IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2 (berita lawas). Gepeng Menikah !. Perkenalan dengan Supiah beberapa tahun kemudian, membawa mereka ke jenjang pernikahan. Waktu itu hari Minggu tanggal 18 Agustus 1971, Gepeng berusia 21 tahun sedang Supiah setahun lebih tua. Dan , di grup WO (Wayang Orang) Edi Budoyo ini pulalah Gepeng yagn nama aslinya Arismanto itu berganti nama jadi FREDDY. Sedang nama GEPENG sendiri baru ia gunakan setelah bergabung dengan Srimulat pimpinan Teguh atas usul isterinya di Solo.
Gepeng lantas ikut Tegus Srimulat dan tinggal di barak gudang lawak ini di dekat rerumputan liar di Balai Kambang Solo, 5 meter ari tempatnya melawak tiap malam. Gepeng belum punya nama. Disana ada seorang pelawak top yakni Pak Panggung.
Gaya pak Panggung memang khas sekali. Bicaranya terteteh-teteh, lebih-lebih kalau memakai bahasa Indonesia. Terus matanya merem melek dan kalau berjalan kakinya diseret-seret sembari mengibas-ibas sapu tangan atau serbet, properti khasnya.
Inilah gaya komedian yang kemudian diserap oleh Gepeng.Kalau Pak Panggung tidak naik arena untuk melawak, maka Teguh lalu memasang Gepeng agar fans pak Panggung yang melimpah itu tersedot sedikit. Honor pak Panggung waktu itu paling tinggi yakni Rp. 600,- sementara Gepeng memperoleh Rp. 250,- sampai Rp. 400,-. Tidak termasuk lemparan rokok dan uang saat mereka melawak.
Pada siang hari Gepeng selalu keluyuran ke daerah Taman Tirtonadi Balai Kambang itu dengan dada telanjang , tanpa alas kaki sembari melinting rokok, lalu sering terlibat mengajak ngobrol dengan Pak Panggung. Sayang , Pak Panggung kemudian meninggal karena penyakit bronkhitis dan Gepeng seperti kehilangan pegangan, tapi sebuah peluang terbuka.
Untung Srimulat hijrah ke Jakarta. Dan Untung Gepeng ikut memperkuat barisan lawak ini. Dan keajaiban semua ini ialah ketika Srimulat tampil di teve dan tanpa sengaja dari mulut Gepeng meluncur kalimat "Untung Ada Saya. Sejak itu hidup Gepeng beruntung. Sukses yang diraih Gepeng terlalu cepat dan ia sebenarnya belum akrab benar dengan Jakarta, dengan segala kehidupan, sanjungan serta harta yang melimpah dengan cepat. Kehidupan keseniannya lenyap.
Nenggak Alkohol!.
Bahkan Gepeng juga menggaet film dan ia jadi bintang istimewa dalam film-film "Gaya merayu", "Untung Ada Saya", "Gepeng Cari Untung" serta "Gepeng Bayar Kontan". Kebanyakan film-film ini mengeksploitasi kepopuleran dan citra komediannya habis-habisan secara ringan. Dan Gepeng agak kehilangan kontrol. Ia seperti membalas dendam atas kemiskinan yang pernah direguknya.
Kebiasaan buruknya tak kuasa ia lawan. Ia sering nampak mabuk-mabukan, dan dengan gaya aristokrat ia dengan ketawa menenggak alkohol berbotol-botol diiringi tepuk tangan dan layanan teman-temannya yang baru yang selalu melayani Gepeng. Perempuan demi perempuan yang mendekati dan membujuk tak kuasa ia tolak.
Puncak kehilangan irinya yakni ketika ia terlibat dalam pemilikan sebuah pistol yang konon menurut rekan dekatnya, "Gepeng ketakutan berada di mana-mana sehingga ia perlu berada dekat dengan orang-orang kuat atau benda yang bisa membuat ia sedikit tenang. "Lebih fatal lagi, Gepeng menceraikan istrinya yang selama ini lara menemani bintang lawak ini. Tak hanya istrinya yang dicerai, Srimulat yang membesarkan dirinya yang membuat perubahan hidupnya ia tinggalkan karena ia tak ingin hasil lawakannya yang populer itu dinikmati banyak orang termasuk boss dimana ia bekerja. "Saya ingin mandiri dan meraih apa yang saya hasilkan ,"ucapnya.
Diam-diam Gepeng seperti mencari musuh diantara rekannya sendiri. Ia juga menjadi boss dari pertunjukkannya yang ia beli setelah kaya dan mengusahakan hiburan lawak sendiri di Semarang dan Solo.
Namun Gepeng bukan seorang pengusaha, bukan seorang bisnis apalagi boss yang baik, Gepeng lupa bahwa ia sebenarnya seorang komedian berbakat cemerlang. Ia lupa itu.
Maka, Syahdan, roda nasib berputar lagi. pertunjukkan Gepeng sepi. Duit banyak eluar dan tawaran tak lagi melimpah. Seperti sebuah film pendidikan, maka dalam keadaan begini kesadaranpun datang.
Supiah, mantan istrinya lalu dinikahi lagi. Ia kembali ke pabrik tawa Srimulat dan berjanji akan merubah hidupnya. Tubuhnya tak lagi Gepeng seperti ketika ia bergabung dengan Srimulat. Dan tubuh inilah yang tak mau kompromi. Levernya membengkak, menggerogoti usianya dan tampak pada adegan inilah Gepeng terpaksa menyerah pada nasib.
Dalam usia 30 tahun, saat pulih kesadarannya untuk berbuat baik, Gepeng meninggalkan istrinya Supiah, 4 orang puteranya , Tatang (Sekolah di SMP), Nanang, Putri dan Ayu duduk di SD serta kita sekalian, yang pernah terhibur oleh lawakannya serta dengan rela memberi tepuk tangan gegap gempita kepada almarhum Gepeng.
Barangkali ungkapan sekarang ini (Tidak) Untung. (Tidak) Ada Gepeng! Betapapun ia pernah menjadi fenomena. Selamat Jalan Peng. ~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988
**Dari dua bagian tulisan ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, hikmah yang bisa kita ambil atas perjalanan seorang Gepeng.







