SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK, Angin laut selatan menerpa-nerpa pantai wisata karang Tirta Pangandaran, Jawa Barat. Udara membawa uap panas, membuat suasana semakin gerah. Namun tidak membuat kru film Saur Sepuh IV episode Titisan Darah Biru larut dengan udara panas, menyengat dan membakar kulit. Jauh-jauh hari kru artistik yang di komandoi El Badrun dan Dellsy Syamsumar telah bekerja membangun set candi tua, mempersiapkan properti dan atribut-atribut lainnya menurut sejarah masa Majapahit yang menjadi patokan ide cerita Nikki Kosasih.
Dari arah jalan, tempat wisata Karang Tirta seperti sebuah "pasar seni" meriah dan tak pernah terjadi suasana seperti ini sebelumnya. Biasanya pantai Karang Tirta hanya sebuah semi padang rumput dan dihiasi semak belukar tak terawat. Dengan berdirinya gapura istana Madangkara setinggi 15 meter, membuat tempat rekreasi lokal yang tak pernah disentuh Pemda Jabar ini semakin anggun. Sebelah kanan arah jalan terdapat sebuah istana Keputren. Istana itu dibangun diatas padang rumput dengan memanfaatkan belukar liar sebagai pepohonan rindang. Sekali pandang, kita akan asing dengan dua bentuk istana keputren itu. Selain warna cat nan legam, relief lengket di dinding berkesan magis. Sehingga seperti rumah orang bunian (jin), begitu mencekam. Padahal bangunan istana keputren ini terbuat dari tripleks , sedang atapnya terbuat dari fom (gabus) yagn di cat berwarna hitam. "Sebelum suting, kami bertiga , saya, Badrun dan Tantowi telah membaut seketnya. Jadi bangunan dirancang jauh-jauh hari, " kata Dellsy Syamsumar.
Sebelah kiri jalan terbentang perkampungan era Majapahit, atapnya membumbung tinggi beratap rumbia. Sementara dindingnya terbuat dari kayu-kayu laut tanpa di ketam (serut). Kawasan bangunan itu memiliki lima bangunan induk yang begitu asing. "Kami tidak hanya mereka-reka bentuk rumah penduduk masa Majapahit. Kami mencari bentuknya dari literatur, yakni dari buk karangan Rafles. Dari buku karangan Rafles ini kami berani membuatnya. Jadi punya argumentasi kuat membuat bangunan ini, ' ujar Dellsy meyakinkan.
Setting interior Istana Madangkara dibuat jauh dari bangunan induk lainnya. Karena keadaan di Karang Tirta tidak memadai, istana itu dibuat megah, semegah nama Madangkara. Oleh karena itu dibutuhkan lapangan yang luas, tempat berdirinya dinding dan sangkutan lampu. Tidak ada jalan lain, kecuali membuatnya di lapangan terbuka. Karena angin laut langsung menerpa dinding istana, membuat Istana Madangkara ambruk dua kali.
Setiap episode seri Saur Sepuh sutradara Imam Tantowi, selalu memiliki binatang maskot seperti burung Rajawali, Buaya dan di saur sepuh ke 4 adalah kelelawar. Ini yang membedakan saur sepuh dengan tema klasik lainnya. Justru itu Imam Tantowi harus bekerja keras. Tidak hanya memanpilkan ketrampilan laga, tapi juga seni membuat adegan fantastik, seperti yagn terdapat dalam dongeng-dongeng. Variasi antara fantastik dengan drama action klasik menjadikan Saur Sepuh IV lain dari episode sebelumnya. Karena kreatifitas ini membuat Saur Sepuh tidak pernah kalah pamor dengan film sejenisnya. Meski banyak suradara maupun produser meniru suksesnya Saur sepuh agaknya Tantowi tidak pernah gentar.
Rencana Imam Tantowi membuat hutan absurd sudah ada ketika dia menggarap film Soerabaia '45. Konon angan-angannya itu sudah sekian tahun yang lampau. Lewat Saur sepuh IV ini keinginannya itu terwujud. "Kawasan hutan itu merupakan hutan raksasa, dimana dua puluh orang tidak akan bisa merangkulnya, " kata Imam Tantowi. "Hutan seperti ini zaman dulu pasti ada, tapi sekarang menjadi absurd, ? kilahnya pula.
Nyata sekali Imam Tantowi menyuguhkan suasana yang lain. Dimana kelak hutan raksasa akan membuat suasana yang lain. Mencoba keluar dari kebiasaan, dimana setiap film yang meminjau masa Majapaphit, selalu membaut hutan dengan batang pohon kecil.
Ternyata membuat film klasik membutuhkan kerja keras, kalau digarap serius. karena membutuhkan property serta set dan atribut lainnya yang tidak ada dijual, kecuali membuat sendiri. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sediki. 150 juga rupiah dana disediakan produser PT Kanta Indah film untuk artistik.
Titisan Darah Biru mengungkap suksesi yang terjadi di kerajaan Madangkara. Dimana terjadi pemberontakan dari pihak yang lalim, untuk menumpas generasi muda Madangkara keturunan Brahma Kumbara ingin di tumpas. Karena generasi muda Madangkara ingin membangun kerajaan seperti jayanya Majapahit. Sementara kaum tuanya menginginkan kerajaan Madangkara tanpa ada kemajuan.
Maka kaum tua melakukan penghkhianatan, isteri Brahma Kumbara di culik oleh manusia berhati iblis. Sebab manusia berhati iblis itu berniat menguasai Kerajaan Madangkara dengan otak liciknya. Ternyata Imam Tantowi juga bicara politik lewat episode Titisan Darah Biru
Film ini dibintangi oleh Candy Satrio, Anneke Putri, WIda Nathasa, Baron Achmadi, Rita , Hans Wanagi, Devi Pertama Sari, Agus Kuncoro, Belkies Rahman, Annas Rohisszein dan Satria S, serta ratusan film figuran.








