CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA (berita lawas). Christine Hakim akhirnya bersedia juga main sinetron produksi Multivision Plus yang berjudul menarik, "Bukan Perempuan Biasa".Karuan ini suatu kebanggaan besar bagi Produser Raam Punjabi yang sebelumnya juga berhasil mengajak pasangan bintang abadi Sophan Sophiaan - Widyawati bermain dalam serial Abad 21.
Terus terang sudah sepuluh tahun lamanya saya ingin menjalin kerjasama dengan Christine , "aku Raam. "Waktu itu saya berhasrat membuat film bioskop, tapi baru dua tahun lalu, Christine setuju untuk bermain dalam sinetron ini yang bakal di garap oleh Arifin C Noer. Sayang beliau keburu tiada, hingga proyek nyaris tertunda.
Adalah Jajang C Noer yang selama setahun terus mengejar Raam untuk melanjutkan proyek mendiang arifin agar tak sampai batal. Sebenarnya memang Arifin telah menulis tujuh skenario dari miniseri yang direncanakan tamat dalam sepuluh sepisode ini . Lalu bagaimana dengan tiga episode yang beum rampung?Diminta Arswendo Atmowiloto yang juga kawan lama almarhum untuk menyelesaikannya sampai tuntas.
"Saya mau bilang apa, cuma saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Pak Raam dan Raakhe untuk mengerjakan pekerjaan Mas Arifin yang tertinggal,"ucap Jajang.
Bukannya tanpa susah payah bagi Jajang untuk mendapat kepercayaan tersebut karena semula Raam menghubungi sutradara-sutradara handal seperti Slamet Rahardjo, Putu Wijaya dan Garin Nugroho. Tapi diluar sepengetahuannya, Jajang juga mendatangi mereka dan berpesan setengah mengancam "Jangan mau terima twaran dari Pak Raam. Bilang saja cuma istrinya yang tahu betul dan paling tepat untuk melanjutkan karya Mas Arifin.
Al hasil Raam menyerah pada Jajang, apalagi setelah jajang menjamin bahwa Christine tetap akan menjadi leading-lady (pemeran utama). Padahal pada waktu dicari, Christine sedang berada di Sukabumi suting film produksi Emerald Film dari Belanda, Tropical Emerald.
Bukan Perempuan Biasa didukung oleh Desy Ratnasari Dony Damara, El Manik, Pangky Suwito, Eeng Saptahadi, Remy Silado, Marini Zumarnis, Charlie Sahetapy dan banyak lagi.
Berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film nomor : 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996
T : Setelah sekian lama, boleh dibilang menghilang, baru sekarang anda kembali bermain?
J : Saya nggak menghilang kok mas, cuma...tersingkir. Entah kenapa tersingkir lagi musim banjir kali?!. Tapi saya merasa diri saya adalah artis yang beruntung, beruntung sekali malah. Karena saat kondisi perfilman Indonesia sedang begini, justru saya mendapat kesempatan untuk meninjau perkembangan dunia film di Australia selama enam bulan. Saya lihat disana ada Asosiasi Women Film Maker yang anggotanya lebih dari 300 sineas wanita. Bayangkan, padahal Australia kan penduduknya cuma 17 Juta, tapi begitu banyak wanita yang sudah jadi sutradara!. Lalu bermain untuk sebuah film Jepang di Jepang. Disana juga saya empat diundang ke Women International Film Festival. Dan terakhir main film Belanda yang lokasi sutingnya di Sukabumi.
T : Kenapa baru sekarang Anda mau main sinetron, bukankah dulu Anda cuma mau main untuk film bioskop?
J : Saya tak pernah bilang anti sinetron, sama sekali tidak . Memang sejak dunia televisi swasta mekar, saya banyak ditawari main sinetron. Cuma waktu itu saya masih dalam kondisi prihatin dan sedih melihat film nasional, hingga merasa sulit untuk pindah ke media lain dalam hal ini teve.
T : Bisa cerita bagaimana sampai Jajang berhasil membujuk Anda?
J : Saya masih ingat, Sabtu malam, jam sepuluh, saya baru selesai suting di Sukabumi, baru siap-siap untuk mengaso, mendadak Jajang menelpon saya. Dia bertanya apa benar saya menolak untuk main sinetron, saya jawab tidak benar. Langsung Jajang menceritakan bagaimana perjuangnnya sampai berhasil membujuk Raam. Mendengar ceritanya, hati saya jadi luluh. Bagi saya, yang disebut Bukan Perempuan Biasa seharusnya ya si Jajang ini.
Lalu saya minta Jajang menunggu sampai suting Emerald selesai, baru bicara lagi. Saya tidak mau membaca skenario yang mau dikirimnya ke Sukabumi. Sebab kalau saya membacanya dan tertarik, nanti bisa mempengaruhi saya.
T : Bagaimana sih ceritanya sinetron Bukan Perempuan Biasa?
J : Bayangkan saja ya, saya diper kosa El Manik, lalu punya anak Desi Ratnasari (tertawa). Ceritanya saya berperan sebagai Menul, perempuan desa yang minggat dari rumah karena menolak ketika hendak dikawinkan oleh ayahnya. Malah ia diper kosa oleh lima pemuda mabuk sampai hamil. Kelak menul menjadi tukang pijat tradisional di Solo. sedang anaknya, Sri, tumbuh menjadi remaja. mendadak mereka menerima kiriman barang-barang mewah. Menul merasa tak mengenal Pak Bachtiar, si pengirim serta, merta menolak. Ternyata Bachtiar ini adalah salah seorang pemerkosa yang telah insyaf dan ingin menebus dosanya. Itu cerita babak pertamanya selanjutnya masih panjang lagi.
T : Boleh tahu berapa Christine Hakim di kontrak untuk bermain sinetron ini?
J : Sampai sekarang belum ada kontrak, saya belum menandatangani apa-apa, baru gentleman agreement saja untuk mulai kerjasama. Bagi saya yang penting dalam bekerja harus punya motivasi yang jelas, bukan uangnya, Dan kita akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin.
T : Atau nanti Anda akan dikontrak pertahun, agar juga bisa main dalam sinetron-sinetron produksi Multivision yang lain?
J : Belum, kontrak yang satu ini juga maish belum ditandatangani. Tapi saya rasa kita semua sudah seharusnya berterima kasih pada Raam, meskipun jelas juga banyak orang yang jelus padanya. harus dihargai dong kreativitas dan jasa raam yang berhasil mengembangkan sinetron di teve swasta. kalau beberapa tahun lalu, produk impor seperti telenovela begitu digandrungi, Raam berhasil lewat produksi lokal mulai dari Gara-gara, Lika Liku Laki Laki sampai misalnya Pelangi Di Hatiku. Sekarang Desy Ratnasari bisa mengalahkan Maria Mercedes. Rating sinetron lokal ada diatas telenovela. Ini semua merupakan andil Raam yagn sangat besar, mesti diakui secara fair.
Saya akan mendukung Raam, selama masih pantas di dukung. Saya yakin seribu persen, Raam pasti akan memproduksi film nasional lagi bila tiba saatnya. Pokoknya saya dukung, ya selama Raam juga masih setia pada negeri ini. Semoga tidak jadi pengkhianat (tertawa).
T : Tidak ada keraguan bekerja di bawah penanganan seorang sutradara yang masih baru?
J : Bukan baru sekarang saya bekerjasama dengan sutradara yang untuk pertama kalinya berkarya. eros Djarot misalnya. Malah dengan sutradara baru, saya bisa merasakat spiritnya yang maih murni. Tapi saya yakin Jajang bisa kok. Saya juga sudah membaca skenarionya kalau perlu seratus kali agar bisa masuk diperannya. Sebenarnya minimal saya butuh waktu tiga bulan setelah selesai suting sebuah film, untuk melepas peran agar kembali normal, baru mulai masuk keperan baru. Tapi demi Jajang, kali ini saya langsung masuk ke peran Menul.
T : Apakah dengan ini Anda ingin meninggalkan dunia film (bisokop)?
J : Saya tidak pernah meninggalkan dunia film, tapi ingat, saya juga bukan satpam yang kerjanya menjaga film. Saya ingat jaman jaya-jayanya film nasional, mendadak semua orang merasa punya kepentingan, ikut mengatur, harus begini harus begitu. Jadinya ya begitu, kebanyakan pesan. Mestinya biarkan saj atumbuh seperti apa adanya.
Bukan cuma di Indonesia banyak negara lain, termasik Prancis, yang punya masalah tak bisa bersaing dengan Film Amerika, akhirnya memilih untuk memproduksi film teve. Yang penting, harus berbuat terus berekspresi.
Sekarang saya bisa merasakan getar wartawan yang merindukan film nasional. Dibawa sadar kita semua ada kerinduan film nasional berkembang seperti dulu, seharusnya wartawan yang berperan besar menjadi satpam tadi. Saya tidak tahu apakah film nasional masih unya kesempatan untuk bangkit lagi apalagi menghadapi zaman global. Hukumnya wajib bagi kita semua untuk melindungi film dan sinetron sebagai produksi budaya. ~~