SUTING BADAI LAUT SELATAN. SALAH SATU LOKASI ADA DI GOA PETRUK (berita lawas).Badai Laut Selatan dijadikan judul film, hanya sebuah kiasan untuk memberikan makna dahsyat dalam sebuah perjuangan. Film yang di komandoi oleh Nurhadie Irawan mulai proses suting. Semua itu akan tergambar dalam berbagai adegan. Jago-jago perang misalnya dapat kita lihat kesaktiannya dalam pertempuran, dimana mereka berterbangan di udara.
Untuk memberikan kesan bahwa peperangan itu adu kesaktian ilmu yang dimiliki kedua belah pihak, khususnya ilmu bela diri, Eddy S Jonathan dipilih oleh Nurhadie Irawan sebagai penata kelahi. Saat di temui di lokasi suting film tersebut, Eddy Jonathan yang termasuk penata kelahi terbaik sedang sibuk melatih Dede Yusuf yang berperan sebagai Pujo. Idola remaja itu harus melayang-layang diudara dengan sling. Di sling, menurut Dede, merupakan pengalaman baru. "Saya baru sekali ii di sling. Rasanya, ngeri juga!" ujarnya saat selesai latihan.
Menampilkan adegan trick di udara, bagi Nurhadi memang bukan yang pertama kali. Film terakhir yang sudah beredar, Tutur Tinular telah membuktikan bahwa Nurhadi bisa membuat film laga, silat. Walau ia mengakui penata kelahi yang diimpor dari Hongkong cukup besar peranannya.
Badai laut selatan yang ditangani seluruhnya oleh tenaga dalam negeri, bagi Nurhadi merupakan batu ujian untuk membuktikan kepiawiaiannya. Nampaknya, Nurhadi juga ingin menampilkan peperangan sedahsyat Badai Laut Selatan yagn terkenal sangat ganas itu.
Niat itu terlihat dari keseriusannya sejak waktu persiapan. Berbulan-bulan ia menyempurnakan skenario, lalu berminggu-minggu pula ia keliling berbagai daerah, mencari lokasi suting yang cocok.
Suting, kecuali menggunakan studio Penas untuk membuat set interior, juga membangun set besar di tepian kali Cisadane, di daerah Ciseeng Bogor, Jawa Barat. Rencananya semua keru dan pemain juga di boyong ke Jembar - Jawa Timur dan pindah ke Gua Petruk di dekat Purwokerto , Jawa Tengah. Benar benar berat! Tapi saya ingin menampilkan sesuatu yang belum pernah ditampilkan dalam film kita, " jelas Nurhadi.
Di samping lokasi suting yang sukup jauh, medannya berat iapun bilang, "film ini membutuhkan ketelitian kerja ekstra berat pula." Sebab , katanya menambahkan, ceritanya memang berdasarkan sejarah. Yaitu sejarah Kahuripan (dimajalah tertulis Majapahit)yang tokoh-tokohnya sangat dikenal masyarakat.
Untuk memberikan kesan kemegahan kerajaan-kerajaan di jaman tersebut, sekitar abat ke VII-VIII, penata artistiknya dipercayakan kepada Mantri. Salah satu set besar, istana Selopenangkep dipeankan Prof. Dr. Wisnu Wardana, raja di Singasari, dibangun Mantri di tepi sungai Cisadane itu. "Setnya luar biasa. Padahal semua itu digarap karyawan kita sendiri!" Tukas Nurhadi memuji karya anak buahnya.
Dalam pembuatan Set, Katanya, pernik-pernik istana diusahakan bisa menekati realitas. Dari cerita, lokasi suting, dari lamanya suting, Badai Laut Selatan juga bisa digolongkan sebagai film besar. "Film-film semacam ini, sangat jarang di produksi!" kata Prof. Wisnu Wardana memberikan komentar, karena itu, lanjutnya layak mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak. Baik saat suting, dengan cara memberikan suatu fasilitas , kemudhanan-kemudahan misalnya maupun saat film itu mulai beredar di bioskop dengan memberikan toleransi hari putar yang lebih lama.
Profesor yang sangat mencintai kebudayaan tradisional itu juga memberikan penilaian bahwa Badai Laut Selatan, ceritanya relevan dengan pendidikan di negara kita. "Film ini kan tentang sejarah bangsa, sehingga anak-anak sekolah perlu ngerti sejarah bangsanya,!" tegas Wisnu Wardana yang Rektor IKIP Yogyakarta.
Relevansi Badai laut Selatan dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, kata Nurhadi, masih sangat besar. Sebab, katanya memberi alasan, tokoh-tokoh yang ditampilkan, benar-benar ada pada zamannya. "Ini bukan cerita fiktif!" tegas sutradara yang mengawali karirnya dengan film Bulu-bulu Cendrawasih, produksi akhir tahun 70an. Karena relevansinya dengan dunia pendidikan sangat besar, ia pun mengharapkan kelak mendapat perlakuan yang layak dan ditonton banyak orang, "Ini yang terpenting!" tegasnya.
Disamping Wisnu Wardana, (Budayawan, Cendekiawan dari bidang pendidikan, Mantan wakil rakyat di DPR MPR) dan Idolah remaja Dede Yusuf, Nurhadi juga menggaet beberapa nama tenar lainnya seperti Deddy Mizwar, Gito Gilas, maupun cewek kece Fitria Anwar yang mulai ngetop.
Badai laut selatan mulai suting pertama pada 18 Februari 1991. Kekhawatiran Nurhadi akan lamanya waktu suting karena lokasi sutingnya yang berjauhan. Lokasi di Jember dan Goa Petruk medannya berat. Di Jember, lokasinya masih sangat perawan, lalu di Goa Petruk medannya berat karena jalanan naik gunung. "Kalau kami suting di Goa Petruk, kami harus menambah kabel diesel sekitar 600 meter lagi. Soalnya kabel yang ada sekarang pasti kurang, diesel nggak bisa ditarik keatas!" jelas Nurhadi. Tapi tantangan-tantangan seperti itu, katanya justru mengasyikkan. ~MF 126/93 tahun VI, 17 April - 10 Mei 1991







