Wednesday, September 18, 2019

Film Indonesia Jadul : Lima Sahabat

Lima Sahabat

JUDUL FILM        : LIMA SAHABAT
SUTRADARA       : C.M. NAS
PRODUSER          : S. SOETRISNO
TAHUN PROD    : 1981
JENIS                     : FILM DRAMA
PEMAIN               : BENYAMIN S, SOEKARNO M NOOR, SEPTIAN DWI CAHYO, MARLIA HARDI

SINOPSIS : 

Lima Sahabat bercerita tentang persahabatan antara Sabah (Septian Dwi Cahyo) dan 4 sahabat lainnya serta Bang Wira (Soekarno M. Noor) mantan pejuang yang harus merelakan satu kakinya saat berjuang melawan penjajah. Wira sudah beruban dan tua, namun karena semangatnya yang selalu menyala-nyala maka tidak tua tidak muda semua memanggilnya dengan sebutan Bang, Bang Wira. Bang Wira kerja di kelurahan untuk mengurus keperluan penduduk, maka biasanya harus melalu Bang Wira dulu sebelum ditanda tangan oleh Lurah.

Adalah Sabah murid SD sebelum tidur di beritahukan oleh gurunya dalam menjelang 17 Agustusan nanti di harapkan dapat memakai seragam Pramuka. Namun Ayahnya tidak mampu membelikannya. Satu-satunya jalan dengan menjual Kodak hasil hadiah dari pamannya. Namun ketika sedang jalan-jalan tiba-tiba Ibu-ibu kursus meminta untuk di foto oleh Sabah. Sabah akhirnya mau karena di bayar. Namun sayang sekali sabah yang tidak bisa menjepret foto akhirnya asal jepret. Akhirnya Sabah ke tukang foto untuk beli film dan minta di ajarin memfoto. Sabah pun akhirnya diam-diam memfoto satu persatu ibu-ibu yang sudah pernah di fotonya untuk di foto ulang dengan berbagai pose sedapatnya. Al hasil Ibu-ibu pun marah setelah mengetahui hasilnya. 

Sementara itu kenakalan lima sahabat tersebut kadang keterlaluan. Sabah mencuri sepatu haji Dahlan (Benyamin S) hanya untuk di buat ketapel.  Ketika kelima sahabat sedang berlomba untuk menembak burung dengan ketapelnya, hanya Sabah saja yang tidak mendapatkan mangsanya apalagi setelah Bang Wira memberikan petuah tentang kegiatan yang di lakukannya. Sementara Lodan karena putus asa tidak mendapatkan burung akhirnya menembak ayam milik Haji Dahlan dengan ketapelnya. Untuk menghilangkan jejak akhirnya kelima sahabat bersepakat untuk membakar ayam tersebut.
Sabah juga di kenal sebagai anak yang supel dan mau bergaul dengan siapa saja termasuk dengan Ripin seorang anak yang kurang mampu juga dengan Bang Umar yang selalu pinjam uang pada Ibunya Sabah.
*****
Bang Wira di datangi oleh Hasan Basri kerumahnya. Bang Wira merasa berhutang budi pada Hasan Basri karena ia dianggap telah menolongnya untuk diterima sebagai pegawai kelurahan. Kedatangan Hasan Basri kerumah Bang Wira untuk menawarkan kerja sama karena ia memiliki percetakan dirumahnya. Hasan Basri meminta agar setiap penduduk di wajibkan untuk mencetak kartu ke tempat Hasan Basri dengan meminta tolong pada Bang Wira. Hal ini tentu saja menjadi beban tersendiri bagi Bang Wira. Apalagi ia merasa sangat berhutang budi padanya. 

Namun beruntunglah Bang Wira karena Haji Dahlan datang kerumahnya dan memberitahukan siapa Hasan Basri sebenarnya. Bukan Hasan Basri yang menolong Bang Wira untuk jadi pegawai kelurahan karena ia cacat, akan tetapi dialah yang memperjuangkan Bang Wira untuk di terima sebagai pegawai kelurahan semasa haji Dahlan menjabat sebagai lurah. Bahkan Hasan basrilah yang meminta jabatan yang sekarang di pegang oleh Bang Wira. Sementara Haji Dahlan menjadi malu pada Bang Wira untuk meminta tolong guna mencari dana demi 17 Agustus karena takut dikira meminta balas budi. Namun justru Bang Wira dengan senang hati mau melakukannya demi suksesnya 17 agustusan.

 Akhirnya ketika Hasan Basri kembali datang dengan menawarkan segenggam keuntungan di tolak mentah-mentah oleh Bang Wira. Hasan Basri pun akhirnya mengetahui siapa orang yang telah memberitahukan pada Bang Wira tentang dirinya, apalagi setelah melihat kalau Lurah sekarang meminta pertimbangan pada Haji Dahlan tentang bagaimana kerja sama dengan Hasan Basri. Tentu saja Haji Dahlan menyarankan untuk menolaknya. 

Mengetahui hal demikian, Hasan Basri menjadi berang dan mencari kesempatan untuk menghabisi Haji Dahlan. Beruntunglah ketika niat tersebut di laksanakan, dan Haji Dahlan hampir kehabisan nafas, Sabah dan Lodan mendengar perbuatan Hasan Basri dan meminta tolong pada Hansip setempat. Namun sayang Hasan Basri melarikan diri. Akhirnya kelima sahabat berusaha mengejar dan melumpuhkannya dengan senjata andalannya ketapel. Meski beberapa kali berhasil meloloskan diri, namun Hasan Basri akhirnya tertangkap berkat bantuan dari lima sahabat dan di hadapkan pada lurah. 

Sementara itu Lima Sahabat akhirnya memberikan hadiah berupa satu buah sepatu pada Bang Wira sebagai bentuk hormatnya pada Bang Wira. Hal ini membuat haru Bang Wira. Akhirnya acara 17 Agustus pun berlangsung dengan baik.

FILM INDONESIA : JAKA TINGKIR

Jaka Tingkir

JUDUL FILM        : JAKA TINGKIR
SUTRADARA       : BAY ISBAHI
PRODUKSI           : PT. INEM FILM
PRODUSER          : Ny. LEONITA SUTOPO
TAHUN PROD    : 1983
JENIS                     : FILM LAGA
PEMAIN               : TEDDY PURBA, RINI S BONO, TITIN KARTINI, CHAIDAR DJAFAR, SRI SADHONO, BUDI PURBOYO, SITORESMI PRABUNINGRAT, BAGONG KUSSUDIARJO

SINOPSIS : 

Karebet (Teddy Purba) seorang pemuda dari desa Tingkir diterima menjadi prajurit pengawal istana setelah berhasil mencuri perhatian Sultan Trenggono (Yan Bastian) ketika Sultan Trenggono mau melakukan sembahyang di mesjid Demak. Sultan Trenggono memiliki firasat kalau Karebat akan membuat sejarah baru pada keraton kesultanan Demak kelak. Karebet yang memang bercita-cita untuk mengabdi pada kesultanan Demak pun selalu berlatih keras. Namun kesungguhan Karebet dalam berlatih membuat tidak senang Mundarang, salah seorang prajurit pengawal istana, karena menganggap kalau Karebet sombong. Untuk itulah ia melakukan upaya agar Karebet diberikan pelajaran. Maka ia pun melapor pada Lurah Prajurit Wirajaya untuk menjajal kemampuan Karebet agar tidak sombong. Namun tidak ada yang berhasil mengalahkan Karebet termasuk lurah prajurit yang juga ikut turun tangan sendiri untuk menjajal kemampuan Karebet. 

Diam-diam Sultan Trenggono dan Tumenggung Dirgapati menyaksikan apa yang terjadi pada karebet. Maka sebelum jatuh korban, Sultan Trenggono menghentikan perkelahian yang terjadi antara karebet dengan Lurah Prajurit Wirajaya. Wirajaya akhirnya di copot dari jabatan sebagai Lurah Prajurit karena kelicikannya yang menimpakan kesalahan pada Karebet. Dan jabatan Lurah Prajurit akhirnya di pegang oleh Karebet. 

Diangkatnya karebet menjadi pengawal istana membuat sekar kedaton Ratu Kambang (Rini S Bono) jatuh cinta padanya. Akhirnya keduanya pun berhubungan diam-diam karena derajat keduanya yang berbeda. Kedekatan Karebet dengan Ratu Kambang tidak disukai oleh Mundarang yang sejak awal sudah tidak suka padanya. Maka ketika Karebet kepergok melompati pagar keputren maka segera saja ia melaporkan pada Temenggung Dirgapati untuk menangkap Karebet yang telah berani-beraninya masuk keputren. Namun belum lagi pintu keputren yang di ketok oleh Tumenggung Dirgapati dibuka, Karebet telah menyapa terlebih dahulu dari luar. Tuduhan Mundarang kali ini meleset dan termentahkan.
******
Hubungan Ratu Kambang dengan Karebet tercium oleh Ibu Permaisuri (Sitoresmi Prabuningrat) yang merupakan ibunda dari Ratu Kambang. Meski pada awalnya Ratu kambang tidak mengakuinya, namun Karena naluri seorang ibu, akhirnya Ratu kambang mengaku pada Permaisuri kalau dirinya terlanjur mencintai Karebet. Hal ini akhirnya juga sampai ke telinga Sultan Trenggana yang tidak merestui hubungan Ratu Kambang dengan Karebet yang hanya seorang prajurit. Untuk menegakkan kewibawaan Sultan Trenggana maka Karebet pun harus di beri hukuman. 

Akhirnya Sultan Trenggono mendapatkan saat yang tepat untuk memberi hukuman pada karebet tanpa harus menghubungkannya dengan hubungan Ratu Kambang dan Karebet. Karebet dianggap bersalah karena telah membunuh Dadung Awuk salah seorang calon prajurit yang sebenarnya adalah iblis. Karebet akhirnya di copot dari jabatan Lurah Prajurit dan disuruh meninggalkan keraton Demak. Jabatan Lurah Prajurit akhirnya di serahkan kembali pada Wirajaya. 

Kembalinya jabatan pada dirinya membuat Wirajaya menjadi semakin percaya diri karena sedang menyiakan siasat untuk menghancurkan Demak yang dibantu oleh dua orang dari Plered dan Mangir. Wirajaya memiliki siasat untuk menyerang Sultan Trenggono saat berada di Pesanggrahan Gunung Prawoto yang pengawalannya tidak terlalu ketat.

Karebet akhirnya kembali ke Desa Tingkir dan menceritakan apa yang terjadi pada pamannya. Namun sebagai orang tua yang mengetahui kalau Karebet tidak bersalah maka ia mencari cara bagaimana agar Karebet dapat diterima kembali jadi prajurit Demak. Maka disuruhlah Karebet menemui  Ki Ageng Butuh.  Dari Ki Ageng Butuh, selanjutnya Karebet di beri petunjuk lagi untuk meningkatkan ilmu Karebet dengan berguru pada ki Buyut Banyu Biru. Setelah proses belajar selesai, dengan di Bantu oleh tiga murid Ki Buyut, maka di suruhlah Karebet kembali ke Demak untuk menjalankan petunjuk yang ki Buyut berikan.

Dalam perjalanan menuju demak, saat menyeberangi sungai Karebet di ganggu oleh buaya yang ada disungai. Namun akhirnya buaya yang ternyata adalah sosok perempuan tersebut berhasil dikalahkan oleh seorang ksatria bernama karebet, yang akhirnya mengiringi perjalanan Karebet dengan membantu menyeberangkan rakit yang dipakai karebet. Ketika sedang melepas istirahat malam hari, maka jatuhlah sinar terang pada karebet yang menandakan kalau wahyu keraton Demak telah beralih ke Karebet seperti apa yang disabdakan oleh Sunan Kalijaga. 

Karebet pun menjalankan petunjuk yang telah diperintahkan padanya dengan menuju pesanggraha di Gunugn Prawoto dimana Wirajaya hendak menggulingkan Trenggono dan keluarganya dari tahta Demak. Dengan mengumpankan kebo yang mabuk, akhirnya Karebet berhasil meringkus kerbau tersebut di hadapan Sultan Trenggono. Di saat yang bersamaan terdengar suara serbu dari orang-orang Plered dan Mangir. Maka terjadilah perang antar prajurit Demak dengan pemberontak.


Film Indonesia Jadul : Lowo Ijo

Lowo Ijo

JUDUL FILM        : LOWO IJO
SUTRADARA       : DASRI YACOB
PRODUKSI           : PT. INEM FILM
PRODUSER          : NY LEONITA SUTOPO
TAHUN PROD    : 1987
JENIS                     : FILM LAGA
PEMAIN               : YURIKE PRASTICA, WINNY ROSALINE, YAN BASTIAN, ANGGEL, LUSI SUBARJO, SHERLY SARITA, ATIN MARTINO, TANAKA

SINOPSIS : 

Mayang (Yurike Prastica) dan Sekar (Wenny Rosaline)  tidak menyangka kalau orang yang selama ini dianggap ayah sekaligus gurunya adalah Bapaknya. Mayang dan Sekar adalah dipungut dari sebuah dusun yang di hancurkan oleh Gobang atau Lowo Ijo. Kedua orang tua Mayang dan Sekar telah mati. Gobang adalah seorang iblis yang kerjaannya memperkosa wanita dan membunuhnya untuk selanjutnya dijadikan pengikut Lowo Ijo. 

Setelah mendapatkan bekal ilmu silat yang tinggi dari ayah angkatnya, maka berangkatlah Mayang dan Sekar untuk menuntut balas terhadap Gobang. Dengan di bekali sebilah pedang akhirnya keduanya berpamitan pada ayah angkatnya untuk pergi mencari lowo Ijo. Mayang di beri pesan oleh ayahnya agar pedangnya tidak jatuh ke orang lain apalagi sampai melukai dirinya, karena akibatnya bisa lumpuh. Selama perjalanan keduanya mendapat rintangan dari orang-orang yang ingin menjahilinya. Pencarian kedua gadis tersebut belum membuahkan hasil untuk menemukan sarang Lowo Ijo. Akhirnya Mayang dan Sekar pun berpisah agar dapat menemukan sarang Lowo Ijo. 

Selama dalam perjalanan Mayang mencari petunjuk keberadaan Lowo Ijo dengan menanyakan pada penduduk yang di singgahinya. Namun ketika di sebut Lowo Ijo, maka orang-orang yang di tanya tentang keberadaan Lowo Ijo menjadi ketakutan dibuatnya dan tidak mau menjawab pertanyaannya.
Ketika sedang mandi di sungai, baju dan pedang Mayang di curi orang, sehingga ketika didatangi oleh orang yang berniat jahat, Mayang tidak bisa membela diri dan ia terluka oleh pedangnya sendiri yang di curi orang. Mayang tidak bisa berbuat apa-apa karena terluka oleh pedangnya sendiri yang menyebabkan lumpuh. Beruntunglah Mayang karena di tolong oleh Permadi dan mengembalikan pedangnya.  Keduanya pun akhirnya bersahabat karena mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari Lowo Ijo. Mayang dan Permadi bahkan hampir berhubungan intim sebelum akhirnya terdengar suara gaib dari ayah angkatnya untuk tidak melakukan perbuatan terkutuk itu. 

*****
Di wilayah lain, Sekar yang mencari Lowo Ijo dari arah yang berbeda dengan Mayang pun mendapat beberapa rintangan dalam perjalanannya. Sekar berhasil menangkap salah seorang anak buah Lowo Ijo untuk memberitahukan sarangnya. Sementara Lowo Ijo makin merajalela dengan mengerahkan anak buahnya yang berupa mayat hidup. Akhirnya Sekar pun sampai ke sarang Lowo Ijo yang sedang berkelahi dengan si mata setan (Tanaka). Sekar di ikat dan mau di perkosa oleh lowo Ijo. Namun disaat bersamaan terdengar keributan diluar. Anak buah lowo Ijo sedang berkelahi dengan Mayang dan Permadi.  Akhirnya Mayang dan Permadi berhasil membunuh anak buah lowo Ijo yang juga ada yang berupa mayat hidup.

Kini giliran Lowo Ijo yang menghadapi  Mayang dan Permadi serta Sekar yang berhasil meloloskan diri. Lowo Ijo yang memiliki ilmu rawa rontek tidak bisa di bunuh karena kepalanya meski ditebas berkali-kali akan menyatu kembali. Maka disusunlah rencana untuk menjauhkan kepala dan tubuh Lowo ijo. Permadi di tugaskan untuk membawa kepala lowo Ijo ke hutan. Disaat yang bersamaan muncullah ayah angkat Mayang dan Sekar yang langsung menghabisi Lowo Ijo serta menghisap ilmunya.  Bahkan akhirnya ia berhasil menjadi muda kembali. Lowo Ijo pun terbunuh.

Kini masalah baru didepan mata Mayang dan Sekar. Ayahnya yang dulu dianggap bapaknya ternyata adalah saudara seperguruan Lowo Ijo yang iri akan ketinggian ilmu Lowo Ijo. Ia berambisi untuk menguasai harta karun yang apabila senjata yang dimilikinya terkena darah Lowo Ijo maka akan terkuaklah peta harta karun. Ia juga berusaha untuk memperkosa Mayang dan Sekar yang juga merupakan muridnya. Disaat yang bersamaan muncullah Lowo Ijo yang ternyata masih hidup.
Namun keduanya pun akhirnya dapat di tumpas akibat dari buah keserakahannya.