Showing posts with label Advent Bangun. Show all posts
Showing posts with label Advent Bangun. Show all posts

Sunday, March 22, 2026

PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN!

 


PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN! (Cerita Lawas). Menurut data produksi dari sekretariat PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), sebenarnya masih cukup banyak film tema action yang di produksi para produser kita. Namn semua itu seakan tenggelam oleh sukses besar Saur Sepuh yang telah beberapa serial di produksi. 

Kecuali PT. Inem Film yang tetap produktif dengan tema action untuk penonton bioskop kelas menengah kebawah. Beberapa perusahaan lain tak mau ketinggalan. Mercu Alam Abadi menggiring H. Rhoma Irama untuk tidak selalu berda'wah lewat Jaka Swara, Raja dangdut yang kini mulai memudar pamornya, diorbitkan sebagai bintang action baru. Ini adalah film full action Rhoma Irama yang pertama. 

Masih dari perusahaan yang sama, Liliek Sudjio  yang memang sejak dulu telah dikenal sebagai sutradara trampil dalam menggarap film-film action, menangani Misteri dari Gunung Merapi. Cerita tersebut juga diangkat dari cerita sandiwara radio yang telah populer dikalangan masyarakat. Ternyata Misteri dari Gunung Merapi sukses besar. Alhasil dilanjutkan dengan film keduanya.

Lalu, Rapi Film perusahaan yang cukup produktif tahun 90 ini memproduksi sekitar 12 judul, dimana dalam berproduksi cukup bervariasi, tak mau pula ketinggalan untuk menampilknan tema action. Pedang Naga Pasa judul film yang beredar serentak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur dan Sumatera Utara 24 September 1990.

Film yang dibintangi oleh Advent bangun, WD Mochtar, Erick Soemadinata, Baron Hermanto, Devi Ivone, Anneke Putri, Alba Fuad, dan ratusan pemain lain, termasuk puluhan pemain yang menguasai ilmu bela diri pencak silat dan karate. Jumlah tersebut masih ditambah lagi dengan keterlibatan sekitar 100 ekor kuda, sehingga benar-benar nampak sangat kolosal. 

Memang tidak ada burung raksasanya yang terbang gagah diangkasa. Tapi soal adegan adegan terbang yagn sangat mendebarkan. Dalam pedang Naga Pasa yang cerita dan skenarionya ditulis oleh Baron Achmadi dan disutradarai Slamet Riyadi, tidak kalah dengan Saur Sepuh. 

Walau mengaku telah berpengalaman untuk adegan terbang, ternyata Pedang naga Pasa, Devi Ivone yang sudah bermain dalam 20 film, dimana 15 diantaranya film action. Terpaksa harus sering menahan kesakitan. "Tangan saya sempat nyaris patah tulang!" kenang Devi yang juga menambah profesi jadi penyanyi. 

"Soal di gantung-gantung (sling) sudah biasa. Tapi yang satu ini memang benar-benar berat!" tukas Alba menimpali. Pendatang baru yang mengawali karirnya di film Permainan Di Balik Tirai, juga produksi Rapi film, memang tidak sempat menderita separah Devi. "Lecet-lecet kecil, biasa. Namanya juga film beranteman!" tukas putri Fuad Hasan drummer God Bless (Alm) yang mendapat kecelakaan lalulintas itu. 

"Kala saja tidak di dukung bintang-bintang action saya pasti akan banyak mengalami kesulitan. Beruntung pemain yang terlibat tidak saja mempunyai ilmu bela diri yang tangguh. Mereka selama ini telah dikenal sebagai aktor laga!" tukas Slamet Riyadi sang sutradara.

Meski proses ke luar negeri ini bukan pelanggaran. Sebab peraturannya masih memungkinkan sebuah film yang bagian-bagiannya belum bisa dikerjakan di dalam negeri, masih bisa diberikan izin untuk prosesing keluar negeri. Dan Pedang Naga Pasa keluar negeri seizin pemerintah. 

"Film action sukmanya pada spesial efek. Kalau spesial efeknya kurang sempurna, pasti kurang menarik. karena itu kami tak segan ke luar negeri, meski dengan biaya yang relatif lebih mahal, " tukas Gope T Samtani sang produser. Mudah-mudahan masyarakat tidak kecewa dengan film ini, tambah Gpe lagi. MF 110/78 Tahun VI 15-28 September 1990

Saturday, March 7, 2026

BANDIT BANDIT FILM INDONESIA

 


BANDIT-BANDIT FILM INDONESIA. (Bahasan Lawas). Tukang per kosa, peram pok, pembuat onar, pengganggu rumahtangga orang, pembacking rumah pelacu ran, penculik anak gadis, lalu ber kelahi, main keroyok, gebrak-gebrak meja, akhirnya kalah, menyerah, bertobat atau mati sekalian. 

Itulah potret paling kentara dari sosok bandit-bandit dalam film Indonesia sejak dulu . Gambaran yang muncul selalu saja beringas pada awalnya, kemudian loyo dan kalah diakhir cerita. Biasa.

"Memang begitu. Masa ada sih bandit yang bisa jadi pemenang? Di luar negeri mungkin ada. Tapi di negara kita kan lain? kondisinya berbeda. Belum banyak masyarakat kita yang bisa menerima kemenangan bandit-bandit dalam sebuah cerita, " ujar Advent Bangun, bintang laga yang sering jadi bandit.  "Tapi masalahnya bukan itu. Bermain dengan peran antagonis. Semua harus total. Semuanya menuntut kemampuan, " tambahnya. 

Namun Advent menyadari, terus menerus bermain dalam peran bandit membuatnya sering kesal. "Efek psikologisnya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga saya memang ada. Tapi saya tidak bisa berbuat lain. Produser meminta dengan alasan para booker yang menuntut, padahal saya yakin bisa main tidak cuma jadi bandit ", tutur lawan main Barry Prima ini. "Memang istri saya pernah menjadi kurus ketika menonton film saya dimana saya melakukan adegan per kosaan, "tambahnya. Soalnya istri saya bukan dari kalangan orang film.  Orang batak lagi, wajar kalau ia menjadi shock. Tapi sekarang istri saya kayaknya sudah mulai ngerti, " kata Advent. 

Tapi Advent tidak sendiri. Banyak bandit-bandit lain dalam film Indonesia. Baik yang terus menerus kebagian peran bandit maupun yang satu dua kali menyelinginya sebagai hero. Ada Farouk Afero, Pong Harjatmo, Muni Cader, Harun Syarief, Hendra Cipta atau Soultan Salading, adalah beberapa nama yang akrab sebagai pemain antagonis dalam film-film Indonesia.

"Memang betul keberhasilan kita berperan sebagai bandit, sering membuat produser ketagihan dan terus menerus meminta kita main jadi bandit. Akibatnya memang terasa. Masyarakat ikut-ikutan antipati pada kita. Sosok kita sebagai bandit akhirnya mengental dalam diri mereka, " ujar Farouk Afero, bandit yang melonjak lewat film "Bernafas Dalam Lumpur" itu. Tapi sekarang masyarakat kita sudah maju. Mulai mengerti bahwa semua itu cuma dalam film. Saya akui efek psikologis memang ada. 

Beda dengan Advent dan Farouk, Harun Syarief mengaku tidak punya beban apa-apa. "Wong itu permintaan sutradara," katanya. Namun tak cuma itu yang membuat Harun tak merasa perlu menanggungkan dosa. "Saya ini bandit yang selalu bertobat. Dan itu meringankan beban saya, "ujar bintang yang akrab dengan drama panggung dan TV ini. Tapi Harun mengakui memang itdak enak terus menerus ditokohkan sebagai bandit. "Saya memang pernah main tidak sebagai bandit, tapi itu belum cukup untuk menghilangkan citra kebanditan saya. Sekalipun saya tahu masyarakat tidak pernah menggugat saya. 

Sama seperti ketiga bandit diatas, HIM Damsyik juga merasakan hal yang seperti itu. Cuma Damsyik agaknya lebih realistis. Sadar akan potensi yang dimilikinya, Damsyik mengaku sulit untuk memilih-milih peran begitu produser menyodorkan skenario kepadanya, "Sebenarnya saya sih kepingin sama seperti rekan-rekan yang lain, tapi imej penonton memang sudah terbentuk sedemikian rupa bahwa saya ini bandit. Melulu jadi tokoh antagonis, " ujarnya. 

Lalu apakah tidak ada gugatan dari keluarga? "Enggak juga. Saya sering ditanya teman-teman dan  saudara-saudara saya, kenapa mau memerankan tokoh itu. Dan saya berusaha keras menjelaskannya. Sampai mereka mengerti bahwa semua yang saya lakukan itu, hanya trick-trick kamera saja, " jawab Advent. "Kalau saya sih enggak punya anak. jadi enggak ada tuntutan macem-macem," tutur Harun Syarief pula. 

Kenyataan-kenyataan seperti itu, memang dihadapi oleh hampir semua bintang yang kerap kebagian peran antagonis. Pong Harjatmo, Soultan Salading, Muni Cader juga mengalami nasib yang sama. Sekalipun mereka menginginkan peran yang lain, menjadi hero misalnya, tapi imej yang sudah terbentuk seperti pengakuan mereka, sulit sekali di hapuskan. Meskipun mereka sendiri pernah menjadi tokoh baik-baik dalam beberapa film yang mereka bintangi. 

"Itulah yang selalu menuntut saya. Saya ingin tidak terus-terusan menjadi bayang-bayang Barry. Menjadi lawan Barry. Saya ingin tampil bukan sebagai tokoh antagonis. Tapi produser selalu saja menolak dengan alasan yang sama. Produser takut kalau saya yang jadi hero film tidak bakal laku Pahadal saya berani jamin, fans saya ini banyak. Mereka malah selalu mengirim surat pada saya kenapa sih saya enggak main  sebagai orang yang menang", Ujar Advent Bangun kesal. Dan kalau sekarang saya coba-coba kerjasama dengan Dedi Setiadi untuk main dalam drama TV, itu saya lakukan karena saya ingin sesuatu yang baru. Peran-peran yang tidak keras melulu, " katanya lagi. 

Kekerasan itu memang menjadi gambaran yang sangat identik dengan mereka, tokoh-tokoh antagonis ini. Muni Cader, Faouk Afero, Rachmat Hidayat, Hendra Cipta, Harun Syarief, dan Advent Bangun adalah bintang-bintang yang selalu menggebrak, memelototkan mata, menyandang sejata api atau menyelipkan senjata tajam di pinggangnya. Memang ada kekecualian. Damsyik atau Pong Harjatmo malah sama sekali tanpa wajah yang keras dan garang. Namun kesan sebagai bandit yang licik tak bisa mereka elakkan. Dan itu semuanya merupakan satu bangunan yang mempertebal sosok mereka dalam imej masyarakat. ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

Saturday, February 14, 2026

ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR

 


ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR, (Kisah Lawas) Lewat penampilannya di layar kaca duet bersama Devi Novita membawakan lagu dangdut "Pacarku Rewel" Advent Bangun seperti memprokaliirkan diri sebagai penyanyi. Sengaja memilih lagu dangdut, Advent Bangun bukan saja ingin menambah barisan artis tarik suara, sekaligus ingin mengukuhkan diri tidak saja sebagai bintang laga, tetapi juga kepengin merangkul golongan bawah yang diketahui amat dominan menggemari lagu jenis ini. 

"Mereka amat banyak. Saya ingin jadi bagian dari mereka, " katanya ditengah suting film "Mat Pelor" yang disutradarai Rachmat Kartolo di Cimelati Sukabumi Jawa Barat. Advent bangun juga menjelaskan kenapa akhir-akhir ini nampak gigih berjuang di jalur ini. 

"Berhadapan langsung dengan penggemar di saat saya menyanyi, buat diri saya membawa kepuasan tersendiri. Saya tahu persis apa yang mereka inginkan. berhadapan langsung sikap spontan mereka yang tak dibuat-buat membuat batin saya ingin membalas sikap positif demikian dengan mematangkan karier baru ini".

Itulah sebabnya ditengha kesibkan shooting saat break ia buru-buru memacu sedan Volvonya ke Cibadak . Untuk apa? "Saya harus interlokal ke Devi Novita, merancang jadwal rekaman musik untuk volume ke IV yang bakal di garap awal januari 1991 ". Devi Novita berusia 17 tahun dan baru di kelas III SMP, merupakan pasangan duetnya. 

Devi Novita sudah dikenalnya sejak 1987 ketika sama-sama mendukung film sinetron TVRI "Arus Bawah". Devi Novita yang memiliki "jam terbang" nyanyi, langsung saja merasa cocok berpasangan dengan Advent Bangun. Advent Bangun sendiri mulai melangkah tarik suara ketika sering di panggung diundang, atau pada tour PARFI di daulat penonton untuk tarik suara, ia terpaksa unjuk diri tak kalah angin. 

"Dari situ saya merasa lebih yakin bahwa saya juga bisa menyanyi, " tambahnya. Pertama kali ia muncul dalam volume lagu keroyokan : Kutak Katik bersama 10 arstis film lainnya seperti Deddy Mizwar, Harry Capri dan lain-lain, untuk kemudian diteruskan memasuki Vol II dalam album Parade artis Ndang Ndut. 

"Saya kepingin mematangkan diri di karir baru ini. Saya terus belajar dan mencoba membuat lagu sendiri. "Advent Bangun memang terus sibuk lewat film barunya ini "MAT PELOR" merupakan filmnya yang ke 54, ia juga terus sibuk melatih karate d Paspampres dan juga Kopassus Group II Cijantung. 

Ketiganya merupakan karir yang dicobanya jalan seiring masing-masing memiliki romantikanya sendiri sendiri. 

Sebagai bintang laga, Advent Bangun nyaris mogok dan mengundurkan diri, ia menjelaskan hal itu disebabkan karena ia sudah merasa jenuh dengan peran antagonis yang selalu membuatnya makin lama makin dijauhi penggemar film silat. 

"Saya selalu menerima surat protes dan kecaman. Masak selalu jadi tokoh garang, sebenarnya awal 1989 saya sudah merencanakan akan mengundurkan diri. Bagi saya menjadi aktor lagasudah biasa, tetapi kalau terus terusan ketiban peran antagonis jadi jenuh. Saya kepingin peran lain yang aneka. Saya juga rindu dapat peran yang simpatik. Bahkan akhir-akhir ini saya tergoda dengan peran kemudian. Pengin Banget", Pada akhirya Advent Bangun membatalkan rencananya. Peran-peran protagonis mengalir kehadapannya. 

"Saya kemudian juga sadar, bahwa bertahan pada ego sendiri merupakan sikap yang kurang benar. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan peran dalam film. Tidak tergantung pada kemauan saya sendiri, " terusnya. 

Ia bercita-cita kelak, meniru jejak Silvester Stalone. Tidak saja bertindak sebagai pemeran utama, tetapi juga penulis skenario, sutradara, sukur-sukur kalau jadi produsernya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 27, 2026

ADVENT BANGUN, PUNYA DUA KARAKTER


 ADVENT BANGUN, PENULIS SKENARIO DAN CERITA  GENTA PERTARUNGAN Jangan pingin jadi juara kalau anda tak bisa menaklukkan diri sendiri. Ini bukan nasihat, tapi setidaknya ini wanti-wanti yang harus di dengar oleh setiap orang yang akan memasuki perguruan silat atau ilmu bela diri yang lain. 

Advent Bangun, Jawara dalam soal beran tem dalam film, memegang kuat falsafah ini. Dan dia laris membintangi film laga. Sebuah film yang juga masih berkisar soal bak buk muncul. Ide ceritanya diilhami oleh pengalaman Advent sendiri. Film itu berjudul Genta Pertarungan yang mempunyai judul asli "Sang Pemenang". 

"Ide itu memang muncul dari pengalaman pribadi, yang kemudian saya angkat dalam cerita. Tentu perlu di dramatisir sedikit supaya tambah seru, " kilah Karateka penyandang DAN IV ini dengan suara mantap dan menggelegar. 

Film ini menceritakan tentang seorang karateka yang mempunyai keinginan besar untuk menyabet kejuaraan terbuka, dalam sebuah perlombaan. Padahal oleh isteri dan mertuanya, sang jagoan ditentang mati-matian karena khawatir akan terjadi apa-apa. Sampai-sampai pakaian karate yang sering di gunakan di bakar oleh si mertua. Si jagoan ini makin penasaran. Pada saat pertandingan berlangsung, ia sudah mulai cedera. Tangannya luka parah, bahkan nyaris patah tulang. Apalagi ia tahu kalau ada lawannya yang menggunakan dopping. Ia ingin menaklukkan lawannya sekaligus menaklukkan diri sendiri. Akhirnya iapun memenangkan pertandingan itu, menjadi sang pemenang. 

"ini memang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya dilarang ikut karate oleh orang tua dan kakak saya. Darisinilah ide itu saya tulis dalam sebuah cerita dan setelah saya sodorkan pada produser, ernyata diterima, " tambah Advent Bangun. 

Film ini jelasnya mengisahkan heroisme seseorang. Benar begitu bung? "Lho saya kan jagoan, tapi saya nggak boleh sombong. Apalagi saya hidup di Melayu. Kan haru srendah hati. Meski saya orang Batak, tapi saya pernah lama hidup di Yogya. Makanya saya punya dua karakter, Batak dan Jawa.. haha.

~MF

Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1  Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor. 

Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.

Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?

"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya. 

Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini. 

Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur. 

Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini. 

Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan  dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Wednesday, October 22, 2025

MAT PELOR, JAWARA BETAWI JADI OPAS

 


MAT PELOR  Jarang terjadi dalam dunia perfilman seorang sutradara merangkap juga menjadi penata ilustrasi musik filmnya. Namun tak perlu heran kalau sang sutradara adalah seorang biduan populer seperti Rachmat Kartolo!. 

Memang setelah melejit lewat lagu "Patah Hati"nya di tahun 60an. Rachmat juga pernah laris diajak main film Kebanyakan filmnya bertema melodrama, namun Wim Umboh justru memasangnya sebagai sinyo Betawi yang pintar bergitar dalam film silat "Matjan kemajoran" (1965).

Sejak tahun 1978, Rachmat menjajal menyutradarai film silat "Tengkorak Hitam". Setelah cukup lama absen dari kegiatan film Rachmat dipercaya duo produser Johny Pandega - A Fuk untuk mengarahkan "Mat Pelor" yang cerita dan skenarionya juga ditulis sendiri. 

Diperan utamai oleh Advent Bangun sebagai Jawara kebal peluru di dukung sebarisan pemain seperti Dolly Marten, Jeffry Sani, Hendra Cipta, Arman Effendy, Aznah Hamid, Yani Achbari, Sherly Sharita, Tien Kadaryono Urip Arphan dan Roy Karyadi sebagai Schout Jansen. 

Mat Pelor yang biasa dipanggil si Mamat, adalah anak angkat Haji Ramdani. Berkat ketekunannyaia bisa menguasai ilmu kebal peluru. Bahkan ilmu silatnya lebih tinggi daripada si Idup anak kandung H Ramdani. 

Kalau Mamat berpacaran dengan Isa, maka sahabatnya, Abas hendak mengawini Mumun. Namun gara-gara nunggak blasting (pajak), semua kambing Abas disita Demang Sanip. Bukan itu saja, iapun dijadikan pekerja rodi. Sanip memang biang keladi penjilat Schout Jansen. Menindas rakyat dengan mengatasnamakan kompeni Belanda. 

Si Idup dan tiga perampok menyatroni rumah Jansen. Tapi muncul Mamat melabrak mereka. Jasanya membuat Mamat diangkat jadi Opas sekaligus pengawal Pribadi Jansen. Kendati Ayah-ibu angkatnya dan orang kampung ak menyukai hal ini, namun mamat tak peduli. 

Sanip kepergok memperko sa Amoy yang dicintai Jansen. Akibatnya ia di siksa oleh penggantinya Mandor Napis. Huru Hara terjadi karena pemberontakan pekerja rodi yang dipimpin si Idup. Opas Mamat ditugasi menaklukkan mereka. 

Saat Mamat membawa tawanan, termasuk Idup dan Abas, muncul jawara bertopeng mencegatnya, ilmunya kelewat luar biasa, hingga Mamat keteter. Melihat ini Idup pun mencopot belenggunya untuk membantu sang abang angkat. Apakah kerjasama mereka mampu mengungguli si topeng. Siapa sebenarnya jawara bertopeng tersebut? 

Yang sudah nonton tentu tahu ya jawabnya. 


Tuesday, September 13, 2022

Milikilah Buku Poster Film Edisi Silat/Laga

Buku poster film

Kalau berbicara tentang poster film pada umumnya, kita akan terlempar ke dimensi waktu beberapa tahun silam dimana saat itu mengalami sendiri meski hanya dalam lembaran fotokopi yang di sebar oleh mobil ‘halo halo’ yang lewat yang mengiklankan sebuah film yang tayang di bioskop. Bagi saya masa itu masa yang indah, karena kita ikut-ikutan mengejar di belakang mobil ‘halo halo’ tersebut sambil memperhatikan poster yang ada di belakang mobil bak terbuka yang akan tayang di Bioskop.

Poster, pada masa itu merupakan hasil lukisan cat minyak atau sejenisnya yang di lukis di kain dan kemudian di pasang di layar mobil sebagai iklan. Meskipun kalau dalam bioskop tetap tersedia poster kertas maupun lobi card yang di pasang di dalam bioskop. Namun seiring perkembangan jaman media-media poster dalam bentuk kain sudah tidak ada lagi yang membuat selain tidak praktis tentu membutuhkan imaginasi yang tinggi bagi pembuat posternya.








Berbicara poster mau nggak mau berbicara tentang filmnya. Film apa yang melekat dalam diri masing-masing orang tentulah berbeda, namun sejujurnya memory yang terbentuk akan sebuah film khususnya masa-masa dulu adalah kenangan yang terbentuk dari tontonan Layar Tancap maupun video hajatan yang menjadi hiburan dan di tonton oleh khalayak ramai secara murah hingga pelosok daerah. Saur Sepuh menjadi salah satu kenangan sendiri yang tidak hilang dari memory hingga saat ini, karena pada masa itu flyer yang di sebar sangat berharga selain juga kita kadang mendapatkan buku tulis yang bergambar sampul dari sebuah film yang sangat menarik..

Namun saat ini poster film sudah sulit sekali untuk di temukan baik di iklan koran maupun spanduk-spanduk yang ada di bioskop, karena memang di luar bioskop sendiri sudah tidak di pasang film-film yang sedang tayang atau akan tayang. Kalau kita tidak masuk kedalam gedung bioskop maka sulit untuk menemukan poster-poster film yang terpasang. Meskipun demikian kemudahan teknologi saat ini memudahkan setiap orang di manapun berada selama masih ada sinyal internet maka bisa mencari di mesin pencarian tentang film-film yang beredar. Baik melalui layar HP maupun melalui komputer atau laptop. 

Namun demikian bagi saya peribadi menikmati sebuah poster film melalui media hp sangat tidaklah memuaskan. Tetap saja ketika kita melihat visualisasi sescara fisik akan terpuaskan dengan sendirinya. Sebagai pecinta film-film silat/laga kehadiran buku poster ini tentu saja disambut baik. dan layak untuk di koleksi. 

Btw masih bisa di order lho buku ini hingga akhir September 2022. Yuk yang minat ikutan cetak boleh juga lho di order. Buku ini di cetak terbatas atas inisatif beberapa penyusun yang suka dan cinta akan film film Indonesia bertema silat/laga sekaligus sebagai wujud untuk mengapresiasi film Indonesia pada masa yang lalu. 


Silahkan yang mau pre order


Wednesday, January 29, 2020

Film Indonesia jadul : PENDEKAR BUKIT TENGKORAK

Pendekar Bukit Tengkorak

JUDUL FILM        :PENDEKAR BUKIT TENGKORAK
SUTRADARA       : PIET BURNAMA
PRODUKSI           : PT KANTA INDAH  FILM
CERITA                  : PIET BURNAMA
PRODUSER          : HANDI MULJONO
TAHUN PROD    : 1987
JENIS                     : FILM SILAT
PEMAIN               :  BARRY PRIMA, ADVENT BANGUN, WENNY ROSALIEN, ENNY CHARLIES, HASAN DOLLAR

SINOPSIS : 
Aryo Pethak (Barry Prima) adalah seorang pendekar yang menebar maut dimana-mana bagi para pengikut Bargo Wirogo, pemeras yang juga  menuntut balas pembunuh dari orang tua Aryo Pethak. Aryo Pethak memiliki dendam pada semua keluarga Bargo Wirogo. Namun demikian Aryo Pethak di elu-elukan oleh rakyat yang merasa tertolong. 

Sementara itu Macan wulung (Advent Bangun) dalam setiap perjalanannya selalu di bayang-bayangi oleh lelaki tua bernama Menjangan tua (Kresno Basso). Dimana ada Macan Wulung disitu ada Menjangan Tua. Dalam suatu perjalanan Macan Wulung menemukan seorang wanita yang terpanah racun bernama Melati (Wenny Rosalien). Akhirnya ia menolongnya. Dengan bantuan dari Menjangan Tua akhirnya Melati berhasil di sembuhkan oleh Macan Wulung hingga akhirnya keduanya pun berlatih silat.

Aryo Pethak selalu membunuh para korbannya dan meninggalkan cunduk milik Melati. Tujuannya adalah agar Melati mencari dan mengejar Aryo Pethak.  Melati dan Macan Wulung akhirnya bantu membantu untuk mencari Aryo Pethak. Dalam suatu perjalanan Macan Wulung mendapati Aryo Pethak yang akan membunuh korbannya meski ia sudah menyerah. Macan Wulung mencegah tindakan aryo Pethak, maka ia pun marah karena Macan Wulung tidak ada kaitannya dengan aryo pethak. Akhirnya Keduanya bersiap untuk berkelahi, namun disaat bersamaan datanglah Melati yang berhasil melerainya. 

Akhirnya Aryo Pethak berhasil menemukan Bargo Wirogo. Aryo menuntut balas atas kematian kedua orangtuanya. Bargo Wirogo berhasil di lumpuhkan oleh Aryo Pethak. Namun sebelum Bargo Wirogo tewas, lagi-lagi Macan Wulung datang mencegahnya, karena tanpa harus menghunjamkan pedangya lagipun, Bargo Wirogo akan mati. Melihat kedatangan Macan Wulung yang selalu turut campur akan perbuatan Aryo Pethak, membuatnya berang. Maka akhirnya Aryo Pethak menantang Macan Wulung untuk bertarung di Bukit Tengkorak . 

Pertarungan dua pendekar tersebut berlangsung imbang, meski melati datang untuk melerainya karena ia tidak mau di jadikan bahan pertarungan, namun akhirnya kedua pendekar tersebut melanjutkan perkelahian hingga  akhirnya pertarungan dapat dimenangkan oleh Aryo Pethak.

Tuesday, January 28, 2020

Film Indonesia Jadul : Pedang Naga Pasa

Pedang Naga Pasa

JUDUL FILM        : PEDANG NAGA PASA
SUTRADARA       :
PRODUKSI           : RAPI   FILM
CERITA                  :
PRODUSER          : SELAMET RIYADI
TAHUN PROD    : 1990
JENIS                     : FILM SILAT
PEMAIN               :  ADVENT BANGUN, EK SUMADINATA, ANNEKE PUTRI, ALBA FUAT, PIETRAJAYA BURNAMA, WD MOCHTAR

SINOPSIS : 

Ki Ranu (WD Mochtar) ketua perguruan padepokan silat yang juga seorang empu yang terkenal membuat pusaka di serang oleh orang-orang yang tidak di kenal yang menginginkan Pedang Naga Pasa milik Ki Ranu yang di yakini memiliki kekuatan yang luar biasa. Ki Ranu di seran goleh Kebo Abang (Advent Bangun) salah seorang Adipati di wilayah Majapahit yang ingin memberontak terhadap pemerintahan Ratu Kencana Wungu beserta komplotannya. Keadaan yagn tidak berimbang membuat ki Ranu tidak bisa berbuat banyak. Ki Ranu akhirnya tewas setela di bunuh oleh Kebo Abang. 

Pedang Naga Pasa Akhirya dapat di rebut dari tangan ki Ranu oleh Kebo Abang. Sementara itu anak Ki Ranu, Jaka Mandala (EK Sumadinata) terkejut ketika kedatangannya ke padepokan di suguhi dengan kematian Ki Ranu. Atas petunjuk jasad Ki Ranulah, maka Jaka mandala di suruh untuk mencari jejak Pedang Naga Pasa menuju matahari terbenam.

****
Di tengah perjalanan dalam pencarian pedang Naga Pasa, Jaka Mandala menemui kekacauan yang dilakukan oleh prajurit anak buah Kebo Abang, namun ia tidak tinggal diam dan mencoba membantu penduduk setempat untuk menghadapi prajurit yang beringas.  Jaka Mandala berhasil melumpuhkan para prajurit yang membuat kekacauan dengan di bantu oleh Wulandari (Anneke Putri) salah seorang penduduk setempat.  Mengetahui prajuritnya kalah , Kebo Abang marah dan meminta untuk menangkap Jaka Mandala. Akhirnya prajurit Kebo Abang mencari keberadaan Jaka Mandala melalui penduduk setempat.  Jaka Mandala dapat ditangkap oleh prajurit kebo abang dan di jebloskan ke penjara. Jaka Mandala di curigai sebagai utusan dari ratu kencana wungu untuk memata-matainya, namun usaha untuk mengorek siapa Jaka Mandala sebenarnya ternyata tidak berhasil. Akhirnya Jaka Mandala berhasil meloloskan diri dari sekapan Kebo Abang. 

Jaka Mandala melarikan diri ke desa terdekat tempat di mana Wulandari dan ayahnya (Pietrajaya Burnama) tinggal. Dari desa inilah Jaka Mandala beserta penduduk menyusun kekuatan untuk menghadapi Kebo Abang. Maka di buatlah rencana untuk menghadapi kebo Abang. Salah satu strategi yang di gunakan adalah dengan menyusupkan Wulandari sebagai penari tayub istana.  Usaha ini berhasil karena Wulandari akhirnya dapat masuk istana untuk melaksanakan usahanya dengan menjadi penari tayub yang akan di pentaskan di hadapan sang Adipati. 

Siasat yang dilakukan berhasil, akhirnya Adipati kebo Abang dapat di tumpas.