Tuesday, August 25, 2026

MUSIBAH FILM SI ROY dan SUMBANGAN KEMANUSIAAN INSAN FILM

 


MUSIBAH FILM SI ROY dan SUMBANGAN KEMANUSIAAN INSAN FILM (berita lawas). Masih ingat kejadian ini? musibah kecelakaan suting film Si Roy?. Jumat, 8 September 1989 tercatat sebagai hari naas bagi PT. Andalas Kencana Film khususnya dan orang film Indonesia umumnya. Siang itu, dalam perjalanan pulang suting dari Bandung, mobil Mitsubishi L 300 yang mengangkut bintang dan karyawan film remaja berjudul "Si Roy" mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi. Kopel gardan copot, tergesek jalanan aspal sampai meneribitkan percikan api, menyambar tangki bensin, mobil terbalik dan terbakar hangus!. 

Para Korban , tercatat keseluruhannya 8 orang termasuk sopir yang berada didalam kendaraan apes tersebut. mereka adalah Monica Gunawan pemeran utama wanita, Tyas, Taufik, dan Sofyan Alifajar , pemeran pemeran pembantu pria, serta Edi Caroko (property man), Sufekih (Asisten Unit), Matizi (Sopir) dan Bambang Yulianto (Sopir yang menyetir pada waktu itu). 

Para korban langsung di larikan ke RS UKI untuk mendapatkan pertolongan pertama. Barulah dipindahkan ke RSCM. Tapi luka bakar yang kelewat parah membuat lima korban meninggal secara beruntun (Sufekih, Bambang Yulianto, Edi Caroko alias Bagong, Sofyan Alifajar dan Matizi). 

Yang paling ringan keadaannya Tyas. Sesudah lengannya yang patah di gips, ia menjalani perawatan berobat jalan. Sedangkan Taufik di rawat di RS PELNI. 

Yang mengibakan keadaanya justru si pemeran utama wanita, Monica Gunawan. Remaja berusia 18 tahun  yang baru lulus SMA ini pernah menjadi model iklan Fuji, baru pertama kali main film. Modal utamanya tentu saja kecantikan wajahnya. Betapa disayangkan, kalau sampai sebagian wajah cacat luka bakar. Masih terus menjalani perawatan intensif di RS Cikini. 

Selama para korban dirawat yang paling sibuk adalah dua produser Madhu Mahtani dan Ramesh, bersama sang sutradara Achiel Nasrun. Mereka meninggalkan segala urusan kantor, suting dihentikan untuk sementara waktu, ikut berjaga di Rumah Sakit. Mengeluarkan segala biaya untuk pengobatan. 

"Kami sudah berusaha dengan segala daya upaya. Tanpa memperhitungkan segala biaya. Uang masih bisa dicari lagi nanti, yang penting para korban bisa ditolong," sebut Ramesh. "Musibah sudah terjadi begini, kita mau bilang apa? Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa . Tapi rupanya sudah takdir. Tuhan menentukan demikian. 

Segala biaya selama dirawat di Rumah Sakit, sampai ke pemakaman, ditanggung oleh PT. Andalas Kencana Film. Kemudian Ferry Angriawan produser PT. Virgo Putra Film, memprakarsai untuk menghimpun sumbangan bagi rekan-rekan produser, artis dan karyawan film, yang pernah bekerjasama dengan para almarhum. 

Para produser menyumbangkan dari Rp. 1 juta sampai yang terendah Rp. 250.000. Antara lain dari PT. Bola Dunia film, Virgo Putra, Soraya Intercine, Inem, Parkit, Kanta Indah, Pancaran Indra Cine, Nusantara , Rapi dan Garuda. IKutan menyumbang perusahaan rekaman JK Record. Ada lagi produser yang menyumbang atas nama pribadi, Manu Sukmajaya, Hatoek Soebroto, Wiryo Wibowo, Thamrin Lubis, dan Rudy S Senyoto. 

Delapan sutradara yang menyumbang, Ami Priyono, Bobby Sandy, Hengky Solaiman, Bob Chappel, Chaerul Umam, Wim Umbah , Sophan Sophiaan, dan Ali Shahab. Kamerawan Harry Simon, dan Still photograper Ken O Sanjaya. 

Dari barisan artis tercatat penyumbang terbesar adalah keluarga Ade Irawan, dan Onky Alexander, diikuti oleh Meriam Bellina, Barulah tercatat nama seperti Conny Constantia, Didi Petet, Deddy Mizwar, Lanny Marlina, Gatot Teguh Arifianto, Nurul Arifin, Richie Ricardo, Rano Karno, Harry Capri/Camelia Malik, Ade Hashari, Sylvana Herman, Cok Simbara, Leroy Osmani, Ayu Azhari, Advent Bangun, Ira Wibowo dan Sophia Latjuba. 

Disamping artis-artis diatas ada juga artis-artis yang menyumbang ala kadarnya seperti Rima Melati dan Yurike Prastica. Betapapun akhirnya terkumpul dari 49 penyumbang uang sejumlah Rp. 17.200.000,-

Minggu pagi, 24 September 1989 pukul 11.00 bertempat di auditorium walikota Jakarta Pusat, sumbangan tersebut diserahterimakan kepada keluarga korban .

Ny. Supiroh mewakili keluarga Edi Caroko, menerima deposito sebesar Rp. 5 juta dan uang tunai Rp. 550.000.

Ny. Darwati mewakili keluarga Sufekih menerima jumlah uang sama. 

Ny. Nendrarwati mewakili keluarga Bambang Yulianto menerima deposito sebesar Rp. 2,5 juta dan uang tunai Rp. 550. 000.

Lalu, Ny. Nasrifah mewakili keluarga Matizi, menerima sejumlah uang yagn sama dengan keluarga Bambang Yulianto. 

"Sampai sekarang kami sudah mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 20 juta terutama untuk biaya pengobatan dirumah sakit", sebut produser Ramesh sambil memperlihatkan setumpuk kuitansi. "Diperkirakan sampai selesai nanti bisa menghabiskan Rp. 50 juta termasuk untuk retake (pengambilan ulang) dari 6 can yang ikut terbakar hangus. 

Untuk sementara suting film "Si Roy " dihentikan dan direncanakan dilanjutkan lagi awal Oktober 1989. 

Menurut sutradara Achiel Nasrun "Bagaimana juga musibah ini ada hikmahnya juga. Motto KFT (Karyawan Film dan Televisi) SEHATI DAN SEPROFESI, bisa dirasakan sekarang tanpa paksaan, dengan kesadaran masing-masing, banyak yang telah bersedia untuk menyumbang keluarga korban!".

Menurut ketentuan KFT,bila ada anggotanya yangmeninggal diberikan sumbangan sebesar Rp. 60.000. Bersyukurlah dengan adanya sumbangan sukarela yang sungguh amat meringankan beban bagi mereka yang ditinggalkan. sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989



Monday, August 24, 2026

YATTIE SURACHMAN TENTANG KEGAGALAN DALAM FFI 1989

 


YATTIE SURACHMAN TENTANG KEGAGALAN DALAM FFI 1989 (Berita lawas). "Kenapa harus kecewa kalau memang Tuhan belum memberikan untuk kita?" itu kata Yattie Surachman, pemeran Ni Wayan Melati dalam film "Nyoman dan Merah Putih" yang tak terpilih dalam 19 film seleksi FFI '89, itu keputusan juri lho. Dan juri tentunya punya penilaian sendiri, "tambah artis yang hadir saban Minggu di TVRI lewat film seri "Pak Kontak" ini. 

Yattie sendiri, yang ikut membacakan hasil keputusan juri komite seleksi FFI '89 tersebut mengaku tak tahu kalau film yang dibintanginya itu tak terpilih. "Habis, wong saya dibelakang panggung. Enggak dengar. Tapi apa iya "Nyoman" enggak terpilih?"tanyanya. "Ya wislah. Mau bilang apa? Mau komentar apa? Saya sendiri pokoknya sudah bermain maksimal kok, "katanya lagi.

Tak kecewa Yat?" Untuk apa? itu biasa kok. Dalam perlombaan kalah menang itu kan biasa, "jawabnya sambil tersenyum. "Enggak cum akali ini kan FFI diadakan? Masih ada waktu lagi kok, "tambahnya sambil lagi-lagi tersenyum. 

Nyoman dan Merah Putih sendiri melrupakan satu-satunya film yang dibintangi Yattie tahun ini. Tahun lalu (1988) Yattie pun gagal ikut bersaing memperebutkan Piala Citra lewat film yang ikut dibintanginya "Terang Bulan Di Tengah Hari".

"Tapi bagus enggak sih saya main di film Nyoman?" tanya Yattie. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Sunday, August 23, 2026

IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA

 


IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA  (berita lawas). Ada cicak dapat main film? itulah Iwan Darmansyah, yang berperawakan kecil, Kini kalau ada yagn penasaran tampangnya dapat dilihat di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (PKK) garapan Teguh Karya. 

"Ya, karena saya masih kecil dimata mereka, saya selalu dilindungi mereka. bahkan anak cicak nggak boleh ikutan berantem, kata mereka. Sejak itu saya belajar karate dan taekwondo. Sebetulnya sih cuma mau nunjukkin saja, bahwa saya juga siap untuk beran tem, "cerita Iwan sembari ketawa lebar, saat ditemui di Teater Populer, jakarta. Tapi kemudian ia mengerti, ikut beladiri bukan untuk beran tem, melainkan olah tubuh sekaligus buat kesehatan. 

Usai menamatkan SMA, anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Darlis Ibrahim dan Bainer ini disarankan oleh keuda orangtuanya untuk masuk Akabri. Tapi eh Iwan malah kecantol dunia akting. Kedua orangtuanya yang moderat pun memakluminya dan malah bilang "Hadapilah!" Maka semangatpun menggebu untuk menekuni bidang tersebut. "Karena ayah saya anggota ABRI, pengennya saya mengikuti jejaknya. Tapi saya punya pilihan lain, dan ayah saya ngasih kebebasan kok, "ucapnya mantap. 

Lewat drama "Pernikahan Darah" memerankan tokoh pemuda, yang dipentaskan di TIM Jakarta, 1986, Iwan mengawali dunia akting. Dan ketika film "Ibunda" dibikin lelaki berambut keriting dan alis mata tebal ini diberi peran tokoh Fikar selagi muda. "Di dunia seni ini, mata saya bermasyarakat, pengetahuan, juga selalu ada tantangan, yaitu suatu tanggungjawab, "tuturnya diiringi satu isapan rokok kretek filter. Menurutnya, semangat hidup itu tumbuh ketika melihat cara kerja disanggar yang dipimpin Teguh Karya, yang telah banyak memberi masukan. 

Sampailah nasibnya kebagian peran Arsal di PKK , anak janda bu Retno, yang selalu ketiban gunjingan itu. "Ternyata betapa sulitnya main film, Karena tanggungjawab itulah saya berusaha keras untuk menjadi sosok lain, Arsal.  Setiap saat saya gelisah, nggak bisa tidur. Unring-uringan deh pokoknya. Saya memikirkan apakah saya ngedapetin Arsal yang seperti dikehendaki Pak Teguh?" ujar Iwan yang lahir di Jakarta, 4 Desember 1966. Namun setelah rampung film tersebut tambahnya, masih tetap dihinggapi ketidakpuasan diri apa yang telah dibahas. 

"Dan masa kegelisahan dan uring-uringan itu persis saat bercinta. Sebab, disitulah tantangan untuk mendapatkan cinta sekaligus berusaha bertanggungjawab pada orang saya cintai itu, "tegasnya sembari menyeringai. 

Di lain waktu, Teguh Karya pernah memberi komentar terhadap permainan anak muda ini, pemain yang belum ngetop bisa main setara dengan pemain yang sudah ngetop. "Lihat dan bandingkan, jelas antara Iwan dengan Onky, itu misalnya kan  permainannya nggak ada bedanya,"tegas sutradara kawakan itu. Pendapat Iwan sendiri? Ia hanya tersenyum sedikit sumringah. "O, saya senang dapat komentar sepert itu. Terus terang saya main secara maksimal. Tapi setelah itu saya selalu merasa tidak puas. Saya pengin lebih dari itu lagi. Lagi pula saya main bukan dengan Onky, tapi lawan main saya adalah tokoh Heru yagn dimainkan di film PKK ini . Jadi tokoh Arsal dengan tokoh-tokoh lainnya yang mesti dilihat permainannya, "jelasnya bersungguh-sungguh. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Friday, August 21, 2026

SARAH "SI INEM" SEXY, CARI PENGALAMAN BARU

 


SARAH "SI INEM" SEXY, (berita lawas). Biasanya seseorang mengikuti lomba hanya mengejar target tertentu, dan bila terget sudah tercapai lalu tidak berminat lagi mengikuti kontes LASI (Lomba Akting Sinetron Indonesia). Tapi hal itu tidak berlaku untuk Sarah, artis baru di blantika persinetronan Indonesia. 

Sejak mengikuti berbagai macam kontes dari usia belia,  gadis model yang juga peragawati laris ini sudah mengoleksi puluhan trophy. Seperti thropy Ratu Pengantin Singapore tingkat Asean, Juara Ratu Pakaian Terbaik Singapora se Asean, Juara Fotogenik Putri Citra Nasional, Juara Umum dan Keserasian Berbusana Pesona Kerudung Nasional, Juara Pertama Juara Umum Mojang Parahiyangan serta masih banyak yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini. 

"Saya mengiktui berbagai macam kontes lantaran hobi nggak ada target tertentu. Menang ya syukur, nggak ya nggak apa-apa. Itung-itung cari pengalaman. Eee.. nggak tahunya banyak menangnya, he..he..hee ujar pemeran sinetron seri Inem Pelayan Seksi versi Eddy Riwanto ini .

Tentulah , kemudian gadis kelahiran Sei Pakning, 26 April 1976 ini menjadi rebutan berbagai perusahaan yang menginginkan jasa kecantikan  wajahnya untuk mengiklan produknya. Seperti restaurant Oasis, Singapore Discount Card, Putri Bunga Mirabella dan menjadi model Wedding Bellers BOutique, Discovery Style of Rudy Hadisuwarno,Tata Rias wajah dan Rambut Salome, Model Aftersix Boutique (Majalah Mahkota).

"Saya masih ingin jadi model profesional, kalau kemudian saya sekarang terlibat di sinetron, karena ingin mencari pengalaman baru nggak lebih dari itu, "tegasnya. 

Padahal kesempatan untuk menjadi artis populer lewat jalur sinetron sudah terkuak lebar, di Inem Pelayan Sexy garapan sutradara Eddy Riwanto, Sarah mendapat peran utama. Apalagi lawan mainnya kebanyakan pemain pendatang yang kualitasnya jauh dibawahnya. Beda dengan Inem versi Inem Sang Pelayan versi Lukmantoro DS yang diperankan Clara Shinta, disana pun dramawan WS Rendra mendapat lawan main yang cukup berat, Him Damsyik, Cahyono, Uuk, Prapto dari Jayakarta Group, Erna Santoso, Rina Rawit serta sederetan artis top lainnya. 

"Walau saya nggak ingin total di sinetron, bukan berarti saya main-main ketika mendapat kepercayaan dari sutradara. Setiap tawaran yang diberikan kepada saya, saya ingin melakoninya secara total, soal hasil akhirnya memuaskan atau nggak itu urusan belakangan, " papar putri bungsu buah cinta keluarga Abdul Rahman  Djamaileil dan Luthfiah Barkah Al Gaity ini. 

Walau ia memerankan tokoh Inem, babu seksi yang senual seperti yagn dimainkan artis Doris Callebout ketika di layar lebar bukan berarti ia tinggal mengcopy peran yang telah sukses dimainkan Doris itu. 

"Walau ada kesamaan dengan Inem Pelayan Sexy versi layar lebar bukan berarti saya seenaknya mengikuti apa yang sudah ada. Mas Eddy selaku sutradara juga punya visi yang jelas, jadi saya tinggal mengikuti apa yang dimaui sutradara. ~~MF 271/237/XIII/2-15 November 1996

Thursday, August 20, 2026

RAPI FILM, ARTIS DAN KRU ASET YANG MESTI DIJAGA

 


RAPI FILM, ARTIS DAN KRU ASET YANG MESTI DIJAGA(berita lawas). Untuk film layar lebar, Rapi Film boleh disebut sebagai perusahaan film paling produktif. Ketika produser film lain berguguran menghadapi kenyataan seperti sekarang ini, Rapi justru sebaliknya, tetap bertahan dan berlenggang. 

Ketika perusahaan film lain seperti Parkit, Soraya, pancaran dan Rana Artha Film sudah banting setir ke sinema elektronik dan berjaya disana, Rapi memilih berbaris paling belakang merambah jalur sinetron. 

Setelah peta sinema TV dikuasai, Rapi langsung merangsek ke 'medan perang'. Sebagai gebrakan perdananya, diproduksilah Noktah Merah Perkawinan (NMP). Sinetron yang dibintangi Ayu Azhari dan Cok Simbara itu langsung mendapat samutan masyarakat luas dan ratingnya langsung meroket ke papan atas. 

Keberhasilan sinetron NMP, bagi jajaran Rapi merupakan tantangan berat yang harus dihadapi dengan karya nyata yang lebih bagus dari sebelumnya. Lantaran tidak diperkirakan sebelumnya bakal meraih sukses. Maka pihak Rapi juga tidak menyiapkan kelanjutan cerita Noktah merah Perkawinan. 

"Sebenarnya sangat menyesal tidak dapat memproduksi kelanjutan Noktah Moerah Perkawinan dalam waktu singkat. Bisa saja kami  langsung memproduksi sewaktu Noktah masih menayang tapi  kami tidak mau gegabah seperti itu. Justru dibalik kesuksesan itu kami perlu membenahi kelemahan-kelemahan yang kami rasakan untuk penyempurnaan di episode berikutnya, "Papar Gope T Samtani produser Rapi Film. 

Selain menyiapkan NMP seri kedua, Rapi juga tengah memproduksi sinetron kolosal yang juga bakal merebut penonton yakni Jaka Sembung yang di produksi 26 episode untuk tahap pertama. 

Berangkat dari kesuksesan Jaka Sembung di film layar lebar yang dibintangi oleh Barry Prima Gope berkeyakinan Jaka Sembung sinetron juga akan digemari masyarakat. Keyakinan itu didasari dari cerita yang sudah dikenal luas seperti Si Doel, selain juga trik-trik yang akan ditampilkan Jaka Sembung, sinetron jauh lebih menarik dan trik baru. Karenanya, budget untuk Jaka Sembung jauh lebih tinggi ketimbang NMP maupun drama sejenis. 

"untuk Jaka Sembung kami tidak main-main. Biaya produksinya tiga kali lipat biaya produksi sinetron drama. Hal ini dimungkinkan karena kmi menggunakan ratusan pemain, trick dan effect khusus, "ungkap Gope. 

Sebagai pengusaha film tulen, Gope melihat peluang bisnis rumah produksi jauh lebih menguntungkan ketimbang film yang tidak jelas nasibnya. Karena , Gope tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ditengah Jaka Sembung melakukan suting, Rapi kini tengah menyiapkan cerita baru yang tidak kalah menariknya. Sundel Bolong yang sukses di layar lebar, Manisnya Cinta, Ratapan Anak Tiri dan Serpihan Mutiaran Retak. 

"Target kami tahap pertama pertahunnya 150 jam, dengan 6 judul dan perjudulnya 25 episode. Secara perlahan akan kami tingkatkan, hingga benar-benar ideal, "Ujar Gope. 

Menyoal tentang banyaknya cerita film layar perak yang disinetronkan menurut Gope tidak menjadi masalah. Justru hal itu sangat bagus. Minimal masyarakat akan penasaran apa sinetronnya lebih bagus dari layar lebar atau sebaliknya. 

Ditengah booming sinetron , bukan permasalahan mudah mencari pemain dan kru. Tapi masalah itu buat Rapi tidak menjadi kendala yang berarti. Apa resepnya? "Kami mencoba menganggap bahwa artis dan kru adalah aset yang mesti dijaga dan kami memperlakukan mereka sama rata. Artisnya artis 'a' yang kebetulan pemeran utama minum coca cola ya , artis lain juga minum coca cola. Begitupun soal bayaran, sebelum keringat mereka kering, kami sudah bayar. Jadi mereka tidak kapok, dan yagn terpenting mereka kami anggap keluarga besar Rapi, "jelas Gope panjang lebar. 

Rapi memang tidak hanya piawai dalam memproduksi sinetron yang enak ditonton tapi juga mempu menunjukkan bahwa kualitas adalah diatas segalanya. Terbukti sinetron perdananya, Noktah merah Perkawinan selan meraih rating tertinggi juga  mampu masuk sinetron pilihan dalam penyelenggaraan Festival Sinetron Indonesia tahun 1996 . 

~~MF 271/237/XIII/2-15 November 1996

Wednesday, August 19, 2026

MALFIN SHAYNA "BUKAN SEKEDAR DI KAMAR MANDI"

 


MALFIN SHAYNA "BUKAN SEKEDAR DI KAMAR MANDI" (berita lawas). Suara merdu Malfin Shayna tiba-tiba meluncur pada Kamis senja di sepanjang perjalanan pulang. Du du du..la la la... Seperti tak menghiraukan hiruk pikuk di sepanjang jalan bebas hambatan Tomang -Semanggi, "Du du Du...la.la la..." Terus saja di gerai rambut ombaknya yang masih lembab oleh keringat. "Du du du...hmmm.. Suara Malfin beriringan dengan deru mobil kijangnya...

Itulah keisbukan baru seorang Malfin. Artis film yang banyak memerankan film-film panas ini seperti ingin mengundang cemburu para penyanyi pendahulunya. Malfin mulai menyanyi dan bukan sekedar menyanyi. Malfin mulai mengenal studio rekaman. Dan suaranya coba direkam dengan ramuan musik berirama pop. "Saya baru coba-coba, Mas, "elaknya coba menyembunyikan kesibukan barunya. 

Terus terang akhirnya keberanian Malfin dalam dunia tarik suara bukan karena baru saja menjuarai sebuah Festival lagu atau sejenisnya. Melainkan, "Ada yang bantu saya kearah itu. Kebetulan sekali saya pun kepingin bernyanyi bukan sekedar di kamar mandi."

Tapi sebagus apapun suara Malfin kelak, tetaplah dia dikenang orang sebagai Malfin yang menggiurkan jika sudah menggeliat dengan aktingnya lewat film layar lebar. Coba tengok dan kenang permainannya dalam film Gairah Malam. Film yang membuat cewek berkulit hitam manis ini pasrah saja dinobatkan penonton sebagai "bom seks" termuda. Kecewa atau senang Malfin mendapat julukan seperti itu?

"Sejak telinga saya mendengarnya, saya tetap pada prinsip bahwa seorang pemain film adalah pekerja yang punya ruang lingkup sah dan tata kerja yang sah pula. Soal julukan itu terserah persepsi orang, "sergah Malfin dengan nafas tersengal karena membicarakan itu disela-sela pemotretan. 

Mungkin saking banyaknya film layar lebar yang dilakoni Malfin dalam kurun waktu yang begitu singkat, maka wajar kalau putri nomor dua dari enam bersaudara ini harus berpikir keras untuk mengingat filmografinya. "Sungguh saya tak ingat semua,"katanya sambil mengingat-ingat film terakhir yang sudah diperankannya. 

"Saya selalu bekerja dengan senang hati. Seperti halnya acara pemotretan. Setiap saya berakting, maka pusat pikiran saya adalah pada aking tidak pada hal-hal lain. Dan pekerjaan itu harus saya nikmati. Menikmatinya bisa saja terhadap suasananya cara kerja sutradaranya serta kekompakan pemainnya".Kita kalau kerja ya kerja titik. Contohnya adegan yang sepertinya saya telanjang bulat itu. Padahal itu kan ditutup body stocking. Tanpa ditutup ya buat apa. Itu sama saja bikin blue film. Adakalanya Malfin membantah perintah sutradara yang dirasakannya sebagai "tak masuk akal". Kita ini sedang bikin film lho, "biasanya Malfin bersenjatakan kalimat seperti itu. Singkat tapi membuat orang pikir-pikir untuk sekedar iseng. Belum lagi mubazirnya adegan yang kelak disikat gunting sensor. 

"Kalau akhirnya disensor, buat apa?".

Film-film yang dibintangi oleh Malfin diantaranya Bagi-Bagi Dong, Mumpung Ada Kesempatan, Gairah Malam 1 sd 3, Nafsu Dalam Cinta, Wanita Berdarah Dingin, Pergaulan Metropolis, Godaan membara, Pesona Gadis Simpanan, Panther, Bebas Bercinta, Dibalik Cinta Eva, Mistik Erotik, Hangatnya Malam, Kenikmatan Terlarang ~~~MF 271/237/XIII/2-15 November 1996


TEGUH KARYA : MESTINYA FILM MENJADI UPACARA BERSAMA....

 


TEGUH KARYA : MESTINYA FILM MENJADI UPACARA BERSAMA....(berita lawas). Seperti sederetan sutradara tangguh lain, Teguh Karya juga berkarya di televisi. Menyemarakkan dunia sinetron, Sutradara besar ini tetap belum tertandingi dalam hal kecermatan dan ketelitian, serta menghasilkan gambar-gambar realistis dalam keseharian lewat garapan sinemanya. 

Teguh Karya yang sudah dikenal sebagai pemain sandiwara sejak akhir tahun 50-an dan menekuni bidang penyutradaraan, dalam pementasan-pementasan yang diadakan oleh ATNI, makin memantapkan dirisnya sebagai sutradara dan sineas lengkap. Tak hanya dipanggung, film-film layar lebar melainkan juga di televisi. 

Berikut cuplikan wawancara yang dimuat di majalah film No. 222/188/TH XI, 17 - 30 Des 1994, tentang kesibukannya mempersiapkan sinetron produksi barunya tentang komposer WR Soepratman di sanggarnya yang sejuk. 

T ; Apa yang menarik untuk dibicarakan dengan perkembangan produksi sinetron saat ini?

J : Apa yang disebut sinetron adalah salah satu alat kesenian pertunjukkan dramatik di televisi yang paling 'buncit' dari deretan kesenian yang lain. Saya melihatnya sinetron masih harus berproses. Tidak bisa terlalu dibicarakan. Biarkan sinetron itu berproses, ini yang paling penting. Karena apa? Karena sinetron membutuhkan proses sebagai sebuah bentuk kesenian pertunjukkan baru. 

Kita harus memberikan kesempatan kepada sinetron untuk berproses. Apapun yang sedang dibuat, dipikirkan ditafsir dan dikerjakan orang tentang sinetron, harus melihatnya dari kaitan dalam berproses. Kalau tidak begitu akan ada yang apriori. 

T : Barangkali setidak-tidaknya ada standarisasi produksi sinetron yang ingin di capai?

J : Kelak akan lahir film televisi dan drama televisi yang punya standar. Kelak ada sinetron yang lahir sebagai standar umum, ada yang unik-unik ada yang dibuat untuk kepentingan berbagai kalangan dan ada juga untuk kalangan tertentu. 

Semuanya itu membutuhkan proses, sesuai dengan bakatnya dan harus terimbangi oleh ilmunya, wawasannya, kemudian baru kit amelihat maju mundurnya dunia persinetronan. 

Festival Sinetron Indonesia (FSI) adalah salah satu yang saya sebut salah satu sebagai proses. Di zaman sekarang ini, ada kita lihat sinetron untuk kepentingan film televisi dan kepentingan drama televisi, penggarapannya dibuat bukan oleh kamera elektronik, melainkan dengan kamera magnetik (film 16 mm). Maka biarkan segala sesuatunya berproses. Baik olrang-orang, tokoh-tokohnya, dan juga peraturan-peraturannya. Biarkanlah berproses.

T : Bagaimana dengan Pak Teguh sendiri, yang juga ikut memproduksi sinetron kini?

J : Bagi orang-orang seperti saya, Slamet Rahardjo, Arifin C Noer, dan Putu Wijaya bukan gagah-gagahan datang ke dunia sinetron. Andai saja ada ceirta yang bisa dilukis, mungkin yang saya bikin adalah lukisan. Karena saya bukan pelukis tentu tidak bisa. 

T : Apa dampak adanya sutradara sinetron yang lahir tanpa latar belakag?

J : Dari satu sudut pandang seakan-akan banyak sutradara sinetron lahir tanpa latar belakang yang kuat. Bila kita lihat dalam jangka panjang biasanya yang tidak becus itu kalah. Hukum alam pada dasarnya begitu. 

Kalau kita memberikan kepercayaan kepada orang yang salah, atau kepada orang yang kurang tepat, maka yang akan terjadi adalah kehancuran. Tidak ada pohon besar yang tumbuh dalam sehari. Sebaliknya tidak akan ada pohon besar roboh pula dalam satu hari. 

T : Apa pendapat Pak Teguh dengan banyaknya bintang sinetron berakting teatrikal?

J : Sebenarnya tidak ada! Itu cuma kita punya rasa kecurigaan saja. ukuran akting adalah meyakinkan orang apa tidak!?. Kalau tidak meyakinkan orang berarti itu bukan akting!. Banyak yang mengatakan akting teatrikal karena kita kurang banyak perbandingan, kuran gbanyak tahu dan kurang banyak melihat. Cukup banyak pemain sinetron yang belum meyakinkan orang, seperti pemain teater yang baru tamat belajar. 

Akting adalah Akting! Akting definisinya adalah membuat orang yakin! mau dibawakan bagaimana, ya terserah asalkan orang yang melihatnya yakin dengan apa yang dilakukannya. Baik di teater, film maupun di sinetron pemain yang mati itu tidak mati betulan. Tapi seorang pelakon harus dapat meyakinkan penonton bahwa dia mati. 

T : Contohnya bagaimana?

J : Saya ambil contoh dalam film Casanova. Ketika adegan para biarawati turun dari kapal dan hendak naik perahu ke dermaga, sutradara membikin lautnya dari plastik. Anda bayangkan, plastik jadi lautan. Itu sah sah saja, dan yang membuka adegan itu bukan sutradara asal jadi. 

T : Apa pendapat Pak Teguh tentang Penyelenggaraan Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya kembalikan dulu kepada kenyataan yang ada bahwa kit amasih lagi berproses dalam dunia persinetronan. Kalau ada kesalahan sedikit itu soal biasa. Sebab masih berproses. Jadi jangan salahkan siapa-siapa dulu. 

Mari kita lihat penilaian bukan untuk membicarakan kategori. Misalnya akting Yang mirip-mirip akting ada? Namanya pura-pura, Ada juga lagi mirip-mirip akting? Namanya imitasi. Soal ini harus membudaya. 

Karena sinetron masih barang baru dan masih berproses,biarkanlah mencari jati dirinya. bukan berarti tidak dikritik, tapi nanti setelah kelak berhasil. Untuk saat ini soal FSI saya tidak mau berkomentar banyak atau mengartikan , sebab sinetron kita masih berproses. 

T : Apa yang menggelisahkan Pak Teguh saat ini?

J : Kegelisahan saya adalah terhadap pertumbuhan film nasional. Sebab saya tidak percara bahwa pertumbuhan film kita bisa parah seperti sekarang. Kita sudah terlalu kurang menafsir apa yagn sebenarnya kita perlukan dengan film nasional. 

T : Maksudnya?

J : Kenapa tidak banyak tema-tema film nasional seperti film Di Balik Kelambu? Bagaimana seorang menantu yang kurang mampu tinggal bersama mertua, dan berhadapan dengan menantu lain yang hebat-hebat. Ini 'kan masalah yang ada di sekitar kita. Bisa saja film bicara tentang wanita yang baru beranjak dewasa. Atau bagaimana seorang janda membesarkan anak-anaknya. Persoalan-persoalan seperti  itu kan sangat dekat sekali dengan kehidupan kita pada umumnya. 

Kenapa kita tidak di bikin cerita yang dekat dengan masyarakat? Kenapa yang dibikin yang aneh-aneh? Misalnya jemput pacar dengan helikopter? Maka kita selalu bertanya bangsa apa yang sedang diceritakan dalam film tersebut. ?

Akibatnya semakin jauh masyarakat dengan film nasional. Begitu ada film Ghost, ada sineas bicara begini, "membikin film kayak gitu saya juga bisa!?" Kalau bisa kenapa tidak dari dulu bikin? Film Shost 'kan tidak  cuma cerita tentang lelaki gentayangan. 

T : Bagaimana menurut Pak Teguh film yang baik sekarang ini?

J : Film yang baik menurut saya film yang membuat penonton dan masyarakatnya bersatu Kalau bisa saya ibaratkan pertunjukkan film-film nasional harus seperti upacara bersama. Kalau sudah upacara bersama tidak diundang pun masyarakat akan hadir. 

T : Apa yang menjengkelkan Pak Teguh dalam perkembangan film nasional akhir-akhir ini?

J : Tanpa sebab, dalam film ada adegan seorang gadis buah dadanya di ablak-ablakkan, dudukpun disengaja-sengajakan. Contoh lain, aa adegan orang yang mati yang di close up jam tangan Albanya, jadi lama-lama kita kan malu! Akibatnya, banyak cerit afilm yang tidak dikenal oleh masyarakatnya. Ada adegan lain menggambarkan orang kaya sarapan pagi dengan menu yang luar biasa. 

Kalau di lihat film Ghost menarik karena tokoh-tokoh yang ada di dalamnya kayak manusia, begitu dengan jalan pikiran perasaannya. Flm nasional banyak yang dapat dimengerti jalan ceritanya tetapi tidak mengena di hati penontonnya. Kenyataan itu yang sering terjadi. 

T : Apa yang seharusnya dilakukan di perfilman nasional untuk saat ini?

J : Dalam kondisi sekarang ini, tidak bisa satu orang yang bisa memperbaiki perfilman nasional . Harus diperbaiki dengan sederetan orang. Yang saya sebut adalah sikap mental baru dalam memandang film nasional dan harus dilakukan secara marathon pula. 

Ada film kita bagus-bagus. Saya ambil contoh film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Naga Bonar dan Di balik Kelambu misalnya. Kenapa tema-tema film seperti ini tidak ada yang meneruskanya lagi? Kenapa film-film sekarang larinya kearah naluri yang cukup liar? Karena itulah film nasional memerlukan isi dan tema yang baru. Formatnya arus baru. Seperti juga kasus serupa pernah terjadi di Italia dan Perancis.

T : Apa yang ingin Pak Teguh Sampaikan lewat Alang Alang dan Pakaian dan Kepalsuan?

J : Kalau Alang-Alang pencetusnya adalah menteri kependudukan dan Keluarga Berencna, Pak Haryono Suyono dimana hendak membicarakan soal kependudukan. Saya punya respek terhadap kependudukan. Orang tidak hanya diberikan perhatian kepada pakaiannya rumahnya tau keadaanya, tetapi yang paling penting saya hendak mengatakan agar jangan sampai merasa miskin perhatian. Kalau ketemu pemuluh tuduhannya cuma maling. Intinya saya hendak bicara jangan orang merasa miskin perhatian. 

Kalau Pakaian dan Kepalsuan adalah sebuah parodi. Sebuah kelakar, jangan pakaian kemana, kelakuan kemana-mana. Tokoh-tokohnya hanya manusia biasa tetapi omongannya gede. 

T : Pak Teguh Apa benar skenario adalah sebuah karya sastra?

J : Kalau kita lihat televisi, maka yang pertama kita lihat adalah  gambar. Kalau gambar pasti ada sangkut pautnya dengan seni lukis. Kalau melihat adanya cerita pasti ada kaitannya dengan sastra. Meskipun bukan susastra. 

Kalau menggambarkan orang harus ada perjuangannya, lata belakang dan cita-cita hidupnya. kalau tidak ada sastra dalam skenario seperti membicarakan kucing saja. Kalau kita melihat film kartun dan kita dapat bersedih, artinya menggarapnya itu dengan jalan pikiran manusia yang penuh dengan kemanusiaan. Disitulah letaknya sastra dalam penulisan skenario. ~~~~


Tuesday, August 18, 2026

TATIEK MALIYATI WS, KETUA MERANGKAP ANGGOTA DEWAN JURI CERITA FESIVAL FILM INDONESIA 1992.

 


TATIEK MALIYATI WS, KETUA MERANGKAP ANGGOTA DEWAN JURI CERITA FESIVAL FILM INDONESIA 1992. Beberapa judul seri sinetron populer di TVRI tak bisa dilepaskan dari nama Tatiek Maliyati WS. Sebut saja antara lain Losmen dan Sartika. Kelahiran sinetron-sinetron yagn sangat digemari pemirsa TVRI ini dirintis bersama almarhum Wahyu Sihombing, suaminya. 

Kelahiran Surabaya, 10 November 934 ini betul-betul mencurahkan hidupnya pada seni akting. Menjadi pemain drama sejak 1955 hingga 1971, dan pada 1957 sampai 1963 bergaya di layar perak. 

Tatiek memperkuat minatnya di bidang seni akting dengan dasar pendidikan dari ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) lalu memperdalam di Departement of Drama Fine Arts Carnegie Tech, Pitsburg, USA. 

Dosen Seni Peran dan Penulisan Naskah Drama di Institut Kesenian Jakarta ini terus menggumuli teater dan film. Tatiek juga termasuk seorang penulis skenario yagn cakap. 

Tatiek satu-satunya wanita yang menjadi Dewan Juri FFI 1992. Dan menjadi ketua Dewan Juri FFI 1992 merupakan jabatan yang kedua kalinya disandang setelah tahun 1983 

Di Majalah Film , Tatiek Maliyati juga merupakan pengasuh Klinik Akting.