Saturday, February 14, 2026

VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG


 VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG, Film Valentine dibuat untuk menyambut hari Kasih Sayang sebutan khasnya Valentine Day, 14 Februari 1990. 

Suting terakhir film Valentine di Bandung 1-8 Januari 1990 di Studio East. Sementara itu dilanjut masuk isi suara dan editing. Isi suara memakan waktu 2-3 hari, sambil Billy Budiardjo yang ilustrator musiknya mempersiapkan musik untuk film ini. 

Proses cetak copy film di lakukan di Inter Studio. Valentine sebuah film drama remaja. Diangkat dari novel karya Hilman Hariwijaya. Kisah tentang persahabatan tiga remaja yang senang musik, menari dan menyanyi. Mulanya kompak saling menyayangi, tapi kemudian lantaran situasi dan kondisi keremajaan sekali waktu menimbulkan konflik yang nyaris menghancurkan rasa persahabatan yang selama ini dibangunnya. 

Lebih-lebih lantaran terkait juga soal percintaan segitiga remaja. Sementara pendukung film ini juga bintang-bintang remaja yang sedang naik daun, Sophia Latjuba, Karina Suwandi, Dian Nitami, Arianto Wibowo, Thomas Djorgi dan Frelly E David. Film di sutradarai oleh Bobby Sandy. 

ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR

 


ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR, (Kisah Lawas) Lewat penampilannya di layar kaca duet bersama Devi Novita membawakan lagu dangdut "Pacarku Rewel" Advent Bangun seperti memprokaliirkan diri sebagai penyanyi. Sengaja memilih lagu dangdut, Advent Bangun bukan saja ingin menambah barisan artis tarik suara, sekaligus ingin mengukuhkan diri tidak saja sebagai bintang laga, tetapi juga kepengin merangkul golongan bawah yang diketahui amat dominan menggemari lagu jenis ini. 

"Mereka amat banyak. Saya ingin jadi bagian dari mereka, " katanya ditengah suting film "Mat Pelor" yang disutradarai Rachmat Kartolo di Cimelati Sukabumi Jawa Barat. Advent bangun juga menjelaskan kenapa akhir-akhir ini nampak gigih berjuang di jalur ini. 

"Berhadapan langsung dengan penggemar di saat saya menyanyi, buat diri saya membawa kepuasan tersendiri. Saya tahu persis apa yang mereka inginkan. berhadapan langsung sikap spontan mereka yang tak dibuat-buat membuat batin saya ingin membalas sikap positif demikian dengan mematangkan karier baru ini".

Itulah sebabnya ditengha kesibkan shooting saat break ia buru-buru memacu sedan Volvonya ke Cibadak . Untuk apa? "Saya harus interlokal ke Devi Novita, merancang jadwal rekaman musik untuk volume ke IV yang bakal di garap awal januari 1991 ". Devi Novita berusia 17 tahun dan baru di kelas III SMP, merupakan pasangan duetnya. 

Devi Novita sudah dikenalnya sejak 1987 ketika sama-sama mendukung film sinetron TVRI "Arus Bawah". Devi Novita yang memiliki "jam terbang" nyanyi, langsung saja merasa cocok berpasangan dengan Advent Bangun. Advent Bangun sendiri mulai melangkah tarik suara ketika sering di panggung diundang, atau pada tour PARFI di daulat penonton untuk tarik suara, ia terpaksa unjuk diri tak kalah angin. 

"Dari situ saya merasa lebih yakin bahwa saya juga bisa menyanyi, " tambahnya. Pertama kali ia muncul dalam volume lagu keroyokan : Kutak Katik bersama 10 arstis film lainnya seperti Deddy Mizwar, Harry Capri dan lain-lain, untuk kemudian diteruskan memasuki Vol II dalam album Parade artis Ndang Ndut. 

"Saya kepingin mematangkan diri di karir baru ini. Saya terus belajar dan mencoba membuat lagu sendiri. "Advent Bangun memang terus sibuk lewat film barunya ini "MAT PELOR" merupakan filmnya yang ke 54, ia juga terus sibuk melatih karate d Paspampres dan juga Kopassus Group II Cijantung. 

Ketiganya merupakan karir yang dicobanya jalan seiring masing-masing memiliki romantikanya sendiri sendiri. 

Sebagai bintang laga, Advent Bangun nyaris mogok dan mengundurkan diri, ia menjelaskan hal itu disebabkan karena ia sudah merasa jenuh dengan peran antagonis yang selalu membuatnya makin lama makin dijauhi penggemar film silat. 

"Saya selalu menerima surat protes dan kecaman. Masak selalu jadi tokoh garang, sebenarnya awal 1989 saya sudah merencanakan akan mengundurkan diri. Bagi saya menjadi aktor lagasudah biasa, tetapi kalau terus terusan ketiban peran antagonis jadi jenuh. Saya kepingin peran lain yang aneka. Saya juga rindu dapat peran yang simpatik. Bahkan akhir-akhir ini saya tergoda dengan peran kemudian. Pengin Banget", Pada akhirya Advent Bangun membatalkan rencananya. Peran-peran protagonis mengalir kehadapannya. 

"Saya kemudian juga sadar, bahwa bertahan pada ego sendiri merupakan sikap yang kurang benar. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan peran dalam film. Tidak tergantung pada kemauan saya sendiri, " terusnya. 

Ia bercita-cita kelak, meniru jejak Silvester Stalone. Tidak saja bertindak sebagai pemeran utama, tetapi juga penulis skenario, sutradara, sukur-sukur kalau jadi produsernya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, February 13, 2026

BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG

 


BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG. TERnyata tak mudah untuk mencapai sebuah popularitas dalam dunia keartisan. Seperti diakui Bubu Samudera, aktor laga yang coba menyeruak persaingan antar bintang yang makin ketat. bermain dalam sinetron seri yang" cukup panjang, "Mahkota Majapahit", bubu mengakui bahwa ia belum menemukan karakter yang pas. "Baru sebatas memamerkan adegan bera ntem saja, " aku pria yang berperan sebagai Ra Yuyu dalam Mahkota Majapahit. 

Bersyukur Bubu mendapat kesempatan untuk memamerkan akting plus kekerasan tubuhnya lewat film layar lebar "Macho" bersama bintang laga lainnya termasuk Barry Prima. 

Berperan sebagai  tokoh mafia dengan seragam khusus tentunya, Bubu merasa beruntuk bisa bertemu Barry. "Dia banyak memberi masukan positif buat saya  termasuk juga cara manjaga kondisi tubuh, Tutur Bubu. 

Entah penampilannya yang mendukung atau memang nasib masih condong begitu, Bubu sendiri  belum nendapat jawaban pasti kenapa ia selalu kebagian peran antagonis. Kalau dalam sinteron Mahkota Majapahit dia memerankan sosok Ra Yuyu maka kesempatan berikutnya yang datang menyongsong masih saja peran serupa oleh Imam Tantowi, ustradara yang menggarap sinetron Kaca Benggala, bubu lagi-lagi kebagian peran antagonis. 

"Saya berperan sebagai  Ki Gedong, sebuah peran yagn menurut saya cukup menantang. Saya suka banget dengan peran saya kali ini, ungkap Bubu terang-terangan tanpa harus kecewa pada perannya di sinetron lain. 

Berpindah-pindah karakter dari Ra Yuyu menjadi Ki Gedong atau sebaliknya, ternyata tidak menyulitkan Bubu. Kendatikedua tokoh tersebut harus diperankannya dalam waktu yang berdekatan, tidak membuat Bubu harus sembunyi-sembunyi atau kabur dari lokasi. 

"Kebetulan kedua sinetron ini, kan masih dalam satu perumahan, " balasnya seperti ingin membela diri. 


Thursday, February 12, 2026

ARIE SANJAYA


 ARIE SANJAYA, Ada yang tahu sosok ini? Bagi yang pernah menonton Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan,atau sinetron SCTV Perjalanan tentu masih ingat sosok ini. Ya dialah Arie Sanjaya. 

Sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di dunia layar perak, seperti Arie Sanjaya, memainkan sebuah tokoh sentral bukan sesuatu yang baru. Bahkan merupakan makanan sehari-hari. Pria kelahiran Ambarawa 17 Agustus 1932 ini baru merasakan kenikmatan sebagai seorang aktor, karena pada sinetron Opera Senja, Pak Arie demikian pria yang hampir seluruh rambutnya memutih ini dipercaya oleh Noto Bagaskoro untuk menggantikan posisi almarhum S Bono yang waktu itu tidak bisa main karena sudah mulai sakit-sakitan. 

"Saya sungguh bersyukur dipercaya sutradara untuk menggantikan peran Pak Bono, namun kepercayaan itu buat saya sangat berat. Karena antara saya dan Pak Bono kemampuan aktingnya jauh berbeda, tapi sebagai pemain saya telah berusaha untuk bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa, kelihatannya sutradara juga puas dengan permainan saya, " tandas pemeran Pak MOchtar di sinietron yang juga dibintangi oleh Bob Sadino, Wawan Wanisar, Mathias Muchus dan Cut Rizky Theo ini. 

Aktor yang menekuni dunia film sejak tahun 1960an lewat film Si Pendek dan Sri panggung garapan sutradara Said HJ ini mengaku walau permainannya di puji sutradara karena dianggap mendekati permainan S Bono ini, tetap merasa belum maksimal. Karena dalam sinteron yang di produksi 6 episode ini, Pak Arie belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

"Wah, kalau dibandingkan dengan Pak Bono, saya nggak ada apa-apanya, " ujar pria yang sudah lama menduda ini merendah. 

Ketika disinggung mengenai kesendiriannya tiba-tiba wajahnya yang menyiratkan kedamaian berubah keruh. Kemudian bintang iklan salah satu produk minuman energi dan Pasar Raya ini sorot matanya menerawang ke masa-masa indah bersama keluarganya dulu. 

"Karena usaha saya ancur, keluargapun jadi berantakan. Semua itu karena istri saya nggak bisa menerima kenyataan, terus terang waktu saya masih bekerja sebagai Manajer Imam (Industri Artis Music Management) di Surabaya dan Kalimantan, hidup saya lumayan, tapi tiba-tiba usaha tersebut mengalami kemerosotan sehingga usaha bangkrut dan akhirnya saya kembali kedunia seni seperti sekarang ini, ujarnya. 

Pak Arie kemudian sedikit mengungkapkan masa lalunya, bahwa istrinya yang tadinya terbiasa hidub berkecukupan, tidak bisa menerima perubahan nasib yang dialami suaminya. Akhirnya sang istri pilih cerai dan kawin lagi dengan salah seorang pengusaha, sementara Pak Arie masih betah menduda. 

"Saya tidak menyesal tidak menikah lagi, karena terus terang ketika saya mau memulai memikirkan untuk berumah tangga lagi, impian buruk saya berumahtangga dulu terus membayangi, jadi saya terus diliputi rasa takut ketika mau menikah lagi, " paparnya. 

~MF


Wednesday, February 11, 2026

SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS

 


SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS, (berita lawas). Kalau nasib lagi mujur tak seorangpun dapat menghaluanya. Begitulah kemujuan artis bernama lengkap Suci Indah Sari Rajo Bintang ini. Sebab cewek bertubuh langsing ini mengaku tak bermimpi menjadi artis. Baginya Marissa Haque ibarat dewa kemujuran. Ketika masih SMA di kota Padang, Marissa Haque menawarkan lakon sebagai Syamsiah dalam "Masih Ada Kapal ke Padang". Sejak itu saya tertarik dengan seni peran dan orangtua sangat mendukung, " kata gadis berdarah Minang ini. 

Hijrah ke Jakarta kesempatan emas datang lagi, anak ke 4 dari 5 bersaudara ini diberikan kepercayaan oleh Herry Topan menjadi "si Ganjen" kembaran Mariam dalam sinetron "Kembalinya Si Manis".

Kalau Suci mujur lagi, maka ia akan ngetop lewat Kembalinya Si Manis. Sebelum Diah Permatasari menyanggupi menjadi pemeran Si Manis, kartu populeritas sudah ditangan Suci. Perempuan yang saat itu kuliah di Interstudy of Public Relations ini tidak putus asa. ia tetap bertekad akan mampu mencapai tangga populer, "Saya tidak merasa bersaing dengan Mbak Diah Permatasari. Saya hanya ingin bermain baik, "katanya saat ditemui dilokasi suting. 

Meski tidak mengaku, diam-diam diantara Diah dan Suci terjadi persaingan. Kejadian yang paling norak adalah ketika Diah menolak foto bersama dengan Suci oleh sebuah tabloid terbitan Jakarta. Produser sudah susah payah memberi pengertian, akan tetapi keduanya tidak mau berfoto bareng. 

"Saya masih banyak belajar tentang akting. Dan saya tidak mengerti tentang persaingan, " papar Suci. 

Di lokasi Suting, Suci sering serba salah. Banyak orang menduga bahwa dirinyalah pemeran Si Manis. Kesalahan tafsiran itu kadang sering pula disalah artikan. Untung selama suting mamanya selalu mendampingi hingga hatinya sedikit terhibur. 

Kedatangan Suci ke kancah persinetronan sebagai artis sungguhan bukan dengan tangan kosong. Di kota Padang tempat ia bercita-cita menjadi pengusaha ini sudah cukup dikenal. Ia sempat menyabet gelar sebagai Uni Sumatera Barat tahun 1995, Juara III Sari Ayu 1993, dan Miss Suzuki 1993. 

Kemujuran ke 4, main film layar lebar yang datang langsung ditolaknya mentah-mentah. Alasannya ia belum siap untuk main film. Padahal peran yang ditawarkan cukup menggiurkan sebagai pemeran utama. 


~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL


 DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL (berita lawas). Kedua Rumah produksi tidak merasa 'berperang' dalam produksi dan penayangan Si Manis jembatan Ancol, dengan alasan kedua sinetron memiliki jiwa yang berbeda. Akan tetapi secara diam-diam keduanya berebut dalam mendapatkan pemeran "Si Manis Jembatan Ancol", Diah Permatasari yang memang menjadi daya jual utamanya itu. Ketika Si Manis Jembatan Ancol versi baru diproduksi untuk layar lebar, Soraya Intercine Films dapat mengontrak Diah permatasari. Namun ketika dilayargelaskan Diah Permatasari ngacir ke Herry Topan. 

"Bagaimana saya bisa suting dengan Soraya Intercine Film, sebab waktu itu saya sedang ada ikatan kontrak dengan Starvision untuk sinetron Mutiara Cinta dan Nikita. Se"Ya ingga saya tidak apat izin dari Starvision untuk suting tempat lain karena jadwal saya cukup padat,' papar Diah Permatasari. 

Sementara itu Kiki Fatmala pemran Mariam Si Manis Jembatan Ancol produksi Soraya Intercine Film mengungkapkan "Saya sudah sering menjadi bintang di Soraya Film terutama bertemakan horor. Karena itu barangkali Atok Suharto memberikan kepercayaan peran Si Manis kepada saya" ujar Kiki Fatmala pemeran Mariam. Bagi Kiki peran Si manis sebagai peran yagn biasa-biasa Saja, tidak terlalu menantang. "Ya karena ada bumbu komedinya dan make upnya pun tidak pula menantang,".

Jika untuk Kiki Fatmala tokoh Mariam sebagai sosok yagn biasa-biasa saja, dan dari segi pemeranan tak memerlukan kemampuan akting yagn berarti, tidak demikian bagi Diah Permatasari. 

Dia berterus terang, ia sangat kecewa karena perannya sebagai Si Manis digantikan oleh Kiki Fatmala. "Karena saya sayang banget dengan Mariam. Waktu dulu saja ketika saya ke Amerika peran saya digantikan oleh Poppy Farida juga merasa sedih sebab sudah merasa terlanjur akrab dan sangat saya jiwai dan hayati," katanya melanjutkan. 

Bermain sebagai Si Manis nampaknya memang peruntungan Diah satu-satuya. Beberapa sinetron yang kemudian dimainkan tidak mau mengangkat kembali namanya. Ia cuma jadi penggembira belaka. Bahkan untuk sinetron sejenis Simanis, komedi misteri seperti Moody Juragan Kost. 

Tak heran jika Diah ngotot dengan peran Si Manis. Setelah kecewa digantikan Poppy Farida, dan kemudian didahului oleh Kiki Fatmala, kini dalam kisah lanjutannya, Diah nampak harus bersaing kembali untuk merebut perhatian masyarakat kepada Si Manis yang dirasakan Diah identik dengan dirinya. 

Diah kembali bermain dalam Kembalinya Si Manis produksi Herry Topan degan  Suci Indahsari yang berperan sebagai "Si Ganjen" kembarannya. Jumlah Peran si Manis Jembatan ancol dari Lenny Marlina, Diah Permatasari, Poppy Farida, Kiki Fatmala hingga si Ganjen Suci Indahsari. 

~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

Monday, February 9, 2026

CHRISTINE TERRY




CHRISTINE TERRY, Memulai karir artisnya dari level paling dasar, figuran film. Ia tetap tabah melakoninya. Pasang surut artis tidak ada yang bisa menduga. Meski terseok seok Christine Terry tetap dengan ambisinya, ngetop di jalur film. 

Maka, di tahun 1991 artis bernama lengkap Lucyana Christine Terry ini memasuki dunia film. Selang beberapa bulan, Dasri Yacob menggiringnya ke film lewat film action klasik, Warok Suromenggolo. "Dalam film ini, peran gua tak begitu besar, tapi cukup berani untuk menapak ke film, " kilahnya. 

Film berikutnya, ia cuma ketiban figuran diantaranya Masuk Kena Keluar Kena (Arizal), Kembalinya si Janda Kembang (Sisworo Gautama Putra) dan dalam film Misteri di Malam pengantin sutradara Atok Suharto memberinya peran lebih besar, sebagai pemeran pembantu wanita lewat film Rawing II bertema action klasik Tommy Burnama selaku sutradaranya. 

Saya besar dengan kepahitan, " kata cewek kelahiran Bandung 24 Desember 1973 ini. 

Tamparan yang datang dari sahabatnya cukup telak, tatkala mencemplungkan diri ke film. Macam-macam isyu dilemparkan ada yang bilang cewek gampangan, artis film breng sek, dan beraneka  gosip lainnya. "Cuek saja dengan ocehan seperti itu. Kalau dipikir bisa merusak diri sendiri. Kenyataan benar apa tidak, kan ada pada diri gua sendiri, " katanya. 

Seperti diketahui Christine Terry juga bermain dalam film Walet Merah dengan bintang utama Barry Prima dan Devy Permatasari. Ada yang masih ingat film-filmnya?


MF 

Sunday, February 8, 2026

BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA


 BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH  UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA, Agaknya tak seorang pernah membayangkan kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang jendelanya tak pernah di buka. Tapi itulah yang di temui Buce Malawau ketika ubek-ubekan mencaro lokasi untuk suting film "Tragedi Bintaro".

"Saya kaget juga. Kusen jendelanya malah sudah pada keropos. Tapi rumah itu masih tetap di tempati yang punya sepasang suami istri yang sudah tua. Begitu ketemu rumah itu, saya langsung saja tertarik. Padahal hati kecil saya was-was juga", kata sutradara Tragedi Bintaro ini. 

Rumah di jalan Perdatam Raya kawasan Pancoran menurut Buce, memang sangat unik. Letaknya di pojok. Di sela-sela rumah penduduk. Sekeliling umah ditutupi oleh rimbun pohon bambu dan pohon-pohon lain. Cat dindingnya yang putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Dan lebih dari semua itu, perabotan rumah itu tampak seperti dibiarkan berantakan. 

"Mulanya sulit juga meminta izin pada pemilik rumah tersebut untuk tempat suting. Tapi lama-lama mereka benarkan juga. Dengan catatan, jendela tetap tidak boleh dibuka, " ujar Buce. Karena tak menemukan alasan yang tepat mengapa jendela tak boleh dibuka, Buce lalu mencoba bertanya pada orang-orang disekitar rumah itu. 

Tragedi Bintaro, kisah nyata yang ditulis menjadi skenario oleh Marseli ini, adalah film ke lima Buce setelah "Gerhana", "Beri Aku Waktu", "Luka diatas Luka", dan "Cinta Anak Jaman". Tapi ada yang membuat Buce, seperti katanya harus berhati-hati menerima skenario yang disodorkan padanya. "Soalnya saya tidak ingin pengalaman menggarap "Cinta Anak Zaman" yang ternyata saduran dari film barat, terulang lagi, " katanya. 

Lalu tentang rumah angker itu?, "Mudah mudahan selama 15 hari suting disitu, semua berjalan aman. Meskipun untuk itu saya dan semua kru harus ekstra hati-hati. Soalnya langit-langit rumahnya saja sudah pada bolong, " komentar Buce. "Rasanya kita memang sulit bisa percaya kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang tak pernah terbuka jendelanya, " kata Buce lagi. Tapi untuk suting kali ini, Buce toh merasakan manfaat rumah seperti itu.


~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988