Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Friday, September 4, 2026

PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK

 


PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK (film lawas). Pak Tile Buta Huruf, tapi tidak pernah menyesal. Begitu adanya. Namun, paling sedih dirasakan artis jebolan "Lenong" ini adalah ketika dibelenggu kontrak. Akibat secarik kertas "perjanjian" itu tak berkutik, tak bisa berbuat banyak, dan rupiah pun berlalu. Oleh produser yang ada dinegeri ini, Pak Tile dibelenggu kontrak, isinya, setahun tak boleh ikut produksi lain. Sesuai perjanjian, Pak Tile perbulan dibayar Rp. 100.000,-, walau tidak suting. Bila suting dibayar Rp. 200.000,' sebagai honor. Selama setahun, cuma kebagian produksi 4 film. Tentu saja anak Betawi yang tidak tahu tanggal lahir ini hanya bisa menerima apa adanya. 

"Waktu itu begitu awam dengan film. Tak mengerti soal kontrak. Dan saya bersyukur karenanya, "katanya mengenang. Kontrak itu pula membelenggu dirinya. Sehingga tidak bisa berbuat apa. meski produser lain tertarik atas kemampuanya guyonannya. Soraya Intercine Film misalnya, ingin memakai Pak Tile. Honor sudah dibayar separuh, Tapi apa lacur, kabar akan berlakon di perusahaan lain sempat juga ketelinga bos pengontrak. 

"Saya tidak diizinkan, "kenangnya. Sederhana itukah alasannya? "Oh tidak! Katanya, nanti Pak Tile kalah, "sambar gaek bergigi ompong ini. Kalimat itu merupakan 'basa basi'. Kalimat semacam ini sering meluncur dari mulut produser dinegeri ini. Sebab, untuk bersikap tegas, terkadang tak punya nyali. 

"Saya malu pada produser yang akan memakai. Syukur saja dapat memakluminya,"lanjutnya sambil terkekeh. Semestinya, sebagai seorang artis Pak Tile bebas bekerja dengan perusahaan film manapun. Akibatnya, kesempatan untuk berbuat banyak berlalu, dkubur belenggu. Meski, lakonan Pak Tile cukup mujarab untuk memasukkan uang ke kocek produser. Tapi hasil honor selama dikontrak setahun, paling banter Pak Tile mendapat Dua Juta Rupiah. Meski begitu pahit, namun bapak yang kocak ini selalu bersyukur. Memang sudah menjadi pribadinya artis bernama lengkap Tile Bayan. 

Masa pahit telah berlalu. "Sekarang ogah dikontrak panjang. Sekarang, saya baru tahu gayanya  orang film,"ujar artis komedi yang melejit lewat film Cintaku Di Rumah Susun. Sutradara Nyak Abbas Akup. 

Jadilah sekarang seperti burung. Karena itu, Pak Tile telah menyelesaikan film Pasti Bisa Tahan, sutradara A Rizal. Kini lagi ikut suting film Lupus V, kebagian peran menjadi pelayan hotel,"Lumayan, honor sehari dapat dua ratus lima puluh ribu. Enaknya bisa bebas berbuat apa saja, " kata gaek yagn telah berlakon lebih dari 17 film selama berkutat 4 tauun sebagai artis nasional. 

Itu kisah sedih si buta aksara. Tapi, masih ada manusia memanfaatkan situasi ketika tahuannya itu tentang tulis menulis, "Sekarang telah bisa menentukan diri sendiri, justru itu saya bisa ikut Lenong Kembang Sereh untuk Pesta Istiqlal,"katanya sambil menarik rokok dalam-dalam saat latihan di Gelanggang Remaja Jakarta Timur. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991. 


Wednesday, September 2, 2026

SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy?


 SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy? (berita lawas). Maka, Mantan Prabu Brama Kumbara yang telah menjadi  resi pertapa itu menasihati wanapati, si raja baru. "Jangan buru-buru membuat peraturan, sebab peraturan Raja adalah hukum yang sulit untuk dicabut kembali".

Sabdo Pandito Ratu!

Dialog ini bisa ditemukan dalam adegan terakhir "Saur Sepuh 4, Titisan Darah Biru" yang sudah lulus sensor BSF tanpa potong satu frame pun, pada Senin 8 Juli 1991. 

Menurut perhitungan Handi Mulyono, produser PT. Kanta Indah Film, produksi terbarunya ini memang pasti lulus dengan mulus. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari, ia sudah menetapkan tanggal mainnya, yakni pada hari Kamis, 11 Juli 1991, sesuai dengan kalender acara yang dikeluarkan oleh PT. PERFIN 

Bukan cuma untuk penayangan di Jakarta saja, namun serentak di banyak kota besar seperti Surabaya, Semarang, Medang, Ujungpandang dan lain-lainnya. 

Namun hambatan justru datang dari pihak Inter Studio yang mencetak copy filmnya!. 

"Mixing sebanyak 6 rel, sudah selesai pada 24 Juni. Dan sebenarnyalah sejak saat itu sudah diorder pencetakan copynya ke Inter, "ungkap sutradara Imam Tantowi. 

"Semula kami memesan 100 copy, tapi mereka menyatakan tak menyanggupi. Maka kami turunkan sampai menjadi 60 copy saja dulu, "ungkap Handi. "Ternyata sampai hari Selasa, 9 Juli dilaporkan baru bisa dibuat lima copy!. Mana Cukup? Sedangkan untuk di Jakarta aja bakal main di 30an gedung. Meskipun dilakukan sistem penggabungan tiap copy ditayangkan pada lebih dari satu gedung, tetap paling sedikit dibutuhkan 20 copy. Belum lagi untuk diluar ibokota!. 

Kerja keras pihak Interstudio kemudian memang mampu mencetak lebih dari 20 copy, Kendati begitu penayangan di bioskop-bioskop Jakarta, tetap harus diundurkan. Kalau semula diharapkan sudah main pada 11 Juli, terpaksa ditunda sehari. Sedangkan penayangan di Surabaya terpaksa dimundurkan mungkin sampai awal Agustus nanti. Sedangkan trailer atau ekstra film sepajang tiga menit yang juga dipesan sebanyak 100 copy, sama sekali tidak bisa dicetak satupun. Padahal seharusnya seminggu menjelang Gala Premiernya, sudah dipasang trailernya untuk bahan promosi menarik calon penonton, tapi sampai sekang filmnya sudah main, terpaksa tanpa trailer. 

"jelas kami tak bisa menunda berlama-lama, mengingat iklan promosi sudah dipasang dikoran-koran terkemuka di Jakarta dan jawa Timur selama beberapa hari ini, disamping baliho besar yang dipajang di depan beberapa bioskop sejak sebulan yang lalu!"Kesal sang produser. 

"Itikad baik produser untuk memenuhi peraturn mengenai prosesing dalam negeri, justru terbentur oleh kekurangsiapan kerja pihak studio sendiri. 

Sejak episode pertama sampai yang ketiga, setiap judul selalu di cetak sebanyak 100 sampai 120 copy", keterangan Tantowi. "Selama ini memang dicetak di Mandarin Lab. Hongkong, Cukup lima hari sudah siap semuanya. Rata-rata maereka mampu mencetak 20 copy perharinya. Kalau perhitungannya wajar, normal-normal saja, dengan tiga unit mesin sudah bisa dicetak minimal 12 copy dalam satu hari kerja. Nah, kalau dikebut siang malam, tentunya bisa dua kali lipat kan?

Ini baru bicara soal kecepatan cetak saja, belum lagi mengenai kualitas hasil cetaknya, keprofesionalan kerja, serta harganya. Mau dibandingkan bagaimanapun juga, semua hal diatas harus diakui masih jauh lebih unggul kerja lab di luar negeri. 

"Sampai kapan baru kita mempunyai laboratorium film yang profesional? "Keluh beberapa insan film yang enggan disebut jatidirinya. ~MF No. 132/99/Tahun VII/20 Juli - 2 Agustus 1991


Sunday, August 23, 2026

IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA

 


IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA  (berita lawas). Ada cicak dapat main film? itulah Iwan Darmansyah, yang berperawakan kecil, Kini kalau ada yagn penasaran tampangnya dapat dilihat di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (PKK) garapan Teguh Karya. 

"Ya, karena saya masih kecil dimata mereka, saya selalu dilindungi mereka. bahkan anak cicak nggak boleh ikutan berantem, kata mereka. Sejak itu saya belajar karate dan taekwondo. Sebetulnya sih cuma mau nunjukkin saja, bahwa saya juga siap untuk beran tem, "cerita Iwan sembari ketawa lebar, saat ditemui di Teater Populer, jakarta. Tapi kemudian ia mengerti, ikut beladiri bukan untuk beran tem, melainkan olah tubuh sekaligus buat kesehatan. 

Usai menamatkan SMA, anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Darlis Ibrahim dan Bainer ini disarankan oleh keuda orangtuanya untuk masuk Akabri. Tapi eh Iwan malah kecantol dunia akting. Kedua orangtuanya yang moderat pun memakluminya dan malah bilang "Hadapilah!" Maka semangatpun menggebu untuk menekuni bidang tersebut. "Karena ayah saya anggota ABRI, pengennya saya mengikuti jejaknya. Tapi saya punya pilihan lain, dan ayah saya ngasih kebebasan kok, "ucapnya mantap. 

Lewat drama "Pernikahan Darah" memerankan tokoh pemuda, yang dipentaskan di TIM Jakarta, 1986, Iwan mengawali dunia akting. Dan ketika film "Ibunda" dibikin lelaki berambut keriting dan alis mata tebal ini diberi peran tokoh Fikar selagi muda. "Di dunia seni ini, mata saya bermasyarakat, pengetahuan, juga selalu ada tantangan, yaitu suatu tanggungjawab, "tuturnya diiringi satu isapan rokok kretek filter. Menurutnya, semangat hidup itu tumbuh ketika melihat cara kerja disanggar yang dipimpin Teguh Karya, yang telah banyak memberi masukan. 

Sampailah nasibnya kebagian peran Arsal di PKK , anak janda bu Retno, yang selalu ketiban gunjingan itu. "Ternyata betapa sulitnya main film, Karena tanggungjawab itulah saya berusaha keras untuk menjadi sosok lain, Arsal.  Setiap saat saya gelisah, nggak bisa tidur. Unring-uringan deh pokoknya. Saya memikirkan apakah saya ngedapetin Arsal yang seperti dikehendaki Pak Teguh?" ujar Iwan yang lahir di Jakarta, 4 Desember 1966. Namun setelah rampung film tersebut tambahnya, masih tetap dihinggapi ketidakpuasan diri apa yang telah dibahas. 

"Dan masa kegelisahan dan uring-uringan itu persis saat bercinta. Sebab, disitulah tantangan untuk mendapatkan cinta sekaligus berusaha bertanggungjawab pada orang saya cintai itu, "tegasnya sembari menyeringai. 

Di lain waktu, Teguh Karya pernah memberi komentar terhadap permainan anak muda ini, pemain yang belum ngetop bisa main setara dengan pemain yang sudah ngetop. "Lihat dan bandingkan, jelas antara Iwan dengan Onky, itu misalnya kan  permainannya nggak ada bedanya,"tegas sutradara kawakan itu. Pendapat Iwan sendiri? Ia hanya tersenyum sedikit sumringah. "O, saya senang dapat komentar sepert itu. Terus terang saya main secara maksimal. Tapi setelah itu saya selalu merasa tidak puas. Saya pengin lebih dari itu lagi. Lagi pula saya main bukan dengan Onky, tapi lawan main saya adalah tokoh Heru yagn dimainkan di film PKK ini . Jadi tokoh Arsal dengan tokoh-tokoh lainnya yang mesti dilihat permainannya, "jelasnya bersungguh-sungguh. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Tuesday, August 11, 2026

NIA LAVENIA


NIA LAVENIA, KARAKTER YANG TIDAK BERUBAH (berita lawas). Dalam sinetron Jerat-jerat Cnta, garapan H. Alfadin, yang ditayangkan RCTI, peran Nia Lavenia tak banyak berubah dari porsi lama, 'nelangsa!. Padahal tema sinetron 12 episode tersebut mengangkat problematika kalangan jet set. Tapi Nia masih tampil sebagai gadis lugu, jujur dan menganut sistem budaya "arus bawah".

"Rambut saya yang mendukung karakter itu. Dari dulu saya memang suka rambut panjang. Segini terus, paling potong dikit tiga bulan sekali. Belum ada niat berambut pendek, "kata Nia. 

Dua judul sinetron agi sedang diperani artis yang sempat mengisi rubrik Wajah di RCTI ini adalah "Mahkota Wilwatikta (26 Episode) sinetron klasik garapan Abnar Romli untuk RCTI. Satu lagi Nurlela, dipersiapkan untuk SCTV. "Karakter saya nggak berubah. jadi gadis baik yang sederhana,"lanjut Nia. 

Di sisi lain karir nyanyi dan model iklan Nia terus menanjak. Sosoknya tak pernah sepi dari layar televisi. Di samping sibuk suting dua sinetron, Nia siap merampungkan video klipnya untuk album terbaru Melodi Memori. Padahal kontrak acara Zimfoni SCTV yang dipandunya belum habis. Masih sekitar 6 bulan lagi. Tiap hari Kamis dan Jumat, Nia harus suting paket musik tersebut. 

"Apalagi sekarang mulai ada perombakan karena banyak pemirsa yang mengatakan bahwa teknis penyajian Zimfoni terasa agak monoton. Proses sutingnya tetnatu akan memakan waktu lagi. Tapi saya suka, karena sedikit banyak menambah apresiasi pengetahuan musik, "kata Nia yang sempat hits dari tembang dangdut Cinta Lahir Batin. 

Popularitas Nia juga berkat iklan yang dibintanginya. Paling sedikit ada 12 produk . Nia tampil seksi ketika pakai bajur renang , salah satu produk pembalut wanita. Nggak risih mengingat kamu tampil pose pose sensual?

"Iya sih! Tapi masih untung karena ngambilnya dari depan dan itu hanya sekilas saja. Saat saya muncul ke permukaan kolam renang, kesannya kan nggak nakal" kilah Nia kendati demikian, Nia tak luput dari protes penggemar. 

"Kalau show di pentas-pentas musik dangdut saya pakai kostum biasa-biasa saja tanpa harus goyang seronok. Begitu jug afoto-foto saya di majalah. Rasanya sih sopan semua. Mungkin mereka kaget, kok saya tampil pakai baju renang? imej fans saya mungkin juga sudah terbentuk..ha...ha.."kata artis berlesung pipit ini sambil tertawa. 

~MF 222/188/TH XI, 17 - 30 Desember 1994

LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI

 


LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI (berita lawas) Usaha layar tancap, masih tergolong baru (saat berita ini diturunkan), Ayong Suteja mungkin, orang pertama yang membuka usaha jawa hiburan untuk masyarakat pedesaan itu. Ia memulai usahanya sekitar tahun 60an, ketika film Indonesia masih hitam putih. 

Mantan tukang 'babi' di daerah Glodok, Jakarta barat itu semla hanya memiliki 1 unit film keliling. Berkat ketekunannya, usahanya berkembang baik. Di akhir tahun 80an ia memiliki sekitar 30 unit film keliling dengan sekitar 250 copy film yang masih layak diputar. 

Ia mengaku karena anaknya sudah jadi sarjana semua, juga dibiayai dari usaha layar tancapnya. Maka sebagian peralatnya di jualin, "sekarang ini hanya untuk kesibukan saja. Nggak kayak dulu lagi, "kilahnya. 

Setelah Ayong, bermunculan pengusaha lain, ada H. Somad salah seorang karyawan NV Perfini yang pernah menjadi anak emasnya Usmar Ismail, H Naban, Rachmad Saleh, M. Zachri Rachman, Muntalib Syah, Tito dan masih banyak lagi. (Nama terakhir pasti tahu lah ya, Tito Film dimana-mana )

Mereka itu tergolong sukses. Unit film yang dimiliki sekitar 20 unit, dan film yang dikuasaipun lebih dari 200 copy film. Bahkan H. Naban, kabarnya mempunyai lebih dari 1000 copy film dan sekitar 100 unit film, Luar Biasa!.

Teori Pengembangan usaha H. Somad hingga begitu berhasil, karena ia memberikan pelayanan purna terhadap orang yang menyewa film-filmnya. Untuk orang hajatan, misalnya, H. Somad menyewakan film dalam bentuk paket, dengan perlengkapan pesta lainnya. Tenda, dan semua perlengkapan pesta, disediakan. harga sewanya relatif murah, hanya sekitar Rp. 400.000 saja.Padahal untuk tanggapan filmnya saja, 5 film sudah sekitar Rp. 200.000, itupun dengan film-film yang tergolong baru. (angka tersebut ditahun 1989). 

Untuk film yang agak lama, di Jakarta bisa Rp. 150.000 saja, jelas Zachri. Usaya layar tancap ini, sambung H. Somad banyak unsur sosialnya. Maksudnya, sering dimintai sumbangan. Misalnya, kalau lagi Agustusan, yang diminta sumbangan film ini mulai dari kecamatan sampai tingkat RT. belum lagi dari instansi pemerintah. 

"Tapi mau bilang apa, Kalau nggak mau sosial, ya nggak punya teman. Padahal teman itu penting!"tukas H. Somad. 

Ibarat petani, lanjutnya, usaha layar tancap juga ada musim panen dan pacekliknya. Dalam setahun, musim panen itu hanya sekitar 3 bulan saja. Bulan Syawal, Besar dan bulan haji. (btw bulan besar sama bulan haji bukan sama ya, hehe). Biasanya bulan-bulan tersebut banyak yang hajatan. Mantu, khitanan atau hajatan lainnya. "Pada musim panen, unit yang keluar hampir semua. Kadang-kadang sampai cari pinjaman ke teman lain segala, " tukas M. Zachri. 

Tapi kalau lagi paceklik, biasanya musim hujan, dua panggung saja sulit. Kadang, sambung H. Somad, kosong sama sekali. Selama 22 tahun bisnis layar tancap, cukup banyak suka dukanya. Dan pengalaman yang paling menarik, beberapa tahun lalu, ia pernah menerima bayaran sewa film dengan dua ekor kambing. 

"Kasihan, sih! Tapi, saya kan juga harus bayar karyawan yang putar film, "jelas Somad seraya melanjutkan kisah lucunya itu. Beberapa tahun silam, ada orang hajatan nanggap filmnya. 

Waktu itu musim hujan. Persiapan tuan rumah tidak matang, hanya mengharapkan sumbangan dari undangan. Karena sejak sore hujan turun lebat, undangan yang hadir tak banyak . 

Karena uang tak cukup untuk membayar sewa film, tuan rumah bilang, "Silahkan ambil kambing itu dua ekor. Pilih ang dianggap cukup untuk bayar sewa film,".

"Kasihan, kambing itu, ternata kambingnya anak yang dikhitan. Dia yagn sebenarnya harus bahagia, sunat ditanggapkan film, pagi-pagi kambingnya yang buat bayar, "jelas Somad. Kelihatannya, dia mau nangis. Tak sanggup melihat anak itu lanjutnya, segera saja pamitan pulang. ~~MF 085/53/TahunVI, 30 Sept - 13 Okt 1989


Monday, August 10, 2026

MENDIANG KIKI FATMALA


 MENDIANG KIKI FATMALA (berita lawas). Kecantikan, kemolekan, keberanian dan usia muda adalah bagian dari jalan meraih kesempatan yang menjanjikan. Itu motto Kiki Fatmala, wanita yang mengawali karir di film sejak 1988 yaitu sejak di film "Permainan Di Balik Tirai", Pembalasan Setan Karang Bolong, Kisah Cinta Nyi Blorong, Pengantin Rimba Hitam dan Disini Mau Di Sana Mau. Peran menantang yang diartikan tentu saja berani buka-bukaan, asal tak semua di copot oke-oke saja. Dan kini ia bisa menempati rumah di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan bersama perabotan plus sedan Honda Civic LX, serta tabungan rupiah yang tak mau di sebut angka nolnya. 

Dulu, gadis kalem tapi type penggoda ini menganggap main film sebagai pelarian. "Karena nganggur, nggak kuliah, ya saya anggap aja ini juga kerjaan. "Kan menghasilkan duit. Tentu dong, saya pun senang, "Kata Kiki yang genap berusia 20 tahun pada 20 Oktober 1989. 

Justru, tuturnya kemudian, main film bikin ia sibuk. Dengan begitu Kiki dapat melupakan kepedihan hati. "Dulu saya iri pada teman-teman. Mereka bisa bercanda dengan ayahnya atau ada ayah yang mencium pipi teman jika pulang atau pergi dari suatu tempat. Tapi, saya dirumah tak ada ayah. Terasa ada yang kurang pada perasaan saya, ungkapnya dengan nada getir. Ayahnya, Haryono (Sunda) harus bercerai dengan ibunya, Farida (Pakistan) ketika ia muda belia pada usia 2 tahun. Ayahnya kawin lagi, dan kiki pun bertambah adiknya, 5 orang.. 

"Saya pernah bertemu dengan istri ayah yang itu, Kita baik kan kok, " katanya. Perasaanmu nggak sebel melihat mukanya? jawabannya cuma senyum tipis sembari buru-buru menyulut rokok yang kelima. 

Perokok berat yagn sehari menghabiskan dua bungkus rokok, bahkan 4 bungkus kalau lagi suting ini mengaku jika sedang pikiran kalut atau sedih, ia malah mengurung diri dikamar. Habis-habisan deh menangis, "ujarnya. Namun ia beruntung, ia tak bisa mabuk yang biasanya untuk melupakan dunia, lantaran ia nggak doyan dunia, lantaran ia nggak doyan minuman keras yang rasanya pahit itu. ~MF 085/53/TahunVI, 30 Sept - 13 Okt 1989


Saturday, August 1, 2026

CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG

 


CATATAN SI BOY 3, YANG PENTING MEJENG  (film lawas) -. Inilah film "Catatan Si BOy" Jilid III yang semakin membawa orang pada dunia mimpi dan menyeret trend film Indonesia menjauh dari isi. Agar mimpi kian mendekati kenyataan, jangan lupa nonton film sembari minum Pepsi Cola dan merokok Bentoel, agar kian menyatu dan apa yang di pamerkan Nasri Cheppy, sutradara muda berbakat yang larut dalam arus sorak sorai penontonnya. 

Ceritanya tak begitu penting karena memang tak menjamah hal-hal baru. Si Boy, tiba-tiba pingin sekolah ke Los Angeles. 

Vera, doinya, yang ditinggal, gelisah dan pengin liburan ke LA, nyusul si Boy. Dan tak usah bingung kalau melihat Emon tiba-tiba juga kangen si Boy dan pengin liburan ke LA. Ini biar gampangnya saja meski ada kesan menyepelekan otak sehat kita. 

Tak perlu tahu apa kerja orangtua mereka. Cuma yang dikagumi para orang tua ini langsung mengiyakan saja keinginan anak-anak mereka. Di Amri (Amerika), Boy kita kenalan cewek disc jock turunan Philiphine Indonesia, Sheila, setelah Boy jadi 'pahlawa, menyelamatkan Sheila dari perkosaan bule yang gede tapi toh kalah sama Boy. 

Di Amri, tak perlu dikisahkan apa kerja Vera dan Emon karena tak penting benar, terkecuali mereka Shopping, ke pantai dan keluyuran. Sebab disini ada Jeffy, orang Indonesia yang hebatnya jadi kepala geng berandal para bule brewok, yang bentrok dengan Boy gara-gara Boy pengin menyelamatkan Sheila dari ketergantungan kokain, selanjutnya cerita bisa dikarang-karang sendiri, bisa ditambah sesuka sutradara dan penulis cerita. Dan jangan lupa membayangkan diri dalam kehidupan Boy, naik Ferari sembari minum Pepsi. Karena itulah iming-iming sembari ngobrol "fuck yon!"

"Catatan Si Boy III bisa di catat sebagai kemajuan penguasaan tekhnis yang dimiliki Nasri Cheppy. Ia makin cekatan dalam mengolah adegan dan menemukan gambar-gambar menghibur. Tapi ia lupa bahwa isi dan cerita adalah persoalan serius dalam membuat film. Tapi "Cabo III" sungguh menyepelekan selera keseriusan kita dalam menikmati film yang agak baik. Apalagi disini tak ada kemajuan akting para pemainnya. Adakah ini bentuk main-main dari sutradara Cheppy seperti yang digambarkan pada adegan akhir, dimana semua pemain disuruh mejeng dan sang sutradara diperlihatkan asyik menyutradarai pemainnya? Siapa tahu itu benar, dan itu sungguh sayang.~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

Persembahan : Asosiasi Importir Film

Produser : PT Bola Dunia Film

Sutradara : Nasri Cheppy

Cerita, skenario : Marwan Alkatiri

Pemain : 

Onky Alexander ..............Si Boy

Meriam Bellina................Vera

Didi Petet ........................Emon

Leroy Osmani .................Jefry

Ida Kusumah....................Mama Vera

Bella Esperance..............Sheila

Friday, July 31, 2026

IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS

 


IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS, (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Irma Yanthie? Irma Yanthie, dara manis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1965 lagi menggebu-gebu dengan dunianya. I atak banyak tawar menawar dengan produser, bukan materi yang dicari semata , mengembangkan popularitas agar lebih mudah dikenal masyarakat. Dunia yang sekarang di geluti ternyata cukup bisa buat menghidupi dirinya, walau hanya cukup untuk jajan. 

Pernyataan ini memang dapat di buktikan oleh Irma. Tengok saja dalam film-film yang pernah dibintanginya diantaranya, Bukit Berdarah, Siluman Clurit perak, Bila Saatnya Tiba, Kejarlah Daku Kau Kutangkap , Ayu dan Ayu, Gadis Pendekar, Cewek-cewek Pelaut, dan juga Durjana Lumut Hijau. 

Wow, Irma boleh dibilang diam-diam berbahaya. Itung-itung dari 8 film yang dibintanginya ia bermain cukup prima. Walau bermain  sebagai peran tambahan tapi ia pantang putus asa. Tekat ini yang menjadi tuntutannya hingga mendapat kepercayaan sebagai pemeran pembantu wanita. 

Saya nggak pilih-pilih soal peran asal sesuai dengan keinginan. Dan saya paling suka adegan yang mengarah romantis, " cetus cewek yang memiliki ukuran BH 36. Irma paling pandai dalam adegan romantis, ini ia lakukan agar cepat untuk meraih popularitas. Namun sebagai wanita, Irma punya batas-batas yang memang sudah ia tentukan sejak menekuni dunia film. 

Irma juga terjun di dunia foto model. "Yah bisa buat nambah untuk adik-adik saya yang masih sekolah , kan, saya belum punya pacar. Kesempatan bisa bantu orangtua, " jelas Irma yang juga terjun di dunia tarik suara. 

Karirnya memang berjalan cukup mulus, bisa dibayangkan belum lama di dunia film, Irma langsung juga nyrondol nimbrung nyanyi lewat album yang berjudul Pacar Rewel sempat memasuki pasaran blantika musik. ~~MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Wednesday, July 29, 2026

FARID HARDJA, DALAM KENANGAN


 FARID HARDJA, DALAM KENANGAN (Berita Lawas). 

Kukenal dikau lalu jatuh cinta

bagai pertama

dan kucumbu dikau penuh kasih mesra

bagai cerita

wo wo Karmila...

Lagu berjudul Karmila itu kini tak lagi bersanding dengan pelantunnya, Farid Harja yang telah meninggal dunia. Bertubuh tambun, bergaya raper, berbusana gombor dan kacamata, serta syair sedikit nakal. Itulah beberapa ciri yang dimiliki almarhum yang lahir di Sukabumi, 7 September 1950. 

Farid Hrja telah pergi meninggalkan pencintanya. Diam-diam almarhum di akhir hayatnya sering di rongrong penyakit diabetes dan jantung. Rupanya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakrta merupakan tempat penyanyi ini menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Almarhum Farid meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung 8 bulan serta setumpuk lagu ciptaannya yang belum sempat dihancurkan. Menurut keluarganya, almarhum seakan tak mengindahkan penyakit yang selama ini diidapnya. "Almarhum dirawat karena penyakit gula dan sempat mengalami stroke sebelum akhirnya kami bawa kerumah sakit di Sukabumi dan dilarikan ke RSCM di Jakarta, " jelas kakak almarhum, Ny. Tati Harja. 

Banyak seniman musik yang merasa kehilangan artis yang disebut sebagai pendiam, tapi juga pemilik humor khas ini. Selain teman-teman almarhum semasa di kelompok Bani Adam (yang melahirkan lagu Karmila), juga artis-artis pendukung lagu dan klip lagu terbarunya, Partai Sembako, mengaku terkejut atas kepergian Farid Harja. 

Erie Susan, penyanyi dangdut yang pernah mendampingi almarhum untuk album dangdut berjudul Itu Cinta mengaku kaget mendengar berita kematian Farid Harja lewat berita SCTV. "Saya benar-benar nggak nyangka, Saya kaget dan ikut sedih, " komentar Erie yang mengaku  punya kenangan bagus selama rekaman lagu Itu Cinta bersama almarhum, "Almarhum orangnya baik dan taat pada agamanya, " komenar Erie akhirnya. 

Terlahir di kota Sukabumi, almarhum pada akhirnya pun dikebumikan di daerah yang sama. Setelah Akang pergi tak ada lagi tubuh besar yang siap menggoyang panggung dengan suara bariton dan nada yang kocak. 

Dalam perfilman, Farid Harga juga bermain di film Ini Rindu bersama Arianto Wibowo, dan Ayu Lestari. ~MF 328/294/XV, 9 - 22 Jan 1999

Sunday, July 26, 2026

ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME

 


ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME (FTV Lawas). Ada yang masih ingat Angin Rumput Savana? Garin Nugroho kembali menafsir Sumba lewat Angin Rumput Savana. Lewan sinetron yang merupakan kerja bareng John Hopkins University, BKKBN dan TPI dengan biaya produksi sekitar Rp. 250 juta ini Garin mencoba untuk melakukan penjelajahan artistik, penjelajahan dokumentasi dan juga penjelajahan romantis. 

"Angin...memang beda dengan Surat. Angin saya garap dengan romantis. Katakanlah, dia seperti musim penghujan. Sementara Surat merupakan musim kemarau. Film ini adalah film personal, keras, dengan tingkat absurditas sangat tinggi,"paparnya. "Biarpun pihak John Hopkins University menargetkan sinetron ini memperoleh International Award, saya pribadi tidak mentargetkan untuk itu. Target saya hanyalah agar karya ini mempunyai nilai baru. Seperti pada proyek pembuatan dokumenter Anak-Anak Jalanan yang dibiayai NHK, Jepang, beberapa waktu lalu. Disinipun saya tidak ingin didikte."

T : Angin Rumput Savana ini bertutur tentang apa?

J : Cinta kasih. Cinta seorang ibu pada anak, hubungan manusia dengan manusia. Disini dituturkan tentang Rambu Anak Wulung seorang gadis yang menentang adat perkawinan culik yang dialami ibu dan neneknya. Untuk itu ia pergi dan memutuskan untuk menjadi dokter. Namun ketika kembali ke Sumba, perkawinan culik itu terjadi padanya. Pria yang menculiknya, sesungguhnya telah kawin dengan Rambu Awang Intan. Dan sesungguhnya juga, mereka bertiga itu bersahabat sejak kecil. Saat melahirkan, Rambu Intan meninggal. Dan anak yang ditinggalkannya itu, hanya mau tidur jika ditidurkan Rambu Awang dengan mendengarkan lagu "Why Do You Love Me".

Kawin Culik itu sendiri, sekarang ini sudah sulit ditemui. 

T : Untuk kedua kalinya, Anda memilih Sumba sebagai setting. Sumba, tampaknya memiliki arti penting bagi Anda?

J : Seharusnya Sumba bukan cuma dua kali ditafsir. Daerah ini unik. Selain masih menyisakan masa lampau-zaman megalitikum - tetapi juga daerah yang menerima masa kini. Di sini selain terjadi gegar budaya juga terjadi pertumbuhan bersama. Masyarakatnya selain berkutat dengan masa lampau, juga telah menerima modernisasi. Parabola sudah biasa digunakan disini. Saya menganalogikan Angin Rumput Savana sebagai musim penghujan. Penuh romantisme. Beda sekali dengan Surat Untuk Bidadari yang keras, dan tingkat absurditas yang tinggi. 

Disini juga saya menampilkan kembali upacara tarik batu atau upacara pemakaman. Biaya untuk tarik batu itu cukup besar. Sehari bisa menghabiskan Rp. 3 juta belum termasuk orangnya. Saat penggarapan sinetron ini, sesungguhnya, mereka sedang istirahat dari upacara tersebut. Tetapi berkat bantuan Umbu Awi, raja Kalang, upacara tersebut dapat ditampilkan. Masyarakat Sumba Barat sangat membantu. DiSumba Timur, kamrena ada kesalahpahaman dalam soal izin produksi, agak timbul masalah. Tapi itu sudah diselesaikan dengan baik. 

T : Kalau tidak salah di Angin Rumput Savana ini Anda menggabungkan keindahan iklan, dokumenter, cerita dengan video. Dan nyatanya hasil gambar lewat video lebih bagus dibanding film 35 mm atau 16 mm?

J : Video punya kelemahan dan kelebihan tersendiri. Hasil gambar dari video, lebih indah dari gambar aslinya. Untuk itu kita harus tahu karakter. pemilihan filter yang tepat, dan desain warna. Karakter yang kurang tepat, harus kita hindari. Potensi yang dimilikinya, harus kita manfaatkan. Misalnya begini, Kalau cuaca kelewat panas, hasilnya akan kurang bagus, mendung sedikit juga kurang bagus. Menghadapi cuaca yang berubah setiap hari seperti ini , kita break. Tunggu waktu yang pas. Memang ini yang pertama kalinya buat saya menggarap sinetron cerita dengan full video. Sebelumnya saya hanya menggarap iklan. Penggarapan ini sebagai tatecase dan ujicoba. 

T : Romantisme dan agak pop, bisa dibaca untuk melakukan dialog dan mengkomunikasikan dengan penonton?

J : Dalam Surat Untuk Bidadari, sebetulnya juga telah terjadi dialog. Dialognya bisa sangat keras, mungkin sangat pahit. Tetapi itu harus dilakukan. Kalau kita tidak menafsir kebudayaan dengan berbagai cara, kemungkinan terjadi friksi besar sekali. Perang antar suku, misalnya, kalau saya menafsir Sumba sebagai lembut, lebih romantis, tentu untuk menyerap penonton yang lebih banyak, Saya tetap meyakini personal seperti Surat, hanya golongan tertentu yang menontonnya. Sebuah karya yang utama adalah tidak mengubah dirinya sendiri. 

Jika mengubah dari dirinya sendiri, dia pasti jelek dan itu akan menghasilkan industri. Contoh sederhana begini. Jika ada orang minta agar Budy Allen merombak karyanya agar banyak ditonton orang, orang itu sebaiknya ditempeleng. Film-film personal, saya yakini tetap akan tumbuh dan punya pasar tersendiri. 

Tetapi disini, tidak berlaku demikian. Disini kita menginginkan keseragaman dan penonton yang banyak. Maka, wajar jika film nasional bangkrut. Sebuah film seharusnya tidak musti dikomunikasikan banyak orang tetapi film itu memperbanyak penonton. 

T : Artinya tidak musti seragam?

J : Kalau kita bikin film laku dan semuanya melakukan hal yang sama, lalu buat apa kita bikin film. Pertanyaanya, mengapa opera sabun Jepang diproduksi? Mengapa tidak mengikuti opera sabun ala Amerika Latin yang lebih laku? Itu karena opera sabun Jepang punya penonton yang berbeda. Artinya kita perlu dan harus punya keanekaragaman. 

T : Anda tidak mengalami kesulitan dengan medan yang berubah-ubah dan tim kerja yang baru?

J : Memang tim yang ikut saya ini, adalah generasi baru dibawah tim Kuldesak. Tetapi mereka memiliki spirit dan semangat kerja yang bagus. Begitu juga dengan pemain. Mereka bermain bagus sekali seperti keinginan saya. Buat saya tahun ini merupakan tahun yang bagus bagi pertumbuhan. 

(Tahun lalu, ditengah 'upacara' dan gegap gempita menyambut peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, Garin Nugroho di percaya NHK menggarap film dokumenter, Dongeng Kancil, Anak-anak Jalanan. Disini, Garin memperlihatkan kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta. Anak-anak yang diasuh malam. Disini diperlihatkan bagaimana agar mabuk, bocah-bocah itu menghisap lem Aika Aibon - karena ketidakmampuannya beli minuman keras. Atau tentang bocah-bocah yang sudah mengenal hubungan seks dengan pelacur. Garin, ingin jujur dan memperlihatkan sesuatu yangboleh jadi , asing dan belum pernah kita lihat. Tetapi, kejujuran itu, bisa jadi ditafsirkan salah. Ada yang menilai dokumenter ini seperti menjemur celana dalam dipagar rumah).

Menurut Garin, pertanyaan seperti itu memang bakal muncul dari banyak pihak. Hal itu bisa terjadi karena, "Komunikasi kita selama ini sangat eufisme sekali. Ketika saya memperlihatkan, orang kaget. Kekagetan itu bisa dimaklumi, karena film seperti ini tidak pernah dibuat. Film ini dibuat bukan untuk memperolok-olok bangsa sendiri, " akunya. Pemda Yogya, seharusnya malah berterima kasih dengan dokumenter seperti ini. 

Dokumenter ini, justru dapat digunakan sebagai bahan studi dan banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu. "Dokumenter ini paling laku selama dua tahun. Buat Rumah Sakit, katakanlah RS Islam, wajib nonton film ini untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Dari sini mereka dapat mengatasi masalah AIDS, misalnya atau pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak-anak".

T : Sisi gelap ini memang perlu diperlihatkan?

J : Pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter di Berlin beberapa waktu lalu, Amerika Serikat justru memperlihatkan kehidupan yang lebih sadis, lebih gelap dari film saya ini. Dan orang-orang justru bangga dengan Amerika. Pertanyaannya , kenapa bisa terjadi? Orang Amerika memperlihatkan fakta-fakta dan betapa demokratisnya mereka. Guna memperingati kemerdekaannya, Amerika menampilkan demonstrasi dan rasialisme. 

Kalau kita ingin menerangi satu tempat, sementara Anda nggak tahu dimana sisi gelapnya, itu tidak mungkin terjadi. ~dari MF No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


LINA BUDIARTI, "SAYA INI MEMANG PANTAS JADI HOSTES ATAU PELACUR", PERTAMA MAIN FILM HONORNYA 60 RIBU DISURUH TELANJANG

 


LINA BUDIARTI, (berita lawas). Waktu pertama main film honor Lina Budiarti cuma Rp. 60.000, itupun sudah berdua dengan suami. Untuk honor sebesar itu Lina disuruh melakukan adegan serem, buka baju dan bergumul diatas ranjang. Hanya sedikit saja bagian dalam busana yang menutupi tubuhnya yang gempal berisi itu, celana dalam dan BH. Lina disuruh bergumul dengan lelaki yang menggaulinya. Hemmm

"Wah saya merasa terperangkap waktu itu. Untuk menolak tidak mungkin karena honornya sudah saya terima. Tapi kalau harus melakukan adegan seperti itu rasanya juga mustahil. Jelek-jelek saya ini kan ibu dari anak-anak saya. Apa kata orang nanti, "kata Lina Budirati menceritakan pengalamannya pertama terjun kedunia film. 

Itu terjadi tahun 1976, saat ia ditawari numpang lewat dalam film "Bernafas Diatas Ranjang" arahan Dasri Yacob. Tapi jangan salah, honor sebesar itu sudah bisa beli lebih dari 25 gram emas, mengingat harganya Rp. 2500/gram. (wah murah sekali kalau diukur jaman sekarang ya hehe...)

Mulai kenal film dibisikin oleh seorang wartawan, tak lama sesudah Lina mengikuti pemilihan None Jakarta wilayah Jakarta Timur tahun 1976. Pemilihan yang tidak membedakan status (gadis, janda atau sudah beranak) itu sempat mengangkat Sukarlina Budiarty kelahiran Banjarnegara ini tampil sebagai pemenang harapan. 

Dari situ seolah jalan menuju bintang terbuka buat Lina istri Budyanto, pengarang buku cergam paling produktif saat itu. Bahkan dia bisa disebut pelopor pengarang buku-buku komik bergambar bertemakan remaja. Tahun 67 Budyanto S menghentikan kegiatan lamanya membuat cerita komik dan bersama-sama sang istri terus mengarungi dunia film. Sang istri terus menekuni akting sementara Budyanto S jadi penata busana. Lantas dia pulalah yang mendorong istrinya jadi foto model. Kalau perlu pakai bikini atau menampilkan bagian-bagian yang sensual. Bermunculanlah foto-foto Lina Budiarti sebagai penghias kalender atau majalah dengan pose ngeseks. 

Penampilan yang seksi ini terus berlanjut di film. Tak lain karena banyak sutradara memanfaatkan postur tubuhnya. Seperti diakui sendiri oleh Lina ,"Dalam film saya ini memang pantesnya jadi perempuan penggoda, hostess atau pela cur"itulah peran-peran yang pas buat saya, "katanya sambil memberi contoh perannya dalam film "Ponirah terpidana" (Slamet Rahardjo) , dia bermain sebagai pela cur, dari satu lelaki pindah ke lelaki lain, "Itulah film yang palin gberkesan selama say aikut membintangi film, "katanya. 

Meski di cap perempuan penggoda dalam film, tetapi diluar itu, Lina mengaku tak seburuk sangkaan orang. Lina tetap Lina Budiarti, ibu lima anak dan istri setia.

"Film kan cuma bohon-bohongan, ya saya lakukan itu dengan bohong-bohongan pula. Selesai suting ya sudah," katanya yang megnaku tidak pernah risi melakukan adegan ranjang atau ciuman dengan setiap lawan main. Umumnya semua lawan main sudah kenal atau bahkan kawan-kawan dekat, timpal Budiyanto. "Lagi pula adegan ranjang ataupun cium yang dilakukan LIna selama ini masih dalam batas-batas terlalu wajar. Busana dibuka sedikit atau cium dikening atau leher. Ya, lumrah saja, "sergah Budiyanto yang sudah 20 tahun kawin sama Lina Budiarti. 

Karena penampilannya yang cenderung ngesek itu, Lina Budiarti sering diperingati induk oraganisasinya Parfi. Sudah berkali-kali dapat peringatan keras tapi Lina cuek saja. "Lha menurut saya foto bikini adalah pekerjaan yang paling sopan dan halal, ketimbang di film harus telanjang bulat, "celotehnya. Kalau parfi mau peringati, itu dong artis-artis yang tiba-tiba naik mobil bagus, punya rumah, padahal tidak pernah dapat peran utama. Darimana duitnya tuh, kata Budyanto setengah menuding. Siapa bud? Akh ya nggak perlu kita sebut.Pokoknya kita taulah permainannya mereka, lanjutnya. ~sumber : MF 073/41/TH.V/15-28 April 1989


Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


Friday, July 24, 2026

ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN(Film Lawas). Upacara pemakaman Mariana berjalan khidmat, Seluruh Keluarga dan kerabat hadir dalam kedukaan. Terlebih-lebih sang Ibu, berkali-kali meraung dan jatuh pingsan. 

Tapi kedukaan yang paling mendalam justru pada seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Daniel. Ya, dialah yang paling berduka, karena Mariana adalah tunangannya, bahkan beberapa hari lagi sudah akan melangsungkan pernikahan. 

Dengan tabah Daniel memapah calon mertuanya menyiramkan kembang ke pusara sang kekasih tercinta. 

Jauh diujung kerumunan para pelayat terlihat seorang pemuda berwajah hitam sendirian menekuri sebuah makam lain. Wawan! Ia berpura-pura saja sedang berziarah, padahal memang sengaja datang untuk menghadiri upacara pemakaman Mariana gadis korbannya. 

Wajah kuyu, penuh penyesalan. Tangannya memegang seikat bunga yang terangkai cantik.  Lambat laun para pelayat berjalan meninggalkan makam Mariana. 

Setelah ayah, ibu almarhumah berlalu, tinggallah Daniel yang dengan hati berat membelai nisan baru bertuliskan : 

MARIANA

Lahir 14 Juni 1963 

Wafat 21 Mei 1985

Daniel terpekur. Mulutnya komat kamit membacakan doa. Setelah selesai baru bangkit dan berjalan menyusul calon mertuanya. 

Wawan pura-pura sedang khusuk, menunduk terus, ketika rombongan pelayat melewatinya. 

"Kasihan Daniel, " keluh ibu Mariana. "Tuhan, sebulan lagi mereka akan menikah, kenapa Kau panggil si Ana?".

"Jangan meratap terus ma, " bujuk suaminya. "Semua sudah takdir.

"Ana dibunuh bajingan, pa!".

"Ya, itu takdir, Tuhan takdirkan kematian seperti itu, mungkin untuk peringatan buat kita,  tawakal si ayah. 

Wawan semakin menunduk mendengar percakapan mereka, diam-diam matanya melirik kearah kubur Mariana. 

Terlihat Daniel bangkit berdiri, menyeka matanya dengan punggung tangan, lalu berjalan melintasi Wawan yang masih tetap jongkok.

Setelah suasana sekelilingnya benar-benar sepi, Wawan bangkit. Langkah kakinya berat sekali mendekati timbunan tanah merah penuh karangan bunga itu. 

Matanya sudh memerah ketika berjongkok. Ikatan bunganya diletakkan di depan nisan dengan hati-hati. "Demi Tuhan, gua minta maaf, gua nggak bermaksud membunuh, gua bukan pembunuh, tapi kenapa kamu lari waktu itu?" desahnya. "Gua panik, sumpah!Terkutuk kalau bohong. 

Dekat gerbang taman pemakaman, diantara mobil yang diparkir, berdiri Usin Tato, Adul, Rudi, Koming dan lain-lainnya lagi. Mereka mengawasi apa yang dilakukan Wawan dari kejauhan. 

"Udah gila kali dia," gumam Usin Tato kesal. "Pakai ngelayat lagi! Monyong! Nah gua yang empot-empotan!".

Rudi berdesah," Dia benar-benar nyesal, Bang, dari semalam, Mas Wwan uring-uringan terus."

"Ah, cengeng!" cela Usin Tato, Kalau mau jadi kyai, kyai sekalian! Sok nggak mau membunuh! Kita kan bajingan, masalahnya kalau nggak membunuh ya dibunuh, itu risiko!."

Si Raja Kunci campur bicara, " Tapi selama ini memang dia tidak pernah melakukannya, Boss, melukai orangpun ibarat kata nggak pernah. Dan harus kita akui, bahwa operasi dia selalu sukses,"

Usin Tato mengakui, "Memang sih, tapi  yang dia lakukan kemarin kan karena terpaksa."

Wawan tak mendengarkan pembicaraan mereka, terlalu khusuk berdoa di depan nisan gadis korbannya, Tuhan masukkan dia dalam sorga, biar semua dosa-dosa dia punya, saya yang tanggung, Tuhan kabulkan doa saya, "

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel. 

Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".

"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang. 

"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu. 

Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "

Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah. 

Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara. 

Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis. 

Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."

Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."

"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu. 

Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.

Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan. 

Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya. 

Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah. 

Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".

Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi. 

Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya. 

Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya. 

Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".

"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak. 

"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk. 

Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".

Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas. 

"Buka, Cepat! perintah Wawan. 

Si Nyonya menggeleng keras. 

Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar. 

"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan. 

Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas. 

Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya. 

Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi. 

Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu. 

Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya. 

Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan. 

Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".

Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini. 

Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil. 

Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik. 

Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari. 

Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!. 

Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu. 

Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung. 

Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah. 

Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka. 

Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal. 

Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek. 

Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur. 

Kali ini Rudi yang menyetir. 

Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara. 

Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali. 

*******Bersambung


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK

 


IDA IASHA , ABSEN MAIN FILM DEMI ANAK (berita lawas). Seusai merampungkan "Kanan Kiri OK 3" menjelang akhir tahun 1990, Ida Iasha seperti menghilang dari pemberitaan. "Ya memang saya mengundurkan diri untuk sementara waktu dari kegiatan main film," ujarnya dengan wajah segar berseri. 

Saat suting film itupun, perutnya yang mulai membesar sudah agak sulit disembunyikan. Itu sebabnya, ia terpaksa menampik ajakan untuk melanjutkan peran Farida dalam "Misteri dari Gunung Merapi 3", Perempuan Berambut Api. Padahal jadwal suting sudah ditentukan, apa boleh buat, sutradara Liliek Sudjio terpaksa memasang pendatang baru, Catherine  untuk memerankan tokoh tersebut. 

Tepat pada hari Natal, 25 Desember 1990, Ida pun melahirkan anaknya yang kedua, sang suami Eddy Saputra memberikan nama Kama Bhaskara untuk putra kedua mereka. Sementara si sulung, Randi Roso sudah hampir memasuki usia 7 tahun. 

"Perbedaan usia mereka memang cukup besar," ujar Ida yang memang sudah menikah, malah sudah mempunyai Randi saat pertama main film "Kodrat" diajak Slamet Rahardjo, "Waktu itu banyak yang mengira saya masih gadis," kenangnya.

Memang sebenarnya usia Ida masih teramat muda ketika menikah dengan Eddy. Bahkan sebenarnya belum lama lulus dari SMA Tarakanita. Salah seorang kawan sekelasnya adalah biduanita tenar, Neno Warisman. Neno, masih ingat ketika Ida baru pertama masuk, "masih seperti noni-noni Belanda totok yang ngomong bahasa Indonesianya sepotong-sepotong, siapa sangka serang bisa jadi bintang film top?".

Kalau slogan KB, "Dua sudah cukup" tidak demikian halnya bagi Ida, rupanya dua masih belum cukup baginya. Soalnya kami masih kepingin mempunyai anak perempuan, supaya lebih lengkap begitu."

Sekarang, Kama sudah berusia lebih dari tiga bulan. Sehat dan montok, kata Ida karena "Saya menyusuinya terus dengan ASI."

Saking sayangnya pada Kama, Idapun terus menampik film-film baru yang ditawarkan padanya. Termasuk rencana pembuatan "Kanan Kiri OK 4", yang merupakan film banyolan laris itu. "Saya ingin konsentrasi merawat Kama dulu sampai agak besar. Kalau sudah bisa ditinggal-tinggal baru mungkin saya bersedia man film lagi nanti. 

Bagaimanapun juga, Ida sudah menjadi salah satu bagian dari dunia film Indonesia dengan segala suka dukanya. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991


Monday, July 13, 2026

ANNA VALIANA

 


ANNA VALIANA (berita lawas). Gadis bernama lengkap Valiana Aprilini, ketika bocahnya cukup bijak dan cakap tidak termasuk anak yang cengeng. "Karena sering di foto saya jadi keasyikan. Sampai sekarang saya lebih suka menjadi model daripada lainnya."

Lalu, kamu kenapa tertarik main film? Dunia akting punya kepuasan tersendiri. Di film kita memainkan jiwa. Dari peran satu ke peran lainnya. Sedang film tantangan begitu kompleks. "Film membuat semakin berdisiplin. Disini diteruminya bermacam pengalaman baru. Kalau di rumah Anna kurang begitu berperhatian terhadap rutinitas perempuan tempo dulu, seperti membersihkan rumah, mengepel dan segudang pekerjaan lainnya. "Di lokasi suting harus mengurus diri sendiri. Membersihkan kamar dan mengepelnya. Kalau di rumah "boro-boro" mau saya kerjakan. Ada pembantu sih."

Suting film lebih rumit dari foto model. Honornya kecil. Kerjanya berbulan-bulan. Sedang di model, cepret-cepret duit mengalir. "Dan soal honor lebih enak jadi model daripada di film. Tapi, ini dia, di film kita memainkan roh-roh orang, meminjamnya ke dalam diri. 

Anna jelas belum sehebat Paramitha Rusady atau Lydia Kandou. Punya keyakinan bisa setara dengan bintang lagi gemerlap. Sebab, begitu dia menjadi pemeran utama dalam film Kristal-kristal cinta, sutradara Wim Umboh, batinnya langsur berteriak, ingin berjada di perfilman nasional. Alasan ini membuat cewek jangkung dengan tinggi 173 cm dan berat 54 kg tidak pernah tinggal diam. Dia selalu gelisah, latihan akting pada siapa saja. Ada seberkas keyakinan kelak akan mendapat peran lebih menantang. 

Tidak melulu karakter remaja, boleh jadi akan melampaui usianya Kalaupun tentang remaja akan lain dari dunia yang dikenal selama ini. Bagi saya tidak ada kata terlambat." Ini kalimat sering menyentakkannya, lalu berbuat sesuatu. Kesempatan kedua mendapat peran utama lewat film Ini Rindu, sutradara Maman Firmansyah, Anna menjadi sosok lain, penyanyi mendampingi Farid Hardja. "Saya pikir tema apa saja tetap menantang. Justru itu, ndak pilih pilih dengan peran. Asal senang saya pasti menerima, Tergantung mood sih. "Sesungguhnya banyak tawaran di tepiskan cewek bertubuh ramping ini. Cuma acap disodorkan padanya melulu soal cinta dan buka-bukaan. ~sumber MF 126/92/ThVII 27 Apr - 10 Mei 1991



Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



Thursday, July 9, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM (Film lawas). Rumah bilyard itu cukup ramai oleh anak-anak muda yang menjadi langganannya. Diambang pintu muncul Wawan, Adul dan beberapa kawan mereka lainnya. Dengan kasar Wawa menyingkirkan seorang pemuda kerempeng berjenggot yang ingin menyodok bola. Pemuda itu menjadi sangat kesal dan mengomel-ngomel, tapi tatapan mata Wawan yang angker kontan menciutkan nyalinya. 

Adul sudah sampai ke bar yang letaknya di sudut,"Mana Boss kalian?".

Pelayan di belakang bar balik bertanya, "Ada perlu apa?".

"Ada surat buat dia," ujar Adul sambil menyodorkan sepucuk surat. 

Si pelayan menerima surat itu dan ingin membukanya, langsung lehernya dicenkeram dan di jemba Adul," Gua bilang surat ini buat Boss lu, jangan lancang lu!".

Si pelayan mengkeret ngeri buru-buru masuk ke pintu di belakang yang menghubungkan bar dengan kantor. 

Beberapa orang tukan pukul penjaga keamanan Rumah Bilyard itu mendekat. Tapi Wawan Cs memang sengaja mencari ribut. Mereka mendahului menyerang. Orang-orang yang sedang asyik bermain billyard bubar ketakutan. Apalagi melemparkan lawan-lawannya keatas meja bilyar malah menggunakan stick bilyard untuk menghajar mereka. Dalam sekejap keadaan menjadi porak poranda. 

Boss pemilik rumah bilyar tergopoh-gopoh keluar dari kantornya. Menjerit-jerit panik melihat meja-meja bilyard dijadikan arena bantingan , "Aduh, cukup, cukup stoplah! Ancurrr semuanya, Ai bisa bangkrut,".

Wawan tengah menghantamkan stick bilyard ke perut lawannya yang bertubuh gede. Saking sakitnya mulut si gede sampai ternganga lebar. Wawan menjejalkan sebuah bola ke mulut itu lalu menyodorkannya, kontan si gede terjungkal!. 

Adul masih baku hantam dengan lawannya, ketika Wawan mendekati. 

"Kalau lu mau selamat, tinggalin tempat ini!", hardiknya. "Daerah ini jadi milik kami, lu tau Usin Tato? Itu Boss gua, dia nggak segen-segen ngarungin elu kalau tetap bandel!".

Si tukang pukul manggut manggut gentar. 

"Sekarang semua anak buah lu mesti setor sama Boss gua, paham?!, tegas Wawan. 

Sekali lagi si tukang pukul cuma bisa manggut manggut. 

Wawan menoleh ke arah Boss Bilyard yang menggigil ketakutan. "Tuan pemilik Rumah Bilyard ini?" tanyanya sambil berjalan mendekat. "Ingat tiap tanggal lima, anak buah gua datang kesini. Jangan cari kesulitan. Kalo ada yang bikin onar disini, laporkan sama orang gua, Jelas Boss!?".

Boss Bilyard manggut-manggut bagaikan burugn pelatuk tanda mengerti. 

Wawan memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk berjalan keluar. 


*****Bersambung

Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA (film lawas). Rel Kereta Api memanjang jauh. Lengang dan kosong. Sepasang insan berjalan berangkulan. Wawan dan kekasihnya,si watunas Suci. Tangan Wawan merangkul pinggang ramping Suci. Tangan Suci memegang payung yang berkembang untuk melindungi dari terik matahari. Tangan-tangan mereka yang lain menenteng tas plastik berisi barang-barang belanjaan. 

"Ayah saya tidak pernah tau bahwa anaknya menjadi pelacur di ibukota," gumam Suci. Dia menyangka saya bekerja di pabrik seperti isi surat yang selalu saya kirimkan."

Wawan mesem pahit, "Pasti elu juga nggak kasih tau bahwa calon mantunya seorang bajingan, kan?.

Suci mencubit pinggang wawan sampai pemuda ini menggelinjang geli, "Mosok yang begitu mesti dibilangin sih?".

"Kali aje pacar gue nggak tau politik, " sindir Wawan. 

Suci menerawang jauh. Kadang-kadang rasanya seperti mimpi bisa lepas dari dunia lon te yang kukira akan menjeratku sampai keriput,".

Tiba-tiba suci berhenti melangkah. Wawan tertegun dan menoleh. 

Suci menatap kearahnya dengan mata polos. "Mas Wawan benar-benar mau mengawiniku, kan?, tanyanya. 

Sipemuda manggut dengan mantap, "Apa musti gua sumpah lagi?".

Si Watunas menatap sendu. "Mas tidak akan galak sama Suci? Janji?".

"Eh , ni anak masih nggak yakin juga, elu akan gua sayang seperti gua nyayangin ibu gua, adik gua, kakak gua sekaligus, "tegas Wawan. "Karena gua nggak punya siapa-siapa lagi. Gua benar-benar sebatang kara!.

Suci senyum bahagia memeluk pinggang si pemuda dan menyesapkan wajahnya ke dada yang bidang itu. 

Sejak berkenalan memang Suci telah jatuh hati pada Wawan. Sebaliknya si pemuda pun bisa merasakan kelembutan dan perhatian Suci yang lain daripada watunas-watunas biasa. Maka Wawanpun melarang Suci melanjutkan prakteknya dan memintanya hanya untuk menjadi miliknya seorang saja!

******Bersambung