Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA


Tuesday, June 30, 2026

PRILLY PRISCILIA


 PRILLY PRISCILIA (berita lawas). Trio Centil. Itu nama grup voal yang melibatkan Prilly Priscilia. Mungkin nama komplotan yang semunya cewek ini identik dengan watak Prilly. Sekilas, tak ada bagian tubuh tertentu yang berkesan menggoda dari mahasiswi Universitas Pancasila ini. Asal tahu saja, kalau sudah bicara dengannya, asal mampu menahan goncangan perut. Apa lantaran ia doyoan humor hingga memilih pacar pun kebingungan? "Nggak tahu, tuh. Mama juga bingung, kok yang namanya cewek kalau sudah ngakak kedengarannya kayak raksasa. Sampai ia bilang lama-lama mulut saya bisa cablak. Enak kan cablak. Buktinya Sophia Loren punya bibir cablak malah laku keras, " celoteh Prilly yang lagi-lagi memasang jurus candanya. 

Prilly jelas bukan Sophia Loren yang kadangkala bersaing dengan Elizabeth Taylor dalam hal koleksi pacar. "Rasanya tiada hari tanpa ketawa. Mungkin sayalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Saya bisa kurang ajar juga, lho. Kalau teman marahan, lantaran tersinggung. Saya melawannya dengan humor. Jadi, jangan harap marahannya bertahan lama, " ucap pesinden lagu-lagu ceria yang pernah main di film Lintar, Ketika Musim Duren Tiba racikan Abdi Wiyono. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Sunday, June 28, 2026

LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat

 


LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat (kisah lawas).  Betapa riangnya Lela Monica dapat kesempatan berlakon dalam film Bangkit Dari Kubur (1988). Sudah lama keinginan main film dipendamnya dan sekarang kesempatan itu datang. 

Dirumah sebelum berangkat ke lokasi suting, ia harus "bertempur" dengan orangtua. "Mulanya saya tak direstui main film, padahal hari itu sudah harus berangkat ke lokasi suting. Saya harus mati-matian meyakinkan orangtua, " katanya. Tekad Lela yang kuat sampai orangtua tak kuasa menahan keinginan anaknya. 

Tiba di lokasi suting, di kawasan Dago Bandung, Lela masih yakin akan kemampuan dirinya berlagak di depan kamera. Begitu suting akan dimulai, baru merasakan betapa jantungnya berdebar kencang, rasa takut menghantui. Dari dahinya yang putih mulus mengucur deras keringat. 

"Kok saya jadi demam kamera? Lalu, saya coba menarik nafas dalam-dalam untuk konsentrasi. Terasa kini seluruh tubuhnya basah kuyup, padahal Dago tempat yang sejuk," ujarnya mengenang. Saat kamera mulai berputar tetap saja Lela buat kesalahan. Sutradara "ngebomnya" dengan omelan-omelan pedas. 

"Saat itu saya ingin lari dari lokasi. Habis Lela belum pernah dihina seperti itu sih".

"Sejak mendapat pengalaman itu, saya tak berani lagi sok yakin. Hikmah kenangan itu sekarang adalah, setiap mendapat tawaran main film atau nyanyi, selalu minta restu orang tua, " katanya. 

Memang, sejak melakoni film perdananya itu Lela semakin gencar mendapat tawaran difilm, sinetron maupun rekaman lagu. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992

Saturday, June 27, 2026

FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN


FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN (berita lawas). Bagaimana menyuguhkan sebuah film komedi yang utuh cerita dan leluconnya, bukan cuma penggalan dagelan sudah menjadi obsesi insan film sejak lama. Hal ini coba diwujudkan lewat film gess PT. Parkit Film yang trio produsernya Raam-Dhamoo-Gobind Punjabi kian lihai meracik ide-ide lucu. Apalagi ditangani Chaerul Umam yang punya Sense of Humor Tinggi. 

Dengan barisan pemain langganan Parkit, Ray Sahetapi, Lydia Kandou, Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Zaenal Abidin, Baby Zelvia, Ida kusumah, Kadir, Doyok plus Pak Tile, maka bom tawa dipasang pada setiap adegan sampai meledak dalam huru hara klimaksnya. 

Cerita berporos pada pengantin baru Rio-Anita yang tinggal di Gedung mewah mertua. Sejak mengantar keberangkatan ayahnya ke bandara, sudah terjadi kesalahpahaman gara-gara Rio dikecup cewek yang salah kira. 

Kecemburuan Anita berkembang saat  Rio tak pulang dari rapat di Puncak. Padahal ia diajak atasannya menghadiri ultah rekanan. Untuk melunakkan isteri ngambek, Rio cari akal bulus. Advis Kadir untuk mengajak teman fiktif bernama unik, Hamid Hamad bin Himad Hamid, disambar bulat-bulat. Sobat lama Oskar Hutajunjung, yang diminta menyamar langsung akur. 

Padahal orang bernama Hamid Hamad bin Himad Hamid itu benar ada. bahkan Anita datang kerumahnya untuk mengundang makan. Maka semuanya tumplek bleg datang, termasuk Om Bowo, Tante Emma, Nyonya Hamid, bahkan Nyonya Oskar, semua rahasia terbongkar!. Ditengah kekacauan tinggal Kadir yang bernafsu melahap hidangan lezat. Tak terduga selop Tante Emma melayang ke mulutnya. 

Kalau dalam film-film terdahulu biasanya Anita diperankan Ida Iasha, sekarang digantikan Lydia Kandou yang ternyata bermain lebih matang sebagai isteri pencemburu. Begitu pula Nurul kebagian peran jadi istri muda Doyok yang galak dengan suara melengking-lengking. 

Deddy sebagai anak lelaki Batak yang sok tinggal di hotel mewah, padahal masih menganggur dan cuma mengandalkan isteri yang bekerja, tinggal juga di losmen murahan, bagai mengulang peran Eddy Pasaribu dalam "Kanan Kiri Oke". Begitu pula halnya dengan Ray, Zaenal dan Idakusumah, tetap dengan stereo-type peran mereka biasanya.

Adalah Kadir, yang diberi porsi lebih. Kendati begitu, tokoh batur (pelayan) sok pintar yang sering diminta advisna oleh majikan jelas di comot dari pakem "Srimulat". Bedanya, pengarahan Mamang membuat segala gimmick dan jogetan Kadir lebih kocak. Dan sekali urat syaraf geli penonton sudah tergelitik, sekedar bunyi-bunyian bel atau  telepon yang unik saja bisa jadi letusan gerrr!. Iseng-iseng cobalah hitung berapa kali pesan "Jangan Bilang Siapa Siapa!" diucapkan sepanjang film.   ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

NENO WARISMAN


 NENO WARISMAN (berita lawas). Selepas berlakon di film Cipluk Semua Sayang Kamu (1989) karya sutradara Ida Farida, Neno Warisman tak pernah muncul lagi di kancah produksi film. Seakan tenggelam "dilautan" arus artis muda. Untung saja ia dapat bermain bagus dalam sinetron Sayekti dan Hanafi, garapan almarhum Irwinsyah, yang kembali mengorbitkan namanya dalam seni peran. 

Isyu terakhir yang tersiar mengatakan, bahwa perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman ini, akan menanggalkan baju kerartisannya untuk mendalami Islam. Ternyata itsyu itu hanya berita burung. Sampai saat ini Neno Warisan merasa tetap eksis menggeluti seni. Lalu, bagaimana dengan isyu tidak akan melepaskan jilbab?

"Itu baru berita benar", katanya tanpa komentar panjang lagi. 

Bukankah jilbab akan membatasi kegiatan dalam berkesenian? "Saya kira tidak, tergantung materi yang disodorkan," kilahnya. Tekadnya untuk tidak membuka jilbab sudah "membatu". Meski dibayar mahal, ini tantangan lain yang harus diwaspadainya. 

Disaat artis lagi mau-maunya buka-bukaan, mengapa kamu menutup diri, jeng?

"Itu prinsip hidup," katanya singkat. karena alasan itu pula Neno Warisman bersedia menjadi pelayan masyarakat yang berangkat menunaikan Haji. Kalau tahun lalu ia ke Mekkah menjadi tamu Allah tok, "tapi sekali ini saya harus bisa melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Ini tugas yang berat juga."

Untuk membuktikan keberadaanya bergelut akrab dalam napas Islam, Neno mencoba tetap eksis dalam jalur musik dakwah. Kenyataan itu erat kaitannya dengan meledaknya album "Mutiara Hikmah, produksi Rintop Record yang dirilis awal tahun 1992 ini. Sepulang dari Mekah Neno akan membuat gebrakan baru lagi, yaitu satu ini adalah kesinambungan album sebelumnya, Senandung Mutiara, demikian nama album itu. 

"Dengan adanya "Senandung Mutiara" ini adalah salah satu kiat berdakwah lewat jalur musik, " katanya singkat. Alasan itu sudah menggambarkan maksudnya. lalu bagaimana dengan seni peran? "Saya masih pikir-pikir, " lanjutnya. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


LUCY DAHLIA, MENANGIS DIJULUKI PEREK


 LUCY DAHLIA, MENANGIS DIJULUKI PEREK (berita lawas).  Lucy Dahlia namanya, Lela Monica Kakaknya. Pemain film plus sinetron keduanya dirangkul. Dan Lucy putri bungsu dari Lies dan Suhendar ayah ibunya. Dara berbintang Taurus ini, kian naik daun setelah melakonkan Nyi Iteung dalam serial sinetron Si Kabayan dan Orang Beken produksi TPI. 

Lucy alias Uci yang memulai debut di film Ricky Nakalnya Anak Muda, pernah menyesali diri terjun ke dunia glamour ini. Gara-gara memainkan "Rini" perek dalam Bunga-Bunga Kusam di pekan sinetron TVRI sehingga dimanapun Lucy berada, sering mendapat kecaman dan lirikan sinis, plus telepon gelap yang isinya mengajak berbuat tidak senonoh. "Dikiranya saya diluar film punya watak dan kelakuan sebagai perek. Seolah-olah saya cewek gampangan, " cerita Lucy Ketus. 

Sampai pernah ia menangis terguguk-guguk, ketika pada suatu kesempatan berjalan ditemani Lela Monica di Alun-alun Bandung. Beberapa remaja yang ada disitu, tak hentinya meneriaki Lucy. "Daag perek, main yuk, godain kita dong! Semalam , berapa tarifmu?" walau bergurau tapi tentu menyakitkan kalbu Lucy. 

Setengah berlari, Lucy alias Rini, alias Nyi Iteung langsung saja masuk taksi dan disana ia menangis meraung-raung. betapa ibanya hati Lela Monica. Sebagai kakak dengan bijaksana. Lela memberi pengertian, bahwa itulah risiko artis. 

Kini, jangan harap Lucy berani keluyuran sembarangan, apalagi ketempat-tempat keramaian untuk menghindari sakit hati. Ikhwal sakit hati ada kaitan dengan 4 kali putus cinta. "Setiap ketemu pacar, bentrok melulu. Kemanapun pergi dicurigai. Ngobrol dengan pemain pria yang keren atau penggemar dicemburui, jengkel juga kan?" sergah Lucy. 

Kuliah di STBA Bandung, Jurusan Bahasa Inggris, terpaksa Lucy cutikan saat semester tiga. Karena repot mengatur waktu, dengan kesibukan sebagai pemain film dan sinetron. 

"Nggak apa-apa. Nanti suatu saat kuliah akan saya tekuni lagi.~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


KANG IBING


PENGALAMAN KANG IBING (berita lawas). Silakan terka, seorang laki-laki dnegan raut muka blo'on dan wajah tanpa dosa yang populer sebagai pemain film, pelawak, MC dan mubaligh. Tiada lain dialah Kang Ibing, yang film terakhirnya Babi Ngepet/Nyegik/Warisan Terlarang berpasangan dengan Yati Octavia. 

Sebagai pelawak, tentunya banyak pengalaman unik, lucu atau mengenaskan pernah di alaminya. Ketika di temui di sela-sela suting sinetron SI Kabayan dan Orang Beken, di studio TPI Jakarta, Kang Ibing yang punya nama Ibing Kusmayatna bernostalgia. 

Suatu saat dia diminta tampil melawak secara solo oleh sebuah Panitia dari instansi Angkatan Udara. Ketika pengundang datang kerumahnya, kebetulan, Kang Ibing yang waktu itu masih menjadi penyiar Radio Mara, Bandung sedang berhalo-halo di studio. Permintaan mengisi acara diterima oleh istrinya tanpa bisa memutuskan ya atau tidak, tapi berjanji jawaban segera disampaikan lewat telepon, apalagi rencana acara tinggal 3 hari lagi. 

Sore sesampai dirumah, tanpa tanya lebih jauh lagi, Kang Ibing mengangkat telepon dan langsung setuju mengisi acara tersebut. 

Acara berlangsung dan Kang Ibing sudah tahu yang akan hadir dari lingkungan Angkatan Udara. Kang Ibing seperti lazimnya melucu selalu menyelipkan bahasa Sunda, apalagi acara ini diselenggarakan di Bandung, maka banyolan-banyolannya lebih banyak menggunakan bahasa daerah. 

Anehnya, sudah hampir 1 jam, Kang Ibing melontarkan berbagai kocokan tentang kedirgantaraan, tapi tak satupun penonton tersenyum, apalagi sampai tertawa terbahak-bahak. Sedang menurutnya dimanapun melawak, penonton 99,9% pasti gerr....

Sudah memeras otak, menguras seluruh simpanan lawakannya, belum juga menimbulkan ledakan tawa, sampai-sampai keluar keringat dingin. Mimik penonton dilihatnya kaku dan mulut seolah-olah terkunci. Akhirnya kang Ibing menyudahi penampilannya dengan kecewa berat. "Seumur hidup, baru saya alami kejadian seperti ini, sumpah."

Selanjutnya, paa saat pamit sambil ..(biasa ambil honor), Ketua Penyelenggara seraya mengucapkan terima kasih juga menjelaskan, bahwa penonton yang hadir malam itu adalah para lulusan Taruna AU yang usai dilantik dan seluruhnya berasal dari Jawa Timur. 

"Pantas saja mereka tak tergelitik dengan lawakan saya yang dikuras habis-habisan. Rupanya akibat banyolan yagn saya sodorkan pakai bahasa urang (sunda), gerutu Kang Ibing sambil berlalu dari gedung pertunjukkan. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


Thursday, June 25, 2026

BELLA ESPERANCE, FIGUR CEWEK "AUSTRALIA"


BELLA ESPERANCE (berita lawas). Empat judul film sudah disabetnya, tapi belum mampu menggedor pecandu film nasional. Terakhir Edwar Pesta Sirait memasangnya di film Getar-Getar Melodi mendampingi Onky Alexander. Sayang, film ini tertunda lama dalam peredaran. Sedikitnya ini merupakan pukulan berat bagi Bella Esperance. bagaimana tidak, film ini pula yang mengangkatnya sebagai pemegang rol utama. 

Film-film Bella sebelumnya Catatan Si Boy III dan Perasaan Perempuan, ia mejeng selaku pemeran pembantu saja, tapi bukan lantaran itu, kemudian Bella cari kompensasi main di sinetron HALIMUN produksi RCTI . "Susah ya, kalau udah ngebet di film. Terkadang saya menyesal kenapa dulu mau diajak Cabo III, " Ujar Bella, entah apa maksud dari omongannya ini.

Berlakon sebagai Poppy pada Halimun, terasa pas. Poppy adalah lambang wanita materialistis. Sampai memilih tunangan saja, harus orang kaya, "Saya bilang pas, Poppy dalam kesehariannya senang pesta, Itu saja!.  Sedangkan mengukur segalanya dari uang, wah najis bagi saya. Bagaimana mungkin kebahagiaan hidup bisa tercipta? Uang itu sebetulnya membahayakan manakala kita mengabdi padanya, " papar Bella saat dihubungi di suting Halimun di Sukamindi, jabar. 

Dengan istilah lain, peran Poppy menurut Bella adalah cewek asusila. Waktu di Cabo III, ia juga sebagai wanita lesbi. Justru yagn punya ciri lain ya dalam film Getar-Getar Melodi itu. Konon oleh PT. Mega Artha Film yang mengeluarkan film tersebut, Bella di bayar cukup mahal, setelah proses tawar menawar harga sampai satu bulan. Kenapa sih kamu minta dibayar mahal dari film sebelumnya?

"Lumrah, tapi saya juga tidak menuntut. Tanpa gebrakan begitu, selamanya pemain pendatang baru dianggap murahan. Saya  kan mencoba membela yang lain, " cetusnya. 

Dalam menentukan honor, Bella boleh selangit, tapi kesehariannya Bella sederhana, bahkan ada kesan sangat ekonomis dalam pengeluaran uang. Buktinya makan yang dilahap setiap pagi cukup merebus mie. 

"Sekarang lagi paceklik, main sinetron, berapa sih honornya? Ketimbang gue ngecerin diri kan lebih adil ngirit. Tul nggak?ha..ha...ha, Bella mengumbartawa, tawa persembahan Poppy yang khas sebagaimana terlihat di sinetron Halimun. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991