Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Sunday, March 22, 2026

SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


TIEN ISTRI BZ KADARYONO

 


TIEN ISTRI BZ KADARYONO, (berita lawas). BZ Kadaryono salah satu nama sutradara yang terkadang jadi bulan-bulanan pemain orbitannya, tentu saja yang dimaksud pemain cewek. Berbagai tudingan pun mampir bertubi-tubi bahwa sutradara bertubuh jangkung ini cenderung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti memacari si pemain atau mengintiminya dengan maksud-maksud tertentu. Benar atau tidak kabar burung ini hanya yang bersangkutan yang lebih tahu. 

Tapi istrinya, Tien Kadaryono malah membenarnkan, meski tidak seratus persen,. "Omongan oran gluar itu pernah saya buktikan kok. Cuma saja kita orang-orang tua berpikir panjang kalau sampai persoalan ini menjadi malapetaka dalam keluarga. Ya sudahlah selama ia masih memperhatikan kebutuhan anak-anak dan saya, macam gituan saya redam saja, " tukas Tien maklum. 

Karena Tien juga sebagai pemain sering mendapat godaan dari sutradara atau sesama pemain. Di lokasi itu segalanya bisa saja terjadi, namun Tien bilang kompensasi itu perlu asal tidak melahirkan ekses. Nah, bagi Tien soal pergi ke disko misalnya, tetap masih suka. penah suatu saat Tien juga dikait-kaitkan dengan Hengky Tornando. "Ya saya sering jalan bareng dengannya, namun tuduhan itu nggak mutlak, karena disamping Hengky saya ditemani Lina Budiarti,  papar Tien. 

Ulah suaminya yang sering dipanggi Mas Yon, Tien bilang wajar-wajar saja. Yang namanya manusia, ada yang tahan atau tidak menepis godaan. Mungkin, kata Tien suaminya puya maksud baik dalam pendekatannya kepada pemain, tinggal tergantung pemain itu sendiri menentukan sikap. "Karena pernah suatu hari saya kedatangan cewek yang juga pemain film. Gara-gara berita dimajalah, bahwa Mas YOn makin intim dengannya. Saya tenang saja dan ia minta maaf. Justru dengan maaf itu saya tambah bingung. Masalahnya jika orang itu minta maaf berarti punya salah kan?, "Sikap mas Yon sendiri, ya gitulah namanya aja laki-laki, ' gumamnya seperti ada sesuatu yang mengganjal. 

Tien berterus terang segala macam kabar buruk tentang suaminya diluar itu tanggungjawabnya. "Tugas saya menetralisir keburukan itu kepada anak-anak. Abis mau gimana. Mas Yon kan manusia bukan hewan, masa sih mau kita paksa untuk takluk pada pendirian kita. Mana mungkin?, serganya. "Dirumah ia suami saya dan diluar milik publik. Saya pasrah saja dengan takdir. Jika memang kabar burung itu menjadi kenyataan, " tandasnya agak klise. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN


 MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN, (Berita lawas). Serial Keluarga Van Danoe memang berbeda dengan lenong Rumpi. Kalau dalam serialnya Boim dan kawan-kawan itu, tokoh dan profesinya terus berganti-ganti setiap minggu, maka sekarang karakter setiap tokoh sudah paten. Robby Tumewu sebagi si kepala keluarga konglomerat Karel Van Danoe Wiryo, Ferina (Isterinya, Ceu Kokom), Debby Sahertian (Adiknya, Zus Zeba Van Santen), Ari Wibowo sebagai anak sulunya, Jansen, Dina Laenia (Si Bungsu Leince), Merry Hakim (Si Pembantu Madonnah). Hengky Solaeman selain mengarahkan juga berperan sebagai Oom Piet, si penasehat yang di sebelin dan sesekali tampil Bob Sadino (Oom Koes, sesepuh keluarga).

Sudah pernah ditampilkan bintang-bintang tamu dari si pesulap Frans Harrary sampai Rano Karno, Chintami Atmanegara dan lain-lainnya. 

Untuk menyambut Idul Fitri (1413 H) bertepatan dengan tahun 1993 Masehi, disiapkan episode spesial bertajuk Maaf, Maaf, Maaf. Seluruh keluarga main semua, plus bintang-bintang tamu Anna Shirley, Chintami Atmanegara dan Merdy Salim. Durasinya dilipat duakan menjadi satu jam penayangan. 

Ceritanya keluarga Van Danoe merencanakan bet-long-week-end ke Los Angeles. Belum apa apa, Kokom dan Koba sudah ribut sendiri menentukan tujuan mereka, sedang Karel memilih menginap di Santa Monica, lokasi suting serial Bay Watch dimana banyak cewek seksi berbikini berseeliweran. 

Si Sopir Ono dan si babu Onah diajak juga. Tugas Oom Piet untuk menyiapkan paspor mereka. Eh, Oom Piet sendiri jebul tak diajak, "Jij jaga rumah saya ya, kan lebaran banyak tamu yang datang, cuma jij Piet yagn ike percaya, " ujar karel. 

Karual Oom Piet kecewa berat. Kebetulan Oom Koes datang. Langsung  Oom Piet menghasutnya. berhasil. Oom Koes memarahi seluruh keluarga Karel. "Kalian sok kaya ya, sudah melupakan adat timur Lebaran kok malah jalan-jalan ke LA bukan di rumah!".

Batallah rencana muluk-muluk mereka. Tibanya Hari Raya disambut dengan acara sungkem seluruh keluarga. Tamu berdatangan bagai tak putusnya,sampai Karel kelelaha. Eh mendadak datang juga biduanita kece, Chintami Atmanegara. Tergugah semangan Karel mengajaknya ke ruang privae. Kokom yang sudah bangun tidur jadi cemburu banget. 

Keluarga Van Danoe tayang di saluran RCTI. ~ Mf 175/142/Th. IX 20 Maret - 3 Apr 1993

Wednesday, March 18, 2026

LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR


 LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR (Berita Lawas). Tantangan bintang Indo tampaknya lebih banyak. Mereka umumnya menjadi sasaran dagang bagi produser dan sutradara. Ini dirasakan sekali oleh Lisa Patsy, cewek yagn di besarkan di negeri Paman Sam sana. Ia mengungkapkan ogah bradegan berbuka ria dan ciuman bibir. Waktu itu bertepatan dengan shooting film "Godain Kita Dong" bersama Warkop DKI. Rupanya sikapnya ini goyah juga, dan tak mampu berkutik pada sutradara Arizal. Dalang komersil ii menyuruhnya mengenakan pakaian seksi dan merangsang dalam film "Membakar Lingkaran Api". Bahkan ada satu adegan pemer kosaan dimana sebagian tubuhnya tersingkap bebas. "Biarin deh, asal tidak berkesan jorok. Kang nggak semua adegan buka-buka menimbulkan kejorokan. Lagian disitu kan saya di per kosa masa sih mesti tertutup rapat kayak mayat, " tandas Lisa yang mulai lancar bahasa Indonesia. 

Sebetulnya, kata Lisa soal pakaian seksi atau adegan buka-bukaan baginya secara pribadi tidak keberatan. Yag menjadi persoalan menjaga nama baiknya di sekolah dan lingkungan di mana ia tinggal. "Bohong kalau saya bilang nggak pernah main "begituan" contohnya ciuman atau main raba. Saya kan udah punya pacar, jadi logis saja bercinta di barengi usap-usap," akunya polos. Tapi yang satu ini Lisa pesan jangan ditiru cewek ingusan yang lain. Ia sendiri memang baru menginjak usia 15. Soal sudah matang dalam bercinta, mungkin lingkungan negara tempat membesarkannya menghendaki begitu. 

Cewek bernama asli Priscilia Lisa Maria ini masih sangat polos, hal ini disadarinya betul. Cuma yang paling sulit baginya untuk melawan perasaan dan kemauan orang lain. Nah, sekarang lIsa teguh tidak main buka-bukaan yang vulgar, tapi ia sendiri nggak tahu untuk esok. "Saya berani bilang begitu, karena hidup ini lewat proses. Sikap oran gbisa berubah dengan sendirinya seusai tuntutan perasaan tadi. Pokoknya untuk film saya nggak bisa obral janji dulu baik yang menyangkut batasan peran atau segalanya, nanti takut dibilang munafik, " begitu prinsip Lisa. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Monday, March 16, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


 EDWARD PESTA SIRAIT, Periode 88/89 Edward Pesta Sirait sempat menghilang, namun kemudian muncul kembali menyutradarai film. "Soalnya proyek saya tentang film alternatif lewat video gagal, " katanya. 

Dan kegagalan itulah yang agak membawa Edo, begitu ia akrab di panggil, kembali ke Jakarta dan kembali menyutradarai film bioskop. 

Adalah "Dua diatara tiga pria" film pertamanya setelah come back. Produksi PT. Raviman Film yang berkisah tentang penyelewengan kaum lelaki seperti penelitian yang dilakukan Dr. Naek L Tobing yang pernah menghebohkan itu.

Sutradara jebolan ATNI dan Kino WOrkshop ini, memang di kenal sebagai sutradara berbakat yang melahirkan film-film bagus. Beberapa kali ia masuk sutradara unggulan FFI karena film-film yang digarapnya. Film Tinggal Sesaat Lagi juga masuk dalam film nominasi FFI 1987. 

Memulai kariernya sebagai pembantu Sutradara tahun 1966. Edo yang pernah jadi asisten show manager Sarinah ini mengawali karir sutradaranya secara penuh lewat film "Chica" tahun 1976 dan berhasil mendapatkan penghargaan pada Festival Film di Kairo setahun kemudian. Setelah itu beberap afilm lahir dan tampil sebagai film yang berhasil dan menjadi pembicaraan. Mala filmnya "Gadis Penakluk" berhasil menempatkan namanya sebagai sutradara muda berbakat dan mendapat perhatian kalangan film. 

Lantas mengapa Edo kini menyutradarai film komedi?. Hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain saja". kilahnya. Dan sesuatu yang lain itu isa jadi sesuatu yang menghibur. Dan sama seperti film-film Edo yang terdahulu, kali inipun sutradara ini tetap  melibatkan Remy Silado sebagai salah seorang pemainnya. "Soalnya saya cocok dan seide dengan Remy, " begitu dia pernah bilang. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Thursday, March 12, 2026

SI CEWEK GENDUT ILLA DOTH


 ILLA DOTH. (Kisah Lawas). Artis bertubuh subur dengan bobot hampir satu kwintal itu punya kebiasaan menarik. Kalau biasanya orang yang lagi sedih tidak doyan makan, lain lagi dengan Illa Doth, kalau dia sedih justru makannya banyak. Kebiasaan ini ia jalani sejak kecil. Baginya hidup ini cuma sekali jadi harus senantiasa gembira. itulah sebabnya ia selalu menghindari kesedihan. Maka tak perlu heran jika tubuhnya subur. 

Orangnya cuek, ngomongnya ceplas ceplos penuh humor. Barangkali inilah yang membuat ia awet gemuk. Ia begitu bangga dengan keadaannya, sementara banyak orang melakukan diet jika merasa sedikit gemuk, tapi Illadoth cuek saja. "Kalau orang langsing dan cantik itu banyak tapi cewek gendut kayak Illadoth banyak yang cari. "akunya sambil mengunyah coklat, makanan kesukaan yang tidak pernah ketinggalan setiap hari. 

Ia tidak takut dengan nafsu makannya yang kuat, sebaliknya ia akan bertanya-tanya jika nafsu makan itu tiba-tiba menurun. Gemuk baginya adalah karunia Tuhan. Memang benar, dengan kegemukannya itulah membuat ia laris menerima tawaran main film. Sudah puluhan film yang dibintangi. Juga laris untuk backing vocal penyanyi. Dalam siaran TPI ia pun nongol untuk menghibur anak-anak balita lewat acara yang diasuh oleh Titi Qadarsih. 

Belakangan ini beratnya naik 3kg gara-gara dikecewakan cowoknya membuat ia menambah porsi makannya. Makan adalah kesukaannya, sehingga makanan akan menghibur dirinya bilamana menghadapi kesusahan. "Pokoknya gua emang gak mau susah, jika gua  punya persoalan berat, gua makan sekenyang-kenyangnya. NGapain mikirin yang susah-susah:, jelas Illa Doth yang beratnya mencapai 90 kg. 

Pada suatu hari, cewek Nasution yang satu ini pernah mencoba mengukur sejauh mana kekuatan makannya. Menurut pengakuannya jika lagi mood makan rasanya tidak ada kenyangya. Setelah di cobanya ia mampu melahap satu bakul nasi berikut lauk pauknya dan makanan lain yang memenuhi meja makan. Habis itu ia terkapar dan tidak bisa bangu lagi sampai esok harinya. 

~MF

Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Thursday, March 5, 2026

LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG"



SALAH SATU  LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG". Serombongan anak-anak berseragam merah ptih SD meluncur dengan sepeda mereka dari puncak jalan menurun. Ramai berceloteh merundingkan apa yang dihadiahkan untuk ulang tahun guru mereka. Segalanya berjalan cukup lancar, tapi mendadak Imam Tantowi yang berdiri di tepi jalan berteriak, "Cut! Cut".

Dengan cepat Kamerawan Tjutju Sutedja menghentikan kerja kameranya. Apa pasal? Ternyata salah seorang anak itu ada yang melirik kearah kamera. Kesal Tantowi mengomel, "Sudah berapa kali saya bilang, jangan memandang ke arah kamera. Ya wajar saja, Ayo ulangi lagi!.

Begitulah adegan anak-anak bersepeda di jalanan desa Cibadak itu harus diulangi sampai tiga kali. Menyusul adegan berikutnya, anak-anak badung bermain di pematang sawah. Dasar anak-anak, senang saja main belepotan lumpur. !

"Memang ada kesalnya, tapi ada pula lucunya, mernyutradarai anak-anak ini", aku Tantowi. "Kebanyakan mereka memang bandel bande. dan baru kenal disini, tapi cepat sekali menjadi akrab. Wah, waktu malam pertama, kami hampir tak bisa tidur, karena mereka ramai bermain terus. Malah ada yang lompat-lompatan di tempat tidur segala. 

Semua pemain anak-anak ini memang di boyong dari Jakarta. Ditempatkan di Wisma Haji, Jl. A Yani 37 Sukabumi. Saking ramainya kemudian diambil inisiatif, rombongan anak-anak dibagi dua. Sebagian di Wisma PGRI yang letaknya tak berjauhan. Sebagian anak-anak memagn disertai oleh ibu mereka, terutama anak-anak perempuan. Namun para ibu yang ngumpul sendiri, membebaskan anak-anak mereka bermain diluar suting. 

"Si Badung" yang semula rencananya berjudul "Si Badung Naik Kelas" ini memang dibintangi oleh belasan anak. Sebagian diantaranya adalah anak-anak bintang populer. Seperti misalnya Toma alias Torro Margens Jr. (Anak Torro Margens) dan Rini yang puterinya Elly Ermawatie. Kawanan yang menyebut dirinya "Kelompok Lima" dimainkan oleh Renno, Viona, Reymon, Rini dan Adam Sandi. Dua bocah badung diperankan oleh Nelson dan Rully. Ikut mendukung Shereen Regina Dau, Jaka dan Adi. 

Peran Kepala Sekolah Pak Jarir di mainkan oleh Drs Purnomo alias Mang Udel. Istrinya oleh Mien Brodjo. Guru baru oleh Nurhuda, Pak Kebon oleh Belqiz Rachman. Masih ada lagi Eva Putri, Arbain, Tarsan, Syamsuri Kaempuan dan lain-lainnya. 

Lokasi sengaja di pilih di sebuah SD Negeri Cibadak diluar kota Sukabumi, karena ceritanya memang dikisahkan terjadi di sebuah kota kecil diluar Jakarta. Keseluruhan suting berakhir tanggal 12 Agustus 1989. Giliran Embie C Noer untuk mengisi ilustrasi musiknya, disamping ada enam lagu anak-anak agn khusus disiapkan olehnya . 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Wednesday, March 4, 2026

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Monday, March 2, 2026

RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk

 


RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".

Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989. 

"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".

Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".

Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".

"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".

Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".

"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia. 


di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Friday, February 27, 2026

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

DEVI IVONE ganti nama Devi Sabah


DEVI IVONE ganti Nama Devi Sabah. Devi Sabah, film-film yang dibintanginya sebagian besar bertema action. Pertama kali bergelut dalam dunia film tahun 1987 padahal sebelumnya ia tak pernah terbersit niat menerjuninya. 

Di lahirkan dan di besarkan di pulau Nunukan dekat perbatasan Malaysia. Setelah lepas SMA ia sering berkeluyuran di Sabah dan Sarawak. Ia tak pernah bermimpi jadi bintang film. Ketika hijrah ke Jakarta itulah awal berkenalan dengan dunia film. Lewat seorang teman ia pun diperkenalkan pada seorang sutradara. "Sutradara itu memberikan semangat buat saya kepercayaan saya pun tumbuh," katanya. 

Tatkala dilihat kemahiran dalam film-film action, maka tawaran buatnya makin berdatangan. Devi tetap bermain di film-film bertema  action dan horor. Semua tawaran diterimanya hingga ia tak pernah tidur pulas. Setiap pulang suting pagi hari. Devi nyaris tak tidur, pasalnya disiang hari ia sudah harus hadir di lokasi untuk film yang lain. Disamping itu iapun disibukkan dengan olahraga serta jadwal kegiatan lainnya. Karenanya mau tak mau ia harus memakan makanan yang tinggi gizinya, agar tetap sehat dan kuat. 

Karena kurang dikenal dengan nama Devi Ivone, maka sejak main di film "Syech Siti Kobar Membangkang" yang disutradarai Ratno Timoer itu ia mengubah nama dengan Devi Sabah. "Saya ganti nama karena saya suka aja. Nggak ada alasan lain kok, " ungkapnya dengan logat melayu. 

Selama ini dalam film-filmnya suara Devi selalu diisi orang lain. Karena itu kini, ia ngotot belajar bahasa Indonesia. Dan itu akan ia buktikan di film "Tertangkap Basah, lewat arahan SA Karim. Keinginannya sih dapat masuk nominasi sebagai artis terbaik. "Kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi. Maklum deh lingkungan saya dekat dengan Malaysia dari keluarga saya pun banyak yang telah jadi warga negara Malaysia. Yah kini saya mesti bisa berbahasa Indonesia, ucapnya mantap. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Thursday, February 26, 2026

NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O

 


NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O . Kalau ada anak-anak yang butuh perhatian oleh Ibu atau neneknya itu lumrah. Tapi kalau sebaliknya, ada nenek yang butuh di perhatikan oleh anak dan cucunya? itu juga wajar kalau dilihat dari kebutuhannya, " tegas seorang nenek. 

Adalah Nani Somanegara, si Nenek itu yagn asli Sunda. Tahun 1968/1969 itu awal kariernya dalam film. Ketika itu ia masih menjadi figuran dalam film "Kamar 13". Kemudian oleh Nyak Abbas Acup, ia dilibatkan dalam film yang berjudul "Nency". Lalu cukup lama beristirahat, tapi kecintaanya terhadap dunia film ternyata mampu menunjukkan jalan. 

Lalu ia terlibat dalam film Kasmaran, Gema Kampus, Pacar Ketinggalan Kereta dan  film komedi situasi "Cas Cis Cus" arahan sutradara Putu Wijaya. 

Dalam film Cas Cis Cus, Nani mendapat peran yang cukup penting. Memerankan tokoh nenek yang sempat sewot karena nggak boleh nonton film video p o r n o . Perannya emmang berat. Perwatakannya jauh berbeda dengan keadaan saya. Itu peran antagonis, yang menantang saya, " ujar ibu yang pernah aktif di Studi Teater Bandung ini. 

"Saya dulu pernah merasa sangsi, apakah bisa dan cocok memerankan tokoh nenek seperti itu, peranan Putu Wijaya dalam menggarap watak dan emosi saya cukup besar, " papar ibu Nani yang pada tahun 1974 sampai pembuatan film Kasmaran sempat istirahat total dari film. "Sekarang anak-anak sudah gede-gede, jadi bisa ditinggal kemana-mana, " jelasnya dengan nada rendah berwibawa. 

"Kalau saya melihat jauh keluar, saya membayangkan, kok ada orang tua yang mempunyai sifat sperti itu? Kalau ada nenek tau kakek yang ingin menikah lagi, itu banyak penyebabnya, tapi sebenarnya juga tergantung pada pribadinya dalam pergaulan, " tambah Nani lagi. 

Seperti yang ia katakan, masa-masa tua memang merupakan masa yang serba susah. Seperti nenek dalam film Cas Cis Cus itu misalnya, sebenarnya ia ingin sekali di perhatikan anak-anak , menantu dan cucu-cucunya, Kalau ada orang tua yang keinginannya tidak dituruti, tentu ia akan bereaksi. 

Nani Somanegera, memang seorang nenek setia. Bukan hanya setia pada keluarga, juga setia pada perfilman Indonesia. "Saya seperti punya tanggungjawab pada dunia film. Pertama saya senang . Dan saya memang punya keinginan menyukseskan perfilman. Kalau untuk menyalurkan bakat, saya memang sudah terlambat, "ujarnya merendah.

Sebagai seorang nenek yagn mempunyai lima putra dan 13 cucu, Nani ternyata masih giat dan tekun bekerja. Selain main film dan drama televisi, juga mempunyai kesibukan lain di rumah, yaitu merias pengantin. 

Sosok nenek yang lahir di Bandung, 17 Juli 1937 masih giat bekerja dan mampu berakting dengan mantap. Tak perlu heran, karena dia terlahir dari keluarga seni. "Suami saya juga dari teater, jadi untuk kegiatan saya di film dan seni nggak ada hambatan. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 25, 2026

FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN?


 FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN? (Berita lawas). Anggapan bahwa film bermutu kurang laku dalam peredarannya nampaknya memang belum mau sirna. Hal itu memang banyak buktinya. Kalau soal mutu diukur dari hasil penilaian Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Cukup banyak contohnya yang bisa ditampilkan. 

Kita lihat saja misalnya FFI '79 dimana sistem nomine mulai diterapkan. Kecuali November 1928 garapan Teguh Karya yang akhirnya terpilih sebagai Film terbaik di FFI Palembang. Masih ada beberapa film lain yang tergolong bermutu. Pengemis dan Tukang Becak garapan Wim Umboh, Buaya Deli yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ada pula Kemelut Hidup garapan Asrul Sani. Film-film tersebut dalam peredarannya boleh dibilang kurang berhasil, bila dibandingkan dengan Inem Pelayan Sexy atau Rahasia Perkawinan yang meraih Piala Antemas sebagai film terlaris dan banyak dibicarakan masyarakat luas. 

Tahun berikutnya, FFI '80 di Semarang, Perawan Desa terpilih sebagai film terbaik. Nah film unggulan lainnya, Kabut Sutera Ungu yang disutradarai Sjumandjaya, Rembulan dan Matahari karya pertama Slamet Rahardjo yang akhirnya terpilih sebagai film terbaik kedua , ada pula Yuyun (Pasien Rumah Sakit Jiwa) garapan Arifin C Noer, Gadis Penakluk arahan Eduard Pesta Sirait. 

Namun dibangingkan Gita Cinta Dari SMA-nya Arizal, Iramaya dan Kakek Ateng, Film-film nominasi itu dalam mengumpulkan penonton jauh ketinggalan. 

Perempuan Dalam Pasungan barangkali memiliki keistimewaan tersendiri. Film terbaik arahan Ismail Soebardjo ini memang sukses di peredran. Hal itu dimungkinkan karena peredaran film patungan Garuda film, Gemini Satria Film dan Interstudio itu memang pas masa peredarannya. Setelah terpilih sebagai film terbaik FFi '81 segera pula beredar di bioskop. 

Yang juga sukses tahun itu dalam segi mutu masih ada beberapa film . Para Perintis Kemerdekaan (Dibawah Lindungan Kabah), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Laki-laki dari Nusakambangan yang memberikan piala citra pertama buat maruli Sitompul. Teguh Karyapun menyodorkan satu film, Usia 18.

Sundel Bolong, film mistik garapan Sisworo Gautama Putra yang mendapat Piala Antemas di Medan, kembali membuyarkan image yang mulai di bangun Perempuan Dalam pasungan dan Kabut Sutra ungu sebagai film bermutu dan laku. Pada tahun berikutnya tak ada film terbaik yang penontonnya mampu menyaingi perolehan penonton yang dikumpulkan film-film Warkop DKI . pertanyaan tersebut memang sulit untuk memperoleh jawaban yang pasti. Yang jelas film bermutu memang  sulit bersaing dalam pengumpulan penonton. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.


Monday, February 23, 2026

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Saturday, February 21, 2026

AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak!

 


AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak! (Berita Lawas). Dr. Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI ternyata pernah menjadi soerang penarik becak. Tapi jangan salah, pekerjaan yagn mengandalkan otot-otot itu dia geluti hanya dalam cerita sandiwara TVRI. Persisnya tahun 1973 tak lama sesudah dia dipindahkan tugasnya ke Jakarta dari Cilacap. 

"Begitu saya pindah ke Jakarta, langsung diajak kawan-kawan main sandiwara lagi," kenang Amoroso Katamsi jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogya tahun 1966. Apa judul Sandiwaranya? "Wah saya lupa. Yang saya ingat cuma pengarah acaranya Amir Hamzah, "katanya sambil mencoba mengingat ingat. 

Pamen ABRI berpangkat kolonel TNI AL ii memang bukan orang baru di bidang teater. Ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, Tam demikian panggilan akrabnya terlibat aktif dalam kegiatan pentas. Tahun '62-64 dia jadi anggota grup studi drama Yogya dibawah asuhan WS Rendra, kemudian Tater Muslim ('63-66). Selesai kuliah Amoroso memasuki dinas TNI AL (1966) dan selama tiga tahun hingga 1969 ditempatkan di kapal Skadron 31 (Sebagai dokter kapal). Turun dari kapal dia ditempatkan di Lanal TNI AL  Cilacap seabgai kepala kesehatan, hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 1973. Selama bertugas di darat itu Amoroso sempat membentuk grup Teater Widjajakusumah di Cilacap. 

Kecintaanya terhadap dunia teater ini rupanya sudah mendarah daging bagi putra pasangan Pak Slamet Martorahardjo/Iman Sopijay yang dilahirkan di Jakarta  21 Oktober 1940. Walaupun sehari-harinya dia cukup sibuk dengan tugasnya di lingkungan TNI AL, namun dia tak melewatkan kesempatan untuk tetap manggung, termasuk kegiatannya dengan Teater Kecilnya Arifin C Noer. 

Bertolak dari dunia panggung pulalah Amoroso Katamsi diajak main film. Dimulai dengan film semi dokumenter Darah Ibuku (1976). Disusul Cinta Abadi, Menanti Kelahiran, Terminal Cinta dan banyak lagi. Kesempatan paling berharga dan mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup ialah ketika dipercaya memerankan tokoh Mayjen Soeharto dalam film Penumpasan G 30 S/PKI, sebuah film yang mengungkap peristiwa berdarah G 30 S/PKI.

Tidak banyak orang tahu, bahwa Amoroso ketika masih menjadi mahasiswa dulu (1962-1966) adalah juga seorang penyanyi seriosa di samping penyanyi koor. Kegiatan dunia tarik suara memang sejak lama dia tinggalkan, namun kegiatan akting tetap akan dia pertahankan sampai entah kapan. 

"Kebetulan pimpinan memaklumi kegemaran saya," paparnya perihal dunia akting yagn digelutinya selama ini. Jadi kalau ada tawaran main film dan kebetulan waktunya memungkinkan biasanya Pak Dokter yang Pamen ABRI ini diberi kelonggaran oleh pimpinannya. Tapi seringkali juga persis ada tawaran dia sedang sibuk-sibuknya di kantor, sehingga sulit meninggalkan tugas. Kalau terjadi begitu maka panggilan tugas biasanya lebih diutamakan. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Thursday, February 19, 2026

AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS

 


AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS. "Ini film komedi pintar. Tidak sekonyol film komedi lain. Ada segi intelektualnya, " kata Amak Baljun memberi komentar tentang skenario film Cas Cis Cus. 

Lho, kok, berani-beraninya ngasih komentar. Lalu apa hubungannya dengan Cas Cis Cus? Jangan buru-buru emosi. Amak Baljun, senior Teater Kecil yang juga menjadi direktur sebuah PT yang menangani barang-barang cetakan,  ikut meramaikan film Cas Cis Cus. Dalam film ini, Amak begitu panggilan akrabnya memerankan tokoh Item. Seorang tua yang buta, punya jabatan jadi tukang pijat. Karena sering memicat nenek Cas Cis Cus, hati dua insan kakek nenek ini pun bergetar. Lalu mereka kawin dengan tuntutan harus diramaikan dengan musik dangdut. Dasar nenek!. 

Pak item alias Amak Baljun ini dilahirkan di Surabaya, 12 Juli 1944. Sejak kecil aktif di dunia seni. Lalu tahun 1972 menikah dengan seorang wanita Betawi. Dalam dunia seni peran, Amak Baljun selalu totalitas dalam bermain. Ia juga dikenal sebagai Si Komarudin dalam film Janur Kuning .

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 18, 2026

SUTING FILM RAWING II


 SUTING FILM RAWING II, Lesunya Perfilman Nasional tidak membuat produser maupun sineas negeri ini staknasi. Sebaliknya, keadaan yang ada dijadikan semangat untuk mencari terobosan baru dalam memproduksi sebuah film. 

Alternatifnya tidak hanya anggaran di perketat, tapi juga sistem penggarapannya. Demikian produser Andi Mulyo yang kini berbendera PT. Elang Perkasa Fim menggerakan 'armadanya'. beberapa film telah diuji coba, diantaranya Saur Sepuh V, Angling Dharma II dan Tutur Tinular IV. Ketiganya action klasik tersebut di produksi didalam kota jakarta berlokasi di Taman mini Indonesia Indah dan  Kebon Binatang Ragunan. Meski rada lemah dalam sinematography, tapi lumayan dalam pemasukan. Dalam kondisi perfilman lagi lesu, ternyata sistem ini cukup efektif. 

Bukan hal yang mengagetkan bila Rawing II, film tema action klasik ini 100% berlokasi di Jakarta. Tommy Burnama selaku sutradara, membikin film tersebut 80% berlokasi di Pulo Mas Pacuan Kuda. Suatu hal yagn jarang terjadi membikin film tema action klasik di tengah kota yang padat penduduk. 

Area Lokasi suting paling banter 1000 meterr persegi, sementara di sekelilingnya terhampar kawasan rumah elite. Lokasi tersebut lebih mirip sebuah studio, hanya saja tak beratap. Dua bangunan utama, rumah panggung yang tak jelas akar budayanya, menjadi titik sentral tempat permasalahan (konflik) terjadi. Batang pohon akasia seperti dewa penolong dapat dijadikan bertenggernya kawat sling. 

Bangunan Induk tersebut dibikin dengan biaya tidak terlalu mahal, kayu rombengan dengan atap nipah kering sebagai bahan dasarnya cukup artistik untuk  kelas film action. Delsy Sjamsumar, selaku penata artistik cukup jeli memanfaatkan gundukan tanah sperti sebuah lembah di tengah bukit, di sebuah pedesaan. Kalau bisa di duga, semahal-mahalnya film ini paling banter menghabiskan dana 150 juta. Namun, anggaran bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membikin film laku. 

Dari keseluruhan suting, nyaris 75% adegan dibuat malam hari. Sangat menolong sekali untuk dapat menyolong lampu-lampu jalanan , maupun lampu-lampu yang datang dari rumah dikawasan elit itu. Kalau mau jujur, lokasi tak layak untuk membikin film bertema klasik. Kalau kamera berputar 90 derajat maka kamerawan akan menyapu atmospher yang berbau modern. 

Thomas Susanto selaku kamerawan tidak mau tinggal diam, akalnya cukup jeli mencari angle kamera. "Mau tidak mau, saya lebih banyak mengambil low angle, " katanya. Dengan menyapu kamera mengarah ke langit, menutupi atmospher modern. "Saya harus ekstra kerja keras, " katanya disela suting berlangsung. Tak jarang juga Thomas Susanto memanfaatkan sling untuk mencari kedinamisan angle. Dengan sling apa adanya, masih primitif bila dibangingkan film impor, tak membuat kru yang lainnya patah semangat. Malah sebaliknya, keinginan kru membikin film laku sangat menggebu gebu. 

"Kami tidak mau berteiak menangisi lesunya perfilman, sekarang bagi kami adalah membikin film laku, " kata seorang kru dari departemen artistik. Disana sini masih terdengar keluhan kru tentang honor film. "Kecil tidak apa-apalah, yang penting bisa kerja, " ujar kru lainnya yang tak mau di sebutkan jati dirinya. 

"Setelah dilihat rush-copy film ini ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan suting di Pelabuhan Ratu atau di Pangandaran. Yang jelas tidak ada kebocoran suasana modern, " kata Tommy Burnama di sela suting. 

Agaknya sistem suting seperti ini akan terus dilaksanakan setelah diuji cukup efektif. Industri film Hongkong sendiri membikin tema action klasik berlokasi suting ditengah kota. "Ketika kru Hongkong datang ke lokasi suting kami, mereka juga menyambut gembira. Begini cara kami membikin film di negeri kami, " kata Tommy menirukan kru film Hongkong. 

*****


Rawing I sangat beda dengan Rawing II dalam episode si Rawing Pilih tanding ini. Baik dari segi bintangnya maupun krunya. Rawing I disutradarai oleh Denny HW, berlokasi di Pelabuhan Ratu dengan pelakon utama Erick Soemadinata dan Anita Sarah Boom. Sedangkan Rawing II di sutradarai oleh Tommy Burnama dengan pelakon utama Bary Prima dan Christine Terry. 

Begitu juga dalam materi cerita. Dalam episode kali ini tidak hanya mengandalkan adegan laga sebagai gacoannya. Unsur komedi dan sensualitas juga alternatif lain yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. 

"Saya di percayakan untuk menghadirkan komedi. Tapi mereka minta komedi slapstik, yang saya hadirkan komedi situasi. Jadi saya bermain karakter. Garis cerita memang tokoh Ki Debleng yang memegang kendali, " kata Winky Harun di sela break suting. 

Cerita berawal dari Rawing dan Ki Debleng berhasil mengamankan desanya dari gangguan perampok. Namun, sial bagi Ki Debleng, karena barang yang dicuri para perampok adalah barang Nini Iswari, isterinya. Tentu saja Nini Iswari marah-marah. Ia menduga suaminya sendiri yang telah mencuri  barang berhaganya. Muncul tuduhan lain dari isterinya, bahwa semua barang-barang yang hilang selama ini adalah kerjaan suaminya sendiri, Ki Debleng. 

Kalau memang bukan Ki Debleng yang mencuri, maka ia tidak boleh keluar malam, demikian larangan istrinya. Tatkala Rawing hendak pergi ke Perguruan Macan Liar, Ki Debleng merasa perlu ikut. Akibarnya, ia dikejar-kejar Nini Iswari. Akhirnya, Rawing berhasil mengalahkan Gempar sementara Nini Iswari berhasil menangkap Ki Debleng. 

Para Pelakon diantaranya Barry Prima (Rawing), Yurika Prastica (Nini iswari), Wingky Harun (Ki Debleng), Yoseph Hungan (Gempar), Christine Terry (Kartika) dan Sinta Naviri (Dayang). 

Dibidang kru : Tommy Burnama (Sutradara), Prawoto Soeboer Rahardjo (Astrada) Thomas Susanto (Kameramen), Delsy Sjamsumar (Penata Artistik), Usman Jiro (Pencatat Skrip), Karim Muda (Pimpinan Produksi ) dan Naryono Hadi sebagai Pimpinan Unit. 


MF : 178/145/THIX 1-14 Mei 1993



Sunday, February 15, 2026

SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR


 SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR! (Berita Lawas)Untuk jadi pemain film memang memerlukan pengorbanan. Paling tidak itulah yang di alami Syarief Friant. Pasalnya laki-laki tinggi besar kelahiran Ambon ini harus menggunduli rambutnya yang hitam lebat hingga plontos. "Dengan kepala plontos begini saya kebagian peran Kubilai Khan dalam film Tutur Tinular, ' katanya. 

Film itu merupakan film kesekian puluh yang dibintanginya. "Temanya laga. Dan kali ini saya diarahkan oleh Nurhadie Irawan". 

Menceritakan keterlibatannya di dunia film, Syarief menyebutkan awal terjun ke dunia film adalah tahun 1982. "Waktu itu saya diajak untuk ikut main dalam film "Pendekar Liar", katanya. Dan sejak tahun itulah, katanya ia terus ketagihan main film meskipun belum mendapat peran yang berarti. "Tapi saya senang juga. Soalnya saya terus diajak ikut main meskipun peran yang saya terima baru peran pembantu," tutur Karateka yang cuma sampai sabuk coklat ini. 

Di akuinya sampai tahun 1989 sudah lebih 40 judul film pernah melibatkan dirinya sebagai pemain. "Baik peran-peran kecil maupun peran yang agak lumayan. Terakhir sebelum membintangi Tutur Tinular , ia ikut Liliek Sudjio  dalam film Misteri Dari Gunung Merapi, " ujarnya. Di film itu sendiri Syarief mengaku masih kebagian peran sebagai Jawara anak buah Mardian. "Ya masih dalam peran banting-bantinganlah, " kata pemain yang juga pernah jadi stuntman ini. 

Toh biar baru kebagian peran-peran yang melulu berkelahi , Syarief tak berniat berhenti dari film. "Saya terus belajar kok! baik dari sutradara maupun rekan-rekan sesama pemain yang lebih senior. Saya memang nggak belajar secara formal, tapi otodidak. Biar begitu saya tetap punya niat suatu saat nanti bisa dapat peran dalam film yang temanya lain," katanya. 

Dan itu memang sudah di buktikan Syarief dengan bermain dalam film komedi. "Saya sendiri nggak tahu apa alasan Arizal mengajak saya main dalam film komedi. "Saya sih mau aja. Dan kalaupun nanti ada yagn ngajak saya ikut main drama, saya tak menolak. Soalnya saya mau main dalam film bertema apa saja, " katanya. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Saturday, February 14, 2026

ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR

 


ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR, (Kisah Lawas) Lewat penampilannya di layar kaca duet bersama Devi Novita membawakan lagu dangdut "Pacarku Rewel" Advent Bangun seperti memprokaliirkan diri sebagai penyanyi. Sengaja memilih lagu dangdut, Advent Bangun bukan saja ingin menambah barisan artis tarik suara, sekaligus ingin mengukuhkan diri tidak saja sebagai bintang laga, tetapi juga kepengin merangkul golongan bawah yang diketahui amat dominan menggemari lagu jenis ini. 

"Mereka amat banyak. Saya ingin jadi bagian dari mereka, " katanya ditengah suting film "Mat Pelor" yang disutradarai Rachmat Kartolo di Cimelati Sukabumi Jawa Barat. Advent bangun juga menjelaskan kenapa akhir-akhir ini nampak gigih berjuang di jalur ini. 

"Berhadapan langsung dengan penggemar di saat saya menyanyi, buat diri saya membawa kepuasan tersendiri. Saya tahu persis apa yang mereka inginkan. berhadapan langsung sikap spontan mereka yang tak dibuat-buat membuat batin saya ingin membalas sikap positif demikian dengan mematangkan karier baru ini".

Itulah sebabnya ditengha kesibkan shooting saat break ia buru-buru memacu sedan Volvonya ke Cibadak . Untuk apa? "Saya harus interlokal ke Devi Novita, merancang jadwal rekaman musik untuk volume ke IV yang bakal di garap awal januari 1991 ". Devi Novita berusia 17 tahun dan baru di kelas III SMP, merupakan pasangan duetnya. 

Devi Novita sudah dikenalnya sejak 1987 ketika sama-sama mendukung film sinetron TVRI "Arus Bawah". Devi Novita yang memiliki "jam terbang" nyanyi, langsung saja merasa cocok berpasangan dengan Advent Bangun. Advent Bangun sendiri mulai melangkah tarik suara ketika sering di panggung diundang, atau pada tour PARFI di daulat penonton untuk tarik suara, ia terpaksa unjuk diri tak kalah angin. 

"Dari situ saya merasa lebih yakin bahwa saya juga bisa menyanyi, " tambahnya. Pertama kali ia muncul dalam volume lagu keroyokan : Kutak Katik bersama 10 arstis film lainnya seperti Deddy Mizwar, Harry Capri dan lain-lain, untuk kemudian diteruskan memasuki Vol II dalam album Parade artis Ndang Ndut. 

"Saya kepingin mematangkan diri di karir baru ini. Saya terus belajar dan mencoba membuat lagu sendiri. "Advent Bangun memang terus sibuk lewat film barunya ini "MAT PELOR" merupakan filmnya yang ke 54, ia juga terus sibuk melatih karate d Paspampres dan juga Kopassus Group II Cijantung. 

Ketiganya merupakan karir yang dicobanya jalan seiring masing-masing memiliki romantikanya sendiri sendiri. 

Sebagai bintang laga, Advent Bangun nyaris mogok dan mengundurkan diri, ia menjelaskan hal itu disebabkan karena ia sudah merasa jenuh dengan peran antagonis yang selalu membuatnya makin lama makin dijauhi penggemar film silat. 

"Saya selalu menerima surat protes dan kecaman. Masak selalu jadi tokoh garang, sebenarnya awal 1989 saya sudah merencanakan akan mengundurkan diri. Bagi saya menjadi aktor lagasudah biasa, tetapi kalau terus terusan ketiban peran antagonis jadi jenuh. Saya kepingin peran lain yang aneka. Saya juga rindu dapat peran yang simpatik. Bahkan akhir-akhir ini saya tergoda dengan peran kemudian. Pengin Banget", Pada akhirya Advent Bangun membatalkan rencananya. Peran-peran protagonis mengalir kehadapannya. 

"Saya kemudian juga sadar, bahwa bertahan pada ego sendiri merupakan sikap yang kurang benar. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan peran dalam film. Tidak tergantung pada kemauan saya sendiri, " terusnya. 

Ia bercita-cita kelak, meniru jejak Silvester Stalone. Tidak saja bertindak sebagai pemeran utama, tetapi juga penulis skenario, sutradara, sukur-sukur kalau jadi produsernya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991