Thursday, October 1, 2026

FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94

 


FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94 (berita lawas). Forum Film Bandung (FFB) memilih Didi Petet sebagai pemain terpuji berkat kinerjanya dalam film Si Kabayan Mencari Jodoh. Pada film itu, Didi Petet dinilai berhasil memerankan dua watak dari seorang tokoh bernama Si Kabayan. Yakni sebagai Si Kabayan yang berbaju kampung yang lugu dan Si Kabayan yang menjadi konglomerat gadungan. 

Regu Pengamat FFB yang diketuai Prof. Sudjoko, PhD dalam pengumumannya di Bandung, juga menentukan film Yang Muda Yang Becinta sebagai penerima pegnhargaan khusus. Film karya almarhum Syumanjaya pada tahun 70-an itu dinilai tetap aktual untuk keadaan dewasa ini.

Di tilik segala unsur, seperti sinematografi, pilihan pemain, kekuatan cerita maupun skenario, film tersebut dinilai hampir tiada cela. Di bandingkan dengan film seks yang banyak diproduksi belakangan ini, film Yang Muda yang Bercinta masih tetap unggul dalam tema maupun mutu garapan. 

Penghargaan lain diberikan kepada Harry Susanto, sebagai penata kame

ra terpuji dalam film Asmara. Ia dinilai telah bagus dari berbagai sudut sehingga berbicara dalam beragam suasana dan tempat. Menurut ketua FFB Bram M Darmaprawira, FFB menilai 204 film terdiri 31 film nasional, 69 film Eropa/AS, 56 film Mandarin dan 28 film non Mandarin. Film yang dinilai adalah semua filmyang di putar diboskop tanahair tanpa memperhatikan tahun pembuatannya. 

Terhadap film asing, FFB memilih film City of Joy sebagai film drama rakyat yang mendapat pujian. Scent of Woman yang dibintangi Al Pacino sebagai drama pribadi yang terpuji dan mrs. Doubtfire yang dibintangi Robin William sebagai film canda yang mendapat pujian. ~MF no. 203/169/TH.X, 9-22 April 1994



Wednesday, September 30, 2026

SINETRON : PARIBAN DARI BANDUNG, MENGUAK KERUKUNAN ADAT

 


Tidak Banyak sinetron yang temanya menggarap kehidupan antar suku yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah "Pariban Dari Bandung" karya Edward Pesta Sirait, sutradara yang sudah cukup banyak menggelar film layar lebar. Kini, Edward terjun ke sinetron lagi, dan karyanya yang kedua ini dan sedianya ditayangkan di layar TPI pada bulan Maret 1993, sedang memasuki tahap editing pihak penggarap, PT. Cipta Isthika Rucitra Indonesia. 

Dua kubu yang dibaurkan dalam sinetron yang proses sutingnya ditargetkan 4 bulan, namun berhasil diselesaikan hanya dengan 3,5 bulan ini, adalah dari suku Sunda dan Batak. Dimana mempertentangkan kedua suku. Namun justru harmonisasi perkawinan beda suku mereka justru mencuat cerita yang cukup menarik. Sebelum ini, Edward pernah membuat sinetron Suster Bulan. 

Awal Cerita dimulai dari kehidupan rumah tangga Asep Sastranegara (Robert Syarif) yang asal Parahiyangan serta Nurmala (Tarida Gloria), wanita Tapanuli, yang meski lain suku dan latar budayannya, namun digambarkan hidup ideal. Keduanya juga dikaruniai 3 orang anak serta menetap di Kalimantan. 

Namun setelah mereka masuk ke dalam jenjang usia tua dan selama ini lalai dan larut dalam waktu, belum pernah berkunjung bahkan berkirim surat selembarpun pada keluarga yang di Medan. Baru setelah berada di Bandung, serta anak sulung mereka, Daniel (Cok Simbara) berhasil menjadi seorang pengusaha muda sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur ITB dan MSC dari Amerika. 

Kebanggaan Asep dan Nurmala akan keberhasilan Daniel sebetulnya selalu di gelisahkan oleh ketenangan Daniel yang pada usia ke 34 tahun seakan tak punya waktu dan minat untuk berumahtangga. Sehingga suatu saat Daniel mau mengembangkan usahanya ke Batam, ibunya meminta agar mampir ke Medan untuk mengunjungi Tulang (Paman) dan Paribannya (Anak gadis paman). Daniel yang menginginkan wanita yang bakal menjadi istrinya nanti tidak hanya melihat kedudukan maupun kekayaan semata. Maka dengan mengisyaratkan pada seluruh keluarganya agar kunjungannya ke Medan nanti dengan caranya sendiri. Terutama dalam melekatkan hubungannya dengan calon istrinya. 

Konflik cerita dari sinilah berawal. Dimana munculnya Daniel yang dengan penampilan seorang pemuda miskin serta bego, sangat menghancurkan harapan Paribannya, Betty (Nella Regar). Mengingat bualnya kepada semua orang-orang yang dekat dengan gadis ini maupun sahabat-sahabatnya di kampus, bahwa lelaki yang akan menjadi pacarnya, sekaligus calon suaminya adalah pemuda intelek, terhormat sekaligus kaya. 

Kekuatan permainan Cok Simbara yang sekaligus memainkan dua peran antara pemuda kota, kaya dan intelek, serta merubah menjadi lugu, miskin dan tentunya diperhinakan. Juga sosoknya sebagai lelaki yang perilakunya melebur dari perpaduan Batak-Sunda, memperkuat perannya. Hingga sebagai  hitam putih, kasar, gagah dan terpelajar, lembut, bego namun kritis, dimankan secara lentur oleh Cok dalam perannya sebagai Daniel. 

Namun seperti yang diungkapkan oleh Edward PS, bahwa ia sangat memuji oleh jempolnya akting Nella Regar. Mengingat dunia akting, baik film maupun sinetron hal yang betul-betul baru bagi keberadaannya sebagai penyanyi. Disinilah muncul kesabaran serta penanaman pemahaman Edward sebagai sutradara. Dari keragu-raguan Nella saat disodorkan peran , namun justru jadi lebur oleh minatnya artis ini yang cukup besar untuk mencoba langkah baru di dunia akting. 

Ternyata, bakat Nella yang sudah lama terpendam perlahan-lahan mencuat. Cocoknya sebagai gadis Batak, walau tidak seluruhnya ditunjang oleh karakternya yang kebetulan dialiri darah Sumatera Utara. Karena ayahnya yang memang berasal dari sana, serta memiliki marga Siregar. Namun ia ternyata punya tingkat santun yang cenderung nyunda berkat didikan ibunya, berasal dari Parahiyangan, Garut. 

Padahal dalam perannya sebagai Betty, gadis Batak yang masih totok. Disertai warna perilaku, yang sombong, kasar serta sok intelek. Sosok ini mampu diwujudkan oleh Nella. Tak kalah dengan kemampuan Cok Simbara dalam perannya sebagai Daniel. Nilai lebihnya adalah , cok tentunya sudah tak asing dalam memainkan peran dihadapan kamera film maupun TV. 

Secara keseluruhan cerita Pariban Dari Bandung yang kisahnya berasal dari cerita bersambung yang dimuat di Sinar Indonesia Pembangunan (SIP) karya Arifin Siregar, sebetulnya sudah cukup lama mengendap di benak Edward. Hanya baru sekarang tiba kesempatan untuk menumpahkan mencari karya sinetronnya. Sedangkan pendukung dari penggarapannya adalah Nestor Rico Tambunan (Skenario), Yusup/Fauzy (Kameramen), Edward Pesta Sirait (Editor) Indah/Charles (Tata Rias) dan Tarida Panjaitan (Musik). 

Para pemain yang menurut Edward, hampir semua berasal dan memahami adat istiadat Batak serta Sunda, yakni Cok Simbara, Nella Regar, Robert Syarif, Ida Kusumah, Ully Artha, Tarida Gloria, serta pendukung dari Sanggar Devimir, Bandung. Serta para pemain dari Medan. 

Penayangannya yang dipastikan di layar TPI sebanyak 10 sd 12 episode, memakan waktu 30 menit setiap episode. 

~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Tuesday, September 29, 2026

EENG SAPTOHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA JOB


EENG SAPTAHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA  JOB (berita lawas). Lama sudah Eeng Saptohadi tak ketiban tawaran untuk berlakon di film. Kondisi perfilman negeri ini masih di tutupi awan tebal. Tapi tidak begitu dengan seni peran, media sinetron masih menghembuskan angin segar. Semakin tegarnya TV swasta dan menjamurnya Production House (Rumah Produksi) membuat artis mendapat nafas baru. 

"Banyak peran menghampiri, banyak pula yang saya tolak. Bukan soal honor, tapi soal peran yang akan dilakoni, "kata artis jebolan IKJ ini.

Awal tahun 1993, Eeng langsung di berondong tawaran dan semuanya untuk media televisi. Sekian banyak Eeng hanya menerima Untung Nak (TVRI), Badai Pasti Berlalu (TPI) dan sinetron Rumah Tuhan Rumah Kehidupan (TPI).

Bagi Eeng untuk menjadi artis di negeri ini banyak pengorbanan. Sebab, artis Indonesia harus lebih pintar, punya waktu, lebih cerdas, lebih ngotot dan harus bisa segalanya. "Karena iklim yang menciptakan artis Indonesia harus bersikap seperti ini. Sebab, berurusan dengan ngepulnya dapur sang artis. Honor artis di negeri ini sangat minim sekali. Karena itu ia terjebak kerja rutinitas, begitu ia selesai berlakon, mau tidak mau menerima pesan apa aja. Kalau sudah terjebak dengan iklim ini maka kreatifitas akan buntu, "ujarnya berapi-api. 

Justru itu tak jarang Eeng mengorbankan honornya hanya untuk membeli kostum. Untuk supaya tampil eksis, bila mendapat peran beruntun, tak jarang mengurung diri di kamar untuk analisa skenario. "Kan sudah saya katakan artis Indonesia harus bisa menitih bui. Dengan honor kecil harus bisa berakting semaksimal mungkin,"kilahnya. Maka tak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa artis Indonesia di dalam satu atmosfir memeras akting. "Akhirnya lupa bagaimana caranya mengembangkan akting. Seperti inilah iklim artis Indonesia, "lanjutnya. 

Eeng mengakui ia juga terjebak dengan kenyataan itu, tapi ia tetap mencoba keluar dari lingkaran atmosfir yang gelap gulita itu. Meski  ia juga salah seorang pengajar IKJ, untuk menjadi  seorang aktor perlu jam terbang tertentu dalam seni peran. "Jam terbang bisa dilakukan di film, sinetron maupun panggung, semua itu aalah medianya untuk seorang aktor, dengan bahasa kerennya media ekspresi".

Eeng mencoba melawan iri walau dalam keadaan krisis setia dengan keinginan jiwanya, menjadi seorang aktor. "Cukup banyak artis di negeri ini orientasinya adalah job. Ini sangat disayangkan. 

Di Indonesia masih mejual yang namanya fisik, bukan menjual ilmu. Orientasinya masih fisik, "ada sebuah istilah. Biarkan tokoh itu mencari manusianya. Watak yang ada di dalam skenario akan mencari manusianya. Seorang pemain harus ada dialog antara penulis skenario dan sutradara. Sampai mencapai yang namanya kesepakatan dalam persepsi. Begitu sudah ada kaa sepakat, barulah  ia mncari manusianya. Jadi bukan karena komersial dari apapun namanya. 

Obsesi Eeng sebagai seorang pelakon cukup sederhana dalam jangka dekat ini, katanya "Kita sudah kalah di bioskop tapi jangan kalah dirumah kita sendiri. Sebab, bila kesenian dicampur adukan dengan birokrasi, pasti akan timbil keterbatasan-keterbatasan. Kita perlu keterbatasan-keterbatasan. Kta perlu kebebasan dan kemerdekaan untuk  berkesenian apapun namanya. 

Karena itu Eeng mempersiapkan moral untuk berkarya meski sekarang ini ia hanya menjadi seorang pemain. "Hanya kematian yang memisahkan saya dengan seni peran,"katanya dengan bersemangat. Ada PH yang menawarkan kepadanya untuk menjadi sutradara, kontan ditolaknya. Alasannya ia masih setia dengan profesi yang digelutinya. 

"Mulai tahun gajah, tetap saja honor sinetron selalu kecil. Bagaimana seorang artis bisa bermain baik, bila honor yang diterimanya pas-pasan? sampai saat ini saya hanya menyampaikan kepada  semua PH supaya meningkatkan kualitas sinetron maupun pemberian honor  kepada pemainnya. Menurut saya, selama saya berlakon dalam sinetron hanya "Tasi Oh Tasi" sutradara Arifin C Noer, yang memberikan honor paling besar, "katanya dengan tangan gemetar. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993




Monday, September 28, 2026

ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH

 


ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH (berita lawas). Katanya ia tidak merasa 'tolol' meninggalkan bangku kuliah untuk film. Padahal tak selamanya dunia ini menjanjikan harapan baik. Ada apa dengan anak muda ini hingga nekad berlaku seperti itu?

"Cukup lama saya ingin bergelut di film. Keinginan yang membuat saya berani bertaruh,"katanya. 

Diselidiki, ternyata di UNRI (Universitas Riau) ia tidak menemukan bentuk pengembangan bakat. Akibatnya Ervan Yudha mandek di Fak. Ilmu Pemerintahan sampai semester II. "Ketika kuliah berlangsung, pikiran senang melayang-layang jadi artis. Semangat ke Jakarta pun menggebu-gebu,"kata pemuda kelahiran Pekanbaru 13 Maret 1969 ini. 

Setelah tekad diambil, apapun persoalannya harus ditempuh dan pemuda yang memiliki tinggi 176 cm ini terdampar di ibukota. "Jalan hidup yang saya pilih dunia peragawan. Dari situ saya mencari loncatan ke film. Bukan gampang mendapatkan koneksi di film, "ujarnya. Nasibnya mujur, anak ke2 pasangan Yul Akib dan Wirda tergaet dalam film Peluk Daku dan Lepaskan. 

"Lewat film ini peran saya tidak berarti. Saya tetap bertekad maju, malahan keluarga dan teman-teman mencemooh tapi saya tidak perdulikan, katanya. 

Dengan pengetahuan minim di bidang akting, Ervan terseok-seok mendekatkan diri  pada orang film. Tak jarang muncul ke perusahaan film untuk melamar. Tak jarang pula oang-orang menolaknya mentah-mentah. 

Tjut Djalil, sutradara gaek itu yang memberikan kesempatan lewat film Misteri Janda Kembang, sebagai pemeran pembantu utama. Tokoh Arman, dalam lakon kedua ini, menjanjikan harapan, asalkan berani beradegan cinta. "Saya buang rasa sungkan. Biarlak komentar orang bermacam-macam. yang penting saya kerja, "katanya. Hati kecilnya katanya menolak untuk beradegan ranjang dengan Sally Marcellina. 

"Ketika mendapat peran pembantu utama, saya malah susah, nyaris putus dengan pacar" katanya dengan gelak yang lepas. Takut di cap artis tanpa akting, maka dengan penuh semangat, hari-hari berikutnya melatih diri dalam akting. "Caranya saya latihan ekspresi depan kaca. kadang-kadang muka dibuat macam-macam.

Niatnya menolak awaran adegan ranjang, tiba-tiba Sisworo Gautama, sutradara spesial horor menawarkan peran seperti Tjut Djalil. Ervan puyeng sendiri. Mau menolak kesempaa lain belum juga datang. "karena ada ksempatan lagi, saya persetankan niat tadi. maka berlakonlahsaya dalam film Ajian Ratu Laut Kidul". Rupanya pengorbanan untuk filmnya yang ke 3 itu cukup besar. Sudah adegan ranjang, kepala pun harus dibotaki. 

"Pokoknya, kalau untuk film sekarang saya rela diapakan, yang penting dapat menunjang karier, "tekadnya. Rupanya melihat kondisi Ervan yang sudah berantakan di film, sang pacar malah jadi kabur. "Masak saya serius di film dibilang berantakan? Di film kan harus ada pengorbanan. Kalau tak mau memberi pengertian buat apa punya pacar?". ~MF No. 150/117/TH VIII, 28 Mar - 10 Apr 1992


Sunday, September 27, 2026

JEMMY GIDEON,

 


JEMMY GIDEON (berita lawas). Eksistensi Jemmy Gideon sebagai pelawak tak diragukan lagi. Tapi, untuk pertama kali mendampingi Lydia Kandou, buat sinetron RCTI Gara-Gara, kepiawaiannya seabgai pelawak masih harus diuji. 

"Kalau kamu bisa membuat semua hadirin tertawa, maka kau diberikan kepercayaan melakoni Gara Gara, "ujarnya menirukan omongan sang produser. Nasib baik masih menyertai Gideon Group, ketika tampil di Hotel Borobudur, semua hadirinbisa ngakak, termasuk produser, penulis skenario dan sutradara. Begitu dinyatakan lulus, Jemmy tak langsung menerima, alasannya ia tak biasa bermain dengan naskah, "Gaya saya adalah spontanitas dan improvisasi, begitu juga ketika saya bergabung dengan Lenong Rumpi, tidak pakai naskah, "kilahnya. 

Bagi Jemmy merupakan tantangan bisa bermain sinetron komedi. Sebab ia tidak hanya sekedar nyerocos, tapi ada karakter yang diemban. "Terbukti dari jalinan cerita Jemmy bukan Jemmy yang melawak, melainkan Jemmy yang suka membuat kesal hati isteri. Meski ia sangat menyayangi isterinya. Sedikit bloon, tapi banyak pintarnya juga ada juga sok tahunya. Lewat Gara-garalah saya pertama kalinya bermain dengan karakter meski dalam tema komedi,"ujar bapak yang sudah memiliki anak dua ini. 

"Saya bisa menjadi Bapak, karena saya sudah berumah tangga. Pertama tama antara saya dengan Lydia agak canggung begitu, tapi karena pengarahan sutradara, semuanya bisa berjalan dengan lancar. "

Gara Gara belum mencapai klimaks, bila ia sukses di film merupakan awal dari klimaks. Bila sukses di film, Gideon group akan tetap bertahta di film. "Sebab generasi pengganti Warkop DKI belum ada. Ada group lawak yang main film, tapi hasilnya belum memuaskan,"katanya. 

Pihak Parkit Film produser film Gara Gara sepakat supaya Gideon Group dikontrak tiga film. Tapi Jemmy tahu diri, ia tidk cepat silau dengan popularitas dan rupiah. "Kami dalam Groum saya Jemmy, Simon dan Habil mengharapkan film dari klimaks kaya lawakan".

"Bila kami dikotrak langsung tiga film, andai saja filmnya meledak, kami rugi dong. Begitu juga sebaliknya produser, bila filmnya nggak laku kan produsernya menanggung rugi. Jadi kami nggak mau sok-sokan,"katanya. 

Cahaya Gideon Group mulai bersinar, hari-hari kelompok ini dihiasi dengan tawaran manggung disana sini. Sampai hari-hari mereka banyak dihabiskan diluar kota. "Kami masih mencari bentuk lawak yang sejati. Meski gaya sudah kami punya, yakni keseharian, artinya mencari dan menggali ide-ide yang muncul dan hangat dari masyarakat, katanya. 

Di film kami belum apa-apa tapi kami tidak mau terjun langsung ambruk, "ujarnya bersemangat mengakhiri obrolannya . ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993

Saturday, September 26, 2026

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2


 IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2 (berita lawas). Gepeng Menikah !. Perkenalan dengan Supiah beberapa tahun kemudian, membawa mereka ke jenjang pernikahan. Waktu itu hari Minggu tanggal 18 Agustus 1971, Gepeng berusia 21 tahun sedang Supiah setahun lebih tua. Dan , di grup WO (Wayang Orang) Edi Budoyo ini pulalah Gepeng yagn nama aslinya Arismanto itu berganti nama jadi FREDDY. Sedang nama GEPENG sendiri baru ia gunakan setelah bergabung dengan Srimulat pimpinan Teguh atas usul isterinya di Solo. 

Gepeng lantas ikut Tegus Srimulat dan tinggal di barak gudang lawak ini di dekat rerumputan liar di Balai Kambang Solo, 5 meter ari tempatnya melawak tiap malam. Gepeng belum punya nama. Disana ada seorang pelawak top yakni Pak Panggung. 
Gaya pak Panggung memang khas sekali. Bicaranya terteteh-teteh, lebih-lebih kalau memakai bahasa Indonesia. Terus matanya merem melek dan kalau berjalan kakinya diseret-seret sembari mengibas-ibas sapu tangan atau serbet, properti khasnya. 

Inilah gaya komedian yang kemudian diserap oleh Gepeng.Kalau Pak Panggung tidak naik arena untuk melawak, maka Teguh lalu memasang Gepeng agar fans pak Panggung yang melimpah itu tersedot sedikit. Honor pak Panggung waktu itu paling tinggi yakni Rp. 600,- sementara Gepeng memperoleh Rp. 250,- sampai Rp. 400,-. Tidak termasuk lemparan rokok dan uang saat mereka melawak. 

Pada siang hari Gepeng selalu keluyuran ke daerah Taman Tirtonadi Balai Kambang itu dengan dada telanjang , tanpa alas kaki sembari melinting rokok, lalu sering terlibat mengajak ngobrol dengan Pak Panggung. Sayang , Pak Panggung kemudian meninggal karena penyakit bronkhitis dan Gepeng seperti kehilangan pegangan, tapi sebuah peluang terbuka. 

Untung Srimulat hijrah ke Jakarta. Dan Untung Gepeng ikut memperkuat barisan lawak ini. Dan keajaiban semua ini ialah ketika Srimulat tampil  di teve dan tanpa sengaja dari mulut Gepeng meluncur kalimat "Untung Ada Saya. Sejak itu hidup Gepeng beruntung. Sukses yang diraih Gepeng terlalu cepat dan ia sebenarnya belum akrab benar dengan Jakarta, dengan segala kehidupan, sanjungan serta harta yang melimpah dengan cepat. Kehidupan keseniannya lenyap. 

Nenggak Alkohol!.

Bahkan Gepeng juga menggaet film dan ia jadi bintang istimewa dalam film-film "Gaya merayu", "Untung Ada Saya", "Gepeng Cari Untung" serta "Gepeng Bayar Kontan". Kebanyakan film-film ini mengeksploitasi kepopuleran dan citra komediannya habis-habisan secara ringan. Dan Gepeng agak kehilangan kontrol. Ia seperti membalas dendam atas kemiskinan yang pernah direguknya. 

Kebiasaan buruknya tak kuasa ia lawan. Ia sering nampak mabuk-mabukan, dan dengan gaya aristokrat ia dengan ketawa menenggak alkohol berbotol-botol diiringi tepuk tangan dan layanan teman-temannya yang baru yang selalu melayani Gepeng. Perempuan demi perempuan yang mendekati dan membujuk tak kuasa ia tolak. 

Puncak kehilangan irinya yakni ketika ia terlibat dalam pemilikan sebuah pistol yang konon menurut rekan dekatnya, "Gepeng ketakutan berada di mana-mana sehingga ia perlu berada dekat dengan orang-orang kuat atau benda yang bisa membuat ia sedikit tenang. "Lebih fatal lagi, Gepeng menceraikan istrinya yang selama ini lara menemani bintang lawak ini. Tak hanya istrinya yang dicerai, Srimulat yang membesarkan dirinya yang membuat perubahan hidupnya ia tinggalkan karena ia tak ingin hasil lawakannya yang populer  itu dinikmati banyak orang termasuk boss dimana ia bekerja. "Saya ingin mandiri dan meraih apa yang saya hasilkan ,"ucapnya. 

Diam-diam Gepeng seperti mencari musuh diantara rekannya sendiri. Ia juga menjadi boss dari pertunjukkannya yang ia beli setelah kaya dan mengusahakan hiburan lawak sendiri di Semarang dan Solo. 

Namun Gepeng bukan seorang pengusaha, bukan seorang bisnis apalagi boss yang baik, Gepeng lupa bahwa ia sebenarnya seorang komedian berbakat cemerlang. Ia lupa itu. 

Maka, Syahdan, roda nasib berputar lagi. pertunjukkan Gepeng sepi. Duit banyak eluar dan tawaran tak lagi melimpah. Seperti sebuah film pendidikan, maka dalam keadaan begini kesadaranpun datang. 

Supiah, mantan istrinya lalu dinikahi lagi. Ia kembali ke pabrik tawa Srimulat dan berjanji akan merubah hidupnya. Tubuhnya tak lagi Gepeng seperti ketika ia bergabung dengan Srimulat. Dan tubuh inilah yang tak mau kompromi. Levernya membengkak, menggerogoti usianya dan tampak pada adegan inilah Gepeng terpaksa menyerah pada nasib. 

Dalam usia 30 tahun, saat pulih kesadarannya untuk berbuat baik, Gepeng meninggalkan istrinya Supiah, 4 orang puteranya , Tatang (Sekolah di SMP), Nanang, Putri dan Ayu duduk di SD serta kita sekalian, yang pernah terhibur oleh lawakannya serta dengan rela memberi tepuk tangan gegap gempita kepada almarhum Gepeng. 

Barangkali ungkapan sekarang ini (Tidak) Untung. (Tidak) Ada Gepeng! Betapapun ia pernah menjadi fenomena. Selamat Jalan Peng. ~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


**Dari dua bagian tulisan ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, hikmah yang bisa kita ambil atas perjalanan seorang Gepeng.

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1


IN MEMORIAM!  (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1 (Berita Lawas). Gepeng, Anak Panggung yang Tragis! "Saya sekarang sadar apa artinya punya banyak teman. Saya ternyata tidak bisa sendiri terus. Saya masih membutuhkan bimbingan. Dan itulah yang membuat mengapa saya kembali ke Srimulat. Dan saya berjanji tidak akan bertingkah lagi, "ujar Gepeng, suatu hari ketika ia baru saja bergabung dengan Srimulat, pada Majalah "FILM".

Namun, disaat ia baru saja hendak memenuhi janjinya itu, nasib lain datang lebih cepat. Gepeng pergi untuk selama-lamanya, setelah penyakit lever yang ia derita merenggut nyawanya. Dunia hiburan Indonesia kehilangan satu lagi artisnya. Gaung kalimat yang mempropulerkannya "Untung Ada Saya..." mungkin  saja akan terus bergema sampai beberapa tahun mendatang. Tapi kita tidak akan pernah lagi menyaksikan seorang lelaki b e g o , dengan kumis menumpuk di ujung bibir dan bicara tersendat-sendat, beraksi diatas panggung dengan langkah kaki diseret. 

Lahir di desa kecil Muntilan, Jawa Tengah pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 1950. Gepeng meninggal dalam usia menjelang 38 tahun di Rumas Sakit Panti Waluyo, Solo, Pukul 13. 05 WIB, Kamis 16 Juni 1988 akibat lever yang dideritanya kambuh. Ia kemudian dimakamkan keesokan harinya, Jumat, 17 Juni 1988 di pemakaman umum Bonoloyo Solo dengan dihadiri kerabat terdekatnya dan teman-temannya sesama pelawak. 

Tapi siapakah Gepeng?

Lahir dari perkawinan Karso, seorang tukang kendang berusia 30 tahun dengan Tami, seorang pengrawit berusia 27 tahun dan sudah janda, putri seorang bangsawan dari Tempel, Muntilan, Gepeng adalah anak pertama yang hidupnya menjadi potret yang jelas tentang keadaan seniman-seniman tradisional pada waktu itu. Sekalipun ibunya adalah putri bangsawan, namun hidup Gepeng tidaklah gemerlapan. Sebagai anak keluarga seniman panggung, bisa dibayangkan bagaimana Gepeng kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Ia lebih suka memilih ikut Bapak ibunya manggung dan belajar mendalang ketimbang pergi sekolah. Tak heran kalau iapun cuma bisa menyelesaikan sekolah hanya sampai kelas dua SD. 

Kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak menentu, akhirnya menyeret Gepeng nekat berangkat ke Jakarta dalam usianya yang masih 12 tahun. Namun ia kemudian dijemput Bapaknya untuk ikut bergabung dengan URRIL (Urusan Moril) yakni grup kesenian tentera. Namun Gepeng dan Bapaknya tak bertahan lama di grup ini. Dari sini ia kemudian gabung dengan grup wayang orang Edi Budoyo setelah sebelumnya, ketika masih di Jakarta , ia bergabung dengan Wayang Orang Pancamurti. Di WO Edi Budoyo - ini pulalah ia mengenal Supiah yang waktu kecil jadi penari dan masih kecil.~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

~~ Bersambung Bag 2, Gepeng Menikah dan Nenggak Alkohol 

Friday, September 25, 2026

SUTI KARNO MERANGKAK DARI NOL

 


SUTI KARNO MERANGKAK DARI NOL, (berita lawas). SUTI KARNO menyanggah bahwa popularitas yang diperoehnya di dunia film dan sinetron semata-mata terciprat oleh kebesaran nama ayah dan kakak-kakaknya. Alm. Soekarno M Noor, Rano Karno serta Tino Karno. "Walau memang saya akui bahwa merekapun kerap mendorong ikhwal karir, tapi untuk bisa eksis dalam peran maupun langkah karir saya, saya mendapatkannya dengan merangkak, dari nol, "ujar artis gemuk hitam manis, yang melangit setelah bergabung dengan Lenong Rumpi ini. 

Suti Karno mengakui saat ayahnya masih ada dulu, disaat makan bersama dengan anggota keluarga lainnya,  ia mendapatkan kritikan maupun komentar tentang penampilan aktingnya. Juga saudara-saudaranya yang lain, waktu itu. Masing-masing diatara mereka didorong untuk menjadi diri sendiri. 

"Diantara kami akan mendapat kritikan keras, bila ada yang hanya mau mendompleng nama ayah atau nama Rano, "ungkap Suti dalam obrolannya. 

Seperti halnya Alm. Soekarno M Noor, Suti mantap menjawab pertanyaan penonton film Nasional, dalam suatu jumpa penggemar, yang menyatakan, film Nasional belum layak banding untuk satu bioskop yang sedang memutar film Barat.

"Semua film nasional layak banding. Dari segi cerita, sudah banyak bagus. Artinya sudah banyak yang cantik, Meriam Bellina, misalnya, nggak kalah deh, dengan pemain film impor. Tapi kalau berbicara masalah mutu film kita, maka kita harus ingat bahwa negara kita masih dalam taraf berkembang. Begitu juga filmnya. kalau teknologi kita sudah maju seperti Amerika, pasti kita juga mampu bikin film sehebat "Terminator", jawab Suti.~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993