Wednesday, February 11, 2026

SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS

 


SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS, (berita lawas). Kalau nasib lagi mujur tak seorangpun dapat menghaluanya. Begitulah kemujuan artis bernama lengkap Suci Indah Sari Rajo Bintang ini. Sebab cewek bertubuh langsing ini mengaku tak bermimpi menjadi artis. Baginya Marissa Haque ibarat dewa kemujuran. Ketika masih SMA di kota Padang, Marissa Haque menawarkan lakon sebagai Syamsiah dalam "Masih Ada Kapal ke Padang". Sejak itu saya tertarik dengan seni peran dan orangtua sangat mendukung, " kata gadis berdarah Minang ini. 

Hijrah ke Jakarta kesempatan emas datang lagi, anak ke 4 dari 5 bersaudara ini diberikan kepercayaan oleh Herry Topan menjadi "si Ganjen" kembaran Mariam dalam sinetron "Kembalinya Si Manis".

Kalau Suci mujur lagi, maka ia akan ngetop lewat Kembalinya Si Manis. Sebelum Diah Permatasari menyanggupi menjadi pemeran Si Manis, kartu populeritas sudah ditangan Suci. Perempuan yang saat itu kuliah di Interstudy of Public Relations ini tidak putus asa. ia tetap bertekad akan mampu mencapai tangga populer, "Saya tidak merasa bersaing dengan Mbak Diah Permatasari. Saya hanya ingin bermain baik, "katanya saat ditemui dilokasi suting. 

Meski tidak mengaku, diam-diam diantara Diah dan Suci terjadi persaingan. Kejadian yang paling norak adalah ketika Diah menolak foto bersama dengan Suci oleh sebuah tabloid terbitan Jakarta. Produser sudah susah payah memberi pengertian, akan tetapi keduanya tidak mau berfoto bareng. 

"Saya masih banyak belajar tentang akting. Dan saya tidak mengerti tentang persaingan, " papar Suci. 

Di lokasi Suting, Suci sering serba salah. Banyak orang menduga bahwa dirinyalah pemeran Si Manis. Kesalahan tafsiran itu kadang sering pula disalah artikan. Untung selama suting mamanya selalu mendampingi hingga hatinya sedikit terhibur. 

Kedatangan Suci ke kancah persinetronan sebagai artis sungguhan bukan dengan tangan kosong. Di kota Padang tempat ia bercita-cita menjadi pengusaha ini sudah cukup dikenal. Ia sempat menyabet gelar sebagai Uni Sumatera Barat tahun 1995, Juara III Sari Ayu 1993, dan Miss Suzuki 1993. 

Kemujuran ke 4, main film layar lebar yang datang langsung ditolaknya mentah-mentah. Alasannya ia belum siap untuk main film. Padahal peran yang ditawarkan cukup menggiurkan sebagai pemeran utama. 


~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL


 DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL (berita lawas). Kedua Rumah produksi tidak merasa 'berperang' dalam produksi dan penayangan Si Manis jembatan Ancol, dengan alasan kedua sinetron memiliki jiwa yang berbeda. Akan tetapi secara diam-diam keduanya berebut dalam mendapatkan pemeran "Si Manis Jembatan Ancol", Diah Permatasari yang memang menjadi daya jual utamanya itu. Ketika Si Manis Jembatan Ancol versi baru diproduksi untuk layar lebar, Soraya Intercine Films dapat mengontrak Diah permatasari. Namun ketika dilayargelaskan Diah Permatasari ngacir ke Herry Topan. 

"Bagaimana saya bisa suting dengan Soraya Intercine Film, sebab waktu itu saya sedang ada ikatan kontrak dengan Starvision untuk sinetron Mutiara Cinta dan Nikita. Se"Ya ingga saya tidak apat izin dari Starvision untuk suting tempat lain karena jadwal saya cukup padat,' papar Diah Permatasari. 

Sementara itu Kiki Fatmala pemran Mariam Si Manis Jembatan Ancol produksi Soraya Intercine Film mengungkapkan "Saya sudah sering menjadi bintang di Soraya Film terutama bertemakan horor. Karena itu barangkali Atok Suharto memberikan kepercayaan peran Si Manis kepada saya" ujar Kiki Fatmala pemeran Mariam. Bagi Kiki peran Si manis sebagai peran yagn biasa-biasa Saja, tidak terlalu menantang. "Ya karena ada bumbu komedinya dan make upnya pun tidak pula menantang,".

Jika untuk Kiki Fatmala tokoh Mariam sebagai sosok yagn biasa-biasa saja, dan dari segi pemeranan tak memerlukan kemampuan akting yagn berarti, tidak demikian bagi Diah Permatasari. 

Dia berterus terang, ia sangat kecewa karena perannya sebagai Si Manis digantikan oleh Kiki Fatmala. "Karena saya sayang banget dengan Mariam. Waktu dulu saja ketika saya ke Amerika peran saya digantikan oleh Poppy Farida juga merasa sedih sebab sudah merasa terlanjur akrab dan sangat saya jiwai dan hayati," katanya melanjutkan. 

Bermain sebagai Si Manis nampaknya memang peruntungan Diah satu-satuya. Beberapa sinetron yang kemudian dimainkan tidak mau mengangkat kembali namanya. Ia cuma jadi penggembira belaka. Bahkan untuk sinetron sejenis Simanis, komedi misteri seperti Moody Juragan Kost. 

Tak heran jika Diah ngotot dengan peran Si Manis. Setelah kecewa digantikan Poppy Farida, dan kemudian didahului oleh Kiki Fatmala, kini dalam kisah lanjutannya, Diah nampak harus bersaing kembali untuk merebut perhatian masyarakat kepada Si Manis yang dirasakan Diah identik dengan dirinya. 

Diah kembali bermain dalam Kembalinya Si Manis produksi Herry Topan degan  Suci Indahsari yang berperan sebagai "Si Ganjen" kembarannya. Jumlah Peran si Manis Jembatan ancol dari Lenny Marlina, Diah Permatasari, Poppy Farida, Kiki Fatmala hingga si Ganjen Suci Indahsari. 

~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

Monday, February 9, 2026

CHRISTINE TERRY




CHRISTINE TERRY, Memulai karir artisnya dari level paling dasar, figuran film. Ia tetap tabah melakoninya. Pasang surut artis tidak ada yang bisa menduga. Meski terseok seok Christine Terry tetap dengan ambisinya, ngetop di jalur film. 

Maka, di tahun 1991 artis bernama lengkap Lucyana Christine Terry ini memasuki dunia film. Selang beberapa bulan, Dasri Yacob menggiringnya ke film lewat film action klasik, Warok Suromenggolo. "Dalam film ini, peran gua tak begitu besar, tapi cukup berani untuk menapak ke film, " kilahnya. 

Film berikutnya, ia cuma ketiban figuran diantaranya Masuk Kena Keluar Kena (Arizal), Kembalinya si Janda Kembang (Sisworo Gautama Putra) dan dalam film Misteri di Malam pengantin sutradara Atok Suharto memberinya peran lebih besar, sebagai pemeran pembantu wanita lewat film Rawing II bertema action klasik Tommy Burnama selaku sutradaranya. 

Saya besar dengan kepahitan, " kata cewek kelahiran Bandung 24 Desember 1973 ini. 

Tamparan yang datang dari sahabatnya cukup telak, tatkala mencemplungkan diri ke film. Macam-macam isyu dilemparkan ada yang bilang cewek gampangan, artis film breng sek, dan beraneka  gosip lainnya. "Cuek saja dengan ocehan seperti itu. Kalau dipikir bisa merusak diri sendiri. Kenyataan benar apa tidak, kan ada pada diri gua sendiri, " katanya. 

Seperti diketahui Christine Terry juga bermain dalam film Walet Merah dengan bintang utama Barry Prima dan Devy Permatasari. Ada yang masih ingat film-filmnya?


MF 

Sunday, February 8, 2026

BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA


 BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH  UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA, Agaknya tak seorang pernah membayangkan kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang jendelanya tak pernah di buka. Tapi itulah yang di temui Buce Malawau ketika ubek-ubekan mencaro lokasi untuk suting film "Tragedi Bintaro".

"Saya kaget juga. Kusen jendelanya malah sudah pada keropos. Tapi rumah itu masih tetap di tempati yang punya sepasang suami istri yang sudah tua. Begitu ketemu rumah itu, saya langsung saja tertarik. Padahal hati kecil saya was-was juga", kata sutradara Tragedi Bintaro ini. 

Rumah di jalan Perdatam Raya kawasan Pancoran menurut Buce, memang sangat unik. Letaknya di pojok. Di sela-sela rumah penduduk. Sekeliling umah ditutupi oleh rimbun pohon bambu dan pohon-pohon lain. Cat dindingnya yang putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Dan lebih dari semua itu, perabotan rumah itu tampak seperti dibiarkan berantakan. 

"Mulanya sulit juga meminta izin pada pemilik rumah tersebut untuk tempat suting. Tapi lama-lama mereka benarkan juga. Dengan catatan, jendela tetap tidak boleh dibuka, " ujar Buce. Karena tak menemukan alasan yang tepat mengapa jendela tak boleh dibuka, Buce lalu mencoba bertanya pada orang-orang disekitar rumah itu. 

Tragedi Bintaro, kisah nyata yang ditulis menjadi skenario oleh Marseli ini, adalah film ke lima Buce setelah "Gerhana", "Beri Aku Waktu", "Luka diatas Luka", dan "Cinta Anak Jaman". Tapi ada yang membuat Buce, seperti katanya harus berhati-hati menerima skenario yang disodorkan padanya. "Soalnya saya tidak ingin pengalaman menggarap "Cinta Anak Zaman" yang ternyata saduran dari film barat, terulang lagi, " katanya. 

Lalu tentang rumah angker itu?, "Mudah mudahan selama 15 hari suting disitu, semua berjalan aman. Meskipun untuk itu saya dan semua kru harus ekstra hati-hati. Soalnya langit-langit rumahnya saja sudah pada bolong, " komentar Buce. "Rasanya kita memang sulit bisa percaya kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang tak pernah terbuka jendelanya, " kata Buce lagi. Tapi untuk suting kali ini, Buce toh merasakan manfaat rumah seperti itu.


~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Saturday, February 7, 2026

WAWANCARA KHUSUS : IMAM TANTOWI MESIN PENDOBRAK SINETRON BARU

 


WAWANCARA KHUSUS : IMAM TANTOWI MESIN PENDOBRAK SINETRON BARU.

Di tahun 80an Imam Tantowi dikenal sebagai sutradara action classic nomor wahid. Disaat maraknya sinetron action klasik, sineas kelahiran Tegal, 13 Agustus 1946 ini telah memilih menjadi penggagas, pendobrak dan penulis skenario. Tidak itu saja, sineas yang memulai kariernya di film sebagai Penata Artistik ini kut membantu produser PT. Genta Buana Pitaloka dalam menyusun adegan, trik, mendesain produksi dan ide-ide baru. Akhir tahun 2001 Imam Tantowi Sibuk melayangkan gagasan barunya, mengangkat kisah Subali dan Sugriwa, cerita wayang dengan format sinetron. 

Ditengah kesibukan suting 5 istana miniatur untuk sinetron Subali dan Sugriwa, Imam Tantowi berhasil di wawancarai di studio alam PT. Genta Buana Pitaloka di kawasan bumi perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.  berikut petikannya. 

Sinetron Borobudur membuka jalan bagi sinetron Misteri Gunung Merapi yang sudah ditayangkan lebih dari empat tahun tapi masih digemari penonton. bahkan mengalahkan sinetron-sinetron modern yang di lakoni artis model tampan dan cantik. Apa resepnya?

Ya betul sekali. Sinetron Misteri Gunung Merapi dan Angling Dharma cukup luar biasa. Kedua sinetron tersebut mendapat ranking 5 besar dari 150 judul sinetron . Ini bukti bahwa sinetron bernuansa klasik kalau digarap serius akan menjadi berkualitas dan mampu mendapat rating baik. Buktinya kedua sinetron tersebut mampu mengalahkan bintang sinetron drama dengan bayaran 20 juta. 

Kalau produser dan pembuat sinetron cepat puas dan hanya menampilkan trik dan adegan yang itu ke itu juga maka akan ditinggalkan penonton atau akan "dimakan" saingan tema klasiknya yang menjadi pengekor. 

Banyak sinetron yang di produksi akan tetapi hanya satu dua judul yang berkualitas dan memiliki pesan moral. Mengapa sinetron kita menjenuhkan?

Karena produsernya hanya mengejar keuntungan. Sehingga produser seperti itu hanya menjual mimpi dan kemewahan sehingga drama yang di produksi pun dibuat tanpa melakukan pembaruan-pembaruan. Menjadi monoton. Akibatnya sinetron yang di produksi pun tidak memiliki pesan moral. 

Dorongan yang membuat Anda memproduksi Subali dan Sugriwa yang kisahnya diangkat dari cerita wayang?

Saya tertarik menggarap Subali dan Sugriwa karena tema. Cerita wayang yang dibuat dalam konsep sinetron belum pernah tersentuh para sineas neger ini. Saya yakin tema subali dan Sugriwa mempunyai daya pikat. Karena cerita yang khas, Lewat sinetron Subali dan Sugriwa saya ingin memperkenalkan kepada generasi muda tentang budaya wayang. Cerita wayang yang sudah di popkan. Jika generasi muda sudah akrab dengan cerita wayang yang sudah dipopkan, maka saya berkeyakinan mereka akan tertarik juga dengan wayang yang sebenarnya. 

Bukankah Cerita wayang identik dengan falsafah yang biasanya memerlukan perenungan?

Tentu falsafah yang ada dalam cerita wayang akan disinetronkan tidak seberat kalau dalang Ki Mantep Sudarsono manggung. Sinetron Subali dan Sugriwa adalah cerita wayang yang diformat kedalam sinetron action klasik seperti Misteri Dari Gunung Merapi atau Angling Dharma. 

Menurut Anda apa yang jadi kendala persinetronan kita dewasa ini? 

Yang kurang dari dunia persinetronan kita adalah skenario yang bagus. Cerita boleh klasik tapi harus cerdas. Sekarang ini yang saya inginkan membuat sinetron klasik tapi cerdas dan dialognya tidak membudekan telinga. 

Sebagai penulis skenario cerita baik modern maupun action klasik saya selalu mempertanggungjawabkan dialog. Saya bersedia berhenti nulis atau menyutradarai jika konflik dengan produser mengenai dialog. 

Apa maksudnya?

Setiap membuat skenario saya selalu menjaga dan memperhatikan dialog. Kalau membuat dialog asalan saya yakin bisa menyelesaikan skenario 8 episode dalam satu bulan. Karena itu sekarang ini paling banyak 3 episode skenario yang saya selesaikan dalam satu bulan. Sebelum skenario yagn saya tulis dinyatakan selesai saya selalu membacanya berulang-ulang. Untuk apa? karena saya benar-benar memperhatikan dialog. Sekarang ini saya menemukan kepuasan dalam menulis skenario. 

Kekecewaan apa yang anda rasakan ketika skenario diubah seenaknya?

Sangat kecewa sekali. Karena sikap penulis yang seperti itu tidak diapresiasi sutradara, sering dialog diubah seenaknya. Apalagi dialog diubah ketika menunggu kamerawan sedang mengubah lampu. Skenario itu mewakili nama saya, Imam Tantowi. Saya tidak terima dong. Sekarang ini sutradara bejibun, kalau penulis skenario cuma satu dua yang berkualitas. Dalam menulis skenario action klasik seperti Angling Dharma dan Borobudur saya berusaha tidak memakai kosakata dari bahasa Inggris dan eropa lainnya, kecuali bahasa Sanskerta, Jawa dan Arab. 

Apakah Anda sekarang hanya menulis skenario untuk tema klasik?

Tidak juga, Saya sekarang menulis skenario drama modern untuk PT. Persari Film. Materi yang saya angkat cukup sederhana., cukup cerdas yakni tentang poligami dalam perspektif Islam. Ajaran Islam membolehkan pria menikah dua, tiga dan sampai empat, tapi kalau tidak mampu adil satu cukup. Tapi tema itu saya formulasikan dengan kondisi kehidupan keseharian dan digarap secara mendetail sehingga sinetron ini bisa menjadi berbobot.

Bulan Puasa yang lalu banyak sinetron bertema agama. Apa pendapat Anda?

Sinetron Ramadhan yang mereka produksi rata-rata adalah sinetron biasa yang ditambahkan Assalamu'alaikum dan adegan sholat. Adegan selingkuh tetap ada. Apakah itu Islami? Apakah dengan adanya ucapan Assalamu'alaikum sinetron itu sudah islami? Menurut produser keturunan yagn selama ini mengumbar kemewahan mungkin sinetron Islami itu ya cukup ada Assalamu'alaikum , adegan sholat dan pakai peci! Ini saya anggap tidak bermoral!

Idealnya?

Kalau mau bikin sinetron Islami maka persoalanya harus persoalan islam. Ya mengenai persoalan kehidupan umat Islam. 

Kenapa Anda sekarang lebih cenderung menjadi pencetus, penggagas dan penulis skenario daripada menjadi sutradara?

Usia saya sudah 55 tahun (2002) dan saya tahu diri bahwa usia saya sekarang ini sudah tidak cukup produktif untuk terjun kembali ke lapangan. Dalam kreatifitas tidak kenal umur tapi bagi saya sutradara yang dilapangan mengenal umur. 

Demikian kutipan wawancara dari MF No 405/371/XVII, 21 Des 2001 - 4 Jan 2002

GEBYAR ANUGRAH FESTIVAL SINETRON INDONESIA (FSI) 1996


GEBYAR ANUGERAH FSI 1996 memang sangat semarak meski tanpa dihadiri bintang-bintang ternama seperti Onky Alexander, Ayu Azhari dan Paramitha Rusady. Terdapat kesalahan-kesalahan artis yang membacakan nama pemenang dan yang lebih parah adalah kesalahan operator audio visual yang keliru menempatkan suara dan gambar-gambar yagn sedang diumumkan. Bahkan beberapa nama dewan juri tidak tertayangkan di timpa adegan-adegan sinetron. Berlangsung di Plenary Hall JHCC pada 19 Desember 1996. 

Kendati begitu, acara puncak FSI 1996 tetap berjalan semarak dengan panggung dominasi warna putih bernuasa bahari (kelautan). Artis-artis lebih banyak memakai gaun warna hitam legam, terutama ceweknya. Di pintu masuk puluhan fotografer mencegat hingga tamu-tamu agak susah masuk terhalang fotografer yang sedang memotret artis yang datang. Rata-rata artis berpasangan seperti Dede Yusuf, Devi Permatasari, Yulia Yahya, Roni Sianturi, Diah Permatasari dan lain-lain. Masing-masing mereka membawa 'yayangnya". 

Wajah-wajah cerah mewarnai suasana seusai pembacaan nama-nama pemenang, setelah sebelumnya beberapa artis yagn jadi nominasi sempat terlihat agak tegang dan gelisah. Yang kalah, tetap terlihat gembira, kendati dari mata mereka terpancar kekecewaan. Misye Arsita yang duduk berdampingan dengan saingannya, Cynthia Maramis terlihat kaget saat namanya diumumkan sebagai pemenang pemeran pembantu utama wanita kategori drama lewat sinetron Saat Memberi Saa Menerima, Cynthia Maramis juga kaget, dan raut wajahnya berubah. Tapi spontan dia cepat memberikan selamat. 

"Waduh saya nggak ada bayangan bisa menang, soalnya saya tahu saingan saya seperti Rima Melati, Rina Hassim, Cynthia Maramis dan Mien Brodjo, semua akting mereka bagus-bagus dan lebih senior dari saya. Tapi ternyata dewan juri memilih saya. ha ha ha jelas saya senang dan agak terharu banget. Tidak ada acara khusus setelah ini. Saya juga nggak bakalan menaikan tarif honor. Biasa-biasa sajalah, " kata Misye Arsita seusai menerima Piala. 

Ira Riswana, artis kelahiran Bandung, 23 Nopember 1977 yang sempat pacaran dengan Gusti Randa, terpilih sebagai pemenang pemeran utama Wanita Komedi lewat sinetron Angkot Haji Imron, menyingkirkan Elvy Sukaesih, Titi DJ, Ully Artha dan Sumiati. Ira kelihatan agak bingung, mondar mandir di lobby seperti mencari seseorang. Dia tidak memperdulikan beberapa wartawan yang ingin mewawancarainya. "Tunggu dulu, saya lagi cari orang. Sebentar ya, saya pasti balik lagi, " katanya terburu-buru sambil menenteng piala.

Ulfa Dwiyanti, pemenang pemeran Pembantu Wanita kategori komedi lewat sinetron Begaya FM, tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Sambil menenteng piala, Ulfa didampingi suaminya, melayani pertanyaan-pertanyaan wartawan dengan gayanya yang kocak. Bahkan dia juga melayani foto bersama dengan beberapa remaja di lobby. "Gue memang merasa lebih pas di komedi. Tapi kalau ada yang nantang untuk peran drama, ayo! siapa takut! Masalah menangtidaknya diajang festival, gue susah berkomentar. Masalahnya yang milih bukan gue sih, melainkan juri..ha..ha..ha. Yang jelas perasaan menang sebelumnya memang ada sih. Bukan gue ngeremehin Dian Nitami dan Mbak Nungki. Tapi kalau mau berkata jujur, semua nominator pasti berharap untuk bisa menang. Nah, kebetulan gue yang menang, kata wanita kelahiran Bandung, 4 Mei 1972 yang banyak jadi pembawa acara di televisi ini. 

Ayu Azhari dinobatkan sebagai pemenang pemeran utama wanita kategori drama, tidak hadir. Menurut Sarah Azhari adik kandung Ayu, kakaknya itu sedang berada di Amerika. "Terpaksa deh gue yang nenteng-nenteng pialanya, " kata Sarah yang memakai gaun malam berwarna hitam ini. Ayu Azhari menang lewat sinetron Noktah Merah Perkawinan menyisihkan Desy Ratnasari, Bella Saphira, Dewi Yull dan Paramitha Rusady. 

Jonggi Sihombing berhasil menyisihkan rekan-rekannya yang lebih senior, Enison Sinaro, Dedi Setiadi, Buce Malawau, dan Rano Karno. "Ini namanya kejutan, karena saya menggarap Norma hanya 29 hari. Saya enggak mempersiapkan  diri kok untuk masuk FSI. Makanya sejak pengumuman nominasi saja, saya udah kaget, seperti nggak percaya bisa menang. Tapi jelas saya sangat bersyukur, dan ini akan memberikan semangat yang besar bagi saya untuk membuat sinetron-sinetron berikutnya. Namun untuk ke depan, tetap saya nggak punya target khusus. Saya menggarap sinetron, ya menggarap saja, sesuai skenario dan selera saya, ujar Jonggi Sihombing didampingi Ronggur Sihombing dan Anneke Putri. 

Desy Ratnasari kendati tidak menang, tapi dia tetap jadi primadona malam itu. Entah kenapa! yang jelas, wartawan dan fotografer menyerbu serentak, mulai ketika Desy datang sampai ketika hendak pulang. Bahkan Desy hampir saja tersandar ke dinding kaca karena didesak baik oleh wartawan dan fotografer maupun undangan lainnya. 

"Saya tidak kecewa, itu semua keputusan dewan juri. Saya juga nggak berharap kok untuk bisa menang. Saya ini pemain, ya harus main. Masalah menang tidak itu kuasa dewan juri, " kata Desy yang tampak kewalahan. 

Bella Saphira, nominator pemeran utama wanita terbaik kategori drama, tengan-tenang saja, mulai saat kedatangannya hingga selesai acara. "Saya kan udah bilang, masuk nominasi saja udah bagus. Bayangkan saingan saya senior semua. Itu saya sadari sepenuhnya. Makanya nggak berharap. Sebab terlalu berharap nanti bisa kecewa..ha..ha..ha. Tapi ini semua saya jadikan pelajaran dan kebanggaan untuk kedepannya. Mbak Ayu Azhari memang pantas menang, sayang dia tidak datang, " kata Bella Saphira. 

Berikut daftar Pemenang FSI 1996

1. Sinetron Terbaik : Vonis Kepagian

2. Drama lepas : Vonis Kepagian

3. Drama Seri : Si Doel Anak Sekolahan III

4. Komedi Seri : Angkot Haji Imron

5. Pemeran Utama Pria : Herdin Hidayat (Norma)

6. Pemeran Utama Wanita : Ayu Azhari (Noktah Merah Perkawinan)

7. Pemeran Pembantu Pria : Deddy Mizwar (Vonis Kepagian)

8. Pemeran Pembantu Wanita : Misye Arsita (Saat Memberi Saat Menerima)

9. Sutradara Terbaik : Jonggi Sihombing (Norma)

10. Sutradara Komedi : Ali Shahab (Angkot Haji Imron)

11. Penulis Cerita Asli Drama : Linda Sulaiman (Vonis Kepagian)

12. Penulis Cerita Asli Komedi : Imam Tantowi (Suami Suami Takut Istri)

13. Penulis Teleplay Drama : Arswendo Atmowiloto & Didi Surya (Vonis Kepagian)

14. Penulis Teleplay Komedi : Imam Tantowi (Suami Suami Takut Istri)

15. Penyunting : Tony Siswanto  (Si Doel Anak Sekolahan III)

16. Sinefotografi : Rudy Kurwet & SUprayogi (Anakku Terlahir Kembali)

17. Penata Artistik : Sumantri Jeliteng (Singgasana Brama Kumbara)

18. Penata suara : Handy Lifat Ibrahim (SI Doel Anak Sekolahan III)

19. Penata Musik : Harry Sabar (Singgasana Brama Kumbara)

20. Pemeran  Utama Wanita Komedi : Ira Riswana (Angkot Haji Imron)

21. Pemeran Pembantu Wanita Komedi : Ulfa Dwiyanti (Begaya FM)


ada yang mau melengkapi? 

Sumber : MF 275/241/XIII/28 Des 96-10 Jan 97


Thursday, February 5, 2026

DICKY WAHYUDI

 


DICKY WAHYUDI. Masih ingat dengan aktor yang satu ini? Kemunculan Dicky Wahyudi di layar kaca sangat ditunggu penggemarnya. Artis yagn berawal dari model iklan ini terangkat ketika membintangi sinetron bertema Ramadhan "Doaku Harapanku". Bagaimana tidak, saat itu hanya Doaku Harapanku sinetron bertema Ramadhan. Tak ayal lagi, namanya dikancah persinetronan Indonesia mulai di kenal, sekaligus di perhitungkan. "Saya nggak nyangka Doaku Harapanku nggak hanya disukai kaum ibu dan remaja putri, tapi juga bapak-bapak dan lelaki dewasa, " papar artis kelahiran Jakarta, 23 Septeber 1969. 

Dicky juga kembali hadir dengan tema sinetron religi bertajuk Maha Pengasih. Alhasil kepopuleran pun kian menggelayuti dirinya. Hal itu terus memacu dirinya untuk meningkatkan kemampuan aktingnya. Peran apapun siap di lakoninya. Karakter apa sih yang kamu inginkan? "Semua karakter saya suka. Peran yang membuaat saya tertantang adalah saat main dalam sinetron Abad 21. Disitu saya memerankan seorang lelaki yang mencintai wanita pujaannya. Tapi karena nggak disukai, kita di pisahkan. keadaan itu pula yang mengakibatkan tokoh itu melakukan perbuatan jahat. Boleh dibilang sedikit antagonislah. Model peran seperti itu yagn saya sukai, " tegas bintang sinetron ini. 

Diam-dia lelaki berzodiak Libra ini juga pernah menyanyi. Tak tanggung-tanggung, albumnya yang merupakan gabungan dengan Amartya 8 sudah muncul di pasaran. Usut punya usut album itu sendiri ternyata bermasalah. Pasalnya menurut penuturan Dicky, dia sendiri tak mengetahui albumnya telah muncul. Dan dia mengetahui dari rekannya. Tiba-tiba seorang teman memberitahu padanya bahwa albunya ada di toko kaset dan teman itu sudah mendengarnya. Lagu-lagu VCD karaoke itu tersisip di album Amartya 8. "Teman saya bilang kumpulan lagu VCD Karaoke itu, yang ada suara saya di side B, sementara side Anya lagu-lagu Amartya 8.


~selengkapnya dapat di baca di MF No. 405/371/XVII, 21 Des 2001 - 4 Jan 2002


Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988