Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ALDI RIZALDY, AKTOR 90an


 ALDI RIZALDY, AKTOR 90an (berita lawas). Kali ini mari kita berkenalan dengan aktor dan juga bintang iklan era 90an. Aldi Rizaldy. Aldi Rizaldy, mengaku kadang sulit jika ditanya aslinya darimana. Maklumlah cowok handsome kelahiran Palembang, 2 Agustus 1971 ini mengaku lahir dari buah cinta pasangan campuran. 

Bintang Iklan Rexona dan Minak Djinggo Internasional terlahir dari ayahnya asli Arab Irak, mamanya Arab Saudi dan Neneknya Malaysia China. 

"Aku ini bisa disebut anak gado-gado. Jelasnya, sih anak Indonesia dong!, terang bintang andalan layar lebar di "GAIRAH YANG PANAS" , "JARINGAN TABU" dan GAIRAH HILDA" ini. 

Tentang dunia artis menurut wajah baru yang mirip bintang India Kumar Gaurav ini baru ditekuninya sekitar dua tahun. Walau begitu ia merasa betah untuk terus berkiprah sebagai pelakon. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di MF  No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


T : Kok langsung betah berprofesi sebagai artis?

J : Habis enak sih!. Lagi pula jadi artis memang sudah cita-citaku sejak kecil. 

T : Usia berapa cita-cita itu muncul?

J : Sejak Usia 10 tahun aku sudah sering berkhayal ingin jadi bintang film. 

T : Keinginan yang kuat itu datang setelah Aldy melihat permainan siapa?

J : Ketika melihat permainannya Rano Karno, Widyawati, dan Sophan Sophiaan. Saat itu setiap mereka main aku selalu menghayati permainan mereka dan begitu kagum dengan kepiawaiannya bermain dalam perannya. 

T : Bagaimana reaksi ortu begitu Aldy memutuskan terjun sebagai pelakon?

J : Mereka setuju dan mendukung saja. 

T : Profesi Papimu sendiri apa ?

J : Papiku, pengusaha kayu. 

T : Kenapa kamu tidak mengikuti jejak papimu saja, toh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi artis?

J : Aku pernah mengikuti jejak papi sebagai pengusaha kayu. Tapi  aku ini bosenan. Akhirnya aku tinggalkan pekerjaan itu. 

T : Setelah jadi artis, kalau bosen lagi, ditinggal lagi?

J : Kalau sebagai artis aku nggak bosenan,  karena seperti yang sudah dikatakan tadi, profesi ini aku cinta sekali. (Profesi Aldi sebagai artis, katanya diawali dari model, dimana ia disalurkan lewat sebuah agency. Sedang tentang ilmu akting, menurut Aldi ia dapat dari banyak nonton film-film di bioskop dan televisi).

T : Siapa saja teman cowokmu dikalangan artis?

J : Denny Malik, Thomas Djorghie dan Jamil Reza

T : Kalau yang ceweknya?

J : Mila Karmelia, Anne J Coto dan beberapa model lainnya. 

T : Sebelum hijrah ke Jakarta, kamu tinggal dimana? 

J ; Aku tinggal di Palembang

T : Begitu kamu memutuskan untuk meniti karir di Jakarta, apakah langsung direstui ortu?

J : Tentu saja. Bahkan saat melepas kepergian aku ke tanah rantau, diadakan selamatan segala dengan mengundang pengajian. 

T : Saat orangtua melepaskan anaknya untuk merantau, kalimat apa yang kamu ucapkan agar mereka yakin anaknya nanti tidak bermasalah?

J : Aku katakan, kalau aku akan mencari rejeki yang halal. Soal sholat lima waktu dan mengaji, aku tegaskan jangan kuatir. Itu memang sudah kewajibanku untuk menjalani dan tidak pernh untuk meninggalkannya. 

T : Apakah sebelum hijrah ke Jakarta, kamu sempat singgah di kota lain?

J : Ya, aku sempat juga tinggal di Bandung, bua usaha jual onderdil mobil dan mebel. Tapi karena bosen lagi , aku tinggalkan. 

T : Sepertinya kamu memang senang mandiri. Padahal kamu datang dari keluarga yang berkecukupan dan anak laki-laki bungsu dari 7 bersaudara. Jadi apa yang mau dicari?

J : Karena aku merasa sudah waktunya hidup tanpa bantuan orangtua. malu dong, kalau terus-terusan minta orangtua. Bahkan sekarang saatnya giliran aku yang memberi untuk orangtuaku. 

T : Maksudnya?

J : Ingin nyenengin orangtua. Salahsatu caranya, ingin mmeberangkatkan mereka ke Tanah Suci Mekah. Kalau keuangan lebih dari cukup, aku juga inign menyertainya ke tanah suci. ~

Friday, July 24, 2026

AMBU YETTY SYARIFAH


 AMBU YETTY SYARIFAH (berita lawas). Yetty Syarifah yang dikenal sebagai Ambu, bersikeras ingin mempersatukan kalangan seniman, khususnya di daerah Jawa Barat. Karena selama ini menurut  penilaian Ambu, seniman di Jabar sulit di atur, masing-masing punya keinginan sendiri, sehingga praktis sulit untuk bersatu. Betapa tidak! Dalam kaitan itu, Ambu hidup menggeluti dunia film dan sinetron yang ditekuni sejak 1972 silam. Cita-citanya lain tidak kecuali ingin memajukan seni budaya lewat persatuan dan kesatuan di kalangan para seniman, katanya saat ditemui di sela-sela syuting film "Warisan Terlarang" yang berlokasi di Kuningan arahan sutradara S.A Karim. 

Ambu yang lahir 14 Maret 1936 dari pasangan R. Opo Sumantapraja yang Opzegter Perkebunan dan Julijah asli Garut itu mengawali karirnya lewat film "Si Buta Dari Gua Hantu", menyusul puluhan film lainnya. Diantaranya film "Gadis Marathon" cukup berkesan, sejumlah sinetron termasuk "Sartika". Disitu Ambu bisa mengembangkan watak dan selalu berupaya main maksimal, sesuai arahan Sutadaran antaranya Kurnaen Suhardiman, Bambang BS dan banyak lagi , "tutur pengagum BJ Habibie. 

Darah seni mengalir dari orangtuanya. Dulu orangtua say akerap tampil dalam seni "Cianjuran" suaranya lumayan mendayu-dayu dan bisa membuat orang tertidur bila mendengar lagu "Cianjuran".

Meskipun ia sekarang berstatus janda berputra empat, ia tidak pernah kesepian, sejak ditinggal suaminya menghadap yang Maha Kuasa. Menyusul suami kedua, tapi nampaknya kurang pas dan akhirnya sekarang sendiri lagi. Saya tidak memikirkan ingin punya suami lagi, umur sudah tua dan lagi punya banyak "incu".

"Kegiatan sehari-hari bila tidak ada syuting, saya tumpahkan kasih saya seorang nenek kepada cucu-cucunya,  ujar anak bungsu dari sepuluh bersaudara ini.  ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Thursday, July 23, 2026

NIA LAVENIA


NIA LAVENIA, SI RAMBUT PANJANG YANG SELALU NGOTOT (berita lawas). Gadis berambut panjang dan berlesung pipit ini bernama Nia Lavenia. Orangnya manis seperti namanya. Karena wajahnya yang menarik ini membuat dirinya menjadi model untuk produk Coca Cola dan Shampo, karena itu dia sering mejeng di layar RCTI. Nia bukan tipe cewek yang gampang puas. Untuk sesuatu keinginannya dia selalu ngotot. Sebab ketika tapmil dalam film "DON AUFAR" dan "KETIKA MUSIM DUREN TIBA" dia hanya numpang mejeng doang. 

"Saya hanya jadi penari. Kurang puas kan kalau cuma goyang-goyang pinggul," katanya renyah. Ketika liburan sekolah tiba Neng Nia disodorkan peran. Kontan gembira ria. Suatu yang mengasyikan masa libur diisi kegiatan positif, pikirnya. Dalam film "Blok M" sutradara Edward Pesta Sirait, Nia menjadi yang suka mejeng dengan teman-temannya. Dia dan Desy Ratnasari merupakan anak-anakyang haus kasih saya, karena orang tua selalu sibuk. Sehingga lupa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Membuat anak-anaknya Mejeng di pasa Blok M , kawasan Melawai. "Saya senang main film karena berakting beneran, "kata gadis dengan tinggi 160 cm dan berat 46 kg ini. 

Kiprahnya tidak hanya dalam model-modelan. Rupanya dia terlihat juga dalam tarik menarik suara. Satu album dangdutnya telah rampung untuk lagu yang berjudul "Cinta Lahir Batin". Nia telah pula nongol di Aneka Ria Safari. 

Nia merupakan belasteran Jawa dan Sunda. Ngakunya suka nonton film apa saja. Meski dia ingin menjadi bintang film dan seorang penyanyi tenar, Nia juga punya idola. "Saya senang Christine Hakim karena aktingnya yang penuh penjiwaan. Kalau penyanyi saya senang dengan Ruth Sahanaya, selain dia memiliki vocal bagus, penampilan juga menarik"katanya. Lalu apa sih cita-citanya sebenarnya?"Kalau dipikir-pikir saya ingin jadi ahli ekonomi, " ujarnya bersemangat. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Wednesday, July 22, 2026

BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN

 


BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN (Film Lawas). Siapa Menduka kalau kru film nasional mampu membikin film action yang nyaris sekelas dengan produksi Hollywood? Film Bercinta Dengan Mautlah buktinya. Para pelakon utamanya spesial di impor dari Amerika. Pembiayaannya pun patungan antara produser Amerika dan Indonesia. Semua kru merupakan tenaga dalam negeri. Sebua langkah yang manis dilakukan PT. Soraya Intercine Films di saat sepinya tema action modern. Tjut Djalil selaku sutradara meramunya sebagai sebuah tontonan yang menarik. 

Beredar serentak di DKI, Jabar dan Jateng pada 26 November 1993, film bertema action-horor ii beredar di Amerika tahun 1994. 

Bercinta Dengan Maut dibikin dengan anggaran yang cukp mahal, dengan masa suting 3 bulan lebih. Mengambil lokasi suting di Jakarta, Jawa Barat dan Bali. Proses sutingnya dipenuhi dengan trik-trik special effect dan artistik yang cukup baik. Keberhasilan film ini juga menunjukkan bahwa kru film negeri ini cukup handal. "Kami sangat merasa ditantang diberikan kepercayaan membikin film jenis ini, " Kata Partogi Simatupang selaku kamerawan. 

Bergabungnya artis Amerika seperti : Tonny Lynn, Kristin Ann, dan Amy Marie Waber, tidak membikin kru dan artis film nasional minder. Malahan sebaliknya. Semangat semakin menggebu-gebu. "Saya mampu berlakon dengna baik, dengan artis manapun, " ujar Reynaldi Iskak. Keberanian Ronny Lynn, Kristin Ann dan Amy Marie dalam film ini cukup menggiurkan. Tapi, tidak digarap secara vulgar. 

Cerita menawarkan sesuatu yang menarik. Tiga orang perampok, Ted, Erick dan Jeff berhasil merampok perhiasan. Mereka kabur dengan mobil sedan. Sersan Dody dan anak buahnya terus memburu bandit-bandit itu. Terjadi baku tembak. Mobil para bandit terbalik, tak jauh dari rumah Linda, seorang artis foto model. Tapi , ketiga perampok tersebut mati dengan berlumuran darah. 

Jari tangan Jeff yang mengenakan cincin berlian putus secara mengerikan. Darah para perampok yang tersisa didedaunan menetes kepermukaan cermin. Darah itu seketika berbusa, lalu cermin itu menelan jari Jeff. Lalu muncul sosok wanita berwajah cantik, dengan tubuhnya dibagian perut keroak. Makhluk cantik, tpai mengerikan ini menamakan dirinya, Ratu dari Kegelapan. 

Linda sewaktu berulang tahun menerima hadiah dari Johanes, berupa buku Mystic of The East. Buku ini dipelajari oleh Susan, adik Linda yang kabur dari Amerika karena diperlakukan kasar oleh suaminya. John, suami Susan, mengidap seks maniak. Susan menemui LInda di Bali, saat sedang opname pemotretan dengan fotografer. 

"Ratu Dari Kegelapan" itu kemudian merasuk jasad Susan, tatkala Susan sedang membaca mantra-mantra buku Mystic of The East. Melalui jasad Susan, "Ratu Dari Kegelapan" membunuh dan menghisap darah mangsanya sampai kering. Ratu Iblis ii sangat doyan dengan darah-darah pemuda berwajah tampan. Setelah puas, Susan menyerahkan korbanna dengan upacara di depan cermin. 

John datang dari Amerika, mengajak Susan kembali ke Amerika. Tapi Susan menolak. Penyakit seks maniaknya kambuh, dan menganiaya Susan. Untung Bob datang hingga John tidak berhasil memperkosa Susan. 

Malam harinya, Susan yang kesurupan "Ratu Dari Kegelapan" mendatangi John di hotel dan John menjadi mangsa untuk sekian kalinya. Kematian yang berturut-turut ini membikin Sersan Dody curiga kepada Susan. Tatkala Linda pulang dari Bali, ia menemukan Susan sedang melaksanakan upacara mistiknya. Linda menyeret Susan ke dalam kamar dan menguncinya. Linda melaporkannya pada Bob, supaya berita sampai kepada Johanes. Susan terus kesurupan dan akhirnya mengamuk hendak membunuh Linda. 

Sersan Dody yang datang hendak membantu terpental di pukul Susan. Dody lari ke mobil dan mengambil senjata, tapi Susan datang dan membakar mobil dengan ilmu hitamnya. Sersan Dody ikut terbakar. 

Bob dan Johannes datang. Johanese membaca mantera-mantera dari  buku Mystic of The East. Pertarungan seru terjadi antara Johannes dan susan. Akhirnya Johannes berhasil mengahncurkan cermin itu, dan menarik Susan keluar. Mereka sempat lari dari rumah itu, sebelum rumah Linda yang besar itu meledak berkeping-keping.

Produksi : PT. Soraya Intercine Film, Produser : Ram Soraya, Sutradara : Tjut Djalil, Kamerawan : Partogi Simatupang, Editor : Sentot Sahid, Penata Musik : Dian AGP, Pemain : Shahreza S, Tony Lynn, Reynaldi Iskak, Kristin Ann, John F Waroni, Otic Pakis, Simon PS, Wilman Saragih, Amy Marie Weber.  ~MF 193/159/Th. X, 20 Nov - 3 Des 1993


CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"


 CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"(berita lawas). Mengejar da memburu Chiata "Fatima" Hendrayani, peraih piala Vidia untuk Pemeran Utama Wanita kategori Komedi seri pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1997, ternyata gampang-gampang susah. Sesudah berulangkali janjian lewat telepon maupun via handphone, akhirnya bisa bertemu di lokasi suting di Cipinang besar. Saat ditemui Chiata baru sakit. 

Selain sakit, Aya-biasa begitu disapa memang punya jam kerja tak pasti. Maklum, selain main sinetron, menjadi model, ia bekerja sebagai marketing pada sebuah pabrik cat. Tapi "Saya disana bukan karyawan tetap kok. kalau ada order dan goal, dapat bonus. 

Kok jauh benar dengan dunia entertaint? Aya tergelak. Menjadi tenaga pemasaran, kata Aya justru main jobnya, dan sudah dijalani selama tiga tahun. 

Lha kalau main sinetron? "Biar honorarium dari Fatima sudah lumayan, tapi buat saya sinetron masih side job. Kebetulan, untuk ukuran Ciganjur dan sekitarnya, wajah dan postur Aya merepet dan masih lumayan. 

Keberhasilannya meraih Piala Vidia dalam penyelenggaraan FSI akankah merubah pandangan Aya? Main sinetron bukan lagi side job tetapi sudah main job? "Nggak juga begitu. Tetapi dengan keberhasilan itu saya akan makin serius berakting dan selektif memilih peran. bener! katanya gagah. 

Ditengah menunggu pengambilan gambar, penggemar masakan ayam rica-rica, masakan sang mama ini, banyak bercerita mengenai apa saja yang dilakukannya untuk masuk ke dalam 'ruh' Fatima. Janda muda, cantik dengan seorang anak laki-laki, tinggal dalam lingkungan masyarakat Betawi yang sederhana. 

Aya mengaku, ia antara lain mengamati perilaku dan gaya bicara pembantu rumah tangganya yang berasal dari Betawi. Ia juga memerhatikan dan berbincang dengan para tetangganya di Ciganjur. "Selain itu tentu saja banyak bertanya pada Babe, Mpok Nori, Manaf, Bang Syamsul serta lainnya. Mereka sangat membantu. Terima kasih untuk bantuannya itu, "kata pemilik tinggi 175 cm ini. 

Nama Chiata Hendrayani mungkin pernah anda dengar. Mungkin juga anda lupa-lupa ingat. Untuk menyegarkan ingatan anda tentangnya, kita rewind apa siapa Chiata. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Theo H Sinnighe dengan Faizah Bahasoan ini memulai kiprahnya lewat film layar lebar Blok M (Bakal Lokasi Mejeng) garapan sutradara Edward Pesta Sirait tahun 1990. Laiknya pemain film Ia hanya mengantar seorang temannya untuk casting. Saat test, Chiata juga ikut ditest. "Kamu nggak mungkin diterima. Soalnya kamu belum pernah main film atau jadi model, "ujar Chiata menirukan ucapan temannya waktu itu dalam perjalanan pulang. "Nggak kepilih juga nggak apa-apa. Orang tua gue juga keberatan kalau gue main film,"jawab Aya. 

Eduard Pesta Sirait, sperti diungkapkan Chiata, tak selang lama malah menelponny dan mengabari ia diterima sebagai Winda. Kedua orangtuanya, tentu saja bingung. mereka keberatan Chiata main film. Image film Indonesia ketika itu masih kurang bagus dimata para orang tua. Apalagi saat itu Chiata jelang ujian SMP. Untuk meyakinkan filmnya berbeda dengan film nasional kebanyakan, Edu secara pribadi menemui orangtua Chiata. Tak lupa membawa skenario dan bagaimana karakter Winda. 

"Bokap dan Nyokap akhirnya memberi izin, dengan catatan nilai ujianku harus bagus. Dan selama suting, Mama selalu ngikutin, " paparnya. "Honorarium main film itu juga nggak gede-gede amat. Kalau tak salah ingat sekitar limaratus ribu rupiah. Mama yang ngatur duitnya,"ungkapnya mengenang. 

Film Blok M itu mungkin saja akan menjadi film pertama sekaligus terakhir Chiata Hendrayani. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


Tuesday, July 21, 2026

DESY RATNASARI, MAKE UP DI WARTEG

 


DESY RATNASARI, MAKE UP DI WARTEG (berita lawas) Ini berita penting ya hehe, make up di warteg . Masyarakat Jakarta pasti sudah akrab dengan Warung Tegal. Biasanya warteg tempat mangkalnya abang becak dan sopir bajaj dan tempat para pengangguran kongkow-kongkow (ini sih dulu ya, sekarang warteg udah mahal harganya hehe..admin). Sejak datangnya Desy Ratnasari, artis remaja si cantik manis ini membuat warteg di kawasan Rawasari semakin semarak. Kontan saja para abang becak dan sopir bajaj hengkang dari warteg itu. 

Tidak ada tempat bagi Desy untuk berlindung, kecuali di warteg itu. Sementara matahari bersinar terik. Suhu udarapun meningkat tinggi dari biasanya. Kalau bersembunyi di bawah tenda kru film "OOM PASIKOM, PARODI IBUKOTA" aroma bau busuk terasa menyengat hidung. 

"Bagi saya tidak jadi masalah bermake up di warteg. Walau kesannya kumuh tapi kesederhanaan warung membuat kita rileks, " ujar artis yang memiliki tinggi 164 cm ini. 

Karena munculnya Desy tentu saja pengunjung warteg menjadi ramai. Tapi bala juga bagi empunya warteg. Dari sekian banyak pengunjung warteg hanya beberapa orang saja yang ngopi atau makan. Sang empunya warteg hanya bisa urut dada. Kesemuanya pengunjung hanya melihat-lihat Desy. Karena jadi tontonan gratis membuat warteg membludak. Untung tidak ada yang mencolek-colek Desy. 

"Walau saya rugi waktu karena tak ada yang beli, ya tidak apa-apa. Saya bangga lho, sebab ada bintang film duduk di warung saya, "ujar ibu empunya warung. 

Tidak hanya bermake up, tapi juga untuk beristirahat tentu saja warteg yang kecil ini menjadi sesak. Di pojok lain dua remaja bertengkar. Apa pasal? Selidik punya selidik, sang cewek cemburu karena melihat sang cowok ingin berkenalan dengan Desy. 

Untung saja suting cepat berlangsung. Sehingga Desy bisa lebih dini meninggalkan warteg itu. Kalau lebih lama mungkin bakal ada yang terjadi. Sebab massa semakin banyak. Karena massa datang sendiri. Bukanlah gampang mencari massa pada tengah hari untuk menjadi figuran film. 

Ditanya soal pacar Desy menutup diri. Padahal beberapa anak muda tergila-gila padanya. Apa lagi zaman sekarang, satu dua remaja yang tidak punya pacar. Ketinggalan zaman dong?.

"Saya memang nggak punya pacar. Saya takut pacaran. Kata orang bahaya,"kilahnya berkelakar. Rupanya suting Desy kali ini tidak berjalan mulus. Kenapa Des? "Saya harus berperang dengan debu. Itu sih tidak apa-apa. Kalau bau busuk mau muntah rasanya. Kan lebih baik mangkal di warteg daripada berjemur matahari dan berteman sampah, "katanya. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990