Monday, July 27, 2026

CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA

 


CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA (berita lawas). Setelah sekian tahun absen di perfilman nasional, Clift Sangra muncul kembali sebagai jagoan. Sekali ini, dia muncul lewat arahan Sutradara Imam Putra Piliang dalam film Tapak-Tapak Berdarah. Meski lima tahun absen, tapi Clift merasa selalu berada di lingkungan film. Wajar saja, sebab isterinya sendiri artis beken. Bagaimana kalau Suzanna dapat tawaran Clrift selalu terlibat. 

"Kalau pergi dan pulang suting, saya harus menjemput istri, "katanya bangga. Alasan inilah membuat artis berbadan gempal tak akan meninggalkan film.  Banyak yang menduga Clrift selalu cemburu melihat Suzanna selalu suting. Sehingga dia harus mengawal isterinya kemanapun. "Tidak, saya sangat sayang kepada isteri," kilahnya blak-blakan. Memang usia Suzanna dan Clift jauh berbeda, bukan berarti jauh pula tali kasih. 

Banyak pula artis yang memuji kesetiaan Clift atas isterinya. Jarang orang muda yang tidak suka melirik wanita lain. Itulah dizaman atis lagi musim kawin cerai ini api cinta Clift atas isterinya tak pernah padam. Mengekori Suzanna bukan cemburu tapi karena sayang. 

Setelah lama absen di film tidak mempengaruhi penampilannya di depan kamera. Kemampuan dan sosoknya sama ketika pertama kali tampil dalam film. Tubuhnya yang kekar dan alot itu tetap stabil. Bahkan lebih ideal dari kemarin-kemarin. 

"Sarapan saya besi," ujarnya berkelakar. Kalau  tidak angkat barbel setiap pagi, rasanya badan ini terasa sakit,"katanya menyambung. Itulah sebabnya dia harus angkat besi dulu sebelum sarapan pagi. "Kalau tidak, ada saja yang kurang. Hidup jadi tidak bergairah, "selanya sambil ngakak. 

Tidak hanya angkat besi, Clift juga melakukan latihan bela diri. "Terus terang saja, bela diri merupakan sebagian dari hidup saya," selanya. Itulah ketika dia berlakon dalamfilm action yang mendapat peran Hendra, tubuhnya begitu lentur melakukan latihan perkelahian."Kalau tidak latihan setiap hari bagaimana saya bisa berlakon dengan baik, "Lalu apakah tak kepingin berlakon dalam film Drama?"Saya senang sekali. Saya juga mampu berlakon apa saja, katanya mantap. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA

 


RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA (berita lawas). Wajahnya masih tetap cantik. Tubuhnya masih terlihat seksi dan sintal. Sementara gaya bicaranya masih seperti dulu, ceplas ceplos. Lalu adakah yang berubah dari diri seorang Rani Soraya?

Tentu saja Rani yang beken jadi pasangan Richie Ricardo di film layar lebar bertajuk "Bercinta" banyak yang sudah berubah. Kalau dulu ia masih single, sekarang sudah menjadi nyonya Michael Backman dengan dua anak Andre Sopandi Backman (5) dan Jonatan Sopandi Backman (4 bln). Perubahan lainnya, wanita kelahiran Bandung, 18 Januari 1967 ini kini lebih serius menekuni dunia bisnis bersama suaminya. 

Jika dia kini kembali hadir sebagai pendukung Senandungkan Damai dan bakal ditayangkan di TVRI itu tak lain karena Rani kangen sekali dengan hiruk pikuknya suasana syuting. "Enam tahun nggak berhadapan dengan kamera membuat hati ini terus berontak,  " ujar yang punya nama lengkap Rani Soraya Backam.

Masalahnya selama 6 tahun Rani memilih ikut suaminya tinggal di Finlandia. Dasar orang film, selama d Finlandia wanita asal Garut Jawa Barat ini tak seluruh waktunya dihabiskan jadi ibu rumahtangga yang baik. Ia kursus bahasa nenek moyang suaminya, yaitu bahasa Finlandia. Satu lagi, Rani masuk sekolah leater Internasional, yang muridnya datang dari berbagai negara sepeti Argentina, Afrika, Brazil, Jerman, Rusia, Spanyol dan beberapa negara lainnya. 

Kata penyuka warna merah , biru dan hitam ini, dari Indonesia muridnya bukan hanya dia seorang. Ada satu seniman beken asal Bali. "Maaf saya lupa namanya,"ujar Rani. Yang jelas Rani merasa beruntung sekali bisa sekolah disana, karena ilmu aktingnya jadi tambah matang. Bahkan Rani sempat tampil di layar lebar produksi negara yang hanya berpenduduk 5 juta jiwa itu. 

Tapi, lagi-lagi Rani lupa akan judul film yang dilakoninya. "Yang jelas saya main termasuk peran utama, "kilahnya yang terakhir tampil di layar kaca dengan judul "Mahkota Mayangkara" dimana saat itu Rani dalam keadaan hamil 3 bulan. 

"Selain tampil di layar lebar, sebetulnya tawaran lain banyak berdatangan tapi waktu saya nggak ada dan saya pribadi sudah berjanji hanya mau jadi ibu rumah tangga yang baik, "paparnya. 

Kalaupun ia kii bersedia tampil kembali disini, seperti yang dikatakannya tadi hanya karena kangen saja. "Tak ada pikiran saya berlakon karena ingin mengejar popularitas, ataupun dari sisi materi, " tegas cewek yang di tahun 90an termasuk salah satu artis bom seks layar lebar. "Niat saya sekarang tak lain ingin jadi pemain yang baik dan berlakon sebaik-baiknya," lanjut Rani yang dinikahi bule asal Finlandia Michael Backman di Garut 13 Januari 1996.

Walau niat awalnya ingin bermain sebaik mungkin sebagai pelakon, Rani mengakui saat kembali berhadapan di depan kamera, ia merasa nervous dan gugup. Untunglah teman-teman lamanya, seperti Uci Bing Slamet, Eddy Chaniago, Fuad Baraja, Lela Anggraeni dan Kamel Marvin selaku sutradara terus memberi dukungan dan memberi kritik membangun. Akhirnya semangat dan motivasinya untuk tampil sebaik mungkin di "Senandungkan Damai" sesuai yang diinginkan. Yaitu tampil jadi ibu rumahtangga yang baik berlakon sebagai Rogaya istri dari Fuad Baraja. 

Apa kesan Rani setelah 6 tahun tidak tampil sebagai pelakon? "bisa dikatakan saya cukup prihatin, karena gaya bekerja orang film ternyata masih jalan di tempat. "Maksudnya dalam sebuah penggarapan film , mereka bekerja belum taktis. Masih banyak ngaretnya. Beda sekali saat saya main di Finlandia semua serba profesional dan terarah,"urainya. 

"Melihat keadaan seperti itu, tentu saja ada keinginan memproduksi sendir. Tentu saja kalau saya punya timwork yang bagus dan profesional, " kata artis yang terakhir terlibat dalam film Komodo (1992) itu. 

Namun untuk saat ini, konsentrasi Rani yang utama adalah membangun perusahaan internet bersama suaminya yang baru beberapa bulan dijalani. "Saya ingin membangun usaha yang kami bangun ini sangat beda dengan usaha internet yang sudah ada yaitu bergerak di bidang Company Profile, COntact Person, Map dan Direct acces to update, " tandas Rani serius. 

Rani ingin membuktikan kalau dirinya sekarang sudah berubah jauh. Jelasnya, Rani sudah berjanji pada diri sendiri untuk merubah image dirinya yang dulu dijuluki salah satu artis bom seks, dan kini julukan itu sudah tidak berlaku lagi. "Rani sekarang sudah beda dengan Rani yang dulu", tegasnya. ~~MF 405/371/XVII 21 Des 2001 - 4 Jan 2002



Sunday, July 26, 2026

ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME

 


ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME (FTV Lawas). Ada yang masih ingat Angin Rumput Savana? Garin Nugroho kembali menafsir Sumba lewat Angin Rumput Savana. Lewan sinetron yang merupakan kerja bareng John Hopkins University, BKKBN dan TPI dengan biaya produksi sekitar Rp. 250 juta ini Garin mencoba untuk melakukan penjelajahan artistik, penjelajahan dokumentasi dan juga penjelajahan romantis. 

"Angin...memang beda dengan Surat. Angin saya garap dengan romantis. Katakanlah, dia seperti musim penghujan. Sementara Surat merupakan musim kemarau. Film ini adalah film personal, keras, dengan tingkat absurditas sangat tinggi,"paparnya. "Biarpun pihak John Hopkins University menargetkan sinetron ini memperoleh International Award, saya pribadi tidak mentargetkan untuk itu. Target saya hanyalah agar karya ini mempunyai nilai baru. Seperti pada proyek pembuatan dokumenter Anak-Anak Jalanan yang dibiayai NHK, Jepang, beberapa waktu lalu. Disinipun saya tidak ingin didikte."

T : Angin Rumput Savana ini bertutur tentang apa?

J : Cinta kasih. Cinta seorang ibu pada anak, hubungan manusia dengan manusia. Disini dituturkan tentang Rambu Anak Wulung seorang gadis yang menentang adat perkawinan culik yang dialami ibu dan neneknya. Untuk itu ia pergi dan memutuskan untuk menjadi dokter. Namun ketika kembali ke Sumba, perkawinan culik itu terjadi padanya. Pria yang menculiknya, sesungguhnya telah kawin dengan Rambu Awang Intan. Dan sesungguhnya juga, mereka bertiga itu bersahabat sejak kecil. Saat melahirkan, Rambu Intan meninggal. Dan anak yang ditinggalkannya itu, hanya mau tidur jika ditidurkan Rambu Awang dengan mendengarkan lagu "Why Do You Love Me".

Kawin Culik itu sendiri, sekarang ini sudah sulit ditemui. 

T : Untuk kedua kalinya, Anda memilih Sumba sebagai setting. Sumba, tampaknya memiliki arti penting bagi Anda?

J : Seharusnya Sumba bukan cuma dua kali ditafsir. Daerah ini unik. Selain masih menyisakan masa lampau-zaman megalitikum - tetapi juga daerah yang menerima masa kini. Di sini selain terjadi gegar budaya juga terjadi pertumbuhan bersama. Masyarakatnya selain berkutat dengan masa lampau, juga telah menerima modernisasi. Parabola sudah biasa digunakan disini. Saya menganalogikan Angin Rumput Savana sebagai musim penghujan. Penuh romantisme. Beda sekali dengan Surat Untuk Bidadari yang keras, dan tingkat absurditas yang tinggi. 

Disini juga saya menampilkan kembali upacara tarik batu atau upacara pemakaman. Biaya untuk tarik batu itu cukup besar. Sehari bisa menghabiskan Rp. 3 juta belum termasuk orangnya. Saat penggarapan sinetron ini, sesungguhnya, mereka sedang istirahat dari upacara tersebut. Tetapi berkat bantuan Umbu Awi, raja Kalang, upacara tersebut dapat ditampilkan. Masyarakat Sumba Barat sangat membantu. DiSumba Timur, kamrena ada kesalahpahaman dalam soal izin produksi, agak timbul masalah. Tapi itu sudah diselesaikan dengan baik. 

T : Kalau tidak salah di Angin Rumput Savana ini Anda menggabungkan keindahan iklan, dokumenter, cerita dengan video. Dan nyatanya hasil gambar lewat video lebih bagus dibanding film 35 mm atau 16 mm?

J : Video punya kelemahan dan kelebihan tersendiri. Hasil gambar dari video, lebih indah dari gambar aslinya. Untuk itu kita harus tahu karakter. pemilihan filter yang tepat, dan desain warna. Karakter yang kurang tepat, harus kita hindari. Potensi yang dimilikinya, harus kita manfaatkan. Misalnya begini, Kalau cuaca kelewat panas, hasilnya akan kurang bagus, mendung sedikit juga kurang bagus. Menghadapi cuaca yang berubah setiap hari seperti ini , kita break. Tunggu waktu yang pas. Memang ini yang pertama kalinya buat saya menggarap sinetron cerita dengan full video. Sebelumnya saya hanya menggarap iklan. Penggarapan ini sebagai tatecase dan ujicoba. 

T : Romantisme dan agak pop, bisa dibaca untuk melakukan dialog dan mengkomunikasikan dengan penonton?

J : Dalam Surat Untuk Bidadari, sebetulnya juga telah terjadi dialog. Dialognya bisa sangat keras, mungkin sangat pahit. Tetapi itu harus dilakukan. Kalau kita tidak menafsir kebudayaan dengan berbagai cara, kemungkinan terjadi friksi besar sekali. Perang antar suku, misalnya, kalau saya menafsir Sumba sebagai lembut, lebih romantis, tentu untuk menyerap penonton yang lebih banyak, Saya tetap meyakini personal seperti Surat, hanya golongan tertentu yang menontonnya. Sebuah karya yang utama adalah tidak mengubah dirinya sendiri. 

Jika mengubah dari dirinya sendiri, dia pasti jelek dan itu akan menghasilkan industri. Contoh sederhana begini. Jika ada orang minta agar Budy Allen merombak karyanya agar banyak ditonton orang, orang itu sebaiknya ditempeleng. Film-film personal, saya yakini tetap akan tumbuh dan punya pasar tersendiri. 

Tetapi disini, tidak berlaku demikian. Disini kita menginginkan keseragaman dan penonton yang banyak. Maka, wajar jika film nasional bangkrut. Sebuah film seharusnya tidak musti dikomunikasikan banyak orang tetapi film itu memperbanyak penonton. 

T : Artinya tidak musti seragam?

J : Kalau kita bikin film laku dan semuanya melakukan hal yang sama, lalu buat apa kita bikin film. Pertanyaanya, mengapa opera sabun Jepang diproduksi? Mengapa tidak mengikuti opera sabun ala Amerika Latin yang lebih laku? Itu karena opera sabun Jepang punya penonton yang berbeda. Artinya kita perlu dan harus punya keanekaragaman. 

T : Anda tidak mengalami kesulitan dengan medan yang berubah-ubah dan tim kerja yang baru?

J : Memang tim yang ikut saya ini, adalah generasi baru dibawah tim Kuldesak. Tetapi mereka memiliki spirit dan semangat kerja yang bagus. Begitu juga dengan pemain. Mereka bermain bagus sekali seperti keinginan saya. Buat saya tahun ini merupakan tahun yang bagus bagi pertumbuhan. 

(Tahun lalu, ditengah 'upacara' dan gegap gempita menyambut peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, Garin Nugroho di percaya NHK menggarap film dokumenter, Dongeng Kancil, Anak-anak Jalanan. Disini, Garin memperlihatkan kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta. Anak-anak yang diasuh malam. Disini diperlihatkan bagaimana agar mabuk, bocah-bocah itu menghisap lem Aika Aibon - karena ketidakmampuannya beli minuman keras. Atau tentang bocah-bocah yang sudah mengenal hubungan seks dengan pelacur. Garin, ingin jujur dan memperlihatkan sesuatu yangboleh jadi , asing dan belum pernah kita lihat. Tetapi, kejujuran itu, bisa jadi ditafsirkan salah. Ada yang menilai dokumenter ini seperti menjemur celana dalam dipagar rumah).

Menurut Garin, pertanyaan seperti itu memang bakal muncul dari banyak pihak. Hal itu bisa terjadi karena, "Komunikasi kita selama ini sangat eufisme sekali. Ketika saya memperlihatkan, orang kaget. Kekagetan itu bisa dimaklumi, karena film seperti ini tidak pernah dibuat. Film ini dibuat bukan untuk memperolok-olok bangsa sendiri, " akunya. Pemda Yogya, seharusnya malah berterima kasih dengan dokumenter seperti ini. 

Dokumenter ini, justru dapat digunakan sebagai bahan studi dan banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu. "Dokumenter ini paling laku selama dua tahun. Buat Rumah Sakit, katakanlah RS Islam, wajib nonton film ini untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Dari sini mereka dapat mengatasi masalah AIDS, misalnya atau pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak-anak".

T : Sisi gelap ini memang perlu diperlihatkan?

J : Pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter di Berlin beberapa waktu lalu, Amerika Serikat justru memperlihatkan kehidupan yang lebih sadis, lebih gelap dari film saya ini. Dan orang-orang justru bangga dengan Amerika. Pertanyaannya , kenapa bisa terjadi? Orang Amerika memperlihatkan fakta-fakta dan betapa demokratisnya mereka. Guna memperingati kemerdekaannya, Amerika menampilkan demonstrasi dan rasialisme. 

Kalau kita ingin menerangi satu tempat, sementara Anda nggak tahu dimana sisi gelapnya, itu tidak mungkin terjadi. ~dari MF No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


19 FILM PILIHAN FFI 1989

 


19 FILM PILIHAN FFI 1989. (berita lawas). Sebanyak 19 judul film Indonesia dipilih oleh Dewan Komite Seleksi FFI dari 92 judul film peserta FFI 1989. berikut adalah 19 judul film tersebut : 

1. Judul : Arini, Biarkan Kereta Api itu Lewat

    Sutradara  : Wim Umboh

    Pemain : Rano Karno, Ida Iasha, Rico Tampatty, Rima melati, Rani Soraya dll

 2. Judul : Namaku Joe, 

    Sutradara : Nasri Cheppy, 

    Pemain : Didi Petet, Onky Alexander, Meriam Bellina, Paramitha Rusady , dll

3. Judul : Semua Sayang Kamu, Dewi Cipluk

    Sutradara : Ida Farida, 

    Pemain : Neno Warisman, Eeng Saptahadi, Uci Bing Slamet , dll

4. Judul : Bayi Tabung

   Sutradara : Nurhadie Irawan

   Pemain : Widyawati, Deddy Mizwar, Essila Emir, Baharudin, Haji Omar, Vivi Samodro, dll

5. Judul : Catatan Si Boy III

    Sutradara : Nasri Cheppy

   Pemain : Onky Alexander, Meriam Bellina, Didi Petet, Leroy Osmani, dll

6. Judul : Kipas-Kipas Cari Angin

    Sutradara : Nya' Abbas Akup

    Pemain : Mathias Muchus, Nurul Arifin, Didi Petet, Eeng Saptahadi, Raja ema, pak Tile dll

7. Judul : Malioboro

    Sutradara : Chaerul Umam

    Pemain : Nungki Kusumastuti, Ira Wibowo, Sigit Hardadi, dll

8. Judul : Omong Besar

    Sutradara : MT. Risyaf

    Pemain : Deddy Mizwar, Eeng Saptahadi, Sylvana Herman, Mr. Os, Raja Ema, James Lapian , dll

9. Judul : Tragedi Bintaro

    Sutradara : Buce Malawau 

    Pemain : Asrul Zulmi, Lia Chaidir, Ferry Octora, Roldiah Maulessi , dll

10. Judul : Jeram Cinta

     Sutradara : Wahab Abdi

     Pemain : Ida Iasha, Athina Fransisca, Cok Simbara, Harry Capri, Dian Nitami, dll

11. Judul : Ketika Cinta Tlah Berlalu

     Sutradara : Adi Surya Abdi

    Pemain : Doni Damara, Sophia Latjuba, Nurul Arifin, Sena A Utoyo, dll

12. Judul : Noesa Penida

     Sutradara : Galeb Husin

     Pemain : Ray Sahetapy, Rita Zahara, Ida Ayu Made Diastini, Gusti Randa, Piet Burnama, dll

13. Judul : Dia Bukan Bayiku

      Sutradara : Hasmanan

     Pemain : Rano Karno, Marissa Haque, Yoseano Waas, dll

14. Judul : Pacar Ketinggalan Kereta

     Sutradara : Teguh Karya

    Pemain : Rachmat Hidayat, Tuti Indra Malaon, Niniek L Karim, Nurul Arifin, Alex Komang, Didi Petet, dll

15. Judul : Saskia

      Sutradara : Boyke Roring

      Pemain : Rico Tampatty, Nurul Arifin, Desy Ratnasari, dll

16. Judul : Si Badung

      Sutradara : Imam Tantowi

      Pemain : Rully Djohan, Mang Udel, Mien Brodjo, dll

17. Judul : Suami

      Sutradara : Sophan Sophian

      Pemain : Sophan Sophiaan, Widyawati, Ria Irawan, Desi Yull, Yoseano Waas, dll

18. Judul : Putihnya Duka, Kelabunya Bahagia

      Sutradara : Frank Rorimpandey

      Pemain : Eva Rosdiana Dewi, Joice Erna, Dwi Yan, Deddy Mizwar

19. Judul : Si Kbayan Saba Kota

      Sutradara Maman Firmansyah

     Pemain : Didi Petet, Paramitha Rusady, Nurul Arifin  dll


    Demikian di sadur dari MF No. 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989. Dalam artikel aslinya terdapat sinopsis dari masing-masing film. 

LINA BUDIARTI, "SAYA INI MEMANG PANTAS JADI HOSTES ATAU PELACUR", PERTAMA MAIN FILM HONORNYA 60 RIBU DISURUH TELANJANG

 


LINA BUDIARTI, (berita lawas). Waktu pertama main film honor Lina Budiarti cuma Rp. 60.000, itupun sudah berdua dengan suami. Untuk honor sebesar itu Lina disuruh melakukan adegan serem, buka baju dan bergumul diatas ranjang. Hanya sedikit saja bagian dalam busana yang menutupi tubuhnya yang gempal berisi itu, celana dalam dan BH. Lina disuruh bergumul dengan lelaki yang menggaulinya. Hemmm

"Wah saya merasa terperangkap waktu itu. Untuk menolak tidak mungkin karena honornya sudah saya terima. Tapi kalau harus melakukan adegan seperti itu rasanya juga mustahil. Jelek-jelek saya ini kan ibu dari anak-anak saya. Apa kata orang nanti, "kata Lina Budirati menceritakan pengalamannya pertama terjun kedunia film. 

Itu terjadi tahun 1976, saat ia ditawari numpang lewat dalam film "Bernafas Diatas Ranjang" arahan Dasri Yacob. Tapi jangan salah, honor sebesar itu sudah bisa beli lebih dari 25 gram emas, mengingat harganya Rp. 2500/gram. (wah murah sekali kalau diukur jaman sekarang ya hehe...)

Mulai kenal film dibisikin oleh seorang wartawan, tak lama sesudah Lina mengikuti pemilihan None Jakarta wilayah Jakarta Timur tahun 1976. Pemilihan yang tidak membedakan status (gadis, janda atau sudah beranak) itu sempat mengangkat Sukarlina Budiarty kelahiran Banjarnegara ini tampil sebagai pemenang harapan. 

Dari situ seolah jalan menuju bintang terbuka buat Lina istri Budyanto, pengarang buku cergam paling produktif saat itu. Bahkan dia bisa disebut pelopor pengarang buku-buku komik bergambar bertemakan remaja. Tahun 67 Budyanto S menghentikan kegiatan lamanya membuat cerita komik dan bersama-sama sang istri terus mengarungi dunia film. Sang istri terus menekuni akting sementara Budyanto S jadi penata busana. Lantas dia pulalah yang mendorong istrinya jadi foto model. Kalau perlu pakai bikini atau menampilkan bagian-bagian yang sensual. Bermunculanlah foto-foto Lina Budiarti sebagai penghias kalender atau majalah dengan pose ngeseks. 

Penampilan yang seksi ini terus berlanjut di film. Tak lain karena banyak sutradara memanfaatkan postur tubuhnya. Seperti diakui sendiri oleh Lina ,"Dalam film saya ini memang pantesnya jadi perempuan penggoda, hostess atau pela cur"itulah peran-peran yang pas buat saya, "katanya sambil memberi contoh perannya dalam film "Ponirah terpidana" (Slamet Rahardjo) , dia bermain sebagai pela cur, dari satu lelaki pindah ke lelaki lain, "Itulah film yang palin gberkesan selama say aikut membintangi film, "katanya. 

Meski di cap perempuan penggoda dalam film, tetapi diluar itu, Lina mengaku tak seburuk sangkaan orang. Lina tetap Lina Budiarti, ibu lima anak dan istri setia.

"Film kan cuma bohon-bohongan, ya saya lakukan itu dengan bohong-bohongan pula. Selesai suting ya sudah," katanya yang megnaku tidak pernah risi melakukan adegan ranjang atau ciuman dengan setiap lawan main. Umumnya semua lawan main sudah kenal atau bahkan kawan-kawan dekat, timpal Budiyanto. "Lagi pula adegan ranjang ataupun cium yang dilakukan LIna selama ini masih dalam batas-batas terlalu wajar. Busana dibuka sedikit atau cium dikening atau leher. Ya, lumrah saja, "sergah Budiyanto yang sudah 20 tahun kawin sama Lina Budiarti. 

Karena penampilannya yang cenderung ngesek itu, Lina Budiarti sering diperingati induk oraganisasinya Parfi. Sudah berkali-kali dapat peringatan keras tapi Lina cuek saja. "Lha menurut saya foto bikini adalah pekerjaan yang paling sopan dan halal, ketimbang di film harus telanjang bulat, "celotehnya. Kalau parfi mau peringati, itu dong artis-artis yang tiba-tiba naik mobil bagus, punya rumah, padahal tidak pernah dapat peran utama. Darimana duitnya tuh, kata Budyanto setengah menuding. Siapa bud? Akh ya nggak perlu kita sebut.Pokoknya kita taulah permainannya mereka, lanjutnya. ~sumber : MF 073/41/TH.V/15-28 April 1989


Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ALDI RIZALDY, AKTOR 90an


 ALDI RIZALDY, AKTOR 90an (berita lawas). Kali ini mari kita berkenalan dengan aktor dan juga bintang iklan era 90an. Aldi Rizaldy. Aldi Rizaldy, mengaku kadang sulit jika ditanya aslinya darimana. Maklumlah cowok handsome kelahiran Palembang, 2 Agustus 1971 ini mengaku lahir dari buah cinta pasangan campuran. 

Bintang Iklan Rexona dan Minak Djinggo Internasional terlahir dari ayahnya asli Arab Irak, mamanya Arab Saudi dan Neneknya Malaysia China. 

"Aku ini bisa disebut anak gado-gado. Jelasnya, sih anak Indonesia dong!, terang bintang andalan layar lebar di "GAIRAH YANG PANAS" , "JARINGAN TABU" dan GAIRAH HILDA" ini. 

Tentang dunia artis menurut wajah baru yang mirip bintang India Kumar Gaurav ini baru ditekuninya sekitar dua tahun. Walau begitu ia merasa betah untuk terus berkiprah sebagai pelakon. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di MF  No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


T : Kok langsung betah berprofesi sebagai artis?

J : Habis enak sih!. Lagi pula jadi artis memang sudah cita-citaku sejak kecil. 

T : Usia berapa cita-cita itu muncul?

J : Sejak Usia 10 tahun aku sudah sering berkhayal ingin jadi bintang film. 

T : Keinginan yang kuat itu datang setelah Aldy melihat permainan siapa?

J : Ketika melihat permainannya Rano Karno, Widyawati, dan Sophan Sophiaan. Saat itu setiap mereka main aku selalu menghayati permainan mereka dan begitu kagum dengan kepiawaiannya bermain dalam perannya. 

T : Bagaimana reaksi ortu begitu Aldy memutuskan terjun sebagai pelakon?

J : Mereka setuju dan mendukung saja. 

T : Profesi Papimu sendiri apa ?

J : Papiku, pengusaha kayu. 

T : Kenapa kamu tidak mengikuti jejak papimu saja, toh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi artis?

J : Aku pernah mengikuti jejak papi sebagai pengusaha kayu. Tapi  aku ini bosenan. Akhirnya aku tinggalkan pekerjaan itu. 

T : Setelah jadi artis, kalau bosen lagi, ditinggal lagi?

J : Kalau sebagai artis aku nggak bosenan,  karena seperti yang sudah dikatakan tadi, profesi ini aku cinta sekali. (Profesi Aldi sebagai artis, katanya diawali dari model, dimana ia disalurkan lewat sebuah agency. Sedang tentang ilmu akting, menurut Aldi ia dapat dari banyak nonton film-film di bioskop dan televisi).

T : Siapa saja teman cowokmu dikalangan artis?

J : Denny Malik, Thomas Djorghie dan Jamil Reza

T : Kalau yang ceweknya?

J : Mila Karmelia, Anne J Coto dan beberapa model lainnya. 

T : Sebelum hijrah ke Jakarta, kamu tinggal dimana? 

J ; Aku tinggal di Palembang

T : Begitu kamu memutuskan untuk meniti karir di Jakarta, apakah langsung direstui ortu?

J : Tentu saja. Bahkan saat melepas kepergian aku ke tanah rantau, diadakan selamatan segala dengan mengundang pengajian. 

T : Saat orangtua melepaskan anaknya untuk merantau, kalimat apa yang kamu ucapkan agar mereka yakin anaknya nanti tidak bermasalah?

J : Aku katakan, kalau aku akan mencari rejeki yang halal. Soal sholat lima waktu dan mengaji, aku tegaskan jangan kuatir. Itu memang sudah kewajibanku untuk menjalani dan tidak pernh untuk meninggalkannya. 

T : Apakah sebelum hijrah ke Jakarta, kamu sempat singgah di kota lain?

J : Ya, aku sempat juga tinggal di Bandung, bua usaha jual onderdil mobil dan mebel. Tapi karena bosen lagi , aku tinggalkan. 

T : Sepertinya kamu memang senang mandiri. Padahal kamu datang dari keluarga yang berkecukupan dan anak laki-laki bungsu dari 7 bersaudara. Jadi apa yang mau dicari?

J : Karena aku merasa sudah waktunya hidup tanpa bantuan orangtua. malu dong, kalau terus-terusan minta orangtua. Bahkan sekarang saatnya giliran aku yang memberi untuk orangtuaku. 

T : Maksudnya?

J : Ingin nyenengin orangtua. Salahsatu caranya, ingin mmeberangkatkan mereka ke Tanah Suci Mekah. Kalau keuangan lebih dari cukup, aku juga inign menyertainya ke tanah suci. ~

Friday, July 24, 2026

AMBU YETTY SYARIFAH


 AMBU YETTY SYARIFAH (berita lawas). Yetty Syarifah yang dikenal sebagai Ambu, bersikeras ingin mempersatukan kalangan seniman, khususnya di daerah Jawa Barat. Karena selama ini menurut  penilaian Ambu, seniman di Jabar sulit di atur, masing-masing punya keinginan sendiri, sehingga praktis sulit untuk bersatu. Betapa tidak! Dalam kaitan itu, Ambu hidup menggeluti dunia film dan sinetron yang ditekuni sejak 1972 silam. Cita-citanya lain tidak kecuali ingin memajukan seni budaya lewat persatuan dan kesatuan di kalangan para seniman, katanya saat ditemui di sela-sela syuting film "Warisan Terlarang" yang berlokasi di Kuningan arahan sutradara S.A Karim. 

Ambu yang lahir 14 Maret 1936 dari pasangan R. Opo Sumantapraja yang Opzegter Perkebunan dan Julijah asli Garut itu mengawali karirnya lewat film "Si Buta Dari Gua Hantu", menyusul puluhan film lainnya. Diantaranya film "Gadis Marathon" cukup berkesan, sejumlah sinetron termasuk "Sartika". Disitu Ambu bisa mengembangkan watak dan selalu berupaya main maksimal, sesuai arahan Sutadaran antaranya Kurnaen Suhardiman, Bambang BS dan banyak lagi , "tutur pengagum BJ Habibie. 

Darah seni mengalir dari orangtuanya. Dulu orangtua say akerap tampil dalam seni "Cianjuran" suaranya lumayan mendayu-dayu dan bisa membuat orang tertidur bila mendengar lagu "Cianjuran".

Meskipun ia sekarang berstatus janda berputra empat, ia tidak pernah kesepian, sejak ditinggal suaminya menghadap yang Maha Kuasa. Menyusul suami kedua, tapi nampaknya kurang pas dan akhirnya sekarang sendiri lagi. Saya tidak memikirkan ingin punya suami lagi, umur sudah tua dan lagi punya banyak "incu".

"Kegiatan sehari-hari bila tidak ada syuting, saya tumpahkan kasih saya seorang nenek kepada cucu-cucunya,  ujar anak bungsu dari sepuluh bersaudara ini.  ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990