Sunday, August 9, 2026

NOVIA KOLOPAKING

 


NOVIA KOLOPAKING (berita lawas). Novia Kolopaking artis yagn sering manggung untuk menyanyikan lagu-lagu baik pada acara show maupun undangan sebagai bintang tamu. Via , panggilan sehari-hari , perempuan imut-imut yang lincah dan ramah terhadap siapapun baik dengan cowok maupun cewek, ia menganggap sebagai keluarga sendiri. "Konsep ini yang saya terapkan. Saya senang bergaul pada semua orang, dan saya berusaha untuk menyenangkan, untuk diri saya mungkin sudah menjadi milik masyarakat, "celoteh Via saat ditemui pada acara Parade Artis Taman Impian Jaya Ancol. 

Kesibukan Via akhir-akhir ini mengisi acara musik, hampir seminggu 2 kali ia manggung bersama artis-artis yang ada di ibukota. Sejak kecil Via sudah berani pentas untuk menyanyikan lagu anak-anak. Berkat suaranya yang enak di dengar serta didukung kemampuan dalam membawakan setiap lagu, Via  sering dibutuhkan oleh masyarakat untuk menghibur. Dalam kesempatan di Parade Artis Taman Impian, Via sempat menyanyikan lagu dangdut, untuk meramaikan suasana Via langsung punya inisiatif gaet cowok untuk mendampingi sebagai pacar sementara untuk berjoget diatas panggung. 

"Saya mencoba memberanikan diri untuk ajak cowok yang sedang nonton. Sebetulnya saya agak ragu, tapi karena tidak punya maksud apa-apa jadi ya langsung say apegang tangannya agar kelihatan mesra. Ini nggak lama kok, hanya lima menit,"ujar Via menegaskan. Via memang sering mengisi acara di Ancol, ia mengaku bahwa semangatnya untuk meniti karir berawal dari Ancol, yang mana Via sering ngobrol dengan seniman-seniman yang ada didaerah Pasar Seni. 

Keinginan untuk sukses sebagai seorang artis, Via banyak belajar pada seniman yang ada di Pasar Seni. Berkat keberaniannya Via pernah dicoba untuk menyanyi diArena Panggung terbuka Pasar Seni Ancol. Yah , Via bersyukur bahwa kehadirannya pada saat itu diambut dengan tepuk tangan dari penonton yang berjubel-jubel untuk melihat secara dekat dengan artis yang lincah ini. 

Walau sudah banyak dikenal masyarakat, Via tidak pernah melupakan sumber mata air yang pernah membawa dirinya untuk mencapai sukses sebagai seorang penyanyi. Disamping menyanyi ia akting mengisi sandiwara radio "Saur Sepuh" sebagai "Dewi Anjani". Tokoh ii yang membuatnya semakin terkenal, pada akhirnya mendapat tawaran untuk main drama TVRI, diantaranya, Marina, Kutub-kutub Nyanyian untuk Dini, juga melakoni drama serial TVRI berjudul Jendela Rumah Kita sebagai tokoh Anna dan inipun telah dikaloni sebagai tokoh yang tetap. Via tetap melaju dengan banyak pengalaman di bidang tarik suara maupun drama TV. 

Pada saatnya pula, Via telah merampungkan filmnya berjudul Brahmana Manggala sebagai tokoh Antini. Banyak sekali tawaran main film namun artis ini memang selektif sekali. Jika skenarionya ada adegan yang tak senonoh, ia menolak secara langsung, via bukan fanatik, tetapi bagi Via ia tidak pantas untuk membawakannya. Pada saat ini ia masih harus menyelesaikan sinetron berjudul "Siti Nurbaya".

 ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Saturday, August 8, 2026

YURIKE PRASTICA, TIDAK BERBUGIL LAGI

 


YURIKE PRASTICA, TIDAK BERBUGIL LAGI (berita lawas). Sejak Yurike Prastica melahirkan putri pertama, medio tahun 1991 lalu, praktis kegiatan keartisan ditinggalkan. Akibatnya selama setahun setengah, Yurika tak membintangi film. Lahirnya buah hati, tidak hanya melengkapkan eksistensi Yuri sebagai wanita, dampak lannya kini lebih banyak melakukan perenungan atas apa yang pernah dirambahnya di film. 

Ia menggelengkan kepala tatkala memutar ulang kembali awal debutnya di film, artis seronok, demikian pers menyebutnya. Juta mata pria memakan kembali air liurnya, menyaksikan kemolekan dan lekukan tubuh Yuri nan aduhai itu. Lihat saja tahun 1987, dua film yang dibintanginya, Pembalasan Ratu laut Selatan dan Akibat Terlalu Genit sempat ditarik dari peredaran. Sebab dianggap film yang mengeksploitasi seks.

Kini, Yuri meski masih ceplas ceplos kalau ngomong, namun dalam berdandan ia lebih feminin. "saya telah tua. Tidak saatnya lagi buat saya berbuka-buka. Buat apa sih begituan terus. Kan masih ada yang muda-muda, lebih berani dan lebih seksi, "kata bintang kelahiran Bandung 25 Juni 1968 ini. 

Justru itu debutnya kembali ke dunia akting melakoni Mei Shin dalam sinetron Mahkota Mayangkara tayangan TPI medio 1992 ini, Yuri lebih banyak mempermainkan eksresi; inner action. "Itulah beda dulu dari sekarang, kalau dulu saya lebih banyak melakoni diri sendiri, tapi sekarang yang dilakoni begitu jauh dari dri saya,"katanya sembari membuktikan dirinya dengan kondisi membandingkan lakonnya sbagai orangtua dalam Mahkota Mayangkara. Selepas suting Mahkota Mayangkara, Parkit Film kemudian menaksirnya untuk membintangi film Plintat Plintut, dalam film komedi situasi ini Yasman Yazid menuntut lebih supaya mempermainkan ekspresinya. Kemudian datang pula todongan agar bersedia menandatangani kontrak sinetron drama komedi Ada Ada Saja. Buat tayangan RCTI sebanyak 40 episode. "Ini bukan keterpaksaan karena film sepi tapi juga untuk melatih diri, ujarnya bernada klise. 

"Toh Film dan sinetron tak jauh berbeda, "kilahnya sembari menarik rokok kretek filter. 

Bukan rahasia umum kalau dunia film bagi artis tidak selamanya bisa menjadi jaminan masa depan. 

Maka beberapa bisnis berbagai bidang digeluti Yuri. Namun, Yuri tetap saja terdampar ke bisnis sinetron. Apalagi bisnis yang satu ini lagi ngetrand dikalangan artis. Tiga bulan setelah usai bersalin, Yuri langsung bergelut dengan bisnis sinetron. Lalu iapun menggabungkan diri dengan PT. Impro Perkasa, memegang jabatan eksekutif produser. 

Kepenatan, perhitungan, strategi dan tenggangrasa selalu dihadapinya sebagai sosok eksekutif produser. 

"Selama ini saya tahu beres, yang penting bisa berlakon baik, tapi menjadi eksekutif Produser banak banget memusingkan kepala, "katanya. Apa yang dilakukannya di bisnis sinetron belum terlalu banyak, namun sempat menelorkan dua sinetron tayangan RCTI yaitu Duri-Duri Cinta dan Selubung Tirai Putih. 

Ketika belum berkutat di bisnis sinetron badannya cukup sintal, sekarang lebih kurus. "Kalau ngurus sinetron saya bisa nggak tidur. Sebab saya harus perduli dengan  segala sesuatu yang terjadi di lokasi Syuting. Ternyata mengatur puluhan orang banyak menguras tenaga. Tingkah orang film pun bermacam-macam. Ini lah pelajaran yang tidak  saya dapati di ddunia seni peran,"katanya dengan semangat. 

"Beberapa rencana produksi sinetron yang saya tangani terpaksa ditunda sampai tahun 1992, persoalannya, pikiran saya tercurah kepada rekan saya di Mahkota Mayangkara dan Gara-gara. Supaya idak ngaco keduanya, salah satu harus dikalahkan. 

Di sela sibuknya Yuri menggeluti sinetron ada juga tawaran berlakon seksi di film yang menghampirinya. "Usia saya sudah 25 tahun, saya sudah merasa tua, sudah punya anak. Maka ada tawaran buka-bukaan sudahlah pasti saya tolak. Saya sudah merasa malu kalau masih mau menerima peran-peran seperti itu, "katanya bersungguh-sungguh dengan tenang. "Yuri dulu bukan Yuri Sekarang,"ujarnya. ~~MF No 167/134/TH IX, 28 Nov - 11 Des 1992. 


Friday, August 7, 2026

PACAR KETINGGALAN KERETA, BENTUK LAIN KOMPROMI TEGUH KARYA

 


PACAR KETINGGALAN KERETA, BENTUK LAIN KOMPROMI TEGUH KARYA, (Film Lawas). Teguh Karya ternyata tak cuma mahir sebagai seorang tragikus. Tapi juga cukup lihai sebagai pembanyol. Dan itulah yang Ia perihatkan lewat film terbarunya "Pacar Ketinggalan Kereta". Sebagai seorang tragikus, tak dapat di sangkal Teguh adalah sutradara dengan pemahaman dramatik yang nyaris tanpa cela. Tapi sebagai pembanyol ? Sense of humor Teguh agaknya terlalu tinggi untuk bisa menyaingi Srimulat. 

Lihatlah, untuk keperluan membanyol itu Teguh harus menyusupkan Didi Petet dalam "Pacar Ketinggalan Kereta"(PKK) diantara deretan pemainnya yang berwajah serius. Babak demi babak pun tampak dirangkai Teguh dengan semangat yang cenderung menghibur ketimbang memberi renungan. Dan itu tanpa bisa ditolak, menunjukkan betapa Teguh saat ini sedang bergerak. Sedang memulai sebuah perjalanan yang menurut Teguh sendiri suatu yang baru dalam perjalanan kreatifnya. 

Tapi, adakah yang benar-benar baru pada tawaran Teguh kali ini? Bagi Teguh sendiri mungkin ya, tapi bagi kita yang menyaksikan PKK, kecuali pola penggarapannya yang cenderung musikal yang memang menjadi pola yang langka dalam sejarah perjalanan perfilman kita sejak Usma Ismail (alm) membuat "Tiga Dara", Teguh tak menawarkan hal-hal baru yang lain. Dari cerita, apa yang diangkat, Teguh toh sebuah problema klise yang menyehari. Dan Teguh tak mencobanya memberi gereget. 

Ada satu keluarga kaya dengan dua anak. Sebuah gambaran keluarga modern Indonesia. Sang ayah yang direktur di sebuah perusahaan, tanpa Teguh berusaha menjelaskan sebabnya, tampak begitu intim dengan sekretarisnya yang janda. Isteri cemburu. Dan bagi Teguh itu sudah cukup untuk membuat kehidupan keluarga itu penuh dengan omelan hingga sang anak mencoba  mencari arti hidupnya sendiri. 

Lalu ada keluarga si Janda. Ada keluarga Ipah yang pincang dan miskin. Ada Martubi yang supir dan Juminten yang babu. Ada Oom Nurdin yang tak jelas sosoknya dan ada pula pemain lain yang kuli, yang pengamen, yang pemilik warung dan yagn spesial hadir untuk membuat gerrr seperti Didi Petet. 

Dan, seperti ceritanya, film inipun mengalir lancar bak air sungai. Yang jelas PKK berakhir dengan happy ending. Semua pemain lalu dijejerkan Teguh di layar dan nyanyi bersama diselingi upaya membanyol Didi melarikan Juminten. Lantas adakah ini potret bahwa seorang Teguh sedang berada diatas puncak tragedinya? Adakah PKK satu kemajuan atau malah kemunduran kerja kreatif Teguh?

Dibanding film Teguh yang sebelumnya, sebut saja "Doea Tanda Mata" saya lebih cenderung mengatakan Teguh saat ini sedang berada pada fase kemunduran. Atau ia mungkin ingin lebih realistis dalam menyiasati pasar film kita dan melakukan kompromi untuk hal-hal yang bisa jadi, diluar kehendak kreatifnya? Entahlah. Tapi sikap kompromis Teguh itu seperti sudah terlalu jauh ingga disadarinya atau tidak, dalam PKK Teguh tampak sebagai sutradara yang kehilangan keseriusan, ketelitian kecermatan dalam detail dan penuh dengan renungan. 

Lantas apa saja yang di lakukan Teguh dengan waktu dua tahun penggarapannya? Dan itulah masalahnya memang. Sebagai karya sinematografi PKK jelas tak terlalu jelek. Teguh cukup berhasil menyajikan sebagai suatu yang menghibur. Adegan demi adegan ditata Teguh bagai menyusun buku komik. Tak berbelit-belit. Tak payah. Itu dibantu oleh editing Karsono yang juga tak ingin menyusahkan mata. Dan musik di tangan Idris Sardi, mengalir dengan selera kekinian yang, sayangnya, tanpa nuansa emosional apa-apa. Kamera yang maunya muram terus dengan dominasi warna coklat tersebut, sebenarnya sudah cukup  mewakili keinginan artistik Teguh, namun tak cukup tajam untuk bisa mengarahkan penonton untuk membawa pulang pesan dan kesan emosional yang ada dalam PKK. 

Teguh lewat PKK agaknya ingin menjadi remaja. Dengan lagu-lagu dan musiknya. Dengan sosok-sosok tokoh yang ditawarkan dan dengan ceritanya sendiri. Sayangnya, sosok-sosok anak muda dan hasrat mandiri mereka dalam PKK terkesan cuma melengkapi konflik keluarga kaya tersebut. Tak ada konflik yang benar-benar serius ditawarkan Teguh dalam filmnya ini. Tapi, apakah memang bisa PKK menjadi sebuah karya yang serius jika permasalahan ceritanya sendiri sebenarnya sangat sepele? Sangat sederhana?

Dan, jika Teguh masih cukup berhasil menyajikannya sebagai sebuah film yang membanyol, mungkin inilah bentuk lain dari kompromi Teguh. Dan kita patut gembira. Paling tidak , PKK memberitahu kita bahwa Teguh masih ada, meski berada dibawah masa lalunya. ~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

SINETRON : DAMARWULAN


SINETRON DAMAR WULAN (sinetron lawas). Sinetron laga klasik sempat jadi trend terbukti rating Misteri Gunung merapi, Prabu Siliwangi, Anglingdarma, Misteri Nini Pelet dan Dendam Nyi Pelet tetap tinggi. Berangkat dari kenyataan tersebut Budiyanto S, yang sukses menggarap Prabu Siliwangi produksi Mega Kreasi Production menghadirkan sinetron senada dengan judul Damarwulan. 

Untuk menggarap sinetron ini, Budiyanto membangun set di kampung halamannya di Desa Blanakan Ciasem, Sukamandi, Jawa Barat seluas 10 hektar. 

Agar para pemain tidak boring dan keluyuran seusai suting, Budiyanto mencoba membangun base camp dengan segala fasilitas pendukungnya. Rumah yang dijadikan tempat tinggal artis dan kru dilengkapi AC dan TV berukuran besar dengan fasilitas entertainment yang memadai. Untuk membesarkan otot pemain-pemainnya, agar nampak kekar, Budiyanto menyiapkan tempat fitness yang representatif layaknya tempat fitness papan atas di Jakarta. 

"Kami memang menginginkan pemain-pemain baru yang datang dari dunia model bisa membesarkan badan, agar besar badannya proporsional. Sesuai dengan tuntutan cerita", ujar suami Lina Budiarti ini. 

Dengan alasan ingin mengorbitkan bibit-bibit baru di pentas sinetron Indonesia, di setiap sinetron yang ditanganinya hanya menampilkan beberapa pemain top. Seperti di sinetron Damarwulan, hanya menghadirkan Sarah Azhari , memerankan tokoh Kencawawungu, Rizal Jibran sebagai Damarwulan, Syamsul Gondo sebagai Punokawan dan selebihnya pemain pendatang baru seperti Firan Lorenzi (Minak Jinggo), Wira Kusuma (Patih Logender), Rico Jund (Layang Seta), Adrian Umora (Layang Kumitir), Dian (Anjasmara), Wahyu Hidayat (Wirandaka) dan Jelita (Suhita).

Damarwulan merupakan cerita rakyat yang sudah melegenda di masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah tentang pemuda Damarwulan yang selalu membuat para wanita mabuk kepayang, tak memandang gadis atau janda bahkan seorang istripun bisa tergila-gila padanya, meski Damarwulan tidak menanggapinya. 

Seperti halnya Ratri dan Sablah yang sudah bersuami, mereka bertaruh untuk menggaet Damarwulan. Dengan berbagai cara keduanya berusaha mendapatkan sang pujaan hati. 

~MF408/374/XVII, 1-15 Februari 2002

LYDIA KANDOU JATUH DARI METROMINI

 


LYDIA KANDOU JATUH DARI METROMINI (berita lawas). Sudah pernah nonton film Ramadhan dan Ramona? Lydia Kandou terpilih (lagi) sebagai Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1992 ini? pada akhirnya iya ya, setelah di tahun 1991 juga meraih Piala Citra dari film Boneka Dari Indiana. Sejumlah pengamat dan wartawan film sepakat untuk menjagokannya, adalah benar. Tentu bukan karena persaingan kearah sana tidak terlalu ketat. Tetapi  lebih karena sosok Ramona yang 'slebor' dan selalu berusaha menutupi jatidirinya yangg digelar lewat film Ramadhan dan Ramona (Chaerul Umam), mampu akrab dengan penonton. Seolah penonton menyaksikan sikap "kemandirian" Ramona yang nyata, dan diperankan dengan gaya dan ekspresi yang pas sesuai peranannya. Itu artinya , karakter Ramona yang diperankan Lydia berhasil. 

"Tarida Gloria dalam Plong dengar-dengar juga berhasil dengan perannya. Bagaimana juga dengan Bella Esperance di Bibir Mer?"sergap Lydia ketika di temui dirumahnya yang asri di Ciputat, Tangerang. 

Apa yang dinyatakan Lydia jadi benar. Lydia sendiri berusaha untuk tidak jumawa. Sejumlah kritikus dan pengamat film setuju dengan prediksinya. Mereka simpati dengan kewajaran akting Tarida, bella , pendatang anyar dalam peta perfilman nasiona, "Jangankan memperoleh citra lagi, masuk nominasi saja saya sudah senang, saya bersyukur karena film ini merupakan produksi pertama kami, "kata Lydia. 

Senang dan banggakah Lydia jika berhasil merenggut Piala Citra lagi? Agaknya tidak sepenuhnya begitu. Secara gamblang, ia ungkapkan keluhannya sebelum Dewan Juri mengumumkan film terbaik beserta unsur-unsurnya. "Tahun ini, kayaknya, persaingan untuk tidak terlalu berat. Selain karena sedikitnya jumlah produksi juga karena...ya, Anda tahu sendirilah, "ujarnya. Kalau saya dapat kok pasti sedang sepi ya..."

Sejak awal Lydia tidak bersemangat bersaing meraih Citra. Dalam perjalanan karirnya sebagai pemain film, istri penyanyi Jamal Mirdad itu sudah 3 kali diunggulkan dalam Untukmu Kuserahkan Segalanya (1984), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986) dan Cas Cis Cus (1990) belum juga Lydia berhasil memboyong Citra. Ada kekecewaan yang sangat membekas dalam dirinya saat dijagokan banyak pengamat sebagai Aktris Terbaik FFI 1990. Yang ternyata meleset. Maka jangan kaget, kalau seorang artis beken yang kemampuan aktingnya disoroti banyak pengamat film seperti Lydia, tertidur saat menonton pengumuman unggulan. "Tahun lalu ketika diumumkan, saya memang tidak bisa hadir,"ungkapnya. 

Bukan karena persaingan memperebutkan Citra di tahun ini tidak terlalu ketat, kalau Lydia Kandou mengungkap, kalau dia berhasil lagi memperoleh lambang supremasi tertinggi perfilman Indonesia, karena sedikitnya pesaing. "Kalau dapat (lagi) ya saya bersyukur. Nggak dapat, ya.. nggak apa apa. Yang penting buat saya adalah bermain sebaik mungkin. Eh, pas jadi kondektur itu, saya pantas nggak sih?.

Di film ini memang Lydia diarahkan Chaerul Umam menjadi seorang kondektur metromini sekeluarnya dari pekerjaan. Berulang kali jatuh bangun. "Bagaimana nggak jatu, Mas mamang menghendaki, sebelum bus berhenti saya sudah harus turun duluan. Saya salah menjejakkan kaki. Seharusnya kaki kiri duluan, saya pakai kaki kanan, "ujarnya geli. 

Bukan itu saja yang kata Lydia sangat sulit dilupakan. Sejumlah orang yang mengenalnya, berteriak memanggilkan ketika harus bergelantungan dimetromini antar Pondok Indah - Pasar Jumat. "Untuk jadi kondektur itu, selain lewat amatan, saya juga melakukan tanya jawab dengan sejumlah kondektur metromini, "akunya. 

Tidak gampang memang untuk menjadi soerang kondektur. Apalagi Kondektur Metro Mini di Jakarta. Selain karena harus selalu ngebut mengejar setoran, juga karena tidak tertibnya pengemudi lain. "Saya ketika itu deg degan. Takut. Waktu belum kawin sih, nggak apa-apa. Masih punya keseimbangan. lah sekarang, sudah punya anak tiga, tapi kalau saya ngikutin ketakutan-ketakutan saya mungkin malah nggak pernah jadi dan lama. Sudah nekad saja".

"Karena adegan itu bukan diambil distudio ya, ada rasa malu juga, "lanjutnya. 

Lydia sendiri mengaku tidak menyangka bakal harus terlibat dalam film tersebut. Jamal Mirdad dan Chaerul Umam, sebelumnya telah mengcasting beberapa orang untuk peran Ramona. Namun sampai beberapa hari menjelang suting, Lydia baru mengetahui kalau dia yang harus memainkannya. "Biar Jamal produsernya saya tetap dibayar sebagaimana mestinya lho. Kalau nggak mendingan saya ikut orang lain. Dan Jamal, memang menghendaki dan memperlakukan saya sebagai pemain, bukan sebagai istri produser. Karenanya sampai saat ini saya belum tahu apa yang dilakukan dia untuk pemasarannya. 

Kalau Lydia mau terlibat, bukan karena honorarium yang diterima atau karena Chaeraul Umam. Tetapi lebih karena honor yang diterima atau karena Chaerul Umam. Tetapi lebih karena ceritanya itu sendiri yang menarik. ~MF 167/134/TH IX, 28 Nov - 11 Des 1992

Thursday, August 6, 2026

ROBIN WALIA

 


ROBIN WALIA (berita lawas). Sekilas mukanya mirip Agus suaminya Misye Arsita ya.., ada yang ingat aktor yang satu ini? Memasuki tahun 2002 aktor Robin Walia menghabiskan waktunya berendam di pantai Pangandaran Jawa Barat. Disana ia tidak sendirian, Robin bersuka ria bersama beberapa teman-temannya dan masyarakat lainnya. 

Ditengah kegembiraan, pelakon  di "Darah & Cinta 2", "Pelangi Di Matamu", "Prahara Prabu Siliwangi" dan "Tertawa Tengah Malam" ini, punya pengalaman mengerikan. Tepatnya ia tanpa sengaja jadi saksi bagaimana dua anak remaja di telan ombak ganas di Pangandaran yang akhirnya tewas. 

"Pengalaman itu benar-benar mengerikan. Bisa dibayangkan kalau Anda melihat dua anak remaja digulung ombak dan akhirnya tewas. Sedih sekali saya melihat mereka. Nasibnya benar-benar sial,"ungkap cowok kelahiran Medan ini. 

"Semua ini tentu ada hikmahnya buat saya. Artinya dalam kondisi apapun kita harus waspada dalam hidup ini. Intinya tidak boleh terlena, "ujar Robin serius. ~MF408/374/XVII, 1-15 Februari 2002


Wednesday, August 5, 2026

BELLA SAPHIRA, ANGSA PUTIH STARVISION!

 


BELLA SAPHIRA, ANGSA PUTIH STARVISION! (berita lawas). Ada yang kangen dengan akting Bella Saphira yang saat ini sudah tidak aktif di dunia entertainment? Nominator Pemeran Utama Wanita Festival Sinetron Indonesia 1996 lewat sinetron Norma, Bella Saphira mengaku sedang menyusun skripsi untuk mengambil gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti Jakarta ini, "Saya sedang pusing karena disisi lain saya juga harus membintangi sinetron "Angsa Putih". Sebelumnya sih pengen ngambil cuti, tapi saya nggak mampu mengerem keinginan untuk cepat-cepat jadi sarjana, ha..ha...ha,"kata Bella yang asli bedarah Batak ini. "Sekarang saya lagi bingung nih. Disamping main sinetron, saya juga harus buat skripsi. Apa boleh buat, coba-coba deh, "lanjutnya.

Semula Bella mengaku kurang optimis bisa sukses main sinetron. "Apalagi ketika itu saya hanya jadi figuran di film Pernikahan Dini, Maka saya lari ke dunia model iklan. Untuk sementara lamanya saya berkutat di model iklan, seperti iklan pesawat Buroq,"kata putri ketiga dari pasangan Anggara Simanjuntak dengan Elvida Victoria Simatupang. 

Baru beberapa lama menikmati dunia model, Bella kembali dapat tawaran main sinetron. "Apa salahnya dicoba lagi? Begitu pikir saya,"ujar Bella mengenang. Maka dalam waktu singkat, Bella membintangi beberapa sinetron seperti Cincin Perkawinan, Norma, Misteri Pecahan Kaca, Angsa Putih dan lain-lain. Bahkan tanpa diduga, lewat Norma, dia masuk nominasi. "Ini benar-benar kejutan bagi saya, nggak kebayangkan sama sekali. Untuk selanjutnya, saya nggak banyak berharap. Masuk nominasi saja udah kejutan luar biasa bagi saya dan keluarga. Rasanya saya lebih siap kalah ketimbang jadi pemenang ha..ha..."ujar Bella yang mirip Kris Dayanti Ini. 

"Nggak tahu nih, orang-orang bilang saya mirip Kris. Kebetulan Kris juga adalah teman saya. Kami hanya senyum-senyum saja kalau ada yang ngomong kayak gitu, "kata Bella. Nggak takut ditaksir Anang?

"Ha...ha... mntang-mentang dibilang mirip Kris Dayanti lantas dihubung-hubungkan dengan suaminya, ya.. saya sendiri  udah punya cowok. . Saya pacaran sudah empat tahun lebih. Tapi orangnya rahasia ya, kilah Bella yang juga jadi bintang iklan Coklat Top dan bedak VIVA ini. 

Bella sekarang sedang suting sinetron Angsa Putih produksi Starvision. Sementara sinetronnya yagn tayang di SCTV berjudul Miseri Pecahan Kaca garapan Buce Malawau yang diangkat dari kisah nyata di Jawa Timur. Peran saya disini menggantikan posisi Donna Harun karena separoh jalan. Donna nggak bisa ngelanjutkan "kata Bella~~~~~273/239/XIII/30 Nov - 13 Des 1996

ONKY ALEXANDER, DEG DEGAN PERTAMA KALI MENGHADAP KAMERA

 


ONKY ALEXANDER, DEG DEGAN PERTAMA KALI MENGHADAP KAMERA (berita lawas). Lewat film perdananya "Catatan Si Boy", Onky Alexander meraih sukses yang kemudian menjadi idola kaum remaja. Tak heran kalau si tampan ini kemudian membintangi film "Catatan Si Boy".

Pertama kali mendapat tawaran main film datang dari sutradara Nasri Cheppy yang mengarap "Catatan Si Boy" itu. Menurut Onky, ia merasa kaget juga mendapat tawaran seperti itu. 

"Benar apa nggak sih? soalnya belum sempat untuk memikirkan main film. Semalaman saya dihantui oleh ketidakpercayaan. Terutama tentang kemampuan saya. bisa apa nggak, gitu!"Ujar Onky menuturkan. "Meskipun sebelumnya sudahdiberikan pengarahan. Dan begitu berada di lapangan untuk pengambilan gambar pertama kali, wah dada saya ini nggak bisa tenang. Deg degan terus. Kayaknya waktu itu saya merasa main film itu susah-susah gampang,".

Apakah ketika itu Onky sempat berpikiran kalau permainannya di depan kamera meniru gaya bintang yang sudah tenar?.

"Nggak juga tuh!" jawab Onky. 

Namun Onky mengaku dari dulu ia memang sudah suka menonton film, terutama film spionase yang dibintangi Robert De Niro atau Mickey Rourka disamping Tom Cruise. 

"Dari gaya mereka saya belajar meniru membawakan peran yang baik. Tapi kayaknya kita lebih banyak dituntut oleh naskah yang akan kita perankan, "ujar Onky. 

Setelah terjun ke dunia film, menurut Onky Alexander harus punya keyakinan untuk bisa menyaingi mereka yang sudah ngetop. Namun penilaian aktingnya dibeikan pada penonton juga untuk menilainya. Dan yang jelas Onkymemang berhasil dalam menekuni kariernya di film. ~RF 832