obsesinya. Untuk itu dalam bidang tarik suara ia belajar vokal di Tripel M Production dan untuk meningkatkan kemampuan di bidang akting ia gabung dengan Channel 2000.

Pelajar SMP pengagum Madonna dan Michael Jackson ini, pernah juga jadi peragawati cilik. Lantas apa cita-cita Donna sebenarnya.?. Ia tidak lantas menjawab, pikirannya menerawang, "Wah sebenarnya Donna ingin menjadi wanita yang sukses di bidang apa saja. Pokoknya menjadi orang sukses deh, kalau bisa sebagai wanita karier. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Thursday, June 18, 2026

DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON

 


DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON (berita lawas). Ingat pada aktor Sean Connery yang pernah bilang sudah jenuh memerankan tokoh superspy James '007' Bond? Maka seusai merampungkan " You Only Live Twice" (1967), ia mengumumkan untuk mengundurkan diri. Film Bond beriutnya "On Her Mayestya's Secret Service" (1969), peran Connery digantikan pemain gres asal Australia, George Lazenby.

Namun Connery melakukan 'come-backe'nya yang pertama dengan kembalibermain sebagai 007 dalam "Diamonds Are Forever" (1971). Sesudahnya barulah digantikan oleh Roger Moore yang beruntun membintangi tujuh film Bond. 

Sampai 12 tahun kemudian Connery mau mengulang peran Bond lewat "Never Say Never Again" (1983). Sebenarnya cerita asli film ini merupakan remaki dari "Thunderball" (1965). Namun tajuknya bagaikan ucapan peribahaya Connery yang ingin menyatakan "Tak Pernah Bilang Tak Mau lagi".

Apa yang membuat Connery mau kembali ke James Bond? Ada yang bilang, karena film-film yang dibintangi Connery saat itu kurang laku di pasaran, hingga ia kepingin bikin kejutan. Disamping itu, tentu saja tawaran honor besar yang menggiurkan. 

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pula dalam dunia perfilman Indonesia atas diri Didi Petet. 

Seperti diketahui, namanya mendadak melejit sejak memerankan tokoh Emon dalam "Catatan Si Boy". Padahal sebelumnya, ia sudah pernah main film "Semua Karena Ginah" yang diarahkan sutradra khusus film-film komedi berbobot Nyak Abbas Akup. Namun hasil film tersebut biasa-biasa saja hingga tak mampu mendongkrak kepopuleran para pendukungnya. 

Didi beralih jadi pendukung drama serial "Losmen". Memerankan Mas Partono, agen Biro Pariwisata yang dicemburui Mas Jarot (Eeng Saptahadi) gara-gara pernah memboncengkan Jeng Sri (Dewi Yull) dengan motornya, tapi peran Partono kemudian lenyap begitu saja. 

Kekocakan Didi lewat tokoh Emon membuat ia menjadi sangat laris diminta membintangi banyak film. Tercatat empat kali memerankan Emon, selain tiga "Catatan Si Boy" juga dalam "Bayar Tapi Nyicil" bersama kelompok Bagito Group. (Saat berita ini diturunkan belum ada Catatan Si Boy 5 yang juga memerankan Emon).

Nampaknya peran stereotype model Emon, membuat Didi sangat jenuh. Maka saat suting "Joe Turun Ke Desa" yang berlokasi di pedalaman Sukabumi, ia mencetuskan "Saya nggak mau lagi memerankan tokoh kebencong-bencongan si Emon itu".

Apa sebabnya?

"Ya nggak mau saja," sahutnya ogah berpolemik.

Memang selanjutnya peran Didi semakin bervariasi. Bahkan sudah meraih piala Citra sebagai Aktor Pembantu Terbaik 1988 lewat "Cinta Anak Jaman". Iapun membintangi beragam film antara lain "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", "Si Kabayan", "Kipas-kipas Cari Angin", "Oom Pasikom" dan "Boneka Dari Indiana".

Didi berusaha keras menghapus citra Emon dengan bermacam perwatakan berbeda. Sulit dibilang berhasil karena trademark Emon sudah begitu melekat pada dirinya. 

Tegas Ia menolak ikutan pembuatan "Catatan Si Boy 4". Terpaksa sutradara Nasri Cheppy mencari tokoh kocak lain. Hasilnya tampil Wan Abud, remaja keturunan Arab yang dimainkan oleh Fuad Alkhar, tapi sempat juga Cheppy menyelipkan dialog pertelepon dari emon, "Hallo, Ms Boy sekarang Emon lagi kuliah di Paris...".

Lalu untuk pembuatan film sempalan tersendiri "Catatan Si Emon", mau tak mau Cheppy menyeleksi sosok-sosok yang rada mirip Didi. Dipasanglah pendatang Ade Faisal untuk memerankan Emon. Hasil film ini cukup lumayan. Cuma pasti lebih baik lagai kalau diperankan langsung oleh Didi yang memang sudah memahami betul perwatakannya. 

Absennya Emon ternyata tak abadi, karena tiba-tiba muncul lagi dalam "Catatan Si Boy 5". Tetap dengan kekocakan dan kemanjaannya yangkhas, ia menyusul terbang ke San Fransisco untuk bergabung dengan Boy. 

Bahkan sesungguhnay sebagaian besar cerita "Ca-Bo 5" berporos pada Emon yang menemukan anak Bule kesasar di taman kota. Dalam satu adegan, sempat Boy yang kesal karena ulahnya menghardik , "Dasar Ban ci, reseh trus!".

Kontan Emon ngambek berat. Ia tak sudi dibilang ban ci. 

Kasus Didi nampaknya serupa dan sama dengan yang dialami Connery. Maklumlah, film-film yang dibintangi Didi belakangan ini kurang laris. Dan tentu saja iming-iming imbalan (yang konon mencapai Rp. 40 juta) plus kesempatan suting sambil jalan-jalan selama sebulan di San Fransisco. 

Enak ya. hehe. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Wednesday, June 17, 2026

REBUTAN KONTRAK BINTANG


REBUTAN KONTRAK BINTANG (BERITA LAWAS)

FERRY FADLY

Kasus rebutan bintang sandiwara radio "Saur Sepuh", Ferry Fadly antara PT. Kanta Indah Film dan PT. Tobali Indah Film, toh masih berbuntut.

Pasalnya Ferry Fadly telah di kontrak oleh Kanta untuk bermain dalam sebuah film (bukan Saur Sepuh) yang skenarionya akan di garap oleh Niki Kosasih. Ferry telah menerima uang muka kontraknya, tapi sebelum pembuatan film tersebut di mulai, Ferry melompat ke Tobali yang memasangnya sebagai pemeran utama dalam "Brahmana Manggala"

Sudah barang tentu pihak Kanta merasa berang, namun Ferry berdalih, "terlalu lama menunggu, sudah empat bulan terkatung-katung, pembuatan filmnya belum dimulai. Lamanya ini karena  menunggu skenarionya Niki yang baru selesai sekarang, " kila Produser Hendi Mulyono sambil menunjukkan skenario "Bisma Untara".

Tapi karena Ferry dianggap telah melanggar kontrak , kemungkinan besar pihak Kanta emoh memakainya lagi. Lalu bagaimana dengan uang muka yang telah di terima Ferry? Rasanya uang tersebut akan di relakan hangus saja, itu sudah menjadi milik risiko Produser. 

Justru sekarang Ferry yang akan berbalik menuntut pihak Kanta lewat pengacaranya. Dalihnya "Meskipun sudah kontrak, tapi kalau terlalu lama belum juga dimulai pembuatan filmnya, itu sangat merugikan saya"!.  Menghadapi tuntutan dari Ferry ini, pihak Kanta sudah pasaang ancang-ancang. "Ada bukti-bukti tertulis kami sudah berulangkali menghubungi Ferry untuk datang ke kantor tapi ia tidak pernah muncul sekalipun. Oh , lala. 

ONKY ALEXANDER

Masih belum selesai urusan Ferry Fadly, pihak Kanta harus berebutan Onky "Boy" Alexander dengan PT. Bola Dunia Film dan PT. Virgo Putra Film. "Lho kami tidak mencari-cari Onky, tapi dia sendiri yang datang ke kantor kami, ditemani oleh Marwan Alkatiri (penulis skenario) dan Iwan (dari Blantika Agency), untuk menawarkan dirinya,"Cerita Handi Mulyono. 

"waktu ditanya bagaimana kontraknya dengan Bola Dunia, di jawab cuma satu film saja, lanjutan "Catatan Si Boy", hingga dalam bulan Agustus bisa bermain untuk Kanta".

Padahal kemudian baru ketahuan kalau pada PT. Bola Duna Film, Onky selain bermain dalam "Catatan Si Boy II" di bawah arahan Nasry Cheppy ia juga masih harus bermain dalam dua film lagi. 

"Pacar Ketinggalan Kereta arahan Teguh Karya sebagai permeran utama menggantikan Alex Komang yang turun menjadi pemeran pembantu. Lalu satu judul film lagi, yang masih belum ditentukan siapa sutradaranya dan apa judulnya. Sedangkan sampai pertengahan Juli 1988, sutin "Catatan Si Boy II", masih belum rampung juga. 

Kemelut ini bertambah dengan kontrak yang dibuat Onky pada PT. Virgo Putra Film, menurut Ferry Angriawan, "Onky dikontrak sampai bulan Desember 1989 oleh kami. Diharapkan bisa menyelesaikan tiga film setidaknya!". 

Ada cara untuk bisa lebih cepat memakai Onky, yakni dengan membuat film patungan , joint-venture antara Virgo dan Bola Dunia. "Boleh saja,kami setuju dengan syarat pihak virgo harus mengajukan cerita-skenario untuk kami pelajari dulu", sebut Hasrat Djoeir, Produser Pelaksana Bola Dunia, "Kalau memang bagus kami tak keberatan bekerjasama dalam penggarapannya. 

FENDY PRADANA

Menyusul kasus rebutan Fendy, Si Brama Kumbara dalam "Saur Sepuh Satria Madangkara". Memang yang semula mengajak Fendy bermain film adalah Sisworo Gautama Putra untuk produksi PT. Soraya Film, "Malam Satu Suro", sebagai kekasih Suzanna. 

Sebenarnya Fendy sudah di kontrak untuk hanya bermain pada Soraya film dalam tahun 1988 ini," ujar orang Soraya, tapi kami memberinya izin secara tertulis untuk ikut mendukung Saur Sepuh demi pengembangan kariernya."

Padahal Imam Tantowi meminjam Fendy pada saat suting "Malam Satu Suro" masih belum rampung.  Kini menjelang "Saur Sepuh" melanjutkan suting ke Lampung, berbalik pihak Soraya yang ingin meminjam Fendy untuk film baru mereka "Ngepet Aji Pelebur Nyawa" (judul sementara) dengan peran utama wanita Suzanna dan Joice Erna.

Permintaan Soraya ini ditolak oleh Kanta mengingat lokasi suting yang sangat berjauhan. Apalagi seusai suting "Saur Sepuh" episode pertama akan langsung dilanjutkan dengan episode keduanya. 

"Memang benar saya pernah menandatangani surat kontrak pada Soraya, tapi saya tak menerima uang pengikat barang satu rupiahpun" mengakui Fendy Pradana yang di jumpai di studio "Saur Sepuh" di Cengkareng. 

Pasal rebutan bintang ini bisa di tambah lagi dengan kasus Hengky Tornando yang juga terlibat dua produksi bersamaan "Saur Sepuh" dan Kisah Anak-anak Adam" untuk lokasi suting di tempat yang sama di Pangandaran;

BOLEH DUA FILM

Kasus-kasus diatas seolah-olah menggambarkan para produser diadudomba oleh bintang-bintang laris. Sebenarnya kasus serupa sudah bukan merupakan hal baru dalam perfilman nasional. Bahkan pada masa jayanya Roy Marten, Yati Octavia atau Lydia Kandou, mereka biasa main rangkap empat lima judul berbarengan. 

Akibatnya terjadilah 'saling culik bintang' dari lokasi yang satu ke lokasi yang lainnya. Pimpinan unit harus lihai mengintip dimana saja sang bintang sedang bermain, begitu 'break' langsung di sabet, diboyong ke lokasi lain. 

Maka muncullah kebijaksanaan dari PARFI, "Seorang pemain utama hanya boleh bermain dalam dua judul film pada waktu yang sama".

Pada kenyataannya, bermain dalam dua judul yang di produksi oleh dua perusahaan film, tetap saja menimbulkan problema. Nampaknya peraturan itu perlu di tinjau kembali, karena bisa menjadi senjata bagi sang bintang. "Lha, organisasi kami saja mengizinkan untuk main dalam dua film berbarengan kok?! Mumpung ada kesempatan bagus, kapan lagi?! Sumber : Majalah Film NO. 057/25 tanggal 3 September - 16 September 1988


Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.