Showing posts with label orang film. Show all posts
Showing posts with label orang film. Show all posts

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Sunday, January 11, 2026

EMMA FEBRI, PENDEKAR WANITA

 


MENGENAL EMMA FEBRI, SALAH SATU PENDEKAR WANITA. (kisah lawas) Semula hanya coba-coba ikut pemilihan calon bintang untuk iklan sabun dan meraih juara dua, Emma Febri ngakunya malah keterusan jadi bintang film beneran. "Sampai kini (1989) sudah tiga film yang ikut saya dukung. Dua kali jadi peran pembantu dan yang teakhir jadi pemeran utama, "ujar perempuan kelahiran Medan, 19 Februri 1966 ini. 

Ketiga film tersebut menurut Emma adalah "Jubah Hitam", "Peluru dan Mesiu" dan "Pendekar Lembah Kuning". Ketiganya ditangani sutradara yang sama. Untuk film-film aksi itu, Emma mengaku mulanya kaku juga. "Saya enggak pernah belajar bela diri. Tapi berkat bimbingan pak Syarif, instruktur fighting dan pengarahan M. Syarifuddin sebagai sutradara, yah jadi juga saya pendekar," katanya lagi. 

Gadis Kawanua yang besar di Medan ini ngakunya punya keinginan yang cukup besar di film. Sejak dari Medan, Emma katanya emmang sudah berniat untuk terjun ke dunia film. "Saya memang sudah menjadi anggota Parfi Medan dan juga ikut kegiatan teater di daerah itu," ujar Emma yang juga senang menari, menyanyi dan main drama ini. "Tapi rasa-rasanya saya lebih cocok di film. Soalnya film punya keasyikan tersendiri dan lokasinya tidak cuma di satu tempat," katanya. 

Untuk memantapkan pilihannya itu, Emma berencana masuk IKJ jurusan sinematografi. "Soalnya saya ingin juga jadi pekerja film, " tuturnya yang mengaku tidak pernah melakukan adegan porno di film. "Betul kok, jangankan beradegan porno, di sun saja saya belum pernah di film," katanya meyaknkan. Tapi itu kan di film? Di luar film, cewek ini justru mengaku sedang patah hati. 

"Saya pernah cinta berat dengan seorang pria waktu di Medan. "Pacaran sampai empat tahun, eh malah gagal. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989

Thursday, January 8, 2026

TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA


 TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA , Lebih dari 70an film yang dilakoni, tak satupun judul menempatkannya sebagai peran utama. Tanaka selalu tampil jadi tokoh antagonis, bulan-bulanan tokoh jagoan. Dan itu sudah seperti jadi merek bagi aktor kekar ini. Seperti dalam film Rio Sang Juara, ia tampil sebagai petinju brutal asal Korea, berhadapan dengan Rio yang di perankan Willy Dozan. Hanya Tanaka yang bisa memerankan tokoh petinju brutal itu. "Gigi saya sempat rontok dan jidat luka beneran," katanya. 

Tanaka memang selalu dapat peran pembantu, bahkan sampai beberapa tahun hanya jadi figuran. Tapi karena dia punya bekal ilmu bela diri yang cukup, ia kerap di perbantukan mendampingi instructure fighting dan jadi stuntman. Tanaka belajar Silat lebih 6 tahun. Karate selama 2 tahun. Baru menyandang sabuk Coklat, beralih perhatian ke Kung Fu selama 3 tahun. Tiga aliran itu digabungkannya sebagai bekal untuk menghadapi  lawan main di film. Kemudian Tanaka salah seorang bintang antagonis yagn selalu memperoleh caci maki penonton. 

Meski tidak pernah dipercaya jadi bintang utama, Tanaka mampu menyutradarai sinetron laga "Jacky" tayangan SCTV. "Saya sendiri tak menduga bakal ditawari menggarap sinetron Jacky. Namun karena direncanakan jauh-jauh hari, saya bisa mempersiapkan diri. Saya tidak belajar khusus, cukup menggabungkan pengalaman ketika jadi figuran, stuntman, editing dan ilmu bela diri," kata Tanaka yang pernah meraih prestasi Juara I se DKI pada kejuaraan Silat tahun 1979 ini. Mantan murid Robert Santoso, seorang instructur fighting handal ini mulai debut perdananya di layar perak lewat Bulan Madu produksi tahun 1977 dengan bintang George Rudy. 

Bersama Avent Christy, Tanaka dapat peran pembantu utama dalam film laga, Laki-laki Sejati. Disitu porsi saya cukup lumayan, tapi babak belurnya juga lumayan. Bahkan kepala saya hampir pecah ketika jatuh dari ketinggian 3 meter. Kalau keseleo atau bengkak kaki , sudah langganan, " tuturnya. 

Aktor laga pengarah kelahi dan sutradara sinetron ini tidak pernah berkecil hati. "Saya sadar diri, kenapa tidak diberi peran utama. Saya cukup puas dengan peran-peran pembantu dan stuntman, karena bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan pemain lain," ujar pria yang sehari-hari napak santun ini. Ia menikah tahun 1981 dengan suliatawy wanita campuran Manado Jawa. 

Putra pertama keluarga Willy dengan Maryam yagn lahir di Jakarta, 25 Desember 1958 ini punya masa lalu yang keras. Sebelum ikutan main film laga, Tanaka sempat jadi sopier pengantar oli. "Hari-hari saya habis di jalanan," katanya mengenang.

Sekarang, lewat sinetron Jacky Tanaka memulai babak baru sebagai sutradara khusus sinetron laga yang juga banyak mengekspose kehidupan jalanan. "Saya mau lihat hasilnya. Jika diterima masyarakat, saya akan benar-benar menekuni dunia penyutradaraan yang lebih serius lagi. Dunia film sudah nggak bisa di harapkan oleh pemain seperti saya", tukas aktor antagonis yang pernah jadi bintang iklan Salonpas ini. 

Lebih jauh, sebelum terjun ke dunia film-film laga, Tanaka menekuni ilmu bela diri di perguruan "Dua Belas Naga" pimpinan Robert Santoso yang menggabungkan tiga aliran yaitu Silat, Karate dan Kung Fu. Salah satu yang mendorong Tanaka terjun kedunia film laga adalah karena ia hobi sekali nonton film-film eksyen, terutama yang dibintangi Bruce Lee. Setiap kali habis nonton, Tanaka merasa roh bintangnya masuk ke raganya. Dan secara kebetulan, Robert Santoso waktu itu juga sudah aktif di dunia film sebagai stuntman dan instructure fighting. Akahirnya ia diajak main film Bulan Madu di Bandung tahun 1977.

"Ketika berlatih di perguruan Dua Belas Naga, Robert Santoso belum memiliki asisten pelatih, karena belum ada yang sanggup, dan satu-satunya yang menonjol adalah saya" kata Tanaka. Saya termasuk cepat menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikannya. Suatu ketika Robert memberikan kepercayaan kepada saya untuk jadi asistennya. Mungkin dari keseriusan saya itulah dia berani mengajak saya untuk ikut main film laga. Katanya orang seperti saya tak kenal takut untuk melakukan adegan-adegan berbahaya. Dan itu memang saya akui," ungkapnya. Demikian seperti di kutip dari artikel berjudul Tanaka, Menunggu Reaksi Masyarakat dalam MF no. 256/222/XII/6-19 April 1996

Wednesday, January 7, 2026

DOLLY MARTIN

 


DOLLY MARTIN, AWAL MASUK AKTING. Nasib memang sulit di tebak. Setidaknya hal itu berlaku bagi lelaki kelahiran Jember, 8 Maret 1961 ini . Dolly Martin usai menamatkan SMA-nya di tahun 1979, meninggalkan kampung halamannya untuk test jadi Akabri di Jakarta. Tapi cita-cita itu kandas. Ia gagal masuk Akabri. Dalam kebingungan antara balik ke kampung dengan mencari kerja lain, tak disangka muncullah Frank Rorimpandey, sutradara ini kemudian memintanya ikut main film "Selamat Tinggal Masa Remaja" meskipun cuma figuran. 

"Itu masih tahun 1979. Yah daripada nganggur, saya mau saja. Hitung-hitung mengembangkan rasa ingin tahu saya. Soalnya sejak kecil saya sudah senang nonton film dan berakting", ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini. Dolly yang main terbarunya di film "Kamus Cinta Sang Primadona" mengaku tidak pernah membayangkan bakal jadi pemain film. Anak pasangan pak Umar dan Ibu Tien ini malah bukan dari sekolah film. "Saya main film dari alam. Bukan dari akademis. Ya paling-paling ikut kursus akting yang diadakan Parfi," tuturnya. 

Biar begitu, sejak tahun 1979 Dolly sudah ikut membintangi sekitar 15 judul film (Sampai th 1988). Dari yang cuma peran kecil sampai peran utama sudah ia rasakan. "Pokoknya saya mulai yakin bahwa di filmlah jalan hidup saya. Untuk itu saya ingin jadi aktor hebat. Tapi memang sekarang ini saya masih dalam proses mencari, " jelas Dolly yang filmnya antara lain "Bibir Bibir Bergincu", "Gerhana", "Putri Kuntilanak",  "Gadis Penakluk" "Untuk Sebuah Nama", "Kenikmatan Ranjang Semua Orang", "Pacar Pertama", "Pencuri Cinta", "Kamus Cinta Sang Primadona", dan lain-lain. 

Pengalaman pertama main film, Dolly mengaku grogi. "Saya gemetaran waktu pertama kali di sut. Tapi sekarang sudah enggak kok. Sudah biasa. Untuk berakting itu, Dolly memang tidak masuk sanggar atau sekolah khusus film. "Saya cuma membaca buku-buku, konsultasi dengan para senior dan belajar dari kehidupan sehari-hari", tambahnya. 

Selain itu, untuk selalu tampil lebih baik, Dolly pun selalu menjaga tubuhnya. "Saya setiap hari melakukan jogging. Lari lari di sekitar rumah saja," kata bintang film yang mengaku cuma terima bayaran 1,5 juta rupiah saat main film Kamus Cinta Sang Primadona. Film itu sendiri menurutnya biasa-biasa saja. "Cuma untuk hiburan aja kok", tutur bintang yang baru terima bayaran tertinggi 2 juta rupiah untuk sebuah film. 


~MF 063/31/Tahun V 26 Nov-9 Des 1988

Monday, January 5, 2026

LAUREEN SAHERTIAN


 LAUREEN SAHERTIAN! ada yang ingat sosok ini? (berita lawas). Cewek mana yang nggak kesengsem melihat tampang cowok ganteng, jantan dan sorot matanya hangat? Kiranya logis bila Ria Hapsari pun terseret perasaan demikian. Maka tak pelak Ria pasang ancang-ancang. Ia segera beraksi dengan ulah untuk menarik perhatian. Malah Ria memberi alamat rumah di secarik kertas kepada cowok tersebut. Harapannya, tentu suatu saat cowok yang tiba-tiba jadi pujaannya itu bertandang kerumahnya. Eh, nggak taunya yang datang justru John Towel bukan Reo Reseh yang sangat di harap itu. Ria kecewa dan males meladeni John. 

"Tentu, siapa pun, males ngeladenin cowok yang nggak disenengin, " ungkap laureen Sahertian yang berperan sebagai Ria Hapsari dalam film "Elegi Buat Nana" yang di sutradarai oleh Achiel Nasrun. "Tau nggak, Reo Reseh itu kan di mainkan oleh Ryan Hidayat," kata Laureen di rumahnya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Selain Ryan film tersebut dibintangi Ria Irawan, Gito Gilas, Adreas Pancarian dan sebagainya. 

Laureen Sahertian putri ketiga dari empat bersaudara ini telah menapaki dunia film sejak tahun 1984. Ia, pertama kali main dalam "Film dan Peristiwa", dilanjutkan dengan "Romantika, Galau Remaja di SMA", "Merpati Tak Pernah Ingkar Janji". "Memburu Makelar Mayat", "Pesona Natalia" dan "Jakarta 66". Menurut pengakuannya, sebelum di film, Alien panggilan akrabnya sudah terjun ke dunia tarik suara. berbekal ilmu Bina Vokalianya Pranajaya, ia merenggut Juara Harapan Perlombaan Vokal se DKI 1984. Dan beberapa kali turut mengisi acara, misalnya "Dari Masa Ke Masa" serta bersama grup Mayapada bermain drama remaja TVRI. 

Nona Manise berkulit putih ini lahir di Jakarta 22 April 1966 dari pasangan PJ Sahertian (Indo - Ambon Belanda). "Darah seni saya dapatkan dari papa. Ia sering nyanyi di RRI, dulu. Namun papa telah tiada. Ia meninggal tahun 1983. Walau begitu semangat berkeseniannya masih tetap menyala, " ujar Alien bersama kakak dan adiknya berusaha meneruskan semangat itu. 

Kendati begitu, Alien ragu terhadap kemampuan dirinya. Sudah pas atau belum di dunia seni, atau tetap mencoba  profesi lain yang lebih menghasilkan kepuasan dan materi. "Saya akui, saya memang masih labil. Pemilihan profesi kan berkaitan dengan masa depan. Makanya, sementara ini saya masih mencoba kemampuan di profesi dunia seni atau kerja di kantoran. Suatu saat saya harus menetapkan suatu profesi, bila kestabilan telah terasa" tuturnya. Dan alien yang pernah bekerja sebagai Costumer service dan sekretaris itu, kini mendalami ilmu sekretaris di Interstudy. 

Laureen yang punya favorit warna biru dan senang pada permainan Al Pacino dan Stalon, mengatakan bahwa film-film yang dibintanginya itu pernah ditonton lagi walau sudah rampung. "Saya cukup melihat ketika dubbing saja. Setelah itu, paling-paling saya dengerin kritik dari keluarga atau teman-teman. Ungkapnya. 


Friday, January 2, 2026

LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA

 


LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA. (Berita lawas) . Siapa nama asli Farida Pasha? dan Apa film pertama Farida? Bagi Farida Pasha, kecantikan agaknya bukan suatu yang utama. Sebab seperti diakuinya, ia tak terlalu ngotot merawat tubuhnya agar tetap kelihatan cantik. "Soalnya cantik itu kan relatif. Tergantung masing-masing orang." ujarnya. Sebaliknya, menurut Ida apa yang selalu dijaganya adalah imej masyarakat terhadapnya selama ini. "Imej yang baik itu pula yang membuat saya enggak berani datang dan keluar sendirian dari hotel. Sebab wanita yang keluar masuk  hotel sendirian, kecuali dia memang pegawai hotel tersebut, bisa menimbulkan imej macam macam. Dan saya takut menghadapi imej tersebut," katanya. 

Ketakutan itu menurutnya karena selama ini masyaakat sudah mengenalnya sebagai wanita 'baik-baik'. Sebagai ibu rumah tangga yang baik. "Sejak pertama saya main film, saya sudah tanamkan sikap seperti itu. Pertama main film, saya minta agar di beri penginapan di hotel. Saya lebih suka tinggal di satu keluarga yang punya anak wanita," katanya. Dan tentang film berikut petikan wawancara dengan Farida Pasha saat pembuatan film "Misteri Dari Gunung Merapi" di Pangandaran. 

Kenapa saban main film anda kebagian peran antagonis dan melulu film-film bertema horor?

Sejak pertama main film saya memang sudah kebagian peran antagonis. Mereka pikir saya berhasil untuk peran itu. Saya sendiri enggak pernah tanya pada produser atau sutradara kenapa mereka pakai saya untuk peran-peran antagonis melulu. Padahal saya mampu lho main dengan peran-peran yang lembut. Tapi kayaknya orang tidak yakin karena saya terlalu sering dapat peran antagonis dan kasar. 

Bagi kehidupan pribadi ada dampak peran-peran tersebut?

Enggak ada tuh. Tapi emang orang-orang apalagi di daerah suka kaget bila bertemu saya. Mereka bingung kok Farida di film beda dengan sehari-hari. Kok bisa ya orang selembut anda jadi galak di film. Saya jawab saja, itulah namanya akting. Dari situ saya jadi tahu pula, ternyata masih ada masyarakat kita yang menganggap penampilan artis di film begitu juga penampilannya sehari-hari. 

Mulanya main film, gimana ceritanya?

Saya main film enggak sengaja kok. Kebetulan saja. Waktu itu tahun 1979 saya sudah berumah tangga dan punya anak satu. Waktu itu saya buka dagangan di rumah dengan seorang teman pengusaha batik. Tiba-tiba seorang teman saya datang meminta foto saya. Saya enggak tahu kalau foto itu bakal di berikan ke sutradara film yang lagi suting di bandung.  Mereka sedang bikin film "Guna Guna Istri Muda" dan sutradaranya BZ Kadaryono . Mereka sedang mencari pemain katanya sudah dua minggu tapi belum juga ketemu. Saya datang kerumah teman tersebut. Tapi dirumah itu ternyata sudah menunggu BZ Kadaryono. Waktu itu bayangan saya yang namanya sutradara itu gemerlapan lho. Ternyata biasa saja, saya lalu ditest. Saya mau karena ingin cepat pulang dan mendapatkan foto saya yang dibawa teman tersebut. Eh, ternyata malah saya lulus. Mulanya sih saya menolak, tapi akhirnya saya kalah dengan rayuan BZ Kadaryono. Di film itulah saya langsung dapat peran utama dan langsung antagonis . 

Lantas ganti nama?

Tidak, tapi BZ Kadaryono yang menggantinya. Nama saya yang asli adalah NUNUNG FARIDA, BZ kemudian menggantinya dengan Farida Regina. Tapi saya kok kurang sreg dengan nama itu, lalu saya ganti sendiri dengan Farida Pasha. Nama Pasha itu sendiri saya ambil dari nama keluarga saya. Soalnya saya kan blasteran Sunda Pakistan. Tapi saya enggak percaya lho kalau nama bisa memberi keberuntngan pada pemakainya. 

Pernah Menolak Peran yang Di berikan?

Pernah beberapa kali. Misalnya ketika saya ditawari peran dalam film "Bibir Bibir Bergincu" Saya menolak peran di film itu hanya karena ada adegan yang meminta saya membuang BH. Saya menolak peran itu karena saya percaya penonton kita sudah pintar pintar kok. 

Sejak 79, sampai sekarang pengalaman apa yang di dapatkan dari bermain film?

Banyak sekali. Paling tidak buat pribadi saya. Selain pergaulan, saya banyak melihat orang-orang film pun banyak yang masih berpegang pada keteguhan imannya. Aedy Moward almarhum misalnya. Dia tidak pernah meninggalkan sholatnya sekalipun waktu suting. Ini pelajaran baik buat saya. Bagi saya sendiri main film adalah main film. Setelah suting selesai, semuanya selesai. Saya kembali sebagai manusia biasa. Saya memang selalu berusaha untuk menjadi artis waktu suting saja. Kalau di rumah atau waktu tidak suting, saya tetap ibu rumahtangga. 

Pernah merasa di ganggu waktu memerankan tokoh dalam film horor?

Sampai sekarang mudah-mudahan tidak. Tapi sebagai muslim kita harus percaya pada yang gaib. Bahwa setan itu ada. Memang sayang sering dengar bahwa ada orang yang kesurupan waktu sedang suting. Tapi saya pikir itu karena dia sedang kosong jiwanya. Saya sendiri saban suting selalu baca ayat ayat. berdoa. Saya baca ayat apa saja yagn saya ingat agar saya tidak diganggu. Malah waktu ikut dalam film "Panasnya Selimut malam" saya terus menerus berdoa. Minta ampun sama Allah. Soalnya di film itu saya kebagian peran sebagai orang yang minta tolong pada setan. Itu kan syirik jadinya, bagi saya kalau kita yakin pada kekuasaan Allah dan niat kita baik, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Monday, December 22, 2025

LEROY OSMANI, ANTI PERAN UTAMA

 


LEROY OSMANI, JEBOLAN PESANTREN YANG ANTI PERAN UTAMA. Ada aktor yang mengaku selalu menolak memerankan peran utama dalam film. Itulah Leroy Osmani. Saya tidak akan memerankan tokoh utama kalau saya tidak yakin bisa memainkannya dengan bagus. Sasaran pasti merebut Citra, minimal masuk nominasi, " kata jebolan pesantren Gontor, Ponorogo yang lahir di Ujung Pandang. 

Tampaknya prinsip ini dipegang betul Leroy yang fasih menirukan beberapa logat daerah itu. Selama kiprahnya di layar perak belum pernah memegang peran utama. Apa ini termasuk kiat mempertahankan eksistensinya di film?"mungkin,"jawabnya. 

"Film adalah pilihan hidup saya. Apapun yang terjadi saya akan tetap berada di jalur yagn sudah saya pilih. Untuk itu saya harus tetap eksis. Seperti juga saya memilih istri. Apapun yang terjadi, baik atau buruk harus saya terima. Tidak ada kamus cerai dalam hidup saya. Saya paling benci kata-kata itu. Tapi nambah lagi boleh dong?, seloroh bapak tiga anak yang juga terlibat dalam film Dua Kekasih arahan sutradara Agus Eliyas. Dalam film ini, Leroy masih tetap kebagian peran antagonis. 

Soal penampilan dalam acara TV Kamera Ria bersama Jabrik, kelompok vokal yang terdiri dari sembilan aktor beken, Leroy berkomentar "Pokoknya penyanyi panggung putus, sekali take langsung jadi, nggak pakai latihan latihan segala."

Kenapa cuma sembilan orang? "Sengaja , Dalam judi sembilan kan angka paling top. Lagu Kutak Katik kan tentang membolak balikkan angka Porkas, kata aktor yang dalam album ini membawakan lagu Semalam di Malaysia. 

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Tuesday, December 16, 2025

MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU


 MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU. Ada yang tahu aktor kecil ini? Baru berumur 3 bulan ayahnya meninggal. Dan ketika dia berusia 2 bulan, ibunya meninggal. Lalu sejak itu dia berpetualang dalam kehidupannya. Lebih dari itu, dia lahir sudah memiliki cacat. Kakinya letter O lalu diapun diberi nama Muhammad Yatim alias Mamat Yatim. 

Walau tingginya tidak sampai 1 meter, namun Mamat Yatim tidak pernah putus asa. 

Sekali waktu, Ratno Timoer mengenalnya di suatu tempat. Melihat Mamat, hati Ratno Timoer tergetar. Dan dia pun di beri kesempatan berperan dalam film Misteri Candi Borobudur (Misteri Borobudur) dan Pendekar Bambu Kuning, tahun 70an. Dan sejak saat itulah Mamat terlibat dalam film nasional secara penuh. Ratno, memberi nama Mamat yatim. Dan sampai sekarang (tahun 1990) telah membintangi lebih dari 40 judul film nasional. 

Aktor cebol ini lahir pada tanggal 16, bulannya lupa, tahunnya 1930. Artinya usianya sudah menginjak 60 tahun pada tahun 1990. Walau usia telah diambang senja, namun fisiknya kelihatan seperti anak berusia 5 tahun. Wajahnya pun belum menggambarkan usianya telah demikian matang. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, layaknya kebanyakan orang tua. Namun begitu kalau sedang berakting, gerakannya masih gesit, begitu pula jurus-jurus yagn dimainkannya. Bahkan dia bisa loncat dari ketinggian 3 sampai 5 meter. Dan itu dilakukan dengan baik. 

Walau tubuhnya cebol, Mamat rajin bekerja. Sering dia sebagai pembantu umum dalam sebuah produksi film. Mamat senang guyon. Dan tak jarang kru artis ngakak dibuatnya. "Andaikata ada yang membawa saya, saya bisa menjadi pelawak. Kalau yang namanya Jojon bisa putus saya buat," katanya sambil ngakak. 

Mamat memiliki 6 anak dan bercucu 5 orang. Rumah tangganya selalu bahagia dan rukun. Sekarang ini anaknya yang perempuan selalu mendampingi Mamat pergi suting. "Barangkali mereka kuatir karena saya sudah tua," katanya. 

Sebagai aktor, Mamat selalu mendapat honor sesuai dengan perannya. Pertama sekali main film dia dapat honor sebesar lima ratus ribu rupiah. "Saya ucapkan terima kasih kepada mas Ratno, kalau tidak ada dia mungkin saya tidak jadi artis," lanjutsta. Kan tidak baik untuk  menolak pemberian orang  apa lagi orang itu ikhlas?" lanjutnya. 

Namun demikian bila naik bis kota, Mamat Yatim tetap bayar. "Sebagai bintang film malu kalau tidak bayar ongkos. Apalagi saya sudah di kenal," katanya guyon.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Saturday, December 13, 2025

GEORGE RUDY PUNYA 5 FAHAM


GEORGE RUDY PUNYA 5 FAHAM. Diam-diam kiranya George Rudy bapak dari 3 anak ini memiliki 5 faham, sehingga sukses. Kelima faham itulah yang selama ini diterapkannya. Karena 5 faham itu pula membuatnya kepingin menjadi sutradara film. Dan pernah pula menjadi Eksekutif Produser, serta menulis skenario film "Badai Jalanan" yang sudah di produksinya. 

Ke 5 faham itu adalah Bakat, Pendidikan, Kesempatan, Skill dan Disiplin atau Tanggungjawab. "Saya kira itu faham saya. Dan itu baik buat pendatang baru," lanjut kelahiran Jember 1954 ini. "Tanpa itu saya kira seorang pemain tak mungkin berjaya," katanya. 

Karena itu pula membuatnya tertarik menjadi sutradara film. Tapi untuk melangkah lebih jauh, George Rudy belum punya nyali. "Masalahnya bukan apa-apa, kita harus belajar lagi. Ternyata George Rudy punya pengalaman tersendiri berlakon dalam film drama. Dia merasa tidak berbakat untuk melakon film-film drama. Kalaupun ada hanya beberapa. "Film drama saya hanya sedikit. Sedangkan film laga hampir 95%," katanya , "Saya bukan artis drama", ujarnya pula saat di temui disela-sela suting Titisan Si Pitung di Sukabumi. 

Ketika tahun 70an lagi top-topnya film remaja, George Rudy sempat pula meninggalkan film. "Saya bukan meninggalkan film, karena ketika itu film remaja lagi top. Sedangkan film action kurang diminati," kata karateka yang berbintang Libra ini. 

Namun George Rudy merasa belum puas bila melakoni film action memakai stuntman sehingga bila melakukan adegan-adegan berbahaya dia  mantap melakukannya. Tapi selalu saja pihak produser atau sutradara melarangnya, kuatir cedera berakibat film di tunda. 


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990

Saturday, November 29, 2025

PENATA LAGA EDDY S. YONATHAN, INGIN SEJAJAR DENGAN SUTRADARA


PENATA LAGA EDDY S YONATHAN

Kurang begitu sukses menempuh karir sebagai pemain, dan gagal mendirikan grup band, Eddy S Yonathan kini lebih hndal sebagai penata laga. Menggarap sinetron laga tradisional lebih sulit dibanding modern, katanya. Eddy memimpikan penata laga sejajar profesinya dengan sutradara. 

Sudah lebih 70an judul film laga yang ditangani oleh Eddy S Yonathan, penata kelahi yang cukup di segani di lapangan. Ia pernah mengarahkan bintang bintang laga handal seperti Barry Prima, Yoseph Hungan, Advent Bangun, Johan Saimima dan lain-lain. Murid terbaik Sutrisno Wijaya(sesepuh bintang dan fighting director film laga nasional) yang belajar ilmu beladiri di perguruan Porbikawa selama 6 tahun lebih , sedang menagani adegan laga sinetron kolosal Tutur Tinular tayangan AN-Teve. Kendati baru pertama terjun ke sinetron namun Eddy mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mengarahkan para pemainnya untuk adegan eksyen klasik. Bahkan ia mengaku merasa semakin mudah untuk memperoleh adegan laga yang maksimal. 

Memulai karirnya sebagai pemain merangkap fighting instructur lewat film Tangan Besi tahun 1971. Tapi kemudian Eddy lebih mendalami tata laga. Dia ingin menjadi fighting director, mengikuti jejak sang guru Sutrisno Wijaya.

Termasuk keras di lapangan suting, lebih tepat dibilang disiplin. Tak pilih bulu, apakah pemain sekaliber Barry Prima sekalipun, sampai pada figuran-figuran, mereka yang susah diarahkan segera posisinya digantikan, atau di hapus sama sekali. Karena disiplin itulah Eddy cukup disegani sebagai fighting director dimata para pemain dan kru. Dia juga tidak mau didikte oleh sutradara drama. itu karena Eddy merasa posisi fighting director sejajar dengan sutradara. Masing-masing punya kekuasaan sendiri. Dia tidak segan-segan mengambil sikap tegas jika ada sutradara drama yang ingin campur tangan dalam satu adegan laga yang ditanganinya. 

Pria berpostur tinggi 170 cm ini menikah pada tahun 1977 dengan Maria Wahyu Raharjo dan dikaruniai dua orang anak, Amalia Yonathan yang sudah menulis skenario beberapa film seperti Rawing II, Macho II dan Pedang Ulung, sedangkan bungsunya bernama Danie Lahenda Yonathan. 

Eddy S Yonathan pernah menekuni dunia musik sebagai gitaris, tapi tidak bertahan lama. Grup bandnya bubar. Eddy menekuni dunia ilmu bela diri dan film laga, karena dia merasa berkembang disitu. 

Meski sinetron jenis eksyen belum dihargai di ajang festival, Eddy tidak mau ambil pusing. "Dari dulu memang begitu. Inilah kejelekan para pekerja seni kita, tidak bisa menghargai karya orang lain hanya karena terbentur aturan yang belum dikembangkan, " kata putra ke lima dari enam bersaudara kelahiran Malang, 20 Juni 1950 ini. 

Saat wawancara ini dibuat, Eddy sedang sibuk menggarap sinetron kolosal Tutur Tinular tayangan AN-Teve (kemudian pindah Indosiar) yang berlokasi di bumi perkemahan Cibubur, pantai pangandaran dan Beijing, China. "Saya konsentrasi dulu disini, dikontrak oleh Pak Budi Sutrisno, bos PT. Genta Buana Pitaloka. Saya baru keluar dari satuperusahaan film, karena kontraknya sudah habis," ujar Eddy. 



berikut petikan wawancara dari Majalah Film dengan Eddy Es Jonathan. 

"Tutur Tinular adalah yang pertama bagi anda sebagai fighting director untuk tayangan layar kaca. Ada tidak perbedaan adegan laganya dibanding ketika anda menggarap film layar lebar?"

Pada Dasarnya sama saja, karena yang dimaksud laga atau eksyen itu adalah pukulan, tendangan dan tangkisan yang digarap secara filmis. Hanya di sinetron terasa agak mudah untuk membuat adegan , karena hasilnya bisa dilihat langsung lewat monitor. Peralatan kameranya juga lebih baik. Sementara film laayar lebar sampai sekaran gmasing menggunakan peralatan yang konvensional. 

Artinya menurut Anda eksyen film layar lebar itu lebih sulit dibanding eksyen film layar kaca?

Menurut saya tingkat kesulitan ada dua macam. Pertama dari segi fasilitas pengadaan peralatan dan kedua segi pengadeganan. Dari segi fasilitas, sinetron memang lebih modern. Karenanya lebih mudah mengambil gambar adegan eksyen yang menarik ketimbang film layar lebar. Masalah pengadeganan saya rasa sama sulitnya antara sinetron dan film. Kita dituntut mencape adegan eksyen terbaik. 

Apakah karena Anda merasa gagal jadi bintang laga sehingga menetapkan posisi fighting director sebagai profesi hidup anda?

Sebagai pemain, dibilang gagal sih nggak juga. Pertama main, saya langsung peran utama lewat film "Tangan Besi". Hanya kemudian saya lebih menekuni tata laga. Itu sesuai dengan latarbelakang keahlian saya sebagai 'orang perguruan' yang ditempa ilmu bela diri silat di Porbikawa. Saya merasa lebih leluasa berkreasi menampilkan adegan-adegan laga. Saya lebih suka disebut sebagai kreator eksyen. Tapi sekali-sekali bila dibutuhkan saya ikut main juga. 

Bagaimana proses karir Anda sampai menjadi fighting director?

Pertama kali di film Tangan Besi, selain jadi pemain utama saya merangkap fighting instructur. Darisini saya mulai mengenal bagaimana proses teknik pengambilan gambar. Kemudian saya mulai melangkah ke fighting director lewat film Cakar Maut, film saya yang ke tiga tahun 1975. Sampai sekarang saya tetap mempertahankan posisi di film sebagai fighting director. Sebagai kreator eksyen saya banyak belajar dari pak Sutrisno Wijaya, guru saya di perguruan Porbikawa yang juga banyak terlibat didunia film eksyen,baik sebagai pemain maupun fighting director. 

Apa saja referensi Anda sebelum menggarap sebuah adegan eksyen hingga mencapai hasil yang maksimal?

Yang utama bagi saya adala skenario itu sendiri. Saya selalu mempelajari unsur filmisnya dulu. Dari pengalaman kerjasama dengan beberapa sutradara merangkap kameramen yang cukup handal seperti Liu Chun Bok. Antara gambar dan pengadegaan bebeda. Dalam gambar seperti ada distorsi dengan asli yang dlihat oleh mata telanjang. Bisa saja yang tadinya olahraga beladiri di dalam film bisa menjadi ilmu bela diri. Film bisa menjadi 'ilmu' bela diri. Demikian juga sebaliknya, itulah filmisnya. Bagaimana kita menginterprestasikan pengadeganan yang ada di skenario. Sementara skenario itu sendiri bukanlah skenario yang utuh, karen adi abukan merupakan director shoot, melainkan skenario yang sifatnya tergantung sutradara di lapangan entah itu bagian drama atau eksyen. Misal seperti Tutur Tinular ini banyak pengadeganan eksyen. Tapi menurut saya plotnya kurang mengena, sehingga say aharus melakukan perombakan bekerjasama dengan penulis skenario. 

Saya juga mengambil refernsi dari film luar, jika ada peran yang karakternya orang luar. Seperti beberap atokoh dalam sinetron Tutur Tinular yang memerankan tokoh pendekar dari daratan Cina, Saya harus menerapkan konsep, karakterdan ilmu yang ada di Cina untuk pemainnya. 

Apa bedanya antara olahraga bela diri dengan 'ilmu' bela diri yang anda maksud.?

Ilmu itu dengan senirinya kita menggunakan bela diri dari mampu mengantisipasi problem. Tapi yang di sebut olahraga, semaa kekuatan fisik aja, ada lagi yaitu seni bela diri yang mengutamakan bentuk keindahan. 

Apa kesan Anda selama mengarahkan para bintang  laga kita?

Wah, bermacam-macam mulai yang susahdi arahkan , bandel sampai yang gampang diarahkan . Bervariasi. 

Anda menekuni ilmu bela diri hampir 32 tahun, ditambah ketika Anda masih kanak-kanak juga sudah latihan silat. Sejauh mana peran Anda dalam mengontrol beraneka ragam emosi pemain yang kata anda bervariasi itu?

Sangat membantu sekali, dimana saya harus menguasai mereka secara kejiwaan. Saya berupaya untuk bisa memahami seluruh kepribadian dan kebiasaan mereka. Itu memang harus di kuasai oleh seorang sutradara drama dan sutradara eksyen. 

Pernah berseteru dengan mereka?

Seingat saya belum pernah terjadi. 

Jika ada yang bandel, biasanya apa yang Anda lakukan?

Saya ganti dengan pemain lain atau mengganti adegan. 

Apa saja bekal utama untuk bisa menjadi fighting director?

Selain yang saya bilang tadi, yaitu menguasai ilmu, olahraga dan seni bela diri, juga harus menguasai musik. Paling tidak harus mempelajarinya. Karena musik merupakan gabungan pengadeganan yang bersentuhan langsung pada efek, sound, nuansa dan ilustrasi. 

Diantara bintang-bintang laga Indonesia, siapa yangpaling sulit anda arahkan?

Hm.... (diam sejenak) kayaknya nggak ada, sebab saya selalu memberikan peran yang sesuai dengan kemampuanpemain. Saya tidak akan memberikan peran yang kira-kira adegannya tidak bisa di lakukan pemain. 

Diantara puluhan film laga yang sudah Anda garap, film apa saja yang benar-benar maksimal Anda mengerjakannya?

Tentang maksimal minimal film yang saya hasilkan, tergantung pada budget produksi yang disediakan. Misal Saur Sepuh V, itu budgetnya tiga ratus juga. Hasilnya lebih baik dari film Pedang Ulung yang hanya seratus juta. Tapi jujur saya katakan, dalam setiap bekerja di lapangan saya berupaya maksimal. 

Antara Eksyen Klasik dengan Modern, bagi Anda mana yang lebih sulit?

Dalam kondisi seperti ini, saya merasa lebih sulit membuat adegan Eksyen modern karena untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan peralatan yang modern, juga, mulai dari peralatan di lapangan maupn untuk proses editing di laboratorium. Sementara eksyen klasik cukup dengan peralatan konsvensional. Namun pada dasarnya kedua jenis itu punya tantangan dan kesulitan tersendiri. 

Kalau tidak salah, eksyen dunia terdiri dari eksyen Amerika style, eksyen Mandarin dan Eksyen India. Anda lebih cenderung kemana?

Saya lebih tertarik ala Amerika, karena biasanya film-film laga Amerika selalu menjaga keseimbangan cerita dengan adegan laganya yang selalu terkait dengan jurus-jurus ilmu bela diri. 

Sebagaian fighting director pernah mengatakan gerak ilmu bela diri silat sulit mengambil angelnya dan kurang menarik untuk ditampilkan ke bahasa gambar. Sehingga eksyen kita lebih banyak menampilkan jurus-jurus ilmu bela diri asing seperti Karate dan Tae Kwon Do. Apakah itu benar?

Ah, itu tidak benar. Tergantung pada penggarapnya, siapa fighting directornya. Jenis ilmu beladiri apapun kalau digarap baik dan sungguh-sungguh, pasti akan menghasilkan eksyen yang indah, karena masing-masing aliran punya keistimewaan dan keindahan sendiri. Tinggal bagaimana kita menggali dan menampilkan keistimewaannya itu. 

Ada yang mengatakan untuk menjadi bintang eksyen itu gampang ketimbang jadi bintang drama, Apa pendapat anda?

Ha ha (tertawa) justru eksyen itu jauh lebih sulit. Karena eksyen itu jelas ada dramanya. Tapi kalau drama, belum tentu ada eksyen. Maknya pernah sutradara kita Fritz G Schadt bilang, bahwa sutradara yang belum pernah bikin film eksyen belum sah jadi sutradara.

~MF 299/265/XIV 29NOV-12DES 1997