Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Monday, June 22, 2026

MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN'

 


MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN' (berita lawas). Suting film "Rini Tomboy" nyaris terhenti pada saat sudah mencapai 75 persen. Produser Handi Muljono dari PT. Kanta Indah Film, bagai kehabisan nafas karena beberapa film produksinya berbujet besar sebutlah seperti "Saur Sepuh 4", "Tutur Tinular 2" dan "Balada Cinta Anglingdarma" kurang begitu berhasil dalam peredarannya. Akibatnya modal sekitar 3 milyar rupiah, sulit kembali. 

Maka, kelanjutan penyelesaian tiga film produksi terakhirnya pun menjadi tersendat-sendat. Tiga film tersebut adalah "Badai Laut Selatan", "Kamandaka" dan "Rini Tomboy" ini. 

Untunglah kemudian dicapai kesepakatan dengan pihak Subentra Bank yang bersedia mendukung dana untuk merampungkan film-film diatas. 

Di pimpin Megawati Santoso yagn melanjutkan kerjanya sebagai Produser Pelaksana, sutradara, pemain dan kru Rini Tomboy berangkat ke Yogya. Seperti di ketahui, pemeran Rini adalah pendatang baru Cornelia Agatha Dachlia, didukung oleh bintang-bintang muda seperti : Adjie Massaid, Titi Dwi Jayati, Nunu Datau serta dua remaja gres lainnya, Ninette Maritya dan Hendri Hendarto. 

Mereka berenam nampak kompak bersepeda berkeliling desa di Pantai Kukup, sekitar 60 kilometer di selatan Yogya. Dalam foto diatas terlihat Titi memboncengkan Nunu, dan Adjie memboncengkan Hendri masing-masing dengan sepeda perempuan. Tapi lihatlah Lia yang  memboncengkan Ninette, sengaja tampil beda dengan sepeda jantan.!

"Ho..ho..hoo, itu memang disengaja, " tawa sutradara Noto Bagaskoro yang setambun Samo Hung, " itu ciri khas untuk menunjukkan watak tomboy Rini yang selalu ingin tampil sportif dan boyish, kendati begitu ia masih tetap nampak manis kan?.~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Friday, June 19, 2026

ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT


 ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT (berita lawas). Ia terbilang 'gres', bahkan masih 'bau kencur'. Terakhir kali ia terlibat film Blok M. Siapa dia? Dia Aldonna Viveronica. Biasa dipanggil Donna saja. Dengan celana jeans dan T.shirt menempel di badannya, sebagaimana layak pada gadis usia tujuh belasan. Apalagi dengan melihat foto-fotonya yang sempat menjadi sampul di beberapa penerbitan ibukota. Padahal 14 Januari (1992) yang lalu berusia 13 tahun. Dilahirkan di Bandung, 14 Januari 1979 dari pasangan Aldo Toncic dan Ika. 

"Hanya badan saya saja yang kelihatan bongsor, padahal saya ini masih kecil. Kalau tidur saja masih suka dikeloni oleh mama dan papa, " kata si bontot dari 6 bersaudara ini. 

Bagi Donna, bidang seni pada umumnya tidaklah asing. Tahun 1989 pernah tampil sebagai penyanyi cilik. Dua album yang dihasilkannya adalah "Apa Namanya" dan "Jangan Menangis Isabella". Waktu itu saya sering muncul di TVRI, lewat acara lagu Anak-Anak, sehingga dilirik oleh produser dan selanjutnya diajak rekaman. Karena kesempatan itu sangat menarik, tentu saya tidak sia-siakan. Kebetulan mama, papa dan seluruh keluarga memberi dorongan, " cerita Donna. 

Bicara soal kesempatan main film pun tidak dilewatkan. "Mama berpesan, semua yang terbaik untuk Donna tidak akan dilarang. Menyangkut soal gosip dalam kehidupan artis, tentu saja saya harus pandai-pandai menjaga diri. Soal gosip itu sendiri sudah konsekuensi semua artis, " kata pemilik tinggi dan berat 160 cm dan 39 kg ini, sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. 

Film dan musik memang sudah jadi obsesinya. Untuk itu dalam bidang tarik suara ia belajar vokal di Tripel M Production dan untuk meningkatkan kemampuan di bidang akting ia gabung dengan Channel 2000.

Pelajar SMP pengagum Madonna dan Michael Jackson ini, pernah juga jadi peragawati cilik. Lantas apa cita-cita Donna sebenarnya.?. Ia tidak lantas menjawab, pikirannya menerawang, "Wah sebenarnya Donna ingin menjadi wanita yang sukses di bidang apa saja. Pokoknya menjadi orang sukses deh, kalau bisa sebagai wanita karier. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Thursday, June 18, 2026

DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON

 


DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON (berita lawas). Ingat pada aktor Sean Connery yang pernah bilang sudah jenuh memerankan tokoh superspy James '007' Bond? Maka seusai merampungkan " You Only Live Twice" (1967), ia mengumumkan untuk mengundurkan diri. Film Bond beriutnya "On Her Mayestya's Secret Service" (1969), peran Connery digantikan pemain gres asal Australia, George Lazenby.

Namun Connery melakukan 'come-backe'nya yang pertama dengan kembalibermain sebagai 007 dalam "Diamonds Are Forever" (1971). Sesudahnya barulah digantikan oleh Roger Moore yang beruntun membintangi tujuh film Bond. 

Sampai 12 tahun kemudian Connery mau mengulang peran Bond lewat "Never Say Never Again" (1983). Sebenarnya cerita asli film ini merupakan remaki dari "Thunderball" (1965). Namun tajuknya bagaikan ucapan peribahaya Connery yang ingin menyatakan "Tak Pernah Bilang Tak Mau lagi".

Apa yang membuat Connery mau kembali ke James Bond? Ada yang bilang, karena film-film yang dibintangi Connery saat itu kurang laku di pasaran, hingga ia kepingin bikin kejutan. Disamping itu, tentu saja tawaran honor besar yang menggiurkan. 

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pula dalam dunia perfilman Indonesia atas diri Didi Petet. 

Seperti diketahui, namanya mendadak melejit sejak memerankan tokoh Emon dalam "Catatan Si Boy". Padahal sebelumnya, ia sudah pernah main film "Semua Karena Ginah" yang diarahkan sutradra khusus film-film komedi berbobot Nyak Abbas Akup. Namun hasil film tersebut biasa-biasa saja hingga tak mampu mendongkrak kepopuleran para pendukungnya. 

Didi beralih jadi pendukung drama serial "Losmen". Memerankan Mas Partono, agen Biro Pariwisata yang dicemburui Mas Jarot (Eeng Saptahadi) gara-gara pernah memboncengkan Jeng Sri (Dewi Yull) dengan motornya, tapi peran Partono kemudian lenyap begitu saja. 

Kekocakan Didi lewat tokoh Emon membuat ia menjadi sangat laris diminta membintangi banyak film. Tercatat empat kali memerankan Emon, selain tiga "Catatan Si Boy" juga dalam "Bayar Tapi Nyicil" bersama kelompok Bagito Group. (Saat berita ini diturunkan belum ada Catatan Si Boy 5 yang juga memerankan Emon).

Nampaknya peran stereotype model Emon, membuat Didi sangat jenuh. Maka saat suting "Joe Turun Ke Desa" yang berlokasi di pedalaman Sukabumi, ia mencetuskan "Saya nggak mau lagi memerankan tokoh kebencong-bencongan si Emon itu".

Apa sebabnya?

"Ya nggak mau saja," sahutnya ogah berpolemik.

Memang selanjutnya peran Didi semakin bervariasi. Bahkan sudah meraih piala Citra sebagai Aktor Pembantu Terbaik 1988 lewat "Cinta Anak Jaman". Iapun membintangi beragam film antara lain "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", "Si Kabayan", "Kipas-kipas Cari Angin", "Oom Pasikom" dan "Boneka Dari Indiana".

Didi berusaha keras menghapus citra Emon dengan bermacam perwatakan berbeda. Sulit dibilang berhasil karena trademark Emon sudah begitu melekat pada dirinya. 

Tegas Ia menolak ikutan pembuatan "Catatan Si Boy 4". Terpaksa sutradara Nasri Cheppy mencari tokoh kocak lain. Hasilnya tampil Wan Abud, remaja keturunan Arab yang dimainkan oleh Fuad Alkhar, tapi sempat juga Cheppy menyelipkan dialog pertelepon dari emon, "Hallo, Ms Boy sekarang Emon lagi kuliah di Paris...".

Lalu untuk pembuatan film sempalan tersendiri "Catatan Si Emon", mau tak mau Cheppy menyeleksi sosok-sosok yang rada mirip Didi. Dipasanglah pendatang Ade Faisal untuk memerankan Emon. Hasil film ini cukup lumayan. Cuma pasti lebih baik lagai kalau diperankan langsung oleh Didi yang memang sudah memahami betul perwatakannya. 

Absennya Emon ternyata tak abadi, karena tiba-tiba muncul lagi dalam "Catatan Si Boy 5". Tetap dengan kekocakan dan kemanjaannya yangkhas, ia menyusul terbang ke San Fransisco untuk bergabung dengan Boy. 

Bahkan sesungguhnay sebagaian besar cerita "Ca-Bo 5" berporos pada Emon yang menemukan anak Bule kesasar di taman kota. Dalam satu adegan, sempat Boy yang kesal karena ulahnya menghardik , "Dasar Ban ci, reseh trus!".

Kontan Emon ngambek berat. Ia tak sudi dibilang ban ci. 

Kasus Didi nampaknya serupa dan sama dengan yang dialami Connery. Maklumlah, film-film yang dibintangi Didi belakangan ini kurang laris. Dan tentu saja iming-iming imbalan (yang konon mencapai Rp. 40 juta) plus kesempatan suting sambil jalan-jalan selama sebulan di San Fransisco. 

Enak ya. hehe. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

HENDRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA !

 


HENRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA ! (berita lawas). Nasib memang penuh misteri, begitu juga garis kehidupan yang dialami aktor muda berbakat macam Henry Hendarto yang lagi laris ini. 

Pelakon di Kucing-kucing Hitam, jalan Makin Membara, Deru Debu, Jaka Sembung, Sinta dan Misteri, Rumahku Istanaku, Harta dan Nyawa dan masih banyak lagi, semasa kecilnya ambisi sekali ingin menjadi tentara. 

Untuk menggapai cita-citanya itu cowok keren ini mempersiapkan diri sejak SMP sudah dimulainya. Caranya. ia aktif di organisasi OSIS, ikut olahraga, renang, polo air, berlatih ilmu bela diri, Karate, Kungfu, Yoga dan berbagai aktivitas lainnya.

Pokoknya saat itu konsentrasinya hanya satu, yaitu masuk AKABRI. Maka di tempalah dirinya, bagaimana caranya supaya ia lolos seleksi. Niat itu tanpa kaya akan tercapai kalau saja pemuda yang murah senyum ini tak ada test ulang saat ia sudah melalui berbagai seleksi ke Magelang, tempat pusat pendidikan militer itu. 

Itulah yang disebut garis kehidupan alias nasib. Meski Henry yang datang dengan penuh percaya diri, justru gagal saat ia diharuskan test ulang psikotes yang sudah ditentukan itu. "Padahal saat masih di Jakarta , saya lulus begitu di test tentang psikotes. Itulah namanya nasib, siapa yang tahu," ujar Henry pasrah. 

berikut petikan wawancara dengan Henry Hendarto : 

Apakah Henry kecewa karena gagal jadi tentara? 

Kecewa sekali, karena persiapan yang saya lakukan begitu panjang dan matang. 

Anda sempat Frustasi? 

Alhamdulillah tidak, karena saya menyadari kalau manusia itu tidak selamanya berhasil dalam menggapai apa yang di cita-citakan. 

Apakah Anda tidak mencobanya sekali lagi?

Niat itu sebetulnya ada, Begitu saya koreksi ulang, langkah yagn saya lakukan saya pikir menjadi mundur. Akhirnya saya batalkan niat itu. Saya pilih untuk kuliah di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan TV. 

Mengapa bisa berubah 360 derajat dari cita-cita semula?

Kalau melihat seperti itu, memang keputusan yang saya ambil jauh berbeda. Alasan saya mengapa ingin kuliah di IKJ, karena saya punya feeling kalau jurusan yang saya pilih itu punya prospek bagus di masa akan datang. Sekedar tahu saja, saya bukan orang yagn suka mengekor kalau melakukan sesuatu termasuk dalam memilih sekolah. Misalnya belakangan ini orang ramai memilih kuliah jurusan perbankan, karena menjamurna Bank, saya malah berpikir jauh ke depan sesuai kebutuhan jaman. 

Maksudnya?

Artinya saya tidak ingin dunia menguasai saya, tapi harus dunia yang saya kuasai. 

Anda nampak cepat matang ya?

Dulu sifatku terbalik dengan sekarang. Maksudnya, dulu saya orangnya gampang marah dan emosian sekali hingga sering kali berkelahi!. 

Kenapa sifat emosi itu sulit diredam?

Mulanya saya ini anak yang penakut. Lantaran Papa yang mengajarkan saya harus berani hingga timbul niat tak mau mengalah terhadap semua orang. 

Kalau begitu Henry termasuk anak yang bandel juga ya?

Saya memang termasuk anak bandel. Bahkan waktu disekolah tepatnya di SMA 7 tempat saya bersekolah, dimana sering disebut bikin keributan. Kita semua pernah mendapat pengarahan dari Muspida yang dihadiri banyak wartawan. Ternyata dari pertemuan itu pula ada beberapa wartawan yang menawari saya untuk jadi model dan darisana pula dunia seni saya mulai. 

Selanjutnya bagaimana emosi itu akhirnya bisa hilang?

Emosi yang tinggi membuat saya jadi orang yang ringan tangan. nah, pada suatu hari begitu saya lagi berjalan bersama teman-teman, ada orang Ambon berbadan kekar yang terus memperhatikan saya. Melihat seperti itu, langsung saja darah muda saya naik hingga meng hajarnya sampai tak berkutik. 

Hati saya begitu terhenyut ketika tahu kalau dia memperhatikan saya. Sebab, katanya wajah saya mirip dengan kakaknya yang disebut Ambon putih. Peristiwa itu pula yang menyadarkan saya tidak selalu menggunakan power dalam bertindak. 

Saya mulai menyadari ternyata masih ada cara lain yang bisa kita kendalikan dengan memakai otak atau mulut kita tanpa harus dengan kekerasan. 

Pemberani dengan sesama jenis untuk selalu adu jotos, apakah dengan cewek kamu jagoan juga?

Wah, dengan wanita saya justru nggak PeDe. Makanya kalau saya suka dengan seorang wanita, saya tidak berani mengatakan cinta terlebih dahulu. Jadi jangan kaget kalau selama saya pacaran dengan wanita selalu dia yang menyatakan suka terlebih dahulu. 

Apa sebabnya hingga tidak PeDe sama wanita?

Takut di tolak saja. 

Jika diberi kesempaan hidup dua kali, Anda ingin jadi siapa?

Saya tetap ingin jadi Henry seperti sekarang. Karena saya bangga dengan diri saya sendiri. Makanya saya tetap ingin jadi diri sendiri. 

Bicara tentang karir di dunia seni, apakah diawalinya dari model?

Benar, dari model terus ke layar lebar dan baru ke layar kaca. 

Mengapa Anda sekarang lebih fokus pada layar kaca dari layar lebar?

Saya ingin serius di layar kaca saja. 

Rencana apa yagn ada di benak anda sekarang?

Setelah menekuni sebagai pemain, saya ingin juga mengembangkan karir menjadi sutradara. Mudah-mudahan saja niat itu terwujud suatu hari kelak. 

~sumber : MF 290/256/XIII/26 Juli - 8 Agustus 1997



Monday, June 15, 2026

"SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN"


 FILM "SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN" (berita lawas). Raviman Film sudah mulai memproduksi film ketiganya. Kembali di sutradarai Henky Solaiman berdasarkan cerita-skenario rekaan Asrul Sani. Bintang-bintang yang dipasang antara lain Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Firdha Razak, Wahab Abdi, Jajang C Noer,  dan sutradaranya sendiri ikutan pegang peranan juga. 

Judul semula "Sudah Dong" namun kemudian produsernya, manu Sukmajaya kaget sendiri manakala menyadari betapa banyak film Indonesia yang eblakangan ini pakai judul "dong-dongan". Coba saja lihat mulai "Gantian Dong", "Sabar Dulu Dong", "Antri Dong" sampai "Jangan Paksa Dong". "Wah penonton bisa kisruh nanti karena judul-judul tersebut serupa tapi tak sama," keluh Manu. 

Omong punya omong dengan beberapa relasi, akirnya ketemu juga judul baru yang dirasa lebih tepat "Kepingin Sih Kepingin". Namun judul ini nyaris di tolak pihak Deppen, dengan dalih asosiasinya ke arah yagn rada miring. Karuan saja Manu ngotot mempertahankannya. "Ceritanya tentang seseorang yang kepingin sukses dalam usaha banyak tapi tak kunjung berhasil, jadi ia cuma bisa kepingin sih kepingin. Pak Asrul sendiri sudah setuju denan judul ini."

"Terus terang ide ceritanya dari film komedi "Tootsie" (di bingangi Dustin Hoffman) yang belum lama ini ditayangkan di TVRI sebagai film cerita lepas", mengaku Manu. 

Kalau dalam film itu Hoffman harus menyamar jadi wanita agar memperoleh peran dalam sebuah serial televisi, maka sekarang Deddy Mizwar pun kudu menyaru jadi Mience supaya dapat pekerjaan. 

Saat suting di sebuah kantor dibilangan Pulo Gadung Jakarta Timur, terlihat Deddy Mizwar datang melamar pekerjaan kantor. Mula-mula ia diterima dengan baik oleh manager personalia yang idperankan oleh Henky Solaiman. Tapi manakala datang pelamar lain, seorang wanita yang berani menyingkapkan rok untuk memamerkan pahanya, sontak mata Henky 'hijau". Deddy tak jadi diterima bekerja, diganti cewek ini. Merasa sakit hari, esoknya Deddy datang lagi dengan memakai wig dan berdandan genit. Bukan cuma Henky yang matakeranjang, tapi sang boss Wahab Abdi pun langsung menerimanya. lalu apa yang terjadi selanjutnya? ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, June 14, 2026

CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA!

 


CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA! (berita lawas) Begitulah judul beritanya. Sudah pernah nonton Walet Merah? Tahu Nursiah? inilah pemerannya. Cewek Indo pemilik nama Luciaya Christine Terry ini mengaku kadung cinta terhadap film. Berbau klise memang, karena niatan main filmpun katanya sudah tersirat sejak usia kanak-kanak. 

Entah kenapa, kesempatan itu malah baru terwujud setelah usianya menjelang 17 tahun. Mengakunya karena belum tahu jalan, hingga ketemu Susan Aryani yang memperkenalkannya pada seorang sutradara. 

Baru tiga film dilakoninya sejak pertama kali tampil dalam film "Lenyapnya Ilmu Misteri". lainnya film "Cinta Yang berlabu" dan "Suromenggolo" garapan Dasri yacob. 

"Ya..daripada main-main nggak puguh (tidak karuan) lebih bik coba-coba main film, " kata Christine yang bungsu dari tiga bersaudara pasangan Terry Duloney asal Kanada dan Suminawaty berdarah Sunda yang lahir di Bandung 24 Desember 1973. Mungkin sudah takdir Christine tak kenal Papanya yang memutuskan kembali ke Kanada ketika ia berusia 8 bulan. 

"Katanya wakt itu mama nggak mau ikut ke Kanada, sedang papa juga nggak kembali lagi kemari, " kata Christine. Mungkin karena itulah masa remaja Christine sekarang ini sedikit labil ketimbang remaja sebayanya. Semacam Oedipus Complex, karena ia lebih menyukai laki-laki setengah baya daripada yang tergolong masih remaja. 

Itulah awal malapetaka baginya. Keinginan mendapatkan kasih sayang dari laki-laki selalu patah di tengah jalan. Lelaki dambaannya dengan figur seorang bapak ternyata telah beranak istri. 

Cinta selalu menyakitkan buat Christine, yang membuatnya nyaris menghabisi nyawanya sendiri dengan menyilet pergelangan tangan. 

"Frustasi berat deh. namanya juga cinta pertama, " akunya. Bahkan melihat bekas-bekas luka di pergelangan tangannya, sepertinya pernah kecanduan obat-obatan terlarang. 

Sadar akan kenyataan, upaya mendapatkan kasih sayang dari laki-laki yang kebapaan, selalu menimbulkan petaka, tapi pengalaman serupa masih tetap terulang. 

"Habis sukanya sama yang sudah dewasa sih. Kalau yang sebaya kayaknya gimana, gitu," kilahnya. 

Kembali ke soal film, Christine juga tidak tahu kenapa ia menyukai bidang yagn satu ini. memang ia akui di film ia dituntut lebih dewasa dalam segala hal. Karena itulah Christine mengharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bisa mengangkat namanya ke jenjang popularitas. 

Akan halnya ketika ikutan film "Suromenggolo" yang berlokasi di Gunung Bromo itu, banyak hal yang membuat Christine lebih mapan. Ya dalam kepribadian yang menyangkut pergaulan juga soal karier. Itu tentu karena bisa refreshing dan menjalin kekeluargaan dengan berbagai tipe dan perangai manusia. Kebetulan, kata Christine, perannnya cukup lumayan dan bukan figuran. Apalagi Dasri Yacob, sebagai sutradara sangat supel, penuh pengertian dan sabar dalam membimbing. 

Di Film yang satu ini, Christine berperan sebagai Putri Kuning. "Ada tantangan gitu, Putri kuning itukan nakal dan suka nyeleweng. Ya.. gitu deh..," katanya. 

Main buka bukaan dong?

"Iya sih, tapi nggak terlalu gimana-gimana kok. Cuma kesannya aja, " jelas Christine. 

Memang, Christine mengaku tidak terlalu banyak aturan untuk adegan yang cenderung mengundang birahi. Yang penting baginya, cerita dan perannya bagus serta nggak mengada ada. 

Kalau kelak mengundang kesan setelah film jadi, bagi Christine bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. "Terserah apa kata penonton. Yang penting bagi Christine, tidak melakukan dengan sebenarnya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Thursday, June 11, 2026

SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET


 SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET (berita lawas). Bintang cilik sering menjadi daya tarik utama sebuah film. Sebutlah dari Hollywood misalnya ada superstar-superstar cilik seperti Shirley Temple, Jackie Coogan, atau mark Lester. Dari perfilman Manadarin da Siao Pin Pin. 

Dari perfilman negeri kita pun dari masa ke masa bermunculan bintang-bintang cilik. Sebagian diantaranya setelah dewasa kembali berkecimpung main film. Sebutlah mulai dari Rano Karno, Ryan Hidayat dan tambah lagi Sandy Taroreh. 

Pada tahun 1984 saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sandy sudah diajak main film. TIdak tanggung-tanggung, perannya sebagai Sunan Kalijaga (tentu saja pada waktu masih anak-anak dan bernama Raden Sahid) dan Sunan Kalijaga dewasa diperankan oleh Deddy Mizwar. 

Selain "Sunan Kalijaga", tercatat Sandy juga pernah bermain dua  kali di bawah arahan Sophan Sophian. Yang pertama sebagai anak penari Bali (Marissa Haque) dari hubungannya dengan pria Jakarta (Frans Tumbuan) yang sebenarnya sudah beristri (Lenny Marlina) dalam film "Saat Saat Yang Indah" kalu yang kedua "Damai Kami Sepanjang Hari", dengan peran sebagai adik Iwan Fals yang yatim piatu. Sutradara lain yang pernah menanganinya , Hengky Solaiman dalam film "Neraca Kasih". 

Kemudian, karena mencapai masa peralihan usia, yakni bukan lagi anak-anak tapi juga masih belum remaja, maka Sandy pun bagai menghilang dari kesibukan berakting. Baru di tahun 1991, ia kembali diajak Sophan Sophian dalam film "Ketika Senyummu Hadir".

Sebagai pemeran seorang remaja masa kini, ternyata Sandy di pertemukan dengan Frans Tumbuan lagi yang tetap berperan sebagai ayahnya. Sedangkan peran ibunya kali ini digantikan leh Ratna Riantiarno. 

Digambarkan Sandy merupakan remaja teladan yang bukan saja serba pintar dalam segala pelajaran sekolahnya, tapi juga menjadi andalan regu basketnya. Adegan pertandingan basket dibuat dilapangan olahraga sebuah SMA kolese di Jakarta Selatan. Disinilah Sandy memperagakan kemahirannya menggiring dan meggoalkan bola ke keranjangnya. 

Sunggu diluar dugaaan siapa pun ketika kemudian terjadi peristiwa mengemparkan saat berlatih basket, kedua tangan Sandy tepat memegang sepasang buah dada Vivi Samodtro yang mulai tumbuh. 

Peristiwa di lapangan basket ini berkembang menjadi serius ketika Kepala Sekolah (Nani Widjaya) mengajukan pertanyaan, "Perbuatanmu ini disengaja atau tidak?" dan Sandy cuma menunduk bungkam tak mampu menjawab. 

Berlanjut dengan protes keras ayah Vivi (Fendy Sukowati) , tentang pendidikan seks yang baru di terapkan di SMA tersebut. Kontflik batin Sandy berlanjut karena ayahnya sendiri pun kebingungan menghadapi problema ini. 

Apalagi ketika kemudian teman-teman abang Vivi mengeroyok di jalanan. Untunglah, ia juga punya bekal ilmu bela diri karate. Untuk dimaklumi, Sandy memang benar-benar menguasai karate yang dilatihnya semenjak kecil. Maklumlah diantara kakaknya ada yang pernah menjadi karateka andalan nasional. 

Dapat diharapkan Sandy Taroreh bakal terorbit menjadi calon remaja idola sebagai pengganti bintang-bintang remaja yang kini kian meningkat usianya.  ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Monday, June 8, 2026

ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG

 


ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG, (berita lawas). "Tidak seluruh masa kecil saya indah. Seperti halnya manusia lain, pasti penuh dengan pengalaman asam garam. Sebab rasanya tidak berseni kalau hanya diisi oleh satu warna saja. Indah melulu atau sebaliknya, " ujar Achmad Albar yagn lebih akrab di panggil Yik. 

Masa kecil yang sulit dilupakannya adalah usia 10 tahun, ketika namanya sudah populer di masyarakat, gara-gara pada usia 8 tahun membintangi  film Jendral Kancil yang disutradarai Nya' Abbas Akup. Namun Yik menolak kalau peran utamanya pada film tersebut disangkutpautkan dengan ayahnya sebagai produser film. "Sama sekali tidak. Saya lolos test dari ratusan anak lainnya yang melamar," gelaknya, yang juga menjelaskan, bahwa saat itu juga sudah bermain musik di kelompok Bintang Remaja dan kemudian pindah ke grup Kwarta Nada yang penyanyi serta personil musiknya adalah Titi Qadarsih dan kakak-kakaknya dari keluarga Sarjan. 

Selanjutnya, Yik pada tahun 1967 seusai menamatkan SLA, berangkat ke Belanda dan sekolah musik di Bergen of Zonn. Di negeri kincir angin itu, ia mendirikan grup band dengan Ludwig Le Mans dan pakai nama Clove Leaf (Daun Cengkeh). "Sesuai dengan kelopak cengkeh 5 buah, jumlah pemain kitapun begitu," beber Yik, yang setelah kembali ke Indonesia bersama Ian Antono, Yockie Suryoprayogo, Teddy Sunjaya dan Donny Fatah tetap meracik musik rock membentuk kelompok God Bless. 

Kecintaannya pada dunia akting tetap tidak ditinggalkan, ujar rocker yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946. Beberapa peran dimainkan lewat film "Laki Laki Pilihan", Ambisi, Laela Majenun, Si Doel Anak MOdern, Duo Kribo, dan masih banyak lagi film lainnya. 

Berkat film Laela Majenun yang dibintanginya dengan Rini S Bono tahun 1975, keduanya menjadi intim dan melangsungkan pernikahan pada tahun 1978.

Sebagai pasangan suami istri dengan profesi sama, segudang pengalaman dalam karier tentu bisa diterapkan kepada ke3 putranya, Fauzy Aldino (13 th), Fakhri Albar (10 th), dan Faldi Albar (9 tahun). Seperti halnya yang sulung, Fauzy, dia senagn bidang nyanyi dan siap rekaman dengan penata musik Harry Anggoman," jelasnya. 

Lalu ada taktik lain yang dilancarkan pemilik boutique Albara Collection serta vokalis kelompok musik Gong 2000 dalam mendidik putranya yang memilih jalur seni. "Berhubung saja tahu mana ranjau-ranjau berbahaya yang tidak boleh di jelajah oleh seorang artis, maka setidaknya hal ii diberitahukan kepada anak-anak saya, " tuturnya hati-hati. ~sumber : MF No. 146/113/TH VIII, 1 - 14 Feb 1992


Thursday, June 4, 2026

KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS


 KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS (film lawas). Kisah pelindung suaka margasatwa yang harus berhadapan dengan pemuru liar pengincar gading gajah, sudah pernah di filmkan pada tahun 1962 oleh Howard Hawks dengan judul "Hatari!" (dari bahasa suku Swahili yang berarti "Bahaya!") yang menampilkan akrot-aktris populer seperti John Wayne, Elsa Martinelli, Red Buttons, Hardy Kruger, dan Bruce Cabot. Film yang benar-benar dibuat dilokasi suaka margasatwa Tanganyika, Afrika ini memadukan aksi-petualangan dan komedi secara sangat menarik. Sampai sekarangpun, musik instrumentalnya "Baby Elephant Walk", garapan Henry ancini masih sering disiulkan orang. 

Kendati ide cerita dari Pemda Tingkat I Lampung dan PT. Inter Ksatrya Film yang dituliskan menjadi skenario oleh Teguh Karya dan difilmkan dengan judul "CINTAKU DI WAY KAMBAS" oleh sutradara pemula Iwan Wahab ini, tak bisa dibilang sebagai jiplakan, namun rasanya tetap ada pengaruh dari kesuksesan "Hatari!" tersebut. 

Di bintang utamai oleh Mathias Muchus sebagai Jaru, si pelatih gajah Ira Wibowo sebagai Mega, Perally merangkap wartawan, dan Rini S Bono memerankan si Drh, Intan. Di dukung oleh pemain-pemain Harry Capri, WD Mochtar, Chitra Dewi, Nani Somanegara, Bram Adrianto serta Krisno Bossa yang kocak-konyol sebagai pembantu pelatih gajah. 

Pertemuan pertama antara Mega dan Jaru terjadi diatas kapal Ferry dari Merak ke Lampung. Mega dan Diana mendaftarkan diri sebagai peserta rally mobil. Namun perjalanan mereka terhambat oleh amukan gajah liar yang memporakporandakan sebuah perkampungan. 

Jaru menyelamatkan Mega dan Diana yang nyaris diterjang gajah liar. Batal ikut rally, Mega yang demam panas dirawat Jaru di Pusat Latihan Gajah di Way kambas. 

Kalau semula Mega memandang Jaru sebagai lelaki kasar yang pernah dilihatnya "menyiksa" gajah, perlahan-lahan ia mulai memahami. Jaru dan kawan-kawannya sebenarnya mengemban tugas luhur dan penuh tantangan untuk memasyarakatkan gajah dalam kehidupan manusia, bahkan melindungi mereka dari ancaman pemburu liar yang mengincar gadingnya. 

Mega menyibukkan diri dengan memotret seluruh kegianan Jaru. ia tak mengikuti Diana yang pulang ke Jakarta, agar bisa lebih jauh mendokumentasikan romantika kehidupan para pelatih gajah. Sementara benih cinta mulai tumbuh dihatinya. 

Padahal ada Drh. Intan yang tengah membaktikan dirinya di PLG ini. Kecantikan dan kelembutannya membuat Jaru diam-diam mencintainya. Namun ia tak pernah berani mencetuskannya. Sesungguhnya Intan memang telah bersuamikan Budi. Tapi pengusaha muda dari Jakarta ini, pernah dipergokinya menyeleweng, berpacaran dengan Hilda. Peristiwa inilah yang membuat Intan meninggalkan rumah dan kedua anaknya. 

Konflik terjadi ketika Budi menyusul datang. Intan berkeras tak mau diajak pulang. Jaru yang berusaha melerai malah membakar kecemburuan Budi hingga menghajarnya. Anehnya polisi setempat membiarkan Budi kabur begitu saja. 

Sekarang berbalik, Mega yang merawat Jaru. Pemuda inipun mengakui dirinya lebih paham tentang gajah daripada perempuan. Tapi tak tahukah Jaru akan kasih Mega terhadapnya? Ataukah ia mengharapkan agar Intan bercerai dari Budi?Diseling dengan adegan penangkapan pembajak gading yang diorganisir, akhirnya Jarupun menemukan cinta sejatinya. pesta perkawinan Jaru pun dimeriahkan oleh pertunjukkan gajah-gajah main sepakbola. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


Wednesday, June 3, 2026

JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT"

 


JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT" (film lawas). Ada sutradara  yang seolah mengkhususkan diri hanya menggarap film-film bertema drama, ada pula yang spesial pengarah komedi, tapi Sisworo Gautama Putra nampaknya lebih memilih untuk bikin film-film bertema horor-mistik. 

Begitu pula halnya dengan bintang langganannya, Suzanna, sejak sukses diarahkannya lewat "Sundelbolong" sampai sekarang telah bermain dalam belasan judul film dengan tema serupa. Belakangan ini, hampir semua film arahan Sisworo dan juga dibintangi Suzanna di produksi oleh PT. Soraya Intercine Film. 

Produsernya Raam Soraya memang punya dua tema film yang dijamin kelarisannya dalam peredaran. Yang pertama, serial komediannya Warkop dan yang kedua serial horornya Suzanna, "Rata-rata produksi kami berhasil mengumpulkan diatas 300ribu penonotn untuk bioskop-bioskop di Jakarta saja!" berbangga Raam sambil menunjuk bukti autentik dari catatan P.T. Perfin. 

Kali ini, Raam dan Soraya menjajal mempertemukan  Suzanna dengan Elly Ermawatie , bintang yang melejit lewat peran Mantili dalam serial "Saur Sepuh". Kalau Suzanna tetap memerankan tokoh wanita yang kemasukan arwah, bahkan jari tangannya bisa berubah menjadi pisau-pisau runcing ala iblis Freddy Krueger dalam serial horor "A Nightmare on Elm Street?. Sebaliknya Elly diserahi peran sebagai guru pesantren yang sakti. 

Kedua pemeran utama tersebut di dukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi, antaranya Yenny Farida, TIno Karno, Soendjoto Adibroto dan Clift Sangra. 

Cerita diawali dengan diangkatnya Hendro yang punya reputasi kerja gemilang, menjadi Pimpinan Proyek. Sekaligus ia menggantikan kedudukan. Burhan yang diturunkan jabatannya menjadi wakil pimpinan. 

Kedengkian Burhan kian menjadi, demi melihat Presdir Perusahaan juga menghadiahkan pada Hendro sebuah rumah besar plus berlibur bersama seluruh keluarga di Swiss. 

Dibakar rasa sirik, Burhan diam-diam menghubungi kawanan Teddy, manusia-manusia tak bermoral yang bersedia melakukan apa saja asalkan dibayar. Burhan menginstrusikan Teddy cs untuk melenyapkan Hendro yang dituduhnya telah merebut jabatannya. 

Maka pada malam, sepulang dari serah terima jabatan itulah, rumah Hendro disatroni kawanan Teddy. Dengan kebuasan tak kepalang, bukan saja Hendro yang di habisi, tapi juga isterinya, Kartika, serta putera puteri mereka, Dina dan Dino yang masih kecil-kecil. 

Berbarengan dengan berlalunya kawanan Teddy dari rumah berdarah itu, tanpa terlihat oleh mata telanjang, terjadi suatu peristiwa gaib. Jasad Kartika disusupi arwah gentayangan seorang bromocorah yang semasa hidupnya telah melakukan serangkaian pembunuhan sadis. 

Maka, pada saat-saat angker, muncullah sosok Kartika yagn menghantui penghuni baru bekas rumahnya. Demi desas desus ini didengar oleh Burhan. Iapun memanggil kembali kawanan Teddy. Di kutuknya mereka yang telah begitu kejam menghabisi nyawa seluruh keluarga, bahkan yang hendak disingkirkannya hanya Hendro seorang saja. 

Sosok Kartika yang ditunggangi arwah bromocorah mulai berkeliaran mencari orang-orang yang mencelakainya. Satu persatu anak buah Teddy, dimulai dari Mario, Petrus, Vivi sampai Tino menemui kematian mengenaskan dengan  berbagai macam cara. Sesudah Teddy sendiri juga tewas secara mengerikan, tinggallah Burhan sebagai otak kejahatan yang diteror ketakutan sendiri. 

Kejadian-kejadian menggemparkan yang sulit dijelaskan dengan logika ini, menarik perhatian Fitria, guru pesantren yang mendalami ilmu supernatural. Dengan kewaskitaannya, Fitria bisa mengetahui kalau jasad kartika ditunggangi arwah jahat. Maka dengan cara-cara khusus ia ingin membebaskan Kartika. 

Dalam pada itu, Letnan Polisi Hartono juga sibuk melacak serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi. Kendati Fitria dan Hartono menggunakan metode masing-masing yang sangat berbeda, namun akhirnya bersama-sama berhasil mengungkapkan semua rahasia. 

Melalui pertarungan seru dengan Kartika, akhirnya Fitria yang melafalkan ayat-ayat suci berhasil mengusir arwah gentayangan si bromocorah. Jasad Kartika yang terkulai, dikebumikan secara sewajarnya. Bersamaan, Hartono pun membekuk Burhan sang otak kejahatan.~~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


LENONG RUMPI!

 


LENONG RUMPI! (film lawas). Lenong, Kesenian tradisional Betawi seakan-akan identik dengan ciri khas : Pemain patuh menggunakan dialek Betawi, berwajah kumal dan tampang "kampungan".

Sebagai kesenian tradisional, nasibnya tidak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lainnya, dijauhi penggemar. Karena itu, tidaklah heran bila kehidupan grup lenong yang adapun bernafas Senen-Kemis. 

Dengan niat mengangkat dan mempopulerkan kembali Lenong, RCTI menyajikan acara daegelan kocak Lenong Rumpi. Lenong yang satu ini berbeda dengan lenong yang selama ini kita kenal. 

Lenong Rumpi mencoba melepaskan diri dari pakem, mengungkap tema cerita yang aktual dan yagn paling mencolok para pemainnya berwajah kece. 

Dan ternyata, acara yang ditayangkan RCTI tiap malam Minggu mencapai sasaran. Mulai anak-anak kecil sampai orang tua menggemarinya. 

Karena digandrungi masyarakat, maka produser film pun ikut gambling untuk mencari keuntungan. Adalah Parkit Film yang mengangkatnya ke layar perak.

Latah? mungkin saja ada yang bilang demikian. Sang cukong cuma bilang, "kita kan ingin ikut mempopulerkan". Maksudnya lanjut produse itu, mempopulerkan lewat bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kalau RCTI kan hanya terbatas di daerah Jabotabek atau mereka yang punya parabola, " katanya beri alasan. 

Yasman Yazid, sutradara yang mendapat kepercayaan menggarap film tersebut, mengatakan "Sekarang ini, untuk membuat film drama memang agak riskan. Pemasarannya kurang menguntungkan. Mungkin itu sebabnya produser memproduksi yang ringan-ringan saja."

Yasman Yazid pun mengaku sudah agak lama rindu menggarap tema drama, tapi, ia mau mengerti keadaan sekarang. "Birunya biru yang sudah lama siap, terpaksa harus  menunggu lagi. Dan entah sampai kapan harus menunggu. Yang jelas kita mesti s harus bersabar dulu!" Tegasnya mencoba mengerti keadaan.

Tentang film terbarunya, Lenong Rumpi yang tetap dibintangi pemain aslinya : Ira Wibowo, Roby Tumewu, Debby Sahertian, Harry De Fretes, dan Era Gloria, sutradara yang cukup lama ngendon di Parkit Film itu, mengakui cerita yang ditampilkannya adalah cerita ringan. "Namanya film komedi, kalau ceritanya berat, jadi film drama!" kata Yasman memberi alasan. 

Lalu, lanjutnya sebagai Lenong, kewajibannya yang tak ditinggalkan adalah dialek Betawinya. Cerita yang diangkat Yasman adalah tentang mahasiswa yang berasal dari daerah : Padang, Manado, Majalengka yang kuliah di Jakarta. Karena dari daerah, maka mereka harus mencari tempat kos. Dan tentu saja mereka mencari kos-kosan yang murah. 

Adalah mpok Hamida, Bang Maruloh yagn menyediakan kos-kosan murah itu. Cuma ada kewajiban. Siapapun yang kos dirumah pasangan suami-istri yang Betawi asli itu, diharuskan menggunakan dialek Betawi. Maksudnya, tentu saja agar para mahasiswa atau kalangan intelektual mau mempertahankan salah satu budaya bangsanya dan menyebarluaskan kesenian Betawi. 

Persyaratan menggunakan dialog Betawi, bagi mereka yang berasal dari daerah, memang agak merepotkan. Hanya bayar kosnya murah, merekapun menerima persyaratan tersebut. 

"Disinilah saya menggarap komedinya!" jelas Yasman. Lenong Rumpi beredar akhir tahun 1991 untuk menyambut tahun baru 1992. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991



Tuesday, June 2, 2026

NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON

 


NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON (berita lawas). Emon, ben cong bertubuh gempal itu memang identik dengan Didi Petet, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tokoh itu mencuat setelah sukses komersial Catatan Si Boy (Cabo) yang di sutradarai Nasri Cheppy. 

Sukses Cabo I yang mengatrol nama Onky Alexander menjadi idola kaum remaja dan Didi Petet kepuncak prestasi dengan memperoleh piala Citra, meski lewat film lain, mampu pula mengusik sanubari sang produser untuk memproduksi serial berikutnya. 

Cheppy kini jadi sutradara kondang. Didi Petet akirnya jadi rebutan para produser dan Onky tetap jadi idola kaum remaja. Mereka boleh bangga, karena secara finansial, juga mereguk sukses. 

Konon kabarnya, mereka termasuk orang-orang film "termahal" saat ini (itu). Selentingan, Cheppy honornya mencapai 40 juta, Didi Petet tak jauh berbeda dengan Onky hanya sedikit dibawah Petet. 

Meski ketiganya merupakan personal inti, selain Meriam Bellina dalam Cabonya Cheppy, namun dalam Cabo IV yang jadi giliran Parkit Film yang memproduksinya, Emon yang kemudian jadi Si Kabayan, tak lagi terlibat. 

Tekad Emon untuk melepaskan diri dari Didi Petet memang telah bulat. Kabarnya, dibayar berapapun besarnya, Didi Petet tak mau lagi memerankan tokoh Emon. Apakah ini bukan hanya sekedar taktik dagang? "Entahlah, itu rahasia Petet dan produser film kita."

Lalu, siapa pengganti Emon dalam Cabo IV? Penggantinya memang ada. Tapi, kata Cheppy tokoh Emon tak lagi mau dimunculkan, " jadi yang di ganti Didi Petet, sekaligus Emon!", tegasnya. 

Nah lho, mampukah si pendatang baru itu mengisi kekosongan yang ditinggal Petet untuk selama-lamanya? "Saya akan mencobanya seperti ketika saya juga mencoba Onky , Didi Petet di awal kisah petualangan. Si Boy di layar perak ini, " jelas Cheppy. 

Tentang Cabonya yang menurut rencana akan di produksi sampai 8 serial, Cheppy bilang "Saya akan tetap berusaha menampilkan Cabo. Cabo itu agar tetap menarik. Hilang Didi Petet dan Zainal Abidin, muncul dua nama pemain tenar lainnya, Paramitha Rusady dan Robert Syarief , ayah Dewi Yull dalam serial sinetron Sartika. Pokoknya saya akan tetap berusaha memberikan kepuasan kepada penggemar Cabo!".

Ia juga bilang, Cabo IV tidak akan berhura hura keluar negeri seperti Cabo II yang sampai LA. "Kali ini , Si Boy hanya akan sampai ke Bali saja!" jelas Cheppy. Lalu apakah kesan Wah, yang selama ini telah melekat pada diri Onky setelah dari luar negeri tidak akan drop?.

Cheppy menyadari hal itu, tapi ia juga berjanji akan berusaha memberikan suguhan lain yang lebih menarik. Meski adanya hanya di dalam negeri, Jalinan dan bobot cerita, katanya akan lebih di perhatikan. "Saya akan menyuguhkan adegan yang lebih mempunyai greget, !" janjinya. 

Suting pertama mengambil lokasi di sebuah rumah tua didaerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Suting di Jakarta, kata Cheppy hanya sekitar 40 persen, selebihnya di Bali. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Monday, June 1, 2026

JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA


 JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA (suting film). Firman Triyadi, sutradara anyar jebolan LPKJ, yang dipilih oleh duo produser Budiati Abiyoga-Adi Putra Tahir untuk produksi bersama PT. Prasidi Teta Film dan PT. Mutiara Eranusa Film yang berjudul "Jawara Jawara".

Kendati baru untuk pertama kalinya menyutradarai , namun dengan modal ketrampilan dan kesungguhan kerjanya, Triyadi bersama krunya berhasil merampungkan suting cuma dalam tempo tiga minggu saja. 

"Hampir seluruh pemain berasal dari TIM, mulai dari Eeng Saptahadi, sampai ke Joseph Ginting, sedangkan bintang filmnya antara lain Dewi Yull dan Ayu Azhari, " jelas sang sutradara yang memilih lokasi daerah-daerah pinggiran jakarta seperti Pondok Cina. 

Jangan terkecoh judulnya, mengira film ini sebuah film silat seperti "Si Jampang" atau "Si Gobang" karena sesungguhnya "Jawara Jawara" adalah sebuah komedi dengan setting lokasi di Batavia pada era 1942-1944.

"Tokoh-tokoh utama cerita adalah anak-anak muda dari sebuah desa di Betawi tempo doeloe. Sebagai anak muda mereka masih bersikap sok jago, padahal sih ilmunya masih cetek. Ada yang petantang petenteng menganggap diri sendiri sebagai jawara ulung. Ada yang ikut latihan militer di markas Dai Nippon kemana-mana berseragam militer menyandang pedang panjang, " ungkap Eeng yang dipertemukan lagi dengan Dewi Yull setelah dulu bermain sebagai pasangan suami istri Jarot-Sri dalam drama serial televisi "Losmen".

Menurut catatan sejarah, bala tentara Dai Nippon menyerbu Batavia pada 5 Maret 1942. Saking ketakutannya, tentara kerajaan Belanda kabur lintang pukang ke selatan. Kekalutan melanda sampai ke kampung-kampung. 

Tiga anak muda, Sayuti, Komar dan Malik bersaing. Ada lagi Nonon si penari Topeng dan Tikah, gadis desa yang naksir Sayuti. Namun pada akhirnya semua bersatu padu untuk merebut senjata dari tangan Jepang. 

"Betapapun tengil dan soknya sikap mereka, namun semangat kebangsaan untuk memerdekakan tanah air sudah tertanam dalam jiwa mreka, " ujar Triyadi tentang tokoh-tokoh cerita rekaannya ini. 

"Seluruh prosessing film ini dikerjakan di dalam negeri," lanjut Budiati. "Dan kami harapkan film yang keseluruhannya di kerjakan oleh anak muda ini bisa memenuhi selera masyarakat akan film komedi yang cukup bermutu serta lain dari komedi-komedi yang sekarang banyak dibuat produser lain. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*setelah film jadi judulnya berganti menjadi "Jawara Sok Kota"

Thursday, May 28, 2026

UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT

 


UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT (berita lawas). Dari tujuh keturunan seniman besar serba bisa Bing Slamet, hanya tiga yang bungsu yang melejit sebagai artis, baik dalam film maupun musik. Yang pertama adalah anak ke lima. Waktu dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 16 April 1961 diberi nama Ratna Lucyana. 

Sejak kecil sudah terbiasa dengan panggilan kesayangan Uci. Ya sudah terbawa terus sampai besar. Dengan tubuh yang mungil dan wajah sendu innocent, Uci mulai merintis karier sebagai penyanyi. 

Tapi, tentu saja kemudian terseret main film juga. Waktu pertama tampil dalam "Dr. Karmila" , Produser Manu Sukmajaya memujinya sebagai pemirip Jenny Rachman. Pernah pula berpasangan dengan Rano Karno dalam " Tom & Jerry". Sesudah itu absen cukup lama karena 'kecelakaan'.

Baru kemudian, Uci mulai berkiprah kembali. Secara beruntun ia tampil dalam "Kamus Cinta Sang Primadona", "Pengakuan", "Semua Sayang Kamu" dan terakhir "Pendekar Cabe Rawit".

"Untuk suting film ini, saya harus ke Yogya, maklum lokasinya full disana," cerita Uci tentang film yang baru rampung suting itu. "Saya berperan seabgai Sri, bunga desa yang ingin berkarya. Kalau ceritanya zaman sekarang sih tidak heran, tapi ini terjadi kira-kira dalam abad ke XVIII di pedalaman Jawa lho!".

"Pendekar Cabe Rawit" merupakan karya penyutradaraan perdana bagi Abdul Kadir. Tokoh pendekarnya diperankan oleh Syaiful Nazar. Dan tentu saja tokoh Sri yang menjadi kekasih si pendekar. 

Saat break suting, Uci menyempatkan diri berbelanja ke pasar Bringharjo. Pulang-pulang membawa sekeranjang sayur mayur, terus masak sayur asem. Ramai-ramai dinikmati oleh seluruh pemain dan kru. "Ternyata Uci pintar masak sayur asem lezat!" puji produser Hendrick Gozali. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Wednesday, May 27, 2026

LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT


LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT (berita lawas). Mau melihat generasi kedua Doris Calabout? Nonton saja film Laura Si Tarzan yang sudah di gelar di bioskop-bioskop. Atau kalau kepepet banget , kaset video bajakannya juga cukup membanjir. Pada film  ini,Larasati Calabout, cewek dengan tampang lumayan yang nangkring di kelas dua sebuah SMA di Jakarta Selatan, nekad bikin pameran perut, dada dan pangkal paha. Amboi! "Untuk itu Lara cuma di bayar seratus lima puluh ribu perak. Nyesel sih nyesel, abis gimana. Kan nggak bisa nuntut. Perantaranya saja adalah Opa, " tukas Lara pada Majalah Film tentang keberaniannya dalam film garapan Willy Wilianto.

Lara berani mengangkat sumpah, nggak mau disebut bintang seks. Cukup julukan ini mampir pada ibunya dulu, tapi waktu cewek ini main dalam film Satria Bambu Kuning adonan M. Syarifudin, bibirnya rela dilumat cowok Malaysia. Padahal waktu adegan itu dibikin, lara masih duduk id bangku kelas II SMP. Sampai istri bintang malasia tersebut cemburu, lalu terjadi insiden kecil di lokasi. 

Tidak tanggung-tanggun cowok yang dikenalnya selama ini yang berkulit bule. Bisa  kenal dengan bule juga katanya diawali dari ulah sang opa yang memperkenalkannya. Malah ia menyarankan agar cucunya ini mendapat jodoh orang bule, tanpa alasan yang jelas " Nggak tahu ya. Bersama cowok bule kayaknya lebih mengasyikkan gitu," katanya datar. 

Aduh Lara, yang mengakibatkan kamu bugil Opa. Kenal sama orang bule juga lantaran di kenalkan Opa?, kenapa begitu?. Jawabannya sederhana saja . Lantaran Lara tidak tinggal bersama ibunya , melainkan tinggal bersama opanya yang juga penyunting gambar (editor).

Tapi Lara juga punya ketentuan untuk memilih cowok orang pribumi . Apa sih? "Setidaknya cowok itu pakai sepatu keren diatas seratus ribu perak. Sombong kali, hehehe.." sergahnya sembari tertawa. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990



Tuesday, May 26, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA

 


PENDEKAR CABE RAWIT, MERAMPUNGKAN SUTING DI YOGYA (Suting film). Tanpa Banyak publikasi, hampir secara diam-diam saja, Hendrick Gozali telah merampungkan produkse ke 52 PT. Garuda Film yang berjudul "Pendekar Cabe Rawit".

"Film ini merupakan sebuah film silat dengan setting kisah di Jawa Tengah pada masa lalu, " jelas produser. "Itu sebabnya kami memilih lokasi d Yogya dan sekitarnya saja. "

Biasanya Garuda memproduksi film-film bertema drama rumah tangga seperti misalnya "Tirai malam Pengantin", "Dewi Cinta" dan "Api Cemburu" baru setelah "Pernikahan Berdarah"nya Torro Margens mulai merambah ke tema silat juga. 

Sutradaranya kali ini di pilih Abdoel Kadir yang baru untuk pertama kalinya mencoba menjadi sutradara penuh. "Saya lihat dia cukup berbakat dan sudah waktunya diorbitkan, setelah beberapa kali menjabat sebagai astrada dalam film-film terdahulu, " puji Hendrick. 

Dari barisan pemain utama dipasang, Uci Bing Slamet, Syaiful Nazar, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS, dan pendatang baru Monica Oemardi. 

Uci tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Indonesia. Begitu pula halnya dengan Jhan yang belakangan sering kebagian peran antagonis seperti misalnya dalam "Genta Pertarungan" sebagai karateka licik yang mencurangi Advent Bangun. 

Begitupula halnya dengan W.D Mochtar yang sudah tidak asing lagi dan Sutopo HS yang terkenal lewat peran seabgai Pak Atmo dalam drama Seri "Losmen" di TVRI.

Tapi nama Syaiful Nazar terdengarnya masih asing. Padahal ia sudah beberapa kali ikutan mendukung film silat. Antaranya sebagai pendekar bloon dalam "Mandala Dari Sungai Ular" yang menjadi sahabat Barry Prima, juga dalam Rio Sang Juara ia berperan sebagai seorang patner Willy Dozan. 

Syaiful Nazar menguasai pencak Silat, juga pernah menjadi juara senam nasional, bahkan se Asean. Itu sebabnya mampu menghidupkan tokoh pendekar Cabe Rawit yang rada-rada kocak, " jelas sutradaranya. 

Ada adegan pertarungan seru antara Syaiful kontra Johan, gara-gara Johan yang berwatak playboy ingin memperkosa si bunga desa Uci. Dengan jurus pencak silatnya, Syaefil berhasil mengimbangi Johan yang merupakan seorang Karateka. 

Tak Sampai sebulan seluruh suting dirampungkan, semuanya kembali ke Jakarta. Proses selanjutnya mulai dari pengisian suara, editing, mixing, tata musik dan sebagainya di kerjakan di Inter Studio. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Monday, May 25, 2026

LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU


 LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU(berita lawas). Kenapa Liliek Sudjio mau menangani film musik? Bukankah dia seorang pembuat film-film horor dan laga? "Mas Lili zaman film hitam putih sudah banyakbikin film. Saya cukup percaya, dan dia juga sudah membuktikannya. Bikin film besar mampu, bikin film sederhana mampu," ucap Shindu Dharma BA, Pemimpin produksi film Jaka Swara produksi PT. Firman Mecu Alam Film.

"Jaka Swara" sendiri kalau melihat dari para pendukungya memang tak salah lagi, film musik. Ada Rhoma irama, Camelia Malik, Heidy Diana, Diana Yusuf. Semuanya penyanyi, dibantu dan diperkuat oleh Arman Effendi, Piet Pagau, Bung Salim, Ade Irawan, dll. Tapi sebenarnya film ini adalah film laga. 

Liliek sutradara yang dikenal sebagai bapak trick, syarat dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Lahir di Makassar, 14 Mei 1930. Pendidikan Sekolah Tekhnik, kemudian belajar Teknik Montage di LVN Manila, Sekolah Sinematografi di Los Angeles A.S selama dua tahun dari 1960-1962.

Menurut pengakuannya, dulu lebih banyak menggeluti dunia panggung. terjun ke film pada tahun 1949 sebagai pemeran pembantu untuk film "Sapu Tangan" yang dibikin pada tahun 1949. Tahun 1951 beralih menjadi clepperboy dan pencatat skrip di Persari. 

Akhirnya menjadi sutradara penuh pada tahun 1957 untuk film "Anakku Sayang". Dalam FFI 1955, terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya "Tarmina" Kemudian mencapai prestasi di bidang editing sebagai penyuntik terbaik pada Pekan Apresiasi film Nasional '67 untuk film Yudha Saba Desa. 

"Jaka Swara" ini, film laga dengan biaya besar. Selain kolosal, ada trick, juga ada set dan menggunakan miniatur. Film besar, biayanya juga besar. Tapi ada yang lain, ada istimewanya. jadi ada sesuatu yang baru disini, yaitu laga. Dimana Rhoma irama sebagai penyanyi, tidak hanya menyanyi kemudian ada jalinan cinta yang membalut cerita, tapi juga full laga. 

Rhoma disini terbang melayang dalam duel dengan para jawara pribumi yang jadi kaki tangan orang-orang Portugis. Reaksi Rhoma "Memang lebih berat ketimbang film-film sebelumnya. Tapi saya harus bisa, karena ini tuntutan".

Untuk pembuatan trick di film ini Liliek tidak mengalami kesulitan. "Sudah terbiasa", katanya. Ketika sekolah di Amerika dia menemui hal yang aneh-aneh dalam pembuatan film yang menggunakan trick. Terus dikembangkan disini. 

"Kita harus membuat dengan cara kita. Kalau di Amerika mereka membuat dengan peralatan yang canggih, disini ada saja gantinya, minsalnya menggunakan peralatan bambu. Tapi semua itu sebetulnya sama. Seperti glass shot dibikin efect untuk hantu. Saya pelajari dan bisa dikembangkan untuk adegan kebakaran orang tidak kena api. Jadi adegan berbahaya  itu tidak berbahaya jadinya. Dalam film "Jaka Swara"  tak ada kesukaran, karena tim kerja, misalnya untuk effect diserahkan pada El Badrun, Juru Kamera Suryo Susanto yang bsudah biasa dengan glass shot dan bekerjasama dengan saya cukup lama."

"Jaka Swara" yang baru saja menyelesaikan proses dan menuju pintu sensor menurut keterangan Liliek Sudjio punya alasan mendasar sebagai film yang memiliki nilai tambah. Rhoma sebagai raja dangdut punya penggemar dengan balutan lagu-lagu terbaru. Tambah lagi dengan penggemar film-film laga yang lagi trend masa kini sesuai tema film tersebut. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, May 24, 2026

CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA

 


CAHYA KAMILA, PUTRI NANI WIJAYA (berita lawas). Menjelang pembuatan film "Jawara Jawara" diselenggarakan selamatan. Diantara bintang yang datang selain Dewi Yull dan Eeng Saptahadi, terl "ihat juga aktris kawakan Nani Wijaya. Tentu saja para wartawan mengira Nani akan ikut  main, mungkin sebagai ibu Ayu Azhari. 

"Eh, saya tidak ikut main lho," tertawa Nani. "Saya cuma mengantar Cahya. Dia yang bakal ikut main".

Remaja yang ditunjuknya, Cahya Kamila berkulit hitam manis, tersenyum tersipu-sipu. Ternyata mengikuti jejak ibunya, anak ketiga dari pasangan Misbach Yusa Biran - Nani Wijaya ini mulai ikutan main film juga. 

"Kalau main film bioskop memang ini baru untuk pertama kalinya,"sebut Cahya yang dilahirkan di Jakarta pada 8 Agustus 1972. "Namun saya sudah pernah ikutan mendukung beberapa sinetron produksi TVRI."

Disebutkan beberapa judul diantaranya, Lahirlah Sang Bintang dan Anggraini. 

"Padahal dua kakaknya sama sekali tak tertarik pada seni peran, tapi yang ketiga ini memang ikut jadi anggota Teater Permata, " tambah sang ibu. 

Bahkan dalam rangka merayakan Super Semar dalam awal Maret 1990 yang lalu, Cahya berhasil meraih juara Baca Puisi. 

Lalu siapa yang sekarang memilihnya jadi pemain "Jawara Jawara?".

"Sutradaranya sendiri, Mas Firman Triyadi yang datang kerumah dan memilih saya untuk ikutan berperan sebagai seorang gadis desa bernama Fatma".

Semula sang ayah, Misbach Yusa Biran yang udah lama tidak menyutradarai film karena kesibukannya menjadi kepala Sinematek, rada tertegun juga ketika putrinya ini minta izin untuk main film. Tapi akhirnya diberi izin juga dengan syarat tak boleh melalaikan sekolahnya. Maklum, Cahya baru duduk di kelas 2 SMA. 

"Wah sekarang ada dua bintang film dirumah kita, bukan cuma jadi monopoli ibunya saja, " demikian kira-kira seloroh Misbach. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*Pada Akhirnya Cahya Kamila cukup dikenal di dunia sinetron diikuti oleh adiknya, Sukma Ayu sebelum akhirnya Sukma meninggal dunia. 

Saturday, May 23, 2026

SUTING SI BUTA DARI GUA HANTU


SUTING  SI BUTA DARI GUA HANTU (suting film). Taman Hutan Lindung Ir. Juanda di Dago Bandung siang itu dipenuhi ole pelajar yang lagi liburan. Semua kaget ketika beberapa orang berpakaian pendekar yang tak jelas jamannya muncul melintas mondar mandir di kawasan rekreasi itu. Setelah para pendekar itu berkumpul barulah ketahuan bahwa di tempat rekreasi itu ada suting film. 

Dari sekian banyak pendekar yang berkeliaran hanya Johan Saimima yang mendapat teguran dari pelajar-pelajar tersebut. Pada saat yang sama, H. Ratno Timoer selaku sutradara belum memakai kostum kebesaran Si Buta yang lurik ular itu. Setelah tahu bahwa film action yang sedang suting itu berjudul si Buta Dari Gua Hantu, seorang pelajar nyeletuk " Kok Si Butanya sudah tuah. Namanya Si Buta tak pernah tua kan? Lalu rekannya yang lain menyawab seenaknya : Pak Ratno kan sudah agak tua. Harus sesuai dengan dirinya dong.."

Para pendekar segera berkumpul di depan gua Jepang dan mengadakan syukuran lokasi bersama kru dan figuran. Sejam kemudian suting shot pertama dimulai. Lima pendekar di giring k sebuah lembah. Ratno berpikir sebentar, kemudian membatalkan suting di tempat itu untuk mencari lokasi lain di daerah yang agak datar. Sudah 15 menit suting belum juga dimulai. Rupanya kurang pemain. Astrada pun berteriak. "Pemain yang badannya gede gede kemari"...

Dan figuran pun kedinginan. 

Hari kedua suting mengambil lokasi di kali kecil pada sebuah lembah yang ada di Taman Juanda. Kali ini digelar untuk tempat wabah kusta. Tentu saja beberapa orang figuran harus menyebur ke kali. Beberapa orang ditunjuk, namun tak seorang pun yang mengaku bisa berenang. 

Akhirnya apat juga beberapa orang, itupun kru. Adegan baru di mulai. Take satu cukup. Karena adegan berjalan mulus. Ketika figuran hendak make up kena penyakit kusta, umumnya menggigil kedinginan sehabis nyemplung ke air. Bibir mereka pada biru-biru. "Sudah airnya dingin setengah mati, udara dingin pula, " ujar mereka yang bertelanjang dada. 

Produksi PT. Sepakat Bahagia Film ini di dukung pemain H. Ratno Timoer, Pietrajaya Burnama, Johan Saimima, Robert Syarif, Aspar Paturusi, S. Parya, Yani Suradjaya Timoer, Hadi Suwito, Hanny Adista, Verra dan artis-artis anggota Parfi Bandung. 

Si Buta Dari Gua Hantu dalam Episode Lembah Maut ini diangkat dari komik serial Badai Teluk Bone. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990