Monday, March 30, 2026

QOMAR MUNDUR DARI KWARTET TOM TAM , BIKIN GRUP BARU 4 SEKAWAN

 


QOMAR MUNDUR DARI KWARTET TOM TAM , BIKIN GRUP BARU 4 SEKAWAN (Kabar lawas). Nurul Qomar selama ini dikenal sebagai motor Kwartet Tom Tam. Sunggu tak disangka, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba tepat pada tanggal 1 Januari 1991, ia mengajukan surat pengunduran diri, dari kelompoknya. Wah, berarti bubar dong, salah satu grup lawak yang sebenarnya sudah punya ciri khas dan penggemarnya sendiri ini. 

"Lho belum tentu, cuma saya saja kok yang mundur. Yang lain mungkin akan terus melanjutkan, mungkin dengan cari anggota baru pengganti saya, atau bertiga saja, " kilah Qomar. 

Yang bisa menjawabnya tentu saja tiga anggota Tom Tam lainnya, Firman, Kimung dan Ogut (nama aslinya Rosihan Anwar).

Saat penampilan bersama mereka yang terakhir pad amalam menyambut Tahun Baru 1991, di Ancol, bagaimanapun juga Qomar merasa sangat trenyuh, sampai nyaris tak kuasa berkata-kata di panggung. "Ya saya merasa berat dan sedih selama 14 tahun 6 bulan, kami bersama. Jadi, kendati kami berpisah lahiriah, tapi kekeluargaan tetap bersahabat."

Lantas apa yang menyebabkan Qomar membuat tindakan drastis ini?

"Saya berkeyakinan, soerang pelawak harus full profesional. Sejak lama saya berusaha mengajak kawan-kawan saya itu mencurahkan seluruh perhatian pada grup kita. Itu tiga kawan saya rupanya sulit melepaskan jabatan sebagai karyawan Pemerintah. Akibatnya kesibukan masing-masing menimbulkan kesenjangan komunikasi. Perbedaan sikap dan pandangan, khususnya perbedaan idealisme dalam sikap berkesenian, inilah yang akhirnya membuat saya keluar,".

Tapi bukan berarti Qomar lalu mundur dari dunia lawak, karena dalam tempo tak sampai seminggu, memasuki tahun baru 1991 ia telah mengibarkan bendera baru , "4 Sekawan" dengan merekrut bintang pelawak yang naik daun, yaitu Derry, Ginanjar dan Eman. 

"Ini upaya kami untuk memanage grup lawak dengan lebih baik lagi, kami berempat ingin full profesional, " promosi grup baru yang terutama ingin berkiprah di masyarakat kalangan menengah. 

Qomar yang punya acara OPTIMIS, (Obrolan Pagi Tentang Iman dan Islam) Setiap Kamis subuh di radio SK (Suara Kejayaan), membuatnya sering bertemu dengan tiga kawan barunya yang juga ngetem disana. Diawali dari bingan-bincang tukar pengalaman, terasa kesamaan pandangan dalam melihat film mereka. 

"Bahwa untuk memulai sebuah kerja yagn akan menghasilkan sebuah karya yang baik., maka salah satu syaratnya harus di rencanakan dengan baik, maka salah satu syaratnya harus direncanakan dengan baik. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991



Sunday, March 29, 2026

PERANG DI TELUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOSKOP INDONESIA


 PERANG DI TELUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOSKOP INDONESIA (Berita Lawas). Siapa bilang perang Teluk tak berdampak bagi perfilman dan perbioskopan Indonesia? Bukti-bukti kongkrit menunjukkan merosotnya jumlah penonton sejak meletusnya perang Teluk pada tanggal 16 Januari 1991. 

Masyarakat yang mendadak gandrung berita Perang Teluk selalu menanti-nantikan berita terbaru dari medan perang yang disiarkan baik oleh koran, radio, maupun televisi. Bukan kebetulan kalau TVRI menyiarkan berita Internasional justru setiap pukul 19.00 dalam bahasa Inggris dan Dunia Dalam Berita pada pukul 21.00. Justru pada jam-jam tersebut itulah bioskop baru membuka pintunya. Otomatis karena orang lebih tertarik menunggu berita di TV, maka niat untuk berangkat menonton ke bioskop pun sering diurungkan. 

Akibatnya, sejumlah film Indonesia yang kebetulan mendapatkan jadwal penayangan mulai medio Januari, kontan sepi dari penonotn.Bisa disebutkan contohnya, film-film seperti "Jangan Renggut Cintaku", "Si Buta Dari Gua Hantu di Lembah Maut", "Pendekar Cabe Rawit", dan "Tak Kan lari Jodoh Di Kejar", rata-rata film ersebut cuma sempat ditayangkan satu hari saja di sinepleks pada tahap pertama. 

Yang memetik keuntungan dari Perang Teluk, justru media cetak. Harian-harian melonjak tirasnya sampai 200-300 persen dalam minggu terakhir . Bagaimana dengan film impor?

"Sama saja, penonton juga merosot drastis, terutama untuk pertunjukkan terakhir pukul 21.30, jumlah penonton bisa dihitung dengan jari," ujar sumber dari booker jakarta. 

Mari kita lihat jumlah penonton di Studio 21 pada pukul 21.30. Tiga dari empat layar cuma diisi di bawah angka 50 penonton. Bahkan film yang diangkat dari karya William Shakespeare cuma mendapatkan 15 penonton. Kontradiksinya adalah film action Steven Seagal "Hard To Kill" yang berhasil mengumpulkan lebih dari 90 orang, hampir separuh dari kapasitas 260 kursi!.

Sebagai perbandingan pengamatan pada sinepleks Globe 21 di kawasan ramai Pasar baru. Empat film Barat ditayangkan serentak disini. Jumlah penonton pada pukul 22.00 adalah sebagai berikut : Pretty Woman" (26 Orang), "The God Must Be CrazyII" (11 orang) , "Miami Blues" (9 orang) dan "Dean Poets Society"terpaksa tak diputar karena tiada pembeli karcis.!

Mengamati jalan di sekitar Pasar baru pada jam sekian terasa lengang. jarang orang keluyuran malam, kalau tak sangat terpaksa. Bahkan tanda-tanda penjual makanan sepanjang jalan Pacenongan yang biasanya sampai lewat tengah malam masih ramai dikunjungi orang, sekarang mengalami masa sepi juga!. 

"Semoga saja perang cepat berakhir, hingga semuanya bisa pulih kembali seperti semula", itu harapan semua pihak yang merasa dirugikan. 

Tapi kalau perang bakal berlarut-larut berkepanjangan sampai berbulan-bulan? Ya siapa yang tahu?

Menyiasati suasana sepi seperti ini, pihak importir pun tak buru-buru menayangkan film-film pilihan mereka yang disuguhkan dalam event "Old and New Night" lalu. 

Maka film-film seru seperti "A.W.O.L", "Sea of Love", "Lethal Weapon 2" , "Desperate Hours" dan lain-lainnya disimpan saja dulu di dalam gudang. "Kuota film impor untuk tahun 1991 memang masih belum diketahui berapa jumlahnya, apakah tetap sama seperti tahun lalu, atau dikurangi sepuluh judul lagi, " ujar pihak asosiasi importir.  ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991 dengan judul Perang di Teluk, sepi Di Bioskop


Wah, miris juga ya kalau lihat jumlah penontonnya yang cuma hitungan jari..




Saturday, March 28, 2026

KENDATI DI GUNTING SENSOR "ISABELLA" TETAP BERJAYA


KENDATI DI GUNTING SENSOR "ISABELLA" TETAP BERJAYA, CIUMAN ISABELLA TIDAK LOLOS SENSOR DI MALAYSIA. (berita lawas). Sempat terjadi ribut-ribut polemik diantara berbagai media massa di Malaysia, menjelang penayangan film patungan "Isabella" disana. Pasalnya adegan ciuman yang dilakukan Amy dan Nia Zulkarnaen dinilai kurang sesuai dengan budaya Timur. Apa boleh buat adegan yang di Inodnesia di luluskan dengan mulus oleh BSF, tidak demikian halnya diMalaysia, Badan Penapis Film setempat mengguinting adegan "kissing" tersebut. 

Bukan cuma itu, juga adegan dimana Amy dan Nia berboncengan motor , ikut terbabat. Apa pasal? Ternyata karena Amy dan Nia sama-sama tidak pakai helm. Padahal menurut Undang-undang lalu lintas pengendara motor dan pemboncengnya harus berhelm!. 

Tapi tersiarnya berita pengguntingan ini justru semakin menarik minat orang untuk menontonnya. Malah jadi semacam publikasi gratis. Terbukti sejak di tayangkan pada akhir Agustus 1990 di sepuluh gedung bioskop di Kualalumpur, Penang, Alor , Kelang, Melaka, Kinabalu, Seremban, Johor Bharu dan kolta Baru, dalam tempo cuma empat hari saja telah mengumpulkan hasil leih dari 405 ribu ringgit.!

"Memasuki minggu pertama diperkirakan pasti berhasil melampaui jumlah 500ribu ringgit!"keyakinan Haji Tajuddin Yahya, pengarah urusan Syarikat Film Pengedar utama, "Kalau demikian halnya jelas film ini akan ditayangkan  nonstop dalam satu bulan!".

Bukan Cuma di Malaysia, tapi juga di Singapura, meskipun cuma ditayangkan di satu bioskop saja," Isabella" mendapat sambutan yang sangat memuaskan. harga tiket rata-rata dua setengah ringgit (lebih kurang 1500 rupiah kalau di kurs pada jaman itu). Dengan begitu bisa dihitung kalau jumlah penontonnya sudah melebihi 200 ribu orang. Ini menjebol rekor box offiice untuk semua film baik produksi lokal maupun impor. Termasuk mengungguli produksi kebanggaan Malaysia sendiri, "Fenomena" yang juga dibintangi oleh Amy sebagai pemeran pembantu. 

Mohammad Nor Abu Shahid dari Finas menyebutkan meski pun adegan cium dalam "Isabella" sudah tak bisa di saksikan di bioskop, ternyata dalam videy gelap yang beredar di lebih dari 2000 rental, masih terpampang jelas "Video gelap jelas berada di luar jangkauan badan sensor. ~berita MF No. 110/78 Tahun VI, 15-28 Sept 1990



DODDY SUKMA, TELAH TIADA


 DODDY SUKMA, TELAH TIADA  (Kabar Lawas). Doddy Sukma Wijaya pemain film yang sering berperan sebagai dokter, hari Senin, 21 Januari 1991 pukul 11.50 WIB telah berpulang kerahmatullah dalam usia 49 tahun. Almarhum mengidap penyakit lever yang di derita beberapa minggu belakangan. Hari Sabut, 5 Januari 1991, almarhum di bawa ke Rumah Sakit selama seminggu, karena penyakit  yang diderita makin parah akhirnya atas saran dokter, almarhum harus dipindahkan ke Paviliun yang khusus menangani penderita penyakit lever. 

Selama berada di Pavilyun dari tanggal 12 Januari 1991 keadaan almarhum masih belum ada perubahan, ia minta pada keluarganya untuk di bawa pulang kerumah. "Saya ingin bertemu keluarga", kata Kartika putri pertama almarhum. Almarhum segera di bawa pulang dan pada hari Minggu, 20 Januari 1991 tepat pukul 02.00 WIB dini hari almarhum dalam keadaan kritis.

Semenjak itulah, almarhum sempat memberikan pesan-pesan terakhir pada keluarganya, isteri dan putra putrinya. Antara lain pesannya, agar isteri dan putra putrinya jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu, selalu berziarah ke makam ayah untuk mengirim doa. 

Pesan terakhir disampaikan kepada isterinya agar menjaga anak-anaknya baik-baik. 

Pukul 17.00 WIB almarhum di makamkan di pemakaman Umum Karet Jakarta. Kawan-kawan seprofesi yang hadir saat itu antara lain Ade Irawan, Agus Melasz, El Manik, Irwinsyah serta karyawan TVRI, Mardali Syarief dan banyak lagi artis serta karyawan film yang mengantarkan dari rumah duka hingga ke pemakaman. Salah satu kawan akrab yang sering menjadi lawan mainnya adalah Ade Irawan. "Saya merasa benar-benar kehilangan seorang sahabat, sebab mas Doddy ternyata banyak memberikan input tentang masalah agama. Walau dia lagi suting sembahyang lima waktu tak pernah di tinggalkan. Kadang kadang saya juga ditegur agar banyak-banyak beristighfar, selalu ingat kepada Allah SWT. Saat saya temui dirumah sakit seminggu setelah dirawat mas Doddy bilang bahwa pekerjaannya yang terakhir beristighfar dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, " jelas Ade sambil mengenang saat pertemuan terakhir dengan almarhum. 

Doddy Sukma yang dilahirkan di Betawi, 11 Juli 1941 mulai terjun kedunia film tahun 1972 lewat film pertama "Samtidar". Doddy telah bermain lebih dari 50 film, yang terkesan saat dia memerankan Umar Wirahadikusumah pada film penumpasan G 30 S PKI.

Sebelum meninggal, Doddy SUkma telah menandatangani kontrak film Catatan Si Emon berpasangan dengan Ade Irawan. Almarhum mengusulkan kepada sutradara dan produser agar peranannya di gantikan saja dengan orang lain, sebab dia disarankan istirahat paling kurang tiga bulan. Sedang dalam sinetron TV yang terakhir almarhum main dalam cerita Cak Gaol yang ditayangkan di TVRI. Almarhum meninggalkan seorang isteri bernama Ny. Noverny, tiga orang putri Kartika, Sita Dewi, Yusnita Irawati serta dua orang putra , Doddy Mulyono dan Feby Darmawan. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA

 


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA (Berita lawas) Ternyata di balik wajah manis, Alba Fuad tersimpan kesedihan yang menahun. Sepintas kelihatan seperti gadis periang, tak pernah murung, tapi dibalik ceritanya tersimpan duka panjang. "Ketika masih kecil tidak pernah ada rasa rindu dengan papa. Setelah gede seperti ini rasanya butuh kehangatan kasih sayang papa," katanya mengungkap. Dia merasa dirinya orang yang paling "tol*l". Ketika papanya terbaring kaku, dan dibawa ke pemakaman, Alba tidak pernah tahu itu perpisahan dengan papa. Bocah centil malah asyik bermain. "Ketika itu umur saya baru lima tahun, tidak tahu arti kematian" , kata putri tunggal alm. Fuad Hasan, drumer beken God Bless dengan suara parau. 

Selepas SMA, dia baru kenal rasa rindu dan duka.  Sebelumnya di acewek periang, menikmati masa puber dengan gelak tawa. Di SMA dia cukup badung. Sering bolos sekolah. "Kalau bolos suka ke Ancol. Main di Dunia Fantasi kayak anak-anak," ngakunya. Mama jarang marah kepadanya. Begitu juga saudara dari mamanya, Achmad Albar dan Camelia Malik. Dimanja, tapi dia tahu diri. Mengaji pelajaran yang membosankan tapi dia jarang bolos . 

Perempuan bernama lengkap Monna Alba Fuad ini lahir di Jakarta 4 Maret, 1969. Tadinya dia seorang modelling. Bergabung dalam blantika Studio. Ketika itu dia cukup menarik perhatian. Ketika Iwan, sang boss Blantika Studio dapat order mencari artis pendatang baru dari produser, pilihan kontan jatuh kepada perempuan berbintang Pisces ini. Alba kelabakan ketika berhadapan dengan produser. Perjalanannya tidak mulus. Harus di tes dulu. "Eeh..engak tahunya saya berhasil test. Padahal saya kikuk lho. Ndak perna latihan akting, mungkin bakat dari sono kali ," cetusnya rada bangga. 

Kontan Maman Firmansyah memberikannya peran utama sebagai Mila dalam Permainan di Balik Tirai (1988). Lakonnya pertama kurang menggigit. Tapi cukup baik sebagai artis pemula. 

Lalu Abnar Romli menggarapnya lewat Tumbal Siluman Kera (1988), beberapa sutradara beruntun menggaetnya, Ratno Timoer lewat Si Buta Dari Goa Hantu (Lembah Maut) 1990, Lilik Sudjio lewat  Pembalasan Si mata Elang, Slamet Riyadi lewat Pedang Naga Pasa (1990), Lilik Sudjio lewat Misteri dari Gunung Merapi II (1990), NOrman Benny lewat Makelar Kodok II (1990), Acuk Rachman lewat Guntur Tengah Malam (1990), Abdul Kadir lewat Perjanjian Terlarang (1991) dan juga Achiel Nasrun lewat Olga dan sepatu Roda (1991). 

Ditanya Apa arti film bagi Alba Fuad, "Kalau saya bilang, film cuma hobby, itu konyol. Film tempat cari uang dan sebagai profesi saya ndak munafik. Dan bukan batu loncatan untuk ajang lain, katanya ceplas ceplos. 

Rupanya Alba mengintip profesi lain di film. Tidak semata sebagai anak wayang. Nah, ini membuatnya sering kasak kusuk. Tanya sana, tanya sini. Rasa ingin tahu soal kamera, sutradara, tata lampu, skrip, tata busana, sampai pross film di lab sangat besar sekali. "Saya tidak mau jadi artis terus sampai tua. Cuma belum tahu pilih profesi apa selain artis. Terkadang pengin jadi sutradra, terkadang ingin jadi penulis skenario, pokoknya masih ngaco deh!. 

Karena dia pintar mengambil hati kru film, jadi banyak yang suka menjelaskan kepadanya. "Modal kita kan cuma pergaulan dan keseriusan, " sergapnya tanpa tedeng aling-aling. Toh tak salah merebut hati orang untuk baik. 

 ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991

Wednesday, March 25, 2026

NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS


 NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS (berita lawas). Tiga jam Nasri Cheppy menongkrongi satu lob untuk dubbing film Catatan Si boy IV. Biasanya dub satu lob paling lama satu jam. Sehingga banyak pemain menjadi nganggur. Meriam Bellina kelihatan tertidur di bangku, Paramitha Rusady sibuk dengan temannya latihan bahasa Prancis, Ida Kusuma cuma bengong sementara Nani Widjaya yang lagi dubbing menjadi kesal melihat pemeran Abud dilakoni oleh Budi. Sebab pengisi Abut ini selama tigak jam tidak becus dialognya. Ada saja salahnya. 

Hal ini membuat Nasry Cheppy nampak sedikit stress. Dia telah mencoba berbuat baik. tapi sang artis tak juga bisa membenarkan dialognya. 

"Gua dari dingin sampa jadi gerah,' katanya. Padahal AC interstudio cukup dingin. Sampai akhirnya ia membuka jaketnya. Lalu dia marah-marah, namun tak menemui hasil. Tetap saja pelakon berdialog tidak becus. 

"Biasa pemain baru. Begini tah jadinya. Kalau tidak pemain baru, sudah saya maki-maki, " ujarnya kesal setangah mati. "Sudah! ini tidak bisa diperbaiki. Seratus tahun juga tetap salah, " teriak Cheppy marah-marah. Akhirnya Cheppy bingung sendiri. Jalan keluarnya sutradara ini meng ok kan take dub yang menurutnya masih tetap salah. "Kita cari jalan keluarnyalah, " gerutunya kesal .

"Bayangkan, Mitha (Paramitha Rusady), belum lagi mengisi suara. Padahal dia artis pertama sekali datang, " kilahnya. Mitha yang mendengar cuma bisa tersenyum hambar. Sebab ketika berdialog latihan si Abut yang dilakoni Budi ini lancar, tapi begitu recording kalau nggakbuntutnya yang salah pasti awalnya. Keluar dari bilik rekaman Budi jadi keringat dingin. Barangkali grogi berhadapan dengan artis beken. Apalagi Budi baru untuk pertama kalinya mengisi suaranya. 

"Gua nggak grogi kok," bela Budi. Tapi Cheppy hanya bisa menarik nafas mendengar bicara Budi. Sehingga iba juga hati Cheppy melihat pendatang baru ini.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


Tuesday, March 24, 2026

LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO

 


LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO, (Berita Lawas).Sebuah sedan Twincam merah meluncur mulus dari arah Lido menuju kota Bogor. Di dalam mobil yang benar-benar masih gres, maklum baru beberapa hari di ambil dari dealer, nampak sutradara Abdi Wiyono duduk di samping Sarijo, sopirnya. Sementara Bagong kru film dari PT. Virgo Putra  duduk di kursi belakang dengan santainya. Memang siang itu, tepatnya Kamis 20 Oktober 1988,direncanakan akan suting film "Lintar, Ketika Musim Durian Tiba" di sekitar Puncak. Baru beberapa kilometer mau memasuki daerah Ciawi, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah Minibus L300 putih, menyenggol sisi kanan sedang merah yagn ditumpangi sutradra itu. Braak!.

Abdi Wiyono langsung mengambil tas besar yang dibawanya untuk melindungi kepalanya dari benturan yang lebih keras. Begitupun sang sopir yang dengan sigap membanting stir untuk menghindari. Tapi mobil tak terkendali dan malah melayang, membentur tembok bertulang beton langsung nyelonong sebelah kiri jalan . Bruuk....! Abdi Wiyono langsung memerintahkan untuk segera meninggalkan mobil yang terperosok itu. Bagong, langsung mendobrak pintu yang masih terkunci secara otomatis. Akhirnya semua berhasil , bisa keluar dengan segar bugar. Tetapi baru beberapa meter dari mobil ketiganya jatuh terkulai serta merintih kesakitan. Sementara mobil putih yang bikin penyebab kecelakaan itu, malah tancap gas dan kabur. 

Untunglah beberapa mobil kru film yang beriringan masih ada di belakang, sehingga ketiga korban bisa di tolong dan dibawa kerumah sakit yang terdekat di Ciawi. Walau sutradara tak mengalami luka yang parah, tetapi rencana suting film yang nyaris hampir selesai di hari itu pun jadi berantakan. 

Akibat kecelakaan itu, selain suting gagal, produser pun dituntut tanggung jawab untuk mengganti kerusakan kendaraan. Memang sedang merah dipinjamkan pihak sponsor untuk perlengkapan film."Lintar Ketika Musim Durian Tiba" ini. Yang jelas semua kerugian ditanggung Ferry Angriawan selaku produser film.~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990