Sunday, July 26, 2026

ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME

 


ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME (FTV Lawas). Ada yang masih ingat Angin Rumput Savana? Garin Nugroho kembali menafsir Sumba lewat Angin Rumput Savana. Lewan sinetron yang merupakan kerja bareng John Hopkins University, BKKBN dan TPI dengan biaya produksi sekitar Rp. 250 juta ini Garin mencoba untuk melakukan penjelajahan artistik, penjelajahan dokumentasi dan juga penjelajahan romantis. 

"Angin...memang beda dengan Surat. Angin saya garap dengan romantis. Katakanlah, dia seperti musim penghujan. Sementara Surat merupakan musim kemarau. Film ini adalah film personal, keras, dengan tingkat absurditas sangat tinggi,"paparnya. "Biarpun pihak John Hopkins University menargetkan sinetron ini memperoleh International Award, saya pribadi tidak mentargetkan untuk itu. Target saya hanyalah agar karya ini mempunyai nilai baru. Seperti pada proyek pembuatan dokumenter Anak-Anak Jalanan yang dibiayai NHK, Jepang, beberapa waktu lalu. Disinipun saya tidak ingin didikte."

T : Angin Rumput Savana ini bertutur tentang apa?

J : Cinta kasih. Cinta seorang ibu pada anak, hubungan manusia dengan manusia. Disini dituturkan tentang Rambu Anak Wulung seorang gadis yang menentang adat perkawinan culik yang dialami ibu dan neneknya. Untuk itu ia pergi dan memutuskan untuk menjadi dokter. Namun ketika kembali ke Sumba, perkawinan culik itu terjadi padanya. Pria yang menculiknya, sesungguhnya telah kawin dengan Rambu Awang Intan. Dan sesungguhnya juga, mereka bertiga itu bersahabat sejak kecil. Saat melahirkan, Rambu Intan meninggal. Dan anak yang ditinggalkannya itu, hanya mau tidur jika ditidurkan Rambu Awang dengan mendengarkan lagu "Why Do You Love Me".

Kawin Culik itu sendiri, sekarang ini sudah sulit ditemui. 

T : Untuk kedua kalinya, Anda memilih Sumba sebagai setting. Sumba, tampaknya memiliki arti penting bagi Anda?

J : Seharusnya Sumba bukan cuma dua kali ditafsir. Daerah ini unik. Selain masih menyisakan masa lampau-zaman megalitikum - tetapi juga daerah yang menerima masa kini. Di sini selain terjadi gegar budaya juga terjadi pertumbuhan bersama. Masyarakatnya selain berkutat dengan masa lampau, juga telah menerima modernisasi. Parabola sudah biasa digunakan disini. Saya menganalogikan Angin Rumput Savana sebagai musim penghujan. Penuh romantisme. Beda sekali dengan Surat Untuk Bidadari yang keras, dan tingkat absurditas yang tinggi. 

Disini juga saya menampilkan kembali upacara tarik batu atau upacara pemakaman. Biaya untuk tarik batu itu cukup besar. Sehari bisa menghabiskan Rp. 3 juta belum termasuk orangnya. Saat penggarapan sinetron ini, sesungguhnya, mereka sedang istirahat dari upacara tersebut. Tetapi berkat bantuan Umbu Awi, raja Kalang, upacara tersebut dapat ditampilkan. Masyarakat Sumba Barat sangat membantu. DiSumba Timur, kamrena ada kesalahpahaman dalam soal izin produksi, agak timbul masalah. Tapi itu sudah diselesaikan dengan baik. 

T : Kalau tidak salah di Angin Rumput Savana ini Anda menggabungkan keindahan iklan, dokumenter, cerita dengan video. Dan nyatanya hasil gambar lewat video lebih bagus dibanding film 35 mm atau 16 mm?

J : Video punya kelemahan dan kelebihan tersendiri. Hasil gambar dari video, lebih indah dari gambar aslinya. Untuk itu kita harus tahu karakter. pemilihan filter yang tepat, dan desain warna. Karakter yang kurang tepat, harus kita hindari. Potensi yang dimilikinya, harus kita manfaatkan. Misalnya begini, Kalau cuaca kelewat panas, hasilnya akan kurang bagus, mendung sedikit juga kurang bagus. Menghadapi cuaca yang berubah setiap hari seperti ini , kita break. Tunggu waktu yang pas. Memang ini yang pertama kalinya buat saya menggarap sinetron cerita dengan full video. Sebelumnya saya hanya menggarap iklan. Penggarapan ini sebagai tatecase dan ujicoba. 

T : Romantisme dan agak pop, bisa dibaca untuk melakukan dialog dan mengkomunikasikan dengan penonton?

J : Dalam Surat Untuk Bidadari, sebetulnya juga telah terjadi dialog. Dialognya bisa sangat keras, mungkin sangat pahit. Tetapi itu harus dilakukan. Kalau kita tidak menafsir kebudayaan dengan berbagai cara, kemungkinan terjadi friksi besar sekali. Perang antar suku, misalnya, kalau saya menafsir Sumba sebagai lembut, lebih romantis, tentu untuk menyerap penonton yang lebih banyak, Saya tetap meyakini personal seperti Surat, hanya golongan tertentu yang menontonnya. Sebuah karya yang utama adalah tidak mengubah dirinya sendiri. 

Jika mengubah dari dirinya sendiri, dia pasti jelek dan itu akan menghasilkan industri. Contoh sederhana begini. Jika ada orang minta agar Budy Allen merombak karyanya agar banyak ditonton orang, orang itu sebaiknya ditempeleng. Film-film personal, saya yakini tetap akan tumbuh dan punya pasar tersendiri. 

Tetapi disini, tidak berlaku demikian. Disini kita menginginkan keseragaman dan penonton yang banyak. Maka, wajar jika film nasional bangkrut. Sebuah film seharusnya tidak musti dikomunikasikan banyak orang tetapi film itu memperbanyak penonton. 

T : Artinya tidak musti seragam?

J : Kalau kita bikin film laku dan semuanya melakukan hal yang sama, lalu buat apa kita bikin film. Pertanyaanya, mengapa opera sabun Jepang diproduksi? Mengapa tidak mengikuti opera sabun ala Amerika Latin yang lebih laku? Itu karena opera sabun Jepang punya penonton yang berbeda. Artinya kita perlu dan harus punya keanekaragaman. 

T : Anda tidak mengalami kesulitan dengan medan yang berubah-ubah dan tim kerja yang baru?

J : Memang tim yang ikut saya ini, adalah generasi baru dibawah tim Kuldesak. Tetapi mereka memiliki spirit dan semangat kerja yang bagus. Begitu juga dengan pemain. Mereka bermain bagus sekali seperti keinginan saya. Buat saya tahun ini merupakan tahun yang bagus bagi pertumbuhan. 

(Tahun lalu, ditengah 'upacara' dan gegap gempita menyambut peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, Garin Nugroho di percaya NHK menggarap film dokumenter, Dongeng Kancil, Anak-anak Jalanan. Disini, Garin memperlihatkan kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta. Anak-anak yang diasuh malam. Disini diperlihatkan bagaimana agar mabuk, bocah-bocah itu menghisap lem Aika Aibon - karena ketidakmampuannya beli minuman keras. Atau tentang bocah-bocah yang sudah mengenal hubungan seks dengan pelacur. Garin, ingin jujur dan memperlihatkan sesuatu yangboleh jadi , asing dan belum pernah kita lihat. Tetapi, kejujuran itu, bisa jadi ditafsirkan salah. Ada yang menilai dokumenter ini seperti menjemur celana dalam dipagar rumah).

Menurut Garin, pertanyaan seperti itu memang bakal muncul dari banyak pihak. Hal itu bisa terjadi karena, "Komunikasi kita selama ini sangat eufisme sekali. Ketika saya memperlihatkan, orang kaget. Kekagetan itu bisa dimaklumi, karena film seperti ini tidak pernah dibuat. Film ini dibuat bukan untuk memperolok-olok bangsa sendiri, " akunya. Pemda Yogya, seharusnya malah berterima kasih dengan dokumenter seperti ini. 

Dokumenter ini, justru dapat digunakan sebagai bahan studi dan banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu. "Dokumenter ini paling laku selama dua tahun. Buat Rumah Sakit, katakanlah RS Islam, wajib nonton film ini untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Dari sini mereka dapat mengatasi masalah AIDS, misalnya atau pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak-anak".

T : Sisi gelap ini memang perlu diperlihatkan?

J : Pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter di Berlin beberapa waktu lalu, Amerika Serikat justru memperlihatkan kehidupan yang lebih sadis, lebih gelap dari film saya ini. Dan orang-orang justru bangga dengan Amerika. Pertanyaannya , kenapa bisa terjadi? Orang Amerika memperlihatkan fakta-fakta dan betapa demokratisnya mereka. Guna memperingati kemerdekaannya, Amerika menampilkan demonstrasi dan rasialisme. 

Kalau kita ingin menerangi satu tempat, sementara Anda nggak tahu dimana sisi gelapnya, itu tidak mungkin terjadi. ~dari MF No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


19 FILM PILIHAN FFI 1989

 


19 FILM PILIHAN FFI 1989. (berita lawas). Sebanyak 19 judul film Indonesia dipilih oleh Dewan Komite Seleksi FFI dari 92 judul film peserta FFI 1989. berikut adalah 19 judul film tersebut : 

1. Judul : Arini, Biarkan Kereta Api itu Lewat

    Sutradara  : Wim Umboh

    Pemain : Rano Karno, Ida Iasha, Rico Tampatty, Rima melati, Rani Soraya dll

 2. Judul : Namaku Joe, 

    Sutradara : Nasri Cheppy, 

    Pemain : Didi Petet, Onky Alexander, Meriam Bellina, Paramitha Rusady , dll

3. Judul : Semua Sayang Kamu, Dewi Cipluk

    Sutradara : Ida Farida, 

    Pemain : Neno Warisman, Eeng Saptahadi, Uci Bing Slamet , dll

4. Judul : Bayi Tabung

   Sutradara : Nurhadie Irawan

   Pemain : Widyawati, Deddy Mizwar, Essila Emir, Baharudin, Haji Omar, Vivi Samodro, dll

5. Judul : Catatan Si Boy III

    Sutradara : Nasri Cheppy

   Pemain : Onky Alexander, Meriam Bellina, Didi Petet, Leroy Osmani, dll

6. Judul : Kipas-Kipas Cari Angin

    Sutradara : Nya' Abbas Akup

    Pemain : Mathias Muchus, Nurul Arifin, Didi Petet, Eeng Saptahadi, Raja ema, pak Tile dll

7. Judul : Malioboro

    Sutradara : Chaerul Umam

    Pemain : Nungki Kusumastuti, Ira Wibowo, Sigit Hardadi, dll

8. Judul : Omong Besar

    Sutradara : MT. Risyaf

    Pemain : Deddy Mizwar, Eeng Saptahadi, Sylvana Herman, Mr. Os, Raja Ema, James Lapian , dll

9. Judul : Tragedi Bintaro

    Sutradara : Buce Malawau 

    Pemain : Asrul Zulmi, Lia Chaidir, Ferry Octora, Roldiah Maulessi , dll

10. Judul : Jeram Cinta

     Sutradara : Wahab Abdi

     Pemain : Ida Iasha, Athina Fransisca, Cok Simbara, Harry Capri, Dian Nitami, dll

11. Judul : Ketika Cinta Tlah Berlalu

     Sutradara : Adi Surya Abdi

    Pemain : Doni Damara, Sophia Latjuba, Nurul Arifin, Sena A Utoyo, dll

12. Judul : Noesa Penida

     Sutradara : Galeb Husin

     Pemain : Ray Sahetapy, Rita Zahara, Ida Ayu Made Diastini, Gusti Randa, Piet Burnama, dll

13. Judul : Dia Bukan Bayiku

      Sutradara : Hasmanan

     Pemain : Rano Karno, Marissa Haque, Yoseano Waas, dll

14. Judul : Pacar Ketinggalan Kereta

     Sutradara : Teguh Karya

    Pemain : Rachmat Hidayat, Tuti Indra Malaon, Niniek L Karim, Nurul Arifin, Alex Komang, Didi Petet, dll

15. Judul : Saskia

      Sutradara : Boyke Roring

      Pemain : Rico Tampatty, Nurul Arifin, Desy Ratnasari, dll

16. Judul : Si Badung

      Sutradara : Imam Tantowi

      Pemain : Rully Djohan, Mang Udel, Mien Brodjo, dll

17. Judul : Suami

      Sutradara : Sophan Sophian

      Pemain : Sophan Sophiaan, Widyawati, Ria Irawan, Desi Yull, Yoseano Waas, dll

18. Judul : Putihnya Duka, Kelabunya Bahagia

      Sutradara : Frank Rorimpandey

      Pemain : Eva Rosdiana Dewi, Joice Erna, Dwi Yan, Deddy Mizwar

19. Judul : Si Kbayan Saba Kota

      Sutradara Maman Firmansyah

     Pemain : Didi Petet, Paramitha Rusady, Nurul Arifin  dll


    Demikian di sadur dari MF No. 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989. Dalam artikel aslinya terdapat sinopsis dari masing-masing film. 

LINA BUDIARTI, "SAYA INI MEMANG PANTAS JADI HOSTES ATAU PELACUR", PERTAMA MAIN FILM HONORNYA 60 RIBU DISURUH TELANJANG

 


LINA BUDIARTI, (berita lawas). Waktu pertama main film honor Lina Budiarti cuma Rp. 60.000, itupun sudah berdua dengan suami. Untuk honor sebesar itu Lina disuruh melakukan adegan serem, buka baju dan bergumul diatas ranjang. Hanya sedikit saja bagian dalam busana yang menutupi tubuhnya yang gempal berisi itu, celana dalam dan BH. Lina disuruh bergumul dengan lelaki yang menggaulinya. Hemmm

"Wah saya merasa terperangkap waktu itu. Untuk menolak tidak mungkin karena honornya sudah saya terima. Tapi kalau harus melakukan adegan seperti itu rasanya juga mustahil. Jelek-jelek saya ini kan ibu dari anak-anak saya. Apa kata orang nanti, "kata Lina Budirati menceritakan pengalamannya pertama terjun kedunia film. 

Itu terjadi tahun 1976, saat ia ditawari numpang lewat dalam film "Bernafas Diatas Ranjang" arahan Dasri Yacob. Tapi jangan salah, honor sebesar itu sudah bisa beli lebih dari 25 gram emas, mengingat harganya Rp. 2500/gram. (wah murah sekali kalau diukur jaman sekarang ya hehe...)

Mulai kenal film dibisikin oleh seorang wartawan, tak lama sesudah Lina mengikuti pemilihan None Jakarta wilayah Jakarta Timur tahun 1976. Pemilihan yang tidak membedakan status (gadis, janda atau sudah beranak) itu sempat mengangkat Sukarlina Budiarty kelahiran Banjarnegara ini tampil sebagai pemenang harapan. 

Dari situ seolah jalan menuju bintang terbuka buat Lina istri Budyanto, pengarang buku cergam paling produktif saat itu. Bahkan dia bisa disebut pelopor pengarang buku-buku komik bergambar bertemakan remaja. Tahun 67 Budyanto S menghentikan kegiatan lamanya membuat cerita komik dan bersama-sama sang istri terus mengarungi dunia film. Sang istri terus menekuni akting sementara Budyanto S jadi penata busana. Lantas dia pulalah yang mendorong istrinya jadi foto model. Kalau perlu pakai bikini atau menampilkan bagian-bagian yang sensual. Bermunculanlah foto-foto Lina Budiarti sebagai penghias kalender atau majalah dengan pose ngeseks. 

Penampilan yang seksi ini terus berlanjut di film. Tak lain karena banyak sutradara memanfaatkan postur tubuhnya. Seperti diakui sendiri oleh Lina ,"Dalam film saya ini memang pantesnya jadi perempuan penggoda, hostess atau pela cur"itulah peran-peran yang pas buat saya, "katanya sambil memberi contoh perannya dalam film "Ponirah terpidana" (Slamet Rahardjo) , dia bermain sebagai pela cur, dari satu lelaki pindah ke lelaki lain, "Itulah film yang palin gberkesan selama say aikut membintangi film, "katanya. 

Meski di cap perempuan penggoda dalam film, tetapi diluar itu, Lina mengaku tak seburuk sangkaan orang. Lina tetap Lina Budiarti, ibu lima anak dan istri setia.

"Film kan cuma bohon-bohongan, ya saya lakukan itu dengan bohong-bohongan pula. Selesai suting ya sudah," katanya yang megnaku tidak pernah risi melakukan adegan ranjang atau ciuman dengan setiap lawan main. Umumnya semua lawan main sudah kenal atau bahkan kawan-kawan dekat, timpal Budiyanto. "Lagi pula adegan ranjang ataupun cium yang dilakukan LIna selama ini masih dalam batas-batas terlalu wajar. Busana dibuka sedikit atau cium dikening atau leher. Ya, lumrah saja, "sergah Budiyanto yang sudah 20 tahun kawin sama Lina Budiarti. 

Karena penampilannya yang cenderung ngesek itu, Lina Budiarti sering diperingati induk oraganisasinya Parfi. Sudah berkali-kali dapat peringatan keras tapi Lina cuek saja. "Lha menurut saya foto bikini adalah pekerjaan yang paling sopan dan halal, ketimbang di film harus telanjang bulat, "celotehnya. Kalau parfi mau peringati, itu dong artis-artis yang tiba-tiba naik mobil bagus, punya rumah, padahal tidak pernah dapat peran utama. Darimana duitnya tuh, kata Budyanto setengah menuding. Siapa bud? Akh ya nggak perlu kita sebut.Pokoknya kita taulah permainannya mereka, lanjutnya. ~sumber : MF 073/41/TH.V/15-28 April 1989


Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ALDI RIZALDY, AKTOR 90an


 ALDI RIZALDY, AKTOR 90an (berita lawas). Kali ini mari kita berkenalan dengan aktor dan juga bintang iklan era 90an. Aldi Rizaldy. Aldi Rizaldy, mengaku kadang sulit jika ditanya aslinya darimana. Maklumlah cowok handsome kelahiran Palembang, 2 Agustus 1971 ini mengaku lahir dari buah cinta pasangan campuran. 

Bintang Iklan Rexona dan Minak Djinggo Internasional terlahir dari ayahnya asli Arab Irak, mamanya Arab Saudi dan Neneknya Malaysia China. 

"Aku ini bisa disebut anak gado-gado. Jelasnya, sih anak Indonesia dong!, terang bintang andalan layar lebar di "GAIRAH YANG PANAS" , "JARINGAN TABU" dan GAIRAH HILDA" ini. 

Tentang dunia artis menurut wajah baru yang mirip bintang India Kumar Gaurav ini baru ditekuninya sekitar dua tahun. Walau begitu ia merasa betah untuk terus berkiprah sebagai pelakon. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di MF  No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


T : Kok langsung betah berprofesi sebagai artis?

J : Habis enak sih!. Lagi pula jadi artis memang sudah cita-citaku sejak kecil. 

T : Usia berapa cita-cita itu muncul?

J : Sejak Usia 10 tahun aku sudah sering berkhayal ingin jadi bintang film. 

T : Keinginan yang kuat itu datang setelah Aldy melihat permainan siapa?

J : Ketika melihat permainannya Rano Karno, Widyawati, dan Sophan Sophiaan. Saat itu setiap mereka main aku selalu menghayati permainan mereka dan begitu kagum dengan kepiawaiannya bermain dalam perannya. 

T : Bagaimana reaksi ortu begitu Aldy memutuskan terjun sebagai pelakon?

J : Mereka setuju dan mendukung saja. 

T : Profesi Papimu sendiri apa ?

J : Papiku, pengusaha kayu. 

T : Kenapa kamu tidak mengikuti jejak papimu saja, toh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi artis?

J : Aku pernah mengikuti jejak papi sebagai pengusaha kayu. Tapi  aku ini bosenan. Akhirnya aku tinggalkan pekerjaan itu. 

T : Setelah jadi artis, kalau bosen lagi, ditinggal lagi?

J : Kalau sebagai artis aku nggak bosenan,  karena seperti yang sudah dikatakan tadi, profesi ini aku cinta sekali. (Profesi Aldi sebagai artis, katanya diawali dari model, dimana ia disalurkan lewat sebuah agency. Sedang tentang ilmu akting, menurut Aldi ia dapat dari banyak nonton film-film di bioskop dan televisi).

T : Siapa saja teman cowokmu dikalangan artis?

J : Denny Malik, Thomas Djorghie dan Jamil Reza

T : Kalau yang ceweknya?

J : Mila Karmelia, Anne J Coto dan beberapa model lainnya. 

T : Sebelum hijrah ke Jakarta, kamu tinggal dimana? 

J ; Aku tinggal di Palembang

T : Begitu kamu memutuskan untuk meniti karir di Jakarta, apakah langsung direstui ortu?

J : Tentu saja. Bahkan saat melepas kepergian aku ke tanah rantau, diadakan selamatan segala dengan mengundang pengajian. 

T : Saat orangtua melepaskan anaknya untuk merantau, kalimat apa yang kamu ucapkan agar mereka yakin anaknya nanti tidak bermasalah?

J : Aku katakan, kalau aku akan mencari rejeki yang halal. Soal sholat lima waktu dan mengaji, aku tegaskan jangan kuatir. Itu memang sudah kewajibanku untuk menjalani dan tidak pernh untuk meninggalkannya. 

T : Apakah sebelum hijrah ke Jakarta, kamu sempat singgah di kota lain?

J : Ya, aku sempat juga tinggal di Bandung, bua usaha jual onderdil mobil dan mebel. Tapi karena bosen lagi , aku tinggalkan. 

T : Sepertinya kamu memang senang mandiri. Padahal kamu datang dari keluarga yang berkecukupan dan anak laki-laki bungsu dari 7 bersaudara. Jadi apa yang mau dicari?

J : Karena aku merasa sudah waktunya hidup tanpa bantuan orangtua. malu dong, kalau terus-terusan minta orangtua. Bahkan sekarang saatnya giliran aku yang memberi untuk orangtuaku. 

T : Maksudnya?

J : Ingin nyenengin orangtua. Salahsatu caranya, ingin mmeberangkatkan mereka ke Tanah Suci Mekah. Kalau keuangan lebih dari cukup, aku juga inign menyertainya ke tanah suci. ~

Friday, July 24, 2026

AMBU YETTY SYARIFAH


 AMBU YETTY SYARIFAH (berita lawas). Yetty Syarifah yang dikenal sebagai Ambu, bersikeras ingin mempersatukan kalangan seniman, khususnya di daerah Jawa Barat. Karena selama ini menurut  penilaian Ambu, seniman di Jabar sulit di atur, masing-masing punya keinginan sendiri, sehingga praktis sulit untuk bersatu. Betapa tidak! Dalam kaitan itu, Ambu hidup menggeluti dunia film dan sinetron yang ditekuni sejak 1972 silam. Cita-citanya lain tidak kecuali ingin memajukan seni budaya lewat persatuan dan kesatuan di kalangan para seniman, katanya saat ditemui di sela-sela syuting film "Warisan Terlarang" yang berlokasi di Kuningan arahan sutradara S.A Karim. 

Ambu yang lahir 14 Maret 1936 dari pasangan R. Opo Sumantapraja yang Opzegter Perkebunan dan Julijah asli Garut itu mengawali karirnya lewat film "Si Buta Dari Gua Hantu", menyusul puluhan film lainnya. Diantaranya film "Gadis Marathon" cukup berkesan, sejumlah sinetron termasuk "Sartika". Disitu Ambu bisa mengembangkan watak dan selalu berupaya main maksimal, sesuai arahan Sutadaran antaranya Kurnaen Suhardiman, Bambang BS dan banyak lagi , "tutur pengagum BJ Habibie. 

Darah seni mengalir dari orangtuanya. Dulu orangtua say akerap tampil dalam seni "Cianjuran" suaranya lumayan mendayu-dayu dan bisa membuat orang tertidur bila mendengar lagu "Cianjuran".

Meskipun ia sekarang berstatus janda berputra empat, ia tidak pernah kesepian, sejak ditinggal suaminya menghadap yang Maha Kuasa. Menyusul suami kedua, tapi nampaknya kurang pas dan akhirnya sekarang sendiri lagi. Saya tidak memikirkan ingin punya suami lagi, umur sudah tua dan lagi punya banyak "incu".

"Kegiatan sehari-hari bila tidak ada syuting, saya tumpahkan kasih saya seorang nenek kepada cucu-cucunya,  ujar anak bungsu dari sepuluh bersaudara ini.  ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Thursday, July 23, 2026

NIA LAVENIA


NIA LAVENIA, SI RAMBUT PANJANG YANG SELALU NGOTOT (berita lawas). Gadis berambut panjang dan berlesung pipit ini bernama Nia Lavenia. Orangnya manis seperti namanya. Karena wajahnya yang menarik ini membuat dirinya menjadi model untuk produk Coca Cola dan Shampo, karena itu dia sering mejeng di layar RCTI. Nia bukan tipe cewek yang gampang puas. Untuk sesuatu keinginannya dia selalu ngotot. Sebab ketika tapmil dalam film "DON AUFAR" dan "KETIKA MUSIM DUREN TIBA" dia hanya numpang mejeng doang. 

"Saya hanya jadi penari. Kurang puas kan kalau cuma goyang-goyang pinggul," katanya renyah. Ketika liburan sekolah tiba Neng Nia disodorkan peran. Kontan gembira ria. Suatu yang mengasyikan masa libur diisi kegiatan positif, pikirnya. Dalam film "Blok M" sutradara Edward Pesta Sirait, Nia menjadi yang suka mejeng dengan teman-temannya. Dia dan Desy Ratnasari merupakan anak-anakyang haus kasih saya, karena orang tua selalu sibuk. Sehingga lupa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Membuat anak-anaknya Mejeng di pasa Blok M , kawasan Melawai. "Saya senang main film karena berakting beneran, "kata gadis dengan tinggi 160 cm dan berat 46 kg ini. 

Kiprahnya tidak hanya dalam model-modelan. Rupanya dia terlihat juga dalam tarik menarik suara. Satu album dangdutnya telah rampung untuk lagu yang berjudul "Cinta Lahir Batin". Nia telah pula nongol di Aneka Ria Safari. 

Nia merupakan belasteran Jawa dan Sunda. Ngakunya suka nonton film apa saja. Meski dia ingin menjadi bintang film dan seorang penyanyi tenar, Nia juga punya idola. "Saya senang Christine Hakim karena aktingnya yang penuh penjiwaan. Kalau penyanyi saya senang dengan Ruth Sahanaya, selain dia memiliki vocal bagus, penampilan juga menarik"katanya. Lalu apa sih cita-citanya sebenarnya?"Kalau dipikir-pikir saya ingin jadi ahli ekonomi, " ujarnya bersemangat. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990