Saturday, September 19, 2026

Drs. WAHYU SARDONO, RASANYA SAYA SEMPURNA SAJA

 


Drs. WAHYU SARDONO, RASANYA SAYA SEMPURNA SAJA (berita lawas).  Jutaan rakyat Indonesia mengenalnya sebagai sosok lucu yang slealu menghibur tak hanya di panggung, di layar lebar, namun juga di layar TV. Anak-anak, remaja hingga dewasa segera gatal menerikakan namanya setiap kali melihat wajahnya yang khas. 

Itulah Dono Warkop. Terlahir atas nama Wahyu Sardono, bersama grupnya Warkop DKI, Ia menjadi figur fenomenal yang menimbulkan pro-kontra. Grup ini beranggotakan para Sarjana Intelektual, dari universitas terkemuka di republik ini Universitas Indonesia (UI), tapi dilayar perak, mereka hanya menjadi komedian-komedian korban plesetan. 

Dalam keseharian, Dono tidak begitu lucu. Berkesan serius, dan formil, malah bila dalam setiap pembicaraan terselip kata-kata lucu, memang 'kecelakaan'.

Dono adalah seniman komplit. Dengan bekal kecerdasan sebagai sarjana Sospol, dan kejeliannya sebagai artis, ia juga merambah dunia karang mengarang, menulis novel (Cemara-Cemara Kampus dan Bila Satpam bercinta), menjadi wartawan majalah Vista, memotret, mengelola studio (PT. Adam Intercine), menyutradarai sinetron (Opera Tiga Jaman dan Gado-gado RCTI), menjadi produser film layar lebar (Peluk Daku dan Lepaskan) dan mendirikan biro iklan kecil-kecilan. Tapi menjadi pelawak di layar perak memang darah dagingnya. Orang-orang tetap mengenalnya dari situ. 

Selama 14 tahun menekuni seni peran dan naik turun panggung, bermain di 28 film adalah perjalanan panjang, menjadikannya seniman yang kenyang dengan segala macam kritik, pujian, sanjungan dan makan. Dan ia tetap populer. 

Ia menikahi Titi Kusumawardhani, teman sekampusnya di UI dan kini menjasi ayah yang serius dan berbahagia dari 3 anaknya yang kesemuanya jejaka, Aryo, Damar dan Satrio. 

Berikut adalah petikan Wawancara dengan Dono yang di muat di majalah film nomor : 203/169/TH.X, 9-22 Aril 1994

T : Apa yang anda sesali setelah menjadi orang terkenal seperti sekarang ini?

J : Sering bertemu dengan wartawan yang mengajak wawancara. Sialnya, terkadang setengah memaksa dengan alasan di kejar deadline. Padahal saya tak selalu siap buat diwawancara karena lagi ada kerjaan atau lagi nggak mood. 

T : Dalam penampilan seperti sekarang ini, apa yang embuat anda merasa kurang sempurna?

J : Nggak ada. Rasanya saya sempurna-sempurna saja seperti layaknya orang lain. Sebab di jagad ini memang tak ada yang benar-benar sempurna. Jadi kalau kita selalu takut tak sempurna, kita tak akan pernah berbuat apa-apa. 

T : Kalau anda sedang bercermin, anda merasa bagian tubuh sebelah mana yang menjengkelkan?

J : Tahi lalat ang ada di punggung saya. Soalnya, saya harus ngaca dengan dua cermin. 

T : Hal-hal apa yang gampang membuat anda senang?

J : Jika orang senang dengan tingkah laku saya, sikap saya, hasil kerja saya. Pokoknya apa saja yang orisinil berasal dari saya. 

T : Hal-hal apa yang gampang membuat anda marah?

J : Kalau tersentuh per amarah saya. Misalnya, pas saya lagi sakit gigi, mendadak ada yang belajar jadi penyanyi. Sudah lagunya jelek, suaranya parau lagi. Disini amarah saya jadi terangsang. 

T : Saat-saat sekarang hal apa yang ada takuti?

J : Berurusan dengan petugas keamanan, atau orang-orang yang sok berlagak mengamankan. Padahal keadaan sebenarnya aman-aman saja. 

T : Benda apa yang selalu anda bwa kemanapun pergi?

J : Dompet, sedikit uang, dan kartu telepon. Tapi celakanya barang-baran gitu kerap ketinggalan lantaran kelupaan

T : Perlakuan apa yang anda harapkan dari orang yang anda sayangi?

J : Ready for used setiap saat. Sedikit sadis, tapi memuaskan kedua belah pihak. 

T : Ditempat mana dan dalam kesempatan apa anda selalu merasa bahagia?

J : Berada di dekat anak-anak saya. bermain, bercanda dengan mereka. Wah bukan main lucunya. 

T : Perlakuan macam apa yang tidak anda sukai dari orang lain?

J : Kalau dipaksa. Apalagi melakukan pekerjaan yang sebenarnya tak saya sukai. 

T : Bagaimana mengatasi rasa bosen?

J : Dengan cara tidak melakukan apa-apa. Jika bosan ngeseks saya nggak ngeseks. Kalau bosan makan bakso, saya nggak ngebaso, sederhana saja masalahnya. 

T : Bagaimana mengisi keisengan?

J : Saya nggak pernah iseng seperti yang ada lakukan saat ini. Baca majalah ini bukan karena iseng-iseng saja kan? Soalnya kalau sekedar iseng kita tak akan pernah beroleh apa-apa. 

T : Apa bacaan favoritmu?

J : Bacaan apa saja yang tercetak bagus. Sebab kalau cetakannya jelek, mama bisa tertarik. Apalagi yang cetakannya belepotan, bisa makin nambah minus saja kacamata kita. 

T : Akhir-akhir ini peristiwa aaapa yang membuat anda terharu?

J : Ketika bertemu wartawan yang sama, dengan mengajukan pertanyaan yangsama pula. itu-tu melulu. Sepertinya tak ada soal lain, sampai bosa saya menjawabnya. 

T : Peristiwa apa yang terakhir ini membuat anda frustasi?

J : Belum pernah mengalami dan semoga jangan pernah terjadi. Sebab frustasi tak memcahkan masalah, malah makin memperumit, Dengan pendekatan humor, masalah pelik akan lumer juga. 

T : Terakhir kali kapan anda mengalami kesedihan?

J : Sekarang ini saat menjawab wawancara ini. Pertanyaannya kok banyak sekali dan bermacam-macam lagi. Ini buat saya harus berpikir keras untuk menjawabnya. Sedihnya, tak bisa nyontek lagi, atau tanya teman kiri kanan.

T : Dengan cara apa anda menjadi orang matang?

J : Memangnya saya ini pisang goreng, harus dimatangkan dulu untuk bisa dimakan?

T : Apa yang ada dapat dari pengalaman bersekolah?

J : Dapat teman, dan bergaul dengan anak yang makan sekolahan. Selain dapat juga relasi, yang akan berguna untuk memenangkan tender, jika mereka sudah pada jadi bos nanti. 

T : Bagaimana anda mengatasi pertengkaran?

J : Dengan cara mengheningkan cipta, berharap pertengkaran itu cepat selesai. Tapi ini bukan masalahnya yang benar-benar selesai, sebab itu urusan masing-masing. Nanti dikira saya intervensi utusan dalam negeri orang lain. Hanya soalnya saya paling nggak suka lihat orang yang marah. itusaja!. 

T : Bakat apa yang anda sadari sejak belia?

J ; Bakat memimpin bangsa ini menjadi banysa yang maju, adil dan beradb. Sayangnya tak ada yang tahu bakat terpendam saya. 

T : Apa yang anda lakukan di hari libur?

J : Full berlibur. Tanpa terbebani tetek bengek urusan pekerjaan. 

T : Keberhasilan saat meraih prestasi apa yang selalu anda kenang?

J : Setiap keberhasilan semua saya kenang, tanpa membedakan besar kecilnya. Karena bagi saya setiap keberhasilan adalah prestasi yang pantas disyukuri. 

T : Apa yang kelewat dari masa kanak-kanak anda?

J : Ketika saya baru menyadari kenyataan, kalau saya ini orang Indonesia. Coba jika dari masa kanak-kanak dulu, saya akan buru-buru mengaku sebagai oragn Amerika. 

T : Apa gagasan anda untuk mencapai kebahagiaan sempurna?

J : Satu gagasan yang belum tentu saya lakukan, yakni menjadi Presiden RI dari tahun .....sampai lewat tahun 2000

T : Orang macam apa yang anda anggap sebagai sahabat?

J : Jelas orang yang menganggap saya sahabatnya juga. Sebab jika tidak, berarti bukan sahabat, tapi musuh dalam selimut. 

T : Apa yang anda anggap paling jahat dalam hidup ini?

J : Orang yagn selalu berpikir negatif mengenai masalah apa saja. Selalu apriori, selalu yang buruk-buruk. Pokoknya dilihat segi jeleknya saja, seolah-olah tak ada sisi baiknya. Padahal jika ada bopeng diluar kan belum tentu tak ada yang mulus didalam bukan?

T : Terakhir kali kapan anda mengalami puncak kebahagiaan?

J : Baru saja, tadi malam! Tapi perkara yang satu ini tak usah diperjelas. Kita sama-sama maklumlah, soalnya kebahagiaan saya kan seperti kebahagiaan anda juga. 

T : Apa yang biasa anda lakukan kalau bangun di tengah malam?

J : Memegang dada saya, dan menyadari bahwa saya masih hidup. Baru kemudian ke kamar mandi, melepas hajat buang air kecil. 

T : Kalimat apa yang selalu anda ucapkan setiap hari?

J : Kalimat lengkap yang ada subjek, predikat dan objek. Minimal itu, sesuai petunjuk Bu Guru Bahasa Indonesia di SMP dulu. 

T : Apa yang gampang membuat anda menangis?

J : Jika bawang merah di gosokkan di dekat mata saya

T : Dengan cara apa anda ingin mati?

J : Maaf, saya belum sempat konsultasi dengan malaikat El Maut, tentang bagaimana cara paling afdol untuk mati nantinya. 

T : Kalau telah meninggal, anda ingin dikenang sebagai apa?

J : Terserah yang mengenang dong!. Soalnya kalau saya bilang sekarang, nanti disangka mendikte. Lagian kalau saya sudah mati, kan tak bisa protes jika ada yang tak sesuai dengan kehendak saya sebelumnya. 

Sekian dan Terima kasih. 



Friday, September 18, 2026

UCI BING SLAMET

 


UCI BING SLAMET dan Pakaiannya (Berita lawas). Uci Bing Slamet dikenal sebagai artis dengan perangai nan lembut serta keibuan. Ditengah glamouritas selebritis ibukota tak pelak lagi sosok Uci serign jadi sorotan. Segala yang ada pada diri Uci, putri nomer 5 dar keluarga alm pelawak Bing Slamet ini, sering dijadikan kamus hidup bagi para penggemarnya. 

Hampir kebanyakan koleksi pakaian Uci terbuat dari bahan kaus. Selain itu, busananya di dominasi oleh gaun-gaun panjang, menunjukkan bahwa ia anti sensualitas. "Saya memang tidak suka memakai baju yang berkesan meriah, "ucapnya dengan menebar senyum khasnya. 

Uci sempat menjinjing beberapa leging aneka warna. Ketika ditanyakan soal pakaian bagian bawah tersebut, artis dan penyanyi ini cepat menukas, "Sejak kecil Papa ngajarin saya pakai leging. Makanya jangan heran kalau leging saya begitu banyak".

Leging warna biru terong yang dilapisi blus warna ungu muda biasa dikenakan Uci untuk acara-acara yang berkesan santai. busana tersebut pernah ia pakai ke diskotik. Leging memang busana yang agak sakralbagi Uci. Betapapun sensualnya potongan leging, namun ia begitu suka pada pakaian kesukaan almarhum Papanya. Busana tersebut ia beli di California, menandakan betapa antusiasnya Uci terhadap bentuk busana satu ini. 

Ada sack dress warna merah dengan potongan semi ketat, namun tetap sopan bagi pemakainya. Kalau Uci mengenakan busana satu ini keacara resmi misalnya, selalu ia sertakan stocking pembalut kaki mulusnya. 

Uci tersenyum sejenak sebelum menjelaskan berapa harga serta dimana busana atu itu dibelinya. "Jangan kaget ya kalau pakaian ini sebenarnya sudah hampir sepuluh tahun saya rawat terus. Saya sangat suka dengan pakaian satu ini. Kebetulan warna merah adalah warna kesukaan mama,"ceritanya. 

Dalam keceriaan bahan kaus, Uci tampil dengan blus dan rok dengan warna coklat yang terduh. Blus yang berkesan seperti Tshirt biasa, ketika dipadu dengan rok panjang dengan sedikit belahan di depan tetap memberi kesan anggun dan tentu saja luwes. 

Masih dalam suasan akasu, blus ketat warna hitam yang dipadu dengan rok denim biru plus ikatan di bagian pinggang, biasa dikenakan Uci bila berbelanja atau pergi ke lokasi suting. "Saya juga suka bahan jeans, tapi yang berwarna hitam atau coklat. Biasanya warna hitam bisa cocok dipadu dengan berbagai warna, "jelas Uci. ~MF no. 203/169/TH.X, 9-22 April 1994


Thursday, September 17, 2026

SELEMBUT WAJAH ANGGUN, KAKEK NENEK YANG NORAK

 


SELEMBUT WAJAH ANGGUN, KAKEK NENEK YANG NORAK (Film Lawas). Anjuran pemerintah agar setiap daerah membuat film yang mencerminkan ciri khas daerah masing-masing, rupanya mulai diterapkan oleh PT. Virgo Putra Film, lewat cerita "Selembut Wajah Anggun" yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemda Sumatera Barat. 

Lokasi, sebagian menggambarka panorama daerah bermoto "Tuah Sakato" (kesepakatan untuk melaksanakan hasil mufakat/musyawarah merupakan langkah bertuah bagi masyarakat) meliputi kota Padang, Bukittinggi, Batu Sangkar dan Danau Singkarak. Cocok memang sebagai sarana promosi guna mendukung misi Visit Asean Year atau Visit Indonesia Year yang ditayangkan Pemerintah Tahun 1991. 

Keindahan alam yang masih asri dan gunung-gunung dan air terjunnya yang tak kalah menarik dari air terjun Niagara di New York, setidaknya bisa menjadi tolak ukur tersendri bagi film garapan sutradara Agus Elyas ini. Tentu, semua itu tergantung juga pada kejelian Akin selaku kamerawan dalam merekam momentum yang bagus. Lengah sedikit saja film ini bakal menjadi film kooperatif yang hambar , miskin keindahan. 

Dengan bintang-bintang sudah menjadi 'trade mark' Virgo Putra Film seperti Rano Karno, Paramitha Rusady dan Ayu Azhari. Inti cerita tak beda dengan film nasional lainnya ditambah skenario yang digarap O. Safar tak banyak menjanjikan sebuah kehidupan yang menarik dari masyarakat Minang, tapi dengan hadirnya Him Damsyik dan Nani Somanegara bisa menimbulkan graget penonton. Him Damsyik kita kenal baik lewat sinetron "Siti Noerbaya" berperan sebagai Datuk yang tidak hanya menimbulkan kebencian, tapi juga kegeraman. Sementara Nani Somanegara aktingnya begitu menggelitik ketika membintangi "Cas Cis Cus". Dalam film ini, Damsyik dan Nani berperan sebagai kakek-nenek kolot dari Paramitha Rusady. Saking kolotnya mereka tak mengizinkan cucunya yang cuma semata wayang pacaran dengan Pemuda Jakarta. 

"Pemuda Jakarta itu kurang ajar! Tidak tahu sopan santun!" komentarnya ketika ia tahu cucunya jalin hubungan dengan Rano Karno. 

Untuk melindungi cucunya dari laki-laki yang tak bertanggungjawab, Damsyik dan Nani hijrah ke Jakarta. Bisa dibayangkan bagaimana lucunya adegan-adegan yang kemudian muncul. Sepasang kakek-nenek yang sehari-harinya hidup dalam tradisi yang masih kental, cenderung kolot dalam menilai orang, tiba-tiba berada di kota metropolitan yang bebas dan acuh tak acuh. 

"Film ini memang termasuk drama komedi. Adegan-adegan yang dilakukan Damsyik dan nani kami  buat sewajar mungkin sebagaimana orang desa datang ke kota, "kata produser Ferry Anggriwan. 

Maka silakan  tertawa melihat betapa noraknya Damsyik dan Nani bereaksi di Dunia Fantasi, Shopping di SOGO dan  terganga melihat geung-gedung menjulang tinggi. 

Produksi Virgo yang ke 54 ini, juga menghadirkan bintang tamu dari kalangan pejabat seperti Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri During dan Menteri Perhubungan Azwar Anas, yang kemunculannya tetap sebagai pejabat. ~MF 151/118/TH VII 18 April - 1 Mei 1992


Wednesday, September 16, 2026

MONA RATULIU, SANG PERAWAT YANG BISU

 


MONA RATULIU, SANG PERAWAT YANG BISU (Berita Lawas). Masih Ingat sinetron yang dibintangi Mona Ratuliu ini? Seorang perawat cantik tengah sibuk mengurus pasien yang terbaring koma.Ia berusaha merawat pasien itu dengan telaten. Matanya menerawang jauh, berharap pasien tersebut sadar. Sang perawat muda itu terus mengawasinya setiap detik. 

Kini ia lega berkat pertolongan Tuha, Si pasien luput dari kematian. Dibalik itu semua, ternyata perawat cantik itu punya kekurangan. Mulutnya tidak bisa berbicara alias bisu. Namun ia sadar itu merupakan kehendak Tuhan. 

Cerita diatas memang bukan merupakan kisah sungguhan. Itu hanya cuplikan kisah sebuah sinetron drama bertajuk "Pelangi Di Matamu" (PDM) . Yang menarik dari sinetron yang ditayangkan setiap Minggu, pukul 20.00 Wib di RCTI itu adalah sosok perawat bisu nan cantik itu. Kemampuan akting si pemain begitu diuji. Bagaimana tidak untuk memerankan tokoh bisu dibutuhkan sebuah observasi yang cukup mendalam. Selain mempelajari bahasa isyarat, dia juga mesti mengikuti sepak terjang para penderita bisu tersebut, yaitu dengan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB). 

Mona Ratuliu yang dipercaya sebagai perawat bisu dan cantik rupawan itu mengakui, dari sekian peran yang dilakoninya selama ini, mulai peran protagonis hingga antagonis, peran paling menantang, ya di PDM. Untuk tampil maksimal memerankan tokoh bisu ia melakukan observasi ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada dikawasan Cijantung. Di SLB itu, ia dipandu seorang pengajar SLB tersebut. Mona berusaha mengikuti sepak terjang mereka. 

Langkah pertama yang dilakukan ialah berinteraksi dengan mereka. Sudah barang tentu ia mesti berkomunikasi dengan bahasa Isyarat. Menyimak cerita dan pengalaman mereka. Setelah itu, dengan ditemani, dua orang dari mereka, dia berjalan-jalan di lingkungan sekolah itu. "Ya, dengan observasi itu, aku mendapatkan pengetahuan banyak tentang mereka. Kira-kira sebulan aku jalani ini, tapi tidak setiap hari lho , "Urai perempuan kelahiran 31 Januari 1982 ini. 

Ditambahkan , tadinya dia berpikir , untuk memerankan gadis bisu cukup hanya menggunakan bahasa isyarat. Namun setelah dipikir, ternyata tidaklah cukup dengan bekal itu saja. "Kalau pakai bahasa isyarat saja, mungkin semu aorang bisa. Tetapi bukan itu saja yangdibutuhkan, Ekspresi juga mesti diperhatikan. Makanya, aku melakukan observasi ke SLB,"terang artis yang hobi nonton ini disela-sela suting Pelangi Di Matamu di RS Sentra Medika, Cimanggis - Depok. 

Yang pasti berkat kebolehan aktingnya di PDM namanya kian bersinar. Padahal ia tergolong pendaang baru. Kiprahnya dipersinetronan Indonesia mulai dikenal sejak dia main dalam sinetron "Lupus". Perannya sebagai Poppy begitu mewarnai sepak terjangnya, sehingga namanya pun mulai di perhitungkan. Masyarakat mulai menggemari sosoknya. Alhasil, tawaran untuk main sinetron terus mengalir. 

Senang dong denan kesuksesan ini? "Ya pasti senang dong. Aku nggak nyangka akan seperti sekarang ini. Sebenarnya aku nggak punya cita-cita menjadi orang top. Tapi nyatanya kayak sekarang ini, aku bersyukur pada Tuhan. Ia juga mengaku punya pengalaman menyenangkan saat main sinetron "Pondok Indah".

Ingin merambah bidang lain, nyanyi misalnya? Pengagum Brad Pitt ini kembali bertutur dirinya masih ingin mematangkan dan konssentrasi dulu di sinetron. Dia ingin terus mendalami  dun370/XVia akting. "Memang aku dulu pernah ikutan perkumpulan nyanyi. Tapi kayaknya aku kurang serius menekuninya. Maka kuputuskan untuk berhenti nyanyi, ~MF No. 404/370/XVII, 7-21 Desember 2001

Tuesday, September 15, 2026

INNEKE KOESHERAWATI INGIN MENGUBUR MASA LALU


INNEKE KOESHERAWATI INGIN MENGUBUR MASA LALU (Berita lawas). Penampilannya kini berubah 180 derajat. Inneke Koesherawati sekarang bukan lagi Inneke yang dulu. Sekarang dia selalu mengenakan jilbab. Dengan penampilan barunya itu, sudah barang tentu pemahaman agamanya pun bertambah. Betapa tidak, dulu di akurang begitu memahami agama. Sehingga kurang mempedulikan apa yang dilarang dan diperintah agama. Alhasil dalam setiap film atau sinetron yang dibintanginya, penampilanya agak berani. 

Kenapa Inne memutuskan berjilbab? Dengan perasaan mendalam, wanita cantik yang sudah membintangi banyak film ini menuturkan sebenarnya ada getaran hati yang kuat dalam dirinya untuk memutuskan berbusana muslim. "Tidak  ada dorongan dari siapapun. Saat belum berjilbab, dia mulai belajar tentang agama. Saat belajar itulah dia banyak tahu tentang agama. Mana yang diperintah dan dilarang oleh Alah. Salah satu yang diperintah agama adalah menutup aurat.

"Sejak itulah aku banyak merenungi apa yang aku jalani selama ini. Aku berpikir, emua yang aku lakukan selama ini banyak yang menyimpang dari ajaran agama. karenanya aku perlu introspleksi diri. Dan Alhamdulilla, Tuhan memberikan petunjuk padaku. Mulai saat itulah, aku memutuskan untuk menutup auratku dengan jilbab. Sudah pasti diimbangi dengan pendalaman agama, "ujarnya. 

Ditambahkan wanita kelahiran Jakarta, 13 Desember 1975 ini, banyak yang tidak percaya dengan keputusannya itu. Teman-temannya sempat meragukan hal itu. Bahkan menganggap hanya main-main. Setelah dijelaskan, barulah mereka mempercayainya. "Aku bilang pada mereka, ini merupakan hidayah dari Allah,"kata pemeran sinetron "Jangan Ada Dusta" ini lagi, seraya menambahkan mula-mula ada keraguan pada keputusannya itu. Namn berkat pendirian teguh, keyakinan kuat, dan percaya pada Tuhan kebimbangan itu dapat dihilangkan. 

Diakui pemilik tinggi 168 cm ini , semenjak berpakaian muslim dia merasakan ketenangan lahir maupun batin. Sepertina tidak ada yang mengganjal dalam hidup ini. Semuanya yang dijalaninya menjadi biasa. Dia percaya pada kekuasaan Tuhan. Ingin mengenang masalalu? "Aku nggak akan mengenang masa lalu lagi. Aku akan mengubur kenangan itu. Apa yang aku lakukan dulu, berpakaian seksi, semua nggak ada gunanya dan nggak ada artinya, "jelas putri kelima pasangan Hajjah Leni dan almarhum Hery Koseherbimin ini. 

Inneke mengaku tidak takut kehilangan rejeki setelah mengenakan jilbab. "Rejeki, jodoh dan maut, Tuhan yang mengatur. 

Justru dia bersyukur pada Tuhan. Pasalnya rejekinya di bulan Ramadhan malah bertambah. Berbagai tawaran terus mengalir. Bahkan hampir semua stasiun televisi menawarinya job. "Alhamdulillah, kalau kita percaya pada Tuhan, rejeki nggak akan lari kemana-mana. Semua itu sudah diatur olehNy, "tukas artis ini. ~MF 404/370/XVII, 7-21 Desember 2001



Sunday, September 13, 2026

TRACY TRINITA

 


TRACY TRINITA (Berita Lawas). Ada yang masih ingat aktris ini? Sejak membintangi film Mendam Berahi yang diputar di Malaysia dan Filipina, Nama Tracy Trinita kontan melambung. Sebetulnya jauh sbelumnya, Tracy sudah dikenal sebagai model papan atas berkelas Internasional. Tapi namanya kurang 'merakyat' untuk kalangan marginal. Dan kini, job mengalir deras padanya. Mulai dari presenter tamu sampai sinetron mulai dilahapnya. 

Artis berwajah indo dengan postur jangkung ini, sedang suting sinetron Antara Dia dan Aku bersama Sultan Djorghi produksi Rapi Films. Sebagai pendatang baru untuk lahan sinetron, Tracy sudah mempersiapkan diri, khususnya dalam penguasaan karakter perannya. "Pada dasarnya acting dimana-mana sama, tak terkecuali saat aku main film diluar negeri. Hanya yang membedakan medianya saja. Aku selalu pede, termasuk saat menokohkan cwek jagoan di film Mendam Birahi, padahal sebelumnya aku nggak pernah dapat peran kayak gitu, "tutur Tracy. 

Kesibukan Tracy bukan hanya di sinetron. Tapi job modelpun terus berdatangan. "Hampir tak ada waktu luang lagi. Maka, maaf kalau menghubungi aku selalu yang nerima adalah manajerku, "lanjut Tracy. ~MF 404/370/XVII, 7-21 Desember 2001

****

Dulu ada sinetron Tracy di Indosiar yang dia dandanin kacamata tebal pakai behel itu judulnya apa ya. karakter anak SMA. Ada yang masih ingat?

Saturday, September 12, 2026

JEREMY THOMAS, INGIN MAIN LAGI DENGAN TAMARA


 JEREMY THOMAS, INGIN MAIN BARENG TAMARA (Berita lawas). Popularitas tentu saja sudah diraihnya. Bahkan dampaknya juga sudah dirasakan yang istri tercintanya Ina Indayanti. Karena bisa tampil bareng disebuak iklan sabun cuci dan jadi presenter Love & Life di Metro TV. 

Berikut petikan wawancara dengan Jeremy Thomas yang dimuat di Majalah Film no. ~MF 404/370/XVII, 7-21 Desember 2001

T : Sengaja Istri diajak tampil?

J : Ya, terutama di acara Love & Life memang saya yang mengajak untuk tampil bersama. 

T : Tidak merasa tersaingi?

J : Nggaklah!

T : Diijinkan istri main sinetron lagi?

J : Saya membolehkannya tapi dia yang nggak mau, karena dia sadar kalau harus main sinetron juga siapa yang menjaga anak-anak kami. 

T : Apakah kedua anakmu, Valeria Thomas dan Matthew Thomas akan digirin jadi artis?

J : Saya tidak akan menggiring anak-anak saya kedunia entertaint. Tapi, hingga saat ini saya juga belum tahu kemana bakat mereka sebenarnya. Biarlah semua berkembang dan berproses. 

T : Kebayang nggak sebelumnya, kalau pada akhirnya kamu bisa tampil dengan wanita populer seperti Ayu Azhari, Paramita Rusady, Bella Saphira, Tamara Bleszyinski, Krisdayanti, Desy Ratnasari dan JIhan Fahira?

J : Tentu saja nggak kebayang bisa "berganti" pasangan dengan wanita cantik dan populer lagi. 

T : Diantara mereka yang mana yang paling berkesan?

J : Semua bagus dan berkesan. Sebab mereka semuanya punya personal dan performance yang bagus. Saya senang sekali bisa jadi lawan main mereka. 

T : Masih ada cewek cantik yang belum jadi lawan mainmu?

J : Saya belum pernah bertemu satu frame dengan Sophia Latjuba.

T : Setelah tampil lagi dengan Krisdayanti di Mencintaimu, adakah artis lain yang kamu inginkan untuk main bareng lagi?

J : Ada. Saya sudah usulkan dengan Pak Raam (Produser Multivision plus) agar saya bisa ditampilkan lagi dengan Tamara Bleszynski. Saya ingin sekali main bareng dia lagi

T : Sudah cukup puas dengan peran-peran yang kamu mainkan?

J : Belum. Saya ingin sekali jadi tokoh hero. Misalnya main jadi perwira tinggi yang ceritanya dibalut dengan percintaan. Itulah yang menjadi impian saya dan belum tercapai. 

T : Beberapa artis memilih hengkang dari Multivison. Kamu malah tetap bertahan . Kenapa?

J : Kalau soal itu hak teman-teman untuk pindah, sedang kalau saya mengapa masih bertahan karena harganya masih cocok sesuai yagn saya ingingkan. 

T : Bukan karena kamu dikontrak eksklusif sepanjang masa oleh Multi?

J : Tidak. Kontrak saya dengan Multi jangka waktunya per tahun. Jadi kalau setahun habis kita perbaharui lagi. 

T : Tidak inign mencoba kedapur rekaman?

J : Nggak mungkinlah. Karena vokal saya jelek. 

T : Tapi banyak artis yang berani memanfaatkan popularitas dan tampangnya untuk jadi penyanyi. Masa kamu nggak berani?

J : Biarin aja. Pokoknya saya nggak mau karena nggak bisa nyanyi. 

Jeremy Thomas , Lair di Pekanbaru Riau 31 Julri 1970 dan pernah membintangi beberapa sinetron seperti Hati Seluas Samudera, Pin-Pin-Bo, Istri Pilihan, Mencintaimu, Tersanjung 1-2-3-4-5, Janjiku, Angin Tak Dapat membaca dan lain-lain. 


Wednesday, September 9, 2026

RENNY DJAYOESMAN, PEMERAN PEMBANTU WANITA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992


RENNY DJAYOESMAN, PEMERAN PEMBANTU WANITA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992 (berita lawas). Bagi Renny Djayoesman yang terpenting dalam berkesenian adalah bagaimana dirinya bisa mentotalitaskan diri dalam perannya. Karenanya penyanyi yang sudah resmi menjanda untuk kedua kalinya ini tidak pernah memikirkan hasil kerjanya di nilai atau tidak. 

Karenanya jangan kaget bila wanita Jawa yang dikaruniai dua anak ini justru bingung, bila ditanya tentang sinetron-sinetron yang dimainkannya. Karena setiap habis suting, Renny tidak pernah nonton baik lewat Televisi maupun video. 

"Ketika diumumkan saya masuk nominasi saja, saya kaget bukan main. Apalagi sampai dapat , luar biasa tentunya," ujarnya dengan nada haru.

Ketika disebutkan saingan-saingan Renny Djayoesman seperti Ny. Soeparmi, Roldiah Matulessi, Renny justru menjagokan rivalnya itu. "Gua yakin kalau nggak Roldiah ya, Suparmi, "Ujarnya yakin. 

Namun setelah menerima Piala Vidia sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, dengan lantang Renny menyatakan bahwa Pialanya itu ia persembahkan secara khusus buat Irwinsyah.

"Kalau bukan almarhum, gua yakin nggak bakal dapat Piala Vidia. Tahu nggak, sebenarnya gua nggak mau main di Aksara Tanpa Kata, tapi karena kegigihan Irwin Syah minta Gua jadi  nggak tega, malah ia pakai mengancam segala, kalau gua nggak mau ikut main, Irwin akan membatalkan sutingnya , ini gila," katanya dengan nada berapi api. 

Keberhasilan Renny melakonkan wanita Bali yang papa begitu pas, dialeknya meluncur lancar. Memang bukan fakto kebetulan, tapi memang kemampuan aktingnya yang begitu prima. Padahal diakui Renny, menerima naskah yang ditulis Alex Suprapto Yudho itu waktunay begitu singkat. Setengah jam sebelum suting begitu nyampe lokasi, Make up langsung sut. 

Ada kenangan yang membekas dalam diri Presiden Direktur Renny Djayoesman Interprise ini ketika suting sinetron yang mendapat 6 nominasi itu. Kenangan Renny adalah keherannannya akan kelancaran jalannya suting itu. Yang mengalir bak air, tidak ada putus-putusnya. Padahal menurut pengamatannya, kalau melakukan suting di Bali ada saja rintangannya. "Tapi anehnya ketika suting, Aksara, mengalir lancar seperti air. Gua juga tidak pernah re take (pengulangan pengambilan gambar) padahal kalau suting-suting biasanya gua kena tik,"ujarnya dengan tertawa lepas. 

Atas keberhasilannya itu, Renny memang punya rencana mau syukuran membuat nasi kuning yang dihadiahi oleh rekannya, Ani Kusuma. "Gua tanya emak gua dulu ya, mau syukuran apa enggak, ha..ha..ha ,"candanya

 ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992

Tuesday, September 8, 2026

KADIR, TAKUT KEHILANGAN GAYA MADURANYA

 


KADIR, TAKUT KEHILANGAN GAYA MADURANYA (berita lawas). Soal Dagelan bagi Kadir telah bertahun-tahun menjadi profesinya. Melawak diawali sejak tahun '83. Ia pernah main drama, sandiwara dangdut, ludruk dan pernah pula bergabung dengan grup Srimulat cabang solo, pimpinan Teguh Srimulat. 

Hengkang dari Srimulat bersama Basuki dan Timbul yang juga jebolan dari grup tersebut, membentuk grup baru Batik Grup, yang merupakan kependekan dari trio lawak ini. 

Walau cukup lama ia menekuni panggung kesenian, namun ia mengaku baru setelah ikut membintangi "Cintaku Di Rumah Susun" karya Nya' Abbas Acub, namanya menjadi populer. Dalam film yang dibintangi Eva Arnaz dan Deddy Mizwar itu Kadir berperan sebagai boss yang ngebet dengan Eva. 

Ia juga mengaku setelah "Rumah Susun" tawaran main film mengalir deras. "Kebanyakan, cuma tempelan!", celetuknya. Lalu, ia menyebutkan film-film dimana mendapat peran besar. Antara lain Giliran Saya Mana, Kanan Kiri OK, Curi-Curi Kesempatan, Makelar Kodok, dan juga Dorce Sok Akrab. 

Dalam "Makelar Kodok" bersama Doyok, Ia pegang peran utama. bagaimana honornya?"Oh itu? Soal honor, memang cukup besar. Tapi nggak usah disebutkan. Ini kan rahasia dapur isteri!", jawabnya. 

Kadir yang mencoba bertahan dengan gaya Madura itu tidak banyak mempunyai kegemaran diluar dunia kesenian. Olahraga sekedarnya saja. "Yang paling saya suka nonton dagelan. Kaya apa pun jeleknya, kalau ada lawak di teve, saya selalu nonton!", tegasnya. 

Nonton film, pernah pula menjadi kegemarannya. Itu, sebelum terlalu banyak show. Sekarang ini, katanya, setahun belum tentu ada 5 film yang ditontonnya. 

Kalau nonton film, lanjutnya, maunya dengan isteri. Tapi, pulang show, sudah terlalu malam dan capai. "Yaa, terus tidur!" jelasnya acuh. 

Soal peran dalam film, Kadir yang di Srimulat dulu hanya kebagian peran-peran jago kepruk, mengatakan. "Saya maunya ya dapat peran yang bervariasi, walau mungkin, peran itu harus ndagel atau banyolan. Namun saya lebih senang kalau karakternya selalu berbeda."

Untuk memainkan tokoh-tokoh serius pun katanya ia tak akan keberatan. "Kalau ada yang mau memberi kesempatan, bagi saya ini merupakan tantangan. Dan saya akan senang sekali!", tegasnya pula. 

Cuma satu yagn akan tetap dipertahankan, karakter atau gaya khasnya, Madura. Kadir pernah mendapat tawaran dari sutradara untuk memerankan tokoh yang bergaya Padang. Namun tawaran itu ditolaknya. "Saya takut identitas saya akan hilang. Kan sekarang sudah punya ciri khas!" katanya memberi alasan. 

Kadir sendiri bukanlah orang Madura. Ia kelahiran Jombang, besar keliling di kota Jawa Timur dan beristrikan orang Tegal. Adalah Nya' Abbas pula yang membentuknya menjadi orang Madura. "Yaa di Rumah Susun itu!" kilah Kadir Dan peran saya bagus kaan? ujarnya ~MF 089/57/THVI 25 Nov - 8 Des 1989

Monday, September 7, 2026

BABAD TANAH LELUHUR 2, TETAP JUAL ADEGAN LAGA

 


BABAD TANAH LELUHUR 2, TETAP JUAL ADEGAN LAGA (berita lawas). Wajahnya keriput. Jenggot panjang, rambutnya tak sehelaipun yang hitam. Menandakan usianya telah lanjut. Tapi, penampilannya masih gagah, energik dan lincah. 

Bahkan ia masih mampu menampilkan atraksi menagumkan, terbang dan jumpalitan di udara, untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Jelas, ia bukan orang sembarangan. Pasti ia orang sakti yang mempunyai ilmu tinggi. 

Menurut cerita, orang sakti yang bisa terbang, menghancurkan batu besar, bahkan merontokkan gunung, memang pernah ada zaman kerajaan dulu. Begitu saktinya, ia bisa menghilang saat orang dihadapannya baru mengedipkan mata. Begitu cepat!. 

Tentang orang sakti semacam itu, kini memang hanya kita temui dalam layar perak, melalui rekayasa dan tipuan yang digarap secara cermat oleh sutradara dan juru kamera. 

Denny HW, termasuk salah seorang sutradara kita yang gemar merekayasa pemainnya menjadi orang-orang sakti. Berkelahi di udara, terbang dari satu pohon ke pohon lain atau meledakkan batu-batu besar dengan tenaga dalam, pernah di munculkan. 

"Salah satu filmnya yang sukses dengan atraksi tersebut, Babad Tanah Leluhur yang di produksi oleh PT. Kanta Indah Film. Memang, Babad Tanah leluhur secara komersial belum mampu menyaingi sukses Saur Sepuhnya Imam Tantowi. Tapi, film garapan Denny itu juga menghasilkan keuntungan cukup besar. Karenanya, Denny  dipercayai lagi untuk membuat serial berikutnya. 

Untuk yang kedua ini, Denny tetap menyodorkan konsep pertama, untuk merebut hati penonton akan menampilkan adegan laga di udara. Saat dikunjungi di lokasi suting, Deny bilang, untuk menampilkan adegan terbang diudara membutuhkan persiapan lama dan ruwet. 

"Bukan hanya itu", katanya , ketelitian kerja agar rekayasa tipuan tidak mudah diketahui penonton, harus mampu menciptakan modus-modus baru. Saya tidak ingin mengulang dari apa yang pernah ditampilkan dalam film terdahulu. Kalaupun harus ada, kadarnya ditekan sekecil mungkin, !"

Saat ditemui di lokasi suting, Denny HW sedang mempersiapkan untuk syut adegan seorang jagoan harus melayang-layang diudara. Untuk memperoleh kecepatan dan ketepatan sasaran, kekompakkan kerja antara juru kamera, penarik sling dan orang yang memegangi oran gyang akan disyut memang harus prima. 

"untuk satu syut itu saja, kami harus mempersiapkannya berjam-jam!" jelas Denny yang sebelumnya menyutradarai Si Rawing, juga produksi PT. Kanta Indah Film. "Buat saya terlibat pembuatan film laga seperti ini memang belum begitu banyak. Sehingga, ada penambahan pengalaman!", kata Sutomo GS, juru kamera kawakan yang terlibat dalam pembuatan Babat Tanah Leluhur II itu. 

Sunday, September 6, 2026

SUSI ADELLA

 


SUSI ADELLA (berita lawas). Film Boneka Dari Indiana lolos dari Komite Seleksi FFI '91 bersama 18 judul film lainnya. Ini menandakan bahwa Nya' Abbas Akup masih sakti dalam hal mengekspresikan kemampuannya. Diperkirakan akan lolos pula dari sergapan penilaian dewan juri. Selain Meriam Bellina, Lydia Kandou, Didi Petet, Susi Adella pendatang baru pada film ini ikut bersuka cita. "Kalau saja menang, ini berarti kenangan manis bagi Oom Abbas. Termasuk saya sangat beruntung. Main sebagai pembantu bernama Inah, bukan hal yang gampang,"begitu kesan Susi. 

Susi Adella, kader bintang berani. Bukan cuma sehubungan dengan kebutuhan film, juga dalam hal pemotretan. Sifat manjanya kadang bikin orang lain geregetan. Malah sewaktu pembuatan film Boneka Dari Indiana, ia dituding ada main dengan sutradara yang kini sudah almarhum itu, Sampai kepada MF (Majalah Film), sutradara kondang tersebut pernah berujar begini , "Ini anak saya. Kalianboleh mnulis apa saja tentang keganjilan pada diri kami, "tandasnya tanpa ragu-ragu. 

Hampir semua mingguan menyoroti Susi, namun cewek keren berkulit putih ini seolat tidak perduli. Bagaikan anjing menggonggong, tapi kafilah tetap berlalu. "Gue juga udah punya pacar, kok. Kenapa mesti diributin? Bodo ah, gue udah siap dengan kemungkinan serangan gosip. Sekalipun nantinya pacar gue minta bubaran, no problem. Cowok gampang di cari, tapi kesempatan main film sangat sulit, apalagi pendatang baru macem gue".

Kata Susi, jika ada seorang pemain berhubungan intim dengan sutradaranya, wajar-wajar saja. Disamping untuk sumber pengarahan, juga perlindungan dari gangguan anggota unit di lokasi. Kalau memang si pemain itu suka, itupun tak perlu dipergunjingkan. "Jangan munafik. Ketimbang pacaran sama anak kru, mendingan sama sutradara, kan? Barangkali aja besok dapat peran lebih besar lagi ha...ha...ha....,"canda Susi. 

Biar bagaimanapun, Susi punya bakat jadi artis bermasa depan cerah. Daya tangkapnya cemerlang sebagaimana yang disaksikan selama suting film Boneka Dari Indiana. Mudah-mudahan saja bakatnya yang bagus itu tidak dibarengi dengan skandal , ya Sus. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991

Saturday, September 5, 2026

NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA

 


NOVIA KOLOPAKING, TAK GENTAR LAWAN KRITIK SAAT MAIN SITI NURBAYA (berita lawas). Drs. Asrul Sani, habis-habisan mengeritik Dedi Setiadi yang meramu sinetron Siti Nurbaya. Sebagai penulis skenario, ia merasa kurang sepaham dengan persepsi sutradara TVRI itu. Yang pasti Siti Nurbaya dimata Asrul tidak sesuai dan tidak mencerminkan kebudayaan Sumatera Barat (Minang).

Novia Kolopaking selaku pemain utama tidak lepas dari serangankritik. Itu pasti. Mulai dari dialog sampai ekspresi Via dirasakan kurang pas. "Malah dengan kritik tajam itu saya bisa mengoreksi sekaligus bangga. Iya dong. Masalahnya, perhatian masyarakat kepada saya begitu besar. Setidaknya ini menjadi tolok ukur untuk menentukan langkah saya selanjutnya di bidang film, "kata Via yang mengaku kenal buku Siti Nurbaya waktu kelas 2 SMP. 

Bahkan Via merasa yakin kritik itu terlempar dari mereka yang mengerti dan paham akan kebudayaan Sumatera Barat. Sedangkan untuk kalangan seusianya, tidak mungkin berpendapat demikian. 

"Buktinya, setiap hari saya kebanjiran surat rata-rata 80 pucuk, cuma membicarakan peran saya sebagai Nur. Tak berlebihan jika saya mengungkap omongan diantara mereka yang sebagian besar memuji permainan saya. Tak percaya? Boleh baca sendiri, "tukas Via sembari memberikan setumpuk surat .

Surat-surat dari daerah, ada yang baru mengenal bintang gres ini lewat sinetron tersebut. Biar keterlibatan Via diladang akting sudah empat tahun lalu, "Lima langkah dari pintu rumah saja, saya sudah ganti nama, tetangga seolah menghalalkan sebutan Nur dalam keseharian saya. Itu biasa. Tapi bila dibandingkan dengan gencarnya kritik, sungguh ironis, bukan? Saya kira kejadianini sebagai perselisihan paham saja.Tak ada yang perlu kita salahkan. 

Mas Dedi punya persepsi dan penafsira akan figur dari masing-masing peran. Nah, dengan begitu saya merasa tidak suka persoalan ini didramatisir, karena menyangkut hak  seseorang, "celetuk Novia. 

~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991

Friday, September 4, 2026

PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK

 


PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK (film lawas). Pak Tile Buta Huruf, tapi tidak pernah menyesal. Begitu adanya. Namun, paling sedih dirasakan artis jebolan "Lenong" ini adalah ketika dibelenggu kontrak. Akibat secarik kertas "perjanjian" itu tak berkutik, tak bisa berbuat banyak, dan rupiah pun berlalu. Oleh produser yang ada dinegeri ini, Pak Tile dibelenggu kontrak, isinya, setahun tak boleh ikut produksi lain. Sesuai perjanjian, Pak Tile perbulan dibayar Rp. 100.000,-, walau tidak suting. Bila suting dibayar Rp. 200.000,' sebagai honor. Selama setahun, cuma kebagian produksi 4 film. Tentu saja anak Betawi yang tidak tahu tanggal lahir ini hanya bisa menerima apa adanya. 

"Waktu itu begitu awam dengan film. Tak mengerti soal kontrak. Dan saya bersyukur karenanya, "katanya mengenang. Kontrak itu pula membelenggu dirinya. Sehingga tidak bisa berbuat apa. meski produser lain tertarik atas kemampuanya guyonannya. Soraya Intercine Film misalnya, ingin memakai Pak Tile. Honor sudah dibayar separuh, Tapi apa lacur, kabar akan berlakon di perusahaan lain sempat juga ketelinga bos pengontrak. 

"Saya tidak diizinkan, "kenangnya. Sederhana itukah alasannya? "Oh tidak! Katanya, nanti Pak Tile kalah, "sambar gaek bergigi ompong ini. Kalimat itu merupakan 'basa basi'. Kalimat semacam ini sering meluncur dari mulut produser dinegeri ini. Sebab, untuk bersikap tegas, terkadang tak punya nyali. 

"Saya malu pada produser yang akan memakai. Syukur saja dapat memakluminya,"lanjutnya sambil terkekeh. Semestinya, sebagai seorang artis Pak Tile bebas bekerja dengan perusahaan film manapun. Akibatnya, kesempatan untuk berbuat banyak berlalu, dkubur belenggu. Meski, lakonan Pak Tile cukup mujarab untuk memasukkan uang ke kocek produser. Tapi hasil honor selama dikontrak setahun, paling banter Pak Tile mendapat Dua Juta Rupiah. Meski begitu pahit, namun bapak yang kocak ini selalu bersyukur. Memang sudah menjadi pribadinya artis bernama lengkap Tile Bayan. 

Masa pahit telah berlalu. "Sekarang ogah dikontrak panjang. Sekarang, saya baru tahu gayanya  orang film,"ujar artis komedi yang melejit lewat film Cintaku Di Rumah Susun. Sutradara Nyak Abbas Akup. 

Jadilah sekarang seperti burung. Karena itu, Pak Tile telah menyelesaikan film Pasti Bisa Tahan, sutradara A Rizal. Kini lagi ikut suting film Lupus V, kebagian peran menjadi pelayan hotel,"Lumayan, honor sehari dapat dua ratus lima puluh ribu. Enaknya bisa bebas berbuat apa saja, " kata gaek yagn telah berlakon lebih dari 17 film selama berkutat 4 tauun sebagai artis nasional. 

Itu kisah sedih si buta aksara. Tapi, masih ada manusia memanfaatkan situasi ketika tahuannya itu tentang tulis menulis, "Sekarang telah bisa menentukan diri sendiri, justru itu saya bisa ikut Lenong Kembang Sereh untuk Pesta Istiqlal,"katanya sambil menarik rokok dalam-dalam saat latihan di Gelanggang Remaja Jakarta Timur. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991. 


Wednesday, September 2, 2026

SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy?


 SAUR SEPUH 4, INTER GAGAL, PRODUSER MARAH Karena Belum Mampu Cetak 100 Copy? (berita lawas). Maka, Mantan Prabu Brama Kumbara yang telah menjadi  resi pertapa itu menasihati wanapati, si raja baru. "Jangan buru-buru membuat peraturan, sebab peraturan Raja adalah hukum yang sulit untuk dicabut kembali".

Sabdo Pandito Ratu!

Dialog ini bisa ditemukan dalam adegan terakhir "Saur Sepuh 4, Titisan Darah Biru" yang sudah lulus sensor BSF tanpa potong satu frame pun, pada Senin 8 Juli 1991. 

Menurut perhitungan Handi Mulyono, produser PT. Kanta Indah Film, produksi terbarunya ini memang pasti lulus dengan mulus. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari, ia sudah menetapkan tanggal mainnya, yakni pada hari Kamis, 11 Juli 1991, sesuai dengan kalender acara yang dikeluarkan oleh PT. PERFIN 

Bukan cuma untuk penayangan di Jakarta saja, namun serentak di banyak kota besar seperti Surabaya, Semarang, Medang, Ujungpandang dan lain-lainnya. 

Namun hambatan justru datang dari pihak Inter Studio yang mencetak copy filmnya!. 

"Mixing sebanyak 6 rel, sudah selesai pada 24 Juni. Dan sebenarnyalah sejak saat itu sudah diorder pencetakan copynya ke Inter, "ungkap sutradara Imam Tantowi. 

"Semula kami memesan 100 copy, tapi mereka menyatakan tak menyanggupi. Maka kami turunkan sampai menjadi 60 copy saja dulu, "ungkap Handi. "Ternyata sampai hari Selasa, 9 Juli dilaporkan baru bisa dibuat lima copy!. Mana Cukup? Sedangkan untuk di Jakarta aja bakal main di 30an gedung. Meskipun dilakukan sistem penggabungan tiap copy ditayangkan pada lebih dari satu gedung, tetap paling sedikit dibutuhkan 20 copy. Belum lagi untuk diluar ibokota!. 

Kerja keras pihak Interstudio kemudian memang mampu mencetak lebih dari 20 copy, Kendati begitu penayangan di bioskop-bioskop Jakarta, tetap harus diundurkan. Kalau semula diharapkan sudah main pada 11 Juli, terpaksa ditunda sehari. Sedangkan penayangan di Surabaya terpaksa dimundurkan mungkin sampai awal Agustus nanti. Sedangkan trailer atau ekstra film sepajang tiga menit yang juga dipesan sebanyak 100 copy, sama sekali tidak bisa dicetak satupun. Padahal seharusnya seminggu menjelang Gala Premiernya, sudah dipasang trailernya untuk bahan promosi menarik calon penonton, tapi sampai sekang filmnya sudah main, terpaksa tanpa trailer. 

"jelas kami tak bisa menunda berlama-lama, mengingat iklan promosi sudah dipasang dikoran-koran terkemuka di Jakarta dan jawa Timur selama beberapa hari ini, disamping baliho besar yang dipajang di depan beberapa bioskop sejak sebulan yang lalu!"Kesal sang produser. 

"Itikad baik produser untuk memenuhi peraturn mengenai prosesing dalam negeri, justru terbentur oleh kekurangsiapan kerja pihak studio sendiri. 

Sejak episode pertama sampai yang ketiga, setiap judul selalu di cetak sebanyak 100 sampai 120 copy", keterangan Tantowi. "Selama ini memang dicetak di Mandarin Lab. Hongkong, Cukup lima hari sudah siap semuanya. Rata-rata maereka mampu mencetak 20 copy perharinya. Kalau perhitungannya wajar, normal-normal saja, dengan tiga unit mesin sudah bisa dicetak minimal 12 copy dalam satu hari kerja. Nah, kalau dikebut siang malam, tentunya bisa dua kali lipat kan?

Ini baru bicara soal kecepatan cetak saja, belum lagi mengenai kualitas hasil cetaknya, keprofesionalan kerja, serta harganya. Mau dibandingkan bagaimanapun juga, semua hal diatas harus diakui masih jauh lebih unggul kerja lab di luar negeri. 

"Sampai kapan baru kita mempunyai laboratorium film yang profesional? "Keluh beberapa insan film yang enggan disebut jatidirinya. ~MF No. 132/99/Tahun VII/20 Juli - 2 Agustus 1991


Monday, August 31, 2026

NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992

 


NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992 (berita lawas). MADE DARMI, wanita bisu tuli yang tertindas. Sebagai wanita bersuami, dia bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya. Suaminya hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk sabung ayam. Puncaknya, wanita yang dirundung duka panjang itu ditinggal minggat suaminya ke luar negeri mengkuti pacarnya yang berasal dari negeri seberang. 

Neno "Made Darmi" Warisman, Sabtu malam, 21 November 1992 tak sanggup menyimpan tangis kegembiraan ketika Dewan Juri Festival Sinetron Indonesia (FSI) menobatkannya sebagai  aktris terbaik dalam festival  yang baru pertama kalinya dipisahkan dari Festival Film Indonesia (FFI) itu. "Kalau saya boleh mengucap doa, dan terima kasih saya tujukan kepada Bang Irwinsyah, guru saya. Juga pada Aji, guru pertama saya di Teater Bulungan, "kata Neno Warisman. 

Piala Vidia yang direngkuhnya kali ini, adalah Piala Vidia kedua. Artis yang bernama asli Titi Widoretno itu, pernah memperoleh ketika terlibat dalam Sayekti dan Hanafi, dua tahun lalu. "Sungguh, saya tidak pernah menyangka dan mengharap memperoleh PIala Vidia. Kalau teman-teman wartawan jauh-jauh hari sudah menelpon dan mengucapkan selamat, saya sendiri kaget. Mereka sekarang ini amatannya sudah tidak pernah meleset, "ungkapnya. 

Terus Terang, Neno mengukap, sampai saat ini dia merasa berutang budi pada Irwinsyah. "Saya tidak bisa begitu saja menghilangkan nama Bang Irwin dalam benak saya. Sampai saat ini pun, apalagi ketika Aksara Tanpa Kata disebut-sebut sebagai nominator, hati saya banyak berdebar-debar mengingat ketelatenan dan kesabaran Bang Irwin mengarahkan saya hingga maksimal, "ungkapnya membuka catatan lama. 

Dalam Aksara Tanpa Kata, selain langsung observasi ke Bali, Neno belajar banyak kepada penderita cacat tunarungu-wicara di Jakarta. Bahkan, dia harus beberapa kali berkunjung ke sekolah luar biasa tunarungu-wicara untuk mempelajari karakter penderita tersebut. 

"Disini selama satu bulan saya harus belajar Isado,"katanya. 

Bukan hanya itu dia amati dan pelajari gaya bicara maupun lagak mereka ketika jengkel maupun marah. "Pertama tentu lewat cermin dulu."

Semua itu diperlukan untuk kesempurnaan akting maupun perubahan emosi yang harus dilakukan agar sinetron itu punya nafas tersendiri. Gaya hidup wanita Bali dipelajarinya untuk beberapa lama di perkampungan-perkampunan desa di Bali yang tidak jauh dari tempat wisata. "Syutingnya, sebagian besar memang di daerah Kuta, "akunya. 

Karenanya, Neno Warisman mengaku terus terang, tingkat kesulitan yang diperolehnya dalam casting Made Darmi, lebih tinggi dibanding ketika ia harus memerankan Sayekti dalam Sayekti dan Hanafi beberapa waktu yang lalu. "Kalau boleh menyebut, memang tingkat kesulitan yang saya peroleh dalam Made Darmi lebih berat, "akunya. 

Neno barangkali bukan potret artis kita kebanyakan. Sebelum dikukuhkan menjadi artis terbaik versi FSI '92, Neno mengaku tidak mengharapkan banyak dari permainannya. "Biasa biasa saja. Pokoknya, skenario yang disodorkan sutradara saya pelajari dengan baik sesuai dengan kemampuan yang saya miliki",katanya. 

Karena, dengan apa yang diperolehnya sekarang, "Saya harus semakin selektif memilih peran," katanya. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992



Sunday, August 30, 2026

FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON


FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992, PESTANYA SINETRON  (Berita Lawas). Dalam ruang sempit, muat hanya seratus pengunjung plus dua puluhan tamu kehormatan termasuk Menteri Penerangan ditayangkan secara langsung pengumuman dan Penyerahan Piala Vidia, Festival Sinetron Indonesia 1992 untuk pertama kalinya. 

Mengandalkan dekorasi panggung yang megah, dengan menghabiskan biaya Rp. 40.000.000,- paket itu, diharapkan menyajikan tayangan yang ..wah. Justru tetap ngotot dipilih Studio TVRI itu demi untuk kepentingan broadcast Empu, yang pakar di TVRI dalam bidang penyiaran itu, berupaya maksimal?

Nasib, kalau program yang sudah dirancang itu akhirnya mengundang kecewa, termasuk Menteri Penerangan. Masalahnya, acara siaran langsung seperti itu, harus pandai-pandai menguasai waktu. Acara siaran dimulai pukul 19.35 dan harus selesai pukul 21.05 lalu masuk Dunia Dalam Berita. 

Nyatanya moloor, Rupanya diawal acara, Didi Petet yang berduet dengan Nita Bonita keasyikan nyeloteh, berupaya membangun dan menghidupkan suasana, dan mereka berhasil. Tapi...detik demi detik terlewat, akhirnya tidak pas dengan jadwal yang tercantum dibuku acara.

Bertambah lengkaplah penderitaan acara tersebut, manakala pemenang yang dipanggil ternyata tidak datang dan...terjadi kevakuman beberapa saat karena belum dipersiapkan wakilnya, tambah lagi artis sinetron pembaca pemenang agak lamban langkahnya, maklum banyak yang pakai kain. Perhitungan detik demi detik inilah yang membuat suasana awal jadi grusa grusu. Dan pada "gong" acara ini juga antiklimaks, sehingga Pak Menteri hanya menyalami pemenang Piala Vidia untuk sinetron cerita. 

Cerita Lepas Terbaik : Aksara Tanpa Kata 

Penulis Teleplay Terbaik : Alex Soeprapto Yudho dalam sinetron Keringat

Penyutradaraan Terbaik : Irwinsyah dalam Aksara Tanpa Kata

Penata Sinematografi : Yadi Suganda dan Yayat Muslihat dalam sinetron Hilang

Pemeran Pembantu Pria : Herdin Hidayat (Fajar Sadiq)

Pemeran Pembantu Wanita : Renny Jayusman (Aksara Tanpa Kata)

Pemeran Utama Pria  : Aspar Paturusi (Anak Hilang)

Pemeran Utama Wanita : Neno Warisman (Aksara Tanpa Kata)

Penata Artistik : Satari SK (Anak Hilang)

Editor Terbaik : Iqbal Agus dan Robby Rumoso (Anak Hilang)

Penata Musik Terbaik : Igor Tamerlan (Aksara Tanpa Kata)

Penata Suara Terbaik : Adi Krisnandi dan Eddy Krisnandi (Aksara Tanpa Kata)

Kritik Sinetron : Sugeng Setyadharm) Produksi TVRI Pusat dan 

Cerita Episode Terbaik (Gadis Manis Dalam Gerimis - Ismail Sofyan Sani dalam serial Jendela Rumah Kita)

Peraih Piala Khusus  FSI '92 pemeran Anak Harapan (Erlina Gede) dalam sinetron Aida (TPI, Piala Vidia untuk dokumenter terbaik "Disini Kita Bernyanyi ", SCTV, Piala Vidia Pendidikan dan Penerangan "Si Leher Panjang dari Mojoslawi".

Menteri Penerangan Harmoko dalam pidato sambutannya mengatakan  bahwa proses teknologi belakangan ini makin pesat dan itu harus diantisipasi oleh dunia sinetron. Dalam kaitan itu, kitapun  harus berani menjawab tantangan dengan adanya dukungan peralatan teknologi tersebut. 

Menpen mengharapkan  pada masa mendatang produksi sinetron bisa lebih baik lagi karena selama ini sinetron dianggap sebagai pesaing film Indonesia. "Jadi secara tidak langsung, kompetisinya semakin cukup kuat, " kata Harmoko menyitir ungkapan almarhum Wahyu Sihombing. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992





Friday, August 28, 2026

KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI

 


KOMENTAR ATAS MUSIBAH "SI ROY" , PENTING TIDAKNYA ASURANSI, (Berita lawas). Dua tahun lalu (1987), lewat S.K 007/PB.PARFI/1987, pernah dihimbau agar artis-artis yang direkomendir oleh PARFI diasuransikan. Menurut Sekretaris Parfi, Reza Pahlawan, "Sudah pernah dibicarakan dengan Asuransi Timur Jauh. Kemudian diajukan juga usulan ini pada PPFI. Tapi belum ada tanggapan. Konon PPFI masih ingin meminta saran dulu pihak Deppen. Akhirnyaya terlupakan sapai sekaran, "Smpa terjadilah peristiwa naas yang meinmpa korban di awal September kemarin (1989)!. 

Aktor yang dokter dan kolonel Amoroso Katamsi, saat bertemu wartawan , sama-sama melayat pemakaman Tuti Indra Malaon, mengakui "Terjadinya musibah tersebut membuat PARFI berusaha mendorong kembali himbauan untuk mengasuransikan para artisnya!".

Sutradara Buce Malawau yang baru saja merampungkan film kecelakaan kereta api, "Tragedi Bintaro", berpendapat, "Sebenarnya kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bukan saja di dalam suting film. Tapi saya setuju sekali pada ide yang dicetuskan oleh Parfi tersebut. Yang penting jangan sampai teledor, karena fatal akibatnya!".

Ditanggapi oleh sutradara Imam Tantowi, yang sedang menyiapkan "Saur Sepuh III, Kembang Gunung Lawu". Di kantor PT. Kanta Indah Film, "Yang terpenting harus selalu ada safety. Misalnya sebelum mengambil adegan salto disediakan kardus secukupnya untuk jatuhnya. Pada saat adegan lompat dari ketinggian ada safety-belt, Untuk adegan melayang ada sling yang sentosa. Asuransi dan santunannya kan hanya untukkeluarga yang ditinggalkan. Yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali. Cuma memang beban yang harus ditanggung produser menjad lebih ringan karena sebagian menjadi tanggungan pihak asuransi. 

Tantowi yang sering membuat film laga, pernah sekali mengalami musibah saat pembuatan film pertamanya "Pasukan Berani Mati". Justru menimpa salah seorang pemain utamanya, Barry Prima. Adegannya Barry melakukan salto dan terjatuh sampai tulang panggulnya patah. Di duga kesalahan pada Barry sendiri yang terlalu memaksakan diri, dan sebenarnya dalam keadaan kurang sehat. Memang seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh PT. Rapi Film, namun bagaimanapun juga tulang panggul Barry sudah menderita cacat. 

"Kecelakan tidak kita minta, safety yang dibutuhkan," ulang Tantowi,. "Asuransi bukan menyelesaikan masalah. Salah satu cara untuk safety misalnya dengan menggunakan kendaraan angkutan ke dan dari lokasi suting. Biasanya dipilih kendaraan yang cenderung murah sewanya. karena berselisih sekitar Rp. 100 rb dengan kendaraan  yang baik. Tapi kalau imbalannya nyawa? Betapa murahnya nyawa orang film kalau begitu!".

Sutradara Abnar Romli yang sedang merampungkan film silat "Pancasona" menambahkan "Diperlukan orang-orang yang profesional untuk menyiapkan sarana sebelum melakukan adegan berbahaya!".

Abnar teringat pengalaman ketika suting film "Six Balax dalam Penculikan Pengantin". Adegannya sang tokoh mengebutkan motor sampai melompati mobil polisi yang menghadangnya. Mungkin karena persiapannya kurang matang, motor yang terbang itu melambung kelewat tinggi. Stuntmannya terjatuh, untung tak sampai cidera berat!".

"Terkadang saya amati mereka kurang memikirkan diri sendiri,"komentar Abnar terhadap para stuntman berani mati itu. 

Dibenarkan oleh Subagyo Samtani, Produser Pelaksana PT. Rapi Film, yang teringat pengalaman saat suting film "Dendam Membara", ingat pada adegan mobil menerjang supermarket? Nah, saya sudah pesan wanti-wanti agar bensin mobil yang digunakan untuk menabrak etalase Supermarket itu diisi seliter saja. Asal cukup untuk jalan. Jangan diisi penuh-penuh, takut kalau terjadi kecelakaan kan bisa terbakar dan meledak. Eh ternyata diisi cukup banyak oleh stuntman Gatot, ketika saya tahu, langsung saya marahi habis-habisan. Untunglah sutingnya berjalan lancar dan selamat!".

Tantowi pun pernah memarahi adiknya sendiri, Eddy, yang menjabat asisten special effect saat suting "Saur Sepuh II, Pesanggrahan Keramat" di hutan lindung Pangadaran. "Dia memanjat pohon beringin tinggi, meniti dahan kecil untuk memasang sling (Kabel kawat) tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Langsung saya suruh turun dan harus memakai safety belt dulu baru melanjutkan kerjanya. Setidaknya kalau sampai tergantung-gantung, tak sampai terbanting!".

Saat suting film silat "Pembalasan Si mata Elang" bintang laga Atut Agustinanto juga mengalami kecelakaan. Tangannya patah karena terjatuh ketika adegan bertarung dengan Advent Bangun. Namun sesudah dirawat oleh "orang panti" yang ahli patah tulang, ia bisa dipulihkan, dan melanjutkan suting kembali dalam waktu relatif singkat.

"Tapi mulai sekarang, Virgo Putra Film mengasuransikan seluruh pemain dan karyawannya, " tegas Ferry Angriawan yang memetik hikmah dari musibah "Si Roy".

Untuk produksi terbarunya "Joe Turun Ke Desa", Ferry  mengasuransikan seluruh pemain dan karyawan pada PT. Asuransi Agung Asia,". "Perusahaan yang membayarkan asuransi sebesar Rp. 52 ribu per orang atau jangka waktu satu tahn." Jadi kalau produksi menggunakan sekitar 50 artis dan karyawan, maka produser menyetorkan Rp. 2,6 juta. Relatif kecil dibandingbiaya produksi rata-rata diatas Rp. 200 juta. 

Dengan pembayaran asuransi tersebut, setiap orang dipertanggungkan nominal Rp. 10 juta. Bila mendapatkan kecelakaan sampai masuk rumah sakit, mendapat penggantian maksimal sebesar Rp. 1 juta. Bila sampai meninggal santunannya sebesar Rp. 10 juta. Bila cacad sampai kehilangan anggota badan, diperhitungkan secara prosentase. Misalnya bila kehilangan sebelah tangan mendapat 20% dari santunan maksimal. Bila kehilangan sebelah mata mendapatkan 40%. Demikian seterusnya, ada perhitungan terperinci masing-masing. 

Chaerul Umam yang sedang menyiapkan "Joe Turun Ke Desa" menyebutkan  tiga unsur, "Pertama, pehatian untuk staf non artistik. Kecelakaan itu sebenarnya terjadi karena kecerobohan manusianya. Mustinya sebelum mengendarai mobil periksa dulu olinya, temperatur dan lain-lainnya, Kedua kendaraan yang dipergunakan mbok ya jangan yang terlalu tua, tidak siap itu. Ketiga asuransi memang belum populer dalam perfilman. Betapapun uang santunannya bisa membantu keluarga yang ditinggalkan. 

Sebagai produser, Ferry Angriawan sebenarnya sudah menyarankan agar selalu memilih kendaraan yang baik untuk sarana angkutan. "Namun bukan tidak mungkin ada pimpinan Unit atau Pimpinan Produksi yang ingin menghemat dengan menyewa kendaraan yang lebih murah. Untuk selanjutnya perlu ditekankan lebih berhati-hati dalam memilih kendaraan angkutan dan jangan lalai untuk selalu memeriksakan kondisinya sebelum digunakan!".

Nampaknya sesudah musibah "Si Roy", asuransi akan mulai masuk dunia film Termasuk suting kelanjutannya pun kelak mulai diasuransikan. Demikian juga untuk produksi Andalas Kencana mendatang, "Melacak Dendam".sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989


Thursday, August 27, 2026

CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA

 


CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA (berita lawas). Christine Hakim akhirnya bersedia juga main sinetron produksi Multivision Plus yang berjudul menarik, "Bukan Perempuan Biasa".

Karuan ini suatu kebanggaan besar bagi Produser Raam Punjabi yang sebelumnya juga berhasil mengajak pasangan bintang abadi Sophan Sophiaan - Widyawati bermain dalam serial Abad 21. 

Terus terang sudah sepuluh tahun lamanya saya ingin menjalin kerjasama dengan Christine , "aku Raam. "Waktu itu saya berhasrat membuat film bioskop, tapi baru dua tahun lalu, Christine setuju untuk bermain dalam sinetron ini yang bakal di garap oleh Arifin C Noer. Sayang beliau keburu tiada, hingga proyek nyaris tertunda. 

Adalah Jajang C Noer yang selama setahun terus mengejar Raam untuk melanjutkan proyek mendiang arifin agar tak sampai batal. Sebenarnya memang Arifin telah menulis tujuh skenario dari miniseri yang direncanakan tamat dalam sepuluh sepisode ini . Lalu bagaimana dengan tiga episode yang beum rampung?Diminta Arswendo Atmowiloto yang juga kawan lama almarhum untuk menyelesaikannya sampai tuntas. 

"Saya mau bilang apa, cuma saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Pak Raam dan Raakhe untuk mengerjakan pekerjaan Mas Arifin yang tertinggal,"ucap Jajang. 

Bukannya tanpa susah payah bagi Jajang untuk mendapat kepercayaan tersebut karena semula Raam menghubungi sutradara-sutradara handal seperti Slamet Rahardjo, Putu Wijaya dan Garin Nugroho. Tapi diluar sepengetahuannya, Jajang juga mendatangi mereka dan berpesan setengah mengancam "Jangan mau terima twaran dari Pak Raam. Bilang saja cuma istrinya yang tahu betul dan paling tepat untuk melanjutkan karya Mas Arifin.

Al hasil Raam menyerah pada Jajang, apalagi setelah jajang menjamin bahwa Christine tetap akan menjadi leading-lady (pemeran utama). Padahal pada waktu dicari, Christine sedang berada di Sukabumi suting film produksi Emerald Film dari Belanda, Tropical Emerald. 

Bukan Perempuan Biasa didukung oleh Desy Ratnasari Dony Damara, El Manik, Pangky Suwito, Eeng Saptahadi, Remy Silado, Marini Zumarnis, Charlie Sahetapy dan banyak lagi. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film nomor : 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996

T : Setelah sekian lama, boleh dibilang menghilang, baru sekarang anda kembali bermain?

J : Saya nggak menghilang kok mas, cuma...tersingkir. Entah kenapa tersingkir lagi musim banjir kali?!. Tapi saya merasa diri saya adalah artis yang beruntung, beruntung sekali malah. Karena saat kondisi perfilman Indonesia sedang begini, justru saya mendapat kesempatan untuk meninjau perkembangan dunia film di Australia selama enam bulan. Saya lihat disana ada Asosiasi Women Film Maker yang anggotanya lebih dari 300 sineas wanita. Bayangkan, padahal Australia kan penduduknya cuma 17 Juta, tapi begitu banyak wanita yang sudah jadi sutradara!. Lalu bermain  untuk sebuah film Jepang di Jepang. Disana juga saya empat diundang ke Women International Film Festival. Dan terakhir main film Belanda yang lokasi sutingnya di Sukabumi. 

T : Kenapa baru sekarang Anda mau main sinetron, bukankah dulu Anda cuma mau main untuk film bioskop? 

J : Saya tak pernah bilang anti sinetron, sama sekali tidak . Memang sejak dunia televisi swasta mekar, saya banyak ditawari main sinetron. Cuma waktu itu saya masih dalam kondisi prihatin dan sedih melihat film nasional, hingga merasa sulit untuk pindah ke media lain dalam hal ini teve. 

T : Bisa cerita bagaimana sampai Jajang berhasil membujuk Anda?

J : Saya masih ingat, Sabtu malam, jam sepuluh, saya baru selesai suting di Sukabumi, baru siap-siap untuk mengaso, mendadak Jajang menelpon saya. Dia bertanya apa benar saya menolak untuk main sinetron, saya jawab tidak benar. Langsung Jajang menceritakan bagaimana perjuangnnya sampai berhasil membujuk Raam. Mendengar ceritanya, hati saya jadi luluh. Bagi saya, yang disebut Bukan Perempuan Biasa seharusnya ya si Jajang ini. 

Lalu saya minta Jajang menunggu sampai suting Emerald selesai, baru bicara lagi. Saya tidak mau membaca skenario yang mau dikirimnya ke Sukabumi. Sebab kalau saya membacanya dan tertarik, nanti bisa mempengaruhi saya. 

T : Bagaimana sih ceritanya sinetron Bukan Perempuan Biasa?

J : Bayangkan saja ya, saya diper kosa El Manik, lalu punya anak Desi Ratnasari (tertawa). Ceritanya saya berperan sebagai Menul, perempuan desa yang minggat dari rumah karena menolak ketika hendak dikawinkan oleh ayahnya. Malah ia diper kosa oleh lima pemuda mabuk sampai hamil. Kelak menul menjadi tukang pijat tradisional di Solo. sedang anaknya, Sri, tumbuh menjadi remaja. mendadak mereka menerima kiriman barang-barang mewah. Menul merasa tak mengenal Pak Bachtiar, si pengirim serta, merta menolak. Ternyata Bachtiar ini adalah salah seorang pemerkosa yang telah insyaf dan ingin menebus dosanya. Itu cerita babak pertamanya selanjutnya masih panjang lagi. 

T : Boleh tahu berapa Christine Hakim di kontrak untuk bermain sinetron ini?

J : Sampai sekarang belum ada kontrak, saya belum menandatangani apa-apa, baru gentleman agreement saja untuk mulai kerjasama. Bagi saya yang penting dalam bekerja harus punya motivasi yang jelas, bukan uangnya, Dan kita akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. 

T : Atau nanti Anda akan dikontrak pertahun, agar juga bisa main dalam sinetron-sinetron produksi Multivision yang lain?

J : Belum, kontrak yang satu ini juga maish belum ditandatangani. Tapi saya rasa kita semua sudah seharusnya berterima kasih pada Raam, meskipun jelas juga banyak orang yang jelus padanya. harus dihargai dong kreativitas dan jasa raam yang berhasil mengembangkan sinetron di teve swasta. kalau beberapa tahun lalu, produk impor seperti telenovela begitu digandrungi, Raam berhasil lewat produksi lokal mulai dari Gara-gara, Lika Liku Laki Laki sampai misalnya Pelangi Di Hatiku. Sekarang Desy Ratnasari bisa mengalahkan Maria Mercedes. Rating sinetron lokal ada diatas telenovela. Ini semua merupakan andil Raam yagn sangat besar, mesti diakui secara fair. 

Saya akan mendukung Raam, selama masih pantas di dukung. Saya yakin seribu persen, Raam pasti akan memproduksi film nasional lagi bila tiba saatnya. Pokoknya saya dukung, ya selama Raam juga masih setia pada negeri ini. Semoga tidak jadi pengkhianat (tertawa). 

T : Tidak ada keraguan bekerja di bawah penanganan seorang sutradara yang masih baru?

J : Bukan baru sekarang saya bekerjasama dengan sutradara yang untuk pertama kalinya berkarya. eros Djarot misalnya. Malah dengan sutradara baru, saya bisa merasakat spiritnya yang maih murni. Tapi saya yakin Jajang bisa kok. Saya juga sudah membaca skenarionya kalau perlu seratus kali agar bisa masuk diperannya. Sebenarnya minimal saya butuh waktu tiga bulan setelah selesai suting sebuah film, untuk melepas peran agar kembali normal, baru mulai masuk keperan baru. Tapi demi Jajang, kali ini saya langsung masuk ke peran Menul. 

T : Apakah dengan ini Anda ingin meninggalkan dunia film (bisokop)?

J : Saya tidak pernah meninggalkan dunia film, tapi ingat, saya juga bukan satpam yang kerjanya menjaga film. Saya ingat jaman jaya-jayanya film nasional, mendadak semua orang merasa punya kepentingan, ikut mengatur, harus begini harus begitu. Jadinya ya begitu, kebanyakan pesan. Mestinya biarkan saj atumbuh seperti apa adanya. 

Bukan cuma di Indonesia banyak negara lain, termasik Prancis, yang punya masalah tak bisa bersaing dengan Film Amerika, akhirnya memilih untuk memproduksi film teve. Yang penting, harus berbuat terus berekspresi. 

Sekarang saya bisa merasakan getar wartawan yang merindukan film nasional. Dibawa sadar kita semua ada kerinduan film nasional berkembang seperti dulu, seharusnya wartawan yang berperan besar menjadi satpam tadi. Saya tidak tahu apakah film nasional masih unya kesempatan untuk bangkit lagi apalagi menghadapi zaman global. Hukumnya wajib bagi kita semua untuk melindungi film dan sinetron sebagai produksi budaya. ~~


Wednesday, August 26, 2026

NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH

 


NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH (berita lawas). Nafa Indria urbach atau lebih di kenal Nafa Urbach, perempuan berzodiak Gemini kelahiran Magelang, 15 Juni 1980. Ngomongin cita-citanya dimasa kecil yang ingin jadi dokter, Nafa menjelaskan, cita-citanya itu sudah dikubur jauh-jauh. 

Katanya, cita-cita jadi dokter sudah tak mungkin lagi berhasil diraihnya. Alasannya, ia sudah kadung cinta dengan profesinya baik sebagai penyanyi, pemain sinetron dan juga model iklan. "Waktu saya sekarang sudah tersita penuh untuk kegiatan seni, "ujar anak kedua dari tiga bersaudara hasil pasangan Ronald Walter Urbach (Jerman) dan Neneng Maria Kusuma (Magelang) ini. 

Memang benar, bagi Nafa hari-hari belakangan ini, jadwalnya memang super ketat. Diluar jam sekolah, pemilik tinggi 168 cm ini selalu disibukkan dengan jadwal show , syuting dan pemotretan. 

"Terkadang saya sering minta ijin untuk absen sekolah, karena jadwal suting atau pemotretan yang tabrakan, "paparnya. 

Menurut Nafa, ia tidak merasa malu pada guru atau teman-temannya di sekolah, karena ia sering absen. Begitu ia kembli ke bangku sekolah Nafa mengaku langsung ngebut belajarnya untuk mengejar ketertinggalan. 

"kenapa musti malu? Lagian guru-guru dan teman-teman di sekolah sudah memaklumi dengan profesi saya sekarang ini, "kata murid kelas 1 disalah satu SMU negeri di Jakarta ini. 

Ditambahkan Nafa, ia juga tidak merasa jadi manusia super. Artinya, meskipun sukses dibidang seni tak membuat hal itu terbebani harus pintar di sekolah. Dikelas ini Nafa mengaku kalau dirinya adalah murid yang biasa-biasa saja. 

"Kalau lagi ada satu pelajaran yang saya nggak bisa saya bilang pada teman atau guru kalau saya tidak mampu, "kata Nafa yang dihadiahi sedan Hyundai dari kesuksesan album ketiganya Hatiku Bagai Terpenjara itu. 

"Disekolah saya termasuk murid yang pandai benar nggak, dan gob lok banget juga nggak. Pokoknya biasa-biasa saja, deh!,"tegasnya. 

Masih soal karirnya, Nafa sekali lagi menegaskan ingin terjun total di bidang seni, ia sekarang mencanangkan dirinya tidak saja sukses sebagai penyanyi akan etapi ingin sukses juga di bidang akting dan bintang iklan. 

Dalam dunia sinetron ia membintangi Deru Debu, Kembalinya Si Manis 2, Cinta tak pernah berhutang dan lain-lain. ~MF 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996