Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Friday, July 12, 2019

SUNSET DAN SUNRISE BAGI LANDSCAPER MUSLIM

Sunset di suatu masa
Pecinta fotografi landscape (pemandangan) atau istilah yang familiar bagi kalangan fotografer di Indonesia adalah Landscaper merupakan salah satu profesi atau hobby yang banyak di cintai oleh fotografer tanah air. Mengcapture sebuah moment, sebuah pemandangan memiliki keasyikan tersendiri. Seorang landscaper yang sudah terlatih dengan sendirinya akan mengenali karakter alam yang akan terjadi seiring berjalannya waktu, meski itu tidak mutlak terjadi.

Fotografi landscape sendiri memiliki banyak sekali faktor yang harus di perhatikan. Foto landscape bukanlah foto dokumentasi melainkan sebuah foto yang menggambarkan keadaan, mood maupun kejadian yang ditangkap melalui bantuan lensa kamera sehingga gambar yang di hasilkan memiliki makna tersendiri, bisa menjadi datar, luar biasa, moody dan tentu saja takjub akan hasilnya. Hal yang di tonjolkan biasanya adalah sebuah gagasan yang indah, sebuah gambar yang indah. Sebagai contoh bagaimana air yang mengalir di foto sehingga halus seperti kapas, atau cahaya yang dilukis menjadi sebuah kilatan garis halus, dan sebagainya. Hal ini tentu memiliki tekhnik dan membutuhkan peralatan tambahan tersendiri.
Sunset di suatu masa

Namun kesempatan ini saya bukan ingin membahas tekhnik foto namun sharing tentang dilema bagi fotografer muslim ketika harus berburu sunset dan sunrise. Dua momen ini merupakan momen emas yang banyak di buru oleh fotografer landscape. Mengcapture saat Sunset dan Sunrise menjadi pilihan bagi para pecinta fotografi landscape apalagi saat saat itulah saat yang indah untuk mengabadikan sebuah momen. Karena fotografi landscape tidak terlepas dari yang namanya langit. Ya kondisi langit menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Kalau kita berbicara Sunset dan Sunrise maka kita akan berbicara yang namanya waktu. Ya Sunset terjadi pada sore hari dimana matahari terbenam yang akan memancarkan sinarkan yang indah, atau sunrise terjadi pada pagi hari dengan cuaca yang indah misalnya akan menghasilkan langit yang indah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para landscaper.

Setelah lama menggeluti dunia perhobian foto landscape dan biasanya mengambil waktu sunset dan sunrise maka sebagai seorang muslim lama-lama merasa 'hampa' ketika harus hunting foto di dua waktu tersebut. Kenapa demikian? karena kalau kita mengambil foto sunset maka akan terbentur sama yang namanya waktu maghrib. Ketika adzan berkumandang sering sekali kita masih ada di lokasi motret karena disitulah kadang-kadang sedang puncaknya matahari terbenam yang tentu saja sangat sayang kalau harus dilewatkan. Belum lagi lokasi pengambilan foto yang kerap kali jauh dari yang namanya mushola maupun masjid. Dari berkali-kali hunting foto sunset maka sering kali saya harus melewatkan waktu solat magrib. Hal ini terus berulang ketika hunting, lokasi hunting yang jauh dari masjid, belum lagi ada rasa solidaritas tersendiri terhadap teman-teman yang lain membuat kita kadang tidak berani untuk mendahului mereka hanya untuk sekedar menjalankan sholat magrib karena lokasi mushola atau masjid yang rata-rata jauh.

Setelah mengabadikan momen sunset, maka hal yang sering dilakukan kalau tidak ada masjid di sekitarnya adalah melanjutkan dengan kongkow atau sekedar bincang-bincang dengan kawan yang lain, hingga waktu magrib lewat bahkan sering sekali kebablasan sholat isyanya.

Demikian juga dengan waktu Sunrise, tidak jauh berbeda, Sunrise justru akan lebih sulit lagi karena biasanya dari jam 2 pagi kita sudah bangun untuk menuju lokasi tempat motret yang memang rata-rata jauh. Bayangin jam 2 pagi sudah bangun, hanya untuk mengejar matahari terbit yang di abadikan lewat kamera sementara orang-orang masih terlelap atau ada yang terbangun dan menunaikan sholat tahajud. Sementara kita berjibaku menyiapkan tripod dan peralatan lainnya. Untuk Sunrise, warga  Jakarta biasanya ke tanjung kait di Tangerang , atau paling dekat ke Ancol. Bagaimana dengan tanjung kait? meski kelihatannya dekat namun ternyata jauh, karena takut kehilangan momen maka sebelum waktu subuh tiba kita harus siap-siap menuju lokasi sunrise ketika hari masih gelap. Bagaimana dengan waktu sholat subuh? ya ketika waktu sholat tiba biasanya karena jaraknya jauh dari masjid maka terpaksa subuhnya pun lewat.

Memang sih bisa saja sebelum subuh berhenti di sebuah masjid, namun naluri kadang berkata lain, atau rombongan lain udah jalan terlebih dahulu sehingga kalau kita menyusul akan ketinggalan. Akhirnya ya udah ikut arus biar aman. Beda soal kalau yang hunting bareng kita juga sholat, biasanya akan menyempatkan diri untuk subuh kok, namun kadang ya karena mengejar momen dan lokasi itulah maka sering kali lewat. Alhasil sholat subuhpun lewat hanya untuk mengabadikan momen sunrise. Di sisi lain dari lubuk hati yang paling dalam mulai terusik nih karena hanya karena mengejar momen sunset dan sunrise kita melupakan hubungan kita sama Allah, melupakan kewajiban. Memang tidak ada yang susah kalau tetap di lakukan namun ketika di lapangan itu bisa berbalik 180 derajat dari apa yang kita inginkan.


Sunrise di pantai selaki
berangkat dari keresahan-keresahan yang terus terjadi akhirnya saya sendiri mulai mengurangi kegiatan hunting foto Sunset maupun Sunrise karena sering terjadi melewatkan waktu sholat. Ketika kita di beri kenikmatan untuk menikmati matahari terbenam maupun terbit namun disisi lain kita lupa akan pencipta matahari terbit dan terbenam, maka terasa tidak sejalan. Disisi lain kita diberi kemudahan untuk menikmati alam semesta yang indah namun kewajiban akan umat sering terlupakan. Kalau ada pertanyaan kan sholatnya bisa di jamak, atau kan sholatnya bisa nanti, atau pertanyaanya kan disana bisa sholat? Eits tunggu dulu............dimanakah kita mau hunting? di Sawarna? Cukul? Tanjung Kait? Anyer? atau ancol tau bahkan curug parigi? kita harus memastikan bahwa di sekitarnya terdapat masjid sehingga waktu sholatnya dapat, jepretannya dapat. Dua nikmat yang sungguh luar biasa.

Namun kadang teori tidak semudah prakteknya, kadang dilokasi tidak ada tempat ibadah, atau kalaupun ada tempat ibadah tapi itu jauh dari pengambilan foto. tentu ini menjadi dilema tersendiri.

So bagi diri saya sendiri sih sebisa mungkin menghindari untuk memotret dua waktu tersebut saat ini, meski hasrat akan itu sangat tinggi. Meski sekali dua kali masih suka hunting Sunset dan Sunrise namun saya lebih mencari tempat yang ada mushola di sekitarnya sehingga dapat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Terkadang kita menganggap remeh akan hal ini, melupakan sesuatu yang memang tidak boleh dilupakan. Sebagai contoh kalau di jakarta ada spot 3 gedung (Spot Regatta) yang kalau motret harus melewati perumahan elit terlebih dahulu. Disini biasanya spot sunset, maka boleh dipastikan sholatnya akan terlewat karena jarak pengambilan foto dengan parkiran lumayan jauh. Belum lagi haha hihinya bareng teman-teman landscaper, belum lagi kalau mau lanjut motret malam. hmmm........

Artinya adalah untuk memotret sunset dari jam 5 atau bahkan jam 4 kita sudah berjalan menuju spot motret agar tidak ketinggalan momen saat sunset tiba, dan akan berakhir setelah magrib usai bahkan seringkali lewat hingga jelang isya. Belum lagi membereskan tripod dan lain-lain. Inti tentu menjadi sebuah dilema terutama bagi para fotografer muslim. Oke memang sholatnya bisa dijamak tapi apa akan selalu seperti itu? ini bukan karena udzur/halangan kan tapi karena sengaja, jadi alesan menjamakpun tidak kuat. .

Berikut ini alasan-alasan menghindari motret sunrise dan sunset menurut saya :

1. Jarak antara masjid dan spot sunset maupun sunrise terkadang jauh, kebanyakan malah jauh sehingga seringkali demi mengejar 'moment' maka kita harus mengorbankan sholat magrib/subuh.

2. Untuk magrib memang bisa di jamak dan agama juga memudahkan untuk itu namun hanya untuk mengejar sunset? lantas kita harus menjamaknya? sementara kita tahu bahwa udzur/halangan yang dibuat adalah di sengaja.

3. Daya tarik sunset dan sunrise kadang lebih menarik dibanding harus mengikuti panggilan adzan sehingga ketika adzan berkumandang maka masih asyik untuk menjepret gambar di spot .


Bagi Landscaper, mengabadikan momen saat matahari terbenam atau terbit alias sunset dan sunrise merupakan momen yang paling banyak di jepret oleh pecinta fotografi Landscape. Kita bisa lihat dan cek di instragram tentang fenomena dan trend ini. Namun bagi saya yang sudah mulai menua ini, menjadikan sunset dan sunrise waktu untuk memotret ada semacam di lema sendiri karena berdasar pengalaman kita akan terlewatkan sama yang namanya sholat di waktu yang tepat. Karena akan asyik untuk mengabadikan momen yang kadang takut sekali untuk terlewatkan. 

Maka itulah sekarang saya ingin merubah koleksi foto dari sunset sunrise menjadi motret di luar waktu tersebut. Satu hal terpenting adalah tidak melupakan sholat hanya karena keasyikan motret.

Buat teman-teman landscaper khususnya yang muslim, please yuk mulai rubah waktu motretnya karena dua waktu tersebut emang sulit untuk dapat sholat tepat pada waktunya kalau sedang motret. Memang passion tidak bisa di larang sih, dan akan kembali kepada masing-masing orang, tapi tidak ada salahnya saya mengajak teman-teman untuk mengurangi memotret di waktu tersebut. Kalau bukan dari diri sendiri itu tentu akan sangat sulit terutama teman-teman yang sudah menginjak usia 40th keatas lah ya.

Ternyata foto disiang haripun akan terasa indah. Ini bukan sok idealis tapi lebih ke sebuah hobi yang dapat seiring sejalan, karena sesungguhnya setiap orang berbeda-beda keasyikannya dan perasaan rohaninya. Bagi yang belum bisa semoga suatu saat mulai bisa ya. Allah memang memudahkan ketika kita punya udzur untuk sholatnya di gabung, tapi kalau motret berdasarkan hobi menurut saya sih bukan udzur syar'i yang harus selalu menjamak sholat atau telat sholat gara-gara motret.  Tapi alasan-alasan diatas memang tidak mutlak namun saling mengingatkan tentu tidak salah. Salam Landscaper

Bukan sunrise juga tetep cantik

Thursday, July 11, 2019

MENGENAL KEARIFAN LOKAL SUKU BADUY











Terminal ciboleger
Berangkat Menuju Stasiun Rangkasbitung dengan Kereta

Pintu Masuk Baduy Luar

Anda bosan dengan wisata pantai, wisata hiburan atau malah ngemall? Ada baiknya yang satu ini di coba. Mengunjungi dan mengenal kearifan lokal masyarakat suku Baduy dalam. Suku Baduy terletak di Kabupaten lebak , Banten. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari Rangkas Bitung sebelum masuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki yang memakan waktu 4-5 jam. Suku Baduy dalam sendiri ada tiga wilayah yaitu di Cibeo, Cikeusik, dan dan Cikertawana yang merupakan tempat mukim dari suku baduy dalam.  Sementara itu Suku Baduy sendiri di bedakan kedalam 3 kategori, yaitu Baduy dalam, Baduy Luar dan Baduy di luar.

11.       Baduy Dalam : adalah suku Baduy yang masih memegang teguh adat istiadat  yang terletak di tiga wilayah yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
22.       Baduy Luar    : Disebut baduy luar karena mereka adalah suku asli baduy namun karena ada beberapa aturan adat yang di langgar sehingga mereka di keluarkan dari lingkungan. Mereka tinggal diluar komunitas suku baduy dalam.
33.       Baduy di luar : di sebut baduy diluar karena mereka sedang merantau atau berada diluar , seperti mereka sedang ke Jakarta atau ke wilayah lain.

Kali ini perjalanan saya adalah menuju Suku Baduy dalam yang terletak di Cibeo. Perjalanan di mulai dari Jakarta dengan naik kereta express Rangkas Jaya dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung. Standby di stasiun Tanah Abang jam 7 pagi karena harus antri membeli tiket untuk perjalanan kereta api jam 8.00 menuju Rangkas Bitung yang di tempuh dalam waktu sekitar 2 Jam. Sampai di Rangkas Bitung sudah di tunggu tour leader (TL) dari orang baduy luar yang sudah menunggu di stasiun untuk menjemput dan melanjutkan perjalanan hingga Ciboleger. Perjalanan dari Rangkas Bitung memakan waktu sekitar 2 – 2,5 jam untuk sampai ke Ciboleger dengan kondisi jalan yang lumayan ‘jelek’. Ciboleger adalah tempat/terminal tujuan akhir sebelum masuk wilayah Baduy luar.
Hasil Kerajinan Suku Baduy, Tenun dan lain sebagainya

Perkampungan Baduy Luar

Perjalanan Menuju Baduy dalam ditemani anak suku Baduy dalam

Sampai di Ciboleger digunakan untuk sejenak istirahat sambil menyiapkan bekal yang harus dibawa , seperti membeli perlengkapan untuk di masak ada beras, mi instan, kornet, sardines. Membeli secukupnya untuk makan malam dan makan pagi. Kenapa harus membawa bekal sendiri? Karena kita akan menginap di rumah penduduk, dan bahan makanan yang di bawa adalah bahan makan yang akan di masak sebagai makanan kita, karena di sana tidak ada warung. Kalaupun ada yang jualan itu adalah masyarakat dari luar baduy dalam.

Memasuki gerbang selamat datang di baduy kita akan di melewati rumah-rumah milik suku baduy luar. Mereka menjajakan aneka souvenir gelang, tas, madu, baju, dan yang paling unik adalah souvenir tenun, ada kain sarung tenun, selendang  dan sebagainya. Wanita-wanita suku baduy terutama baduy luar memiliki mata pekerjaan membuat tenunan yang dibuat dengan tangannya sendiri. Sehingga untuk merampungkan satu sarungpun bisa memakan waktu hingga 3 hari.

PERJALANAN DI MULAI
Setelah kita di sambut dengan aneka macam souvenir khas Baduy maka perjalanan menuju baduy dalam di mulai. Persiapan yang memang wajib di miliki adalah fisik yang kuat, karena perjalanan menuju baduy dalam sangat berat sehingga factor fisik merupakan hal utama yang harus di miliki. Kita di damping oleh orang Baduy dalam selama dalam perjalanan yang harus menaiki dan menuruni lembah, bukit dengan jalan-jalan yang sangat terjal dan curam di beberapa bagian. Ketika perjalanan menuju baduy dalam boleh di bilang jarang sekali menemukan jalanan yang rata, tapi selama perjalanan hanya menemui tanjakan turunan begitu terus. Sesekali nafas dan kaki yang capek memaksa kita untuk harus berhenti beristirahat untuk kemudian melanjutkan perjalanan.

Jangan dianggap perjalanan biasa-biasa saja, namun memang sungguh luar biasa berat medannya. Untungnya orang baduy yang mendampingi mau membantu untuk membawakan bekal tas kita. Sepanjang perjalanan di kanan kiri kadang terlihat hutan maupun hamparan ladang. Karena musim kemarau beberapa lahan terlihat sedang di bakar oleh penduduk .  Namun itulah cara mereka untuk membuka ladang yaitu dengan cara membakar nya terlebih dahulu.
Perjalanan menuju baduy dalam ditempuh sekitar 4-5 jam. Magribpun telah lewat hari beranjak gelap, rombongan kami baru saja sampai ke suku baduy dalam dan langsung di bawa kerumah penduduk tempat dimana kami akan menginap.

Lumbung Padi Suku Baduy luar

Traking menuju baduy dalam

RUMAH SUKU BADUY DALAM
Rumah suku baduy dalam berbentuk rumah panggung dengan atap daun rumbia. Jarak antar rumah satu dengan yang lain sangat berdekatan. Tiap rumah hanya memiliki satu pintu, filosofinya adalah agar mereka tidak landing (tidak boleh memiliki dua istri). Satu rumah bisa di huni oleh dua keluarga atau lebih. Begitu masuk kerumah yang akan kami inapi, keadaan cukup gelap, hanya ada satu lentera menerangi. Gelap, sepi dan sedikit takut karena tidak terbiasa dengan keadaan ini, namun rasa ingin menikmati suasana akhirnya mengalahkan rasa takut. Setelah berbasa basi dengan pemilik rumah dan menyerahkan bahan makanan untuk dimasak, dan istirahat di rasa cukup kami harus membersihkan diri dari keringat-keringat yang membasahi sekujur tubuh setelah berjalan cukup lama.

Hanya dengan penerangan lampu senter kami harus menuju kali tempat di mana oleh penduduk sekitar digunakan sebagai tempat untuk mengambil air untuk diminum, tempat mandi, tempat nyuci dan tempat buang air besar tentunya. Airnya cukup jernih. Setelah melepas pakaian bersama teman-teman dan mencari air yang agak dalam untuk berendam karena kondisi musim kemarau dengan debit air yang menipis, maka kami pun mandi. Eit disini harus diingat lho, ada pantangan yang tidak boleh di langgar oleh pendatang. Selama mandi di kali kita tidak boleh menggunakan sabun atau sampai atau odol sekalipun. Itu di larang karena pas kami mandi, suku baduy dalam langsung ngasih tahu. So? Jadi? Merekapun selama ini tidak pernah mandi pakai sabun… hii agak geli sih bagi pendatang tentu ini berasa gak nyaman , tapi mau tidak mau itu harus di taati.

Selesai mandi, makanan sudah tersedia langsung makan bersama dan selanjutnya adalah tidur. Kenapa tidur? Fisik yang lelah setelah perjalana yang cukup berat memaksa kami untuk cepat istirahat hingga bangun pagi pun terasa segar.

Begitu pagi maka segera ke kali untuk sekedar buang air kecil, dan cuci muka untuk ambil air wudhu. Tapi wah gawat nih perut mules, panggilan alam harus segera di tunaikan, tapi bagaimana bisa? Disitu ada laki-laki dan perempuan lagi mandi? Wah malu tapi panggilan alam harus segera di keluarkan. Alhasil setelah ambil wudhu dengan masih menahan mules harus balik ketempat nginap dan menunaikan solat subuh. Selanjutnya setelah solat minta di anterin teman untuk buang hajat dikali yang sebenarnya ada jalan tersendiri untuknya walau di kali yang sama.

Setelah selesai sarapan pagi, maka bergegas untuk melanjutkan perjalanan untuk kembali ke dunia luar dengan medan yang berat lagi.


LARANGAN DI BADUY DALAM
Selama di baduy dalam barang-barang elektronik boleh dibilang tabu bagi suku mereka; ada beberapa larangan yang jangan coba-coba di langgar seperti :

1.       Tidak boleh mengambil gambar/foto selama di baduy dalam
2.       Tidak boleh memakai sabun/sampoo atau odol kala mandi
3.       Tidak boleh mendekat/melewati jalan menuju rumah pu un(sesepuh adat)
4.       Dan tentu saja harus jga sopan santun di negeri orang.

MATA PENCAHARIAN & PAKAIAN
Mata pencaharian suku baduy dalam adalah bertani, mereka membuka lahan untuk berladang. Dari penduduk sekitar yang saya Tanya, mereka berladang biasanya 2 x tanam setelah itu mereka berpindah untuk mencari lahan baru yang lebih subur. Cara berladang mereka masih nomaden. Biasanya jam ½ 6 mereka sudah pergi ke ladang dan kembali pada sore harinya. Namun apabila ladang yang mereka buka jauh biasanya mereka tinggal di ladang dan baru akan pulang selama seminggu sekali.

Wanita-wanita Baduy dalam kebanyakan berkulit putih dan cantik-cantik serta memiliki rambut yang hitam legam meski mereka mandi tidak pernah menggunakan sabun dan membasuh rambutnyapun tidak dengan sampoo. Wanita-wanita Baduy adalah wanita tangguh dan kuat karena tiap hari harus keladang naik turun tanpa kenal lelah. Namun itulah yang justru membuat mereka lebih sehat.

Sedangkan pakaian adat mereka hanya dua yaitu warna putih dan warna hitam. Hitamputih dapat di artikan sebagai lambang siang dan malam. Karena hidup adalah hanya ada siang dan malam.  Dengan pakaian khas adat dan hanya berwarna hitam dan putih. Bagi laki-laki mereka memakai atasan putih dan bawahan hitam. Namun atasan kadang juga boleh hitam. Penduduk baduy dalam tidak memakai celana tapi hanya sarung yang dipakai setengah. Menurut mereka, penduduk baduy dalam juga mengenal sunat, untuk yang laki-laki. Namun cara mereka disunat adalah dengan hanya di belah dua kulupnya dan itu sah. (bayangin sendiri dibelah itu kayak apa)

AGAMA DAN PERKAWINAN
Bagaimana dengan agama mereka. Agama yang dianut suku Baduy dalam adalah kepercayaan Sunda Wiwitan.  Sedangkan perkawinan bagi mereka biasanya melalui perjodohan yang sudah di tentukan oleh Pu un (Sesepuh adat). Tidak sembarang orang dapat menemui pu un , tapi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menemuinya.

CATATAN
Bagi mereka yang melanggar adat, maka akan di keluarkan dari Baduy dalam dan tidak diakui lagi. Sebagai contoh adalah perkawinan dengan orang diluar suku, maka mereka akan dikenakan sanksi dan dikeluarkan dari baduy dalam. Untuk Upacara kematian biasanya dilakukan selamatan selama hari ke 1 sd ke 7, namun setelahnya tidak ada lagi, Kuburan Baduy dalam pun tidak menggunakan batu nisan sehingga apabila ingin mengunjungi kubur tetua atau orang tuapun tentu tidak bisa lagi karena tidak ada adat atau tradisi untuk ziarah kubur.

Bagi pengunjung jangan sekali-kali melanggar aturan yang telah di ditetapkan oleh adat Baduy dalam, kita harus menghormati dengan apa yang sudah di tetapkan. Sebagai pendatang harus pintar-pintar membawa diri, manusia modern harus tunduk juga dengan aturan yang ditetapkan di Baduy dalam. Tidak boleh menggunakan alat elektronik , apapun jenisnya termasuk hp tentunya. Sebagai contoh nyata adalah saat kawan saya memotret diam-diam di perkampungan Baduy dalam, namun tanpa disadari kalua gerak geriknya sudah diperhatikan oleh pengawas adat setempat, sehingga kawan sayapun akhirnya di datangin oleh pengawas adat dan disuruh untuk menghapus foto atau rekamannya atau konsekuensi lainnya adalah hapenya di sita. Tentu saja dengan nada dan marah yang tertahan akibat ulah teman saya. Alih-alih hape Cuma disita namun bisa jadi mereka langsung mengusir pendatang yang tidak mematuhi aturan dan tentu juga dengan menyita hape yang ada rekamannya. Namun dengan diplomatis akhirnya kawan sayapun meminta maaf dan menghapus rekaman atau foto dengan disaksikan oleh mereka. Mereka sangat memegang teguh apa yang mereka yakini, sebagai pendatang tentu kita harus menghormatinya.

Sebagai sebuah pelajaran, Suku baduy dalam meski mereka tidak mengenal teknologi dan tidak sekolah namun mereka mau belajar sendiri baca tulis, dan Bahasa. Sehingga cara berkomunikasi merekapun seperti orang yang berpendidikan meski tidak ada sekolah.

Yang membedakan dari wisata lain adalah, suku baduy dalam terlarang untuk orang asing dalam artian yang sebenarnya. Orang asing itu bisa berarti China , Arab atau orang amerika maupun eropa pun tidak boleh masuk ke baduy dalam, atau lebih tepatnya orang-orang dari luar negeri sampai saat ini masih belum bisa diterima untuk datang ke suku Baduy dalam.

Anda ingin kerkunjung ke Baduy dalam dan mengenal keaneka ragamannya? Jangan lupa siapkan fisik karena trakingnya yang tidak mudah dan membutuhkan kekuatan fisik.

Jembatan di baduy luar

Menyeberang Jembatan



NOSTALGIA DENGAN TELEPON UMUM KOIN DAN KARTU

Koleksi Kartu Telepon yang unik

Keindahan Borobudur dalam kartu telepon
Bagi generasi milenial sekarang ini, kalau di sebutkan telepon umum mungkin akan merasa asing. Kenapa? karena generasi jaman sekarang adalah generasi Handphone yang semua informasi ada dalam genggamannya. Sehingga kata-kata telepon umum tentu menjadi asing di telinga. Namun tidak demikian jika di bandingkan dengan generasi 80-90an, dan generasi sebelumnya. Telepon umum merupakan salah satu sarana telekomunikasi yang biasanya terdapat di suatu sudut atau tempat tertentu yang akan di gunakan untuk menelpon ke tujuan telepon rumah atau kantor.

Sesuai dengan namanya, telepon umum adalah seperangkat alat telepon yang dapat di gunakan oleh siapa saja, telepon umum yang umum di pasang adalah telepon umum yang terpasang di jalan-jalan umum tanpa penutup, namun demikian ada juga yang menggunakan ruangan kaca sebagai tempat untuk meneleponnya. Telepon umum merupakan sarana publik yang murah dan dapat di gunakan oleh siapa saja karena tidak semua rumah memiliki telepon sehingga harus rela antri hanya sekedar berhaha hihi di telepon umum.  Telepon umum pada saatnya di bagi dalam dua kategori yaitu telepon umum koin dan telepon umum kartu.

Telepon Umum Koin

Sesuai dengan namanya telepon umum koin merupakan telepon yang menggunakan koin sebagai bentuk pembayaran dengan jumlah unit tertentu. Satu koin biasanya memiliki waktu yang sudah ditetapkan, untuk memperpanjang waktu nelepon sebelum terputus maka harus memasukkan kembali koin ke dalam telepon umum. Koin yang di gunakan adalah koin Rp . 50, Rp. 100 pada saat itu belum muncul pecahan 200 rupiah. Namun dengan seratus rupiah kita dapat menelpon terhadap nomor yang dituju. Biasanya Telepon umum koin hanya dapat di gunakan untuk sambungan lokal saja.

Meski dengan uang 100 rupiah masih dapat kok say hello terhadap yang di seberang sana, kalau saya dulu suka request ke radio untuk meminta diputerin lagu. Jaman dulu istilahnya kirim atensi hehe........sepulang sekolah mermodal seratus rupiah nelepon radio, sampai rumah pas acaranya terus di bacain penyiar salam salamnya itu berasa seneeeeng banget. 
Flora Fauna menjadi salah satu tema dalam kartu telepon

Ucapan Selamat Idul Fitri dengan latar belakang masjid

Bendera Asean

Telepon umum Kartu

Secara umum fungsi telepon umum kartu dengan telepon umum koin sama saja hanya untuk jenis pembayarannya adalah dengan memasukkan kartu telepon. Kartu telepon berisi jumlah unit tertentu yang dapat di beli di toko tertentu maupun juga di kantor telkom. Jumlah unit kartu berbeda beda sesuai dengan kebutuhan dan yang akan di beli. ada yang 125 unit, 60 unit, juga ada yang 140 unit. Ketika kita akan menelepon maka harus memasukkan kartu dan jumlah pembicaraan akan di kurangi dalam kartu sesuai dengan unit yang sudah di beli. berkurangnya unit telepon ditandai dengan bolongnya kartu telepon secara otomatis sesuai dengan jumlah unit yang sudah di pakai.

Menariknya dari Telepon umum kartu ini adalah jenis kartu magnet yang digunakan memiliki gambar-gambar yang sangat menarik baik itu keindahan alam, kekayaan alam, maupun olahraga dan juga pembangunan dan sebagainya. Dari kartu telepon ini selain dapat di gunakan untuk menelpon sekaligus menambah pengetahuan meski sedikit.

Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi telekomunikasi, kedua sarana ini sudah ditinggalkan, meski sering kita lihat di sudut-sudut tertentu masih ada telepon umum yang sudah tidak terpakai lagi, sebagai bukti kalau dulu pernah menjadi tempat bersejarah utamanya bagi yang pernah menggunakan untuk menelpon pacarnya hehe....

Ada yang punya kenangan dengan telepon umum???


Watu Lumbung, Pesona Keindahan tersembunyi di Yogyakarta

Siap Tempur
Pernah berkunjung ke Jogyakarta? Apa yang terlintas dalam pikiran ketika di sebut nama Jogya? Malioboro? Parangtritis? Keraton? Candi Prambanan? atau bahkan Borobudur yang sebenarnya ada di Magelang? Umumnya ketika tersebut nama Jogya yang terlintas memang bisa bermacam-macam, ada yang langsung tertuju sama makanan khasnya yaitu gudeng Jogya, ataupun Malioboronya. Kesemuanya sah-sah aja karena memang itu adalah merupakan ikon dari Jogyakarta.

Namun lebih daripada itu, Jogyakarta sebenarnya memiliki wisata pantai yang indah selain Parangtritisnya, sebut aja gugusan pantai di wilayah Gunung Kidul seperti pantai Krakal, Drini, Wediombo dan masih banyak lagi pantai-pantai yang indah. Namun sayangnya wisata pantai di Jogyakarta masih kalah pamor di bandingkan dengan wisata Keratonnya, atau kalaupun pantai orang lebih mengenal Pantai Parangtritis di bandingkan pantai lain.

Kali ini saya ingin membagi pengalaman mengenai Pantai Watu Lumbung. Watu Lumbung merupakan salah satu pantai yang masih perawan di wilayah Gunung Kidul tepatnya berada di Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul Jogyakarta.
Salah Satu Icon Watu Lumbung

Perjalanan dimulai dari kota Jogyakarta. Kali ini dengan penuh optimisme perjalanan di mulai dengan sedikit hambatan arena sepanjang perjalanan ternyata di guyur hujan gerimis, meskit tidak besar namun perjalanannya menjadi tidak bisa kencang, Pergi berempat dengan rekan-rekan hunting dari kota Yogyakarta perjalanan cukup melelahkan karena membutuhkan waktu sekitar 3 Jam untuk menuju lokasi. Tujuan utamanya adalah pantai Watu Lumbung namun sebelum ke Watu Lumbung mampir sejenak ke Pantai Wedi Ombo sembari menunggu datangnya sore. Sedikit mengabadikan foto landscape di Wedi ombo. Dari Wedi Ombo di sebelah barat terlihat gugusan pantai dari kejauhan, dengan ikonnya yang khas. Ya samar-samar Watu Lumbung dapat kelihatan dari Wedi Ombo. Kian penasaran untuk mencapai Watu Lumbung dan mengabadikan waktu sunset. Perjalanan pun di mulai lagi dari pantai Wedi Ombo untuk selanjutnya menuju Watu Lumbung dengan menggunakan mobil citycar. Tanpa persiapan dan hanya mengandalkan plang petunjuk jalan, akhirnya mobil masuk ke dalam hingga radius 300 meter dari tebing pantai karena memang mobil sudah tidak bisa masuk lagi karena halangan bebatuan.

Perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Sebelah kiri terdapat tanah pertanian sedangkan sebelah kanan terdapat tanah pegunungan. Sesampai di bibir tebing, wow pemandangan begitu indah dengan ikon khas seperti pantai papuma di Jawatimur. Segera menuruni jalan yang lumayan susah dan terjal akhirnya sampai pula ke pantai, persiapan memotret dengan mengeluarkan Kamera beserta perlengkapan lainnya, Cekrek dua cekrek, baru saja di mulai namun sayangnya kali hujan pun turun, sehingga cara memotret yang tadinya berniat ingin memotret sunset pun harus gagal dan disudahi. Selanjutnya pulang dalam guyuran hujan gerimis. Sampai di mobil.. alamak.. ini salahnya karena tidak bertanya terlebih dahulu. Ternyata ketika hujan turun, jangankan mobil, motorpun untuk naik keatas kembali akan selip jalanya dan harus di dorong Akhirnya kepalang basah, acara dorong mendorong mobilpun terjadi hingga akhirnya sampai diatas. Keunikan dari Watu Lumbung adalah adanya batu atau tebing yang bolong di tengah tengah yang seringkali di jadikan framing bagi pecinta fotografi sehingga menambah keindahannya.

Perjalanan kali ini pun selesai dan pulang ke Jogya kembali. Saran saya kalau mau ke Watu Lumbung ketika hari hujan jangan coba-coba membawa kendaraan ke dalam tapi cukup parkir di jalan yang di semen saja walau agak jauh . Ini untuk menghindari kejadian selip ban tentunya. Masih mau mengulang lagi ? Ya kali ini esok harinya saya berdua teman masih nekat ke Watu Lumbung. Kali ini sewa motor dari Wedi ombo dan mobil di parkir di Wedi ombo, Kali inipun kejadiannya sama berangkat hingga Watu Lumbug kondisi belum hujan namun sampai di watu lumbung hujan turun. Dan ini parahnya karena meski menggunakan motor ternyata bannya pun memang selip. alhasil selama dua hari tidak berhasil menikmati sunset.
Ini beberapa hasil yang saya peroleh
Sisi Lain Watu Lumbung

Sisi Lain Watu Lumbung

Angle Yang Berbeda

Neduh dulu karena hujan

Salah satu Ikon Watu Lumbung



Monday, June 24, 2019

PANTAI ATUH NUSA PENIDA YANG EKSOTIS

Keindahan pantai atuh
Bali memang memiliki daya tarik pariwisata yang tidak habis-habisnya. Selain wisata budaya, deretan pantai-pantai indah di Bali menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selain Pulau Bali, bagi para wisatawan yang selalu ingin eksplore keindahan, berkunjung ke pantai Atuh merupakan salah satu tujuan yang patut di coba. Untuk mengunjungi Bali , para wisatawan baik backpaker maupun yagn menggunakan tour tidak terlalu kesulitan, karena infrastruktur yang baik dan orangnya yang ramah-ramah. Ketika keBali ada dua pilihan yang bisa dilakukan yaitu jalan sendiri atau dengan menggunakan jasa tour. Jika ingin jalan sendiri dan mengandalkan google map atau waze untuk menuju ke sebuah lokasi, itu akan dengan mudah di temukan. Penyewaan motor dan mobil juga banyak dengan tarif sewa yang nyaris sama satu dengan yang lain.

Pantai Atuh terletak di Nusa Penida, tepatnya di Pejukutan, Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Untuk mencapai tempat ini wisatawan harus menggunakan speed boat untuk menuju ke Nusa Penida. Saya biasanya menyeberang ke Nusa Penida dari Pelabuhan Sanur dengan speed boat yang diinginkan sesuai jam yang terjadwal. Setelah menyeberang maka sesampai de Pelabuhan di Nusa Penida sudah menunggu motor yang kami sewa. Sebelum ke Nusa Penida biasanya saya telah menghubungi penyewaan motor yang ada di sana sehingga ketika sampai sudah menunggu motor di parkiran dan siap di gunakan. Namun kali ini karena berangkatnya banyakan kita memilih menyewa mobil sekaligus drivernya biar gak repot.

Pantai Atuh adalah pantai yang menghadap ke matahari terbit sehingga kami memutuskan untuk menuju Atuh pada pagi dini hari, namun sebelum ini sorenya kita ke kelingking beach dan Broken Beach. Malam ini menginap di penginapan dulu, dan sekitar jam 4 waktu setempat kita siap siap menuju Atuh. Perjalanan cukup jauh namun karena drivernya dari orang lokal kita tinggal duduk manis saja hingga lokasi parkir. Sesampai dilokasi kita turun, hari masih gelap namun kita berjalan kaki menuju ke lokasi. Perjalanannya cukup jauh. Untuk mencapai lokasi ini kita harus menuruni tebing  dengan tangga yang sudah di beton. Tangganya cukup curam sehingga sesekali kita berhenti dan menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya sampai juga ke bawah.

Mulailah kita mengeluarkan senjata masing-masing, kamera, tripod, dan filter dan berbegas mengambil spot untuk mengabadikan sunrise atau matahari terbit di Pantai Atuh. Wow pantai ini indah banget meski pada pagi hari seperti ini tidak ada pengunjung selain kita. Seperti dalam foto-foto yang beredar di internet, beginilah keindahan pantai Atuh. Selain view dari bawah, para wisatawan juga dapat menikmatinya dari atas. Untuk mengambil spot foto, kita juga harus waspada karena sewaktu-waktu melihat ular pantai. ngeri hehe...... tapi aman kok yang penting waspada.

Pantai Atuh cukup hits bagi kalangan fotografer landscape .

Keindahan atuh ini memang tiada duanya dengan karakter pantai berbatunya.

Sunday, June 23, 2019

LENGGER, SENI TRADISIONAL BANYUMASAN YANG KIAN TERPINGGIRKAN

Lengger
Lengger merupakan kesenian tradisional asli Banyumas  yang dimainkan oleh dua orang penari atau 3 orang dengan iringan musik Calung. Calung adalah gamelan yang terbuat dari bambu biasanya bambu wulung atau bambu petung yang di jadikan sebagai bahan baku calung yang memiliki suara khas. Sedangkan Lengger sendiri merupakan penari dengan dandanan sanggul dan memakai kemben, dengan sarana menarinya adalah selendang yang di selempangkan menutupi bahunya. Mereka akan menari mengikuti irama Calung dan gendang dengan disertai tandak (menyanyi) sambil menari. Seorang lengger pada umumnya adalah seorang yang piawi menari sambil menyanyi. Dua hal yang harus di punyai oleh seorang pelengger.

Pada awal pertunjukkan biasanya lengger menyanyi lagu-lagu jawa , setelah beberapa lama menyanyi sambil duduk bersimpuh kemudian kedua lengger akan berdiri dan memulai menari sambil mengibaskan selendangnya. Lengger bagi masyarakat Banyumas tentu berbeda bagi tayub, karena kalau tayub akan menari sama penonton namun lengger lebih ke pertunjukkan dengan mempertontonkan kepiawaian menyanyinya sambil menari.  Pertunjukkan lengger dapat di temui ketika ada orang hajatan seperti pernikahan atau sunatan, dan di rumah tersebut "nanggap" (membayar) lengger untuk pertunjukkannya. Tak jarang lengger itu memulai pertunjukkan pada sore hari dan dilanjutkan malam hari sesuai dengan permintaan pemilik hajatan. Namun ada juga yang hanya malam hari saja.

Pada setiap pertunjukkan lengger, ketika malam hari jelang tengah malam biasanya akan diramaikan oleh aksi penari laki-lagi, dalam bahasa Banyumas di sebut Badut yang akan menemani kedua lengger untuk menari. Tugas badut adalah menari sambil melucu sehingga membuat suasana kian ramai. Ketika Badut muncul maka sepanjang pertunjukkan hingga akhir pertunjukkan akan di selingi banyolan-banyolan baik tingkah badut maupun joke-joke badut saat sebelum menari. Puncak pertunjukkan lengger adalah saat berakhir pertunjukkan , salah seorang lengger yang senior biasanya akan menari dengan dandanan ala ala gatot kaca , masyarakat Banyumas mengenalnya dengan Renggong.

Bagi masyarakat Banyumas saat lengger masih berjaya, Lengger yang berasal dari Banjarwaru merupakan salah satu lengger yang terkenal, terbukti kesenian lengger Banjarwaru sampai di buat dalam bentuk kaset Pita. Sebut saja Lengger Kampi, Lengger Adminah, Lengger Sopiah ketiganya berasal dari Banjarwaru. Banjarwaru merupakan sebuah desa yang terletak di Kabupaten Cilacap. Banjarwaru merupakan daerah pencetak lengger yang cukup terkenal bagi Masyarakat Banyumas.

Namun sayangnya seiring perkembangan teknologi, kesenian dan pertunjukkan lengger kian terpinggirkan bahkan penerusnya pun kian sulit di cari. Masyarakat pun kini sudah hampir tidak ada yang nanggap Lengger ketika memiliki hajatan, namun mereka lebih memilih hiburan yang di putar dari VCD atau yang sedang hits adalah campur sari. Nanggap lengger tentu tidak semurah dulu karena memang transportasi dan tetek bengeknya sekarang lumayan mahal, sehingga pilihan hiburan dengan pertunjukan VCD yang di putar di layar TV merupakan hiburan yang murah meriah.

Meski lengger kian terpinggirkan namun saya berhasil melihat lengger di daerah Pantai widara payung meski dengan penari yang masih bocah. Mereka menari diiringi calung di tengah terik matahari dengan mengharapkan uluran rupiah dari para pengunjung pantai. Sebuah pertunjukkan yang kian langka dan salut apabila masih ada generasi penerus yang akan meneruskan atau paling tidak tetap mempertahankan budaya lengger.

Meski Lengger kian punah, namun harapannya masih ada orang-orang yang peduli terhadap kesenian ini.