Saturday, April 18, 2026

AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR


 AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR, 

Amrin Membolos, kata Bu Guru, Jangan membolos, Menyusahkan Ibu....

Itulah bait awal lagu anak-anak Amrin Membolos karya Pak Kasur yang pernah populer pada 1960an. Seperti diketahui guru Taman Kanak Kanak paling terkenal di Indonesia itu, juga menciptakan banyak lagu anak-anak, dua diantaranya yang merupakan karya abadi adalah Naik Delman dan Naik Becak. 

Kembali pada lagu Amrin Membolos, kemudian juga dijadkan theme-song dan judul film anak-anak yang dibuat sendiri oleh Pak Kasur pada tahun 1961. Saat itu film Indonesia masih hitam putih. Murid-murid Sekolah Dasar pun digiring guru-guru mereka beramai-ramai menonton film tersebut ke bioskop. Perlu diketahui, bahwa Pak Kasur juga sempat berkiprah di dunia film. Antara lain karya filmnya adalah Siulan Rahasia dan Harmonikaku (dibuat ulang dua kali). 

Setelah 35 tahun kemudian, Amrin Membolos pun di remake (dibuat ulang) , tentu saja dengan versi baru yang di sesuaikan dengan zaman. Bertindak selaku produser adalah Bu Kasur yang bertekad mewujudkan amanat almarhum suaminya. 

"Semasa hidupnya, Pak Kasur punya dua obsesi yang sering di cetuskanny apada saya, " tutur Bu Kasur. "begini katanya", Mbok ya aa film anak-anak Indonesia Lalu yang kedua, kapan ya ada lagu anak-anak Inodnesia yang digelar dengan simphoni orkestra lengkap'. Sekarang, sudah seribu hari terlampaui dari wafatnya Bapak, namun belakangan ini justru amanatnya itu terngiang terus di benak saya".

Gagasan untuk membuat film anak-anak yang menjadi idaman Bu Kaur ini mendapat sambutan dari Agus Setiawan, direktur Sea World, Ancol. Modal pembuatan sebuah film Indonesia masa kini yang minimal 200 juta, bisa di sediakan oleh Agus. Berlanjut dengan dihubunginya Sjamsuddin, Kamerawan kawakan yang punya perusahaan film Sjam Studio . 

Maka Yayasan Setia Balita Pak Kasur memprokamirkan pembuatan film anak-anak Indonesia yang sudah sangat langka dibuat untuk masa kini (terakhir tercatat cuma Si Badung 1989 karya Imam Tantowi). 

Di dapuk sebagai dalangnya Yonky Souhoka, sutradara muda yang biasanya engarahkan film-filmnya Sally Marcellina. 

Sebagai kamerawannya tentu saja Sjam sendiri. Sedangkan ide cerita asli dari Bu Kasur di tulis skenario barunya oleh Rizky Prasetya. 

Bagaimana dengan Amrin Membolos versi 1996)

Tampil seorang bocah berambut rada gondrong yang bernama keren Don Bogard. Tapi jangan salah paham dia bukan bule atau blasteran, karena memang anak kandung Sjamsuddin sendiri. 

"Saya sudah duduk di kelas 6 SD 07 Pagi," seru Don ketika memperkenalkan dirinya. Dipilihnya Don memerankan Amrin, karena ia punya ketrampilan main sepatu roda in-line. Hobinya ini dikembangkan saat bergabung dengan Kelompok Sepatu Roda Monas Group asuhan Dr Pohan. 

"Ceritanya, Amrin membolos karena tergila-gila main sepatu roda. Lalu secara kebetulan melihat kawanan penjahat sedang merampok sebuah rumah. Akibatnya ia dikejar-kejar penjahat. Tapi dengan kelincahannya bermain sepatu roda, Amrin selalu bisa lolos malah penjahatnya jatuh bangun sendiri, " tutur Bu Kasur. 

Sjam merancang adegan seru, seperti Don melayang bagai terbang dengan sepatu rodanya melompati atap mobil. Sebagai penolong Amrin pada klimaksnya adalah pamannya sendiri yang diperani bintang karateka ADVENT BANGUN. Sedangkan ayah ibunya dimainkan oleh NIZAR ZULMI dan DEBBY CYNTHIA DEWI. 

"Tak lupa kami berterima kasih sekali pada Rano Karno yang telah meminjamkan bintang-bintang sinetron serial Si Doel seperti Mandra, Suti Karno dan Pak Tile untuk ikut bermain di film ini. "

Diramaikan lagi oleh nenek rocker Laela Sari, kawanan penjahat dimainkan oleh wajah-wajah kriminil, Herman Bule, Firmansyah, Satrio dan Amir Koto. Gadis pra remaja Putri Ayu bermain sebagai kakak Amrin dan si cilik Imbow sebagai adik Amrin. Banyak murid-murid Yayasan Setia Balita disertakan juga rombongan Cheerleader Tuti Girl dengan ilustrasi musik tatanan Sudharnoto. 

Suting di Jakarta dan sekitarnya yang dimulai pada 11 Maret 1996 dengan di kebut karena direncanakan filmnya bisa ditayangkan pada 26 Juli bertepatan dengan ultah Pak Kasur (tercatat kelahiran Serayu, Banyumas, 26 Juli 1914). ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

Ada yang sudah nonton filmnya?


Friday, April 17, 2026

GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG

 


GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG, Kesuksesan sebuah film nasional acap dipengaruhi judulnya. Demikian mitos yang terdapat di perfilman nasional. Simak saja judul film nasional belakangan ini begitu bombastis dan penuh dengan adegan yang menggiurkan  hawa nafsu, meskipun terkadang materi cerita tidak sesuai dengan judul filmnya. Dengan judul film yang "luar biasa" itu diniatkan memancing minat penonton untuk melirik perfilman nasional. 

Film Gairah Malam III diproduksi PT. Elang Perkasa Film ini, ceritanya tidak ada kaitan dengan Film Gairah Malam  I dan Gairah Malam II. Hanya artis sexy Malvin Shayna pemain tetap film Gairah Malam I,II dan III. Diakui para booker film daerah, artis panas ini masih punya nilai jual yang cukup tinggi. Teruji dari sekian banyak film yang dibintanginya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan ke kocek produsernya. Akibatnya sering akhir-akhir ini Malvin Shayna tampil di layar perak sampai melahirkan anekdot, Malvin Shayna penyelamat film nasional. Karena dengan tubuh mulusnya menggairahkan penonton untuk datang ke bioskop. Gairah Malam III juga yang dibintangi Eddy Chaniago, Sonny Dewantara, Diaz Astuty, Malvin Shayna, Hengky Sonny RB, Thea Novita, dan Shinta DS ini. 

Ketiga serial film, Gairah Malam ceritanya secuilpun tidak memiliki continuity atau kesinambungan. Dipakainya judul Gairah Malam III hanyalah kiat produser mencuri perhatian. 

"Judul film Gairah Malam semacam ada 'garansi' dalam meraih keuntungan," komentar sutradara Prawoto Soeboer Rahardjo.

Adanya 'garansi' dari judul Gairah Malam bukan membuat sutradara jebolan IKJ ini berlaha. Dalam pengadeganan dan pembuatan trik-trik effect ia mencoba menampilkan gagasan baru. Antara alam mistik dan alam nyata. Dari materi skenario yang ditulis Prawoto, film ini 'bermain-main' dalam alam imaginasi. Rumusan seks dan kekerasan yang menjadi handalan tetap dipelihara. 

Materi cerita tentang perebutan pusaka. Mirip seperti kisah nyata Brandon Lee ketika suting film The Crow. Hanya saja alur ceritanya dilencengkan kealam mistik. 

Dalam suting sebuah film tiba-tiba pemeran utamanya tanpa di sengaja kena tembak dan mati. Kemudian dibawa kerumah sakit. Akan tetapi begitu Jodi sadar ia sudah berada disebuah alam gaib, alam antara hidup dan mati. Dalam alam itu ia bertemu dengan teman-temannya yang telah lama mati. ANehnya semua jadi mayat hidup. Hanya Jodi yang masih bernafas. Kiranya pembunuhan Jodi disengaja oleh Bu Darmi, seorang wanita yang memiliki ilmu tinggi. 

Bu Darmi dendam melihat Jodi anak musuh bebuyutannya sukses sebagai bintang film. Apa lagi musuh yang sekaligus kakak seperguruannya, Darman belum dapat dikalahkan. Sakit hati Darmi bermula karena merasa Darman mengabaikan anaknya yang dititipkan untuk menuntut ilmu. Akibat keteledoran itu anak Bu Darmi yang dititipkan kepada Darman sejak kecil menjadi gila. 

75% dari film ini penuh dengan adegan laga sedang sisa 25% untuk love scene. Sutradara muda ini mencoba memadukan unsur penuturan Amerika dan Mandarin dengan peralatan yagn ada di perfilman nasional. Para awak film yang terilbat dalam film ini adalah Prawoto Soeboer Rahardjo (Sutradara), Heru Susanto (Kamerawan), R.A Maktal (Penata Artistik), Chris (Penata Kelahi) dan Andy Burnama (unit Manager) ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

MIEKE WIJAYA


 MIEKE WIJAYA, Seorang aktor atau aktris harus senantiasa peka terhadap manusia dan lingkungannya, sebab dengan banyak mengamati kehidupan sehari-hari berbagai macam karakter dapat dihidupkan kembali bila ia dituntut berperan seperti tokoh yang pernah dilihatnya, begitu kata Mieke Wijaya pada suatu kesempatan. Mieke Wijaya istri dari aktor Dicky Zulkarnaen ini memperoleh Piala CITRA sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam Festival Film Inodnesia 1981 di Surabaya untuk filmnya "Kembang Semusim" dimana ia bermain sebagai ibu yang dihayatinya dengan baik. "Bagi saya itu, adalah prestasi tertinggi yang saya peroleh selama hampir dua puluh tujuh tahun lamanya berkecimpung di dunia film, " ucap Mieke Wijaya. 

Sebelum Mieke Wijaya mengenal dunia film, ia dulu lebih banyak dikenal sebagai seorang penyanyi di Radio Republik Indonesia Stasiun Palembang, yang waktu itu  bergabung dengan group band "Empat Sekawan" tahun 50an. Setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya Mieke yang bernama asli Mieke Maris itu hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) 1956-1957. 

Mieke yang di lahirkan di Kota Kembang Bandung 17 Maret 1940 waktu masuk ke Akademi Teater masih sangat muda "Usia saya waktu itu baru enam belas tahun,", ucapnya. Maka tak mengherankan tentu ia terbilang 'kembang' yang sedang mekar-mekarnya dikelilingi kumbang-kumbang yang berebut mengisap madu. 

Dia masih ingat dengan jelas kapan ia pertama kali mendapat kesempatan main film yakni tanggal 30 Oktober 1955 dalam film "Gagal" dimana dalam film itu Mieke mendapat kesempatan main sebagai peran Pembantu. Sejak itulah namanya mulai banyak disebut-sebut orang film, sebagai aktris yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Berturut-turut kemudian ia ditawari oleh beberapa produser untuk ikut mendukung film yang akan dibuatnya diantaranya film "Tiga Dara" yang dibuat tahun 1956 kemudian dalam film "Piso Surit" (1960), "Toha Pahlawan Bandung Selatan", (1962), film "Liburan Seniman" (1965), "Malam Jahanam" (1969), "Badai Pasti Berlalu" (1977), "Akibat Godaan" (1978) , "Cengkraman Garuda" (1978) dan banyak lagi lainya. Antara tahun 1977/1978 saja ia telah main dalam 55 film. 

"Saya lebih senang jika disodori peran tidak itu ke itu saja yang bisa membuat kita jemu", katanya. Dan seorang aktris lanjut bagi Mieke harus bisa dan mampu mewujudkan segala macam karakter yang dituntut oleh cerita dan jangan lupa membaca skenario berulang-ulang, dengan cara itu sering timbul ide-ide baru, baik dalam penggunaan dialog maupun nuansa akting. 

Hingga tahun 1983 banyak sudah penghargaan yang ia terima di berbagai event Festival Film, Sebagai The Best Actress 1963 pilihan para Wartawan di Jawa Timur untuk permainannya yagn cantik dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan",. Disamping itu mendapat penghargaan sebagai Pemain utama pada Pekan Apresiasi Film (1967) dalam film "Gadis Kerudung Putih". Disamping itu MIeke pernah pula meraih sebuah Penghargaan lain dalam pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1971) untuk permainannya dalam film "Malam Jahanam". Penghargaan sebagai Pemain Harapan Wanita kembali direbutnya pada pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1972) untuk perannya dalam film "Akhir Cinta Diatas Bukit". Pada Festival Film Indonesia tahun 1975 yang dilangsungkan di Medan, Mieke pemperoleh penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Terbaik dalam film "Ranjang Pengantin" yang dibuat tahun 1974.


PERTEMPURAN SEGITIGA MENGANDALKAN CINDY ROTHROCK

 


PERTEMPURAN SEGITIGA MENGANDALKAN CINDY ROTHROCK, (Berita Lawas). Mengimpor bintang bule bagi Rapi Film bukan lagi hal baru. Sudah terlalu sering, Christ Mitchum sudah beberapa kali dikontrak untuk membintangi film-film produksinya. 

Gope T Samtani produser Rapi Film, mengimpor bintang bule cewek yang sudah punya penggemar di kawasan Asia. Cindy Rothrock ratu karateka tingkat dunia itu yang dikontraknya. Film yang dibintangi di beri judul "Pertempuran Segitiga" yang sudah mulai beredar  sejak 9 Mei 1991 di bioskop  superhall di Jakarta. 

Di beberapa daerah, Medan, Jambi telah beredar lebih dulu saat umat Islam merayakan Lebaran. Hasil peredarannya, kata Gope sangat memuaskan. Ia kemudian mengharapkan di Jakarta juga mendapat sambutan masyarakat. 

Tentang ema film perdana Cindy ini, jelas film action (laga). Sesuai judulnya, Pertempuran Segitiga yagn melibatkan Roy Marten, Minati Atmanegara, Zaenal Abidin dan lain-lain. 

Ceritanya dibuka dari kegilaan memiliki komputer canggih yang bergerak di bidang komputer. TCI nama perusahaan itu. Perusahaan ini memproduksi komputer yang sangat canggih dan sangat berguna untuk segala macam pekerjaan. Dan pengumpulan data sampai mengerahkan penembakan senjata nuklir. Begitu hebatnya berita tentang komputer tersebut membuat banyak orang ingin memilikinya. 

Nancy Bolan, salah seorang pimpinan TCI yang ahli komputer mendapat tugas untuk membawa komputer itu ke Indonesia dan menyerahkannya ke anak perusahaan TCY di Indonesia yang di pimpin oleh David. 

Benny, kekasih Nancy yang sudah lama menghilang, tiba-tiba muncul lagi. Kali ini dalam kancah perebutan komputer canggih itu, tapi juga untuk melindungi Nancy. 

Bill Stewart, tokoh teroris internasional juga keluar dari tempat persembunyiannya untuk merebut komputer tersebut. Ternyata, barang canggih itu dikririm dalam beberapa cara dalam waktu yang berlainan, tapi komputer yang asli hanya satu. 

Pertempuran antara mereka yang saling menginginkan komputer itu menjadi sangat seru karena masing-masing tidak tahu mana sebenarnya yang asli. Dan bahaya selalu mengancam Nancy, karena memang hanya gadis itu yagn tahu komputer mana yang asli dan hanya dia pula yang bisa mengaktifkannya. 

Pertempuran itu tidak hanya terbatas pada aksi tembak menembak di udara yagn menggunakan lima pesawat  helikopter , tapi juga seru bertempur di laut mengunakan kapal boat. 


Thursday, April 16, 2026

FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA

 


FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA, Sebuah terobosan baru di lakukan sutradara Torro Margens lewat film ini, menggunakan dialog bahasa Jawa. Cerita rakyat yang sudah melegenda ini sudar tersohor sejak 1950an lewat panggung ketoprak. Denga sendirinya memang teasa lebih pas bila para pemainnya berbahasa Jawa. Namun kemudian PT Kanta Indah Film memproduksi dua versi sekaligus, untuk peredaran di Jatim dan Jateng, khusus yang berbahasa Jawa, sedangkan di lain daerah dalam versi bahasa Indonesia. 

Di dukung oleh pemain-pemain : Baron Hermanto, Fitria Anwar, Okky Irwina Savitri, Atin Martino, Basuki, dan Prof. Dr. RM Wisnoe Wardhana sebagai Prabu Bojonegoro, merangka penasihat bahasa Jawa. 

Ketika Berburu, Prabu Anglingdarma memergoki keserongan Nagagini dengan seekor ular sanca. Untuk menutupi keserongannya, Nagagini menghasut suaminya, Nagaraja. Maka Nagarajapun menyatroni keraton Malawapati. Justru Anglingdarma sedang bercerita pada permaisurinya, Setyowati. 

Merasa malu, Nagaraja kemudian mewariskan Aji Gineng yang membuat Anglingdarma memahami bahasa hewan. 

Gara-gara ilmu inilah, Setyowati ngambek menyangka sang Prabu menertawakannya. Padahal Anglingdarma geli mendengar rayuan cicak jantan. Tak mungkin ia mewariskan Aji Gineng pada Setyowati, karena bisa membawa kematian. 

Sang permaisuri nekad pati obong. Anglingdarma tersadar demi mendengar kecaman seekor kambing. Untuk menebus rasa dukanya, ia ingin mengembara urusan kerajaan diserahkan pada Patih Batik Madrim. 

Ditengah rimba, Anglingdarma bertemu tiga wanita siluman yang merayunya, karena identitas mereka terbongkar, Anglingdarma ditenung menjadi belibis. 

Sang belibis terbang ke BOjonegoro. Dipikat si Klungsur dan dipersembahkan pada Dewi Anggorowati, putri Prabu Bojonegoro. Kasih sayang sang puteri memulihkan Anglingdarma. 

Namun Prabu Bojonegoro membuka sayembara, barang siapa bisa membekuk maling dalam keputrennya, akan diangkat menjadi menantu. Justru Batik Madrim  yang menantang 'maling' yang bukan lain daripada rajanya sendiri itu. 

Legena yang menarik ini selain menampilkan para bintang juga sejumlah binatang seperti ular, cicak, kambing, gagak dan belibis, harus berakting juga. 

Wednesday, April 15, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


EDWARD PESTA SIRAIT : Sebelum terjun didunia film, Edo (Panggilan akrabnya) pernah menjadi asisten Show Manager Sarinah, bekerja di Miraca Sky Club (1967-1970).

Kemudian setelah 4 tahun belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) ia mengikuti Kinoworkshop (1973), Edo, yang putra Batak itu dilahirkan di Siraituruk, Tapanuli 7 Agustus 1942. 

Memulai  karirnya di dunia film sebagai pembantu Sutradara sejak 1966 untuk film-film dokumenter, disamping sebagai pembantu editor dan sutradara film-film iklan pada perusahaan Ariza Jaya Flm. Film-filmnya ketika masih jadi pembantu sutradara antara lain : Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974), dan Malin Kundang (1973). Sedangkan karyanya yang pertama sebagai sutradara penuh adalah film "Chicha" (1976). Film tersebut mendapat penghargaan pada Festival Film Kairo (1977). 

Karya-karyanya kemudian menyusul berturut-tutur diantaranya "Sang Guru", Manis-manis Sombong, Gadis Penakluk dan Bukan Istri Pilihan dan sebagainya. 

Dalam film "Gadis Penakluk" Edward menempatkan namanya pada deretan Sutradara Muda berbakat dan banyak jadi perhatian oleh kalangan insan perfilman dan para kritisi film. Dalam film tersebut Edward Pesta Sirait meraih dua buah Piala "Citra" FFI 1981 di Surabaya untuk Ita Mustafa Pemeran Pembantu Wanita Terbaik dan Parakitri Tahi Simbolon untuk Penulis Skenario Terbaik. 

Sedang yang masuk dalam deretan unggulan (nominasi) : Edward Pesta Sirait untuk Sutradara Terbaik (Gadis Penakluk), Norman Benny (Editor) dan Adi Kurdi (Pemeran Utama Pria). Dalam Festival Film Indonesia 1982 di Jakarta, Edo berhasil mengikutsertakan dua buah filmnya : "Bukan Istri Prilihannya" dan "Sang Guru" . Dari kedua film tersebut beberapa diantaranya masuk dalam deretan unggulan antara lain Edo sendiri Sutradara - untuk filmnya "bukan Istri Pilihan" dan beberapa lagi yang lainnya. 

WD MOCHTAR


 WAGINO DACHRIN MOCHTAR atau WD Mochtar adalah aktor Indonesia yang lahir di Pontianak, 9 Mei 1928. 

Dalam Bidang kesenian ia mula mula dikenal dikalangan terbatas sewaktu bergabung dengan suatu kesatuan tentara Jepang antara tahun 1942 - 1945 di Pontianak Kalbar. Dalam kesatuan itu ia suka tampil sebagai penyanyi dan penari. Tahun 1946 ia hijrah ke Jawa dan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Karawang, lalu hijrah ke Yogyakarta dan bergerilya di Jawa Barat. 

Keluar dari ketentaraan selepas peralihan kekuasaan, ia langsung terlibat dalam film  "Tirtonadi" 1950 kemudian sampai tahun 1955 ia menjadi pemain tetap  studio Tan & Wong Bross yang kemudian berganti nama jadi Cenderawasih Film. Namanya kemudian beberapa tahun tengelam di dunia perfilman waktu itu antara 1955-1956, baru muncul lagi pada tahun 1960 lewat film "Badai Selatan" lewat tangan sutradara Sofia Waldy yang kemudian menjadi istrinya (Sofia WD). Mengisi kegiatan dari masa kosong pembuatan film, WD Mochtar bersama istrinya mendirikan "Libra Music Al Show" yang menyelenggarakan pertunjukkan ke berbagai pelosok tanah air. 

Memasuki era film berwarna ia mulai banyak tampil lagi seperti di film "Macan Kemayoran" 1965.Namanya tiba-tiba melambung berkat permainannya yang bagus, sejak saat itu ia mulai bermain di film film  yang disutradarai Wim Umboh. 

Berkat permainannya di film "Sanrego" ia dinobatkan sebagai The Best Actor dalam pemilihan Best actor/actress PWI Jaya pada tahun 1971. Film-film berikutnya : Pengantin Remaja, Melawan Badai, Tokoh, Mama, Badai, Petualang-petualang, Krakatau, Si Ayub, yuyun, Jaka Sembung dan Juga Ratu Ilmu Hitam. 

Pada tahun 1980 ia masuk Nominasi dalam FFI sebagai peran utama dalam film Yuyun garapan Arifin C Noer dan dalam FFI 1982 juga menjadi nominasi dalam sebagai peran pembantu terbaik dalam film "Ratu Ilmu Hitam"

Telah puluhan film yang dibintangi oleh WD Mochtar. Bermain bagus dalam film Lara Jonggrang dan Roro Mendut dan juga film-film lainnya termasuk beberapa kali bermain dalam film yang dibintangi Rhoma Irama. Kerap bermain antagonis meski juga bermain protagonis.

WD Mochtar tutup usia pada 13 Desember 1997 .

#wdmochtar #aktorindonesia

Sumber buku ffi 83

MENGENANG DHALIA, AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA


DHALIA,  AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA, Menjelang Idul Fitri 1941 H tepatnya Minggu, 14 April 1991, Dhalia tutup usia. Aktris kelahiran Medan 10 Februari 1927 itu erat berkait dengan sejarah Festival Film Indonesia. Dialah Aktris Utama Terbaik Festival Film Indonesia yang pertama (1955) dalam film Lewat Djam Malam (LDM).

Dalam LDM itu juga terpilih aktor utama A.N. Alcaff serta 2 aktor pembantu, Awaludin dan Bambang Hemanto. Film terbaik adalah LDM yang disutradarai Usmar Ismail. Tapi yang terpilih sebagai sutradara terbaik adalah Lilik Sudjio dalam Tarmina.

Pada Festival pertama itu muncul pemenang ganda untuk aktor utama dan aktris utama. Selain Dhalia dan Alcaff, terpilih pula Fifi Young dan A. Hadi dalam Tarmina. Film ini juga menghasilkan aktris pembantu terbaik, Endang Kusdiningsih. Diantara pemenang lain terdapat Harimau Tjampa untuk skenario. 

Festival dimaksud untuk memasyarakatkan film nasional, yang saat itu sedang tergencet oleh film-film impor. Bioskop-bioskop kelas satu terutama dikota-kota besar di dominasi produksi Holywood. Film Indonesia diputar hanya di bioskop kelas dua. Tapi disitu pula di putar film-film Malaya (Malaysia) dan India yang ternyata lebih disenangi publik. 

Usmar, bersama Djamaluddin Malik ikut dalam pembentukan Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA) di Manila, November 1953. Diantara usaha FPA adalah menyelnggarakan festival regional. Mulai tahun 1954 Tokyo, Jepang, tapi Indonesia belum sempat berpartisipasi. 

Ketika Festival Film Asia (Tenggara) diadakan di Singapura tahun 1955, maka tampillah Indonesia dengan film-film pilihan dari festival. Termasuk LDM dan Harimau Tjampa, yang dibintangutamai Bambang Hermanto dan Nurnaningsih. Harimau Tjampa berhasil meraih piala untuk ilustrasi musik terbaik. Kemenangan Indonesia pertama dalam Festival antar Bangsa. 

Mulai 1957 kata "Tenggara" dibuang di ganti Festival Film Asia (FFA), Festival 1955 ternyata tak dapat berlangsung setiap tahun. Baru terselenggara lagi 5 tahun kemudian, 1960 kembali tak ada Festival. keramian serupa itu muncul pada 1967, disebut Pekan Apresiasi Film Indonesia. 

Yang berkesinambungan terselenggara sejak 1973 , Festival Film Indonesia (FFI), Pelopor festival 1956, telah meninggal dunia, Djamaludin Malik (1970), dan Usmar Ismail (1971). Begitu pula dengan A Hadi (1971), dan Fifi Young (1975). Disusul oleh Awaludin kelahiran Padang 11 November 1916 pada 24 Februari 1980 di Jakarta. 

A.N Alcaff lahir di Jambi pada 17 Agustus 1925, main pertama kali dalam produksi Perfini, dosa Tak Berampun (1951), Menyusul Embun 1951, LDM 1954, Serta Mendung Sendja Hari (1960), Apa Jang Kau Tngisi (1965), dan Krakatau - 1977 , Intan Perawan Kubu 1972.Alcaff meninggal dunia di Jakarta pada 22 Desember 1987.

Bambang Hermanto juga menorehkan prestasi di usia senja, terpilih sebagai aktor pembantu terbaik pada FFI 1984 lewat film Ponirah Terpidana. Sebelum itu, Dhalia cuma masuk nominasi sebagai aktris pembantu masing-masing dalam Usia 18 pada FFi 1981 dan Bukan Isteri Pilihan pada FFI 1981.

Melanjutkan tradisi keluarga, Miss Intan (Ibu) adalah primadona sebuah rombongan sandiwara, Dhalia memulai karir seninya juga diatas pentas. Kemudian terjun pula ke dunia film, melalui Pantjawarna (40) dan Moestika dari Djenar (41). Dimasa pendudukan Jepang, selain main sandiwara, juga tampil dalam film Berdjoang (44) lalu ke panggung dan kembali ke film mulai Sangkar Emas tahun 1952.

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991