Showing posts with label Barry Prima. Show all posts
Showing posts with label Barry Prima. Show all posts

Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH (Film Lawas). Rumah tinggal Wawan dan Suci adalah sebuah rumah tembok sederhana. Memang tidak mewah tapi ditata cukup serasi. Di pojokan, dalam cahaya temaram, Wwan sedang menenggak minumannya. Wajahnya sangat muram. Matanya merah sayu. Sudah setengah teler tapi masih belum mau berhenti minum. 

Suci keluar dari ruang dalam. Memperhatikan keadaan Wawan, ia merasa sangat iba, mendekat untuk menghibur tapi Wawan sama sekali tak mengacuhkannya. 

"Apa sesudah minum sampai mabuk segala keruwetan Mas Wawan bisa hilang?" tanya Suci hati-hati. 

Wawan menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke sandaran kursi. "Jangan ganggu gua!" cetusnya ketus. 

"Apa tidak lebih baik kita sama-sama pecahkan, kalau memang keruwetan itu sangat membebani mas Wawan?" saran Suci. 

Malah kena bentak Wawan, "Gua bilang jangan Ganggu!".

"Mas?" tegur Suci. 

Wawan meluap murka menyambitkan gelas ditangannya sampai pecah berderai mengenai tembok. Suci terbeliak.  Wawan menceracau, "Semua orang mendesak gua, semua orang sok mau kasih nasihat sama gua! Enggak ada yang mau mengerti gua! Biar setan demit juga kagak bakal bisa! Ini urusan gua! lalu mendelik kearah Suci yang mulai ketakutan. "Apalagi perepuan, ada yang bisa dia pikir kecuali airmata? Sok mau kasih nasihat, anjing semuanya! Bangsat semuanya! Mampus lu ambulans tengik, biar nabrak pohon lu!".

Dengan perasaan kacau Wawan menyapu semua botol minuman dan gelas yang ada diatas meja sampai berantakan di lantai. Wawan tersengguk-sengguk sambil menangkupkan wajah ke tembok. 

Suci menitikkan airmatanya, hati-hati mendekat dan mengelus rambut Wawan. Tapi Wawan menyentakkan tangan Suci dengan kasar, lalu mengangkat tangannya ingin menampar. 

"Pukul! kalau itu memang bisa memuaskan amarah Mas Wawan,  tantang Suci. "Asal sesudah itu Mas Wawan bisa tenang".

Tangan Wawan bagai membeku ditengah udara. Matanya yang merah masih tetap nyalang. Tapi perlahan tangannya turun, kemudian berganti memeluk Suci dan mulai menangis seperti anak mengadu kepada ibunya, "Gua nggak sengaja bunuh orang."

Suci terperangah, tapi tangannya mengelus kepala Wawan dengan penuh pengertian. 

Demi Tuhan, gadis itu mau lari, sirene ambulans sialan, "tutur Wawan. "Gua selalu diburu rasa salah. Gua pengin tobat tapi agama mana yang mau terima maaf bajingan macam gua?".

"Yang mengampuni tobat bukan agama, Mas, yang mengampuni dosa cuma Tuhan, "

"Dosa yang lain mungkin bisa, tapi tidak bagi pembunuh macam gua">

"Waktu anak-anak saya pernah mengaji, guru agama itu bilang, bahwa Gusti Allah akan mengampuni dosa-dosa umatNya kalau dia benar-benar tobat biar dosa itu selebar jagad seluas langit, "desah Suci. 

Pelan Wawan melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah Suci yang memberikan harapan dengan senyum penuh kasih.

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel. 

Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".

"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang. 

"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu. 

Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "

Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah. 

Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara. 

Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis. 

Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."

Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."

"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu. 

Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.

Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan. 

Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya. 

Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah. 

Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".

Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi. 

Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya. 

Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya. 

Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".

"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak. 

"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk. 

Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".

Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas. 

"Buka, Cepat! perintah Wawan. 

Si Nyonya menggeleng keras. 

Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar. 

"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan. 

Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas. 

Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya. 

Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi. 

Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu. 

Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya. 

Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan. 

Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".

Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini. 

Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil. 

Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik. 

Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari. 

Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!. 

Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu. 

Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung. 

Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah. 

Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka. 

Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal. 

Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek. 

Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur. 

Kali ini Rudi yang menyetir. 

Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara. 

Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali. 

*******Bersambung


Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



Thursday, July 9, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM (Film lawas). Rumah bilyard itu cukup ramai oleh anak-anak muda yang menjadi langganannya. Diambang pintu muncul Wawan, Adul dan beberapa kawan mereka lainnya. Dengan kasar Wawa menyingkirkan seorang pemuda kerempeng berjenggot yang ingin menyodok bola. Pemuda itu menjadi sangat kesal dan mengomel-ngomel, tapi tatapan mata Wawan yang angker kontan menciutkan nyalinya. 

Adul sudah sampai ke bar yang letaknya di sudut,"Mana Boss kalian?".

Pelayan di belakang bar balik bertanya, "Ada perlu apa?".

"Ada surat buat dia," ujar Adul sambil menyodorkan sepucuk surat. 

Si pelayan menerima surat itu dan ingin membukanya, langsung lehernya dicenkeram dan di jemba Adul," Gua bilang surat ini buat Boss lu, jangan lancang lu!".

Si pelayan mengkeret ngeri buru-buru masuk ke pintu di belakang yang menghubungkan bar dengan kantor. 

Beberapa orang tukan pukul penjaga keamanan Rumah Bilyard itu mendekat. Tapi Wawan Cs memang sengaja mencari ribut. Mereka mendahului menyerang. Orang-orang yang sedang asyik bermain billyard bubar ketakutan. Apalagi melemparkan lawan-lawannya keatas meja bilyar malah menggunakan stick bilyard untuk menghajar mereka. Dalam sekejap keadaan menjadi porak poranda. 

Boss pemilik rumah bilyar tergopoh-gopoh keluar dari kantornya. Menjerit-jerit panik melihat meja-meja bilyard dijadikan arena bantingan , "Aduh, cukup, cukup stoplah! Ancurrr semuanya, Ai bisa bangkrut,".

Wawan tengah menghantamkan stick bilyard ke perut lawannya yang bertubuh gede. Saking sakitnya mulut si gede sampai ternganga lebar. Wawan menjejalkan sebuah bola ke mulut itu lalu menyodorkannya, kontan si gede terjungkal!. 

Adul masih baku hantam dengan lawannya, ketika Wawan mendekati. 

"Kalau lu mau selamat, tinggalin tempat ini!", hardiknya. "Daerah ini jadi milik kami, lu tau Usin Tato? Itu Boss gua, dia nggak segen-segen ngarungin elu kalau tetap bandel!".

Si tukang pukul manggut manggut gentar. 

"Sekarang semua anak buah lu mesti setor sama Boss gua, paham?!, tegas Wawan. 

Sekali lagi si tukang pukul cuma bisa manggut manggut. 

Wawan menoleh ke arah Boss Bilyard yang menggigil ketakutan. "Tuan pemilik Rumah Bilyard ini?" tanyanya sambil berjalan mendekat. "Ingat tiap tanggal lima, anak buah gua datang kesini. Jangan cari kesulitan. Kalo ada yang bikin onar disini, laporkan sama orang gua, Jelas Boss!?".

Boss Bilyard manggut-manggut bagaikan burugn pelatuk tanda mengerti. 

Wawan memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk berjalan keluar. 


*****Bersambung

Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA (film lawas). Rel Kereta Api memanjang jauh. Lengang dan kosong. Sepasang insan berjalan berangkulan. Wawan dan kekasihnya,si watunas Suci. Tangan Wawan merangkul pinggang ramping Suci. Tangan Suci memegang payung yang berkembang untuk melindungi dari terik matahari. Tangan-tangan mereka yang lain menenteng tas plastik berisi barang-barang belanjaan. 

"Ayah saya tidak pernah tau bahwa anaknya menjadi pelacur di ibukota," gumam Suci. Dia menyangka saya bekerja di pabrik seperti isi surat yang selalu saya kirimkan."

Wawan mesem pahit, "Pasti elu juga nggak kasih tau bahwa calon mantunya seorang bajingan, kan?.

Suci mencubit pinggang wawan sampai pemuda ini menggelinjang geli, "Mosok yang begitu mesti dibilangin sih?".

"Kali aje pacar gue nggak tau politik, " sindir Wawan. 

Suci menerawang jauh. Kadang-kadang rasanya seperti mimpi bisa lepas dari dunia lon te yang kukira akan menjeratku sampai keriput,".

Tiba-tiba suci berhenti melangkah. Wawan tertegun dan menoleh. 

Suci menatap kearahnya dengan mata polos. "Mas Wawan benar-benar mau mengawiniku, kan?, tanyanya. 

Sipemuda manggut dengan mantap, "Apa musti gua sumpah lagi?".

Si Watunas menatap sendu. "Mas tidak akan galak sama Suci? Janji?".

"Eh , ni anak masih nggak yakin juga, elu akan gua sayang seperti gua nyayangin ibu gua, adik gua, kakak gua sekaligus, "tegas Wawan. "Karena gua nggak punya siapa-siapa lagi. Gua benar-benar sebatang kara!.

Suci senyum bahagia memeluk pinggang si pemuda dan menyesapkan wajahnya ke dada yang bidang itu. 

Sejak berkenalan memang Suci telah jatuh hati pada Wawan. Sebaliknya si pemuda pun bisa merasakan kelembutan dan perhatian Suci yang lain daripada watunas-watunas biasa. Maka Wawanpun melarang Suci melanjutkan prakteknya dan memintanya hanya untuk menjadi miliknya seorang saja!

******Bersambung

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT


TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT (Film Lawas). Gedung itu tak terlalu besar, namun perabotannya cukup mewah, lengkap dengan pesawat TV warna ukuran besar, video recorder, dan sofa mahal. Pemilik adalah seorang pedagang yang cukup sukses. 

Malam ini, seisi rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Dua anak asyik menonton video. Tuan Rumah membaca koran. 

Terdengar suara mobil berhenti dijalan. Menyusul dering bel pintu. 

Menoleh kearah isteri, si suami berseru, " Mah, mungkin Oom Jarwo, tadi aku janji sama dia, .

Si isteri bergegas membukakan pintu, seketika ternganga karena tamunya menodongkan pistol!. 

"Tenang, jangan ada yang berteriak kalau mau selamat, " Ancam Wawan sambil masuk diiringi dua kawannya, " Ikat mereka semua! Nyonya panggil pembantu Nyonya dengan lembut, ayo!".

Koming dan Adul dengan cepat mengikat tuan rumah dan anak-anaknya, membungkam mulut mereka dengan plester. 

Si Isteri ketakutan memanggil pembantu, "Yem, sini sebentar".

"Ya nyah, " terdengar sahutan dari dapur. 

Si Yem keluar membawa baki berisi sepiring manisan jambu. Demi melihat perampok-perampok yang sedagn mengangkat video, langsung menjerit ketakutan.  

Koming yang berdiri dekat pintu secara reflek membacokkan cluritnya ke leher si Yem. Darah muncrat. Si Yem roboh ke lantai dengan suara keras. Piringnya terbanting pecah. Manisan jamu berserakan bercampur dengan darah yang mengalir. 

Wawan yang tengah menggerayangi isi lemari dalam kamar, kaget sekali melihat pembunuhan ini. Langsung mengayunkan tangannya, menampar Koming, "Anjing Lu! umpatnya. 

Koming terjajar sempoyongan. 

Pemilik rumah dan anak-anaknya mengkeret ketakutan. 

"Tunggu, gua masukin mobil! cetus Wawan  bergegas mengangkut barang-barang rampokan mereka ke dalam mobil itu. Wawan tak menunggu lama, cepat meluncurkan mobilnya menuju ke Jalan lagi!. 

Malam itu juga, di dalam gudang di belakang sarang mereka, Wawan menghajar Koming dengan  tinjunya. Meskipun Koming biasanya sangat garang dengan brewoknya yang lebat, namun ia  sama sekali bukan lawan berarti bagi Wawan! jatuh bangun berulang kali. 

Wawan melemparkan clurit Koming yagn masih berlumur darah ke lantai. "Ambil clurit itu, ayo lawan gua!, tantangnya. 

Koming tak berani bergeming. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. 

Wawan mendekat dan melayangkan tendangan tepat masuk ke perut Koming hingga rampok kejam ini bergulingan. 

"Pengecut lu!" umpat Wawan. 

Adul, Hasan, Amin dan lain-lainnya lagi berebutan masuk ke gudang ini. 

Wawan memandang kearah mereka semua dan menantang, Ayo, kalau ada yang kagak terima sama gua, maju semua sekalian! Anjing! Gua udah bilang kagak pakai ngambil nyawa! Dalam kerja gua pantang ada pembunuhan, kita cuma perlu hartanya!" 

Tak seorangpun berani menyahut. 

Wawan makin meluap-luap. Ia menyambar leher baju Koming lalu kembali menghujaninya dengan tinju sampai meraung-raung kesakitan. 

"Kenapa elu langgar, babi? geram Wawan. Adul maju, berusaha melerai . "Cukup , Wan, elu juga nggak mau bunuh teman sendiri kan? Udah deh."

Wawan lunglai sendiri dipojokkan, bathinnya merintih. Koming yang ambruk cuma bisa menatap dengan mata menyiratkan dendam kesumat. 



Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3


Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA


Saturday, May 16, 2026

BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI

 


BARRY PRIMA, BINGUNG SETENGAH MATI (berita lawas) . Sudahlama juga bintang film laga ini tak berciat-ciat di depan kamera film. Dia yang biasa di panggil Bertus namun populer sebutan Barry Prima saat ditemui di Bandung, kembali kepada profesi semula, pengajar taekwondo yang sempat terhenti karena kesibukan di film. 

Kepada MF ia bercerita tentang nostalgianya. 

Pagi itu meskipun sinar mentari sudah menyemprot dari lubang jendela, namun Barry masih tidur pulas di kamarnya. Sampai datang adiknya, Max membangunkannya, bahwa ada tamu yang betul-betul serius hendak menemuinya. 

Di ruang tamu memagn sudah menunggu sepasang muda mudi yang mengaku suami istri yang sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka. Sang istri dalam keadaan hamil 5 bulan itu permintaannya aneh-aneh, yakni ingin makan nasi yang sebelumnya sudah di cocolkan ke pipi Barry Prima. 

"Yahoi, apa nggak kaget tuh mendapat permintaan unik seperti itu?" tawa Barry. 

Selanjutnya tamu yang sudah sengaja berbekal nasi, setelah permintaannya disetujui, kontan mencocolkan nasi ke pipi Barry dan blep langsung di lahapnya dengan senyum malu dbawah tatapan bingung bintang film laga itu. ~sumber MF 157/124 th VIII, 11 - 24 Juli 1992

Wednesday, February 18, 2026

SUTING FILM RAWING II


 SUTING FILM RAWING II, Lesunya Perfilman Nasional tidak membuat produser maupun sineas negeri ini staknasi. Sebaliknya, keadaan yang ada dijadikan semangat untuk mencari terobosan baru dalam memproduksi sebuah film. 

Alternatifnya tidak hanya anggaran di perketat, tapi juga sistem penggarapannya. Demikian produser Andi Mulyo yang kini berbendera PT. Elang Perkasa Fim menggerakan 'armadanya'. beberapa film telah diuji coba, diantaranya Saur Sepuh V, Angling Dharma II dan Tutur Tinular IV. Ketiganya action klasik tersebut di produksi didalam kota jakarta berlokasi di Taman mini Indonesia Indah dan  Kebon Binatang Ragunan. Meski rada lemah dalam sinematography, tapi lumayan dalam pemasukan. Dalam kondisi perfilman lagi lesu, ternyata sistem ini cukup efektif. 

Bukan hal yang mengagetkan bila Rawing II, film tema action klasik ini 100% berlokasi di Jakarta. Tommy Burnama selaku sutradara, membikin film tersebut 80% berlokasi di Pulo Mas Pacuan Kuda. Suatu hal yagn jarang terjadi membikin film tema action klasik di tengah kota yang padat penduduk. 

Area Lokasi suting paling banter 1000 meterr persegi, sementara di sekelilingnya terhampar kawasan rumah elite. Lokasi tersebut lebih mirip sebuah studio, hanya saja tak beratap. Dua bangunan utama, rumah panggung yang tak jelas akar budayanya, menjadi titik sentral tempat permasalahan (konflik) terjadi. Batang pohon akasia seperti dewa penolong dapat dijadikan bertenggernya kawat sling. 

Bangunan Induk tersebut dibikin dengan biaya tidak terlalu mahal, kayu rombengan dengan atap nipah kering sebagai bahan dasarnya cukup artistik untuk  kelas film action. Delsy Sjamsumar, selaku penata artistik cukup jeli memanfaatkan gundukan tanah sperti sebuah lembah di tengah bukit, di sebuah pedesaan. Kalau bisa di duga, semahal-mahalnya film ini paling banter menghabiskan dana 150 juta. Namun, anggaran bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membikin film laku. 

Dari keseluruhan suting, nyaris 75% adegan dibuat malam hari. Sangat menolong sekali untuk dapat menyolong lampu-lampu jalanan , maupun lampu-lampu yang datang dari rumah dikawasan elit itu. Kalau mau jujur, lokasi tak layak untuk membikin film bertema klasik. Kalau kamera berputar 90 derajat maka kamerawan akan menyapu atmospher yang berbau modern. 

Thomas Susanto selaku kamerawan tidak mau tinggal diam, akalnya cukup jeli mencari angle kamera. "Mau tidak mau, saya lebih banyak mengambil low angle, " katanya. Dengan menyapu kamera mengarah ke langit, menutupi atmospher modern. "Saya harus ekstra kerja keras, " katanya disela suting berlangsung. Tak jarang juga Thomas Susanto memanfaatkan sling untuk mencari kedinamisan angle. Dengan sling apa adanya, masih primitif bila dibangingkan film impor, tak membuat kru yang lainnya patah semangat. Malah sebaliknya, keinginan kru membikin film laku sangat menggebu gebu. 

"Kami tidak mau berteiak menangisi lesunya perfilman, sekarang bagi kami adalah membikin film laku, " kata seorang kru dari departemen artistik. Disana sini masih terdengar keluhan kru tentang honor film. "Kecil tidak apa-apalah, yang penting bisa kerja, " ujar kru lainnya yang tak mau di sebutkan jati dirinya. 

"Setelah dilihat rush-copy film ini ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan suting di Pelabuhan Ratu atau di Pangandaran. Yang jelas tidak ada kebocoran suasana modern, " kata Tommy Burnama di sela suting. 

Agaknya sistem suting seperti ini akan terus dilaksanakan setelah diuji cukup efektif. Industri film Hongkong sendiri membikin tema action klasik berlokasi suting ditengah kota. "Ketika kru Hongkong datang ke lokasi suting kami, mereka juga menyambut gembira. Begini cara kami membikin film di negeri kami, " kata Tommy menirukan kru film Hongkong. 

*****


Rawing I sangat beda dengan Rawing II dalam episode si Rawing Pilih tanding ini. Baik dari segi bintangnya maupun krunya. Rawing I disutradarai oleh Denny HW, berlokasi di Pelabuhan Ratu dengan pelakon utama Erick Soemadinata dan Anita Sarah Boom. Sedangkan Rawing II di sutradarai oleh Tommy Burnama dengan pelakon utama Bary Prima dan Christine Terry. 

Begitu juga dalam materi cerita. Dalam episode kali ini tidak hanya mengandalkan adegan laga sebagai gacoannya. Unsur komedi dan sensualitas juga alternatif lain yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. 

"Saya di percayakan untuk menghadirkan komedi. Tapi mereka minta komedi slapstik, yang saya hadirkan komedi situasi. Jadi saya bermain karakter. Garis cerita memang tokoh Ki Debleng yang memegang kendali, " kata Winky Harun di sela break suting. 

Cerita berawal dari Rawing dan Ki Debleng berhasil mengamankan desanya dari gangguan perampok. Namun, sial bagi Ki Debleng, karena barang yang dicuri para perampok adalah barang Nini Iswari, isterinya. Tentu saja Nini Iswari marah-marah. Ia menduga suaminya sendiri yang telah mencuri  barang berhaganya. Muncul tuduhan lain dari isterinya, bahwa semua barang-barang yang hilang selama ini adalah kerjaan suaminya sendiri, Ki Debleng. 

Kalau memang bukan Ki Debleng yang mencuri, maka ia tidak boleh keluar malam, demikian larangan istrinya. Tatkala Rawing hendak pergi ke Perguruan Macan Liar, Ki Debleng merasa perlu ikut. Akibarnya, ia dikejar-kejar Nini Iswari. Akhirnya, Rawing berhasil mengalahkan Gempar sementara Nini Iswari berhasil menangkap Ki Debleng. 

Para Pelakon diantaranya Barry Prima (Rawing), Yurika Prastica (Nini iswari), Wingky Harun (Ki Debleng), Yoseph Hungan (Gempar), Christine Terry (Kartika) dan Sinta Naviri (Dayang). 

Dibidang kru : Tommy Burnama (Sutradara), Prawoto Soeboer Rahardjo (Astrada) Thomas Susanto (Kameramen), Delsy Sjamsumar (Penata Artistik), Usman Jiro (Pencatat Skrip), Karim Muda (Pimpinan Produksi ) dan Naryono Hadi sebagai Pimpinan Unit. 


MF : 178/145/THIX 1-14 Mei 1993



Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2. Setelah sebelumnya membicarakan Jawara-jawara film Indonesia yang berantagonis, selanjutnya adalah jawara-jawara  lain yang nasibnya sedikit lebih beruntung. Barry Prima, Fendy Pradhana, Erick Soemadinata dan Baron Hermanto, adalah jawara-jawara film aksi yang nyaris tak pernah jadi antagonis. Barry misalnya sejak pertama main film, ia langsung kebagian peran protagonis. Jadi jagoan dan itu bertahan hingga saat ini (1989)dengan bayaran paling tinggi diantara para jawara film aksi lainnya, yakni 150 juta pertahun.

Yang senasib sama seperti Barry adalah Fendy Pradana. Sejak main film pertama kali dengan Sisworo Gautama Putra lewat film "Malam Satu Suro" Fendy terus kebagian peran jagoan. Belum banyak film yang dibintanginya memang. Tapi posisinya sebagai jawara tampaknya semakin kuat. "Tapi kalau ada tawaran main film dalam jenis lain, saya pasti mau. Jadi tidak terus menerus fight setiap main film, " ujar mantan karateka sabuk coklat ini. 

Beda dengan Barry dan Fendy, adalah Baron Hermanto. Putra aktor Bambang Hermanto ini terjun ke film pertama kali malah bukan  sebagai pemeran film aksi. "Saya main pertama kali film "Permata Biru" tahun 1984. Entah kenapa belakangan ini  saya kok banyak main dalam film-film aksi, " ujarnya yang juga seorang karateka. Baron sendiri mengaku sudah banyak ikut main dalam film Indonesia. 

"Memang saya  sendiri sudah kenal film sejak masih kecil. Tapi kalau main film setelah usia 20 tahun, katanya. 

Jawara lain yang beruntung adalah Erick Soemadinata. Mantan pegawai sebuah biro swasta ini, begitu main film memang tak langsung jadi jagoan. "Mulanya saya jadi  figuran dan kebagian peran-peran kecil pada tahun 1986", ujarnya. Tapi nasib baik membawa lelaki yang pernah belajar silat di PS Panglipur ini ke peran utama lewat film "Si Gobang I dan II". Sejak itu belum banyak film yagn ia bintangi memang. "Tapi saya bertekad untuk terus hidup di film. Terserah jadi antagonis atau apa. Dalam film aksi atau film jenis lain ," tuturnya. 

Memang masih ada beberapa  Jawara lain yang malang melintang dalam film aksi kita ini. Tapi nama-nama diatas agaknya sudah cukup sebagai jaminan bagi mengukur niat kemampuan dan kapasitas mereka sebagai pemain film. Namun entah kenapa sampai  saat ini mereka melulu kebagian porsi sebagai tukang-tukang be r a n t e m di film. Tukang kelahi dan nyaris tak pernah dilirik niat baik dan keinginan mereka untuk benar-benar berakting. "Padahal film aksi kan tak cuma ciat ciat. Dan  kami juga tak cuma bisa berciat ciat. Tapi kesempatan itu kayaknya belum datang ya, ?" tutur Advent . 

Advent benar , film aksi memang bukan melulu film ciat-ciat. Tapi agaknya kecenderungan untuk membuat film aksi adalah film yang melulu  b e r a n t e m , sudah begitu mentradisi. Akibatnya para jawara film Indonesia itu, jarang dilirik, tak terkecuali dalam ajang Festival Film Indonesia. Kenyataan seperti itulah yang membuat Advent Bangun misalnya mencoba merangkum. "Saya ingin peran yang lain. Film yang lain yagn tak melulu aksi. Terserah film drama atau komedi, " ujarnya. 


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Sunday, January 18, 2026

WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA

 


WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat. 

Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu"  dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama. 

Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya. 

Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini. 

Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya. 

Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?

Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya. 


~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

Wednesday, December 31, 2025

SUTING FILM "PANCASONA"

 


SUTING FILM "PANCASONA", Cara menyabet dengan Tombak. 

Situ Gunung, Taman wisata yang punya hutan lindung dan air terjun indah, letaknya cuma sekitar 25km dari Sukabumi. Sayangnya, jalan menuju kesana sudah termasuk rusak berat. Aspal mengelupas membuat jalan berlubang-lubang. Akibatnya perjalanan dengan mobil terpaksa memakan waktu sampau satu setengah jam. 

Ketempat inilah sutradara M. Abnar Romli dan krunya dari PT. Kanta Indah Film datang utuk membuat film silat "Pancasona". Sejak pukul enam pagi mereka sudah berangkat dari tempat menginapnya di Wisma PGRI Sukabumi. Begitu sampai kamerawan Thomas Susanto langsung mengatur lampu, disekitar sebatang pohon jati tua yang tinggi menjulang. 

Dalam lembah Belukar Situ Gunung inilah akan dibuat adegan pertarungan menentukan antara Barry Prima kontra Sutrisno Widjaya. Sebelum suting, Sutrisno yang juga menjadi Penata Kelahi berembug lebih dulu dengan  Barry. "Mula-mula saya menyabetkan tombak, Barry melompat ke kanan lalu saya berbalik menyodokkan tombak ke arah leher, Barry menyambut dengan jepitan sepasang telapak tangan. 

Barry yang tak pernah banyak bicara, cuma manggut saja. Keduanya mulai berlatih, Barry yang mengenakan rompi bersisik memperlihatkan dadanya yang bidang, Sedangkan Sutrisno Widjaya berpakaian kulit macan dan bersenjata tombak bermata dua. 

Dua tiga kali berlatih, Barry yagn memang memiliki dasar Taekwondo sudah mahir melancarkan ajaran Sutrisno Widjaya. "Oke kita take", seru Romli

Barry menaiki sebuah tangga dari ketinggian ia melompat, "jleg" tepat di depan Sutrisno. Dalam film nanti tentu saja tangganya tidak kelihatan, seolah-olah Barry lompat turun dari puncak pohon. 

Sutrisno yagn sudah petantang petenteng dengan tombaknya justru melupakan dialognya, terbata-bata salah ngomong. Terpaksa suting harus diulang lagi. Khusus Sutrisno di close up ketika berdialog. Maka Barry mundur dulu untuk merokok sebentar. Setelah tiba gilirannya barulah ia maju lagi. Asisten Penata Rias menyemprot-nyemprotkan air agar Barry kelihatan berkeringat di wajahnya. 

Kali ini suting berjalan lancar. Sutrisno menyodokkan tombaknya, tepat di jepit dengan sepasang tangan Barry. Semua penonton muda mudi yang sedang berwisata Minggu di situ Gunung bertepuk tangan memuji atraksi gratis ini. Selain Barry dan Sutrisno, film silat ini juga dibintangi oleh Yoseph Hungan dan artis malaysia Ziela Jalil. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Wednesday, December 10, 2025

BINTANG FILM DADAKAN, GOPE SAMTANI ,CASTING COCOK TIDAK PROBLEM


GOPE SAMTANI, CASTING COCOK TIDAK PROBLEM DENGAN BINTANG FILM DADAKAN. Banyak artis film melejit dari seorang produser. Sementara sang artis itu sendiri  tidak pernah bergelut dalam dunia film seperti Barry Prima, Yessy Gusman dan lain-lain. Bag Gope Samtani salah seorang produser film nasional berpendapat," Tidak ada masalah memakai artis apa saja, yang tanpa dilatarbelakangi kemampuan akting. Keberanian seorang produser seperti ini adalah untung-untungan."

"Bagi saya memakai artis yang bukan bergelut di dunia film tidak problem. Yang penting artis itu cocok dengan peran yang di berikan," kata Gope Samtani. Karena dunia film merupakan kerja kolektif, apakah sang artis itu sendiri merepotkan ketika pengambilan gambar? misalnya seperti Barry Prima yang seorang Taekwondoin ketika pertama kali suting film. 

"Memang saya yang pertama memakai Barry Prima, tapi sebelumnya kami sudah berpikir matang ke arah itu dan artis itu sendiri ternyata tidak merepotkan," katanya . Secara terus terang Gope juga menambahkan "Selama produksi saya tidak pernah mengalami hambatan. 

Selain Barry Prima dan Yessy Gusman, Gope Samtani juga dikenal sebagai produser yang banyak mengorbitkan artis nasional. Lalu resep apa yang di lakukan Gope, sehingga dia bisa sukses?

"Bagi kami yang penting cocok. Semisal kami memakai Elyas Pical, tentu kami sedang memproduksi film bertemakan tinju. Dan tidak akan memakai untuk film bertemakan drama," sambungnya. 

Sukses atau tidak sebuah film yang memakai artis berperan ganda seperti puny alatar belakang penyanyi, peragawan, pelawak dan atlit atau apa saja tergantung persiapan yang matang. Tidak berupa gagah-gagahan, atau ingin cepat dapat untung tanpa memperhitungkan segalanya. Karena perhitungan itu membuat Gope Samtani tidak pernah mendapat kendala ketika mengorbitkan seoragn bintng yang bukan artis film. Hambatan yang di hadapi ketika suting memakai bintang berperan ganda adalah faktor mental artis itu sendiri. Karena sudah ada perjanjian antara artis dan produksi sebuah film. 


Wednesday, September 24, 2025

PEDANG ULUNG "DI SUTRADARAI OLEH PENATA KELAHI"

 


PEDANG ULUNG, FILM YANG DISUTRADARAI OLEH FIGHTHING INSTRUCTUR EDDY S YONATHAN.
"Sebuah film Silat tradisional yang tetap mengandalkan baku hantam dan adegan syurr, dengan dana Rp. 300juta, 100 juta diantaranya konon untuk honor Barry Prima. "

Sukses dengan film Walet Merah, PT. Elang Pekasa Film kembali memproduksi film jenis action. Masih dibintangi oleh Barry Prima. Film yang mengandalkan adu fisik, yang selalu dianggap angin berlalu dalam setiap Festival Film Indoneisa, di beri Pedang Ulung. Yopi Burnama selaku sutradara, tak banyak berfungsi dalam proses pembuatan di lapangan. Dia bak macan ompon, karena yang memegang kendali adalah Eddy S JOnathan sebagai fighting director. Maka tak heran bila Yopie Burnama jarang dilokasi suting. 

Tema yang disuguhkan masih berkisar adegan baku hantam dengan setting kerajaan antah brantah. Tidak ada yang istimewa dibanding produksi-produksi sebelumnya. Unsur kekerasan yang di balur dengan percintaan mewarnai film ini secara keseluruhan. Maka tak heran jiga para pemain dalam keadaan kumal, penuh bercak-bercak lumpur. Apalagi hujan dras kerap mengguyur kawasaan TMII tempat suting berlangsung. Beberapa kali pengambilan adegan tertunda. Para kru dan pemain berlarian ketenda serta gubuk yang sekaligus dijadikan background adegan. 

Namun Eddy S Yonathan yan gmenggantikan kedudukan Yopi Burnama, tidak kehabisan akal. "Saya pakai sistem jumping shoot, satu hari saya harus merampungkan 20 shot. 

Total menghabiskan dana 300juta, (Rp. 100juta diantaranya, konon khusus untuk bayar honor Barry Prima). Film Pedang Ulung yang ditulis oleh Tonny dan Amalia Yonathan ini beredar pada Januari 1994. Jurus-jurus yang dimainkan Barry Prima beserta pemain-pemain lainnya tidak terikat pada satu unsur seni bela diri, tapi juga diramu secara umum baik dalam maupun luar negeri oleh Eddy S Yonathan sebagai penata kelahi. Eddy mengapresiasi jurus-jurus menarik dari berbagai latar belakang ilmu bela diri. "Saya sendiri pemegang DAN II Ju Djitsu. Tapi saya tak terpengaruh oleh kepandaian sendiri. Saya harus menyesuaikan kepandaian para pemain, untuk menghindari kekakuan," tegas Eddy yang banyak memegang kendali produksi film-film action Nasional. 

Film yang direkam kameramen Suryo Susanto ini, menghadirkan konflik-konflik klasik yang terjadi pada jaman kerajaan. Pertentangan antar kelompok perguruan, dalam upaya mencari kebenaran, perlu pengorbanan dan keberanian. Hadir tokoh hero, memberantas kesewenang-wenangan yang berlaku dalam hukum rimba. 

Di Kisahkan, Raja Surya Pasir Kencana (Agus Kuncoro) dalam memerintah kerajaan dipengaruhi perdana menterinya yang bertabiat buruk (Mansyur Sadan). Akibatnyaseorang Perdana Menteri yang lain (Robby Sutara) jadi tersingkir. Padahal Perdana Menteri itu sangat setia pada Raja. Kerajaan jadi kacau balau. Penindasan, pemerkosaan dan kesewenang-wenanganpun merajalela. 

Maka hadir tokoh Jaka (Barry Prima) yang berupaya mempersatukan kembali kerajaan yang hampir di puncak kehancuran itu. Namun tugas itu tak mudah. Apalagi Perdana Mentri kerajaan yang bertabiat buruk mengajak teman seperguruan Jaka bergabung dengan mereka. 

Semula ibu Jaka (Chitra Dewi)tak mengijinkan untuk berjuang menegakkan kembali kebenaran yang hampir punah. Namun seelah diyakinkan, sang ibu merelakan juga anaknya berjuang merontokkan orang-orang yang telah tersesat itu. Kendala lainny ayang harus dihadapai Jaka adalah sang pacar, Ayu Chandra (Corry COnstantia) yang juga dicintai oleh Permadi (Rendy Recky) teman seperguruan Jaka yang berkhianat  dan bergabung dengan Perdana Mentri kerajaan yang Jahat. Terjadilah cinta segitiga, membuat Jaka kian bernafsu mempergunakan pedang ulungnya untuk menghajar Permadi dan orang-orang suruhan Perdana Menteri. Mungkinkah Jaka mampu membinasakan mereka? Adegan pertempuran mengucurkan darah, gemerincing pedang, jurus-jurus pukulan total mewarnai ambisi Jaka untuk menegakkan keadilan. 

Unsur percintaan dalam film ini dapat disaksikan lewat adegan perpisahan antara Jaka dengan Ayu Chandra. Dikemas secara halus dan romantis, nalau dibumbui dengan cumbuan yang cukup hot. Sementara adegan s e k s yang brutal dapat disaksikan lewat adegan-adegan per kosa an. Paha dan bentuk tubuh sensitif lainnya hadir tervisualisasi sebagai bumbu yang hingga kini tetap di gemari. "nggak usah munafiklah, bahwa unsur sadisme dan erotis punya daya tarik dan komersial. Terbukti film-film yang selama ini saya tangani yang menghadirkan kedua unsur itu cukup sukses dipasaran bioskop," Kilah Eddy S Yonathan yagn diakui oleh Yopi Burnama.

"Saya percayakan semuanya pada bung Eddy. Dia yang lebih menguasai trick-trick perkelahian dan percintaan. Saya memantaunya sekali-sekali di lapangan, " kata Yopi Burnama. 

Pedang Ulung dilakonkan hampir 60 pemain, rata-rata punya skill ilmu beladiri. Peran senral di pegang oleh Barry Prima yang menurut pihak Elang Perkasa telah di kontrak selama 1 tahun untuk 5 judul film. Pemain seperti Agus kuncoro yang terkenal lewat peran Jaya Negara dalam sinetron Mahkota Mayangkara, Corry Constantia, Rendy Recky, Chitra Dewi, Mansyur Sadang, Robby Sutara, Kubu Quimariz, Yacob Essad dan lain-lain dengan special effect dipegang oleh Sudharmono. ~MF 194/160/TH IX 4-17 Desember 1993


Tuesday, August 5, 2025

MACHO II , GAGAL MEMPEROLEH PENONTON


 Kutipan Sebuah Berita dari Majalah Film 

Heboh kaburnya Zarima pemain wanita dalam film Macho II, memancing Ali Tien pengedar film di jakarta untuk mengedarkan kembali film tersebut di Jakarta dan sejumlah kota lainnya di pulau Jawa. Sebagai tastecase, Ali  "menjajakan" dagangannya itu lewat bioskop Gelora dan Mitra. Hasilnya? "Gagal memperoleh penonton. Dua hari pertunjukan di Mitra, hanya mendapat 310 penonton. Di Gelora lebih parah lagi, Pada pertunjukan hari sabtu , hanya terjaring 30 penonton," akunya. 

Macho II, katanya, kalah saing dengan "Gejolak Nafsu". Prediksi Ali, keberhasilan sebuah film dalam peredaran tergantung pada tema. "Setengah tahun yang lalupun, Macho II ini tidak mendapat sambutan dari masyarakat," paparnya. Di ungkapkan, mengedarkan kembali film dimana Zarima sebagai pemeran wanita, sesungguhnya dimaksudkan untuk lebih mengenalkan "Lady Ectasy" itu pada masyarakat. Dengan begitu masyarakat yang mengetahui keberadaan pemilik 29.677 butir pil ectasy itu bisa melapor pada pihak berwajib. 

Kegagalan "menjaring" penonton sekaligus untuk lebih mengenalkan artis tersebut ke masyarakat, membuat Ali Tien mengurungkan niat mencetak copy baru film Macho II. Pertimbangannya, untuk mencetak satu copy perlu dana sekitar 2 juta. Sedangkan untuk peredaran di 25 gedung di perlukan sekitar 15 copy. Dalam perhitungan , jika satu copy mampu mendatangkan 7ribu penonton di bioskop tahap II, sebagai bisnis, masih rugi. 

Itu sebabnya juga pihaknya menolak permintaan Handi Mulyono , produser film Pt. Elang Perkasa mencetak ulang dan mengedarkan kembali Macho II. Handi juga mengaku telah menarik kembali  dua copy film tersebut dari daerah. Tetapi kalau melihat kegagalan pengedaran macho, ya tentu saja saja tidak berani. Sebab biaya operasional gedung satu hari saja sudah tinggi. Dengan perolehan penonton sedikit, tentu saja pihak bioskop akan rugi," akunya. 

Macho II itu sendiri mengisahkan sindikat narkotika, Zarima di percaya sebagai gadis baik-baik. Bersama Barry Prima kemudanya menyikat dan menggulung sindikat narkotika tersebut. Film aksi penuh gedabak gedebuk ini digarap oleh SA Karim dengan penata kelahi Eddy S Jonathan. 


~sumber MF 267/233/XII/7-20 September 1996

Thursday, May 22, 2025

SI RAWING 1 DAN SI RAWING 2


SI RAWING adalah julukan untuk tokoh pendekar berdaun telinga koyak dari kawasan Priangan yang cukup populer lewat sandiwara radio berbahasa Sunda. Serial Silat yang di bumbui banyak dialog dan adegan jenaka ini mencapai puncak kepopulerannya di daerah Jawa Barat pada awal tahun 1990.

Saat ramai-ramainya PT. Kanta Indah film memindahkan serial sandiwara radio ke versi film yang diawali dengan Serial Saur Sepuh berlanjut ke Tutur Tinular, Babad Taluhur, nah Leluhur, Anglingdarma dan lain-lain, Si Rawing pun sempat di filmkan pada tahun 1991. Sutradaranya Denny HW dengan Bintang utamanya Eka (Alias Erick) Soemadinata, di dukung oleh Yoseph Hungan, Wenny Rosaline, Rita Sheba dan Yunus Takara.

Keistimewaan film silat itu dibuat dalam dua versi bahasa Indonesia(untuk peredaran nasonal) dan Bahasa Sunda (khusus pengedaran daerah Jawa Barat. Sebagai Si Rawing yang pintar bersuling, Eka cukup pas, sesekali kocak dan lugu serta rada be go, malah sempat nembang (menyanyi)sambil main klotekan dengan kentongan bambu yang biasa di gunakan peronda.


 


RAWING 2 PILIH TANDING, Lanjutan Postingan tanggal 19 April 2025

Setelah Rawing 1 dengan bintang utama Erick Soemadinata produksi PT. Kanta Indah Film selesai, kemudian PT Elang Perkasa Film melanjutkan memproduksi Rawing 2 dengan judul Pilih Tanding. Disutradarai oleh Tommy Burnama berdasarkan skenario rekaan Prawoto Soeboer Rahardjo.

Kemungkinan berhubung produser PT. Elang Perkasa Film sudah mengontrak bintang laga Barry Prima untuk Jangka Panjang, maka peranan si Rawing pun beralih dari Eka ke Barry (Itu sebabnya Barry memainkan hampir semua pendekar mulai dari Jaka Sembung, Mandala, Kamandaka, Mata Malaikat, Panji Tengkorak, Jampang sampai ke Anglingdarma dan Tarzan).

Musuh besar Si Rawing gembong perampok si Gempar, di perankan oleh Yoseph Hungan yang sudah belasan kali bertarung (dalam film) dengan Barry.

Dua tokoh penting lain, Si kakek konyol Ki Debleng dan Si nenek genit Nini Iswari, di mainkan oleh Wingky Harun dan Yurike Prastica. Dalam sandiwara radionya, muncul sepasang tokoh tua bebodoran ini selalu bikin greget, rada nyebelin tapi juga kocak banget. Lawan mereka si sesepuh perampok, Ki Uwag di perankan oleh S Naryo Hadi.

Ikut mendukung pemain-pemain muda seperti Christine Terry (Sebagai Kartika, kekasih Rawing), Sinta Naviri (merangkap dua peran, Sekarwangi dan Saraswati), serta bintang bocah Ferry Iskandar (Sebagai Juragan Pendek) dan pemain bertubuh tambung Fahmi Bo (jadi si tubuh besar).

Lokasi suting film ini memang tak jauh-jauh cukup di sebuah gerumbul belukar yang terpuruk di kawasan Kayu Putih, Pulo Mas Jakarta Timur. Namun dengan kepintaran sutradara dan kecermatan bidikan kamera Thomas Susanto dan Kreasi Penata artistik Delsy Syamsumar, bisa di rekayasa hingga mirip sebuah desa di telatah Pasundan 'tempoe doeloe'.

Cerita di awali ketika Si Rawing dan sahabatnya, Ki Debleng tengah meronda keliling kampung. Mereka berhasil memergoki kawanan perampok yang baru selesai operasi. Cukup beberapa gebrakan saja, kawanan perampok berilmu cetek itu sudah di bikin tunggang langgang. Sadar kalau tak bakal unggul melawan kakek dan pemuda gagah ini. Kawanan perampok langsung lari kocar kacir meninggalkan semua buntalan hasil rampokan.

Dengan penuh kebanggaan, merasa telah bejasa besar, Ki Debleng menggendong buntalan besar itu. Niatnya besok akan mencari dan memulangkan pada pemiliknya. Eh, jebul barang-barang dalam buntalan itu, bukan lain adalah milik istrinya dewek, Nini Iswari. Lho kok bisa begitu? Rupanya tadi kawanan perampok mencuri harta Nini Iswari dari dalam rumah yang ditinggal kosong.

Terjadi kesalah pahaman karena bukannya berterima kasih, Nini Iswari malah baik menuduh Ki Debleng Sebagai maling. Karuan si kakek tak terima, meskipun bukti-bukti sangat memberatkannya. Tuduhan cerewet si nenek membuat keduanya bercekcok dan ribut besar..