Monday, October 5, 2026

Rr. DIAN SITORESMI, PEMERAN ALIT DAMIS MUSUH BERAT MANTILI

 




Rr. DIAN SITORESMI, PEMERAN ALIT DAMIS MUSUH BERAT MANTILI (Berita lawas). NONTON film Saur Sepuh II Pesanggrahan Keramat akan membenci figur Alit Damis musuh berat Mantili. jelmaan cewek mahir memainkan jurus silat itu tak lain adalah Rr. Dian Sitoresmi. Kalau namanya mirip dengan pemeran Bu Rahmt, sinetron seri buatan PPFN yang tayang di TVRI hanya kebetulan saja. Yang jelas tak ada hubungan darah antara Sitoresmi, mantan istri WS Rendra dengan cewek berbibir ala Brigitta Bardot ini. Hanya menurut pengakuan Dian, kedua ortunya masuk dalam daftar urutan Keraton Yogyakarta. "Malah jadi males di depan nama saya tercantum Rr (Rara : Sebutan gadis ningrat). Orang pasti nanggepinnya lain. Kok, Keluarga keraton main film? Pertanyaan gini sering sekali terngiang di telinga saya,"ungkap Dian ketika dhibungi di rumahnya Perum Bumi Harapan Permai, Jlanan Pratama Raya No. N/9 Keramat Jati Jakarta Timur. 

Mengaku kalau menjalani masa hidup ini penuh dengan kerikil-kerikil tajam. Langkah terkadang membuatnya salah tingkah. Seperti ada sesuatu beban yang mengganjal dengan musuh jenisnya. Alasan itu yang membuat Dian begitu agresif menerima tawaran main film di antaranya seperti, Makin Lama Makin Asyik, Cinta Cuma Sepenggal Dusta, Cintaku Di Rumah Susun, Pernikahan Berdarah dan lain-lain. Plus sejumlah sinetron bikinan TVRI. 

"Nggak perlu promosi dah, saya malu. Namun yang paling membanggakan ya Saur Sepuh. Filmnya di tonton orang banyak dan peran saya sangat penting gitu, "urai Dian yang sekali-sekali menggaruk kepalanya. 

Kamu sendiri gimana Dian? Dengan memainkan matanya yang rada belo ia bilang ,"Nggak  janji dulu tuh. Cuma untuk bibir boleh saja di jitak (cium). Asal pantas dan situasinya memungkinkan untuk itu. Contoh, saya berperan sebagai istri, kan harus mau ciuman dengan peran suami. Iya kan?" tandasnya. Ini namanya curang dong. Menghalalkan adegan seks pada orang lain, sedangkan kamu sendiri belum bersedia. "Nggak nolak banget-benget sih, Say akan perlu tahu, seks yang dimaksud sejauh mana. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990


NASRI CHEPPY NAKSIR CEWEK BOY


NASRI CHEPPY NAKSIR CEWEK BOY (Berita Lawas). Setelah menggarap film "Bilur Bilur Penyesalan", sutradara Nasri Cheppy mulai membuat film lanjutan Catatan Si Boy ke II. 

Sutradara ini bisa termasuk sutradara yang cukup kreatif, produktif dan komersil. Jika dilihat dari jumlah film yang pernah digarapnya. Bahkan dalam pasaran, film Nasri Cheppy termasuk film yang dapat meraih penonton melebihi ukuran biasa. Selain itu, sutradara muda ini juga berani menempatkan pemain-pemain baru untuk berperan dalam film-filmnya. Diantaranya Paramitha Rusady, Sofia Latjuba, dan kini di fim Catatan Si Boy II yang tengah digarapnya, ia mengajak Venna Melinda pendatang yang sama sekali belum mengetahui seluk beluk film untuk menjadi pemeran pembantu dalam film lanjutan itu. 

"Saya menemukan Venna di sebuah pub Kartika Chandra. Ketika saya melihat dia, kok anak ini mirip bintang di film "Cry to Freedom". Saya dekati dia dan minta alamatnya. Kemudian anak itu diuji dan saya anggap dia mampu. Dia baru tamatan SMP lho,"promosi Cheppy sambil menyedot rokok lewat pipanya. 

Ada rumus soal menggaet cewek baru, Chep?

"Yang pertama jelas bentuk fisik, cantik. Kedua IQnya. Percuma kalau cantik, nggak punya ini", katanya sambil menaruh telunjuk di keningnya. 

Nasri Cheppy mengungkapkan bahwa lebih gampang untuk mengarahkan pemain baru. Mula-mula si calon bintang itu diajak ngobrol bersama Onky Alexander dan Meriam Bellina(Keduanya telah dipilih oleh pembaca Majalah Film sebagai Bintang Kesayangan 1987) . 

Dari situ kita bisa tahu cewek baru ini perlu digaet apa tidak, ungkap Cheppy. Asal nggak di bawa pulang saja lho ya?~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


Sunday, October 4, 2026

ASHA ARSINI

 


ASHA ARSINI (berita lawas). ada yang tahu sosok yang ini? kiprahnya di perfilman Indonesia memang bukanlah menjadi peran utama tapi hanya peran-peran kecil . Ketika pertama kali datang ke Jakarta, Asha Arsini hanya satu cita-cita, dunia film dan harus jadi artis film terkenal, katanya saat itu. Tapi lantaran dunia film lagi anjlog, maka cita-citanya dikembangkan tidak hanya film, tapi juga jadi artis penyanyi, alasannya  dunia tarik suara keadaannya tetapi stabil, apalagi untuk lagu-lagu dangdut. 

Asha, begitu biasa dipanggil oleh rekan-rekannya sesama artis, mengakui keinginannya untuk jadi penyanyi dangdut kenamaan. Ada kaitannya dengan nasibnya yang  kurang beruntung di dunia film, padahal ia sudah merampungkan 10 judul film nasional, tapi nasibnya tetap saja terseok seok. Karenanya cewek kelahiran Semarang ini mencoba mencari keberuntungan melaluidunia nyanyi. 

"Siapa tahu ada jodoh, kalaupun nggak, saya tetap akan menekuni dunia film, karena sejak kecil saya memang bercita-cita jadi bintang film, "kata cewek yang pernah main dalam film Penumpas Ilmu Santet, Pedang Naga Pasa, Jaringan Terlarang II, Saur Sepuh IV, Makelar Kodok,  Untung Besar, Perasaan Perempuan dan Malam Keramat ini. 

Sambil menunggu lampu hijau dari produser musik, cewek yang juga pernah tampil dalam film Tiada Titik Balik dan Ajian Ratu Laut Kidul ini mengikuti jejak rekan-rekannya sesama artis film pindah jalur ke sinetron. Dan ia kini tengah sibuk suting sinetron  Prambanan di daerah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993

NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL

 


NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL (berita lawas). Ketika Teguh Karya menerima order dari Suptan Film untuk menggarap "Badai Pasti Berlalu" (BPB) yang diangkat dari novelnya Marga T, semula ia merasa agak rikuh. Maklumlah, novelnya adalah novel pop, pemain utama yang dipasang juga bintang pop Roy Marten , jadi ia kudu bikin film pop, dong!. 

"Tidak, saya akan membuat cacing menjadi naga!"sesumbar Teguh. Terdengarnya rada jumawa, karena jelas-jelas memandang bahan dasar ceria cuma sekedar 'cacing'.

Walaupun begitu kemudian pada FFI 1978 di Ujungpandang , BPB menggondol 4 Piala Citra. Dan tahun berikutnya dinyatakan sebagai film terlaris. Malah Badai Pasti Berlalu adalah film yang paling banyak mengumpulkan penonton dari 10 karya Teguh, sejak dulu hingga sekarang!. 

Apakah salah satu sebab kelarisan Badai Pasti Berlalu karena pengaruh novelnya yang memang sudah sangat laris?

Empat tahun sebelum Badai Pasti Berlalu , novel perdana Marga T, sudah difilmkan oleh Ami Priyono, "Karmila" (1974), dengan pemain mahasiswi Muriani Budiwan, dan pasangannya Awang Darmawan. 

Dari penerbit Gramedia diperoleh keterangan, bahwa novel "karmila" sudah mengalami cetak ulang sampai sembilan kali!. Bukti kelarisan novelnya, sedikit banyak sangat berpengaruh pada filmnya. Apalagi karena sebelum dibukukan sudah lebih dulu dimuat sebagai cerber di harian "Kompas". Orang menjadi kepingin melihat apakah filmnya juga semenarik bukunya, bagaimana tokoh-tokoh yang selama ini cuma dikhayalkan menjadi hidup oleh para pemain nyaa?.

Kemudian pada tahun 1980, Nico Pelamonia mengarahkan kelanjutannya, "Dr. Karmila" kali ini dengan Tanty Yosepha sebagai pemeran , didukung Robby Sugara.

Marga T, yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter, memang termasuk pengarang wanita yang karya-karyanya selalu laris dilalap penggemarnya. Dalam usia 45 tahun, wanita bertubuh mungil ini, menghitung-hitung telah menulis lebih dari 100 cerpen, dan sekitar 25 judul novel, semenjak menerbitkan buku anak-anaknya yang pertama "Rumahku aalah Istanaku" 1969.

Karya-karyanya yang lain yang juga sudah difilmkan adalah "Bukan Impian Semusim", lalu "Ranjau-Ranjau Cinta", karya penyutradaraan pertama Nasri Cheppy dengan pasangan bintang Rano Karno dan Paramitha Rusady. 

Lalu bagaimana dengan film-filmnya?

"Saya menyerahkan hak pemfilman sepenuhnya kepada sutradara, jadi terserah kepada penafsiran mereka masing-masing bagaimana memvisualkannya. 

Pendapat yang sama juga dicetuskan oleh novelis-novelis wanita rekannya seperti : Ike Soepomo, Titie Said Sadikun, Mira W, dan Nina Pane Budiarto. 

Ike, dalam usia 42 tahun masih tetap menonjolkan kecantikannya. Boleh dipuji sebagai primadonanya novelis wanita. Novelnya "Kabut Sutra Ungu" telah dicetak ulang sampai enam kali. Filmnya pun laris luar biasa di bioskop-bioskop. 

Ada anekdot ketika Sjumandjaja berniat memfilmkan novel ini. Pertama Sjuman cuma iseng membacanya dalam kereta api sebagai pembuang waktu. Tapi kemudian menjadi sangat tertarik dan menelepon kerumah Ike, "Hello, saya Sjumanjaya , saya ingin berbicara dengan Zus Ika,".

Kebetulan Ike sendiri yang menerima telepon, ketus menyahut, "Maaf, disini tidak ada yang namanya Ika, "lalu karena mengira si penelepon mengelabuinya dengan memakai nama Sjuman, ia menutup telepon. 

Sjuman penasaran, menelepon lagi, Dengan serius menyatakan niatnya untuk memfilkan "Kabut Sutra Ungu", barulah Ike mau percaya. Bahkan kemudian mereka menjadi sahabat baik. 

"Saya malah belajar membuat skenario dari Bung Sjuman juga," mengakui Ike yang telah menyelesaikan skenario , Kembang Padang Kelambu, Hilangnya sebuah Mahkota, Hati Selembut Salju dan Mawar Jingga. 

Yang tersebut terakhir ini, memecahkan rekor dalam honorarium penulisan skenario dan pembelian hak untuk memfilmkannya. Produser Hatoek Soebroto, konon membayar Rp. 25 juta. Sayang, filmnya yang disutradarai Has Manan dengan bintang Lenny Marlina, Frans Tumbuan dan El Manik, serta syuting sampai ke Eropa segala, ternyata kurang berhasil dalam peredarannya. 

Sudah cukup lama Ike belum menulis, baik novel maupun skenario lagi. Mungkin karena berbagai kesibukannya yang sangat menyita waktu. Tapi Nyonya Drs. Soepomo Prono ini berkilah, "Saya menulis seperti -maaf- kentut saja kok. Artinya kalau mau baru menulis, kalau lgi tidak kepingin ya tidak bisa dipaksa gitu!".

Perkara Produktif, memang Ike kalah jauh dibandingkan rekannya Mira W. Sama seperti Marga T, Mira juga seorang dokter. Usianya baru 36 tahun tapi novelnya telah lebih dari 40 judul, serta separuhnya telah difilmkan. 

Dimulai dari novel pertamanya "Disini Cinta Pertama Kali Bersemi", yang dicetak ulang sampai 6 kali, kemudian diproduksi oleh Sanggar Film dibawah penyutradaraan Wim Umboh yang mempertemukan Widyawati dengan Roy Marten. 

Beruntun difilmkan juga "Ketika Cinta Harus Memilih", "Kemilau Kemuning Senja", "Permainan Bulan Desember", "Biarkan Kami Bercinta" dari novel Dari jendela SMP, "Seandainya Aku Boleh Memilih" dari novel Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu, "Kidung Cinta" dari novel Kidung Cinta Buat Pak Guru Muda, "Romantika" dari novel Galau Remaja di SMA, "Cinta Di Usia 30", dan "Panah dan Jantung" dari novel Bila Camar Terbang Senja serta "Perisai Kasih Yang Terkoyak".

Sesungguhnya, Mira yang bermarga Widjaja ini memang berasal dari keluarga orang film. Ayahnya, Othniel Widjaja adalah produser Cendrawasih Film, sedangkan abangnya, Willy Wilianto adalah seorang sutradara. Namun, belum pernah Mira bekerjasama dengan Willy dalam urusan pembuatan film. 

Agak berbeda dengan Mira yang menyebutkan tokoh-tokoh novelnya adalah fiktif, sebaliknya Titi Said Sadikun yang juga wartawati, menegaskan, "Novel-novel saya diangkat dari kisah nyata yang sungguh-sungguh pernah terjadi di Indonesia!. Tokoh-tokoh benar-benar pernah hidup, cuma saja namanya sengaja disamarkan, dan kalaupun ada bumbu-bumbu itu sah saja sebagai dramatisasi alur cerita!".

Novel-novel karya Titie yang sering dibantu oleh adiknya sendiri, Lies Said kebanyakan berkisah tentang perjuangan wanita yang ulet dan mengharukan. Tidak banyak yang difilmkan memang, namun rata-rata cukup mengesankan. Lihat saja "Jangan Ambil Nyawaku" dibintangi Lenny Marlina, "Lembah Duka", dibintangi Suzanna, "Budak Nafsu" dari novel Fatimah dibintangi Yenny Rahman dan "Selamat Tinggal Jeanette" dibintangi Meriam Bellina. 

Dua novelis lain yang karya-karyanya pernah difilmkan pula adalah Nina Pane Budiarto (Serpihan Mutiara Retak) dan Maria A. Sardjono (Dibalik Dinding Kelabu). 

Kalau Marta T dan Mira W adalah dokter, ada pula Insinyur yang punya hobby menulis, Ir. Budiyati Abiyoga nama aslinya, tapi bila menulis selalu menggunakan nama puterinya , Prasanti. 

Berbeda dengan novelis-novelis lainnya, justru ia sendirilah yang memproduksi film berdasarkan novelnya, "Hati Yang Perawan". Mungkin karena Insyinyur kita ini memang punya modal kuat. Nama perusahaanya, Prasidi Teta Film diambil dari nama putera sulungnya. 

~MF 047/15/Tahun ke IV, 16 - 29 April 1988

Saturday, October 3, 2026

EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI

 


EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Emma Febry, dia datang ke Jakarta dengan segudang prestasi. Dengan modal prestasi itu, dia ingin menguak Jakarta. maka pada pertengahan tahun 1987 Emma Febry datang ke Jakarta. Tujuan semula bukanlah menjadi bintang film, melainkan ingin menggelar karir di bidang peragawati dan model. Karena di kota kelahirannya Medan, dia cukum di kenal sebagai seorang peragawati. Tapi anehnya setelah tiba di Jakarta, dia menjadi bintang film. 

"Sebenarnya sebelum jadi bintang film saya mau masuk IKJ bidang sinematografi. Tapi karena satu dan lain hal niat saya itu jadi gagal, "kata gadis kelahiran Medan, 18 Februari 1966 ini. Lalu gadis mungil ini mendapat tawaran main film. Kontan saja diterimanya. Rupanya dia memiliki bakat dan pernah berakting di TVRI sta. Medan dalam drama-drama maupun film TV. 

"Siapa sih yang tak tertarik main film? Kalau tidak itu namanya munafik. Melihat kesempatan ini, tentu tidak saya sia siakan, "kata anak ke 2 dari 5 bersaudara ini polos. Sampai sekarang gadis yang memiliki tinggi 160 dan berkulit putih mulus ini telah membintangi 5 film nasional. 

Diantaranya Jubah Hitam, Peluu dan mesiu, Pendekar Lembah Kuning, Pendekar Ilmu Api dan Pertarungan. Sebelum main film Pendekar Lembah Kuning, Emma demikian panggilan akrab gadis ini hanya mendapat peran pembantu utama. "Walau saya ketika itu belum mendapat peran utama, tapi saya tidak berkecil hati. Saya yakin suatu saat akan mendapat peran utama, "ujarnya mengenang. Ternyata angan-angannya itu terkabul, dari 5 film yang dibintanginya dia telah tiga kali mendapat peran utama. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990


DOYOK SUDARMADJI


 DOYOK SUDARMADJI (berita lawas). Roda kehidupannya yang setiap saat berputar, kini sedang berada diatas. Ada pula yang bilang, bintangnya sedang terang, itulah nasib Doyok Sudarmadji, pelawak bertubuh kerempeng yang juga menambang uang di dunia layar perak. 

Berkat tangan Nyak Abbas Akup, pelawak yang mengaku pernah hidup terlunta-lunta ini jadi populer. Memang, lewat Rumah Susun, karya Nya Abbas Akup bersama pasangannya , Kadir ia kemudian menjadi tenar. 

Kedua pelawak yang selalu muncul bersama dalam film, namun berbeda grup dalam melawak, kini sedang meniti sukses di jalur bioskop. Dua produser, Ram Punjabi (Parkit Film) yang memproduksi Rumah Susun dan Gope Samtani (Rapi Film) tak mau membiarkan kedua pelawak tersebut disambar produser lain. 

Terbukti, satu film belum selesai suting, kontrak baru telah di sodorkan. Mereka ini seakan-akan dikontrak jangka panjang. Padahal menurut pengakuannya, kontrak yang diteken tiap satu produksi. 

Film mereka kemudian yang di produksi Parkit Film adalah Antri Doong. Muncul bersama dua bintang cantik Lydia Kandou dan Eva Arnaz. Lalu filmnya yang siap memasuki gedung bioskop dan menurut rencana akan ikut menyemarakan malam Takbiran, Makelar Kodok, produksi Rapi Film. 

Dalam Makelar Kodok yang disutradarai Norman Benny, Doyok dan Kadir didampingi bintang remaja yang juga sedang naik daun. Paramitha Rusady. Disamping Ully Artha, Rudy Salam, Mang Udel, Ida Kusumah dan Gugun Benget. 

Meniti karir dalam dunia kesenian, menurut pengakuan Doyok, telah dirintis sejak beberapa tahun silam. "Sudah lama!" Jelasnya singkat. Namun, tambahnya, baru dua tahun atau tiga tahun terakhir menikmati hasilnya. 

"Sebelum melawak saya pernah kerja bangunan. Pernah pula kerja di bengkel. Pokoknya sengsara!"kenangnya. "Sekarang siih, lumayan!" ngakunya. 

Ketika disinggung tentang honornya main film, iapun cepat-cepat bilang, "Rahasia dapur!". Yang jelas katanya, mobil sih juga yang dulu, Fiat tua!. 

Kecuali main film dan melawak, Doyok masih punya penghasilan tambahan, juga masih dari dunia seni. Kekocakannya, sering pula dimanfaatkan produser kaset rekaman, ikut joget mengiringi penyanyi yang tampil mempromosikan lagu-lagu baru dalam Aneka Ria Safari. Tampil kurang lebih lima menit sebagai backing, atau suting yang hanya sehari, honornya justru lebih besar dibandingkan main film dengan suting 3 - 5 hari. "Enakan di teve, sehari bisa sejuta, "jelas Doyok jujur. 

Memang sedang terang bintangnya, rezekipun mengalir terus. Jadwal suting padat, jadwal melawak pun rentet, masih juga ada yang menawari bisnis lain. Cuma ketika bisnis apa yang ditawarkan kepadanya, Doyok tak mau menyebutkan jenisnya. "Ada aja!" katanya singkat. MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990



Friday, October 2, 2026

YANA ZEIN,

 



YANA ZEIN, Berperan sebagai Gadis Cantik tapi Penyakitan. (Berita lawas). Ada yang ingat sosok Yana Zein? Sosok ini memang sudah mennggal beberapa tahun yang lalu. Kali ini Yana berperan sebagai Gadis cantik tapi penyakian. "Ya, memang begitu peran Yana dalam film Panah dan Jantung. Film pertamanya dimana ia harus memerankan Winny, sebagai gadis Bandung yang lembut, jago bermain piano namun selalu mengurung diri dalam rumah lantaran penyakit jantung yang diidapnya. Sesudah film pertamanya, Yana kemudian main untuk film Ranjau Ranjau Cinta garapan sutradara Nasri Cheppy, jadi adiknya Rano Karno. Dan yang terakhir Yana bermain dalam film Cintaku Di Rumah Susun, jadi anak orang kaya yang dicintai oleh Kadir yang teman ayahnya. 

Lantaran sering berlenggak lenggok diatas catwalk dan sering berhadapan dengan kamera, baik untuk cover majalah, kalender dan iklan. 

Yana lahir di Moskow. Ia anak sulung dari dua bersaudara yang lahir dari ayahnya, yang asli Riau , Ir. Nur Zaman Zein dan Ibu yang berasal dari Polandia. Yana sendiri nggak begitu tahu tentang negara kelahirannya. "Maklum ketika masih sekolah Taman Kanak-kanak saya sudah di boyong ke Indonesia."

Yana yang kini studi di sebuah Universitas di Jakarta, pasti akan kebingungan memilih karir yang ditekuni sekarang ini. Mana yang mau dipegang, Peragawati, Model iklan, kalender atau bintang film? Yang jelas, Yana  yang memiliki kecantikan tersendiri ini, punya pilihannya sendiri. 


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI

 


LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI (berita lawas). Mengingat sudah berkali-kali menjelaskan perihal belum bubarnya kelompok komedi Lenong Rumpi, mak asang komandan grup, yakni Harry De Fretes lebih suka berbincang berita baru yang dianggapnya bisa mengabarkan sosoknya yang selama ini seolah menghilang dari layar RCTI, sebagai media yagn membesarkan nama serta kelompoknya. 

Harry yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di FE Untar, Jakarta menganggap adalah satu hal yang mendesak apabila hampir seluruh pesonil Lenong Rumpi terjun ke pentas lain, Keluarga Van Danu dan Salah Sambung. Sedangkan tak satupun diluar sinetron RCTI itu Harry bersedia tampil. Sebab, bila Harr pun ikut main dalam acara lain atau kelompok yang disutradarai seniman lainnya, tentunya seolah memperkuat kesan bahwa sebagai pimpinan grup sudah bersedia main diluar, dan bisa dianggap Lenong Rumpi memang benar bubar adanya. 

"Tetapi bukan berarti kreatifitas saya mandeg,"ujarnya saat ditemui di kantornya, di Jakarta Flash Production yang merupakan tempat kumpulnya kru Lenong Rumpi. "Meskipun mereka padat oleh berbagai acara tapi setiap saat kami tetap bisa berkumpul untuk meeting kerja, "ujar Harry. 

Ihwal kreatifitas, Harry mengaku tetap rutin manggung bersama LR di berbagai pentas acara. Disamping itu film Lenong Rumpi yang bulan Maret ini sedang di proses episode yang ke III, tetap tidak akan merubah niat Harry yang juga siap memperoduksi film Si Boim lewat produksi Jakarta Flash Production. Yang menurutnya juga, film jenis komedi yang akan digarapnya itu, tetap di dukung oleh seluruh kelompok, yakni Debby Sahertian, Titi Dwijayanti, Robby Tumewu, Ade Libertifa, Tata Dado, Ferina Widodo dan Ira Wibowo. 

Tapi yang kini sedang digarap pemuda blasteran Padang-Menado ini, adalah ihwal vocalnya yang sedang di proses oleh Musica Studio. Namun meski sosok Harry sebagai pemuda, tapi ia melantunkan lagu anak-anak. "Hanya ada perbedaan dengan kebiasaan. Kalau anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, justru gue menyanyikan lagu-lagu untuk anak, "gelaknya yang mencanangkan hit lagu Si Boim. Sedang rentetan lagu-lagu lainnya sebetulnya bukan merupakan lagu-lagu baru di publik musik Indonesia. Misalnya saja Naik Delman, Beca, Selamat Ulang Tahun, Balonku, adalah lagu-lagu yang sudah sangat akrab dengan masyarakat kita. Namun yang berbeda hanyalah pada syair maupun pengucapannya disesuaikan dengan status Harry sebagai komedian. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993