Thursday, May 14, 2026

SALAH SATU LOKASI SUTING BADAI LAUT SELATAN ADA DI GOA PETRUK


SUTING BADAI LAUT SELATAN.  SALAH SATU LOKASI  ADA DI GOA PETRUK (berita lawas).Badai Laut Selatan dijadikan judul film, hanya sebuah kiasan untuk memberikan makna dahsyat dalam sebuah perjuangan. Film yang di komandoi oleh Nurhadie Irawan mulai proses suting. Semua itu akan tergambar dalam berbagai adegan. Jago-jago perang misalnya dapat kita lihat kesaktiannya dalam pertempuran, dimana mereka berterbangan di udara. 

Untuk memberikan kesan bahwa peperangan itu adu kesaktian ilmu yang dimiliki kedua belah pihak, khususnya ilmu bela diri, Eddy S Jonathan dipilih oleh Nurhadie Irawan sebagai penata kelahi. Saat di temui di lokasi suting film tersebut, Eddy Jonathan yang termasuk penata kelahi terbaik sedang sibuk melatih Dede Yusuf yang berperan sebagai Pujo. Idola remaja itu harus melayang-layang diudara dengan sling. Di sling, menurut Dede, merupakan pengalaman baru. "Saya baru sekali ii di sling. Rasanya, ngeri juga!" ujarnya saat selesai latihan. 

Menampilkan adegan trick di udara, bagi Nurhadi memang bukan yang pertama kali. Film terakhir yang sudah beredar, Tutur Tinular telah membuktikan bahwa Nurhadi bisa membuat film laga, silat. Walau ia mengakui penata kelahi yang diimpor dari Hongkong cukup besar peranannya. 

Badai laut selatan yang ditangani seluruhnya oleh tenaga dalam negeri, bagi Nurhadi merupakan batu ujian untuk membuktikan kepiawiaiannya. Nampaknya, Nurhadi juga ingin menampilkan  peperangan sedahsyat Badai Laut Selatan yagn terkenal sangat ganas itu. 

Niat itu terlihat dari keseriusannya sejak waktu persiapan. Berbulan-bulan ia menyempurnakan skenario, lalu berminggu-minggu pula ia keliling berbagai daerah, mencari lokasi suting yang cocok. 

Suting, kecuali menggunakan studio Penas untuk membuat set interior, juga membangun set besar di tepian kali Cisadane, di daerah Ciseeng Bogor, Jawa Barat. Rencananya semua keru dan pemain juga di boyong ke Jembar - Jawa Timur dan pindah ke Gua Petruk di dekat Purwokerto , Jawa Tengah. Benar benar berat! Tapi saya ingin menampilkan sesuatu yang belum pernah ditampilkan dalam film kita, " jelas Nurhadi. 

Di samping lokasi suting  yang sukup jauh, medannya berat iapun bilang, "film ini membutuhkan ketelitian kerja ekstra berat pula." Sebab , katanya menambahkan, ceritanya memang berdasarkan sejarah. Yaitu sejarah Kahuripan (dimajalah tertulis Majapahit)yang tokoh-tokohnya sangat dikenal masyarakat. 

Untuk memberikan kesan kemegahan kerajaan-kerajaan di jaman tersebut, sekitar abat ke VII-VIII, penata artistiknya dipercayakan kepada Mantri. Salah satu set besar, istana Selopenangkep dipeankan Prof. Dr. Wisnu Wardana, raja di Singasari, dibangun Mantri di tepi sungai Cisadane itu. "Setnya luar biasa. Padahal semua itu digarap karyawan kita sendiri!" Tukas Nurhadi memuji karya anak buahnya. 

Dalam pembuatan Set, Katanya, pernik-pernik istana diusahakan bisa menekati realitas. Dari cerita, lokasi suting, dari lamanya suting, Badai Laut Selatan juga bisa digolongkan sebagai film besar. "Film-film semacam ini, sangat jarang di produksi!" kata Prof. Wisnu Wardana memberikan komentar, karena itu, lanjutnya layak mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak. Baik saat suting, dengan cara memberikan  suatu fasilitas , kemudhanan-kemudahan misalnya maupun saat film itu mulai beredar di bioskop dengan memberikan toleransi hari putar yang lebih lama. 

Profesor yang sangat mencintai kebudayaan tradisional itu juga memberikan penilaian bahwa Badai Laut Selatan, ceritanya relevan dengan pendidikan di negara kita. "Film ini kan tentang sejarah bangsa, sehingga anak-anak sekolah perlu ngerti sejarah bangsanya,!" tegas Wisnu Wardana yang Rektor IKIP Yogyakarta. 

Relevansi Badai laut Selatan dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, kata Nurhadi, masih sangat besar. Sebab, katanya memberi alasan, tokoh-tokoh yang ditampilkan, benar-benar ada pada zamannya. "Ini bukan cerita fiktif!" tegas sutradara yang mengawali karirnya dengan film Bulu-bulu Cendrawasih, produksi akhir tahun 70an. Karena relevansinya dengan dunia pendidikan sangat besar, ia pun mengharapkan kelak mendapat perlakuan yang layak dan ditonton banyak orang, "Ini yang terpenting!" tegasnya. 

Disamping Wisnu Wardana, (Budayawan, Cendekiawan dari bidang pendidikan, Mantan wakil rakyat di DPR MPR)  dan Idolah remaja Dede Yusuf, Nurhadi juga menggaet beberapa nama tenar lainnya seperti Deddy Mizwar, Gito Gilas, maupun cewek kece Fitria Anwar yang mulai ngetop. 

Badai laut selatan mulai suting pertama pada 18 Februari 1991. Kekhawatiran Nurhadi akan lamanya waktu suting karena lokasi sutingnya yang berjauhan. Lokasi di Jember dan Goa Petruk medannya berat. Di Jember, lokasinya masih sangat perawan, lalu di Goa Petruk medannya berat karena jalanan naik gunung. "Kalau kami suting di Goa Petruk, kami harus menambah kabel diesel sekitar 600 meter lagi. Soalnya kabel yang ada sekarang pasti kurang, diesel nggak bisa ditarik keatas!" jelas Nurhadi. Tapi tantangan-tantangan seperti itu, katanya justru mengasyikkan. ~MF 126/93 tahun VI, 17 April - 10 Mei 1991


SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK


 SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK (berita lawas). Sejak siang bumi Perkemahan Pramuka Pasar Minggu, Jakarta Selatan diguyur hujan. Malamnya udara dingin, embun turun mengantar udara basah. Kelihatan kru film Selir Adipati Gendrasakti sutradara Tjut Djalil terseok-seok bekerja dibawah rerimbunan pohon akasia. Meski begitu semua kelihatan serius, ingin cepat selesai, demikian terkesan. 

Dari kejauhan, lampu-lampu dipasang dua kelompok, saling berdekatan, tapi tidak saling menyambung. Meski dalam satu arena namun dua suting dalam satu cerita. Disatu tempat untuk mensuting adegan perkelahian antara Selir Adipati dan jaka Galing. Sementara tempat lain suting membuat trik-trik, kamera dipercayakan dengan Tjutju Sutedja dan dikomandoi langsung oleh Tjut Djalil. Adegan perkelahian dipercayakan kepada astrada Fredy S dibantu instruktur laga, Heru. 

Hampir separuh suting beradegan malam hari, kondisi ini membuat kru sepanjang suting lebih banyak melek di malam hari. Sehingga baru jam menunjukkan pukul 24.00 WIB para kru sudah ngantuk. Begitu juga suting adegan perkelahian, artisnya berlaga tanpa konsentrasi sehingga suting banyak ngaconya. Beberapa kali adegan harus di re-take. Eric Soemadinata yang menjadi Jaka Galing suka ngomel kepada lawan mainnya. 

Kontan saja pelakin Selir Adipati Gendra Sakti, yang dilakoni Lela Anggraeni hanya bisa menahan emosi. Di asadar bahwa lakonnya sebagai artis laga baru kali ini diberikan kesempatan. 

"Saya sudah ngantuk berat, tapi harus tetap suting. Padahal sekarang saya sakit, ini saya paksakan datang ke lokasi suting, " kata Lela Anggraeni. Karena itu pula Lela acap melakukan kesalahan. Sedihnya, ketika serius rumput becek membuat Lela terpeleset, spontan kru dan penonton yang menyaksikan tertawa lepas. 

Dua kamera di pakai untuk mengejar waktu suting. Konon kabarnya kru supaya menerima lunas honor untuk bisa dipakai berlebaran. Karena bersisa delapan hari puasa lagi. 

Film produksi PT. Virgo Putra Film ini bertemakan action klasik dengan mengambil latar belakang masa Majapahit. Terang-terangan Tjut Djalil mengatakan bahwa filmnya ini tidak menyinggung soal kultur masa itu. Hanya saja, meminjam settingny atok. "Mau tidak mau harus begitu karena film ini sendiri mengangkat cerita Kho Ping Hoo dan diskenariokan oleh Djoko Kusdiman. Tapi saya tidak bicara soal kultur yagn ada pada saat itu,' kata sutradara kelahiran Tanah Rencong , Aceh ini. 

Ceritanya berkisah tentang "selir" Adipati Gendra Sakti yang menggila. Selir ini punya ambisi untuk menghancurkan kerajaan, karena  rasa sakit hatinya. Maka sang selir yagn memiliki ilmu siluman itu berusaha mempengaruhi Adipati Gendra Sakti. Maka tercampaklah permaisuri, lalu selir yang seksi ini melakukan fitnahan-fitnahan kepada eisi isitana. Sehingga istana menjadi kacau. 

Film ini di dukung oleh Dolly Martenn, Lela Anggraeni, Eric Soemadinata, Mandara, Hesti Syani, Haris, dan Meise Arista. Dengan lokasi suting Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Bumi Perkemahan Pasar Minggu serta Sukabumi dan Jawa Barat dan sekitarnya.  ~sumber : MF 126/93 tahun VII, 27 April - 10 Mei 1991. 

LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE


 LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE (berita lawas). Jika ingatan kita terbayang cerita sandiwara radio Saur Sepuh, maka kita akan mengenal seorang pendekar cewek, jago silat, tapi ia sangatmanja pada saudaranya terutama Brama. Dia adalah Mantili yang diperankan Elly Ermawatie. 

Keberadaan Elly, panggilan akrabnya, di kancah perfilman Indonesia bermula dari film laga,setelah Imam Tantowi bersama PT Kanta Indah Film mencoba mengangkat cerita ini ke layar lebar. Diakui, ketika terlibat sebagai pemain yang memerankan tokoh Mantili, Elly berhasil menyisihkan beberapa calon yang akan memerankan tokoh tersebut. Elly pun mendalami atas bimbingan penulis cerita Niki Kosasih. Elly pun selalu bertanya kepada Imam Tantowi. Sebab waktu itu ia awam sekali dengan dunia film. Ia sempat terkejut ketika dijelaskan honornya, yang ternyata jauh lebih kecil dari honor main sandiwara radio. Karena ia ingin mencoba , ia terima tawaran itu. Dan akhirnya lewat Saur Sepuh I Elly menjadi ketagihan main film. 

Secara beruntun ia dikontrak PT. Kanta Indah Film untuk serial Saur Sepuh II dan III. Kini wanita kelahiran Solo ini menjadi milik masyarakat sebagai tokoh Mantili yang digemari dari kota sampai pelosok pedesaan. 

Namun demikian Elly tidak hanya menekuni karir di film. Ia juga punya usaha sebagai kontraktor. Usaha itu didirikan sebelum terlibat di film. Dalam film Tutur Tinular arahan Nurhadie Irawan, Elly memegang jabatan produser pelaksana di samping tetap sebagai pemain. 

Agaknya ia merasa cocok dengan jalur yang ditempuh. Mendapat pengalaman baru, mengenai seluk beluk film, mulai deri menentukan pemain, pengatur jadwal kegiatan, sampai management keuangan. Bukan semata rakus dalam profesi dan kedudukan tapi Elly ingin menjadi insan film seutuhnya. Diakui, semula ia mengalami kerepotan antara menentukan dirinya dengan pemain lain, Itu ia sadari karena masih banyak kekurangan. 

"Kalau tidak gigih kemungkinan akan mengalami kegagalan, sebab semua itu membutuhkan kesabaran dan  keuletan, " kata Elly yang kini juga terlibat dalam film Lima Harimau Nusantara arahan Pietrajaya Burnama produksi PT. Galunggung Putra Perkasa Film. 

Sebagai artis film laga yagn sudah membintangi 7 film banyak pengalaman didapat. Semenjak terlibat film Elly mulai menekuni ilmu bela diri silat sebab itu sangat menentukan dirinya sebagai pemain film laga. 

Saya nggak pernah mimpi jadi artis film. Kesempatan itu datang secara tiba-tiba. Kalau sekarang saya jadi artis, buat saya biasa-biasa saja. Nggak berbeda jauh saat saya mengisi sandiwara radio, " tandas Elly yang juga terjun sebagai penyanyi. 

Usahanya belakangan ini ckup lancar dengan memproduksi rekaman casette sandiwara cerita anak-anak maupun cerita legenda. Karena Elly juga sibuk suting film, maka untuk sementara ini memakai tenaga ari luar. Setiap kali produksi, Elly juga melihat pasaran. Sebagai wanita yang ingin sukses dalam meniti karir, Elly tak henti-hentinya cari terobosan baru guna meningkatkan prestasi. 

Ia juga menekuni dunia tarik suara yang sudah merampungkan 3 volume. Kini Elly juga bikin lagu pop Jawa yang dinyanyikan sendiri. Dari lagu ini ia mencoba memproduksi sendiri. Tapi untuk sementara ia tidak memberi keterangan mengenai berapa lagu yang akan direkam. Alasannya masih mencari maskot lagu tersebut. Dikatakan, dalam persiapan rekaman dilakukan dengan cermat dan penuh kesabaran. 

"Ini volume saya yagn keempat. Produksi sendiri. Coba-coba kan boleh siapa tahu Tuhan memberi jalan dan sukse, " ujar wanita kelahiran 19 Desember , tahunnya dirahasiakan. 

Hasil pasangan Siswoyo dengan Sulisdiyah (Solo) memang cukup sibuk. Setelah menyelesaikanjuga  dubbing Lima Harimau Nusantara, Elly mendapat tawaran film Perjanjian Malam Keramat produksi PT. Soraya Intercine Film berperan seabgai gadis muslim. 

Menurut Pengakuannya, selama terlibat di film, baru kali ini mendapat peran yang sangat menantang. Terlebih dengan kepercayaan yang dianutnya selama ini. Sebagai pemain, harus mampu memerankan berbagai karakter yang sedang divisualkan. 

Untuk memerankan tokoh dalam film ini, ia sering mengamati kebiasaan yang dilakukan gadis-gadis muslim, mulai dari busana hingga kehidupan sehari-hari. Dalam film ini Elly punya ilmu bela diri dan ilmu kebatinan yang apat mengusir roh gentayangan. Walau demikian, kepercayaannya tidak mudah dipengaruhi, Ia menganggap ini merupakan pengalaman yang baru selama hidupnya. 

Menurut pengakuannya, selama peran yang diberikan itu baik dan tidak menyimpang dari keinginannya, ia akan memerankannya. Sebagai pemain harus bisa membedakan antara masalah pribadi dengan kepentingan umum. Ini merupakan prinsipnya selama berkiprah diperfilman Indonesia. Di tambahkan, selama suting Perjanjian Malam Keramat, Elly juga selalu bertanya kepada kru yang mampu diajak bicara tentang perannya. Untung semua menyadari bahwa yang dilakukan Elly adalah kepentingan bersama. 

"Awalnya saya terima tawaran ini memang ceritanya bik. Saya ingin mencoba memerankan tokoh yang lain agar permainan bervariasi. "Selama ini banyak tawaran film laga. Karena saya dikenal sebagai artis film laga. Sebetulnya tidak demikian. Seandainya ada tawaran film drama keluarga atau komedi saya bersedia", kata Elly penuh harap. 

Ketika terlibat dalam Saur Sepuh II, ia pernah mendapat tawaran film Dewi Cipluk semua Sayang kamu. karena sudah kontrak dengan Saur Sepuh II, ia tidak menerima tawaran tersebut. 

"Sekarang ini saya konsentrasi bisnis dan film sebab keduanya akan menentukan masa depan, " imbuhnya. ~dikutip dari MF 129/96 tahun VI, 8 - 21 Juni 1991

SUROMENGGOLO

 


SUROMENGGOLO, (berita lawas). PT. Simbar Inan Film bekerjasama dengan Pemda jawa Timur menggarap sebuah film kolosal yang diangkat dari cerita legenda sejarah dengan melibatkan ratusan pendukung dan menelan biaya lebih kurang satu milyar. 

Bisa kita lihat dari pemain intinya saja ada 26 orang, belum peran tambahan atau figuran yang bakal melibatkan ratusan warga Jawa Timur  dan enam puluh lebih karyawan yang akan diboyong ke lokasi didaerah Ponorogo. Ponorogo adalah sumber cerita yang otentik dari kisah keperwiraan seorangWarok Suromenggolo. 

Kendatipun cerita ini sudah sangat tua, yaitu pada abad ke XV pada masa menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit, namun hingga sekarang masih cukup populer. Kesaktian Warok Suromenggolo selain fakta sejarah juga sudah menjadi kisah yang legendaris sifatnya bagi masyarakat jawa. Panggung panggung ketoprak masih sering melakonkan cerita ini yang biasanya diambbil hanya cuplikan-cuplikan saja, seperto lakon yang cukup populer "SUMINTEN EDAN".

Maka dalam film ini hampir-hampir diceritakan secara lengkap kisa petualangan seorang Warok, nyaris berupa "Banjaran" Suromenggolo. Sehingga film ini mau tak mau harus menyeret banyak pihak untuk berpartisipasi. Seperti orang-orang ahli kebudayaan Jawa Timur. Orang-orang yang masih merupakan pewaris dari sebuah institusi kuno seperti bekel atau lurah, pemuka adat, para pemain reog bahkan sampai Juru Kunci makam para Warok. Keterlibatan mereka adalah untuk menghindari kejanggalan dan penggarapan film yang berlatar belakang sejarah ini sekalipun sudah dikemasnya menjadi film hiburan yang full action. 

Spekulasi yang cukup berani dari PT. Simbar Intan Film, selain menelan dana yang besar juga membutuhkan persiapan yang memakan waktu panjang. Sementara pasar yang diharapkan  hanya daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah saja. 

Pada tanggal 17 Februari 1991 telah diadakan upacara selamatan pembukaan suting Suromenggolo di TMII anjungan Jawa Timur dengan puluhan pemain yang berpakaian lengkap. Diantaranya Benny G Rahardja pemeran tokoh Suromenggolo Gitty Srinita pemeran Suminten, JOhny Sitepu sebagai Suro Handoko, Fendy Pradana sebagai Raden Subroto, Yan Bastian sebagai Batara Katong dan masih bayak lagi yang lain. Lakon ini di dalangi oleh kepala suku Dasri Yacob. 

~Sumber MF 122/90 Tahun VII, 2 - 15 Maret 1991

Wednesday, May 13, 2026

"GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU


 "GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU (Berita Lawas). Tidak hanya Dewa Gede Badung Sumartha, anak 'kampung' yang sempat di seret ke layar putih, yang akhirnya menghasilkan karya film Nyoman dan Merah Putih, arahan Judi Subroto, Slamet Rahardjo pun akhirnya tertarik untuk mengangkat anak kampung, yang berpenampilan polos, untuk diuji keampuhannya berakting, melawan orang kota yang kesehariannya sudah bergelimang dalam fasilitas yang 'wah'.

Adalah Sunaryo, anak seorang petani desa Sambi Rejo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketika lulus Sekolah Dasar, bocah itu lantas tak melanjutkan sekolah. Maklum, orang tua hanya seorang petani. Tentu saja , ia tak tega melihat orangtuanya harus juga menanggung biaya adik-adiknya yang berjumlah 6 orang. Ia punya tekad bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. 

Bekerjalah Sunaryo di sebuah hotel di Blitar, entah sebagai apa. "Waktu itu pak Rudi nginep di hotel . Saya terus ditanya, Mau ke Jakarta nggak? saya jawab saja mau. Lalu saya di potret. Seminggu kemudian temannya Pak Slamet (maksudnya Slamet Rahardjo) membawa saya ke Jakarta. Saya tidak tahu kalau mau diajak main film. Dari pulang kerja, saya langsung diajak berangkat ke Jakarta. Nggak boleh pulang dulu ambil pakaian, apalagi bilang sama orang tua, lha saya kepingin jug ake Jakarta sih, saya mau saja, " ujar Sunaryo yang memerankan tokoh Gempol dalam film Langitku Rumahku arahan sutradara Slamet Rahardjo. 

"Saya baru ketemu Pak Slamet itu di kantornya. Ada teman saya yang bilang. Kalau kamu ke Jakarta ketemu Pak Slamet, kamu bisa main film. Eh, saya ditanyai betul sama Pak Slamet. Mau nggak kamu main film. Ya, saya jawab mau. Padahal sebelum ke Jakarta saya itu belum tahu lho yang namanya kamera. Belum tahu lampu yang terang lima kilo. Saya belum tahu itu. Tahu-tahu, wah panas banget, " cerita Gempol Sunaryo mengenang. 

Kepergian Sunaryo ke Jakarta memang mengejutkan orang tuanya. Karena setelah kepergian Sunaryo ke Jakarta, orangtuanya baru menerima surat. Meskipun sempat bingung, ayah si Gempol itu akhirnya kagum juga pada anaknya, yang kini jadi bintang film. 

Sesampai di Jakarta, Sunaryo bukan berarti tak sekolah, Ia kini sudah masuk SMP Muhammadiyah di Jakarta, kelas satu, beberapa hari, ia tinggal di lingkungan para pemulung, untuk memperkuat akting yang diperaninya. Maka iapun mendapat dorongan dan bimbingan dari orang-orang Eka Praya film. Meskipun hidup  dilingkungan orang film, bagi Sunaryo main film adalah hal yang sangat baru Bukan pula tak berarti ia tak mengalami kesulitan dalam berakting. "Ya ada yang susah, ada yang nggak. Kalu adegannya panjang, saya suka lupa,  " Jelas Sunaryo menjawab tentang aktingnya. 

Sunaryo memang polos. Seperti kepolosannya peran yang dimainkan sebagai Gempol. Soerang anak pemulung yang di tuduh mencuri, yang akhirnya justru menemukan seorang sahabat, yang baik tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sunaryo kini terus tinggal di Jakarta untuk meneruskan sekolahnya. "Saya senagn main film. Sekolah mau, main film juga mau. Insya Allah sekaran gsaya sudah sampai Jakarta, " sela Sunaryo menimpali. 

Sunaryo sekaran anak Jakarta. Bermain dengan anak-anak sebayanya, dan menekuni lagi dunia sekolah yang dia impikan. Ia sudah bisa mengirim uang ke orang tuanya di kampung, hasil jerih payahnya bermain film. Gempol Sunaryo kini telah membetulkan kursinya, memperbaiki nasibnya. 

TIO PAKUSADEWO

 


TIO PAKUSADEWO, Cita Cita Biar Bisa di Cium Cewek Cakep (berita lawas). "Bilur Bilur Penyesalan" hasil penyutradaraan Nasri Cheppy, siap beredar. Film cerita tentang percintaan remaja ini, di dukung oleh Iyut Bing Slamet, Rano Karno, Deddy Mizwar, Sophia Latjuba juga Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Erick saudara kembar Rano Karno. 

Tio, memang bintang baru di dunia perfilman. Ia  bersyukur berhasil menyabet peran yang cukup besar di Bilur Bilur Penyesalan ini. Padahal jauh sebelumnya, cowok tinggi dengan bentuk tubuh atletis ini pernah beberapa kali ikutan main film, diantaranya Kulihat Cinta Dimatanya dan Kabut Perkawinan, hanya saja selalu kebagian peran figuran, cetusnya. 

"Cita-cita saya sewaktu kecil memang ingin main film, biar bisa diciumin cewek cakep," kenangnya sembari tertawa. 

Terjun ke dunia film, sebagai figuran. "Karena saya punya prinsip, " begitu katanya. Jadi figuran katanya sekedar ingin tahu dunia perfilman. 

Menjadi foto model dan bintang iklan di beberapa barang, cowok kelahiran 2 September ini bercerita, begitu lulus sekolah kebetulan kenalan dengan perancang pakaian Thomas Sigar. 

Tio menyabet juara II Lomba Sejuta Wajah yang dibuat sebuah majalah remaja di tahun 1987. Dari hasil tabungannya sebagai model, yang sebagian selalu diamalkannya, juga digunakannya buat berangkat ke Amerika. "Tujuan semula ke Amerika ingin meneruskan sekolah. Bidang yagn bakal saya ambil berkaitan dengan dunia film. Tetapi baru dua bulan saya disana lalu saya dapat khabar dari orangtua di Jakarta. Saya harus pulang karena saya diminta jadi bintang film iklan yang sutingnya di Hongkong. Wuah tentu saja kesempatan tidak saya sia-siakan, " begitu Tio berkisah. 

Putra ke 3 dari 4 bersaudara ini, punya hobi sebagai penulis lepas di sebuah majalah remaja. "Saya tidak tahu, apakah nulis itu satu bakat yang saya punya atau bukan. Tetapi yang pasti sejak duduk di bangku SMA, saya sudah nulis meskipun sebatas dilingkungan sekolah saja. 

Beberapa bidang profesi memang dijajalnya. Belakangan ini Tio yang hidupnya pernah terkenal bandel, mulai menekuni teater, lewat teater Sendiri. 

Bukannya saya rakus karena banyak bidang yang saya kerjakan, tetapi saya memang ingin menjajalnya, " ucapnya. ~mf 51/19/Tahun ke IV, 11 - 24 Juni 1988

Monday, May 11, 2026

S.Y.S NS,

 


S.Y.S  NS, (Berita Lawas) Bisa diamati cowok kelahiran Semarang, 18 Juli 1956 ini paling suka bersibuk diri setiap harinya. Sys seorang penyiar radio juga komandan grup lawak Sersan Prambors. Selain sibuk ngurus-ngurus pagelaran, Sys juga bintang film. Sys NS pun mengakui, jadwal kegiatan film yang mengontraknya harus mengikuti jadwal kegiatannya. Itu memang prinsipnya. 

"Ya, dulu pernah ketika ikut film "Damai Kami Sepanjang Hari", yang di sutradarai Chairul Umam, yang mengambil suting di Yogyakarta, saya sudah ngebela-belain bolak balik Jogya-Jakarta, satu hari harus break mendadak lantaran satu pemainnya, Gina Adriana harus main di film Wim Umboh. Terus saya tanya, tuh bintang siapa duluan yang ngontrak. Setelah tahu permasalahannya dan saya ada di pihak yang benar. Hari itu juga, baru datang dari Jakarta saya tinggalin dan kembali ke Jakarta. Waktu film "Terang Bulang Di Tengah Hari, " pun waktu itu bentrok dengan film yang di produksi TVRI "Pondokan". Untung jarak lokasinya tidak begitu jauh, Yang satu di Puncak dan yang lain di Jakarta. Udah gitu kita kan di Indonesia, sesuatu bisa selesai dengan musyawarah. Saya pun damai, pihak TVRI lebih baik, " kata Sys NS yang memerankan Sonny  sebagai suami Sora (Zoraya Perucha) dalam film "Terang Bulan di Tengah Hari" ini. 

Sys NS, (Nama sebenarnya) dulu punya cita-cita jadi sutradara. Untuk itu ia sempat mempelajari dulu ilmu itu di LPKJ. Sekarang Institute Kesenian Jakarta. Anak ke 3 dari 11 bersaudara ini mengawali karernya lewat film "Kecupan Pertama(1070an) lalu film-film lainnya seperti "Kabut Sutra Ungu", "Seindah Rembulan", "Anunya Kamu" dan "Sama-sama Enak". Dan sampai kini (1988) Sys NS bersama Sersan Prambors masih dikontrak untuk 3 film lagi dari PT Bola Dunia Film. 

"Sebenarnya saya tuh sudah malas untuk main film. Terkecuali film itu ceritanya hebat, digarap oleh orang-orang hebat, sutradaranya hebat. Ya nggak apa-apa filmnya jelek juga asal duitnya hebat saja he..he..he. Seperti tahuin ini sebenarnya kontrak dari Bola Dunia Film tahun ini bisa hangus lho?. Habis tiap disodori skenario ceritanya nggak berkenan di hati, jadi saya tolak, " katanya. 

Kok mau main film bersama Zoraya Perucha?

"Itu lain, dulu memang almarhum Sumanjaya sudah mempersiapkan cerita itu buat saya dan Perucha itu. Sumanjaya sendiri adalah sahabat saya sekaligus bapak saya. Belum lagi sutradara yang menangani  dan semua kru film itu teman-teman dekat saya. Jadi sayapun suka untuk pegang peranan di film itu, " katanya. 

Katanya, dulu kepengin jadi sutradara, kok malas bergelut di dunia film lagi?

"Wah, payah. Sekarang dunia film banyak ditangani oleh senior-senior, mungkin 'hepengnya' takut kerebut. Coba saja birokrasi film bertele-tele, jadi sutradara harus lewat jadi asisten sutradara dulu lima kali, terus belum tentu bisa jadi sutradara langsung. Padahal kan yang nentuin tuh film bukan mereka, tapi penonton. Jadi sutradara langsung, asal yahut kan masyarakan bisa menilai," kata pelawak muda ini sambil membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Lagi ngapain tuh? 

"Biasa, mau nemenin Mick Jagger," kata Sys, yang memang lagi sibuk ngurus kedatangan vokalis dari The Rolling Stones yagn akan konser di Jakarta akhir Oktober (1988). ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Sys NS meninggal pada 23 Januari 2018

Friday, May 8, 2026

NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM


 NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM (berita lawas). Nicky Astria, rocker cantik dari Bandung akhirnya tak kuasa menolak tawaran main film. Atas bujukan Eddy D Iskandar yang datang bersama Tomi Indra produser "Tiga Sinar Mutiara Film" akhirnya Nicky bersedia menandatangani kontrak main dalam film "Biarkan Aku Cemburu". Kenapa sampai Nicky akhirnya tergrak mau main film, mungkin karena pendekatan yang dilalukan oleh Eddy D Iskandar sang penulis cerita  dan skenarionya. Padahal selama ini sudah banyak juga tawaran main tapi semuanya ditolak oleh Nicky. 

Peran yang dipercayakanoleh Christ Helweldery yang bertindak sebagai sutradara "Biarkan AKu Cemburu" sebagai Komala, mahasiswi sinematografi. Usianya baru 19 tahun, dalam penampilan sehari-hari Komala nampak lincah, agresif, dinamis dan panjang akal. 

Sewaktu akan mendandatangani kontrak, Nicky wanti-wanti kepada produser dan sutradaranya agar dia tidak melakukan adegan ciuman apalagi buka-bukaan. Pokoknya Nicky tidak mau sampai ada imej yang negatif dan bisa merusak citra dia sebagai penyanyi kondang. Berapa honor Nicky? "Wah sorry deh, itu mah rahasia, " kata penyanyi rock yang bulan September (1988) lalu menerima penghargaan BASF Award berkat alunan nadanya dalam album "Gersang".

Penghargaan itu ditandai pula dengan melancong cuma-cuma ke negeri kanguru selama 15 hari.

Tiga tahun sebelum Nicky juga memperoleh penghargaan yang sama berkat album "Jarum Neraka" kemudian sempat melancong ke Jerman sekaligus melongok pabrik BASF. Tahun kemarin dia sempat mengunjungi beberapa negara Eropa antara lain Paris, Swiss, Jerman dan lain-lain. Juga hadiah dari BASF karena album "Tangan Tangan Setan" meledak di pasaran. 

Sukses yang di peroleh Nicky dalam bidang vokal ini terutama berkat dorongan dari pihak keluarganya sendiri, disamping pihak yang tak bisa disebutkan satu persatu. Diantara sekian banyak yang ikut memoles Nicky terdapat tangan dingin Denny Sabri dan kakaknya sendiri Boeky Wikagoe. Juga sukaety Hidayat dan Pandji Tisna Sendjaja. 

Mojang geulis ini sudah memperlihatkan bakatnya sejak usia kanak-kanak. Pada 1971 dia sudah keluar sebagai juara I festival Penyanyi Cilik se Kodya Bandung. Selama empat tahun sejak 1972 Nicky hijrah ke Malaysia ikut kedua orangtuanya. Disana dia sempat diasah vokal oleh Suhaemi Nasution, orang Indonesia yang berdinas di sana. Pulang ke tanah air Nicky yang tomboy ini sempat mencetak berbagai prestasi bidang tarik suara. Dia seperti langganan menerima penghargaan atas berbagai juara yagn sempat disandangnya pada Festival Lagu Tingkat Jawa Barat.  ~MF 61/29 Tahun V 29 Okt - 11 Nov 1988