Thursday, July 9, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM (Film lawas). Rumah bilyard itu cukup ramai oleh anak-anak muda yang menjadi langganannya. Diambang pintu muncul Wawan, Adul dan beberapa kawan mereka lainnya. Dengan kasar Wawa menyingkirkan seorang pemuda kerempeng berjenggot yang ingin menyodok bola. Pemuda itu menjadi sangat kesal dan mengomel-ngomel, tapi tatapan mata Wawan yang angker kontan menciutkan nyalinya. 

Adul sudah sampai ke bar yang letaknya di sudut,"Mana Boss kalian?".

Pelayan di belakang bar balik bertanya, "Ada perlu apa?".

"Ada surat buat dia," ujar Adul sambil menyodorkan sepucuk surat. 

Si pelayan menerima surat itu dan ingin membukanya, langsung lehernya dicenkeram dan di jemba Adul," Gua bilang surat ini buat Boss lu, jangan lancang lu!".

Si pelayan mengkeret ngeri buru-buru masuk ke pintu di belakang yang menghubungkan bar dengan kantor. 

Beberapa orang tukan pukul penjaga keamanan Rumah Bilyard itu mendekat. Tapi Wawan Cs memang sengaja mencari ribut. Mereka mendahului menyerang. Orang-orang yang sedang asyik bermain billyard bubar ketakutan. Apalagi melemparkan lawan-lawannya keatas meja bilyar malah menggunakan stick bilyard untuk menghajar mereka. Dalam sekejap keadaan menjadi porak poranda. 

Boss pemilik rumah bilyar tergopoh-gopoh keluar dari kantornya. Menjerit-jerit panik melihat meja-meja bilyard dijadikan arena bantingan , "Aduh, cukup, cukup stoplah! Ancurrr semuanya, Ai bisa bangkrut,".

Wawan tengah menghantamkan stick bilyard ke perut lawannya yang bertubuh gede. Saking sakitnya mulut si gede sampai ternganga lebar. Wawan menjejalkan sebuah bola ke mulut itu lalu menyodorkannya, kontan si gede terjungkal!. 

Adul masih baku hantam dengan lawannya, ketika Wawan mendekati. 

"Kalau lu mau selamat, tinggalin tempat ini!", hardiknya. "Daerah ini jadi milik kami, lu tau Usin Tato? Itu Boss gua, dia nggak segen-segen ngarungin elu kalau tetap bandel!".

Si tukang pukul manggut manggut gentar. 

"Sekarang semua anak buah lu mesti setor sama Boss gua, paham?!, tegas Wawan. 

Sekali lagi si tukang pukul cuma bisa manggut manggut. 

Wawan menoleh ke arah Boss Bilyard yang menggigil ketakutan. "Tuan pemilik Rumah Bilyard ini?" tanyanya sambil berjalan mendekat. "Ingat tiap tanggal lima, anak buah gua datang kesini. Jangan cari kesulitan. Kalo ada yang bikin onar disini, laporkan sama orang gua, Jelas Boss!?".

Boss Bilyard manggut-manggut bagaikan burugn pelatuk tanda mengerti. 

Wawan memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk berjalan keluar. 


*****Bersambung

Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA (film lawas). Rel Kereta Api memanjang jauh. Lengang dan kosong. Sepasang insan berjalan berangkulan. Wawan dan kekasihnya,si watunas Suci. Tangan Wawan merangkul pinggang ramping Suci. Tangan Suci memegang payung yang berkembang untuk melindungi dari terik matahari. Tangan-tangan mereka yang lain menenteng tas plastik berisi barang-barang belanjaan. 

"Ayah saya tidak pernah tau bahwa anaknya menjadi pelacur di ibukota," gumam Suci. Dia menyangka saya bekerja di pabrik seperti isi surat yang selalu saya kirimkan."

Wawan mesem pahit, "Pasti elu juga nggak kasih tau bahwa calon mantunya seorang bajingan, kan?.

Suci mencubit pinggang wawan sampai pemuda ini menggelinjang geli, "Mosok yang begitu mesti dibilangin sih?".

"Kali aje pacar gue nggak tau politik, " sindir Wawan. 

Suci menerawang jauh. Kadang-kadang rasanya seperti mimpi bisa lepas dari dunia lon te yang kukira akan menjeratku sampai keriput,".

Tiba-tiba suci berhenti melangkah. Wawan tertegun dan menoleh. 

Suci menatap kearahnya dengan mata polos. "Mas Wawan benar-benar mau mengawiniku, kan?, tanyanya. 

Sipemuda manggut dengan mantap, "Apa musti gua sumpah lagi?".

Si Watunas menatap sendu. "Mas tidak akan galak sama Suci? Janji?".

"Eh , ni anak masih nggak yakin juga, elu akan gua sayang seperti gua nyayangin ibu gua, adik gua, kakak gua sekaligus, "tegas Wawan. "Karena gua nggak punya siapa-siapa lagi. Gua benar-benar sebatang kara!.

Suci senyum bahagia memeluk pinggang si pemuda dan menyesapkan wajahnya ke dada yang bidang itu. 

Sejak berkenalan memang Suci telah jatuh hati pada Wawan. Sebaliknya si pemuda pun bisa merasakan kelembutan dan perhatian Suci yang lain daripada watunas-watunas biasa. Maka Wawanpun melarang Suci melanjutkan prakteknya dan memintanya hanya untuk menjadi miliknya seorang saja!

******Bersambung

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT


TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT (Film Lawas). Gedung itu tak terlalu besar, namun perabotannya cukup mewah, lengkap dengan pesawat TV warna ukuran besar, video recorder, dan sofa mahal. Pemilik adalah seorang pedagang yang cukup sukses. 

Malam ini, seisi rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Dua anak asyik menonton video. Tuan Rumah membaca koran. 

Terdengar suara mobil berhenti dijalan. Menyusul dering bel pintu. 

Menoleh kearah isteri, si suami berseru, " Mah, mungkin Oom Jarwo, tadi aku janji sama dia, .

Si isteri bergegas membukakan pintu, seketika ternganga karena tamunya menodongkan pistol!. 

"Tenang, jangan ada yang berteriak kalau mau selamat, " Ancam Wawan sambil masuk diiringi dua kawannya, " Ikat mereka semua! Nyonya panggil pembantu Nyonya dengan lembut, ayo!".

Koming dan Adul dengan cepat mengikat tuan rumah dan anak-anaknya, membungkam mulut mereka dengan plester. 

Si Isteri ketakutan memanggil pembantu, "Yem, sini sebentar".

"Ya nyah, " terdengar sahutan dari dapur. 

Si Yem keluar membawa baki berisi sepiring manisan jambu. Demi melihat perampok-perampok yang sedagn mengangkat video, langsung menjerit ketakutan.  

Koming yang berdiri dekat pintu secara reflek membacokkan cluritnya ke leher si Yem. Darah muncrat. Si Yem roboh ke lantai dengan suara keras. Piringnya terbanting pecah. Manisan jamu berserakan bercampur dengan darah yang mengalir. 

Wawan yang tengah menggerayangi isi lemari dalam kamar, kaget sekali melihat pembunuhan ini. Langsung mengayunkan tangannya, menampar Koming, "Anjing Lu! umpatnya. 

Koming terjajar sempoyongan. 

Pemilik rumah dan anak-anaknya mengkeret ketakutan. 

"Tunggu, gua masukin mobil! cetus Wawan  bergegas mengangkut barang-barang rampokan mereka ke dalam mobil itu. Wawan tak menunggu lama, cepat meluncurkan mobilnya menuju ke Jalan lagi!. 

Malam itu juga, di dalam gudang di belakang sarang mereka, Wawan menghajar Koming dengan  tinjunya. Meskipun Koming biasanya sangat garang dengan brewoknya yang lebat, namun ia  sama sekali bukan lawan berarti bagi Wawan! jatuh bangun berulang kali. 

Wawan melemparkan clurit Koming yagn masih berlumur darah ke lantai. "Ambil clurit itu, ayo lawan gua!, tantangnya. 

Koming tak berani bergeming. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. 

Wawan mendekat dan melayangkan tendangan tepat masuk ke perut Koming hingga rampok kejam ini bergulingan. 

"Pengecut lu!" umpat Wawan. 

Adul, Hasan, Amin dan lain-lainnya lagi berebutan masuk ke gudang ini. 

Wawan memandang kearah mereka semua dan menantang, Ayo, kalau ada yang kagak terima sama gua, maju semua sekalian! Anjing! Gua udah bilang kagak pakai ngambil nyawa! Dalam kerja gua pantang ada pembunuhan, kita cuma perlu hartanya!" 

Tak seorangpun berani menyahut. 

Wawan makin meluap-luap. Ia menyambar leher baju Koming lalu kembali menghujaninya dengan tinju sampai meraung-raung kesakitan. 

"Kenapa elu langgar, babi? geram Wawan. Adul maju, berusaha melerai . "Cukup , Wan, elu juga nggak mau bunuh teman sendiri kan? Udah deh."

Wawan lunglai sendiri dipojokkan, bathinnya merintih. Koming yang ambruk cuma bisa menatap dengan mata menyiratkan dendam kesumat. 



NONA ALKHAR

 


NONA ALKHAR, (berita lawas). Waktu mengenal akting pertama kali, ia masih imut-imut. Masih kelas 6 SD. Kala itu Nona Alkhar berlakon dalam drama televisi Ande-Ande Lumut yang pernah ditayangkan TPI. Itu beberapa tahun yang lalu, waktu itu ia masih bocah yang baru bisa membuang ingus sendiri. 

Sekarang jangan kaget, bila melihat Nona Alkhar sebagai gadis jelita. Ibarat buah, lagi mengkal-mengkalnya. Dengan tinggi semampai 165 cm dan berat 52 kg serta ukuran dada yang aduhai menjadikan siswi kelas II SMU di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur ini sebagai bintang film yang sexy. 

Jika ia berani tampil lebih nekad lagi bukan tidak mungkin dapat menggeser kedudukan Malvin Shayna, Sally Marcellina, Inneke Koesherawati, Windy Cindyana, Kiki Fatmala dan Febby Lawrence . Toh mereka populer karena resep "panas".

Ia tidak banyak berkata-kata tentang ambisinya di film, akan tetapi dari sikap dan kemauan yang keras membuktikan bahwa gadis bernama lengkap Leila Qadara ini ingin "jungkir balik" di kancah perfilman nasional. Pintu untuk itu telah terbuka lebar. Lewat film Skandal Binal sutradara Farrel Tobing, produksi Cancer Mas Film sungguh menguji "kenekatan" gadis berambut panjang ini dalam frame "panas".

"Saya main film sesuai skenario, bukan diluar skenario. Kalau diluar skenario tidak akan saya kerjakan. Sebagai artis saya harus siap, "ujarnya diplomatis. 

Nona bukan gadis lugu lagi. Ia kini dapat memoles diri, mencari busana yang terbaik untuknya dan yang paling penting ia telah mampu berlakon "hangat" sebagai artis panas. 

Untuk tema-tema film seperti itu, cewek berdarah Sumatera-Arab ini punya peluang melambungkan namanya. Dan banyak artis telah membuktikan kemujaraban resep tersebut untuk menapaki tangga popularitas. 

Langkah semakin melaju tanpa hambatan, sebab mamanya tidak saja merestui, melainkan juga selalu mendampinginya setiap sutingdimanapun berlangsung, meski sampai jauh malam. "Mama banyak memberikan motivasi kepada saya. Dan kepercayaan itu tidak baik kalau saya sia-siakan, " katanya dengan suara bergetar. "Nona sudah dewasa, ia sudah bisa membedakan baik buruk sebuah perbuatan, " kata ibunya menyelingi pembicaraan. 

Sebelum total main film, Nona sempat berlakon di sinetron Ada-ada Saja, Saat memberi Saat Menerima, Bunga Pertiwi, Gosip Resxi dan Si Jampang.

"Apa sih kesitimewaan film sampai membuat NOna ingin "mati-matian menggelutinya. Sebab kalau soal honor jelas main di sinetron lebih berlimpah dari film untuk sekarang ini?

"Sejak kecil impian saya adalah menjadi bintang film, "katanya singkat. Namun beberapa saat  ia balik menjawab. "Main di film lebih rumit dari sinetron, "Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya yang ranum. 

Dibidang lain, Nona yang dikenal pendiam itu bukan tidak punya prestasi, dalam iklan misalnya ia telah menambah pengalamannya sebagai bintang iklan Yakult, Komix, Bimoli, Balsem Cap lang, Honda, Kopi Gelatik dan lain-lain. Meski sudah cukup banyak bintang iklan yang dilakoninya belum mampu mendongkrak namanya. ~MF 262/229/XII/13-26 Juli 1996

Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3


Thursday, July 2, 2026

FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG


 FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG (film lawas). Buce Malawau sudah boleh diakui sebagai salah seorang sutradara muda berbakat dalam perfilman negeri kita. Karyanya memang masih bisa dihitung dengan jari. Dimulai dari debutnya "Gerhana" kemudian beruntum menggarap "Beri Aku Waktu", "Cinta Anak Jaman", "Tragedi Bintaro", "Ketika Dia Pergi" dan yang ke enam adalah "Potret".

Ciri khas dari kelima karyanya terdahulu, kecuali Cinta Anak Jaman , semuanya kurang mendapat sambutan dalam peredarannya. Sudah begitu lagi-lagi kecuali Cinta Anak Jaman yang membuahkan Piala Citra Aktor Pembantu Terbaik untuk Didi Petet, semuanya paling banter cuma sampai pada level unggulan belaka, untuk kandas dalam final setiap FFI. 

Apakah nasib yang sama bakal menghantui "Potret"? Yang jelas, kendati sudah masuk 8 unggulan termasuk sebagai calon film, sutradara dan aktor-aktrisnya dalam FFI 1991, toh akhirnya tak satupun Citra yang bisa diraih. 

Satu-satunya yang dimenangkan hanyalah Piala S Toetoer untuk Poster Terbaik. Padahal terus terang saja, poster garapan Gunawan Paggaru dan Adjie Mamat Borneo ini kelewat sangat bersahaja untuk ukuran sebuah poster film Indonesia. Sama sekali tak punya daya tarik komersial, tapi mungkin justru karena kesederhanaannya inilah Dewan Juri Poster yang diketuai Sukanto berbelashati untuk menganugerahi piala penggembira. 

"Potret" dibintang utamai Rachmat Hidayat yang sekali lagi menampilkan kualitas keaktorannya. Di dukung sebarisan pemain mulai dari Ully Artha, Asrul Zulmi, Nani Somanegara, Nani Vidya, Rondald Kansil dan Mega Sylvia, namun yang berhasil mencuri perhatian dengan gayanya yang rada urakan justru bintang muda Gusti Randa. Sebagai anak, ia seenaknya saja memanggil ayahnya tanpa sebutan 'Bapak' atau ' Papa', tak ubahnya seperti kawan saja, langsung menyebut nama. "Man, Herman!". Boleh di puji Gusti mamppu mengimbangi akting kawakn seperti Rachmat Hidayat dengan menarik. Sejak penampilannya film yang semula terasa berlarut-larut berubah menjadi segar dan riang. 

Patut di catat pula penampilan bintang-bintang tua seperti Ema Gangga, Laelasari, Menzano, Pak Tile dan sejumlah penghuni asli Panti Jompo betulan. Hampir separoh awal film memang berlokasi di Panti Jompo. 

AYAH YANG TERBUANG. Herman Kawilarang (Rachmat Hidayat) tua dan buta, memergoki istrinya yang masih muda usia, Lisa (Ully Artha), menyeleweng dengan Robin (Ronald Kansil). Sakit hati merasa disia-siakan, ia meninggalkan rumah. Tertatih-tatih ditampung di Panti Jompo. 

Pimpinan Panti Jompo (Sinta Muin) diam-diam mencari keluarga Herman lewat fam Kawilarang. Sampai ke Victor (Asrul Zulmi) yang nampaknya cukup sukses sebagai manager. Kendati mengenali ayahnya, namun ia menolak mengakuinya. 

Pasalnya, dulu Herman meninggalkan keluarganya untuk kawin lagi. Maka, Ibu (Nani Somanegara) dibantu si sulung Victor mencari nafkah dengan berjualan gado-gado, tapi dua adik Victor, Anton (Gusti Randa) dan Vina (Mega Sylvia), berbeda pendapat dengannya. 

Anton yang bekerja di bengkel, mengangkangi mobil yang di bawa Robin, karena mengenalinya sebagai milih ayahnya. Antonpun datang menjenguk ke panti jompo. Herman yang semula rada frustasi dan sering ribut dengan sesama penghuni Panti, bagai mendapat semangat baru dari anaknya ini. Anton malah mengajaknya ke kelab malam tempat Vina menyanyi. 

Kekerasan Victor mulai runtuh ketika isterinya (Nani Vidya) pun membela adik-adiknya. Bagaimana kalau ia kelak di perlakukan serupa oleh Andri, anaknya sendir?. Lewat dialog dengan ibu dan Anton, terungkap kalau dulu pun ibu pernah tersesat menjadi wanita penghibur sampai dikawini ayah. 

Klimaks terjadi di Pengadilan yang memutuskan perceraian antara Herman dengan Lisa. Perempuan yang menjadi isteri muda ini mengungkapkan segalanya. "Aku ditipu Herman yang mengaku duda kematian isteri, hingga bersedia menjadi isterinya, ".

Herman sama sekali tak membantah. Ia pasrah menerima segalanya. Dan ternyata ia masih bisa menikmati sisa hari tuanya dalam kedamaian, karena diterima kembali dalam keluarga. 

Ini cerita memang teasa serupa tapi tak sama dengan film "Ayahku (1987)" arahan Agus Elyas. Padahal film itupun digubah dari sandiwara zaman Jepang. "Chichi Kaeru". Untuk ini, dipembuka film Buce sudah berdalih lewat pesan!. "Tidak ada yang baru dibawah matahari, yang sekarang ada dulu sudah pernah ada". ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA