Monday, May 25, 2026

LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU


 LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU(berita lawas). Kenapa Liliek Sudjio mau menangani film musik? Bukankah dia seorang pembuat film-film horor dan laga? "Mas Lili zaman film hitam putih sudah banyakbikin film. Saya cukup percaya, dan dia juga sudah membuktikannya. Bikin film besar mampu, bikin film sederhana mampu," ucap Shindu Dharma BA, Pemimpin produksi film Jaka Swara produksi PT. Firman Mecu Alam Film.

"Jaka Swara" sendiri kalau melihat dari para pendukungya memang tak salah lagi, film musik. Ada Rhoma irama, Camelia Malik, Heidy Diana, Diana Yusuf. Semuanya penyanyi, dibantu dan diperkuat oleh Arman Effendi, Piet Pagau, Bung Salim, Ade Irawan, dll. Tapi sebenarnya film ini adalah film laga. 

Liliek sutradara yang dikenal sebagai bapak trick, syarat dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Lahir di Makassar, 14 Mei 1930. Pendidikan Sekolah Tekhnik, kemudian belajar Teknik Montage di LVN Manila, Sekolah Sinematografi di Los Angeles A.S selama dua tahun dari 1960-1962.

Menurut pengakuannya, dulu lebih banyak menggeluti dunia panggung. terjun ke film pada tahun 1949 sebagai pemeran pembantu untuk film "Sapu Tangan" yang dibikin pada tahun 1949. Tahun 1951 beralih menjadi clepperboy dan pencatat skrip di Persari. 

Akhirnya menjadi sutradara penuh pada tahun 1957 untuk film "Anakku Sayang". Dalam FFI 1955, terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya "Tarmina" Kemudian mencapai prestasi di bidang editing sebagai penyuntik terbaik pada Pekan Apresiasi film Nasional '67 untuk film Yudha Saba Desa. 

"Jaka Swara" ini, film laga dengan biaya besar. Selain kolosal, ada trick, juga ada set dan menggunakan miniatur. Film besar, biayanya juga besar. Tapi ada yang lain, ada istimewanya. jadi ada sesuatu yang baru disini, yaitu laga. Dimana Rhoma irama sebagai penyanyi, tidak hanya menyanyi kemudian ada jalinan cinta yang membalut cerita, tapi juga full laga. 

Rhoma disini terbang melayang dalam duel dengan para jawara pribumi yang jadi kaki tangan orang-orang Portugis. Reaksi Rhoma "Memang lebih berat ketimbang film-film sebelumnya. Tapi saya harus bisa, karena ini tuntutan".

Untuk pembuatan trick di film ini Liliek tidak mengalami kesulitan. "Sudah terbiasa", katanya. Ketika sekolah di Amerika dia menemui hal yang aneh-aneh dalam pembuatan film yang menggunakan trick. Terus dikembangkan disini. 

"Kita harus membuat dengan cara kita. Kalau di Amerika mereka membuat dengan peralatan yang canggih, disini ada saja gantinya, minsalnya menggunakan peralatan bambu. Tapi semua itu sebetulnya sama. Seperti glass shot dibikin efect untuk hantu. Saya pelajari dan bisa dikembangkan untuk adegan kebakaran orang tidak kena api. Jadi adegan berbahaya  itu tidak berbahaya jadinya. Dalam film "Jaka Swara"  tak ada kesukaran, karena tim kerja, misalnya untuk effect diserahkan pada El Badrun, Juru Kamera Suryo Susanto yang bsudah biasa dengan glass shot dan bekerjasama dengan saya cukup lama."

"Jaka Swara" yang baru saja menyelesaikan proses dan menuju pintu sensor menurut keterangan Liliek Sudjio punya alasan mendasar sebagai film yang memiliki nilai tambah. Rhoma sebagai raja dangdut punya penggemar dengan balutan lagu-lagu terbaru. Tambah lagi dengan penggemar film-film laga yang lagi trend masa kini sesuai tema film tersebut. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, May 24, 2026

CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA

 


CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA (berita lawas). Menjelang pembuatan film "Jawara Jawara" diselenggarakan selamatan. Diantara bintang yang datang selain Dewi Yull dan Eeng Saptahadi, terl "ihat juga aktris kawakan Nani Wijaya. Tentu saja para wartawan mengira Nani akan ikut  main, mungkin sebagai ibu Ayu Azhari. 

"Eh, saya tidak ikut main lho," tertawa Nani. "Saya cuma mengantar Cahya. Dia yang bakal ikut main".

Remaja yang ditunjuknya, Cahya Kamila berkulit hitam manis, tersenyum tersipu-sipu. Ternyata mengikuti jejak ibunya, anak ketiga dari pasangan Misbach Yusa Biran - Nani Wijaya ini mulai ikutan main film juga. 

"Kalau main film bioskop memang ini baru untuk pertama kalinya,"sebut Cahya yang dilahirkan di Jakarta pada 8 Agustus 1972. "Namun saya sudah pernah ikutan mendukung beberapa sinetron produksi TVRI."

Disebutkan beberapa judul diantaranya, Lahirlah Sang Bintang dan Anggraini. 

"Padahal dua kakaknya sama sekali tak tertarik pada seni peran, tapi yang ketiga ini memang ikut jadi anggota Teater Permata, " tambah sang ibu. 

Bahkan dalam rangka merayakan Super Semar dalam awal Maret 1990 yang lalu, Cahya berhasil meraih juara Baca Puisi. 

Lalu siapa yang sekarang memilihnya jadi pemain "Jawara Jawara?".

"Sutradaranya sendiri, Mas Firman Triyadi yang datang kerumah dan memilih saya untuk ikutan berperan sebagai seorang gadis desa bernama Fatma".

Semula sang ayah, Misbach Yusa Biran yang udah lama tidak menyutradarai film karena kesibukannya menjadi kepala Sinematek, rada tertegun juga ketika putrinya ini minta izin untuk main film. Tapi akhirnya diberi izin juga dengan syarat tak boleh melalaikan sekolahnya. Maklum, Cahya baru duduk di kelas 2 SMA. 

"Wah sekarang ada dua bintang film dirumah kita, bukan cuma jadi monopoli ibunya saja, " demikian kira-kira seloroh Misbach. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*Pada Akhirnya Cahya Kamila cukup dikenal di dunia sinetron diikuti oleh adiknya, Sukma Ayu sebelum akhirnya Sukma meninggal dunia. 

Saturday, May 23, 2026

SUTING SI BUTA DARI GUA HANTU


SUTING  SI BUTA DARI GUA HANTU (suting film). Taman Hutan Lindung Ir. Juanda di Dago Bandung siang itu dipenuhi ole pelajar yang lagi liburan. Semua kaget ketika beberapa orang berpakaian pendekar yang tak jelas jamannya muncul melintas mondar mandir di kawasan rekreasi itu. Setelah para pendekar itu berkumpul barulah ketahuan bahwa di tempat rekreasi itu ada suting film. 

Dari sekian banyak pendekar yang berkeliaran hanya Johan Saimima yang mendapat teguran dari pelajar-pelajar tersebut. Pada saat yang sama, H. Ratno Timoer selaku sutradara belum memakai kostum kebesaran Si Buta yang lurik ular itu. Setelah tahu bahwa film action yang sedang suting itu berjudul si Buta Dari Gua Hantu, seorang pelajar nyeletuk " Kok Si Butanya sudah tuah. Namanya Si Buta tak pernah tua kan? Lalu rekannya yang lain menyawab seenaknya : Pak Ratno kan sudah agak tua. Harus sesuai dengan dirinya dong.."

Para pendekar segera berkumpul di depan gua Jepang dan mengadakan syukuran lokasi bersama kru dan figuran. Sejam kemudian suting shot pertama dimulai. Lima pendekar di giring k sebuah lembah. Ratno berpikir sebentar, kemudian membatalkan suting di tempat itu untuk mencari lokasi lain di daerah yang agak datar. Sudah 15 menit suting belum juga dimulai. Rupanya kurang pemain. Astrada pun berteriak. "Pemain yang badannya gede gede kemari"...

Dan figuran pun kedinginan. 

Hari kedua suting mengambil lokasi di kali kecil pada sebuah lembah yang ada di Taman Juanda. Kali ini digelar untuk tempat wabah kusta. Tentu saja beberapa orang figuran harus menyebur ke kali. Beberapa orang ditunjuk, namun tak seorang pun yang mengaku bisa berenang. 

Akhirnya apat juga beberapa orang, itupun kru. Adegan baru di mulai. Take satu cukup. Karena adegan berjalan mulus. Ketika figuran hendak make up kena penyakit kusta, umumnya menggigil kedinginan sehabis nyemplung ke air. Bibir mereka pada biru-biru. "Sudah airnya dingin setengah mati, udara dingin pula, " ujar mereka yang bertelanjang dada. 

Produksi PT. Sepakat Bahagia Film ini di dukung pemain H. Ratno Timoer, Pietrajaya Burnama, Johan Saimima, Robert Syarif, Aspar Paturusi, S. Parya, Yani Suradjaya Timoer, Hadi Suwito, Hanny Adista, Verra dan artis-artis anggota Parfi Bandung. 

Si Buta Dari Gua Hantu dalam Episode Lembah Maut ini diangkat dari komik serial Badai Teluk Bone. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Friday, May 22, 2026

WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK


 WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK (suting film), Bayangkan bagaimana kalau adik perempuan kesayangan kita sampai di perkosa lalu dirusakkan wajahnya dengan disiram air keras, oleh lelaki jahat? Nah kalau yang punya adik adalh Willy Dozan, jelas ia pasti akan menguber lelaki durjana itu, tak peduli siapapun dia!. 

Itulah inti cerita film "Angkara Membara" produksi ketiga PT. Surya Arti Wibawa Film yang digarap sutradara Yopi Burnama. 

"Willy sudah tidak asing lagi bagi penggemar film action. Dia bukan saja terkenal di dalam negeri tapi juga sudah beberapa kali main film Hong Kong, " puji produser Surya. Paling akhir kita lihat Willy bertarung melawan Samuel Hui dalam film Hong Kong "The Terracotta Hit", sedangkan film Inodnesianya "Rio Sang Juara", sebagai juara tinju yang berangkat dari anak jalanan. 

Bintang Kung Fu asal Magelang ini sekarang harus berhadapan dengan Alex Bernard yang biasanya bertindak selaku fighting instructor, tapi sekarang kebagian peran sebagai pemimpin sindikat narkotika yang memperkosa adik Willy. 

Peran adik Willy dipercayakan kepada pendatang baru Gitty Srinita, sedangkan bintang remaja Kiki Fatmala bermain sebagai kekasih Willy. Ikutan mendukung juga bingang seksi Yenny Farida. 

Ada sebuah adegan dimana Willy yang bertangan kosong menyerbu ke markas sindikat Alex. Dengan mengandalkan tinju dan tendangan ia melabrak anak-anak Alex sampai bertumbangan. Seorang bajingan dicekik dan dilontarkan dari loteng terbanting ke bawah. Tentu saja di bawah sudah disediakan setumpuk dos hingga tak sampai cedera. 

"Nantinya gudang ini akan diledakkan, " rencana Yopi yang menambakan suting dilakukan di Jakarta, Bandung dan Bogor. "Tujuh Puluh persen action, sisanya baru drama".

Diharapkan keseluruhan suting sudah rampung pada bulan Juni 1990. "Prosesnya mungkin kami buat di Hongkong Laboratorium mengingat ada adegan ledak-ledakan yang membutuhkan spcial-optical dan belum mampu dikerjakan di studio laboratorium dalam negeri, ujar produsernya. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Thursday, May 21, 2026

FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK

 


FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK (berita lawas). Barangkali dua bocah inilah yang paling sering nampak dalam perfilman Indonesia di akhir 80an. Yang laki-laki bernama Ferry Octora Fahmi dan yang cewek Viona Rosalina. Kedua bintang cilik ini, naga-naganya masih mampu bertahan untuk nongol di layar lebar, setelah keduanya menunjukkan bakat ampuhny lewat film mereka. Ferry dalam Tragedi Bintaro dan Viona dalam Si Badung. 

Mereka kemudian bertemu dalam satu film komedi tragedi arahan sutradara Putu Wijaya. Dalam film Cas Cis Cus, kedua bocah ini unjuk gigi. Ferry Octora yang kini sudah duduk di bangku kelas III SMP terus saja sibuk dengan kegiatannya di teater Adinda. Sedangkan Viona Rosalina yang kini naik kelas VI SD, malah akrab dengan beberapa orang film. 

Kedua bocah ini seakan jalan berdampingan, menyelesaikan dari satu film ke film yang lain. Misalnya saja, selesai membintangi Cas Cis Cus, lalu sama-sama masuk film Jaka Swara memerankan tokoh Rhoma Irama dan Camelia Malik kecil. 

"Yah saya hanya ikutan main saja. Semua yang ngurus mama, " jelas Ferry Octora pemeran tokoh Junet dalam film Tragedi Bintaro. 

Ia sangat senang bisa main dalam film itu yang dianggapnya cukup mengesankan. Lalu bagaimana kesan kamu dalam film Cas Cis Cus? "Wah, kalau aku punya nenek kayak gitu, ngeri.. hii....."jerit Ferry Octora meringis. 

Lain Ferry Octora, lain pula Viona yang masih nampak sifat kanak-kanaknya.  Begitu ditanya namanya, sontak penuh spontanitas ia balik menanyakan. " Om, dari majalah apa sih?" Kemudian dia lebih banyak berdiam diri. 

Mampukah kedua bocah ini mengikuti irama perfilman yang semakin lama semakin 'maju'? Masih adakah tempat bagi anak-anak seperti kedua bocah ini dalam perfilman nasional kita?

Dan masih saja ada ratusan pertanyaan yang belum terungkap tentang eksistensi bintang anak-anak selagi film untuk anak-anak dan dari anak-anak belum mempu menggugah nurani penontonnya.  ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG"


 IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG" (berita lawas). Berakhirnya sinetron "Keluarga Rahmat" bukan berarti putusnya karier Thenzara Zaid sebagai artis. Perempuan parobaya bertubuh gemuk yang ngetop lewat peran yang di"Bu Subangun" terjun ke dunia film. 

Adalah producer Lucy Sukardi dan sutradara Chris Helweldery yang mengajaknya tampil dalam produksi PT. Cipta Permai Indah Film "Jangan Paksa Dong". 

Yang berperan sebagai suami Zara bukan lagi Haryo Sungkono (pemera Pak Subangun yang sabar kelewat itu), melainkan Robert Syarief yang juga terkenal peran ayah angkat Dewi Yull dalam serial sinetron "Dr. Sartika".

Kalau dalam serial yang cerita-skenarionya digarap oleh Tatiek Maliyati WS itu, Robert selalu tampil serius, sekarang justru dijajal kebolehnnya berperan komik, termasuk mengekspos kepalanya yang botak berkilat. 

"Kalau peran saya sih masih serupa dengan perwatakan Bu Subangun yang cerewet, bawel dan nyerocos terus, apalagi saking cemburu pada suami yang dikira nyeleweng dengan cewek muda, " ungkap Zara. 

Sebagaian besar suting berlokasi di kota gudeg Yogya, menyusul bagian akhirnya diambil dikawasan real estate mewah Cinere, Jakarta Selatan. Suting hari terakhir mempertemukan para pemain utama, Zara, Robert, Sylvana Herman, Basuki dan Malih Bokir. 

Terlihat adegan Zara ngomel panjang memaki maki Robert yang dituduh pacaran dengan Syl. Mungkin saking takutnya mendengar omelan Zara yang merentet persis mercon, maka Basuki dan malih lari terbirit-birit. Begitu gugupnya sampai mereka tercebur ke empang! "Byurr!".

"Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kalau saya bisa main film," berterus terang Zara yang berasal dari Padang ini. "Saya  tak pernah belajar akting, tapi Pak Fritz G Schadt minta saya untuk mencoba bermain dalam serial produksi PPFN itu, eh keterusan sampai sekarang. Belum tahun sesudah film ini nanti ada yang mengajak main lagi atau tidak."

Berapa besar honornya, Zara segan menyebutkan. Yang jelas, sesudah hampir 10 tahun ditinggalkan suami, ia merasa bersyukur karena dari imbalan sebagai pemain mampu  memberi nafkah keluarga serta membiayai kuliah dua anaknya Leticia Alfrieda dan Muhammad Alfredo. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Tuesday, May 19, 2026

SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL


SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL (berita lawas). Hari itu, 31 Desember 1970 siang, Usmar Ismail berdiri dihadapan 160 karyawan PT. Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Tidak seperti biasanya, sekali ini Pak Usmar yang dirut Ria Sari/Miraca Sky Club itu akan melepas karyawannya yang terkena PHK. Bisa dibayangkan betawa beratnya perasaan Usmar saat itu. Dengan nada terbata-bata dia mengatakan; baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya , katanya. 

Memang, Usmar Ismail yang saat itu mati-matian mempertahankan Perfini Film masih tetap mempertahankan karyawannya yang masih ada. Tak satupun karyawan Perfini yang diberhentikan. Untuk menggaji mereka, satu persatu peralatan studio Perfini di Cijantung di lego. Barulah sesudah tidak ada lagi yang bisa di lego, sisa karyawan Perfini itu mengundurkan diri (sebelumnya diantaranya yang mengundurkan diri).

Sebelum memPHK karyawan PT. Ria Sari itu Pak Usmar baru saja kembali copy  film BALI, kerjasama Perfini dengan pihak Itali. Setelah ditunggu-tunggu copy film tersebut mejadi bagian Perfini untuk mengedarkan di Indonesia, tidak  juga dikirim. Pulang dari Itali, Pak Usmar tidak bisa menyebunyikan kekecewaanya pada UGO film, partner jointnya itu. Bahkan ia merasa ditipu oleh partnernya itu. Pak Usmar mengatakan kalau kita kerjasama dengan Itali harus jelas, terperinci dan saklek. 

Belum habis rasa kecewanya dengan produser film Itali itu , setiba di Indonesia ditimpa musibah, karena PT. Ria Sari/Miraca Sky Club yang dia bangun sejak 1967 diliwidir oleh caretaker Sarinah saat itu, PT. Ria Sari di bubaran dan karyawan di PHK. Inilah yang sangat memukul perasaan saat itu. Lewat Miraca Sky Club, Pak Usmar telah mendorong night life di Jakarta. Upaya ini juga membantu Pemda DKI dalam menarik arus wisatawan, disamping kedudukan Jakarta sebagai pintu gerbang RI dan kota turis internasional. Atas jasa-jasanya itu Pak Usmar kemudian mendapat penghargaan sebagai warga teladan dari Pemda DKI-Jaya disamping alm. Syamsudin Mangan. 

Esok harinya, 1 Januari 1971 siang Pak Usmar diboyong ke rumah sakit. Belakangan diketahui beliau menderita pendarahan Otak, disusul dengan kematiannya pada Subuh jam 5.20 tanggal 2 Januari 1971. Saya tak habis pikir ketika RRI jam 7.00 pagi menyiarkan kepergian Pak Usmar untuk selama-lamanya. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju Pegangsaan, tempat tinggal almarhum. dari kejauhan saya melihat sejumlah karangan bunga dan orang-orang mulai kumpul. "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" Pak Usmar sudah tiada. 

Acara tutup tahun 31 Desember 1970 di Miraca Sky Club benar-benar terakhir kalinya Pak Usmar berkumpul dengan segenap kerabat, handai taulan dan karyawan yang dikenal sangat akrab dan bersahaja. Waktu itu seperti bisasa dia mengajak keluarga dan handai taulannya dalama cara tutup tahun tersebut. Yang agak lain dari biasanya ialah kami, orang-orang yang dekat dengan beliau tidak boleh jauh-jauh. Dia mengajak hampir semua bawahannya untuk berfoto bersama. Tak terlintas di hati kami para bawahannya termasuk Yusman Djamaris, Photograper Miraca bahwa malam itu adalah saat-saat kami akan berpisah selamanya dengan Pak Usmar.

Bagi saya Pak Usmar bukan saja sebagai pimpinan, tapi lebih dari itu dia adalah seorang guru dan bapak yang baik. Kepemimpinannya patut diteladani. Sulit saya menemukan seorang pemimpin seperti beliau. Masih terngiang-ngiang ditelinga saya ketika 31 Desember siang almarhum sempat berbicara empat mata dengan saya. "you ikut saya ya, kita bangun Perfini". katanya tak lama sesudah acara pelepasan karyawan yang terkena PHK termasuk saya. 

Memang diluar kesibukannya memimpin Miraca, Pak Usmar mulai bangkit dengan produksi-produksi filmnya. Pada masa-masa itu beliau sempat merampungkan fim Ya Mualim, Djakarta The Big Village, Bali dan terakhir Ananda. Bahkan saat dia meninggal, film Ananda baru saja merampungkan sutingnya, sehingga Pak Usmar tak sempat menyaksikan karya terakhirnya itu. Dia juga tak sempat menyaksikan kehebatan Lenny Marlina, aktir penemuannya yang terakhir itu. Tentang lenny Marlina, Pak Usmar pernah mengatakan bahwa selama 20 tahun menggeluti dunia film, baru sekali itulah dia menemukan apa yang dia cari. Ya, Lenny Marlina itulah. 

Keteladanannya dan kepemimpinannya sangat dihargai oleh segenap karyawan Miraca maupun Perfini film. Rasa kami ingin berbuat apa saja demi Pak Usmar. Tak pernah kami mengeluh, tak pernah kami mempersoalkan ini itu. Pak Usmar meninggalkan kita disaat tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh dunia perfilman nasional. ~~demikian tulisan dari MH Yusuf yang dimuat di MF No. 119/87 tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991


Monday, May 18, 2026

WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR


 WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR (berita lawas). Sudah pernah nonton film Steven Spielberg "Who Framed Roger Rabbit?" Dalam film itu muncul bersama tokoh detektif manusia (diperankan aktor Bob Hoskins) dengan tokoh kartun si Kelinci Floger Rabbit. 

Kelihaian Spielberg ini kemudian ditiru oleh Tsul Hark dari perfilman Hong Kong, yang menggarap adegan klimaks "Happy Ghost IV" dimana Raymond Wong terlibat pergumulan dengan hantu jahat, pendekar Wu Sng dan harimau yang muncul dari pigura lukisan. Dengan tekhnik serupa pada akhir "Modern Buddha Palm" direkayasa pula duet antara Andy Lau kontra Yen Hua yang melibatkan kartun seekor siluman kura-kura hijau. 

Dan di film Indonesia, "SURO MENGGOLO" berhasil ditampilkan pula adegan yang menggunakan teknik komputer animasi tersebut. Digarap di studio yang sama, Hong Kong Screen Art, untuk menggabungkan reality dengan animasi. Hasilnya terlihat Warok Suro Menggolo (Diperankan Benny G Rahardja) bergumul mati-matian dengan seekor macan tulen. Namun untuk kepentingan filmisnya pada beberapa sekuen, sang macan berubah wujud menjadi animasi kartun. 

"Pembuatan komputer animasi inilah  yang memakan waktu lama", ungkap produser Rudy W dari PT. Simbar Intan Film. Jadi sejak start suting sampai sekarang tak terasa sudah satu setengah tahun. Sedang bahan baku yang dihabiskan tak kurang dari 140 can negative film. 

Ditanya besarnya biasa, disebutkan lebih dari Rp. 900juta atau bolehlah di bulatkan menjadi 1 milyar. Dengan demikian, film ini telah melampaui biaya pembuatan film-film silat kolosal yang dirajai "Saur Sepuh".

Disebutkan oleh Pak Sukanto, Ketua Badan Sensor Film, "Dalam Suasana yang disebut-sebut orang sebagai masa kelesuan film nasional, justru Suro Menggolo hadir untuk memberikan gambaran baru dengan tekhnik mutakhir. Disamping film ini diproduksi bekerjasama dengan Pemda Jatim dalam rangka menggali kebudayaan serta cita-cita tradisional. 

Suro Menggolo yang terasa padat dengan masa putra 1 jam 35 menit, masih menjanjikan pembuatan sekuelnya di masa mendatang mengingat stock shot yang tersisa. Sumber MF No. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992