Monday, April 6, 2026

CORRY CONSTANTIA


CORRY CONSTANTIA, SALAH SATU PASANGAN FILM BARRY PRIMA. (Berita Lawas). Ada Conny Constantia biduanita berdarah Kawanua yang juga main film, ada pula Corry Constantia. Bukan saudara bukan sanak kendati nama mereka nyaris sama. Sedangkan wajahnya sepintas kilas rada mirip dengan si seksi Ranieta Manopo. 

Menilik namanya memang Corry juga berasal dari sana. "Saya boleh dibilang kombinasi Palembang-Manado. Ayah saya Naing Junaidi asli Palembang, sedangkan ibu Irna Constantin dari Manado ia sendiri dilahirkan di Palembang pada tanggal 17 April 1968, sebagai si bungsu dari empat bersaudara. 

"Sebenarnya nama lengkap saya Mis Corry Constantia, ujar pendatang baru dalam film silat erotis Selir Sriti ini. 

"Dibilang baru sekali juga kurang benar, " tukasnya. "Habis dulu saya sudah pernah juga ikutan main film. Antara lain dalam drama menyentuh Bila Saatnya Tiba arahan Eduart Pesta Sirait yang dibintangi Christine Hakim, Deddy Mizwar dan Ria Irawan, lalu film laga Preman arahan Torro Margens yang dibintangi oleh Barry Prima dan Ayu Azhari. 

"Saya main film itu waktu masih duduk di bangku kelas 3 SMEA PGRI, kira-kira pada tahun 1985," kenangnya. 

Sesudah lulus sekolah, pernah timbul hasrat untuk terus main film. Namun keburu bekerja memegang pembukuan sebuah Firma Taiwan yang buka cabang di Jakarta. Kesibukan disini ditambah pacarnya tak menghendakinya main film lagi, membuat ia menjaui dunia film. 

Ternyata kemesraan dengan sang pacar tak bermuara ke pelaminan sebagaimana diharapkan, kendati hubungan mereka terjalin sekitar lima tahun. Perpisahan yang menyakitkan membuat Corry patah hati. Maka iapun memutuskan untuk main film lagi. Kebetulan bertemu Ronny Burnama, produser pelaksana dari PT. Virgo Putra Film yang tengah menyiapkan pembuatan Selir 2 alias Selir Sriti dengan sutradara Tommy Burnama. 

"Ronny sudah mengenal saya, hingga langsung menawarkan peran sebagai ibu Selir Sriti yagn di perankan oleh Lela Anggraini, " tutur COrry. "Disini diselipkan adegan saya merayu Sang Prabu Sepuh dengan tujuan ingin membunuhnya. Wah pokoknya seru deh."

Corry memaklumi, ia harus merangkak dari bawah kembali untuk mencapai kepopuleran sebagai bintang. "Biar sekarang jadi pembantu dulu, tapi lambat laun saya ingin maju. Itu sebabnya saya bersedia bermain sebagai apa saja dalam film apapun, juga sinetron atau iklan." ~MF No. 182/149/Th IV. 26 Juni - 9 Juli 1993

Selain di film tersebut diatas , Corry Constantia juga bermain bersama dengan Barry Prima dalam film Pedang Ulung dan Jurus Dewa Kobra (Rawing 3)

SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI


SUTING SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI! Sejak Senja, Elly Ermawatie dan Murti Sari Dewi sudah bermake up dibantu oleh kru rias. Lepas magrib keduanya belum juga usai 'mempermak' wajah. Kru film telah siap untuk bekerja. Penata lampu telah pula menarik kabel dan menempatkan lampu-lampu di depan dan di belakang set rumah, yang berlokasi di Kebon Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. 

Kamerawan, Tantra Suryadi lama duduk santai sendiri disebuah kursi, merenung, memperhatikan kru yang bekerja dan artis yagn pasa make-up. Matanya sesekali memperhatikan sekeliling halaman rumah, tentulah yang dipikirkan dimana dan bagaimana ia memantek kameranya. Om Tan, demikian panggilan akrabnya seorang ssok yang tak banyak omong. 

"Mas Torro mana?,' tanya seorang kru kepada rekannya. 

"Dia lagi dubbing, barangkali ia tak muncul, " kata seorang kru menjawab sekenanya. 

"Lantas siapa yang menyutradarai?".

"Eddy Jonathan, kan hari ini pengambilan gambar cuma adegan perkelahian. Biasakan, kalau film action, dimanapun seorang instruktur kelahi semacam bung Eddy Jonathan, biasa untuk menyutradrai, " lajut seorang kru muda menjelaskan setelah mengumpulkan gelas-gelas agn berserakan, iapun berlalu. 

Meski semangat kru untuk bekerja masih prima, namun nampak di wajah mereka keletihan dan rasa jenuh. Sebab, nyaris selama dua minggu berturut-tutur suting selepas Magrib sampai azan Subuh menggema, mengusik sepinya pagi. 

Ketika semua kru sudah siap, Elly Ermawatie dan Murtisari Dewi belum juga usai di make up. Beberapa kru datang untuk membantu, supaya kedua artis tersebut cepat 'mempermak' wajahnya. 

"Mas, kostum Saur Sepuh V, jauh berbeda dengan Kostum saur sepuh sebelumnya. Kalau saur sepuh terdahulu, garis Jawanya begitu kentara. Sekarang, sedikit agak ke Bali Balian " ujar seorang kru dari departemen artistik.

Memang terasa sekali perbedaan kostum Saur Sepuh V dengan Saur Sepuh sebelumnya. Kalau dahulu, dengan kombinasi hijau dan kuning keemasan membuat kostum terkesan mewah, layaknya pembesar-pembesar Istana Tempoe Doeloe. Kostum saur sepuh V, dirancang khusus oleh seorang designer. 

Sebagai Designer, Nelwan Anwar mencoba merombak tradisi, bahwa setiap film action klasik tidak mesti seperti kostum sandiwara rakyat: Wayang Orang. Pemilihan warna yang lembut, membuat pemain saur sepuh V, bila berada di interior seperti tenggelam dengan warna latar belakang. Sebab, setiap rumah tradisional Jawa warna catnya selalu rada gelap, bahkan sering memakai warna coklat.

Atribut yang dipakai Mantili dan Lasmini maupun para pembesar Madangkara terasa aneh, begitu apik sehingga terkesan bahwa kostum jaman sekarang yang disulap menjadi kostum jaman Madangkara. Karena kostum yang rada jelimet itu, sehingga membuat artis untuk berdandan bisa menelan waktu dua sampai tiga jam. 

Menjelang Isya, barulah suting dimulai, adegan malam itu hanya mengambil adegan perkelahian. Sebagai sutradara, Torro Margens memang tak perluh hadir. Eddy Jonathan, selaku instruktur perkelahian begitu teliti memilih shot demi shot. 

"Suting ini memakan waktu tiga bulan penuh. Kita mulai dari bulan Desember 1992 dan usai bulan Februari 1993. Film ini dibikin untuk diedarkan pada saat lebaran 1993. Mau tidak mau film nini harus selesai sesuai target, " ujar Khisore, selaku produser pelaksana. 

Menengok proses dubbing saur Sepuh V di studio Perfini, pada tanggal 12 Januari, kelihatan Torro Margens lagi sibuk mengatur emosi suara dubber supaya sesuai engan emosi gambar. Karena suting dan dubbing berjalan seiring, matu tidak mau artis yang mendub suaranya sendiri, harus ekstra kerja keras. 

"Saya ketika pulagn suting pagi hari paling banyak hanya tidur satu atau dua jam, setelah itu saya harus berada di studio Perfini, untuk mendub suara sendiri, ' kata Elly Ermawati, ketika break dubbing. 

Torro Margens mengakui bahwa film garapannya ini mencoba merombak tradisi yang telah baku. Maksudnya, supaya zaman "keemasan" tema tema action klasik supaya pulih kembali seperti di tahun 1990 dan 1992. 

"Kira kira begini hitungan kasarnya. 60% dramatik, 30% action dan trik filmnya 10%. Dengan kita seperti ini, saya mencoba menjelaskannya. Tentu dengan kembalinya kepercayaan penonton terhadap film nasional, sudahlah pasti, perfilman nasional akan bangkit kembali, begitulah harapan saya ketika awal menggarap film ini, " ujarnya.

Film produksi PT. Elang Perkasa Film ini dihiasi oleh taburan bintang seperti Fendy Pradana, Elly Ermawatie, Murti Sari Dewi, Candy Satrio, Hans Wanaghi, Fitria Anwar, Baron Hermanto, Agus Kuncoro, dan Golden Kasmara. Dengan kru Torro Margens sebagai sutradara, Dellsy Sjamsumar penata artistik dan Kamerawan Tantra Suryadi. 

Anggaran produksi film Saur Sepuh V bisa menelan 500 juta. Dengan hadirnya bintang-bintang spesialis film laga yang cukup beken, diperkirakan akan menghasilkan rupiah yang lumayan. 

Waktu produksi Saur Sepuh IV masih di sutradarai Imam Tantowi dan masih di pegang PT. Kanta Indah Film, sang sutradara pernah meminta supaya Elly ermawatie, Murtisari Dewi dan Fendy Pradana ikut nimbrung, tapi pihak produser menolaknya. Anehnya ketika Saur Sepuh V dipegang Torro Margens, ketiga artis tersebut sang produser memintanya.~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993

Nah ini nih, di alinea terakhir. andai saur sepuh IV mereka tetap dilibatkan bisa jadi ceritanya jadi lain kan, kan jeblok




Sunday, April 5, 2026

ANWAR FUADY

 


ANWAR FUADY, (Berita Lawas). "Kalau aku tidak meninggalkan Palembang tahun 60an, barangkali aku akan jadi bajingan tengik," kalimat ini meluncur spontan dari mulut Anwar Fuady. Masa remajanya penuh dengan liku-liku kenakalan. Saban Minggu, minimal sekali ia baku hantam. Tak jarang pula mukanya pulang ke rumah memar dan bengkak-bengkak. 

"Aku punya bakat jadi ba jingan, itu kata kawan-kawan sepermainan. Setelah aku merenung, lalu aku putuskan preman bukan bidangku, dan akupun hengkang ke Jakarta, " ujarnya. Dengan modal apa adanya, lelaki kelahiran Palembang, 14 Maret 1947 ini cari nasib ke ibukota. Perjalanannya tak mulus, ia sempat terlunta-lunta. Katanya, ia tanpa sanak saudara di Tanah betawi. Modalnya hanya semangat dan keyakinan. 

Langkahnya yang terseok-seok itu, membuatnya berani bertarung apa saja. yang penting perut selamat. Kenyataan itu membuatnya menggelandang di Terminal Tanah Abang. "Karena itu aku pernah berumah di terminal, bergaul dengan para bromocorah, " kenangnya.

Rupanya begitu sampai di Jakarta, niatnya hanya satu, ingin jadi bintang film. Ingin jadi terkenal. Namun keinginannya tak cepat terkabul. Meski punya niat, namun nyali masih juga ciut berhadapan dengan bintang film, apalagi produser. 

"Apa saja aku kerjakan untuk cari hidup, " katanya. Berangkat dari kelas paling bawah tidak membuat Anwar Fuady minder. Malahan semangatnya semakin membara. "Aku mengikuti beberapa kursus-kursus dan kegiatan apa saja. Langkah untuk masuk kesini peran belum juga terkuak. Tapi keinginan itu terus membara,".

Sejak SD ia telah gemar menonton, kebetulan rumahnya sangat dekat dengan bioskop. Sehingga hampir semua film Barat tak luput dilahapnya. "Waktu itu anak-anak dibawah umur 17 tahun dilarang menonton, karena tidak cukup umur. Aku tidak habis akal. Penjaga bioskop aku ajak main mata. Supaya aku bisa lolos masuk setiap nonton penjaga karcis kuberikan tip. Kalau sudah pulang dari nonotn, maka lagakkupun tak ubahnya seperti bintang film yang baru aku saksikan, " katanya dengan tertawa. Gila nonton membuatnya bercita-cita jadi bintang film. 

Sampai tahun 70, film belum memberikan nafas, iapun menyelonong ke tv. Dari layar kaca debutnya dimulai. Tahun 1978 beneranya seni peran mulai berkibar. Sampai sekarang ia telah membintangi puluhan sinetron. Melihat kemampuannya di seni peran, sutradara Bahcrum Halilintar memasangnya untuk film "Mendung tak selamanya kelabu (1982), menyusul kemudian film-film Sunan Kalijaga (1983), Syech Siti Jenar (1983), Merangkul Langit (1985), Arini (1986), Ayu dan Ayu (1987), Suami (1988) , Lupus V (1991) dan Kuberikan Segalanya (1992).

"Film hanya bisa top atau populer, namun tak menjanjikan apa-apa untuk masa depan. Maka, bagi aku seni peran hanya sampingan, semacam hobby. Prioritas utama adalah bekerja," katanya. Cukup banyak tawaran main film yang ditolaknya. Adanya yang memberikan honor yang menggiurkan, namun harus beradegan ranjang. "Meski aku begini, untuk menerima peran harus pilih-pilih. Berapa jutapun dibayar kalau beradegan ranjang aku pasti tolak. Aku punya anak bini, dan kita ini orang timur, hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi masalah besar. 

Mantan koordinator artis Parfi periode 83/86 dan periode 86/89 ini sempat menjadi Corporate Secretary di PT. Mas Ayu dan Kiagoes. Ia juga menjadi staff direksi sebuah perusahaan kontraktor Elektoroni. Karena kesibukannya di kantor membuat Sanggar Gending Sriwijaya, pimpinannya ikut terlunta-lunta. Padahal sanggar pimpinannya nyaris sebulan dua kali tampil di TVRI, baik membawakan fragmen maupun drama televisi. ~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993


Saturday, April 4, 2026

AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM

 


AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM, (Berita Lawas). Warung Tegal (Warteg) sangat berarti bagi Agus Kuncoro. Tidak hanya tempat makan murah meriah (dulu ya hehe kalau skg kayaknya mahal juga), juga tempat beranjak ke profesi baru. Yang tidak pernah diimpikan , yakni menjadi artis film. Ketika itu, lelaki kelahiran 11 Agustus 1972 ini bersama teman sekampusnya, Fak Seni Rupa IKJ makan dan obrol seni di warteg TIM (Taman Ismail Marzuki). Tanpa diketahui, Bambang Subeno soerang unit film Saur Sepuh 4 episode TItisan Darah Biru mengamati gerak geriknya. Merasa Cocok, Bambang Subeno menghampirinya. Lalu menawarkan main film, Agus hanya tertawa mendengarnya. 

"Tak menduga sama sekali,saya pikir cuma bcanda, dan tak menanggapinya, " kata pemuda blasteran Jawa-Madura ini. Segera Bambang Subeno melapor kepada Imam Tantowi dan segera meng ok kan. 

"Setelah teken kontrak baru yakin bahwa akan main film," ujarnya bangga. Sebelumnya pemilik tinggi 170 cm dan berat 52 ini hanya berkutat di bidang seni rupa. Tujuannya masuk IKJ, menjadi desainer interior. Justeru itu, Agus tidak mengenal akting. "Mau tidak mau harus belajar akting, " Perannya di film Saur Sepuh cukup berarti, melakoni Wana pati, generasi ketiga(kedua bukannya ya..)dinasti "Madangkara". Karena itu, Agus tidak cuma mengandalkan adegan laga, tapi juga kemampuan penghayatan peran. Sungguh berat memang bila buta akting disodorkan peran agak rumit. "Tapi belajar kilat dengan kru film. Mas Imam Tantowi banyak memberikan pengarahan kepada saya. Ini sangat berarti sekali sebagai artis baru," kilahnya merendah. 

Agus akan melejit menjadi jagoan Saur Sepuh, namun belum menemukan harapannya di film. Baginya, ladang film masih sebuah mimpi. Harapan belum bisa digantungkan sepenuhnya. Ini membuat lebih mencinai sebi rupa dan menggantungkan harapan. "Saya masih muda. Belum dapat memilih terbaik. Tapi, bagaimanapun akan tetap eksis di study saya, fak seni rupa IKJ, kata anak ke 4 dari 5 bersaudara ini yakin. 

Setelah berkenalan dengan akting jalan pikiran Agus seketika berubah, yakni ingin seni rupa dan seni peran berjalan berdampingan. "Seni rupa untuk masa depan, seni peran untuk cari uang".

Namun pemuda berbintang Leo ini juga berharap banyak akan meraih sukses di seni peran. Selain saingan menumpuk, sadar bahwa kemampuan akting masih terbatas. "Kalau dipikir-pikir, antara seni rupa dan seni peran tidak jauh beda Sama-sama penghayatan. Hanya visualnya yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa seni peran itu gampang. "

Untuk mencapai akting maksimal, disela-sela suting, Agus selalu 'bertapa' dengan skenario. Membolak baliknya, dan menterjemahkannya sendiri tentang karakter yang dilakoni. Jiwanya juga berharap, lewat Saur Sepuh dia bisa menggebrak perfilman. Dan menjadikannya sebagai artis muda berbakat, selain artis-artis muda yang telah kadung ngetop, meski kehadiran didunia peran lewat keberuntungan nangkring di warteg. ~MF 127/94 Tahun VII, 11-24 Mei 1991

Friday, April 3, 2026

HERBY LATUPERISA


 HERBY LATUPERISSA, DIHAJAR ARI WIBOWO! (Berita Lawas). Ingin tahu siapa yang menjadikan Ari Wibowo, tokoh jagoan Jacky, bisa ilmu bela diri Tae Kwon Do? Inilah orangnya, Herby Latuperissa, pelanggan adegan-adegan berbahaya dalam film dan sinetron laga. Ketika jadi pelatih Tae Kwon Do di Universitas Trisakti, Ari Wibowo adalah salah seorang muridnya. Kini, antara murid dengan guru saling bermusuha, tentunya sebatas dalam cerita sinetron Deru Debu dan Jacky. 

Herby, penyandang DAN III Internasional Tae Kwon Do, memang jauh dari publikasi. Padahal perannya sangat besar dalam film dan sinetron laga. Bahkan, Film Macho I, hampir semua adegan perkelahian Barry Prima, dia yang melakukan. "Barry hanya melakukan dialognya saja, " kata Herby. 

Mantan juara Nasional kelas welter Tae Kwon Do tahun 1978 hingga 1991 ini, adalah salah seorang atlet nasional, seperti Lamting dan Joseph Hungan. "Lamting dari Jawa Barat, Joseph dari Jawa Tengah dan saya dariJakarta, " ujar Herby. Sekarang , disamping terus main, pelanggan tokoh antagonis, Herby jadi pelatih di berbagai tempat seperti di Universitas Tarumanegara, Trisakti dan instansi perkantoran. "karena terlalu banyak, bsiasanya saya percayakan pada asisten, ' katanya. 

Seperti juga Tanaka, Herby selalu harus puas dengan peran-peran tambahan, tapi adegannya beresiko tinggi. Puluhan film sudah diikutinya, puluhan kali pul akakinya retak, minimal keseleo. "Pengobatan terapi sudah langganan saya, " kata Herby. 

Herby sedikitpun tidak merasa risih, tatkala harus bertekuk lutut dihajar Ari Wibowo muridnya sendiri. Bahkan dia rela mengorbankan diri, terjatuh dalam posisi sulit tatkala Ari Wibowo melakukan kesalahan. Dalam sebuah scene, Herby harus melakukan tendangan putar di udara sebanyak 3 kali. Untuk menghindari pukulan telak ke wajah Ari, diingatkan agar Ari sedikit menghindar. 

"Tapi ketika itu saya lakukan entah kenapa Ari hanya berdiam diri saja. Saya cepat ambil inisiatif, tidak jadi menendang. Sebab bila saya tendang dengan kekuatan penuh, saya nggak bisa bayangkan, bagaimana resiko yang bakal dialaminya. Ketimbang berakibat fatal buat Ari mendingan saya keseleo, karena jatuh dalam suasana kurang kontrol. Akibatnya persendian kaki saya bergeser," tutur Herby yang juga main dalam sinetron Singgasana Brama Kumbara dan Kaca Benggala. ~257/223/XII/20Apr - 3 Mei 1996

Thursday, April 2, 2026

S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON


 S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. 

Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah. 

"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu. 

Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar. 

Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia. 

Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang. 

Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu. 

Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja  bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama  kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film. 

Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.

Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.



Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun. 

Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang. 

Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku. 

Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988

Wednesday, April 1, 2026

RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI

 


RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI, (Kabar lawas). Bukan frustasi kalau Ricca Rahim mengaku tak lagi merasa suka main film. Bukan tak ada tawaran, tapi karena ia memang lagi tidak suka saja. Ricca Rahim kelahiran Bandung, 17 April 1956. 

"Film bagi saya bukan segala-galanya kok," kilah istri raja dangdut Rhoma Irama ini. Dan karena bukan segala-galanya inilah mengapa Ricca tenang-tenang saja meskipun tak lagi muncul di layar putih. "Saya bahagia dengan keadaan saya sekarang kok. Sekarang ini saya merasa lebih nikmat ngurus suami, rumah tangga dan anak-anak, " kata artis yang terjun ke film tahun 1977 lewat film "Jakarta Jakarta" garapan Ami Priyono, sekaligus sebagai film terbaik FFI 1978.

Main film terakhir dalam "Sunan Gunung Jati" garapan Bay Isbahi sebagai Nyi Mas Gandasari, sampai kini Ricca memagn sudah terbilang lama tidak muncul di film. "Bukan saya tidak mau. Tawaran ada kok, pak haji juga tidak melarang saya main film terus. Tapi sekarang ini saya belum siap. Saya lagi mood ngurusin rumah tangga, " ujarnya. 

Begitupun, Ricca punya alasan lain mengapa ia lebih suka ngurus rumah tangga ketimbang main film, "Saya enggak mau sembarangan lagi menerima peran. Saya tidak mau main film asal main saja. Kalau saya main film lagi, perannya harus benar-benar menantang. Harus serius dan tidak gampangan. Soalnya kalau saya main lagi, saya punya target khusus, katanya lagi..

Tak takut kehilanggan penggemar? Tak takut menjadi tidak terkenal? "Tidak. Saya tidak takut, saya sudah siap kok untuk tidak terkenal, untuk kehilangan penggemar, " jawabnya. "Kalau saya sudah merasa bahagia dengan keadaan saya sekarang ini, keadaan saya yang begitni, kenapa saya mesti takut. Tujuan hidup saya hanyalah untuk membahagiaan diri saya," katanya lagi. 

Biar begitu toh Ricca tak bisa sepenuhnya melepasan dari dunia yang pernah membawanya dikenal banyak orang tersebut. Sebagai isteri, ia toh masih setia mendampingi sang suami, Rhoma Irama kemanapun bila suting film. "Saya memang enggak bisa melupakan film, tapi untuk main film lagi, saya memang harus berpikir panjang. Betapapun saya ingin melakukan sesuatu dengan konsentrasi yang penuh. Kalau saya main film lagi sekarang ini, siapa yang bisa menjamin rumah tangga saya enggak terabaikan?" kilahnya. 

Alasan tak ingin membagi konsentrasi itu, menurutnya merupakan alasan utama yang membuatnya menghindar dari dunia film. "Tapi kalau beberapa tahun mendatang ada tawaran yang cukup menantang dalam rti peran yang diberikan pada saya itu peran yang serius bisa jadi saya akan main film lagi, " katanya. "Bagaimanapun saya harus memilih satu saja dalam hidup ini kalau mau berhasil, " tambahnya. "Soalnya apa sih yang ingin saya capai dalam hidup ini kecuali kebahagiaan?" katanya lagi. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989

SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI


SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI (Kabar Lawas). Tak Seorangpun diantara pengurus Parfi muncul disaat pemakaman artis tiga jaman Netty Herawati, Selasa siang 7 Februari 1989. Namun sejumlah artis tua dan muda turut mengantarnya sampai ke liang lahat. Pemakaman Karet yang menjadi saksi bisu pada upacara pemakaman bintang film layar putih dan TV itu dipenuhi oleh sejumlah masyarakat pecinta film Nasional, para kerabat baik kalangan artis tua maupun muda. Bahkan superstar Persari di jaman tahun 50an, Rd. Mochtar yang menetap di Cimahi Bandung menyempatkan diri memberikan penghormatan terakhir kepada bekas lawan mainnya pada jaman jaya-jayanya dulu. 

"Heran ya, kok pada saat-saat begini tidak satupun pengurus harian Parfi yang hadir, " kata salah seorang artis muda yang tak mau disebutkan namanya. "Kalau terhadap seorang Netty Herawati yang demikian besar jasanya terhadap perfilman kita, mereka para pengurus Parfi maksutnya seolah olah tidak mau tahu apalagi terhadap kami yang masih belum apa-apa," katanya lebih lanjut. Salah seorang menimpali, apakah ini krisis kewibawaanpengurus Parfi itu terhadap anggotanya. Sepantasnya untuk hal-hal seperti ini merek amemerlukan datang sebagai tanda ikut berbelasungkawa, lanjutnya. 

Dalam hal-hal seperti ini sepertinya para pengurus Parfi itu memang acuh tak acuh. COntohnya ketika pemakaman aktor tiga jaman A.N. Alcaf, Sulastri atau bahkan mantan Ketua Umum Parfi , Sudewo beberapa waktu lalu. Para pengurus organisasi artis film itu sepertinya tidak tahu menahu terhadap anggotanya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Malah orang-orang seperti Dicky Zulkarnaen bersama istrinya Mieke Wijaya, Basuki Zaelany, Rachmat Kartolo, Misbach Yusa Biran, Sumardjono dan sejumlah nama lainnya selalu memerlukan datang melayat dan menghantarkannya ke pemakaman. 

Sejak berangkat dari rumah duka di Jl. Otista Jakarta Timur, solidaritas justru lebih tercermin dari kalangan angkatan tua seperti janda mendiang Djamaludin Malik, Rahayu Effendi, Wahyu Sihombing dan masih banyak lagi para artis tua dan muda serta insan insan TVRI. 

Dicky Zulkarnaen sempat mengusahakan pasukan bermotor Polantas yang memandu iring-iringan jenazah Netty Herawati hingga ke pemakaman Karet. Dalam hal beginian, Dicky Zulkarnaen, Rachmat Kartolo memang selalu tampil didepan. Mereka tak segan-segan menyingsingkan lengan bajunya untuk sekedar meringankan para keluarga yang sedang berduka cita. 

Sehari sesudah pemakamanya, Rabu 8 Februari 1989 , TVRI menayangkan sinetron "Jangan Ganti Namaku" yang direncanakan terdiri tiga episode. Episode berikutnya ditayangkan 15 dan 22 Februari 1989. Drama keluarga arahan Darto Joned ini antara lain dibintangi oleh Netty Herawati dan Drs. Usman Effendi. Sesudah itu mungkin masih akan muncul cerita sinetron lainnya yang dibintangi oleh artis kelahiran Surabaya, 4 April 1930 ini karena beliau aktif sekali bermain dilayar kaca TVRI stasiun Pusat Jakarta. Seperti diketahui bersama suaminya, Darussalam, almarhumah mendirikan grup Senyum Jakarta yang selama beberapa tahun hingga akhir 70an manggung di TVRI. 

Kecuali sering tampil dalam drama TV, fragmen dan sebagainya, Netty Herawati masih sering main di film. Setelah meyelesaikan pendidikannya pada R.K. Zuzter School, almarhumah sempat malang melintang di panggung pertunjukan. Pernah ikutan dengan grup sandiwara Irama Mas, Tri Murti, Bintang Surabaya dan Bintang Timur. 

Karirnya di film dimulai tahun 1949 langsung jadi bintang utama dalam film "Sapu Tangan" tapi namanya kemudian melonjak lewat "Jembatan Merah", "Lewat Djam Malam", "Calon Duta". Dia kemudian dikontrak Persari dan menjadi bintang andalannya. 

Dikalangan artis tua, dia dikenal sebagai seorang kolega yang baik, ramah dan rendah hati. Sementara dikalangan artis-artis muda diapun dikenal sebagai seorang ibu, guru dan sekaligus sahabat yang suka memberi dan membimbing. Keteladanannya sebagai pasangan suami istri Darusalam dan Netty Herawati tetap konsisten dalam dunianya. Dan lebih dari itu baik Netty Herawati almarhumah maupun suaminya adalah insan film yang selalu setia pada profesinya dan dicintai jutaan penggemarnya. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989