Monday, June 22, 2026

MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN'

 


MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN' (berita lawas). Suting film "Rini Tomboy" nyaris terhenti pada saat sudah mencapai 75 persen. Produser Handi Muljono dari PT. Kanta Indah Film, bagai kehabisan nafas karena beberapa film produksinya berbujet besar sebutlah seperti "Saur Sepuh 4", "Tutur Tinular 2" dan "Balada Cinta Anglingdarma" kurang begitu berhasil dalam peredarannya. Akibatnya modal sekitar 3 milyar rupiah, sulit kembali. 

Maka, kelanjutan penyelesaian tiga film produksi terakhirnya pun menjadi tersendat-sendat. Tiga film tersebut adalah "Badai Laut Selatan", "Kamandaka" dan "Rini Tomboy" ini. 

Untunglah kemudian dicapai kesepakatan dengan pihak Subentra Bank yang bersedia mendukung dana untuk merampungkan film-film diatas. 

Di pimpin Megawati Santoso yagn melanjutkan kerjanya sebagai Produser Pelaksana, sutradara, pemain dan kru Rini Tomboy berangkat ke Yogya. Seperti di ketahui, pemeran Rini adalah pendatang baru Cornelia Agatha Dachlia, didukung oleh bintang-bintang muda seperti : Adjie Massaid, Titi Dwi Jayati, Nunu Datau serta dua remaja gres lainnya, Ninette Maritya dan Hendri Hendarto. 

Mereka berenam nampak kompak bersepeda berkeliling desa di Pantai Kukup, sekitar 60 kilometer di selatan Yogya. Dalam foto diatas terlihat Titi memboncengkan Nunu, dan Adjie memboncengkan Hendri masing-masing dengan sepeda perempuan. Tapi lihatlah Lia yang  memboncengkan Ninette, sengaja tampil beda dengan sepeda jantan.!

"Ho..ho..hoo, itu memang disengaja, " tawa sutradara Noto Bagaskoro yang setambun Samo Hung, " itu ciri khas untuk menunjukkan watak tomboy Rini yang selalu ingin tampil sportif dan boyish, kendati begitu ia masih tetap nampak manis kan?.~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Sunday, June 21, 2026

ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU


ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU (berita lawas). Ada semacam rasa ketakutan dari para produser film bekerjasama dengan sutradara yang biasa kerja berlambat-lambat, sekalipun dengan alasan untuk menghasilkan film yang kualitasnya lebih baik. Logikanya memang, bekerja dengan waktu yang cukup, tidak terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. 

Namun bukan jaminan. Semua tergantung dari orang yang mengerjakan dan tergantung dari kebutuhannya. Arifin C Noer, sutradara kenamaan itu memberikan contoh dari film yang dikerjakannya. Ketika membuat film G 30 S/PKI, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sebab film yang menggambarkan salah satu perjuangan bangsa itu harus di dukung oleh data sejarah yang lengkap dan penanganan yang teliti. Demikian pula untuk film lanjutannya, Super Semar. 

Waktu menggarap G. 30.S / PKI, mulai dari persiapan sampai edar, memakan waktu hampir dua tahun. Sedangkan Super Semar, lebih lama lagi. Bila kualitas kedua film tersebut diukur melalui Festival Film Indonesia (FFI), kualitasnya masih di bawah Taksi, yang digarapnya. Karena kedua film diatas tidak terpilih seabgai film terbaik, sedangkan Taksi terpilih sebagai film terbaik FFI 1990. Dengan contoh tersebut, memperkuat argumentasinya, bahwa bukan waktu yang menentukan baik buruknya hasil pekerjaan. 

"Saya kira, memang tidak ada satu orangpun yang mempunyai suatu keinginan mengulur-ulur waktu, kalau memang kebutuhannya tidak banyak. Mengulur waktu, tidak saja akan merugikan produser seabgai partner, tapi juga merugikan diri sendiri!" Tegas Arifin C Noer yang oleh sementara produser di klasifikasikan sebagai sutradara yang suka mengulur ulur waktu. Walaupun ia sudah membuktikan bisa bekerja cepat dengan kualitas terbaik dan punya nilai ekonomi tinggi. 

Sekarang ini, katanya, untuk menyelesaikan Bibir Mer, iapun akan berusaha bekerja maksimal, cepat dan tentu cermat. Alasannya masuk akal, karena katanya ia harus segera bersiap-siap mementas lagi dengan Teater Kecil yang dipimpinnya. "Setelah sukses di Singapura dengan Ozon, datang tawaran lagi untuk tampil disana , dilanjutkan ke Hongkong dan Tokyo. "Kami sudah menerima tawaran itu lewat faksimili, tapi kami belum memberi jawaban. Kami pikir, memang perlu diterima tawaran tersebut agar kita juga di kenal lebih luas di luar negeri. Kesempatan-kesempatan semacam ini, akan memberikan pengalaman yang berharga.,"katanya seraya menjelaskan pementasannya di luar negeri menggunakan dialog bahasa Inggris. Karena dialognya dalam bahasa Inggris, mau tidak mau kita berlatih lebih serius. Hal demikian dapat mematangkan diri kita sendiri. 

Mengomentari tentang pemain film Indonesia, Arifin bilang "Pada dasarnya pemain Indonesia itu berbakat, cuma katanya, penempatan untuk mematangkan kemampuan pemain tersebut diperlukan keseriusan dari para sutradara. ~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.


Friday, June 19, 2026

ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT


 ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT (berita lawas). Ia terbilang 'gres', bahkan masih 'bau kencur'. Terakhir kali ia terlibat film Blok M. Siapa dia? Dia Aldonna Viveronica. Biasa dipanggil Donna saja. Dengan celana jeans dan T.shirt menempel di badannya, sebagaimana layak pada gadis usia tujuh belasan. Apalagi dengan melihat foto-fotonya yang sempat menjadi sampul di beberapa penerbitan ibukota. Padahal 14 Januari (1992) yang lalu berusia 13 tahun. Dilahirkan di Bandung, 14 Januari 1979 dari pasangan Aldo Toncic dan Ika. 

"Hanya badan saya saja yang kelihatan bongsor, padahal saya ini masih kecil. Kalau tidur saja masih suka dikeloni oleh mama dan papa, " kata si bontot dari 6 bersaudara ini. 

Bagi Donna, bidang seni pada umumnya tidaklah asing. Tahun 1989 pernah tampil sebagai penyanyi cilik. Dua album yang dihasilkannya adalah "Apa Namanya" dan "Jangan Menangis Isabella". Waktu itu saya sering muncul di TVRI, lewat acara lagu Anak-Anak, sehingga dilirik oleh produser dan selanjutnya diajak rekaman. Karena kesempatan itu sangat menarik, tentu saya tidak sia-siakan. Kebetulan mama, papa dan seluruh keluarga memberi dorongan, " cerita Donna. 

Bicara soal kesempatan main film pun tidak dilewatkan. "Mama berpesan, semua yang terbaik untuk Donna tidak akan dilarang. Menyangkut soal gosip dalam kehidupan artis, tentu saja saya harus pandai-pandai menjaga diri. Soal gosip itu sendiri sudah konsekuensi semua artis, " kata pemilik tinggi dan berat 160 cm dan 39 kg ini, sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. 

Film dan musik memang sudah jadi obsesinya. Untuk itu dalam bidang tarik suara ia belajar vokal di Tripel M Production dan untuk meningkatkan kemampuan di bidang akting ia gabung dengan Channel 2000.

Pelajar SMP pengagum Madonna dan Michael Jackson ini, pernah juga jadi peragawati cilik. Lantas apa cita-cita Donna sebenarnya.?. Ia tidak lantas menjawab, pikirannya menerawang, "Wah sebenarnya Donna ingin menjadi wanita yang sukses di bidang apa saja. Pokoknya menjadi orang sukses deh, kalau bisa sebagai wanita karier. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Thursday, June 18, 2026

DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON

 


DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON (berita lawas). Ingat pada aktor Sean Connery yang pernah bilang sudah jenuh memerankan tokoh superspy James '007' Bond? Maka seusai merampungkan " You Only Live Twice" (1967), ia mengumumkan untuk mengundurkan diri. Film Bond beriutnya "On Her Mayestya's Secret Service" (1969), peran Connery digantikan pemain gres asal Australia, George Lazenby.

Namun Connery melakukan 'come-backe'nya yang pertama dengan kembalibermain sebagai 007 dalam "Diamonds Are Forever" (1971). Sesudahnya barulah digantikan oleh Roger Moore yang beruntun membintangi tujuh film Bond. 

Sampai 12 tahun kemudian Connery mau mengulang peran Bond lewat "Never Say Never Again" (1983). Sebenarnya cerita asli film ini merupakan remaki dari "Thunderball" (1965). Namun tajuknya bagaikan ucapan peribahaya Connery yang ingin menyatakan "Tak Pernah Bilang Tak Mau lagi".

Apa yang membuat Connery mau kembali ke James Bond? Ada yang bilang, karena film-film yang dibintangi Connery saat itu kurang laku di pasaran, hingga ia kepingin bikin kejutan. Disamping itu, tentu saja tawaran honor besar yang menggiurkan. 

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pula dalam dunia perfilman Indonesia atas diri Didi Petet. 

Seperti diketahui, namanya mendadak melejit sejak memerankan tokoh Emon dalam "Catatan Si Boy". Padahal sebelumnya, ia sudah pernah main film "Semua Karena Ginah" yang diarahkan sutradra khusus film-film komedi berbobot Nyak Abbas Akup. Namun hasil film tersebut biasa-biasa saja hingga tak mampu mendongkrak kepopuleran para pendukungnya. 

Didi beralih jadi pendukung drama serial "Losmen". Memerankan Mas Partono, agen Biro Pariwisata yang dicemburui Mas Jarot (Eeng Saptahadi) gara-gara pernah memboncengkan Jeng Sri (Dewi Yull) dengan motornya, tapi peran Partono kemudian lenyap begitu saja. 

Kekocakan Didi lewat tokoh Emon membuat ia menjadi sangat laris diminta membintangi banyak film. Tercatat empat kali memerankan Emon, selain tiga "Catatan Si Boy" juga dalam "Bayar Tapi Nyicil" bersama kelompok Bagito Group. (Saat berita ini diturunkan belum ada Catatan Si Boy 5 yang juga memerankan Emon).

Nampaknya peran stereotype model Emon, membuat Didi sangat jenuh. Maka saat suting "Joe Turun Ke Desa" yang berlokasi di pedalaman Sukabumi, ia mencetuskan "Saya nggak mau lagi memerankan tokoh kebencong-bencongan si Emon itu".

Apa sebabnya?

"Ya nggak mau saja," sahutnya ogah berpolemik.

Memang selanjutnya peran Didi semakin bervariasi. Bahkan sudah meraih piala Citra sebagai Aktor Pembantu Terbaik 1988 lewat "Cinta Anak Jaman". Iapun membintangi beragam film antara lain "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", "Si Kabayan", "Kipas-kipas Cari Angin", "Oom Pasikom" dan "Boneka Dari Indiana".

Didi berusaha keras menghapus citra Emon dengan bermacam perwatakan berbeda. Sulit dibilang berhasil karena trademark Emon sudah begitu melekat pada dirinya. 

Tegas Ia menolak ikutan pembuatan "Catatan Si Boy 4". Terpaksa sutradara Nasri Cheppy mencari tokoh kocak lain. Hasilnya tampil Wan Abud, remaja keturunan Arab yang dimainkan oleh Fuad Alkhar, tapi sempat juga Cheppy menyelipkan dialog pertelepon dari emon, "Hallo, Ms Boy sekarang Emon lagi kuliah di Paris...".

Lalu untuk pembuatan film sempalan tersendiri "Catatan Si Emon", mau tak mau Cheppy menyeleksi sosok-sosok yang rada mirip Didi. Dipasanglah pendatang Ade Faisal untuk memerankan Emon. Hasil film ini cukup lumayan. Cuma pasti lebih baik lagai kalau diperankan langsung oleh Didi yang memang sudah memahami betul perwatakannya. 

Absennya Emon ternyata tak abadi, karena tiba-tiba muncul lagi dalam "Catatan Si Boy 5". Tetap dengan kekocakan dan kemanjaannya yangkhas, ia menyusul terbang ke San Fransisco untuk bergabung dengan Boy. 

Bahkan sesungguhnay sebagaian besar cerita "Ca-Bo 5" berporos pada Emon yang menemukan anak Bule kesasar di taman kota. Dalam satu adegan, sempat Boy yang kesal karena ulahnya menghardik , "Dasar Ban ci, reseh trus!".

Kontan Emon ngambek berat. Ia tak sudi dibilang ban ci. 

Kasus Didi nampaknya serupa dan sama dengan yang dialami Connery. Maklumlah, film-film yang dibintangi Didi belakangan ini kurang laris. Dan tentu saja iming-iming imbalan (yang konon mencapai Rp. 40 juta) plus kesempatan suting sambil jalan-jalan selama sebulan di San Fransisco. 

Enak ya. hehe. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Wednesday, June 17, 2026

REBUTAN KONTRAK BINTANG


REBUTAN KONTRAK BINTANG (BERITA LAWAS)

FERRY FADLY

Kasus rebutan bintang sandiwara radio "Saur Sepuh", Ferry Fadly antara PT. Kanta Indah Film dan PT. Tobali Indah Film, toh masih berbuntut.

Pasalnya Ferry Fadly telah di kontrak oleh Kanta untuk bermain dalam sebuah film (bukan Saur Sepuh) yang skenarionya akan di garap oleh Niki Kosasih. Ferry telah menerima uang muka kontraknya, tapi sebelum pembuatan film tersebut di mulai, Ferry melompat ke Tobali yang memasangnya sebagai pemeran utama dalam "Brahmana Manggala"

Sudah barang tentu pihak Kanta merasa berang, namun Ferry berdalih, "terlalu lama menunggu, sudah empat bulan terkatung-katung, pembuatan filmnya belum dimulai. Lamanya ini karena  menunggu skenarionya Niki yang baru selesai sekarang, " kila Produser Hendi Mulyono sambil menunjukkan skenario "Bisma Untara".

Tapi karena Ferry dianggap telah melanggar kontrak , kemungkinan besar pihak Kanta emoh memakainya lagi. Lalu bagaimana dengan uang muka yang telah di terima Ferry? Rasanya uang tersebut akan di relakan hangus saja, itu sudah menjadi milik risiko Produser. 

Justru sekarang Ferry yang akan berbalik menuntut pihak Kanta lewat pengacaranya. Dalihnya "Meskipun sudah kontrak, tapi kalau terlalu lama belum juga dimulai pembuatan filmnya, itu sangat merugikan saya"!.  Menghadapi tuntutan dari Ferry ini, pihak Kanta sudah pasaang ancang-ancang. "Ada bukti-bukti tertulis kami sudah berulangkali menghubungi Ferry untuk datang ke kantor tapi ia tidak pernah muncul sekalipun. Oh , lala. 

ONKY ALEXANDER

Masih belum selesai urusan Ferry Fadly, pihak Kanta harus berebutan Onky "Boy" Alexander dengan PT. Bola Dunia Film dan PT. Virgo Putra Film. "Lho kami tidak mencari-cari Onky, tapi dia sendiri yang datang ke kantor kami, ditemani oleh Marwan Alkatiri (penulis skenario) dan Iwan (dari Blantika Agency), untuk menawarkan dirinya,"Cerita Handi Mulyono. 

"waktu ditanya bagaimana kontraknya dengan Bola Dunia, di jawab cuma satu film saja, lanjutan "Catatan Si Boy", hingga dalam bulan Agustus bisa bermain untuk Kanta".

Padahal kemudian baru ketahuan kalau pada PT. Bola Duna Film, Onky selain bermain dalam "Catatan Si Boy II" di bawah arahan Nasry Cheppy ia juga masih harus bermain dalam dua film lagi. 

"Pacar Ketinggalan Kereta arahan Teguh Karya sebagai permeran utama menggantikan Alex Komang yang turun menjadi pemeran pembantu. Lalu satu judul film lagi, yang masih belum ditentukan siapa sutradaranya dan apa judulnya. Sedangkan sampai pertengahan Juli 1988, sutin "Catatan Si Boy II", masih belum rampung juga. 

Kemelut ini bertambah dengan kontrak yang dibuat Onky pada PT. Virgo Putra Film, menurut Ferry Angriawan, "Onky dikontrak sampai bulan Desember 1989 oleh kami. Diharapkan bisa menyelesaikan tiga film setidaknya!". 

Ada cara untuk bisa lebih cepat memakai Onky, yakni dengan membuat film patungan , joint-venture antara Virgo dan Bola Dunia. "Boleh saja,kami setuju dengan syarat pihak virgo harus mengajukan cerita-skenario untuk kami pelajari dulu", sebut Hasrat Djoeir, Produser Pelaksana Bola Dunia, "Kalau memang bagus kami tak keberatan bekerjasama dalam penggarapannya. 

FENDY PRADANA

Menyusul kasus rebutan Fendy, Si Brama Kumbara dalam "Saur Sepuh Satria Madangkara". Memang yang semula mengajak Fendy bermain film adalah Sisworo Gautama Putra untuk produksi PT. Soraya Film, "Malam Satu Suro", sebagai kekasih Suzanna. 

Sebenarnya Fendy sudah di kontrak untuk hanya bermain pada Soraya film dalam tahun 1988 ini," ujar orang Soraya, tapi kami memberinya izin secara tertulis untuk ikut mendukung Saur Sepuh demi pengembangan kariernya."

Padahal Imam Tantowi meminjam Fendy pada saat suting "Malam Satu Suro" masih belum rampung.  Kini menjelang "Saur Sepuh" melanjutkan suting ke Lampung, berbalik pihak Soraya yang ingin meminjam Fendy untuk film baru mereka "Ngepet Aji Pelebur Nyawa" (judul sementara) dengan peran utama wanita Suzanna dan Joice Erna.

Permintaan Soraya ini ditolak oleh Kanta mengingat lokasi suting yang sangat berjauhan. Apalagi seusai suting "Saur Sepuh" episode pertama akan langsung dilanjutkan dengan episode keduanya. 

"Memang benar saya pernah menandatangani surat kontrak pada Soraya, tapi saya tak menerima uang pengikat barang satu rupiahpun" mengakui Fendy Pradana yang di jumpai di studio "Saur Sepuh" di Cengkareng. 

Pasal rebutan bintang ini bisa di tambah lagi dengan kasus Hengky Tornando yang juga terlibat dua produksi bersamaan "Saur Sepuh" dan Kisah Anak-anak Adam" untuk lokasi suting di tempat yang sama di Pangandaran;

BOLEH DUA FILM

Kasus-kasus diatas seolah-olah menggambarkan para produser diadudomba oleh bintang-bintang laris. Sebenarnya kasus serupa sudah bukan merupakan hal baru dalam perfilman nasional. Bahkan pada masa jayanya Roy Marten, Yati Octavia atau Lydia Kandou, mereka biasa main rangkap empat lima judul berbarengan. 

Akibatnya terjadilah 'saling culik bintang' dari lokasi yang satu ke lokasi yang lainnya. Pimpinan unit harus lihai mengintip dimana saja sang bintang sedang bermain, begitu 'break' langsung di sabet, diboyong ke lokasi lain. 

Maka muncullah kebijaksanaan dari PARFI, "Seorang pemain utama hanya boleh bermain dalam dua judul film pada waktu yang sama".

Pada kenyataannya, bermain dalam dua judul yang di produksi oleh dua perusahaan film, tetap saja menimbulkan problema. Nampaknya peraturan itu perlu di tinjau kembali, karena bisa menjadi senjata bagi sang bintang. "Lha, organisasi kami saja mengizinkan untuk main dalam dua film berbarengan kok?! Mumpung ada kesempatan bagus, kapan lagi?! Sumber : Majalah Film NO. 057/25 tanggal 3 September - 16 September 1988


Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

HENDRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA !

 


HENRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA ! (berita lawas). Nasib memang penuh misteri, begitu juga garis kehidupan yang dialami aktor muda berbakat macam Henry Hendarto yang lagi laris ini. 

Pelakon di Kucing-kucing Hitam, jalan Makin Membara, Deru Debu, Jaka Sembung, Sinta dan Misteri, Rumahku Istanaku, Harta dan Nyawa dan masih banyak lagi, semasa kecilnya ambisi sekali ingin menjadi tentara. 

Untuk menggapai cita-citanya itu cowok keren ini mempersiapkan diri sejak SMP sudah dimulainya. Caranya. ia aktif di organisasi OSIS, ikut olahraga, renang, polo air, berlatih ilmu bela diri, Karate, Kungfu, Yoga dan berbagai aktivitas lainnya.

Pokoknya saat itu konsentrasinya hanya satu, yaitu masuk AKABRI. Maka di tempalah dirinya, bagaimana caranya supaya ia lolos seleksi. Niat itu tanpa kaya akan tercapai kalau saja pemuda yang murah senyum ini tak ada test ulang saat ia sudah melalui berbagai seleksi ke Magelang, tempat pusat pendidikan militer itu. 

Itulah yang disebut garis kehidupan alias nasib. Meski Henry yang datang dengan penuh percaya diri, justru gagal saat ia diharuskan test ulang psikotes yang sudah ditentukan itu. "Padahal saat masih di Jakarta , saya lulus begitu di test tentang psikotes. Itulah namanya nasib, siapa yang tahu," ujar Henry pasrah. 

berikut petikan wawancara dengan Henry Hendarto : 

Apakah Henry kecewa karena gagal jadi tentara? 

Kecewa sekali, karena persiapan yang saya lakukan begitu panjang dan matang. 

Anda sempat Frustasi? 

Alhamdulillah tidak, karena saya menyadari kalau manusia itu tidak selamanya berhasil dalam menggapai apa yang di cita-citakan. 

Apakah Anda tidak mencobanya sekali lagi?

Niat itu sebetulnya ada, Begitu saya koreksi ulang, langkah yagn saya lakukan saya pikir menjadi mundur. Akhirnya saya batalkan niat itu. Saya pilih untuk kuliah di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan TV. 

Mengapa bisa berubah 360 derajat dari cita-cita semula?

Kalau melihat seperti itu, memang keputusan yang saya ambil jauh berbeda. Alasan saya mengapa ingin kuliah di IKJ, karena saya punya feeling kalau jurusan yang saya pilih itu punya prospek bagus di masa akan datang. Sekedar tahu saja, saya bukan orang yagn suka mengekor kalau melakukan sesuatu termasuk dalam memilih sekolah. Misalnya belakangan ini orang ramai memilih kuliah jurusan perbankan, karena menjamurna Bank, saya malah berpikir jauh ke depan sesuai kebutuhan jaman. 

Maksudnya?

Artinya saya tidak ingin dunia menguasai saya, tapi harus dunia yang saya kuasai. 

Anda nampak cepat matang ya?

Dulu sifatku terbalik dengan sekarang. Maksudnya, dulu saya orangnya gampang marah dan emosian sekali hingga sering kali berkelahi!. 

Kenapa sifat emosi itu sulit diredam?

Mulanya saya ini anak yang penakut. Lantaran Papa yang mengajarkan saya harus berani hingga timbul niat tak mau mengalah terhadap semua orang. 

Kalau begitu Henry termasuk anak yang bandel juga ya?

Saya memang termasuk anak bandel. Bahkan waktu disekolah tepatnya di SMA 7 tempat saya bersekolah, dimana sering disebut bikin keributan. Kita semua pernah mendapat pengarahan dari Muspida yang dihadiri banyak wartawan. Ternyata dari pertemuan itu pula ada beberapa wartawan yang menawari saya untuk jadi model dan darisana pula dunia seni saya mulai. 

Selanjutnya bagaimana emosi itu akhirnya bisa hilang?

Emosi yang tinggi membuat saya jadi orang yang ringan tangan. nah, pada suatu hari begitu saya lagi berjalan bersama teman-teman, ada orang Ambon berbadan kekar yang terus memperhatikan saya. Melihat seperti itu, langsung saja darah muda saya naik hingga meng hajarnya sampai tak berkutik. 

Hati saya begitu terhenyut ketika tahu kalau dia memperhatikan saya. Sebab, katanya wajah saya mirip dengan kakaknya yang disebut Ambon putih. Peristiwa itu pula yang menyadarkan saya tidak selalu menggunakan power dalam bertindak. 

Saya mulai menyadari ternyata masih ada cara lain yang bisa kita kendalikan dengan memakai otak atau mulut kita tanpa harus dengan kekerasan. 

Pemberani dengan sesama jenis untuk selalu adu jotos, apakah dengan cewek kamu jagoan juga?

Wah, dengan wanita saya justru nggak PeDe. Makanya kalau saya suka dengan seorang wanita, saya tidak berani mengatakan cinta terlebih dahulu. Jadi jangan kaget kalau selama saya pacaran dengan wanita selalu dia yang menyatakan suka terlebih dahulu. 

Apa sebabnya hingga tidak PeDe sama wanita?

Takut di tolak saja. 

Jika diberi kesempaan hidup dua kali, Anda ingin jadi siapa?

Saya tetap ingin jadi Henry seperti sekarang. Karena saya bangga dengan diri saya sendiri. Makanya saya tetap ingin jadi diri sendiri. 

Bicara tentang karir di dunia seni, apakah diawalinya dari model?

Benar, dari model terus ke layar lebar dan baru ke layar kaca. 

Mengapa Anda sekarang lebih fokus pada layar kaca dari layar lebar?

Saya ingin serius di layar kaca saja. 

Rencana apa yagn ada di benak anda sekarang?

Setelah menekuni sebagai pemain, saya ingin juga mengembangkan karir menjadi sutradara. Mudah-mudahan saja niat itu terwujud suatu hari kelak. 

~sumber : MF 290/256/XIII/26 Juli - 8 Agustus 1997



Monday, June 15, 2026

"SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN"


 FILM "SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN" (berita lawas). Raviman Film sudah mulai memproduksi film ketiganya. Kembali di sutradarai Henky Solaiman berdasarkan cerita-skenario rekaan Asrul Sani. Bintang-bintang yang dipasang antara lain Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Firdha Razak, Wahab Abdi, Jajang C Noer,  dan sutradaranya sendiri ikutan pegang peranan juga. 

Judul semula "Sudah Dong" namun kemudian produsernya, manu Sukmajaya kaget sendiri manakala menyadari betapa banyak film Indonesia yang eblakangan ini pakai judul "dong-dongan". Coba saja lihat mulai "Gantian Dong", "Sabar Dulu Dong", "Antri Dong" sampai "Jangan Paksa Dong". "Wah penonton bisa kisruh nanti karena judul-judul tersebut serupa tapi tak sama," keluh Manu. 

Omong punya omong dengan beberapa relasi, akirnya ketemu juga judul baru yang dirasa lebih tepat "Kepingin Sih Kepingin". Namun judul ini nyaris di tolak pihak Deppen, dengan dalih asosiasinya ke arah yagn rada miring. Karuan saja Manu ngotot mempertahankannya. "Ceritanya tentang seseorang yang kepingin sukses dalam usaha banyak tapi tak kunjung berhasil, jadi ia cuma bisa kepingin sih kepingin. Pak Asrul sendiri sudah setuju denan judul ini."

"Terus terang ide ceritanya dari film komedi "Tootsie" (di bingangi Dustin Hoffman) yang belum lama ini ditayangkan di TVRI sebagai film cerita lepas", mengaku Manu. 

Kalau dalam film itu Hoffman harus menyamar jadi wanita agar memperoleh peran dalam sebuah serial televisi, maka sekarang Deddy Mizwar pun kudu menyaru jadi Mience supaya dapat pekerjaan. 

Saat suting di sebuah kantor dibilangan Pulo Gadung Jakarta Timur, terlihat Deddy Mizwar datang melamar pekerjaan kantor. Mula-mula ia diterima dengan baik oleh manager personalia yang idperankan oleh Henky Solaiman. Tapi manakala datang pelamar lain, seorang wanita yang berani menyingkapkan rok untuk memamerkan pahanya, sontak mata Henky 'hijau". Deddy tak jadi diterima bekerja, diganti cewek ini. Merasa sakit hari, esoknya Deddy datang lagi dengan memakai wig dan berdandan genit. Bukan cuma Henky yang matakeranjang, tapi sang boss Wahab Abdi pun langsung menerimanya. lalu apa yang terjadi selanjutnya? ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, June 14, 2026

CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA!

 


CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA! (berita lawas) Begitulah judul beritanya. Sudah pernah nonton Walet Merah? Tahu Nursiah? inilah pemerannya. Cewek Indo pemilik nama Luciaya Christine Terry ini mengaku kadung cinta terhadap film. Berbau klise memang, karena niatan main filmpun katanya sudah tersirat sejak usia kanak-kanak. 

Entah kenapa, kesempatan itu malah baru terwujud setelah usianya menjelang 17 tahun. Mengakunya karena belum tahu jalan, hingga ketemu Susan Aryani yang memperkenalkannya pada seorang sutradara. 

Baru tiga film dilakoninya sejak pertama kali tampil dalam film "Lenyapnya Ilmu Misteri". lainnya film "Cinta Yang berlabu" dan "Suromenggolo" garapan Dasri yacob. 

"Ya..daripada main-main nggak puguh (tidak karuan) lebih bik coba-coba main film, " kata Christine yang bungsu dari tiga bersaudara pasangan Terry Duloney asal Kanada dan Suminawaty berdarah Sunda yang lahir di Bandung 24 Desember 1973. Mungkin sudah takdir Christine tak kenal Papanya yang memutuskan kembali ke Kanada ketika ia berusia 8 bulan. 

"Katanya wakt itu mama nggak mau ikut ke Kanada, sedang papa juga nggak kembali lagi kemari, " kata Christine. Mungkin karena itulah masa remaja Christine sekarang ini sedikit labil ketimbang remaja sebayanya. Semacam Oedipus Complex, karena ia lebih menyukai laki-laki setengah baya daripada yang tergolong masih remaja. 

Itulah awal malapetaka baginya. Keinginan mendapatkan kasih sayang dari laki-laki selalu patah di tengah jalan. Lelaki dambaannya dengan figur seorang bapak ternyata telah beranak istri. 

Cinta selalu menyakitkan buat Christine, yang membuatnya nyaris menghabisi nyawanya sendiri dengan menyilet pergelangan tangan. 

"Frustasi berat deh. namanya juga cinta pertama, " akunya. Bahkan melihat bekas-bekas luka di pergelangan tangannya, sepertinya pernah kecanduan obat-obatan terlarang. 

Sadar akan kenyataan, upaya mendapatkan kasih sayang dari laki-laki yang kebapaan, selalu menimbulkan petaka, tapi pengalaman serupa masih tetap terulang. 

"Habis sukanya sama yang sudah dewasa sih. Kalau yang sebaya kayaknya gimana, gitu," kilahnya. 

Kembali ke soal film, Christine juga tidak tahu kenapa ia menyukai bidang yagn satu ini. memang ia akui di film ia dituntut lebih dewasa dalam segala hal. Karena itulah Christine mengharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bisa mengangkat namanya ke jenjang popularitas. 

Akan halnya ketika ikutan film "Suromenggolo" yang berlokasi di Gunung Bromo itu, banyak hal yang membuat Christine lebih mapan. Ya dalam kepribadian yang menyangkut pergaulan juga soal karier. Itu tentu karena bisa refreshing dan menjalin kekeluargaan dengan berbagai tipe dan perangai manusia. Kebetulan, kata Christine, perannnya cukup lumayan dan bukan figuran. Apalagi Dasri Yacob, sebagai sutradara sangat supel, penuh pengertian dan sabar dalam membimbing. 

Di Film yang satu ini, Christine berperan sebagai Putri Kuning. "Ada tantangan gitu, Putri kuning itukan nakal dan suka nyeleweng. Ya.. gitu deh..," katanya. 

Main buka bukaan dong?

"Iya sih, tapi nggak terlalu gimana-gimana kok. Cuma kesannya aja, " jelas Christine. 

Memang, Christine mengaku tidak terlalu banyak aturan untuk adegan yang cenderung mengundang birahi. Yang penting baginya, cerita dan perannya bagus serta nggak mengada ada. 

Kalau kelak mengundang kesan setelah film jadi, bagi Christine bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. "Terserah apa kata penonton. Yang penting bagi Christine, tidak melakukan dengan sebenarnya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Thursday, June 11, 2026

SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET


 SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET (berita lawas). Bintang cilik sering menjadi daya tarik utama sebuah film. Sebutlah dari Hollywood misalnya ada superstar-superstar cilik seperti Shirley Temple, Jackie Coogan, atau mark Lester. Dari perfilman Manadarin da Siao Pin Pin. 

Dari perfilman negeri kita pun dari masa ke masa bermunculan bintang-bintang cilik. Sebagian diantaranya setelah dewasa kembali berkecimpung main film. Sebutlah mulai dari Rano Karno, Ryan Hidayat dan tambah lagi Sandy Taroreh. 

Pada tahun 1984 saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sandy sudah diajak main film. TIdak tanggung-tanggung, perannya sebagai Sunan Kalijaga (tentu saja pada waktu masih anak-anak dan bernama Raden Sahid) dan Sunan Kalijaga dewasa diperankan oleh Deddy Mizwar. 

Selain "Sunan Kalijaga", tercatat Sandy juga pernah bermain dua  kali di bawah arahan Sophan Sophian. Yang pertama sebagai anak penari Bali (Marissa Haque) dari hubungannya dengan pria Jakarta (Frans Tumbuan) yang sebenarnya sudah beristri (Lenny Marlina) dalam film "Saat Saat Yang Indah" kalu yang kedua "Damai Kami Sepanjang Hari", dengan peran sebagai adik Iwan Fals yang yatim piatu. Sutradara lain yang pernah menanganinya , Hengky Solaiman dalam film "Neraca Kasih". 

Kemudian, karena mencapai masa peralihan usia, yakni bukan lagi anak-anak tapi juga masih belum remaja, maka Sandy pun bagai menghilang dari kesibukan berakting. Baru di tahun 1991, ia kembali diajak Sophan Sophian dalam film "Ketika Senyummu Hadir".

Sebagai pemeran seorang remaja masa kini, ternyata Sandy di pertemukan dengan Frans Tumbuan lagi yang tetap berperan sebagai ayahnya. Sedangkan peran ibunya kali ini digantikan leh Ratna Riantiarno. 

Digambarkan Sandy merupakan remaja teladan yang bukan saja serba pintar dalam segala pelajaran sekolahnya, tapi juga menjadi andalan regu basketnya. Adegan pertandingan basket dibuat dilapangan olahraga sebuah SMA kolese di Jakarta Selatan. Disinilah Sandy memperagakan kemahirannya menggiring dan meggoalkan bola ke keranjangnya. 

Sunggu diluar dugaaan siapa pun ketika kemudian terjadi peristiwa mengemparkan saat berlatih basket, kedua tangan Sandy tepat memegang sepasang buah dada Vivi Samodtro yang mulai tumbuh. 

Peristiwa di lapangan basket ini berkembang menjadi serius ketika Kepala Sekolah (Nani Widjaya) mengajukan pertanyaan, "Perbuatanmu ini disengaja atau tidak?" dan Sandy cuma menunduk bungkam tak mampu menjawab. 

Berlanjut dengan protes keras ayah Vivi (Fendy Sukowati) , tentang pendidikan seks yang baru di terapkan di SMA tersebut. Kontflik batin Sandy berlanjut karena ayahnya sendiri pun kebingungan menghadapi problema ini. 

Apalagi ketika kemudian teman-teman abang Vivi mengeroyok di jalanan. Untunglah, ia juga punya bekal ilmu bela diri karate. Untuk dimaklumi, Sandy memang benar-benar menguasai karate yang dilatihnya semenjak kecil. Maklumlah diantara kakaknya ada yang pernah menjadi karateka andalan nasional. 

Dapat diharapkan Sandy Taroreh bakal terorbit menjadi calon remaja idola sebagai pengganti bintang-bintang remaja yang kini kian meningkat usianya.  ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Monday, June 8, 2026

ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG

 


ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG, (berita lawas). "Tidak seluruh masa kecil saya indah. Seperti halnya manusia lain, pasti penuh dengan pengalaman asam garam. Sebab rasanya tidak berseni kalau hanya diisi oleh satu warna saja. Indah melulu atau sebaliknya, " ujar Achmad Albar yagn lebih akrab di panggil Yik. 

Masa kecil yang sulit dilupakannya adalah usia 10 tahun, ketika namanya sudah populer di masyarakat, gara-gara pada usia 8 tahun membintangi  film Jendral Kancil yang disutradarai Nya' Abbas Akup. Namun Yik menolak kalau peran utamanya pada film tersebut disangkutpautkan dengan ayahnya sebagai produser film. "Sama sekali tidak. Saya lolos test dari ratusan anak lainnya yang melamar," gelaknya, yang juga menjelaskan, bahwa saat itu juga sudah bermain musik di kelompok Bintang Remaja dan kemudian pindah ke grup Kwarta Nada yang penyanyi serta personil musiknya adalah Titi Qadarsih dan kakak-kakaknya dari keluarga Sarjan. 

Selanjutnya, Yik pada tahun 1967 seusai menamatkan SLA, berangkat ke Belanda dan sekolah musik di Bergen of Zonn. Di negeri kincir angin itu, ia mendirikan grup band dengan Ludwig Le Mans dan pakai nama Clove Leaf (Daun Cengkeh). "Sesuai dengan kelopak cengkeh 5 buah, jumlah pemain kitapun begitu," beber Yik, yang setelah kembali ke Indonesia bersama Ian Antono, Yockie Suryoprayogo, Teddy Sunjaya dan Donny Fatah tetap meracik musik rock membentuk kelompok God Bless. 

Kecintaannya pada dunia akting tetap tidak ditinggalkan, ujar rocker yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946. Beberapa peran dimainkan lewat film "Laki Laki Pilihan", Ambisi, Laela Majenun, Si Doel Anak MOdern, Duo Kribo, dan masih banyak lagi film lainnya. 

Berkat film Laela Majenun yang dibintanginya dengan Rini S Bono tahun 1975, keduanya menjadi intim dan melangsungkan pernikahan pada tahun 1978.

Sebagai pasangan suami istri dengan profesi sama, segudang pengalaman dalam karier tentu bisa diterapkan kepada ke3 putranya, Fauzy Aldino (13 th), Fakhri Albar (10 th), dan Faldi Albar (9 tahun). Seperti halnya yang sulung, Fauzy, dia senagn bidang nyanyi dan siap rekaman dengan penata musik Harry Anggoman," jelasnya. 

Lalu ada taktik lain yang dilancarkan pemilik boutique Albara Collection serta vokalis kelompok musik Gong 2000 dalam mendidik putranya yang memilih jalur seni. "Berhubung saja tahu mana ranjau-ranjau berbahaya yang tidak boleh di jelajah oleh seorang artis, maka setidaknya hal ii diberitahukan kepada anak-anak saya, " tuturnya hati-hati. ~sumber : MF No. 146/113/TH VIII, 1 - 14 Feb 1992


Saturday, June 6, 2026

LUPUS V, Menjawab Keharusan

 


LUPUS V, Menjawab Keharusan  (film lawas). Mengefektifkan hari kerja dalam upaya menekan pembengkakan biaya produksi, atau kalau bisa tidak melampaui anggaran yang disediakan merupakan suatu keharusan. Penghematan, adalah alasan yagn selalu dilontarkan pihak produser. 

Keharusan itu rupanya disadari benar oleh sutradara yang mendapatkan job. Sebagai contoh, misalnya Yasman Yazid yang baru menyelesaikan suting film Lenong Rumpi. Dalam menggarap film, terbarunya itu, Yasman berhasil menekan hari sutingnya, selesai hanya dalam 14 hari. Baginya ini adalah rekor tercepat dalam menyutradarai film cerita. 

Achiel Nasrun, salah seorang sutradara yagn juga tergolong cekatan berusaha pula menjawab keharusan tersebut. Itu ia buktikan dengan menyelesaikan suting Lupus V lebih dini dari jadwal yang  ditentukan. 

Penyelesaian Lupus V yang tetap dibintangi Ryan Hidayat dan Firda Razak sebagai bintang utama. Memang tidak secepat Lenong Rumpi. Soalnya kalau Lenong Rumpi 80% lokasinya dalam rumah, sedangkan Lupus V banyak lokasi eksterior. "Namun yang jelas, kami sudah bisa menyelesaikan lebih awal" kata Achiel tanpa merinci hari sutingnya. 

Masih dalam upaya pengeluaran biaya ringan, serial Lupus V menampilkan Pak Tile, Diah Permatasari, Minel, dan Conny Nurlita serta Anwar Fuadi, biaya produksi di pikul ramai-ramai oleh tiga produser yaitu Anton Indracaya, Rames dan Johny Pandega. Serial sebelumnya hanya di produksi PT. Andalas Kencana. 

Keterlibata Lia Swatika Film dan Pancaran Indra Cine, konon sebagai penyandang dana lebih besar dari produser pertama. Tentang hal ini, semua pihak tidak mau membeberkan alasannya. Diperkirakan film yang bertema remaja itu akan masuk pasarang jelang akhir tahun 1991 dan menyambut Tahun baru 1992.  ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Thursday, June 4, 2026

KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS


 KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS (film lawas). Kisah pelindung suaka margasatwa yang harus berhadapan dengan pemuru liar pengincar gading gajah, sudah pernah di filmkan pada tahun 1962 oleh Howard Hawks dengan judul "Hatari!" (dari bahasa suku Swahili yang berarti "Bahaya!") yang menampilkan akrot-aktris populer seperti John Wayne, Elsa Martinelli, Red Buttons, Hardy Kruger, dan Bruce Cabot. Film yang benar-benar dibuat dilokasi suaka margasatwa Tanganyika, Afrika ini memadukan aksi-petualangan dan komedi secara sangat menarik. Sampai sekarangpun, musik instrumentalnya "Baby Elephant Walk", garapan Henry ancini masih sering disiulkan orang. 

Kendati ide cerita dari Pemda Tingkat I Lampung dan PT. Inter Ksatrya Film yang dituliskan menjadi skenario oleh Teguh Karya dan difilmkan dengan judul "CINTAKU DI WAY KAMBAS" oleh sutradara pemula Iwan Wahab ini, tak bisa dibilang sebagai jiplakan, namun rasanya tetap ada pengaruh dari kesuksesan "Hatari!" tersebut. 

Di bintang utamai oleh Mathias Muchus sebagai Jaru, si pelatih gajah Ira Wibowo sebagai Mega, Perally merangkap wartawan, dan Rini S Bono memerankan si Drh, Intan. Di dukung oleh pemain-pemain Harry Capri, WD Mochtar, Chitra Dewi, Nani Somanegara, Bram Adrianto serta Krisno Bossa yang kocak-konyol sebagai pembantu pelatih gajah. 

Pertemuan pertama antara Mega dan Jaru terjadi diatas kapal Ferry dari Merak ke Lampung. Mega dan Diana mendaftarkan diri sebagai peserta rally mobil. Namun perjalanan mereka terhambat oleh amukan gajah liar yang memporakporandakan sebuah perkampungan. 

Jaru menyelamatkan Mega dan Diana yang nyaris diterjang gajah liar. Batal ikut rally, Mega yang demam panas dirawat Jaru di Pusat Latihan Gajah di Way kambas. 

Kalau semula Mega memandang Jaru sebagai lelaki kasar yang pernah dilihatnya "menyiksa" gajah, perlahan-lahan ia mulai memahami. Jaru dan kawan-kawannya sebenarnya mengemban tugas luhur dan penuh tantangan untuk memasyarakatkan gajah dalam kehidupan manusia, bahkan melindungi mereka dari ancaman pemburu liar yang mengincar gadingnya. 

Mega menyibukkan diri dengan memotret seluruh kegianan Jaru. ia tak mengikuti Diana yang pulang ke Jakarta, agar bisa lebih jauh mendokumentasikan romantika kehidupan para pelatih gajah. Sementara benih cinta mulai tumbuh dihatinya. 

Padahal ada Drh. Intan yang tengah membaktikan dirinya di PLG ini. Kecantikan dan kelembutannya membuat Jaru diam-diam mencintainya. Namun ia tak pernah berani mencetuskannya. Sesungguhnya Intan memang telah bersuamikan Budi. Tapi pengusaha muda dari Jakarta ini, pernah dipergokinya menyeleweng, berpacaran dengan Hilda. Peristiwa inilah yang membuat Intan meninggalkan rumah dan kedua anaknya. 

Konflik terjadi ketika Budi menyusul datang. Intan berkeras tak mau diajak pulang. Jaru yang berusaha melerai malah membakar kecemburuan Budi hingga menghajarnya. Anehnya polisi setempat membiarkan Budi kabur begitu saja. 

Sekarang berbalik, Mega yang merawat Jaru. Pemuda inipun mengakui dirinya lebih paham tentang gajah daripada perempuan. Tapi tak tahukah Jaru akan kasih Mega terhadapnya? Ataukah ia mengharapkan agar Intan bercerai dari Budi?Diseling dengan adegan penangkapan pembajak gading yang diorganisir, akhirnya Jarupun menemukan cinta sejatinya. pesta perkawinan Jaru pun dimeriahkan oleh pertunjukkan gajah-gajah main sepakbola. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


Wednesday, June 3, 2026

JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT"

 


JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT" (film lawas). Ada sutradara  yang seolah mengkhususkan diri hanya menggarap film-film bertema drama, ada pula yang spesial pengarah komedi, tapi Sisworo Gautama Putra nampaknya lebih memilih untuk bikin film-film bertema horor-mistik. 

Begitu pula halnya dengan bintang langganannya, Suzanna, sejak sukses diarahkannya lewat "Sundelbolong" sampai sekarang telah bermain dalam belasan judul film dengan tema serupa. Belakangan ini, hampir semua film arahan Sisworo dan juga dibintangi Suzanna di produksi oleh PT. Soraya Intercine Film. 

Produsernya Raam Soraya memang punya dua tema film yang dijamin kelarisannya dalam peredaran. Yang pertama, serial komediannya Warkop dan yang kedua serial horornya Suzanna, "Rata-rata produksi kami berhasil mengumpulkan diatas 300ribu penonotn untuk bioskop-bioskop di Jakarta saja!" berbangga Raam sambil menunjuk bukti autentik dari catatan P.T. Perfin. 

Kali ini, Raam dan Soraya menjajal mempertemukan  Suzanna dengan Elly Ermawatie , bintang yang melejit lewat peran Mantili dalam serial "Saur Sepuh". Kalau Suzanna tetap memerankan tokoh wanita yang kemasukan arwah, bahkan jari tangannya bisa berubah menjadi pisau-pisau runcing ala iblis Freddy Krueger dalam serial horor "A Nightmare on Elm Street?. Sebaliknya Elly diserahi peran sebagai guru pesantren yang sakti. 

Kedua pemeran utama tersebut di dukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi, antaranya Yenny Farida, TIno Karno, Soendjoto Adibroto dan Clift Sangra. 

Cerita diawali dengan diangkatnya Hendro yang punya reputasi kerja gemilang, menjadi Pimpinan Proyek. Sekaligus ia menggantikan kedudukan. Burhan yang diturunkan jabatannya menjadi wakil pimpinan. 

Kedengkian Burhan kian menjadi, demi melihat Presdir Perusahaan juga menghadiahkan pada Hendro sebuah rumah besar plus berlibur bersama seluruh keluarga di Swiss. 

Dibakar rasa sirik, Burhan diam-diam menghubungi kawanan Teddy, manusia-manusia tak bermoral yang bersedia melakukan apa saja asalkan dibayar. Burhan menginstrusikan Teddy cs untuk melenyapkan Hendro yang dituduhnya telah merebut jabatannya. 

Maka pada malam, sepulang dari serah terima jabatan itulah, rumah Hendro disatroni kawanan Teddy. Dengan kebuasan tak kepalang, bukan saja Hendro yang di habisi, tapi juga isterinya, Kartika, serta putera puteri mereka, Dina dan Dino yang masih kecil-kecil. 

Berbarengan dengan berlalunya kawanan Teddy dari rumah berdarah itu, tanpa terlihat oleh mata telanjang, terjadi suatu peristiwa gaib. Jasad Kartika disusupi arwah gentayangan seorang bromocorah yang semasa hidupnya telah melakukan serangkaian pembunuhan sadis. 

Maka, pada saat-saat angker, muncullah sosok Kartika yagn menghantui penghuni baru bekas rumahnya. Demi desas desus ini didengar oleh Burhan. Iapun memanggil kembali kawanan Teddy. Di kutuknya mereka yang telah begitu kejam menghabisi nyawa seluruh keluarga, bahkan yang hendak disingkirkannya hanya Hendro seorang saja. 

Sosok Kartika yang ditunggangi arwah bromocorah mulai berkeliaran mencari orang-orang yang mencelakainya. Satu persatu anak buah Teddy, dimulai dari Mario, Petrus, Vivi sampai Tino menemui kematian mengenaskan dengan  berbagai macam cara. Sesudah Teddy sendiri juga tewas secara mengerikan, tinggallah Burhan sebagai otak kejahatan yang diteror ketakutan sendiri. 

Kejadian-kejadian menggemparkan yang sulit dijelaskan dengan logika ini, menarik perhatian Fitria, guru pesantren yang mendalami ilmu supernatural. Dengan kewaskitaannya, Fitria bisa mengetahui kalau jasad kartika ditunggangi arwah jahat. Maka dengan cara-cara khusus ia ingin membebaskan Kartika. 

Dalam pada itu, Letnan Polisi Hartono juga sibuk melacak serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi. Kendati Fitria dan Hartono menggunakan metode masing-masing yang sangat berbeda, namun akhirnya bersama-sama berhasil mengungkapkan semua rahasia. 

Melalui pertarungan seru dengan Kartika, akhirnya Fitria yang melafalkan ayat-ayat suci berhasil mengusir arwah gentayangan si bromocorah. Jasad Kartika yang terkulai, dikebumikan secara sewajarnya. Bersamaan, Hartono pun membekuk Burhan sang otak kejahatan.~~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


LENONG RUMPI!

 


LENONG RUMPI! (film lawas). Lenong, Kesenian tradisional Betawi seakan-akan identik dengan ciri khas : Pemain patuh menggunakan dialek Betawi, berwajah kumal dan tampang "kampungan".

Sebagai kesenian tradisional, nasibnya tidak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lainnya, dijauhi penggemar. Karena itu, tidaklah heran bila kehidupan grup lenong yang adapun bernafas Senen-Kemis. 

Dengan niat mengangkat dan mempopulerkan kembali Lenong, RCTI menyajikan acara daegelan kocak Lenong Rumpi. Lenong yang satu ini berbeda dengan lenong yang selama ini kita kenal. 

Lenong Rumpi mencoba melepaskan diri dari pakem, mengungkap tema cerita yang aktual dan yagn paling mencolok para pemainnya berwajah kece. 

Dan ternyata, acara yang ditayangkan RCTI tiap malam Minggu mencapai sasaran. Mulai anak-anak kecil sampai orang tua menggemarinya. 

Karena digandrungi masyarakat, maka produser film pun ikut gambling untuk mencari keuntungan. Adalah Parkit Film yang mengangkatnya ke layar perak.

Latah? mungkin saja ada yang bilang demikian. Sang cukong cuma bilang, "kita kan ingin ikut mempopulerkan". Maksudnya lanjut produse itu, mempopulerkan lewat bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kalau RCTI kan hanya terbatas di daerah Jabotabek atau mereka yang punya parabola, " katanya beri alasan. 

Yasman Yazid, sutradara yang mendapat kepercayaan menggarap film tersebut, mengatakan "Sekarang ini, untuk membuat film drama memang agak riskan. Pemasarannya kurang menguntungkan. Mungkin itu sebabnya produser memproduksi yang ringan-ringan saja."

Yasman Yazid pun mengaku sudah agak lama rindu menggarap tema drama, tapi, ia mau mengerti keadaan sekarang. "Birunya biru yang sudah lama siap, terpaksa harus  menunggu lagi. Dan entah sampai kapan harus menunggu. Yang jelas kita mesti s harus bersabar dulu!" Tegasnya mencoba mengerti keadaan.

Tentang film terbarunya, Lenong Rumpi yang tetap dibintangi pemain aslinya : Ira Wibowo, Roby Tumewu, Debby Sahertian, Harry De Fretes, dan Era Gloria, sutradara yang cukup lama ngendon di Parkit Film itu, mengakui cerita yang ditampilkannya adalah cerita ringan. "Namanya film komedi, kalau ceritanya berat, jadi film drama!" kata Yasman memberi alasan. 

Lalu, lanjutnya sebagai Lenong, kewajibannya yang tak ditinggalkan adalah dialek Betawinya. Cerita yang diangkat Yasman adalah tentang mahasiswa yang berasal dari daerah : Padang, Manado, Majalengka yang kuliah di Jakarta. Karena dari daerah, maka mereka harus mencari tempat kos. Dan tentu saja mereka mencari kos-kosan yang murah. 

Adalah mpok Hamida, Bang Maruloh yagn menyediakan kos-kosan murah itu. Cuma ada kewajiban. Siapapun yang kos dirumah pasangan suami-istri yang Betawi asli itu, diharuskan menggunakan dialek Betawi. Maksudnya, tentu saja agar para mahasiswa atau kalangan intelektual mau mempertahankan salah satu budaya bangsanya dan menyebarluaskan kesenian Betawi. 

Persyaratan menggunakan dialog Betawi, bagi mereka yang berasal dari daerah, memang agak merepotkan. Hanya bayar kosnya murah, merekapun menerima persyaratan tersebut. 

"Disinilah saya menggarap komedinya!" jelas Yasman. Lenong Rumpi beredar akhir tahun 1991 untuk menyambut tahun baru 1992. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991



ONKY-MITHA CINTA LOKASI

 


ONKY-MITHA CINTA LOKASI (kisah lawas). CINLOK- Cinta Lokasi? Paramitha Rusady dengan Onky Alexander terlihat intim saat suting film Catatan Si Boy V garapan Nasri Cheppy. Sikap itu 'mekar' ketika di Las Vegas, Amerika Serikat. Tiga bulan adalah waktu yang panjang untuk saling menjajaki, seiring panjangnya hari suting. 

Keduanya, menyembunyikan benang kasih itu dihadapan kru film, namun tercium juga,  Sebab di sela berak suting, mereka selalu menghindar dari yang lain. Sepulang dari luar negeri keduanya semakin intim. 

Disinggung tentang cinta itu, Onky dan Mitha mencoba menepis. Alasannya mereka sengaja melakukan pendekatan untuk mengekspresikan peran. "Yah itu terserah penilaian orang. Saya memang belum punya pendamping, semua itu tergantung Allah," kata Mitha pelan. Onky pun mengatakan hbungannya dengan Paramitha biasa-biasa saja. 

"Ia melakukan pendekatan untuk mencari ekspresi perannya di film Cabo V" katanya sambil melirik Paramitha. Selanjutnya Onky menjelaskan sesama artis selayaknya berkomunikasi. 

"Saya pasrah jika Allah menghendaki. Tul nggak mas?" cetus Onky tersenyum dan kembali melirik Paramitha yang berdiri disampingnya. 

"Kawin itu untuk selamanya. Buat saya nggak usah tergesa-gesa. Yang penting saya siap mental dalam segala-galanya", jelas Mitha mengakhiri Obrolan. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Tuesday, June 2, 2026

NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON

 


NASRI CHEPPY : CATATAN SI BOY 4, TANPA EMON (berita lawas). Emon, ben cong bertubuh gempal itu memang identik dengan Didi Petet, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tokoh itu mencuat setelah sukses komersial Catatan Si Boy (Cabo) yang di sutradarai Nasri Cheppy. 

Sukses Cabo I yang mengatrol nama Onky Alexander menjadi idola kaum remaja dan Didi Petet kepuncak prestasi dengan memperoleh piala Citra, meski lewat film lain, mampu pula mengusik sanubari sang produser untuk memproduksi serial berikutnya. 

Cheppy kini jadi sutradara kondang. Didi Petet akirnya jadi rebutan para produser dan Onky tetap jadi idola kaum remaja. Mereka boleh bangga, karena secara finansial, juga mereguk sukses. 

Konon kabarnya, mereka termasuk orang-orang film "termahal" saat ini (itu). Selentingan, Cheppy honornya mencapai 40 juta, Didi Petet tak jauh berbeda dengan Onky hanya sedikit dibawah Petet. 

Meski ketiganya merupakan personal inti, selain Meriam Bellina dalam Cabonya Cheppy, namun dalam Cabo IV yang jadi giliran Parkit Film yang memproduksinya, Emon yang kemudian jadi Si Kabayan, tak lagi terlibat. 

Tekad Emon untuk melepaskan diri dari Didi Petet memang telah bulat. Kabarnya, dibayar berapapun besarnya, Didi Petet tak mau lagi memerankan tokoh Emon. Apakah ini bukan hanya sekedar taktik dagang? "Entahlah, itu rahasia Petet dan produser film kita."

Lalu, siapa pengganti Emon dalam Cabo IV? Penggantinya memang ada. Tapi, kata Cheppy tokoh Emon tak lagi mau dimunculkan, " jadi yang di ganti Didi Petet, sekaligus Emon!", tegasnya. 

Nah lho, mampukah si pendatang baru itu mengisi kekosongan yang ditinggal Petet untuk selama-lamanya? "Saya akan mencobanya seperti ketika saya juga mencoba Onky , Didi Petet di awal kisah petualangan. Si Boy di layar perak ini, " jelas Cheppy. 

Tentang Cabonya yang menurut rencana akan di produksi sampai 8 serial, Cheppy bilang "Saya akan tetap berusaha menampilkan Cabo. Cabo itu agar tetap menarik. Hilang Didi Petet dan Zainal Abidin, muncul dua nama pemain tenar lainnya, Paramitha Rusady dan Robert Syarief , ayah Dewi Yull dalam serial sinetron Sartika. Pokoknya saya akan tetap berusaha memberikan kepuasan kepada penggemar Cabo!".

Ia juga bilang, Cabo IV tidak akan berhura hura keluar negeri seperti Cabo II yang sampai LA. "Kali ini , Si Boy hanya akan sampai ke Bali saja!" jelas Cheppy. Lalu apakah kesan Wah, yang selama ini telah melekat pada diri Onky setelah dari luar negeri tidak akan drop?.

Cheppy menyadari hal itu, tapi ia juga berjanji akan berusaha memberikan suguhan lain yang lebih menarik. Meski adanya hanya di dalam negeri, Jalinan dan bobot cerita, katanya akan lebih di perhatikan. "Saya akan menyuguhkan adegan yang lebih mempunyai greget, !" janjinya. 

Suting pertama mengambil lokasi di sebuah rumah tua didaerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Suting di Jakarta, kata Cheppy hanya sekitar 40 persen, selebihnya di Bali. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Monday, June 1, 2026

TUTUR TINULAR, REBUTAN PEDANG NAGA PUSPA

 


TUTUR TINULAR, REBUTAN PEDANG NAGA PUSPA, (berita lawas). Setelah serial "Saur Sepuh" inilah serial sandiwara radio berikutnya yang difilmkan secara kolosal oleh PT. Kanta Indah Film. Skenarionya ditulis langsung oleh pengarangnya sendiri, S Tidjab. Penyutradaraan ditangani Nurhadie Irawan (yang berpengalaman lewat film kolosalnya Rhoma Irama, Satria Bergitar", kamera diarahkan oleh WIlliam Samara (setelah debutnya dalam "Tragedi Bintaro"

Tokoh pendekar mua Arya Kamandanu yang di radio dibawakan Ferry Fadly digantikan oleh pesilat Benny G Rahardja. Mei Shin diperankan oleh Elly Ermawatie yang juga merangkap sebagai Produser Pelaksana, Sedangkan pendeka dari Mongolia, Lou Shi Shan, dpeirankan juara Karate asal Bandung, Lamting. Bintang karateka lainnya, Yoseph Hungan berperan sebagai Mpu Ranubaya. Lalu Baron Hermanto jadi Arya Dwipangga. Dan memperkenalkan Putri Solo Okky Irwina Savitri sebagai si jelita Nari Ratih. 

Ikutan meramaikan Raden Mochtar, Bram Adrianto, Atut Agustinanto, Aspar Paturusi, Dyah Permatasari serta ratusan pendukung lainnya. 

Episode "Pedang Naga Puspa" mengungkapkan asal usul para tokoh serta pusaka yang diperebutkan oleh kalangan persilatan. Konon menjelang runtuhnya kerajaan Singasari pada abat ke XIII, termasyurlah nama Mpu Hanggareksa sebagai ahli pembuat senjata ampuh . 

Dua puteranya, Arya Dwipangga dan Arya Kamandanu bersaing memperebutkan cinta bunga desa Nari Ratih. Rayuan Dwipangga membuatnya berhasil menghamili Nari Ratih. Kamandanu yang patah hati memilih berkelana. 

Pecah konflik antara Prabu Kertanegara dengan Kubilai Khan. Utusan Khan diiris telinganya. Sebagai pembalasan sang utusan menculik Mpu Ranubaya, kakak seperguruan Hanggareksa. Di Mongolia, Khan menitahkan sang Mpu untuk menempa pedang pusaka. 

Syahdan, Kertanegara di bunuh Jayakatwang yang kemudian mendirikan Kediri. Bertepatan datanglah Panglima Lou dan isterinya, pendekar Mei Shin membawa "Liong Hoa Pokiam" (Pedang pusaka Naga Puspa) serta amanat Mpu Ranubaya. Terjadi kesalahpahaman, apalagi ketika para pendekar dari golongan hitam ramai-ramai mengeroyok Lou untuk merebut pusaka tersebut. 

Nasib malang menimpa Lou. Mei Shin bersumpah menuntut balas. Lalu bagaimana sampai terjalin percintaan antara Mei Shin dengan Kamandanu, pewaris sah pedang Naga Puspa?

Bersabarlah untuk menantikan episode berikutnya dari film silat ang adegan-adegan tarung antara pendekarnya digarap lebih dasyat  dari film-film sejenis sebelumnya, apalagi dilengkapi sistem suara Ultra Stereo! "TUTUR TINULAR" beredar serentak di bioskop-bioskop pilihan di seluruh kota besar mulai 28 Juni 1990. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA


 JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA (suting film). Firman Triyadi, sutradara anyar jebolan LPKJ, yang dipilih oleh duo produser Budiati Abiyoga-Adi Putra Tahir untuk produksi bersama PT. Prasidi Teta Film dan PT. Mutiara Eranusa Film yang berjudul "Jawara Jawara".

Kendati baru untuk pertama kalinya menyutradarai , namun dengan modal ketrampilan dan kesungguhan kerjanya, Triyadi bersama krunya berhasil merampungkan suting cuma dalam tempo tiga minggu saja. 

"Hampir seluruh pemain berasal dari TIM, mulai dari Eeng Saptahadi, sampai ke Joseph Ginting, sedangkan bintang filmnya antara lain Dewi Yull dan Ayu Azhari, " jelas sang sutradara yang memilih lokasi daerah-daerah pinggiran jakarta seperti Pondok Cina. 

Jangan terkecoh judulnya, mengira film ini sebuah film silat seperti "Si Jampang" atau "Si Gobang" karena sesungguhnya "Jawara Jawara" adalah sebuah komedi dengan setting lokasi di Batavia pada era 1942-1944.

"Tokoh-tokoh utama cerita adalah anak-anak muda dari sebuah desa di Betawi tempo doeloe. Sebagai anak muda mereka masih bersikap sok jago, padahal sih ilmunya masih cetek. Ada yang petantang petenteng menganggap diri sendiri sebagai jawara ulung. Ada yang ikut latihan militer di markas Dai Nippon kemana-mana berseragam militer menyandang pedang panjang, " ungkap Eeng yang dipertemukan lagi dengan Dewi Yull setelah dulu bermain sebagai pasangan suami istri Jarot-Sri dalam drama serial televisi "Losmen".

Menurut catatan sejarah, bala tentara Dai Nippon menyerbu Batavia pada 5 Maret 1942. Saking ketakutannya, tentara kerajaan Belanda kabur lintang pukang ke selatan. Kekalutan melanda sampai ke kampung-kampung. 

Tiga anak muda, Sayuti, Komar dan Malik bersaing. Ada lagi Nonon si penari Topeng dan Tikah, gadis desa yang naksir Sayuti. Namun pada akhirnya semua bersatu padu untuk merebut senjata dari tangan Jepang. 

"Betapapun tengil dan soknya sikap mereka, namun semangat kebangsaan untuk memerdekakan tanah air sudah tertanam dalam jiwa mreka, " ujar Triyadi tentang tokoh-tokoh cerita rekaannya ini. 

"Seluruh prosessing film ini dikerjakan di dalam negeri," lanjut Budiati. "Dan kami harapkan film yang keseluruhannya di kerjakan oleh anak muda ini bisa memenuhi selera masyarakat akan film komedi yang cukup bermutu serta lain dari komedi-komedi yang sekarang banyak dibuat produser lain. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*setelah film jadi judulnya berganti menjadi "Jawara Sok Kota"

Sunday, May 31, 2026

AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL?

 


AMI PRIYONO, SUTRADARA KOK JADI GEMBEL? (berita lawas). Ami Priyono memajang nama lengkapnya , Ki Dalang Lembu Amiluhur Priyawardhana Priyono, dalam credit title Film Terbaik FFI 1978 "Jakarta Jakarta". Lewat film yang menggondol lima Piala Citra ini pula Ami dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. 

Namun ternyata Ami yagn memulai debut penyutradaraan pada tahun 1974 lewat drama horor "Dewi". (Sayang sekali film yang dibintang"Jodoh Boleh Diatur", komedinya Warkop Dono-Kasino-Indro yang diilhami fim komedi sukses Amerika "Three Men and a Baby".

Sampai sekarang sudah lewat dua tahun belum juga Ami memulai penggarapan film terbarunya. Padahal ia sudah bersepakat dengan Ferry Angriawan, produser PT. Virgo Putra Film untuk bikin sebuah film drama. 

"Syarat terpenting untuk keberhasilan suatu film adalah kerjasama dan pengertian antara sutradara dengan produsernya, " begitu prinsip Ami yang juga menganut pahan "Alon Alon Asal Kelakon". Itu sebabnya Ferry juga tak pernah mendesaknya untuk segera memulai. 

Bahkan belakangan tahu-tahu tersiar kabar Ami jadi gembel yang bergelandangan di kawasan kumuh. Dengan jenggot dan rambut gondrongnya yang kusut masai, busana lutah lutuh, wajah muram, terlihat ia menggigil demam di kaki patung Pak Tani, silang Menteng jakarta Pusat. 

Tepat saat itu lewat mobil mewah Baby Benz yang dikendarai Nani Vidya. Spontan Nani menjerit "Eyang!". Berlari turun dari mobil untuk memeluk dan kemudian memapah Ami ke Rumah Sakit. 

Tentu saja ini cuma adegan dalam film yang berjudul "Cas Cis Cus" arahan perdana Putu Widjaya. Rupanya Ami tertarik dengan tokoh kakek yang minggat dari rumahnya karena anak-anaknya tak lagi memperhatikannya, malah memandangnya sebagai semacam barang rongsokan yang tak berguna lagi. Namun kekerasan hati lelaki tua ini akhirnya luluh juga ketika cucunya membawa buyut yang masih bayi mungil. 

Memang, Daripada menyutradarai, sekarang Ami lebih sering jadi pelakon. Bisa dilihat misalnya sebagai ayah Onky Alexander yang kepergok nyeleweng dengan sekretarisnya di Ancol dalam  "Namaku Joe" atau jadi duda kaya raya ayah Donny Damara dalam Ketika Cinta Telah berlalu. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Friday, May 29, 2026

SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA"


 SILAT KLASIK DENGAN "PEDANG NAGA PASA" (berita lawas). Virgo dengan Si Gobang, Kanta Indah dengan Saur Sepuhnya, Parkit  dengan Jaringan Terlarang, Firman Mercu Alam dengan Misteri dari Gunung Merapi dan Rapi Film pun memproduksi Pedang Nagapasa.

Dari sekian banyak tema action yagn di produksi, jenis action modern yang juga paling mendominir. Soal mobil tabrak-tabrakan, dar der dor dan yang silatpun silat modern, Kungfu, karate, taekwondo, mungkin juga campuran dari aliran tersebut. 

Dari silat tradisional atau silat klasik, yang jumlahnya hanya beberapa gelintir, Pedang Nagapasa masuk dalam daftar. Film yang baru saja di selesaikan sutingnya ini, memang sengaja untuk mengisi kekosongan silat klasik, yang sebenarnya merupakan salah satu kebudayaan bangsa kita. 

Slamet Riyadi sang sutradara dibantu pengarah kelahi atau istilah kerennya fighting instruktur dari salah seorang p ersonil Wayang orang Bharata, terpaksa harus kerja hati-hati untuk memperoleh ciri khas klasik yang diinginkan. Hasilnya? Film itu kini memang belum tuntas. Minggu ini baru mulai isi suara. Namun pihak produser, baru melihat gambarnya saja, tak merasa kecewa. "Saya mengharapkan , film ini akan memperoleh sambutan hangat dari masyarakat!", Tukas Gope Samtani sang produser. 

Harapan Gope didasarkan pada kenyataan, dimana film-film yang menampikan silat klasik, cukup digemari masyarakat. Contohnya, Misteri Dari Gunung Merapi maupun Saur sepuh. Ia mengakui, kedua film tersebut memang ceritanya telah populer lewat sandiwara radio. Namun Pedang Nagapasa yang kata Samtani akan jadi sandiwara teve, walau entah kapan disiarkan, cukup menarik. 

Sebagai pemain andalan dalam film ini yang menghabiskan bahan baku hampir 100 can itu antara lain : Advent Bangun, Anneke Putri, Baron Hermanto, Alba Fuad, Devi Sabah, Erick Soemadinata, dan ratusan pemain lainnya. Ditambah lagi puluhan kuda ikut membuat  gambaran kolosalnya film tersebut.~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990 

Thursday, May 28, 2026

UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT

 


UCI BING SLAMET, BUNGA DESA CABE RAWIT (berita lawas). Dari tujuh keturunan seniman besar serba bisa Bing Slamet, hanya tiga yang bungsu yang melejit sebagai artis, baik dalam film maupun musik. Yang pertama adalah anak ke lima. Waktu dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 16 April 1961 diberi nama Ratna Lucyana. 

Sejak kecil sudah terbiasa dengan panggilan kesayangan Uci. Ya sudah terbawa terus sampai besar. Dengan tubuh yang mungil dan wajah sendu innocent, Uci mulai merintis karier sebagai penyanyi. 

Tapi, tentu saja kemudian terseret main film juga. Waktu pertama tampil dalam "Dr. Karmila" , Produser Manu Sukmajaya memujinya sebagai pemirip Jenny Rachman. Pernah pula berpasangan dengan Rano Karno dalam " Tom & Jerry". Sesudah itu absen cukup lama karena 'kecelakaan'.

Baru kemudian, Uci mulai berkiprah kembali. Secara beruntun ia tampil dalam "Kamus Cinta Sang Primadona", "Pengakuan", "Semua Sayang Kamu" dan terakhir "Pendekar Cabe Rawit".

"Untuk suting film ini, saya harus ke Yogya, maklum lokasinya full disana," cerita Uci tentang film yang baru rampung suting itu. "Saya berperan seabgai Sri, bunga desa yang ingin berkarya. Kalau ceritanya zaman sekarang sih tidak heran, tapi ini terjadi kira-kira dalam abad ke XVIII di pedalaman Jawa lho!".

"Pendekar Cabe Rawit" merupakan karya penyutradaraan perdana bagi Abdul Kadir. Tokoh pendekarnya diperankan oleh Syaiful Nazar. Dan tentu saja tokoh Sri yang menjadi kekasih si pendekar. 

Saat break suting, Uci menyempatkan diri berbelanja ke pasar Bringharjo. Pulang-pulang membawa sekeranjang sayur mayur, terus masak sayur asem. Ramai-ramai dinikmati oleh seluruh pemain dan kru. "Ternyata Uci pintar masak sayur asem lezat!" puji produser Hendrick Gozali. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


Wednesday, May 27, 2026

LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT


LARASATI CALABOUT PUTRI DARI DORIS CALABOUT (berita lawas). Mau melihat generasi kedua Doris Calabout? Nonton saja film Laura Si Tarzan yang sudah di gelar di bioskop-bioskop. Atau kalau kepepet banget , kaset video bajakannya juga cukup membanjir. Pada film  ini,Larasati Calabout, cewek dengan tampang lumayan yang nangkring di kelas dua sebuah SMA di Jakarta Selatan, nekad bikin pameran perut, dada dan pangkal paha. Amboi! "Untuk itu Lara cuma di bayar seratus lima puluh ribu perak. Nyesel sih nyesel, abis gimana. Kan nggak bisa nuntut. Perantaranya saja adalah Opa, " tukas Lara pada Majalah Film tentang keberaniannya dalam film garapan Willy Wilianto.

Lara berani mengangkat sumpah, nggak mau disebut bintang seks. Cukup julukan ini mampir pada ibunya dulu, tapi waktu cewek ini main dalam film Satria Bambu Kuning adonan M. Syarifudin, bibirnya rela dilumat cowok Malaysia. Padahal waktu adegan itu dibikin, lara masih duduk id bangku kelas II SMP. Sampai istri bintang malasia tersebut cemburu, lalu terjadi insiden kecil di lokasi. 

Tidak tanggung-tanggun cowok yang dikenalnya selama ini yang berkulit bule. Bisa  kenal dengan bule juga katanya diawali dari ulah sang opa yang memperkenalkannya. Malah ia menyarankan agar cucunya ini mendapat jodoh orang bule, tanpa alasan yang jelas " Nggak tahu ya. Bersama cowok bule kayaknya lebih mengasyikkan gitu," katanya datar. 

Aduh Lara, yang mengakibatkan kamu bugil Opa. Kenal sama orang bule juga lantaran di kenalkan Opa?, kenapa begitu?. Jawabannya sederhana saja . Lantaran Lara tidak tinggal bersama ibunya , melainkan tinggal bersama opanya yang juga penyunting gambar (editor).

Tapi Lara juga punya ketentuan untuk memilih cowok orang pribumi . Apa sih? "Setidaknya cowok itu pakai sepatu keren diatas seratus ribu perak. Sombong kali, hehehe.." sergahnya sembari tertawa. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990