Sunday, May 31, 2026

AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL?

 


AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL? (berita lawas). Ami Priyono memajang nama lengkapnya , Ki Dalang Lembu Amiluhur Priyawardhana Priyono, dalam credit title Film Terbaik FFI 1978 "Jakarta Jakarta". Lewat film yang menggondol lima Piala Citra ini pula Ami dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. 

Namun ternyata Ami yagn memulai debut penyutradaraan pada tahun 1974 lewat drama horor "Dewi". (Sayang sekali film yang dibintang"Jodoh Boleh Diatur", komedinya Warkop Dono-Kasino-Indro yang diilhami fim komedi sukses Amerika "Three Men and a Baby".

Sampai sekarang sudah lewat dua tahun belum juga Ami memulai penggarapan film terbarunya. Padahal ia sudah bersepakat dengan Ferry Angriawan, produser PT. Virgo Putra Film untuk bikin sebuah film drama. 

"Syarat terpenting untuk keberhasilan suatu film adalah kerjasama dan pengertian antara sutradara dengan produsernya, " begitu prinsip Ami yang juga menganut pahan "Alon Alon Asal Kelakon". Itu sebabnya Ferry juga tak pernah mendesaknya untuk segera memulai. 

Bahkan belakangan tahu-tahu tersiar kabar Ami jadi gembel yang bergelandangan di kawasan kumuh. Dengan jenggot dan rambut gondrongnya yang kusut masai, busana lutah lutuh, wajah muram, terlihat ia menggigil demam di kaki patung Pak Tani, silang Menteng jakarta Pusat. 

Tepat saat itu lewat mobil mewah Baby Benz yang dikendarai Nani Vidya. Spontan Nani menjerit "Eyang!". Berlari turun dari mobil untuk memeluk dan kemudian memapah Ami ke Rumah Sakit. 

Tentu saja ini cuma adegan dalam film yang berjudul "Cas Cis Cus" arahan perdana Putu Widjaya. Rupanya Ami tertarik dengan tokoh kakek yang minggat dari rumahnya karena anak-anaknya tak lagi memperhatikannya, malah memandangnya sebagai semacam barang rongsokan yang tak berguna lagi. Namun kekerasan hati lelaki tua ini akhirnya luluh juga ketika cucunya membawa buyut yang masih bayi mungil. 

Memang, Daripada menyutradarai, sekarang Ami lebih sering jadi pelakon. Bisa dilihat misalnya sebagai ayah Onky Alexander yang kepergok nyeleweng dengan sekretarisnya di Ancol dalam  "Namaku Joe" atau jadi duda kaya raya ayah Donny Damara dalam Ketika Cinta Telah berlalu. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Friday, May 29, 2026

SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA"


 SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA" (berita lawas). Virgo dengan Si Gobang, Kanta Indah dengan Saur Sepuhnya, Parkit  dengan Jaringan Terlarang, Firman Mercu Alam dengan Misteri dari Gunung Merapi dan Rapi Film pun memproduksi Pedang Nagapasa.

Dari sekian banyak tema action yagn di produksi, jenis action modern yang juga paling mendominir. Soal mobil tabrak-tabrakan, dar der dor dan yang silatpun silat modern, Kungfu, karate, taekwondo, mungkin juga campuran dari aliran tersebut. 

Dari silat tradisional atau silat klasik, yang jumlahnya hanya beberapa gelintir, Pedang Nagapasa masuk dalam daftar. Film yang baru saja di selesaikan sutingnya ini, memang sengaja untuk mengisi kekosongan silat klasik, yang sebenarnya merupakan salah satu kebudayaan bangsa kita. 

Slamet Riyadi sang sutradara dibantu pengarah kelahi atau istilah kerennya fighting instruktur dari salah seorang p ersonil Wayang orang Bharata, terpaksa harus kerja hati-hati untuk memperoleh ciri khas klasik yang diinginkan. Hasilnya? Film itu kini memang belum tuntas. Minggu ini baru mulai isi suara. Namun pihak produser, baru melihat gambarnya saja, tak merasa kecewa. "Saya mengharapkan , film ini akan memperoleh sambutan hangat dari masyarakat!", Tukas Gope Samtani sang produser. 

Harapan Gope didasarkan pada kenyataan, dimana film-film yang menampikan silat klasik, cukup digemari masyarakat. Contohnya, Misteri Dari Gunung Merapi maupun Saur sepuh. Ia mengakui, kedua film tersebut memang ceritanya telah populer lewat sandiwara radio. Namun Pedang Nagapasa yang kata Samtani akan jadi sandiwara teve, walau entah kapan disiarkan, cukup menarik. 

Sebagai pemain andalan dalam film ini yang menghabiskan bahan baku hampir 100 can itu antara lain : Advent Bangun, Anneke Putri, Baron Hermanto, Alba Fuad, Devi Sabah, Erick Soemadinata, dan ratusan pemain lainnya. Ditambah lagi puluhan kuda ikut membuat  gambaran kolosalnya film tersebut.~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990 

Thursday, May 28, 2026

UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT

 


UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT (berita lawas). Dari tujuh keturunan seniman besar serba bisa Bing Slamet, hanya tiga yang bungsu yang melejit sebagai artis, baik dalam film maupun musik. Yang pertama adalah anak ke lima. Waktu dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 16 April 1961 diberi nama Ratna Lucyana. 

Sejak kecil sudah terbiasa dengan panggilan kesayangan Uci. Ya sudah terbawa terus sampai besar. Dengan tubuh yang mungil dan wajah sendu innocent, Uci mulai merintis karier sebagai penyanyi. 

Tapi, tentu saja kemudian terseret main film juga. Waktu pertama tampil dalam "Dr. Karmila" , Produser Manu Sukmajaya memujinya sebagai pemirip Jenny Rachman. Pernah pula berpasangan dengan Rano Karno dalam " Tom & Jerry". Sesudah itu absen cukup lama karena 'kecelakaan'.

Baru kemudian, Uci mulai berkiprah kembali. Secara beruntun ia tampil dalam "Kamus Cinta Sang Primadona", "Pengakuan", "Semua Sayang Kamu" dan terakhir "Pendekar Cabe Rawit".

"Untuk suting film ini, saya harus ke Yogya, maklum lokasinya full disana," cerita Uci tentang film yang baru rampung suting itu. "Saya berperan seabgai Sri, bunga desa yang ingin berkarya. Kalau ceritanya zaman sekarang sih tidak heran, tapi ini terjadi kira-kira dalam abad ke XVIII di pedalaman Jawa lho!".

"Pendekar Cabe Rawit" merupakan karya penyutradaraan perdana bagi Abdul Kadir. Tokoh pendekarnya diperankan oleh Syaiful Nazar. Dan tentu saja tokoh Sri yang menjadi kekasih si pendekar. 

Saat break suting, Uci menyempatkan diri berbelanja ke pasar Bringharjo. Pulang-pulang membawa sekeranjang sayur mayur, terus masak sayur asem. Ramai-ramai dinikmati oleh seluruh pemain dan kru. "Ternyata Uci pintar masak sayur asem lezat!" puji produser Hendrick Gozali. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Wednesday, May 27, 2026

LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT


LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT (berita lawas). Mau melihat generasi kedua Doris Calabout? Nonton saja film Laura Si Tarzan yang sudah di gelar di bioskop-bioskop. Atau kalau kepepet banget , kaset video bajakannya juga cukup membanjir. Pada film  ini,Larasati Calabout, cewek dengan tampang lumayan yang nangkring di kelas dua sebuah SMA di Jakarta Selatan, nekad bikin pameran perut, dada dan pangkal paha. Amboi! "Untuk itu Lara cuma di bayar seratus lima puluh ribu perak. Nyesel sih nyesel, abis gimana. Kan nggak bisa nuntut. Perantaranya saja adalah Opa, " tukas Lara pada Majalah Film tentang keberaniannya dalam film garapan Willy Wilianto.

Lara berani mengangkat sumpah, nggak mau disebut bintang seks. Cukup julukan ini mampir pada ibunya dulu, tapi waktu cewek ini main dalam film Satria Bambu Kuning adonan M. Syarifudin, bibirnya rela dilumat cowok Malaysia. Padahal waktu adegan itu dibikin, lara masih duduk id bangku kelas II SMP. Sampai istri bintang malasia tersebut cemburu, lalu terjadi insiden kecil di lokasi. 

Tidak tanggung-tanggun cowok yang dikenalnya selama ini yang berkulit bule. Bisa  kenal dengan bule juga katanya diawali dari ulah sang opa yang memperkenalkannya. Malah ia menyarankan agar cucunya ini mendapat jodoh orang bule, tanpa alasan yang jelas " Nggak tahu ya. Bersama cowok bule kayaknya lebih mengasyikkan gitu," katanya datar. 

Aduh Lara, yang mengakibatkan kamu bugil Opa. Kenal sama orang bule juga lantaran di kenalkan Opa?, kenapa begitu?. Jawabannya sederhana saja . Lantaran Lara tidak tinggal bersama ibunya , melainkan tinggal bersama opanya yang juga penyunting gambar (editor).

Tapi Lara juga punya ketentuan untuk memilih cowok orang pribumi . Apa sih? "Setidaknya cowok itu pakai sepatu keren diatas seratus ribu perak. Sombong kali, hehehe.." sergahnya sembari tertawa. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990



Tuesday, May 26, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA

 


PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA (Suting film). Tanpa Banyak publikasi, hampir secara diam-diam saja, Hendrick Gozali telah merampungkan produkse ke 52 PT. Garuda Film yang berjudul "Pendekar Cabe Rawit".

"Film ini merupakan sebuah film silat dengan setting kisah di Jawa Tengah pada masa lalu, " jelas produser. "Itu sebabnya kami memilih lokasi d Yogya dan sekitarnya saja. "

Biasanya Garuda memproduksi film-film bertema drama rumah tangga seperti misalnya "Tirai malam Pengantin", "Dewi Cinta" dan "Api Cemburu" baru setelah "Pernikahan Berdarah"nya Torro Margens mulai merambah ke tema silat juga. 

Sutradaranya kali ini di pilih Abdoel Kadir yang baru untuk pertama kalinya mencoba menjadi sutradara penuh. "Saya lihat dia cukup berbakat dan sudah waktunya diorbitkan, setelah beberapa kali menjabat sebagai astrada dalam film-film terdahulu, " puji Hendrick. 

Dari barisan pemain utama dipasang, Uci Bing Slamet, Syaiful Nazar, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS, dan pendatang baru Monica Oemardi. 

Uci tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Indonesia. Begitu pula halnya dengan Jhan yang belakangan sering kebagian peran antagonis seperti misalnya dalam "Genta Pertarungan" sebagai karateka licik yang mencurangi Advent Bangun. 

Begitupula halnya dengan W.D Mochtar yang sudah tidak asing lagi dan Sutopo HS yang terkenal lewat peran seabgai Pak Atmo dalam drama Seri "Losmen" di TVRI.

Tapi nama Syaiful Nazar terdengarnya masih asing. Padahal ia sudah beberapa kali ikutan mendukung film silat. Antaranya sebagai pendekar bloon dalam "Mandala Dari Sungai Ular" yang menjadi sahabat Barry Prima, juga dalam Rio Sang Juara ia berperan sebagai seorang patner Willy Dozan. 

Syaiful Nazar menguasai pencak Silat, juga pernah menjadi juara senam nasional, bahkan se Asean. Itu sebabnya mampu menghidupkan tokoh pendekar Cabe Rawit yang rada-rada kocak, " jelas sutradaranya. 

Ada adegan pertarungan seru antara Syaiful kontra Johan, gara-gara Johan yang berwatak playboy ingin memperkosa si bunga desa Uci. Dengan jurus pencak silatnya, Syaefil berhasil mengimbangi Johan yang merupakan seorang Karateka. 

Tak Sampai sebulan seluruh suting dirampungkan, semuanya kembali ke Jakarta. Proses selanjutnya mulai dari pengisian suara, editing, mixing, tata musik dan sebagainya di kerjakan di Inter Studio. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Monday, May 25, 2026

LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU


 LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU(berita lawas). Kenapa Liliek Sudjio mau menangani film musik? Bukankah dia seorang pembuat film-film horor dan laga? "Mas Lili zaman film hitam putih sudah banyakbikin film. Saya cukup percaya, dan dia juga sudah membuktikannya. Bikin film besar mampu, bikin film sederhana mampu," ucap Shindu Dharma BA, Pemimpin produksi film Jaka Swara produksi PT. Firman Mecu Alam Film.

"Jaka Swara" sendiri kalau melihat dari para pendukungya memang tak salah lagi, film musik. Ada Rhoma irama, Camelia Malik, Heidy Diana, Diana Yusuf. Semuanya penyanyi, dibantu dan diperkuat oleh Arman Effendi, Piet Pagau, Bung Salim, Ade Irawan, dll. Tapi sebenarnya film ini adalah film laga. 

Liliek sutradara yang dikenal sebagai bapak trick, syarat dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Lahir di Makassar, 14 Mei 1930. Pendidikan Sekolah Tekhnik, kemudian belajar Teknik Montage di LVN Manila, Sekolah Sinematografi di Los Angeles A.S selama dua tahun dari 1960-1962.

Menurut pengakuannya, dulu lebih banyak menggeluti dunia panggung. terjun ke film pada tahun 1949 sebagai pemeran pembantu untuk film "Sapu Tangan" yang dibikin pada tahun 1949. Tahun 1951 beralih menjadi clepperboy dan pencatat skrip di Persari. 

Akhirnya menjadi sutradara penuh pada tahun 1957 untuk film "Anakku Sayang". Dalam FFI 1955, terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya "Tarmina" Kemudian mencapai prestasi di bidang editing sebagai penyuntik terbaik pada Pekan Apresiasi film Nasional '67 untuk film Yudha Saba Desa. 

"Jaka Swara" ini, film laga dengan biaya besar. Selain kolosal, ada trick, juga ada set dan menggunakan miniatur. Film besar, biayanya juga besar. Tapi ada yang lain, ada istimewanya. jadi ada sesuatu yang baru disini, yaitu laga. Dimana Rhoma irama sebagai penyanyi, tidak hanya menyanyi kemudian ada jalinan cinta yang membalut cerita, tapi juga full laga. 

Rhoma disini terbang melayang dalam duel dengan para jawara pribumi yang jadi kaki tangan orang-orang Portugis. Reaksi Rhoma "Memang lebih berat ketimbang film-film sebelumnya. Tapi saya harus bisa, karena ini tuntutan".

Untuk pembuatan trick di film ini Liliek tidak mengalami kesulitan. "Sudah terbiasa", katanya. Ketika sekolah di Amerika dia menemui hal yang aneh-aneh dalam pembuatan film yang menggunakan trick. Terus dikembangkan disini. 

"Kita harus membuat dengan cara kita. Kalau di Amerika mereka membuat dengan peralatan yang canggih, disini ada saja gantinya, minsalnya menggunakan peralatan bambu. Tapi semua itu sebetulnya sama. Seperti glass shot dibikin efect untuk hantu. Saya pelajari dan bisa dikembangkan untuk adegan kebakaran orang tidak kena api. Jadi adegan berbahaya  itu tidak berbahaya jadinya. Dalam film "Jaka Swara"  tak ada kesukaran, karena tim kerja, misalnya untuk effect diserahkan pada El Badrun, Juru Kamera Suryo Susanto yang bsudah biasa dengan glass shot dan bekerjasama dengan saya cukup lama."

"Jaka Swara" yang baru saja menyelesaikan proses dan menuju pintu sensor menurut keterangan Liliek Sudjio punya alasan mendasar sebagai film yang memiliki nilai tambah. Rhoma sebagai raja dangdut punya penggemar dengan balutan lagu-lagu terbaru. Tambah lagi dengan penggemar film-film laga yang lagi trend masa kini sesuai tema film tersebut. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, May 24, 2026

CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA

 


CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA (berita lawas). Menjelang pembuatan film "Jawara Jawara" diselenggarakan selamatan. Diantara bintang yang datang selain Dewi Yull dan Eeng Saptahadi, terl "ihat juga aktris kawakan Nani Wijaya. Tentu saja para wartawan mengira Nani akan ikut  main, mungkin sebagai ibu Ayu Azhari. 

"Eh, saya tidak ikut main lho," tertawa Nani. "Saya cuma mengantar Cahya. Dia yang bakal ikut main".

Remaja yang ditunjuknya, Cahya Kamila berkulit hitam manis, tersenyum tersipu-sipu. Ternyata mengikuti jejak ibunya, anak ketiga dari pasangan Misbach Yusa Biran - Nani Wijaya ini mulai ikutan main film juga. 

"Kalau main film bioskop memang ini baru untuk pertama kalinya,"sebut Cahya yang dilahirkan di Jakarta pada 8 Agustus 1972. "Namun saya sudah pernah ikutan mendukung beberapa sinetron produksi TVRI."

Disebutkan beberapa judul diantaranya, Lahirlah Sang Bintang dan Anggraini. 

"Padahal dua kakaknya sama sekali tak tertarik pada seni peran, tapi yang ketiga ini memang ikut jadi anggota Teater Permata, " tambah sang ibu. 

Bahkan dalam rangka merayakan Super Semar dalam awal Maret 1990 yang lalu, Cahya berhasil meraih juara Baca Puisi. 

Lalu siapa yang sekarang memilihnya jadi pemain "Jawara Jawara?".

"Sutradaranya sendiri, Mas Firman Triyadi yang datang kerumah dan memilih saya untuk ikutan berperan sebagai seorang gadis desa bernama Fatma".

Semula sang ayah, Misbach Yusa Biran yang udah lama tidak menyutradarai film karena kesibukannya menjadi kepala Sinematek, rada tertegun juga ketika putrinya ini minta izin untuk main film. Tapi akhirnya diberi izin juga dengan syarat tak boleh melalaikan sekolahnya. Maklum, Cahya baru duduk di kelas 2 SMA. 

"Wah sekarang ada dua bintang film dirumah kita, bukan cuma jadi monopoli ibunya saja, " demikian kira-kira seloroh Misbach. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*Pada Akhirnya Cahya Kamila cukup dikenal di dunia sinetron diikuti oleh adiknya, Sukma Ayu sebelum akhirnya Sukma meninggal dunia. 

Saturday, May 23, 2026

SUTING SI BUTA DARI GUA HANTU


SUTING  SI BUTA DARI GUA HANTU (suting film). Taman Hutan Lindung Ir. Juanda di Dago Bandung siang itu dipenuhi ole pelajar yang lagi liburan. Semua kaget ketika beberapa orang berpakaian pendekar yang tak jelas jamannya muncul melintas mondar mandir di kawasan rekreasi itu. Setelah para pendekar itu berkumpul barulah ketahuan bahwa di tempat rekreasi itu ada suting film. 

Dari sekian banyak pendekar yang berkeliaran hanya Johan Saimima yang mendapat teguran dari pelajar-pelajar tersebut. Pada saat yang sama, H. Ratno Timoer selaku sutradara belum memakai kostum kebesaran Si Buta yang lurik ular itu. Setelah tahu bahwa film action yang sedang suting itu berjudul si Buta Dari Gua Hantu, seorang pelajar nyeletuk " Kok Si Butanya sudah tuah. Namanya Si Buta tak pernah tua kan? Lalu rekannya yang lain menyawab seenaknya : Pak Ratno kan sudah agak tua. Harus sesuai dengan dirinya dong.."

Para pendekar segera berkumpul di depan gua Jepang dan mengadakan syukuran lokasi bersama kru dan figuran. Sejam kemudian suting shot pertama dimulai. Lima pendekar di giring k sebuah lembah. Ratno berpikir sebentar, kemudian membatalkan suting di tempat itu untuk mencari lokasi lain di daerah yang agak datar. Sudah 15 menit suting belum juga dimulai. Rupanya kurang pemain. Astrada pun berteriak. "Pemain yang badannya gede gede kemari"...

Dan figuran pun kedinginan. 

Hari kedua suting mengambil lokasi di kali kecil pada sebuah lembah yang ada di Taman Juanda. Kali ini digelar untuk tempat wabah kusta. Tentu saja beberapa orang figuran harus menyebur ke kali. Beberapa orang ditunjuk, namun tak seorang pun yang mengaku bisa berenang. 

Akhirnya apat juga beberapa orang, itupun kru. Adegan baru di mulai. Take satu cukup. Karena adegan berjalan mulus. Ketika figuran hendak make up kena penyakit kusta, umumnya menggigil kedinginan sehabis nyemplung ke air. Bibir mereka pada biru-biru. "Sudah airnya dingin setengah mati, udara dingin pula, " ujar mereka yang bertelanjang dada. 

Produksi PT. Sepakat Bahagia Film ini di dukung pemain H. Ratno Timoer, Pietrajaya Burnama, Johan Saimima, Robert Syarif, Aspar Paturusi, S. Parya, Yani Suradjaya Timoer, Hadi Suwito, Hanny Adista, Verra dan artis-artis anggota Parfi Bandung. 

Si Buta Dari Gua Hantu dalam Episode Lembah Maut ini diangkat dari komik serial Badai Teluk Bone. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Friday, May 22, 2026

WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK


 WILLY DOZAN, MENCARI PEMERKOSA ADIK (suting film), Bayangkan bagaimana kalau adik perempuan kesayangan kita sampai di perkosa lalu dirusakkan wajahnya dengan disiram air keras, oleh lelaki jahat? Nah kalau yang punya adik adalh Willy Dozan, jelas ia pasti akan menguber lelaki durjana itu, tak peduli siapapun dia!. 

Itulah inti cerita film "Angkara Membara" produksi ketiga PT. Surya Arti Wibawa Film yang digarap sutradara Yopi Burnama. 

"Willy sudah tidak asing lagi bagi penggemar film action. Dia bukan saja terkenal di dalam negeri tapi juga sudah beberapa kali main film Hong Kong, " puji produser Surya. Paling akhir kita lihat Willy bertarung melawan Samuel Hui dalam film Hong Kong "The Terracotta Hit", sedangkan film Inodnesianya "Rio Sang Juara", sebagai juara tinju yang berangkat dari anak jalanan. 

Bintang Kung Fu asal Magelang ini sekarang harus berhadapan dengan Alex Bernard yang biasanya bertindak selaku fighting instructor, tapi sekarang kebagian peran sebagai pemimpin sindikat narkotika yang memperkosa adik Willy. 

Peran adik Willy dipercayakan kepada pendatang baru Gitty Srinita, sedangkan bintang remaja Kiki Fatmala bermain sebagai kekasih Willy. Ikutan mendukung juga bingang seksi Yenny Farida. 

Ada sebuah adegan dimana Willy yang bertangan kosong menyerbu ke markas sindikat Alex. Dengan mengandalkan tinju dan tendangan ia melabrak anak-anak Alex sampai bertumbangan. Seorang bajingan dicekik dan dilontarkan dari loteng terbanting ke bawah. Tentu saja di bawah sudah disediakan setumpuk dos hingga tak sampai cedera. 

"Nantinya gudang ini akan diledakkan, " rencana Yopi yang menambakan suting dilakukan di Jakarta, Bandung dan Bogor. "Tujuh Puluh persen action, sisanya baru drama".

Diharapkan keseluruhan suting sudah rampung pada bulan Juni 1990. "Prosesnya mungkin kami buat di Hongkong Laboratorium mengingat ada adegan ledak-ledakan yang membutuhkan spcial-optical dan belum mampu dikerjakan di studio laboratorium dalam negeri, ujar produsernya. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Thursday, May 21, 2026

FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK

 


FERRY OCTORA DAN VIONA ROSALINA , SISA LASKAR BINTANG ANAK (berita lawas). Barangkali dua bocah inilah yang paling sering nampak dalam perfilman Indonesia di akhir 80an. Yang laki-laki bernama Ferry Octora Fahmi dan yang cewek Viona Rosalina. Kedua bintang cilik ini, naga-naganya masih mampu bertahan untuk nongol di layar lebar, setelah keduanya menunjukkan bakat ampuhny lewat film mereka. Ferry dalam Tragedi Bintaro dan Viona dalam Si Badung. 

Mereka kemudian bertemu dalam satu film komedi tragedi arahan sutradara Putu Wijaya. Dalam film Cas Cis Cus, kedua bocah ini unjuk gigi. Ferry Octora yang kini sudah duduk di bangku kelas III SMP terus saja sibuk dengan kegiatannya di teater Adinda. Sedangkan Viona Rosalina yang kini naik kelas VI SD, malah akrab dengan beberapa orang film. 

Kedua bocah ini seakan jalan berdampingan, menyelesaikan dari satu film ke film yang lain. Misalnya saja, selesai membintangi Cas Cis Cus, lalu sama-sama masuk film Jaka Swara memerankan tokoh Rhoma Irama dan Camelia Malik kecil. 

"Yah saya hanya ikutan main saja. Semua yang ngurus mama, " jelas Ferry Octora pemeran tokoh Junet dalam film Tragedi Bintaro. 

Ia sangat senang bisa main dalam film itu yang dianggapnya cukup mengesankan. Lalu bagaimana kesan kamu dalam film Cas Cis Cus? "Wah, kalau aku punya nenek kayak gitu, ngeri.. hii....."jerit Ferry Octora meringis. 

Lain Ferry Octora, lain pula Viona yang masih nampak sifat kanak-kanaknya.  Begitu ditanya namanya, sontak penuh spontanitas ia balik menanyakan. " Om, dari majalah apa sih?" Kemudian dia lebih banyak berdiam diri. 

Mampukah kedua bocah ini mengikuti irama perfilman yang semakin lama semakin 'maju'? Masih adakah tempat bagi anak-anak seperti kedua bocah ini dalam perfilman nasional kita?

Dan masih saja ada ratusan pertanyaan yang belum terungkap tentang eksistensi bintang anak-anak selagi film untuk anak-anak dan dari anak-anak belum mempu menggugah nurani penontonnya.  ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG"


 IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG" (berita lawas). Berakhirnya sinetron "Keluarga Rahmat" bukan berarti putusnya karier Thenzara Zaid sebagai artis. Perempuan parobaya bertubuh gemuk yang ngetop lewat peran yang di"Bu Subangun" terjun ke dunia film. 

Adalah producer Lucy Sukardi dan sutradara Chris Helweldery yang mengajaknya tampil dalam produksi PT. Cipta Permai Indah Film "Jangan Paksa Dong". 

Yang berperan sebagai suami Zara bukan lagi Haryo Sungkono (pemera Pak Subangun yang sabar kelewat itu), melainkan Robert Syarief yang juga terkenal peran ayah angkat Dewi Yull dalam serial sinetron "Dr. Sartika".

Kalau dalam serial yang cerita-skenarionya digarap oleh Tatiek Maliyati WS itu, Robert selalu tampil serius, sekarang justru dijajal kebolehnnya berperan komik, termasuk mengekspos kepalanya yang botak berkilat. 

"Kalau peran saya sih masih serupa dengan perwatakan Bu Subangun yang cerewet, bawel dan nyerocos terus, apalagi saking cemburu pada suami yang dikira nyeleweng dengan cewek muda, " ungkap Zara. 

Sebagaian besar suting berlokasi di kota gudeg Yogya, menyusul bagian akhirnya diambil dikawasan real estate mewah Cinere, Jakarta Selatan. Suting hari terakhir mempertemukan para pemain utama, Zara, Robert, Sylvana Herman, Basuki dan Malih Bokir. 

Terlihat adegan Zara ngomel panjang memaki maki Robert yang dituduh pacaran dengan Syl. Mungkin saking takutnya mendengar omelan Zara yang merentet persis mercon, maka Basuki dan malih lari terbirit-birit. Begitu gugupnya sampai mereka tercebur ke empang! "Byurr!".

"Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kalau saya bisa main film," berterus terang Zara yang berasal dari Padang ini. "Saya  tak pernah belajar akting, tapi Pak Fritz G Schadt minta saya untuk mencoba bermain dalam serial produksi PPFN itu, eh keterusan sampai sekarang. Belum tahun sesudah film ini nanti ada yang mengajak main lagi atau tidak."

Berapa besar honornya, Zara segan menyebutkan. Yang jelas, sesudah hampir 10 tahun ditinggalkan suami, ia merasa bersyukur karena dari imbalan sebagai pemain mampu  memberi nafkah keluarga serta membiayai kuliah dua anaknya Leticia Alfrieda dan Muhammad Alfredo. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Tuesday, May 19, 2026

SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL


SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL (berita lawas). Hari itu, 31 Desember 1970 siang, Usmar Ismail berdiri dihadapan 160 karyawan PT. Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Tidak seperti biasanya, sekali ini Pak Usmar yang dirut Ria Sari/Miraca Sky Club itu akan melepas karyawannya yang terkena PHK. Bisa dibayangkan betawa beratnya perasaan Usmar saat itu. Dengan nada terbata-bata dia mengatakan; baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya , katanya. 

Memang, Usmar Ismail yang saat itu mati-matian mempertahankan Perfini Film masih tetap mempertahankan karyawannya yang masih ada. Tak satupun karyawan Perfini yang diberhentikan. Untuk menggaji mereka, satu persatu peralatan studio Perfini di Cijantung di lego. Barulah sesudah tidak ada lagi yang bisa di lego, sisa karyawan Perfini itu mengundurkan diri (sebelumnya diantaranya yang mengundurkan diri).

Sebelum memPHK karyawan PT. Ria Sari itu Pak Usmar baru saja kembali copy  film BALI, kerjasama Perfini dengan pihak Itali. Setelah ditunggu-tunggu copy film tersebut mejadi bagian Perfini untuk mengedarkan di Indonesia, tidak  juga dikirim. Pulang dari Itali, Pak Usmar tidak bisa menyebunyikan kekecewaanya pada UGO film, partner jointnya itu. Bahkan ia merasa ditipu oleh partnernya itu. Pak Usmar mengatakan kalau kita kerjasama dengan Itali harus jelas, terperinci dan saklek. 

Belum habis rasa kecewanya dengan produser film Itali itu , setiba di Indonesia ditimpa musibah, karena PT. Ria Sari/Miraca Sky Club yang dia bangun sejak 1967 diliwidir oleh caretaker Sarinah saat itu, PT. Ria Sari di bubaran dan karyawan di PHK. Inilah yang sangat memukul perasaan saat itu. Lewat Miraca Sky Club, Pak Usmar telah mendorong night life di Jakarta. Upaya ini juga membantu Pemda DKI dalam menarik arus wisatawan, disamping kedudukan Jakarta sebagai pintu gerbang RI dan kota turis internasional. Atas jasa-jasanya itu Pak Usmar kemudian mendapat penghargaan sebagai warga teladan dari Pemda DKI-Jaya disamping alm. Syamsudin Mangan. 

Esok harinya, 1 Januari 1971 siang Pak Usmar diboyong ke rumah sakit. Belakangan diketahui beliau menderita pendarahan Otak, disusul dengan kematiannya pada Subuh jam 5.20 tanggal 2 Januari 1971. Saya tak habis pikir ketika RRI jam 7.00 pagi menyiarkan kepergian Pak Usmar untuk selama-lamanya. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju Pegangsaan, tempat tinggal almarhum. dari kejauhan saya melihat sejumlah karangan bunga dan orang-orang mulai kumpul. "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" Pak Usmar sudah tiada. 

Acara tutup tahun 31 Desember 1970 di Miraca Sky Club benar-benar terakhir kalinya Pak Usmar berkumpul dengan segenap kerabat, handai taulan dan karyawan yang dikenal sangat akrab dan bersahaja. Waktu itu seperti bisasa dia mengajak keluarga dan handai taulannya dalama cara tutup tahun tersebut. Yang agak lain dari biasanya ialah kami, orang-orang yang dekat dengan beliau tidak boleh jauh-jauh. Dia mengajak hampir semua bawahannya untuk berfoto bersama. Tak terlintas di hati kami para bawahannya termasuk Yusman Djamaris, Photograper Miraca bahwa malam itu adalah saat-saat kami akan berpisah selamanya dengan Pak Usmar.

Bagi saya Pak Usmar bukan saja sebagai pimpinan, tapi lebih dari itu dia adalah seorang guru dan bapak yang baik. Kepemimpinannya patut diteladani. Sulit saya menemukan seorang pemimpin seperti beliau. Masih terngiang-ngiang ditelinga saya ketika 31 Desember siang almarhum sempat berbicara empat mata dengan saya. "you ikut saya ya, kita bangun Perfini". katanya tak lama sesudah acara pelepasan karyawan yang terkena PHK termasuk saya. 

Memang diluar kesibukannya memimpin Miraca, Pak Usmar mulai bangkit dengan produksi-produksi filmnya. Pada masa-masa itu beliau sempat merampungkan fim Ya Mualim, Djakarta The Big Village, Bali dan terakhir Ananda. Bahkan saat dia meninggal, film Ananda baru saja merampungkan sutingnya, sehingga Pak Usmar tak sempat menyaksikan karya terakhirnya itu. Dia juga tak sempat menyaksikan kehebatan Lenny Marlina, aktir penemuannya yang terakhir itu. Tentang lenny Marlina, Pak Usmar pernah mengatakan bahwa selama 20 tahun menggeluti dunia film, baru sekali itulah dia menemukan apa yang dia cari. Ya, Lenny Marlina itulah. 

Keteladanannya dan kepemimpinannya sangat dihargai oleh segenap karyawan Miraca maupun Perfini film. Rasa kami ingin berbuat apa saja demi Pak Usmar. Tak pernah kami mengeluh, tak pernah kami mempersoalkan ini itu. Pak Usmar meninggalkan kita disaat tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh dunia perfilman nasional. ~~demikian tulisan dari MH Yusuf yang dimuat di MF No. 119/87 tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991


Monday, May 18, 2026

WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR


 WAROK KONTRA MACAN, TEKHNIK KOMPUTER ANIMASI RP. 1 MILYAR (berita lawas). Sudah pernah nonton film Steven Spielberg "Who Framed Roger Rabbit?" Dalam film itu muncul bersama tokoh detektif manusia (diperankan aktor Bob Hoskins) dengan tokoh kartun si Kelinci Floger Rabbit. 

Kelihaian Spielberg ini kemudian ditiru oleh Tsul Hark dari perfilman Hong Kong, yang menggarap adegan klimaks "Happy Ghost IV" dimana Raymond Wong terlibat pergumulan dengan hantu jahat, pendekar Wu Sng dan harimau yang muncul dari pigura lukisan. Dengan tekhnik serupa pada akhir "Modern Buddha Palm" direkayasa pula duet antara Andy Lau kontra Yen Hua yang melibatkan kartun seekor siluman kura-kura hijau. 

Dan di film Indonesia, "SURO MENGGOLO" berhasil ditampilkan pula adegan yang menggunakan teknik komputer animasi tersebut. Digarap di studio yang sama, Hong Kong Screen Art, untuk menggabungkan reality dengan animasi. Hasilnya terlihat Warok Suro Menggolo (Diperankan Benny G Rahardja) bergumul mati-matian dengan seekor macan tulen. Namun untuk kepentingan filmisnya pada beberapa sekuen, sang macan berubah wujud menjadi animasi kartun. 

"Pembuatan komputer animasi inilah  yang memakan waktu lama", ungkap produser Rudy W dari PT. Simbar Intan Film. Jadi sejak start suting sampai sekarang tak terasa sudah satu setengah tahun. Sedang bahan baku yang dihabiskan tak kurang dari 140 can negative film. 

Ditanya besarnya biasa, disebutkan lebih dari Rp. 900juta atau bolehlah di bulatkan menjadi 1 milyar. Dengan demikian, film ini telah melampaui biaya pembuatan film-film silat kolosal yang dirajai "Saur Sepuh".

Disebutkan oleh Pak Sukanto, Ketua Badan Sensor Film, "Dalam Suasana yang disebut-sebut orang sebagai masa kelesuan film nasional, justru Suro Menggolo hadir untuk memberikan gambaran baru dengan tekhnik mutakhir. Disamping film ini diproduksi bekerjasama dengan Pemda Jatim dalam rangka menggali kebudayaan serta cita-cita tradisional. 

Suro Menggolo yang terasa padat dengan masa putra 1 jam 35 menit, masih menjanjikan pembuatan sekuelnya di masa mendatang mengingat stock shot yang tersisa. Sumber MF No. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


SUROMENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK


 SURO MENGGOLO, LEGENDA KOLOSAL WAROK (berita lawas) . Warok adalah istilah khas masyarakat Jawa Timur ntuk menyebutkan pendekar digdaya atau tokoh sakti yang menguasai ilmu silat tinggi. Senjata khas mereka adalah tali kolor yang bisa dijadikan cambuk. Konon sekali lecut mampu melumpuhkan orang. 

Tersohornya legenda tentang Warok Suro Menggolo bukan saja dari mulut ke mlut didongengkan secara turun termurun, tapi juga lewat pagelaran ludruk dan ketoprak. 

Juga sudah pernah di filmkan oleh sutradara kawakan Nawi Ismail dengan judul "Warok Singa Kobra" dibintangi oleh Dicky Zulkarnaen, Ratno Timoer, Harry Capri, Eva Arnaz, Kusno Soedjarwadi, Hanna Wijaya, Jeffry Sani dan lain-lain. 

Dan kemudian di produksi secara kolosal spektakuler oleh PT. Simbar Intan Film dengan runtut cerita yang lebih lengkap dan komplit bertajuk "SURO MENGGOLO". Skenarionya ditulis ulang oleh Sofyan Sharna. 

Menurut produsernya, Rudy W, "Melingkupi sejarah, asal usul terbentuknya Ponorogo, konflik antar warok, babakan Suminten Edan (Suminten Gila), Putri Kuning, sampai ke penyerahan tahta, pokoknya padat sekali. 

Sebagai Komandan dilapangan, Produser Pelaksana Arlanto Sukanto menunjuk Dasri Yacob, yang sudah berpengalaman menggarap puluhan film aksi silat termasuk "Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat".

Bintang-bintang laga populer dikerahkan untuk menghidupkan tokoh-tokoh legendaris. Dimulai dari Benny G Rahardja sebagai Suro Menggolo, Fendy Pradana sebagai R. Subroto, Jhoni F Sitepu (Suro Handoko), Yan Bastian (Panembahan Agung) Gitty Srinita (Suminten),  sampai Kies Slamet (Singo Bowo).

Dibantu lagi oleh sebarisan bintang seperti Teddy Purba, Kitty Katrino, Ayuni Sukarman, Oyib Burnama dan El Kusno. 

Kamera diarahkan oleh Yan Mayar, tata artistik oleh Yasin Kalu, sedangkan penyuntingan oleh Djuki Palmin, serta ilustrasi musik digarap Chossy Pratama. 

PADA Tahun 1495, Bathara Katong, adik Sultan Demak membangun Kadipaten Ponorogo dengan semangat Islam. Justru Ki Demang Kutu menganut agama Hindu dari Majapahit yang semakin mundur. Akibatnya sering terjadi bentrokan yang berakhir dengan musnahnya Demang Kutu. 

Saat Bathara Katong mutlak menguasai Ponorogo, ia mengangkat Suro menggolo menjadi Manggala. Sepeninggalnya, tahta diwariskan pada putranya Panembahan Agung. Mulailah terjadi intrik yang berkembang menjadi kekacauan. 

Suro Handoko, adik Suro Menggolo menghimpun warok-warok sakti, Gunoseco, Honggojoyo dan Singa Kobra untuk memberontak. Tak berhasil mengajak Suro Menggolo bersekongkol, mereka berbalik ingin menghabisinya. Namun kesaktian Suro Menggolo setingkat lebih tinggi dari mereka. 

Maka kawanan warok ini mencari guru lagi, Singobowo dari Perguruan Argo Wilis. Ancaman lain bagi Suro Menggolo datang dari Bondan Sariti, paman Penembahan Agung yang pernah kepergok main serong dengan Putri Kuning, istri Bathara Katong. Ada lagi, Suro Gento, mantan patih Deman gkutu yang tetap menyimpan dendam kesumat. 

Di tengah kesibukan Suro Menggolo menghadapi  ancaman musuh-musuhnya, mendadak Raden Subroto, putra Panembahan Agung, hilang dari Keraton. Ia di culik oleh dua jin Kluntung Wuluh dan Kluntung Mungil, yang ditugasi oleh Suro Handoko. Ternyata putra mahkota yang tersohor kegantengannya ini hendak dipaksa kawin dengan Suminten, anak Warok Gunoseco. 

Ketampanan Subroto membuat Suminten Gandrung tergila gila. Namun Subroto sudah jatuh hati pada Cempluk, putri Suro Menggolo. Ditolak cintanya membuat Suminten Shock berat dan gila. 

Fitnah dilimpahkan pada Suro Menggolo. Untuk membersihkan namanya, mau tak mau terpaksa Suro Menggolo menerima tantangan adu kesaktian dari Warok-warok lainnya. Paling akhir, ia pun harus bertarung mati-matian dengan adiknya sendiri, Suro Handoko. ~~ sumber : MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Saturday, May 16, 2026

BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI

 


BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI (berita lawas) . Sudahlama juga bintang film laga ini tak berciat-ciat di depan kamera film. Dia yang biasa di panggil Bertus namun populer sebutan Barry Prima saat ditemui di Bandung, kembali kepada profesi semula, pengajar taekwondo yang sempat terhenti karena kesibukan di film. 

Kepada MF ia bercerita tentang nostalgianya. 

Pagi itu meskipun sinar mentari sudah menyemprot dari lubang jendela, namun Barry masih tidur pulas di kamarnya. Sampai datang adiknya, Max membangunkannya, bahwa ada tamu yang betul-betul serius hendak menemuinya. 

Di ruang tamu memagn sudah menunggu sepasang muda mudi yang mengaku suami istri yang sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka. Sang istri dalam keadaan hamil 5 bulan itu permintaannya aneh-aneh, yakni ingin makan nasi yang sebelumnya sudah di cocolkan ke pipi Barry Prima. 

"Yahoi, apa nggak kaget tuh mendapat permintaan unik seperti itu?" tawa Barry. 

Selanjutnya tamu yang sudah sengaja berbekal nasi, setelah permintaannya disetujui, kontan mencocolkan nasi ke pipi Barry dan blep langsung di lahapnya dengan senyum malu dbawah tatapan bingung bintang film laga itu. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

GITO ROLLIES, BERHENTI JADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA


 GITO ROLLIES, BERHENTI MENJADI PECANDU SETELAH DI KECAM ISTRINYA (berita lawas). Musik rock terkadang diidentikkan dengan narkotik, walaupun pandangan tersebut salah. Nyanyi atau bermain musik rock (baca berkesenian) merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketekunan tanpa harus ditunggangi oleh obat-obatan terlarang. Seni ya seni, narkotik ya... teler itulah.

Nah ungkapan diatas tadi meluncur dari rocker Gito Rollies (Bangun Sugito) yang mengaku sudah selama 7 tahun berhenti total memakai barang-barang memabukkan itu. Padahal sebelumnya sudah diketahui umum, saat masih gabung dengan grup The Rollies, Gito terkenal brutal dan sering tampil dipanggung dalam kondisi 'tinggi'.

Lalu apa yang menyebabkan vokalis, berambut kribo ini menghentikan kebiasaan yang dianggap negatif itu? Tentunya ada suatu proses yang datang menyadarkannya, sehingga ia mampu melepas belenggu kecanduan narkotik ria. 

Awalnya pada tahun 1985 saat Gito naik panggung di Gedung Saparua, Bandung pada acara duel meet The Rollies & God Bless. Seperti biasa Bangun Sugito tampil dengan kondisi yang 'panas' kalau tidak bisa di katakan 'over drugs. Itu semua diketahui penonton dan juga istrinya, Michelle yang bersama putra mereka Puja Antar Bangsa (2 tahun) menyaksikan dari sisi panggung. Publik yang mayoritas kaum remaja tak perduli dan menganggap atraksi Gito sah-sah saja. Begitu memang penampilan rocker, demikian tanggapan mereka. Dari sambutan dan yel-yel rock yang mereka teriakkan, membuat Gito kian bersemangat saja, berjingkrak-jingkrak diatas panggung. 

Selesai melantunkan beberapa lagu, Gito keluar dari panggung dan langsung menemui istri dan anaknya. Wajah Michelle biasanya cerah menyambut Gito usai nyanyi, kini malah ubah muram. Tiada kata dan tiada tawa, juga saat keduanya sudah mengendarai mobil menuju k epemukiman orangtua Gito di perumahan Cibeureum Permai. 

Ini tentu saja membuat Gito bertanya-tanya dalam hati. Karena tak tahan atas perang dingin ini, Gito mencoba mengorek apa mau MIchelle yang begitu dicintainya, sehingga saat pacaranpun setiap bulan Gito mengirimkan berbagai jamu-jamuan untuk Michelle yang kala itu masih guru Taman Kanak-Kanak di Belanda. 

Mendapat desakkan gencar dari suaminya, lalu apa jawaban Michelle? "Saya tidak melihat kamu sebagai penyanyi tapi melihat seorang pemabuk diatas panggung. Coba buktikan suatu saat, bahwa tanpa mabuk pun kamu mampu menyanyi dan beraksi dengan wajar, " ungkap Michelle ketus. 

Mendengar kecaman  dari orang yang paling dicintainya ini, sedangkan penonton begitu mengelu-elukannya, tentu saja Gito merasa terpukul. Namun hikmahnya, semenjak itu Gito berusaha tampil di panggung tanpa narkotik dan menurut pengakuannya mampu diatasinya dengan baik. Itulah Gito, binal dan dinamis diatas panggung, tapi berkat bimbingan istrinya tercinta ia mampu mengobati diri tanpa keharusan memasuki panti rehabilitasi. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992


Gito Rollies meninggal 28 Feb 2008 . Akhir yang baik

MUCHSIN ALATAS & TITIK SANDHORA


 ADA YANG INGAT PASANGAN INI? MUCHSIN ALATAS & TITIEK SANDHORA, (berita lawas). Terdorong kewajiban dan kecintaannya pada sang istri, Muchsin Alatas selalu kerja keras. Untuk memberikan nafkah materi, selain semakin eksis di dunia artis, diapun berusaha di bidang pengerahan tenaga kerja. Alhamdulillah berkat usahanya itu, kondisi rumahtangganya dengan Titiek Sandhora terbilang mapan kendati belum konglomerat. 

Muchsin tidak cuma berupaya mencukupi istri dari segi materi. Sebagai muslim yang baik diapun selalu beusaha memuaskan istri dalam urusan nafkah batin. Resepnya? "Selain menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan perkasa, juga dikitab suci Al Quran banyak ditemukan kiat yang paten untuk urusan itu!" kata Muchsin yang jumpa MF ketika mengantar istrinya ke TVRI.

Urusan tersebut ungkap Muchsin memang urusan peningkatan servis batin kepada istri supaya istri puas. "Sungguh mati ini bukan soal porno. jadi layak saja bila di ketahui orang banyak. Masa memuaskan istri diranjang dibilang porno? Yang benar saja. Bahkan menurut Islam, hal itu wajib hukumnya. Dosa lho kalau kita tak mampu melayani istri!".

Ucapan Muchsin memang bukan cuma omongan muluk. Dia sendiri bisa membuktikan, pada tingkat usia sepuluh tahun lebih tua dari Titiek, Muchsin ttap galant dan perkasa. Akibatnya, rumah tangga mereka rukun-rukun saja hingga kini. 

Titiek bukan tidak pernah rewel atau merajuk. "Kalau istri kita begitu, kita harus tahu diri. Bujuk dia lalu rayu dan servis dengan gaya lain dari yang lain. Pasti sikapnya kembali baik. Itu saja rahasianya, " katanya setengah berbisik sebab Titiek baru saja selesai rekaman, muncul dan kemudian ikut nimbrung. ~sumber MF. 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

Ada yang masih ingat film-film yang dibintangi mereka bersama?

Friday, May 15, 2026

KEPINGIN SIH KEPINGIN,

 


KEPINGIN SIH KEPINGIN, Cewek Gampang Dapat Kerja. Cari pekerjaan memang tidak gampang di Jakarta. Setiap ada satu lowongan langsung diserbu olehpuluhan bahkan ratusan pelamar. Arkadi yang lulusan Bussines Administration sudah setahun berusaha tanpa hasil. Tapi ketika di test mengetik di PT. Bumi Tak Berdaya, ia mendapat pujian Kepala Kantor. Sayang, harapan diterima bekerja buyar lagi gara-gara muncul cewek yang berani nyobek rok. Padahal ngetiknya tak karuan. Kepala kantor yang mata keranjang langsung membatalkan Arkadi dan menerima si cewek rusak. 

Arkadi yang sakit hati sampai pada kesimpulan, "Cewek lebih gampang dapat pekerjaan!". Maka iapun menyamar sebagai Dorce Sinthesa dan menirukan gaya mengetik yagn mirip nabuh gendang. Benar saja, pak Sori langsung menerimanya sebagai sekretaris. 

Tapi mulai timbul problema ketika Dirut Masri yang sudah lama menduda jatuh hati padanya. Juga Murce yang dikenal sebagai perempuan dingin berlesbi dengannya. Bagaimana cara Dorce alias Arkadi memecahkan semua problema ini?

Sutradara Hengky Solaiman menyebutkan karya ini sebagai sebuah "komedi ajaib" karena Akating Deddy Mizwar sebagai Dorce lain dari yagn lain. Kendati menimbulkan gelitik dihati penonton namun lain dengan gelitik yang ditimbulkan Emon misalnya.

Komedi yang skenarionya ditulis oleh Drs. Asrul Sani ini memadukan kelucuan-kelucuan yang halus dengan kasar. permainan Lydia Kandou sebagai si perawan tua Murce menampilkan kematangan dan juga kelainan. Sedangkan Wahab Abdi yang sudah lama absen dari menyutradarai bermain kocak, berhadapan dengan Paul Polii pelawak veteran Srimulat. Didukung pula oleh Pak Tile, Barkah, Nasir, Anen dan si gigi mencuat Diding Z.A. 

Thursday, May 14, 2026

SALAH SATU LOKASI SUTING BADAI LAUT SELATAN ADA DI GOA PETRUK


SUTING BADAI LAUT SELATAN.  SALAH SATU LOKASI  ADA DI GOA PETRUK (berita lawas).Badai Laut Selatan dijadikan judul film, hanya sebuah kiasan untuk memberikan makna dahsyat dalam sebuah perjuangan. Film yang di komandoi oleh Nurhadie Irawan mulai proses suting. Semua itu akan tergambar dalam berbagai adegan. Jago-jago perang misalnya dapat kita lihat kesaktiannya dalam pertempuran, dimana mereka berterbangan di udara. 

Untuk memberikan kesan bahwa peperangan itu adu kesaktian ilmu yang dimiliki kedua belah pihak, khususnya ilmu bela diri, Eddy S Jonathan dipilih oleh Nurhadie Irawan sebagai penata kelahi. Saat di temui di lokasi suting film tersebut, Eddy Jonathan yang termasuk penata kelahi terbaik sedang sibuk melatih Dede Yusuf yang berperan sebagai Pujo. Idola remaja itu harus melayang-layang diudara dengan sling. Di sling, menurut Dede, merupakan pengalaman baru. "Saya baru sekali ii di sling. Rasanya, ngeri juga!" ujarnya saat selesai latihan. 

Menampilkan adegan trick di udara, bagi Nurhadi memang bukan yang pertama kali. Film terakhir yang sudah beredar, Tutur Tinular telah membuktikan bahwa Nurhadi bisa membuat film laga, silat. Walau ia mengakui penata kelahi yang diimpor dari Hongkong cukup besar peranannya. 

Badai laut selatan yang ditangani seluruhnya oleh tenaga dalam negeri, bagi Nurhadi merupakan batu ujian untuk membuktikan kepiawiaiannya. Nampaknya, Nurhadi juga ingin menampilkan  peperangan sedahsyat Badai Laut Selatan yagn terkenal sangat ganas itu. 

Niat itu terlihat dari keseriusannya sejak waktu persiapan. Berbulan-bulan ia menyempurnakan skenario, lalu berminggu-minggu pula ia keliling berbagai daerah, mencari lokasi suting yang cocok. 

Suting, kecuali menggunakan studio Penas untuk membuat set interior, juga membangun set besar di tepian kali Cisadane, di daerah Ciseeng Bogor, Jawa Barat. Rencananya semua keru dan pemain juga di boyong ke Jembar - Jawa Timur dan pindah ke Gua Petruk di dekat Purwokerto , Jawa Tengah. Benar benar berat! Tapi saya ingin menampilkan sesuatu yang belum pernah ditampilkan dalam film kita, " jelas Nurhadi. 

Di samping lokasi suting  yang sukup jauh, medannya berat iapun bilang, "film ini membutuhkan ketelitian kerja ekstra berat pula." Sebab , katanya menambahkan, ceritanya memang berdasarkan sejarah. Yaitu sejarah Kahuripan (dimajalah tertulis Majapahit)yang tokoh-tokohnya sangat dikenal masyarakat. 

Untuk memberikan kesan kemegahan kerajaan-kerajaan di jaman tersebut, sekitar abat ke VII-VIII, penata artistiknya dipercayakan kepada Mantri. Salah satu set besar, istana Selopenangkep dipeankan Prof. Dr. Wisnu Wardana, raja di Singasari, dibangun Mantri di tepi sungai Cisadane itu. "Setnya luar biasa. Padahal semua itu digarap karyawan kita sendiri!" Tukas Nurhadi memuji karya anak buahnya. 

Dalam pembuatan Set, Katanya, pernik-pernik istana diusahakan bisa menekati realitas. Dari cerita, lokasi suting, dari lamanya suting, Badai Laut Selatan juga bisa digolongkan sebagai film besar. "Film-film semacam ini, sangat jarang di produksi!" kata Prof. Wisnu Wardana memberikan komentar, karena itu, lanjutnya layak mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak. Baik saat suting, dengan cara memberikan  suatu fasilitas , kemudhanan-kemudahan misalnya maupun saat film itu mulai beredar di bioskop dengan memberikan toleransi hari putar yang lebih lama. 

Profesor yang sangat mencintai kebudayaan tradisional itu juga memberikan penilaian bahwa Badai Laut Selatan, ceritanya relevan dengan pendidikan di negara kita. "Film ini kan tentang sejarah bangsa, sehingga anak-anak sekolah perlu ngerti sejarah bangsanya,!" tegas Wisnu Wardana yang Rektor IKIP Yogyakarta. 

Relevansi Badai laut Selatan dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, kata Nurhadi, masih sangat besar. Sebab, katanya memberi alasan, tokoh-tokoh yang ditampilkan, benar-benar ada pada zamannya. "Ini bukan cerita fiktif!" tegas sutradara yang mengawali karirnya dengan film Bulu-bulu Cendrawasih, produksi akhir tahun 70an. Karena relevansinya dengan dunia pendidikan sangat besar, ia pun mengharapkan kelak mendapat perlakuan yang layak dan ditonton banyak orang, "Ini yang terpenting!" tegasnya. 

Disamping Wisnu Wardana, (Budayawan, Cendekiawan dari bidang pendidikan, Mantan wakil rakyat di DPR MPR)  dan Idolah remaja Dede Yusuf, Nurhadi juga menggaet beberapa nama tenar lainnya seperti Deddy Mizwar, Gito Gilas, maupun cewek kece Fitria Anwar yang mulai ngetop. 

Badai laut selatan mulai suting pertama pada 18 Februari 1991. Kekhawatiran Nurhadi akan lamanya waktu suting karena lokasi sutingnya yang berjauhan. Lokasi di Jember dan Goa Petruk medannya berat. Di Jember, lokasinya masih sangat perawan, lalu di Goa Petruk medannya berat karena jalanan naik gunung. "Kalau kami suting di Goa Petruk, kami harus menambah kabel diesel sekitar 600 meter lagi. Soalnya kabel yang ada sekarang pasti kurang, diesel nggak bisa ditarik keatas!" jelas Nurhadi. Tapi tantangan-tantangan seperti itu, katanya justru mengasyikkan. ~MF 126/93 tahun VI, 17 April - 10 Mei 1991


SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK


 SUTING SELIR ADIPATI GENDRASAKTI, PEMAINNYA NGANTUK SUTING NGACAK (berita lawas). Sejak siang bumi Perkemahan Pramuka Pasar Minggu, Jakarta Selatan diguyur hujan. Malamnya udara dingin, embun turun mengantar udara basah. Kelihatan kru film Selir Adipati Gendrasakti sutradara Tjut Djalil terseok-seok bekerja dibawah rerimbunan pohon akasia. Meski begitu semua kelihatan serius, ingin cepat selesai, demikian terkesan. 

Dari kejauhan, lampu-lampu dipasang dua kelompok, saling berdekatan, tapi tidak saling menyambung. Meski dalam satu arena namun dua suting dalam satu cerita. Disatu tempat untuk mensuting adegan perkelahian antara Selir Adipati dan jaka Galing. Sementara tempat lain suting membuat trik-trik, kamera dipercayakan dengan Tjutju Sutedja dan dikomandoi langsung oleh Tjut Djalil. Adegan perkelahian dipercayakan kepada astrada Fredy S dibantu instruktur laga, Heru. 

Hampir separuh suting beradegan malam hari, kondisi ini membuat kru sepanjang suting lebih banyak melek di malam hari. Sehingga baru jam menunjukkan pukul 24.00 WIB para kru sudah ngantuk. Begitu juga suting adegan perkelahian, artisnya berlaga tanpa konsentrasi sehingga suting banyak ngaconya. Beberapa kali adegan harus di re-take. Eric Soemadinata yang menjadi Jaka Galing suka ngomel kepada lawan mainnya. 

Kontan saja pelakin Selir Adipati Gendra Sakti, yang dilakoni Lela Anggraeni hanya bisa menahan emosi. Di asadar bahwa lakonnya sebagai artis laga baru kali ini diberikan kesempatan. 

"Saya sudah ngantuk berat, tapi harus tetap suting. Padahal sekarang saya sakit, ini saya paksakan datang ke lokasi suting, " kata Lela Anggraeni. Karena itu pula Lela acap melakukan kesalahan. Sedihnya, ketika serius rumput becek membuat Lela terpeleset, spontan kru dan penonton yang menyaksikan tertawa lepas. 

Dua kamera di pakai untuk mengejar waktu suting. Konon kabarnya kru supaya menerima lunas honor untuk bisa dipakai berlebaran. Karena bersisa delapan hari puasa lagi. 

Film produksi PT. Virgo Putra Film ini bertemakan action klasik dengan mengambil latar belakang masa Majapahit. Terang-terangan Tjut Djalil mengatakan bahwa filmnya ini tidak menyinggung soal kultur masa itu. Hanya saja, meminjam settingny atok. "Mau tidak mau harus begitu karena film ini sendiri mengangkat cerita Kho Ping Hoo dan diskenariokan oleh Djoko Kusdiman. Tapi saya tidak bicara soal kultur yagn ada pada saat itu,' kata sutradara kelahiran Tanah Rencong , Aceh ini. 

Ceritanya berkisah tentang "selir" Adipati Gendra Sakti yang menggila. Selir ini punya ambisi untuk menghancurkan kerajaan, karena  rasa sakit hatinya. Maka sang selir yagn memiliki ilmu siluman itu berusaha mempengaruhi Adipati Gendra Sakti. Maka tercampaklah permaisuri, lalu selir yang seksi ini melakukan fitnahan-fitnahan kepada eisi isitana. Sehingga istana menjadi kacau. 

Film ini di dukung oleh Dolly Martenn, Lela Anggraeni, Eric Soemadinata, Mandara, Hesti Syani, Haris, dan Meise Arista. Dengan lokasi suting Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Bumi Perkemahan Pasar Minggu serta Sukabumi dan Jawa Barat dan sekitarnya.  ~sumber : MF 126/93 tahun VII, 27 April - 10 Mei 1991. 

LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE


 LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE (berita lawas). Jika ingatan kita terbayang cerita sandiwara radio Saur Sepuh, maka kita akan mengenal seorang pendekar cewek, jago silat, tapi ia sangatmanja pada saudaranya terutama Brama. Dia adalah Mantili yang diperankan Elly Ermawatie. 

Keberadaan Elly, panggilan akrabnya, di kancah perfilman Indonesia bermula dari film laga,setelah Imam Tantowi bersama PT Kanta Indah Film mencoba mengangkat cerita ini ke layar lebar. Diakui, ketika terlibat sebagai pemain yang memerankan tokoh Mantili, Elly berhasil menyisihkan beberapa calon yang akan memerankan tokoh tersebut. Elly pun mendalami atas bimbingan penulis cerita Niki Kosasih. Elly pun selalu bertanya kepada Imam Tantowi. Sebab waktu itu ia awam sekali dengan dunia film. Ia sempat terkejut ketika dijelaskan honornya, yang ternyata jauh lebih kecil dari honor main sandiwara radio. Karena ia ingin mencoba , ia terima tawaran itu. Dan akhirnya lewat Saur Sepuh I Elly menjadi ketagihan main film. 

Secara beruntun ia dikontrak PT. Kanta Indah Film untuk serial Saur Sepuh II dan III. Kini wanita kelahiran Solo ini menjadi milik masyarakat sebagai tokoh Mantili yang digemari dari kota sampai pelosok pedesaan. 

Namun demikian Elly tidak hanya menekuni karir di film. Ia juga punya usaha sebagai kontraktor. Usaha itu didirikan sebelum terlibat di film. Dalam film Tutur Tinular arahan Nurhadie Irawan, Elly memegang jabatan produser pelaksana di samping tetap sebagai pemain. 

Agaknya ia merasa cocok dengan jalur yang ditempuh. Mendapat pengalaman baru, mengenai seluk beluk film, mulai deri menentukan pemain, pengatur jadwal kegiatan, sampai management keuangan. Bukan semata rakus dalam profesi dan kedudukan tapi Elly ingin menjadi insan film seutuhnya. Diakui, semula ia mengalami kerepotan antara menentukan dirinya dengan pemain lain, Itu ia sadari karena masih banyak kekurangan. 

"Kalau tidak gigih kemungkinan akan mengalami kegagalan, sebab semua itu membutuhkan kesabaran dan  keuletan, " kata Elly yang kini juga terlibat dalam film Lima Harimau Nusantara arahan Pietrajaya Burnama produksi PT. Galunggung Putra Perkasa Film. 

Sebagai artis film laga yagn sudah membintangi 7 film banyak pengalaman didapat. Semenjak terlibat film Elly mulai menekuni ilmu bela diri silat sebab itu sangat menentukan dirinya sebagai pemain film laga. 

Saya nggak pernah mimpi jadi artis film. Kesempatan itu datang secara tiba-tiba. Kalau sekarang saya jadi artis, buat saya biasa-biasa saja. Nggak berbeda jauh saat saya mengisi sandiwara radio, " tandas Elly yang juga terjun sebagai penyanyi. 

Usahanya belakangan ini ckup lancar dengan memproduksi rekaman casette sandiwara cerita anak-anak maupun cerita legenda. Karena Elly juga sibuk suting film, maka untuk sementara ini memakai tenaga ari luar. Setiap kali produksi, Elly juga melihat pasaran. Sebagai wanita yang ingin sukses dalam meniti karir, Elly tak henti-hentinya cari terobosan baru guna meningkatkan prestasi. 

Ia juga menekuni dunia tarik suara yang sudah merampungkan 3 volume. Kini Elly juga bikin lagu pop Jawa yang dinyanyikan sendiri. Dari lagu ini ia mencoba memproduksi sendiri. Tapi untuk sementara ia tidak memberi keterangan mengenai berapa lagu yang akan direkam. Alasannya masih mencari maskot lagu tersebut. Dikatakan, dalam persiapan rekaman dilakukan dengan cermat dan penuh kesabaran. 

"Ini volume saya yagn keempat. Produksi sendiri. Coba-coba kan boleh siapa tahu Tuhan memberi jalan dan sukse, " ujar wanita kelahiran 19 Desember , tahunnya dirahasiakan. 

Hasil pasangan Siswoyo dengan Sulisdiyah (Solo) memang cukup sibuk. Setelah menyelesaikanjuga  dubbing Lima Harimau Nusantara, Elly mendapat tawaran film Perjanjian Malam Keramat produksi PT. Soraya Intercine Film berperan seabgai gadis muslim. 

Menurut Pengakuannya, selama terlibat di film, baru kali ini mendapat peran yang sangat menantang. Terlebih dengan kepercayaan yang dianutnya selama ini. Sebagai pemain, harus mampu memerankan berbagai karakter yang sedang divisualkan. 

Untuk memerankan tokoh dalam film ini, ia sering mengamati kebiasaan yang dilakukan gadis-gadis muslim, mulai dari busana hingga kehidupan sehari-hari. Dalam film ini Elly punya ilmu bela diri dan ilmu kebatinan yang apat mengusir roh gentayangan. Walau demikian, kepercayaannya tidak mudah dipengaruhi, Ia menganggap ini merupakan pengalaman yang baru selama hidupnya. 

Menurut pengakuannya, selama peran yang diberikan itu baik dan tidak menyimpang dari keinginannya, ia akan memerankannya. Sebagai pemain harus bisa membedakan antara masalah pribadi dengan kepentingan umum. Ini merupakan prinsipnya selama berkiprah diperfilman Indonesia. Di tambahkan, selama suting Perjanjian Malam Keramat, Elly juga selalu bertanya kepada kru yang mampu diajak bicara tentang perannya. Untung semua menyadari bahwa yang dilakukan Elly adalah kepentingan bersama. 

"Awalnya saya terima tawaran ini memang ceritanya bik. Saya ingin mencoba memerankan tokoh yang lain agar permainan bervariasi. "Selama ini banyak tawaran film laga. Karena saya dikenal sebagai artis film laga. Sebetulnya tidak demikian. Seandainya ada tawaran film drama keluarga atau komedi saya bersedia", kata Elly penuh harap. 

Ketika terlibat dalam Saur Sepuh II, ia pernah mendapat tawaran film Dewi Cipluk semua Sayang kamu. karena sudah kontrak dengan Saur Sepuh II, ia tidak menerima tawaran tersebut. 

"Sekarang ini saya konsentrasi bisnis dan film sebab keduanya akan menentukan masa depan, " imbuhnya. ~dikutip dari MF 129/96 tahun VI, 8 - 21 Juni 1991

SUROMENGGOLO

 


SUROMENGGOLO, (berita lawas). PT. Simbar Inan Film bekerjasama dengan Pemda jawa Timur menggarap sebuah film kolosal yang diangkat dari cerita legenda sejarah dengan melibatkan ratusan pendukung dan menelan biaya lebih kurang satu milyar. 

Bisa kita lihat dari pemain intinya saja ada 26 orang, belum peran tambahan atau figuran yang bakal melibatkan ratusan warga Jawa Timur  dan enam puluh lebih karyawan yang akan diboyong ke lokasi didaerah Ponorogo. Ponorogo adalah sumber cerita yang otentik dari kisah keperwiraan seorangWarok Suromenggolo. 

Kendatipun cerita ini sudah sangat tua, yaitu pada abad ke XV pada masa menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit, namun hingga sekarang masih cukup populer. Kesaktian Warok Suromenggolo selain fakta sejarah juga sudah menjadi kisah yang legendaris sifatnya bagi masyarakat jawa. Panggung panggung ketoprak masih sering melakonkan cerita ini yang biasanya diambbil hanya cuplikan-cuplikan saja, seperto lakon yang cukup populer "SUMINTEN EDAN".

Maka dalam film ini hampir-hampir diceritakan secara lengkap kisa petualangan seorang Warok, nyaris berupa "Banjaran" Suromenggolo. Sehingga film ini mau tak mau harus menyeret banyak pihak untuk berpartisipasi. Seperti orang-orang ahli kebudayaan Jawa Timur. Orang-orang yang masih merupakan pewaris dari sebuah institusi kuno seperti bekel atau lurah, pemuka adat, para pemain reog bahkan sampai Juru Kunci makam para Warok. Keterlibatan mereka adalah untuk menghindari kejanggalan dan penggarapan film yang berlatar belakang sejarah ini sekalipun sudah dikemasnya menjadi film hiburan yang full action. 

Spekulasi yang cukup berani dari PT. Simbar Intan Film, selain menelan dana yang besar juga membutuhkan persiapan yang memakan waktu panjang. Sementara pasar yang diharapkan  hanya daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah saja. 

Pada tanggal 17 Februari 1991 telah diadakan upacara selamatan pembukaan suting Suromenggolo di TMII anjungan Jawa Timur dengan puluhan pemain yang berpakaian lengkap. Diantaranya Benny G Rahardja pemeran tokoh Suromenggolo Gitty Srinita pemeran Suminten, JOhny Sitepu sebagai Suro Handoko, Fendy Pradana sebagai Raden Subroto, Yan Bastian sebagai Batara Katong dan masih bayak lagi yang lain. Lakon ini di dalangi oleh kepala suku Dasri Yacob. 

~Sumber MF 122/90 Tahun VII, 2 - 15 Maret 1991

Wednesday, May 13, 2026

"GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU


 "GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU (Berita Lawas). Tidak hanya Dewa Gede Badung Sumartha, anak 'kampung' yang sempat di seret ke layar putih, yang akhirnya menghasilkan karya film Nyoman dan Merah Putih, arahan Judi Subroto, Slamet Rahardjo pun akhirnya tertarik untuk mengangkat anak kampung, yang berpenampilan polos, untuk diuji keampuhannya berakting, melawan orang kota yang kesehariannya sudah bergelimang dalam fasilitas yang 'wah'.

Adalah Sunaryo, anak seorang petani desa Sambi Rejo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketika lulus Sekolah Dasar, bocah itu lantas tak melanjutkan sekolah. Maklum, orang tua hanya seorang petani. Tentu saja , ia tak tega melihat orangtuanya harus juga menanggung biaya adik-adiknya yang berjumlah 6 orang. Ia punya tekad bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. 

Bekerjalah Sunaryo di sebuah hotel di Blitar, entah sebagai apa. "Waktu itu pak Rudi nginep di hotel . Saya terus ditanya, Mau ke Jakarta nggak? saya jawab saja mau. Lalu saya di potret. Seminggu kemudian temannya Pak Slamet (maksudnya Slamet Rahardjo) membawa saya ke Jakarta. Saya tidak tahu kalau mau diajak main film. Dari pulang kerja, saya langsung diajak berangkat ke Jakarta. Nggak boleh pulang dulu ambil pakaian, apalagi bilang sama orang tua, lha saya kepingin jug ake Jakarta sih, saya mau saja, " ujar Sunaryo yang memerankan tokoh Gempol dalam film Langitku Rumahku arahan sutradara Slamet Rahardjo. 

"Saya baru ketemu Pak Slamet itu di kantornya. Ada teman saya yang bilang. Kalau kamu ke Jakarta ketemu Pak Slamet, kamu bisa main film. Eh, saya ditanyai betul sama Pak Slamet. Mau nggak kamu main film. Ya, saya jawab mau. Padahal sebelum ke Jakarta saya itu belum tahu lho yang namanya kamera. Belum tahu lampu yang terang lima kilo. Saya belum tahu itu. Tahu-tahu, wah panas banget, " cerita Gempol Sunaryo mengenang. 

Kepergian Sunaryo ke Jakarta memang mengejutkan orang tuanya. Karena setelah kepergian Sunaryo ke Jakarta, orangtuanya baru menerima surat. Meskipun sempat bingung, ayah si Gempol itu akhirnya kagum juga pada anaknya, yang kini jadi bintang film. 

Sesampai di Jakarta, Sunaryo bukan berarti tak sekolah, Ia kini sudah masuk SMP Muhammadiyah di Jakarta, kelas satu, beberapa hari, ia tinggal di lingkungan para pemulung, untuk memperkuat akting yang diperaninya. Maka iapun mendapat dorongan dan bimbingan dari orang-orang Eka Praya film. Meskipun hidup  dilingkungan orang film, bagi Sunaryo main film adalah hal yang sangat baru Bukan pula tak berarti ia tak mengalami kesulitan dalam berakting. "Ya ada yang susah, ada yang nggak. Kalu adegannya panjang, saya suka lupa,  " Jelas Sunaryo menjawab tentang aktingnya. 

Sunaryo memang polos. Seperti kepolosannya peran yang dimainkan sebagai Gempol. Soerang anak pemulung yang di tuduh mencuri, yang akhirnya justru menemukan seorang sahabat, yang baik tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sunaryo kini terus tinggal di Jakarta untuk meneruskan sekolahnya. "Saya senagn main film. Sekolah mau, main film juga mau. Insya Allah sekaran gsaya sudah sampai Jakarta, " sela Sunaryo menimpali. 

Sunaryo sekaran anak Jakarta. Bermain dengan anak-anak sebayanya, dan menekuni lagi dunia sekolah yang dia impikan. Ia sudah bisa mengirim uang ke orang tuanya di kampung, hasil jerih payahnya bermain film. Gempol Sunaryo kini telah membetulkan kursinya, memperbaiki nasibnya. 

TIO PAKUSADEWO

 


TIO PAKUSADEWO, Cita Cita Biar Bisa di Cium Cewek Cakep (berita lawas). "Bilur Bilur Penyesalan" hasil penyutradaraan Nasri Cheppy, siap beredar. Film cerita tentang percintaan remaja ini, di dukung oleh Iyut Bing Slamet, Rano Karno, Deddy Mizwar, Sophia Latjuba juga Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Erick saudara kembar Rano Karno. 

Tio, memang bintang baru di dunia perfilman. Ia  bersyukur berhasil menyabet peran yang cukup besar di Bilur Bilur Penyesalan ini. Padahal jauh sebelumnya, cowok tinggi dengan bentuk tubuh atletis ini pernah beberapa kali ikutan main film, diantaranya Kulihat Cinta Dimatanya dan Kabut Perkawinan, hanya saja selalu kebagian peran figuran, cetusnya. 

"Cita-cita saya sewaktu kecil memang ingin main film, biar bisa diciumin cewek cakep," kenangnya sembari tertawa. 

Terjun ke dunia film, sebagai figuran. "Karena saya punya prinsip, " begitu katanya. Jadi figuran katanya sekedar ingin tahu dunia perfilman. 

Menjadi foto model dan bintang iklan di beberapa barang, cowok kelahiran 2 September ini bercerita, begitu lulus sekolah kebetulan kenalan dengan perancang pakaian Thomas Sigar. 

Tio menyabet juara II Lomba Sejuta Wajah yang dibuat sebuah majalah remaja di tahun 1987. Dari hasil tabungannya sebagai model, yang sebagian selalu diamalkannya, juga digunakannya buat berangkat ke Amerika. "Tujuan semula ke Amerika ingin meneruskan sekolah. Bidang yagn bakal saya ambil berkaitan dengan dunia film. Tetapi baru dua bulan saya disana lalu saya dapat khabar dari orangtua di Jakarta. Saya harus pulang karena saya diminta jadi bintang film iklan yang sutingnya di Hongkong. Wuah tentu saja kesempatan tidak saya sia-siakan, " begitu Tio berkisah. 

Putra ke 3 dari 4 bersaudara ini, punya hobi sebagai penulis lepas di sebuah majalah remaja. "Saya tidak tahu, apakah nulis itu satu bakat yang saya punya atau bukan. Tetapi yang pasti sejak duduk di bangku SMA, saya sudah nulis meskipun sebatas dilingkungan sekolah saja. 

Beberapa bidang profesi memang dijajalnya. Belakangan ini Tio yang hidupnya pernah terkenal bandel, mulai menekuni teater, lewat teater Sendiri. 

Bukannya saya rakus karena banyak bidang yang saya kerjakan, tetapi saya memang ingin menjajalnya, " ucapnya. ~mf 51/19/Tahun ke IV, 11 - 24 Juni 1988

Monday, May 11, 2026

S.Y.S NS,

 


S.Y.S  NS, (Berita Lawas) Bisa diamati cowok kelahiran Semarang, 18 Juli 1956 ini paling suka bersibuk diri setiap harinya. Sys seorang penyiar radio juga komandan grup lawak Sersan Prambors. Selain sibuk ngurus-ngurus pagelaran, Sys juga bintang film. Sys NS pun mengakui, jadwal kegiatan film yang mengontraknya harus mengikuti jadwal kegiatannya. Itu memang prinsipnya. 

"Ya, dulu pernah ketika ikut film "Damai Kami Sepanjang Hari", yang di sutradarai Chairul Umam, yang mengambil suting di Yogyakarta, saya sudah ngebela-belain bolak balik Jogya-Jakarta, satu hari harus break mendadak lantaran satu pemainnya, Gina Adriana harus main di film Wim Umboh. Terus saya tanya, tuh bintang siapa duluan yang ngontrak. Setelah tahu permasalahannya dan saya ada di pihak yang benar. Hari itu juga, baru datang dari Jakarta saya tinggalin dan kembali ke Jakarta. Waktu film "Terang Bulang Di Tengah Hari, " pun waktu itu bentrok dengan film yang di produksi TVRI "Pondokan". Untung jarak lokasinya tidak begitu jauh, Yang satu di Puncak dan yang lain di Jakarta. Udah gitu kita kan di Indonesia, sesuatu bisa selesai dengan musyawarah. Saya pun damai, pihak TVRI lebih baik, " kata Sys NS yang memerankan Sonny  sebagai suami Sora (Zoraya Perucha) dalam film "Terang Bulan di Tengah Hari" ini. 

Sys NS, (Nama sebenarnya) dulu punya cita-cita jadi sutradara. Untuk itu ia sempat mempelajari dulu ilmu itu di LPKJ. Sekarang Institute Kesenian Jakarta. Anak ke 3 dari 11 bersaudara ini mengawali karernya lewat film "Kecupan Pertama(1070an) lalu film-film lainnya seperti "Kabut Sutra Ungu", "Seindah Rembulan", "Anunya Kamu" dan "Sama-sama Enak". Dan sampai kini (1988) Sys NS bersama Sersan Prambors masih dikontrak untuk 3 film lagi dari PT Bola Dunia Film. 

"Sebenarnya saya tuh sudah malas untuk main film. Terkecuali film itu ceritanya hebat, digarap oleh orang-orang hebat, sutradaranya hebat. Ya nggak apa-apa filmnya jelek juga asal duitnya hebat saja he..he..he. Seperti tahuin ini sebenarnya kontrak dari Bola Dunia Film tahun ini bisa hangus lho?. Habis tiap disodori skenario ceritanya nggak berkenan di hati, jadi saya tolak, " katanya. 

Kok mau main film bersama Zoraya Perucha?

"Itu lain, dulu memang almarhum Sumanjaya sudah mempersiapkan cerita itu buat saya dan Perucha itu. Sumanjaya sendiri adalah sahabat saya sekaligus bapak saya. Belum lagi sutradara yang menangani  dan semua kru film itu teman-teman dekat saya. Jadi sayapun suka untuk pegang peranan di film itu, " katanya. 

Katanya, dulu kepengin jadi sutradara, kok malas bergelut di dunia film lagi?

"Wah, payah. Sekarang dunia film banyak ditangani oleh senior-senior, mungkin 'hepengnya' takut kerebut. Coba saja birokrasi film bertele-tele, jadi sutradara harus lewat jadi asisten sutradara dulu lima kali, terus belum tentu bisa jadi sutradara langsung. Padahal kan yang nentuin tuh film bukan mereka, tapi penonton. Jadi sutradara langsung, asal yahut kan masyarakan bisa menilai," kata pelawak muda ini sambil membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Lagi ngapain tuh? 

"Biasa, mau nemenin Mick Jagger," kata Sys, yang memang lagi sibuk ngurus kedatangan vokalis dari The Rolling Stones yagn akan konser di Jakarta akhir Oktober (1988). ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Sys NS meninggal pada 23 Januari 2018