SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA USMAR ISMAIL (berita lawas). Hari itu, 31 Desember 1970 siang, Usmar Ismail berdiri dihadapan 160 karyawan PT. Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Tidak seperti biasanya, sekali ini Pak Usmar yang dirut Ria Sari/Miraca Sky Club itu akan melepas karyawannya yang terkena PHK. Bisa dibayangkan betawa beratnya perasaan Usmar saat itu. Dengan nada terbata-bata dia mengatakan; baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya , katanya.
Memang, Usmar Ismail yang saat itu mati-matian mempertahankan Perfini Film masih tetap mempertahankan karyawannya yang masih ada. Tak satupun karyawan Perfini yang diberhentikan. Untuk menggaji mereka, satu persatu peralatan studio Perfini di Cijantung di lego. Barulah sesudah tidak ada lagi yang bisa di lego, sisa karyawan Perfini itu mengundurkan diri (sebelumnya diantaranya yang mengundurkan diri).
Sebelum memPHK karyawan PT. Ria Sari itu Pak Usmar baru saja kembali copy film BALI, kerjasama Perfini dengan pihak Itali. Setelah ditunggu-tunggu copy film tersebut mejadi bagian Perfini untuk mengedarkan di Indonesia, tidak juga dikirim. Pulang dari Itali, Pak Usmar tidak bisa menyebunyikan kekecewaanya pada UGO film, partner jointnya itu. Bahkan ia merasa ditipu oleh partnernya itu. Pak Usmar mengatakan kalau kita kerjasama dengan Itali harus jelas, terperinci dan saklek.
Belum habis rasa kecewanya dengan produser film Itali itu , setiba di Indonesia ditimpa musibah, karena PT. Ria Sari/Miraca Sky Club yang dia bangun sejak 1967 diliwidir oleh caretaker Sarinah saat itu, PT. Ria Sari di bubaran dan karyawan di PHK. Inilah yang sangat memukul perasaan saat itu. Lewat Miraca Sky Club, Pak Usmar telah mendorong night life di Jakarta. Upaya ini juga membantu Pemda DKI dalam menarik arus wisatawan, disamping kedudukan Jakarta sebagai pintu gerbang RI dan kota turis internasional. Atas jasa-jasanya itu Pak Usmar kemudian mendapat penghargaan sebagai warga teladan dari Pemda DKI-Jaya disamping alm. Syamsudin Mangan.
Esok harinya, 1 Januari 1971 siang Pak Usmar diboyong ke rumah sakit. Belakangan diketahui beliau menderita pendarahan Otak, disusul dengan kematiannya pada Subuh jam 5.20 tanggal 2 Januari 1971. Saya tak habis pikir ketika RRI jam 7.00 pagi menyiarkan kepergian Pak Usmar untuk selama-lamanya. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju Pegangsaan, tempat tinggal almarhum. dari kejauhan saya melihat sejumlah karangan bunga dan orang-orang mulai kumpul. "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" Pak Usmar sudah tiada.
Acara tutup tahun 31 Desember 1970 di Miraca Sky Club benar-benar terakhir kalinya Pak Usmar berkumpul dengan segenap kerabat, handai taulan dan karyawan yang dikenal sangat akrab dan bersahaja. Waktu itu seperti bisasa dia mengajak keluarga dan handai taulannya dalama cara tutup tahun tersebut. Yang agak lain dari biasanya ialah kami, orang-orang yang dekat dengan beliau tidak boleh jauh-jauh. Dia mengajak hampir semua bawahannya untuk berfoto bersama. Tak terlintas di hati kami para bawahannya termasuk Yusman Djamaris, Photograper Miraca bahwa malam itu adalah saat-saat kami akan berpisah selamanya dengan Pak Usmar.
Bagi saya Pak Usmar bukan saja sebagai pimpinan, tapi lebih dari itu dia adalah seorang guru dan bapak yang baik. Kepemimpinannya patut diteladani. Sulit saya menemukan seorang pemimpin seperti beliau. Masih terngiang-ngiang ditelinga saya ketika 31 Desember siang almarhum sempat berbicara empat mata dengan saya. "you ikut saya ya, kita bangun Perfini". katanya tak lama sesudah acara pelepasan karyawan yang terkena PHK termasuk saya.
Memang diluar kesibukannya memimpin Miraca, Pak Usmar mulai bangkit dengan produksi-produksi filmnya. Pada masa-masa itu beliau sempat merampungkan fim Ya Mualim, Djakarta The Big Village, Bali dan terakhir Ananda. Bahkan saat dia meninggal, film Ananda baru saja merampungkan sutingnya, sehingga Pak Usmar tak sempat menyaksikan karya terakhirnya itu. Dia juga tak sempat menyaksikan kehebatan Lenny Marlina, aktir penemuannya yang terakhir itu. Tentang lenny Marlina, Pak Usmar pernah mengatakan bahwa selama 20 tahun menggeluti dunia film, baru sekali itulah dia menemukan apa yang dia cari. Ya, Lenny Marlina itulah.
Keteladanannya dan kepemimpinannya sangat dihargai oleh segenap karyawan Miraca maupun Perfini film. Rasa kami ingin berbuat apa saja demi Pak Usmar. Tak pernah kami mengeluh, tak pernah kami mempersoalkan ini itu. Pak Usmar meninggalkan kita disaat tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh dunia perfilman nasional. ~~demikian tulisan dari MH Yusuf yang dimuat di MF No. 119/87 tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991
