Showing posts with label KPFIJ. Show all posts
Showing posts with label KPFIJ. Show all posts

Saturday, August 1, 2026

CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG

 


CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG  (film lawas) -. Inilah film "Catatan Si BOy" Jilid III yang semakin membawa orang pada dunia mimpi dan menyeret trend film Indonesia menjauh dari isi. Agar mimpi kian mendekati kenyataan, jangan lupa nonton film sembari minum Pepsi Cola dan merokok Bentoel, agar kian menyatu dan apa yang di pamerkan Nasri Cheppy, sutradara muda berbakat yang larut dalam arus sorak sorai penontonnya. 

Ceritanya tak begitu penting karena memang tak menjamah hal-hal baru. Si Boy, tiba-tiba pingin sekolah ke Los Angeles. 

Vera, doinya, yang ditinggal, gelisah dan pengin liburan ke LA, nyusul si Boy. Dan tak usah bingung kalau melihat Emon tiba-tiba juga kangen si Boy dan pengin liburan ke LA. Ini biar gampangnya saja meski ada kesan menyepelekan otak sehat kita. 

Tak perlu tahu apa kerja orangtua mereka. Cuma yang dikagumi para orang tua ini langsung mengiyakan saja keinginan anak-anak mereka. Di Amri (Amerika), Boy kita kenalan cewek disc jock turunan Philiphine Indonesia, Sheila, setelah Boy jadi 'pahlawa, menyelamatkan Sheila dari perkosaan bule yang gede tapi toh kalah sama Boy. 

Di Amri, tak perlu dikisahkan apa kerja Vera dan Emon karena tak penting benar, terkecuali mereka Shopping, ke pantai dan keluyuran. Sebab disini ada Jeffy, orang Indonesia yang hebatnya jadi kepala geng berandal para bule brewok, yang bentrok dengan Boy gara-gara Boy pengin menyelamatkan Sheila dari ketergantungan kokain, selanjutnya cerita bisa dikarang-karang sendiri, bisa ditambah sesuka sutradara dan penulis cerita. Dan jangan lupa membayangkan diri dalam kehidupan Boy, naik Ferari sembari minum Pepsi. Karena itulah iming-iming sembari ngobrol "fuck yon!"

"Catatan Si Boy III bisa di catat sebagai kemajuan penguasaan tekhnis yang dimiliki Nasri Cheppy. Ia makin cekatan dalam mengolah adegan dan menemukan gambar-gambar menghibur. Tapi ia lupa bahwa isi dan cerita adalah persoalan serius dalam membuat film. Tapi "Cabo III" sungguh menyepelekan selera keseriusan kita dalam menikmati film yang agak baik. Apalagi disini tak ada kemajuan akting para pemainnya. Adakah ini bentuk main-main dari sutradara Cheppy seperti yang digambarkan pada adegan akhir, dimana semua pemain disuruh mejeng dan sang sutradara diperlihatkan asyik menyutradarai pemainnya? Siapa tahu itu benar, dan itu sungguh sayang.~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

Persembahan : Asosiasi Importir Film

Produser : PT Bola Dunia Film

Sutradara : Nasri Cheppy

Cerita, skenario : Marwan Alkatiri

Pemain : 

Onky Alexander ..............Si Boy

Meriam Bellina................Vera

Didi Petet ........................Emon

Leroy Osmani .................Jefry

Ida Kusumah....................Mama Vera

Bella Esperance..............Sheila

Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA


Tuesday, May 26, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA

 


PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA (Suting film). Tanpa Banyak publikasi, hampir secara diam-diam saja, Hendrick Gozali telah merampungkan produkse ke 52 PT. Garuda Film yang berjudul "Pendekar Cabe Rawit".

"Film ini merupakan sebuah film silat dengan setting kisah di Jawa Tengah pada masa lalu, " jelas produser. "Itu sebabnya kami memilih lokasi d Yogya dan sekitarnya saja. "

Biasanya Garuda memproduksi film-film bertema drama rumah tangga seperti misalnya "Tirai malam Pengantin", "Dewi Cinta" dan "Api Cemburu" baru setelah "Pernikahan Berdarah"nya Torro Margens mulai merambah ke tema silat juga. 

Sutradaranya kali ini di pilih Abdoel Kadir yang baru untuk pertama kalinya mencoba menjadi sutradara penuh. "Saya lihat dia cukup berbakat dan sudah waktunya diorbitkan, setelah beberapa kali menjabat sebagai astrada dalam film-film terdahulu, " puji Hendrick. 

Dari barisan pemain utama dipasang, Uci Bing Slamet, Syaiful Nazar, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS, dan pendatang baru Monica Oemardi. 

Uci tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Indonesia. Begitu pula halnya dengan Jhan yang belakangan sering kebagian peran antagonis seperti misalnya dalam "Genta Pertarungan" sebagai karateka licik yang mencurangi Advent Bangun. 

Begitupula halnya dengan W.D Mochtar yang sudah tidak asing lagi dan Sutopo HS yang terkenal lewat peran seabgai Pak Atmo dalam drama Seri "Losmen" di TVRI.

Tapi nama Syaiful Nazar terdengarnya masih asing. Padahal ia sudah beberapa kali ikutan mendukung film silat. Antaranya sebagai pendekar bloon dalam "Mandala Dari Sungai Ular" yang menjadi sahabat Barry Prima, juga dalam Rio Sang Juara ia berperan sebagai seorang patner Willy Dozan. 

Syaiful Nazar menguasai pencak Silat, juga pernah menjadi juara senam nasional, bahkan se Asean. Itu sebabnya mampu menghidupkan tokoh pendekar Cabe Rawit yang rada-rada kocak, " jelas sutradaranya. 

Ada adegan pertarungan seru antara Syaiful kontra Johan, gara-gara Johan yang berwatak playboy ingin memperkosa si bunga desa Uci. Dengan jurus pencak silatnya, Syaefil berhasil mengimbangi Johan yang merupakan seorang Karateka. 

Tak Sampai sebulan seluruh suting dirampungkan, semuanya kembali ke Jakarta. Proses selanjutnya mulai dari pengisian suara, editing, mixing, tata musik dan sebagainya di kerjakan di Inter Studio. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Sunday, May 24, 2026

CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA

 


CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA (berita lawas). Menjelang pembuatan film "Jawara Jawara" diselenggarakan selamatan. Diantara bintang yang datang selain Dewi Yull dan Eeng Saptahadi, terl "ihat juga aktris kawakan Nani Wijaya. Tentu saja para wartawan mengira Nani akan ikut  main, mungkin sebagai ibu Ayu Azhari. 

"Eh, saya tidak ikut main lho," tertawa Nani. "Saya cuma mengantar Cahya. Dia yang bakal ikut main".

Remaja yang ditunjuknya, Cahya Kamila berkulit hitam manis, tersenyum tersipu-sipu. Ternyata mengikuti jejak ibunya, anak ketiga dari pasangan Misbach Yusa Biran - Nani Wijaya ini mulai ikutan main film juga. 

"Kalau main film bioskop memang ini baru untuk pertama kalinya,"sebut Cahya yang dilahirkan di Jakarta pada 8 Agustus 1972. "Namun saya sudah pernah ikutan mendukung beberapa sinetron produksi TVRI."

Disebutkan beberapa judul diantaranya, Lahirlah Sang Bintang dan Anggraini. 

"Padahal dua kakaknya sama sekali tak tertarik pada seni peran, tapi yang ketiga ini memang ikut jadi anggota Teater Permata, " tambah sang ibu. 

Bahkan dalam rangka merayakan Super Semar dalam awal Maret 1990 yang lalu, Cahya berhasil meraih juara Baca Puisi. 

Lalu siapa yang sekarang memilihnya jadi pemain "Jawara Jawara?".

"Sutradaranya sendiri, Mas Firman Triyadi yang datang kerumah dan memilih saya untuk ikutan berperan sebagai seorang gadis desa bernama Fatma".

Semula sang ayah, Misbach Yusa Biran yang udah lama tidak menyutradarai film karena kesibukannya menjadi kepala Sinematek, rada tertegun juga ketika putrinya ini minta izin untuk main film. Tapi akhirnya diberi izin juga dengan syarat tak boleh melalaikan sekolahnya. Maklum, Cahya baru duduk di kelas 2 SMA. 

"Wah sekarang ada dua bintang film dirumah kita, bukan cuma jadi monopoli ibunya saja, " demikian kira-kira seloroh Misbach. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*Pada Akhirnya Cahya Kamila cukup dikenal di dunia sinetron diikuti oleh adiknya, Sukma Ayu sebelum akhirnya Sukma meninggal dunia. 

Friday, May 15, 2026

KEPINGIN SIH KEPINGIN,

 


KEPINGIN SIH KEPINGIN, Cewek Gampang Dapat Kerja. Cari pekerjaan memang tidak gampang di Jakarta. Setiap ada satu lowongan langsung diserbu olehpuluhan bahkan ratusan pelamar. Arkadi yang lulusan Bussines Administration sudah setahun berusaha tanpa hasil. Tapi ketika di test mengetik di PT. Bumi Tak Berdaya, ia mendapat pujian Kepala Kantor. Sayang, harapan diterima bekerja buyar lagi gara-gara muncul cewek yang berani nyobek rok. Padahal ngetiknya tak karuan. Kepala kantor yang mata keranjang langsung membatalkan Arkadi dan menerima si cewek rusak. 

Arkadi yang sakit hati sampai pada kesimpulan, "Cewek lebih gampang dapat pekerjaan!". Maka iapun menyamar sebagai Dorce Sinthesa dan menirukan gaya mengetik yagn mirip nabuh gendang. Benar saja, pak Sori langsung menerimanya sebagai sekretaris. 

Tapi mulai timbul problema ketika Dirut Masri yang sudah lama menduda jatuh hati padanya. Juga Murce yang dikenal sebagai perempuan dingin berlesbi dengannya. Bagaimana cara Dorce alias Arkadi memecahkan semua problema ini?

Sutradara Hengky Solaiman menyebutkan karya ini sebagai sebuah "komedi ajaib" karena Akating Deddy Mizwar sebagai Dorce lain dari yagn lain. Kendati menimbulkan gelitik dihati penonton namun lain dengan gelitik yang ditimbulkan Emon misalnya.

Komedi yang skenarionya ditulis oleh Drs. Asrul Sani ini memadukan kelucuan-kelucuan yang halus dengan kasar. permainan Lydia Kandou sebagai si perawan tua Murce menampilkan kematangan dan juga kelainan. Sedangkan Wahab Abdi yang sudah lama absen dari menyutradarai bermain kocak, berhadapan dengan Paul Polii pelawak veteran Srimulat. Didukung pula oleh Pak Tile, Barkah, Nasir, Anen dan si gigi mencuat Diding Z.A. 

Thursday, May 14, 2026

SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK


 SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK (berita lawas). Sejak siang bumi Perkemahan Pramuka Pasar Minggu, Jakarta Selatan diguyur hujan. Malamnya udara dingin, embun turun mengantar udara basah. Kelihatan kru film Selir Adipati Gendrasakti sutradara Tjut Djalil terseok-seok bekerja dibawah rerimbunan pohon akasia. Meski begitu semua kelihatan serius, ingin cepat selesai, demikian terkesan. 

Dari kejauhan, lampu-lampu dipasang dua kelompok, saling berdekatan, tapi tidak saling menyambung. Meski dalam satu arena namun dua suting dalam satu cerita. Disatu tempat untuk mensuting adegan perkelahian antara Selir Adipati dan jaka Galing. Sementara tempat lain suting membuat trik-trik, kamera dipercayakan dengan Tjutju Sutedja dan dikomandoi langsung oleh Tjut Djalil. Adegan perkelahian dipercayakan kepada astrada Fredy S dibantu instruktur laga, Heru. 

Hampir separuh suting beradegan malam hari, kondisi ini membuat kru sepanjang suting lebih banyak melek di malam hari. Sehingga baru jam menunjukkan pukul 24.00 WIB para kru sudah ngantuk. Begitu juga suting adegan perkelahian, artisnya berlaga tanpa konsentrasi sehingga suting banyak ngaconya. Beberapa kali adegan harus di re-take. Eric Soemadinata yang menjadi Jaka Galing suka ngomel kepada lawan mainnya. 

Kontan saja pelakin Selir Adipati Gendra Sakti, yang dilakoni Lela Anggraeni hanya bisa menahan emosi. Di asadar bahwa lakonnya sebagai artis laga baru kali ini diberikan kesempatan. 

"Saya sudah ngantuk berat, tapi harus tetap suting. Padahal sekarang saya sakit, ini saya paksakan datang ke lokasi suting, " kata Lela Anggraeni. Karena itu pula Lela acap melakukan kesalahan. Sedihnya, ketika serius rumput becek membuat Lela terpeleset, spontan kru dan penonton yang menyaksikan tertawa lepas. 

Dua kamera di pakai untuk mengejar waktu suting. Konon kabarnya kru supaya menerima lunas honor untuk bisa dipakai berlebaran. Karena bersisa delapan hari puasa lagi. 

Film produksi PT. Virgo Putra Film ini bertemakan action klasik dengan mengambil latar belakang masa Majapahit. Terang-terangan Tjut Djalil mengatakan bahwa filmnya ini tidak menyinggung soal kultur masa itu. Hanya saja, meminjam settingny atok. "Mau tidak mau harus begitu karena film ini sendiri mengangkat cerita Kho Ping Hoo dan diskenariokan oleh Djoko Kusdiman. Tapi saya tidak bicara soal kultur yagn ada pada saat itu,' kata sutradara kelahiran Tanah Rencong , Aceh ini. 

Ceritanya berkisah tentang "selir" Adipati Gendra Sakti yang menggila. Selir ini punya ambisi untuk menghancurkan kerajaan, karena  rasa sakit hatinya. Maka sang selir yagn memiliki ilmu siluman itu berusaha mempengaruhi Adipati Gendra Sakti. Maka tercampaklah permaisuri, lalu selir yang seksi ini melakukan fitnahan-fitnahan kepada eisi isitana. Sehingga istana menjadi kacau. 

Film ini di dukung oleh Dolly Martenn, Lela Anggraeni, Eric Soemadinata, Mandara, Hesti Syani, Haris, dan Meise Arista. Dengan lokasi suting Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Bumi Perkemahan Pasar Minggu serta Sukabumi dan Jawa Barat dan sekitarnya.  ~sumber : MF 126/93 tahun VII, 27 April - 10 Mei 1991. 

Sunday, April 12, 2026

DALANG DALANG SAUR SEPUH


DALANG DALANG SAUR SEPUH, Film memang kerja kolektif. Tidak seorangpun berhak mengklaim diri sebagai yang paling berperan dalam proses pembuatannya. Catatan kecil tentang 3 dalang saur sepuh ini sekedar memperlihatkan posisi mereka pada peta perfilman nasional. 

Imam Tantowi, Sutradara kelahiran Tegal, patut untuk disebut "dalang" film-film laga handal. Ketika mam Tantowi dipercaya PT Kanta Indah Film untuk mengangkat cerita fiktif berlatar belakang kerajaan Majapahit itu, capaian penontonnya diatas capaian penonton film Indonesia lain, Malah melebihi jumlah penonton film impor kala itu. 

Ia sutradara keras, Menumpas Teroris, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh juga Soerabaia 45, menempatkan film tersebut dalam daftar film nominasi festival film Indonesia. Malah Soerabaia 45 memberikan Piala Citra kedua dalam karier Towi. Sutradara ini juga dikenal sebagai penulis skenario. Si Badung, memberkan Piala CItra buatnya dalam kapasitas sebagai penulis skenario. 

Torro Margens, dalam Istana Atap Langit, lebih dulu dikenal sebagai pemain teater handal. Dia, pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival teater se DKI, Sanggar Prakarya yang dipimpinnya, berulangkali muncul sebagai grup terbaik dalam festival teater SLTA di Jakarta. 

Sebagai sutradara nama Torro diperhitungkan ketika berhasil memasuki film Pernikahan Berdarah dalam film pilihan di festival film Indonesia tahun 1988.

Di banding keduanya, Abdul Kadir terbilang sutradara "wajah baru" dalam pembuatan film laga. Toh begitu, film Pendekar Cabe Rawit yang ceritanya diilhami dari film Big Boss, masuk dalam 18 besar film pilihan Komite Seleksi FFI 1990. "Saya bangga, karena film gedebag gedebug yagn selama ini disepelekan, mulai dihargai, dinilai dan diperhitungkan, ini satu langkah yang menggembirakan. 

Abdul Kadir dipercaya PT. Global Sarana Media Nusantara yang bekerjasama dengan produsen obat PT. Kalbe Farma membuat Saur Sepuh ke panggung sinetron yang ditayangkan di TPI dengan bintang utama George Rudy sebagai Brama Kumbara. 

Jam terbangnya sebagai sutradara terbilang masih pendek namun sebagai astrada, Abdul Kadir terbilang lebih dari cukup. Duapuluh empat film dengan sutradara-sutradara beken lain, pernah diikuti mantan mahasiswa ASDRAFI Yogya tahun 1972 ini. "Saya sempat jenuh dan ingin meninggalkan dunia film, " katanya suatu ketika. ~MF 179/146/Th IX, 15 Mei - 18 Mei 1993

Selain tiga dalang diatas, ada satu lagi yang juga 'dalang' Saur Sepuh meski mengambil judul lain yaitu Singgasana Brama Kumbara. Dia adalah Denny HW yang di peraya oleh PT. Menara Gading Citra Perkasa yang menggarap Singgasana Brama Kumbara dengan bintang utama Anto Wijaya sebagai Brama Kumbara dan tayang di ANTEVE. 

Tuesday, January 27, 2026

ADVENT BANGUN, PUNYA DUA KARAKTER


 ADVENT BANGUN, PENULIS SKENARIO DAN CERITA  GENTA PERTARUNGAN Jangan pingin jadi juara kalau anda tak bisa menaklukkan diri sendiri. Ini bukan nasihat, tapi setidaknya ini wanti-wanti yang harus di dengar oleh setiap orang yang akan memasuki perguruan silat atau ilmu bela diri yang lain. 

Advent Bangun, Jawara dalam soal beran tem dalam film, memegang kuat falsafah ini. Dan dia laris membintangi film laga. Sebuah film yang juga masih berkisar soal bak buk muncul. Ide ceritanya diilhami oleh pengalaman Advent sendiri. Film itu berjudul Genta Pertarungan yang mempunyai judul asli "Sang Pemenang". 

"Ide itu memang muncul dari pengalaman pribadi, yang kemudian saya angkat dalam cerita. Tentu perlu di dramatisir sedikit supaya tambah seru, " kilah Karateka penyandang DAN IV ini dengan suara mantap dan menggelegar. 

Film ini menceritakan tentang seorang karateka yang mempunyai keinginan besar untuk menyabet kejuaraan terbuka, dalam sebuah perlombaan. Padahal oleh isteri dan mertuanya, sang jagoan ditentang mati-matian karena khawatir akan terjadi apa-apa. Sampai-sampai pakaian karate yang sering di gunakan di bakar oleh si mertua. Si jagoan ini makin penasaran. Pada saat pertandingan berlangsung, ia sudah mulai cedera. Tangannya luka parah, bahkan nyaris patah tulang. Apalagi ia tahu kalau ada lawannya yang menggunakan dopping. Ia ingin menaklukkan lawannya sekaligus menaklukkan diri sendiri. Akhirnya iapun memenangkan pertandingan itu, menjadi sang pemenang. 

"ini memang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya dilarang ikut karate oleh orang tua dan kakak saya. Darisinilah ide itu saya tulis dalam sebuah cerita dan setelah saya sodorkan pada produser, ernyata diterima, " tambah Advent Bangun. 

Film ini jelasnya mengisahkan heroisme seseorang. Benar begitu bung? "Lho saya kan jagoan, tapi saya nggak boleh sombong. Apalagi saya hidup di Melayu. Kan haru srendah hati. Meski saya orang Batak, tapi saya pernah lama hidup di Yogya. Makanya saya punya dua karakter, Batak dan Jawa.. haha.

~MF

Monday, January 12, 2026

SUTING FILM PEMBURU BERDARAH DINGIN


 SUTING "PEMBURU BERDARAH DINGIN". Sekitar jam sebelas, tepatnya Senin 11 Juli 1988, masyarakat yang khususnya pada waktu itu berada diseputar Jakarta Pusat jadi pada bingung. Beapa tidak?. Siang itu, dua pesawat helikopter dengan jarak terbang rendah, tengah saling berkejaran di udara. pesawat jenis Bolgo itu saling menukik, berkelok diantara gedung-gedung pencakar langit, bolak balik diatas jalan Thamrin dari arah utara ke selatan dan sebaliknya. 

Memang siang itu sedang berlangsung suting untuk pengambilan salah satu adegan untuk film "Pemburu Berdarah Dingin". Sebanyak lima kamera telah dipersiapkan PT. Rapi Film untuk pengambilan adegan pada scene 31,32 dan 38 dalam film ini. Setiap kamera masihng-masing ditempatkan berbeda. Seperti Paul telah siap diatap gedung Hotel Indonesia, Kamto disekitar Masjid Istiqlal sedang Bambang di percayakan untuk mengambil di Jembatan Semanggi. Sementara itu, Suranal dan Asmawi masing-masing berada di dalam kedua pesawat heli yang di terbangkan dari Halim Perdana Kusumah, bersama sutradara Arizal dan pemain utama Christ Michum. 

Suting film kali ini memang bisa dikatakan lain dari kebiasaan suting pada umumnya. Diaas atap tertinggi gedung Hotel Indonesia hanya nampak 7 kru yang terdiri dari kameraman, clepper boy dan still foto. Suasana cukup hening, panas udara diatas gedung berbaur dengan hembuan angin. Semilir dan cukup hening. Tak terdengar kata-kata sutradara yang mengatur peran, seperti suara"..kamera..s iap, action.. atau cut!. Yang nampak hanya produser Gope Samtani yang mukanya mengernyit lantara sengatan matahari sambil memantau kerja kru perusahaannya. 

"Ya, sebelumnya kira-kira jam 8.00 sutradara di kantor telah memberikan pengarahan pada setiap kameraman untuk mengambil adegan kejar-kejaran heli itu, " tutur Gope yang juga turut mengatur kerja kameraman di hotel Indonesia. 

"eh...! Tiarap.... tiarap.." kata Paul, sedikit membentak orang-orang yagn dirasa menghalangi tembakan kameranya. Maklum disitu tak ada sutradara yang biasa mengatur suasana. Jadi kameramen ini sendiri yang mengatur posisi, sambil sebelah matanya tetap brada di teropong bidik kamera untuk mengambil gambar. 

Film yang telah selesai sutingnya ini memang dibintangi aktor yang membintangi film "Dendam Membara" yang juga diproduksi PT. Rapi Film, yaitu Chris Michum, Ida Iasa juga Augus Melasz. Ditambah kini dengan Roy Marten dan Paul Hay, termasuk Sutradara Arizal dan skenario Dedi Armand. 

Lokasi Suting adalah dilakukan di Jakarta, Puncak dan Bandung. Untuk film "Pemburu Berdarah Dingin" ini, PT. Rapi Film telah membeli 12 buah mobil yang dihancurkan termasuk sebuat truk tangki. MANTAP!!


~MF 056/24 tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988



Monday, December 29, 2025

OBITUARI NAWI ISMAIL

 


OBITUARI NAWI ISMAIL. Perginya seorang Tokoh. Nawi Ismail adalah sutradara 3 jaman, Sosok seorang tokoh perfilman yang dirawat di RS St. Carolus dan beliau meninggal dunia pada pukul 13.33 Kamis 8 Februari 1990 dan dikebumikan keesokan harinya. 

Sebelum meninggal dunia, Nawi Ismail sudah menderita penyempitan syaraf tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan, juga mengidap penyakit darah tinggi. Sementara sebelum meninggal, terjadi komplikasi karena asma kronisnya kambuh, paru-parunya terisi air dan jantungnya terserang. Sehari sebelum meninggal tepatnya Rabu Sore, almarhum Nawi Ismail dinyatakan dalam keadaan koma dan dirawat di Unit Perawatan Intensif. 

Perjalanan karirnya mulai terjun ke film setelah menyelesaikan pendidikan MULO. Film pertama, Macan Ketawa telah melibatkannya sebagai pemain film figuran, dibuat tahun 1940 setelah itu, tahun 1941 sebagai pemain pembantu dalam Melati Van Agam.

Tahun 1940an, almarhum mulai mengabdi di film sebagai pembantu juru kamera, pembantu editor dan petugas lab. Kemudian ia juga ikut main dalam film Ikan Doejoeng dan Selendang Delima pada tahun 1941.

Ia jadi tentara waktu perang kemerdekaan dan berhenti pada tahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Sebelumnya, almarhum bekerja pada Nippon Eigasha sebagai pembantu editor dan pencatat skrip film-film berita Nampo Hodo. 

Di tahun 1950, setelah keluar dari TNI, bekerja pada PFN, mengedit film cerita seperti Sedap Malam dan untuk Sang Merah Putih, sambil menuliskan skenarionya yang pertama Inspektur Rachman dimana ia juga sebagai pembantu sutradara. 

Film pertama yang di sutradarainya berjudul "Akibat" yang dibuatnya pada tahun 1951. Menyusul film Solo Di Waktu malam, yang dibuat tahun 1952. Namanya kemudian mulai diperhitungkan setelah pembuatan film berjudul Berabu produksi pertama Dewi Film tahun 1960. Sedang tahun 1970an, namanya kembali terangkat setelah film Si Pitung. Film-filmnya yang banyak melibatkan Benyamin S sebagai pemain, sangat di gemari masyarakat. Dia pulalah yang mengangkat nama Warkop lewat bisokop pada tahun 1979. Film terakhir yang di sutradarai , Si Pitung Murid yang Baik (judulnya berganti ya), tahun 1986

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Monday, December 22, 2025

LEROY OSMANI, ANTI PERAN UTAMA

 


LEROY OSMANI, JEBOLAN PESANTREN YANG ANTI PERAN UTAMA. Ada aktor yang mengaku selalu menolak memerankan peran utama dalam film. Itulah Leroy Osmani. Saya tidak akan memerankan tokoh utama kalau saya tidak yakin bisa memainkannya dengan bagus. Sasaran pasti merebut Citra, minimal masuk nominasi, " kata jebolan pesantren Gontor, Ponorogo yang lahir di Ujung Pandang. 

Tampaknya prinsip ini dipegang betul Leroy yang fasih menirukan beberapa logat daerah itu. Selama kiprahnya di layar perak belum pernah memegang peran utama. Apa ini termasuk kiat mempertahankan eksistensinya di film?"mungkin,"jawabnya. 

"Film adalah pilihan hidup saya. Apapun yang terjadi saya akan tetap berada di jalur yagn sudah saya pilih. Untuk itu saya harus tetap eksis. Seperti juga saya memilih istri. Apapun yang terjadi, baik atau buruk harus saya terima. Tidak ada kamus cerai dalam hidup saya. Saya paling benci kata-kata itu. Tapi nambah lagi boleh dong?, seloroh bapak tiga anak yang juga terlibat dalam film Dua Kekasih arahan sutradara Agus Eliyas. Dalam film ini, Leroy masih tetap kebagian peran antagonis. 

Soal penampilan dalam acara TV Kamera Ria bersama Jabrik, kelompok vokal yang terdiri dari sembilan aktor beken, Leroy berkomentar "Pokoknya penyanyi panggung putus, sekali take langsung jadi, nggak pakai latihan latihan segala."

Kenapa cuma sembilan orang? "Sengaja , Dalam judi sembilan kan angka paling top. Lagu Kutak Katik kan tentang membolak balikkan angka Porkas, kata aktor yang dalam album ini membawakan lagu Semalam di Malaysia. 

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Monday, December 15, 2025

SI ROY, AKIBAT KECELAKAAN SUTING ALUR CERITAPUN DI BELOKKAN

 


SI ROY, AKIBAT KECELAKAAN SUTING ALUR CERITAPUN DI BELOKKAN. PT. Andalas Kencana Film termasuk perusahaan yang cukup produktif menggarap film-film komersial. Awal tahun (1989) lalu menyuguhkann "Si Doi" (Sally Marcellina) yang merupakan epigon "Catatan Si Boy". dan awal 1990 pun menyuguhkan film "Si Roy" yang masih tetap membuntuti cerita "Catatan Si Boy"nya Onky Alexander. 

Sutradara Achiel Nasrun sudah beberapa kali mengarahkan Ryan Hidayat (Lupus 1 Tangkaplah Daku Kau Kujitak, lupus II Makhluk Manis Dalam Bis dan juga Elegi Buat Nana). Jadi kerjasama mereka sudah cukup kompak. Cuma kali ini Ryan bukan jadi siswa SMA yang doyan permen karet, melainkan mahasiswa sederhana yang gemar mendaki gunung. 

Selain Ryan, boleh dibilang para pendukung film ini adalah kaum remaja pendatang baru semua. Margi Dyana yang bertubuh sintal sebagai mahasiswi materealistis, Ade Giuliano sebagai mahasiswa kaya yang bersaing dengan Roy, dan Monica Gunawan sebagai mahasiswi lembut yang diam-diam mencintai Roy. 

Alur cerita boleh dibilang sederhana atau malah gampangan. Sebagai Ketua Senat Mahasiswa, Roy punya ide. Berkemah sambil manjat gunung. Suasana di perkemahan sebenarnya banyak yang bisa di jadikan adegan menarik dan kocak, sayang dilewatkan begitu saja cuma untuk hiruk pikuk.

Saat mendaki ke kawah, Novi terjatuh  ke lembah curam. Iwan yang mengajaknya tak mampu menolong. Tentu saja hanya Roy yang jadi penolong. Sejak saat itulah Novi bersedia meladeni Roy. Tiwi yang lembut diam-diam menyingkir melihat Roy berpacaran dengan Novi. 

Kembali ke Ibukota, Novi mulai menghindari Ro, dan intim lagi dengan Iwan. Akibatnya beberapa kali terjadi baku hantam antara Roy dan Iwan. Padahal Roy yang berpenapilan sederhana sebenarnya anak boss orangtua Novi. Demi menyadari hal ii, Novi pun bersedia pacaran lagi dengan Roy. 

Kalau menurut cerita aslinya, seharusnya Roy menolak Novi dan memilih Tiwi. Sayang sekali tokoh Tiwi tak mungkin muncul lagi karena pemerannya, Monica Gunawan mengalami kecelakaan berat. Mobil yang membawanya terbalik dan terbakar di jalan tol Bogor-Jakarta. Sebagian wajah Monica luka terbakar. Sedangkan beberapa awak (kru film) ini tak tertolong lagi. Karena kefatalan inilah, terpaksa alur cerita di belokkan. Tokoh Tiwi di ceritakan melanjutkan sekolah musik keluar negeri, sedangkan Novi baikan lagi sama Roy. 

~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Thursday, November 27, 2025

RINA LIDYA RAWIT

 


RINA LIDYA RAWIT  anggota Srimult pertama main film di gaet oleh Nya' Abbas Akub untuk mendukung film "Cintaku Di Rumah Susun" . Di susul film-film berikutnya Kipas-Kipas cari Angin, Nyoman Dan Merah Putih, Wanita Harimau atau Santet II serta Makelar Kodok. 

"Pertama saya main di depan kamera rasanya seperti di uber setan gitu, lihat kamera kayak lihat setan, takut. Tapi lama-lama ya enggak," kata Rina. 

Setelah jadi pembatu dalam Cintaku Di Rumah Susun, Rina jadi isteri Pak Tile dalam Kipas-Kipas Cari Angin, kemudian jadi keponakan tokoh yang dimainkan oleh Roy Marten dalamfilm Nyoman dan merah Putih. Sedang dalam Wanita Harimau atau Santet II jadi pacar Bokir, dan dalam Makelar Kodok jadi hostes. 

"Jadi apa saja, diajak siapa saja saya mau, asal tidak diajak nyebur sumur aja," ungkap Rina yang lahir 19 Februari 1960 yang merupakan saudara kandung dari Neni Ribut Rawit yang juga main di Srimulat. 

Selain ikut dengan Srimulat, Rina juga sering melawak dengan grup-grup lainnya seperti grup Srimulat, Grup Tarzan, dan Grup Eddy Gombloh. Tarif sekali manggung Rina mengantongi Rp. 400.000,-.

Setelah sekali main film, Rina mengaku ketagihan. Kalau akting di panggung merasa leih bebas an spontan sedang di film selalu berdasar skenario dan petunjuk sutradara. 


~MF 095/63 Tahun V, 17  Feb - 2 Maret 1990

Tuesday, November 25, 2025

DARTI MANULANG

 


DARTI MANULANG. Penampilan awalnya di layar gelas. Kemudian mendapat tawaran untuk main film. Lalu suting film inilah yang sempat membuatnya sakit lever. Padahal kedua orangtuanya tidak menyetujui bergelut di dalam bidang film. Darti manulang juga berhasil menamatkan kuliah di UKI dan menyandang gelar SH. tentu sebuah gelar yang bergengsi. 

Darti sakit lever karena terlalu letih, akibat suting. itulah sebabnya ia lebih suka menjadi pengacara daripada seorang artis. Karena kesibukannya di luar film, Darti juga sempat menolak tawaran main film yang datang padanya.Ia menolak bukan karena ditawarin film berbau  s e  k s, karena ia pasti akan menolaknya untuk adegan tersebut. 

Artis bernama lengkap Resmina Yadharty Manullang ini juga sempat melakoni beberapa film nasional antara lain "Jangan kirimi aku bunga, Di balik Dinding Kelabu" Lupus I dan II, Lintar, Lebih Asyik sama Kamu, Djakarta 66 dan Bayar Tapi nyicil. 

Ada yang masih ingat artis ini? mungkin lebih kenal sebagai artis sinetron dengan peran antagonisnya??

~MF 095/63 Tahun V, 17  Feb - 2 Maret 1990


Friday, November 14, 2025

NENA ROSIER


 NENA ROSIER, memasuki tahun 1986 Nena Rosier memperoleh tawaran untuk menjadi pemeran utama dalam film "Telaga Airmata". Dan tentu saja tawaran yang simpatik ini diterima dengan senang meskipun hal itu merupakan sebuah tantangan bagi dirinya. 

Film-film Nena Rosier sebelumnya seperti Rose Beracun, Tergoda Rayuan, dan juga telaga Airmata.  Film "Telaga Air Mata" di angkat dari novel yang di tulis oleh Ris Prasetyo oleh sutradara Chris Helweldery yang sebelumnya merupakan tulisan yang pernah dimuat secara bersambung di sebuah majalah Wanita. "Ternyata Novel itu dibuat dari sebuah kisah nyata", jelas Nena. "Tokoh Yeni yang saya perankan itu adalah seorang pelajar SMP di Surabaya," kata Nena . Film ini skenarionya di tulis oleh Arswendo Atmowiloto. Fim Telaga Air Mata turut di perkuat oleh Rima Melati , Ully Artha, Frans Tumbuan, Bambang Hermanto, S Bono dan juga Hendra Cipta. 

Selain di film Nena mengaku sudah lama berniat rekaman, namun baru tahun 1986 ia berkesempatan melakukannya, "Habis saya selalu sibuk dengan film Bangkitnya Nyi Roro Kidul yang di sutradarai oleh Sisworo Gautama dan dalam film itu Nena jadi wartawati mendampingi Suzanna. 

Album kaset "Pop Bosas Selection" di selesaikan Nena Rosier berisi lagu-lagu ciptaan Pance Pondaag, Obbie Mesakh dan lain sebagainya. "Pendeknya lagu-lagu yang top lalu saya bawakan kembali dengan irama bosas, jelas nena tentang rekamannya. 


~RF 625~

Saturday, November 1, 2025

SEKILAS DJOHAN DJEHAN

 


SEKILAS DJOHAN DJEHAN. Dilahirkan di Bogor, 11 Agustus 1956. Keinginan dan perhatian pada dunia seni berkembang terutama pada jenis seni teater, Setelah lulus SMA ia masuk IKJ pada departemen Teater. Dan Teater mengantarkannya ke dunia film. 

Sejak kecil memang senang nonton pertunjukkan sandiwara dan film, demikian pengakuan Djohan, maka ketika SMA ia aktif mengikuti kegiatan drama sekolah. Dan ketika menjadi mahasiswa IKJ ia sering ikut mengadakan pertunjukkan sebagai pemain baik di panggung maupun TV. Kemudian akhirnya ia diajak Nasri Cheppy untuk mendukung film Didadaku Ada Cinta dengan bintang utama Rano Karno dan Paramitha Rusady. 

Dalam film ini Djohan mendapat peran pembantu sebagai Johan yang merupakan teman Bob Ridwan yang di mainkan Rano Karno. Djohan yang dulu senang nonton film sejak kecil, kini telah menjadi bintang film. Film-film yang paling senang di tonton adalah Action dan horor. Adapun bintang idolanya adalah Marlon Brando, Al Pacino dan WD Mochtar. Setelahnya Djohan Djehan juga bermain dalam film-film lain seperti Pesona Natalia bersama Marissa Haque.

~film 019-tahun ke II



Sunday, October 26, 2025

RICO TAMPATTY

 


RICO TAMPATTY. Ketika nama-nama cowok di dunia filmmacam Roy Marten mulai sirna, Rano Karno yang timbul tenggelam, penonton film seperti kehilangan idola. Apalagi para cewek penggemar cowok Idola di film. Dua nama yang muncul di peta film nasional adala Richie Ricardo dan Rico Tampatty. Richie Ricardo yang oleh beberapa penggemar dinilai agak feminin, maka sasaran satu-satunya adalah Rico Tampatty sebagai idola baru. 

Parasnya cukup tampan dan punya sosok tegar serta segudang prestasi adalah bekal handal dari cowok kelahiran Biak, 11 April 1964 ini.  Lewat film perdananya, Tandes orang baru terhenyak ternyata ketika menemukan sosok diri Rico. Ditambah film lain macam Tirai Malam Pengantin, Gawang Gawat serta Pencuri Cinta dan Dia yang tercinta. Nampak anak dari keluarga Yan Tampatty dan Alina Uzhara ini tak main-main menggeluti film. 

Oleh Rekan-rekan terdekatnya karier Rico di nilai cepat melaju.  Bahkan meninggalkan rekan lain yang sudah senior dari dia, Rico sering kelihatan berjalan di catwalk memperagakan pakaian di berbagai hotel mewah di Jakarta. Profesi sebagai modeling ini sudah sejak lama di tekuni. Wajahnya menjadi pemikat orang ktika ia memenangkan  Pemilihan Top Model Rahadian Yamin 1982, setelah cukup lama menggeluti dunia Swara Mahardika pimpinan Guruh Soekarnoputra. 

Sebagai seorang penari di grup Swara Mahardika (SM) berbagai jenis tari ia tekuni hingga oleh Mas Guruh, Rico diberi kepercayaan untuk memegang tugas sebagai pelatih dan koreografer. Terjunnya Rico kedalam film malah seperti rahmat, hal yang banyak terjadi pada diri artis-artis kita. Saat Rico nampang di catwalk dalam pemilihan peragawan terbaik, seorang sutradara , Boby Sandy melihat dan menawarinya main film. Seriba perasaan berkecamuk, ketika ia harus mengatakan mau. Maka mulailah Rico berkenalan dengan pita bergambar. Ini memang macam dunia baru baginya meski ia telah di kenal lewat iklan-iklan gede, foto model di berbagai majalah. 

~FILM 004 Februari 1985

Monday, October 20, 2025

TUJUH CEWEK JAGOAN, GALAU PEPERANGAN DALAM BUMBU SYURR

 


TUJUH CEWEK JAGOAN, GALAU PEPERANGAN DALAM BUMBU SYURR.. (TUJUH WANITA DALAM TUGAS RAHASIA)

Pada masa awal kemerdekaan Republik ini pernah terjadi kekacau balauan. Pemerintah yang masih muda usia, bukan cuma menghadapi ancaman dari luar, yakni pihak Belanda yang ingin menjajah kembali tapi juga rongrongan dari gerombolan pengacau di dalam negeri sendiri. Antara lain tercatat dalam sejarah hitam adanya gerombolan D.I yang di pimpin oleh Kartosuwiryo yang menghantui wilayah Jawa Barat. 

Cerita film ini memang fiktif belaka, tapi setidaknya di buat berdasarkan latar belakang situasi kacau saat itu. Diperkirakan pada kurun waktu dipindahkannya (untuk sementara) ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta, muncullah gerombolan liar yang di pimpin tokoh frustasi Gozali. 

Dalam pada itu Letkol Dudung dari Brigade Tirtayasa bertekad mencegah masuknya kembali Belanda ke Pulau Jawa. Maka ia ingin lebih dulu menghancurkan instalasi minyak bumi yang dikelola BPM (Sebuah badan usaha milik Belanda) di Banten. Secara rahasia letkol Dudung menugasi satu tim Laskar Wanita (Laswi) dari Kesatuan Sandi Satu Pusaka Lima, menyusup ke daerah sasaran. 

Sebagai pemimpin diangkat Mayor Meity. Dibantu kakak beradik Tina dan Tini, serta empat anggota Laswi lainnya. Saat menyusuri pantai selatan Banten, memasuki rimba belukar dimuara sungai Cimandun tujuh, Laswi ini bentrok dengan gerombolan Gozali. 

Semuanya di tawan dan disiksa Gozali yang menduga mereka dikirim untuk menumpasnya. Untunglah, ada mantan serdadu Jepang, Yoshiro yang diam-diam membebaskan mereka. Dengan perangkap maut yang dipasangnya dalam hutan, satu persatu anak buah gerombolan berguguran. 

Paling akhir Gozali sendiri berduel satu lawan satu dengan Yoshiro. Kendati Gozali memiliki ilmbu kebal, namun Yoshiro punya cara khas untuk menumpasnya. 

Meity mengajak Yoshiro bergabung. Diluar dugaan Yoshiro menolak, bahkan ia memilih harakiri untuk menyusul semua rekannya yang telah gugur. Meity memimpin kawan-kawannya melanjutkan perjalanan untuk menuntaskan tugas rahasia mereka. 

Film aksi berlatar belakang pergolakan zaman bergerilya ini sebenarnya merupakan produksi tahun 1984. Saat itu nama Joice erna aktris terbaik FFI 77 dari film Suci Sang Primadona cukup populer. Begitu pula halnya dengan Dana Christina (Lima Cewek Jagoan), sedangkan Chintami (yang berperan sebagai adik Dana) baru mulai menanjak. Empat anggota Laswi lainnya diperankan oleh Yuli Soleh, Ita Nasution, Jeane Maramis dan Rosmiati (yang seusai suting di nikahi oleh sutradara Mardali Syarief).

Lawan mereka si gembong Gozali yang bertubuh kebal diperankan pemain antagonis Hendra Cipta sedangkan mantan Dai Nippon yang jago Samurai oleh Eddy Wardi. Diramaikan lagi oleh Dolly Martin, Sunjoto Adibroto, Ramli Ivar, Edwin Lerrick dan Anton Sumadi. 

Sebagai Sutradara sekaligus penulis cerita dan Skenarionya adalah Mardali Syarief cukup tampil menyuguhkan adegan-adegan keras dengan bumbu-bumbu syurr, terutama karena semua wanita ditampilkan dalam busana compang camping hingga memamerkan kemulusan kulit tubuh mereka. 

Produksi : PT. Virgo Putra Film 

Produser : Ferry Angriawan

Skenario, Sutradara : Mardali Syarief,

Kamerawan : Adi Mukti BCHK

Penata Musik : Areng Widodo

Editor : B. Benny MS

Para Pemain : Joice Erna, Dana Christina, Chintami Atmanegara, Hendra Cipta, Eddy Wardi, Yenny Farida Yuli Soleh, Ita Nasution, Rosmiati, Jeane Maramis, Edwin Lerrick, Sunjoto Adibroto. 



~sumber : MF~193/159/TH X 20 Nov-3 Des 1993c


Saturday, October 18, 2025

OBITUARI WIM UMBOH SANG PELOPOR CINEMASCOPE

 


OBITUARI WIM UMBOH SANG PELOPOR CINEMASCOPE 

Salah satu sutradara besar film Indonesia, William Umboh Achmad Salim, atau Wim Umboh telah pergi pada 24 Januari 1996 di RS Husada Jakarta sekitar pukul 04.45 WIB. Langit Jakarta yang mendung sejak pagi, seolah memayungi kepergian sang pembaharu, pelopor pertama film CINEMASCOPE dan juga laki-laki yang di kenal sebagai Workalcholik itu tetirah panjang di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan. 

Puluhan insan perfilman hadir di pekuburan seperti Slamet Rahardjo, Amoroso Katamsi, Turino Djunaedi, Sophan Sophiaan, Chaerul Umam, Rano Karno, Idris Sardi, Rosihan Anwar, Rima Melati, Widyawati, Marini dan juga Wakil Ketua DPR/MPR Suryadi dan Mantan Wakil Perdana Menteri/Dubes RI Di Vietnam Hardi, SH. 

Almarhum meninggal dunia setelah menderita komplikasi diabetes dan sempat dirawat di rumah sakit sejak hari pertama puasa "Habis sahur, kita bermaksud tidur, tapi Oom Wim (Sapaan akrab istri pada Wim Umboh) gelisah terus. Saya tanya, tetapi dia bilang cuma sakit di dada. Saya selimuti, kepalanya terasa panas, tetapi sewaktu tangannya saya sentuh, rasanya dingin sekali. Disitu saya sudah curiga..." kata Ny. Inne Emina Chomid, istri ketiga almarhum yang dinikahinya tahun 1984. 

Sebelumnya kata Inne, Oom Wim sempat dibawa ke rumah sakit Cinere. Dari sni karena kondisinya makin lemah, Wim Umboh di bawa ke RS Husada untuk dirawat oleh dokter tetapnya, "Semula ia menolak untuk dirawat, karena trauma dengan rumah sakit, tapi karena saya memaksanya akhirnya ia menuruti saran saya. 

"Di ungkapkan semangat kerja almarhum sangatlah besar. Dalam kondisi lemah dan saki, dia selalu berusaha mengerjakan tugas-tugasnya terutama dalam menggarap film. 

Ketua organisasi Karyawan Film dan Televisi (KFT) Slamet Rahardjo ketika memberi sambutan pada pemakaman Wim Umboh, mengatakan dengan tegas "Tanpa keterlibatan almarhum, dunia film Indonesia bukanlah apa-apa".

"Lebih dari semua itu, yang patut di kenang dari Wim adalah kemampuan editingnya. Secara awam dapat dikatakan bahwa tangan Wim periode tahunan dalam lakon bisa menjadi sejam dua jam dan berjalan mulus di dalam film. Tangannya seperti mempunyai mata sendiri ketika bekerja di meja editing. Satu lagi, barangkali, dia satu-satunya sutradara  yang hapal seluruh dialog, sehingga waktu dubbing, dia bisa memandu kalimat para pengisi acara," kata Teguh Karya. 

"Dia banyak memberi pembaruan bagi perfilman Indonesia seperti melakukan pengambilan lokasi suting ke luar negeri. Jadi sutradara pertama yang menggunakan kamera Panavision, film berwarna, film 70 mm. Karena kreativitasny jugalah, tahun 70an apresiasi masyarakat terhadap film nasional tinggi, " kata Sophan Sophiaan, sutradara yang juga anggota DPR/MPR

"Bagi saya kesannya yang paling manis adalah, Tuham menjodohkan saya melalui tangan Oom Wim . Saya pertama kali bertemu Widyawati dalam film Pengantin Remaja, dan rupanya lewat film itu kami akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan," lanjutnya. 

Kesan yang juga sangat kuat melekat pada diri Wim Umboh kata Sophan, adalah egoismenya yang tinggi. Wim adalah seorang yang teguh dalam memegang sikap-sikapnya. Tetapi menurutnya itulah usahanya dalam mempertaruhkan kehidupan perfilman nasional. 

Wim Umboh lahir di Watuliney, Sulawesi Utara pada 26 Maret 1933. Sejak usia tujuh tahun sudah ditinggal ibunya. Setahun kemudian sang ayahpun berpulang ke rahmatullah sehingga Wim kecil pun yatim piatu. Sepeninggal kedua orangtuanya, Wim diangkat anak oleh dr Liem. Dokter ini jugalah yang menyekolahkan hingga Wim Umboh bisa mandiri. 

Tahun 1955 ia menikah dengan RO Unarsih Sastrawiata dan menghasilkan anak perempuan bernama Lisa Maria. Bercerai tahun 1957 Wim menikah untuk kedua kalinya dengan Paula Rumkoy (1974) dan pada Oktober 1982 mereka bercerai kemudian Wim Umboh nikah lagi dengan Inne Ermina Chomid dua taun kemudian. Dan memiliki anak laki-laki William Umboh Ikhsan Salim. 

Di tengah pembuatan film Pengemis dan Tukang Becak di Solo, 26 Desember 1978 Wim Umboh terkapar pingsan. Dalam keadaan koma ia diterbangkan ke Jakarta, masuk RS Husada dan memperoleh perawatan intensif. Namun seperti dikatakannya, Nasib manusia merupakan rahasia Tuhan. Sesudah mengalami koma selama sepuluh hari ia "sembuh" dan ketika tampil keatas panggung untuk menerima Piala Citra kategori penyunting gambar dalam penyelenggaraan FFI 1979 di Palembang, ia berjalan tertatih-tatih, Hadirin yang menyaksikannya bergetar kagum. 

Usai FFI 1979 kita seperti kehilangan Wim Umboh. uaranya yang mengguntur senyap. Tahun-tahun tanpa karyanya. Namun dasar Wim, manusia gila kerja, dalam sakitnya ia tetap berkarya. "Ini soal semangat. Saya jadi akan semakin sulit kalau tidak kerja," ungkapnya. Disaat kesehatannya belum pulih benar, ia merampungkan tiga film. Putri Seorang Jendral, Secawan Anggur Kebimbangan dan Serpihan Mutiara retak. Seperti kesaksian Sophan Sophiaan, sementara kerja Wim Umboh memang luar biasa sekali. Dalam kondisi sakit, tanpa mengenal lelah, ia tetap bekerja. 


~sumber : MF~