Sunday, May 3, 2026

SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN


 SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN. Gara-gara manipulasi di perusahaannya bekerja terbongkar, Supandi di pecat. Terpaksa ia pulang kampung dengan membawa isterinya. Amalia. Saat menggali sumur, Pandi menemukan satu kepala manusia yang sepasang matanya memancarkan sinar. Pandi diperbudak oleh kepala manusia berhawa jahat ini. 

Di ungkapkan kisah puluhan tahun lalu. Tarjo difitnah oleh saudara seperguruannya sendiri, Parman. Kekbalan tubuh Tarjo di punahkan oleh Parman dengan cara mengolesi goloknya memakai darah perawan Ijah, adik kandung Tarjo sendiri. Tarjo dipenggal. Kepalanya menggelinding jatuh ke jurang yang kemudian tertimbun oleh tanah longsor. Kepala Tarjo yang masih tetap utuh inilh yang sekarang menuntut balas dengan memperalat Pandi. 

Musuh-musuh Tarjo yang masih hidup satu persatu menemui kematian mengerikan, bahkan juga keluarganya. Juragan Parman yang kaya raya menuduh Mak Ijah, gelandangan tua, sebagai si pembunuh. Untung ada Ustadz Jayusman, guru silat yang membela Mak Ijah. 

Keganasan Tarjo semakin menjadi karena ia selalu haus darah. Tak puas cuma kepalanya yang bergentayangan, ia ingin bersatu lagi dengan tubuhnya. Pandi harus menggali kuburnya. Tepat pada saat itulah menyerbu Parman. Datang pula Amalia, Mak Ijah dan Jayusman yang bertekan mengakhiri teror horor kepala Tarjo. 

Film Produksi PT. Kanta Indah Film ini diangkat dari novel Abdullah Harahap yang memang sudah banyak menulis cerita seram. Di dukung oleh bintang-bintang campuran Indonesia-Malaysia, Hengky Tornando, Raja Ema, Sutrisno Wijaya, Wenny Rosaline, Ferry Irawan dan M. Rojali. 

Tak ketinggalan Torro Margens yang selain menyutradarai juga ikut berperan sebagai sang ustadz. Lewat mulutnya berucap "Kepala Tarjo yang kita lihat hanyalah wujud pinjaman setan. Menjelang akhir hidupnya ia menyerah pada kemauan setan. Dan setelah itulah yang kini berkeliaran melakukan pembantaian di sana sini sebagai imbalan penyerahan Tarjo. Jadi masalahnya berpulang pada manusia sendiri. Kekuatan mana yang ingin diraihnya dalam hidup ini. Iman kepada Tuhan atau menyerah pada kemauan Setan?.

Pada penutup film dibacakan surat Al Hijr ayat 39 yang artinya "Setan takkan pernah menyerah. Dia akan datang lagi setiap saat untuk menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Dan dia pantang menyerah, kecuali oleh orang-orang yang beriman!".


Saturday, May 2, 2026

SENTUHAN KASIH

 


SENTUHAN KASIH

Tema : Drama

Produksi : PT. Inem Film

Produser : Ny. Leonita Sutipo dan Sonny Effendy

Skenario/Sutradara : Willy Wilianto

Sinefotografi : Bambang Trimakno

Penyunting : Mulyadi

Pemain : Dian Ariesta, Minati Atmanegara, Zulferdi Amos, WD Mochtar, Wolly Sutinah, Pietrajaya Burnama, Pong Harjatmo, Hadisyam Tahax


Cerita : 

Arie (Dian Ariestya) hidup berdua dengan ibu kandungnya, Susi (Minati Atmanegara). Mereka menolong seorang lelaki tua, Darma (Hadisyam Tahax) yang numpang tidur di rumah. Dan kemudian Darma dijadikan pembantu rumah tangga sementara. 

Pada suatu hari nafsu jahat Darma timbul. Ia memperkosa Arie! dan ketika coba mengganggu Susi, Darma ditikam mati oleh Arie. Demi untuk menolong anaknya, Susi cepat merebut pisau berdarah itu, agar dikira polisi bahwa dialah pembunuhnya. 

Susi ditangkap dan ditahan polisi, akan diajukan ke pengadilan.  Sementara itu Arie mencari pekerjaan, untuk mendapatkan uang guna membiayai pengacara. 

Pertama-tama Arie kerja di rumah Tuan Herman (A Hamid Arif) seorang duda tua. Tuan Herman jatuh cinta dengan Arie. Dan diterima karena dia janji akan menolong Susi. Mulai saat itu Tuan Herman banyak makan obat kuat, padahal ia mengidap penyakit jantung. Akhirnya ketika birahinya bergejolak terhadap Arie, Tuan herman meninggal karena overdosis makan obat kuat. 

Arie ganti kerja pada Benny (WD Mochtar), seorang dukun modern. Benny juga jatuh cinta pada Arie. Juga diterima dengan baik, karena janji mau menolong Susi. Tapi Benny ternyata mengecewakan Arie, karena ia sering berbuat yang tidak-tidak kepada para pasien wanitanya. Pada akhirnya Benny ditangkap polisi karena mengganggu pasiennya seorang wanita yang masih bersuami. 

Arie cari pekerjaan lain. Dalam pengembaraannya ia ketemu dengan Teddy (Pong Harjatmo) seorang mahasiswa putra pengacara terkenal Gani Sembada SH (Pietrajaya Burnama).  Teddy jatuh cinta pada Arie. Ayah Teddy menolong Arie, mengurus perkara Susi. Tapi ternyata sewaktu mereka akan besuk Susi, wanita yang malang itu telah di bebaskan dari penjara!. 

Gani Sembada SH yang akhirnya mengenali Susi mengatakan bahwa Susi dibebaskan karena Darma yang dibunuh ternyata seorang buronan polisi. Seorang Residivis yang berbahaya. Arie dan Ibunya sangat merasa bahagia. 


Ada yang pernah menontonnya?


LAURA SI TARZAN, LAWAN AMASON DI RIMBA


 LAURA SI TARZAN, LAWAN AMASON DI RIMBA, Ada pesawat jatuh ke rimba belantara. Satu-satunya yang hidup cuma Laura, si gadis cilik. Tahu-tahu dia sudah tumbuh dewasa dan bergelayutan dari pohon ke pohon sebagai Tarzanita. 

Datang rombongan ekspedisi dipimpin Profesor Kribo. Mereka terjebak suku Amazon yang terdiri dari wanita-wanita buas. Ada yang diperkosa rame-rame, ada pula yang di bantai untuk pesta. 

Johny , anak profesor, mengajak pemuda-pemuda kawannya untuk menyusul. Menerobos rimba dengan dua jeep. Juga tertawan oleh suku Amazon. Kecuali Johny yang keburu diselamatkan Laura. Rupanya si Tarzanita jatuh hati pada pemuda yang tubuhnya penuh tatoo ini. 

Sisa rombongan ekspedisi kudu ditolong. Namun suku Amazon tak membiarkan mereka kabur begitu saja. Terjadi pengejaran ditengah malam gelap gulita. baku bunuh ngawur-ngawuran. Satu persatu roboh termasuk si professor dan semua pemuda. Begitu pula halnya dengan suku Amazon, punah habis. Sekarang cuma tinggal Laura dan Johny yang menghuni rimba itu. 

MENGUMBAR NAFSU. Inilah film arahan pertama Willy Willianto setelah menyelesaikan masa skorsingnya. Masih sama  seperti film-filmnya di Inem dulu, untuk produk Budiana inipun, ia tetap mengumbar nafsu vulgar. Sebarisan cewek figuran yang bermain sebagai suku Amazon harus bergumul dengan busana sekedar rumbai-rumbai daun kering belaka. Dan astaga, ternyata suku Amazon yang antah berantah ini dipimpin oleh ... Ully Artha!.

Laura diperankan oleh Wieke WIdowati yagn sebagai Tarzanita tak punya pasukan binatang. Dalam rimba Pangandaran dan Pelabuhan Ratu memang tak ada gajah dan macan. Jadi kerja Laura cuma bergelayutan dan mengintai kegiatan suku Amazon saja, belakangan ditambah dengan pacaran dengan Johny Indo, pemeran anak profesor. Sang profesor sendiri dibawakan langsung oleh Willy Wilianto yang rambut aslinya memang keriting kribo. 

Untuk ngeramein ikutan main pula bintang-bintang langganan Budiana seperti George Rudy, Baron Hermanto, Emmy Husein, Sherly Sarita, Herman Permana, Hengky Naro, plus belasan cewek figuran yagn bermodalkan keberanian pamer tubuh! . ~sumber MF 109/77 Tahun VI, 1 -14 September 1990

Friday, May 1, 2026

SAMSUL GONDHO , PEMERAN BASIR DALAM MISTERI GUNUNG MERAPI


 SAMSUL GONDHO , PEMERAN BASIR DALAM MISTERI GUNUNG MERAPI, (Berita Lawas), Dalam sinetron Misteri Gunung Merapi, Samsul Gondho berperan sebagai Basir, tokoh yang selalu menemani Sembara . Perannya sebagai tokoh Basir itu, kerap mengundang perasaan gemas para pemirsa khususnya yang setia megikuti sinetron Misteri Gunung Merapi ini. Peran mereka dalam sinetron itu terlihat kompak. Namun, menurutnya, dulu, Samsul Gondho pernah merasa was-was ketika tahu lawan mainnya adalah Marcellino. 

"Sebelumnya saya memang sudah tau siapa Marcellino, dia itu seorang model dan pemain sinetron. Tapi saya kenal di abaru di sinetron Misteri Gunung Merapi ini. Jujur saja awalnya saya cukp merasa was-was juga begitu tahu kalau teman main saya dalam sinetron ini adalah Marcel," cerita Samsul Gondho. 

"Waktu itu saya berpikir, kira-kira enak nggak ya, Marcel diajak kerjasamanya," kata Samsul yang mengenyam pendidikan seni peran di IKJ ini. 

"Saya kuatir, kalau tidak ada kekompakan diantara kami, wah,... bisa berabe, " tutur pemuda kelahiran Jepara, November 1973 ini. 

Untuk menangkal semua itu, Samsul yang pernah membintangi iklan Komix dan Wendy's ini, berusaha mendekati dan mencoba akrab dengan calon mitranya itu. "Ternyata, Marcel itu seorang yang lumayan asik buat diajak ngobrol. Bukan cuma itu, ternyata ia juga punya rasa sosial cukup tinggi, " aku pria bertubuh besar yang gemar berolahraga bulutangkis ini. 

Menurut Samsul Gondho pula, bak kata pepatah, " Tak kenal maka tak sayang. "Sebelum kita mengenal seseorang, biasanya belum ada rasa sayang dalam diri kita terhadap orang tersebut. Tapi kalau kita sudah kenal dan tau siapa dia, otomatis kita akan memliki rasa sayang terhadapnya, Tentunya sayang sebatas teman lho, " ujar pemuda yang bercita-cita berbisnis di binag meubel ini. ~Majalah Kartini

Thursday, April 30, 2026

MARCELLINO, PEMERAN SEMBARA


 MARCELLINO, PEMERAN SEMBARA, (Berita Lawas), Marcellino, perannya sebagai Sembara, pemuda berilmu tinggi dalam sinetron Misteri Gunung merapi ternyata mampu membuat kagum para penggemarnya. Marcellino, pria kelahiran Jakarta, 21 Mei 1974 yang mengawali karirnya lewat dunia modelling, dinilai cukup pas dalam memerankan tokoh tersebut. 

Ketika Marcellino masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia pernah mengikuti sandiwara radio yang cukup terkenal ketika itu, yakni Misteri dari Gunung Merapi dengan sembara sebagai tokoh pendekar yang selalu ditunggu kehadirannya. 

"Saya pernah mengikuti sandiwara itu diradio, tapi bukan berarti saya ngefans berat. Hanya sekedar tahu saja, " katanya. 

Namun ia tidak menyangka sama sekali, ketika cerita itu akhirnya diangkat menjadi sebuah sinetron seri, ia yang ditawari untuk memerankan tokoh Sembara. Barangkali, karena ia sudah 'mengenal' tokoh itu sejak kecil dulu, mak aiapun bisa menjiwai karakter tokoh sembara dengan cukup baik. Suara dan pakaiannya yang khas serta sifat kepahlawanan yang tinggi, membuat penonton terlena dengan sosok Sembara yagn diperankannya. 

Lantas, bagaimana dengan sikap kedua orang tuanya terhadap semua kegiatan yang dilakukannya selama ini?

"Sejak dulu, mereka tidak pernah melarang saya ikut dalam berbagai kegiatan nilai positif, mereka akan tetap memberikan kebebasan. Menurut mereka, saya ini sudah dewasa, jadi sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, " tutur Marcel yang sudah 'kadung kepincut' di dunia seni peran. 

Meski menurutnya , ia sudah 'kadung kepincut' di dunia seni peran, namun menurut Marcell, ketertarikannya bermain dalam sinetron  "Misteri Gunung Merapi" itu, lebih disebabkan oleh keinginannya untuk mengetahi suka dukanya ikut bereran dalam sinetron laga. 

"Saya memang bnar-benar ingin merasakan, bagaimana suka dukanya ikut terlibat dalam pembuatan sinetron laga. Tentu berbeda dengan sinetron drama. Sebab dalam sinetron laga kita harus berkonsentrasi tinggi, tidak boleh main-main. Jika tidak hati-hati kita bisa terpukul oleh lawan main kita sendiri, " komentar Marcel. "Pernah juga saya kena pukul , tapi itu biasa. Dan menurut saya itu kesalahan kita. kalau kita serius dan hati-hati, tentu tidak akan terjadi, " tambah Marcel yang ternyata cukup menguasai olahraga beladiri Tae Kwon Do ini. 

Marcellino di temui di sela-sela suting Misteri Gunung Merapi  yang saat itu suting tengah dilakukan di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Dan siang itu Marcel tampak gagah dengan pakain pendekarnya. 

"Bila mereka melihat saya berpakaian seperti ini, mereka lebih mengenal saya sebagai Sembara daripada Marcelino. Apalagi kalau mereka datang ke lokasi suting, mereka selalu memanggil saya Sembara. .. Sembara, " kata sang pendekar yang selalu berprinsip  "jalani kehidupan ini apa adanya. Selami dunia ini dan jangan berhenti untuk belajar". ~ Majalah Kartini nomor milenium 2007-  6 sampai 20 April 2000

Wednesday, April 29, 2026

BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU


 BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU, (Berita lawas). Nampak, ia anak yang berani. Omongannya ceplas ceplos, seperti orang yang sudah terlatih. Tubuhnya subur, energik dan gamang bergaul dengan siapa saja. Banyak orang yang tak tahu, ternyata dia putra sutradara Eros Djarot. 

Banyu Biru, lewat Pak Denya, Slamet Rahardjo, ia pertama kali diajak main film. Tak tanggung-tanggung memang, ia langsung mendapat peran utama dalam film Langitku Rumahku, sebagai Andry. Perannya sebagai anakorang kaya yang sudak bergaul dengan anak-anak kampung, ternyata sosok keseharian bocah yang baru berumur 11 tahun. 

"Bergaul dengan anak kampung enak saja. Mereka nggak norak, " tegas Banyu Biru dengan tegas. 

Ia kini duduk di bangku kelas I SMP Al Azhar Pusat. Barangkali karena ia putra seorang sutradara dan hidup dilingkungan orang film, ia tak merasa canggung main film. Tak juga canggung berteman dan bergaul dengan anak kampung. Tapi bagaimana rasanya bermain film untuk pertama kalinya?.

"Asik saja. Bebas kalau ngasih pengarahan. pak De sangat gampang. Jadinya ya enak. Soalnya sama Pak De sendiri sih. Jadi lebih saudara gitu, lebih gampang ngerti," jelas Banyu dengan nada bicara yang bersemangat. 

Banyu punya keinginan, kalau dapat kesempatan main film, ia akan main film terus. Tentu saja tetap mementingkan sekolahnya. Lalu soal honor bagaimana? "Honor. NGapain? Saya cuman dikasih uang saku sama Pak De. Setiap hari saya terima uang jajan sebesar Rp. 2.500, Itu juga kalau pergi keluar kota. Kalau di Jakarta sih itu tanggungan papa, " ungkap Banyu Biru ceplas ceplos. 

"Selama pembuatan film itu, saya lebih banyak mendapat pengarahan Pak De. Papa sih banyak urusan. Waktu suting di Surabaya saja papa pas pergi ke luar negeri," cerita Banyu yang dilahirkan tanggal 19 Maret 1979. 

Ternyata, bocah bernama Banyu Biru ini sepertinya sudah akrab dengan dunia film, sehingga untuk berakting di depan kamerapun ia tak merasa canggung. "Untuk akting saya cuman dikasih tahu saja perasaan bagaimana harus senang. Nggak pernah dikasih tahu gerak-geraknya bagaimana. Nangis harus bagaimana perasaannya. Cuman itu saja, " jelas pemeran Andry yang dalam film itu memaksa orang-orang untuk memanggil namanya dengan Bung Kecil. 

Kalau melihat penampilan Banyu dalam film Langitku Rumahku barangkali tak percaya kalau anak itu baru main film untuk pertama kalinya, ia begitu wajar melakoni tokoh Andry anak orang kaya yang bergaul dengan seorang pemulung bernama Gempol. Mungkin saja kewajaran itu muncul karena sang sutradara tak mau menggarap karakter anak itu secara berlebih-lebihan, apa adanya di pakai saja. 

Kewajaran anak itu menghadapi kamera sama dengan kehidupannya sehari-hari, Cerdas, enerjik, solidaritas tinggi dan mudah bergaul, Begitu kesan yang bisa dapat. Tapi apa sebenarnya yang tersembunyi dibalik nama itu?

"Itu yang ngasih Pak De. Banyu Biru maksudnya dimana ada air, disitu ada kemakmuran, " jelas bocah yang punya hobby renang, menggambar dan baca buku ini meyakinkan. ~MF109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990

Tuesday, April 28, 2026

LENONG RUMPI, KOMEDI "KOST" ALA BETAWI


 LENONG RUMPI, KOMEDI "KOST" ALA BETAWI (Berita Lawas). Sejak Medio tahun 1990, Lenong Rumpi (LR) mulai di tayangkan di RCTI. Maka sejak itu pulalah bertambah satu lagi kelompok orang-orang jenaka yang berprofesi sebagai pengocok perut. Dalam waktu relatif singkat, grup lawak ini berhasil melejit menjadi tontonan kegemaran masyarakat ibukota. Bahkan boleh dibilang sudah mampu menyaingi grup-grup senior seperti Warkop DKI atau bagito - yang kini berada pada papan teratas percaturan dunia lawak. 

Tidak heran kalau kemudian Raam Punjabi produser PT. Parkit Films yang tersohor kejeliannya, menarik mereka untuk  bermain dalam film produksinya. Problema utamanya , kalau untuk penayangan di RCTI cuma 30 menit (minus iklan), maka kini untuk sebuah film bioskop membutuhkan tempo sampai 90 menit. berarti hampir tiga kali lipat. 

Dan tentu saja bukanlah merupakan cerita pendek yang sengaja di ulur-ulur menjadi panjang. Maka, Harry De Fretes sebagai pimpinan LR bekerjasama dengan sutradara Yazman Yazid menggarap satu cerita utuh dengan peluang-peluang improvisasi di sana sini. 

Sebagai benang merah cerita adalah sebuah rumah kost. Induk semangnya, suami istri Marulloh - Hamide (Robby Tumewu - Ira Wibowo) . Nama asli Marulloh sebenarnya Liong A Soe, namun ia sudah resmi ganti nama menjadi Steve Marulloh, Pasal nama ini sempat diributkan Hamide yang pin-pin bo, "Ngapain pake nama Setip-setip segala, nggak pensil sekalian?!.

Penampilan Ira sebagai Hamide yang selalu berkain kebaya dan berkaos kaki seperti lagi meriang ini, memang sangat berbeda dengan sosok Ira dalam suma film sebelumnya. 

Anak-anak kostnya berasal dari berbagai suku, Bonny (Harry De Fretes) yang Sunda, Mungky (Debby Sahertian) yang Manado, Niar (Era Gloria) yang Padang, Juwita (Ade Libertifa) yang Irian dan Tariganov (Jimmy Gideon) yang Indon Batak Rusia. 

Dengan anak semang beraneka ragam ini, bertaburanlah kelucuan dalam setiap adegan. Tapi pada dasarnya, cerita film ini bisa dibagi menjadi dua babak. 

Pertama, cerita datangnya Bonny, Mungki dan Niar kerumah kost Marulloh. Persyaratan agar bisa diterima sangat unik, berdalih demi kebudayaan Betawi, maka sehari-hari mereka semua harus berbahasa Betawi. Kendati serba kikuk, ketiganya berusaha ngomong Betawian sebisanya.  Klimaks terjadi pada saat Marulloh memerintahkan mereka  membuat bak sampah. Tengah malam dibongkar lagi oleh Bony yang hehilangan cincin pusakanya . Padahal cincin itu diikuti oleh Hamide.

Kedua, Bony bertiga ikut Kuis tetangga Baik yang diselenggarakan oleh Radio ABS. Kesempatan ketika Marulloh dan Halime main Lenong di studio TV digunakan oleh Bony dan Mungki untuk menyamar sebagai mereka. Kekacauan terjadi karena dua anak kost lainnya Juwita dan Tariganov ikutan menyamar sebagai orang jompo. Tapi semua muslihat mereka terbongkar oleh Marulloh ang pulang mendadak. 

Ketiga, Marulloh yang tak bisa menghilangkan hobi ngintip orang mandi, minta petunjuk teman lamanya, Mawi yang pernah menuntut ilmu di Banten. Tariganov berhasil menyadap pembicaraan telepon mereka. Lalu si usil Bony, nimbrung mengajarkan cara menghilang. Marulloh mempraktekkan ajaran sesat tersebut. Berbugil berjingkrakan, mengira Bony semua tak bisa melihatnya. Puncak kelucuan terjadi saat Marulloh yang bugil dipergoki Mpok Siti mertuanya sendiri. 

Kendati hampir keseluruhan pemain (kecuali Ira Wibowo) baru untuk pertama kalinya main film, namun karena sudah sering melenong di televisi dan panggung, maka mereka pun nampak tak begitu canggung lagi. 

SUTING TERAKHIR "TAKSI"


 SUTING TERAKHIR"TAKSI", (Berita Lawas). Larut malam di minggu ketiga bulan Agustus 1990, ada kesibukan di jalan Blora. Sebuah taksi "Kosti" mondar mandir di jalan itu sampai belasan kali. Diamati dengan cermat dari pinggiran oleh belasan orang. Ternyata sopir taksi yang berpotongan rambut crewcut itu bukan lain daripada Rano karno. Sedangkan yang terus memberikan pengarahan adalah sutradara Arifin C Noer, lalu yang terus mengintip dari lubang intai kamera adalah kamerawan George Kamarullah. 

Itulah suting terakhir film gressnya Arifin, "Taksi" yang diangkat dari cerbernya Eddy Suhendro di harian "Kompas". Suting baru rampung pada pukul 03.00 dinihari, menjelang subuh!. Hebatnya, para pemain dan kru tak menampakkan tanda-tanda kepayahan. Tapi diatas mereka semua adalah Rahma Melati, seorang bocah yang baru berusia setahun, yang menjadi maskot film ini. 

"Melati benar-benar boleh dibilang bayi ajaib. Tidak kalah dengan si Michelle, bayi perempuan yang pintar sekali (dalam komedi serial TV "Fullhouse). Semua kami jatuh hati pada anak ini, cetus Hengky Solaiman produser pelaksana PT. Raviman Film. 

Rencana semula hendak memasang anak Ikang Fawzi-Marissa Haque, tai dibatalkan,diganti Rahma Melati ini. "Bukan anak orang film, anak orang biasa saja kok, " ujar Rano yang sering gemas pada si kecil. Maklum sejak lama sekali sudah mendambakan kepingin punya momongan, tapi belum juta terkabul. "Anak ini kelewat menyenangkan, cepat sekali akrab dengan saya.".

Dalam ceritanya, Rano jadi sopir taksi Giyon, suatu malam mengantar seorang wanita ke klab. Wanita itu, Dessy (Meriam Bellina) sebenarnya seorang biduanita. Lama tak keluar lagi, Giyon tak sabaran menunggu, menjalankan taksinya untuk cari muatan baru. Padahal di belakang ada anak Dessy yang tidur lelap. Maka terbawalah si bayi menjadi beban sisopir taksi. 

Sepanjang suting, Melati didampingi babysitternya, selain tertawa dan bercanda riang. Justru suatu sat ia diharuskan menangis. Tentu saja Arifin tak bisa memerintahkan, "Ayo kamu harus berakting menangis. Apa akal?.

Jajang Pamontjak alias nyonya sutradara yang magang sebagai scriptgirl (pencatat adegan) bertindak cepat, diam-diam mencubit paha Melati. Karuan saja ia menangis kesakitan. Kesempatan ini buru-buru digunakan Rano untuk berakting. 

Ketika adegan menangis harus diulang. Jajang pun mau cubit lagi. Kendati maklum Jajang melakukannya karena terpaksa , namun terlanjur sayang pada Melati, tak urung Rano mendesis "Sadis lu! Anak orang dicubitin terus!. 

Akting Rano yang lain dari biasanya dalam film ini. ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990