Showing posts with label Film Jadul. Show all posts
Showing posts with label Film Jadul. Show all posts

Friday, August 7, 2026

LYDIA KANDOU JATUH DARI METROMINI

 


LYDIA KANDOU JATUH DARI METROMINI (berita lawas). Sudah pernah nonton film Ramadhan dan Ramona? Lydia Kandou terpilih (lagi) sebagai Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1992 ini? pada akhirnya iya ya, setelah di tahun 1991 juga meraih Piala Citra dari film Boneka Dari Indiana. Sejumlah pengamat dan wartawan film sepakat untuk menjagokannya, adalah benar. Tentu bukan karena persaingan kearah sana tidak terlalu ketat. Tetapi  lebih karena sosok Ramona yang 'slebor' dan selalu berusaha menutupi jatidirinya yangg digelar lewat film Ramadhan dan Ramona (Chaerul Umam), mampu akrab dengan penonton. Seolah penonton menyaksikan sikap "kemandirian" Ramona yang nyata, dan diperankan dengan gaya dan ekspresi yang pas sesuai peranannya. Itu artinya , karakter Ramona yang diperankan Lydia berhasil. 

"Tarida Gloria dalam Plong dengar-dengar juga berhasil dengan perannya. Bagaimana juga dengan Bella Esperance di Bibir Mer?"sergap Lydia ketika di temui dirumahnya yang asri di Ciputat, Tangerang. 

Apa yang dinyatakan Lydia jadi benar. Lydia sendiri berusaha untuk tidak jumawa. Sejumlah kritikus dan pengamat film setuju dengan prediksinya. Mereka simpati dengan kewajaran akting Tarida, bella , pendatang anyar dalam peta perfilman nasiona, "Jangankan memperoleh citra lagi, masuk nominasi saja saya sudah senang, saya bersyukur karena film ini merupakan produksi pertama kami, "kata Lydia. 

Senang dan banggakah Lydia jika berhasil merenggut Piala Citra lagi? Agaknya tidak sepenuhnya begitu. Secara gamblang, ia ungkapkan keluhannya sebelum Dewan Juri mengumumkan film terbaik beserta unsur-unsurnya. "Tahun ini, kayaknya, persaingan untuk tidak terlalu berat. Selain karena sedikitnya jumlah produksi juga karena...ya, Anda tahu sendirilah, "ujarnya. Kalau saya dapat kok pasti sedang sepi ya..."

Sejak awal Lydia tidak bersemangat bersaing meraih Citra. Dalam perjalanan karirnya sebagai pemain film, istri penyanyi Jamal Mirdad itu sudah 3 kali diunggulkan dalam Untukmu Kuserahkan Segalanya (1984), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986) dan Cas Cis Cus (1990) belum juga Lydia berhasil memboyong Citra. Ada kekecewaan yang sangat membekas dalam dirinya saat dijagokan banyak pengamat sebagai Aktris Terbaik FFI 1990. Yang ternyata meleset. Maka jangan kaget, kalau seorang artis beken yang kemampuan aktingnya disoroti banyak pengamat film seperti Lydia, tertidur saat menonton pengumuman unggulan. "Tahun lalu ketika diumumkan, saya memang tidak bisa hadir,"ungkapnya. 

Bukan karena persaingan memperebutkan Citra di tahun ini tidak terlalu ketat, kalau Lydia Kandou mengungkap, kalau dia berhasil lagi memperoleh lambang supremasi tertinggi perfilman Indonesia, karena sedikitnya pesaing. "Kalau dapat (lagi) ya saya bersyukur. Nggak dapat, ya.. nggak apa apa. Yang penting buat saya adalah bermain sebaik mungkin. Eh, pas jadi kondektur itu, saya pantas nggak sih?.

Di film ini memang Lydia diarahkan Chaerul Umam menjadi seorang kondektur metromini sekeluarnya dari pekerjaan. Berulang kali jatuh bangun. "Bagaimana nggak jatu, Mas mamang menghendaki, sebelum bus berhenti saya sudah harus turun duluan. Saya salah menjejakkan kaki. Seharusnya kaki kiri duluan, saya pakai kaki kanan, "ujarnya geli. 

Bukan itu saja yang kata Lydia sangat sulit dilupakan. Sejumlah orang yang mengenalnya, berteriak memanggilkan ketika harus bergelantungan dimetromini antar Pondok Indah - Pasar Jumat. "Untuk jadi kondektur itu, selain lewat amatan, saya juga melakukan tanya jawab dengan sejumlah kondektur metromini, "akunya. 

Tidak gampang memang untuk menjadi soerang kondektur. Apalagi Kondektur Metro Mini di Jakarta. Selain karena harus selalu ngebut mengejar setoran, juga karena tidak tertibnya pengemudi lain. "Saya ketika itu deg degan. Takut. Waktu belum kawin sih, nggak apa-apa. Masih punya keseimbangan. lah sekarang, sudah punya anak tiga, tapi kalau saya ngikutin ketakutan-ketakutan saya mungkin malah nggak pernah jadi dan lama. Sudah nekad saja".

"Karena adegan itu bukan diambil distudio ya, ada rasa malu juga, "lanjutnya. 

Lydia sendiri mengaku tidak menyangka bakal harus terlibat dalam film tersebut. Jamal Mirdad dan Chaerul Umam, sebelumnya telah mengcasting beberapa orang untuk peran Ramona. Namun sampai beberapa hari menjelang suting, Lydia baru mengetahui kalau dia yang harus memainkannya. "Biar Jamal produsernya saya tetap dibayar sebagaimana mestinya lho. Kalau nggak mendingan saya ikut orang lain. Dan Jamal, memang menghendaki dan memperlakukan saya sebagai pemain, bukan sebagai istri produser. Karenanya sampai saat ini saya belum tahu apa yang dilakukan dia untuk pemasarannya. 

Kalau Lydia mau terlibat, bukan karena honorarium yang diterima atau karena Chaeraul Umam. Tetapi lebih karena honor yang diterima atau karena Chaerul Umam. Tetapi lebih karena ceritanya itu sendiri yang menarik. ~MF 167/134/TH IX, 28 Nov - 11 Des 1992

Saturday, August 1, 2026

CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG

 


CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG  (film lawas) -. Inilah film "Catatan Si BOy" Jilid III yang semakin membawa orang pada dunia mimpi dan menyeret trend film Indonesia menjauh dari isi. Agar mimpi kian mendekati kenyataan, jangan lupa nonton film sembari minum Pepsi Cola dan merokok Bentoel, agar kian menyatu dan apa yang di pamerkan Nasri Cheppy, sutradara muda berbakat yang larut dalam arus sorak sorai penontonnya. 

Ceritanya tak begitu penting karena memang tak menjamah hal-hal baru. Si Boy, tiba-tiba pingin sekolah ke Los Angeles. 

Vera, doinya, yang ditinggal, gelisah dan pengin liburan ke LA, nyusul si Boy. Dan tak usah bingung kalau melihat Emon tiba-tiba juga kangen si Boy dan pengin liburan ke LA. Ini biar gampangnya saja meski ada kesan menyepelekan otak sehat kita. 

Tak perlu tahu apa kerja orangtua mereka. Cuma yang dikagumi para orang tua ini langsung mengiyakan saja keinginan anak-anak mereka. Di Amri (Amerika), Boy kita kenalan cewek disc jock turunan Philiphine Indonesia, Sheila, setelah Boy jadi 'pahlawa, menyelamatkan Sheila dari perkosaan bule yang gede tapi toh kalah sama Boy. 

Di Amri, tak perlu dikisahkan apa kerja Vera dan Emon karena tak penting benar, terkecuali mereka Shopping, ke pantai dan keluyuran. Sebab disini ada Jeffy, orang Indonesia yang hebatnya jadi kepala geng berandal para bule brewok, yang bentrok dengan Boy gara-gara Boy pengin menyelamatkan Sheila dari ketergantungan kokain, selanjutnya cerita bisa dikarang-karang sendiri, bisa ditambah sesuka sutradara dan penulis cerita. Dan jangan lupa membayangkan diri dalam kehidupan Boy, naik Ferari sembari minum Pepsi. Karena itulah iming-iming sembari ngobrol "fuck yon!"

"Catatan Si Boy III bisa di catat sebagai kemajuan penguasaan tekhnis yang dimiliki Nasri Cheppy. Ia makin cekatan dalam mengolah adegan dan menemukan gambar-gambar menghibur. Tapi ia lupa bahwa isi dan cerita adalah persoalan serius dalam membuat film. Tapi "Cabo III" sungguh menyepelekan selera keseriusan kita dalam menikmati film yang agak baik. Apalagi disini tak ada kemajuan akting para pemainnya. Adakah ini bentuk main-main dari sutradara Cheppy seperti yang digambarkan pada adegan akhir, dimana semua pemain disuruh mejeng dan sang sutradara diperlihatkan asyik menyutradarai pemainnya? Siapa tahu itu benar, dan itu sungguh sayang.~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

Persembahan : Asosiasi Importir Film

Produser : PT Bola Dunia Film

Sutradara : Nasri Cheppy

Cerita, skenario : Marwan Alkatiri

Pemain : 

Onky Alexander ..............Si Boy

Meriam Bellina................Vera

Didi Petet ........................Emon

Leroy Osmani .................Jefry

Ida Kusumah....................Mama Vera

Bella Esperance..............Sheila

Friday, July 31, 2026

IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS

 


IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS, (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Irma Yanthie? Irma Yanthie, dara manis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1965 lagi menggebu-gebu dengan dunianya. I atak banyak tawar menawar dengan produser, bukan materi yang dicari semata , mengembangkan popularitas agar lebih mudah dikenal masyarakat. Dunia yang sekarang di geluti ternyata cukup bisa buat menghidupi dirinya, walau hanya cukup untuk jajan. 

Pernyataan ini memang dapat di buktikan oleh Irma. Tengok saja dalam film-film yang pernah dibintanginya diantaranya, Bukit Berdarah, Siluman Clurit perak, Bila Saatnya Tiba, Kejarlah Daku Kau Kutangkap , Ayu dan Ayu, Gadis Pendekar, Cewek-cewek Pelaut, dan juga Durjana Lumut Hijau. 

Wow, Irma boleh dibilang diam-diam berbahaya. Itung-itung dari 8 film yang dibintanginya ia bermain cukup prima. Walau bermain  sebagai peran tambahan tapi ia pantang putus asa. Tekat ini yang menjadi tuntutannya hingga mendapat kepercayaan sebagai pemeran pembantu wanita. 

Saya nggak pilih-pilih soal peran asal sesuai dengan keinginan. Dan saya paling suka adegan yang mengarah romantis, " cetus cewek yang memiliki ukuran BH 36. Irma paling pandai dalam adegan romantis, ini ia lakukan agar cepat untuk meraih popularitas. Namun sebagai wanita, Irma punya batas-batas yang memang sudah ia tentukan sejak menekuni dunia film. 

Irma juga terjun di dunia foto model. "Yah bisa buat nambah untuk adik-adik saya yang masih sekolah , kan, saya belum punya pacar. Kesempatan bisa bantu orangtua, " jelas Irma yang juga terjun di dunia tarik suara. 

Karirnya memang berjalan cukup mulus, bisa dibayangkan belum lama di dunia film, Irma langsung juga nyrondol nimbrung nyanyi lewat album yang berjudul Pacar Rewel sempat memasuki pasaran blantika musik. ~~MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Monday, July 27, 2026

RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA

 


RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA (berita lawas). Wajahnya masih tetap cantik. Tubuhnya masih terlihat seksi dan sintal. Sementara gaya bicaranya masih seperti dulu, ceplas ceplos. Lalu adakah yang berubah dari diri seorang Rani Soraya?

Tentu saja Rani yang beken jadi pasangan Richie Ricardo di film layar lebar bertajuk "Bercinta" banyak yang sudah berubah. Kalau dulu ia masih single, sekarang sudah menjadi nyonya Michael Backman dengan dua anak Andre Sopandi Backman (5) dan Jonatan Sopandi Backman (4 bln). Perubahan lainnya, wanita kelahiran Bandung, 18 Januari 1967 ini kini lebih serius menekuni dunia bisnis bersama suaminya. 

Jika dia kini kembali hadir sebagai pendukung Senandungkan Damai dan bakal ditayangkan di TVRI itu tak lain karena Rani kangen sekali dengan hiruk pikuknya suasana syuting. "Enam tahun nggak berhadapan dengan kamera membuat hati ini terus berontak,  " ujar yang punya nama lengkap Rani Soraya Backam.

Masalahnya selama 6 tahun Rani memilih ikut suaminya tinggal di Finlandia. Dasar orang film, selama d Finlandia wanita asal Garut Jawa Barat ini tak seluruh waktunya dihabiskan jadi ibu rumahtangga yang baik. Ia kursus bahasa nenek moyang suaminya, yaitu bahasa Finlandia. Satu lagi, Rani masuk sekolah leater Internasional, yang muridnya datang dari berbagai negara sepeti Argentina, Afrika, Brazil, Jerman, Rusia, Spanyol dan beberapa negara lainnya. 

Kata penyuka warna merah , biru dan hitam ini, dari Indonesia muridnya bukan hanya dia seorang. Ada satu seniman beken asal Bali. "Maaf saya lupa namanya,"ujar Rani. Yang jelas Rani merasa beruntung sekali bisa sekolah disana, karena ilmu aktingnya jadi tambah matang. Bahkan Rani sempat tampil di layar lebar produksi negara yang hanya berpenduduk 5 juta jiwa itu. 

Tapi, lagi-lagi Rani lupa akan judul film yang dilakoninya. "Yang jelas saya main termasuk peran utama, "kilahnya yang terakhir tampil di layar kaca dengan judul "Mahkota Mayangkara" dimana saat itu Rani dalam keadaan hamil 3 bulan. 

"Selain tampil di layar lebar, sebetulnya tawaran lain banyak berdatangan tapi waktu saya nggak ada dan saya pribadi sudah berjanji hanya mau jadi ibu rumah tangga yang baik, "paparnya. 

Kalaupun ia kii bersedia tampil kembali disini, seperti yang dikatakannya tadi hanya karena kangen saja. "Tak ada pikiran saya berlakon karena ingin mengejar popularitas, ataupun dari sisi materi, " tegas cewek yang di tahun 90an termasuk salah satu artis bom seks layar lebar. "Niat saya sekarang tak lain ingin jadi pemain yang baik dan berlakon sebaik-baiknya," lanjut Rani yang dinikahi bule asal Finlandia Michael Backman di Garut 13 Januari 1996.

Walau niat awalnya ingin bermain sebaik mungkin sebagai pelakon, Rani mengakui saat kembali berhadapan di depan kamera, ia merasa nervous dan gugup. Untunglah teman-teman lamanya, seperti Uci Bing Slamet, Eddy Chaniago, Fuad Baraja, Lela Anggraeni dan Kamel Marvin selaku sutradara terus memberi dukungan dan memberi kritik membangun. Akhirnya semangat dan motivasinya untuk tampil sebaik mungkin di "Senandungkan Damai" sesuai yang diinginkan. Yaitu tampil jadi ibu rumahtangga yang baik berlakon sebagai Rogaya istri dari Fuad Baraja. 

Apa kesan Rani setelah 6 tahun tidak tampil sebagai pelakon? "bisa dikatakan saya cukup prihatin, karena gaya bekerja orang film ternyata masih jalan di tempat. "Maksudnya dalam sebuah penggarapan film , mereka bekerja belum taktis. Masih banyak ngaretnya. Beda sekali saat saya main di Finlandia semua serba profesional dan terarah,"urainya. 

"Melihat keadaan seperti itu, tentu saja ada keinginan memproduksi sendir. Tentu saja kalau saya punya timwork yang bagus dan profesional, " kata artis yang terakhir terlibat dalam film Komodo (1992) itu. 

Namun untuk saat ini, konsentrasi Rani yang utama adalah membangun perusahaan internet bersama suaminya yang baru beberapa bulan dijalani. "Saya ingin membangun usaha yang kami bangun ini sangat beda dengan usaha internet yang sudah ada yaitu bergerak di bidang Company Profile, COntact Person, Map dan Direct acces to update, " tandas Rani serius. 

Rani ingin membuktikan kalau dirinya sekarang sudah berubah jauh. Jelasnya, Rani sudah berjanji pada diri sendiri untuk merubah image dirinya yang dulu dijuluki salah satu artis bom seks, dan kini julukan itu sudah tidak berlaku lagi. "Rani sekarang sudah beda dengan Rani yang dulu", tegasnya. ~~MF 405/371/XVII 21 Des 2001 - 4 Jan 2002



Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


Wednesday, July 22, 2026

BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN

 


BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN (Film Lawas). Siapa Menduka kalau kru film nasional mampu membikin film action yang nyaris sekelas dengan produksi Hollywood? Film Bercinta Dengan Mautlah buktinya. Para pelakon utamanya spesial di impor dari Amerika. Pembiayaannya pun patungan antara produser Amerika dan Indonesia. Semua kru merupakan tenaga dalam negeri. Sebua langkah yang manis dilakukan PT. Soraya Intercine Films di saat sepinya tema action modern. Tjut Djalil selaku sutradara meramunya sebagai sebuah tontonan yang menarik. 

Beredar serentak di DKI, Jabar dan Jateng pada 26 November 1993, film bertema action-horor ii beredar di Amerika tahun 1994. 

Bercinta Dengan Maut dibikin dengan anggaran yang cukp mahal, dengan masa suting 3 bulan lebih. Mengambil lokasi suting di Jakarta, Jawa Barat dan Bali. Proses sutingnya dipenuhi dengan trik-trik special effect dan artistik yang cukup baik. Keberhasilan film ini juga menunjukkan bahwa kru film negeri ini cukup handal. "Kami sangat merasa ditantang diberikan kepercayaan membikin film jenis ini, " Kata Partogi Simatupang selaku kamerawan. 

Bergabungnya artis Amerika seperti : Tonny Lynn, Kristin Ann, dan Amy Marie Waber, tidak membikin kru dan artis film nasional minder. Malahan sebaliknya. Semangat semakin menggebu-gebu. "Saya mampu berlakon dengna baik, dengan artis manapun, " ujar Reynaldi Iskak. Keberanian Ronny Lynn, Kristin Ann dan Amy Marie dalam film ini cukup menggiurkan. Tapi, tidak digarap secara vulgar. 

Cerita menawarkan sesuatu yang menarik. Tiga orang perampok, Ted, Erick dan Jeff berhasil merampok perhiasan. Mereka kabur dengan mobil sedan. Sersan Dody dan anak buahnya terus memburu bandit-bandit itu. Terjadi baku tembak. Mobil para bandit terbalik, tak jauh dari rumah Linda, seorang artis foto model. Tapi , ketiga perampok tersebut mati dengan berlumuran darah. 

Jari tangan Jeff yang mengenakan cincin berlian putus secara mengerikan. Darah para perampok yang tersisa didedaunan menetes kepermukaan cermin. Darah itu seketika berbusa, lalu cermin itu menelan jari Jeff. Lalu muncul sosok wanita berwajah cantik, dengan tubuhnya dibagian perut keroak. Makhluk cantik, tpai mengerikan ini menamakan dirinya, Ratu dari Kegelapan. 

Linda sewaktu berulang tahun menerima hadiah dari Johanes, berupa buku Mystic of The East. Buku ini dipelajari oleh Susan, adik Linda yang kabur dari Amerika karena diperlakukan kasar oleh suaminya. John, suami Susan, mengidap seks maniak. Susan menemui LInda di Bali, saat sedang opname pemotretan dengan fotografer. 

"Ratu Dari Kegelapan" itu kemudian merasuk jasad Susan, tatkala Susan sedang membaca mantra-mantra buku Mystic of The East. Melalui jasad Susan, "Ratu Dari Kegelapan" membunuh dan menghisap darah mangsanya sampai kering. Ratu Iblis ii sangat doyan dengan darah-darah pemuda berwajah tampan. Setelah puas, Susan menyerahkan korbanna dengan upacara di depan cermin. 

John datang dari Amerika, mengajak Susan kembali ke Amerika. Tapi Susan menolak. Penyakit seks maniaknya kambuh, dan menganiaya Susan. Untung Bob datang hingga John tidak berhasil memperkosa Susan. 

Malam harinya, Susan yang kesurupan "Ratu Dari Kegelapan" mendatangi John di hotel dan John menjadi mangsa untuk sekian kalinya. Kematian yang berturut-turut ini membikin Sersan Dody curiga kepada Susan. Tatkala Linda pulang dari Bali, ia menemukan Susan sedang melaksanakan upacara mistiknya. Linda menyeret Susan ke dalam kamar dan menguncinya. Linda melaporkannya pada Bob, supaya berita sampai kepada Johanes. Susan terus kesurupan dan akhirnya mengamuk hendak membunuh Linda. 

Sersan Dody yang datang hendak membantu terpental di pukul Susan. Dody lari ke mobil dan mengambil senjata, tapi Susan datang dan membakar mobil dengan ilmu hitamnya. Sersan Dody ikut terbakar. 

Bob dan Johannes datang. Johanese membaca mantera-mantera dari  buku Mystic of The East. Pertarungan seru terjadi antara Johannes dan susan. Akhirnya Johannes berhasil mengahncurkan cermin itu, dan menarik Susan keluar. Mereka sempat lari dari rumah itu, sebelum rumah Linda yang besar itu meledak berkeping-keping.

Produksi : PT. Soraya Intercine Film, Produser : Ram Soraya, Sutradara : Tjut Djalil, Kamerawan : Partogi Simatupang, Editor : Sentot Sahid, Penata Musik : Dian AGP, Pemain : Shahreza S, Tony Lynn, Reynaldi Iskak, Kristin Ann, John F Waroni, Otic Pakis, Simon PS, Wilman Saragih, Amy Marie Weber.  ~MF 193/159/Th. X, 20 Nov - 3 Des 1993


Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel. 

Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".

"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang. 

"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu. 

Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "

Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah. 

Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara. 

Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis. 

Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."

Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."

"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu. 

Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.

Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan. 

Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya. 

Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah. 

Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".

Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi. 

Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya. 

Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya. 

Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".

"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak. 

"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk. 

Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".

Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas. 

"Buka, Cepat! perintah Wawan. 

Si Nyonya menggeleng keras. 

Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar. 

"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan. 

Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas. 

Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya. 

Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi. 

Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu. 

Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya. 

Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan. 

Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".

Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini. 

Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil. 

Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik. 

Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari. 

Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!. 

Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu. 

Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung. 

Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah. 

Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka. 

Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal. 

Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek. 

Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur. 

Kali ini Rudi yang menyetir. 

Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara. 

Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali. 

*******Bersambung


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK

 


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK (berita lawas). Seusai merampungkan "Kanan Kiri OK 3" menjelang akhir tahun 1990, Ida Iasha seperti menghilang dari pemberitaan. "Ya memang saya mengundurkan diri untuk sementara waktu dari kegiatan main film," ujarnya dengan wajah segar berseri. 

Saat suting film itupun, perutnya yang mulai membesar sudah agak sulit disembunyikan. Itu sebabnya, ia terpaksa menampik ajakan untuk melanjutkan peran Farida dalam "Misteri dari Gunung Merapi 3", Perempuan Berambut Api. Padahal jadwal suting sudah ditentukan, apa boleh buat, sutradara Liliek Sudjio terpaksa memasang pendatang baru, Catherine  untuk memerankan tokoh tersebut. 

Tepat pada hari Natal, 25 Desember 1990, Ida pun melahirkan anaknya yang kedua, sang suami Eddy Saputra memberikan nama Kama Bhaskara untuk putra kedua mereka. Sementara si sulung, Randi Roso sudah hampir memasuki usia 7 tahun. 

"Perbedaan usia mereka memang cukup besar," ujar Ida yang memang sudah menikah, malah sudah mempunyai Randi saat pertama main film "Kodrat" diajak Slamet Rahardjo, "Waktu itu banyak yang mengira saya masih gadis," kenangnya.

Memang sebenarnya usia Ida masih teramat muda ketika menikah dengan Eddy. Bahkan sebenarnya belum lama lulus dari SMA Tarakanita. Salah seorang kawan sekelasnya adalah biduanita tenar, Neno Warisman. Neno, masih ingat ketika Ida baru pertama masuk, "masih seperti noni-noni Belanda totok yang ngomong bahasa Indonesianya sepotong-sepotong, siapa sangka serang bisa jadi bintang film top?".

Kalau slogan KB, "Dua sudah cukup" tidak demikian halnya bagi Ida, rupanya dua masih belum cukup baginya. Soalnya kami masih kepingin mempunyai anak perempuan, supaya lebih lengkap begitu."

Sekarang, Kama sudah berusia lebih dari tiga bulan. Sehat dan montok, kata Ida karena "Saya menyusuinya terus dengan ASI."

Saking sayangnya pada Kama, Idapun terus menampik film-film baru yang ditawarkan padanya. Termasuk rencana pembuatan "Kanan Kiri OK 4", yang merupakan film banyolan laris itu. "Saya ingin konsentrasi merawat Kama dulu sampai agak besar. Kalau sudah bisa ditinggal-tinggal baru mungkin saya bersedia man film lagi nanti. 

Bagaimanapun juga, Ida sudah menjadi salah satu bagian dari dunia film Indonesia dengan segala suka dukanya. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991


Monday, July 13, 2026

ANNA VALIANA

 


ANNA VALIANA (berita lawas). Gadis bernama lengkap Valiana Aprilini, ketika bocahnya cukup bijak dan cakap tidak termasuk anak yang cengeng. "Karena sering di foto saya jadi keasyikan. Sampai sekarang saya lebih suka menjadi model daripada lainnya."

Lalu, kamu kenapa tertarik main film? Dunia akting punya kepuasan tersendiri. Di film kita memainkan jiwa. Dari peran satu ke peran lainnya. Sedang film tantangan begitu kompleks. "Film membuat semakin berdisiplin. Disini diteruminya bermacam pengalaman baru. Kalau di rumah Anna kurang begitu berperhatian terhadap rutinitas perempuan tempo dulu, seperti membersihkan rumah, mengepel dan segudang pekerjaan lainnya. "Di lokasi suting harus mengurus diri sendiri. Membersihkan kamar dan mengepelnya. Kalau di rumah "boro-boro" mau saya kerjakan. Ada pembantu sih."

Suting film lebih rumit dari foto model. Honornya kecil. Kerjanya berbulan-bulan. Sedang di model, cepret-cepret duit mengalir. "Dan soal honor lebih enak jadi model daripada di film. Tapi, ini dia, di film kita memainkan roh-roh orang, meminjamnya ke dalam diri. 

Anna jelas belum sehebat Paramitha Rusady atau Lydia Kandou. Punya keyakinan bisa setara dengan bintang lagi gemerlap. Sebab, begitu dia menjadi pemeran utama dalam film Kristal-kristal cinta, sutradara Wim Umboh, batinnya langsur berteriak, ingin berjada di perfilman nasional. Alasan ini membuat cewek jangkung dengan tinggi 173 cm dan berat 54 kg tidak pernah tinggal diam. Dia selalu gelisah, latihan akting pada siapa saja. Ada seberkas keyakinan kelak akan mendapat peran lebih menantang. 

Tidak melulu karakter remaja, boleh jadi akan melampaui usianya Kalaupun tentang remaja akan lain dari dunia yang dikenal selama ini. Bagi saya tidak ada kata terlambat." Ini kalimat sering menyentakkannya, lalu berbuat sesuatu. Kesempatan kedua mendapat peran utama lewat film Ini Rindu, sutradara Maman Firmansyah, Anna menjadi sosok lain, penyanyi mendampingi Farid Hardja. "Saya pikir tema apa saja tetap menantang. Justru itu, ndak pilih pilih dengan peran. Asal senang saya pasti menerima, Tergantung mood sih. "Sesungguhnya banyak tawaran di tepiskan cewek bertubuh ramping ini. Cuma acap disodorkan padanya melulu soal cinta dan buka-bukaan. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991



Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA (film lawas). Rel Kereta Api memanjang jauh. Lengang dan kosong. Sepasang insan berjalan berangkulan. Wawan dan kekasihnya,si watunas Suci. Tangan Wawan merangkul pinggang ramping Suci. Tangan Suci memegang payung yang berkembang untuk melindungi dari terik matahari. Tangan-tangan mereka yang lain menenteng tas plastik berisi barang-barang belanjaan. 

"Ayah saya tidak pernah tau bahwa anaknya menjadi pelacur di ibukota," gumam Suci. Dia menyangka saya bekerja di pabrik seperti isi surat yang selalu saya kirimkan."

Wawan mesem pahit, "Pasti elu juga nggak kasih tau bahwa calon mantunya seorang bajingan, kan?.

Suci mencubit pinggang wawan sampai pemuda ini menggelinjang geli, "Mosok yang begitu mesti dibilangin sih?".

"Kali aje pacar gue nggak tau politik, " sindir Wawan. 

Suci menerawang jauh. Kadang-kadang rasanya seperti mimpi bisa lepas dari dunia lon te yang kukira akan menjeratku sampai keriput,".

Tiba-tiba suci berhenti melangkah. Wawan tertegun dan menoleh. 

Suci menatap kearahnya dengan mata polos. "Mas Wawan benar-benar mau mengawiniku, kan?, tanyanya. 

Sipemuda manggut dengan mantap, "Apa musti gua sumpah lagi?".

Si Watunas menatap sendu. "Mas tidak akan galak sama Suci? Janji?".

"Eh , ni anak masih nggak yakin juga, elu akan gua sayang seperti gua nyayangin ibu gua, adik gua, kakak gua sekaligus, "tegas Wawan. "Karena gua nggak punya siapa-siapa lagi. Gua benar-benar sebatang kara!.

Suci senyum bahagia memeluk pinggang si pemuda dan menyesapkan wajahnya ke dada yang bidang itu. 

Sejak berkenalan memang Suci telah jatuh hati pada Wawan. Sebaliknya si pemuda pun bisa merasakan kelembutan dan perhatian Suci yang lain daripada watunas-watunas biasa. Maka Wawanpun melarang Suci melanjutkan prakteknya dan memintanya hanya untuk menjadi miliknya seorang saja!

******Bersambung

Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3


Thursday, July 2, 2026

FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG


 FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG (film lawas). Buce Malawau sudah boleh diakui sebagai salah seorang sutradara muda berbakat dalam perfilman negeri kita. Karyanya memang masih bisa dihitung dengan jari. Dimulai dari debutnya "Gerhana" kemudian beruntum menggarap "Beri Aku Waktu", "Cinta Anak Jaman", "Tragedi Bintaro", "Ketika Dia Pergi" dan yang ke enam adalah "Potret".

Ciri khas dari kelima karyanya terdahulu, kecuali Cinta Anak Jaman , semuanya kurang mendapat sambutan dalam peredarannya. Sudah begitu lagi-lagi kecuali Cinta Anak Jaman yang membuahkan Piala Citra Aktor Pembantu Terbaik untuk Didi Petet, semuanya paling banter cuma sampai pada level unggulan belaka, untuk kandas dalam final setiap FFI. 

Apakah nasib yang sama bakal menghantui "Potret"? Yang jelas, kendati sudah masuk 8 unggulan termasuk sebagai calon film, sutradara dan aktor-aktrisnya dalam FFI 1991, toh akhirnya tak satupun Citra yang bisa diraih. 

Satu-satunya yang dimenangkan hanyalah Piala S Toetoer untuk Poster Terbaik. Padahal terus terang saja, poster garapan Gunawan Paggaru dan Adjie Mamat Borneo ini kelewat sangat bersahaja untuk ukuran sebuah poster film Indonesia. Sama sekali tak punya daya tarik komersial, tapi mungkin justru karena kesederhanaannya inilah Dewan Juri Poster yang diketuai Sukanto berbelashati untuk menganugerahi piala penggembira. 

"Potret" dibintang utamai Rachmat Hidayat yang sekali lagi menampilkan kualitas keaktorannya. Di dukung sebarisan pemain mulai dari Ully Artha, Asrul Zulmi, Nani Somanegara, Nani Vidya, Rondald Kansil dan Mega Sylvia, namun yang berhasil mencuri perhatian dengan gayanya yang rada urakan justru bintang muda Gusti Randa. Sebagai anak, ia seenaknya saja memanggil ayahnya tanpa sebutan 'Bapak' atau ' Papa', tak ubahnya seperti kawan saja, langsung menyebut nama. "Man, Herman!". Boleh di puji Gusti mamppu mengimbangi akting kawakn seperti Rachmat Hidayat dengan menarik. Sejak penampilannya film yang semula terasa berlarut-larut berubah menjadi segar dan riang. 

Patut di catat pula penampilan bintang-bintang tua seperti Ema Gangga, Laelasari, Menzano, Pak Tile dan sejumlah penghuni asli Panti Jompo betulan. Hampir separoh awal film memang berlokasi di Panti Jompo. 

AYAH YANG TERBUANG. Herman Kawilarang (Rachmat Hidayat) tua dan buta, memergoki istrinya yang masih muda usia, Lisa (Ully Artha), menyeleweng dengan Robin (Ronald Kansil). Sakit hati merasa disia-siakan, ia meninggalkan rumah. Tertatih-tatih ditampung di Panti Jompo. 

Pimpinan Panti Jompo (Sinta Muin) diam-diam mencari keluarga Herman lewat fam Kawilarang. Sampai ke Victor (Asrul Zulmi) yang nampaknya cukup sukses sebagai manager. Kendati mengenali ayahnya, namun ia menolak mengakuinya. 

Pasalnya, dulu Herman meninggalkan keluarganya untuk kawin lagi. Maka, Ibu (Nani Somanegara) dibantu si sulung Victor mencari nafkah dengan berjualan gado-gado, tapi dua adik Victor, Anton (Gusti Randa) dan Vina (Mega Sylvia), berbeda pendapat dengannya. 

Anton yang bekerja di bengkel, mengangkangi mobil yang di bawa Robin, karena mengenalinya sebagai milih ayahnya. Antonpun datang menjenguk ke panti jompo. Herman yang semula rada frustasi dan sering ribut dengan sesama penghuni Panti, bagai mendapat semangat baru dari anaknya ini. Anton malah mengajaknya ke kelab malam tempat Vina menyanyi. 

Kekerasan Victor mulai runtuh ketika isterinya (Nani Vidya) pun membela adik-adiknya. Bagaimana kalau ia kelak di perlakukan serupa oleh Andri, anaknya sendir?. Lewat dialog dengan ibu dan Anton, terungkap kalau dulu pun ibu pernah tersesat menjadi wanita penghibur sampai dikawini ayah. 

Klimaks terjadi di Pengadilan yang memutuskan perceraian antara Herman dengan Lisa. Perempuan yang menjadi isteri muda ini mengungkapkan segalanya. "Aku ditipu Herman yang mengaku duda kematian isteri, hingga bersedia menjadi isterinya, ".

Herman sama sekali tak membantah. Ia pasrah menerima segalanya. Dan ternyata ia masih bisa menikmati sisa hari tuanya dalam kedamaian, karena diterima kembali dalam keluarga. 

Ini cerita memang teasa serupa tapi tak sama dengan film "Ayahku (1987)" arahan Agus Elyas. Padahal film itupun digubah dari sandiwara zaman Jepang. "Chichi Kaeru". Untuk ini, dipembuka film Buce sudah berdalih lewat pesan!. "Tidak ada yang baru dibawah matahari, yang sekarang ada dulu sudah pernah ada". ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA


Tuesday, June 30, 2026

PRILLY PRISCILIA


 PRILLY PRISCILIA (berita lawas). Trio Centil. Itu nama grup voal yang melibatkan Prilly Priscilia. Mungkin nama komplotan yang semunya cewek ini identik dengan watak Prilly. Sekilas, tak ada bagian tubuh tertentu yang berkesan menggoda dari mahasiswi Universitas Pancasila ini. Asal tahu saja, kalau sudah bicara dengannya, asal mampu menahan goncangan perut. Apa lantaran ia doyoan humor hingga memilih pacar pun kebingungan? "Nggak tahu, tuh. Mama juga bingung, kok yang namanya cewek kalau sudah ngakak kedengarannya kayak raksasa. Sampai ia bilang lama-lama mulut saya bisa cablak. Enak kan cablak. Buktinya Sophia Loren punya bibir cablak malah laku keras, " celoteh Prilly yang lagi-lagi memasang jurus candanya. 

Prilly jelas bukan Sophia Loren yang kadangkala bersaing dengan Elizabeth Taylor dalam hal koleksi pacar. "Rasanya tiada hari tanpa ketawa. Mungkin sayalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Saya bisa kurang ajar juga, lho. Kalau teman marahan, lantaran tersinggung. Saya melawannya dengan humor. Jadi, jangan harap marahannya bertahan lama, " ucap pesinden lagu-lagu ceria yang pernah main di film Lintar, Ketika Musim Duren Tiba racikan Abdi Wiyono. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Sunday, June 28, 2026

LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat

 


LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat (kisah lawas).  Betapa riangnya Lela Monica dapat kesempatan berlakon dalam film Bangkit Dari Kubur (1988). Sudah lama keinginan main film dipendamnya dan sekarang kesempatan itu datang. 

Dirumah sebelum berangkat ke lokasi suting, ia harus "bertempur" dengan orangtua. "Mulanya saya tak direstui main film, padahal hari itu sudah harus berangkat ke lokasi suting. Saya harus mati-matian meyakinkan orangtua, " katanya. Tekad Lela yang kuat sampai orangtua tak kuasa menahan keinginan anaknya. 

Tiba di lokasi suting, di kawasan Dago Bandung, Lela masih yakin akan kemampuan dirinya berlagak di depan kamera. Begitu suting akan dimulai, baru merasakan betapa jantungnya berdebar kencang, rasa takut menghantui. Dari dahinya yang putih mulus mengucur deras keringat. 

"Kok saya jadi demam kamera? Lalu, saya coba menarik nafas dalam-dalam untuk konsentrasi. Terasa kini seluruh tubuhnya basah kuyup, padahal Dago tempat yang sejuk," ujarnya mengenang. Saat kamera mulai berputar tetap saja Lela buat kesalahan. Sutradara "ngebomnya" dengan omelan-omelan pedas. 

"Saat itu saya ingin lari dari lokasi. Habis Lela belum pernah dihina seperti itu sih".

"Sejak mendapat pengalaman itu, saya tak berani lagi sok yakin. Hikmah kenangan itu sekarang adalah, setiap mendapat tawaran main film atau nyanyi, selalu minta restu orang tua, " katanya. 

Memang, sejak melakoni film perdananya itu Lela semakin gencar mendapat tawaran difilm, sinetron maupun rekaman lagu. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992

Saturday, June 27, 2026

FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN


FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN (berita lawas). Bagaimana menyuguhkan sebuah film komedi yang utuh cerita dan leluconnya, bukan cuma penggalan dagelan sudah menjadi obsesi insan film sejak lama. Hal ini coba diwujudkan lewat film gess PT. Parkit Film yang trio produsernya Raam-Dhamoo-Gobind Punjabi kian lihai meracik ide-ide lucu. Apalagi ditangani Chaerul Umam yang punya Sense of Humor Tinggi. 

Dengan barisan pemain langganan Parkit, Ray Sahetapi, Lydia Kandou, Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Zaenal Abidin, Baby Zelvia, Ida kusumah, Kadir, Doyok plus Pak Tile, maka bom tawa dipasang pada setiap adegan sampai meledak dalam huru hara klimaksnya. 

Cerita berporos pada pengantin baru Rio-Anita yang tinggal di Gedung mewah mertua. Sejak mengantar keberangkatan ayahnya ke bandara, sudah terjadi kesalahpahaman gara-gara Rio dikecup cewek yang salah kira. 

Kecemburuan Anita berkembang saat  Rio tak pulang dari rapat di Puncak. Padahal ia diajak atasannya menghadiri ultah rekanan. Untuk melunakkan isteri ngambek, Rio cari akal bulus. Advis Kadir untuk mengajak teman fiktif bernama unik, Hamid Hamad bin Himad Hamid, disambar bulat-bulat. Sobat lama Oskar Hutajunjung, yang diminta menyamar langsung akur. 

Padahal orang bernama Hamid Hamad bin Himad Hamid itu benar ada. bahkan Anita datang kerumahnya untuk mengundang makan. Maka semuanya tumplek bleg datang, termasuk Om Bowo, Tante Emma, Nyonya Hamid, bahkan Nyonya Oskar, semua rahasia terbongkar!. Ditengah kekacauan tinggal Kadir yang bernafsu melahap hidangan lezat. Tak terduga selop Tante Emma melayang ke mulutnya. 

Kalau dalam film-film terdahulu biasanya Anita diperankan Ida Iasha, sekarang digantikan Lydia Kandou yang ternyata bermain lebih matang sebagai isteri pencemburu. Begitu pula Nurul kebagian peran jadi istri muda Doyok yang galak dengan suara melengking-lengking. 

Deddy sebagai anak lelaki Batak yang sok tinggal di hotel mewah, padahal masih menganggur dan cuma mengandalkan isteri yang bekerja, tinggal juga di losmen murahan, bagai mengulang peran Eddy Pasaribu dalam "Kanan Kiri Oke". Begitu pula halnya dengan Ray, Zaenal dan Idakusumah, tetap dengan stereo-type peran mereka biasanya.

Adalah Kadir, yang diberi porsi lebih. Kendati begitu, tokoh batur (pelayan) sok pintar yang sering diminta advisna oleh majikan jelas di comot dari pakem "Srimulat". Bedanya, pengarahan Mamang membuat segala gimmick dan jogetan Kadir lebih kocak. Dan sekali urat syaraf geli penonton sudah tergelitik, sekedar bunyi-bunyian bel atau  telepon yang unik saja bisa jadi letusan gerrr!. Iseng-iseng cobalah hitung berapa kali pesan "Jangan Bilang Siapa Siapa!" diucapkan sepanjang film.   ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

NENO WARISMAN


 NENO WARISMAN (berita lawas). Selepas berlakon di film Cipluk Semua Sayang Kamu (1989) karya sutradara Ida Farida, Neno Warisman tak pernah muncul lagi di kancah produksi film. Seakan tenggelam "dilautan" arus artis muda. Untung saja ia dapat bermain bagus dalam sinetron Sayekti dan Hanafi, garapan almarhum Irwinsyah, yang kembali mengorbitkan namanya dalam seni peran. 

Isyu terakhir yang tersiar mengatakan, bahwa perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman ini, akan menanggalkan baju kerartisannya untuk mendalami Islam. Ternyata itsyu itu hanya berita burung. Sampai saat ini Neno Warisan merasa tetap eksis menggeluti seni. Lalu, bagaimana dengan isyu tidak akan melepaskan jilbab?

"Itu baru berita benar", katanya tanpa komentar panjang lagi. 

Bukankah jilbab akan membatasi kegiatan dalam berkesenian? "Saya kira tidak, tergantung materi yang disodorkan," kilahnya. Tekadnya untuk tidak membuka jilbab sudah "membatu". Meski dibayar mahal, ini tantangan lain yang harus diwaspadainya. 

Disaat artis lagi mau-maunya buka-bukaan, mengapa kamu menutup diri, jeng?

"Itu prinsip hidup," katanya singkat. karena alasan itu pula Neno Warisman bersedia menjadi pelayan masyarakat yang berangkat menunaikan Haji. Kalau tahun lalu ia ke Mekkah menjadi tamu Allah tok, "tapi sekali ini saya harus bisa melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Ini tugas yang berat juga."

Untuk membuktikan keberadaanya bergelut akrab dalam napas Islam, Neno mencoba tetap eksis dalam jalur musik dakwah. Kenyataan itu erat kaitannya dengan meledaknya album "Mutiara Hikmah, produksi Rintop Record yang dirilis awal tahun 1992 ini. Sepulang dari Mekah Neno akan membuat gebrakan baru lagi, yaitu satu ini adalah kesinambungan album sebelumnya, Senandung Mutiara, demikian nama album itu. 

"Dengan adanya "Senandung Mutiara" ini adalah salah satu kiat berdakwah lewat jalur musik, " katanya singkat. Alasan itu sudah menggambarkan maksudnya. lalu bagaimana dengan seni peran? "Saya masih pikir-pikir, " lanjutnya. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


Tuesday, June 23, 2026

NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT

 


NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT (berita lawas). Nunu Datau yang adik kandung mantan artis Mutia Datau ini, boleh diharapkan sebagai bintang remaja potensial. Pengalaman main film memang sudah dikenalnya sejak usia anak-anak, antaranya di tahun 1985, pernah memerankan adik Iwan Fals dalam "Damai Kami Sepanjang Hari"nya Sophan Sophiaan. 

Kini, memasuki usia remaja, Nunu pun sering ikut mendukung film-film bertemakan keremajaan. Sebutlah misalnya serial "Lupus" yang mempertemukannya dengan sang gacoan Ryan Hidayat. Namun memang hampir selalu Nunu cuma kebagian peran pembantu saja, masih belum mendapatkan kesempatan untuk memainkan peran utama. 

Begitu juga dalam filmnya yang beredar medio Januari 1992 ini, "Pesta" arahan Eduard Pesta Sirait. Disini ia berperan sebagai teman sebangku si tokoh utama Desy Ratnasari di sebuah SMA. Walau tetap jadi pemeran pembantu, namun penampilannya yang manis ceria bisa mencuri perhatian penonton. 

Menyusul untuk pembuatan "Rini Tomboy" menjelang akhir tahun 1991, Nunu pun ikutan ke Pantai Kukup di selatan Yogya. Terjadi suati peristiwa yang sangat menggelikan menjelang suting. Untuk menghidupkan suasana alam pedesaan, sutradara Noto Bagaskoro meminta Yadi dari Bagian Unit untuk menyiapkan beberapa ekor kambing yang disewa dari penduduk setempat. 

Ternyata seekor kambing jantan besar yang lazimnya disebut bandot, sangat nakal. Yadi yagn membawanya dengan tali pengikat leher sempat diseruduk sampai tunggang langgang. 

Eh, di pantai kebetulan Nunu sedang membungkuk sampai nungging, untuk membetulkan tali sepatunya. Si Bandot langsung nafsu melihat pinggul Nunu yang membulat didepannya. Mungkin disangkanya Nunu sengaja menantangnya dengan menunggung begitu. Tanpa bisa di cegah lagi, si bandot langsung menerjang, "Brasss?!)

Nunu tersungkur ke pasir sambil menjerit.

Noto, Yadi, Adjie, Jujur Prananto dan lain-lainnya buru-buru menolong Nunu dan mengamankan si bandot galak. Bagi Nunu, mungkin sakitnya sih tak seberapa, tapi kagetnya itu lho! Untungnya, tak sampai terluka, tapi beritanya cepat tersiar malah di bumbu-bumbui menjadi "Nunu Diseruduk bandot birahi!~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.