Wednesday, February 18, 2026

SUTING FILM RAWING II


 SUTING FILM RAWING II, Lesunya Perfilman Nasional tidak membuat produser maupun sineas negeri ini staknasi. Sebaliknya, keadaan yang ada dijadikan semangat untuk mencari terobosan baru dalam memproduksi sebuah film. 

Alternatifnya tidak hanya anggaran di perketat, tapi juga sistem penggarapannya. Demikian produser Andi Mulyo yang kini berbendera PT. Elang Perkasa Fim menggerakan 'armadanya'. beberapa film telah diuji coba, diantaranya Saur Sepuh V, Angling Dharma II dan Tutur Tinular IV. Ketiganya action klasik tersebut di produksi didalam kota jakarta berlokasi di Taman mini Indonesia Indah dan  Kebon Binatang Ragunan. Meski rada lemah dalam sinematography, tapi lumayan dalam pemasukan. Dalam kondisi perfilman lagi lesu, ternyata sistem ini cukup efektif. 

Bukan hal yang mengagetkan bila Rawing II, film tema action klasik ini 100% berlokasi di Jakarta. Tommy Burnama selaku sutradara, membikin film tersebut 80% berlokasi di Pulo Mas Pacuan Kuda. Suatu hal yagn jarang terjadi membikin film tema action klasik di tengah kota yang padat penduduk. 

Area Lokasi suting paling banter 1000 meterr persegi, sementara di sekelilingnya terhampar kawasan rumah elite. Lokasi tersebut lebih mirip sebuah studio, hanya saja tak beratap. Dua bangunan utama, rumah panggung yang tak jelas akar budayanya, menjadi titik sentral tempat permasalahan (konflik) terjadi. Batang pohon akasia seperti dewa penolong dapat dijadikan bertenggernya kawat sling. 

Bangunan Induk tersebut dibikin dengan biaya tidak terlalu mahal, kayu rombengan dengan atap nipah kering sebagai bahan dasarnya cukup artistik untuk  kelas film action. Delsy Sjamsumar, selaku penata artistik cukup jeli memanfaatkan gundukan tanah sperti sebuah lembah di tengah bukit, di sebuah pedesaan. Kalau bisa di duga, semahal-mahalnya film ini paling banter menghabiskan dana 150 juta. Namun, anggaran bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membikin film laku. 

Dari keseluruhan suting, nyaris 75% adegan dibuat malam hari. Sangat menolong sekali untuk dapat menyolong lampu-lampu jalanan , maupun lampu-lampu yang datang dari rumah dikawasan elit itu. Kalau mau jujur, lokasi tak layak untuk membikin film bertema klasik. Kalau kamera berputar 90 derajat maka kamerawan akan menyapu atmospher yang berbau modern. 

Thomas Susanto selaku kamerawan tidak mau tinggal diam, akalnya cukup jeli mencari angle kamera. "Mau tidak mau, saya lebih banyak mengambil low angle, " katanya. Dengan menyapu kamera mengarah ke langit, menutupi atmospher modern. "Saya harus ekstra kerja keras, " katanya disela suting berlangsung. Tak jarang juga Thomas Susanto memanfaatkan sling untuk mencari kedinamisan angle. Dengan sling apa adanya, masih primitif bila dibangingkan film impor, tak membuat kru yang lainnya patah semangat. Malah sebaliknya, keinginan kru membikin film laku sangat menggebu gebu. 

"Kami tidak mau berteiak menangisi lesunya perfilman, sekarang bagi kami adalah membikin film laku, " kata seorang kru dari departemen artistik. Disana sini masih terdengar keluhan kru tentang honor film. "Kecil tidak apa-apalah, yang penting bisa kerja, " ujar kru lainnya yang tak mau di sebutkan jati dirinya. 

"Setelah dilihat rush-copy film ini ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan suting di Pelabuhan Ratu atau di Pangandaran. Yang jelas tidak ada kebocoran suasana modern, " kata Tommy Burnama di sela suting. 

Agaknya sistem suting seperti ini akan terus dilaksanakan setelah diuji cukup efektif. Industri film Hongkong sendiri membikin tema action klasik berlokasi suting ditengah kota. "Ketika kru Hongkong datang ke lokasi suting kami, mereka juga menyambut gembira. Begini cara kami membikin film di negeri kami, " kata Tommy menirukan kru film Hongkong. 

*****


Rawing I sangat beda dengan Rawing II dalam episode si Rawing Pilih tanding ini. Baik dari segi bintangnya maupun krunya. Rawing I disutradarai oleh Denny HW, berlokasi di Pelabuhan Ratu dengan pelakon utama Erick Soemadinata dan Anita Sarah Boom. Sedangkan Rawing II di sutradarai oleh Tommy Burnama dengan pelakon utama Bary Prima dan Christine Terry. 

Begitu juga dalam materi cerita. Dalam episode kali ini tidak hanya mengandalkan adegan laga sebagai gacoannya. Unsur komedi dan sensualitas juga alternatif lain yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. 

"Saya di percayakan untuk menghadirkan komedi. Tapi mereka minta komedi slapstik, yang saya hadirkan komedi situasi. Jadi saya bermain karakter. Garis cerita memang tokoh Ki Debleng yang memegang kendali, " kata Winky Harun di sela break suting. 

Cerita berawal dari Rawing dan Ki Debleng berhasil mengamankan desanya dari gangguan perampok. Namun, sial bagi Ki Debleng, karena barang yang dicuri para perampok adalah barang Nini Iswari, isterinya. Tentu saja Nini Iswari marah-marah. Ia menduga suaminya sendiri yang telah mencuri  barang berhaganya. Muncul tuduhan lain dari isterinya, bahwa semua barang-barang yang hilang selama ini adalah kerjaan suaminya sendiri, Ki Debleng. 

Kalau memang bukan Ki Debleng yang mencuri, maka ia tidak boleh keluar malam, demikian larangan istrinya. Tatkala Rawing hendak pergi ke Perguruan Macan Liar, Ki Debleng merasa perlu ikut. Akibarnya, ia dikejar-kejar Nini Iswari. Akhirnya, Rawing berhasil mengalahkan Gempar sementara Nini Iswari berhasil menangkap Ki Debleng. 

Para Pelakon diantaranya Barry Prima (Rawing), Yurika Prastica (Nini iswari), Wingky Harun (Ki Debleng), Yoseph Hungan (Gempar), Christine Terry (Kartika) dan Sinta Naviri (Dayang). 

Dibidang kru : Tommy Burnama (Sutradara), Prawoto Soeboer Rahardjo (Astrada) Thomas Susanto (Kameramen), Delsy Sjamsumar (Penata Artistik), Usman Jiro (Pencatat Skrip), Karim Muda (Pimpinan Produksi ) dan Naryono Hadi sebagai Pimpinan Unit. 


MF : 178/145/THIX 1-14 Mei 1993



Monday, February 16, 2026

TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu

 


TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu (Berita Lawas).Persaingan film seri dalam negeri yang ditayangkan TVRI cukup ketat seperti antara Jendela Rumah Kita, Sartika, Keluarga Rahmat, Pak Kontak dan Tembang di Tengah Padang. Film seri Tembang di Tengah Padang sempat terhenti masa putarnya di TVRI bukan berarti film seri itu tak bergeming lalu mati. "Kami terhenti karena masalah teknis saja, " kata Darto Joned selaku sutradara. 

Dan film seri itu bangkit untuk menggebrak kembali. Suting mengambil lokasi di Segunung Cipanas, Bogor dan Muara Enim. Dalam satu paket mereka kemas enam episode sekaligus.

Semula film seri ini berjudul Serumpun Bambu lalu kemudian berganti dengan Tembang di Tengah Padang. "Penggantian judul bukan berarti kami mencari bentuk baru. Tidak sama sekali. Supaya dekat dengan masyarakat saja. Kalau tembang itu kan sederhana, "lanjut Darto Joned yang menyutradarai film seri ini. 

Awal berdirinya film seri ini terjadi lima tahun lalu (1985an) ketika pihak Departemen Transmigrasi ingin membuat film untuk ditayangkan di TVRI. Untuk menyutradarainya ditunjuklah Darto Joned, sementara manajemennya di percayakan kepada PT. Puyuh Sedayu Film. Pembiayaan per episode rata-rata kurang lebih 30 juta, seperti biasanya satu paket film TV. 

Kalau kita lihat film seri yang ada sekarang ini, maka pantaslah dikatakan bahwa Tembagn di Tengah Padang merupakan film seri yang sederhana, baik ide cerita, penggarapan, juga pembiayaannya. Namun demikian Darto Joned selaku sutradara mempunyai warna sendiri. Set dan suting digarap ecara apik dan profesional. Karena penggarapan yang serius, maka tak jarang suting sampai dinihari. Kami kru, pemain dan pekerja lainnya benar-benar membuat sebuah film dengan sikap kekeluargaan, " kata Darto Joned menambahkan.

Ide cerita dikatakan sederhana, karena kejadian cerita memang hidup di masyarakat. Tidak mencari-cari atau semacam gagah-gagahan untuk membuat cerita. Yang utama jelas menggambarkan kehidupan transmigrasi. Dan dari film seri ini juga melemparkan pesan moral kepada penonton. Selain itu tidak untuk mengangkat satu orang pemain. Pembagian perannya merata. Tidak ada yang dilebihkan porsinya. 

Dalam Episode Wiryo dan Kemal, yang saat itu sedang dibuat, Keduanya transmigrasi asal Jakarta, yang biasa hidup di ibukota dengan aneka kehidupan. Lalu hidup dalam alam yang jauh berbeda. Mereka berontak pada alam, tapi penyelesaian konflik tidak ada seorang nabi sebagai juru selamat. Kesadaran berontak karena situasi konflik itu sendiri.

Kalau kita lihat film seri tv seperti Jendela Rumah Kita, maka akan kita lihat kehidupan wah dari satu keluarga bekas pejuang yang punya anak sebagai juru selamat. Sartika juga menggambarkan kehidupan yang wah. Tapi Tembang di Tengah Padang mengambil lokasi yang benar-benar sederhana. Walau itu rumah insinyur sekalipun. Satu setting bisa di ciptakan menjadi beberapa suasana rumah untuk pemeran lainnya. Mereka membuat studio sendiri untuk film seri Tembang Di Tengah Padang. Bukan studio seperti TVRI yang serba canggih itu. Tapi studio sederhana yang dibangun oleh anak-anak remaja yang bergerak di Teater Sendiri di Jakarta. Dengan pengarahan Yopie selaku Art Director. 

Di tengah lokasi suting, Darto Joned kelihatan arif. Ini membuat komunikasi lancar antara pemain, kru dan sutradara. "Kami bukanlah yang terbaik, tapi telah berbuat baik untuk satu kerja film, " kata Darto Joned merendah. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Sunday, February 15, 2026

SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR


 SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR! (Berita Lawas)Untuk jadi pemain film memang memerlukan pengorbanan. Paling tidak itulah yang di alami Syarief Friant. Pasalnya laki-laki tinggi besar kelahiran Ambon ini harus menggunduli rambutnya yang hitam lebat hingga plontos. "Dengan kepala plontos begini saya kebagian peran Kubilai Khan dalam film Tutur Tinular, ' katanya. 

Film itu merupakan film kesekian puluh yang dibintanginya. "Temanya laga. Dan kali ini saya diarahkan oleh Nurhadie Irawan". 

Menceritakan keterlibatannya di dunia film, Syarief menyebutkan awal terjun ke dunia film adalah tahun 1982. "Waktu itu saya diajak untuk ikut main dalam film "Pendekar Liar", katanya. Dan sejak tahun itulah, katanya ia terus ketagihan main film meskipun belum mendapat peran yang berarti. "Tapi saya senang juga. Soalnya saya terus diajak ikut main meskipun peran yang saya terima baru peran pembantu," tutur Karateka yang cuma sampai sabuk coklat ini. 

Di akuinya sampai tahun 1989 sudah lebih 40 judul film pernah melibatkan dirinya sebagai pemain. "Baik peran-peran kecil maupun peran yang agak lumayan. Terakhir sebelum membintangi Tutur Tinular , ia ikut Liliek Sudjio  dalam film Misteri Dari Gunung Merapi, " ujarnya. Di film itu sendiri Syarief mengaku masih kebagian peran sebagai Jawara anak buah Mardian. "Ya masih dalam peran banting-bantinganlah, " kata pemain yang juga pernah jadi stuntman ini. 

Toh biar baru kebagian peran-peran yang melulu berkelahi , Syarief tak berniat berhenti dari film. "Saya terus belajar kok! baik dari sutradara maupun rekan-rekan sesama pemain yang lebih senior. Saya memang nggak belajar secara formal, tapi otodidak. Biar begitu saya tetap punya niat suatu saat nanti bisa dapat peran dalam film yang temanya lain," katanya. 

Dan itu memang sudah di buktikan Syarief dengan bermain dalam film komedi. "Saya sendiri nggak tahu apa alasan Arizal mengajak saya main dalam film komedi. "Saya sih mau aja. Dan kalaupun nanti ada yagn ngajak saya ikut main drama, saya tak menolak. Soalnya saya mau main dalam film bertema apa saja, " katanya. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Saturday, February 14, 2026

VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG


 VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG, Film Valentine dibuat untuk menyambut hari Kasih Sayang sebutan khasnya Valentine Day, 14 Februari 1990. 

Suting terakhir film Valentine di Bandung 1-8 Januari 1990 di Studio East. Sementara itu dilanjut masuk isi suara dan editing. Isi suara memakan waktu 2-3 hari, sambil Billy Budiardjo yang ilustrator musiknya mempersiapkan musik untuk film ini. 

Proses cetak copy film di lakukan di Inter Studio. Valentine sebuah film drama remaja. Diangkat dari novel karya Hilman Hariwijaya. Kisah tentang persahabatan tiga remaja yang senang musik, menari dan menyanyi. Mulanya kompak saling menyayangi, tapi kemudian lantaran situasi dan kondisi keremajaan sekali waktu menimbulkan konflik yang nyaris menghancurkan rasa persahabatan yang selama ini dibangunnya. 

Lebih-lebih lantaran terkait juga soal percintaan segitiga remaja. Sementara pendukung film ini juga bintang-bintang remaja yang sedang naik daun, Sophia Latjuba, Karina Suwandi, Dian Nitami, Arianto Wibowo, Thomas Djorgi dan Frelly E David. Film di sutradarai oleh Bobby Sandy. 

ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR

 


ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR, (Kisah Lawas) Lewat penampilannya di layar kaca duet bersama Devi Novita membawakan lagu dangdut "Pacarku Rewel" Advent Bangun seperti memprokaliirkan diri sebagai penyanyi. Sengaja memilih lagu dangdut, Advent Bangun bukan saja ingin menambah barisan artis tarik suara, sekaligus ingin mengukuhkan diri tidak saja sebagai bintang laga, tetapi juga kepengin merangkul golongan bawah yang diketahui amat dominan menggemari lagu jenis ini. 

"Mereka amat banyak. Saya ingin jadi bagian dari mereka, " katanya ditengah suting film "Mat Pelor" yang disutradarai Rachmat Kartolo di Cimelati Sukabumi Jawa Barat. Advent bangun juga menjelaskan kenapa akhir-akhir ini nampak gigih berjuang di jalur ini. 

"Berhadapan langsung dengan penggemar di saat saya menyanyi, buat diri saya membawa kepuasan tersendiri. Saya tahu persis apa yang mereka inginkan. berhadapan langsung sikap spontan mereka yang tak dibuat-buat membuat batin saya ingin membalas sikap positif demikian dengan mematangkan karier baru ini".

Itulah sebabnya ditengha kesibkan shooting saat break ia buru-buru memacu sedan Volvonya ke Cibadak . Untuk apa? "Saya harus interlokal ke Devi Novita, merancang jadwal rekaman musik untuk volume ke IV yang bakal di garap awal januari 1991 ". Devi Novita berusia 17 tahun dan baru di kelas III SMP, merupakan pasangan duetnya. 

Devi Novita sudah dikenalnya sejak 1987 ketika sama-sama mendukung film sinetron TVRI "Arus Bawah". Devi Novita yang memiliki "jam terbang" nyanyi, langsung saja merasa cocok berpasangan dengan Advent Bangun. Advent Bangun sendiri mulai melangkah tarik suara ketika sering di panggung diundang, atau pada tour PARFI di daulat penonton untuk tarik suara, ia terpaksa unjuk diri tak kalah angin. 

"Dari situ saya merasa lebih yakin bahwa saya juga bisa menyanyi, " tambahnya. Pertama kali ia muncul dalam volume lagu keroyokan : Kutak Katik bersama 10 arstis film lainnya seperti Deddy Mizwar, Harry Capri dan lain-lain, untuk kemudian diteruskan memasuki Vol II dalam album Parade artis Ndang Ndut. 

"Saya kepingin mematangkan diri di karir baru ini. Saya terus belajar dan mencoba membuat lagu sendiri. "Advent Bangun memang terus sibuk lewat film barunya ini "MAT PELOR" merupakan filmnya yang ke 54, ia juga terus sibuk melatih karate d Paspampres dan juga Kopassus Group II Cijantung. 

Ketiganya merupakan karir yang dicobanya jalan seiring masing-masing memiliki romantikanya sendiri sendiri. 

Sebagai bintang laga, Advent Bangun nyaris mogok dan mengundurkan diri, ia menjelaskan hal itu disebabkan karena ia sudah merasa jenuh dengan peran antagonis yang selalu membuatnya makin lama makin dijauhi penggemar film silat. 

"Saya selalu menerima surat protes dan kecaman. Masak selalu jadi tokoh garang, sebenarnya awal 1989 saya sudah merencanakan akan mengundurkan diri. Bagi saya menjadi aktor lagasudah biasa, tetapi kalau terus terusan ketiban peran antagonis jadi jenuh. Saya kepingin peran lain yang aneka. Saya juga rindu dapat peran yang simpatik. Bahkan akhir-akhir ini saya tergoda dengan peran kemudian. Pengin Banget", Pada akhirya Advent Bangun membatalkan rencananya. Peran-peran protagonis mengalir kehadapannya. 

"Saya kemudian juga sadar, bahwa bertahan pada ego sendiri merupakan sikap yang kurang benar. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan peran dalam film. Tidak tergantung pada kemauan saya sendiri, " terusnya. 

Ia bercita-cita kelak, meniru jejak Silvester Stalone. Tidak saja bertindak sebagai pemeran utama, tetapi juga penulis skenario, sutradara, sukur-sukur kalau jadi produsernya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, February 13, 2026

BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG

 


BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG. TERnyata tak mudah untuk mencapai sebuah popularitas dalam dunia keartisan. Seperti diakui Bubu Samudera, aktor laga yang coba menyeruak persaingan antar bintang yang makin ketat. bermain dalam sinetron seri yang" cukup panjang, "Mahkota Majapahit", bubu mengakui bahwa ia belum menemukan karakter yang pas. "Baru sebatas memamerkan adegan bera ntem saja, " aku pria yang berperan sebagai Ra Yuyu dalam Mahkota Majapahit. 

Bersyukur Bubu mendapat kesempatan untuk memamerkan akting plus kekerasan tubuhnya lewat film layar lebar "Macho" bersama bintang laga lainnya termasuk Barry Prima. 

Berperan sebagai  tokoh mafia dengan seragam khusus tentunya, Bubu merasa beruntuk bisa bertemu Barry. "Dia banyak memberi masukan positif buat saya  termasuk juga cara manjaga kondisi tubuh, Tutur Bubu. 

Entah penampilannya yang mendukung atau memang nasib masih condong begitu, Bubu sendiri  belum nendapat jawaban pasti kenapa ia selalu kebagian peran antagonis. Kalau dalam sinteron Mahkota Majapahit dia memerankan sosok Ra Yuyu maka kesempatan berikutnya yang datang menyongsong masih saja peran serupa oleh Imam Tantowi, ustradara yang menggarap sinetron Kaca Benggala, bubu lagi-lagi kebagian peran antagonis. 

"Saya berperan sebagai  Ki Gedong, sebuah peran yagn menurut saya cukup menantang. Saya suka banget dengan peran saya kali ini, ungkap Bubu terang-terangan tanpa harus kecewa pada perannya di sinetron lain. 

Berpindah-pindah karakter dari Ra Yuyu menjadi Ki Gedong atau sebaliknya, ternyata tidak menyulitkan Bubu. Kendatikedua tokoh tersebut harus diperankannya dalam waktu yang berdekatan, tidak membuat Bubu harus sembunyi-sembunyi atau kabur dari lokasi. 

"Kebetulan kedua sinetron ini, kan masih dalam satu perumahan, " balasnya seperti ingin membela diri. 


Thursday, February 12, 2026

ARIE SANJAYA


 ARIE SANJAYA, Ada yang tahu sosok ini? Bagi yang pernah menonton Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan,atau sinetron SCTV Perjalanan tentu masih ingat sosok ini. Ya dialah Arie Sanjaya. 

Sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di dunia layar perak, seperti Arie Sanjaya, memainkan sebuah tokoh sentral bukan sesuatu yang baru. Bahkan merupakan makanan sehari-hari. Pria kelahiran Ambarawa 17 Agustus 1932 ini baru merasakan kenikmatan sebagai seorang aktor, karena pada sinetron Opera Senja, Pak Arie demikian pria yang hampir seluruh rambutnya memutih ini dipercaya oleh Noto Bagaskoro untuk menggantikan posisi almarhum S Bono yang waktu itu tidak bisa main karena sudah mulai sakit-sakitan. 

"Saya sungguh bersyukur dipercaya sutradara untuk menggantikan peran Pak Bono, namun kepercayaan itu buat saya sangat berat. Karena antara saya dan Pak Bono kemampuan aktingnya jauh berbeda, tapi sebagai pemain saya telah berusaha untuk bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa, kelihatannya sutradara juga puas dengan permainan saya, " tandas pemeran Pak MOchtar di sinietron yang juga dibintangi oleh Bob Sadino, Wawan Wanisar, Mathias Muchus dan Cut Rizky Theo ini. 

Aktor yang menekuni dunia film sejak tahun 1960an lewat film Si Pendek dan Sri panggung garapan sutradara Said HJ ini mengaku walau permainannya di puji sutradara karena dianggap mendekati permainan S Bono ini, tetap merasa belum maksimal. Karena dalam sinteron yang di produksi 6 episode ini, Pak Arie belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

"Wah, kalau dibandingkan dengan Pak Bono, saya nggak ada apa-apanya, " ujar pria yang sudah lama menduda ini merendah. 

Ketika disinggung mengenai kesendiriannya tiba-tiba wajahnya yang menyiratkan kedamaian berubah keruh. Kemudian bintang iklan salah satu produk minuman energi dan Pasar Raya ini sorot matanya menerawang ke masa-masa indah bersama keluarganya dulu. 

"Karena usaha saya ancur, keluargapun jadi berantakan. Semua itu karena istri saya nggak bisa menerima kenyataan, terus terang waktu saya masih bekerja sebagai Manajer Imam (Industri Artis Music Management) di Surabaya dan Kalimantan, hidup saya lumayan, tapi tiba-tiba usaha tersebut mengalami kemerosotan sehingga usaha bangkrut dan akhirnya saya kembali kedunia seni seperti sekarang ini, ujarnya. 

Pak Arie kemudian sedikit mengungkapkan masa lalunya, bahwa istrinya yang tadinya terbiasa hidub berkecukupan, tidak bisa menerima perubahan nasib yang dialami suaminya. Akhirnya sang istri pilih cerai dan kawin lagi dengan salah seorang pengusaha, sementara Pak Arie masih betah menduda. 

"Saya tidak menyesal tidak menikah lagi, karena terus terang ketika saya mau memulai memikirkan untuk berumah tangga lagi, impian buruk saya berumahtangga dulu terus membayangi, jadi saya terus diliputi rasa takut ketika mau menikah lagi, " paparnya. 

~MF


Wednesday, February 11, 2026

SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS

 


SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS, (berita lawas). Kalau nasib lagi mujur tak seorangpun dapat menghaluanya. Begitulah kemujuan artis bernama lengkap Suci Indah Sari Rajo Bintang ini. Sebab cewek bertubuh langsing ini mengaku tak bermimpi menjadi artis. Baginya Marissa Haque ibarat dewa kemujuran. Ketika masih SMA di kota Padang, Marissa Haque menawarkan lakon sebagai Syamsiah dalam "Masih Ada Kapal ke Padang". Sejak itu saya tertarik dengan seni peran dan orangtua sangat mendukung, " kata gadis berdarah Minang ini. 

Hijrah ke Jakarta kesempatan emas datang lagi, anak ke 4 dari 5 bersaudara ini diberikan kepercayaan oleh Herry Topan menjadi "si Ganjen" kembaran Mariam dalam sinetron "Kembalinya Si Manis".

Kalau Suci mujur lagi, maka ia akan ngetop lewat Kembalinya Si Manis. Sebelum Diah Permatasari menyanggupi menjadi pemeran Si Manis, kartu populeritas sudah ditangan Suci. Perempuan yang saat itu kuliah di Interstudy of Public Relations ini tidak putus asa. ia tetap bertekad akan mampu mencapai tangga populer, "Saya tidak merasa bersaing dengan Mbak Diah Permatasari. Saya hanya ingin bermain baik, "katanya saat ditemui dilokasi suting. 

Meski tidak mengaku, diam-diam diantara Diah dan Suci terjadi persaingan. Kejadian yang paling norak adalah ketika Diah menolak foto bersama dengan Suci oleh sebuah tabloid terbitan Jakarta. Produser sudah susah payah memberi pengertian, akan tetapi keduanya tidak mau berfoto bareng. 

"Saya masih banyak belajar tentang akting. Dan saya tidak mengerti tentang persaingan, " papar Suci. 

Di lokasi Suting, Suci sering serba salah. Banyak orang menduga bahwa dirinyalah pemeran Si Manis. Kesalahan tafsiran itu kadang sering pula disalah artikan. Untung selama suting mamanya selalu mendampingi hingga hatinya sedikit terhibur. 

Kedatangan Suci ke kancah persinetronan sebagai artis sungguhan bukan dengan tangan kosong. Di kota Padang tempat ia bercita-cita menjadi pengusaha ini sudah cukup dikenal. Ia sempat menyabet gelar sebagai Uni Sumatera Barat tahun 1995, Juara III Sari Ayu 1993, dan Miss Suzuki 1993. 

Kemujuran ke 4, main film layar lebar yang datang langsung ditolaknya mentah-mentah. Alasannya ia belum siap untuk main film. Padahal peran yang ditawarkan cukup menggiurkan sebagai pemeran utama. 


~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996