Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Film Indonesia. Show all posts

Monday, February 2, 2026

PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT


 PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT, Bukan cuma karena kasus mayat terpotong tujuh banyak orang datang ke kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Tapi Azrul Zulmi, terpaksa ikut-ikutan kesana. Bukan untuk melihat mayat terpotong-potong itu, tapi untuk suting film. Akibatnya bapak dua anak ini seminggu tidak bisa makan. 

"Bau mayat yang membusuk di kamar mayat itu membuat saya muntah-muntah. Sampai sekarangpun kenangan terhadap bau itu tetap  menghantui saya. Saya sering nggak bisa menelan nasi kalau teringat, " tuturnya. 

Awalnya adalah ketika Azrul ikut main dalam film "Tragedi Bintaro" garapan Buce Malawau. Azrul berperan sebagai bapak Junet, diharuskan menjenguk korban kecelakaan Kereta Api di Bintaro tersebut di kamar mayat. Mulanya sih Azrul menduga kamar mayat biasa-biasa saja. "Saya memang tidak takut melihat mayat. Tapi begitu masuk, baunya yang buat saya nggak tahan. Akibatnya saya muntah. Padahal sutingnya lama banget. Mana panas terik lagi, baunya jadi menguap, " cerita Azrul. 

Karena bau yang tak tertahankan itu, menurutnya, selesai suting ia buru-buru keluar. Tapi sepatunya ternyata penuh bercak karena lantai becek. "Sepatu sayapun membawa bau. Saya buang saja. Soalnya saya kehabisan akal untuk menyelamatkan sepatu saya agar tak membawa wabah penyakit ke rumah, " ujarnya. 

Pengalaman itu, menurut Azrul merupakan pengalaman paling menarik sepanjang karirnya di dunia film. "Tapi saya tidak pernah jera untuk ikut suting di kamar mayat. Asalkan perannya cukup besar, " katanya. 

Tentang film "Tragedi Bintaro" itu sendiri, Azrul mengaku dapat peran yang menantang meskipun tokoh Effendy, ayah Junet itu tidak punya kelebihan apa-apa. "Karakternya terlalu datar, " ujarnya. "api pengalaman suting di kamar mayat itu lucu juga lho. Saya terpaksa kaki ayam pulang dari lokasi, " tutur Azrul sambil tertawa, 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988


Saturday, January 31, 2026

RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis

 


RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis. Rapi Films merupakan satu dari sedikit perusahaan film yang masih berkiprah di tengah kelesuan produksi film nasional di pertengahan tahun 90an, suatu semangat kerja yang patut di puji. Produksinya "Ranjang Cinta" merupakan karya sutraara Emil G Hampp yang diangkat dari cerita skenario rekaan Armantono. Dibintangi oleh si cantik terlaris sepanjang tahun 1995 Inneke Koesherawati dengan dukungan Teguh Yulianto, Ferry Tanjung serta pendatang baru seperti Rika Herlina, Lydia Larengkeng, Nancy Prancis dan Hengky Siregar. 

Di ceritakan, Clara adalah istri yang merasa sangat tersiksa oleh ulah suaminya sendiri, Aldo. Walaupun Aldo adalah usahawan sukses yang kaya raya dan bisa melimpahinya dengan harta. Bagaimana tidak, karena setiap malam, bila hendak menunaikan tugas intim, hubungan suami sitri, selalu aldo lebih dulu menyiksanya. Aldo baru mendapatkan kepuasan lahir batin setelah kelihatan Clara merintih kesakitan. Rupanya lelaki muda ini mengidap penyakit s e k s , Sado-Masochis yang sudah akut. 

Aldo bukannya tak menyadari hal in, maka demi cintanya pada Clara ia pun mencoba mengobati penyakitnya ini pada dokter. Malangnya, belum pernah berhasil pulih sebagaimana lazimnya lelaki normal. 

Muncul tokoh lain, Atari, seorang pemuda yang baru diterima Aldo bekerja sebagai pelatih kuda di ranchnya. Clara yang begitu menderita phisik ditangan suaminya, merasa menemukan kelembutan pada usapan tangan Atari. Si nyonya cantik terhanyut rayuan si tukang kuda, hingga terjerumus ke lembah perselingkuhan. 

Sepandai-pandainya mereka menyembunyikan rahasia, toh akhirnya Aldo mengendus juga hubungan serong istrinya dengan pegawai barunya. Ternyata bukan cuma Atari yang pandai memanfaatkan kesempatan , ada lelaki ketiga, Pak Mul yang justru merupakan tangan kanan alias orang terdekat ALdo dalam bisnisnya. Pada saat Aldo dirawat di rumah sakit internsional di Singapura, lelaki parobaya ini nekad memper kosa Clara. 

Cerita berkembang dengan terungkapnya rahasia Atari. Diam-diam pemuda ini menyimpan dendam kesumat pada Aldo. Sebenarnya ia adalah aduk kandung istri pertama Aldo yang tewas tersiksa diatas ranjang. Itu sebabnya, kini Atari sengaja merusakkan rumah tangga barunya Aldo. 

Film Ranjang Cinta mulai tayang sejak 29 Maret 1996 ditengah kelesuan film Indonesia. 

Produksi : PT. Rapi Films

Produser : Gope T Samtani

Sutradara : Emil G Hampp

Skenario : Armantono

Kamerawan : Tantra Suryadi

Penata Musik : Musya Joenoes

Pemain : Inneke Koesherawati, Teguh Yulianti, Ferry Tanjung, Rika Herlina, Lydia Larengkeng, dan lain-lain 

SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana


 SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana, (Kisah Lawas) menurut pepatah kuno, banyak jalan menuju Roma. Slamet Effendi, Indon ebrdarah campuran Jawa-Madura Cina dan Belanda itu setamat SMAnya segera menenteng ransel, meninggalkan kota kelahirannya, Jember menujur Surabaya. 

Kalau kesampaian ia tentu ingin pula sampai ke Roma, Kota yang konon penuh berbagai keindahan. Cuma sampai kini Effendi yang kemudian tenar dengan nama Fendi Pradana itu masih ngendon di Jakarta, Sibuk mencari nafkah di dunia film. 

Tentang keterlibatannya dengan dunia perfilman itu. Fendi bilang bukan cita-citanya. "Kebetulan saja ada kesempatan!" tutur Fendi. Setamat SMA lanjutnya, keinginan pertama adalah mencari lapangan kerja. "Karena itu saya pergi ke Surabaya yagn lebih besar dari Jember!" jelasnya. 

Di kota Pahlawan itu, ia mulai mendapatkan lapangan kerja yang diinginkan. Pendidikan formalnya memang hanya SMA. Tapi ia punya modal lain. Postur tubuhnya atletis, tampangpun boleh. Inilah yang menggelitik  pengusaha biro iklan untuk menawarkan kesempatan, Fendi dijadikan  model iklan untuk perusahaan rokok raksasa di Indonesia. 

Perjalanan dilanjutkan ke ibukota. Di Jakarta, ternyata kesempatan yang di peroleh memang lebih besar. Ia kini  tidak saja sebagai model iklan, tapi telah  boleh menyandang predikat aktor. 

"Semula saya tidak pernah punya cita-cita jadi bintang film!" tukas Fendi yang boleh di sejajarkan dengan nama-nama tenar lainnya di film laga seperti Advent Bangun dan Barry Prima. 

Kembali ke persoalan  pepatah diatas. Memang benar, banyak cara  dan jalan untuk mencapai tujuan. Jalan yagn di tempuh Fendi melangkah ke dunia film walau tanpa di sadari, melalui dunia periklanan, lalu pada saat itu secara kebetulan  antara Tobali Film dan Kanta Film sedang memperebutkan Ferry Fadly untuk membintangi Saur Sepuh. 

Rebutan pemain untuk peran Brahma dimana akhirnya Ferry Fadly berhasil di kontrak Tobali film untuk membintangi Brahmana Kumbara (cat . Brahmana Manggala) yang jalan ceritanya "jiplakan" cerita Saur Sepuh, membuka peluang baru buat Fendi Pradana. "Saya tidak pernah mengira kalau kesempatan untuk muncul di film itu begitu mudah buat saya. Dan yang tidak pernah terpikirkan  lagi, kesempatan pertama itu langsung pegang peran utama, " Kenang Fendi. 

Tiga serial Saur Sepuh telah mengorbitkan namanya sampai ke puncak popularitasnya. Tapi untuk Saur Sepuh IV, Fendi bilang tak akan muncul lagi. "Kontrak saya sudah habis, saya tidak mau memperpanjang kontrak itu, " jelasnya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, January 30, 2026

SUTING LANGITKU RUMAHKU


SUTING PERTAMA "LANGITKU RUMAHKU". Dua jam usai syukuran, siang itu juga suting film "Langitku Rumahku" yang digarap sutradara Slamet Rahardjo, di tempat yang sama. Tepatnya lokasi itu sekitar 2km, sejajar pintu gerbang masuk Taman Impian Jaya Ancol kearah Tanjung Priok. Tempatnya di tata sedemikian rupa, hingga bila suting dilakukan, nampak mudah di kenal lewat tenda pita biru yang bersemat di baju mereka. Di balik tenda besar tempat pesta syukuran, nampak dibangun perkampungan kumuh, laik gubuk gubuk liar, yang sudah lama ada. Sepuluh hari lamanya Satari bagian artistik dari PT. Ekapraya Film, membangun seting untuk film. 

Sementara kegiatan suting belum dimulai, nampak puluhan figuran yang kumal dan Kusam, menunggu di gubug-gubug kardus mereka. Suasananya, memang seperti berada ditengah perkampungan pemulung atau gembel saat itu. Kepulan asap dari tiap gubuk, lewat tungku dan kompor butut, berbaur dengan tumpukan karton-karton, botol-botol bekas serta rongsokan barang nampak menyampah disana. Gerobak sampah dan delapan ekor anjing yang berkeliaran, serta timbangan kusam ada tergantung di sudut kanan. Wajah para figuran yang kotor serta anak-anak yang banyak bertelanjang dada, cukup mewarnai kemelaratan saat itu. Konon para figuran yang dikerahkan dan dilibatkan untuk adegan ni, dicomot dari orang-orang asli penduduk seperti yang dituntut skenario dari daerah Rawasari dan kawasan rel kereta api Senen dan sekitarnya Ancol. 

"Tadi juga banyak yang datang untuk figuran, tapi kebanyakan disuruh pulang lagi. Dipilih yang jelek-jeleknya saja mungkin yang disuruh pulang itu kecakepan nggak cocok?, celoteh seorang sopir unit film. 

Scene 32, sedang dipersiapkan untuk diambil. Beberapa kru membantu memberikan instruksi pada para pemain. Dipinggir sungai keruh, kamera Sutomo GS sedang di set, mencoba panning, bergerak memutar 220 derajat. 

"Siap. ya...? Masing-masing sibuk. Jangan lihat kamera. Lihat tangan saya, disebelah sini mulai bergerak. Ya, mulai ya...? teriak Slamet Rahardjo sambil bertelanjang dada kepanasan. 

Lensa kamera mulai bergerak dari seberang sungai, lalangnya lalu lintas kendaraan, ke kesibukan transaksi barang-barang bekas, bapak dengan sepeda butut dan anak kecil yang kumal, serta pemulung sampai suasana perkampungan dengan kegiatan mereka. Sementara itu di dekat posisi kamera, Phil Judd , penata suara, saat itu sedang kebingungan lantaran jarum indikator bergerak nggak beres. Tangnnya sibuk mengutak ngatik peralatan, pijit tombol, goyang goyang kabel, akhirnya memberikan kode, lewat jemolan yang diarahkan ke bawah. Suara nggak jalan, Eros Djarot yang dari tadi berada dekat mereka langsung kompromi. Saat itu juga dia menyuruh kru lainnya untuk mencari alat yang rusak, ke Singapura. Akhirnya yang tadinya adegan itu akan direkam secara langsung (Direct Sound) gagal. 

Kurang lebih 3 jam, hari pertama suting dilakukan untuk mengambil adegan itu. Panasnya udara Jakarta, saat itu cukup membuat orang pada nyengir kegerahan. Christine Hakim yang saat itu berada di lokasi dengan kacamata hitamnya, langsung mojok ke tempat yang agak teduh. Sutradara yang tadi bertelanjang dada, tukar baju dengan baju kakaknya, Eros yang lebih tipis. Sementara Phill Judd yang sudah pakai topi minta untuk dipayungi disaat kerjanya. Selesai semua kegiatan, orang lebih suka untuk berada di dekat tenda besar sambil berteduh dan beristirahat. Sementara, para figuran bersama anak-anak yang ikut terlibat, langsung menyerbu meja yang ada makanan sisa syukuran. Mereka capek dan lahap atau memang mumpung ada sisa makanan? Anak-anak tampak ceria, sementara beberapa membungkus sisa makanan untuk dibawa pulang. Kacang panjang yang dibuat pagar hiasan makanan yang banyak itu, terlihat menumpuk di kepalan tangan kecil yang masih kotor lantaran make up. Mereka nampak suka untuk memanfaatkan situasi seperti itu. 

Film anak-anak yagn dibintangi oleh Banyu Biru Djarot, Pietrajaya Burnama, Reynaldo Thamrin, Totok Sutrisno, Sunaryo , dan Andri Sentanu ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak yang berbeda karena kelas ekonomi keluarganya. Keduanya memang jadi anak jaman yang hidup sekarang yang lagi ramai dibuat film anak-anak. Semua kan beda seleranya. Saya cuma tertarik untuk mencoba karena film ini dibuat secara 'direct sound', tadinya kan saya sedang mempersiapkan film "Harimau Harimau". Tapi saya juga masih mau untuk membuat film anak-anak yagn kedua, ketiga... tapi tidak mau untuk jadi spesialis film anak-anak lho?, Komentar Slamet Rahardjo yang mengakui belum punya metode untuk bikin film anak-anak ini. 

"Pokoknya untuk seting dengan figuran ini saja, satu hari harus mengeluarkan dana setengah juta, " kata Eros Djarot selaku produser film yang diangkat dari cerita Harry Tjahyono ini. 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988



GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON


GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON, (Cerita Lawas) Boleh percaya  tidakpun tak apa. Di zaman modern serba canggih sekarang ini, ternyata sebagian masyarakat, khususnya orang-orang tua di Jawa baik itu Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat, masih menganggap malam Jumat adalah malam "keramat" terlebih lagi malam Jumat Kliwon. 

Karena dianggap keramat, orang yang melakukan aktivitas kerja, sesaat, harus berhenti dan istirahat. Bila dilanggar akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Sekali lagi, inipun boleh percaya, tidak pun tak apa. 

Mungkin hanya kebetulan mungkin pula malam "keramat" itu minta korban. Gino Makasutji, di malam Jumat Kliwon ketika suting film "Perempuan Berambut Api" menjadi korban. Ia jatuh dari pohon besar, dari ketinggian sekitar 3,5 meter. Karena patah tulang, malam itu ia tak lagi bisa melanjutkan sutingnya. Ia dilarikan ke dokter terdekat, lalu siangharinya diobati dukun ahli patah tulang. 

Sebenarnya tengah malam keramat itu, seluruh kru dan pemain sudah istirahat menikmati kopi hangat dan makan tengah malam. Kebiasaan seperti ini menurut Lilik Sudjio, sutradara film tersebut, memang bukan hanya pada malam Jumat tapi setiap malam. 

"kita kerja, harus ada istirahatnya. Sebab kalau di paksakan pasti hasilnya juga tidak baik. Apalagi kerja di malam hari, kondisi kesehatan mudah rapuh karena angin malam. Karena itu tak mau terlalu forsir," tutur Lilik. 

Sebagian karyawan waktu itu sambng Subekto, pimpinan unit film, memang sudah ada yang mulai bekerja, mengatur lampu dan set agar segera bisa suting lagi. "Disaat karyawan itu sedang sibuk kerja, tiba-tiba Gino teriak : "Oke!" lalu ia lari memanjat pohon besar yang dijadikan rumahnya .  Sampai di atas, ...buk... ia lepas, jatuh menimpa cabang pohon, baru kemudian jatuh ke tanah, " jelas Bekto. Kalau tidak jatuh kepala Gino pasti pecah karena jauthnya kepala duluan. 

"Pohon besar itu memang angker, " tukas Gino. Waktu itu, lanjutnya , perasaan sutradara sudah memberi aba-aba siap action. "Maka sayapun segera lari," tegasnya. 

Jangankan aba-aba action, menurut Bekto, menata lampu pun belum selesai. 

Ia juga bilang, sebagai orang Jawa, juga atas saran warga setempat untuk mengadakan selamatan, telah dilakukan. "Namanya juga mohon keselamatan.Setiap kita akan melangkah, kita kan harus berdoa. Apalagi kerja di tengah hutan, dimana masih banyak pohonnya yang besar. Roh roh halus, masih banyak. Kita harus hati-hati, " kata Bekto. 

Memang, sambung Lilik Sudjio, sebagai orang beragama, berdoa sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, menjadi keharusan. "Soal tempat angker, roh halus dan sebagainya kita ini ya percaya nggak percaya.

Akibat kejadian malam Jumat Kliwon itu, sutradara, kameramen, pemain dan siapa saja yang terlibat dalam produksi film Perempuan Berambut Api selalu berhati-hati. "Apalagi film ini sutingnya hampir 75% harus adegan malam, " jelas Lilik Sudjio. 

Menceritakan pengalaman naasnya di malam Jumat Kliwon itu, Gino Makasutji pemain film tampang Indo itu bilang "Saya sebenarnya baru kali ini mengalami kecelakaan suting film. Soal adegan-adegan keras yang menuntut ketramprilan, bagi saya hal yang biasa. memang saya lebih banyak main film action. Dan kali inipun sebagai Datuk Panglima Kumbang, tokoh orang sakti , tentu saja saya harus menunjukkan ketrampilan saya. Di samping mungkin benar, tempat itu angker, saya lagi naas,".

Menurut perasaan Gino, sebelum jatuh, ada orang yang menepuk nepuk bahunya, lalu mendorongnya. Setelah itu, ia tak tahu apa-apa lagi. "Saya sadar setelah digotong, " kenangnya. 


~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Wednesday, January 28, 2026

ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT


 ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT, Hidup Harus Ulet dan Tekun! Hidup itu tidak gampang, penuh tantangan dan untuk menghadapi segala tantangan itu, perlu perjuangan dan ketekunan, keuletan agar meraih sukses yang diharapkan. 

Demikian papar mantan juara IPSI se Jatim yagn sejak akhir tahun 1985 menggeluti dunia film, ketika wawancara disela-sela suting "Anak Anak Kolong" arahan Lukmantoro yang berlokasi di Cirebon - Kuningan dan sekitarnya. 

ATIN MARTINO yang mengawali karir sebagai film figuran lewat film perdananya "Menerjang Badai" arahan Dasri Yacob ini mengaku sejak usia SD hobby nonton film action. Dari situlah ia tertarik belajar bela diri Pencak Silat dan menggemari kung fu. 

Anak bungsu dari pasangan Soedirman dan Soenarti ini terlahir di kota Surabaya tepatnya 16 Desember 1962. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia dituntut mengikuti jejak kakak-kakaknya belajar hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. 

Itulah sebabnya ia memutuskan memilih film sebagai ladang hidupnya. Siapa bilang film tidak bisa diharapkan, buktinya saya berangkat dari bawah sebagai figuran. Modalnya itikad dan semangat juang, saya bersikeras menggeluti dunia film ini sampai prestasi puncak, tutur arek Suroboyo penggemar musik cadas ini. 

Alhamdulillah sudah banyak film yang saya geluti diantaranya Mat Ireng, Wiro Sableng dalam judul Kapak Maut Tutur Sepuh , Anak-anak Kolong dan lain-lain yang sebagian besar film aksi, " ujar Atin Martino yang berperakawan kekar dengan tinggi 172 cm . 

Aktor yang mulai naik daun ini sudah beberapa kali memegang peran utama. Namun ia sendiri tidak pernah merasa puas, ia selalu mengevaluasi diri dari film yang satu ke film lain, disamping menimba pengalaman dari para senior dan sutradara. 

Setiap insan pasti merindukan keluarga, akan halnya saya dalam kegiatan syuting terkadang muncul rasa rindu. Dalam hal ini, kita harus bisa membagi jadwal antara profesi dan kepentingan keluarga, dengan penuh pengertian dan ketulusan hati, " ucap Atin . 

Menyinggung soal honor main film, ia mengelak. Ini rahasia dong dan rasanya kurang etis diketahui secara umum kilahnya. Pokoknya lumayan buat kebutuhan "dapur ngebul" dan prinsip hidup saya, menerima apa adanya dengan penuh kesadaran ikhlas dan tabah menghadapi tantangan hidup, ujar laki-laki yang benci kepada orang yang tidak jujur dan munafik ini. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 27, 2026

ADVENT BANGUN, PUNYA DUA KARAKTER


 ADVENT BANGUN, PENULIS SKENARIO DAN CERITA  GENTA PERTARUNGAN Jangan pingin jadi juara kalau anda tak bisa menaklukkan diri sendiri. Ini bukan nasihat, tapi setidaknya ini wanti-wanti yang harus di dengar oleh setiap orang yang akan memasuki perguruan silat atau ilmu bela diri yang lain. 

Advent Bangun, Jawara dalam soal beran tem dalam film, memegang kuat falsafah ini. Dan dia laris membintangi film laga. Sebuah film yang juga masih berkisar soal bak buk muncul. Ide ceritanya diilhami oleh pengalaman Advent sendiri. Film itu berjudul Genta Pertarungan yang mempunyai judul asli "Sang Pemenang". 

"Ide itu memang muncul dari pengalaman pribadi, yang kemudian saya angkat dalam cerita. Tentu perlu di dramatisir sedikit supaya tambah seru, " kilah Karateka penyandang DAN IV ini dengan suara mantap dan menggelegar. 

Film ini menceritakan tentang seorang karateka yang mempunyai keinginan besar untuk menyabet kejuaraan terbuka, dalam sebuah perlombaan. Padahal oleh isteri dan mertuanya, sang jagoan ditentang mati-matian karena khawatir akan terjadi apa-apa. Sampai-sampai pakaian karate yang sering di gunakan di bakar oleh si mertua. Si jagoan ini makin penasaran. Pada saat pertandingan berlangsung, ia sudah mulai cedera. Tangannya luka parah, bahkan nyaris patah tulang. Apalagi ia tahu kalau ada lawannya yang menggunakan dopping. Ia ingin menaklukkan lawannya sekaligus menaklukkan diri sendiri. Akhirnya iapun memenangkan pertandingan itu, menjadi sang pemenang. 

"ini memang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya dilarang ikut karate oleh orang tua dan kakak saya. Darisinilah ide itu saya tulis dalam sebuah cerita dan setelah saya sodorkan pada produser, ernyata diterima, " tambah Advent Bangun. 

Film ini jelasnya mengisahkan heroisme seseorang. Benar begitu bung? "Lho saya kan jagoan, tapi saya nggak boleh sombong. Apalagi saya hidup di Melayu. Kan haru srendah hati. Meski saya orang Batak, tapi saya pernah lama hidup di Yogya. Makanya saya punya dua karakter, Batak dan Jawa.. haha.

~MF

Monday, January 26, 2026

CHRISTINE ARIESTA


 CHRISTINE ARIESTA. Namanya sempat mencuat lewat film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta". Dalam film yang sarat konflik itu, Christine Ariesta berperan sebagai Tasia berpasangan dengan pemain kelas Citra Deddy Mizwar dan bintang remaja Gusti Randa. 

Tasia yang Christine perankan, dikisahkan sebagai remaja yang lahir dari keluarga broken home. Lantaran kekurangan kasih sayang, Tasia akhirnya menjadi cewek pemberontak yang badung bukan kepalang. Peran yagn dibawakan itu betul-betul menantang dan katanya bertolak belakang dengan watak aslinya. 

Padahal, mahasiswi Akademi Bisnis Manajemen, Jakarta ini baru pertama kali itu terjun main film. Ia memang terbilagn bintang film berbakat. Kemampuan aktingnya cukup lumayan, diatas rata-rata pemain sekelasnya. 

Sebelum main film, gadis berbibir tipis ini dikenal sebagai foto model. Wajahnya yang unik dan fotogenic kerap nampang menghiasi sampul majalah, kalender, dan iklan. Terutama iklan yang berbau kecantikan seperti shampo , bedak dan sabun. 

Selain itu, Christine juga aktif di bidang drama. Khusus di bidang yang satu ini, dia sempat berlakon unik dalam sandiwara rakyat Sunda, "Nyai Kadarsih" produksi TVRI Stasiun pusat Jakarta. 

Sejak tampil dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" Christine sempat berkali-kali ditawari main film panas yang berbau "ranjang" tapi tawaran itu ditampiknya mentah-mentah. Takut adegan syur? "Ah enggak, melakukan adegan seperti itu bagi saya sih nggak terlalu jadi masalah, itu kan cuma di film. Saya nggak munafik kok, " kilahnya. 

"Soalnya saya melihat ada itikad tiak baik di balik tawaran tersebut. Tahu kan itikad tidak baik?, nah itulah yang bikin saya ngeri," tukasnya lagi. 

Lantaran kukuh terhadap prinsip, untuk sementara ini Christine terpaksa cabut dulu dari dunia film. Daripada nganggur dan kesepian, dia kemudian minggat ke Pulai Bali. Ngapain? "Cari uang dan pengalaman, " sahutnya singkat. 

Di Bali cewek kelahiran 19 April 1967 ini bekerja di Sube'c Disco Mirror Club. Konon gajinya lumayan besar. Paling tidak cukup buat 'menghidupi' diri sendiri, tanpa harus bergantung pada orangtua. 

Konon Orangtua semula menentang keras dan sempat uring-uringan melihat putri tercintanya nekat jadi pekerja malam. Apalagi di diskotik yang konon selalu sesak dan ramai dibanjiri bule-bule. Christine sendiri mengakui selama bekerja disana, banyak pengunjung yang suka iseng, juga tak sedikit yagn terang-terangan mengajak kencan. 

Cukup lama juga Christine malang melintang di Bali. Setelah bosan, dia lantas balik ke kota asalnya Jakarta.  Lewat bantuan seorang kenalan, Christine akhirnya bekerja di Ebony Diskotik, sebagai lighting jockey. 

"Tugas Saya di Ebony mengatur lampu disco, agar ruangan lebih hidup dan alunan musik  terasa lebih manis bersma paduan lampu-lampu itu. 

~076/44/Th.V/27 Mei-9 Juni 1989

Saturday, January 24, 2026

KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA

 


KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA, Setting kisah berawal dari zaman Belanda. Willem Van Larsen beristrikan pribumi cantik, Kismi. Namun betapa murkanya Tuan ini, demi memergoki istrinya berbuat serong dengan seorang pemuda bungalownya. Tanpa ampun lagi ia menembak mereka . Si Pemuda kelojotan tewas di tempat. Tapi Kismi masih sempat lari keluar bungalow kendati dadanya telah ditembus peluru. Disiram hujan lebat, ia kabur ke hutan. 

Konon, Kismi memakai cincin Zippus dari Mesir Kuno di jari manis tangan kanannya. Itu sebabnya ia tak gampang-gampang di bu nuh, kecuali bila cincin sakti itu dicopot. 

Tuan Willem yang kalap terus memburu isterinya. Dengan kejam ia memeng gal tangan kanan Kismi. Barulah Kismi terkulai tak berdaya lagi. Selruh peristiwa mengerikan itu disaksikan oleh Kosmin, si pembantu setia merangkap sopir. Tuan Willem memaksa Kosmin merahasiakan kekejamannya dengan sejumlah uang yang besar. 

Beberapa tahun kemudian, baik Tuan Willem maupun Kosmin telah lama tiada. Bungalow peninggalannya terlihat angker menyeramkan. Sering terjadi peristiwa yang meminta korban jiwa disini. Kabarnya setiap pria yang menginap disini pasti bertemu seorang wanita jelita yang mengajaknya bercinta, Imbalannya, malam berikutnya si pria ditemukan mati bu nuh diri. 

Peristiwa ini pun dialami mahasiswa Norman. Kematiannya yang tragis sangat membuat teman-teman sekostnya penasaran. Apalagi menjelang ajal, Norman sempat menyebut-nyebut nama Kismi. 

Menyusul Deny dan Tigor pun bertemu dengan wanita misterius tersebut. Beruntun mereka juga menemui ajal secara mengenaskan. 

Mahasiswa ke empat, Hamsad berjuang keras untuk mengungkap misteri kematian ketiga rekannya. Dengan berani menyatroni bungalow angker. Sama seperti yang lainnya, iapun didatangi dan bercinta dengan Kismi. Namun Hamsad selalu waspada, berhasil mengatasi kemurkaan arwah Willem Van Larsen yang mendadak muncul. 

Terbukalah rahasia kalau arwah Tuan Willem masih terus mengawasi arwah isterinya. Ialah yang mengakibatkan kematian pemuda-pemuda yang berani berhubungan dengan Kismi. 

Hamsad terhindar dari maut. Bahkan bisa menemukan potongan tangan Kismi yang mengenakan cincin Zippus. Selama ini arwah Kismi memang gentayangan untuk mencari tangannya yang terpenggal itu. 

Dengan khidmat Hamsad menyatukan kembali tangan dengan jasad Kismi yang masih utuh karena disimpan Tuan Willem dalam peti kaca hampa udara ditempat rahasia. 

Kembalinya si Janda Kembang diperankan oleh Sally Marcellina, Ibrahim Azhari, Irfan Yudha, Eddie Gunawan, Pak Tile, Him Damsyik dan lain-lain dengan sutradara Sisworo Gautama Putra yang merupakan film terakhir dari Sisworo. ~MF 174/141/TH IV, 6 - 19 Maret 1993

Friday, January 23, 2026

EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH

 


EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH, DARI RAJAWALI KE MANUSIA RAKSASA. (Kisah lawas). Para penonton film "Saur Sepuh" (Satria Madangkara) pasti sudah menyaksikan bagaimana hebatnya Brama Kumbara, Satria Madangkara itu, menghancurkan musuh-musuhnya. Dari memenggal kepala, di tembus kerus tubuhnya namun tidak apa-apa, menghancurkan tubuh lawan-lawannya hingga jadi debu, sampai memanggil Rajawali tunggangannya .

Brama memang hebat. Tapi untuk film, seorang lelaki berkulit gelap berada di belakang kehebatan Satria Madangkara itu. Orang itu adalah El Badrun, lelak kelahiran 25 Januari 1950. Dari kerjanyalah muncul efek-efek khusus yang membuat kesaktian Brama Kumbara seperti di Radio, muncul dalam bentuk visual di layar bioskop.

Tapi itu belum apa-apa. Masih kerja efek khusus yang biasa, " ujar badrun. Dan memang, yang lebih dari Badrun ketika membuat efek khusus "Saur Sepuh I" adalah ketika ia menciptakan burung Rajawali Raksasa yang menghabiskan bulu angsa seratus ekor. Dengan teknik Front Projection, Badrun membuat burung itu seakan terbang di angkasa raya, membawa penunggangnya meskipun visualisasinya belum begitu sempurna. 

Kini, seperti tak ingin puas dengan kerja pertamanya tersebut, Badrun punya gagasan baru. "Untuk film Saur Sepuh II yang berjudul "Pesanggrahan Keramat", saya akan membuat manusia raksasa. Tingginya sekitar 30 meter, " ujar Badrun saat suting pertama film Saur Sepuh II. 

Untuk membuat manusia raksasa itu menurut Badrun, bahannya dari spoon plastik denga rangka besi serta rotan. Manusia raksasa itu merupakan sosok Brama Kumbara setelah ia marah dan melakukan tiwikrama atau semedi," tuturnya. "Dalam cerita ini digambarkan Brama marah lalu melakukan semedi hingga tubuhnya berubah jadi raksasa. Untuk membuat itu, saya masih tetap menggunakan  teknik front projection, " tambah lelaki yang sengaja pergi ke Bavaria - Jerman, hanya untuk memperdalam pengetahuannya  soal efek-efek khusus tersebut. 

Tentang efek-efek khusus lain yang akan ditampilkannya di dalam "Saur Sepuh II", dimana Badrun menjadi penata artistik, ia menyebutkan masih sama seperti yang pertama. "Masih mengandalkan trik-trik kamera, " jawabnya. "Tapi, selain mempertahankan imej kesaktian Brama seperti tergambar pada Saur sepuh I, kali ini kita mencoba memberi beberapa tambahan lainya," katanya. 

"Tapi saya punya target. Kalau pembuatan raksasa ini berhasil, saya yakin kita bisa membuat film-film lain yang lebih spektakuler. Film anak-anak atau film seperti "King kong" atau "ET" dan lainnya, " ujar Badrun optimis. 

Tapi untuk bisa menghasilkan kerja yang bagus bagi keperluan pembuatan film-film seperti itu, Badrun mengharap karyawan film yang terlibat mendapat imbalan yang lebih pantas dan layak. "Kalau tidak, sulit hal itu bisa di wujudkan, "katanya. 

"Saya sendiri memang mendapat bayaran yang cukup. Tapi teman-teman kerja saya masih dibayar sangat murah. Padahal siapapun tahu saya tidak bisa bekerja sendirian, " tambahnya. 

"Betul, saya akan terus memperjuangkan honorarium rekan-rekan kerja saya . Karenanya saya setuju sekali dengan sikap George Kamarullah yang memilih mundur dari dunia film karena ketimpangan honorarium yang di terima karyawan film tersebut, " tegasnya. " Tapi sayangnya karyawan film kita tidak kompak. Tidak bersatu. George contohnya, tidak ada yang mendukung dia, " kata Badrun mengakiri keluhannya. 

~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2. Setelah sebelumnya membicarakan Jawara-jawara film Indonesia yang berantagonis, selanjutnya adalah jawara-jawara  lain yang nasibnya sedikit lebih beruntung. Barry Prima, Fendy Pradhana, Erick Soemadinata dan Baron Hermanto, adalah jawara-jawara film aksi yang nyaris tak pernah jadi antagonis. Barry misalnya sejak pertama main film, ia langsung kebagian peran protagonis. Jadi jagoan dan itu bertahan hingga saat ini (1989)dengan bayaran paling tinggi diantara para jawara film aksi lainnya, yakni 150 juta pertahun.

Yang senasib sama seperti Barry adalah Fendy Pradana. Sejak main film pertama kali dengan Sisworo Gautama Putra lewat film "Malam Satu Suro" Fendy terus kebagian peran jagoan. Belum banyak film yang dibintanginya memang. Tapi posisinya sebagai jawara tampaknya semakin kuat. "Tapi kalau ada tawaran main film dalam jenis lain, saya pasti mau. Jadi tidak terus menerus fight setiap main film, " ujar mantan karateka sabuk coklat ini. 

Beda dengan Barry dan Fendy, adalah Baron Hermanto. Putra aktor Bambang Hermanto ini terjun ke film pertama kali malah bukan  sebagai pemeran film aksi. "Saya main pertama kali film "Permata Biru" tahun 1984. Entah kenapa belakangan ini  saya kok banyak main dalam film-film aksi, " ujarnya yang juga seorang karateka. Baron sendiri mengaku sudah banyak ikut main dalam film Indonesia. 

"Memang saya  sendiri sudah kenal film sejak masih kecil. Tapi kalau main film setelah usia 20 tahun, katanya. 

Jawara lain yang beruntung adalah Erick Soemadinata. Mantan pegawai sebuah biro swasta ini, begitu main film memang tak langsung jadi jagoan. "Mulanya saya jadi  figuran dan kebagian peran-peran kecil pada tahun 1986", ujarnya. Tapi nasib baik membawa lelaki yang pernah belajar silat di PS Panglipur ini ke peran utama lewat film "Si Gobang I dan II". Sejak itu belum banyak film yagn ia bintangi memang. "Tapi saya bertekad untuk terus hidup di film. Terserah jadi antagonis atau apa. Dalam film aksi atau film jenis lain ," tuturnya. 

Memang masih ada beberapa  Jawara lain yang malang melintang dalam film aksi kita ini. Tapi nama-nama diatas agaknya sudah cukup sebagai jaminan bagi mengukur niat kemampuan dan kapasitas mereka sebagai pemain film. Namun entah kenapa sampai  saat ini mereka melulu kebagian porsi sebagai tukang-tukang be r a n t e m di film. Tukang kelahi dan nyaris tak pernah dilirik niat baik dan keinginan mereka untuk benar-benar berakting. "Padahal film aksi kan tak cuma ciat ciat. Dan  kami juga tak cuma bisa berciat ciat. Tapi kesempatan itu kayaknya belum datang ya, ?" tutur Advent . 

Advent benar , film aksi memang bukan melulu film ciat-ciat. Tapi agaknya kecenderungan untuk membuat film aksi adalah film yang melulu  b e r a n t e m , sudah begitu mentradisi. Akibatnya para jawara film Indonesia itu, jarang dilirik, tak terkecuali dalam ajang Festival Film Indonesia. Kenyataan seperti itulah yang membuat Advent Bangun misalnya mencoba merangkum. "Saya ingin peran yang lain. Film yang lain yagn tak melulu aksi. Terserah film drama atau komedi, " ujarnya. 


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1  Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor. 

Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.

Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?

"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya. 

Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini. 

Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur. 

Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini. 

Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan  dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Monday, January 19, 2026

ANNA TAIRAS, KABUR DARI TEMPAT SUTING KARENA TAKUT DISURUH BUGIL

 


ANNA TAIRAS!. Film pertamanya "Bali Connection" arahan Sundjoto Adibroto. Dalam film yang seluruhnya di buat di Bali itu, Yohana yang lebih akrab di panggil Anna bermain sebagai Mei Lin gadis Cina, tujuh diantara ke 38 film yagn sempat dibintangi oleh si bungsu dari enam bersaudara keluarga Pak Tairas ini tergolong film buka-bukaan yang sempat memberikan kesan lain terhadap Anna Tairas. 

Dimulai dengan "Kupu Kupu Putih" arahan Bobby Sandy. Di sini pecinta film mulai bertanya melihat perubahan sikap Anna Tairas. Dia muncul sebagai perempuan penggoda yang menampilkan adegan cukup berani. Mulai dari cium bibir sampai ke paha, lengkaplah film itu mengekspose bagian tubuh Anna Tairas. 

Sejak film "Kupu Kupu Putih" banyak sutradara memburunya untuk mengeksploitir lekuk tubuh Anna Tairas. Diantaranya "Mandi Dalam Lumpur", "Bibir Bibir Bergincu" dan sebagainya. Semuanya ada tujuh film yang mempunyai kesan lebih khususnya dalam hal adegan seks yang dipertontonkan oleh Anna Tairas. 

Wim Umboh sutradara senior sempat juga "mengintip" celah-celah yagn bisa diangkat ke pita film dari penampilan artis berdarah campuran, Manado-Riau ini. Disodori sebuah peran untuk film "Pengantin Pantai Biru", Anna Tairas bahkan sempat suting sehari di Sukabumi. Hari pertama dia sudah mulai disuruh buka-bukaan. Mulanya bagian atas kemudian turun ke bawah sedikit. "Sedikit lagi, buka sedikit lagi," kata Wim Umboh pada suting pertama Anna Tairas itu. Begitu selesai suting langsung Anna Tairas ngabur ke Jakarta. 

"Lha kalau baru hari pertama saja sudah disuruh begitu, bagaimana nanti hari hari berikutnya. Bisa-bisa saya disuruh telanjang bulat, " katanya menceritakan pengalaman sutingnya. Tidak sesuai dengan pembicaraan sebelumnya, makanya Anna nekad meninggalkan tempat suting. Tidak bisa lain akhirnnya Wim menggantikan peran Anna Tairas kepada orang lain. 

"Sebetulnya itu bukan perubahan sikap tapi saya ingin membuktikan bahwa saya mampu main dalam film apa saja, " ucap Anna ketika ditanya awal mula dia terbawa main dalam film.

"Sekarang saya akan lebih hati-hati dalam memilih peran:, kilahnya. Apalagi untuk jenis film seks jelas dia tidak segampang dulu, yang menurut penuturannya kala itu masih kurang bisa mengontrol diri. 

Sejak kemunculannya dalam film "Kodrat" arahan Slamet Rahardjo, mantan ratu Kawanua se Jakarta 1975 inipun segera mengadakan perubahan lagi. Pelan tapi pasti dia meninggalkan kesan pemain dengan cap yang berbau vulgar. 

"Saya tidak janji tapi sejauh ini saya coba menghindari, " kilah Anna Tairas mengenai kemungkinan ia kembali main dalam film sejenis "Kupu Kupu Putih" ataupun "Mandi Dalam Lumpur".

Pada saat kosong dari tawaran main film itu datanglah sutradara Dasri Yacob menyorongkan sebuah peran utama dalam film Diantara Dia dan Aku produksi Inem Film. 

Tapi film selesai dan disusul dengan film-film berikutnya yang terdengar diluaran justru desas desus sang bintang dengan sutradara Dasri yacob. Saking seringnya main dalam film arahan Dasri, maka gosip dengan sutradara yang bersangkutan pun semakin sulit dihindari, sempat dilabrak istri Dasri. Bukan berarti gosip ini berakhir sampai disitu. Sebab ada lagi nama yang kabarnya sempat akrab dengan dia, seorang pemusik dan suami artis terkenal. Cerita tentang hubungan akrab Anna Tairas dengan pemusik beken ini memang sudah rahasia umum khususnya dikalangan insan film. 

"Biarlah burung berkicau", kilahnya. 

~MF 052/20/Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


Sunday, January 18, 2026

WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA

 


WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat. 

Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu"  dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama. 

Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya. 

Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini. 

Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya. 

Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?

Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya. 


~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

Saturday, January 17, 2026

SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI


 SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI.(Kisah Lawas). Jam 08.00 semua kru nampak siap dengan tugasnya masing-masing. Seperti biasa merek anampak sibuk. Ada yang mempersiapkan sarapan pagi, ada yang make up, pasang lampu dan segala macam tetek bengek lazimnya persiapan suting film. Dua hari terakhir itu film "Malu Malu Mau", nya Warkop memilih suting di Super Star Diskotik di kawasan Cideng Timur Jakarta. Jam 9.00 disaat semuanya hampir ok, muncul Sisworo Gautama , sutradara "Malu malu Mau" mengenakan kaos bergaris-garis, celana pendek, kaos kaki dan sepatu hitam kombinasi putih. 

Habis main tenis Sis? "Ah enggak, cuma dengan begini rasanya lebih rileks. Biasa kalau lagi suting enakan begini, " kata Sisworo, sutradara kelahiran Kisaran Sumatera Utara. 

Sehari sebelumnya ditempat yang sama, sutradara jangkung kehitam-hitaman itu lengkap pakai celana panjang dan sepatu, nyaris seperti pegawai kantor. Seperti biasa suaranya membahana hampir ke seluruh ruangan, terutama kalau dia sedang member aba-aba suting. "Opname kamera, yaaa go...," teriaknya kalau memberi aba-aba suting. Itu memang ciri khas Sisworo. masing-masing sutradara memang punya ciri khas sendiri-sendiri. 

Tumben, sekali ini Sisworo Gautama menggarap film dagelan (Dono menolak di sebut film komedi). Biasanya Sisworo menggarap film misteri, horor atau film-film aksi, macam "Nyi Blorong" dengan sekian banyak versi, atau film-film aksi yang banyak menampilkan trik (adegan tipuan) "Jaka Sembung" konon sempat membuat pengamat film di Eropa dan Amerika terheran heran. 

"Membuat film jenis dagelan seperti ini jelas lebih ringan ketimbang film aksi, horor atau misteri yang sering saya garap," ucap Sisworo. Suasana kerja pun berbeda. Kalau dalam film-film terdahulu selalu serius terus, maka dengan Warkop ini lebih banyak guyonnya. Tidak berarti penggarapannya tidak serius cuma suasana kerjanya itu yang lebih santai. "Ini film dagelan saya yang pertama.  Tidak ada pretensi lain kecuali film ini disenangi penonton banyak dan produser untung, " katanya blak blakan. 

Suting dua hari di diskotik itu mengisahkan Kasino ikut lomba nyanyi tuna netra. Belakangan ketahuan Kasino cuma pura-pura buta. Suasana pun jadi kacau balau apalagi ternyata panitia yang di dalangi Paul tukan kibul. Perihal Kibul mengibul ini juga melibatkan Dono yang ikut kuis berhadiah. Dia dikerjain habis-habisan oleh panitia, sampai akhirnya Dono, Kasino dan kedua teman wanitanya Nurul Arifin dan Sherly Malinton lari terbirit-birit meninggalkan tempat acara. 

Suting pertama "Malu Malu Mau" dimulai pada 26 November 1988. Selesai seluruhnya 27 Desember 1988 atau 24 hari kerja, karena sempat istirahat beberapa hari termasuk hari Natal. Ngebut? "Enggak juga. Soalnya memang sudah ditargetkan satu bulan. Kebetulan selama suting ini kami nyaris tidak ada hambatan sama sekali. Semua pemain selalu siap, tidak ada masalah. Walaupun Nurul merangkap dua film (Dia juga suting film "Saskia} tapi skedul suting dengan Warkop berjalan mulus. Skedul untuk Nurul mengikuti kami, " kata Sisworo yang sebelum ini merampungkan "Santet". Baik film Santet maupun "Malu Malu Mau" sama-sama menghabiskan bahan baku 55 can (kaleng). Bedanya jumlah hari suting film "Santet" lebih banyak Bisa dimengerti karena film sejenis itu pembuatannya lebih sulit dan memakan waktu lama. 

Kesan santai dalam menggarap "Malu Malu Mau" ini seperti tercermin selama dua hari, Senin 26 Desember dan 27 Desember yang lalu. Suting di warnai gelak tawa melihat ulah Kasino, Dno atau Paul yang pelawak dari kelompok Srimulat. Selama dua hari itu mereka mampu menghidupkan suasana sehingga tanpa terasa hari sudah jam lima petang, persis waktu yagn diberikan oleh pihak Super Star, karena malam hariny amereka harus operasi seperti sedia kala. 

Selama dua hari itu pula Kasino selalu duduk di belakang Organ sambil jari-jarinya menari diatas tuts. Sambil membawakan lagu-lagu nostalgia dan masa kini. Sekali-sekali Paul yang sudah berusia 63 tahun tapi tetap segar itu sempat juga melantunkan suaranya. Mantap dan mendayu dayu, mengundang tepukan hangat dari semua pemain dan figuran yang memadati Super Star. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Friday, January 16, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT

 


PENDEKAR CABE RAWIT, PEMUDA DESA - KEJAHATAN KOTA. SYAIFUL NAZAR yang pernah menjadi juara silat dan senam ini, biasanya cuma kebagian peran pembantu, baru sekarang lewat produksi PT. Garuda Film yang juga merupakan karya penyutradaraan pertama bagi Abdoel Kadir, ia diserahi peran utama . Postur tubuhnya yan gagak pendek kendati gempal, membuat ia cocok dengan julukan "kecil Kecil Cabe Rawit".

"Ide Cerita diilhami dari film perdana Bruce Lee - "The Big Boss", namun tentu saja telah di gubah sedemikian rupa hingga membumi disini, " aku produser Hendrick Gozali. Persamaannya cuma tinggal si tokoh utama sama-sama datang dari desa, untuk bekerja di kota, tapi kemudian ternyata juragannya adalah gembong penjahat. Kalau Bruce Lee bekerja di pabrik es, maka Syaiful 'ngenger' di pabrik batik. 

Lawan main Syaiful adalah Uci Bing Slamet, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS dan pendatang gres Monica Oemardi. 

Film diawali dengan adegan upacara Tiban, untuk memohon turunnya hujan. Pemuda-pemuda bertarung adu sabte rotan. Agung dengan kelincahannya berhasil menang. Tapi saingannya, Lompong menjadi sirik dan menyatroni pondok Nenek Agung. 

Nenek mendesak Agung agar 'ngenger' pada pamanna di kota, tapi jangan sekali-kali menunjukkan kemampuan silatnya. Paman Marko yang kaya raya dengan pabrik batiknya bersedia menampung Agung. Tapi putranya Jarot, memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Sedangkan Pak Aman yang menjadi mandor, juga tak bersikap ramah. Padahal Pak Aman sebenarnya ingin melindungi Agung dari Ancaman pamannya. 

Agung mengintai Jarot yang menculik gadis sedesanya, Sri. Diam-diam ia menolong gadis manis ini dari tempatnya di sekap. Rahasia kalau Agung menguasai ilmu silat tak bisa di tutupi lagi, Berbarengan Pak Aman juga buka rahasia, dulu ayah Agung di bunuh Paman Marko yang ingin mengangkangi harta dan pabrik batiknya. Rahasia ini harus dibayar Pak Aman dengan jiwa. 

Terdesak oleh keadaan, terpaksa Agung pun menumpas Jarot, Paman Marko yang licik menyandera Sri di puncak candi. 

Pendekar Cabe Rawit mendapat  penilaian cukup baik oleh anggota Komite Seleksi FFI 1990 hingga masuk dalam daftar 18 film Pilihan 1990.


MF 119/87 Th VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Thursday, January 15, 2026

FAROUK AFERO, PEMAIN ANTAGONIS PUN HARUS DIBAYAR MAHAL

 


FAROUK AFERO, PEMAIN ANTAGONIS PUN HARUS DIBAYAR MAHAL. Farouk Afero sempat lama tidak main film. Bukan karena produser sudah muak padanya, tapi dia sendirilah yang tak mau menerima begitu saja tiap tawaran. "Selain skenarionya harus cocok, saya juga harus dibayar mahal", ujarnya. Lebih dari itu, sikap hidupnya yang terlalu idealis, diakuinya memang menyebabkan banyak kalangan perfilman yang enggan berhubungan padanya. "Tapi tidak apa-apa. Berdiri diluar, saya malah blebih rasional. Tidak lagi emosional. Dan kalau kemudian saya menerima tawaran TVRI itu untuk ikut membintangi sebuah sinetron, itu karena saya ingin menyalurkan kerinduanya pada dunia film. Itupun setelah menolak banak tawaran yang disodorkan," tambahnya. 

Lelaki kelahiran Pandori Bali, Pakistan, 4 Juni 1940 tampil juga dalam TVRI di sinetron dengan judul "Tangan Tangan Hitam". Mulai terjun ke film tahun 1964 lewat "Ekspedisi Terakhir". Farouk yang nama aslinya Farouk Ahmad ini mengaku baru dikenal setelah ikut membintangi film "Bernafas Dalam Lumpur" tahun 1970. "Afero sendiri adalah nama tambahan setelah saya terjun sebagai petinju amatir," ujarnya. 

Tahun 1983 ikut pula bermain dalam film "Wolter Monginsidi ", lantas sebagai orang yang kini tak terlibat langsung, Farouk melihat dunia film Indonesia di akir 80an makin merosot di banding tahun-tahun sebelumnya dimana ia masih aktif. "Secara teknis, dalam arti film sebagai tontonan memang sudah baik. Tapi untuk yang lain-lain temasuk gagasan-gagasan yang ditawarkannya, nanti dulu," katanya. 

"Artis film Indonesia saat ini ibarat spare part. Tidak diberi kesempatan menjadi matang. Benar, dimanapun di duni aini produser adalah orang yang paling berkuasa. Solidaritas antar sesama pekerja film saja sudah tidak ada. Masing-masing memikirkan perutnya sendiri-sendiri. Dan dari dulu sistem yang tidak membina inilah yang saya tentang. Saya protes dengan cara kerja saya sendiri, kata aktor yang diluar kemauannya sendiri terpilih jadi aktor pembantu terbaik FFI 1976 lewat film "Laila majenun" itu. 

"Saya emmang bercita-cita artis Indonesia harus mahal. Harus bagus kondisi sosial ekonominya. Sebab saya yakin kreativitas lahir kalau kondisi ekonomi seseorang sudah mapan", ujar aktor terbaik FFA 1971 lewat "Noda Tak Berampun".


~MF


Wednesday, January 14, 2026

FILM TERAKHIR SISWORO GAUTAMA PUTRA, KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG


 KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, FILM TERAKHIR SISWORO GAUTAMA PUTRA. Inilah film horor karya kenangan sutradara Sisworo Gautama Putra yang meninggal tak lama seusai pembuatannya. Sutradara kelahiran Asahan yang meninggal karena serangan mendadak penyakit jantung ini, termasuk laris dan konsisten dengan film-filmnya. Rata-rata menyelesaikan dua film pertahun. 

Memulai karirnya sebagai pencatat skrip untuk film Tujuh Prajurit (1962). Meningkat menjadi astrada setelah pernah pula menjabat asisten unit dan Pimprod. Baru di tahun 1972 dipercaya Ratno Timoer untuk menyutradarai langsung film silat Dendam Si Anak Haram yang digubah dari cersilnya Kho Ping Hoo. 

Lewat film-filmnya, Sisworo banyak memperkenalkan pendatang baru yang kemudian melejit . Antaranya Advent Bangun, Barry Prima dan Siska Widowati. 

Belakangan ia lebih mengkhususkan menggarap film-film bertema horor. Sejak Sundel Bolong, sampai ke Nyi Blorong, Putri Nyi Roro Kidul dan sejenisnya, hampir semua horor mistik yang dibintangi Suzanna. 

Selama 20 tahun kariernya, Sisworo telah merampungkan lebih dari 40 judul film. Suatu prestasi yang cukup membanggakan. Kendati diakui belum pernah di calonkan sebagai sutradara terbaik, namun produser Gope Samtani dari Rapi Films dan Ram Soraya dari PT. Soraya Intercine Film memujinya, rata-rata filmnya komersial. 

Begitupun diharapkan karya terakhirnya, Kembalinya si Janda Kembang. Menilik judulnya, orang pasti menduga sebagai sekuel atau kelanjutan dari Misteri Janda kembang arahan Tjut Djalil yang sukses di tahun 1991 yang sama-sama di produksi Soraya dan dibintangi oleh Sally Marcellina. Padahal tidak demikian, ceritanya sama sekli tak berkaitan. 

Nampaknya setelah Suzanna mengundurkan diri dari kegiatan main film setelah terakhir diarahkan Sisworo dalam Ajian Ratu Laut Kidul, memang Sally bakal menggantikan kedudukannya dalam blantika horor. 

Lawan mainnya terdiri dari pendatang-pendatang baru seperti Ibrahim Azhari, Eddie Gunawan, dan Irfan yudha. Ikutan mendukung juga pemain pemain tua tua keladi, Him Damsyik dan Pak Tile. 

Salah Satu Trik baru yang di tampilkan disii adalah sosok tangan wanita yang berkeliaran melompat-lompat di lantai bungalow angker. Rasanya teknik ini diilhami film monster kontemporer "The Addams Family". Bedanya kalau dalam film Amerika itu, si hantu tangan tak berperan serta dalam cerita, sebaliknya disini justru potongan tangan itu merupakan kunci cerita. 

~MF 174/141/TH IV, 6 - 19 Maret 1993

Monday, January 12, 2026

CHRIST MITCHUM

 


CHRIST  MITCHUM boleh jadi bintang asing yang paling laris di Indonesia di era 80an memegang peran utama. Setelah Christ muncul di "Pertempuran Segitiga", "Menentang Maut" "Dendam Membara dan "Pemburu Berdarah Dingin".

"Ini usaha hidup saya sebagai bintang film. Jadi soal main film dimana saja jadi, " ujar Christ. PT. Rapi Film mengontrak Christ yang kurang di kenal di Holywood sendiri ini dibawah harga standar seorang bintang cukup punya nama di Asia. Toh ia masih berada di puncak di banding honor tertinggi pemain Indonesia. 

"Itu wajar saja. karena saya tahu film yang saya bintangi akan di edarkan keluar negeri semacam Spanyol, Mexico selain Amerika dan beberapa negara Eropa," ujar Christ yang tak pernah nonton film Indonesia. 

Christ yang telah membintangi sekitar 30 film (1988) ini tak melakukan adegan berbahaya. Untuk itu sudah disediakan stuntman asal Indonesia. Gatot yang jungkir balik, jatuh bangun memakai baju miri Christ Mitchum. "Mereka, para stuntman ini dimana saja sama, saling gila-gilaan demi hidup," komentarnya. "Saya sendiri waktu umur 17 tahun pernah melakukan adegan berbahaya tanpa stuntman dalam "Summer Time Killer,". Saya terbang dan masuk air. Sekarang saya takut ambil resiko", kata Christ, anak dari bintang besar Robert Mitchum. 

Usai suting terakhir film Dendam Membara, terdengar tepuk tangan ketika bintang nekat pengganti Christ, Gatot selamat dari nubruk supermarket. Dan tiba-tiba terdengar teriakan dari megaphone "Saudara-saudara silahkan kumpul. Kita makan sate dan bir," ujar Christ Mitchum yang mentraktir semua kru setelah usai suting .

Dan Christ tidak langsung pulang ke Amerika, "Saya akan mampir dulu ke Pulau Seribu menikmata hawa negeri indah ini, " ucapnya. 


~MF 056/24 tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988