Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH (Film Lawas). Rumah tinggal Wawan dan Suci adalah sebuah rumah tembok sederhana. Memang tidak mewah tapi ditata cukup serasi. Di pojokan, dalam cahaya temaram, Wwan sedang menenggak minumannya. Wajahnya sangat muram. Matanya merah sayu. Sudah setengah teler tapi masih belum mau berhenti minum. 

Suci keluar dari ruang dalam. Memperhatikan keadaan Wawan, ia merasa sangat iba, mendekat untuk menghibur tapi Wawan sama sekali tak mengacuhkannya. 

"Apa sesudah minum sampai mabuk segala keruwetan Mas Wawan bisa hilang?" tanya Suci hati-hati. 

Wawan menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke sandaran kursi. "Jangan ganggu gua!" cetusnya ketus. 

"Apa tidak lebih baik kita sama-sama pecahkan, kalau memang keruwetan itu sangat membebani mas Wawan?" saran Suci. 

Malah kena bentak Wawan, "Gua bilang jangan Ganggu!".

"Mas?" tegur Suci. 

Wawan meluap murka menyambitkan gelas ditangannya sampai pecah berderai mengenai tembok. Suci terbeliak.  Wawan menceracau, "Semua orang mendesak gua, semua orang sok mau kasih nasihat sama gua! Enggak ada yang mau mengerti gua! Biar setan demit juga kagak bakal bisa! Ini urusan gua! lalu mendelik kearah Suci yang mulai ketakutan. "Apalagi perepuan, ada yang bisa dia pikir kecuali airmata? Sok mau kasih nasihat, anjing semuanya! Bangsat semuanya! Mampus lu ambulans tengik, biar nabrak pohon lu!".

Dengan perasaan kacau Wawan menyapu semua botol minuman dan gelas yang ada diatas meja sampai berantakan di lantai. Wawan tersengguk-sengguk sambil menangkupkan wajah ke tembok. 

Suci menitikkan airmatanya, hati-hati mendekat dan mengelus rambut Wawan. Tapi Wawan menyentakkan tangan Suci dengan kasar, lalu mengangkat tangannya ingin menampar. 

"Pukul! kalau itu memang bisa memuaskan amarah Mas Wawan,  tantang Suci. "Asal sesudah itu Mas Wawan bisa tenang".

Tangan Wawan bagai membeku ditengah udara. Matanya yang merah masih tetap nyalang. Tapi perlahan tangannya turun, kemudian berganti memeluk Suci dan mulai menangis seperti anak mengadu kepada ibunya, "Gua nggak sengaja bunuh orang."

Suci terperangah, tapi tangannya mengelus kepala Wawan dengan penuh pengertian. 

Demi Tuhan, gadis itu mau lari, sirene ambulans sialan, "tutur Wawan. "Gua selalu diburu rasa salah. Gua pengin tobat tapi agama mana yang mau terima maaf bajingan macam gua?".

"Yang mengampuni tobat bukan agama, Mas, yang mengampuni dosa cuma Tuhan, "

"Dosa yang lain mungkin bisa, tapi tidak bagi pembunuh macam gua">

"Waktu anak-anak saya pernah mengaji, guru agama itu bilang, bahwa Gusti Allah akan mengampuni dosa-dosa umatNya kalau dia benar-benar tobat biar dosa itu selebar jagad seluas langit, "desah Suci. 

Pelan Wawan melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah Suci yang memberikan harapan dengan senyum penuh kasih.

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN(Film Lawas). Upacara pemakaman Mariana berjalan khidmat, Seluruh Keluarga dan kerabat hadir dalam kedukaan. Terlebih-lebih sang Ibu, berkali-kali meraung dan jatuh pingsan. 

Tapi kedukaan yang paling mendalam justru pada seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Daniel. Ya, dialah yang paling berduka, karena Mariana adalah tunangannya, bahkan beberapa hari lagi sudah akan melangsungkan pernikahan. 

Dengan tabah Daniel memapah calon mertuanya menyiramkan kembang ke pusara sang kekasih tercinta. 

Jauh diujung kerumunan para pelayat terlihat seorang pemuda berwajah hitam sendirian menekuri sebuah makam lain. Wawan! Ia berpura-pura saja sedang berziarah, padahal memang sengaja datang untuk menghadiri upacara pemakaman Mariana gadis korbannya. 

Wajah kuyu, penuh penyesalan. Tangannya memegang seikat bunga yang terangkai cantik.  Lambat laun para pelayat berjalan meninggalkan makam Mariana. 

Setelah ayah, ibu almarhumah berlalu, tinggallah Daniel yang dengan hati berat membelai nisan baru bertuliskan : 

MARIANA

Lahir 14 Juni 1963 

Wafat 21 Mei 1985

Daniel terpekur. Mulutnya komat kamit membacakan doa. Setelah selesai baru bangkit dan berjalan menyusul calon mertuanya. 

Wawan pura-pura sedang khusuk, menunduk terus, ketika rombongan pelayat melewatinya. 

"Kasihan Daniel, " keluh ibu Mariana. "Tuhan, sebulan lagi mereka akan menikah, kenapa Kau panggil si Ana?".

"Jangan meratap terus ma, " bujuk suaminya. "Semua sudah takdir.

"Ana dibunuh bajingan, pa!".

"Ya, itu takdir, Tuhan takdirkan kematian seperti itu, mungkin untuk peringatan buat kita,  tawakal si ayah. 

Wawan semakin menunduk mendengar percakapan mereka, diam-diam matanya melirik kearah kubur Mariana. 

Terlihat Daniel bangkit berdiri, menyeka matanya dengan punggung tangan, lalu berjalan melintasi Wawan yang masih tetap jongkok.

Setelah suasana sekelilingnya benar-benar sepi, Wawan bangkit. Langkah kakinya berat sekali mendekati timbunan tanah merah penuh karangan bunga itu. 

Matanya sudh memerah ketika berjongkok. Ikatan bunganya diletakkan di depan nisan dengan hati-hati. "Demi Tuhan, gua minta maaf, gua nggak bermaksud membunuh, gua bukan pembunuh, tapi kenapa kamu lari waktu itu?" desahnya. "Gua panik, sumpah!Terkutuk kalau bohong. 

Dekat gerbang taman pemakaman, diantara mobil yang diparkir, berdiri Usin Tato, Adul, Rudi, Koming dan lain-lainnya lagi. Mereka mengawasi apa yang dilakukan Wawan dari kejauhan. 

"Udah gila kali dia," gumam Usin Tato kesal. "Pakai ngelayat lagi! Monyong! Nah gua yang empot-empotan!".

Rudi berdesah," Dia benar-benar nyesal, Bang, dari semalam, Mas Wwan uring-uringan terus."

"Ah, cengeng!" cela Usin Tato, Kalau mau jadi kyai, kyai sekalian! Sok nggak mau membunuh! Kita kan bajingan, masalahnya kalau nggak membunuh ya dibunuh, itu risiko!."

Si Raja Kunci campur bicara, " Tapi selama ini memang dia tidak pernah melakukannya, Boss, melukai orangpun ibarat kata nggak pernah. Dan harus kita akui, bahwa operasi dia selalu sukses,"

Usin Tato mengakui, "Memang sih, tapi  yang dia lakukan kemarin kan karena terpaksa."

Wawan tak mendengarkan pembicaraan mereka, terlalu khusuk berdoa di depan nisan gadis korbannya, Tuhan masukkan dia dalam sorga, biar semua dosa-dosa dia punya, saya yang tanggung, Tuhan kabulkan doa saya, "

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel. 

Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".

"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang. 

"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu. 

Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "

Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah. 

Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara. 

Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis. 

Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."

Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."

"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu. 

Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.

Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan. 

Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya. 

Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah. 

Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".

Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi. 

Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya. 

Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya. 

Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".

"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak. 

"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk. 

Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".

Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas. 

"Buka, Cepat! perintah Wawan. 

Si Nyonya menggeleng keras. 

Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar. 

"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan. 

Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas. 

Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya. 

Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi. 

Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu. 

Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya. 

Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan. 

Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".

Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini. 

Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil. 

Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik. 

Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari. 

Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!. 

Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu. 

Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung. 

Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah. 

Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka. 

Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal. 

Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek. 

Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur. 

Kali ini Rudi yang menyetir. 

Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara. 

Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali. 

*******Bersambung


ELLY ERMAWATIE, MENATA KARIER

 


ELLY ERMAWATIE(berita lawas) . Elly Ermawatie tertidur lelap di gubung setting, menunggu giliran sut Baron Hermanto dan kawan-kawan dalam film "Lima Harimau Nusantara" arahan Pietrajaya Burnama, yang sepenuhnya dipercayakan pada Setiadi Rimba sebagai Asstrada. 

Ia terjaga ari tidurnya ketika Sang Sutradara memanggil giliran sut, menjelang subuh di komplek Balong Dalem Kuningan, Jawa Barat. Itulah resiko sebagai artis film, kita sudah siap tempur menunggunya lama sekali bahkan terkadang tidak  jadi suting gara-gara cuaca tidak mendukung, tapi itu bukan kemauan kita kan, kilah Elly

Sang tokoh 'Mantili' ini mengaku baru enam kali berlaga di dunia film antaranya Saur Sepuh I sd III, Tutur Tinular, Djago, dan juga Lima Harimau Nusantara

Ia terjun ke film berawal dari Sandiwara Radio "Saur Sepuh" atas permintaan PT. Kanta Film. "Sungguh saya banyak belajar dari pengalaman dan banyak mengenal karakter insan-insan film, mereka kerja kolektif, satu sama lain saling menopang dan kekeluargaan, "tutur anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Siswoyo dan Sulistiah. 

"Main film ternyata enggak gampang kok, saya punya pengalaman pahit dan menjadi kenangan tersendiri. Pengalaman itu ketika suting "Saur Sepuh III", saya jatuh dari ketinggian empat meter. Tapi saya tidak jera, itu sudah risiko pemain dan ketika melihat hasilnya, ternyata tidak sia-sia dan kata orang cukup bagus, " ujar jebolan "Extension" ASMI yang terlahir 19 Desember silam tapi tahunnya dirahasiakan. 

Elly Ermawatie yang berangkat dari Sanggar Prativi ini  selalu berusaha main sebaik mungkin di film apapun tak ada bedanya agar penonton merasa puas terhadap penampilan kita, tuturnya. 

Sebagai pemain bukan hanya sekedar main toh, tapi harus punya tanggungjawab dan rasa memiliki dan saya sendiri selain hobby, film ini sudah jadi profesi dan elama masih dibutuhkan saya siap, ujar aktris yang selalu sibuk diluar suting antaranya sebagai MC, rekaman lagu, sandiwara radio dan sesekali renang dan senam. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK

 


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK (berita lawas). Seusai merampungkan "Kanan Kiri OK 3" menjelang akhir tahun 1990, Ida Iasha seperti menghilang dari pemberitaan. "Ya memang saya mengundurkan diri untuk sementara waktu dari kegiatan main film," ujarnya dengan wajah segar berseri. 

Saat suting film itupun, perutnya yang mulai membesar sudah agak sulit disembunyikan. Itu sebabnya, ia terpaksa menampik ajakan untuk melanjutkan peran Farida dalam "Misteri dari Gunung Merapi 3", Perempuan Berambut Api. Padahal jadwal suting sudah ditentukan, apa boleh buat, sutradara Liliek Sudjio terpaksa memasang pendatang baru, Catherine  untuk memerankan tokoh tersebut. 

Tepat pada hari Natal, 25 Desember 1990, Ida pun melahirkan anaknya yang kedua, sang suami Eddy Saputra memberikan nama Kama Bhaskara untuk putra kedua mereka. Sementara si sulung, Randi Roso sudah hampir memasuki usia 7 tahun. 

"Perbedaan usia mereka memang cukup besar," ujar Ida yang memang sudah menikah, malah sudah mempunyai Randi saat pertama main film "Kodrat" diajak Slamet Rahardjo, "Waktu itu banyak yang mengira saya masih gadis," kenangnya.

Memang sebenarnya usia Ida masih teramat muda ketika menikah dengan Eddy. Bahkan sebenarnya belum lama lulus dari SMA Tarakanita. Salah seorang kawan sekelasnya adalah biduanita tenar, Neno Warisman. Neno, masih ingat ketika Ida baru pertama masuk, "masih seperti noni-noni Belanda totok yang ngomong bahasa Indonesianya sepotong-sepotong, siapa sangka serang bisa jadi bintang film top?".

Kalau slogan KB, "Dua sudah cukup" tidak demikian halnya bagi Ida, rupanya dua masih belum cukup baginya. Soalnya kami masih kepingin mempunyai anak perempuan, supaya lebih lengkap begitu."

Sekarang, Kama sudah berusia lebih dari tiga bulan. Sehat dan montok, kata Ida karena "Saya menyusuinya terus dengan ASI."

Saking sayangnya pada Kama, Idapun terus menampik film-film baru yang ditawarkan padanya. Termasuk rencana pembuatan "Kanan Kiri OK 4", yang merupakan film banyolan laris itu. "Saya ingin konsentrasi merawat Kama dulu sampai agak besar. Kalau sudah bisa ditinggal-tinggal baru mungkin saya bersedia man film lagi nanti. 

Bagaimanapun juga, Ida sudah menjadi salah satu bagian dari dunia film Indonesia dengan segala suka dukanya. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991


Monday, July 13, 2026

ANNA VALIANA

 


ANNA VALIANA (berita lawas). Gadis bernama lengkap Valiana Aprilini, ketika bocahnya cukup bijak dan cakap tidak termasuk anak yang cengeng. "Karena sering di foto saya jadi keasyikan. Sampai sekarang saya lebih suka menjadi model daripada lainnya."

Lalu, kamu kenapa tertarik main film? Dunia akting punya kepuasan tersendiri. Di film kita memainkan jiwa. Dari peran satu ke peran lainnya. Sedang film tantangan begitu kompleks. "Film membuat semakin berdisiplin. Disini diteruminya bermacam pengalaman baru. Kalau di rumah Anna kurang begitu berperhatian terhadap rutinitas perempuan tempo dulu, seperti membersihkan rumah, mengepel dan segudang pekerjaan lainnya. "Di lokasi suting harus mengurus diri sendiri. Membersihkan kamar dan mengepelnya. Kalau di rumah "boro-boro" mau saya kerjakan. Ada pembantu sih."

Suting film lebih rumit dari foto model. Honornya kecil. Kerjanya berbulan-bulan. Sedang di model, cepret-cepret duit mengalir. "Dan soal honor lebih enak jadi model daripada di film. Tapi, ini dia, di film kita memainkan roh-roh orang, meminjamnya ke dalam diri. 

Anna jelas belum sehebat Paramitha Rusady atau Lydia Kandou. Punya keyakinan bisa setara dengan bintang lagi gemerlap. Sebab, begitu dia menjadi pemeran utama dalam film Kristal-kristal cinta, sutradara Wim Umboh, batinnya langsur berteriak, ingin berjada di perfilman nasional. Alasan ini membuat cewek jangkung dengan tinggi 173 cm dan berat 54 kg tidak pernah tinggal diam. Dia selalu gelisah, latihan akting pada siapa saja. Ada seberkas keyakinan kelak akan mendapat peran lebih menantang. 

Tidak melulu karakter remaja, boleh jadi akan melampaui usianya Kalaupun tentang remaja akan lain dari dunia yang dikenal selama ini. Bagi saya tidak ada kata terlambat." Ini kalimat sering menyentakkannya, lalu berbuat sesuatu. Kesempatan kedua mendapat peran utama lewat film Ini Rindu, sutradara Maman Firmansyah, Anna menjadi sosok lain, penyanyi mendampingi Farid Hardja. "Saya pikir tema apa saja tetap menantang. Justru itu, ndak pilih pilih dengan peran. Asal senang saya pasti menerima, Tergantung mood sih. "Sesungguhnya banyak tawaran di tepiskan cewek bertubuh ramping ini. Cuma acap disodorkan padanya melulu soal cinta dan buka-bukaan. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991



Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



YULLIETA KULLIT

 


YULLIETA KULLIT, (berita lawas). Menyebut nama Yulieata Kullit tentu  akan menyeret ingatan kita pada seorang penyanyi bersuara renyah Ermy Kullit. Ternyata mereka memang masih ada ikatan persaudaraan. Bahkan Yulieta sempat mengikuti jejak tantenya itu, menelorkan sebuah album lagu, kendati hasilnya biasa-biasa saja. 

Gadis tinggi semampai ini letih eksis di dunia akting. Film Bagi-bagi Dong, Babad Tanah leluhur, Badai Laut Selatan, serta baru baru saja ia merampungkan film Si Manis jembatan Ancol versi layar lebar, ia mainkan dengan sikap tidak terlalu ngotot. 

Soal busana? Mahasiswi semester tiga pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengaku amat menyukai busana yang berkesan santai, "sebagai mahasiswi tentu saja saya tidak banyak memiliki pakaian yang terlalu wah. Pergi ke pesta juga saya jarang, " ucapnya sambil menyodorkan sepotong busana berwarna merah jambu dengan potongan three piece. "Ini saya pakai waktu saya jadi MC di acara valentine Februari lalu, " tambahnya. 

Ada gaun bergaya menggantung, kemeja denim denan sudut bawah meruncing, leging warna hitam serta blus pendek bertangan buntung dengan kerutan di bagian dadanya. 

Busana denan corak garis yang dimiliki Yuli berkesan seperti bahan lurik yang terbuat dari benang asli. Padahal blus gantung yang melebar ke bawah ini terbuat dari likra. Baju yang dibelinya di Bali ini menurut Yuli sangat nyaman dipakai. "Terutama untuk suasana santai, " katanya. 

Kemeja denim berkanjcing metal yang dipadu denan celana bergaris biasa dipergunakan Yuli untuk berkunjung kerumah teman atau pergi kuliah. Ujung kemeja yangdirancang meruncing serta sengaja diikat sedemikian rupa, tentu saja memberikan kesan sensual bagi pemakainya. 

Selain sack dress, leging serta busana casual lainnya. Yuli sempat mengeluarkan busana Three peace yang terdiri dari blus, rok panjang serta blazer yang dirancang khusus oleh Thomas Sigar. Kesan luwes serta resmi muncul jika Yuli mengenakan baju seperti itu. 

Yulieta Kullit ternyata sangat menyukai warna-warna hitam dan putih. Itulah sebabnya banyak dari koleksi busananya berwarna gelap dan putih polos. Untuk beli pakaian, biasanya Yuli menomorsatukan modelnya dulu. "Kalau modelnya cocok biar harganya mahal terpaksa saya usahakan. Tapi kalau harganya ratusan ribu sedangkan modelnya tidak sesuai dengan selera saya, buat apa dibeli, ? papar Yuli sambil terus beraksi di depan kamera. sumber MF 202/168/TH X, 26 Maret - 8 April 1994