ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU (berita lawas). Ada semacam rasa ketakutan dari para produser film bekerjasama dengan sutradara yang biasa kerja berlambat-lambat, sekalipun dengan alasan untuk menghasilkan film yang kualitasnya lebih baik. Logikanya memang, bekerja dengan waktu yang cukup, tidak terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Namun bukan jaminan. Semua tergantung dari orang yang mengerjakan dan tergantung dari kebutuhannya. Arifin C Noer, sutradara kenamaan itu memberikan contoh dari film yang dikerjakannya. Ketika membuat film G 30 S/PKI, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sebab film yang menggambarkan salah satu perjuangan bangsa itu harus di dukung oleh data sejarah yang lengkap dan penanganan yang teliti. Demikian pula untuk film lanjutannya, Super Semar.
Waktu menggarap G. 30.S / PKI, mulai dari persiapan sampai edar, memakan waktu hampir dua tahun. Sedangkan Super Semar, lebih lama lagi. Bila kualitas kedua film tersebut diukur melalui Festival Film Indonesia (FFI), kualitasnya masih di bawah Taksi, yang digarapnya. Karena kedua film diatas tidak terpilih seabgai film terbaik, sedangkan Taksi terpilih sebagai film terbaik FFI 1990. Dengan contoh tersebut, memperkuat argumentasinya, bahwa bukan waktu yang menentukan baik buruknya hasil pekerjaan.
"Saya kira, memang tidak ada satu orangpun yang mempunyai suatu keinginan mengulur-ulur waktu, kalau memang kebutuhannya tidak banyak. Mengulur waktu, tidak saja akan merugikan produser seabgai partner, tapi juga merugikan diri sendiri!" Tegas Arifin C Noer yang oleh sementara produser di klasifikasikan sebagai sutradara yang suka mengulur ulur waktu. Walaupun ia sudah membuktikan bisa bekerja cepat dengan kualitas terbaik dan punya nilai ekonomi tinggi.
Sekarang ini, katanya, untuk menyelesaikan Bibir Mer, iapun akan berusaha bekerja maksimal, cepat dan tentu cermat. Alasannya masuk akal, karena katanya ia harus segera bersiap-siap mementas lagi dengan Teater Kecil yang dipimpinnya. "Setelah sukses di Singapura dengan Ozon, datang tawaran lagi untuk tampil disana , dilanjutkan ke Hongkong dan Tokyo. "Kami sudah menerima tawaran itu lewat faksimili, tapi kami belum memberi jawaban. Kami pikir, memang perlu diterima tawaran tersebut agar kita juga di kenal lebih luas di luar negeri. Kesempatan-kesempatan semacam ini, akan memberikan pengalaman yang berharga.,"katanya seraya menjelaskan pementasannya di luar negeri menggunakan dialog bahasa Inggris. Karena dialognya dalam bahasa Inggris, mau tidak mau kita berlatih lebih serius. Hal demikian dapat mematangkan diri kita sendiri.
Mengomentari tentang pemain film Indonesia, Arifin bilang "Pada dasarnya pemain Indonesia itu berbakat, cuma katanya, penempatan untuk mematangkan kemampuan pemain tersebut diperlukan keseriusan dari para sutradara. ~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.
.png)






