Sunday, November 8, 2026

VERA PRIZELIA, PASANGAN SI BUTA DARI GUA HANTU

 


VERA PRIZELIA, PASANGAN SI BUTA DARI GUA HANTU (berita lawas). Namanya Vera Prizelia sebuah nama berbau barat. Ya, memang gadis yang baru berusia 19 tahun ini darahnya sedikit campuran Barat dari pihak ibu, ayahnya asli Sunda. "Saya tulen orang Indonesia, "katanya. Gadis kelahiran Bandung, 29 November 1971 ini baru tahun kemarin menamatkan SMAnya. 

Semula Vera artis tak tahu diri. Datang ke lokasi suting seenaknya. Pernah kru film break suting gara-gara menunggunya muncul di lokasi suting. Ini terjadi ketka suting film Si Buta dari Gua Hantu episode Lembah maut, sutradara H. Ratno Timoer, dia mendapat kepercayaan berlakon menjadi Ranggi, peran utama wanita. Begitu tiba di lokasi suting, kontan H Ratno Timoer marah marah. Jantung Vera tentu saja berdetak kencang. Nyaris dia menangis sejadi-jadinya kalau tidak sadar bahwa dirinya seorang artis tentu dia akan ngambek. "Syukur, saya diomelin Pak Ratno. Karena itu saya jadi tahu diri", katanya menyesali setengah mati. Sejak itu Vera mulai disiplin. "Semua orang kan belajar dari kesalahan, "sambungnya. Sejak saat itu rasa manjanya mulai memudar. Dan dia baru mengetahui bahwa modal seorang artis tidak saja kemampuan akting, atau kerupawanan, tapi juga disiplin. 

Gadis ini sebenarnya tidak begitu suka berlakon dalam film bertema aksi. Tapi apa hendak dikata, tawaran yang datang selalu action, seperti film-film yang pernah dilakoninya, Jurus Dewa Naga sebagai peran pembantu di film Barry Prima ini, kemudian pertarungan di Gua Siluman, Pancasona Mat Ireng (peran utama) dan pernah pula berlakon di layar gelas milik pemerintah dalam sinetron Topeng Pak Tepong, sutradara Oscar Anwar. Peran untuk film drama rupanya belum bergayut kepadanya. baginya tak menjadi soal. Sebab menjadi artis film sudah menjadi cita-cita sejak masih bocah ingusan. "toh kesempatan itu akan datang, "kilah gadis berbintang Scorpio ini. 

Dalam film Si Buta Dari Gua Hantu, Vera tidak menjadi artis yang jago laga. Tak satu scene pun Vera bertarung. "Saya lebih banyak bermain karakter, "katanya. "Mudah-mudahan pada kesempatan lain apa yang saya harapkan apat terkabul. "meski masih anak ingusan dalam dunia film yang Vera telah memiliki ambisi menjadi artis yang diperhitungkan tentu saja Citra. (Piala) "Citra merupakan kebanggaan insan film".

Anak kedua dari lima bersaudara pasangan Drs. H. Rachmat Saleh dan Mintari Agustin ini tak berani tinggal di Jakarta sendiri. Dia lebih banyak bermukim di rumah orangtuanya di kota Kuningan, Jawa Barat. Padahal Jakarta pusatnya orang film. Walau dia telah pula mengontrak rumah di kawasan Kemanggisan Jakarta Barat, dia jarang berada dirumahnya yang di Jakarta.

"Rumah itu lebih banyak kosong dari ditempati, "katanya. Lho kenapa ih? "Saya takut tinggal sendiri di Jakarta. Walau ada pembantu masih takut juga. Saya belum bisa jauh dari orangtua . Saya suka rindu,"ujarnya. ~MF No. 112/80 Tahun VII, 13 Okt - 26 Okt 1990

HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA

 


HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA, (berita lawas). Mengaku sudah senang menulis sejak masih SMP, lelaki ini mengesankan seorang anak muda yang sekenanya, santai, agak pendiam namun ramah. Hilman Hariwidjaya adalah "tapak" yang menanam dan menabur benih Lupus hingga ngetop  di buku dan film. Tapi lupus di film rupanya tak membuat Hilman puas. 

Berikut petikan wawancara dengan "anak kolong" kelahiran Bengkulu, 25 Agustus 1964 tersebut disela-sela suting lupus III episode "Topi-Topi Centil".

T : Hilman dulu Anda menolak untuk memerankan sendiri Lupus dalam film, tapi kenapa Lupus III ini, justru Anda sendiri yang memainkannya? Padahal Anda sudah sumpah-sumpah lho?

J : Dulunya saya memang enggak mau. Tapi banyak saran yang kemudian saya terima. Masukan-masukan dari teman-teman maupun dari pembaca, menghendaki saya sendiri yang memerankan Lupus. Kebetulan saya kenal dengan Edi SS (sutradara Lupus III). Dia bilang di coba saja. Dia juga berjanji untuk membimbing. Soalnya kita kepingin beri warna baru. Kalau kita tetap seperti dulu, kayaknya kita akan tetap kalah dengan si Boy. Soalnya kita memang sudah kalah segala-galanya dengan Boy. Termasuk biayanya. Cukongnya kan kuat banget. Saya kira ambil sela yang belum ditangani Boy. Nah, inikan harus ditangani sendiri. 

T : Menurut kamu, kegagalan Lupus I dan II itu dimana?

J : Sebetulnya Lupus I enggak gagal. Dari segi pemasarannya enggak gagal. Cuma yang kedua karena tidak ada kerjasama antara saya sebagai penulis cerita dengan sutradara. Karena istilahnya kan gini, Yang nyiptain Lupus kan saya. Nah, yang tahu Lupus itu kan saya. Saya tahu keinginan  penggemar Lupus itu kayak apa. Ketika dia difilmkan anpa mengikutsertakan saya berarti interpretasinya terserah pada sutradara. Dan itu tidak bisa pas dengan yang dimaui pembaca. Karena pembaca maunya yang kayak di buku. 

T : Lalu, dengan mainnya kamu di Lupus III, apa yang bisa ditawarkan?

J : Lebih dkat. Saya bisa menjamin, ini deket banget sama buku. Jadi kalau dia suka baca bukunya, pasti bisa senang sama film ini. 

T  : Bisa lebih sukses dari Lupus sebelumnya, maksud kamu?

J : Kalau soal sukses nggak tahu. 

T : Soal Ryan Hidayat sebagai pemeran Lupus?

J :  Kayaknya nggak ada masalah kalau soal Ryan. Yang masalah itu mungkin penyutradaraannya.  Juga ada beberapa yang  masa casting. Seperti tokoh Poppy dan yang lain-lainnya yang dianggap enggak sama dengan yang di buku. Karena penonton pada dasarnya sudah mengenal semua tokoh itu dari buku. Terlanjur sudah punya imej Lupus itu kayak gini, suasananya kayak gini. Tapi begitu disodorkn di film Lupus I dan II enggak sama, gitu. 

T : Jadi Lupus II ini kamu yakin bisa mengembalikan imej penonton terhadap Lupus?

J : Ya. Kalau yang diharapkan seperti yang di buku, kita memang benar-benar berangkat dari buku. Saya juga bikin treatmentnya. Dialog-dialognya juga dari saya. Jadi bukan dari orang-orang yang sudah dewasa. Itu yang membuat dialog-dialog Lupus dulu kaku. 

T : Figur Ryan seabgai pemeran Lupus I dan II kena enggak menurut Hilman?

J : Sebetulnya yang kita ingini dulu pemeran Lupus itu orang Indonesia asli. Yang kurangnya Ryan itu agak terlalu barat. Kecenderungan film kita kayaknya bintang-bintang Indo. Padahal msalah Lupus itu sendiri masalah yang mengIndonesi banget. 

T : Pengalaman apa yang kamu dapat dari pertama kali berakting di depan kamera?

J : Sulit. Lebih sulit dari mengarang ceritanya (tertawa).

T : Untuk jadi Lupus pakai latihan?

J : Latihan. Waktu itu satu sampai dua bulan. Itu untuk latihan dasar saja. 

T : Yang meminta Hilman main dengan kawan-kawan asli dalam Lupus III ini, kamu sendiri atau produser?

J : Ceritanya gini. Waktu kita pindah produser, saya mengajukan syarat. Pertama, ceritanya dari saya. Terus pemain seperti Gusur, Boim, Anto itu, harus yang asli. Karena memang karakternya dia. Tapi kalau Lupus, saya enggak kasih batasan. Lupus boleh dicari siapa saja. Karena saya sendiri enggak merasa identik dengan Lupus. Jadi produser boleh nyari, Lha terus ngadain sayembara. Tapi ditest...ditesst. enggak puas-puas. Kita tersendat-sendat terus. Lalu kata Edi kita tetap pilihannya pada kamu (maksudnya Hilman). Saya jawab, saya pikirin dulu. Tapi sampai akhirnya produser minta dicoba saja duu. Termasuk untuk kawan-kawan Lupus juga asli seperti di buku. Juga untuk pemeran-pemeran lainnya kita ikut nentuin siapa yang cocok. 

T : Lupus itu siapa sebenarnya?

J : Itu cuma figur rekaan saya. Saya observasi kira-kira tokoh yang bisa disenangi remaja itu kayak apa. Jadi saya cari idealnya. Tokoh yang bisa jadi idola remaja itu kayak apa. Lupus juga bukan dari masyarakat kelas atas. Dia naik bis kota. Jadi dengan menciptakan Lupus, saya berharap remaja itu bisa menikmati yang ada padanya. Sedang tokoh lain orangnya memang ada, tapi saya kembangin lagi. ~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989



Saturday, November 7, 2026

SRI YUNIATI, JANJI GOMBAL UNTUK PRODUSER NAKAL


 SRI YUNIATI, JANJI GOMBAL UNTUK PRODUSER NAKAL (Film Lawas). Terlalu banyak cewek yang menjadi korban keganasan oknum orang film. Mereka di janjikan mau diberikan peran tapi sebelumnya mesti rela di gini gitu. Setelah meraup keinginannya, janji itu hanya pepesan kosong. Yang dialami Sri Yuniati juga begitu. Bedanya cweek kelahiran Bogor 14 Juni 1968, sulung dari empat bersaudara ini memiliki jurus jitu untuk menangkalnya. Ketika seorang produser pelaksana ingin meminjam tubuhnya, Yuni bilang begini "Alaah, yang gituan kecil om. Pokoknya begitu film selesai digarap, tinggal pilih hotel mana yang akan kita pakai. Okey. Setiap saat Om bisa hubingin saya, atau kita bikin janji dulu. Soalnya kalau Om kerumah, bokap pasti nggak ngasih, "kata Yuni mengulang kembali ucapannya kepada seorang produser pelaksana hidung belang. Lantas, apa film selesai Yuni bersedia tidur bareng. Tentu tidak. "Ini siasat saja. begitu pulang dari lokasi, gue kabur-kaburan tak pernah ada dirumah. Biar dia Nyaho!".

Suatu kesempatan Yuni bertemu lagi dengan produser itu dan menawarinya kembali main film. Persyaratannya tetap sama. Rupanya produser itu mau balas dendam. Begitu Yuni tiba di lokasi hanya diberi dua scene saja. "Sialan, sutradaranya udah sekongkol. Meski begitu gue untung, tidak sapai terperangkap jebakannya, "Seloroh cewek penyantap es krim ini. 

Ceritanya diatas adalah cukilan pengalaman buruk Yuni saat nyebur di ladang film. Sayang ia meminta kepada wartawan MF untuk tidak menulis nama produser pelaksana yang bermental bejat. Yuni tak kenal menyerah. Buktinya ia berhasil merangkul sejumlah judul film diantaranya : Kelabaang Wulung, Mandala Satria Tar Tar, dan Pembalasan Laba-laba Merah. Masih ada judul lain hanya tak berani menyebutkan, lantaran perannya tidak banyak. Sebuah sinetron sempat pula mengusung namanya, tapi menyesal bagi Yuni sebab sinetron tersebut tidak tayang-tayang. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990



RUDY WOWOR, PERNAH JADI PEDAGANG AYAM

 


RUDY WOWOR, PERNAH JADI PEDAGANG AYAM (berita lawas). Siapa menduga sebelum dikenal di Indonesia dan punya studio sendiri di gedung Sari Ayu Martha Tilaar, Rudi Wowor, nominator lewat film "Tjoet Nja' Dhien" pernah menjadi pedagang ayam. Usaha yang dilakukannya itu memang telah menjadi sejarah hidupnya, kendati ketika masa muda ia telah berkelana ke daratanEropa. 

"Dulu, tubuh saya ini bau ayam. Ruangan kantor saya dirombak jadi kantor dagang ayam. Dimana-mana bertebaran bulu ayam, "kenangnya. Usaha yang dikelolanya sendiri itu bertahan hingga tiga bulan. 

"Sekarang kemana ayam-ayam itu?

"Masih ada kok. Tapi sudah saya serahkan pada orang lain, "lanjutnya. Dagang ayam yang ia lakukan bukan seperti di pasar-pasar, melainkan memasok ayam ke berbagai hotel, wisma dan restoran beken. 

"Jika sekarang saya masih berdagang ayam, mungkin murid-murid saya akan kabur, "katanya bergurau saat ditemui dilokasi suting di Perkebunan Tebu Sumber Harjo, Pemalang, ketika pengambilan gambar film teve "Yang Luruh Dan yang Tumbang,"yang di sutradarai Matnoor Tindaon.

Sejak film "Tjoet", Rudi nyaris nganggur dari seni peran. Setelah di gaet Matnooer. Dalam skenario yang di tulis Emil Sanossa ini, Rudi disodori peran kecil, sebagai asisten residen, saat Indonesia masih di jajah Belanda. Dan ia hanya muncul dua scene saja. 

"Bagi saya tak ada peran besar dan peran kecil. Semua sama saja, "ucapnya dengan dialek kebarat baratan. Dunia seni bagi Rudi bukan sekedar hobi melainkan telah menjadi darah daging. Pengalaman dalam  dunia akting bukan hal yang baru baginya. Ketika muda, saat berkelana ke daratan Eropa, ia banyak belajar pada seniman di sana. Sehingga ia beranggapan tak ada istilah pilih peran. Peran menurutnya adalah kekuatan bermain. Juga bukan hanya sekedar menghapal dialog dan tampil. Agaknya, itulah yang jadi  sebab ia mau menerima peran yang disodorkan Matnoor. 

Mengenai honor di TVRI, Rudi sudah memiliki standard, dan menurutnya hal itu bukan yang utama. Justru kerjasama dengan pihak TVRI sudah punya kepuasan batin sendiri, meski  ini pertama kali ia tampil di layar kaca. 

Malah rencananya, Rudi Wowor akan membuat skenario film teve. Ia merasa yakin karyanya dapat ditayangkan pihak TVRI. "Tapi saya belum tahu kapan waktunya. Saya masih sibuk. Sungguh, pada waktunya saya akan buat itu,"lontar ayah dari tiga anak ini, kalem. Aktor saya belum pandai berbahasa berbintang sagitarius ini pernah menyutradarai film "Le Potret" (1967) ketika tinggal di Paris, sedang pengambilan gambarnya di Yugoslavia. Menurutnya pula, ia berkali-kali ikut terlibat dalam pembuatan film atau sebagai pemain di daratan Eropa. 

Sesuai dengan profesinya, penata gerak, di tahun 1975 pernah menangani "Romeo Anda Juliet" yang disutradarai Ratna Sarumpaet bersama Teater Satu merah Panggung. Ketika itu Indonesia Komunikasinyapun pakai bahasa Inggris. Terus terang saya sendang membantu teater di Indonesia. Waktu mendatang pun saya ingin juga main di panggung. Kalaupun tidak ada yang mengajak, ya saya mencobanya sendiri, " kata pria kelahiran Amsterdam, 13 Desember 1941 ini. 

Kali ini Rudi sedang sibuk membantu istrinya, Reni Hoegeng, dalam persiapan pameran lukisan di ITB Bandung. Rudi menjadi pembina administrasi pameran. Melihat kemauan istrinya yang begitu besar dalam dunia seni rupa, Rudi merencanakan membuat suatu pameran lukisn dalam bentuk lain. Untuk pameran yang berbentuk  abstrak itu, ia akan berusaha memadukan beberapa unsur seni, antara lain tari (gerak), sastra, musik dan seni rupa itu sendiri. 

"Tempat bukanlah ukuran. Itu hanya status. Mungkin saya akan pilih sebuah gudang. Tinggal lagi menatanya, kok, "ujarnya sembari tersenyum. 

Komentar tentang "Yang luruh Dan Yang Tumbuh "? Saya kira film teve ini baik, Matnoor Tindaon sebagai sutradara terasa sekali kehadirannya, ia banyak mengetahui kesalahan saya, namun hal itu terselesaikan  dengan berdiskusi dengannya, "lanjutnya. 

~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989

WINA WIDYAWATI, MAIN FILM LUPUS III

 


WINA WIDYAWATI, MAIN LUPUS 3 (berita lawas). Dia-usia masih muda, cewek satu ini sudah pintar jadi tukang bohong. Cuma itu bukan dalam kehidupan sebenarnya dari putri semata wayang keluarga Widodo dan Kirana Soekarno ini tentu saja. 

"Itu cuma peran saya di film "Lupus III, Topi-Topi Centil" saja kok, "celoteh Wina Widyawati. Ceritanya, Wina yang memerankan Lulu, adik Lupus, satu hari diajari bohong sama kakaknya. Cuma parahnya, cweek ini boongny akelewat banget. Bayangin ia harus bilang Lupus sakit kepala, ngadunya bukan main. Katanya, Lupus sakit beraaat. jatuh dari pohon, kepalanya retak dan mukanya bengkak serta kakinya patah. Pokoknya pengaduannya cukup bombastis.!

Sebetulnya Wina baru saja menyelesaikan ujian di SMA Tunas Karya. Rencananya, gadis ini kepingin masuk sekolah kedokteran, seperti cita-citanya semula. Menurut pengakuannya, sedikitpun ia tak memimpikan bakal terjun ke dunia film. 

"Tapi sekarang sih sudah tahu. Ternyata enak juga ya main film. Orang-orangnya baik seperti keluarga sendiri. Cita-cita jadi dokter masih tetap dong. Buat saya main film kan masih belajar. Belum tahu banyak. Pengenya sih terus main film, "kata Wina yang mulai kesengsem dalam bidang dunia peran. 

Awal karirnya itu, katanya, termasuk aneh. Ketika ia sedang jalan di Blok M, Jakarta, tiba-tiba seseorang yang tak dikenalnya mencoleknya. Ternyata si pencolek itu fotografer majalah Gadis. ia potret, lalu terpampang wajahnya dimajalah tersebut. Tau-tau di taksir untuk main film. 

"Kak Enison, astrada film "Lupus III", yang datang kerumah. Waktu itu perasaan saya gimana ya, ada senang tapi juga ada kagetnya. Sebab saya kan nggak langsung menerima tawaran itu. Mesti minta ijin mama dulu dong. Setelah mama tahu, ia membolehkan. Dan tentu saya mau, "kata WIna kelahiran Bandug, 24 Mei 1973 ini. 

Seminggu setelah menerima skenario dan dapat pengarahan sutradara Edi SS, akir Mei maka Wina pun siap berakting di depan kamera. Main film ini, diakui Wina, juga dianggap sebagai hadiah ulang tahunnya yang bersamaan saat dimulai suting. 

"Perasaan saya pertama kali main film...ah biasa saja".

Wina juga menceritakan bahwa ia melihat dulu akting Lulu di Lupus sebelumnya. Begitu ditanya tentang Lupus yang dimainkan Ryan Hidayat dulu, Wina yang belum 17 tahun usianya menjawab, "Saya lebih suka Hilman. Orangnya sederhana, tampangnya biasa-biasa saja, namn suka humor. Pokoknya cowok seperti itu yang jadi idola saya, "celoteh Wina lagi. Tampanya, type Hilman berkenan di hati gadis ini. 

Namun inilah pengakuan selanjutnya, "Dulu .. ketika umur 13 tahun, sekarang sudah nggak uh!" nah kini, Wina main film bareng dengan type cowok yang ia senangi..~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989

Friday, November 6, 2026

MANGARA SIAHAAN, KALAU BINTANG FILM SUPIR TAKSI

 


MANGARA SIAHAAN, KALAU BINTANG FILM SUPIR TAKSI (Berita Lawas). Kalau suatu saat anda naik taksi di ibukota, mungkin tanpa disadari taksi itu dikemudikan oleh bintang film dan mantan Ketua II Parfi. Dialah Mangara Siahaan, seorang dari sekian banyak sopir taksi yang berpacu di jalanan Jakarta. Profesi ini telah ditekuni hampir sembilan bulan di perusahaan taksi Ratak, Jakarta. Dan ini bukan adegan film. Ini periuk nasi Mangara. 

Menurutnya, betapa banyak pengalaman yang diperoleh selama ia beralih ke profesi tersebut. Dari satu jalan ke jalan lain ia bergulir bersama sedannya menelusuri kota Jakarta. Penumpang yang dibawanya beragam tingkah polahnya. Ada yang tergopoh-gopoh mengejar waktu, ada juga yang santai. Ada yang cerewet, ada juga yang penuh pengertian. Terkadang ada beberapa penumpang yang bisik-bisik ketika wajahnya dikenali mereka. Atau ada yang ragu-ragu, lalu menanyakan langsung apakah betul sopir itu si Mangara. Semuanya ia ladeni. "Bahkan, anehnya, ada yang meminta supaya saya yang mengantar, "ucap Mangara sambil tersenyum. "Tapi saya nggak mau memonopoli. Diperusahaan, saya kan nggak sendirian. Sopir lain juga kan cari penumpang, "ujarnya. 

Profesi yang sedang Mangara jalani ini konon berawal dari kterlibatan dirinya dengan salah satu kontestan pemilu, ketika ia pilih jadi anggota PDI. Menurutnya, ia secara sadar masuk paratai tersebut, bukan sekedar ikut-ikutan. Dan iapun sudah siap menerima segala konsekuensi yang menimpanya. Tatkala seorang sutradar amenawari main film, justru ia ditolak oleh sang produser. Alasannya produser tak mau menanggung resiko, tentu jika film yang dibintanginya tak boleh beredar. Begitu pula, ungkapnya dengan film serial TVRI "Saraswati" (12 seri), namanya dicoret dari proyek tersebut. 

"Karena itu, saya realistis saja. Orang dirumah, istri dan dua anak, kan perlu makan. Ya beginilah jadinya, "kata aktor yang dipuji permainannya dalam "Binalnya Anak Muda" 1978.

"Saya mengharapkan kesenimanan saya tidak dimatikan. Yang terakhir itu tidak biasa, "lontar sang sopir yang sol sepatunya lebih cepat aus daripada sebelum ia jadi sopir. 

Mangara Monang Siahaan, dilahirkan 19 April 1947 di P. Siantar, Tapanuli Tengah, tercatat pula ia memiliki beberapa nama samaran, misalnya, Marshall, Acang, Aaron atau Phytagoras. Putra pasangan AMS Siahaan dan T. Pasaribu ini pernah kuliah di Fakultas Hukum UI, tapi tidak tamat. Bahkan jauh sebelumnya, 1967 Mangara pernah menjadi ketua Presidium KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Perkawinannya dengan Maria Karina Magdalena membuahkan dua anak, Kennedy dan Carter. Pertama terjun di dunia film Mangara ikut membintangi film "Perawan di Sektor Selatan" 1969 dan hingga kini ia telah bermain di 50 film. 

Mangara mengakui, ia akan bersedia tetap main film jika diberi kesempatan lagi. Bagaimana dengan taksinya? "Yah, lihat-lihat saja, nanti kalau film bayarannya memadai mengapa tidak?".


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

Wednesday, October 7, 2026

IR. BUDIATI ABIYOGA, HATI YANG PERAWAN-NYA FLOP!


 IR. BUDIATI ABIYOGA, HATI YANG PERAWAN-NYA FLOP! (berita lawas). Semula orang banyak mengira, bahwa PT. Prasidi Teta Film dikenalikan seratus persen oleh Bustal Nawawi, mantan pimpinan KFT (Karyawan Film) yang memiliki keahlian mendisain produksi secara efisien dan padu antar unsur yang terkandung di dalam sebuah film. Nyatanya, setelah tokoh dengan ciri khas kumis dan brewok yang tebal itu  hengkang dari perusahaan tersebut, justru roda kegiatannya semakin menggebu. 

Begitu selesai film "Ayahku Bangsaku", PT. Prasidi telah siap dengan dua produksi yang akan digarap secara simultan. "Gema Kampus 66" dan "Pelangi Pandansari" (Nusa Penida). Dan produktivitas yang cenderung spektakuler itu berda di bawah komando seorang nyonya, yaitu Ir. Budiyati Abiyoga. 

Siapakah perempuan ini sebenarnya?

Ternyata dia seorang novelis. Mungkin  Anda heran, dan kalaupun anda seorang penggemar novel, bisa menyebutkan belum pernah membaca novel yang di tulis oleh novelis dengan nama tersebut diatas. Karena dalam menulis ia selalu menggunakan nama samaran Prasanti. 

Nama ini mulai dikenal sejak novelnya yang berjudul "Ujung Wajah Masa Lalu" memenangnkan hadiah ke 3 sayembara Mengarang Novelet Femina 1980, dengan juri yang diketuai oleh Dr. Umar Kayam. Menyusul kemudian novelnya yang laris dan sangat menyentuh hati wanita, "Hati Yang Perawan!".

Novel itulah yang kemudian difilmkan, menjadi produksi perdana PT. Prasidi Teta Film. Sutradaranya Chaerul Umam. Bintang-bintangnya  Deddy Mizwar, Sitoresmi dan El Manik. Ternyata ketika diedarkan hasilnya Flop! RUGI!. 

"Dengan sisa-sisa modal yang dikumpul-kumpulkan kami mencoba memproduksi film kedua. Sungguh biayanya sangat murah. Tapi diluar dugaan, film kedua ini meledak luar biasa. 

Anda semua tentu tahu dan sudah menonton. "Kejarlah Daku Kau Kutangkap", selain mendapatkan seabreg pujian dari kalangan kritisi, film ini juga menggondol Piala Antemas sebagai bukti kelarisannya. 

Kisah sukses ini dilanjutkan dengan produksi ketiga, "Naga Bonar" yang secara guyon 'diledek' "Kalau beredar di HOng Kong nanti diganti judulnya jadi Liong Bun!"

Sekarang, produksi keempat "Ayahku, " tetap diperani maskot Prasidi, Deddy Mizwar.~MF 047/15/Tahun ke IV, 16 - 29 April 1988


Monday, October 5, 2026

Rr. DIAN SITORESMI, PEMERAN ALIT DAMIS MUSUH BERAT MANTILI

 




Rr. DIAN SITORESMI, PEMERAN ALIT DAMIS MUSUH BERAT MANTILI (Berita lawas). NONTON film Saur Sepuh II Pesanggrahan Keramat akan membenci figur Alit Damis musuh berat Mantili. jelmaan cewek mahir memainkan jurus silat itu tak lain adalah Rr. Dian Sitoresmi. Kalau namanya mirip dengan pemeran Bu Rahmt, sinetron seri buatan PPFN yang tayang di TVRI hanya kebetulan saja. Yang jelas tak ada hubungan darah antara Sitoresmi, mantan istri WS Rendra dengan cewek berbibir ala Brigitta Bardot ini. Hanya menurut pengakuan Dian, kedua ortunya masuk dalam daftar urutan Keraton Yogyakarta. "Malah jadi males di depan nama saya tercantum Rr (Rara : Sebutan gadis ningrat). Orang pasti nanggepinnya lain. Kok, Keluarga keraton main film? Pertanyaan gini sering sekali terngiang di telinga saya,"ungkap Dian ketika dhibungi di rumahnya Perum Bumi Harapan Permai, Jlanan Pratama Raya No. N/9 Keramat Jati Jakarta Timur. 

Mengaku kalau menjalani masa hidup ini penuh dengan kerikil-kerikil tajam. Langkah terkadang membuatnya salah tingkah. Seperti ada sesuatu beban yang mengganjal dengan musuh jenisnya. Alasan itu yang membuat Dian begitu agresif menerima tawaran main film di antaranya seperti, Makin Lama Makin Asyik, Cinta Cuma Sepenggal Dusta, Cintaku Di Rumah Susun, Pernikahan Berdarah dan lain-lain. Plus sejumlah sinetron bikinan TVRI. 

"Nggak perlu promosi dah, saya malu. Namun yang paling membanggakan ya Saur Sepuh. Filmnya di tonton orang banyak dan peran saya sangat penting gitu, "urai Dian yang sekali-sekali menggaruk kepalanya. 

Kamu sendiri gimana Dian? Dengan memainkan matanya yang rada belo ia bilang ,"Nggak  janji dulu tuh. Cuma untuk bibir boleh saja di jitak (cium). Asal pantas dan situasinya memungkinkan untuk itu. Contoh, saya berperan sebagai istri, kan harus mau ciuman dengan peran suami. Iya kan?" tandasnya. Ini namanya curang dong. Menghalalkan adegan seks pada orang lain, sedangkan kamu sendiri belum bersedia. "Nggak nolak banget-benget sih, Say akan perlu tahu, seks yang dimaksud sejauh mana. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990


NASRI CHEPPY NAKSIR CEWEK BOY


NASRI CHEPPY NAKSIR CEWEK BOY (Berita Lawas). Setelah menggarap film "Bilur Bilur Penyesalan", sutradara Nasri Cheppy mulai membuat film lanjutan Catatan Si Boy ke II. 

Sutradara ini bisa termasuk sutradara yang cukup kreatif, produktif dan komersil. Jika dilihat dari jumlah film yang pernah digarapnya. Bahkan dalam pasaran, film Nasri Cheppy termasuk film yang dapat meraih penonton melebihi ukuran biasa. Selain itu, sutradara muda ini juga berani menempatkan pemain-pemain baru untuk berperan dalam film-filmnya. Diantaranya Paramitha Rusady, Sofia Latjuba, dan kini di fim Catatan Si Boy II yang tengah digarapnya, ia mengajak Venna Melinda pendatang yang sama sekali belum mengetahui seluk beluk film untuk menjadi pemeran pembantu dalam film lanjutan itu. 

"Saya menemukan Venna di sebuah pub Kartika Chandra. Ketika saya melihat dia, kok anak ini mirip bintang di film "Cry to Freedom". Saya dekati dia dan minta alamatnya. Kemudian anak itu diuji dan saya anggap dia mampu. Dia baru tamatan SMP lho,"promosi Cheppy sambil menyedot rokok lewat pipanya. 

Ada rumus soal menggaet cewek baru, Chep?

"Yang pertama jelas bentuk fisik, cantik. Kedua IQnya. Percuma kalau cantik, nggak punya ini", katanya sambil menaruh telunjuk di keningnya. 

Nasri Cheppy mengungkapkan bahwa lebih gampang untuk mengarahkan pemain baru. Mula-mula si calon bintang itu diajak ngobrol bersama Onky Alexander dan Meriam Bellina(Keduanya telah dipilih oleh pembaca Majalah Film sebagai Bintang Kesayangan 1987) . 

Dari situ kita bisa tahu cewek baru ini perlu digaet apa tidak, ungkap Cheppy. Asal nggak di bawa pulang saja lho ya?~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


Sunday, October 4, 2026

ASHA ARSINI

 


ASHA ARSINI (berita lawas). ada yang tahu sosok yang ini? kiprahnya di perfilman Indonesia memang bukanlah menjadi peran utama tapi hanya peran-peran kecil . Ketika pertama kali datang ke Jakarta, Asha Arsini hanya satu cita-cita, dunia film dan harus jadi artis film terkenal, katanya saat itu. Tapi lantaran dunia film lagi anjlog, maka cita-citanya dikembangkan tidak hanya film, tapi juga jadi artis penyanyi, alasannya  dunia tarik suara keadaannya tetapi stabil, apalagi untuk lagu-lagu dangdut. 

Asha, begitu biasa dipanggil oleh rekan-rekannya sesama artis, mengakui keinginannya untuk jadi penyanyi dangdut kenamaan. Ada kaitannya dengan nasibnya yang  kurang beruntung di dunia film, padahal ia sudah merampungkan 10 judul film nasional, tapi nasibnya tetap saja terseok seok. Karenanya cewek kelahiran Semarang ini mencoba mencari keberuntungan melaluidunia nyanyi. 

"Siapa tahu ada jodoh, kalaupun nggak, saya tetap akan menekuni dunia film, karena sejak kecil saya memang bercita-cita jadi bintang film, "kata cewek yang pernah main dalam film Penumpas Ilmu Santet, Pedang Naga Pasa, Jaringan Terlarang II, Saur Sepuh IV, Makelar Kodok,  Untung Besar, Perasaan Perempuan dan Malam Keramat ini. 

Sambil menunggu lampu hijau dari produser musik, cewek yang juga pernah tampil dalam film Tiada Titik Balik dan Ajian Ratu Laut Kidul ini mengikuti jejak rekan-rekannya sesama artis film pindah jalur ke sinetron. Dan ia kini tengah sibuk suting sinetron  Prambanan di daerah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993

NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL

 


NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL (berita lawas). Ketika Teguh Karya menerima order dari Suptan Film untuk menggarap "Badai Pasti Berlalu" (BPB) yang diangkat dari novelnya Marga T, semula ia merasa agak rikuh. Maklumlah, novelnya adalah novel pop, pemain utama yang dipasang juga bintang pop Roy Marten , jadi ia kudu bikin film pop, dong!. 

"Tidak, saya akan membuat cacing menjadi naga!"sesumbar Teguh. Terdengarnya rada jumawa, karena jelas-jelas memandang bahan dasar ceria cuma sekedar 'cacing'.

Walaupun begitu kemudian pada FFI 1978 di Ujungpandang , BPB menggondol 4 Piala Citra. Dan tahun berikutnya dinyatakan sebagai film terlaris. Malah Badai Pasti Berlalu adalah film yang paling banyak mengumpulkan penonton dari 10 karya Teguh, sejak dulu hingga sekarang!. 

Apakah salah satu sebab kelarisan Badai Pasti Berlalu karena pengaruh novelnya yang memang sudah sangat laris?

Empat tahun sebelum Badai Pasti Berlalu , novel perdana Marga T, sudah difilmkan oleh Ami Priyono, "Karmila" (1974), dengan pemain mahasiswi Muriani Budiwan, dan pasangannya Awang Darmawan. 

Dari penerbit Gramedia diperoleh keterangan, bahwa novel "karmila" sudah mengalami cetak ulang sampai sembilan kali!. Bukti kelarisan novelnya, sedikit banyak sangat berpengaruh pada filmnya. Apalagi karena sebelum dibukukan sudah lebih dulu dimuat sebagai cerber di harian "Kompas". Orang menjadi kepingin melihat apakah filmnya juga semenarik bukunya, bagaimana tokoh-tokoh yang selama ini cuma dikhayalkan menjadi hidup oleh para pemain nyaa?.

Kemudian pada tahun 1980, Nico Pelamonia mengarahkan kelanjutannya, "Dr. Karmila" kali ini dengan Tanty Yosepha sebagai pemeran , didukung Robby Sugara.

Marga T, yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter, memang termasuk pengarang wanita yang karya-karyanya selalu laris dilalap penggemarnya. Dalam usia 45 tahun, wanita bertubuh mungil ini, menghitung-hitung telah menulis lebih dari 100 cerpen, dan sekitar 25 judul novel, semenjak menerbitkan buku anak-anaknya yang pertama "Rumahku aalah Istanaku" 1969.

Karya-karyanya yang lain yang juga sudah difilmkan adalah "Bukan Impian Semusim", lalu "Ranjau-Ranjau Cinta", karya penyutradaraan pertama Nasri Cheppy dengan pasangan bintang Rano Karno dan Paramitha Rusady. 

Lalu bagaimana dengan film-filmnya?

"Saya menyerahkan hak pemfilman sepenuhnya kepada sutradara, jadi terserah kepada penafsiran mereka masing-masing bagaimana memvisualkannya. 

Pendapat yang sama juga dicetuskan oleh novelis-novelis wanita rekannya seperti : Ike Soepomo, Titie Said Sadikun, Mira W, dan Nina Pane Budiarto. 

Ike, dalam usia 42 tahun masih tetap menonjolkan kecantikannya. Boleh dipuji sebagai primadonanya novelis wanita. Novelnya "Kabut Sutra Ungu" telah dicetak ulang sampai enam kali. Filmnya pun laris luar biasa di bioskop-bioskop. 

Ada anekdot ketika Sjumandjaja berniat memfilmkan novel ini. Pertama Sjuman cuma iseng membacanya dalam kereta api sebagai pembuang waktu. Tapi kemudian menjadi sangat tertarik dan menelepon kerumah Ike, "Hello, saya Sjumanjaya , saya ingin berbicara dengan Zus Ika,".

Kebetulan Ike sendiri yang menerima telepon, ketus menyahut, "Maaf, disini tidak ada yang namanya Ika, "lalu karena mengira si penelepon mengelabuinya dengan memakai nama Sjuman, ia menutup telepon. 

Sjuman penasaran, menelepon lagi, Dengan serius menyatakan niatnya untuk memfilkan "Kabut Sutra Ungu", barulah Ike mau percaya. Bahkan kemudian mereka menjadi sahabat baik. 

"Saya malah belajar membuat skenario dari Bung Sjuman juga," mengakui Ike yang telah menyelesaikan skenario , Kembang Padang Kelambu, Hilangnya sebuah Mahkota, Hati Selembut Salju dan Mawar Jingga. 

Yang tersebut terakhir ini, memecahkan rekor dalam honorarium penulisan skenario dan pembelian hak untuk memfilmkannya. Produser Hatoek Soebroto, konon membayar Rp. 25 juta. Sayang, filmnya yang disutradarai Has Manan dengan bintang Lenny Marlina, Frans Tumbuan dan El Manik, serta syuting sampai ke Eropa segala, ternyata kurang berhasil dalam peredarannya. 

Sudah cukup lama Ike belum menulis, baik novel maupun skenario lagi. Mungkin karena berbagai kesibukannya yang sangat menyita waktu. Tapi Nyonya Drs. Soepomo Prono ini berkilah, "Saya menulis seperti -maaf- kentut saja kok. Artinya kalau mau baru menulis, kalau lgi tidak kepingin ya tidak bisa dipaksa gitu!".

Perkara Produktif, memang Ike kalah jauh dibandingkan rekannya Mira W. Sama seperti Marga T, Mira juga seorang dokter. Usianya baru 36 tahun tapi novelnya telah lebih dari 40 judul, serta separuhnya telah difilmkan. 

Dimulai dari novel pertamanya "Disini Cinta Pertama Kali Bersemi", yang dicetak ulang sampai 6 kali, kemudian diproduksi oleh Sanggar Film dibawah penyutradaraan Wim Umboh yang mempertemukan Widyawati dengan Roy Marten. 

Beruntun difilmkan juga "Ketika Cinta Harus Memilih", "Kemilau Kemuning Senja", "Permainan Bulan Desember", "Biarkan Kami Bercinta" dari novel Dari jendela SMP, "Seandainya Aku Boleh Memilih" dari novel Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu, "Kidung Cinta" dari novel Kidung Cinta Buat Pak Guru Muda, "Romantika" dari novel Galau Remaja di SMA, "Cinta Di Usia 30", dan "Panah dan Jantung" dari novel Bila Camar Terbang Senja serta "Perisai Kasih Yang Terkoyak".

Sesungguhnya, Mira yang bermarga Widjaja ini memang berasal dari keluarga orang film. Ayahnya, Othniel Widjaja adalah produser Cendrawasih Film, sedangkan abangnya, Willy Wilianto adalah seorang sutradara. Namun, belum pernah Mira bekerjasama dengan Willy dalam urusan pembuatan film. 

Agak berbeda dengan Mira yang menyebutkan tokoh-tokoh novelnya adalah fiktif, sebaliknya Titi Said Sadikun yang juga wartawati, menegaskan, "Novel-novel saya diangkat dari kisah nyata yang sungguh-sungguh pernah terjadi di Indonesia!. Tokoh-tokoh benar-benar pernah hidup, cuma saja namanya sengaja disamarkan, dan kalaupun ada bumbu-bumbu itu sah saja sebagai dramatisasi alur cerita!".

Novel-novel karya Titie yang sering dibantu oleh adiknya sendiri, Lies Said kebanyakan berkisah tentang perjuangan wanita yang ulet dan mengharukan. Tidak banyak yang difilmkan memang, namun rata-rata cukup mengesankan. Lihat saja "Jangan Ambil Nyawaku" dibintangi Lenny Marlina, "Lembah Duka", dibintangi Suzanna, "Budak Nafsu" dari novel Fatimah dibintangi Yenny Rahman dan "Selamat Tinggal Jeanette" dibintangi Meriam Bellina. 

Dua novelis lain yang karya-karyanya pernah difilmkan pula adalah Nina Pane Budiarto (Serpihan Mutiara Retak) dan Maria A. Sardjono (Dibalik Dinding Kelabu). 

Kalau Marta T dan Mira W adalah dokter, ada pula Insinyur yang punya hobby menulis, Ir. Budiyati Abiyoga nama aslinya, tapi bila menulis selalu menggunakan nama puterinya , Prasanti. 

Berbeda dengan novelis-novelis lainnya, justru ia sendirilah yang memproduksi film berdasarkan novelnya, "Hati Yang Perawan". Mungkin karena Insyinyur kita ini memang punya modal kuat. Nama perusahaanya, Prasidi Teta Film diambil dari nama putera sulungnya. 

~MF 047/15/Tahun ke IV, 16 - 29 April 1988

Saturday, October 3, 2026

EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI

 


EMMA FEBRY, MENGUAK JAKARTA DENGAN PRESTASI (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Emma Febry, dia datang ke Jakarta dengan segudang prestasi. Dengan modal prestasi itu, dia ingin menguak Jakarta. maka pada pertengahan tahun 1987 Emma Febry datang ke Jakarta. Tujuan semula bukanlah menjadi bintang film, melainkan ingin menggelar karir di bidang peragawati dan model. Karena di kota kelahirannya Medan, dia cukum di kenal sebagai seorang peragawati. Tapi anehnya setelah tiba di Jakarta, dia menjadi bintang film. 

"Sebenarnya sebelum jadi bintang film saya mau masuk IKJ bidang sinematografi. Tapi karena satu dan lain hal niat saya itu jadi gagal, "kata gadis kelahiran Medan, 18 Februari 1966 ini. Lalu gadis mungil ini mendapat tawaran main film. Kontan saja diterimanya. Rupanya dia memiliki bakat dan pernah berakting di TVRI sta. Medan dalam drama-drama maupun film TV. 

"Siapa sih yang tak tertarik main film? Kalau tidak itu namanya munafik. Melihat kesempatan ini, tentu tidak saya sia siakan, "kata anak ke 2 dari 5 bersaudara ini polos. Sampai sekarang gadis yang memiliki tinggi 160 dan berkulit putih mulus ini telah membintangi 5 film nasional. 

Diantaranya Jubah Hitam, Peluu dan mesiu, Pendekar Lembah Kuning, Pendekar Ilmu Api dan Pertarungan. Sebelum main film Pendekar Lembah Kuning, Emma demikian panggilan akrab gadis ini hanya mendapat peran pembantu utama. "Walau saya ketika itu belum mendapat peran utama, tapi saya tidak berkecil hati. Saya yakin suatu saat akan mendapat peran utama, "ujarnya mengenang. Ternyata angan-angannya itu terkabul, dari 5 film yang dibintanginya dia telah tiga kali mendapat peran utama. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990


DOYOK SUDARMADJI


 DOYOK SUDARMADJI (berita lawas). Roda kehidupannya yang setiap saat berputar, kini sedang berada diatas. Ada pula yang bilang, bintangnya sedang terang, itulah nasib Doyok Sudarmadji, pelawak bertubuh kerempeng yang juga menambang uang di dunia layar perak. 

Berkat tangan Nyak Abbas Akup, pelawak yang mengaku pernah hidup terlunta-lunta ini jadi populer. Memang, lewat Rumah Susun, karya Nya Abbas Akup bersama pasangannya , Kadir ia kemudian menjadi tenar. 

Kedua pelawak yang selalu muncul bersama dalam film, namun berbeda grup dalam melawak, kini sedang meniti sukses di jalur bioskop. Dua produser, Ram Punjabi (Parkit Film) yang memproduksi Rumah Susun dan Gope Samtani (Rapi Film) tak mau membiarkan kedua pelawak tersebut disambar produser lain. 

Terbukti, satu film belum selesai suting, kontrak baru telah di sodorkan. Mereka ini seakan-akan dikontrak jangka panjang. Padahal menurut pengakuannya, kontrak yang diteken tiap satu produksi. 

Film mereka kemudian yang di produksi Parkit Film adalah Antri Doong. Muncul bersama dua bintang cantik Lydia Kandou dan Eva Arnaz. Lalu filmnya yang siap memasuki gedung bioskop dan menurut rencana akan ikut menyemarakan malam Takbiran, Makelar Kodok, produksi Rapi Film. 

Dalam Makelar Kodok yang disutradarai Norman Benny, Doyok dan Kadir didampingi bintang remaja yang juga sedang naik daun. Paramitha Rusady. Disamping Ully Artha, Rudy Salam, Mang Udel, Ida Kusumah dan Gugun Benget. 

Meniti karir dalam dunia kesenian, menurut pengakuan Doyok, telah dirintis sejak beberapa tahun silam. "Sudah lama!" Jelasnya singkat. Namun, tambahnya, baru dua tahun atau tiga tahun terakhir menikmati hasilnya. 

"Sebelum melawak saya pernah kerja bangunan. Pernah pula kerja di bengkel. Pokoknya sengsara!"kenangnya. "Sekarang siih, lumayan!" ngakunya. 

Ketika disinggung tentang honornya main film, iapun cepat-cepat bilang, "Rahasia dapur!". Yang jelas katanya, mobil sih juga yang dulu, Fiat tua!. 

Kecuali main film dan melawak, Doyok masih punya penghasilan tambahan, juga masih dari dunia seni. Kekocakannya, sering pula dimanfaatkan produser kaset rekaman, ikut joget mengiringi penyanyi yang tampil mempromosikan lagu-lagu baru dalam Aneka Ria Safari. Tampil kurang lebih lima menit sebagai backing, atau suting yang hanya sehari, honornya justru lebih besar dibandingkan main film dengan suting 3 - 5 hari. "Enakan di teve, sehari bisa sejuta, "jelas Doyok jujur. 

Memang sedang terang bintangnya, rezekipun mengalir terus. Jadwal suting padat, jadwal melawak pun rentet, masih juga ada yang menawari bisnis lain. Cuma ketika bisnis apa yang ditawarkan kepadanya, Doyok tak mau menyebutkan jenisnya. "Ada aja!" katanya singkat. MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990



Friday, October 2, 2026

YANA ZEIN,

 



YANA ZEIN, Berperan sebagai Gadis Cantik tapi Penyakitan. (Berita lawas). Ada yang ingat sosok Yana Zein? Sosok ini memang sudah mennggal beberapa tahun yang lalu. Kali ini Yana berperan sebagai Gadis cantik tapi penyakian. "Ya, memang begitu peran Yana dalam film Panah dan Jantung. Film pertamanya dimana ia harus memerankan Winny, sebagai gadis Bandung yang lembut, jago bermain piano namun selalu mengurung diri dalam rumah lantaran penyakit jantung yang diidapnya. Sesudah film pertamanya, Yana kemudian main untuk film Ranjau Ranjau Cinta garapan sutradara Nasri Cheppy, jadi adiknya Rano Karno. Dan yang terakhir Yana bermain dalam film Cintaku Di Rumah Susun, jadi anak orang kaya yang dicintai oleh Kadir yang teman ayahnya. 

Lantaran sering berlenggak lenggok diatas catwalk dan sering berhadapan dengan kamera, baik untuk cover majalah, kalender dan iklan. 

Yana lahir di Moskow. Ia anak sulung dari dua bersaudara yang lahir dari ayahnya, yang asli Riau , Ir. Nur Zaman Zein dan Ibu yang berasal dari Polandia. Yana sendiri nggak begitu tahu tentang negara kelahirannya. "Maklum ketika masih sekolah Taman Kanak-kanak saya sudah di boyong ke Indonesia."

Yana yang kini studi di sebuah Universitas di Jakarta, pasti akan kebingungan memilih karir yang ditekuni sekarang ini. Mana yang mau dipegang, Peragawati, Model iklan, kalender atau bintang film? Yang jelas, Yana  yang memiliki kecantikan tersendiri ini, punya pilihannya sendiri. 


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI

 


LENONG RUMPI, BOIM PUN IKUT BERNYANYI (berita lawas). Mengingat sudah berkali-kali menjelaskan perihal belum bubarnya kelompok komedi Lenong Rumpi, mak asang komandan grup, yakni Harry De Fretes lebih suka berbincang berita baru yang dianggapnya bisa mengabarkan sosoknya yang selama ini seolah menghilang dari layar RCTI, sebagai media yagn membesarkan nama serta kelompoknya. 

Harry yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di FE Untar, Jakarta menganggap adalah satu hal yang mendesak apabila hampir seluruh pesonil Lenong Rumpi terjun ke pentas lain, Keluarga Van Danu dan Salah Sambung. Sedangkan tak satupun diluar sinetron RCTI itu Harry bersedia tampil. Sebab, bila Harr pun ikut main dalam acara lain atau kelompok yang disutradarai seniman lainnya, tentunya seolah memperkuat kesan bahwa sebagai pimpinan grup sudah bersedia main diluar, dan bisa dianggap Lenong Rumpi memang benar bubar adanya. 

"Tetapi bukan berarti kreatifitas saya mandeg,"ujarnya saat ditemui di kantornya, di Jakarta Flash Production yang merupakan tempat kumpulnya kru Lenong Rumpi. "Meskipun mereka padat oleh berbagai acara tapi setiap saat kami tetap bisa berkumpul untuk meeting kerja, "ujar Harry. 

Ihwal kreatifitas, Harry mengaku tetap rutin manggung bersama LR di berbagai pentas acara. Disamping itu film Lenong Rumpi yang bulan Maret ini sedang di proses episode yang ke III, tetap tidak akan merubah niat Harry yang juga siap memperoduksi film Si Boim lewat produksi Jakarta Flash Production. Yang menurutnya juga, film jenis komedi yang akan digarapnya itu, tetap di dukung oleh seluruh kelompok, yakni Debby Sahertian, Titi Dwijayanti, Robby Tumewu, Ade Libertifa, Tata Dado, Ferina Widodo dan Ira Wibowo. 

Tapi yang kini sedang digarap pemuda blasteran Padang-Menado ini, adalah ihwal vocalnya yang sedang di proses oleh Musica Studio. Namun meski sosok Harry sebagai pemuda, tapi ia melantunkan lagu anak-anak. "Hanya ada perbedaan dengan kebiasaan. Kalau anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, justru gue menyanyikan lagu-lagu untuk anak, "gelaknya yang mencanangkan hit lagu Si Boim. Sedang rentetan lagu-lagu lainnya sebetulnya bukan merupakan lagu-lagu baru di publik musik Indonesia. Misalnya saja Naik Delman, Beca, Selamat Ulang Tahun, Balonku, adalah lagu-lagu yang sudah sangat akrab dengan masyarakat kita. Namun yang berbeda hanyalah pada syair maupun pengucapannya disesuaikan dengan status Harry sebagai komedian. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Thursday, October 1, 2026

FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94

 


FORUM FILM BANDUNG, DIDI PETET PEMAIN TERPUJI FFB '93-'94 (berita lawas). Forum Film Bandung (FFB) memilih Didi Petet sebagai pemain terpuji berkat kinerjanya dalam film Si Kabayan Mencari Jodoh. Pada film itu, Didi Petet dinilai berhasil memerankan dua watak dari seorang tokoh bernama Si Kabayan. Yakni sebagai Si Kabayan yang berbaju kampung yang lugu dan Si Kabayan yang menjadi konglomerat gadungan. 

Regu Pengamat FFB yang diketuai Prof. Sudjoko, PhD dalam pengumumannya di Bandung, juga menentukan film Yang Muda Yang Becinta sebagai penerima pegnhargaan khusus. Film karya almarhum Syumanjaya pada tahun 70-an itu dinilai tetap aktual untuk keadaan dewasa ini.

Di tilik segala unsur, seperti sinematografi, pilihan pemain, kekuatan cerita maupun skenario, film tersebut dinilai hampir tiada cela. Di bandingkan dengan film seks yang banyak diproduksi belakangan ini, film Yang Muda yang Bercinta masih tetap unggul dalam tema maupun mutu garapan. 

Penghargaan lain diberikan kepada Harry Susanto, sebagai penata kame

ra terpuji dalam film Asmara. Ia dinilai telah bagus dari berbagai sudut sehingga berbicara dalam beragam suasana dan tempat. Menurut ketua FFB Bram M Darmaprawira, FFB menilai 204 film terdiri 31 film nasional, 69 film Eropa/AS, 56 film Mandarin dan 28 film non Mandarin. Film yang dinilai adalah semua filmyang di putar diboskop tanahair tanpa memperhatikan tahun pembuatannya. 

Terhadap film asing, FFB memilih film City of Joy sebagai film drama rakyat yang mendapat pujian. Scent of Woman yang dibintangi Al Pacino sebagai drama pribadi yang terpuji dan mrs. Doubtfire yang dibintangi Robin William sebagai film canda yang mendapat pujian. ~MF no. 203/169/TH.X, 9-22 April 1994



Wednesday, September 30, 2026

SINETRON : PARIBAN DARI BANDUNG, MENGUAK KERUKUNAN ADAT

 


Tidak Banyak sinetron yang temanya menggarap kehidupan antar suku yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah "Pariban Dari Bandung" karya Edward Pesta Sirait, sutradara yang sudah cukup banyak menggelar film layar lebar. Kini, Edward terjun ke sinetron lagi, dan karyanya yang kedua ini dan sedianya ditayangkan di layar TPI pada bulan Maret 1993, sedang memasuki tahap editing pihak penggarap, PT. Cipta Isthika Rucitra Indonesia. 

Dua kubu yang dibaurkan dalam sinetron yang proses sutingnya ditargetkan 4 bulan, namun berhasil diselesaikan hanya dengan 3,5 bulan ini, adalah dari suku Sunda dan Batak. Dimana mempertentangkan kedua suku. Namun justru harmonisasi perkawinan beda suku mereka justru mencuat cerita yang cukup menarik. Sebelum ini, Edward pernah membuat sinetron Suster Bulan. 

Awal Cerita dimulai dari kehidupan rumah tangga Asep Sastranegara (Robert Syarif) yang asal Parahiyangan serta Nurmala (Tarida Gloria), wanita Tapanuli, yang meski lain suku dan latar budayannya, namun digambarkan hidup ideal. Keduanya juga dikaruniai 3 orang anak serta menetap di Kalimantan. 

Namun setelah mereka masuk ke dalam jenjang usia tua dan selama ini lalai dan larut dalam waktu, belum pernah berkunjung bahkan berkirim surat selembarpun pada keluarga yang di Medan. Baru setelah berada di Bandung, serta anak sulung mereka, Daniel (Cok Simbara) berhasil menjadi seorang pengusaha muda sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur ITB dan MSC dari Amerika. 

Kebanggaan Asep dan Nurmala akan keberhasilan Daniel sebetulnya selalu di gelisahkan oleh ketenangan Daniel yang pada usia ke 34 tahun seakan tak punya waktu dan minat untuk berumahtangga. Sehingga suatu saat Daniel mau mengembangkan usahanya ke Batam, ibunya meminta agar mampir ke Medan untuk mengunjungi Tulang (Paman) dan Paribannya (Anak gadis paman). Daniel yang menginginkan wanita yang bakal menjadi istrinya nanti tidak hanya melihat kedudukan maupun kekayaan semata. Maka dengan mengisyaratkan pada seluruh keluarganya agar kunjungannya ke Medan nanti dengan caranya sendiri. Terutama dalam melekatkan hubungannya dengan calon istrinya. 

Konflik cerita dari sinilah berawal. Dimana munculnya Daniel yang dengan penampilan seorang pemuda miskin serta bego, sangat menghancurkan harapan Paribannya, Betty (Nella Regar). Mengingat bualnya kepada semua orang-orang yang dekat dengan gadis ini maupun sahabat-sahabatnya di kampus, bahwa lelaki yang akan menjadi pacarnya, sekaligus calon suaminya adalah pemuda intelek, terhormat sekaligus kaya. 

Kekuatan permainan Cok Simbara yang sekaligus memainkan dua peran antara pemuda kota, kaya dan intelek, serta merubah menjadi lugu, miskin dan tentunya diperhinakan. Juga sosoknya sebagai lelaki yang perilakunya melebur dari perpaduan Batak-Sunda, memperkuat perannya. Hingga sebagai  hitam putih, kasar, gagah dan terpelajar, lembut, bego namun kritis, dimankan secara lentur oleh Cok dalam perannya sebagai Daniel. 

Namun seperti yang diungkapkan oleh Edward PS, bahwa ia sangat memuji oleh jempolnya akting Nella Regar. Mengingat dunia akting, baik film maupun sinetron hal yang betul-betul baru bagi keberadaannya sebagai penyanyi. Disinilah muncul kesabaran serta penanaman pemahaman Edward sebagai sutradara. Dari keragu-raguan Nella saat disodorkan peran , namun justru jadi lebur oleh minatnya artis ini yang cukup besar untuk mencoba langkah baru di dunia akting. 

Ternyata, bakat Nella yang sudah lama terpendam perlahan-lahan mencuat. Cocoknya sebagai gadis Batak, walau tidak seluruhnya ditunjang oleh karakternya yang kebetulan dialiri darah Sumatera Utara. Karena ayahnya yang memang berasal dari sana, serta memiliki marga Siregar. Namun ia ternyata punya tingkat santun yang cenderung nyunda berkat didikan ibunya, berasal dari Parahiyangan, Garut. 

Padahal dalam perannya sebagai Betty, gadis Batak yang masih totok. Disertai warna perilaku, yang sombong, kasar serta sok intelek. Sosok ini mampu diwujudkan oleh Nella. Tak kalah dengan kemampuan Cok Simbara dalam perannya sebagai Daniel. Nilai lebihnya adalah , cok tentunya sudah tak asing dalam memainkan peran dihadapan kamera film maupun TV. 

Secara keseluruhan cerita Pariban Dari Bandung yang kisahnya berasal dari cerita bersambung yang dimuat di Sinar Indonesia Pembangunan (SIP) karya Arifin Siregar, sebetulnya sudah cukup lama mengendap di benak Edward. Hanya baru sekarang tiba kesempatan untuk menumpahkan mencari karya sinetronnya. Sedangkan pendukung dari penggarapannya adalah Nestor Rico Tambunan (Skenario), Yusup/Fauzy (Kameramen), Edward Pesta Sirait (Editor) Indah/Charles (Tata Rias) dan Tarida Panjaitan (Musik). 

Para pemain yang menurut Edward, hampir semua berasal dan memahami adat istiadat Batak serta Sunda, yakni Cok Simbara, Nella Regar, Robert Syarif, Ida Kusumah, Ully Artha, Tarida Gloria, serta pendukung dari Sanggar Devimir, Bandung. Serta para pemain dari Medan. 

Penayangannya yang dipastikan di layar TPI sebanyak 10 sd 12 episode, memakan waktu 30 menit setiap episode. 

~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Tuesday, September 29, 2026

EENG SAPTOHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA JOB


EENG SAPTAHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA  JOB (berita lawas). Lama sudah Eeng Saptohadi tak ketiban tawaran untuk berlakon di film. Kondisi perfilman negeri ini masih di tutupi awan tebal. Tapi tidak begitu dengan seni peran, media sinetron masih menghembuskan angin segar. Semakin tegarnya TV swasta dan menjamurnya Production House (Rumah Produksi) membuat artis mendapat nafas baru. 

"Banyak peran menghampiri, banyak pula yang saya tolak. Bukan soal honor, tapi soal peran yang akan dilakoni, "kata artis jebolan IKJ ini.

Awal tahun 1993, Eeng langsung di berondong tawaran dan semuanya untuk media televisi. Sekian banyak Eeng hanya menerima Untung Nak (TVRI), Badai Pasti Berlalu (TPI) dan sinetron Rumah Tuhan Rumah Kehidupan (TPI).

Bagi Eeng untuk menjadi artis di negeri ini banyak pengorbanan. Sebab, artis Indonesia harus lebih pintar, punya waktu, lebih cerdas, lebih ngotot dan harus bisa segalanya. "Karena iklim yang menciptakan artis Indonesia harus bersikap seperti ini. Sebab, berurusan dengan ngepulnya dapur sang artis. Honor artis di negeri ini sangat minim sekali. Karena itu ia terjebak kerja rutinitas, begitu ia selesai berlakon, mau tidak mau menerima pesan apa aja. Kalau sudah terjebak dengan iklim ini maka kreatifitas akan buntu, "ujarnya berapi-api. 

Justru itu tak jarang Eeng mengorbankan honornya hanya untuk membeli kostum. Untuk supaya tampil eksis, bila mendapat peran beruntun, tak jarang mengurung diri di kamar untuk analisa skenario. "Kan sudah saya katakan artis Indonesia harus bisa menitih bui. Dengan honor kecil harus bisa berakting semaksimal mungkin,"kilahnya. Maka tak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa artis Indonesia di dalam satu atmosfir memeras akting. "Akhirnya lupa bagaimana caranya mengembangkan akting. Seperti inilah iklim artis Indonesia, "lanjutnya. 

Eeng mengakui ia juga terjebak dengan kenyataan itu, tapi ia tetap mencoba keluar dari lingkaran atmosfir yang gelap gulita itu. Meski  ia juga salah seorang pengajar IKJ, untuk menjadi  seorang aktor perlu jam terbang tertentu dalam seni peran. "Jam terbang bisa dilakukan di film, sinetron maupun panggung, semua itu aalah medianya untuk seorang aktor, dengan bahasa kerennya media ekspresi".

Eeng mencoba melawan iri walau dalam keadaan krisis setia dengan keinginan jiwanya, menjadi seorang aktor. "Cukup banyak artis di negeri ini orientasinya adalah job. Ini sangat disayangkan. 

Di Indonesia masih mejual yang namanya fisik, bukan menjual ilmu. Orientasinya masih fisik, "ada sebuah istilah. Biarkan tokoh itu mencari manusianya. Watak yang ada di dalam skenario akan mencari manusianya. Seorang pemain harus ada dialog antara penulis skenario dan sutradara. Sampai mencapai yang namanya kesepakatan dalam persepsi. Begitu sudah ada kaa sepakat, barulah  ia mncari manusianya. Jadi bukan karena komersial dari apapun namanya. 

Obsesi Eeng sebagai seorang pelakon cukup sederhana dalam jangka dekat ini, katanya "Kita sudah kalah di bioskop tapi jangan kalah dirumah kita sendiri. Sebab, bila kesenian dicampur adukan dengan birokrasi, pasti akan timbil keterbatasan-keterbatasan. Kita perlu keterbatasan-keterbatasan. Kta perlu kebebasan dan kemerdekaan untuk  berkesenian apapun namanya. 

Karena itu Eeng mempersiapkan moral untuk berkarya meski sekarang ini ia hanya menjadi seorang pemain. "Hanya kematian yang memisahkan saya dengan seni peran,"katanya dengan bersemangat. Ada PH yang menawarkan kepadanya untuk menjadi sutradara, kontan ditolaknya. Alasannya ia masih setia dengan profesi yang digelutinya. 

"Mulai tahun gajah, tetap saja honor sinetron selalu kecil. Bagaimana seorang artis bisa bermain baik, bila honor yang diterimanya pas-pasan? sampai saat ini saya hanya menyampaikan kepada  semua PH supaya meningkatkan kualitas sinetron maupun pemberian honor  kepada pemainnya. Menurut saya, selama saya berlakon dalam sinetron hanya "Tasi Oh Tasi" sutradara Arifin C Noer, yang memberikan honor paling besar, "katanya dengan tangan gemetar. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993




Monday, September 28, 2026

ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH

 


ERVAN YUDHA, DAPAT PERAN MALAH SUSAH (berita lawas). Katanya ia tidak merasa 'tolol' meninggalkan bangku kuliah untuk film. Padahal tak selamanya dunia ini menjanjikan harapan baik. Ada apa dengan anak muda ini hingga nekad berlaku seperti itu?

"Cukup lama saya ingin bergelut di film. Keinginan yang membuat saya berani bertaruh,"katanya. 

Diselidiki, ternyata di UNRI (Universitas Riau) ia tidak menemukan bentuk pengembangan bakat. Akibatnya Ervan Yudha mandek di Fak. Ilmu Pemerintahan sampai semester II. "Ketika kuliah berlangsung, pikiran senang melayang-layang jadi artis. Semangat ke Jakarta pun menggebu-gebu,"kata pemuda kelahiran Pekanbaru 13 Maret 1969 ini. 

Setelah tekad diambil, apapun persoalannya harus ditempuh dan pemuda yang memiliki tinggi 176 cm ini terdampar di ibukota. "Jalan hidup yang saya pilih dunia peragawan. Dari situ saya mencari loncatan ke film. Bukan gampang mendapatkan koneksi di film, "ujarnya. Nasibnya mujur, anak ke2 pasangan Yul Akib dan Wirda tergaet dalam film Peluk Daku dan Lepaskan. 

"Lewat film ini peran saya tidak berarti. Saya tetap bertekad maju, malahan keluarga dan teman-teman mencemooh tapi saya tidak perdulikan, katanya. 

Dengan pengetahuan minim di bidang akting, Ervan terseok-seok mendekatkan diri  pada orang film. Tak jarang muncul ke perusahaan film untuk melamar. Tak jarang pula oang-orang menolaknya mentah-mentah. 

Tjut Djalil, sutradara gaek itu yang memberikan kesempatan lewat film Misteri Janda Kembang, sebagai pemeran pembantu utama. Tokoh Arman, dalam lakon kedua ini, menjanjikan harapan, asalkan berani beradegan cinta. "Saya buang rasa sungkan. Biarlak komentar orang bermacam-macam. yang penting saya kerja, "katanya. Hati kecilnya katanya menolak untuk beradegan ranjang dengan Sally Marcellina. 

"Ketika mendapat peran pembantu utama, saya malah susah, nyaris putus dengan pacar" katanya dengan gelak yang lepas. Takut di cap artis tanpa akting, maka dengan penuh semangat, hari-hari berikutnya melatih diri dalam akting. "Caranya saya latihan ekspresi depan kaca. kadang-kadang muka dibuat macam-macam.

Niatnya menolak awaran adegan ranjang, tiba-tiba Sisworo Gautama, sutradara spesial horor menawarkan peran seperti Tjut Djalil. Ervan puyeng sendiri. Mau menolak kesempaa lain belum juga datang. "karena ada ksempatan lagi, saya persetankan niat tadi. maka berlakonlahsaya dalam film Ajian Ratu Laut Kidul". Rupanya pengorbanan untuk filmnya yang ke 3 itu cukup besar. Sudah adegan ranjang, kepala pun harus dibotaki. 

"Pokoknya, kalau untuk film sekarang saya rela diapakan, yang penting dapat menunjang karier, "tekadnya. Rupanya melihat kondisi Ervan yang sudah berantakan di film, sang pacar malah jadi kabur. "Masak saya serius di film dibilang berantakan? Di film kan harus ada pengorbanan. Kalau tak mau memberi pengertian buat apa punya pacar?". ~MF No. 150/117/TH VIII, 28 Mar - 10 Apr 1992


Sunday, September 27, 2026

JEMMY GIDEON,

 


JEMMY GIDEON (berita lawas). Eksistensi Jemmy Gideon sebagai pelawak tak diragukan lagi. Tapi, untuk pertama kali mendampingi Lydia Kandou, buat sinetron RCTI Gara-Gara, kepiawaiannya seabgai pelawak masih harus diuji. 

"Kalau kamu bisa membuat semua hadirin tertawa, maka kau diberikan kepercayaan melakoni Gara Gara, "ujarnya menirukan omongan sang produser. Nasib baik masih menyertai Gideon Group, ketika tampil di Hotel Borobudur, semua hadirinbisa ngakak, termasuk produser, penulis skenario dan sutradara. Begitu dinyatakan lulus, Jemmy tak langsung menerima, alasannya ia tak biasa bermain dengan naskah, "Gaya saya adalah spontanitas dan improvisasi, begitu juga ketika saya bergabung dengan Lenong Rumpi, tidak pakai naskah, "kilahnya. 

Bagi Jemmy merupakan tantangan bisa bermain sinetron komedi. Sebab ia tidak hanya sekedar nyerocos, tapi ada karakter yang diemban. "Terbukti dari jalinan cerita Jemmy bukan Jemmy yang melawak, melainkan Jemmy yang suka membuat kesal hati isteri. Meski ia sangat menyayangi isterinya. Sedikit bloon, tapi banyak pintarnya juga ada juga sok tahunya. Lewat Gara-garalah saya pertama kalinya bermain dengan karakter meski dalam tema komedi,"ujar bapak yang sudah memiliki anak dua ini. 

"Saya bisa menjadi Bapak, karena saya sudah berumah tangga. Pertama tama antara saya dengan Lydia agak canggung begitu, tapi karena pengarahan sutradara, semuanya bisa berjalan dengan lancar. "

Gara Gara belum mencapai klimaks, bila ia sukses di film merupakan awal dari klimaks. Bila sukses di film, Gideon group akan tetap bertahta di film. "Sebab generasi pengganti Warkop DKI belum ada. Ada group lawak yang main film, tapi hasilnya belum memuaskan,"katanya. 

Pihak Parkit Film produser film Gara Gara sepakat supaya Gideon Group dikontrak tiga film. Tapi Jemmy tahu diri, ia tidk cepat silau dengan popularitas dan rupiah. "Kami dalam Groum saya Jemmy, Simon dan Habil mengharapkan film dari klimaks kaya lawakan".

"Bila kami dikotrak langsung tiga film, andai saja filmnya meledak, kami rugi dong. Begitu juga sebaliknya produser, bila filmnya nggak laku kan produsernya menanggung rugi. Jadi kami nggak mau sok-sokan,"katanya. 

Cahaya Gideon Group mulai bersinar, hari-hari kelompok ini dihiasi dengan tawaran manggung disana sini. Sampai hari-hari mereka banyak dihabiskan diluar kota. "Kami masih mencari bentuk lawak yang sejati. Meski gaya sudah kami punya, yakni keseharian, artinya mencari dan menggali ide-ide yang muncul dan hangat dari masyarakat, katanya. 

Di film kami belum apa-apa tapi kami tidak mau terjun langsung ambruk, "ujarnya bersemangat mengakhiri obrolannya . ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993

Saturday, September 26, 2026

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2


 IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 2 (berita lawas). Gepeng Menikah !. Perkenalan dengan Supiah beberapa tahun kemudian, membawa mereka ke jenjang pernikahan. Waktu itu hari Minggu tanggal 18 Agustus 1971, Gepeng berusia 21 tahun sedang Supiah setahun lebih tua. Dan , di grup WO (Wayang Orang) Edi Budoyo ini pulalah Gepeng yagn nama aslinya Arismanto itu berganti nama jadi FREDDY. Sedang nama GEPENG sendiri baru ia gunakan setelah bergabung dengan Srimulat pimpinan Teguh atas usul isterinya di Solo. 

Gepeng lantas ikut Tegus Srimulat dan tinggal di barak gudang lawak ini di dekat rerumputan liar di Balai Kambang Solo, 5 meter ari tempatnya melawak tiap malam. Gepeng belum punya nama. Disana ada seorang pelawak top yakni Pak Panggung. 
Gaya pak Panggung memang khas sekali. Bicaranya terteteh-teteh, lebih-lebih kalau memakai bahasa Indonesia. Terus matanya merem melek dan kalau berjalan kakinya diseret-seret sembari mengibas-ibas sapu tangan atau serbet, properti khasnya. 

Inilah gaya komedian yang kemudian diserap oleh Gepeng.Kalau Pak Panggung tidak naik arena untuk melawak, maka Teguh lalu memasang Gepeng agar fans pak Panggung yang melimpah itu tersedot sedikit. Honor pak Panggung waktu itu paling tinggi yakni Rp. 600,- sementara Gepeng memperoleh Rp. 250,- sampai Rp. 400,-. Tidak termasuk lemparan rokok dan uang saat mereka melawak. 

Pada siang hari Gepeng selalu keluyuran ke daerah Taman Tirtonadi Balai Kambang itu dengan dada telanjang , tanpa alas kaki sembari melinting rokok, lalu sering terlibat mengajak ngobrol dengan Pak Panggung. Sayang , Pak Panggung kemudian meninggal karena penyakit bronkhitis dan Gepeng seperti kehilangan pegangan, tapi sebuah peluang terbuka. 

Untung Srimulat hijrah ke Jakarta. Dan Untung Gepeng ikut memperkuat barisan lawak ini. Dan keajaiban semua ini ialah ketika Srimulat tampil  di teve dan tanpa sengaja dari mulut Gepeng meluncur kalimat "Untung Ada Saya. Sejak itu hidup Gepeng beruntung. Sukses yang diraih Gepeng terlalu cepat dan ia sebenarnya belum akrab benar dengan Jakarta, dengan segala kehidupan, sanjungan serta harta yang melimpah dengan cepat. Kehidupan keseniannya lenyap. 

Nenggak Alkohol!.

Bahkan Gepeng juga menggaet film dan ia jadi bintang istimewa dalam film-film "Gaya merayu", "Untung Ada Saya", "Gepeng Cari Untung" serta "Gepeng Bayar Kontan". Kebanyakan film-film ini mengeksploitasi kepopuleran dan citra komediannya habis-habisan secara ringan. Dan Gepeng agak kehilangan kontrol. Ia seperti membalas dendam atas kemiskinan yang pernah direguknya. 

Kebiasaan buruknya tak kuasa ia lawan. Ia sering nampak mabuk-mabukan, dan dengan gaya aristokrat ia dengan ketawa menenggak alkohol berbotol-botol diiringi tepuk tangan dan layanan teman-temannya yang baru yang selalu melayani Gepeng. Perempuan demi perempuan yang mendekati dan membujuk tak kuasa ia tolak. 

Puncak kehilangan irinya yakni ketika ia terlibat dalam pemilikan sebuah pistol yang konon menurut rekan dekatnya, "Gepeng ketakutan berada di mana-mana sehingga ia perlu berada dekat dengan orang-orang kuat atau benda yang bisa membuat ia sedikit tenang. "Lebih fatal lagi, Gepeng menceraikan istrinya yang selama ini lara menemani bintang lawak ini. Tak hanya istrinya yang dicerai, Srimulat yang membesarkan dirinya yang membuat perubahan hidupnya ia tinggalkan karena ia tak ingin hasil lawakannya yang populer  itu dinikmati banyak orang termasuk boss dimana ia bekerja. "Saya ingin mandiri dan meraih apa yang saya hasilkan ,"ucapnya. 

Diam-diam Gepeng seperti mencari musuh diantara rekannya sendiri. Ia juga menjadi boss dari pertunjukkannya yang ia beli setelah kaya dan mengusahakan hiburan lawak sendiri di Semarang dan Solo. 

Namun Gepeng bukan seorang pengusaha, bukan seorang bisnis apalagi boss yang baik, Gepeng lupa bahwa ia sebenarnya seorang komedian berbakat cemerlang. Ia lupa itu. 

Maka, Syahdan, roda nasib berputar lagi. pertunjukkan Gepeng sepi. Duit banyak eluar dan tawaran tak lagi melimpah. Seperti sebuah film pendidikan, maka dalam keadaan begini kesadaranpun datang. 

Supiah, mantan istrinya lalu dinikahi lagi. Ia kembali ke pabrik tawa Srimulat dan berjanji akan merubah hidupnya. Tubuhnya tak lagi Gepeng seperti ketika ia bergabung dengan Srimulat. Dan tubuh inilah yang tak mau kompromi. Levernya membengkak, menggerogoti usianya dan tampak pada adegan inilah Gepeng terpaksa menyerah pada nasib. 

Dalam usia 30 tahun, saat pulih kesadarannya untuk berbuat baik, Gepeng meninggalkan istrinya Supiah, 4 orang puteranya , Tatang (Sekolah di SMP), Nanang, Putri dan Ayu duduk di SD serta kita sekalian, yang pernah terhibur oleh lawakannya serta dengan rela memberi tepuk tangan gegap gempita kepada almarhum Gepeng. 

Barangkali ungkapan sekarang ini (Tidak) Untung. (Tidak) Ada Gepeng! Betapapun ia pernah menjadi fenomena. Selamat Jalan Peng. ~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


**Dari dua bagian tulisan ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, hikmah yang bisa kita ambil atas perjalanan seorang Gepeng.

IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1


IN MEMORIAM!  (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1 (Berita Lawas). Gepeng, Anak Panggung yang Tragis! "Saya sekarang sadar apa artinya punya banyak teman. Saya ternyata tidak bisa sendiri terus. Saya masih membutuhkan bimbingan. Dan itulah yang membuat mengapa saya kembali ke Srimulat. Dan saya berjanji tidak akan bertingkah lagi, "ujar Gepeng, suatu hari ketika ia baru saja bergabung dengan Srimulat, pada Majalah "FILM".

Namun, disaat ia baru saja hendak memenuhi janjinya itu, nasib lain datang lebih cepat. Gepeng pergi untuk selama-lamanya, setelah penyakit lever yang ia derita merenggut nyawanya. Dunia hiburan Indonesia kehilangan satu lagi artisnya. Gaung kalimat yang mempropulerkannya "Untung Ada Saya..." mungkin  saja akan terus bergema sampai beberapa tahun mendatang. Tapi kita tidak akan pernah lagi menyaksikan seorang lelaki b e g o , dengan kumis menumpuk di ujung bibir dan bicara tersendat-sendat, beraksi diatas panggung dengan langkah kaki diseret. 

Lahir di desa kecil Muntilan, Jawa Tengah pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 1950. Gepeng meninggal dalam usia menjelang 38 tahun di Rumas Sakit Panti Waluyo, Solo, Pukul 13. 05 WIB, Kamis 16 Juni 1988 akibat lever yang dideritanya kambuh. Ia kemudian dimakamkan keesokan harinya, Jumat, 17 Juni 1988 di pemakaman umum Bonoloyo Solo dengan dihadiri kerabat terdekatnya dan teman-temannya sesama pelawak. 

Tapi siapakah Gepeng?

Lahir dari perkawinan Karso, seorang tukang kendang berusia 30 tahun dengan Tami, seorang pengrawit berusia 27 tahun dan sudah janda, putri seorang bangsawan dari Tempel, Muntilan, Gepeng adalah anak pertama yang hidupnya menjadi potret yang jelas tentang keadaan seniman-seniman tradisional pada waktu itu. Sekalipun ibunya adalah putri bangsawan, namun hidup Gepeng tidaklah gemerlapan. Sebagai anak keluarga seniman panggung, bisa dibayangkan bagaimana Gepeng kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Ia lebih suka memilih ikut Bapak ibunya manggung dan belajar mendalang ketimbang pergi sekolah. Tak heran kalau iapun cuma bisa menyelesaikan sekolah hanya sampai kelas dua SD. 

Kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak menentu, akhirnya menyeret Gepeng nekat berangkat ke Jakarta dalam usianya yang masih 12 tahun. Namun ia kemudian dijemput Bapaknya untuk ikut bergabung dengan URRIL (Urusan Moril) yakni grup kesenian tentera. Namun Gepeng dan Bapaknya tak bertahan lama di grup ini. Dari sini ia kemudian gabung dengan grup wayang orang Edi Budoyo setelah sebelumnya, ketika masih di Jakarta , ia bergabung dengan Wayang Orang Pancamurti. Di WO Edi Budoyo - ini pulalah ia mengenal Supiah yang waktu kecil jadi penari dan masih kecil.~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

~~ Bersambung Bag 2, Gepeng Menikah dan Nenggak Alkohol