SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET (berita lawas). Bintang cilik sering menjadi daya tarik utama sebuah film. Sebutlah dari Hollywood misalnya ada superstar-superstar cilik seperti Shirley Temple, Jackie Coogan, atau mark Lester. Dari perfilman Manadarin da Siao Pin Pin.
Dari perfilman negeri kita pun dari masa ke masa bermunculan bintang-bintang cilik. Sebagian diantaranya setelah dewasa kembali berkecimpung main film. Sebutlah mulai dari Rano Karno, Ryan Hidayat dan tambah lagi Sandy Taroreh.
Pada tahun 1984 saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sandy sudah diajak main film. TIdak tanggung-tanggung, perannya sebagai Sunan Kalijaga (tentu saja pada waktu masih anak-anak dan bernama Raden Sahid) dan Sunan Kalijaga dewasa diperankan oleh Deddy Mizwar.
Selain "Sunan Kalijaga", tercatat Sandy juga pernah bermain dua kali di bawah arahan Sophan Sophian. Yang pertama sebagai anak penari Bali (Marissa Haque) dari hubungannya dengan pria Jakarta (Frans Tumbuan) yang sebenarnya sudah beristri (Lenny Marlina) dalam film "Saat Saat Yang Indah" kalu yang kedua "Damai Kami Sepanjang Hari", dengan peran sebagai adik Iwan Fals yang yatim piatu. Sutradara lain yang pernah menanganinya , Hengky Solaiman dalam film "Neraca Kasih".
Kemudian, karena mencapai masa peralihan usia, yakni bukan lagi anak-anak tapi juga masih belum remaja, maka Sandy pun bagai menghilang dari kesibukan berakting. Baru di tahun 1991, ia kembali diajak Sophan Sophian dalam film "Ketika Senyummu Hadir".
Sebagai pemeran seorang remaja masa kini, ternyata Sandy di pertemukan dengan Frans Tumbuan lagi yang tetap berperan sebagai ayahnya. Sedangkan peran ibunya kali ini digantikan leh Ratna Riantiarno.
Digambarkan Sandy merupakan remaja teladan yang bukan saja serba pintar dalam segala pelajaran sekolahnya, tapi juga menjadi andalan regu basketnya. Adegan pertandingan basket dibuat dilapangan olahraga sebuah SMA kolese di Jakarta Selatan. Disinilah Sandy memperagakan kemahirannya menggiring dan meggoalkan bola ke keranjangnya.
Sunggu diluar dugaaan siapa pun ketika kemudian terjadi peristiwa mengemparkan saat berlatih basket, kedua tangan Sandy tepat memegang sepasang buah dada Vivi Samodtro yang mulai tumbuh.
Peristiwa di lapangan basket ini berkembang menjadi serius ketika Kepala Sekolah (Nani Widjaya) mengajukan pertanyaan, "Perbuatanmu ini disengaja atau tidak?" dan Sandy cuma menunduk bungkam tak mampu menjawab.
Berlanjut dengan protes keras ayah Vivi (Fendy Sukowati) , tentang pendidikan seks yang baru di terapkan di SMA tersebut. Kontflik batin Sandy berlanjut karena ayahnya sendiri pun kebingungan menghadapi problema ini.
Apalagi ketika kemudian teman-teman abang Vivi mengeroyok di jalanan. Untunglah, ia juga punya bekal ilmu bela diri karate. Untuk dimaklumi, Sandy memang benar-benar menguasai karate yang dilatihnya semenjak kecil. Maklumlah diantara kakaknya ada yang pernah menjadi karateka andalan nasional.
Dapat diharapkan Sandy Taroreh bakal terorbit menjadi calon remaja idola sebagai pengganti bintang-bintang remaja yang kini kian meningkat usianya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992







