Monday, April 27, 2026

AYUNI SUKARMAN


 AYUNI SUKARMAN, (Berita Lawas), Meski usianya sangat muda, tapi Ayuni tidak takut menggeluti dunia film yang sering dilambangkan tempat orang-orang glamour. Tidak sedikit kaum remaja tergelincir, hanya lantaran silau melihat gemerlap film. 

Film dimata Yuni mungkin berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya. Awalnya ia tidak pernah berfikir tentang film, karena nonton pun hampir-hampir tidak pernah. "Habis film anak-anak jarang sih, isinya film dewasa melulu. Nyokap mana mungkin kasih izin pergi ke gedung bioskop."

Apakah Yuni pernah berkhayal main film? Pikiran itu muncul ketika Yuni sudah mulai kelas tiga SMP, manakala diam-diam sempat nyelonong ke bioskop, sepulang sekolah ramai-ramai. Tapi seperti yang diakuinya, keinginan itu cuma sekedar melintas saja di kepalanya. "Tidak pernah terbayang untuk mewujudkannya. Saya rasa waktu itu lagi melamun, ya saat itu saja," katanya tersenyum. 

Baginya film adalah film, bukan kenyataan, hanya sandiwara atau wayang. Barangkali inilah yang membuatnya tidak ragu lagi ketika mendapat kesempatan bermain dalam film laga. Lamunan yang cuma melintas itu tiba-tiba menjadi sungguhan. Mungkin juga ia sendiri sudah lupa dengan bayangan yang sempat mampir disaat pikirannya lagi kosong itu. Yuni hanya melihat apa yang sekarang dihadapi adalah sebuah kenyataan. Gadis SMP itu harus melakukan sesuatu yang sangat baru. Ia tandatangani kontrak kerja dengan PT. Simbar Intan Film, memainkan tokoh Cempluk anak Warok Suromenggolo dalam film "SUROMENGGOLO".

Sebagai pendatang baru tentu saja ia canggung pada awal-awalnya, sekalipun Dasri Yacob selaku sutradara tertarik pada potensi yang ada pada pemainnya yang paling baru ini. Penampilan cukup meyakinkan, permainan tidak mengecewakan, artinya sebagai pemain, Yuni punya potensi yang bisa diharapkan dimasa mendatang. 

Anak Pak Sukarman yang pernah punya cita-cita menjadi guru ini, mulai sering menonton film. Sejak itu ia mengaku semakin usil memperhatikan para pemain. ia perhatikan gerak gerik pemain sampai ke hal-hal yang kecil. Dan sejak itu pula ia suka berlma-lama di depan kaca, berlatih akting. 

Suatu hari Yuni mengalami "kecelakaan". PIntu kamar belum ditutup, ia sudah berakting di depan kaca, dan tanpa disadari telah jadi tontonan seisi rumah. Untung saja ibunya tahu kalau Yuni lagi belajar akting. Jika tidak bisa-bisa bikin panik orang tua karena melihat anak gadisnya bertingkah laku seperti kesurupan. Yuni sadar, segera mengunci pintu dan melemparkan tubuhnya ke kasur. 

Sampai sekarang ia masih suka bingung kalau mau belajar akting. Sementara merindukan Diklan Parfi, belum juga ada kabarnya. Secara sembunyi-sembunyi ia masih suka berlatih dirumah. Apa yang ia lakukan menurutnya paling sebatas mencari kemungkinan untuk kebutuhan adegan suting hari berikutnya. 

Kesempatan yang baik buat gadis model iklan coklat ini rupanya masih berkelanjutan. Dalang Dasri Yacob melibatkannya dalam film Bujang Jelihim, sebuah cerita rakyat dari daerah Palembang. Dalam dua film ia dukung, Yuni kebetulan mendapat peluang yang sama, kebagian peran pembantu utama. Di sini menjadi pacarnya Jelihim. Padahal murid SMA kelas I ini masih bau kencur. Belum tahu apa-apa soal pacar-pacaran, tapi Dasri senang memberinya peran itu. 

Untuk lebih menghayati peran itu, kiranya ia merasa perlu observasi dengan menonton film yang ada adegan pacarannya. Hal itu tidak terlalu sulit baginya karena di televisi toh hampir setiap malam ada. Namun dari kedua film itu semuanya mengambil cerita kuno, sehingga gaya pacarannya berbeda dengan gaya era Demi Moore. Untung saja ia pernah memergoki secara kebeutlan pembantu tetangga pacaran gaya tradisional. 

Kesempatan terus mengalir meskipun kedua film itu belum ada yang beredar. Si Cempluk yang baru berulang tahun yang ke 16 pada 16 Desember 1991, kini mendapat kesempatan menjual opak dalam serial sinetron "Mega Mega" garapan Zainal Abidin. Si cantik penjual opak itu bakal nongol di TPI . Dunia film biasanya banyak godaan, insan film selalu jadi sasaran gosip, tapi Ayuni jalan terus. ~sumber MF 143/110/THVIII 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


PEMBUATAN PUSAKA PENYEBAR MAUT


SELAMATAN PEMBUATAN FILM PUSAKA PENYEBAR MAUT, (Berita Lawas). Pada awal berdirinya, Ram Soraya dari PT. Soraya Intercine Film sudah pernah memproduksi film dakwah kolosal "Sembilan Wali". Tapi kemudian ia lebih banyak bikin film-film bertema komedi (Warkop) dan horor mistik (Suzanna). Baru sekarang untuk produksi terbarunya "Pusaka Penyear Maut", bertekad bikin kejutan lagi. 

Sutradara andalannya, Sisworo Gautama Putra yang juga sudah menjabat sebagai produser pelaksana, menyebutkan "Untuk produksi kolosal ini disediakan bujet sebesar satu setengah milyar rupiah!".

Bintang-bintang mahal dipasang sebagai tokoh-tokoh utama adalah : Suzanna, Fendy Pradhana, Murtisari Dewi, Willy Dozan dan puluhan bintang pembantu plus ratusan figuran. 

Upacara selamatan berlangsung di Rumah Yatim PIatu Muslimin di Kwitang, Jakarta Pusat. Maka Minggu Siang, 12 Agustus 1990 itu puluhan anak-anak yatim piatu bisa berhadapan muka langsung dengan bintang-bintang populer dari layar putih. Menjadi itikad baik produser untuk menyisihkan sebagian dananya sebagai sumbangan kepada Panti Asuhan tersebut. Tapi yang membuat anak-anak sangat girang adalah munculnya Dono Warkop yang bertindak sebagai Pembawa Acara. 

"Cerita film ini berpusat pada keris pusaka Empu Gandring yang terus menyebar maut pada zaman Singasari, " ungkap Sisworo yang menunjuk Willy Dozan sebagai tokoh Ken Arok, sedangkan Suzanna sebagai Nyi Polok. 

"Saya bermain sebagai puteri Nyi Polok yang menjadi kekasih Fendy, " sambung Murti Saridewi,. Jadi kalau dalam serial "Saur Sepuh " sebagai Lasmini ia terus mengejar cinta Brama Kumbara yang diperankan oleh Fendy Pradana, sekarangnlah baru kesempatan untuk 'bermesraan' diperoleh Murti. 

"Kalau saya justru film pertama saya main bersama Suzanna, " ujar Fendy yang debutnya lewat "Malam Satu Suro" dan mengakui Sisworo sebagai sutradara pertama yang mengontraknya main film. 

Willy Dozan yang datang berdua dengan Betharia Sonata, cuma senyum-senyum saja. "Peran untuk saya tidak banyak kok, boleh dibilang cuma sebagai bintang tamu saja, " ujarnya merendah. 

Suting dimulai pada awal September 1990 di lokasi Pelabuhan Ratu, Pangandaran dan Ciseeng. (Ada yang nonton sutingnya?~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990


     

YENNY FARIDA


 YENNY FARIDA (Berita lawas),,  "BOM SEKS" begitu julukan bintang yang satu ini. Yenny Farida hadir didunia film nasional memang dengan penuh keberanian, hingga di adijuluki artis spesialis adegan panas. 

Memang, bicaranyapun ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling, baik dalam persoalan pribadi maupun soal keresahannya di dunia film. 

Yenny tidak takut sama cowok, kendati dia sering gonta ganti pasangan, tapi tetap tidak kapok. "Biarin, kalau pergi gampang cari laki-laki lain" katanya tegas. Ketika ditanya bagaimana resepnya menaklukkan lelaki, Yenny cuma menjawab dengan senyum. Tapi dia mengakui bahwa untuk itu ada ilmunya, tapi bukan ilmu dukun tentunya. 

Namun begitu, bukan berarti dia mau "blangsak" terus, hatinya sama seperti hati manusia lainnya. Dan dia sadar bahwa pada lubuk hatinya juga teringat akan kebesaran Allah. Karenanya diapun punya niat untuk menunaikan ibadah haji, rukun islam ke lima. Sayangnya maksud tersebut belum kesampaian. 

Yenny, sempat terbaring di rumah sakit. Katanya kena penyakit ginjal hingga di aperlu di rawat di MMC Kuningan. Hampir satu minggu dia dirawat disana, bahkan harus diinfus segala. Sakitnya kebetulan jatuh pada akhir bulan puasa, hingga mau tak mau dia harus lebaran tergeletak di rumah sakit. Inilah yang banyak membawa hikmah bagi diri Yenny. 

Anehnya, saat ketemu Yenny di lokasi suting film, "Angkara Membara" arahan sutradara Yoppy Burnama beberapa waktu lewat, Yenny tampak cerah dan badannya agak gemuk. 

"Memang aneh kok saya sendiri nggak ngerti, badan bisa tambah lima kilo beratnya. Celana dalamyang biasa saya pakai no. 29 sekarang mesti pakai nomor 3 ucapnya gurau".

Sekarang, walau keadaanya belum sehat betul, pinggang masih terasa sakit-sakit, pegel begitu, tapi kalau sudah bicara suting maka penyakit itu lenyap. Yenny nongol di lokasi suting jadi bintang tamu film "Angkara membara" produksi PT. Surya Artiwibawa Film. Gimana sih, gua kan nggak bisa lari dari dunia film, sebab dunia ini yang membesarkan dan membuat populer, hingga gue terkenal sampai sekarang ini, " begitu kata Yenny. 

Dari Perjalanannya di dunia film, Yenny sudah banyak mengisi frame perfilman nasional. Boleh dikatakan segala tema dan sudah menjadi ciri bila Yenny muncul pasti punya daya pikat tersendiri. Untuk film pengalaman baru inidimanfaatkannya benar walau sebagai bintang tamu. 

Sudah banyak film yang dimainkan Yenny, tapi rata-rata film itu memanfaatkan kemontokan dan kemulusan tubuh Yenny, barangkali inilah yang menjadi salah satu daya pikat. ~MF ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990



Friday, April 24, 2026

TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, MENENTANG FILM IMPOR


 TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, (Film Lawas). Mencari nilai jual yang tinggi merupakan angan-angan pertama yang melintas di benak pedagang. Termasuk produser film, tentunya. Pemikiran mereka sangat sederhana dan wajar, ingin untuk. Syukur bila keuntungan besar. 

Untuk meraih apa yang diharapkan, para produser itu selalu berusaha menggali dan menampilkan sesuatu yang baru dan menarik. Memilih cerita yang baik, berbobot dan cukup populer dikalangan masyarakat luas, merupakan langkah awal dari upaya mereka. 

Bila produser telah mendapatkan cerita yang diharapkan dan dinilai cukup komersil, memilih bintang pendukung pun segera dilakukan. Tentu saja, pilihan jatuh kepada aktor dan aktris yang masih menjadi idola masyarakat. Soal resiko salah casting, bagi produser biasanya menomorduakan. Yang penting bagi pedagan ini adalah Filmnya bisa laku. 

Judul yang komunikatif dan gampang memasyarakat, juga diyakini sebagai salah satu faktor penting atas sukses tidaknya peredaran film tersebut. Begitu besar pranan sebuah judul, sering menimbulkan keributan diantara sesama produser. 

Kitapun tak perlu heran mendengar terjadi jual beli judul film. Kabarnya pasarannya cukup tinggi. Sebuah judul bisa mencapai jutaan rupiah, bila produser menganggapnya punya nilai komersil. 

Dan soal judul ini, sering pula dikaitkan dengan urusan mistik. Judul yang baik, komunikatif dan komersil, menurut keyakinan produser, setengah perjalanan untuk mencapai sukses. Sebaliknya, judul yang aneh-aneh konon sering pula berdampak negatif dan membawa malapetaka. 

Dalam upaya mencari nilai jual yang tinggi itu, Gope T Samtani, Produser PT. Rapi Film nampak lebih serius. Mengontrak bintang termahal saat ini, Meriam Bellina juga dilakukan untuk mengangkat film Saat Kukatakan Cinta. 

Untuk Film keduanya, Tiada Titik Balik, Gope kembali mengimpor bintang bule, Cindy Rothrock bersama beberapa pemain bule lainnya untuk mengadu ketangkasan dengan aktor laga kita Advent Bangun. 

Masih dalam upaya mencari terobosan, Tiada Titik Balik yang melibatkan ribuan pemain, termasuk figuran, diboyong ke Amerika untuk penggarapan sound effect yang menggunakan system ultra stereo . Menurut Gope yang menguras kocek hampir  satu miliar rupiah, sekarang ini kita memang harus berani mencari terobosan baru dan mengeluarkan biaya yang relatif besar. 

Dengan menggunakan ultra stereo sound katanya, film ini diharapkan mampu menembus kelesuan pasar dan dominasi film impor di bioskop kelas atas. "Kalau bisa sukses di bioskop atas, biasanya di bioskop bawahnya juga sukses," katanya.

Sasaran lain yang ingin di capai, kata Gope penuh optimisme, menerobos pasaran luar negeri. Bahkan diharapkan dari pasaran luar negeri itu biasa produksinya sudah bisa tertutup, sehingga hasil pemasaran di dalam negeri sudah merupakan keuntungan. 

Menyinggung entang penyelesaian film yang agak lambat, Gope bilang "Prosessing tidak mengalami hambatan, hanya karena banyak pembuatan spesial effect dan animasi yang harus digarap di Hongkong dan ultra stereo sound-nya di Amerika, membuatnya lebih lama".

Ia mengaku dibandingkan dengan pembuatan biasa yang semua di kerjakan di dalam negeri film ini lebih lama sekitar satu bulan. "Biasanya , empat bulan setelah suting, sudah selesai copy A-nya tapi dengan menggunakan ultra stereo, baru selesai sekitar 5-6 bulan, ' jelasnya. 

Setelah berkutat di Amerika untuk menyelesaikan penggarapan ultra stereonya, Tiada Titik Balik tidak akan bisa langsung pulang ke Indonesia. Kata Gope, ia harus mampir lagi ke Hongkong, prosesing berikutnya sampai Copy A. ~MF No. 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Thursday, April 23, 2026

SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL

 


SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL, Hujan deras berganti gerimis, angin sepoi membawa uap air, bumi Jakarta pun kian dingin. Sementara dibalik malam yang dingin itu kru film terseok seok, penat dan letih membaur jadi satu. Ya, orang film harus bisa bekerja segala cuaca. 

"Ok! Kamera go (action) pekik Sisworo Gautama Putra selaku sutradara. Seorang pemeran pembantu bertubuh kekar bergerak, sementara Suzanna menatap dengan sorotan tajam. Ternyata Sisworo tahu persis meramu tema film horor. Penempatan kamera yang dipegang Partogi Simatupang begitu pas dengan seleranya. Suting pun berjalan mulus dengan target 26 hari harus selesai. 

Sekali ini Sisworo dihadapkan pada tantangan untuk mampu menghasilkan karya baik dengan waktu yang singkat serta anggaran standar. Soal akal-akalan set, misalnya sebuah bangunan mewah yang belum rampung bisa disulap jadi set angker sebagai markas para bandit. 

Meski malam telah larut, penata artistik masih bekerja, menyiapkan boneka-bonekaan dan perangkat efek lainnya. Skedul suting tidak rapi. Berantakan karena para pemainnya sebagian suting di tempat lain. Tak jarang suting break gara-gara pemain. 

"kita sudah membuat dua ribu tigak kali glass shot, masak kalian tidak bisa. Ayo cepat dong, " teriak Sisworo memlihat persiapan adegan glass shot, dimana Suzanna masuk ke dalam jasad orang lain. Ia ngomel karena siraman tata lampu tidak tepat membuat pengambilan gambar terganggu. Satu jam untuk persiapan glass shot, membuat Suzanna letih. Berkali-kali latihan dan istirahat . Pada saat-saat tertentu Sisworo galak di lokasi suting. Tekadang omelannya mujarab juga untuk kerja cepat dengan hasil maksimal.

Malam itu pengambilan gambar dengan glass shot termasuk cepat. "Bukan kita takut dengan omelannya, sehingga kerja jadi cepat. Temperamennya memang begitu, tapi terkadang ada gangguan teknis yang menghambat suting, " ujar seorang penata lampu. 

Paling seru selama suting berlangsung adalah adegan pembotakan rambut pemeran pembantu. Suasana ketika itu agak ramai, sebab adegan pembotakan itu dilakukan masyarakat di lingkungan suting berlangsung. Ada yagn tertawa, prihatin dan kagum kepada seorang ibu  rumah tangga yang mau kepalanya di botaki! Tapi bagi Sri Rahayu Agustin yagn menjadi korban merupakan kebanggaan. "Sebab cukup lama saya ingin mendapat peran besar tapi baru sekali ini saya dapati, " katanya. 

Film Ajian Ratu Laut Kidul yang di produksi PT. Libra Inter Delta Film dibintangi oleh Suzanna, Clift Sangra, Tino Karo, Ratu Dhenok, Saigian Sugaja, Yornania, Johny Indo, Rita Sheba, Erfan Yudha dan Sri Rahayu Agustin Film horor ini dipenuhi balas dendam dari wanita yagn sakit hati kepada orang yang menjerumuskannya sehingga wajahnya cepat dan jabatanya sebagii Lurah di comot.

Karena tak tahan, eks lurah ini pergi meninggalkan desanya sampai  suatu ketika berjumpa dengan lelaki tua jelek yang monolongnya, dengan syarat mau dipersunting. Apa salahnya menerima  lamaran  itu . Tiba-tiba wajahnya menjadi cantik seperti Ratu laut Kidul. 

MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Wednesday, April 22, 2026

RENGGA TAKENGON, TENTANG DUBBING FILM TV


 RENGGA TAKENGON, TENTANG DUBBING FILM TV, (Berita Lawas), Dubbing film TV di cap jelek, kontan saja Rengga Takengon berang. Sebab tidak semua dubbing film asing dibuat asal jadi. "Jangan dibandingkan dengan 'Little Missy' , karena TVRI membelinya dari Malaysia dan di dub dalam bahasa Melayu, " kata Rengga Takengon. 

Persaingan mutu siaran semakin ketat antara TVRI, RCTI, SCTV dan TPI (saat stasiun tv belum banyak seperti sekarang) untuk merebut hati pemirsa. Akibatnya, mutu pengisian suara film TV pun diusahakan bertambah baik. Lalu TVRI melatih dubber untuk film seri 'Rin'.

Menurut Rengga, yang perlu dilakukan adalah perbaikan segi non teknis, yakni kemampuan  dubber seperti vokal, karakter suara dan penghayatan serta sinkronisasi emosi. "Terus terang, ketika saya menjadi dubber film Nasional ada rasa ketidakpuasan. Perusahaan Viva Pro memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin penggarapan dubbing film TV. Rengga Takengon membuktikan hasilnya lewat seri TPI Emilie, Shanon Deal, Tika dan Family serta beberapa film lepas. 

"Pertama yang dibenahi adalah emosi. Saya selalu menyuruh para dubber berakting kembali. Supaya emosi pelakon dan dubber bisa sinkron, " kata Rengga, ketika ditemui di studio Irama Tara saat dubbing. Diakui pula oleh kelompok dubber seperti Nuraini Lubis, Dennis, Ariyo Sugiarto dan Anies bahwa "Rengga selalu tidak puas, sehingga menuntut kami bekerja keras."

Kendala yang dihadapi dubber adalah perbedaan gerak bibir bahasa asing dengan bahasa Indonesia. "Penerjemah juga punya peranan penting. Supaya sinkron harus kayak perbendaharaan sinonim kata. Gunaya untuk mencari kesamaan gerak bibir dengan kalimat, " ujar Anis. Film-film TV biasanya dibeli dari berbagai negara. Bahasa aslinya bermacam-macam. Contohnya film Emilie bahasa aslinya Prancis. 

Keapikan hasil dubbing tergantung bahan baku tersedia. Sebab cara kerjanya menggunakan alat elektronik tak sama dengan memakai seluloid (film), Alat elektronik semua unsurnya, seperti musik dan efek telah menyatu dengan gambar. "Ketika proses dubbing tidak bisa dihapus suaranya saja. maka, harus membuat musik dan efek sendiri. Bila film itu memiliki master, tanpa suara, hanya musik dan efek, kami hanya mendub. Hasilnya akan lebih apik, " kata Aguston, pimpinan Viva Pro. Musik dan efek yagn dikerjakan sendiri, hasilnya kuran memadai. "Kemampuan kerja alat efek kita belum memadai. Padahal asam garamnya film tergantung efek dan musik, " ujar Aguston memaparkan. 

Tidak semua film TV layak di dub ke bahasa Indonesia. Sebab kalau dilakukan akan mengurangi keapikan. Di dub supaya pemirsa cepat mencerna, semisal film anak-anak. "Kan nggak lucu kalau Mac Gyver di dub bahasa Indonesia. Tentu keapikannya hilang. Kalau film LA Law, tentang kehakiman itu perlu, sebab bicara soal hukum, agar pemirsa dapat menangkap maksud cerita film itu sendiri, " tambahnya. ~dikutip dari MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


Tuesday, April 21, 2026

HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN

 


HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN, Idham Sjamsuddin bin Taha ini lebih terkenal dengan Hadisyam Tahax, "profesi film' kan selalu menuntut yang praktiks dan khas, " begitu kilahnya. Lahir di Tanjung Balai , 15 Agustus 1927, menyelesaikan pendidikannya di Anglo Indonesia School, Medan, sampai kelas VII. 

Mengenal dunia film, juga ditanah kelahirannya 1955, ketika dibuat film berjudul, " Peristiwa Danau Toba". Sebagai pemain juga "Sungai Ular" (1961). 

Hijrah ke Jakarta, pusat kegiatan perfilman nasional, Tahax makin memantapkan nama. 1965 dia tampil sebagai pemeran utama dalam "Luka 3 kali", wajahnya yang khas, membuat namanya cepat terserap oleh ingatan masyarakat. Apalagi, dalam kebanyakan filmnya yang puluhan judul, Tahax sering kali tampil sebagai lawan main pemegang peran utama. Peran-peran antagonis, yang umumnya berkarakter jahat. Tahax sempat mendapat julukan "The bad boy on teh screen," Si Buruk di layar putih. 

Peran-peran demikian, ruanya tetap menjadi "langganan"nya sampai dasawarsa 1980an, dia tetap kebagian peran-peran sebagai antigone. "Itulah rejeki abang" tanggapnya. Menekur, mengingat sekian banyak mulut dalam keluarganya yang mesti dibela dan diperjuangkannya lewat kesempatan-kesempatan main film itu. 

Dalam umurnya yang semakin menua, peran-peran yang dipercayakan sutradara maupun produser kepadanya, memang semakin kurang. Tetapi bagi Tahax, kepercayaan itu cukuplah seabgai tanda bahwa orang masih mengingat diri dan prestasinya. Demikian, tak terkirakan senang dan bangganya, ketika "Musang Berjanggut" mencantumkan namanya sebagai salah seorang pemain. Senang dan bangga, karena kesempatan dalam tahun ke 28 karir filmnya, justru dari daerah kelahirannya sendiri. Produser dari Medan dan film itu dibuat justru untuk menghadapi festival film Indonesia di Medan. Diapun bangga, merasakan tanah kelahirannya mampu menjadi tuan rumah, sebuah peristiwa kebudayaan yang besar dalam catatan sejarah negaranya. 

Kebanggaan yang tersisa, setelah aktivitas dalam sandiwara dipentas maupun televisi, berlangsung surut. ~buku ffi 83

BUDIYANTO, HIDUPKAN KUNTILANAK


BUDIYANTO, HIDUPKAN KUNTILANAK, (Berita lawas), Nama Budiyanto sudah dikenal di dunia model dan perfilman. Dari tangan lelaki inilah lahir nama-nama artis yang sekarang jadi populer seperti Harry Capri, Lela Anggraeni, Hengky Tornando, Ayu Lestari dan banyak nama lagi. Tapi ketika nama tersebut diingatkan pada suami artis Lina Budiarti ini, dia mengelak, "ah jangan ngungkit-ngungkit itu lagi. Nanti disangka saya cari perhatian, " ucap Budiyanto dilokasi suting sinetron Gadis Kuntilanak di Cibubur. 

Apa saja kerja Budiyanto setelah sekian lama tak terdengar kiprahnya? "Saya masih tetap sibuk seperti dulu. Memang banyak orang mengira saya vakum. Tapi tengok saja rumah saya, masih tetap sibuk menerima calon-calon model, ' tutur Budiyanto. 

Banyak yang merasa kehilangan jejak Budiyanto yang dikenal bertangan dingin dalam mengorbitkan model ini. Dari kawasan Tomang di Jakarta barat, Budiyanto belakangan menghuni rumah di Graha Indah, Jati Mekar Pondok Gede Jakarta Timur. Disini pula Budiyanto tetap menulis cerita komik yang diantaranya pernah difilmkan seperti Angkara Murka, Angling Darma, Ibuku seorang Pelacur serta Tante dan Sex. 

Gadis Kuntilanak adalah komik karya terakhirnya yang sedang digarap kedalam sinetron. Dibintangi oleh Gitty Srinita, Fitri Handayani, Abe Fauzi dan Lina Budiarti, cerita horor ini dikemas dengan gaya modern. 

 ~Mf 275/241/XIII/28 Des 96 - 10 Jan 1997