Saturday, September 5, 2026

NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA

 


NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA (berita lawas). Drs. Asrul Sani, habis-habisan mengeritik Dedi Setiadi yang meramu sinetron Siti Nurbaya. Sebagai penulis skenario, ia merasa kurang sepaham dengan persepsi sutradara TVRI itu. Yang pasti Siti Nurbaya dimata Asrul tidak sesuai dan tidak mencerminkan kebudayaan Sumatera Barat (Minang).

Novia Kolopaking selaku pemain utama tidak lepas dari serangankritik. Itu pasti. Mulai dari dialog sampai ekspresi Via dirasakan kurang pas. "Malah dengan kritik tajam itu saya bisa mengoreksi sekaligus bangga. Iya dong. Masalahnya, perhatian masyarakat kepada saya begitu besar. Setidaknya ini menjadi tolok ukur untuk menentukan langkah saya selanjutnya di bidang film, "kata Via yang mengaku kenal buku Siti Nurbaya waktu kelas 2 SMP. 

Bahkan Via merasa yakin kritik itu terlempar dari mereka yang mengerti dan paham akan kebudayaan Sumatera Barat. Sedangkan untuk kalangan seusianya, tidak mungkin berpendapat demikian. 

"Buktinya, setiap hari saya kebanjiran surat rata-rata 80 pucuk, cuma membicarakan peran saya sebagai Nur. Tak berlebihan jika saya mengungkap omongan diantara mereka yang sebagian besar memuji permainan saya. Tak percaya? Boleh baca sendiri, "tukas Via sembari memberikan setumpuk surat .

Surat-surat dari daerah, ada yang baru mengenal bintang gres ini lewat sinetron tersebut. Biar keterlibatan Via diladang akting sudah empat tahun lalu, "Lima langkah dari pintu rumah saja, saya sudah ganti nama, tetangga seolah menghalalkan sebutan Nur dalam keseharian saya. Itu biasa. Tapi bila dibandingkan dengan gencarnya kritik, sungguh ironis, bukan? Saya kira kejadianini sebagai perselisihan paham saja.Tak ada yang perlu kita salahkan. 

Mas Dedi punya persepsi dan penafsira akan figur dari masing-masing peran. Nah, dengan begitu saya merasa tidak suka persoalan ini didramatisir, karena menyangkut hak  seseorang, "celetuk Novia. 

~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991

Friday, September 4, 2026

PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK

 


PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK (film lawas). Pak Tile Buta Huruf, tapi tidak pernah menyesal. Begitu adanya. Namun, paling sedih dirasakan artis jebolan "Lenong" ini adalah ketika dibelenggu kontrak. Akibat secarik kertas "perjanjian" itu tak berkutik, tak bisa berbuat banyak, dan rupiah pun berlalu. Oleh produser yang ada dinegeri ini, Pak Tile dibelenggu kontrak, isinya, setahun tak boleh ikut produksi lain. Sesuai perjanjian, Pak Tile perbulan dibayar Rp. 100.000,-, walau tidak suting. Bila suting dibayar Rp. 200.000,' sebagai honor. Selama setahun, cuma kebagian produksi 4 film. Tentu saja anak Betawi yang tidak tahu tanggal lahir ini hanya bisa menerima apa adanya. 

"Waktu itu begitu awam dengan film. Tak mengerti soal kontrak. Dan saya bersyukur karenanya, "katanya mengenang. Kontrak itu pula membelenggu dirinya. Sehingga tidak bisa berbuat apa. meski produser lain tertarik atas kemampuanya guyonannya. Soraya Intercine Film misalnya, ingin memakai Pak Tile. Honor sudah dibayar separuh, Tapi apa lacur, kabar akan berlakon di perusahaan lain sempat juga ketelinga bos pengontrak. 

"Saya tidak diizinkan, "kenangnya. Sederhana itukah alasannya? "Oh tidak! Katanya, nanti Pak Tile kalah, "sambar gaek bergigi ompong ini. Kalimat itu merupakan 'basa basi'. Kalimat semacam ini sering meluncur dari mulut produser dinegeri ini. Sebab, untuk bersikap tegas, terkadang tak punya nyali. 

"Saya malu pada produser yang akan memakai. Syukur saja dapat memakluminya,"lanjutnya sambil terkekeh. Semestinya, sebagai seorang artis Pak Tile bebas bekerja dengan perusahaan film manapun. Akibatnya, kesempatan untuk berbuat banyak berlalu, dkubur belenggu. Meski, lakonan Pak Tile cukup mujarab untuk memasukkan uang ke kocek produser. Tapi hasil honor selama dikontrak setahun, paling banter Pak Tile mendapat Dua Juta Rupiah. Meski begitu pahit, namun bapak yang kocak ini selalu bersyukur. Memang sudah menjadi pribadinya artis bernama lengkap Tile Bayan. 

Masa pahit telah berlalu. "Sekarang ogah dikontrak panjang. Sekarang, saya baru tahu gayanya  orang film,"ujar artis komedi yang melejit lewat film Cintaku Di Rumah Susun. Sutradara Nyak Abbas Akup. 

Jadilah sekarang seperti burung. Karena itu, Pak Tile telah menyelesaikan film Pasti Bisa Tahan, sutradara A Rizal. Kini lagi ikut suting film Lupus V, kebagian peran menjadi pelayan hotel,"Lumayan, honor sehari dapat dua ratus lima puluh ribu. Enaknya bisa bebas berbuat apa saja, " kata gaek yagn telah berlakon lebih dari 17 film selama berkutat 4 tauun sebagai artis nasional. 

Itu kisah sedih si buta aksara. Tapi, masih ada manusia memanfaatkan situasi ketika tahuannya itu tentang tulis menulis, "Sekarang telah bisa menentukan diri sendiri, justru itu saya bisa ikut Lenong Kembang Sereh untuk Pesta Istiqlal,"katanya sambil menarik rokok dalam-dalam saat latihan di Gelanggang Remaja Jakarta Timur. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991. 


Wednesday, September 2, 2026

SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy?


 SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy? (berita lawas). Maka, Mantan Prabu Brama Kumbara yang telah menjadi  resi pertapa itu menasihati wanapati, si raja baru. "Jangan buru-buru membuat peraturan, sebab peraturan Raja adalah hukum yang sulit untuk dicabut kembali".

Sabdo Pandito Ratu!

Dialog ini bisa ditemukan dalam adegan terakhir "Saur Sepuh 4, Titisan Darah Biru" yang sudah lulus sensor BSF tanpa potong satu frame pun, pada Senin 8 Juli 1991. 

Menurut perhitungan Handi Mulyono, produser PT. Kanta Indah Film, produksi terbarunya ini memang pasti lulus dengan mulus. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari, ia sudah menetapkan tanggal mainnya, yakni pada hari Kamis, 11 Juli 1991, sesuai dengan kalender acara yang dikeluarkan oleh PT. PERFIN 

Bukan cuma untuk penayangan di Jakarta saja, namun serentak di banyak kota besar seperti Surabaya, Semarang, Medang, Ujungpandang dan lain-lainnya. 

Namun hambatan justru datang dari pihak Inter Studio yang mencetak copy filmnya!. 

"Mixing sebanyak 6 rel, sudah selesai pada 24 Juni. Dan sebenarnyalah sejak saat itu sudah diorder pencetakan copynya ke Inter, "ungkap sutradara Imam Tantowi. 

"Semula kami memesan 100 copy, tapi mereka menyatakan tak menyanggupi. Maka kami turunkan sampai menjadi 60 copy saja dulu, "ungkap Handi. "Ternyata sampai hari Selasa, 9 Juli dilaporkan baru bisa dibuat lima copy!. Mana Cukup? Sedangkan untuk di Jakarta aja bakal main di 30an gedung. Meskipun dilakukan sistem penggabungan tiap copy ditayangkan pada lebih dari satu gedung, tetap paling sedikit dibutuhkan 20 copy. Belum lagi untuk diluar ibokota!. 

Kerja keras pihak Interstudio kemudian memang mampu mencetak lebih dari 20 copy, Kendati begitu penayangan di bioskop-bioskop Jakarta, tetap harus diundurkan. Kalau semula diharapkan sudah main pada 11 Juli, terpaksa ditunda sehari. Sedangkan penayangan di Surabaya terpaksa dimundurkan mungkin sampai awal Agustus nanti. Sedangkan trailer atau ekstra film sepajang tiga menit yang juga dipesan sebanyak 100 copy, sama sekali tidak bisa dicetak satupun. Padahal seharusnya seminggu menjelang Gala Premiernya, sudah dipasang trailernya untuk bahan promosi menarik calon penonton, tapi sampai sekang filmnya sudah main, terpaksa tanpa trailer. 

"jelas kami tak bisa menunda berlama-lama, mengingat iklan promosi sudah dipasang dikoran-koran terkemuka di Jakarta dan jawa Timur selama beberapa hari ini, disamping baliho besar yang dipajang di depan beberapa bioskop sejak sebulan yang lalu!"Kesal sang produser. 

"Itikad baik produser untuk memenuhi peraturn mengenai prosesing dalam negeri, justru terbentur oleh kekurangsiapan kerja pihak studio sendiri. 

Sejak episode pertama sampai yang ketiga, setiap judul selalu di cetak sebanyak 100 sampai 120 copy", keterangan Tantowi. "Selama ini memang dicetak di Mandarin Lab. Hongkong, Cukup lima hari sudah siap semuanya. Rata-rata maereka mampu mencetak 20 copy perharinya. Kalau perhitungannya wajar, normal-normal saja, dengan tiga unit mesin sudah bisa dicetak minimal 12 copy dalam satu hari kerja. Nah, kalau dikebut siang malam, tentunya bisa dua kali lipat kan?

Ini baru bicara soal kecepatan cetak saja, belum lagi mengenai kualitas hasil cetaknya, keprofesionalan kerja, serta harganya. Mau dibandingkan bagaimanapun juga, semua hal diatas harus diakui masih jauh lebih unggul kerja lab di luar negeri. 

"Sampai kapan baru kita mempunyai laboratorium film yang profesional? "Keluh beberapa insan film yang enggan disebut jatidirinya. ~MF No. 132/99/Tahun VII/20 Juli - 2 Agustus 1991


Monday, August 31, 2026

NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992

 


NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992 (berita lawas). MADE DARMI, wanita bisu tuli yang tertindas. Sebagai wanita bersuami, dia bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya. Suaminya hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk sabung ayam. Puncaknya, wanita yang dirundung duka panjang itu ditinggal minggat suaminya ke luar negeri mengkuti pacarnya yang berasal dari negeri seberang. 

Neno "Made Darmi" Warisman, Sabtu malam, 21 November 1992 tak sanggup menyimpan tangis kegembiraan ketika Dewan Juri Festival Sinetron Indonesia (FSI) menobatkannya sebagai  aktris terbaik dalam festival  yang baru pertama kalinya dipisahkan dari Festival Film Indonesia (FFI) itu. "Kalau saya boleh mengucap doa, dan terima kasih saya tujukan kepada Bang Irwinsyah, guru saya. Juga pada Aji, guru pertama saya di Teater Bulungan, "kata Neno Warisman. 

Piala Vidia yang direngkuhnya kali ini, adalah Piala Vidia kedua. Artis yang bernama asli Titi Widoretno itu, pernah memperoleh ketika terlibat dalam Sayekti dan Hanafi, dua tahun lalu. "Sungguh, saya tidak pernah menyangka dan mengharap memperoleh PIala Vidia. Kalau teman-teman wartawan jauh-jauh hari sudah menelpon dan mengucapkan selamat, saya sendiri kaget. Mereka sekarang ini amatannya sudah tidak pernah meleset, "ungkapnya. 

Terus Terang, Neno mengukap, sampai saat ini dia merasa berutang budi pada Irwinsyah. "Saya tidak bisa begitu saja menghilangkan nama Bang Irwin dalam benak saya. Sampai saat ini pun, apalagi ketika Aksara Tanpa Kata disebut-sebut sebagai nominator, hati saya banyak berdebar-debar mengingat ketelatenan dan kesabaran Bang Irwin mengarahkan saya hingga maksimal, "ungkapnya membuka catatan lama. 

Dalam Aksara Tanpa Kata, selain langsung observasi ke Bali, Neno belajar banyak kepada penderita cacat tunarungu-wicara di Jakarta. Bahkan, dia harus beberapa kali berkunjung ke sekolah luar biasa tunarungu-wicara untuk mempelajari karakter penderita tersebut. 

"Disini selama satu bulan saya harus belajar Isado,"katanya. 

Bukan hanya itu dia amati dan pelajari gaya bicara maupun lagak mereka ketika jengkel maupun marah. "Pertama tentu lewat cermin dulu."

Semua itu diperlukan untuk kesempurnaan akting maupun perubahan emosi yang harus dilakukan agar sinetron itu punya nafas tersendiri. Gaya hidup wanita Bali dipelajarinya untuk beberapa lama di perkampungan-perkampunan desa di Bali yang tidak jauh dari tempat wisata. "Syutingnya, sebagian besar memang di daerah Kuta, "akunya. 

Karenanya, Neno Warisman mengaku terus terang, tingkat kesulitan yang diperolehnya dalam casting Made Darmi, lebih tinggi dibanding ketika ia harus memerankan Sayekti dalam Sayekti dan Hanafi beberapa waktu yang lalu. "Kalau boleh menyebut, memang tingkat kesulitan yang saya peroleh dalam Made Darmi lebih berat, "akunya. 

Neno barangkali bukan potret artis kita kebanyakan. Sebelum dikukuhkan menjadi artis terbaik versi FSI '92, Neno mengaku tidak mengharapkan banyak dari permainannya. "Biasa biasa saja. Pokoknya, skenario yang disodorkan sutradara saya pelajari dengan baik sesuai dengan kemampuan yang saya miliki",katanya. 

Karena, dengan apa yang diperolehnya sekarang, "Saya harus semakin selektif memilih peran," katanya. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992



Sunday, August 30, 2026

FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON


FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON  (Berita Lawas). Dalam ruang sempit, muat hanya seratus pengunjung plus dua puluhan tamu kehormatan termasuk Menteri Penerangan ditayangkan secara langsung pengumuman dan Penyerahan Piala Vidia, Festival Sinetron Indonesia 1992 untuk pertama kalinya. 

Mengandalkan dekorasi panggung yang megah, dengan menghabiskan biaya Rp. 40.000.000,- paket itu, diharapkan menyajikan tayangan yang ..wah. Justru tetap ngotot dipilih Studio TVRI itu demi untuk kepentingan broadcast Empu, yang pakar di TVRI dalam bidang penyiaran itu, berupaya maksimal?

Nasib, kalau program yang sudah dirancang itu akhirnya mengundang kecewa, termasuk Menteri Penerangan. Masalahnya, acara siaran langsung seperti itu, harus pandai-pandai menguasai waktu. Acara siaran dimulai pukul 19.35 dan harus selesai pukul 21.05 lalu masuk Dunia Dalam Berita. 

Nyatanya moloor, Rupanya diawal acara, Didi Petet yang berduet dengan Nita Bonita keasyikan nyeloteh, berupaya membangun dan menghidupkan suasana, dan mereka berhasil. Tapi...detik demi detik terlewat, akhirnya tidak pas dengan jadwal yang tercantum dibuku acara.

Bertambah lengkaplah penderitaan acara tersebut, manakala pemenang yang dipanggil ternyata tidak datang dan...terjadi kevakuman beberapa saat karena belum dipersiapkan wakilnya, tambah lagi artis sinetron pembaca pemenang agak lamban langkahnya, maklum banyak yang pakai kain. Perhitungan detik demi detik inilah yang membuat suasana awal jadi grusa grusu. Dan pada "gong" acara ini juga antiklimaks, sehingga Pak Menteri hanya menyalami pemenang Piala Vidia untuk sinetron cerita. 

Cerita Lepas Terbaik : Aksara Tanpa Kata 

Penulis Teleplay Terbaik : Alex Soeprapto Yudho dalam sinetron Keringat

Penyutradaraan Terbaik : Irwinsyah dalam Aksara Tanpa Kata

Penata Sinematografi : Yadi Suganda dan Yayat Muslihat dalam sinetron Hilang

Pemeran Pembantu Pria : Herdin Hidayat (Fajar Sadiq)

Pemeran Pembantu Wanita : Renny Jayusman (Aksara Tanpa Kata)

Pemeran Utama Pria  : Aspar Paturusi (Anak Hilang)

Pemeran Utama Wanita : Neno Warisman (Aksara Tanpa Kata)

Penata Artistik : Satari SK (Anak Hilang)

Editor Terbaik : Iqbal Agus dan Robby Rumoso (Anak Hilang)

Penata Musik Terbaik : Igor Tamerlan (Aksara Tanpa Kata)

Penata Suara Terbaik : Adi Krisnandi dan Eddy Krisnandi (Aksara Tanpa Kata)

Kritik Sinetron : Sugeng Setyadharm) Produksi TVRI Pusat dan 

Cerita Episode Terbaik (Gadis Manis Dalam Gerimis - Ismail Sofyan Sani dalam serial Jendela Rumah Kita)

Peraih Piala Khusus  FSI '92 pemeran Anak Harapan (Erlina Gede) dalam sinetron Aida (TPI, Piala Vidia untuk dokumenter terbaik "Disini Kita Bernyanyi ", SCTV, Piala Vidia Pendidikan dan Penerangan "Si Leher Panjang dari Mojoslawi".

Menteri Penerangan Harmoko dalam pidato sambutannya mengatakan  bahwa proses teknologi belakangan ini makin pesat dan itu harus diantisipasi oleh dunia sinetron. Dalam kaitan itu, kitapun  harus berani menjawab tantangan dengan adanya dukungan peralatan teknologi tersebut. 

Menpen mengharapkan  pada masa mendatang produksi sinetron bisa lebih baik lagi karena selama ini sinetron dianggap sebagai pesaing film Indonesia. "Jadi secara tidak langsung, kompetisinya semakin cukup kuat, " kata Harmoko menyitir ungkapan almarhum Wahyu Sihombing. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992





Friday, August 28, 2026

KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI

 


KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI, (Berita lawas). Dua tahun lalu (1987), lewat S.K 007/PB.PARFI/1987, pernah dihimbau agar artis-artis yang direkomendir oleh PARFI diasuransikan. Menurut Sekretaris Parfi, Reza Pahlawan, "Sudah pernah dibicarakan dengan Asuransi Timur Jauh. Kemudian diajukan juga usulan ini pada PPFI. Tapi belum ada tanggapan. Konon PPFI masih ingin meminta saran dulu pihak Deppen. Akhirnyaya terlupakan sapai sekaran, "Smpa terjadilah peristiwa naas yang meinmpa korban di awal September kemarin (1989)!. 

Aktor yang dokter dan kolonel Amoroso Katamsi, saat bertemu wartawan , sama-sama melayat pemakaman Tuti Indra Malaon, mengakui "Terjadinya musibah tersebut membuat PARFI berusaha mendorong kembali himbauan untuk mengasuransikan para artisnya!".

Sutradara Buce Malawau yang baru saja merampungkan film kecelakaan kereta api, "Tragedi Bintaro", berpendapat, "Sebenarnya kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bukan saja di dalam suting film. Tapi saya setuju sekali pada ide yang dicetuskan oleh Parfi tersebut. Yang penting jangan sampai teledor, karena fatal akibatnya!".

Ditanggapi oleh sutradara Imam Tantowi, yang sedang menyiapkan "Saur Sepuh III, Kembang Gunung Lawu". Di kantor PT. Kanta Indah Film, "Yang terpenting harus selalu ada safety. Misalnya sebelum mengambil adegan salto disediakan kardus secukupnya untuk jatuhnya. Pada saat adegan lompat dari ketinggian ada safety-belt, Untuk adegan melayang ada sling yang sentosa. Asuransi dan santunannya kan hanya untukkeluarga yang ditinggalkan. Yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali. Cuma memang beban yang harus ditanggung produser menjad lebih ringan karena sebagian menjadi tanggungan pihak asuransi. 

Tantowi yang sering membuat film laga, pernah sekali mengalami musibah saat pembuatan film pertamanya "Pasukan Berani Mati". Justru menimpa salah seorang pemain utamanya, Barry Prima. Adegannya Barry melakukan salto dan terjatuh sampai tulang panggulnya patah. Di duga kesalahan pada Barry sendiri yang terlalu memaksakan diri, dan sebenarnya dalam keadaan kurang sehat. Memang seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh PT. Rapi Film, namun bagaimanapun juga tulang panggul Barry sudah menderita cacat. 

"Kecelakan tidak kita minta, safety yang dibutuhkan," ulang Tantowi,. "Asuransi bukan menyelesaikan masalah. Salah satu cara untuk safety misalnya dengan menggunakan kendaraan angkutan ke dan dari lokasi suting. Biasanya dipilih kendaraan yang cenderung murah sewanya. karena berselisih sekitar Rp. 100 rb dengan kendaraan  yang baik. Tapi kalau imbalannya nyawa? Betapa murahnya nyawa orang film kalau begitu!".

Sutradara Abnar Romli yang sedang merampungkan film silat "Pancasona" menambahkan "Diperlukan orang-orang yang profesional untuk menyiapkan sarana sebelum melakukan adegan berbahaya!".

Abnar teringat pengalaman ketika suting film "Six Balax dalam Penculikan Pengantin". Adegannya sang tokoh mengebutkan motor sampai melompati mobil polisi yang menghadangnya. Mungkin karena persiapannya kurang matang, motor yang terbang itu melambung kelewat tinggi. Stuntmannya terjatuh, untung tak sampai cidera berat!".

"Terkadang saya amati mereka kurang memikirkan diri sendiri,"komentar Abnar terhadap para stuntman berani mati itu. 

Dibenarkan oleh Subagyo Samtani, Produser Pelaksana PT. Rapi Film, yang teringat pengalaman saat suting film "Dendam Membara", ingat pada adegan mobil menerjang supermarket? Nah, saya sudah pesan wanti-wanti agar bensin mobil yang digunakan untuk menabrak etalase Supermarket itu diisi seliter saja. Asal cukup untuk jalan. Jangan diisi penuh-penuh, takut kalau terjadi kecelakaan kan bisa terbakar dan meledak. Eh ternyata diisi cukup banyak oleh stuntman Gatot, ketika saya tahu, langsung saya marahi habis-habisan. Untunglah sutingnya berjalan lancar dan selamat!".

Tantowi pun pernah memarahi adiknya sendiri, Eddy, yang menjabat asisten special effect saat suting "Saur Sepuh II, Pesanggrahan Keramat" di hutan lindung Pangadaran. "Dia memanjat pohon beringin tinggi, meniti dahan kecil untuk memasang sling (Kabel kawat) tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Langsung saya suruh turun dan harus memakai safety belt dulu baru melanjutkan kerjanya. Setidaknya kalau sampai tergantung-gantung, tak sampai terbanting!".

Saat suting film silat "Pembalasan Si mata Elang" bintang laga Atut Agustinanto juga mengalami kecelakaan. Tangannya patah karena terjatuh ketika adegan bertarung dengan Advent Bangun. Namun sesudah dirawat oleh "orang panti" yang ahli patah tulang, ia bisa dipulihkan, dan melanjutkan suting kembali dalam waktu relatif singkat.

"Tapi mulai sekarang, Virgo Putra Film mengasuransikan seluruh pemain dan karyawannya, " tegas Ferry Angriawan yang memetik hikmah dari musibah "Si Roy".

Untuk produksi terbarunya "Joe Turun Ke Desa", Ferry  mengasuransikan seluruh pemain dan karyawan pada PT. Asuransi Agung Asia,". "Perusahaan yang membayarkan asuransi sebesar Rp. 52 ribu per orang atau jangka waktu satu tahn." Jadi kalau produksi menggunakan sekitar 50 artis dan karyawan, maka produser menyetorkan Rp. 2,6 juta. Relatif kecil dibandingbiaya produksi rata-rata diatas Rp. 200 juta. 

Dengan pembayaran asuransi tersebut, setiap orang dipertanggungkan nominal Rp. 10 juta. Bila mendapatkan kecelakaan sampai masuk rumah sakit, mendapat penggantian maksimal sebesar Rp. 1 juta. Bila sampai meninggal santunannya sebesar Rp. 10 juta. Bila cacad sampai kehilangan anggota badan, diperhitungkan secara prosentase. Misalnya bila kehilangan sebelah tangan mendapat 20% dari santunan maksimal. Bila kehilangan sebelah mata mendapatkan 40%. Demikian seterusnya, ada perhitungan terperinci masing-masing. 

Chaerul Umam yang sedang menyiapkan "Joe Turun Ke Desa" menyebutkan  tiga unsur, "Pertama, pehatian untuk staf non artistik. Kecelakaan itu sebenarnya terjadi karena kecerobohan manusianya. Mustinya sebelum mengendarai mobil periksa dulu olinya, temperatur dan lain-lainnya, Kedua kendaraan yang dipergunakan mbok ya jangan yang terlalu tua, tidak siap itu. Ketiga asuransi memang belum populer dalam perfilman. Betapapun uang santunannya bisa membantu keluarga yang ditinggalkan. 

Sebagai produser, Ferry Angriawan sebenarnya sudah menyarankan agar selalu memilih kendaraan yang baik untuk sarana angkutan. "Namun bukan tidak mungkin ada pimpinan Unit atau Pimpinan Produksi yang ingin menghemat dengan menyewa kendaraan yang lebih murah. Untuk selanjutnya perlu ditekankan lebih berhati-hati dalam memilih kendaraan angkutan dan jangan lalai untuk selalu memeriksakan kondisinya sebelum digunakan!".

Nampaknya sesudah musibah "Si Roy", asuransi akan mulai masuk dunia film Termasuk suting kelanjutannya pun kelak mulai diasuransikan. Demikian juga untuk produksi Andalas Kencana mendatang, "Melacak Dendam".sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989


Thursday, August 27, 2026

CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA

 


CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA (berita lawas). Christine Hakim akhirnya bersedia juga main sinetron produksi Multivision Plus yang berjudul menarik, "Bukan Perempuan Biasa".

Karuan ini suatu kebanggaan besar bagi Produser Raam Punjabi yang sebelumnya juga berhasil mengajak pasangan bintang abadi Sophan Sophiaan - Widyawati bermain dalam serial Abad 21. 

Terus terang sudah sepuluh tahun lamanya saya ingin menjalin kerjasama dengan Christine , "aku Raam. "Waktu itu saya berhasrat membuat film bioskop, tapi baru dua tahun lalu, Christine setuju untuk bermain dalam sinetron ini yang bakal di garap oleh Arifin C Noer. Sayang beliau keburu tiada, hingga proyek nyaris tertunda. 

Adalah Jajang C Noer yang selama setahun terus mengejar Raam untuk melanjutkan proyek mendiang arifin agar tak sampai batal. Sebenarnya memang Arifin telah menulis tujuh skenario dari miniseri yang direncanakan tamat dalam sepuluh sepisode ini . Lalu bagaimana dengan tiga episode yang beum rampung?Diminta Arswendo Atmowiloto yang juga kawan lama almarhum untuk menyelesaikannya sampai tuntas. 

"Saya mau bilang apa, cuma saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Pak Raam dan Raakhe untuk mengerjakan pekerjaan Mas Arifin yang tertinggal,"ucap Jajang. 

Bukannya tanpa susah payah bagi Jajang untuk mendapat kepercayaan tersebut karena semula Raam menghubungi sutradara-sutradara handal seperti Slamet Rahardjo, Putu Wijaya dan Garin Nugroho. Tapi diluar sepengetahuannya, Jajang juga mendatangi mereka dan berpesan setengah mengancam "Jangan mau terima twaran dari Pak Raam. Bilang saja cuma istrinya yang tahu betul dan paling tepat untuk melanjutkan karya Mas Arifin.

Al hasil Raam menyerah pada Jajang, apalagi setelah jajang menjamin bahwa Christine tetap akan menjadi leading-lady (pemeran utama). Padahal pada waktu dicari, Christine sedang berada di Sukabumi suting film produksi Emerald Film dari Belanda, Tropical Emerald. 

Bukan Perempuan Biasa didukung oleh Desy Ratnasari Dony Damara, El Manik, Pangky Suwito, Eeng Saptahadi, Remy Silado, Marini Zumarnis, Charlie Sahetapy dan banyak lagi. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film nomor : 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996

T : Setelah sekian lama, boleh dibilang menghilang, baru sekarang anda kembali bermain?

J : Saya nggak menghilang kok mas, cuma...tersingkir. Entah kenapa tersingkir lagi musim banjir kali?!. Tapi saya merasa diri saya adalah artis yang beruntung, beruntung sekali malah. Karena saat kondisi perfilman Indonesia sedang begini, justru saya mendapat kesempatan untuk meninjau perkembangan dunia film di Australia selama enam bulan. Saya lihat disana ada Asosiasi Women Film Maker yang anggotanya lebih dari 300 sineas wanita. Bayangkan, padahal Australia kan penduduknya cuma 17 Juta, tapi begitu banyak wanita yang sudah jadi sutradara!. Lalu bermain  untuk sebuah film Jepang di Jepang. Disana juga saya empat diundang ke Women International Film Festival. Dan terakhir main film Belanda yang lokasi sutingnya di Sukabumi. 

T : Kenapa baru sekarang Anda mau main sinetron, bukankah dulu Anda cuma mau main untuk film bioskop? 

J : Saya tak pernah bilang anti sinetron, sama sekali tidak . Memang sejak dunia televisi swasta mekar, saya banyak ditawari main sinetron. Cuma waktu itu saya masih dalam kondisi prihatin dan sedih melihat film nasional, hingga merasa sulit untuk pindah ke media lain dalam hal ini teve. 

T : Bisa cerita bagaimana sampai Jajang berhasil membujuk Anda?

J : Saya masih ingat, Sabtu malam, jam sepuluh, saya baru selesai suting di Sukabumi, baru siap-siap untuk mengaso, mendadak Jajang menelpon saya. Dia bertanya apa benar saya menolak untuk main sinetron, saya jawab tidak benar. Langsung Jajang menceritakan bagaimana perjuangnnya sampai berhasil membujuk Raam. Mendengar ceritanya, hati saya jadi luluh. Bagi saya, yang disebut Bukan Perempuan Biasa seharusnya ya si Jajang ini. 

Lalu saya minta Jajang menunggu sampai suting Emerald selesai, baru bicara lagi. Saya tidak mau membaca skenario yang mau dikirimnya ke Sukabumi. Sebab kalau saya membacanya dan tertarik, nanti bisa mempengaruhi saya. 

T : Bagaimana sih ceritanya sinetron Bukan Perempuan Biasa?

J : Bayangkan saja ya, saya diper kosa El Manik, lalu punya anak Desi Ratnasari (tertawa). Ceritanya saya berperan sebagai Menul, perempuan desa yang minggat dari rumah karena menolak ketika hendak dikawinkan oleh ayahnya. Malah ia diper kosa oleh lima pemuda mabuk sampai hamil. Kelak menul menjadi tukang pijat tradisional di Solo. sedang anaknya, Sri, tumbuh menjadi remaja. mendadak mereka menerima kiriman barang-barang mewah. Menul merasa tak mengenal Pak Bachtiar, si pengirim serta, merta menolak. Ternyata Bachtiar ini adalah salah seorang pemerkosa yang telah insyaf dan ingin menebus dosanya. Itu cerita babak pertamanya selanjutnya masih panjang lagi. 

T : Boleh tahu berapa Christine Hakim di kontrak untuk bermain sinetron ini?

J : Sampai sekarang belum ada kontrak, saya belum menandatangani apa-apa, baru gentleman agreement saja untuk mulai kerjasama. Bagi saya yang penting dalam bekerja harus punya motivasi yang jelas, bukan uangnya, Dan kita akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. 

T : Atau nanti Anda akan dikontrak pertahun, agar juga bisa main dalam sinetron-sinetron produksi Multivision yang lain?

J : Belum, kontrak yang satu ini juga maish belum ditandatangani. Tapi saya rasa kita semua sudah seharusnya berterima kasih pada Raam, meskipun jelas juga banyak orang yang jelus padanya. harus dihargai dong kreativitas dan jasa raam yang berhasil mengembangkan sinetron di teve swasta. kalau beberapa tahun lalu, produk impor seperti telenovela begitu digandrungi, Raam berhasil lewat produksi lokal mulai dari Gara-gara, Lika Liku Laki Laki sampai misalnya Pelangi Di Hatiku. Sekarang Desy Ratnasari bisa mengalahkan Maria Mercedes. Rating sinetron lokal ada diatas telenovela. Ini semua merupakan andil Raam yagn sangat besar, mesti diakui secara fair. 

Saya akan mendukung Raam, selama masih pantas di dukung. Saya yakin seribu persen, Raam pasti akan memproduksi film nasional lagi bila tiba saatnya. Pokoknya saya dukung, ya selama Raam juga masih setia pada negeri ini. Semoga tidak jadi pengkhianat (tertawa). 

T : Tidak ada keraguan bekerja di bawah penanganan seorang sutradara yang masih baru?

J : Bukan baru sekarang saya bekerjasama dengan sutradara yang untuk pertama kalinya berkarya. eros Djarot misalnya. Malah dengan sutradara baru, saya bisa merasakat spiritnya yang maih murni. Tapi saya yakin Jajang bisa kok. Saya juga sudah membaca skenarionya kalau perlu seratus kali agar bisa masuk diperannya. Sebenarnya minimal saya butuh waktu tiga bulan setelah selesai suting sebuah film, untuk melepas peran agar kembali normal, baru mulai masuk keperan baru. Tapi demi Jajang, kali ini saya langsung masuk ke peran Menul. 

T : Apakah dengan ini Anda ingin meninggalkan dunia film (bisokop)?

J : Saya tidak pernah meninggalkan dunia film, tapi ingat, saya juga bukan satpam yang kerjanya menjaga film. Saya ingat jaman jaya-jayanya film nasional, mendadak semua orang merasa punya kepentingan, ikut mengatur, harus begini harus begitu. Jadinya ya begitu, kebanyakan pesan. Mestinya biarkan saj atumbuh seperti apa adanya. 

Bukan cuma di Indonesia banyak negara lain, termasik Prancis, yang punya masalah tak bisa bersaing dengan Film Amerika, akhirnya memilih untuk memproduksi film teve. Yang penting, harus berbuat terus berekspresi. 

Sekarang saya bisa merasakan getar wartawan yang merindukan film nasional. Dibawa sadar kita semua ada kerinduan film nasional berkembang seperti dulu, seharusnya wartawan yang berperan besar menjadi satpam tadi. Saya tidak tahu apakah film nasional masih unya kesempatan untuk bangkit lagi apalagi menghadapi zaman global. Hukumnya wajib bagi kita semua untuk melindungi film dan sinetron sebagai produksi budaya. ~~


Wednesday, August 26, 2026

NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH

 


NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH (berita lawas). Nafa Indria urbach atau lebih di kenal Nafa Urbach, perempuan berzodiak Gemini kelahiran Magelang, 15 Juni 1980. Ngomongin cita-citanya dimasa kecil yang ingin jadi dokter, Nafa menjelaskan, cita-citanya itu sudah dikubur jauh-jauh. 

Katanya, cita-cita jadi dokter sudah tak mungkin lagi berhasil diraihnya. Alasannya, ia sudah kadung cinta dengan profesinya baik sebagai penyanyi, pemain sinetron dan juga model iklan. "Waktu saya sekarang sudah tersita penuh untuk kegiatan seni, "ujar anak kedua dari tiga bersaudara hasil pasangan Ronald Walter Urbach (Jerman) dan Neneng Maria Kusuma (Magelang) ini. 

Memang benar, bagi Nafa hari-hari belakangan ini, jadwalnya memang super ketat. Diluar jam sekolah, pemilik tinggi 168 cm ini selalu disibukkan dengan jadwal show , syuting dan pemotretan. 

"Terkadang saya sering minta ijin untuk absen sekolah, karena jadwal suting atau pemotretan yang tabrakan, "paparnya. 

Menurut Nafa, ia tidak merasa malu pada guru atau teman-temannya di sekolah, karena ia sering absen. Begitu ia kembli ke bangku sekolah Nafa mengaku langsung ngebut belajarnya untuk mengejar ketertinggalan. 

"kenapa musti malu? Lagian guru-guru dan teman-teman di sekolah sudah memaklumi dengan profesi saya sekarang ini, "kata murid kelas 1 disalah satu SMU negeri di Jakarta ini. 

Ditambahkan Nafa, ia juga tidak merasa jadi manusia super. Artinya, meskipun sukses dibidang seni tak membuat hal itu terbebani harus pintar di sekolah. Dikelas ini Nafa mengaku kalau dirinya adalah murid yang biasa-biasa saja. 

"Kalau lagi ada satu pelajaran yang saya nggak bisa saya bilang pada teman atau guru kalau saya tidak mampu, "kata Nafa yang dihadiahi sedan Hyundai dari kesuksesan album ketiganya Hatiku Bagai Terpenjara itu. 

"Disekolah saya termasuk murid yang pandai benar nggak, dan gob lok banget juga nggak. Pokoknya biasa-biasa saja, deh!,"tegasnya. 

Masih soal karirnya, Nafa sekali lagi menegaskan ingin terjun total di bidang seni, ia sekarang mencanangkan dirinya tidak saja sukses sebagai penyanyi akan etapi ingin sukses juga di bidang akting dan bintang iklan. 

Dalam dunia sinetron ia membintangi Deru Debu, Kembalinya Si Manis 2, Cinta tak pernah berhutang dan lain-lain. ~MF 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996