Showing posts with label Film Jadul. Show all posts
Showing posts with label Film Jadul. Show all posts

Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN


 FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN. Langkah Langkah Pasti merupakan karya ke 7 sutradara Acok Rahman, Produksi ke II PT. Metro Vistaria Film . Pendukung film ini cukup bisa diandalkan. Menggunakan artis besar yagn sebagian remaja seperty Hengky Tornando, Sally Marcellina, Vivian Boyoh, Simon Cader, Johny Indo, Rudy Salam dll. Sementara tokoh old crack Muni Cader yang biasa dapat peran antagonis, dalam film ini diberi peran sebagai orang baik yagn selalu jadi tumpuan nasihat dan harapan anak-anak muda. 

Film laga ini oleh Acok Rahman sengaja tidak di visualikan untuk lebih banyak meletuskan senjata api. Yang dominan justru fight menggunakan tangan kosong. 

"Saya ingin menonjolkan Indonesianya di film ini. Jika dengan senjata modern seperti aetion modern Barat atau HOngkong, saya rasa kuran sreg. Ada adegan mobil nyebur, atau menembus pertokoan atau lewat etalase kaca. "Saya perlu menampilkannya, mengingat cerita itu sendiri, kata sutradara Acok Rahman, yang sudah menangani 7 film, sejak film pertamanya "Mandi Madu" pada tahun 1984.~MF 095/63/Tahun VI, 17 Feb - 2 Mar 1990


SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN!

 


PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN! (Cerita Lawas). Menurut data produksi dari sekretariat PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), sebenarnya masih cukup banyak film tema action yang di produksi para produser kita. Namn semua itu seakan tenggelam oleh sukses besar Saur Sepuh yang telah beberapa serial di produksi. 

Kecuali PT. Inem Film yang tetap produktif dengan tema action untuk penonton bioskop kelas menengah kebawah. Beberapa perusahaan lain tak mau ketinggalan. Mercu Alam Abadi menggiring H. Rhoma Irama untuk tidak selalu berda'wah lewat Jaka Swara, Raja dangdut yang kini mulai memudar pamornya, diorbitkan sebagai bintang action baru. Ini adalah film full action Rhoma Irama yang pertama. 

Masih dari perusahaan yang sama, Liliek Sudjio  yang memang sejak dulu telah dikenal sebagai sutradara trampil dalam menggarap film-film action, menangani Misteri dari Gunung Merapi. Cerita tersebut juga diangkat dari cerita sandiwara radio yang telah populer dikalangan masyarakat. Ternyata Misteri dari Gunung Merapi sukses besar. Alhasil dilanjutkan dengan film keduanya.

Lalu, Rapi Film perusahaan yang cukup produktif tahun 90 ini memproduksi sekitar 12 judul, dimana dalam berproduksi cukup bervariasi, tak mau pula ketinggalan untuk menampilknan tema action. Pedang Naga Pasa judul film yang beredar serentak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur dan Sumatera Utara 24 September 1990.

Film yang dibintangi oleh Advent bangun, WD Mochtar, Erick Soemadinata, Baron Hermanto, Devi Ivone, Anneke Putri, Alba Fuad, dan ratusan pemain lain, termasuk puluhan pemain yang menguasai ilmu bela diri pencak silat dan karate. Jumlah tersebut masih ditambah lagi dengan keterlibatan sekitar 100 ekor kuda, sehingga benar-benar nampak sangat kolosal. 

Memang tidak ada burung raksasanya yang terbang gagah diangkasa. Tapi soal adegan adegan terbang yagn sangat mendebarkan. Dalam pedang Naga Pasa yang cerita dan skenarionya ditulis oleh Baron Achmadi dan disutradarai Slamet Riyadi, tidak kalah dengan Saur Sepuh. 

Walau mengaku telah berpengalaman untuk adegan terbang, ternyata Pedang naga Pasa, Devi Ivone yang sudah bermain dalam 20 film, dimana 15 diantaranya film action. Terpaksa harus sering menahan kesakitan. "Tangan saya sempat nyaris patah tulang!" kenang Devi yang juga menambah profesi jadi penyanyi. 

"Soal di gantung-gantung (sling) sudah biasa. Tapi yang satu ini memang benar-benar berat!" tukas Alba menimpali. Pendatang baru yang mengawali karirnya di film Permainan Di Balik Tirai, juga produksi Rapi film, memang tidak sempat menderita separah Devi. "Lecet-lecet kecil, biasa. Namanya juga film beranteman!" tukas putri Fuad Hasan drummer God Bless (Alm) yang mendapat kecelakaan lalulintas itu. 

"Kala saja tidak di dukung bintang-bintang action saya pasti akan banyak mengalami kesulitan. Beruntung pemain yang terlibat tidak saja mempunyai ilmu bela diri yang tangguh. Mereka selama ini telah dikenal sebagai aktor laga!" tukas Slamet Riyadi sang sutradara.

Meski proses ke luar negeri ini bukan pelanggaran. Sebab peraturannya masih memungkinkan sebuah film yang bagian-bagiannya belum bisa dikerjakan di dalam negeri, masih bisa diberikan izin untuk prosesing keluar negeri. Dan Pedang Naga Pasa keluar negeri seizin pemerintah. 

"Film action sukmanya pada spesial efek. Kalau spesial efeknya kurang sempurna, pasti kurang menarik. karena itu kami tak segan ke luar negeri, meski dengan biaya yang relatif lebih mahal, " tukas Gope T Samtani sang produser. Mudah-mudahan masyarakat tidak kecewa dengan film ini, tambah Gpe lagi. MF 110/78 Tahun VI 15-28 September 1990

Thursday, March 12, 2026

SI CEWEK GENDUT ILLA DOTH


 ILLA DOTH. (Kisah Lawas). Artis bertubuh subur dengan bobot hampir satu kwintal itu punya kebiasaan menarik. Kalau biasanya orang yang lagi sedih tidak doyan makan, lain lagi dengan Illa Doth, kalau dia sedih justru makannya banyak. Kebiasaan ini ia jalani sejak kecil. Baginya hidup ini cuma sekali jadi harus senantiasa gembira. itulah sebabnya ia selalu menghindari kesedihan. Maka tak perlu heran jika tubuhnya subur. 

Orangnya cuek, ngomongnya ceplas ceplos penuh humor. Barangkali inilah yang membuat ia awet gemuk. Ia begitu bangga dengan keadaannya, sementara banyak orang melakukan diet jika merasa sedikit gemuk, tapi Illadoth cuek saja. "Kalau orang langsing dan cantik itu banyak tapi cewek gendut kayak Illadoth banyak yang cari. "akunya sambil mengunyah coklat, makanan kesukaan yang tidak pernah ketinggalan setiap hari. 

Ia tidak takut dengan nafsu makannya yang kuat, sebaliknya ia akan bertanya-tanya jika nafsu makan itu tiba-tiba menurun. Gemuk baginya adalah karunia Tuhan. Memang benar, dengan kegemukannya itulah membuat ia laris menerima tawaran main film. Sudah puluhan film yang dibintangi. Juga laris untuk backing vocal penyanyi. Dalam siaran TPI ia pun nongol untuk menghibur anak-anak balita lewat acara yang diasuh oleh Titi Qadarsih. 

Belakangan ini beratnya naik 3kg gara-gara dikecewakan cowoknya membuat ia menambah porsi makannya. Makan adalah kesukaannya, sehingga makanan akan menghibur dirinya bilamana menghadapi kesusahan. "Pokoknya gua emang gak mau susah, jika gua  punya persoalan berat, gua makan sekenyang-kenyangnya. NGapain mikirin yang susah-susah:, jelas Illa Doth yang beratnya mencapai 90 kg. 

Pada suatu hari, cewek Nasution yang satu ini pernah mencoba mengukur sejauh mana kekuatan makannya. Menurut pengakuannya jika lagi mood makan rasanya tidak ada kenyangya. Setelah di cobanya ia mampu melahap satu bakul nasi berikut lauk pauknya dan makanan lain yang memenuhi meja makan. Habis itu ia terkapar dan tidak bisa bangu lagi sampai esok harinya. 

~MF

Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Thursday, March 5, 2026

LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG"



SALAH SATU  LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG". Serombongan anak-anak berseragam merah ptih SD meluncur dengan sepeda mereka dari puncak jalan menurun. Ramai berceloteh merundingkan apa yang dihadiahkan untuk ulang tahun guru mereka. Segalanya berjalan cukup lancar, tapi mendadak Imam Tantowi yang berdiri di tepi jalan berteriak, "Cut! Cut".

Dengan cepat Kamerawan Tjutju Sutedja menghentikan kerja kameranya. Apa pasal? Ternyata salah seorang anak itu ada yang melirik kearah kamera. Kesal Tantowi mengomel, "Sudah berapa kali saya bilang, jangan memandang ke arah kamera. Ya wajar saja, Ayo ulangi lagi!.

Begitulah adegan anak-anak bersepeda di jalanan desa Cibadak itu harus diulangi sampai tiga kali. Menyusul adegan berikutnya, anak-anak badung bermain di pematang sawah. Dasar anak-anak, senang saja main belepotan lumpur. !

"Memang ada kesalnya, tapi ada pula lucunya, mernyutradarai anak-anak ini", aku Tantowi. "Kebanyakan mereka memang bandel bande. dan baru kenal disini, tapi cepat sekali menjadi akrab. Wah, waktu malam pertama, kami hampir tak bisa tidur, karena mereka ramai bermain terus. Malah ada yang lompat-lompatan di tempat tidur segala. 

Semua pemain anak-anak ini memang di boyong dari Jakarta. Ditempatkan di Wisma Haji, Jl. A Yani 37 Sukabumi. Saking ramainya kemudian diambil inisiatif, rombongan anak-anak dibagi dua. Sebagian di Wisma PGRI yang letaknya tak berjauhan. Sebagian anak-anak memagn disertai oleh ibu mereka, terutama anak-anak perempuan. Namun para ibu yang ngumpul sendiri, membebaskan anak-anak mereka bermain diluar suting. 

"Si Badung" yang semula rencananya berjudul "Si Badung Naik Kelas" ini memang dibintangi oleh belasan anak. Sebagian diantaranya adalah anak-anak bintang populer. Seperti misalnya Toma alias Torro Margens Jr. (Anak Torro Margens) dan Rini yang puterinya Elly Ermawatie. Kawanan yang menyebut dirinya "Kelompok Lima" dimainkan oleh Renno, Viona, Reymon, Rini dan Adam Sandi. Dua bocah badung diperankan oleh Nelson dan Rully. Ikut mendukung Shereen Regina Dau, Jaka dan Adi. 

Peran Kepala Sekolah Pak Jarir di mainkan oleh Drs Purnomo alias Mang Udel. Istrinya oleh Mien Brodjo. Guru baru oleh Nurhuda, Pak Kebon oleh Belqiz Rachman. Masih ada lagi Eva Putri, Arbain, Tarsan, Syamsuri Kaempuan dan lain-lainnya. 

Lokasi sengaja di pilih di sebuah SD Negeri Cibadak diluar kota Sukabumi, karena ceritanya memang dikisahkan terjadi di sebuah kota kecil diluar Jakarta. Keseluruhan suting berakhir tanggal 12 Agustus 1989. Giliran Embie C Noer untuk mengisi ilustrasi musiknya, disamping ada enam lagu anak-anak agn khusus disiapkan olehnya . 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Wednesday, March 4, 2026

SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA

 


SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA. Kristal-kristal Cinta film garapan Wim Umboh. Sesuai dengan judul ceritanya, sudah barang tentu berkisar tentang cinta. Kebanyakan film garapan Wim selalu bertutur masalah cinta. Ingat saja film macam Pengantin Remaja (1971), Pengantin Pantai Biru (84), Serpihan Mutiara Retak (85), Secawan Anggur Kebimbangan (86) atau Adikku Kekasihku (89) dan masih banyak lagi. 

Dalam film "Kristal-Kristal Cinta", Wim mencoba mempertemukan bintang film yang sedang naik daun Onky Alexander dan pendaang baru Anna Valiana Aprilini. 

Sutingnya lebih dari 3 bulan diantaranya di Yogya. Selebihnya di Jakarta. Pada 5 Januari 1990 seharusnya kontrak bintang dan karyawannya sudah selesai, tapi Wim belum menyelesaikan suting. "Sekali ini Oom Wim memang agak kedodoran . Seharusnya kami sudah rampung sekitar Awal Desember 1989 lalu, " kata salah seorang kru. Kenapa? Ya, banyaklah hambatannya. Pemain utama wanita kami sakit tiga minggu, Belum lagi keterlambatan suting karena ulah pemain, katanya lebih lanjut. "Lebih-lebih pendatang baru yang satu itu, Rupanya dia belum bisa menyesuaikan diri kerja di film", kata seorang kru lain. 

Wim Umboh sendiri memaklumi penemuan barunya itu. Sebagai orang baru dia mungkin belum memahami betul cara kerja orang film. Belum menjiwai pekerjaan ini, kata Wim Umboh. Selama suting emosi Wim nampak selalu meledak-ledak. Tak jarang seorang pemain di bentaknya. "Dia sih memang begitu, " kata salah seorang kru seolah membela. 

Onky Alexander menilai mungkin lawan mainnya itu belum total di film. "Bisa main film, jadi enggapun ya tidak apa-apa," paparnya. 

Onky dalam film ini justru di kenal sangat disiplin. Hampir semua kru mengacungkan jempol buatnya. "Wah dalam film ini Onky betul-betul menyenangkan. Kami tidak pernah dibuat susah, " kata Inge penata busana. 

Hari-hari terakhir suting Kristal Kristal Cinta di lakukan di sebuah rumah mewah di kawasan Cinere Jakarta Selatan. Rumah milik Tommy ini diangkat dengan sebuah kolam renang mini, tanaman hias dan bunga-bungaan Kamarnya besar-besar lengkap dengan segala macam perabotan mutakhir. Belakangan ini rumah tersebut semakin sering digunakan oleh orang film. Nyaris tidak putus-putusnya. Selesai satu film disusul film lainnya. 

Pada Januari 1990, misalnya disaat Wim Umboh break suting sehari, langsung di serobot oleh Tiga Sinar Mutiara Film yang sedang menggarap Catat Namaku Rintan yang kemudian berganti judul Cinta Punya Mau. 

Cerita dari film ini adalah : Bomantara (Onky Alexander) teman kuliah Karina (Anna Valiana). Selesai kuliah mereka melanjutkan hidup berumah tangga. Boma kemudian dipercaya menduduki jabatan penting dalam perusahaan milik orang tua Karina. Jadilah keluarga muda ini hidup berkecukupan, tenteram dan bahagia, tapi kebahagiaan berakhir di tengah jalan. Karina ketahuan mengidap penyakit kanker darah. Jiwanya tak tertolong. 

Saat-saat terakhir sebelum di panggil menghadap Tuhan YME, Karina sempat merelakan Boma menikah lagi dengan perempuan lain. Tiara namanya. Pada saat kritis dan sangan mengharukan seperti itu barulah terungkap bahwa Tiara sebenarnya adik kembar Karina yang sengaja di pisah sejak bayi. Pasalnya karena hari lahir Karina dan Tiara persis sama dengan hari lahir ibunya. Tiara dititipkan pada Sopir ayah (WD Mochtar). 

Apa yang ingin disampaikan lewat film ini oleh Oom Wim? "Hidup ini kan penuh persaudaraan, Kita kita ini pada dasarnya kan saudara. Perlu saling kasih mengasihi, itu saja, " jelas Wim Umboh

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Monday, March 2, 2026

RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk

 


RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".

Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989. 

"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".

Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".

Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".

"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".

Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".

"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia. 


di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Friday, February 27, 2026

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

DEVI IVONE ganti nama Devi Sabah


DEVI IVONE ganti Nama Devi Sabah. Devi Sabah, film-film yang dibintanginya sebagian besar bertema action. Pertama kali bergelut dalam dunia film tahun 1987 padahal sebelumnya ia tak pernah terbersit niat menerjuninya. 

Di lahirkan dan di besarkan di pulau Nunukan dekat perbatasan Malaysia. Setelah lepas SMA ia sering berkeluyuran di Sabah dan Sarawak. Ia tak pernah bermimpi jadi bintang film. Ketika hijrah ke Jakarta itulah awal berkenalan dengan dunia film. Lewat seorang teman ia pun diperkenalkan pada seorang sutradara. "Sutradara itu memberikan semangat buat saya kepercayaan saya pun tumbuh," katanya. 

Tatkala dilihat kemahiran dalam film-film action, maka tawaran buatnya makin berdatangan. Devi tetap bermain di film-film bertema  action dan horor. Semua tawaran diterimanya hingga ia tak pernah tidur pulas. Setiap pulang suting pagi hari. Devi nyaris tak tidur, pasalnya disiang hari ia sudah harus hadir di lokasi untuk film yang lain. Disamping itu iapun disibukkan dengan olahraga serta jadwal kegiatan lainnya. Karenanya mau tak mau ia harus memakan makanan yang tinggi gizinya, agar tetap sehat dan kuat. 

Karena kurang dikenal dengan nama Devi Ivone, maka sejak main di film "Syech Siti Kobar Membangkang" yang disutradarai Ratno Timoer itu ia mengubah nama dengan Devi Sabah. "Saya ganti nama karena saya suka aja. Nggak ada alasan lain kok, " ungkapnya dengan logat melayu. 

Selama ini dalam film-filmnya suara Devi selalu diisi orang lain. Karena itu kini, ia ngotot belajar bahasa Indonesia. Dan itu akan ia buktikan di film "Tertangkap Basah, lewat arahan SA Karim. Keinginannya sih dapat masuk nominasi sebagai artis terbaik. "Kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi. Maklum deh lingkungan saya dekat dengan Malaysia dari keluarga saya pun banyak yang telah jadi warga negara Malaysia. Yah kini saya mesti bisa berbahasa Indonesia, ucapnya mantap. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Thursday, February 26, 2026

NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O

 


NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O . Kalau ada anak-anak yang butuh perhatian oleh Ibu atau neneknya itu lumrah. Tapi kalau sebaliknya, ada nenek yang butuh di perhatikan oleh anak dan cucunya? itu juga wajar kalau dilihat dari kebutuhannya, " tegas seorang nenek. 

Adalah Nani Somanegara, si Nenek itu yagn asli Sunda. Tahun 1968/1969 itu awal kariernya dalam film. Ketika itu ia masih menjadi figuran dalam film "Kamar 13". Kemudian oleh Nyak Abbas Acup, ia dilibatkan dalam film yang berjudul "Nency". Lalu cukup lama beristirahat, tapi kecintaanya terhadap dunia film ternyata mampu menunjukkan jalan. 

Lalu ia terlibat dalam film Kasmaran, Gema Kampus, Pacar Ketinggalan Kereta dan  film komedi situasi "Cas Cis Cus" arahan sutradara Putu Wijaya. 

Dalam film Cas Cis Cus, Nani mendapat peran yang cukup penting. Memerankan tokoh nenek yang sempat sewot karena nggak boleh nonton film video p o r n o . Perannya emmang berat. Perwatakannya jauh berbeda dengan keadaan saya. Itu peran antagonis, yang menantang saya, " ujar ibu yang pernah aktif di Studi Teater Bandung ini. 

"Saya dulu pernah merasa sangsi, apakah bisa dan cocok memerankan tokoh nenek seperti itu, peranan Putu Wijaya dalam menggarap watak dan emosi saya cukup besar, " papar ibu Nani yang pada tahun 1974 sampai pembuatan film Kasmaran sempat istirahat total dari film. "Sekarang anak-anak sudah gede-gede, jadi bisa ditinggal kemana-mana, " jelasnya dengan nada rendah berwibawa. 

"Kalau saya melihat jauh keluar, saya membayangkan, kok ada orang tua yang mempunyai sifat sperti itu? Kalau ada nenek tau kakek yang ingin menikah lagi, itu banyak penyebabnya, tapi sebenarnya juga tergantung pada pribadinya dalam pergaulan, " tambah Nani lagi. 

Seperti yang ia katakan, masa-masa tua memang merupakan masa yang serba susah. Seperti nenek dalam film Cas Cis Cus itu misalnya, sebenarnya ia ingin sekali di perhatikan anak-anak , menantu dan cucu-cucunya, Kalau ada orang tua yang keinginannya tidak dituruti, tentu ia akan bereaksi. 

Nani Somanegera, memang seorang nenek setia. Bukan hanya setia pada keluarga, juga setia pada perfilman Indonesia. "Saya seperti punya tanggungjawab pada dunia film. Pertama saya senang . Dan saya memang punya keinginan menyukseskan perfilman. Kalau untuk menyalurkan bakat, saya memang sudah terlambat, "ujarnya merendah.

Sebagai seorang nenek yagn mempunyai lima putra dan 13 cucu, Nani ternyata masih giat dan tekun bekerja. Selain main film dan drama televisi, juga mempunyai kesibukan lain di rumah, yaitu merias pengantin. 

Sosok nenek yang lahir di Bandung, 17 Juli 1937 masih giat bekerja dan mampu berakting dengan mantap. Tak perlu heran, karena dia terlahir dari keluarga seni. "Suami saya juga dari teater, jadi untuk kegiatan saya di film dan seni nggak ada hambatan. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 25, 2026

FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN?


 FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN? (Berita lawas). Anggapan bahwa film bermutu kurang laku dalam peredarannya nampaknya memang belum mau sirna. Hal itu memang banyak buktinya. Kalau soal mutu diukur dari hasil penilaian Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Cukup banyak contohnya yang bisa ditampilkan. 

Kita lihat saja misalnya FFI '79 dimana sistem nomine mulai diterapkan. Kecuali November 1928 garapan Teguh Karya yang akhirnya terpilih sebagai Film terbaik di FFI Palembang. Masih ada beberapa film lain yang tergolong bermutu. Pengemis dan Tukang Becak garapan Wim Umboh, Buaya Deli yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ada pula Kemelut Hidup garapan Asrul Sani. Film-film tersebut dalam peredarannya boleh dibilang kurang berhasil, bila dibandingkan dengan Inem Pelayan Sexy atau Rahasia Perkawinan yang meraih Piala Antemas sebagai film terlaris dan banyak dibicarakan masyarakat luas. 

Tahun berikutnya, FFI '80 di Semarang, Perawan Desa terpilih sebagai film terbaik. Nah film unggulan lainnya, Kabut Sutera Ungu yang disutradarai Sjumandjaya, Rembulan dan Matahari karya pertama Slamet Rahardjo yang akhirnya terpilih sebagai film terbaik kedua , ada pula Yuyun (Pasien Rumah Sakit Jiwa) garapan Arifin C Noer, Gadis Penakluk arahan Eduard Pesta Sirait. 

Namun dibangingkan Gita Cinta Dari SMA-nya Arizal, Iramaya dan Kakek Ateng, Film-film nominasi itu dalam mengumpulkan penonton jauh ketinggalan. 

Perempuan Dalam Pasungan barangkali memiliki keistimewaan tersendiri. Film terbaik arahan Ismail Soebardjo ini memang sukses di peredran. Hal itu dimungkinkan karena peredaran film patungan Garuda film, Gemini Satria Film dan Interstudio itu memang pas masa peredarannya. Setelah terpilih sebagai film terbaik FFi '81 segera pula beredar di bioskop. 

Yang juga sukses tahun itu dalam segi mutu masih ada beberapa film . Para Perintis Kemerdekaan (Dibawah Lindungan Kabah), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Laki-laki dari Nusakambangan yang memberikan piala citra pertama buat maruli Sitompul. Teguh Karyapun menyodorkan satu film, Usia 18.

Sundel Bolong, film mistik garapan Sisworo Gautama Putra yang mendapat Piala Antemas di Medan, kembali membuyarkan image yang mulai di bangun Perempuan Dalam pasungan dan Kabut Sutra ungu sebagai film bermutu dan laku. Pada tahun berikutnya tak ada film terbaik yang penontonnya mampu menyaingi perolehan penonton yang dikumpulkan film-film Warkop DKI . pertanyaan tersebut memang sulit untuk memperoleh jawaban yang pasti. Yang jelas film bermutu memang  sulit bersaing dalam pengumpulan penonton. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.


Monday, February 23, 2026

ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM

 


ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM , (Berita Lawas). Pada era 1960an, film-film Italia pernah merajalela di bioskop-bioskop Indonesia. Di antara bintang-bintang koboi yang sangat terkenal adalah Giuliano Gemma. Nah, sekarang dalam perfilman Indonesia juga ada Ade Giuliano. Lalu apa kira-kira ada hubungan dengan kedua Giuliano ini?

"Memang sih hubungan darah tidak ada, tapi dalam tubuh saya juga masih terdapat darah Italia, " aku Ade. Indo-Italia berasal dari ayah Primus Saleh, yang asli sunda bergabung dengan ibu Ellydemezza dari Italia.

Dilahirkan pada 22 September 1968, sejak kecil Ade sudah akrab dengan mobil. Harap maklum, bokapnya memang jual beli mobil, khususnya Datsun Nissan. "Dulu papa bergabung dengan Indo kaya, tapi sekarang sudah berdiri sendiri, ".

Kemahiran Ade mengendarai mobil berlanjut hingga hobi rally. "Saya ikut perkumpulan penggemar rally mobil Artajaya yang di pimpin Benny Kurnadi." Kegemaran yang lain, memangkas dan menata rambut . Ilmunya di pelajari dari Rudy Hadisuwarno yang sudah sangat tersohor di ibukota. Selepas SMA, Ade malah menjadi hairdresser di "Rudy Salon", Ratu Plaza. 

"Tapi sekarang saya mulai sibuk main film, terpaksa kerjaan di salon cuma freelancer saja, dalam arti kalau sedang senggang saya datang, kalau tidak ya tidak apa-apa," kilahnya. 

Debutnya di film diawali lewat film remaja "Si Roy" arahan Achiel Nasrun. Perannya sebagai pemuda gedongan yang bersaing dengan Ryan Hidayat untuk mendapatkan cinta Margie Dayana. Persaingan berlangsung cukup seru sampai terjadi adu j o t o s beberapa kali. 

Denga perawakan tinggi 1,77 meter dan berat 72 kilo ini sebenarnya Ade lebih tegap daripada Ryan. Tak urung karena heronya Ryan, maka tokoh yang diperankan Ade harus kalah, kena gebuk sampai terjungkal. Apa Ade punya bekal ilmu bela diri? "Dulu pernah juga belajar sedikit sedikit , tapi kemudian lebih memilih hobi berenang. Terus terang saya kurang senang main kasar, kala dalam film kelihatannya saya saling membenci Ryan, itu kan cuma pura-pura. Diluar film bersahabat kok. Film kedua Nakalnya Anak Muda tetap diarahkan Achiel Nasrun, juga kembali berhadapan dengan Ryan Hidayat. Sedangkan film ketiga adalah Boleh-boleh saja dengan sutradara Hadi Purnomo, merupakan drama remaja campur komedi. 


MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Saturday, February 21, 2026

NIKE ARDILLA MELAHAP APA SAJA


Nike Ardilla, nama cewek ini. Ia memang berawal dari menekuni dunia nyanyi. Manggung kesana kemari hingga memasuki dapur rekaman.

Kasmaran yang di tangani Slamet Rahardjo merupakan debut pertamanya. Lalu Nike kebagian casting dalam film Kabayan Saba Gota dan Gadis Foto Model. Belum lagi dalam dunia layar kaca, Nike sempat nongol dalam sinetron yang berjudul Cinta Alisa. 

Tak heran, Achiel Nasrun sutradara film Nakalnya Anak Muda berani menggaet Nike Ardilla menjadi peran utamanya dengan memerankan dua tokoh sekaligus dalam film itu. 

Ternyata sejak kecil nama Nike yang lahir 27 Desember 1975 sudah punya cita-cita jadi bintang film. "Waktu saya belum sekolah, saya sering nyanyi di atas meja makan. Dan kalau setiap bangun tidur harus di foto. Kalau nggak saya nangis, " begitu kenang Nike Ardilla yang merupakan siswi kelas III SMP 30 Bandung. 

"Jangan Lupa ya, Nike Ardilla ini nama untuk main film. Nama aslinya Nike Ratnadilla, Nama itu dari produser yang sudah disetujui mama. Nah , kalau Nike Astrina itu yang ngasih mas Denny Sabri, itu untuk musik. "

Nike Ardilla suka makanan jenis apa saja. Suka jenis musik apa saja, Suka kerja apa saja, Suka peran apa saja, tapi untuk memilih cowok idamamnya Nike tetap punya Idola, "Pokoknya yang nggak suka merokok, mengerti sama ike, baik sama Nike dan.. tentu yang Nike Suka.".


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990~

AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak!

 


AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak! (Berita Lawas). Dr. Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI ternyata pernah menjadi soerang penarik becak. Tapi jangan salah, pekerjaan yagn mengandalkan otot-otot itu dia geluti hanya dalam cerita sandiwara TVRI. Persisnya tahun 1973 tak lama sesudah dia dipindahkan tugasnya ke Jakarta dari Cilacap. 

"Begitu saya pindah ke Jakarta, langsung diajak kawan-kawan main sandiwara lagi," kenang Amoroso Katamsi jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogya tahun 1966. Apa judul Sandiwaranya? "Wah saya lupa. Yang saya ingat cuma pengarah acaranya Amir Hamzah, "katanya sambil mencoba mengingat ingat. 

Pamen ABRI berpangkat kolonel TNI AL ii memang bukan orang baru di bidang teater. Ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, Tam demikian panggilan akrabnya terlibat aktif dalam kegiatan pentas. Tahun '62-64 dia jadi anggota grup studi drama Yogya dibawah asuhan WS Rendra, kemudian Tater Muslim ('63-66). Selesai kuliah Amoroso memasuki dinas TNI AL (1966) dan selama tiga tahun hingga 1969 ditempatkan di kapal Skadron 31 (Sebagai dokter kapal). Turun dari kapal dia ditempatkan di Lanal TNI AL  Cilacap seabgai kepala kesehatan, hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 1973. Selama bertugas di darat itu Amoroso sempat membentuk grup Teater Widjajakusumah di Cilacap. 

Kecintaanya terhadap dunia teater ini rupanya sudah mendarah daging bagi putra pasangan Pak Slamet Martorahardjo/Iman Sopijay yang dilahirkan di Jakarta  21 Oktober 1940. Walaupun sehari-harinya dia cukup sibuk dengan tugasnya di lingkungan TNI AL, namun dia tak melewatkan kesempatan untuk tetap manggung, termasuk kegiatannya dengan Teater Kecilnya Arifin C Noer. 

Bertolak dari dunia panggung pulalah Amoroso Katamsi diajak main film. Dimulai dengan film semi dokumenter Darah Ibuku (1976). Disusul Cinta Abadi, Menanti Kelahiran, Terminal Cinta dan banyak lagi. Kesempatan paling berharga dan mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup ialah ketika dipercaya memerankan tokoh Mayjen Soeharto dalam film Penumpasan G 30 S/PKI, sebuah film yang mengungkap peristiwa berdarah G 30 S/PKI.

Tidak banyak orang tahu, bahwa Amoroso ketika masih menjadi mahasiswa dulu (1962-1966) adalah juga seorang penyanyi seriosa di samping penyanyi koor. Kegiatan dunia tarik suara memang sejak lama dia tinggalkan, namun kegiatan akting tetap akan dia pertahankan sampai entah kapan. 

"Kebetulan pimpinan memaklumi kegemaran saya," paparnya perihal dunia akting yagn digelutinya selama ini. Jadi kalau ada tawaran main film dan kebetulan waktunya memungkinkan biasanya Pak Dokter yang Pamen ABRI ini diberi kelonggaran oleh pimpinannya. Tapi seringkali juga persis ada tawaran dia sedang sibuk-sibuknya di kantor, sehingga sulit meninggalkan tugas. Kalau terjadi begitu maka panggilan tugas biasanya lebih diutamakan. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 18, 2026

SUTING FILM RAWING II


 SUTING FILM RAWING II, Lesunya Perfilman Nasional tidak membuat produser maupun sineas negeri ini staknasi. Sebaliknya, keadaan yang ada dijadikan semangat untuk mencari terobosan baru dalam memproduksi sebuah film. 

Alternatifnya tidak hanya anggaran di perketat, tapi juga sistem penggarapannya. Demikian produser Andi Mulyo yang kini berbendera PT. Elang Perkasa Fim menggerakan 'armadanya'. beberapa film telah diuji coba, diantaranya Saur Sepuh V, Angling Dharma II dan Tutur Tinular IV. Ketiganya action klasik tersebut di produksi didalam kota jakarta berlokasi di Taman mini Indonesia Indah dan  Kebon Binatang Ragunan. Meski rada lemah dalam sinematography, tapi lumayan dalam pemasukan. Dalam kondisi perfilman lagi lesu, ternyata sistem ini cukup efektif. 

Bukan hal yang mengagetkan bila Rawing II, film tema action klasik ini 100% berlokasi di Jakarta. Tommy Burnama selaku sutradara, membikin film tersebut 80% berlokasi di Pulo Mas Pacuan Kuda. Suatu hal yagn jarang terjadi membikin film tema action klasik di tengah kota yang padat penduduk. 

Area Lokasi suting paling banter 1000 meterr persegi, sementara di sekelilingnya terhampar kawasan rumah elite. Lokasi tersebut lebih mirip sebuah studio, hanya saja tak beratap. Dua bangunan utama, rumah panggung yang tak jelas akar budayanya, menjadi titik sentral tempat permasalahan (konflik) terjadi. Batang pohon akasia seperti dewa penolong dapat dijadikan bertenggernya kawat sling. 

Bangunan Induk tersebut dibikin dengan biaya tidak terlalu mahal, kayu rombengan dengan atap nipah kering sebagai bahan dasarnya cukup artistik untuk  kelas film action. Delsy Sjamsumar, selaku penata artistik cukup jeli memanfaatkan gundukan tanah sperti sebuah lembah di tengah bukit, di sebuah pedesaan. Kalau bisa di duga, semahal-mahalnya film ini paling banter menghabiskan dana 150 juta. Namun, anggaran bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membikin film laku. 

Dari keseluruhan suting, nyaris 75% adegan dibuat malam hari. Sangat menolong sekali untuk dapat menyolong lampu-lampu jalanan , maupun lampu-lampu yang datang dari rumah dikawasan elit itu. Kalau mau jujur, lokasi tak layak untuk membikin film bertema klasik. Kalau kamera berputar 90 derajat maka kamerawan akan menyapu atmospher yang berbau modern. 

Thomas Susanto selaku kamerawan tidak mau tinggal diam, akalnya cukup jeli mencari angle kamera. "Mau tidak mau, saya lebih banyak mengambil low angle, " katanya. Dengan menyapu kamera mengarah ke langit, menutupi atmospher modern. "Saya harus ekstra kerja keras, " katanya disela suting berlangsung. Tak jarang juga Thomas Susanto memanfaatkan sling untuk mencari kedinamisan angle. Dengan sling apa adanya, masih primitif bila dibangingkan film impor, tak membuat kru yang lainnya patah semangat. Malah sebaliknya, keinginan kru membikin film laku sangat menggebu gebu. 

"Kami tidak mau berteiak menangisi lesunya perfilman, sekarang bagi kami adalah membikin film laku, " kata seorang kru dari departemen artistik. Disana sini masih terdengar keluhan kru tentang honor film. "Kecil tidak apa-apalah, yang penting bisa kerja, " ujar kru lainnya yang tak mau di sebutkan jati dirinya. 

"Setelah dilihat rush-copy film ini ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan suting di Pelabuhan Ratu atau di Pangandaran. Yang jelas tidak ada kebocoran suasana modern, " kata Tommy Burnama di sela suting. 

Agaknya sistem suting seperti ini akan terus dilaksanakan setelah diuji cukup efektif. Industri film Hongkong sendiri membikin tema action klasik berlokasi suting ditengah kota. "Ketika kru Hongkong datang ke lokasi suting kami, mereka juga menyambut gembira. Begini cara kami membikin film di negeri kami, " kata Tommy menirukan kru film Hongkong. 

*****


Rawing I sangat beda dengan Rawing II dalam episode si Rawing Pilih tanding ini. Baik dari segi bintangnya maupun krunya. Rawing I disutradarai oleh Denny HW, berlokasi di Pelabuhan Ratu dengan pelakon utama Erick Soemadinata dan Anita Sarah Boom. Sedangkan Rawing II di sutradarai oleh Tommy Burnama dengan pelakon utama Bary Prima dan Christine Terry. 

Begitu juga dalam materi cerita. Dalam episode kali ini tidak hanya mengandalkan adegan laga sebagai gacoannya. Unsur komedi dan sensualitas juga alternatif lain yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. 

"Saya di percayakan untuk menghadirkan komedi. Tapi mereka minta komedi slapstik, yang saya hadirkan komedi situasi. Jadi saya bermain karakter. Garis cerita memang tokoh Ki Debleng yang memegang kendali, " kata Winky Harun di sela break suting. 

Cerita berawal dari Rawing dan Ki Debleng berhasil mengamankan desanya dari gangguan perampok. Namun, sial bagi Ki Debleng, karena barang yang dicuri para perampok adalah barang Nini Iswari, isterinya. Tentu saja Nini Iswari marah-marah. Ia menduga suaminya sendiri yang telah mencuri  barang berhaganya. Muncul tuduhan lain dari isterinya, bahwa semua barang-barang yang hilang selama ini adalah kerjaan suaminya sendiri, Ki Debleng. 

Kalau memang bukan Ki Debleng yang mencuri, maka ia tidak boleh keluar malam, demikian larangan istrinya. Tatkala Rawing hendak pergi ke Perguruan Macan Liar, Ki Debleng merasa perlu ikut. Akibarnya, ia dikejar-kejar Nini Iswari. Akhirnya, Rawing berhasil mengalahkan Gempar sementara Nini Iswari berhasil menangkap Ki Debleng. 

Para Pelakon diantaranya Barry Prima (Rawing), Yurika Prastica (Nini iswari), Wingky Harun (Ki Debleng), Yoseph Hungan (Gempar), Christine Terry (Kartika) dan Sinta Naviri (Dayang). 

Dibidang kru : Tommy Burnama (Sutradara), Prawoto Soeboer Rahardjo (Astrada) Thomas Susanto (Kameramen), Delsy Sjamsumar (Penata Artistik), Usman Jiro (Pencatat Skrip), Karim Muda (Pimpinan Produksi ) dan Naryono Hadi sebagai Pimpinan Unit. 


MF : 178/145/THIX 1-14 Mei 1993



Sunday, February 15, 2026

SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR


 SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR! (Berita Lawas)Untuk jadi pemain film memang memerlukan pengorbanan. Paling tidak itulah yang di alami Syarief Friant. Pasalnya laki-laki tinggi besar kelahiran Ambon ini harus menggunduli rambutnya yang hitam lebat hingga plontos. "Dengan kepala plontos begini saya kebagian peran Kubilai Khan dalam film Tutur Tinular, ' katanya. 

Film itu merupakan film kesekian puluh yang dibintanginya. "Temanya laga. Dan kali ini saya diarahkan oleh Nurhadie Irawan". 

Menceritakan keterlibatannya di dunia film, Syarief menyebutkan awal terjun ke dunia film adalah tahun 1982. "Waktu itu saya diajak untuk ikut main dalam film "Pendekar Liar", katanya. Dan sejak tahun itulah, katanya ia terus ketagihan main film meskipun belum mendapat peran yang berarti. "Tapi saya senang juga. Soalnya saya terus diajak ikut main meskipun peran yang saya terima baru peran pembantu," tutur Karateka yang cuma sampai sabuk coklat ini. 

Di akuinya sampai tahun 1989 sudah lebih 40 judul film pernah melibatkan dirinya sebagai pemain. "Baik peran-peran kecil maupun peran yang agak lumayan. Terakhir sebelum membintangi Tutur Tinular , ia ikut Liliek Sudjio  dalam film Misteri Dari Gunung Merapi, " ujarnya. Di film itu sendiri Syarief mengaku masih kebagian peran sebagai Jawara anak buah Mardian. "Ya masih dalam peran banting-bantinganlah, " kata pemain yang juga pernah jadi stuntman ini. 

Toh biar baru kebagian peran-peran yang melulu berkelahi , Syarief tak berniat berhenti dari film. "Saya terus belajar kok! baik dari sutradara maupun rekan-rekan sesama pemain yang lebih senior. Saya memang nggak belajar secara formal, tapi otodidak. Biar begitu saya tetap punya niat suatu saat nanti bisa dapat peran dalam film yang temanya lain," katanya. 

Dan itu memang sudah di buktikan Syarief dengan bermain dalam film komedi. "Saya sendiri nggak tahu apa alasan Arizal mengajak saya main dalam film komedi. "Saya sih mau aja. Dan kalaupun nanti ada yagn ngajak saya ikut main drama, saya tak menolak. Soalnya saya mau main dalam film bertema apa saja, " katanya. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Sunday, February 8, 2026

BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA


 BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH  UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA, Agaknya tak seorang pernah membayangkan kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang jendelanya tak pernah di buka. Tapi itulah yang di temui Buce Malawau ketika ubek-ubekan mencaro lokasi untuk suting film "Tragedi Bintaro".

"Saya kaget juga. Kusen jendelanya malah sudah pada keropos. Tapi rumah itu masih tetap di tempati yang punya sepasang suami istri yang sudah tua. Begitu ketemu rumah itu, saya langsung saja tertarik. Padahal hati kecil saya was-was juga", kata sutradara Tragedi Bintaro ini. 

Rumah di jalan Perdatam Raya kawasan Pancoran menurut Buce, memang sangat unik. Letaknya di pojok. Di sela-sela rumah penduduk. Sekeliling umah ditutupi oleh rimbun pohon bambu dan pohon-pohon lain. Cat dindingnya yang putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Dan lebih dari semua itu, perabotan rumah itu tampak seperti dibiarkan berantakan. 

"Mulanya sulit juga meminta izin pada pemilik rumah tersebut untuk tempat suting. Tapi lama-lama mereka benarkan juga. Dengan catatan, jendela tetap tidak boleh dibuka, " ujar Buce. Karena tak menemukan alasan yang tepat mengapa jendela tak boleh dibuka, Buce lalu mencoba bertanya pada orang-orang disekitar rumah itu. 

Tragedi Bintaro, kisah nyata yang ditulis menjadi skenario oleh Marseli ini, adalah film ke lima Buce setelah "Gerhana", "Beri Aku Waktu", "Luka diatas Luka", dan "Cinta Anak Jaman". Tapi ada yang membuat Buce, seperti katanya harus berhati-hati menerima skenario yang disodorkan padanya. "Soalnya saya tidak ingin pengalaman menggarap "Cinta Anak Zaman" yang ternyata saduran dari film barat, terulang lagi, " katanya. 

Lalu tentang rumah angker itu?, "Mudah mudahan selama 15 hari suting disitu, semua berjalan aman. Meskipun untuk itu saya dan semua kru harus ekstra hati-hati. Soalnya langit-langit rumahnya saja sudah pada bolong, " komentar Buce. "Rasanya kita memang sulit bisa percaya kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang tak pernah terbuka jendelanya, " kata Buce lagi. Tapi untuk suting kali ini, Buce toh merasakan manfaat rumah seperti itu.


~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988