Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Friday, May 8, 2026

NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM


 NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM (berita lawas). Nicky Astria, rocker cantik dari Bandung akhirnya tak kuasa menolak tawaran main film. Atas bujukan Eddy D Iskandar yang datang bersama Tomi Indra produser "Tiga Sinar Mutiara Film" akhirnya Nicky bersedia menandatangani kontrak main dalam film "Biarkan Aku Cemburu". Kenapa sampai Nicky akhirnya tergrak mau main film, mungkin karena pendekatan yang dilalukan oleh Eddy D Iskandar sang penulis cerita  dan skenarionya. Padahal selama ini sudah banyak juga tawaran main tapi semuanya ditolak oleh Nicky. 

Peran yang dipercayakanoleh Christ Helweldery yang bertindak sebagai sutradara "Biarkan AKu Cemburu" sebagai Komala, mahasiswi sinematografi. Usianya baru 19 tahun, dalam penampilan sehari-hari Komala nampak lincah, agresif, dinamis dan panjang akal. 

Sewaktu akan mendandatangani kontrak, Nicky wanti-wanti kepada produser dan sutradaranya agar dia tidak melakukan adegan ciuman apalagi buka-bukaan. Pokoknya Nicky tidak mau sampai ada imej yang negatif dan bisa merusak citra dia sebagai penyanyi kondang. Berapa honor Nicky? "Wah sorry deh, itu mah rahasia, " kata penyanyi rock yang bulan September (1988) lalu menerima penghargaan BASF Award berkat alunan nadanya dalam album "Gersang".

Penghargaan itu ditandai pula dengan melancong cuma-cuma ke negeri kanguru selama 15 hari.

Tiga tahun sebelum Nicky juga memperoleh penghargaan yang sama berkat album "Jarum Neraka" kemudian sempat melancong ke Jerman sekaligus melongok pabrik BASF. Tahun kemarin dia sempat mengunjungi beberapa negara Eropa antara lain Paris, Swiss, Jerman dan lain-lain. Juga hadiah dari BASF karena album "Tangan Tangan Setan" meledak di pasaran. 

Sukses yang di peroleh Nicky dalam bidang vokal ini terutama berkat dorongan dari pihak keluarganya sendiri, disamping pihak yang tak bisa disebutkan satu persatu. Diantara sekian banyak yang ikut memoles Nicky terdapat tangan dingin Denny Sabri dan kakaknya sendiri Boeky Wikagoe. Juga sukaety Hidayat dan Pandji Tisna Sendjaja. 

Mojang geulis ini sudah memperlihatkan bakatnya sejak usia kanak-kanak. Pada 1971 dia sudah keluar sebagai juara I festival Penyanyi Cilik se Kodya Bandung. Selama empat tahun sejak 1972 Nicky hijrah ke Malaysia ikut kedua orangtuanya. Disana dia sempat diasah vokal oleh Suhaemi Nasution, orang Indonesia yang berdinas di sana. Pulang ke tanah air Nicky yang tomboy ini sempat mencetak berbagai prestasi bidang tarik suara. Dia seperti langganan menerima penghargaan atas berbagai juara yagn sempat disandangnya pada Festival Lagu Tingkat Jawa Barat.  ~MF 61/29 Tahun V 29 Okt - 11 Nov 1988

Wednesday, May 6, 2026

COK SIMBARA, BERAT PERAN BENCONG

 


COK SIMBARA, BERAT PERAN BENCONG (berita lawas). Untuk jadi demonstran, rupanya tidak sesulit menjadi bencong. Setidaknya itulah yang dialami Ucok Hasyim Batubara alias Cok Simbara, lelaki kelahiran Penyabungan tahun 1953 ini. "Waktu diminta main sebagai demonstran dalam "Gema Kampus 66" dan Djakarta 1966 terus terang saya tidak terlalu repot. Soalnya saya pernah jadi mahasiswa kan? ujarnya. 

Tapi ketika diminta main sebagai bencong dalam film "Terang Bulan Di Tengah Hari", saya benar-benar repot. Terus terang peran Hadi yang bencong dalam film itu berat bagi saya," tambah aktor yang ngakunya tembak langsung dari Penyabungan ke Jakarta tanpa lewat Medan ini. 

Biar berat, Cok mengaku senang dengan peran bencong tersebut. "Saya suka karena banyak tantangannya. Terutama yang datang ari luar diri saya sendiri, " ujarnya. "Memang beban buat saya memainkan peran bencong tersebut. Soalnya selama ini sayakan dikenal sebagai lelaki yang terus kebagian peran gagah, " tambah aktor temuan Wim Umboh yang main film pertama kali tahun 1976 sebagai pemeran utama dalam "Kugapai Cintamu" tersebut.

Karena suka, Cok akhirnya menerima dan membutuhkan waktu sampai tiga minggu untuk beradaptasi. "Saya latihan sendiri dan observasi pada dunia model. Melihat contoh-contoh orang yang bisa saya jadikan sampel, " ujar nomine pemeran pria terbaik FFI 1987 ini yang lalu punya imej peragawan Doddy Haickel untuk tokoh Hadi. "Selain itu saya suka dengan peran ini karena saya memperoleh warna dalam film saya, " tambah Cok yang juga baru pulang dari Philipina bersama teater kecilnya Arifin C Noer. "Ikut main dalam drama "Sumur Tanpa Dasar" di Festival Seni Asia, " jelasnya. 

Cok yang memang berasal dari dunia panggung ini, memang memulai karir filmnya bersama Teater Kecil. Kemudian gabung dengan Derry Sirna dan Rudolf Puspa di teater keliling dan pernah manggung sampai ke Australia. Di film sendiri, Cok katanya sudah ikut membintangi 20an judul film sampai tahun 1988. "Saya tidak ingat lagi apa saja judulnya. Tapi untuk tahun ini saja ada empat film yang ikut saya bintangi. Empat film tersebut adalah "Akibat Kanker Payudara, Gema Kampus 66, Terang Bulan di Siang Hari, dan Jakarta 66. ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Tuesday, May 5, 2026

FIRDHA RAZAK, SUTING LUPUS II SAAT HAMIL


 FIRDHA RAZAK, SUTING LUPUS II SAAT HAMIL, (Berita Lawas). Seorang pembaca Majalah Film melayangkan sepucuk kartu pos ke ruang Uneg Uneg. Benarkah bintang film Firdha Razak hamil ketika main film "Lupus II Makhluk Manis Dalam Bis?".

Diingat-ingat sembari di pelototi film itu lagi, benar juga. Firdha memang benar lagi hamil 7 bulan. Saking takut perutnya yang jendul itu kelihatan, maka berkali-kali ia menutup dengan tas dan baju kompryangnya. Tapi perut biasanya tak bisa diumpetin. Saat di bonceng sepeda motor oleh tokoh Boim (Agyl Syahriar) maka lewat kamera yang setengah close up nampak perut Firdha yang hamil menjelang tua. 

Tidak dengan film itu saja perut Firdha nampak membesar. Dalam film "Kecil-kecil jadi pengantin" Firdha juga tengah mengandung putranya yang kedua. Agak beruntung dalam film ini dikisahkan Firdha yang dari anak muda lalu menjadi istri muda (maksudnya seorang wanita muda yang baru menjadi istri).

Saat adegan Firdha main sepakbola jelas sekali perutnya tak bisa disembunyiin. Celakanya lagi ia diharuskan memakai jelana pendek, jadi repot menyembunyikan perutnya. Maka saat diadakan pemutaran awal film Lupus di Jakarta oleh Majalah Film, banyak yang berkomentar setelah nonotn film itu, "Wah repot, Adik Lupus, Lulu diam-diam sudah hamil. Jangan-jangan yang menghamili si Boim atau Lupus sendiri. "Tapi tentu saja komentar ini perlu diberi peringatan, Husshhh!. Artinya, setidaknya pengamatan da kejelian penonton film telah mulai tajam. Bukti bahwa untuk bikin film baik harus lebih hati-hati dan teliti. 

Orang tentu tak akan menyangka bahwa Firdha yang masih kelihatan gres ini sudah bersuami. Waktu suting Lupus I di Jl. HOS Cokroaminoto saja, Lulu eh Firdha serign diantar jemput oleh suaminya. Namun sejauh itu Firdha tak mau buka suara. 

Betapapun bintang muda satu ini memang pantas di perhitungkan kehadirannya diantara segerombolan bintang baru dan ia nampak lain lewat bakatnya. 

Tampang Firdha baru dikenal lewat film Pesona Natalia, baru sebagai taraf figuran. Seorang sutradara muda Eddi SS tertarik lalu memasangnya dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" yang memperoleh tolehan dari banyak wartawan film. Klimaknya adalah ketika ia menokohkan peran Lulu, Adik Lupus dalam film Lupus I dan II meski tidak nongol banyak. Kemudian di film Kecil-kecil jadi Pengantin mendampingi Richie Ricardo. 

Sosok Firdha sekaligus bukti kecil tak benar artis yang sudah berkeluarga dijauhi penontonnya. ~sumber MF 51/19/Tahun ke IV, 11-24 Juni 1988

MISTERI DI MALAM PENGANTIN, SUTING 18 HARI, REKOR TERCEPAT FILM HOROR


 MISTERI DI MALAM PENGANTIN, SUTING 18 HARI, REKOR TERCEPAT FILM HOROR (Berita Lawas). Lewat tangan Manisnya, Atok Suharto telah membuktikan sinetron RCTI Si Manis Jembatan Ancol menjadi tayangan baru dalam tema horor. Beigtu mengudara, pemirsa TV langsung tak beranjak. Sinetron karya sutradara jebolan Fak. Sinematoraphy IKJ ini telah menemukan resepnya. Namun, tidak begitu dengan film. Meski Atok Suharto telah beberapa kali menggarap film tema horor, Atok belum menemukan resep yang mujarab. 

"Secara penuh sih belum, tapi saya mencoba tetap mencari bentuk baru dalam tema horor," kata sutradara yang telah menggarap berbagai tema film ini. 

Lewat film garapan terbarunya, Misteri di Malam Pengantin produksi PT. Soraya Intercine Film, Atok Suharto mencari alternatif baru dalam tema horor. 

Begitu kontrak dua film, Atok langsung membikin gebrakan baru, memproduksi film horor dengan 18 hari suting. Angka yang menakjubkan. Dalam sejarah membikin tema horor, Atok memecahkan rekor tercepat menggarap film horor. Arizal saja yang dikenal sebagai sutradara komedi supercepat bila menggarap film Warkop DKI paling cepat membutuhkan waktu sebulan. 

Ketika Atok menggarap Si Manis Jembatan Ancol ia membikinnya seperti menggarap sebuah film. Hanya saja alatnya yang beda, katanya. Barangkali dari sinetron itu ia menemukan kiat baru. "Bisa juga, tapi yang jelas dengan kru saya sudah kerjasama yang cukup lama. Jadi keinginan saya tidak sulit diterjemahkan semua kru. Sebab semua kru meruakan kelompok saya."

Soal peralatan Soraya Film tak diragukan, mereka memiliki seabrek perangkat yang cukup canggih di negeri ini. Dengan kamera Afifflex III terbaru, plus lampu-lampu gress, soal mutu gambar boleh dijamin. 

Sedianya film Misteri Di malam Pengantin akan digarap oleh Sisworo Gautama Putra , karena keburu di panggil Sang Pencipta, tongkat diserahkan kepada Atok. Skenario Misteri Di Malam Pengantin merupakan peninggalan terakhir dari Sisworo Gautama Putra, ketika menulis dengan nama samaran S. Gatra. 

Dana yang cukup tidak membuat Atok langsung cepat puas ketika mengambil gambar. Ia ingin menunjukkan keberadaannya sebagai sutradara horor. Contohnya ketika memunculkan adegan suspence, tidak hadir dengan sekonyong-konyon. Melainkan di bina dari awal. Ia tidak menghadirkan secara tiba-tiba. "Dari Scene-scene sebelumnya saya sudah bina rasa takut penonton, " katanya. 

Dalam film ini, Atok leih banyak bermain dengan Glas Shot. Bukan menghindari trik. Trik tetap ada hanya sebatas apa yang ada di skenario. "Saya tidak takaburmembikin film horor ini begitu cepat. Cerita maupun lokasi suting sangat mendukung sekali cepatnya suting 70% lokasi suting mengamil set di Puncak, Jawa Barat. 

Handalan lain yang memiliki nilai jual adalah kehadiran Kiki Fatmala sebagai bintang utama. Sebab selama ini ia hanya berlakon sebatas tema drama an komedi. Bentuk  tubuhnya nan sensual dengan kostum transparan lewat siraman tata lampu yang apik menjadikan gambar manis di pandang. 

"Saya kaget mendapat tawaran main film tema horor, belum pernah sih.?. Untung MasAtok banyak memberikan pengarahan kepada saya. Sebab, main lakon horor muka harus bisa berekspresi dingin namun punya dendam. Karakternya adalah dendam yang diperkosa, " kata artis yang sibuk suting sinetron Ada Ada Saja ini. 

Max J Pakasi, selaku kameraman tidak mau tinggal diam. Usaha untuk membikin adegan artistik merupakan tantangan yang tidak diabaikan begitu saja dalam mensut film Misteri Di Malam Pengantin ini.

Untuk pengadegan Love Scene, Max menghadirkan shot lain dari biasa dalam tema horor. Sebab tak jarang sineas negeri ini  mengabaikan begitu saja pengadegan love scene sehingga terkesan vulgar. 

Para bintang yang bercokol dalam film ini diantaranya Kiki Fatmala (Kinanti), Ibra Azhari (Boy), Christine Terry (Fluorent), Ervan Yudha (Dolof), Andi Jurpi (Jaky), Vira Suzanna (Cici), Linda Flexiana (Yuke) dan Yohana (Omi). 

Di bagian Kru , Atok Suharto (Sutradara), Max J Pakasi (Kamerawan), Affandi SN (Penata Artistik), Muryadi (Editor), Chossy Pratama (Penata Musik), Agusti Tanjung (Asisten Sutradara) dan CJ Beslah (Pimpinan Produksi). 

Sinopsis : 

Segerombol anak-anak muda kaya dalam keadaan mabuk memper kosa gadis SMP bernama Kinanti, di sebuah Vila. Saat di per kosa Kinanti berusaha menyelamatkan diri. Tapi secara sadis Kinanti di gilir sampai akhirnya mati dalam kecelakaan. 

Begitu mengetahui Kinanti mati, Boy, Joky dan Garmin kemudian menguburkannya. Lima tahun kemudian, tatkala gerombolan anak muda itu telah berada di bangku kuliah, Kinanti datang untuk membalas dendam. 

Dendam Pertama kepada Boy, Kinanti datang tatkala Boy sedang menikmati bulan madunya dengan Flourent. Cara membunuh Boy, Kinati berwujud seperti Flourent. Tanpa diketahui Boy, ia berkencan dengan Kinanti. Pada saat bulan madu itulah Boy mati mendadak. Hal ini membuat gempar gerombolannya. 

Satu persatu Kinanti datang menteror gerombolan yang pernah memperkosanya. Semua panik dan ketakutan. Namun ada yang tak percaya. Setelah membuktikan Kinanti akan membalas dendam semuanya jadi panik. Dalam kondisi dihantui ketakutan, semuanya mencari jalan selamat. Tapi rupanya Kinanti tetap saja buas menjangkau manusia yang pernah memperkosanya, kemanapun mereka pergi. ~sumber MF177/144/THIX, 17- 30 April 1993

Monday, May 4, 2026

BETHARIA SONATA, MAU TIDAK MAU HONOR SAYA HARUS 25 JUTA!

 


BETHARIA SONATA, MAU TIDAK MAU HONOR SAYA HARUS 25 JUTA! (berita lawas). Para penyabet Piala Citra boleh bangga karena setelah itu honornya bisa sedikit naik. Bintang film terlaris sekali pun boleh bangga honornya sekali main bisa mencapai Rp. 20 juta. Tapi Betharia Sonata, yang lagi main film sebijipun, bisa berbangga diri bahwa honornya sekali main film 25 juta rupiah. 

Betha memang orang baru di film. Ia barusan merampungkan film "Kamus Cinta Sang Primadona" yang digarap cukup norak. Dalam film ini Betha cuma dibayar Rp. 2,5 juta dengan perhitungan kalau soundtrack lagu film ini laris akan dapat royalti khusus. 

Malah, ketika Sophan Sophian akan menggaet Betha untuk menjadi peran utama dalam film "Ayu dan Ayu" yang sudah ditandatangani, kemudian batal karena kesibukan Betha, cuma dibayar 5 juta rupiah. 

Kini semua bintang boleh iri, Betha mampu menaikkan honor di filmnya menjadi Rp. 25 juta. Satu hal yang barangkali belum ada sejarahnya dalam film nasional menggaet bintang gress dengan bayaran segitu.

Ini memang honor kaget Betha untuk film keduanya berjudul "Biarkan Dia Cemburu" yang disutradarai oleh Chris Heldewery yang pernah  menggarap "Telaga Air Mata".

"Biarkan AKu Cemburu" berdasar novel Eddy D Iskandar yang sekaligus menuliskan skenarionya . Produsernya adalah Tommy Indra, yang pernah menggarap film "Gita Cinta Dari SMA", "Puspa Indah Taman Hati", "Gadis Marathon" serta "Gepeng Bayar Kontan", selain 8 film lainnya. 

Film ini berkisah tentang romantika anak-anak IKJ (Institut Kesedian Jakarta) jurusan Tari. Tapi lupakan dulu soal ceritanya. 

Honor yang cukup selangit ini sendiri membuat banyak produser protes. "Ini bisa merusakkan harga" ujar beberapa produser. Tapi Tommy yang kegiatannya sebagai petani tambak di Lampung tenang-tenang saja. "Ya saya kira kalau Betha minta segitu dan saya anggap pantas ya bayar saja, ujar Tommy yang pernah diisukan bangkrut dari kegiatan film. Ya ini sekaligus membuktikan saya tidak bangkrut. Biar orang lain tahu saya bisa bayar artis dengan harga pantas," kilah Tommy yang membayar Betha dengan cash sesuai permintaannya. 

Beberapa orang film menyangsikan bahwa Betha yagn sering tour show nyanyi, bisa mentaati jadwalnya. "Pokoknya saya janji bisa taat jadwal suting, ujar Betha yang ditirukan Tommy. Betha sendiri pernah ingkar janji, ketika pembuatan "Ayu dan Ayu" sehingga ketika Sophan Sophian jengkel, Betha dibatalkan dan diganti Dewi Yull. 

Rencana Suting Biarkan Aku Cemburu adal November 1988 di Lampung dan Jakarta. Film ini didukung oleh Dede Yusuf, Nicky Astria, Uci Bing Slamet dan Dolly Marten. ~sumber MF 61/29 Tahun V , 29 Okt - 11 Nov 1988

Sunday, May 3, 2026

SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN


 SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN. Gara-gara manipulasi di perusahaannya bekerja terbongkar, Supandi di pecat. Terpaksa ia pulang kampung dengan membawa isterinya. Amalia. Saat menggali sumur, Pandi menemukan satu kepala manusia yang sepasang matanya memancarkan sinar. Pandi diperbudak oleh kepala manusia berhawa jahat ini. 

Di ungkapkan kisah puluhan tahun lalu. Tarjo difitnah oleh saudara seperguruannya sendiri, Parman. Kekbalan tubuh Tarjo di punahkan oleh Parman dengan cara mengolesi goloknya memakai darah perawan Ijah, adik kandung Tarjo sendiri. Tarjo dipenggal. Kepalanya menggelinding jatuh ke jurang yang kemudian tertimbun oleh tanah longsor. Kepala Tarjo yang masih tetap utuh inilh yang sekarang menuntut balas dengan memperalat Pandi. 

Musuh-musuh Tarjo yang masih hidup satu persatu menemui kematian mengerikan, bahkan juga keluarganya. Juragan Parman yang kaya raya menuduh Mak Ijah, gelandangan tua, sebagai si pembunuh. Untung ada Ustadz Jayusman, guru silat yang membela Mak Ijah. 

Keganasan Tarjo semakin menjadi karena ia selalu haus darah. Tak puas cuma kepalanya yang bergentayangan, ia ingin bersatu lagi dengan tubuhnya. Pandi harus menggali kuburnya. Tepat pada saat itulah menyerbu Parman. Datang pula Amalia, Mak Ijah dan Jayusman yang bertekan mengakhiri teror horor kepala Tarjo. 

Film Produksi PT. Kanta Indah Film ini diangkat dari novel Abdullah Harahap yang memang sudah banyak menulis cerita seram. Di dukung oleh bintang-bintang campuran Indonesia-Malaysia, Hengky Tornando, Raja Ema, Sutrisno Wijaya, Wenny Rosaline, Ferry Irawan dan M. Rojali. 

Tak ketinggalan Torro Margens yang selain menyutradarai juga ikut berperan sebagai sang ustadz. Lewat mulutnya berucap "Kepala Tarjo yang kita lihat hanyalah wujud pinjaman setan. Menjelang akhir hidupnya ia menyerah pada kemauan setan. Dan setelah itulah yang kini berkeliaran melakukan pembantaian di sana sini sebagai imbalan penyerahan Tarjo. Jadi masalahnya berpulang pada manusia sendiri. Kekuatan mana yang ingin diraihnya dalam hidup ini. Iman kepada Tuhan atau menyerah pada kemauan Setan?.

Pada penutup film dibacakan surat Al Hijr ayat 39 yang artinya "Setan takkan pernah menyerah. Dia akan datang lagi setiap saat untuk menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Dan dia pantang menyerah, kecuali oleh orang-orang yang beriman!".


Saturday, May 2, 2026

SENTUHAN KASIH

 


SENTUHAN KASIH

Tema : Drama

Produksi : PT. Inem Film

Produser : Ny. Leonita Sutipo dan Sonny Effendy

Skenario/Sutradara : Willy Wilianto

Sinefotografi : Bambang Trimakno

Penyunting : Mulyadi

Pemain : Dian Ariesta, Minati Atmanegara, Zulferdi Amos, WD Mochtar, Wolly Sutinah, Pietrajaya Burnama, Pong Harjatmo, Hadisyam Tahax


Cerita : 

Arie (Dian Ariestya) hidup berdua dengan ibu kandungnya, Susi (Minati Atmanegara). Mereka menolong seorang lelaki tua, Darma (Hadisyam Tahax) yang numpang tidur di rumah. Dan kemudian Darma dijadikan pembantu rumah tangga sementara. 

Pada suatu hari nafsu jahat Darma timbul. Ia memperkosa Arie! dan ketika coba mengganggu Susi, Darma ditikam mati oleh Arie. Demi untuk menolong anaknya, Susi cepat merebut pisau berdarah itu, agar dikira polisi bahwa dialah pembunuhnya. 

Susi ditangkap dan ditahan polisi, akan diajukan ke pengadilan.  Sementara itu Arie mencari pekerjaan, untuk mendapatkan uang guna membiayai pengacara. 

Pertama-tama Arie kerja di rumah Tuan Herman (A Hamid Arif) seorang duda tua. Tuan Herman jatuh cinta dengan Arie. Dan diterima karena dia janji akan menolong Susi. Mulai saat itu Tuan Herman banyak makan obat kuat, padahal ia mengidap penyakit jantung. Akhirnya ketika birahinya bergejolak terhadap Arie, Tuan herman meninggal karena overdosis makan obat kuat. 

Arie ganti kerja pada Benny (WD Mochtar), seorang dukun modern. Benny juga jatuh cinta pada Arie. Juga diterima dengan baik, karena janji mau menolong Susi. Tapi Benny ternyata mengecewakan Arie, karena ia sering berbuat yang tidak-tidak kepada para pasien wanitanya. Pada akhirnya Benny ditangkap polisi karena mengganggu pasiennya seorang wanita yang masih bersuami. 

Arie cari pekerjaan lain. Dalam pengembaraannya ia ketemu dengan Teddy (Pong Harjatmo) seorang mahasiswa putra pengacara terkenal Gani Sembada SH (Pietrajaya Burnama).  Teddy jatuh cinta pada Arie. Ayah Teddy menolong Arie, mengurus perkara Susi. Tapi ternyata sewaktu mereka akan besuk Susi, wanita yang malang itu telah di bebaskan dari penjara!. 

Gani Sembada SH yang akhirnya mengenali Susi mengatakan bahwa Susi dibebaskan karena Darma yang dibunuh ternyata seorang buronan polisi. Seorang Residivis yang berbahaya. Arie dan Ibunya sangat merasa bahagia. 


Ada yang pernah menontonnya?


LAURA SI TARZAN, LAWAN AMASON DI RIMBA


 LAURA SI TARZAN, LAWAN AMASON DI RIMBA, Ada pesawat jatuh ke rimba belantara. Satu-satunya yang hidup cuma Laura, si gadis cilik. Tahu-tahu dia sudah tumbuh dewasa dan bergelayutan dari pohon ke pohon sebagai Tarzanita. 

Datang rombongan ekspedisi dipimpin Profesor Kribo. Mereka terjebak suku Amazon yang terdiri dari wanita-wanita buas. Ada yang diperkosa rame-rame, ada pula yang di bantai untuk pesta. 

Johny , anak profesor, mengajak pemuda-pemuda kawannya untuk menyusul. Menerobos rimba dengan dua jeep. Juga tertawan oleh suku Amazon. Kecuali Johny yang keburu diselamatkan Laura. Rupanya si Tarzanita jatuh hati pada pemuda yang tubuhnya penuh tatoo ini. 

Sisa rombongan ekspedisi kudu ditolong. Namun suku Amazon tak membiarkan mereka kabur begitu saja. Terjadi pengejaran ditengah malam gelap gulita. baku bunuh ngawur-ngawuran. Satu persatu roboh termasuk si professor dan semua pemuda. Begitu pula halnya dengan suku Amazon, punah habis. Sekarang cuma tinggal Laura dan Johny yang menghuni rimba itu. 

MENGUMBAR NAFSU. Inilah film arahan pertama Willy Willianto setelah menyelesaikan masa skorsingnya. Masih sama  seperti film-filmnya di Inem dulu, untuk produk Budiana inipun, ia tetap mengumbar nafsu vulgar. Sebarisan cewek figuran yang bermain sebagai suku Amazon harus bergumul dengan busana sekedar rumbai-rumbai daun kering belaka. Dan astaga, ternyata suku Amazon yang antah berantah ini dipimpin oleh ... Ully Artha!.

Laura diperankan oleh Wieke WIdowati yagn sebagai Tarzanita tak punya pasukan binatang. Dalam rimba Pangandaran dan Pelabuhan Ratu memang tak ada gajah dan macan. Jadi kerja Laura cuma bergelayutan dan mengintai kegiatan suku Amazon saja, belakangan ditambah dengan pacaran dengan Johny Indo, pemeran anak profesor. Sang profesor sendiri dibawakan langsung oleh Willy Wilianto yang rambut aslinya memang keriting kribo. 

Untuk ngeramein ikutan main pula bintang-bintang langganan Budiana seperti George Rudy, Baron Hermanto, Emmy Husein, Sherly Sarita, Herman Permana, Hengky Naro, plus belasan cewek figuran yagn bermodalkan keberanian pamer tubuh! . ~sumber MF 109/77 Tahun VI, 1 -14 September 1990

Tuesday, April 28, 2026

SUTING TERAKHIR "TAKSI"


 SUTING TERAKHIR"TAKSI", (Berita Lawas). Larut malam di minggu ketiga bulan Agustus 1990, ada kesibukan di jalan Blora. Sebuah taksi "Kosti" mondar mandir di jalan itu sampai belasan kali. Diamati dengan cermat dari pinggiran oleh belasan orang. Ternyata sopir taksi yang berpotongan rambut crewcut itu bukan lain daripada Rano karno. Sedangkan yang terus memberikan pengarahan adalah sutradara Arifin C Noer, lalu yang terus mengintip dari lubang intai kamera adalah kamerawan George Kamarullah. 

Itulah suting terakhir film gressnya Arifin, "Taksi" yang diangkat dari cerbernya Eddy Suhendro di harian "Kompas". Suting baru rampung pada pukul 03.00 dinihari, menjelang subuh!. Hebatnya, para pemain dan kru tak menampakkan tanda-tanda kepayahan. Tapi diatas mereka semua adalah Rahma Melati, seorang bocah yang baru berusia setahun, yang menjadi maskot film ini. 

"Melati benar-benar boleh dibilang bayi ajaib. Tidak kalah dengan si Michelle, bayi perempuan yang pintar sekali (dalam komedi serial TV "Fullhouse). Semua kami jatuh hati pada anak ini, cetus Hengky Solaiman produser pelaksana PT. Raviman Film. 

Rencana semula hendak memasang anak Ikang Fawzi-Marissa Haque, tai dibatalkan,diganti Rahma Melati ini. "Bukan anak orang film, anak orang biasa saja kok, " ujar Rano yang sering gemas pada si kecil. Maklum sejak lama sekali sudah mendambakan kepingin punya momongan, tapi belum juta terkabul. "Anak ini kelewat menyenangkan, cepat sekali akrab dengan saya.".

Dalam ceritanya, Rano jadi sopir taksi Giyon, suatu malam mengantar seorang wanita ke klab. Wanita itu, Dessy (Meriam Bellina) sebenarnya seorang biduanita. Lama tak keluar lagi, Giyon tak sabaran menunggu, menjalankan taksinya untuk cari muatan baru. Padahal di belakang ada anak Dessy yang tidur lelap. Maka terbawalah si bayi menjadi beban sisopir taksi. 

Sepanjang suting, Melati didampingi babysitternya, selain tertawa dan bercanda riang. Justru suatu sat ia diharuskan menangis. Tentu saja Arifin tak bisa memerintahkan, "Ayo kamu harus berakting menangis. Apa akal?.

Jajang Pamontjak alias nyonya sutradara yang magang sebagai scriptgirl (pencatat adegan) bertindak cepat, diam-diam mencubit paha Melati. Karuan saja ia menangis kesakitan. Kesempatan ini buru-buru digunakan Rano untuk berakting. 

Ketika adegan menangis harus diulang. Jajang pun mau cubit lagi. Kendati maklum Jajang melakukannya karena terpaksa , namun terlanjur sayang pada Melati, tak urung Rano mendesis "Sadis lu! Anak orang dicubitin terus!. 

Akting Rano yang lain dari biasanya dalam film ini. ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990


Monday, April 27, 2026

PEMBUATAN PUSAKA PENYEBAR MAUT


SELAMATAN PEMBUATAN FILM PUSAKA PENYEBAR MAUT, (Berita Lawas). Pada awal berdirinya, Ram Soraya dari PT. Soraya Intercine Film sudah pernah memproduksi film dakwah kolosal "Sembilan Wali". Tapi kemudian ia lebih banyak bikin film-film bertema komedi (Warkop) dan horor mistik (Suzanna). Baru sekarang untuk produksi terbarunya "Pusaka Penyear Maut", bertekad bikin kejutan lagi. 

Sutradara andalannya, Sisworo Gautama Putra yang juga sudah menjabat sebagai produser pelaksana, menyebutkan "Untuk produksi kolosal ini disediakan bujet sebesar satu setengah milyar rupiah!".

Bintang-bintang mahal dipasang sebagai tokoh-tokoh utama adalah : Suzanna, Fendy Pradhana, Murtisari Dewi, Willy Dozan dan puluhan bintang pembantu plus ratusan figuran. 

Upacara selamatan berlangsung di Rumah Yatim PIatu Muslimin di Kwitang, Jakarta Pusat. Maka Minggu Siang, 12 Agustus 1990 itu puluhan anak-anak yatim piatu bisa berhadapan muka langsung dengan bintang-bintang populer dari layar putih. Menjadi itikad baik produser untuk menyisihkan sebagian dananya sebagai sumbangan kepada Panti Asuhan tersebut. Tapi yang membuat anak-anak sangat girang adalah munculnya Dono Warkop yang bertindak sebagai Pembawa Acara. 

"Cerita film ini berpusat pada keris pusaka Empu Gandring yang terus menyebar maut pada zaman Singasari, " ungkap Sisworo yang menunjuk Willy Dozan sebagai tokoh Ken Arok, sedangkan Suzanna sebagai Nyi Polok. 

"Saya bermain sebagai puteri Nyi Polok yang menjadi kekasih Fendy, " sambung Murti Saridewi,. Jadi kalau dalam serial "Saur Sepuh " sebagai Lasmini ia terus mengejar cinta Brama Kumbara yang diperankan oleh Fendy Pradana, sekarangnlah baru kesempatan untuk 'bermesraan' diperoleh Murti. 

"Kalau saya justru film pertama saya main bersama Suzanna, " ujar Fendy yang debutnya lewat "Malam Satu Suro" dan mengakui Sisworo sebagai sutradara pertama yang mengontraknya main film. 

Willy Dozan yang datang berdua dengan Betharia Sonata, cuma senyum-senyum saja. "Peran untuk saya tidak banyak kok, boleh dibilang cuma sebagai bintang tamu saja, " ujarnya merendah. 

Suting dimulai pada awal September 1990 di lokasi Pelabuhan Ratu, Pangandaran dan Ciseeng. (Ada yang nonton sutingnya?~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990


     

YENNY FARIDA


 YENNY FARIDA (Berita lawas),,  "BOM SEKS" begitu julukan bintang yang satu ini. Yenny Farida hadir didunia film nasional memang dengan penuh keberanian, hingga di adijuluki artis spesialis adegan panas. 

Memang, bicaranyapun ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling, baik dalam persoalan pribadi maupun soal keresahannya di dunia film. 

Yenny tidak takut sama cowok, kendati dia sering gonta ganti pasangan, tapi tetap tidak kapok. "Biarin, kalau pergi gampang cari laki-laki lain" katanya tegas. Ketika ditanya bagaimana resepnya menaklukkan lelaki, Yenny cuma menjawab dengan senyum. Tapi dia mengakui bahwa untuk itu ada ilmunya, tapi bukan ilmu dukun tentunya. 

Namun begitu, bukan berarti dia mau "blangsak" terus, hatinya sama seperti hati manusia lainnya. Dan dia sadar bahwa pada lubuk hatinya juga teringat akan kebesaran Allah. Karenanya diapun punya niat untuk menunaikan ibadah haji, rukun islam ke lima. Sayangnya maksud tersebut belum kesampaian. 

Yenny, sempat terbaring di rumah sakit. Katanya kena penyakit ginjal hingga di aperlu di rawat di MMC Kuningan. Hampir satu minggu dia dirawat disana, bahkan harus diinfus segala. Sakitnya kebetulan jatuh pada akhir bulan puasa, hingga mau tak mau dia harus lebaran tergeletak di rumah sakit. Inilah yang banyak membawa hikmah bagi diri Yenny. 

Anehnya, saat ketemu Yenny di lokasi suting film, "Angkara Membara" arahan sutradara Yoppy Burnama beberapa waktu lewat, Yenny tampak cerah dan badannya agak gemuk. 

"Memang aneh kok saya sendiri nggak ngerti, badan bisa tambah lima kilo beratnya. Celana dalamyang biasa saya pakai no. 29 sekarang mesti pakai nomor 3 ucapnya gurau".

Sekarang, walau keadaanya belum sehat betul, pinggang masih terasa sakit-sakit, pegel begitu, tapi kalau sudah bicara suting maka penyakit itu lenyap. Yenny nongol di lokasi suting jadi bintang tamu film "Angkara membara" produksi PT. Surya Artiwibawa Film. Gimana sih, gua kan nggak bisa lari dari dunia film, sebab dunia ini yang membesarkan dan membuat populer, hingga gue terkenal sampai sekarang ini, " begitu kata Yenny. 

Dari Perjalanannya di dunia film, Yenny sudah banyak mengisi frame perfilman nasional. Boleh dikatakan segala tema dan sudah menjadi ciri bila Yenny muncul pasti punya daya pikat tersendiri. Untuk film pengalaman baru inidimanfaatkannya benar walau sebagai bintang tamu. 

Sudah banyak film yang dimainkan Yenny, tapi rata-rata film itu memanfaatkan kemontokan dan kemulusan tubuh Yenny, barangkali inilah yang menjadi salah satu daya pikat. ~MF ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990



Friday, April 24, 2026

TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, MENENTANG FILM IMPOR


 TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, (Film Lawas). Mencari nilai jual yang tinggi merupakan angan-angan pertama yang melintas di benak pedagang. Termasuk produser film, tentunya. Pemikiran mereka sangat sederhana dan wajar, ingin untuk. Syukur bila keuntungan besar. 

Untuk meraih apa yang diharapkan, para produser itu selalu berusaha menggali dan menampilkan sesuatu yang baru dan menarik. Memilih cerita yang baik, berbobot dan cukup populer dikalangan masyarakat luas, merupakan langkah awal dari upaya mereka. 

Bila produser telah mendapatkan cerita yang diharapkan dan dinilai cukup komersil, memilih bintang pendukung pun segera dilakukan. Tentu saja, pilihan jatuh kepada aktor dan aktris yang masih menjadi idola masyarakat. Soal resiko salah casting, bagi produser biasanya menomorduakan. Yang penting bagi pedagan ini adalah Filmnya bisa laku. 

Judul yang komunikatif dan gampang memasyarakat, juga diyakini sebagai salah satu faktor penting atas sukses tidaknya peredaran film tersebut. Begitu besar pranan sebuah judul, sering menimbulkan keributan diantara sesama produser. 

Kitapun tak perlu heran mendengar terjadi jual beli judul film. Kabarnya pasarannya cukup tinggi. Sebuah judul bisa mencapai jutaan rupiah, bila produser menganggapnya punya nilai komersil. 

Dan soal judul ini, sering pula dikaitkan dengan urusan mistik. Judul yang baik, komunikatif dan komersil, menurut keyakinan produser, setengah perjalanan untuk mencapai sukses. Sebaliknya, judul yang aneh-aneh konon sering pula berdampak negatif dan membawa malapetaka. 

Dalam upaya mencari nilai jual yang tinggi itu, Gope T Samtani, Produser PT. Rapi Film nampak lebih serius. Mengontrak bintang termahal saat ini, Meriam Bellina juga dilakukan untuk mengangkat film Saat Kukatakan Cinta. 

Untuk Film keduanya, Tiada Titik Balik, Gope kembali mengimpor bintang bule, Cindy Rothrock bersama beberapa pemain bule lainnya untuk mengadu ketangkasan dengan aktor laga kita Advent Bangun. 

Masih dalam upaya mencari terobosan, Tiada Titik Balik yang melibatkan ribuan pemain, termasuk figuran, diboyong ke Amerika untuk penggarapan sound effect yang menggunakan system ultra stereo . Menurut Gope yang menguras kocek hampir  satu miliar rupiah, sekarang ini kita memang harus berani mencari terobosan baru dan mengeluarkan biaya yang relatif besar. 

Dengan menggunakan ultra stereo sound katanya, film ini diharapkan mampu menembus kelesuan pasar dan dominasi film impor di bioskop kelas atas. "Kalau bisa sukses di bioskop atas, biasanya di bioskop bawahnya juga sukses," katanya.

Sasaran lain yang ingin di capai, kata Gope penuh optimisme, menerobos pasaran luar negeri. Bahkan diharapkan dari pasaran luar negeri itu biasa produksinya sudah bisa tertutup, sehingga hasil pemasaran di dalam negeri sudah merupakan keuntungan. 

Menyinggung entang penyelesaian film yang agak lambat, Gope bilang "Prosessing tidak mengalami hambatan, hanya karena banyak pembuatan spesial effect dan animasi yang harus digarap di Hongkong dan ultra stereo sound-nya di Amerika, membuatnya lebih lama".

Ia mengaku dibandingkan dengan pembuatan biasa yang semua di kerjakan di dalam negeri film ini lebih lama sekitar satu bulan. "Biasanya , empat bulan setelah suting, sudah selesai copy A-nya tapi dengan menggunakan ultra stereo, baru selesai sekitar 5-6 bulan, ' jelasnya. 

Setelah berkutat di Amerika untuk menyelesaikan penggarapan ultra stereonya, Tiada Titik Balik tidak akan bisa langsung pulang ke Indonesia. Kata Gope, ia harus mampir lagi ke Hongkong, prosesing berikutnya sampai Copy A. ~MF No. 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Thursday, April 23, 2026

SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL

 


SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL, Hujan deras berganti gerimis, angin sepoi membawa uap air, bumi Jakarta pun kian dingin. Sementara dibalik malam yang dingin itu kru film terseok seok, penat dan letih membaur jadi satu. Ya, orang film harus bisa bekerja segala cuaca. 

"Ok! Kamera go (action) pekik Sisworo Gautama Putra selaku sutradara. Seorang pemeran pembantu bertubuh kekar bergerak, sementara Suzanna menatap dengan sorotan tajam. Ternyata Sisworo tahu persis meramu tema film horor. Penempatan kamera yang dipegang Partogi Simatupang begitu pas dengan seleranya. Suting pun berjalan mulus dengan target 26 hari harus selesai. 

Sekali ini Sisworo dihadapkan pada tantangan untuk mampu menghasilkan karya baik dengan waktu yang singkat serta anggaran standar. Soal akal-akalan set, misalnya sebuah bangunan mewah yang belum rampung bisa disulap jadi set angker sebagai markas para bandit. 

Meski malam telah larut, penata artistik masih bekerja, menyiapkan boneka-bonekaan dan perangkat efek lainnya. Skedul suting tidak rapi. Berantakan karena para pemainnya sebagian suting di tempat lain. Tak jarang suting break gara-gara pemain. 

"kita sudah membuat dua ribu tigak kali glass shot, masak kalian tidak bisa. Ayo cepat dong, " teriak Sisworo memlihat persiapan adegan glass shot, dimana Suzanna masuk ke dalam jasad orang lain. Ia ngomel karena siraman tata lampu tidak tepat membuat pengambilan gambar terganggu. Satu jam untuk persiapan glass shot, membuat Suzanna letih. Berkali-kali latihan dan istirahat . Pada saat-saat tertentu Sisworo galak di lokasi suting. Tekadang omelannya mujarab juga untuk kerja cepat dengan hasil maksimal.

Malam itu pengambilan gambar dengan glass shot termasuk cepat. "Bukan kita takut dengan omelannya, sehingga kerja jadi cepat. Temperamennya memang begitu, tapi terkadang ada gangguan teknis yang menghambat suting, " ujar seorang penata lampu. 

Paling seru selama suting berlangsung adalah adegan pembotakan rambut pemeran pembantu. Suasana ketika itu agak ramai, sebab adegan pembotakan itu dilakukan masyarakat di lingkungan suting berlangsung. Ada yagn tertawa, prihatin dan kagum kepada seorang ibu  rumah tangga yang mau kepalanya di botaki! Tapi bagi Sri Rahayu Agustin yagn menjadi korban merupakan kebanggaan. "Sebab cukup lama saya ingin mendapat peran besar tapi baru sekali ini saya dapati, " katanya. 

Film Ajian Ratu Laut Kidul yang di produksi PT. Libra Inter Delta Film dibintangi oleh Suzanna, Clift Sangra, Tino Karo, Ratu Dhenok, Saigian Sugaja, Yornania, Johny Indo, Rita Sheba, Erfan Yudha dan Sri Rahayu Agustin Film horor ini dipenuhi balas dendam dari wanita yagn sakit hati kepada orang yang menjerumuskannya sehingga wajahnya cepat dan jabatanya sebagii Lurah di comot.

Karena tak tahan, eks lurah ini pergi meninggalkan desanya sampai  suatu ketika berjumpa dengan lelaki tua jelek yang monolongnya, dengan syarat mau dipersunting. Apa salahnya menerima  lamaran  itu . Tiba-tiba wajahnya menjadi cantik seperti Ratu laut Kidul. 

MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Saturday, April 18, 2026

AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR


 AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR, 

Amrin Membolos, kata Bu Guru, Jangan membolos, Menyusahkan Ibu....

Itulah bait awal lagu anak-anak Amrin Membolos karya Pak Kasur yang pernah populer pada 1960an. Seperti diketahui guru Taman Kanak Kanak paling terkenal di Indonesia itu, juga menciptakan banyak lagu anak-anak, dua diantaranya yang merupakan karya abadi adalah Naik Delman dan Naik Becak. 

Kembali pada lagu Amrin Membolos, kemudian juga dijadkan theme-song dan judul film anak-anak yang dibuat sendiri oleh Pak Kasur pada tahun 1961. Saat itu film Indonesia masih hitam putih. Murid-murid Sekolah Dasar pun digiring guru-guru mereka beramai-ramai menonton film tersebut ke bioskop. Perlu diketahui, bahwa Pak Kasur juga sempat berkiprah di dunia film. Antara lain karya filmnya adalah Siulan Rahasia dan Harmonikaku (dibuat ulang dua kali). 

Setelah 35 tahun kemudian, Amrin Membolos pun di remake (dibuat ulang) , tentu saja dengan versi baru yang di sesuaikan dengan zaman. Bertindak selaku produser adalah Bu Kasur yang bertekad mewujudkan amanat almarhum suaminya. 

"Semasa hidupnya, Pak Kasur punya dua obsesi yang sering di cetuskanny apada saya, " tutur Bu Kasur. "begini katanya", Mbok ya aa film anak-anak Indonesia Lalu yang kedua, kapan ya ada lagu anak-anak Inodnesia yang digelar dengan simphoni orkestra lengkap'. Sekarang, sudah seribu hari terlampaui dari wafatnya Bapak, namun belakangan ini justru amanatnya itu terngiang terus di benak saya".

Gagasan untuk membuat film anak-anak yang menjadi idaman Bu Kaur ini mendapat sambutan dari Agus Setiawan, direktur Sea World, Ancol. Modal pembuatan sebuah film Indonesia masa kini yang minimal 200 juta, bisa di sediakan oleh Agus. Berlanjut dengan dihubunginya Sjamsuddin, Kamerawan kawakan yang punya perusahaan film Sjam Studio . 

Maka Yayasan Setia Balita Pak Kasur memprokamirkan pembuatan film anak-anak Indonesia yang sudah sangat langka dibuat untuk masa kini (terakhir tercatat cuma Si Badung 1989 karya Imam Tantowi). 

Di dapuk sebagai dalangnya Yonky Souhoka, sutradara muda yang biasanya engarahkan film-filmnya Sally Marcellina. 

Sebagai kamerawannya tentu saja Sjam sendiri. Sedangkan ide cerita asli dari Bu Kasur di tulis skenario barunya oleh Rizky Prasetya. 

Bagaimana dengan Amrin Membolos versi 1996)

Tampil seorang bocah berambut rada gondrong yang bernama keren Don Bogard. Tapi jangan salah paham dia bukan bule atau blasteran, karena memang anak kandung Sjamsuddin sendiri. 

"Saya sudah duduk di kelas 6 SD 07 Pagi," seru Don ketika memperkenalkan dirinya. Dipilihnya Don memerankan Amrin, karena ia punya ketrampilan main sepatu roda in-line. Hobinya ini dikembangkan saat bergabung dengan Kelompok Sepatu Roda Monas Group asuhan Dr Pohan. 

"Ceritanya, Amrin membolos karena tergila-gila main sepatu roda. Lalu secara kebetulan melihat kawanan penjahat sedang merampok sebuah rumah. Akibatnya ia dikejar-kejar penjahat. Tapi dengan kelincahannya bermain sepatu roda, Amrin selalu bisa lolos malah penjahatnya jatuh bangun sendiri, " tutur Bu Kasur. 

Sjam merancang adegan seru, seperti Don melayang bagai terbang dengan sepatu rodanya melompati atap mobil. Sebagai penolong Amrin pada klimaksnya adalah pamannya sendiri yang diperani bintang karateka ADVENT BANGUN. Sedangkan ayah ibunya dimainkan oleh NIZAR ZULMI dan DEBBY CYNTHIA DEWI. 

"Tak lupa kami berterima kasih sekali pada Rano Karno yang telah meminjamkan bintang-bintang sinetron serial Si Doel seperti Mandra, Suti Karno dan Pak Tile untuk ikut bermain di film ini. "

Diramaikan lagi oleh nenek rocker Laela Sari, kawanan penjahat dimainkan oleh wajah-wajah kriminil, Herman Bule, Firmansyah, Satrio dan Amir Koto. Gadis pra remaja Putri Ayu bermain sebagai kakak Amrin dan si cilik Imbow sebagai adik Amrin. Banyak murid-murid Yayasan Setia Balita disertakan juga rombongan Cheerleader Tuti Girl dengan ilustrasi musik tatanan Sudharnoto. 

Suting di Jakarta dan sekitarnya yang dimulai pada 11 Maret 1996 dengan di kebut karena direncanakan filmnya bisa ditayangkan pada 26 Juli bertepatan dengan ultah Pak Kasur (tercatat kelahiran Serayu, Banyumas, 26 Juli 1914). ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

Ada yang sudah nonton filmnya?


Friday, April 17, 2026

GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG

 


GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG, Kesuksesan sebuah film nasional acap dipengaruhi judulnya. Demikian mitos yang terdapat di perfilman nasional. Simak saja judul film nasional belakangan ini begitu bombastis dan penuh dengan adegan yang menggiurkan  hawa nafsu, meskipun terkadang materi cerita tidak sesuai dengan judul filmnya. Dengan judul film yang "luar biasa" itu diniatkan memancing minat penonton untuk melirik perfilman nasional. 

Film Gairah Malam III diproduksi PT. Elang Perkasa Film ini, ceritanya tidak ada kaitan dengan Film Gairah Malam  I dan Gairah Malam II. Hanya artis sexy Malvin Shayna pemain tetap film Gairah Malam I,II dan III. Diakui para booker film daerah, artis panas ini masih punya nilai jual yang cukup tinggi. Teruji dari sekian banyak film yang dibintanginya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan ke kocek produsernya. Akibatnya sering akhir-akhir ini Malvin Shayna tampil di layar perak sampai melahirkan anekdot, Malvin Shayna penyelamat film nasional. Karena dengan tubuh mulusnya menggairahkan penonton untuk datang ke bioskop. Gairah Malam III juga yang dibintangi Eddy Chaniago, Sonny Dewantara, Diaz Astuty, Malvin Shayna, Hengky Sonny RB, Thea Novita, dan Shinta DS ini. 

Ketiga serial film, Gairah Malam ceritanya secuilpun tidak memiliki continuity atau kesinambungan. Dipakainya judul Gairah Malam III hanyalah kiat produser mencuri perhatian. 

"Judul film Gairah Malam semacam ada 'garansi' dalam meraih keuntungan," komentar sutradara Prawoto Soeboer Rahardjo.

Adanya 'garansi' dari judul Gairah Malam bukan membuat sutradara jebolan IKJ ini berlaha. Dalam pengadeganan dan pembuatan trik-trik effect ia mencoba menampilkan gagasan baru. Antara alam mistik dan alam nyata. Dari materi skenario yang ditulis Prawoto, film ini 'bermain-main' dalam alam imaginasi. Rumusan seks dan kekerasan yang menjadi handalan tetap dipelihara. 

Materi cerita tentang perebutan pusaka. Mirip seperti kisah nyata Brandon Lee ketika suting film The Crow. Hanya saja alur ceritanya dilencengkan kealam mistik. 

Dalam suting sebuah film tiba-tiba pemeran utamanya tanpa di sengaja kena tembak dan mati. Kemudian dibawa kerumah sakit. Akan tetapi begitu Jodi sadar ia sudah berada disebuah alam gaib, alam antara hidup dan mati. Dalam alam itu ia bertemu dengan teman-temannya yang telah lama mati. ANehnya semua jadi mayat hidup. Hanya Jodi yang masih bernafas. Kiranya pembunuhan Jodi disengaja oleh Bu Darmi, seorang wanita yang memiliki ilmu tinggi. 

Bu Darmi dendam melihat Jodi anak musuh bebuyutannya sukses sebagai bintang film. Apa lagi musuh yang sekaligus kakak seperguruannya, Darman belum dapat dikalahkan. Sakit hati Darmi bermula karena merasa Darman mengabaikan anaknya yang dititipkan untuk menuntut ilmu. Akibat keteledoran itu anak Bu Darmi yang dititipkan kepada Darman sejak kecil menjadi gila. 

75% dari film ini penuh dengan adegan laga sedang sisa 25% untuk love scene. Sutradara muda ini mencoba memadukan unsur penuturan Amerika dan Mandarin dengan peralatan yagn ada di perfilman nasional. Para awak film yang terilbat dalam film ini adalah Prawoto Soeboer Rahardjo (Sutradara), Heru Susanto (Kamerawan), R.A Maktal (Penata Artistik), Chris (Penata Kelahi) dan Andy Burnama (unit Manager) ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

MIEKE WIJAYA


 MIEKE WIJAYA, Seorang aktor atau aktris harus senantiasa peka terhadap manusia dan lingkungannya, sebab dengan banyak mengamati kehidupan sehari-hari berbagai macam karakter dapat dihidupkan kembali bila ia dituntut berperan seperti tokoh yang pernah dilihatnya, begitu kata Mieke Wijaya pada suatu kesempatan. Mieke Wijaya istri dari aktor Dicky Zulkarnaen ini memperoleh Piala CITRA sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam Festival Film Inodnesia 1981 di Surabaya untuk filmnya "Kembang Semusim" dimana ia bermain sebagai ibu yang dihayatinya dengan baik. "Bagi saya itu, adalah prestasi tertinggi yang saya peroleh selama hampir dua puluh tujuh tahun lamanya berkecimpung di dunia film, " ucap Mieke Wijaya. 

Sebelum Mieke Wijaya mengenal dunia film, ia dulu lebih banyak dikenal sebagai seorang penyanyi di Radio Republik Indonesia Stasiun Palembang, yang waktu itu  bergabung dengan group band "Empat Sekawan" tahun 50an. Setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya Mieke yang bernama asli Mieke Maris itu hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) 1956-1957. 

Mieke yang di lahirkan di Kota Kembang Bandung 17 Maret 1940 waktu masuk ke Akademi Teater masih sangat muda "Usia saya waktu itu baru enam belas tahun,", ucapnya. Maka tak mengherankan tentu ia terbilang 'kembang' yang sedang mekar-mekarnya dikelilingi kumbang-kumbang yang berebut mengisap madu. 

Dia masih ingat dengan jelas kapan ia pertama kali mendapat kesempatan main film yakni tanggal 30 Oktober 1955 dalam film "Gagal" dimana dalam film itu Mieke mendapat kesempatan main sebagai peran Pembantu. Sejak itulah namanya mulai banyak disebut-sebut orang film, sebagai aktris yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Berturut-turut kemudian ia ditawari oleh beberapa produser untuk ikut mendukung film yang akan dibuatnya diantaranya film "Tiga Dara" yang dibuat tahun 1956 kemudian dalam film "Piso Surit" (1960), "Toha Pahlawan Bandung Selatan", (1962), film "Liburan Seniman" (1965), "Malam Jahanam" (1969), "Badai Pasti Berlalu" (1977), "Akibat Godaan" (1978) , "Cengkraman Garuda" (1978) dan banyak lagi lainya. Antara tahun 1977/1978 saja ia telah main dalam 55 film. 

"Saya lebih senang jika disodori peran tidak itu ke itu saja yang bisa membuat kita jemu", katanya. Dan seorang aktris lanjut bagi Mieke harus bisa dan mampu mewujudkan segala macam karakter yang dituntut oleh cerita dan jangan lupa membaca skenario berulang-ulang, dengan cara itu sering timbul ide-ide baru, baik dalam penggunaan dialog maupun nuansa akting. 

Hingga tahun 1983 banyak sudah penghargaan yang ia terima di berbagai event Festival Film, Sebagai The Best Actress 1963 pilihan para Wartawan di Jawa Timur untuk permainannya yagn cantik dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan",. Disamping itu mendapat penghargaan sebagai Pemain utama pada Pekan Apresiasi Film (1967) dalam film "Gadis Kerudung Putih". Disamping itu MIeke pernah pula meraih sebuah Penghargaan lain dalam pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1971) untuk permainannya dalam film "Malam Jahanam". Penghargaan sebagai Pemain Harapan Wanita kembali direbutnya pada pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1972) untuk perannya dalam film "Akhir Cinta Diatas Bukit". Pada Festival Film Indonesia tahun 1975 yang dilangsungkan di Medan, Mieke pemperoleh penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Terbaik dalam film "Ranjang Pengantin" yang dibuat tahun 1974.


Thursday, April 16, 2026

FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA

 


FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA, Sebuah terobosan baru di lakukan sutradara Torro Margens lewat film ini, menggunakan dialog bahasa Jawa. Cerita rakyat yang sudah melegenda ini sudar tersohor sejak 1950an lewat panggung ketoprak. Denga sendirinya memang teasa lebih pas bila para pemainnya berbahasa Jawa. Namun kemudian PT Kanta Indah Film memproduksi dua versi sekaligus, untuk peredaran di Jatim dan Jateng, khusus yang berbahasa Jawa, sedangkan di lain daerah dalam versi bahasa Indonesia. 

Di dukung oleh pemain-pemain : Baron Hermanto, Fitria Anwar, Okky Irwina Savitri, Atin Martino, Basuki, dan Prof. Dr. RM Wisnoe Wardhana sebagai Prabu Bojonegoro, merangka penasihat bahasa Jawa. 

Ketika Berburu, Prabu Anglingdarma memergoki keserongan Nagagini dengan seekor ular sanca. Untuk menutupi keserongannya, Nagagini menghasut suaminya, Nagaraja. Maka Nagarajapun menyatroni keraton Malawapati. Justru Anglingdarma sedang bercerita pada permaisurinya, Setyowati. 

Merasa malu, Nagaraja kemudian mewariskan Aji Gineng yang membuat Anglingdarma memahami bahasa hewan. 

Gara-gara ilmu inilah, Setyowati ngambek menyangka sang Prabu menertawakannya. Padahal Anglingdarma geli mendengar rayuan cicak jantan. Tak mungkin ia mewariskan Aji Gineng pada Setyowati, karena bisa membawa kematian. 

Sang permaisuri nekad pati obong. Anglingdarma tersadar demi mendengar kecaman seekor kambing. Untuk menebus rasa dukanya, ia ingin mengembara urusan kerajaan diserahkan pada Patih Batik Madrim. 

Ditengah rimba, Anglingdarma bertemu tiga wanita siluman yang merayunya, karena identitas mereka terbongkar, Anglingdarma ditenung menjadi belibis. 

Sang belibis terbang ke BOjonegoro. Dipikat si Klungsur dan dipersembahkan pada Dewi Anggorowati, putri Prabu Bojonegoro. Kasih sayang sang puteri memulihkan Anglingdarma. 

Namun Prabu Bojonegoro membuka sayembara, barang siapa bisa membekuk maling dalam keputrennya, akan diangkat menjadi menantu. Justru Batik Madrim  yang menantang 'maling' yang bukan lain daripada rajanya sendiri itu. 

Legena yang menarik ini selain menampilkan para bintang juga sejumlah binatang seperti ular, cicak, kambing, gagak dan belibis, harus berakting juga. 

Wednesday, April 15, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


EDWARD PESTA SIRAIT : Sebelum terjun didunia film, Edo (Panggilan akrabnya) pernah menjadi asisten Show Manager Sarinah, bekerja di Miraca Sky Club (1967-1970).

Kemudian setelah 4 tahun belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) ia mengikuti Kinoworkshop (1973), Edo, yang putra Batak itu dilahirkan di Siraituruk, Tapanuli 7 Agustus 1942. 

Memulai  karirnya di dunia film sebagai pembantu Sutradara sejak 1966 untuk film-film dokumenter, disamping sebagai pembantu editor dan sutradara film-film iklan pada perusahaan Ariza Jaya Flm. Film-filmnya ketika masih jadi pembantu sutradara antara lain : Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974), dan Malin Kundang (1973). Sedangkan karyanya yang pertama sebagai sutradara penuh adalah film "Chicha" (1976). Film tersebut mendapat penghargaan pada Festival Film Kairo (1977). 

Karya-karyanya kemudian menyusul berturut-tutur diantaranya "Sang Guru", Manis-manis Sombong, Gadis Penakluk dan Bukan Istri Pilihan dan sebagainya. 

Dalam film "Gadis Penakluk" Edward menempatkan namanya pada deretan Sutradara Muda berbakat dan banyak jadi perhatian oleh kalangan insan perfilman dan para kritisi film. Dalam film tersebut Edward Pesta Sirait meraih dua buah Piala "Citra" FFI 1981 di Surabaya untuk Ita Mustafa Pemeran Pembantu Wanita Terbaik dan Parakitri Tahi Simbolon untuk Penulis Skenario Terbaik. 

Sedang yang masuk dalam deretan unggulan (nominasi) : Edward Pesta Sirait untuk Sutradara Terbaik (Gadis Penakluk), Norman Benny (Editor) dan Adi Kurdi (Pemeran Utama Pria). Dalam Festival Film Indonesia 1982 di Jakarta, Edo berhasil mengikutsertakan dua buah filmnya : "Bukan Istri Prilihannya" dan "Sang Guru" . Dari kedua film tersebut beberapa diantaranya masuk dalam deretan unggulan antara lain Edo sendiri Sutradara - untuk filmnya "bukan Istri Pilihan" dan beberapa lagi yang lainnya. 

MENGENANG DHALIA, AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA


DHALIA,  AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA, Menjelang Idul Fitri 1941 H tepatnya Minggu, 14 April 1991, Dhalia tutup usia. Aktris kelahiran Medan 10 Februari 1927 itu erat berkait dengan sejarah Festival Film Indonesia. Dialah Aktris Utama Terbaik Festival Film Indonesia yang pertama (1955) dalam film Lewat Djam Malam (LDM).

Dalam LDM itu juga terpilih aktor utama A.N. Alcaff serta 2 aktor pembantu, Awaludin dan Bambang Hemanto. Film terbaik adalah LDM yang disutradarai Usmar Ismail. Tapi yang terpilih sebagai sutradara terbaik adalah Lilik Sudjio dalam Tarmina.

Pada Festival pertama itu muncul pemenang ganda untuk aktor utama dan aktris utama. Selain Dhalia dan Alcaff, terpilih pula Fifi Young dan A. Hadi dalam Tarmina. Film ini juga menghasilkan aktris pembantu terbaik, Endang Kusdiningsih. Diantara pemenang lain terdapat Harimau Tjampa untuk skenario. 

Festival dimaksud untuk memasyarakatkan film nasional, yang saat itu sedang tergencet oleh film-film impor. Bioskop-bioskop kelas satu terutama dikota-kota besar di dominasi produksi Holywood. Film Indonesia diputar hanya di bioskop kelas dua. Tapi disitu pula di putar film-film Malaya (Malaysia) dan India yang ternyata lebih disenangi publik. 

Usmar, bersama Djamaluddin Malik ikut dalam pembentukan Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA) di Manila, November 1953. Diantara usaha FPA adalah menyelnggarakan festival regional. Mulai tahun 1954 Tokyo, Jepang, tapi Indonesia belum sempat berpartisipasi. 

Ketika Festival Film Asia (Tenggara) diadakan di Singapura tahun 1955, maka tampillah Indonesia dengan film-film pilihan dari festival. Termasuk LDM dan Harimau Tjampa, yang dibintangutamai Bambang Hermanto dan Nurnaningsih. Harimau Tjampa berhasil meraih piala untuk ilustrasi musik terbaik. Kemenangan Indonesia pertama dalam Festival antar Bangsa. 

Mulai 1957 kata "Tenggara" dibuang di ganti Festival Film Asia (FFA), Festival 1955 ternyata tak dapat berlangsung setiap tahun. Baru terselenggara lagi 5 tahun kemudian, 1960 kembali tak ada Festival. keramian serupa itu muncul pada 1967, disebut Pekan Apresiasi Film Indonesia. 

Yang berkesinambungan terselenggara sejak 1973 , Festival Film Indonesia (FFI), Pelopor festival 1956, telah meninggal dunia, Djamaludin Malik (1970), dan Usmar Ismail (1971). Begitu pula dengan A Hadi (1971), dan Fifi Young (1975). Disusul oleh Awaludin kelahiran Padang 11 November 1916 pada 24 Februari 1980 di Jakarta. 

A.N Alcaff lahir di Jambi pada 17 Agustus 1925, main pertama kali dalam produksi Perfini, dosa Tak Berampun (1951), Menyusul Embun 1951, LDM 1954, Serta Mendung Sendja Hari (1960), Apa Jang Kau Tngisi (1965), dan Krakatau - 1977 , Intan Perawan Kubu 1972.Alcaff meninggal dunia di Jakarta pada 22 Desember 1987.

Bambang Hermanto juga menorehkan prestasi di usia senja, terpilih sebagai aktor pembantu terbaik pada FFI 1984 lewat film Ponirah Terpidana. Sebelum itu, Dhalia cuma masuk nominasi sebagai aktris pembantu masing-masing dalam Usia 18 pada FFi 1981 dan Bukan Isteri Pilihan pada FFI 1981.

Melanjutkan tradisi keluarga, Miss Intan (Ibu) adalah primadona sebuah rombongan sandiwara, Dhalia memulai karir seninya juga diatas pentas. Kemudian terjun pula ke dunia film, melalui Pantjawarna (40) dan Moestika dari Djenar (41). Dimasa pendudukan Jepang, selain main sandiwara, juga tampil dalam film Berdjoang (44) lalu ke panggung dan kembali ke film mulai Sangkar Emas tahun 1952.

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

Sunday, April 12, 2026

DALANG DALANG SAUR SEPUH


DALANG DALANG SAUR SEPUH, Film memang kerja kolektif. Tidak seorangpun berhak mengklaim diri sebagai yang paling berperan dalam proses pembuatannya. Catatan kecil tentang 3 dalang saur sepuh ini sekedar memperlihatkan posisi mereka pada peta perfilman nasional. 

Imam Tantowi, Sutradara kelahiran Tegal, patut untuk disebut "dalang" film-film laga handal. Ketika mam Tantowi dipercaya PT Kanta Indah Film untuk mengangkat cerita fiktif berlatar belakang kerajaan Majapahit itu, capaian penontonnya diatas capaian penonton film Indonesia lain, Malah melebihi jumlah penonton film impor kala itu. 

Ia sutradara keras, Menumpas Teroris, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh juga Soerabaia 45, menempatkan film tersebut dalam daftar film nominasi festival film Indonesia. Malah Soerabaia 45 memberikan Piala Citra kedua dalam karier Towi. Sutradara ini juga dikenal sebagai penulis skenario. Si Badung, memberkan Piala CItra buatnya dalam kapasitas sebagai penulis skenario. 

Torro Margens, dalam Istana Atap Langit, lebih dulu dikenal sebagai pemain teater handal. Dia, pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival teater se DKI, Sanggar Prakarya yang dipimpinnya, berulangkali muncul sebagai grup terbaik dalam festival teater SLTA di Jakarta. 

Sebagai sutradara nama Torro diperhitungkan ketika berhasil memasuki film Pernikahan Berdarah dalam film pilihan di festival film Indonesia tahun 1988.

Di banding keduanya, Abdul Kadir terbilang sutradara "wajah baru" dalam pembuatan film laga. Toh begitu, film Pendekar Cabe Rawit yang ceritanya diilhami dari film Big Boss, masuk dalam 18 besar film pilihan Komite Seleksi FFI 1990. "Saya bangga, karena film gedebag gedebug yagn selama ini disepelekan, mulai dihargai, dinilai dan diperhitungkan, ini satu langkah yang menggembirakan. 

Abdul Kadir dipercaya PT. Global Sarana Media Nusantara yang bekerjasama dengan produsen obat PT. Kalbe Farma membuat Saur Sepuh ke panggung sinetron yang ditayangkan di TPI dengan bintang utama George Rudy sebagai Brama Kumbara. 

Jam terbangnya sebagai sutradara terbilang masih pendek namun sebagai astrada, Abdul Kadir terbilang lebih dari cukup. Duapuluh empat film dengan sutradara-sutradara beken lain, pernah diikuti mantan mahasiswa ASDRAFI Yogya tahun 1972 ini. "Saya sempat jenuh dan ingin meninggalkan dunia film, " katanya suatu ketika. ~MF 179/146/Th IX, 15 Mei - 18 Mei 1993

Selain tiga dalang diatas, ada satu lagi yang juga 'dalang' Saur Sepuh meski mengambil judul lain yaitu Singgasana Brama Kumbara. Dia adalah Denny HW yang di peraya oleh PT. Menara Gading Citra Perkasa yang menggarap Singgasana Brama Kumbara dengan bintang utama Anto Wijaya sebagai Brama Kumbara dan tayang di ANTEVE.