Tidak Banyak sinetron yang temanya menggarap kehidupan antar suku yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah "Pariban Dari Bandung" karya Edward Pesta Sirait, sutradara yang sudah cukup banyak menggelar film layar lebar. Kini, Edward terjun ke sinetron lagi, dan karyanya yang kedua ini dan sedianya ditayangkan di layar TPI pada bulan Maret 1993, sedang memasuki tahap editing pihak penggarap, PT. Cipta Isthika Rucitra Indonesia. Dua kubu yang dibaurkan dalam sinetron yang proses sutingnya ditargetkan 4 bulan, namun berhasil diselesaikan hanya dengan 3,5 bulan ini, adalah dari suku Sunda dan Batak. Dimana mempertentangkan kedua suku. Namun justru harmonisasi perkawinan beda suku mereka justru mencuat cerita yang cukup menarik. Sebelum ini, Edward pernah membuat sinetron Suster Bulan.
Awal Cerita dimulai dari kehidupan rumah tangga Asep Sastranegara (Robert Syarif) yang asal Parahiyangan serta Nurmala (Tarida Gloria), wanita Tapanuli, yang meski lain suku dan latar budayannya, namun digambarkan hidup ideal. Keduanya juga dikaruniai 3 orang anak serta menetap di Kalimantan.
Namun setelah mereka masuk ke dalam jenjang usia tua dan selama ini lalai dan larut dalam waktu, belum pernah berkunjung bahkan berkirim surat selembarpun pada keluarga yang di Medan. Baru setelah berada di Bandung, serta anak sulung mereka, Daniel (Cok Simbara) berhasil menjadi seorang pengusaha muda sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur ITB dan MSC dari Amerika.
Kebanggaan Asep dan Nurmala akan keberhasilan Daniel sebetulnya selalu di gelisahkan oleh ketenangan Daniel yang pada usia ke 34 tahun seakan tak punya waktu dan minat untuk berumahtangga. Sehingga suatu saat Daniel mau mengembangkan usahanya ke Batam, ibunya meminta agar mampir ke Medan untuk mengunjungi Tulang (Paman) dan Paribannya (Anak gadis paman). Daniel yang menginginkan wanita yang bakal menjadi istrinya nanti tidak hanya melihat kedudukan maupun kekayaan semata. Maka dengan mengisyaratkan pada seluruh keluarganya agar kunjungannya ke Medan nanti dengan caranya sendiri. Terutama dalam melekatkan hubungannya dengan calon istrinya.
Konflik cerita dari sinilah berawal. Dimana munculnya Daniel yang dengan penampilan seorang pemuda miskin serta bego, sangat menghancurkan harapan Paribannya, Betty (Nella Regar). Mengingat bualnya kepada semua orang-orang yang dekat dengan gadis ini maupun sahabat-sahabatnya di kampus, bahwa lelaki yang akan menjadi pacarnya, sekaligus calon suaminya adalah pemuda intelek, terhormat sekaligus kaya.
Kekuatan permainan Cok Simbara yang sekaligus memainkan dua peran antara pemuda kota, kaya dan intelek, serta merubah menjadi lugu, miskin dan tentunya diperhinakan. Juga sosoknya sebagai lelaki yang perilakunya melebur dari perpaduan Batak-Sunda, memperkuat perannya. Hingga sebagai hitam putih, kasar, gagah dan terpelajar, lembut, bego namun kritis, dimankan secara lentur oleh Cok dalam perannya sebagai Daniel.
Namun seperti yang diungkapkan oleh Edward PS, bahwa ia sangat memuji oleh jempolnya akting Nella Regar. Mengingat dunia akting, baik film maupun sinetron hal yang betul-betul baru bagi keberadaannya sebagai penyanyi. Disinilah muncul kesabaran serta penanaman pemahaman Edward sebagai sutradara. Dari keragu-raguan Nella saat disodorkan peran , namun justru jadi lebur oleh minatnya artis ini yang cukup besar untuk mencoba langkah baru di dunia akting.
Ternyata, bakat Nella yang sudah lama terpendam perlahan-lahan mencuat. Cocoknya sebagai gadis Batak, walau tidak seluruhnya ditunjang oleh karakternya yang kebetulan dialiri darah Sumatera Utara. Karena ayahnya yang memang berasal dari sana, serta memiliki marga Siregar. Namun ia ternyata punya tingkat santun yang cenderung nyunda berkat didikan ibunya, berasal dari Parahiyangan, Garut.
Padahal dalam perannya sebagai Betty, gadis Batak yang masih totok. Disertai warna perilaku, yang sombong, kasar serta sok intelek. Sosok ini mampu diwujudkan oleh Nella. Tak kalah dengan kemampuan Cok Simbara dalam perannya sebagai Daniel. Nilai lebihnya adalah , cok tentunya sudah tak asing dalam memainkan peran dihadapan kamera film maupun TV.
Secara keseluruhan cerita Pariban Dari Bandung yang kisahnya berasal dari cerita bersambung yang dimuat di Sinar Indonesia Pembangunan (SIP) karya Arifin Siregar, sebetulnya sudah cukup lama mengendap di benak Edward. Hanya baru sekarang tiba kesempatan untuk menumpahkan mencari karya sinetronnya. Sedangkan pendukung dari penggarapannya adalah Nestor Rico Tambunan (Skenario), Yusup/Fauzy (Kameramen), Edward Pesta Sirait (Editor) Indah/Charles (Tata Rias) dan Tarida Panjaitan (Musik).
Para pemain yang menurut Edward, hampir semua berasal dan memahami adat istiadat Batak serta Sunda, yakni Cok Simbara, Nella Regar, Robert Syarif, Ida Kusumah, Ully Artha, Tarida Gloria, serta pendukung dari Sanggar Devimir, Bandung. Serta para pemain dari Medan.
Penayangannya yang dipastikan di layar TPI sebanyak 10 sd 12 episode, memakan waktu 30 menit setiap episode.
~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993