Wednesday, June 3, 2026

JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT"

 


JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT" (film lawas). Ada sutradara  yang seolah mengkhususkan diri hanya menggarap film-film bertema drama, ada pula yang spesial pengarah komedi, tapi Sisworo Gautama Putra nampaknya lebih memilih untuk bikin film-film bertema horor-mistik. 

Begitu pula halnya dengan bintang langganannya, Suzanna, sejak sukses diarahkannya lewat "Sundelbolong" sampai sekarang telah bermain dalam belasan judul film dengan tema serupa. Belakangan ini, hampir semua film arahan Sisworo dan juga dibintangi Suzanna di produksi oleh PT. Soraya Intercine Film. 

Produsernya Raam Soraya memang punya dua tema film yang dijamin kelarisannya dalam peredaran. Yang pertama, serial komediannya Warkop dan yang kedua serial horornya Suzanna, "Rata-rata produksi kami berhasil mengumpulkan diatas 300ribu penonotn untuk bioskop-bioskop di Jakarta saja!" berbangga Raam sambil menunjuk bukti autentik dari catatan P.T. Perfin. 

Kali ini, Raam dan Soraya menjajal mempertemukan  Suzanna dengan Elly Ermawatie , bintang yang melejit lewat peran Mantili dalam serial "Saur Sepuh". Kalau Suzanna tetap memerankan tokoh wanita yang kemasukan arwah, bahkan jari tangannya bisa berubah menjadi pisau-pisau runcing ala iblis Freddy Krueger dalam serial horor "A Nightmare on Elm Street?. Sebaliknya Elly diserahi peran sebagai guru pesantren yang sakti. 

Kedua pemeran utama tersebut di dukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi, antaranya Yenny Farida, TIno Karno, Soendjoto Adibroto dan Clift Sangra. 

Cerita diawali dengan diangkatnya Hendro yang punya reputasi kerja gemilang, menjadi Pimpinan Proyek. Sekaligus ia menggantikan kedudukan. Burhan yang diturunkan jabatannya menjadi wakil pimpinan. 

Kedengkian Burhan kian menjadi, demi melihat Presdir Perusahaan juga menghadiahkan pada Hendro sebuah rumah besar plus berlibur bersama seluruh keluarga di Swiss. 

Dibakar rasa sirik, Burhan diam-diam menghubungi kawanan Teddy, manusia-manusia tak bermoral yang bersedia melakukan apa saja asalkan dibayar. Burhan menginstrusikan Teddy cs untuk melenyapkan Hendro yang dituduhnya telah merebut jabatannya. 

Maka pada malam, sepulang dari serah terima jabatan itulah, rumah Hendro disatroni kawanan Teddy. Dengan kebuasan tak kepalang, bukan saja Hendro yang di habisi, tapi juga isterinya, Kartika, serta putera puteri mereka, Dina dan Dino yang masih kecil-kecil. 

Berbarengan dengan berlalunya kawanan Teddy dari rumah berdarah itu, tanpa terlihat oleh mata telanjang, terjadi suatu peristiwa gaib. Jasad Kartika disusupi arwah gentayangan seorang bromocorah yang semasa hidupnya telah melakukan serangkaian pembunuhan sadis. 

Maka, pada saat-saat angker, muncullah sosok Kartika yagn menghantui penghuni baru bekas rumahnya. Demi desas desus ini didengar oleh Burhan. Iapun memanggil kembali kawanan Teddy. Di kutuknya mereka yang telah begitu kejam menghabisi nyawa seluruh keluarga, bahkan yang hendak disingkirkannya hanya Hendro seorang saja. 

Sosok Kartika yang ditunggangi arwah bromocorah mulai berkeliaran mencari orang-orang yang mencelakainya. Satu persatu anak buah Teddy, dimulai dari Mario, Petrus, Vivi sampai Tino menemui kematian mengenaskan dengan  berbagai macam cara. Sesudah Teddy sendiri juga tewas secara mengerikan, tinggallah Burhan sebagai otak kejahatan yang diteror ketakutan sendiri. 

Kejadian-kejadian menggemparkan yang sulit dijelaskan dengan logika ini, menarik perhatian Fitria, guru pesantren yang mendalami ilmu supernatural. Dengan kewaskitaannya, Fitria bisa mengetahui kalau jasad kartika ditunggangi arwah jahat. Maka dengan cara-cara khusus ia ingin membebaskan Kartika. 

Dalam pada itu, Letnan Polisi Hartono juga sibuk melacak serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi. Kendati Fitria dan Hartono menggunakan metode masing-masing yang sangat berbeda, namun akhirnya bersama-sama berhasil mengungkapkan semua rahasia. 

Melalui pertarungan seru dengan Kartika, akhirnya Fitria yang melafalkan ayat-ayat suci berhasil mengusir arwah gentayangan si bromocorah. Jasad Kartika yang terkulai, dikebumikan secara sewajarnya. Bersamaan, Hartono pun membekuk Burhan sang otak kejahatan.~~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


LENONG RUMPI!

 


LENONG RUMPI! (film lawas). Lenong, Kesenian tradisional Betawi seakan-akan identik dengan ciri khas : Pemain patuh menggunakan dialek Betawi, berwajah kumal dan tampang "kampungan".

Sebagai kesenian tradisional, nasibnya tidak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lainnya, dijauhi penggemar. Karena itu, tidaklah heran bila kehidupan grup lenong yang adapun bernafas Senen-Kemis. 

Dengan niat mengangkat dan mempopulerkan kembali Lenong, RCTI menyajikan acara daegelan kocak Lenong Rumpi. Lenong yang satu ini berbeda dengan lenong yang selama ini kita kenal. 

Lenong Rumpi mencoba melepaskan diri dari pakem, mengungkap tema cerita yang aktual dan yagn paling mencolok para pemainnya berwajah kece. 

Dan ternyata, acara yang ditayangkan RCTI tiap malam Minggu mencapai sasaran. Mulai anak-anak kecil sampai orang tua menggemarinya. 

Karena digandrungi masyarakat, maka produser film pun ikut gambling untuk mencari keuntungan. Adalah Parkit Film yang mengangkatnya ke layar perak.

Latah? mungkin saja ada yang bilang demikian. Sang cukong cuma bilang, "kita kan ingin ikut mempopulerkan". Maksudnya lanjut produse itu, mempopulerkan lewat bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kalau RCTI kan hanya terbatas di daerah Jabotabek atau mereka yang punya parabola, " katanya beri alasan. 

Yasman Yazid, sutradara yang mendapat kepercayaan menggarap film tersebut, mengatakan "Sekarang ini, untuk membuat film drama memang agak riskan. Pemasarannya kurang menguntungkan. Mungkin itu sebabnya produser memproduksi yang ringan-ringan saja."

Yasman Yazid pun mengaku sudah agak lama rindu menggarap tema drama, tapi, ia mau mengerti keadaan sekarang. "Birunya biru yang sudah lama siap, terpaksa harus  menunggu lagi. Dan entah sampai kapan harus menunggu. Yang jelas kita mesti s harus bersabar dulu!" Tegasnya mencoba mengerti keadaan.

Tentang film terbarunya, Lenong Rumpi yang tetap dibintangi pemain aslinya : Ira Wibowo, Roby Tumewu, Debby Sahertian, Harry De Fretes, dan Era Gloria, sutradara yang cukup lama ngendon di Parkit Film itu, mengakui cerita yang ditampilkannya adalah cerita ringan. "Namanya film komedi, kalau ceritanya berat, jadi film drama!" kata Yasman memberi alasan. 

Lalu, lanjutnya sebagai Lenong, kewajibannya yang tak ditinggalkan adalah dialek Betawinya. Cerita yang diangkat Yasman adalah tentang mahasiswa yang berasal dari daerah : Padang, Manado, Majalengka yang kuliah di Jakarta. Karena dari daerah, maka mereka harus mencari tempat kos. Dan tentu saja mereka mencari kos-kosan yang murah. 

Adalah mpok Hamida, Bang Maruloh yagn menyediakan kos-kosan murah itu. Cuma ada kewajiban. Siapapun yang kos dirumah pasangan suami-istri yang Betawi asli itu, diharuskan menggunakan dialek Betawi. Maksudnya, tentu saja agar para mahasiswa atau kalangan intelektual mau mempertahankan salah satu budaya bangsanya dan menyebarluaskan kesenian Betawi. 

Persyaratan menggunakan dialog Betawi, bagi mereka yang berasal dari daerah, memang agak merepotkan. Hanya bayar kosnya murah, merekapun menerima persyaratan tersebut. 

"Disinilah saya menggarap komedinya!" jelas Yasman. Lenong Rumpi beredar akhir tahun 1991 untuk menyambut tahun baru 1992. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991



ONKY-MITHA CINTA LOKASI

 


ONKY-MITHA CINTA LOKASI (kisah lawas). CINLOK- Cinta Lokasi? Paramitha Rusady dengan Onky Alexander terlihat intim saat suting film Catatan Si Boy V garapan Nasri Cheppy. Sikap itu 'mekar' ketika di Las Vegas, Amerika Serikat. Tiga bulan adalah waktu yang panjang untuk saling menjajaki, seiring panjangnya hari suting. 

Keduanya, menyembunyikan benang kasih itu dihadapan kru film, namun tercium juga,  Sebab di sela berak suting, mereka selalu menghindar dari yang lain. Sepulang dari luar negeri keduanya semakin intim. 

Disinggung tentang cinta itu, Onky dan Mitha mencoba menepis. Alasannya mereka sengaja melakukan pendekatan untuk mengekspresikan peran. "Yah itu terserah penilaian orang. Saya memang belum punya pendamping, semua itu tergantung Allah," kata Mitha pelan. Onky pun mengatakan hbungannya dengan Paramitha biasa-biasa saja. 

"Ia melakukan pendekatan untuk mencari ekspresi perannya di film Cabo V" katanya sambil melirik Paramitha. Selanjutnya Onky menjelaskan sesama artis selayaknya berkomunikasi. 

"Saya pasrah jika Allah menghendaki. Tul nggak mas?" cetus Onky tersenyum dan kembali melirik Paramitha yang berdiri disampingnya. 

"Kawin itu untuk selamanya. Buat saya nggak usah tergesa-gesa. Yang penting saya siap mental dalam segala-galanya", jelas Mitha mengakhiri Obrolan. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Tuesday, June 2, 2026

NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON

 


NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON (berita lawas). Emon, ben cong bertubuh gempal itu memang identik dengan Didi Petet, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tokoh itu mencuat setelah sukses komersial Catatan Si Boy (Cabo) yang di sutradarai Nasri Cheppy. 

Sukses Cabo I yang mengatrol nama Onky Alexander menjadi idola kaum remaja dan Didi Petet kepuncak prestasi dengan memperoleh piala Citra, meski lewat film lain, mampu pula mengusik sanubari sang produser untuk memproduksi serial berikutnya. 

Cheppy kini jadi sutradara kondang. Didi Petet akirnya jadi rebutan para produser dan Onky tetap jadi idola kaum remaja. Mereka boleh bangga, karena secara finansial, juga mereguk sukses. 

Konon kabarnya, mereka termasuk orang-orang film "termahal" saat ini (itu). Selentingan, Cheppy honornya mencapai 40 juta, Didi Petet tak jauh berbeda dengan Onky hanya sedikit dibawah Petet. 

Meski ketiganya merupakan personal inti, selain Meriam Bellina dalam Cabonya Cheppy, namun dalam Cabo IV yang jadi giliran Parkit Film yang memproduksinya, Emon yang kemudian jadi Si Kabayan, tak lagi terlibat. 

Tekad Emon untuk melepaskan diri dari Didi Petet memang telah bulat. Kabarnya, dibayar berapapun besarnya, Didi Petet tak mau lagi memerankan tokoh Emon. Apakah ini bukan hanya sekedar taktik dagang? "Entahlah, itu rahasia Petet dan produser film kita."

Lalu, siapa pengganti Emon dalam Cabo IV? Penggantinya memang ada. Tapi, kata Cheppy tokoh Emon tak lagi mau dimunculkan, " jadi yang di ganti Didi Petet, sekaligus Emon!", tegasnya. 

Nah lho, mampukah si pendatang baru itu mengisi kekosongan yang ditinggal Petet untuk selama-lamanya? "Saya akan mencobanya seperti ketika saya juga mencoba Onky , Didi Petet di awal kisah petualangan. Si Boy di layar perak ini, " jelas Cheppy. 

Tentang Cabonya yang menurut rencana akan di produksi sampai 8 serial, Cheppy bilang "Saya akan tetap berusaha menampilkan Cabo. Cabo itu agar tetap menarik. Hilang Didi Petet dan Zainal Abidin, muncul dua nama pemain tenar lainnya, Paramitha Rusady dan Robert Syarief , ayah Dewi Yull dalam serial sinetron Sartika. Pokoknya saya akan tetap berusaha memberikan kepuasan kepada penggemar Cabo!".

Ia juga bilang, Cabo IV tidak akan berhura hura keluar negeri seperti Cabo II yang sampai LA. "Kali ini , Si Boy hanya akan sampai ke Bali saja!" jelas Cheppy. Lalu apakah kesan Wah, yang selama ini telah melekat pada diri Onky setelah dari luar negeri tidak akan drop?.

Cheppy menyadari hal itu, tapi ia juga berjanji akan berusaha memberikan suguhan lain yang lebih menarik. Meski adanya hanya di dalam negeri, Jalinan dan bobot cerita, katanya akan lebih di perhatikan. "Saya akan menyuguhkan adegan yang lebih mempunyai greget, !" janjinya. 

Suting pertama mengambil lokasi di sebuah rumah tua didaerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Suting di Jakarta, kata Cheppy hanya sekitar 40 persen, selebihnya di Bali. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Monday, June 1, 2026

TUTUR TINULAR, REBUTAN PEDANG NAGA PUSPA

 


TUTUR TINULAR, REBUTAN PEDANG NAGA PUSPA, (berita lawas). Setelah serial "Saur Sepuh" inilah serial sandiwara radio berikutnya yang difilmkan secara kolosal oleh PT. Kanta Indah Film. Skenarionya ditulis langsung oleh pengarangnya sendiri, S Tidjab. Penyutradaraan ditangani Nurhadie Irawan (yang berpengalaman lewat film kolosalnya Rhoma Irama, Satria Bergitar", kamera diarahkan oleh WIlliam Samara (setelah debutnya dalam "Tragedi Bintaro"

Tokoh pendekar mua Arya Kamandanu yang di radio dibawakan Ferry Fadly digantikan oleh pesilat Benny G Rahardja. Mei Shin diperankan oleh Elly Ermawatie yang juga merangkap sebagai Produser Pelaksana, Sedangkan pendeka dari Mongolia, Lou Shi Shan, dpeirankan juara Karate asal Bandung, Lamting. Bintang karateka lainnya, Yoseph Hungan berperan sebagai Mpu Ranubaya. Lalu Baron Hermanto jadi Arya Dwipangga. Dan memperkenalkan Putri Solo Okky Irwina Savitri sebagai si jelita Nari Ratih. 

Ikutan meramaikan Raden Mochtar, Bram Adrianto, Atut Agustinanto, Aspar Paturusi, Dyah Permatasari serta ratusan pendukung lainnya. 

Episode "Pedang Naga Puspa" mengungkapkan asal usul para tokoh serta pusaka yang diperebutkan oleh kalangan persilatan. Konon menjelang runtuhnya kerajaan Singasari pada abat ke XIII, termasyurlah nama Mpu Hanggareksa sebagai ahli pembuat senjata ampuh . 

Dua puteranya, Arya Dwipangga dan Arya Kamandanu bersaing memperebutkan cinta bunga desa Nari Ratih. Rayuan Dwipangga membuatnya berhasil menghamili Nari Ratih. Kamandanu yang patah hati memilih berkelana. 

Pecah konflik antara Prabu Kertanegara dengan Kubilai Khan. Utusan Khan diiris telinganya. Sebagai pembalasan sang utusan menculik Mpu Ranubaya, kakak seperguruan Hanggareksa. Di Mongolia, Khan menitahkan sang Mpu untuk menempa pedang pusaka. 

Syahdan, Kertanegara di bunuh Jayakatwang yang kemudian mendirikan Kediri. Bertepatan datanglah Panglima Lou dan isterinya, pendekar Mei Shin membawa "Liong Hoa Pokiam" (Pedang pusaka Naga Puspa) serta amanat Mpu Ranubaya. Terjadi kesalahpahaman, apalagi ketika para pendekar dari golongan hitam ramai-ramai mengeroyok Lou untuk merebut pusaka tersebut. 

Nasib malang menimpa Lou. Mei Shin bersumpah menuntut balas. Lalu bagaimana sampai terjalin percintaan antara Mei Shin dengan Kamandanu, pewaris sah pedang Naga Puspa?

Bersabarlah untuk menantikan episode berikutnya dari film silat ang adegan-adegan tarung antara pendekarnya digarap lebih dasyat  dari film-film sejenis sebelumnya, apalagi dilengkapi sistem suara Ultra Stereo! "TUTUR TINULAR" beredar serentak di bioskop-bioskop pilihan di seluruh kota besar mulai 28 Juni 1990. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA


 JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA (suting film). Firman Triyadi, sutradara anyar jebolan LPKJ, yang dipilih oleh duo produser Budiati Abiyoga-Adi Putra Tahir untuk produksi bersama PT. Prasidi Teta Film dan PT. Mutiara Eranusa Film yang berjudul "Jawara Jawara".

Kendati baru untuk pertama kalinya menyutradarai , namun dengan modal ketrampilan dan kesungguhan kerjanya, Triyadi bersama krunya berhasil merampungkan suting cuma dalam tempo tiga minggu saja. 

"Hampir seluruh pemain berasal dari TIM, mulai dari Eeng Saptahadi, sampai ke Joseph Ginting, sedangkan bintang filmnya antara lain Dewi Yull dan Ayu Azhari, " jelas sang sutradara yang memilih lokasi daerah-daerah pinggiran jakarta seperti Pondok Cina. 

Jangan terkecoh judulnya, mengira film ini sebuah film silat seperti "Si Jampang" atau "Si Gobang" karena sesungguhnya "Jawara Jawara" adalah sebuah komedi dengan setting lokasi di Batavia pada era 1942-1944.

"Tokoh-tokoh utama cerita adalah anak-anak muda dari sebuah desa di Betawi tempo doeloe. Sebagai anak muda mereka masih bersikap sok jago, padahal sih ilmunya masih cetek. Ada yang petantang petenteng menganggap diri sendiri sebagai jawara ulung. Ada yang ikut latihan militer di markas Dai Nippon kemana-mana berseragam militer menyandang pedang panjang, " ungkap Eeng yang dipertemukan lagi dengan Dewi Yull setelah dulu bermain sebagai pasangan suami istri Jarot-Sri dalam drama serial televisi "Losmen".

Menurut catatan sejarah, bala tentara Dai Nippon menyerbu Batavia pada 5 Maret 1942. Saking ketakutannya, tentara kerajaan Belanda kabur lintang pukang ke selatan. Kekalutan melanda sampai ke kampung-kampung. 

Tiga anak muda, Sayuti, Komar dan Malik bersaing. Ada lagi Nonon si penari Topeng dan Tikah, gadis desa yang naksir Sayuti. Namun pada akhirnya semua bersatu padu untuk merebut senjata dari tangan Jepang. 

"Betapapun tengil dan soknya sikap mereka, namun semangat kebangsaan untuk memerdekakan tanah air sudah tertanam dalam jiwa mreka, " ujar Triyadi tentang tokoh-tokoh cerita rekaannya ini. 

"Seluruh prosessing film ini dikerjakan di dalam negeri," lanjut Budiati. "Dan kami harapkan film yang keseluruhannya di kerjakan oleh anak muda ini bisa memenuhi selera masyarakat akan film komedi yang cukup bermutu serta lain dari komedi-komedi yang sekarang banyak dibuat produser lain. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*setelah film jadi judulnya berganti menjadi "Jawara Sok Kota"

Sunday, May 31, 2026

AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL?

 


AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL? (berita lawas). Ami Priyono memajang nama lengkapnya , Ki Dalang Lembu Amiluhur Priyawardhana Priyono, dalam credit title Film Terbaik FFI 1978 "Jakarta Jakarta". Lewat film yang menggondol lima Piala Citra ini pula Ami dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. 

Namun ternyata Ami yagn memulai debut penyutradaraan pada tahun 1974 lewat drama horor "Dewi". (Sayang sekali film yang dibintang"Jodoh Boleh Diatur", komedinya Warkop Dono-Kasino-Indro yang diilhami fim komedi sukses Amerika "Three Men and a Baby".

Sampai sekarang sudah lewat dua tahun belum juga Ami memulai penggarapan film terbarunya. Padahal ia sudah bersepakat dengan Ferry Angriawan, produser PT. Virgo Putra Film untuk bikin sebuah film drama. 

"Syarat terpenting untuk keberhasilan suatu film adalah kerjasama dan pengertian antara sutradara dengan produsernya, " begitu prinsip Ami yang juga menganut pahan "Alon Alon Asal Kelakon". Itu sebabnya Ferry juga tak pernah mendesaknya untuk segera memulai. 

Bahkan belakangan tahu-tahu tersiar kabar Ami jadi gembel yang bergelandangan di kawasan kumuh. Dengan jenggot dan rambut gondrongnya yang kusut masai, busana lutah lutuh, wajah muram, terlihat ia menggigil demam di kaki patung Pak Tani, silang Menteng jakarta Pusat. 

Tepat saat itu lewat mobil mewah Baby Benz yang dikendarai Nani Vidya. Spontan Nani menjerit "Eyang!". Berlari turun dari mobil untuk memeluk dan kemudian memapah Ami ke Rumah Sakit. 

Tentu saja ini cuma adegan dalam film yang berjudul "Cas Cis Cus" arahan perdana Putu Widjaya. Rupanya Ami tertarik dengan tokoh kakek yang minggat dari rumahnya karena anak-anaknya tak lagi memperhatikannya, malah memandangnya sebagai semacam barang rongsokan yang tak berguna lagi. Namun kekerasan hati lelaki tua ini akhirnya luluh juga ketika cucunya membawa buyut yang masih bayi mungil. 

Memang, Daripada menyutradarai, sekarang Ami lebih sering jadi pelakon. Bisa dilihat misalnya sebagai ayah Onky Alexander yang kepergok nyeleweng dengan sekretarisnya di Ancol dalam  "Namaku Joe" atau jadi duda kaya raya ayah Donny Damara dalam Ketika Cinta Telah berlalu. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Friday, May 29, 2026

SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA"


 SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA" (berita lawas). Virgo dengan Si Gobang, Kanta Indah dengan Saur Sepuhnya, Parkit  dengan Jaringan Terlarang, Firman Mercu Alam dengan Misteri dari Gunung Merapi dan Rapi Film pun memproduksi Pedang Nagapasa.

Dari sekian banyak tema action yagn di produksi, jenis action modern yang juga paling mendominir. Soal mobil tabrak-tabrakan, dar der dor dan yang silatpun silat modern, Kungfu, karate, taekwondo, mungkin juga campuran dari aliran tersebut. 

Dari silat tradisional atau silat klasik, yang jumlahnya hanya beberapa gelintir, Pedang Nagapasa masuk dalam daftar. Film yang baru saja di selesaikan sutingnya ini, memang sengaja untuk mengisi kekosongan silat klasik, yang sebenarnya merupakan salah satu kebudayaan bangsa kita. 

Slamet Riyadi sang sutradara dibantu pengarah kelahi atau istilah kerennya fighting instruktur dari salah seorang p ersonil Wayang orang Bharata, terpaksa harus kerja hati-hati untuk memperoleh ciri khas klasik yang diinginkan. Hasilnya? Film itu kini memang belum tuntas. Minggu ini baru mulai isi suara. Namun pihak produser, baru melihat gambarnya saja, tak merasa kecewa. "Saya mengharapkan , film ini akan memperoleh sambutan hangat dari masyarakat!", Tukas Gope Samtani sang produser. 

Harapan Gope didasarkan pada kenyataan, dimana film-film yang menampikan silat klasik, cukup digemari masyarakat. Contohnya, Misteri Dari Gunung Merapi maupun Saur sepuh. Ia mengakui, kedua film tersebut memang ceritanya telah populer lewat sandiwara radio. Namun Pedang Nagapasa yang kata Samtani akan jadi sandiwara teve, walau entah kapan disiarkan, cukup menarik. 

Sebagai pemain andalan dalam film ini yang menghabiskan bahan baku hampir 100 can itu antara lain : Advent Bangun, Anneke Putri, Baron Hermanto, Alba Fuad, Devi Sabah, Erick Soemadinata, dan ratusan pemain lainnya. Ditambah lagi puluhan kuda ikut membuat  gambaran kolosalnya film tersebut.~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990