Tuesday, August 11, 2026

NIA LAVENIA


NIA LAVENIA, KARAKTER YANG TIDAK BERUBAH (berita lawas). Dalam sinetron Jerat-jerat Cnta, garapan H. Alfadin, yang ditayangkan RCTI, peran Nia Lavenia tak banyak berubah dari porsi lama, 'nelangsa!. Padahal tema sinetron 12 episode tersebut mengangkat problematika kalangan jet set. Tapi Nia masih tampil sebagai gadis lugu, jujur dan menganut sistem budaya "arus bawah".

"Rambut saya yang mendukung karakter itu. Dari dulu saya memang suka rambut panjang. Segini terus, paling potong dikit tiga bulan sekali. Belum ada niat berambut pendek, "kata Nia. 

Dua judul sinetron agi sedang diperani artis yang sempat mengisi rubrik Wajah di RCTI ini adalah "Mahkota Wilwatikta (26 Episode) sinetron klasik garapan Abnar Romli untuk RCTI. Satu lagi Nurlela, dipersiapkan untuk SCTV. "Karakter saya nggak berubah. jadi gadis baik yang sederhana,"lanjut Nia. 

Di sisi lain karir nyanyi dan model iklan Nia terus menanjak. Sosoknya tak pernah sepi dari layar televisi. Di samping sibuk suting dua sinetron, Nia siap merampungkan video klipnya untuk album terbaru Melodi Memori. Padahal kontrak acara Zimfoni SCTV yang dipandunya belum habis. Masih sekitar 6 bulan lagi. Tiap hari Kamis dan Jumat, Nia harus suting paket musik tersebut. 

"Apalagi sekarang mulai ada perombakan karena banyak pemirsa yang mengatakan bahwa teknis penyajian Zimfoni terasa agak monoton. Proses sutingnya tetnatu akan memakan waktu lagi. Tapi saya suka, karena sedikit banyak menambah apresiasi pengetahuan musik, "kata Nia yang sempat hits dari tembang dangdut Cinta Lahir Batin. 

Popularitas Nia juga berkat iklan yang dibintanginya. Paling sedikit ada 12 produk . Nia tampil seksi ketika pakai bajur renang , salah satu produk pembalut wanita. Nggak risih mengingat kamu tampil pose pose sensual?

"Iya sih! Tapi masih untung karena ngambilnya dari depan dan itu hanya sekilas saja. Saat saya muncul ke permukaan kolam renang, kesannya kan nggak nakal" kilah Nia kendati demikian, Nia tak luput dari protes penggemar. 

"Kalau show di pentas-pentas musik dangdut saya pakai kostum biasa-biasa saja tanpa harus goyang seronok. Begitu jug afoto-foto saya di majalah. Rasanya sih sopan semua. Mungkin mereka kaget, kok saya tampil pakai baju renang? imej fans saya mungkin juga sudah terbentuk..ha...ha.."kata artis berlesung pipit ini sambil tertawa. 

~MF 222/188/TH XI, 17 - 30 Desember 1994

LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI

 


LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI (berita lawas) Usaha layar tancap, masih tergolong baru (saat berita ini diturunkan), Ayong Suteja mungkin, orang pertama yang membuka usaha jawa hiburan untuk masyarakat pedesaan itu. Ia memulai usahanya sekitar tahun 60an, ketika film Indonesia masih hitam putih. 

Mantan tukang 'babi' di daerah Glodok, Jakarta barat itu semla hanya memiliki 1 unit film keliling. Berkat ketekunannya, usahanya berkembang baik. Di akhir tahun 80an ia memiliki sekitar 30 unit film keliling dengan sekitar 250 copy film yang masih layak diputar. 

Ia mengaku karena anaknya sudah jadi sarjana semua, juga dibiayai dari usaha layar tancapnya. Maka sebagian peralatnya di jualin, "sekarang ini hanya untuk kesibukan saja. Nggak kayak dulu lagi, "kilahnya. 

Setelah Ayong, bermunculan pengusaha lain, ada H. Somad salah seorang karyawan NV Perfini yang pernah menjadi anak emasnya Usmar Ismail, H Naban, Rachmad Saleh, M. Zachri Rachman, Muntalib Syah, Tito dan masih banyak lagi. (Nama terakhir pasti tahu lah ya, Tito Film dimana-mana )

Mereka itu tergolong sukses. Unit film yang dimiliki sekitar 20 unit, dan film yang dikuasaipun lebih dari 200 copy film. Bahkan H. Naban, kabarnya mempunyai lebih dari 1000 copy film dan sekitar 100 unit film, Luar Biasa!.

Teori Pengembangan usaha H. Somad hingga begitu berhasil, karena ia memberikan pelayanan purna terhadap orang yang menyewa film-filmnya. Untuk orang hajatan, misalnya, H. Somad menyewakan film dalam bentuk paket, dengan perlengkapan pesta lainnya. Tenda, dan semua perlengkapan pesta, disediakan. harga sewanya relatif murah, hanya sekitar Rp. 400.000 saja.Padahal untuk tanggapan filmnya saja, 5 film sudah sekitar Rp. 200.000, itupun dengan film-film yang tergolong baru. (angka tersebut ditahun 1989). 

Untuk film yang agak lama, di Jakarta bisa Rp. 150.000 saja, jelas Zachri. Usaya layar tancap ini, sambung H. Somad banyak unsur sosialnya. Maksudnya, sering dimintai sumbangan. Misalnya, kalau lagi Agustusan, yang diminta sumbangan film ini mulai dari kecamatan sampai tingkat RT. belum lagi dari instansi pemerintah. 

"Tapi mau bilang apa, Kalau nggak mau sosial, ya nggak punya teman. Padahal teman itu penting!"tukas H. Somad. 

Ibarat petani, lanjutnya, usaha layar tancap juga ada musim panen dan pacekliknya. Dalam setahun, musim panen itu hanya sekitar 3 bulan saja. Bulan Syawal, Besar dan bulan haji. (btw bulan besar sama bulan haji bukan sama ya, hehe). Biasanya bulan-bulan tersebut banyak yang hajatan. Mantu, khitanan atau hajatan lainnya. "Pada musim panen, unit yang keluar hampir semua. Kadang-kadang sampai cari pinjaman ke teman lain segala, " tukas M. Zachri. 

Tapi kalau lagi paceklik, biasanya musim hujan, dua panggung saja sulit. Kadang, sambung H. Somad, kosong sama sekali. Selama 22 tahun bisnis layar tancap, cukup banyak suka dukanya. Dan pengalaman yang paling menarik, beberapa tahun lalu, ia pernah menerima bayaran sewa film dengan dua ekor kambing. 

"Kasihan, sih! Tapi, saya kan juga harus bayar karyawan yang putar film, "jelas Somad seraya melanjutkan kisah lucunya itu. Beberapa tahun silam, ada orang hajatan nanggap filmnya. 

Waktu itu musim hujan. Persiapan tuan rumah tidak matang, hanya mengharapkan sumbangan dari undangan. Karena sejak sore hujan turun lebat, undangan yang hadir tak banyak . 

Karena uang tak cukup untuk membayar sewa film, tuan rumah bilang, "Silahkan ambil kambing itu dua ekor. Pilih ang dianggap cukup untuk bayar sewa film,".

"Kasihan, kambing itu, ternata kambingnya anak yang dikhitan. Dia yagn sebenarnya harus bahagia, sunat ditanggapkan film, pagi-pagi kambingnya yang buat bayar, "jelas Somad. Kelihatannya, dia mau nangis. Tak sanggup melihat anak itu lanjutnya, segera saja pamitan pulang. ~~MF 085/53/TahunVI, 30 Sept - 13 Okt 1989


Monday, August 10, 2026

MENDIANG KIKI FATMALA


 MENDIANG KIKI FATMALA (berita lawas). Kecantikan, kemolekan, keberanian dan usia muda adalah bagian dari jalan meraih kesempatan yang menjanjikan. Itu motto Kiki Fatmala, wanita yang mengawali karir di film sejak 1988 yaitu sejak di film "Permainan Di Balik Tirai", Pembalasan Setan Karang Bolong, Kisah Cinta Nyi Blorong, Pengantin Rimba Hitam dan Disini Mau Di Sana Mau. Peran menantang yang diartikan tentu saja berani buka-bukaan, asal tak semua di copot oke-oke saja. Dan kini ia bisa menempati rumah di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan bersama perabotan plus sedan Honda Civic LX, serta tabungan rupiah yang tak mau di sebut angka nolnya. 

Dulu, gadis kalem tapi type penggoda ini menganggap main film sebagai pelarian. "Karena nganggur, nggak kuliah, ya saya anggap aja ini juga kerjaan. "Kan menghasilkan duit. Tentu dong, saya pun senang, "Kata Kiki yang genap berusia 20 tahun pada 20 Oktober 1989. 

Justru, tuturnya kemudian, main film bikin ia sibuk. Dengan begitu Kiki dapat melupakan kepedihan hati. "Dulu saya iri pada teman-teman. Mereka bisa bercanda dengan ayahnya atau ada ayah yang mencium pipi teman jika pulang atau pergi dari suatu tempat. Tapi, saya dirumah tak ada ayah. Terasa ada yang kurang pada perasaan saya, ungkapnya dengan nada getir. Ayahnya, Haryono (Sunda) harus bercerai dengan ibunya, Farida (Pakistan) ketika ia muda belia pada usia 2 tahun. Ayahnya kawin lagi, dan kiki pun bertambah adiknya, 5 orang.. 

"Saya pernah bertemu dengan istri ayah yang itu, Kita baik kan kok, " katanya. Perasaanmu nggak sebel melihat mukanya? jawabannya cuma senyum tipis sembari buru-buru menyulut rokok yang kelima. 

Perokok berat yagn sehari menghabiskan dua bungkus rokok, bahkan 4 bungkus kalau lagi suting ini mengaku jika sedang pikiran kalut atau sedih, ia malah mengurung diri dikamar. Habis-habisan deh menangis, "ujarnya. Namun ia beruntung, ia tak bisa mabuk yang biasanya untuk melupakan dunia, lantaran ia nggak doyan dunia, lantaran ia nggak doyan minuman keras yang rasanya pahit itu. ~MF 085/53/TahunVI, 30 Sept - 13 Okt 1989


TEGUH JULIANTO, MAIN LAGA

 


TEGUH JULIANTO, MAIN LAGA (berita lawas). Tak selamanya bintang itu gemerlap. Tak selamanya pula Teguh Julianto melambung. Sejak film tema "esek-esek' terkikis , banyak artis yang terjungkal. 

Sejak film perdananya Kembalinya Si Janda Kembang (1993) sampai tiga belas film yang telah dibintanginya, Teguh masih bertahta. Dan hampir semua bintang seks pernah "dikeloni"nya dalam adegan film. Tapi kini, film nasional ibarat kran air di gurun pasir, menetes satu satu. Tetesan itupun diperebutkan banyak mulut. 

"Siapa yang bernasib baik dia menang, "kata pria kelahiran Surabaya ini berkiasan. Teguh pernah bekerja di perusahaan asuransi, namun sejak total berkiprah di film kerjaan itupun ditinggalkan. Sebab film 'esek-esek' lagi naik daun dan peluang untung ngetop masih terbuka. Lihat film-filmnya Skandal Iblis, Gaun Merah, Misteri Malam Pengantin, Misteri Perkawinan Terlarang, Kenikmatan Tabu, Pergaulan Metropolis, Hangatnya Malam dan Si Manis Jembatan Ancol, Semuanya cukup laris di pasaran. 

"Saya banting stir, caranya dengan membuka toko grosir di Mangga Dua, karena saya harus bekerja. kalau bertahan di film dapur bisa tak ngebul, katanya berterus terang. "Saya pilih buka toko, karena bisnis ini yang saya kuasai, "paparnya singkat. 

Untung, dikala ia 'terkantuk-kantuk' ada tawaran main sinetron Singgasana Brama Kumbara menjadi Lingga anak raja Kuntala. "Saya sih tak pandai berlaga, karena kondisi mau tak mau saya harus bisa. Kalau datang kerumah saya jangan kaget, kala dindingnya pada kotor karena saya terjang.,"ujarnya. Tubuhnya memang tidak kekar, tubuhnya sudah terjaga untuk main film tema drama, horor dan 'esek-esek'. "Saya sekarang kerja keras untuk jadi artis laga untuk itu latihan khusus. Tapi yang paling dipikirkan bagaimana bisnis pakaian cewek bisa mapan, "katanya. ~MF No. 218/184/Th.XI, 22 Okt - 4 Nov 1994


Sunday, August 9, 2026

NOVIA KOLOPAKING

 


NOVIA KOLOPAKING (berita lawas). Novia Kolopaking artis yagn sering manggung untuk menyanyikan lagu-lagu baik pada acara show maupun undangan sebagai bintang tamu. Via , panggilan sehari-hari , perempuan imut-imut yang lincah dan ramah terhadap siapapun baik dengan cowok maupun cewek, ia menganggap sebagai keluarga sendiri. "Konsep ini yang saya terapkan. Saya senang bergaul pada semua orang, dan saya berusaha untuk menyenangkan, untuk diri saya mungkin sudah menjadi milik masyarakat, "celoteh Via saat ditemui pada acara Parade Artis Taman Impian Jaya Ancol. 

Kesibukan Via akhir-akhir ini mengisi acara musik, hampir seminggu 2 kali ia manggung bersama artis-artis yang ada di ibukota. Sejak kecil Via sudah berani pentas untuk menyanyikan lagu anak-anak. Berkat suaranya yang enak di dengar serta didukung kemampuan dalam membawakan setiap lagu, Via  sering dibutuhkan oleh masyarakat untuk menghibur. Dalam kesempatan di Parade Artis Taman Impian, Via sempat menyanyikan lagu dangdut, untuk meramaikan suasana Via langsung punya inisiatif gaet cowok untuk mendampingi sebagai pacar sementara untuk berjoget diatas panggung. 

"Saya mencoba memberanikan diri untuk ajak cowok yang sedang nonton. Sebetulnya saya agak ragu, tapi karena tidak punya maksud apa-apa jadi ya langsung say apegang tangannya agar kelihatan mesra. Ini nggak lama kok, hanya lima menit,"ujar Via menegaskan. Via memang sering mengisi acara di Ancol, ia mengaku bahwa semangatnya untuk meniti karir berawal dari Ancol, yang mana Via sering ngobrol dengan seniman-seniman yang ada didaerah Pasar Seni. 

Keinginan untuk sukses sebagai seorang artis, Via banyak belajar pada seniman yang ada di Pasar Seni. Berkat keberaniannya Via pernah dicoba untuk menyanyi diArena Panggung terbuka Pasar Seni Ancol. Yah , Via bersyukur bahwa kehadirannya pada saat itu diambut dengan tepuk tangan dari penonton yang berjubel-jubel untuk melihat secara dekat dengan artis yang lincah ini. 

Walau sudah banyak dikenal masyarakat, Via tidak pernah melupakan sumber mata air yang pernah membawa dirinya untuk mencapai sukses sebagai seorang penyanyi. Disamping menyanyi ia akting mengisi sandiwara radio "Saur Sepuh" sebagai "Dewi Anjani". Tokoh ii yang membuatnya semakin terkenal, pada akhirnya mendapat tawaran untuk main drama TVRI, diantaranya, Marina, Kutub-kutub Nyanyian untuk Dini, juga melakoni drama serial TVRI berjudul Jendela Rumah Kita sebagai tokoh Anna dan inipun telah dikaloni sebagai tokoh yang tetap. Via tetap melaju dengan banyak pengalaman di bidang tarik suara maupun drama TV. 

Pada saatnya pula, Via telah merampungkan filmnya berjudul Brahmana Manggala sebagai tokoh Antini. Banyak sekali tawaran main film namun artis ini memang selektif sekali. Jika skenarionya ada adegan yang tak senonoh, ia menolak secara langsung, via bukan fanatik, tetapi bagi Via ia tidak pantas untuk membawakannya. Pada saat ini ia masih harus menyelesaikan sinetron berjudul "Siti Nurbaya".

 ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Saturday, August 8, 2026

YURIKE PRASTICA, TIDAK BERBUGIL LAGI

 


YURIKE PRASTICA, TIDAK BERBUGIL LAGI (berita lawas). Sejak Yurike Prastica melahirkan putri pertama, medio tahun 1991 lalu, praktis kegiatan keartisan ditinggalkan. Akibatnya selama setahun setengah, Yurika tak membintangi film. Lahirnya buah hati, tidak hanya melengkapkan eksistensi Yuri sebagai wanita, dampak lannya kini lebih banyak melakukan perenungan atas apa yang pernah dirambahnya di film. 

Ia menggelengkan kepala tatkala memutar ulang kembali awal debutnya di film, artis seronok, demikian pers menyebutnya. Juta mata pria memakan kembali air liurnya, menyaksikan kemolekan dan lekukan tubuh Yuri nan aduhai itu. Lihat saja tahun 1987, dua film yang dibintanginya, Pembalasan Ratu laut Selatan dan Akibat Terlalu Genit sempat ditarik dari peredaran. Sebab dianggap film yang mengeksploitasi seks.

Kini, Yuri meski masih ceplas ceplos kalau ngomong, namun dalam berdandan ia lebih feminin. "saya telah tua. Tidak saatnya lagi buat saya berbuka-buka. Buat apa sih begituan terus. Kan masih ada yang muda-muda, lebih berani dan lebih seksi, "kata bintang kelahiran Bandung 25 Juni 1968 ini. 

Justru itu debutnya kembali ke dunia akting melakoni Mei Shin dalam sinetron Mahkota Mayangkara tayangan TPI medio 1992 ini, Yuri lebih banyak mempermainkan eksresi; inner action. "Itulah beda dulu dari sekarang, kalau dulu saya lebih banyak melakoni diri sendiri, tapi sekarang yang dilakoni begitu jauh dari dri saya,"katanya sembari membuktikan dirinya dengan kondisi membandingkan lakonnya sbagai orangtua dalam Mahkota Mayangkara. Selepas suting Mahkota Mayangkara, Parkit Film kemudian menaksirnya untuk membintangi film Plintat Plintut, dalam film komedi situasi ini Yasman Yazid menuntut lebih supaya mempermainkan ekspresinya. Kemudian datang pula todongan agar bersedia menandatangani kontrak sinetron drama komedi Ada Ada Saja. Buat tayangan RCTI sebanyak 40 episode. "Ini bukan keterpaksaan karena film sepi tapi juga untuk melatih diri, ujarnya bernada klise. 

"Toh Film dan sinetron tak jauh berbeda, "kilahnya sembari menarik rokok kretek filter. 

Bukan rahasia umum kalau dunia film bagi artis tidak selamanya bisa menjadi jaminan masa depan. 

Maka beberapa bisnis berbagai bidang digeluti Yuri. Namun, Yuri tetap saja terdampar ke bisnis sinetron. Apalagi bisnis yang satu ini lagi ngetrand dikalangan artis. Tiga bulan setelah usai bersalin, Yuri langsung bergelut dengan bisnis sinetron. Lalu iapun menggabungkan diri dengan PT. Impro Perkasa, memegang jabatan eksekutif produser. 

Kepenatan, perhitungan, strategi dan tenggangrasa selalu dihadapinya sebagai sosok eksekutif produser. 

"Selama ini saya tahu beres, yang penting bisa berlakon baik, tapi menjadi eksekutif Produser banak banget memusingkan kepala, "katanya. Apa yang dilakukannya di bisnis sinetron belum terlalu banyak, namun sempat menelorkan dua sinetron tayangan RCTI yaitu Duri-Duri Cinta dan Selubung Tirai Putih. 

Ketika belum berkutat di bisnis sinetron badannya cukup sintal, sekarang lebih kurus. "Kalau ngurus sinetron saya bisa nggak tidur. Sebab saya harus perduli dengan  segala sesuatu yang terjadi di lokasi Syuting. Ternyata mengatur puluhan orang banyak menguras tenaga. Tingkah orang film pun bermacam-macam. Ini lah pelajaran yang tidak  saya dapati di ddunia seni peran,"katanya dengan semangat. 

"Beberapa rencana produksi sinetron yang saya tangani terpaksa ditunda sampai tahun 1992, persoalannya, pikiran saya tercurah kepada rekan saya di Mahkota Mayangkara dan Gara-gara. Supaya idak ngaco keduanya, salah satu harus dikalahkan. 

Di sela sibuknya Yuri menggeluti sinetron ada juga tawaran berlakon seksi di film yang menghampirinya. "Usia saya sudah 25 tahun, saya sudah merasa tua, sudah punya anak. Maka ada tawaran buka-bukaan sudahlah pasti saya tolak. Saya sudah merasa malu kalau masih mau menerima peran-peran seperti itu, "katanya bersungguh-sungguh dengan tenang. "Yuri dulu bukan Yuri Sekarang,"ujarnya. ~~MF No 167/134/TH IX, 28 Nov - 11 Des 1992. 


Friday, August 7, 2026

PACAR KETINGGALAN KERETA, BENTUK LAIN KOMPROMI TEGUH KARYA

 


PACAR KETINGGALAN KERETA, BENTUK LAIN KOMPROMI TEGUH KARYA, (Film Lawas). Teguh Karya ternyata tak cuma mahir sebagai seorang tragikus. Tapi juga cukup lihai sebagai pembanyol. Dan itulah yang Ia perihatkan lewat film terbarunya "Pacar Ketinggalan Kereta". Sebagai seorang tragikus, tak dapat di sangkal Teguh adalah sutradara dengan pemahaman dramatik yang nyaris tanpa cela. Tapi sebagai pembanyol ? Sense of humor Teguh agaknya terlalu tinggi untuk bisa menyaingi Srimulat. 

Lihatlah, untuk keperluan membanyol itu Teguh harus menyusupkan Didi Petet dalam "Pacar Ketinggalan Kereta"(PKK) diantara deretan pemainnya yang berwajah serius. Babak demi babak pun tampak dirangkai Teguh dengan semangat yang cenderung menghibur ketimbang memberi renungan. Dan itu tanpa bisa ditolak, menunjukkan betapa Teguh saat ini sedang bergerak. Sedang memulai sebuah perjalanan yang menurut Teguh sendiri suatu yang baru dalam perjalanan kreatifnya. 

Tapi, adakah yang benar-benar baru pada tawaran Teguh kali ini? Bagi Teguh sendiri mungkin ya, tapi bagi kita yang menyaksikan PKK, kecuali pola penggarapannya yang cenderung musikal yang memang menjadi pola yang langka dalam sejarah perjalanan perfilman kita sejak Usma Ismail (alm) membuat "Tiga Dara", Teguh tak menawarkan hal-hal baru yang lain. Dari cerita, apa yang diangkat, Teguh toh sebuah problema klise yang menyehari. Dan Teguh tak mencobanya memberi gereget. 

Ada satu keluarga kaya dengan dua anak. Sebuah gambaran keluarga modern Indonesia. Sang ayah yang direktur di sebuah perusahaan, tanpa Teguh berusaha menjelaskan sebabnya, tampak begitu intim dengan sekretarisnya yang janda. Isteri cemburu. Dan bagi Teguh itu sudah cukup untuk membuat kehidupan keluarga itu penuh dengan omelan hingga sang anak mencoba  mencari arti hidupnya sendiri. 

Lalu ada keluarga si Janda. Ada keluarga Ipah yang pincang dan miskin. Ada Martubi yang supir dan Juminten yang babu. Ada Oom Nurdin yang tak jelas sosoknya dan ada pula pemain lain yang kuli, yang pengamen, yang pemilik warung dan yagn spesial hadir untuk membuat gerrr seperti Didi Petet. 

Dan, seperti ceritanya, film inipun mengalir lancar bak air sungai. Yang jelas PKK berakhir dengan happy ending. Semua pemain lalu dijejerkan Teguh di layar dan nyanyi bersama diselingi upaya membanyol Didi melarikan Juminten. Lantas adakah ini potret bahwa seorang Teguh sedang berada diatas puncak tragedinya? Adakah PKK satu kemajuan atau malah kemunduran kerja kreatif Teguh?

Dibanding film Teguh yang sebelumnya, sebut saja "Doea Tanda Mata" saya lebih cenderung mengatakan Teguh saat ini sedang berada pada fase kemunduran. Atau ia mungkin ingin lebih realistis dalam menyiasati pasar film kita dan melakukan kompromi untuk hal-hal yang bisa jadi, diluar kehendak kreatifnya? Entahlah. Tapi sikap kompromis Teguh itu seperti sudah terlalu jauh ingga disadarinya atau tidak, dalam PKK Teguh tampak sebagai sutradara yang kehilangan keseriusan, ketelitian kecermatan dalam detail dan penuh dengan renungan. 

Lantas apa saja yang di lakukan Teguh dengan waktu dua tahun penggarapannya? Dan itulah masalahnya memang. Sebagai karya sinematografi PKK jelas tak terlalu jelek. Teguh cukup berhasil menyajikan sebagai suatu yang menghibur. Adegan demi adegan ditata Teguh bagai menyusun buku komik. Tak berbelit-belit. Tak payah. Itu dibantu oleh editing Karsono yang juga tak ingin menyusahkan mata. Dan musik di tangan Idris Sardi, mengalir dengan selera kekinian yang, sayangnya, tanpa nuansa emosional apa-apa. Kamera yang maunya muram terus dengan dominasi warna coklat tersebut, sebenarnya sudah cukup  mewakili keinginan artistik Teguh, namun tak cukup tajam untuk bisa mengarahkan penonton untuk membawa pulang pesan dan kesan emosional yang ada dalam PKK. 

Teguh lewat PKK agaknya ingin menjadi remaja. Dengan lagu-lagu dan musiknya. Dengan sosok-sosok tokoh yang ditawarkan dan dengan ceritanya sendiri. Sayangnya, sosok-sosok anak muda dan hasrat mandiri mereka dalam PKK terkesan cuma melengkapi konflik keluarga kaya tersebut. Tak ada konflik yang benar-benar serius ditawarkan Teguh dalam filmnya ini. Tapi, apakah memang bisa PKK menjadi sebuah karya yang serius jika permasalahan ceritanya sendiri sebenarnya sangat sepele? Sangat sederhana?

Dan, jika Teguh masih cukup berhasil menyajikannya sebagai sebuah film yang membanyol, mungkin inilah bentuk lain dari kompromi Teguh. Dan kita patut gembira. Paling tidak , PKK memberitahu kita bahwa Teguh masih ada, meski berada dibawah masa lalunya. ~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

SINETRON : DAMARWULAN


SINETRON DAMAR WULAN (sinetron lawas). Sinetron laga klasik sempat jadi trend terbukti rating Misteri Gunung merapi, Prabu Siliwangi, Anglingdarma, Misteri Nini Pelet dan Dendam Nyi Pelet tetap tinggi. Berangkat dari kenyataan tersebut Budiyanto S, yang sukses menggarap Prabu Siliwangi produksi Mega Kreasi Production menghadirkan sinetron senada dengan judul Damarwulan. 

Untuk menggarap sinetron ini, Budiyanto membangun set di kampung halamannya di Desa Blanakan Ciasem, Sukamandi, Jawa Barat seluas 10 hektar. 

Agar para pemain tidak boring dan keluyuran seusai suting, Budiyanto mencoba membangun base camp dengan segala fasilitas pendukungnya. Rumah yang dijadikan tempat tinggal artis dan kru dilengkapi AC dan TV berukuran besar dengan fasilitas entertainment yang memadai. Untuk membesarkan otot pemain-pemainnya, agar nampak kekar, Budiyanto menyiapkan tempat fitness yang representatif layaknya tempat fitness papan atas di Jakarta. 

"Kami memang menginginkan pemain-pemain baru yang datang dari dunia model bisa membesarkan badan, agar besar badannya proporsional. Sesuai dengan tuntutan cerita", ujar suami Lina Budiarti ini. 

Dengan alasan ingin mengorbitkan bibit-bibit baru di pentas sinetron Indonesia, di setiap sinetron yang ditanganinya hanya menampilkan beberapa pemain top. Seperti di sinetron Damarwulan, hanya menghadirkan Sarah Azhari , memerankan tokoh Kencawawungu, Rizal Jibran sebagai Damarwulan, Syamsul Gondo sebagai Punokawan dan selebihnya pemain pendatang baru seperti Firan Lorenzi (Minak Jinggo), Wira Kusuma (Patih Logender), Rico Jund (Layang Seta), Adrian Umora (Layang Kumitir), Dian (Anjasmara), Wahyu Hidayat (Wirandaka) dan Jelita (Suhita).

Damarwulan merupakan cerita rakyat yang sudah melegenda di masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah tentang pemuda Damarwulan yang selalu membuat para wanita mabuk kepayang, tak memandang gadis atau janda bahkan seorang istripun bisa tergila-gila padanya, meski Damarwulan tidak menanggapinya. 

Seperti halnya Ratri dan Sablah yang sudah bersuami, mereka bertaruh untuk menggaet Damarwulan. Dengan berbagai cara keduanya berusaha mendapatkan sang pujaan hati. 

~MF408/374/XVII, 1-15 Februari 2002