Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

HENDRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA !

 


HENRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA ! (berita lawas). Nasib memang penuh misteri, begitu juga garis kehidupan yang dialami aktor muda berbakat macam Henry Hendarto yang lagi laris ini. 

Pelakon di Kucing-kucing Hitam, jalan Makin Membara, Deru Debu, Jaka Sembung, Sinta dan Misteri, Rumahku Istanaku, Harta dan Nyawa dan masih banyak lagi, semasa kecilnya ambisi sekali ingin menjadi tentara. 

Untuk menggapai cita-citanya itu cowok keren ini mempersiapkan diri sejak SMP sudah dimulainya. Caranya. ia aktif di organisasi OSIS, ikut olahraga, renang, polo air, berlatih ilmu bela diri, Karate, Kungfu, Yoga dan berbagai aktivitas lainnya.

Pokoknya saat itu konsentrasinya hanya satu, yaitu masuk AKABRI. Maka di tempalah dirinya, bagaimana caranya supaya ia lolos seleksi. Niat itu tanpa kaya akan tercapai kalau saja pemuda yang murah senyum ini tak ada test ulang saat ia sudah melalui berbagai seleksi ke Magelang, tempat pusat pendidikan militer itu. 

Itulah yang disebut garis kehidupan alias nasib. Meski Henry yang datang dengan penuh percaya diri, justru gagal saat ia diharuskan test ulang psikotes yang sudah ditentukan itu. "Padahal saat masih di Jakarta , saya lulus begitu di test tentang psikotes. Itulah namanya nasib, siapa yang tahu," ujar Henry pasrah. 

berikut petikan wawancara dengan Henry Hendarto : 

Apakah Henry kecewa karena gagal jadi tentara? 

Kecewa sekali, karena persiapan yang saya lakukan begitu panjang dan matang. 

Anda sempat Frustasi? 

Alhamdulillah tidak, karena saya menyadari kalau manusia itu tidak selamanya berhasil dalam menggapai apa yang di cita-citakan. 

Apakah Anda tidak mencobanya sekali lagi?

Niat itu sebetulnya ada, Begitu saya koreksi ulang, langkah yagn saya lakukan saya pikir menjadi mundur. Akhirnya saya batalkan niat itu. Saya pilih untuk kuliah di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan TV. 

Mengapa bisa berubah 360 derajat dari cita-cita semula?

Kalau melihat seperti itu, memang keputusan yang saya ambil jauh berbeda. Alasan saya mengapa ingin kuliah di IKJ, karena saya punya feeling kalau jurusan yang saya pilih itu punya prospek bagus di masa akan datang. Sekedar tahu saja, saya bukan orang yagn suka mengekor kalau melakukan sesuatu termasuk dalam memilih sekolah. Misalnya belakangan ini orang ramai memilih kuliah jurusan perbankan, karena menjamurna Bank, saya malah berpikir jauh ke depan sesuai kebutuhan jaman. 

Maksudnya?

Artinya saya tidak ingin dunia menguasai saya, tapi harus dunia yang saya kuasai. 

Anda nampak cepat matang ya?

Dulu sifatku terbalik dengan sekarang. Maksudnya, dulu saya orangnya gampang marah dan emosian sekali hingga sering kali berkelahi!. 

Kenapa sifat emosi itu sulit diredam?

Mulanya saya ini anak yang penakut. Lantaran Papa yang mengajarkan saya harus berani hingga timbul niat tak mau mengalah terhadap semua orang. 

Kalau begitu Henry termasuk anak yang bandel juga ya?

Saya memang termasuk anak bandel. Bahkan waktu disekolah tepatnya di SMA 7 tempat saya bersekolah, dimana sering disebut bikin keributan. Kita semua pernah mendapat pengarahan dari Muspida yang dihadiri banyak wartawan. Ternyata dari pertemuan itu pula ada beberapa wartawan yang menawari saya untuk jadi model dan darisana pula dunia seni saya mulai. 

Selanjutnya bagaimana emosi itu akhirnya bisa hilang?

Emosi yang tinggi membuat saya jadi orang yang ringan tangan. nah, pada suatu hari begitu saya lagi berjalan bersama teman-teman, ada orang Ambon berbadan kekar yang terus memperhatikan saya. Melihat seperti itu, langsung saja darah muda saya naik hingga meng hajarnya sampai tak berkutik. 

Hati saya begitu terhenyut ketika tahu kalau dia memperhatikan saya. Sebab, katanya wajah saya mirip dengan kakaknya yang disebut Ambon putih. Peristiwa itu pula yang menyadarkan saya tidak selalu menggunakan power dalam bertindak. 

Saya mulai menyadari ternyata masih ada cara lain yang bisa kita kendalikan dengan memakai otak atau mulut kita tanpa harus dengan kekerasan. 

Pemberani dengan sesama jenis untuk selalu adu jotos, apakah dengan cewek kamu jagoan juga?

Wah, dengan wanita saya justru nggak PeDe. Makanya kalau saya suka dengan seorang wanita, saya tidak berani mengatakan cinta terlebih dahulu. Jadi jangan kaget kalau selama saya pacaran dengan wanita selalu dia yang menyatakan suka terlebih dahulu. 

Apa sebabnya hingga tidak PeDe sama wanita?

Takut di tolak saja. 

Jika diberi kesempaan hidup dua kali, Anda ingin jadi siapa?

Saya tetap ingin jadi Henry seperti sekarang. Karena saya bangga dengan diri saya sendiri. Makanya saya tetap ingin jadi diri sendiri. 

Bicara tentang karir di dunia seni, apakah diawalinya dari model?

Benar, dari model terus ke layar lebar dan baru ke layar kaca. 

Mengapa Anda sekarang lebih fokus pada layar kaca dari layar lebar?

Saya ingin serius di layar kaca saja. 

Rencana apa yagn ada di benak anda sekarang?

Setelah menekuni sebagai pemain, saya ingin juga mengembangkan karir menjadi sutradara. Mudah-mudahan saja niat itu terwujud suatu hari kelak. 

~sumber : MF 290/256/XIII/26 Juli - 8 Agustus 1997



Monday, June 15, 2026

"SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN"


 FILM "SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN" (berita lawas). Raviman Film sudah mulai memproduksi film ketiganya. Kembali di sutradarai Henky Solaiman berdasarkan cerita-skenario rekaan Asrul Sani. Bintang-bintang yang dipasang antara lain Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Firdha Razak, Wahab Abdi, Jajang C Noer,  dan sutradaranya sendiri ikutan pegang peranan juga. 

Judul semula "Sudah Dong" namun kemudian produsernya, manu Sukmajaya kaget sendiri manakala menyadari betapa banyak film Indonesia yang eblakangan ini pakai judul "dong-dongan". Coba saja lihat mulai "Gantian Dong", "Sabar Dulu Dong", "Antri Dong" sampai "Jangan Paksa Dong". "Wah penonton bisa kisruh nanti karena judul-judul tersebut serupa tapi tak sama," keluh Manu. 

Omong punya omong dengan beberapa relasi, akirnya ketemu juga judul baru yang dirasa lebih tepat "Kepingin Sih Kepingin". Namun judul ini nyaris di tolak pihak Deppen, dengan dalih asosiasinya ke arah yagn rada miring. Karuan saja Manu ngotot mempertahankannya. "Ceritanya tentang seseorang yang kepingin sukses dalam usaha banyak tapi tak kunjung berhasil, jadi ia cuma bisa kepingin sih kepingin. Pak Asrul sendiri sudah setuju denan judul ini."

"Terus terang ide ceritanya dari film komedi "Tootsie" (di bingangi Dustin Hoffman) yang belum lama ini ditayangkan di TVRI sebagai film cerita lepas", mengaku Manu. 

Kalau dalam film itu Hoffman harus menyamar jadi wanita agar memperoleh peran dalam sebuah serial televisi, maka sekarang Deddy Mizwar pun kudu menyaru jadi Mience supaya dapat pekerjaan. 

Saat suting di sebuah kantor dibilangan Pulo Gadung Jakarta Timur, terlihat Deddy Mizwar datang melamar pekerjaan kantor. Mula-mula ia diterima dengan baik oleh manager personalia yang idperankan oleh Henky Solaiman. Tapi manakala datang pelamar lain, seorang wanita yang berani menyingkapkan rok untuk memamerkan pahanya, sontak mata Henky 'hijau". Deddy tak jadi diterima bekerja, diganti cewek ini. Merasa sakit hari, esoknya Deddy datang lagi dengan memakai wig dan berdandan genit. Bukan cuma Henky yang matakeranjang, tapi sang boss Wahab Abdi pun langsung menerimanya. lalu apa yang terjadi selanjutnya? ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, June 14, 2026

CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA!

 


CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA! (berita lawas) Begitulah judul beritanya. Sudah pernah nonton Walet Merah? Tahu Nursiah? inilah pemerannya. Cewek Indo pemilik nama Luciaya Christine Terry ini mengaku kadung cinta terhadap film. Berbau klise memang, karena niatan main filmpun katanya sudah tersirat sejak usia kanak-kanak. 

Entah kenapa, kesempatan itu malah baru terwujud setelah usianya menjelang 17 tahun. Mengakunya karena belum tahu jalan, hingga ketemu Susan Aryani yang memperkenalkannya pada seorang sutradara. 

Baru tiga film dilakoninya sejak pertama kali tampil dalam film "Lenyapnya Ilmu Misteri". lainnya film "Cinta Yang berlabu" dan "Suromenggolo" garapan Dasri yacob. 

"Ya..daripada main-main nggak puguh (tidak karuan) lebih bik coba-coba main film, " kata Christine yang bungsu dari tiga bersaudara pasangan Terry Duloney asal Kanada dan Suminawaty berdarah Sunda yang lahir di Bandung 24 Desember 1973. Mungkin sudah takdir Christine tak kenal Papanya yang memutuskan kembali ke Kanada ketika ia berusia 8 bulan. 

"Katanya wakt itu mama nggak mau ikut ke Kanada, sedang papa juga nggak kembali lagi kemari, " kata Christine. Mungkin karena itulah masa remaja Christine sekarang ini sedikit labil ketimbang remaja sebayanya. Semacam Oedipus Complex, karena ia lebih menyukai laki-laki setengah baya daripada yang tergolong masih remaja. 

Itulah awal malapetaka baginya. Keinginan mendapatkan kasih sayang dari laki-laki selalu patah di tengah jalan. Lelaki dambaannya dengan figur seorang bapak ternyata telah beranak istri. 

Cinta selalu menyakitkan buat Christine, yang membuatnya nyaris menghabisi nyawanya sendiri dengan menyilet pergelangan tangan. 

"Frustasi berat deh. namanya juga cinta pertama, " akunya. Bahkan melihat bekas-bekas luka di pergelangan tangannya, sepertinya pernah kecanduan obat-obatan terlarang. 

Sadar akan kenyataan, upaya mendapatkan kasih sayang dari laki-laki yang kebapaan, selalu menimbulkan petaka, tapi pengalaman serupa masih tetap terulang. 

"Habis sukanya sama yang sudah dewasa sih. Kalau yang sebaya kayaknya gimana, gitu," kilahnya. 

Kembali ke soal film, Christine juga tidak tahu kenapa ia menyukai bidang yagn satu ini. memang ia akui di film ia dituntut lebih dewasa dalam segala hal. Karena itulah Christine mengharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bisa mengangkat namanya ke jenjang popularitas. 

Akan halnya ketika ikutan film "Suromenggolo" yang berlokasi di Gunung Bromo itu, banyak hal yang membuat Christine lebih mapan. Ya dalam kepribadian yang menyangkut pergaulan juga soal karier. Itu tentu karena bisa refreshing dan menjalin kekeluargaan dengan berbagai tipe dan perangai manusia. Kebetulan, kata Christine, perannnya cukup lumayan dan bukan figuran. Apalagi Dasri Yacob, sebagai sutradara sangat supel, penuh pengertian dan sabar dalam membimbing. 

Di Film yang satu ini, Christine berperan sebagai Putri Kuning. "Ada tantangan gitu, Putri kuning itukan nakal dan suka nyeleweng. Ya.. gitu deh..," katanya. 

Main buka bukaan dong?

"Iya sih, tapi nggak terlalu gimana-gimana kok. Cuma kesannya aja, " jelas Christine. 

Memang, Christine mengaku tidak terlalu banyak aturan untuk adegan yang cenderung mengundang birahi. Yang penting baginya, cerita dan perannya bagus serta nggak mengada ada. 

Kalau kelak mengundang kesan setelah film jadi, bagi Christine bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. "Terserah apa kata penonton. Yang penting bagi Christine, tidak melakukan dengan sebenarnya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Thursday, June 11, 2026

SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET


 SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET (berita lawas). Bintang cilik sering menjadi daya tarik utama sebuah film. Sebutlah dari Hollywood misalnya ada superstar-superstar cilik seperti Shirley Temple, Jackie Coogan, atau mark Lester. Dari perfilman Manadarin da Siao Pin Pin. 

Dari perfilman negeri kita pun dari masa ke masa bermunculan bintang-bintang cilik. Sebagian diantaranya setelah dewasa kembali berkecimpung main film. Sebutlah mulai dari Rano Karno, Ryan Hidayat dan tambah lagi Sandy Taroreh. 

Pada tahun 1984 saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sandy sudah diajak main film. TIdak tanggung-tanggung, perannya sebagai Sunan Kalijaga (tentu saja pada waktu masih anak-anak dan bernama Raden Sahid) dan Sunan Kalijaga dewasa diperankan oleh Deddy Mizwar. 

Selain "Sunan Kalijaga", tercatat Sandy juga pernah bermain dua  kali di bawah arahan Sophan Sophian. Yang pertama sebagai anak penari Bali (Marissa Haque) dari hubungannya dengan pria Jakarta (Frans Tumbuan) yang sebenarnya sudah beristri (Lenny Marlina) dalam film "Saat Saat Yang Indah" kalu yang kedua "Damai Kami Sepanjang Hari", dengan peran sebagai adik Iwan Fals yang yatim piatu. Sutradara lain yang pernah menanganinya , Hengky Solaiman dalam film "Neraca Kasih". 

Kemudian, karena mencapai masa peralihan usia, yakni bukan lagi anak-anak tapi juga masih belum remaja, maka Sandy pun bagai menghilang dari kesibukan berakting. Baru di tahun 1991, ia kembali diajak Sophan Sophian dalam film "Ketika Senyummu Hadir".

Sebagai pemeran seorang remaja masa kini, ternyata Sandy di pertemukan dengan Frans Tumbuan lagi yang tetap berperan sebagai ayahnya. Sedangkan peran ibunya kali ini digantikan leh Ratna Riantiarno. 

Digambarkan Sandy merupakan remaja teladan yang bukan saja serba pintar dalam segala pelajaran sekolahnya, tapi juga menjadi andalan regu basketnya. Adegan pertandingan basket dibuat dilapangan olahraga sebuah SMA kolese di Jakarta Selatan. Disinilah Sandy memperagakan kemahirannya menggiring dan meggoalkan bola ke keranjangnya. 

Sunggu diluar dugaaan siapa pun ketika kemudian terjadi peristiwa mengemparkan saat berlatih basket, kedua tangan Sandy tepat memegang sepasang buah dada Vivi Samodtro yang mulai tumbuh. 

Peristiwa di lapangan basket ini berkembang menjadi serius ketika Kepala Sekolah (Nani Widjaya) mengajukan pertanyaan, "Perbuatanmu ini disengaja atau tidak?" dan Sandy cuma menunduk bungkam tak mampu menjawab. 

Berlanjut dengan protes keras ayah Vivi (Fendy Sukowati) , tentang pendidikan seks yang baru di terapkan di SMA tersebut. Kontflik batin Sandy berlanjut karena ayahnya sendiri pun kebingungan menghadapi problema ini. 

Apalagi ketika kemudian teman-teman abang Vivi mengeroyok di jalanan. Untunglah, ia juga punya bekal ilmu bela diri karate. Untuk dimaklumi, Sandy memang benar-benar menguasai karate yang dilatihnya semenjak kecil. Maklumlah diantara kakaknya ada yang pernah menjadi karateka andalan nasional. 

Dapat diharapkan Sandy Taroreh bakal terorbit menjadi calon remaja idola sebagai pengganti bintang-bintang remaja yang kini kian meningkat usianya.  ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Monday, June 8, 2026

ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG

 


ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG, (berita lawas). "Tidak seluruh masa kecil saya indah. Seperti halnya manusia lain, pasti penuh dengan pengalaman asam garam. Sebab rasanya tidak berseni kalau hanya diisi oleh satu warna saja. Indah melulu atau sebaliknya, " ujar Achmad Albar yagn lebih akrab di panggil Yik. 

Masa kecil yang sulit dilupakannya adalah usia 10 tahun, ketika namanya sudah populer di masyarakat, gara-gara pada usia 8 tahun membintangi  film Jendral Kancil yang disutradarai Nya' Abbas Akup. Namun Yik menolak kalau peran utamanya pada film tersebut disangkutpautkan dengan ayahnya sebagai produser film. "Sama sekali tidak. Saya lolos test dari ratusan anak lainnya yang melamar," gelaknya, yang juga menjelaskan, bahwa saat itu juga sudah bermain musik di kelompok Bintang Remaja dan kemudian pindah ke grup Kwarta Nada yang penyanyi serta personil musiknya adalah Titi Qadarsih dan kakak-kakaknya dari keluarga Sarjan. 

Selanjutnya, Yik pada tahun 1967 seusai menamatkan SLA, berangkat ke Belanda dan sekolah musik di Bergen of Zonn. Di negeri kincir angin itu, ia mendirikan grup band dengan Ludwig Le Mans dan pakai nama Clove Leaf (Daun Cengkeh). "Sesuai dengan kelopak cengkeh 5 buah, jumlah pemain kitapun begitu," beber Yik, yang setelah kembali ke Indonesia bersama Ian Antono, Yockie Suryoprayogo, Teddy Sunjaya dan Donny Fatah tetap meracik musik rock membentuk kelompok God Bless. 

Kecintaannya pada dunia akting tetap tidak ditinggalkan, ujar rocker yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946. Beberapa peran dimainkan lewat film "Laki Laki Pilihan", Ambisi, Laela Majenun, Si Doel Anak MOdern, Duo Kribo, dan masih banyak lagi film lainnya. 

Berkat film Laela Majenun yang dibintanginya dengan Rini S Bono tahun 1975, keduanya menjadi intim dan melangsungkan pernikahan pada tahun 1978.

Sebagai pasangan suami istri dengan profesi sama, segudang pengalaman dalam karier tentu bisa diterapkan kepada ke3 putranya, Fauzy Aldino (13 th), Fakhri Albar (10 th), dan Faldi Albar (9 tahun). Seperti halnya yang sulung, Fauzy, dia senagn bidang nyanyi dan siap rekaman dengan penata musik Harry Anggoman," jelasnya. 

Lalu ada taktik lain yang dilancarkan pemilik boutique Albara Collection serta vokalis kelompok musik Gong 2000 dalam mendidik putranya yang memilih jalur seni. "Berhubung saja tahu mana ranjau-ranjau berbahaya yang tidak boleh di jelajah oleh seorang artis, maka setidaknya hal ii diberitahukan kepada anak-anak saya, " tuturnya hati-hati. ~sumber : MF No. 146/113/TH VIII, 1 - 14 Feb 1992


Saturday, June 6, 2026

LUPUS V, Menjawab Keharusan

 


LUPUS V, Menjawab Keharusan  (film lawas). Mengefektifkan hari kerja dalam upaya menekan pembengkakan biaya produksi, atau kalau bisa tidak melampaui anggaran yang disediakan merupakan suatu keharusan. Penghematan, adalah alasan yagn selalu dilontarkan pihak produser. 

Keharusan itu rupanya disadari benar oleh sutradara yang mendapatkan job. Sebagai contoh, misalnya Yasman Yazid yang baru menyelesaikan suting film Lenong Rumpi. Dalam menggarap film, terbarunya itu, Yasman berhasil menekan hari sutingnya, selesai hanya dalam 14 hari. Baginya ini adalah rekor tercepat dalam menyutradarai film cerita. 

Achiel Nasrun, salah seorang sutradara yagn juga tergolong cekatan berusaha pula menjawab keharusan tersebut. Itu ia buktikan dengan menyelesaikan suting Lupus V lebih dini dari jadwal yang  ditentukan. 

Penyelesaian Lupus V yang tetap dibintangi Ryan Hidayat dan Firda Razak sebagai bintang utama. Memang tidak secepat Lenong Rumpi. Soalnya kalau Lenong Rumpi 80% lokasinya dalam rumah, sedangkan Lupus V banyak lokasi eksterior. "Namun yang jelas, kami sudah bisa menyelesaikan lebih awal" kata Achiel tanpa merinci hari sutingnya. 

Masih dalam upaya pengeluaran biaya ringan, serial Lupus V menampilkan Pak Tile, Diah Permatasari, Minel, dan Conny Nurlita serta Anwar Fuadi, biaya produksi di pikul ramai-ramai oleh tiga produser yaitu Anton Indracaya, Rames dan Johny Pandega. Serial sebelumnya hanya di produksi PT. Andalas Kencana. 

Keterlibata Lia Swatika Film dan Pancaran Indra Cine, konon sebagai penyandang dana lebih besar dari produser pertama. Tentang hal ini, semua pihak tidak mau membeberkan alasannya. Diperkirakan film yang bertema remaja itu akan masuk pasarang jelang akhir tahun 1991 dan menyambut Tahun baru 1992.  ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Thursday, June 4, 2026

KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS


 KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS (film lawas). Kisah pelindung suaka margasatwa yang harus berhadapan dengan pemuru liar pengincar gading gajah, sudah pernah di filmkan pada tahun 1962 oleh Howard Hawks dengan judul "Hatari!" (dari bahasa suku Swahili yang berarti "Bahaya!") yang menampilkan akrot-aktris populer seperti John Wayne, Elsa Martinelli, Red Buttons, Hardy Kruger, dan Bruce Cabot. Film yang benar-benar dibuat dilokasi suaka margasatwa Tanganyika, Afrika ini memadukan aksi-petualangan dan komedi secara sangat menarik. Sampai sekarangpun, musik instrumentalnya "Baby Elephant Walk", garapan Henry ancini masih sering disiulkan orang. 

Kendati ide cerita dari Pemda Tingkat I Lampung dan PT. Inter Ksatrya Film yang dituliskan menjadi skenario oleh Teguh Karya dan difilmkan dengan judul "CINTAKU DI WAY KAMBAS" oleh sutradara pemula Iwan Wahab ini, tak bisa dibilang sebagai jiplakan, namun rasanya tetap ada pengaruh dari kesuksesan "Hatari!" tersebut. 

Di bintang utamai oleh Mathias Muchus sebagai Jaru, si pelatih gajah Ira Wibowo sebagai Mega, Perally merangkap wartawan, dan Rini S Bono memerankan si Drh, Intan. Di dukung oleh pemain-pemain Harry Capri, WD Mochtar, Chitra Dewi, Nani Somanegara, Bram Adrianto serta Krisno Bossa yang kocak-konyol sebagai pembantu pelatih gajah. 

Pertemuan pertama antara Mega dan Jaru terjadi diatas kapal Ferry dari Merak ke Lampung. Mega dan Diana mendaftarkan diri sebagai peserta rally mobil. Namun perjalanan mereka terhambat oleh amukan gajah liar yang memporakporandakan sebuah perkampungan. 

Jaru menyelamatkan Mega dan Diana yang nyaris diterjang gajah liar. Batal ikut rally, Mega yang demam panas dirawat Jaru di Pusat Latihan Gajah di Way kambas. 

Kalau semula Mega memandang Jaru sebagai lelaki kasar yang pernah dilihatnya "menyiksa" gajah, perlahan-lahan ia mulai memahami. Jaru dan kawan-kawannya sebenarnya mengemban tugas luhur dan penuh tantangan untuk memasyarakatkan gajah dalam kehidupan manusia, bahkan melindungi mereka dari ancaman pemburu liar yang mengincar gadingnya. 

Mega menyibukkan diri dengan memotret seluruh kegianan Jaru. ia tak mengikuti Diana yang pulang ke Jakarta, agar bisa lebih jauh mendokumentasikan romantika kehidupan para pelatih gajah. Sementara benih cinta mulai tumbuh dihatinya. 

Padahal ada Drh. Intan yang tengah membaktikan dirinya di PLG ini. Kecantikan dan kelembutannya membuat Jaru diam-diam mencintainya. Namun ia tak pernah berani mencetuskannya. Sesungguhnya Intan memang telah bersuamikan Budi. Tapi pengusaha muda dari Jakarta ini, pernah dipergokinya menyeleweng, berpacaran dengan Hilda. Peristiwa inilah yang membuat Intan meninggalkan rumah dan kedua anaknya. 

Konflik terjadi ketika Budi menyusul datang. Intan berkeras tak mau diajak pulang. Jaru yang berusaha melerai malah membakar kecemburuan Budi hingga menghajarnya. Anehnya polisi setempat membiarkan Budi kabur begitu saja. 

Sekarang berbalik, Mega yang merawat Jaru. Pemuda inipun mengakui dirinya lebih paham tentang gajah daripada perempuan. Tapi tak tahukah Jaru akan kasih Mega terhadapnya? Ataukah ia mengharapkan agar Intan bercerai dari Budi?Diseling dengan adegan penangkapan pembajak gading yang diorganisir, akhirnya Jarupun menemukan cinta sejatinya. pesta perkawinan Jaru pun dimeriahkan oleh pertunjukkan gajah-gajah main sepakbola. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991