Showing posts with label Film Jadul. Show all posts
Showing posts with label Film Jadul. Show all posts

Monday, June 22, 2026

MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN'

 


MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN' (berita lawas). Suting film "Rini Tomboy" nyaris terhenti pada saat sudah mencapai 75 persen. Produser Handi Muljono dari PT. Kanta Indah Film, bagai kehabisan nafas karena beberapa film produksinya berbujet besar sebutlah seperti "Saur Sepuh 4", "Tutur Tinular 2" dan "Balada Cinta Anglingdarma" kurang begitu berhasil dalam peredarannya. Akibatnya modal sekitar 3 milyar rupiah, sulit kembali. 

Maka, kelanjutan penyelesaian tiga film produksi terakhirnya pun menjadi tersendat-sendat. Tiga film tersebut adalah "Badai Laut Selatan", "Kamandaka" dan "Rini Tomboy" ini. 

Untunglah kemudian dicapai kesepakatan dengan pihak Subentra Bank yang bersedia mendukung dana untuk merampungkan film-film diatas. 

Di pimpin Megawati Santoso yagn melanjutkan kerjanya sebagai Produser Pelaksana, sutradara, pemain dan kru Rini Tomboy berangkat ke Yogya. Seperti di ketahui, pemeran Rini adalah pendatang baru Cornelia Agatha Dachlia, didukung oleh bintang-bintang muda seperti : Adjie Massaid, Titi Dwi Jayati, Nunu Datau serta dua remaja gres lainnya, Ninette Maritya dan Hendri Hendarto. 

Mereka berenam nampak kompak bersepeda berkeliling desa di Pantai Kukup, sekitar 60 kilometer di selatan Yogya. Dalam foto diatas terlihat Titi memboncengkan Nunu, dan Adjie memboncengkan Hendri masing-masing dengan sepeda perempuan. Tapi lihatlah Lia yang  memboncengkan Ninette, sengaja tampil beda dengan sepeda jantan.!

"Ho..ho..hoo, itu memang disengaja, " tawa sutradara Noto Bagaskoro yang setambun Samo Hung, " itu ciri khas untuk menunjukkan watak tomboy Rini yang selalu ingin tampil sportif dan boyish, kendati begitu ia masih tetap nampak manis kan?.~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Friday, June 19, 2026

ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT


 ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT (berita lawas). Ia terbilang 'gres', bahkan masih 'bau kencur'. Terakhir kali ia terlibat film Blok M. Siapa dia? Dia Aldonna Viveronica. Biasa dipanggil Donna saja. Dengan celana jeans dan T.shirt menempel di badannya, sebagaimana layak pada gadis usia tujuh belasan. Apalagi dengan melihat foto-fotonya yang sempat menjadi sampul di beberapa penerbitan ibukota. Padahal 14 Januari (1992) yang lalu berusia 13 tahun. Dilahirkan di Bandung, 14 Januari 1979 dari pasangan Aldo Toncic dan Ika. 

"Hanya badan saya saja yang kelihatan bongsor, padahal saya ini masih kecil. Kalau tidur saja masih suka dikeloni oleh mama dan papa, " kata si bontot dari 6 bersaudara ini. 

Bagi Donna, bidang seni pada umumnya tidaklah asing. Tahun 1989 pernah tampil sebagai penyanyi cilik. Dua album yang dihasilkannya adalah "Apa Namanya" dan "Jangan Menangis Isabella". Waktu itu saya sering muncul di TVRI, lewat acara lagu Anak-Anak, sehingga dilirik oleh produser dan selanjutnya diajak rekaman. Karena kesempatan itu sangat menarik, tentu saya tidak sia-siakan. Kebetulan mama, papa dan seluruh keluarga memberi dorongan, " cerita Donna. 

Bicara soal kesempatan main film pun tidak dilewatkan. "Mama berpesan, semua yang terbaik untuk Donna tidak akan dilarang. Menyangkut soal gosip dalam kehidupan artis, tentu saja saya harus pandai-pandai menjaga diri. Soal gosip itu sendiri sudah konsekuensi semua artis, " kata pemilik tinggi dan berat 160 cm dan 39 kg ini, sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. 

Film dan musik memang sudah jadi obsesinya. Untuk itu dalam bidang tarik suara ia belajar vokal di Tripel M Production dan untuk meningkatkan kemampuan di bidang akting ia gabung dengan Channel 2000.

Pelajar SMP pengagum Madonna dan Michael Jackson ini, pernah juga jadi peragawati cilik. Lantas apa cita-cita Donna sebenarnya.?. Ia tidak lantas menjawab, pikirannya menerawang, "Wah sebenarnya Donna ingin menjadi wanita yang sukses di bidang apa saja. Pokoknya menjadi orang sukses deh, kalau bisa sebagai wanita karier. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Monday, June 15, 2026

"SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN"


 FILM "SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN" (berita lawas). Raviman Film sudah mulai memproduksi film ketiganya. Kembali di sutradarai Henky Solaiman berdasarkan cerita-skenario rekaan Asrul Sani. Bintang-bintang yang dipasang antara lain Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Firdha Razak, Wahab Abdi, Jajang C Noer,  dan sutradaranya sendiri ikutan pegang peranan juga. 

Judul semula "Sudah Dong" namun kemudian produsernya, manu Sukmajaya kaget sendiri manakala menyadari betapa banyak film Indonesia yang eblakangan ini pakai judul "dong-dongan". Coba saja lihat mulai "Gantian Dong", "Sabar Dulu Dong", "Antri Dong" sampai "Jangan Paksa Dong". "Wah penonton bisa kisruh nanti karena judul-judul tersebut serupa tapi tak sama," keluh Manu. 

Omong punya omong dengan beberapa relasi, akirnya ketemu juga judul baru yang dirasa lebih tepat "Kepingin Sih Kepingin". Namun judul ini nyaris di tolak pihak Deppen, dengan dalih asosiasinya ke arah yagn rada miring. Karuan saja Manu ngotot mempertahankannya. "Ceritanya tentang seseorang yang kepingin sukses dalam usaha banyak tapi tak kunjung berhasil, jadi ia cuma bisa kepingin sih kepingin. Pak Asrul sendiri sudah setuju denan judul ini."

"Terus terang ide ceritanya dari film komedi "Tootsie" (di bingangi Dustin Hoffman) yang belum lama ini ditayangkan di TVRI sebagai film cerita lepas", mengaku Manu. 

Kalau dalam film itu Hoffman harus menyamar jadi wanita agar memperoleh peran dalam sebuah serial televisi, maka sekarang Deddy Mizwar pun kudu menyaru jadi Mience supaya dapat pekerjaan. 

Saat suting di sebuah kantor dibilangan Pulo Gadung Jakarta Timur, terlihat Deddy Mizwar datang melamar pekerjaan kantor. Mula-mula ia diterima dengan baik oleh manager personalia yang idperankan oleh Henky Solaiman. Tapi manakala datang pelamar lain, seorang wanita yang berani menyingkapkan rok untuk memamerkan pahanya, sontak mata Henky 'hijau". Deddy tak jadi diterima bekerja, diganti cewek ini. Merasa sakit hari, esoknya Deddy datang lagi dengan memakai wig dan berdandan genit. Bukan cuma Henky yang matakeranjang, tapi sang boss Wahab Abdi pun langsung menerimanya. lalu apa yang terjadi selanjutnya? ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, June 14, 2026

CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA!

 


CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA! (berita lawas) Begitulah judul beritanya. Sudah pernah nonton Walet Merah? Tahu Nursiah? inilah pemerannya. Cewek Indo pemilik nama Luciaya Christine Terry ini mengaku kadung cinta terhadap film. Berbau klise memang, karena niatan main filmpun katanya sudah tersirat sejak usia kanak-kanak. 

Entah kenapa, kesempatan itu malah baru terwujud setelah usianya menjelang 17 tahun. Mengakunya karena belum tahu jalan, hingga ketemu Susan Aryani yang memperkenalkannya pada seorang sutradara. 

Baru tiga film dilakoninya sejak pertama kali tampil dalam film "Lenyapnya Ilmu Misteri". lainnya film "Cinta Yang berlabu" dan "Suromenggolo" garapan Dasri yacob. 

"Ya..daripada main-main nggak puguh (tidak karuan) lebih bik coba-coba main film, " kata Christine yang bungsu dari tiga bersaudara pasangan Terry Duloney asal Kanada dan Suminawaty berdarah Sunda yang lahir di Bandung 24 Desember 1973. Mungkin sudah takdir Christine tak kenal Papanya yang memutuskan kembali ke Kanada ketika ia berusia 8 bulan. 

"Katanya wakt itu mama nggak mau ikut ke Kanada, sedang papa juga nggak kembali lagi kemari, " kata Christine. Mungkin karena itulah masa remaja Christine sekarang ini sedikit labil ketimbang remaja sebayanya. Semacam Oedipus Complex, karena ia lebih menyukai laki-laki setengah baya daripada yang tergolong masih remaja. 

Itulah awal malapetaka baginya. Keinginan mendapatkan kasih sayang dari laki-laki selalu patah di tengah jalan. Lelaki dambaannya dengan figur seorang bapak ternyata telah beranak istri. 

Cinta selalu menyakitkan buat Christine, yang membuatnya nyaris menghabisi nyawanya sendiri dengan menyilet pergelangan tangan. 

"Frustasi berat deh. namanya juga cinta pertama, " akunya. Bahkan melihat bekas-bekas luka di pergelangan tangannya, sepertinya pernah kecanduan obat-obatan terlarang. 

Sadar akan kenyataan, upaya mendapatkan kasih sayang dari laki-laki yang kebapaan, selalu menimbulkan petaka, tapi pengalaman serupa masih tetap terulang. 

"Habis sukanya sama yang sudah dewasa sih. Kalau yang sebaya kayaknya gimana, gitu," kilahnya. 

Kembali ke soal film, Christine juga tidak tahu kenapa ia menyukai bidang yagn satu ini. memang ia akui di film ia dituntut lebih dewasa dalam segala hal. Karena itulah Christine mengharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bisa mengangkat namanya ke jenjang popularitas. 

Akan halnya ketika ikutan film "Suromenggolo" yang berlokasi di Gunung Bromo itu, banyak hal yang membuat Christine lebih mapan. Ya dalam kepribadian yang menyangkut pergaulan juga soal karier. Itu tentu karena bisa refreshing dan menjalin kekeluargaan dengan berbagai tipe dan perangai manusia. Kebetulan, kata Christine, perannnya cukup lumayan dan bukan figuran. Apalagi Dasri Yacob, sebagai sutradara sangat supel, penuh pengertian dan sabar dalam membimbing. 

Di Film yang satu ini, Christine berperan sebagai Putri Kuning. "Ada tantangan gitu, Putri kuning itukan nakal dan suka nyeleweng. Ya.. gitu deh..," katanya. 

Main buka bukaan dong?

"Iya sih, tapi nggak terlalu gimana-gimana kok. Cuma kesannya aja, " jelas Christine. 

Memang, Christine mengaku tidak terlalu banyak aturan untuk adegan yang cenderung mengundang birahi. Yang penting baginya, cerita dan perannya bagus serta nggak mengada ada. 

Kalau kelak mengundang kesan setelah film jadi, bagi Christine bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. "Terserah apa kata penonton. Yang penting bagi Christine, tidak melakukan dengan sebenarnya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Monday, June 8, 2026

ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG

 


ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG, (berita lawas). "Tidak seluruh masa kecil saya indah. Seperti halnya manusia lain, pasti penuh dengan pengalaman asam garam. Sebab rasanya tidak berseni kalau hanya diisi oleh satu warna saja. Indah melulu atau sebaliknya, " ujar Achmad Albar yagn lebih akrab di panggil Yik. 

Masa kecil yang sulit dilupakannya adalah usia 10 tahun, ketika namanya sudah populer di masyarakat, gara-gara pada usia 8 tahun membintangi  film Jendral Kancil yang disutradarai Nya' Abbas Akup. Namun Yik menolak kalau peran utamanya pada film tersebut disangkutpautkan dengan ayahnya sebagai produser film. "Sama sekali tidak. Saya lolos test dari ratusan anak lainnya yang melamar," gelaknya, yang juga menjelaskan, bahwa saat itu juga sudah bermain musik di kelompok Bintang Remaja dan kemudian pindah ke grup Kwarta Nada yang penyanyi serta personil musiknya adalah Titi Qadarsih dan kakak-kakaknya dari keluarga Sarjan. 

Selanjutnya, Yik pada tahun 1967 seusai menamatkan SLA, berangkat ke Belanda dan sekolah musik di Bergen of Zonn. Di negeri kincir angin itu, ia mendirikan grup band dengan Ludwig Le Mans dan pakai nama Clove Leaf (Daun Cengkeh). "Sesuai dengan kelopak cengkeh 5 buah, jumlah pemain kitapun begitu," beber Yik, yang setelah kembali ke Indonesia bersama Ian Antono, Yockie Suryoprayogo, Teddy Sunjaya dan Donny Fatah tetap meracik musik rock membentuk kelompok God Bless. 

Kecintaannya pada dunia akting tetap tidak ditinggalkan, ujar rocker yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946. Beberapa peran dimainkan lewat film "Laki Laki Pilihan", Ambisi, Laela Majenun, Si Doel Anak MOdern, Duo Kribo, dan masih banyak lagi film lainnya. 

Berkat film Laela Majenun yang dibintanginya dengan Rini S Bono tahun 1975, keduanya menjadi intim dan melangsungkan pernikahan pada tahun 1978.

Sebagai pasangan suami istri dengan profesi sama, segudang pengalaman dalam karier tentu bisa diterapkan kepada ke3 putranya, Fauzy Aldino (13 th), Fakhri Albar (10 th), dan Faldi Albar (9 tahun). Seperti halnya yang sulung, Fauzy, dia senagn bidang nyanyi dan siap rekaman dengan penata musik Harry Anggoman," jelasnya. 

Lalu ada taktik lain yang dilancarkan pemilik boutique Albara Collection serta vokalis kelompok musik Gong 2000 dalam mendidik putranya yang memilih jalur seni. "Berhubung saja tahu mana ranjau-ranjau berbahaya yang tidak boleh di jelajah oleh seorang artis, maka setidaknya hal ii diberitahukan kepada anak-anak saya, " tuturnya hati-hati. ~sumber : MF No. 146/113/TH VIII, 1 - 14 Feb 1992


Saturday, June 6, 2026

LUPUS V, Menjawab Keharusan

 


LUPUS V, Menjawab Keharusan  (film lawas). Mengefektifkan hari kerja dalam upaya menekan pembengkakan biaya produksi, atau kalau bisa tidak melampaui anggaran yang disediakan merupakan suatu keharusan. Penghematan, adalah alasan yagn selalu dilontarkan pihak produser. 

Keharusan itu rupanya disadari benar oleh sutradara yang mendapatkan job. Sebagai contoh, misalnya Yasman Yazid yang baru menyelesaikan suting film Lenong Rumpi. Dalam menggarap film, terbarunya itu, Yasman berhasil menekan hari sutingnya, selesai hanya dalam 14 hari. Baginya ini adalah rekor tercepat dalam menyutradarai film cerita. 

Achiel Nasrun, salah seorang sutradara yagn juga tergolong cekatan berusaha pula menjawab keharusan tersebut. Itu ia buktikan dengan menyelesaikan suting Lupus V lebih dini dari jadwal yang  ditentukan. 

Penyelesaian Lupus V yang tetap dibintangi Ryan Hidayat dan Firda Razak sebagai bintang utama. Memang tidak secepat Lenong Rumpi. Soalnya kalau Lenong Rumpi 80% lokasinya dalam rumah, sedangkan Lupus V banyak lokasi eksterior. "Namun yang jelas, kami sudah bisa menyelesaikan lebih awal" kata Achiel tanpa merinci hari sutingnya. 

Masih dalam upaya pengeluaran biaya ringan, serial Lupus V menampilkan Pak Tile, Diah Permatasari, Minel, dan Conny Nurlita serta Anwar Fuadi, biaya produksi di pikul ramai-ramai oleh tiga produser yaitu Anton Indracaya, Rames dan Johny Pandega. Serial sebelumnya hanya di produksi PT. Andalas Kencana. 

Keterlibata Lia Swatika Film dan Pancaran Indra Cine, konon sebagai penyandang dana lebih besar dari produser pertama. Tentang hal ini, semua pihak tidak mau membeberkan alasannya. Diperkirakan film yang bertema remaja itu akan masuk pasarang jelang akhir tahun 1991 dan menyambut Tahun baru 1992.  ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Thursday, June 4, 2026

KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS


 KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS (film lawas). Kisah pelindung suaka margasatwa yang harus berhadapan dengan pemuru liar pengincar gading gajah, sudah pernah di filmkan pada tahun 1962 oleh Howard Hawks dengan judul "Hatari!" (dari bahasa suku Swahili yang berarti "Bahaya!") yang menampilkan akrot-aktris populer seperti John Wayne, Elsa Martinelli, Red Buttons, Hardy Kruger, dan Bruce Cabot. Film yang benar-benar dibuat dilokasi suaka margasatwa Tanganyika, Afrika ini memadukan aksi-petualangan dan komedi secara sangat menarik. Sampai sekarangpun, musik instrumentalnya "Baby Elephant Walk", garapan Henry ancini masih sering disiulkan orang. 

Kendati ide cerita dari Pemda Tingkat I Lampung dan PT. Inter Ksatrya Film yang dituliskan menjadi skenario oleh Teguh Karya dan difilmkan dengan judul "CINTAKU DI WAY KAMBAS" oleh sutradara pemula Iwan Wahab ini, tak bisa dibilang sebagai jiplakan, namun rasanya tetap ada pengaruh dari kesuksesan "Hatari!" tersebut. 

Di bintang utamai oleh Mathias Muchus sebagai Jaru, si pelatih gajah Ira Wibowo sebagai Mega, Perally merangkap wartawan, dan Rini S Bono memerankan si Drh, Intan. Di dukung oleh pemain-pemain Harry Capri, WD Mochtar, Chitra Dewi, Nani Somanegara, Bram Adrianto serta Krisno Bossa yang kocak-konyol sebagai pembantu pelatih gajah. 

Pertemuan pertama antara Mega dan Jaru terjadi diatas kapal Ferry dari Merak ke Lampung. Mega dan Diana mendaftarkan diri sebagai peserta rally mobil. Namun perjalanan mereka terhambat oleh amukan gajah liar yang memporakporandakan sebuah perkampungan. 

Jaru menyelamatkan Mega dan Diana yang nyaris diterjang gajah liar. Batal ikut rally, Mega yang demam panas dirawat Jaru di Pusat Latihan Gajah di Way kambas. 

Kalau semula Mega memandang Jaru sebagai lelaki kasar yang pernah dilihatnya "menyiksa" gajah, perlahan-lahan ia mulai memahami. Jaru dan kawan-kawannya sebenarnya mengemban tugas luhur dan penuh tantangan untuk memasyarakatkan gajah dalam kehidupan manusia, bahkan melindungi mereka dari ancaman pemburu liar yang mengincar gadingnya. 

Mega menyibukkan diri dengan memotret seluruh kegianan Jaru. ia tak mengikuti Diana yang pulang ke Jakarta, agar bisa lebih jauh mendokumentasikan romantika kehidupan para pelatih gajah. Sementara benih cinta mulai tumbuh dihatinya. 

Padahal ada Drh. Intan yang tengah membaktikan dirinya di PLG ini. Kecantikan dan kelembutannya membuat Jaru diam-diam mencintainya. Namun ia tak pernah berani mencetuskannya. Sesungguhnya Intan memang telah bersuamikan Budi. Tapi pengusaha muda dari Jakarta ini, pernah dipergokinya menyeleweng, berpacaran dengan Hilda. Peristiwa inilah yang membuat Intan meninggalkan rumah dan kedua anaknya. 

Konflik terjadi ketika Budi menyusul datang. Intan berkeras tak mau diajak pulang. Jaru yang berusaha melerai malah membakar kecemburuan Budi hingga menghajarnya. Anehnya polisi setempat membiarkan Budi kabur begitu saja. 

Sekarang berbalik, Mega yang merawat Jaru. Pemuda inipun mengakui dirinya lebih paham tentang gajah daripada perempuan. Tapi tak tahukah Jaru akan kasih Mega terhadapnya? Ataukah ia mengharapkan agar Intan bercerai dari Budi?Diseling dengan adegan penangkapan pembajak gading yang diorganisir, akhirnya Jarupun menemukan cinta sejatinya. pesta perkawinan Jaru pun dimeriahkan oleh pertunjukkan gajah-gajah main sepakbola. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


Wednesday, June 3, 2026

JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT"

 


JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT" (film lawas). Ada sutradara  yang seolah mengkhususkan diri hanya menggarap film-film bertema drama, ada pula yang spesial pengarah komedi, tapi Sisworo Gautama Putra nampaknya lebih memilih untuk bikin film-film bertema horor-mistik. 

Begitu pula halnya dengan bintang langganannya, Suzanna, sejak sukses diarahkannya lewat "Sundelbolong" sampai sekarang telah bermain dalam belasan judul film dengan tema serupa. Belakangan ini, hampir semua film arahan Sisworo dan juga dibintangi Suzanna di produksi oleh PT. Soraya Intercine Film. 

Produsernya Raam Soraya memang punya dua tema film yang dijamin kelarisannya dalam peredaran. Yang pertama, serial komediannya Warkop dan yang kedua serial horornya Suzanna, "Rata-rata produksi kami berhasil mengumpulkan diatas 300ribu penonotn untuk bioskop-bioskop di Jakarta saja!" berbangga Raam sambil menunjuk bukti autentik dari catatan P.T. Perfin. 

Kali ini, Raam dan Soraya menjajal mempertemukan  Suzanna dengan Elly Ermawatie , bintang yang melejit lewat peran Mantili dalam serial "Saur Sepuh". Kalau Suzanna tetap memerankan tokoh wanita yang kemasukan arwah, bahkan jari tangannya bisa berubah menjadi pisau-pisau runcing ala iblis Freddy Krueger dalam serial horor "A Nightmare on Elm Street?. Sebaliknya Elly diserahi peran sebagai guru pesantren yang sakti. 

Kedua pemeran utama tersebut di dukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi, antaranya Yenny Farida, TIno Karno, Soendjoto Adibroto dan Clift Sangra. 

Cerita diawali dengan diangkatnya Hendro yang punya reputasi kerja gemilang, menjadi Pimpinan Proyek. Sekaligus ia menggantikan kedudukan. Burhan yang diturunkan jabatannya menjadi wakil pimpinan. 

Kedengkian Burhan kian menjadi, demi melihat Presdir Perusahaan juga menghadiahkan pada Hendro sebuah rumah besar plus berlibur bersama seluruh keluarga di Swiss. 

Dibakar rasa sirik, Burhan diam-diam menghubungi kawanan Teddy, manusia-manusia tak bermoral yang bersedia melakukan apa saja asalkan dibayar. Burhan menginstrusikan Teddy cs untuk melenyapkan Hendro yang dituduhnya telah merebut jabatannya. 

Maka pada malam, sepulang dari serah terima jabatan itulah, rumah Hendro disatroni kawanan Teddy. Dengan kebuasan tak kepalang, bukan saja Hendro yang di habisi, tapi juga isterinya, Kartika, serta putera puteri mereka, Dina dan Dino yang masih kecil-kecil. 

Berbarengan dengan berlalunya kawanan Teddy dari rumah berdarah itu, tanpa terlihat oleh mata telanjang, terjadi suatu peristiwa gaib. Jasad Kartika disusupi arwah gentayangan seorang bromocorah yang semasa hidupnya telah melakukan serangkaian pembunuhan sadis. 

Maka, pada saat-saat angker, muncullah sosok Kartika yagn menghantui penghuni baru bekas rumahnya. Demi desas desus ini didengar oleh Burhan. Iapun memanggil kembali kawanan Teddy. Di kutuknya mereka yang telah begitu kejam menghabisi nyawa seluruh keluarga, bahkan yang hendak disingkirkannya hanya Hendro seorang saja. 

Sosok Kartika yang ditunggangi arwah bromocorah mulai berkeliaran mencari orang-orang yang mencelakainya. Satu persatu anak buah Teddy, dimulai dari Mario, Petrus, Vivi sampai Tino menemui kematian mengenaskan dengan  berbagai macam cara. Sesudah Teddy sendiri juga tewas secara mengerikan, tinggallah Burhan sebagai otak kejahatan yang diteror ketakutan sendiri. 

Kejadian-kejadian menggemparkan yang sulit dijelaskan dengan logika ini, menarik perhatian Fitria, guru pesantren yang mendalami ilmu supernatural. Dengan kewaskitaannya, Fitria bisa mengetahui kalau jasad kartika ditunggangi arwah jahat. Maka dengan cara-cara khusus ia ingin membebaskan Kartika. 

Dalam pada itu, Letnan Polisi Hartono juga sibuk melacak serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi. Kendati Fitria dan Hartono menggunakan metode masing-masing yang sangat berbeda, namun akhirnya bersama-sama berhasil mengungkapkan semua rahasia. 

Melalui pertarungan seru dengan Kartika, akhirnya Fitria yang melafalkan ayat-ayat suci berhasil mengusir arwah gentayangan si bromocorah. Jasad Kartika yang terkulai, dikebumikan secara sewajarnya. Bersamaan, Hartono pun membekuk Burhan sang otak kejahatan.~~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


LENONG RUMPI!

 


LENONG RUMPI! (film lawas). Lenong, Kesenian tradisional Betawi seakan-akan identik dengan ciri khas : Pemain patuh menggunakan dialek Betawi, berwajah kumal dan tampang "kampungan".

Sebagai kesenian tradisional, nasibnya tidak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lainnya, dijauhi penggemar. Karena itu, tidaklah heran bila kehidupan grup lenong yang adapun bernafas Senen-Kemis. 

Dengan niat mengangkat dan mempopulerkan kembali Lenong, RCTI menyajikan acara daegelan kocak Lenong Rumpi. Lenong yang satu ini berbeda dengan lenong yang selama ini kita kenal. 

Lenong Rumpi mencoba melepaskan diri dari pakem, mengungkap tema cerita yang aktual dan yagn paling mencolok para pemainnya berwajah kece. 

Dan ternyata, acara yang ditayangkan RCTI tiap malam Minggu mencapai sasaran. Mulai anak-anak kecil sampai orang tua menggemarinya. 

Karena digandrungi masyarakat, maka produser film pun ikut gambling untuk mencari keuntungan. Adalah Parkit Film yang mengangkatnya ke layar perak.

Latah? mungkin saja ada yang bilang demikian. Sang cukong cuma bilang, "kita kan ingin ikut mempopulerkan". Maksudnya lanjut produse itu, mempopulerkan lewat bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kalau RCTI kan hanya terbatas di daerah Jabotabek atau mereka yang punya parabola, " katanya beri alasan. 

Yasman Yazid, sutradara yang mendapat kepercayaan menggarap film tersebut, mengatakan "Sekarang ini, untuk membuat film drama memang agak riskan. Pemasarannya kurang menguntungkan. Mungkin itu sebabnya produser memproduksi yang ringan-ringan saja."

Yasman Yazid pun mengaku sudah agak lama rindu menggarap tema drama, tapi, ia mau mengerti keadaan sekarang. "Birunya biru yang sudah lama siap, terpaksa harus  menunggu lagi. Dan entah sampai kapan harus menunggu. Yang jelas kita mesti s harus bersabar dulu!" Tegasnya mencoba mengerti keadaan.

Tentang film terbarunya, Lenong Rumpi yang tetap dibintangi pemain aslinya : Ira Wibowo, Roby Tumewu, Debby Sahertian, Harry De Fretes, dan Era Gloria, sutradara yang cukup lama ngendon di Parkit Film itu, mengakui cerita yang ditampilkannya adalah cerita ringan. "Namanya film komedi, kalau ceritanya berat, jadi film drama!" kata Yasman memberi alasan. 

Lalu, lanjutnya sebagai Lenong, kewajibannya yang tak ditinggalkan adalah dialek Betawinya. Cerita yang diangkat Yasman adalah tentang mahasiswa yang berasal dari daerah : Padang, Manado, Majalengka yang kuliah di Jakarta. Karena dari daerah, maka mereka harus mencari tempat kos. Dan tentu saja mereka mencari kos-kosan yang murah. 

Adalah mpok Hamida, Bang Maruloh yagn menyediakan kos-kosan murah itu. Cuma ada kewajiban. Siapapun yang kos dirumah pasangan suami-istri yang Betawi asli itu, diharuskan menggunakan dialek Betawi. Maksudnya, tentu saja agar para mahasiswa atau kalangan intelektual mau mempertahankan salah satu budaya bangsanya dan menyebarluaskan kesenian Betawi. 

Persyaratan menggunakan dialog Betawi, bagi mereka yang berasal dari daerah, memang agak merepotkan. Hanya bayar kosnya murah, merekapun menerima persyaratan tersebut. 

"Disinilah saya menggarap komedinya!" jelas Yasman. Lenong Rumpi beredar akhir tahun 1991 untuk menyambut tahun baru 1992. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991



ONKY-MITHA CINTA LOKASI

 


ONKY-MITHA CINTA LOKASI (kisah lawas). CINLOK- Cinta Lokasi? Paramitha Rusady dengan Onky Alexander terlihat intim saat suting film Catatan Si Boy V garapan Nasri Cheppy. Sikap itu 'mekar' ketika di Las Vegas, Amerika Serikat. Tiga bulan adalah waktu yang panjang untuk saling menjajaki, seiring panjangnya hari suting. 

Keduanya, menyembunyikan benang kasih itu dihadapan kru film, namun tercium juga,  Sebab di sela berak suting, mereka selalu menghindar dari yang lain. Sepulang dari luar negeri keduanya semakin intim. 

Disinggung tentang cinta itu, Onky dan Mitha mencoba menepis. Alasannya mereka sengaja melakukan pendekatan untuk mengekspresikan peran. "Yah itu terserah penilaian orang. Saya memang belum punya pendamping, semua itu tergantung Allah," kata Mitha pelan. Onky pun mengatakan hbungannya dengan Paramitha biasa-biasa saja. 

"Ia melakukan pendekatan untuk mencari ekspresi perannya di film Cabo V" katanya sambil melirik Paramitha. Selanjutnya Onky menjelaskan sesama artis selayaknya berkomunikasi. 

"Saya pasrah jika Allah menghendaki. Tul nggak mas?" cetus Onky tersenyum dan kembali melirik Paramitha yang berdiri disampingnya. 

"Kawin itu untuk selamanya. Buat saya nggak usah tergesa-gesa. Yang penting saya siap mental dalam segala-galanya", jelas Mitha mengakhiri Obrolan. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Tuesday, June 2, 2026

NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON

 


NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON (berita lawas). Emon, ben cong bertubuh gempal itu memang identik dengan Didi Petet, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tokoh itu mencuat setelah sukses komersial Catatan Si Boy (Cabo) yang di sutradarai Nasri Cheppy. 

Sukses Cabo I yang mengatrol nama Onky Alexander menjadi idola kaum remaja dan Didi Petet kepuncak prestasi dengan memperoleh piala Citra, meski lewat film lain, mampu pula mengusik sanubari sang produser untuk memproduksi serial berikutnya. 

Cheppy kini jadi sutradara kondang. Didi Petet akirnya jadi rebutan para produser dan Onky tetap jadi idola kaum remaja. Mereka boleh bangga, karena secara finansial, juga mereguk sukses. 

Konon kabarnya, mereka termasuk orang-orang film "termahal" saat ini (itu). Selentingan, Cheppy honornya mencapai 40 juta, Didi Petet tak jauh berbeda dengan Onky hanya sedikit dibawah Petet. 

Meski ketiganya merupakan personal inti, selain Meriam Bellina dalam Cabonya Cheppy, namun dalam Cabo IV yang jadi giliran Parkit Film yang memproduksinya, Emon yang kemudian jadi Si Kabayan, tak lagi terlibat. 

Tekad Emon untuk melepaskan diri dari Didi Petet memang telah bulat. Kabarnya, dibayar berapapun besarnya, Didi Petet tak mau lagi memerankan tokoh Emon. Apakah ini bukan hanya sekedar taktik dagang? "Entahlah, itu rahasia Petet dan produser film kita."

Lalu, siapa pengganti Emon dalam Cabo IV? Penggantinya memang ada. Tapi, kata Cheppy tokoh Emon tak lagi mau dimunculkan, " jadi yang di ganti Didi Petet, sekaligus Emon!", tegasnya. 

Nah lho, mampukah si pendatang baru itu mengisi kekosongan yang ditinggal Petet untuk selama-lamanya? "Saya akan mencobanya seperti ketika saya juga mencoba Onky , Didi Petet di awal kisah petualangan. Si Boy di layar perak ini, " jelas Cheppy. 

Tentang Cabonya yang menurut rencana akan di produksi sampai 8 serial, Cheppy bilang "Saya akan tetap berusaha menampilkan Cabo. Cabo itu agar tetap menarik. Hilang Didi Petet dan Zainal Abidin, muncul dua nama pemain tenar lainnya, Paramitha Rusady dan Robert Syarief , ayah Dewi Yull dalam serial sinetron Sartika. Pokoknya saya akan tetap berusaha memberikan kepuasan kepada penggemar Cabo!".

Ia juga bilang, Cabo IV tidak akan berhura hura keluar negeri seperti Cabo II yang sampai LA. "Kali ini , Si Boy hanya akan sampai ke Bali saja!" jelas Cheppy. Lalu apakah kesan Wah, yang selama ini telah melekat pada diri Onky setelah dari luar negeri tidak akan drop?.

Cheppy menyadari hal itu, tapi ia juga berjanji akan berusaha memberikan suguhan lain yang lebih menarik. Meski adanya hanya di dalam negeri, Jalinan dan bobot cerita, katanya akan lebih di perhatikan. "Saya akan menyuguhkan adegan yang lebih mempunyai greget, !" janjinya. 

Suting pertama mengambil lokasi di sebuah rumah tua didaerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Suting di Jakarta, kata Cheppy hanya sekitar 40 persen, selebihnya di Bali. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Monday, June 1, 2026

JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA


 JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA (suting film). Firman Triyadi, sutradara anyar jebolan LPKJ, yang dipilih oleh duo produser Budiati Abiyoga-Adi Putra Tahir untuk produksi bersama PT. Prasidi Teta Film dan PT. Mutiara Eranusa Film yang berjudul "Jawara Jawara".

Kendati baru untuk pertama kalinya menyutradarai , namun dengan modal ketrampilan dan kesungguhan kerjanya, Triyadi bersama krunya berhasil merampungkan suting cuma dalam tempo tiga minggu saja. 

"Hampir seluruh pemain berasal dari TIM, mulai dari Eeng Saptahadi, sampai ke Joseph Ginting, sedangkan bintang filmnya antara lain Dewi Yull dan Ayu Azhari, " jelas sang sutradara yang memilih lokasi daerah-daerah pinggiran jakarta seperti Pondok Cina. 

Jangan terkecoh judulnya, mengira film ini sebuah film silat seperti "Si Jampang" atau "Si Gobang" karena sesungguhnya "Jawara Jawara" adalah sebuah komedi dengan setting lokasi di Batavia pada era 1942-1944.

"Tokoh-tokoh utama cerita adalah anak-anak muda dari sebuah desa di Betawi tempo doeloe. Sebagai anak muda mereka masih bersikap sok jago, padahal sih ilmunya masih cetek. Ada yang petantang petenteng menganggap diri sendiri sebagai jawara ulung. Ada yang ikut latihan militer di markas Dai Nippon kemana-mana berseragam militer menyandang pedang panjang, " ungkap Eeng yang dipertemukan lagi dengan Dewi Yull setelah dulu bermain sebagai pasangan suami istri Jarot-Sri dalam drama serial televisi "Losmen".

Menurut catatan sejarah, bala tentara Dai Nippon menyerbu Batavia pada 5 Maret 1942. Saking ketakutannya, tentara kerajaan Belanda kabur lintang pukang ke selatan. Kekalutan melanda sampai ke kampung-kampung. 

Tiga anak muda, Sayuti, Komar dan Malik bersaing. Ada lagi Nonon si penari Topeng dan Tikah, gadis desa yang naksir Sayuti. Namun pada akhirnya semua bersatu padu untuk merebut senjata dari tangan Jepang. 

"Betapapun tengil dan soknya sikap mereka, namun semangat kebangsaan untuk memerdekakan tanah air sudah tertanam dalam jiwa mreka, " ujar Triyadi tentang tokoh-tokoh cerita rekaannya ini. 

"Seluruh prosessing film ini dikerjakan di dalam negeri," lanjut Budiati. "Dan kami harapkan film yang keseluruhannya di kerjakan oleh anak muda ini bisa memenuhi selera masyarakat akan film komedi yang cukup bermutu serta lain dari komedi-komedi yang sekarang banyak dibuat produser lain. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*setelah film jadi judulnya berganti menjadi "Jawara Sok Kota"

Friday, May 29, 2026

SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA"


 SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA" (berita lawas). Virgo dengan Si Gobang, Kanta Indah dengan Saur Sepuhnya, Parkit  dengan Jaringan Terlarang, Firman Mercu Alam dengan Misteri dari Gunung Merapi dan Rapi Film pun memproduksi Pedang Nagapasa.

Dari sekian banyak tema action yagn di produksi, jenis action modern yang juga paling mendominir. Soal mobil tabrak-tabrakan, dar der dor dan yang silatpun silat modern, Kungfu, karate, taekwondo, mungkin juga campuran dari aliran tersebut. 

Dari silat tradisional atau silat klasik, yang jumlahnya hanya beberapa gelintir, Pedang Nagapasa masuk dalam daftar. Film yang baru saja di selesaikan sutingnya ini, memang sengaja untuk mengisi kekosongan silat klasik, yang sebenarnya merupakan salah satu kebudayaan bangsa kita. 

Slamet Riyadi sang sutradara dibantu pengarah kelahi atau istilah kerennya fighting instruktur dari salah seorang p ersonil Wayang orang Bharata, terpaksa harus kerja hati-hati untuk memperoleh ciri khas klasik yang diinginkan. Hasilnya? Film itu kini memang belum tuntas. Minggu ini baru mulai isi suara. Namun pihak produser, baru melihat gambarnya saja, tak merasa kecewa. "Saya mengharapkan , film ini akan memperoleh sambutan hangat dari masyarakat!", Tukas Gope Samtani sang produser. 

Harapan Gope didasarkan pada kenyataan, dimana film-film yang menampikan silat klasik, cukup digemari masyarakat. Contohnya, Misteri Dari Gunung Merapi maupun Saur sepuh. Ia mengakui, kedua film tersebut memang ceritanya telah populer lewat sandiwara radio. Namun Pedang Nagapasa yang kata Samtani akan jadi sandiwara teve, walau entah kapan disiarkan, cukup menarik. 

Sebagai pemain andalan dalam film ini yang menghabiskan bahan baku hampir 100 can itu antara lain : Advent Bangun, Anneke Putri, Baron Hermanto, Alba Fuad, Devi Sabah, Erick Soemadinata, dan ratusan pemain lainnya. Ditambah lagi puluhan kuda ikut membuat  gambaran kolosalnya film tersebut.~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990 

Thursday, May 28, 2026

UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT

 


UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT (berita lawas). Dari tujuh keturunan seniman besar serba bisa Bing Slamet, hanya tiga yang bungsu yang melejit sebagai artis, baik dalam film maupun musik. Yang pertama adalah anak ke lima. Waktu dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 16 April 1961 diberi nama Ratna Lucyana. 

Sejak kecil sudah terbiasa dengan panggilan kesayangan Uci. Ya sudah terbawa terus sampai besar. Dengan tubuh yang mungil dan wajah sendu innocent, Uci mulai merintis karier sebagai penyanyi. 

Tapi, tentu saja kemudian terseret main film juga. Waktu pertama tampil dalam "Dr. Karmila" , Produser Manu Sukmajaya memujinya sebagai pemirip Jenny Rachman. Pernah pula berpasangan dengan Rano Karno dalam " Tom & Jerry". Sesudah itu absen cukup lama karena 'kecelakaan'.

Baru kemudian, Uci mulai berkiprah kembali. Secara beruntun ia tampil dalam "Kamus Cinta Sang Primadona", "Pengakuan", "Semua Sayang Kamu" dan terakhir "Pendekar Cabe Rawit".

"Untuk suting film ini, saya harus ke Yogya, maklum lokasinya full disana," cerita Uci tentang film yang baru rampung suting itu. "Saya berperan seabgai Sri, bunga desa yang ingin berkarya. Kalau ceritanya zaman sekarang sih tidak heran, tapi ini terjadi kira-kira dalam abad ke XVIII di pedalaman Jawa lho!".

"Pendekar Cabe Rawit" merupakan karya penyutradaraan perdana bagi Abdul Kadir. Tokoh pendekarnya diperankan oleh Syaiful Nazar. Dan tentu saja tokoh Sri yang menjadi kekasih si pendekar. 

Saat break suting, Uci menyempatkan diri berbelanja ke pasar Bringharjo. Pulang-pulang membawa sekeranjang sayur mayur, terus masak sayur asem. Ramai-ramai dinikmati oleh seluruh pemain dan kru. "Ternyata Uci pintar masak sayur asem lezat!" puji produser Hendrick Gozali. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Tuesday, May 26, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA

 


PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA (Suting film). Tanpa Banyak publikasi, hampir secara diam-diam saja, Hendrick Gozali telah merampungkan produkse ke 52 PT. Garuda Film yang berjudul "Pendekar Cabe Rawit".

"Film ini merupakan sebuah film silat dengan setting kisah di Jawa Tengah pada masa lalu, " jelas produser. "Itu sebabnya kami memilih lokasi d Yogya dan sekitarnya saja. "

Biasanya Garuda memproduksi film-film bertema drama rumah tangga seperti misalnya "Tirai malam Pengantin", "Dewi Cinta" dan "Api Cemburu" baru setelah "Pernikahan Berdarah"nya Torro Margens mulai merambah ke tema silat juga. 

Sutradaranya kali ini di pilih Abdoel Kadir yang baru untuk pertama kalinya mencoba menjadi sutradara penuh. "Saya lihat dia cukup berbakat dan sudah waktunya diorbitkan, setelah beberapa kali menjabat sebagai astrada dalam film-film terdahulu, " puji Hendrick. 

Dari barisan pemain utama dipasang, Uci Bing Slamet, Syaiful Nazar, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS, dan pendatang baru Monica Oemardi. 

Uci tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Indonesia. Begitu pula halnya dengan Jhan yang belakangan sering kebagian peran antagonis seperti misalnya dalam "Genta Pertarungan" sebagai karateka licik yang mencurangi Advent Bangun. 

Begitupula halnya dengan W.D Mochtar yang sudah tidak asing lagi dan Sutopo HS yang terkenal lewat peran seabgai Pak Atmo dalam drama Seri "Losmen" di TVRI.

Tapi nama Syaiful Nazar terdengarnya masih asing. Padahal ia sudah beberapa kali ikutan mendukung film silat. Antaranya sebagai pendekar bloon dalam "Mandala Dari Sungai Ular" yang menjadi sahabat Barry Prima, juga dalam Rio Sang Juara ia berperan sebagai seorang patner Willy Dozan. 

Syaiful Nazar menguasai pencak Silat, juga pernah menjadi juara senam nasional, bahkan se Asean. Itu sebabnya mampu menghidupkan tokoh pendekar Cabe Rawit yang rada-rada kocak, " jelas sutradaranya. 

Ada adegan pertarungan seru antara Syaiful kontra Johan, gara-gara Johan yang berwatak playboy ingin memperkosa si bunga desa Uci. Dengan jurus pencak silatnya, Syaefil berhasil mengimbangi Johan yang merupakan seorang Karateka. 

Tak Sampai sebulan seluruh suting dirampungkan, semuanya kembali ke Jakarta. Proses selanjutnya mulai dari pengisian suara, editing, mixing, tata musik dan sebagainya di kerjakan di Inter Studio. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Sunday, May 24, 2026

CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA

 


CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA (berita lawas). Menjelang pembuatan film "Jawara Jawara" diselenggarakan selamatan. Diantara bintang yang datang selain Dewi Yull dan Eeng Saptahadi, terl "ihat juga aktris kawakan Nani Wijaya. Tentu saja para wartawan mengira Nani akan ikut  main, mungkin sebagai ibu Ayu Azhari. 

"Eh, saya tidak ikut main lho," tertawa Nani. "Saya cuma mengantar Cahya. Dia yang bakal ikut main".

Remaja yang ditunjuknya, Cahya Kamila berkulit hitam manis, tersenyum tersipu-sipu. Ternyata mengikuti jejak ibunya, anak ketiga dari pasangan Misbach Yusa Biran - Nani Wijaya ini mulai ikutan main film juga. 

"Kalau main film bioskop memang ini baru untuk pertama kalinya,"sebut Cahya yang dilahirkan di Jakarta pada 8 Agustus 1972. "Namun saya sudah pernah ikutan mendukung beberapa sinetron produksi TVRI."

Disebutkan beberapa judul diantaranya, Lahirlah Sang Bintang dan Anggraini. 

"Padahal dua kakaknya sama sekali tak tertarik pada seni peran, tapi yang ketiga ini memang ikut jadi anggota Teater Permata, " tambah sang ibu. 

Bahkan dalam rangka merayakan Super Semar dalam awal Maret 1990 yang lalu, Cahya berhasil meraih juara Baca Puisi. 

Lalu siapa yang sekarang memilihnya jadi pemain "Jawara Jawara?".

"Sutradaranya sendiri, Mas Firman Triyadi yang datang kerumah dan memilih saya untuk ikutan berperan sebagai seorang gadis desa bernama Fatma".

Semula sang ayah, Misbach Yusa Biran yang udah lama tidak menyutradarai film karena kesibukannya menjadi kepala Sinematek, rada tertegun juga ketika putrinya ini minta izin untuk main film. Tapi akhirnya diberi izin juga dengan syarat tak boleh melalaikan sekolahnya. Maklum, Cahya baru duduk di kelas 2 SMA. 

"Wah sekarang ada dua bintang film dirumah kita, bukan cuma jadi monopoli ibunya saja, " demikian kira-kira seloroh Misbach. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*Pada Akhirnya Cahya Kamila cukup dikenal di dunia sinetron diikuti oleh adiknya, Sukma Ayu sebelum akhirnya Sukma meninggal dunia. 

Friday, May 22, 2026

WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK


 WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK (suting film), Bayangkan bagaimana kalau adik perempuan kesayangan kita sampai di perkosa lalu dirusakkan wajahnya dengan disiram air keras, oleh lelaki jahat? Nah kalau yang punya adik adalh Willy Dozan, jelas ia pasti akan menguber lelaki durjana itu, tak peduli siapapun dia!. 

Itulah inti cerita film "Angkara Membara" produksi ketiga PT. Surya Arti Wibawa Film yang digarap sutradara Yopi Burnama. 

"Willy sudah tidak asing lagi bagi penggemar film action. Dia bukan saja terkenal di dalam negeri tapi juga sudah beberapa kali main film Hong Kong, " puji produser Surya. Paling akhir kita lihat Willy bertarung melawan Samuel Hui dalam film Hong Kong "The Terracotta Hit", sedangkan film Inodnesianya "Rio Sang Juara", sebagai juara tinju yang berangkat dari anak jalanan. 

Bintang Kung Fu asal Magelang ini sekarang harus berhadapan dengan Alex Bernard yang biasanya bertindak selaku fighting instructor, tapi sekarang kebagian peran sebagai pemimpin sindikat narkotika yang memperkosa adik Willy. 

Peran adik Willy dipercayakan kepada pendatang baru Gitty Srinita, sedangkan bintang remaja Kiki Fatmala bermain sebagai kekasih Willy. Ikutan mendukung juga bingang seksi Yenny Farida. 

Ada sebuah adegan dimana Willy yang bertangan kosong menyerbu ke markas sindikat Alex. Dengan mengandalkan tinju dan tendangan ia melabrak anak-anak Alex sampai bertumbangan. Seorang bajingan dicekik dan dilontarkan dari loteng terbanting ke bawah. Tentu saja di bawah sudah disediakan setumpuk dos hingga tak sampai cedera. 

"Nantinya gudang ini akan diledakkan, " rencana Yopi yang menambakan suting dilakukan di Jakarta, Bandung dan Bogor. "Tujuh Puluh persen action, sisanya baru drama".

Diharapkan keseluruhan suting sudah rampung pada bulan Juni 1990. "Prosesnya mungkin kami buat di Hongkong Laboratorium mengingat ada adegan ledak-ledakan yang membutuhkan spcial-optical dan belum mampu dikerjakan di studio laboratorium dalam negeri, ujar produsernya. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Thursday, May 21, 2026

IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG"


 IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG" (berita lawas). Berakhirnya sinetron "Keluarga Rahmat" bukan berarti putusnya karier Thenzara Zaid sebagai artis. Perempuan parobaya bertubuh gemuk yang ngetop lewat peran yang di"Bu Subangun" terjun ke dunia film. 

Adalah producer Lucy Sukardi dan sutradara Chris Helweldery yang mengajaknya tampil dalam produksi PT. Cipta Permai Indah Film "Jangan Paksa Dong". 

Yang berperan sebagai suami Zara bukan lagi Haryo Sungkono (pemera Pak Subangun yang sabar kelewat itu), melainkan Robert Syarief yang juga terkenal peran ayah angkat Dewi Yull dalam serial sinetron "Dr. Sartika".

Kalau dalam serial yang cerita-skenarionya digarap oleh Tatiek Maliyati WS itu, Robert selalu tampil serius, sekarang justru dijajal kebolehnnya berperan komik, termasuk mengekspos kepalanya yang botak berkilat. 

"Kalau peran saya sih masih serupa dengan perwatakan Bu Subangun yang cerewet, bawel dan nyerocos terus, apalagi saking cemburu pada suami yang dikira nyeleweng dengan cewek muda, " ungkap Zara. 

Sebagaian besar suting berlokasi di kota gudeg Yogya, menyusul bagian akhirnya diambil dikawasan real estate mewah Cinere, Jakarta Selatan. Suting hari terakhir mempertemukan para pemain utama, Zara, Robert, Sylvana Herman, Basuki dan Malih Bokir. 

Terlihat adegan Zara ngomel panjang memaki maki Robert yang dituduh pacaran dengan Syl. Mungkin saking takutnya mendengar omelan Zara yang merentet persis mercon, maka Basuki dan malih lari terbirit-birit. Begitu gugupnya sampai mereka tercebur ke empang! "Byurr!".

"Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kalau saya bisa main film," berterus terang Zara yang berasal dari Padang ini. "Saya  tak pernah belajar akting, tapi Pak Fritz G Schadt minta saya untuk mencoba bermain dalam serial produksi PPFN itu, eh keterusan sampai sekarang. Belum tahun sesudah film ini nanti ada yang mengajak main lagi atau tidak."

Berapa besar honornya, Zara segan menyebutkan. Yang jelas, sesudah hampir 10 tahun ditinggalkan suami, ia merasa bersyukur karena dari imbalan sebagai pemain mampu  memberi nafkah keluarga serta membiayai kuliah dua anaknya Leticia Alfrieda dan Muhammad Alfredo. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Monday, May 18, 2026

SUROMENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK


 SURO MENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK (berita lawas) . Warok adalah istilah khas masyarakat Jawa Timur ntuk menyebutkan pendekar digdaya atau tokoh sakti yang menguasai ilmu silat tinggi. Senjata khas mereka adalah tali kolor yang bisa dijadikan cambuk. Konon sekali lecut mampu melumpuhkan orang. 

Tersohornya legenda tentang Warok Suro Menggolo bukan saja dari mulut ke mlut didongengkan secara turun termurun, tapi juga lewat pagelaran ludruk dan ketoprak. 

Juga sudah pernah di filmkan oleh sutradara kawakan Nawi Ismail dengan judul "Warok Singa Kobra" dibintangi oleh Dicky Zulkarnaen, Ratno Timoer, Harry Capri, Eva Arnaz, Kusno Soedjarwadi, Hanna Wijaya, Jeffry Sani dan lain-lain. 

Dan kemudian di produksi secara kolosal spektakuler oleh PT. Simbar Intan Film dengan runtut cerita yang lebih lengkap dan komplit bertajuk "SURO MENGGOLO". Skenarionya ditulis ulang oleh Sofyan Sharna. 

Menurut produsernya, Rudy W, "Melingkupi sejarah, asal usul terbentuknya Ponorogo, konflik antar warok, babakan Suminten Edan (Suminten Gila), Putri Kuning, sampai ke penyerahan tahta, pokoknya padat sekali. 

Sebagai Komandan dilapangan, Produser Pelaksana Arlanto Sukanto menunjuk Dasri Yacob, yang sudah berpengalaman menggarap puluhan film aksi silat termasuk "Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat".

Bintang-bintang laga populer dikerahkan untuk menghidupkan tokoh-tokoh legendaris. Dimulai dari Benny G Rahardja sebagai Suro Menggolo, Fendy Pradana sebagai R. Subroto, Jhoni F Sitepu (Suro Handoko), Yan Bastian (Panembahan Agung) Gitty Srinita (Suminten),  sampai Kies Slamet (Singo Bowo).

Dibantu lagi oleh sebarisan bintang seperti Teddy Purba, Kitty Katrino, Ayuni Sukarman, Oyib Burnama dan El Kusno. 

Kamera diarahkan oleh Yan Mayar, tata artistik oleh Yasin Kalu, sedangkan penyuntingan oleh Djuki Palmin, serta ilustrasi musik digarap Chossy Pratama. 

PADA Tahun 1495, Bathara Katong, adik Sultan Demak membangun Kadipaten Ponorogo dengan semangat Islam. Justru Ki Demang Kutu menganut agama Hindu dari Majapahit yang semakin mundur. Akibatnya sering terjadi bentrokan yang berakhir dengan musnahnya Demang Kutu. 

Saat Bathara Katong mutlak menguasai Ponorogo, ia mengangkat Suro menggolo menjadi Manggala. Sepeninggalnya, tahta diwariskan pada putranya Panembahan Agung. Mulailah terjadi intrik yang berkembang menjadi kekacauan. 

Suro Handoko, adik Suro Menggolo menghimpun warok-warok sakti, Gunoseco, Honggojoyo dan Singa Kobra untuk memberontak. Tak berhasil mengajak Suro Menggolo bersekongkol, mereka berbalik ingin menghabisinya. Namun kesaktian Suro Menggolo setingkat lebih tinggi dari mereka. 

Maka kawanan warok ini mencari guru lagi, Singobowo dari Perguruan Argo Wilis. Ancaman lain bagi Suro Menggolo datang dari Bondan Sariti, paman Penembahan Agung yang pernah kepergok main serong dengan Putri Kuning, istri Bathara Katong. Ada lagi, Suro Gento, mantan patih Deman gkutu yang tetap menyimpan dendam kesumat. 

Di tengah kesibukan Suro Menggolo menghadapi  ancaman musuh-musuhnya, mendadak Raden Subroto, putra Panembahan Agung, hilang dari Keraton. Ia di culik oleh dua jin Kluntung Wuluh dan Kluntung Mungil, yang ditugasi oleh Suro Handoko. Ternyata putra mahkota yang tersohor kegantengannya ini hendak dipaksa kawin dengan Suminten, anak Warok Gunoseco. 

Ketampanan Subroto membuat Suminten Gandrung tergila gila. Namun Subroto sudah jatuh hati pada Cempluk, putri Suro Menggolo. Ditolak cintanya membuat Suminten Shock berat dan gila. 

Fitnah dilimpahkan pada Suro Menggolo. Untuk membersihkan namanya, mau tak mau terpaksa Suro Menggolo menerima tantangan adu kesaktian dari Warok-warok lainnya. Paling akhir, ia pun harus bertarung mati-matian dengan adiknya sendiri, Suro Handoko. ~~ sumber : MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Friday, May 15, 2026

KEPINGIN SIH KEPINGIN,

 


KEPINGIN SIH KEPINGIN, Cewek Gampang Dapat Kerja. Cari pekerjaan memang tidak gampang di Jakarta. Setiap ada satu lowongan langsung diserbu olehpuluhan bahkan ratusan pelamar. Arkadi yang lulusan Bussines Administration sudah setahun berusaha tanpa hasil. Tapi ketika di test mengetik di PT. Bumi Tak Berdaya, ia mendapat pujian Kepala Kantor. Sayang, harapan diterima bekerja buyar lagi gara-gara muncul cewek yang berani nyobek rok. Padahal ngetiknya tak karuan. Kepala kantor yang mata keranjang langsung membatalkan Arkadi dan menerima si cewek rusak. 

Arkadi yang sakit hati sampai pada kesimpulan, "Cewek lebih gampang dapat pekerjaan!". Maka iapun menyamar sebagai Dorce Sinthesa dan menirukan gaya mengetik yagn mirip nabuh gendang. Benar saja, pak Sori langsung menerimanya sebagai sekretaris. 

Tapi mulai timbul problema ketika Dirut Masri yang sudah lama menduda jatuh hati padanya. Juga Murce yang dikenal sebagai perempuan dingin berlesbi dengannya. Bagaimana cara Dorce alias Arkadi memecahkan semua problema ini?

Sutradara Hengky Solaiman menyebutkan karya ini sebagai sebuah "komedi ajaib" karena Akating Deddy Mizwar sebagai Dorce lain dari yagn lain. Kendati menimbulkan gelitik dihati penonton namun lain dengan gelitik yang ditimbulkan Emon misalnya.

Komedi yang skenarionya ditulis oleh Drs. Asrul Sani ini memadukan kelucuan-kelucuan yang halus dengan kasar. permainan Lydia Kandou sebagai si perawan tua Murce menampilkan kematangan dan juga kelainan. Sedangkan Wahab Abdi yang sudah lama absen dari menyutradarai bermain kocak, berhadapan dengan Paul Polii pelawak veteran Srimulat. Didukung pula oleh Pak Tile, Barkah, Nasir, Anen dan si gigi mencuat Diding Z.A.