Friday, July 31, 2026

IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS

 


IRMA YANTHIE, ARTIS YANG PANDAI ADEGAN ROMANTIS, (berita lawas). Ada yang tahu aktris ini? Irma Yanthie? Irma Yanthie, dara manis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1965 lagi menggebu-gebu dengan dunianya. I atak banyak tawar menawar dengan produser, bukan materi yang dicari semata , mengembangkan popularitas agar lebih mudah dikenal masyarakat. Dunia yang sekarang di geluti ternyata cukup bisa buat menghidupi dirinya, walau hanya cukup untuk jajan. 

Pernyataan ini memang dapat di buktikan oleh Irma. Tengok saja dalam film-film yang pernah dibintanginya diantaranya, Bukit Berdarah, Siluman Clurit perak, Bila Saatnya Tiba, Kejarlah Daku Kau Kutangkap , Ayu dan Ayu, Gadis Pendekar, Cewek-cewek Pelaut, dan juga Durjana Lumut Hijau. 

Wow, Irma boleh dibilang diam-diam berbahaya. Itung-itung dari 8 film yang dibintanginya ia bermain cukup prima. Walau bermain  sebagai peran tambahan tapi ia pantang putus asa. Tekat ini yang menjadi tuntutannya hingga mendapat kepercayaan sebagai pemeran pembantu wanita. 

Saya nggak pilih-pilih soal peran asal sesuai dengan keinginan. Dan saya paling suka adegan yang mengarah romantis, " cetus cewek yang memiliki ukuran BH 36. Irma paling pandai dalam adegan romantis, ini ia lakukan agar cepat untuk meraih popularitas. Namun sebagai wanita, Irma punya batas-batas yang memang sudah ia tentukan sejak menekuni dunia film. 

Irma juga terjun di dunia foto model. "Yah bisa buat nambah untuk adik-adik saya yang masih sekolah , kan, saya belum punya pacar. Kesempatan bisa bantu orangtua, " jelas Irma yang juga terjun di dunia tarik suara. 

Karirnya memang berjalan cukup mulus, bisa dibayangkan belum lama di dunia film, Irma langsung juga nyrondol nimbrung nyanyi lewat album yang berjudul Pacar Rewel sempat memasuki pasaran blantika musik. ~~MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Thursday, July 30, 2026

JANE CHATERINE

 


JANE CHATERINE, (berita lawas). Ada yang ingat artis ini? Jane Chaterine, wajah anyar yang sudah beberapa kali terlibat dalam pembuatan film. Gadis yang duduk di bangku kelas II SMA PSKD II ini sempat mengalami kebingungan. Ketika tawaran main film terus berdatangan, ketika itu pula Catherine merasakan rasa penyesalannya, karena tawaran tersebut sering ditolaknya. 

"Habis bagaimana, kalau sutingnya di luar kota dan memakan waktu yang cukup leama, saya pasti nggak bisa. Alasannya sih karena sekolah. Padahal asyik tuh, dapat banyak tawaran. Pokoknya asyik saja. Tapi yaitu tadi, selalu kepentok dengan sekolah. 

Seperti film Saur Sepuh IV, saya sudah ditawari Oom Imam Tantowi. Setelah saya bicarakan sama mama, ternyata nggak boleh karena sutingnya jauh, dan waktunya cukup lama,  ujar Chaterine yang baru menyelesaikan filmnya "Curi Curi Kesempatan".

Di samping tawaran yang sudah banyak, Chatherine juga sudah mulai menyenangi dunia nyanyi setelah dunia model sudah dipegangnya dan sudah ada studio rekaman yang mulai mendekati Chaterine. 

"Nggak tahu kenapa, saya kok mulai tertarik dengan bidang nyanyi. Barangkali saja karena berhubungan erat dengan film. Ya apa salahnya kalau kita coba. Siapa tahu jodoh. benar kan? tambah Cahterine yang memiliki wajah fotogenik. 

Sekarang saya memang masih bingung , karena takut sih. Soalnya kan masih SMA, jadi harus konsentrasi penuh ke pelajaran. Kalau sutingnya di Jakarta sih nggak apa-apa. Atau diluar kota, tapi asal nggak sampai berbulan-bulan lamanya," ujarnya. 

Kesibukanpun tak pernah pupus. Pertengahan Desember (1990), Chaterine ikut mendukung film pelajaran bahasa Inggris yang di kemas dalam bentuk miniseri yang rencananya akan disiarkan di RCTi. "Ya itung-itung sambil belajar bahasa Inggris gratislah, "katanya beralasan. 

 ~~MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Wednesday, July 29, 2026

CAROLINE ZACHRIE

 


CAROLINE ZAHRIE (berita lawas). Kalau pernah nonton acara KISMIS kisah Misteri, tentu tahu si pembawa acaranyanya yaitu Caroline Zachrie. Ia seorang peragawati lulusan Amerika yang kemudian sukses di negerinya sendiri. Setelah melanglang buana ke berbagai negera untuk mengadakan fashion, akhirnya perempuan semampai yang menjandang gelar Sarjana Ekonomi ini mencoba mengasah bakatnya di jagat akting. "Ya sejak kecil memang menyukai akting cuma kebetulan saya melibatkan dunia fashion dulu. Sehingga saya lebih dikenal sebagai model dan peragawati, nah ketika Starvision menawari saya untuk main sinetron Jalan Kehidupan dan Selalu Untuk Selamanya langsung saya terima, "cetusnya. 

Permainan Caroline di Jalan Kehidupan memang masih terkesan main-main, hal itu bisa di maklumi, karena peran gadis yang menghabiskan masa remaja di negeri orang ini masih peran tempelan atau numpang lewat. Tapi di sinetron keduanya yang berjudul "Selalu Untuk Selamanya" besutan sutradara Yopie Burnama, permainan Caloline mulai menonjol. 

"Saya banyak mendapat tantangan di Selalu Untuk Selamanya karena saya harus mempermainkan dua karakter sekaligus, " aku Caroline dengan bahasa Indonesia yang belum begitu fasih. 

berikut petikan wawancara dengan Caroline Zachrie yang dimuat di MF No. 309/275/XIV, 18 Apr - 1 Mei 1998

T : Bagaimana ceritanya Caroline terlibat dengan dunia keperagawatian?

J : Saya waktu itu tengah sekolah di San Fransisco, kebetulan Papa sedang bertugas di sana. Untuk mengisi waktu luang saya bergabung dengan Prestise Model, di Prestise saya diajari bagaimana berjalan, etiket, berskap serta yang lainnya. 

Kemudian akhir 1993, saya balik ke Jakarta, saya kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Esa Unggul. Baru di tahun 1995 saya dikenalkan pada Ibu Ghea Soekasah (sekarang Ghea Panggabean) dan ibu Ghealah yang membawa saya ke Milan Itali untuk mengadakan fasion disana. 

Dan itu fashion pertama saya sebagai peragawati profesional, kemudian Ibu Ghea juga yang memperkenalkan saya kepada Mbak Larasati, Kintan dan Ratih yang sama-sama kita kenal sebagai peragawati papan atas dan juga seorang pemilik Expose Model. Lewat Expos Model itulah saya mengawali karir sebagai seorang model dan peragawati. 

T : Apa yang mendorong Caroline terjun ke dunia fashion?

J : Dari kecil saya memang sudah menyukai hal-hal yang berbau fashion karena dunia fashion glamour dan saya suka tantangan serta berkompetisi. 

T : Terus bagaimana pula Caroline terjun ke dunia sinetron siapa yang pertama kali nawari?

J : Saya di datangi salah seorang staf Starvision yang menawari saya untuk main di Jalan Kehidupan garapan bapak Achiel Nasrun. Karena memang kepingin main sinetron atau film, makanya tawaran itu langsung saya terima. 

T : Menyesal setelah terjun kedunia sinetron?

J : Nggak lah, dunia akting memang impian saya selama ini. 

T : Bagaimana komentar Caroline tentang  'jam karet' yang terjadi di dunia sinetron?

J : Itulah yagn saya sayangkan, seandainya para pelaku sinetron menyadari profesinya. Saya yakin jam karet tidak pernah terjadi, karena masing-masing profesi, baik pemain, sutradara maupun kru akan disiplin demi profesinya. 

T : Ada keinginan untuk menjadi artis sinetron kenamaan?

J ; Siapa sih yang nggak kepingin, cuma saya harus realistis. Saya masih baru, masih banyak yang mesti saya perbaiki untuk kemajuan karir saya. 

T : Kalau Caroline harus memilih, Caroline pilih dunia sinetron apa dunia fashion?

J : Sama-sama berat ya? tapi saya sangat menyadari kalau dunia fashion dan sinetron tidak akan selamanya saya sandang. 



FARID HARDJA, DALAM KENANGAN


 FARID HARDJA, DALAM KENANGAN (Berita Lawas). 

Kukenal dikau lalu jatuh cinta

bagai pertama

dan kucumbu dikau penuh kasih mesra

bagai cerita

wo wo Karmila...

Lagu berjudul Karmila itu kini tak lagi bersanding dengan pelantunnya, Farid Harja yang telah meninggal dunia. Bertubuh tambun, bergaya raper, berbusana gombor dan kacamata, serta syair sedikit nakal. Itulah beberapa ciri yang dimiliki almarhum yang lahir di Sukabumi, 7 September 1950. 

Farid Hrja telah pergi meninggalkan pencintanya. Diam-diam almarhum di akhir hayatnya sering di rongrong penyakit diabetes dan jantung. Rupanya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakrta merupakan tempat penyanyi ini menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Almarhum Farid meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung 8 bulan serta setumpuk lagu ciptaannya yang belum sempat dihancurkan. Menurut keluarganya, almarhum seakan tak mengindahkan penyakit yang selama ini diidapnya. "Almarhum dirawat karena penyakit gula dan sempat mengalami stroke sebelum akhirnya kami bawa kerumah sakit di Sukabumi dan dilarikan ke RSCM di Jakarta, " jelas kakak almarhum, Ny. Tati Harja. 

Banyak seniman musik yang merasa kehilangan artis yang disebut sebagai pendiam, tapi juga pemilik humor khas ini. Selain teman-teman almarhum semasa di kelompok Bani Adam (yang melahirkan lagu Karmila), juga artis-artis pendukung lagu dan klip lagu terbarunya, Partai Sembako, mengaku terkejut atas kepergian Farid Harja. 

Erie Susan, penyanyi dangdut yang pernah mendampingi almarhum untuk album dangdut berjudul Itu Cinta mengaku kaget mendengar berita kematian Farid Harja lewat berita SCTV. "Saya benar-benar nggak nyangka, Saya kaget dan ikut sedih, " komentar Erie yang mengaku  punya kenangan bagus selama rekaman lagu Itu Cinta bersama almarhum, "Almarhum orangnya baik dan taat pada agamanya, " komenar Erie akhirnya. 

Terlahir di kota Sukabumi, almarhum pada akhirnya pun dikebumikan di daerah yang sama. Setelah Akang pergi tak ada lagi tubuh besar yang siap menggoyang panggung dengan suara bariton dan nada yang kocak. 

Dalam perfilman, Farid Harga juga bermain di film Ini Rindu bersama Arianto Wibowo, dan Ayu Lestari. ~MF 328/294/XV, 9 - 22 Jan 1999

Tuesday, July 28, 2026

MURTI SARIDEWI, MAMPU BERPERAN PENGGODA

 


MURTI SARIDEWI, MAMPU BERPERAN PENGGODA(berita lawas RF). Dara manis, putri Solo ini punya nama lengkap Raden Roro Murti Saridewi. Sejak tahun 1988 lalu gelar 'Raden-nya terpaksa ditanggalkan, manakala ia mulai melibatkan diri kedunia perfilman. Tergolong prestasi yang luar biasa. 

Bayangkan dari sekitar 12.000 cewek pelamar untuk 'peran perayu' LASMINI dalam film "Saur Sepuh" yang pertama, hanya Murti yang berhasil kejaring. Sejak itu jadilah ia bintang film. Dan ternyata terbukti kalau dia 'mampu' berperan sebagai Lasmini, maka kontrakpun memanjang sampai seri yang ke III. 

Waktu itu Murti masih duduk di bangku SMA kelas I di perguruan swasta Muhammadiyah di Surakarta. Jenjang kelasnya bersamaan dengan seri filmnya hingga kelas III sekarang ia memerankan tokoh Lasmini dalam "Saur Sepuh" yang ke III. Malah berkembang dengan peran utama untuk film jenis remaja dari PT. Tiga Sinar Mutiara Film dengan judul "Catat Namaku Rintan" yang kemudian berganti judul "Cinta Punya Mau". Disini ia berpasangan dengan bintang Citra, Mathias Muchus. 

Putri Solo yang manis dan luwes ini ternyata punya banyak bidang keahlian seni. Yang menonjol tercatat sebagai peragawati, foto model dan penari. pernah jadi juara alam peragaan busana lurik, keluwesan berkebaya dan model beberapa produk di Surakarta. Sempat mendapat kesempatan sebagai  misi kebudayaan Indonesia ke Australia. Namun diurungkannya karena pada kesempatan yang sama dia sudah harus ikutan memerankan tokoh Lasmini sebagai debut pertamanya di film. 

"Keluar negeri kapan saja kan bisa. Kalau kesempatan shooting film ini, kan nggak bisa ditunda-tunda, ' kilahnya dengan ramah. Dan dari keadaan ini terbukti kesungguhannya untuk melibatkan diri kedunia film Dan bukti lain, kesempatan sebagai pemeran utama dalam film remaja yang digarap sutradara berbakat Chris Helwedery, Murti tampak ingin terus menekuni bidang film secara baik. 

Para penggarap "Cinta Punya Mau" juga menyebutkan kalau Murti sebagai punya kemauan dalam meningkatkan jenjang karirnya. Untuk itu dia sudah siap dengan kerepotannya. Karena selain ia sekolah di Solo, pada saat yang sama terlibat produksi film "Saur Sepuh III" yang lokasi sutingnya di Pangandaran Jawa Barat, dan di Jakarta untuk film "Cinta Punya Mau".

Dalam Percakapan Murti mengakui kalau saat itu betul-betul capek. "Bagaimana ya, yaitulah sudah resiko", ujarnya datar. Hanya sempat jadi was-was tentang pendidikannya. Soalnya kini tengah duduk di bangku kelas terakhir, dimana siap-siap pula menghadapi Ebta dan Ebtanas. Apakah Murti akan berhasil menyelesaikannya nanti, soalnya selama ini selalu dikorbankan sekolahnya demi karir. 

Menyangkut pemerannya, baik di Saur Sepuh maupun di Cinta Punya Mau , Murti digambarkan hampir sama, yakni sebagai penggoda. Menurut Murti di Saur Sepuh sebagai Lasmini, karena tokoh itu dianggap fiktif, jadi Murti katanya bisa membuat interpretasi sendiri. Lain halnya di Cinta Punya Mau, sebagai gadis remaja yang mirip dengan keadaanya, dirasakan sedikit kikuk. Apalagi dalam beberapa adegan dia diperlihatkan terlibat asmara atau mengharuskan menggunakan pakaian minim, seperti baju renang. Murti terlihat sedikit risi. 

Tapi Murti mengatakan sebagai masih beruntung karena pihak sutradaranya, Chris bisa mengerti dan mau memahami keinginannya. Sehingga  kostum yang semula  bikini, bisa diganti dengan pakaian renang hitam. Sementara untuk adegan kissing, dengan Mathias Muchus, Murti juga mengatakan masih kikuk. 

"Terus terang saya belum biasa. Dan sampai sekarang saya memang belum punya pacar. Jadi soal ini lihat nanti saja, " ujarnya, menanggapi kemungkinan adegan ciuman dari mulut ke mulut dengan lawan mainnya, Muchus. Serta kekikukan lain bagi Murti adalah mengenai dialek Jakarta. Tidak heran, untuk perannya kali ini suaranya di percayakan pada orang lain. ~~sumber Ria Film No. 832

Monday, July 27, 2026

CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA

 


CLIFT SANGRA SELALU MEMBUNTUTI SUZANNA (berita lawas). Setelah sekian tahun absen di perfilman nasional, Clift Sangra muncul kembali sebagai jagoan. Sekali ini, dia muncul lewat arahan Sutradara Imam Putra Piliang dalam film Tapak-Tapak Berdarah. Meski lima tahun absen, tapi Clift merasa selalu berada di lingkungan film. Wajar saja, sebab isterinya sendiri artis beken. Bagaimana kalau Suzanna dapat tawaran Clrift selalu terlibat. 

"Kalau pergi dan pulang suting, saya harus menjemput istri, "katanya bangga. Alasan inilah membuat artis berbadan gempal tak akan meninggalkan film.  Banyak yang menduga Clrift selalu cemburu melihat Suzanna selalu suting. Sehingga dia harus mengawal isterinya kemanapun. "Tidak, saya sangat sayang kepada isteri," kilahnya blak-blakan. Memang usia Suzanna dan Clift jauh berbeda, bukan berarti jauh pula tali kasih. 

Banyak pula artis yang memuji kesetiaan Clift atas isterinya. Jarang orang muda yang tidak suka melirik wanita lain. Itulah dizaman atis lagi musim kawin cerai ini api cinta Clift atas isterinya tak pernah padam. Mengekori Suzanna bukan cemburu tapi karena sayang. 

Setelah lama absen di film tidak mempengaruhi penampilannya di depan kamera. Kemampuan dan sosoknya sama ketika pertama kali tampil dalam film. Tubuhnya yang kekar dan alot itu tetap stabil. Bahkan lebih ideal dari kemarin-kemarin. 

"Sarapan saya besi," ujarnya berkelakar. Kalau  tidak angkat barbel setiap pagi, rasanya badan ini terasa sakit,"katanya menyambung. Itulah sebabnya dia harus angkat besi dulu sebelum sarapan pagi. "Kalau tidak, ada saja yang kurang. Hidup jadi tidak bergairah, "selanya sambil ngakak. 

Tidak hanya angkat besi, Clift juga melakukan latihan bela diri. "Terus terang saja, bela diri merupakan sebagian dari hidup saya," selanya. Itulah ketika dia berlakon dalamfilm action yang mendapat peran Hendra, tubuhnya begitu lentur melakukan latihan perkelahian."Kalau tidak latihan setiap hari bagaimana saya bisa berlakon dengan baik, "Lalu apakah tak kepingin berlakon dalam film Drama?"Saya senang sekali. Saya juga mampu berlakon apa saja, katanya mantap. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA

 


RANI SORAYA, IMAGE BOM SEKS SUDAH DIKUBURNYA (berita lawas). Wajahnya masih tetap cantik. Tubuhnya masih terlihat seksi dan sintal. Sementara gaya bicaranya masih seperti dulu, ceplas ceplos. Lalu adakah yang berubah dari diri seorang Rani Soraya?

Tentu saja Rani yang beken jadi pasangan Richie Ricardo di film layar lebar bertajuk "Bercinta" banyak yang sudah berubah. Kalau dulu ia masih single, sekarang sudah menjadi nyonya Michael Backman dengan dua anak Andre Sopandi Backman (5) dan Jonatan Sopandi Backman (4 bln). Perubahan lainnya, wanita kelahiran Bandung, 18 Januari 1967 ini kini lebih serius menekuni dunia bisnis bersama suaminya. 

Jika dia kini kembali hadir sebagai pendukung Senandungkan Damai dan bakal ditayangkan di TVRI itu tak lain karena Rani kangen sekali dengan hiruk pikuknya suasana syuting. "Enam tahun nggak berhadapan dengan kamera membuat hati ini terus berontak,  " ujar yang punya nama lengkap Rani Soraya Backam.

Masalahnya selama 6 tahun Rani memilih ikut suaminya tinggal di Finlandia. Dasar orang film, selama d Finlandia wanita asal Garut Jawa Barat ini tak seluruh waktunya dihabiskan jadi ibu rumahtangga yang baik. Ia kursus bahasa nenek moyang suaminya, yaitu bahasa Finlandia. Satu lagi, Rani masuk sekolah leater Internasional, yang muridnya datang dari berbagai negara sepeti Argentina, Afrika, Brazil, Jerman, Rusia, Spanyol dan beberapa negara lainnya. 

Kata penyuka warna merah , biru dan hitam ini, dari Indonesia muridnya bukan hanya dia seorang. Ada satu seniman beken asal Bali. "Maaf saya lupa namanya,"ujar Rani. Yang jelas Rani merasa beruntung sekali bisa sekolah disana, karena ilmu aktingnya jadi tambah matang. Bahkan Rani sempat tampil di layar lebar produksi negara yang hanya berpenduduk 5 juta jiwa itu. 

Tapi, lagi-lagi Rani lupa akan judul film yang dilakoninya. "Yang jelas saya main termasuk peran utama, "kilahnya yang terakhir tampil di layar kaca dengan judul "Mahkota Mayangkara" dimana saat itu Rani dalam keadaan hamil 3 bulan. 

"Selain tampil di layar lebar, sebetulnya tawaran lain banyak berdatangan tapi waktu saya nggak ada dan saya pribadi sudah berjanji hanya mau jadi ibu rumah tangga yang baik, "paparnya. 

Kalaupun ia kii bersedia tampil kembali disini, seperti yang dikatakannya tadi hanya karena kangen saja. "Tak ada pikiran saya berlakon karena ingin mengejar popularitas, ataupun dari sisi materi, " tegas cewek yang di tahun 90an termasuk salah satu artis bom seks layar lebar. "Niat saya sekarang tak lain ingin jadi pemain yang baik dan berlakon sebaik-baiknya," lanjut Rani yang dinikahi bule asal Finlandia Michael Backman di Garut 13 Januari 1996.

Walau niat awalnya ingin bermain sebaik mungkin sebagai pelakon, Rani mengakui saat kembali berhadapan di depan kamera, ia merasa nervous dan gugup. Untunglah teman-teman lamanya, seperti Uci Bing Slamet, Eddy Chaniago, Fuad Baraja, Lela Anggraeni dan Kamel Marvin selaku sutradara terus memberi dukungan dan memberi kritik membangun. Akhirnya semangat dan motivasinya untuk tampil sebaik mungkin di "Senandungkan Damai" sesuai yang diinginkan. Yaitu tampil jadi ibu rumahtangga yang baik berlakon sebagai Rogaya istri dari Fuad Baraja. 

Apa kesan Rani setelah 6 tahun tidak tampil sebagai pelakon? "bisa dikatakan saya cukup prihatin, karena gaya bekerja orang film ternyata masih jalan di tempat. "Maksudnya dalam sebuah penggarapan film , mereka bekerja belum taktis. Masih banyak ngaretnya. Beda sekali saat saya main di Finlandia semua serba profesional dan terarah,"urainya. 

"Melihat keadaan seperti itu, tentu saja ada keinginan memproduksi sendir. Tentu saja kalau saya punya timwork yang bagus dan profesional, " kata artis yang terakhir terlibat dalam film Komodo (1992) itu. 

Namun untuk saat ini, konsentrasi Rani yang utama adalah membangun perusahaan internet bersama suaminya yang baru beberapa bulan dijalani. "Saya ingin membangun usaha yang kami bangun ini sangat beda dengan usaha internet yang sudah ada yaitu bergerak di bidang Company Profile, COntact Person, Map dan Direct acces to update, " tandas Rani serius. 

Rani ingin membuktikan kalau dirinya sekarang sudah berubah jauh. Jelasnya, Rani sudah berjanji pada diri sendiri untuk merubah image dirinya yang dulu dijuluki salah satu artis bom seks, dan kini julukan itu sudah tidak berlaku lagi. "Rani sekarang sudah beda dengan Rani yang dulu", tegasnya. ~~MF 405/371/XVII 21 Des 2001 - 4 Jan 2002



Sunday, July 26, 2026

ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME

 


ANGIN RUMPUT SAVANA, JELAJAH ARTISTIK, DOKUMEN DAN ROMANTISME (FTV Lawas). Ada yang masih ingat Angin Rumput Savana? Garin Nugroho kembali menafsir Sumba lewat Angin Rumput Savana. Lewan sinetron yang merupakan kerja bareng John Hopkins University, BKKBN dan TPI dengan biaya produksi sekitar Rp. 250 juta ini Garin mencoba untuk melakukan penjelajahan artistik, penjelajahan dokumentasi dan juga penjelajahan romantis. 

"Angin...memang beda dengan Surat. Angin saya garap dengan romantis. Katakanlah, dia seperti musim penghujan. Sementara Surat merupakan musim kemarau. Film ini adalah film personal, keras, dengan tingkat absurditas sangat tinggi,"paparnya. "Biarpun pihak John Hopkins University menargetkan sinetron ini memperoleh International Award, saya pribadi tidak mentargetkan untuk itu. Target saya hanyalah agar karya ini mempunyai nilai baru. Seperti pada proyek pembuatan dokumenter Anak-Anak Jalanan yang dibiayai NHK, Jepang, beberapa waktu lalu. Disinipun saya tidak ingin didikte."

T : Angin Rumput Savana ini bertutur tentang apa?

J : Cinta kasih. Cinta seorang ibu pada anak, hubungan manusia dengan manusia. Disini dituturkan tentang Rambu Anak Wulung seorang gadis yang menentang adat perkawinan culik yang dialami ibu dan neneknya. Untuk itu ia pergi dan memutuskan untuk menjadi dokter. Namun ketika kembali ke Sumba, perkawinan culik itu terjadi padanya. Pria yang menculiknya, sesungguhnya telah kawin dengan Rambu Awang Intan. Dan sesungguhnya juga, mereka bertiga itu bersahabat sejak kecil. Saat melahirkan, Rambu Intan meninggal. Dan anak yang ditinggalkannya itu, hanya mau tidur jika ditidurkan Rambu Awang dengan mendengarkan lagu "Why Do You Love Me".

Kawin Culik itu sendiri, sekarang ini sudah sulit ditemui. 

T : Untuk kedua kalinya, Anda memilih Sumba sebagai setting. Sumba, tampaknya memiliki arti penting bagi Anda?

J : Seharusnya Sumba bukan cuma dua kali ditafsir. Daerah ini unik. Selain masih menyisakan masa lampau-zaman megalitikum - tetapi juga daerah yang menerima masa kini. Di sini selain terjadi gegar budaya juga terjadi pertumbuhan bersama. Masyarakatnya selain berkutat dengan masa lampau, juga telah menerima modernisasi. Parabola sudah biasa digunakan disini. Saya menganalogikan Angin Rumput Savana sebagai musim penghujan. Penuh romantisme. Beda sekali dengan Surat Untuk Bidadari yang keras, dan tingkat absurditas yang tinggi. 

Disini juga saya menampilkan kembali upacara tarik batu atau upacara pemakaman. Biaya untuk tarik batu itu cukup besar. Sehari bisa menghabiskan Rp. 3 juta belum termasuk orangnya. Saat penggarapan sinetron ini, sesungguhnya, mereka sedang istirahat dari upacara tersebut. Tetapi berkat bantuan Umbu Awi, raja Kalang, upacara tersebut dapat ditampilkan. Masyarakat Sumba Barat sangat membantu. DiSumba Timur, kamrena ada kesalahpahaman dalam soal izin produksi, agak timbul masalah. Tapi itu sudah diselesaikan dengan baik. 

T : Kalau tidak salah di Angin Rumput Savana ini Anda menggabungkan keindahan iklan, dokumenter, cerita dengan video. Dan nyatanya hasil gambar lewat video lebih bagus dibanding film 35 mm atau 16 mm?

J : Video punya kelemahan dan kelebihan tersendiri. Hasil gambar dari video, lebih indah dari gambar aslinya. Untuk itu kita harus tahu karakter. pemilihan filter yang tepat, dan desain warna. Karakter yang kurang tepat, harus kita hindari. Potensi yang dimilikinya, harus kita manfaatkan. Misalnya begini, Kalau cuaca kelewat panas, hasilnya akan kurang bagus, mendung sedikit juga kurang bagus. Menghadapi cuaca yang berubah setiap hari seperti ini , kita break. Tunggu waktu yang pas. Memang ini yang pertama kalinya buat saya menggarap sinetron cerita dengan full video. Sebelumnya saya hanya menggarap iklan. Penggarapan ini sebagai tatecase dan ujicoba. 

T : Romantisme dan agak pop, bisa dibaca untuk melakukan dialog dan mengkomunikasikan dengan penonton?

J : Dalam Surat Untuk Bidadari, sebetulnya juga telah terjadi dialog. Dialognya bisa sangat keras, mungkin sangat pahit. Tetapi itu harus dilakukan. Kalau kita tidak menafsir kebudayaan dengan berbagai cara, kemungkinan terjadi friksi besar sekali. Perang antar suku, misalnya, kalau saya menafsir Sumba sebagai lembut, lebih romantis, tentu untuk menyerap penonton yang lebih banyak, Saya tetap meyakini personal seperti Surat, hanya golongan tertentu yang menontonnya. Sebuah karya yang utama adalah tidak mengubah dirinya sendiri. 

Jika mengubah dari dirinya sendiri, dia pasti jelek dan itu akan menghasilkan industri. Contoh sederhana begini. Jika ada orang minta agar Budy Allen merombak karyanya agar banyak ditonton orang, orang itu sebaiknya ditempeleng. Film-film personal, saya yakini tetap akan tumbuh dan punya pasar tersendiri. 

Tetapi disini, tidak berlaku demikian. Disini kita menginginkan keseragaman dan penonton yang banyak. Maka, wajar jika film nasional bangkrut. Sebuah film seharusnya tidak musti dikomunikasikan banyak orang tetapi film itu memperbanyak penonton. 

T : Artinya tidak musti seragam?

J : Kalau kita bikin film laku dan semuanya melakukan hal yang sama, lalu buat apa kita bikin film. Pertanyaanya, mengapa opera sabun Jepang diproduksi? Mengapa tidak mengikuti opera sabun ala Amerika Latin yang lebih laku? Itu karena opera sabun Jepang punya penonton yang berbeda. Artinya kita perlu dan harus punya keanekaragaman. 

T : Anda tidak mengalami kesulitan dengan medan yang berubah-ubah dan tim kerja yang baru?

J : Memang tim yang ikut saya ini, adalah generasi baru dibawah tim Kuldesak. Tetapi mereka memiliki spirit dan semangat kerja yang bagus. Begitu juga dengan pemain. Mereka bermain bagus sekali seperti keinginan saya. Buat saya tahun ini merupakan tahun yang bagus bagi pertumbuhan. 

(Tahun lalu, ditengah 'upacara' dan gegap gempita menyambut peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, Garin Nugroho di percaya NHK menggarap film dokumenter, Dongeng Kancil, Anak-anak Jalanan. Disini, Garin memperlihatkan kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta. Anak-anak yang diasuh malam. Disini diperlihatkan bagaimana agar mabuk, bocah-bocah itu menghisap lem Aika Aibon - karena ketidakmampuannya beli minuman keras. Atau tentang bocah-bocah yang sudah mengenal hubungan seks dengan pelacur. Garin, ingin jujur dan memperlihatkan sesuatu yangboleh jadi , asing dan belum pernah kita lihat. Tetapi, kejujuran itu, bisa jadi ditafsirkan salah. Ada yang menilai dokumenter ini seperti menjemur celana dalam dipagar rumah).

Menurut Garin, pertanyaan seperti itu memang bakal muncul dari banyak pihak. Hal itu bisa terjadi karena, "Komunikasi kita selama ini sangat eufisme sekali. Ketika saya memperlihatkan, orang kaget. Kekagetan itu bisa dimaklumi, karena film seperti ini tidak pernah dibuat. Film ini dibuat bukan untuk memperolok-olok bangsa sendiri, " akunya. Pemda Yogya, seharusnya malah berterima kasih dengan dokumenter seperti ini. 

Dokumenter ini, justru dapat digunakan sebagai bahan studi dan banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu. "Dokumenter ini paling laku selama dua tahun. Buat Rumah Sakit, katakanlah RS Islam, wajib nonton film ini untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Dari sini mereka dapat mengatasi masalah AIDS, misalnya atau pelecehan seksual yang terjadi terhadap anak-anak".

T : Sisi gelap ini memang perlu diperlihatkan?

J : Pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter di Berlin beberapa waktu lalu, Amerika Serikat justru memperlihatkan kehidupan yang lebih sadis, lebih gelap dari film saya ini. Dan orang-orang justru bangga dengan Amerika. Pertanyaannya , kenapa bisa terjadi? Orang Amerika memperlihatkan fakta-fakta dan betapa demokratisnya mereka. Guna memperingati kemerdekaannya, Amerika menampilkan demonstrasi dan rasialisme. 

Kalau kita ingin menerangi satu tempat, sementara Anda nggak tahu dimana sisi gelapnya, itu tidak mungkin terjadi. ~dari MF No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


19 FILM PILIHAN FFI 1989

 


19 FILM PILIHAN FFI 1989. (berita lawas). Sebanyak 19 judul film Indonesia dipilih oleh Dewan Komite Seleksi FFI dari 92 judul film peserta FFI 1989. berikut adalah 19 judul film tersebut : 

1. Judul : Arini, Biarkan Kereta Api itu Lewat

    Sutradara  : Wim Umboh

    Pemain : Rano Karno, Ida Iasha, Rico Tampatty, Rima melati, Rani Soraya dll

 2. Judul : Namaku Joe, 

    Sutradara : Nasri Cheppy, 

    Pemain : Didi Petet, Onky Alexander, Meriam Bellina, Paramitha Rusady , dll

3. Judul : Semua Sayang Kamu, Dewi Cipluk

    Sutradara : Ida Farida, 

    Pemain : Neno Warisman, Eeng Saptahadi, Uci Bing Slamet , dll

4. Judul : Bayi Tabung

   Sutradara : Nurhadie Irawan

   Pemain : Widyawati, Deddy Mizwar, Essila Emir, Baharudin, Haji Omar, Vivi Samodro, dll

5. Judul : Catatan Si Boy III

    Sutradara : Nasri Cheppy

   Pemain : Onky Alexander, Meriam Bellina, Didi Petet, Leroy Osmani, dll

6. Judul : Kipas-Kipas Cari Angin

    Sutradara : Nya' Abbas Akup

    Pemain : Mathias Muchus, Nurul Arifin, Didi Petet, Eeng Saptahadi, Raja ema, pak Tile dll

7. Judul : Malioboro

    Sutradara : Chaerul Umam

    Pemain : Nungki Kusumastuti, Ira Wibowo, Sigit Hardadi, dll

8. Judul : Omong Besar

    Sutradara : MT. Risyaf

    Pemain : Deddy Mizwar, Eeng Saptahadi, Sylvana Herman, Mr. Os, Raja Ema, James Lapian , dll

9. Judul : Tragedi Bintaro

    Sutradara : Buce Malawau 

    Pemain : Asrul Zulmi, Lia Chaidir, Ferry Octora, Roldiah Maulessi , dll

10. Judul : Jeram Cinta

     Sutradara : Wahab Abdi

     Pemain : Ida Iasha, Athina Fransisca, Cok Simbara, Harry Capri, Dian Nitami, dll

11. Judul : Ketika Cinta Tlah Berlalu

     Sutradara : Adi Surya Abdi

    Pemain : Doni Damara, Sophia Latjuba, Nurul Arifin, Sena A Utoyo, dll

12. Judul : Noesa Penida

     Sutradara : Galeb Husin

     Pemain : Ray Sahetapy, Rita Zahara, Ida Ayu Made Diastini, Gusti Randa, Piet Burnama, dll

13. Judul : Dia Bukan Bayiku

      Sutradara : Hasmanan

     Pemain : Rano Karno, Marissa Haque, Yoseano Waas, dll

14. Judul : Pacar Ketinggalan Kereta

     Sutradara : Teguh Karya

    Pemain : Rachmat Hidayat, Tuti Indra Malaon, Niniek L Karim, Nurul Arifin, Alex Komang, Didi Petet, dll

15. Judul : Saskia

      Sutradara : Boyke Roring

      Pemain : Rico Tampatty, Nurul Arifin, Desy Ratnasari, dll

16. Judul : Si Badung

      Sutradara : Imam Tantowi

      Pemain : Rully Djohan, Mang Udel, Mien Brodjo, dll

17. Judul : Suami

      Sutradara : Sophan Sophian

      Pemain : Sophan Sophiaan, Widyawati, Ria Irawan, Desi Yull, Yoseano Waas, dll

18. Judul : Putihnya Duka, Kelabunya Bahagia

      Sutradara : Frank Rorimpandey

      Pemain : Eva Rosdiana Dewi, Joice Erna, Dwi Yan, Deddy Mizwar

19. Judul : Si Kbayan Saba Kota

      Sutradara Maman Firmansyah

     Pemain : Didi Petet, Paramitha Rusady, Nurul Arifin  dll


    Demikian di sadur dari MF No. 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989. Dalam artikel aslinya terdapat sinopsis dari masing-masing film. 

LINA BUDIARTI, "SAYA INI MEMANG PANTAS JADI HOSTES ATAU PELACUR", PERTAMA MAIN FILM HONORNYA 60 RIBU DISURUH TELANJANG

 


LINA BUDIARTI, (berita lawas). Waktu pertama main film honor Lina Budiarti cuma Rp. 60.000, itupun sudah berdua dengan suami. Untuk honor sebesar itu Lina disuruh melakukan adegan serem, buka baju dan bergumul diatas ranjang. Hanya sedikit saja bagian dalam busana yang menutupi tubuhnya yang gempal berisi itu, celana dalam dan BH. Lina disuruh bergumul dengan lelaki yang menggaulinya. Hemmm

"Wah saya merasa terperangkap waktu itu. Untuk menolak tidak mungkin karena honornya sudah saya terima. Tapi kalau harus melakukan adegan seperti itu rasanya juga mustahil. Jelek-jelek saya ini kan ibu dari anak-anak saya. Apa kata orang nanti, "kata Lina Budirati menceritakan pengalamannya pertama terjun kedunia film. 

Itu terjadi tahun 1976, saat ia ditawari numpang lewat dalam film "Bernafas Diatas Ranjang" arahan Dasri Yacob. Tapi jangan salah, honor sebesar itu sudah bisa beli lebih dari 25 gram emas, mengingat harganya Rp. 2500/gram. (wah murah sekali kalau diukur jaman sekarang ya hehe...)

Mulai kenal film dibisikin oleh seorang wartawan, tak lama sesudah Lina mengikuti pemilihan None Jakarta wilayah Jakarta Timur tahun 1976. Pemilihan yang tidak membedakan status (gadis, janda atau sudah beranak) itu sempat mengangkat Sukarlina Budiarty kelahiran Banjarnegara ini tampil sebagai pemenang harapan. 

Dari situ seolah jalan menuju bintang terbuka buat Lina istri Budyanto, pengarang buku cergam paling produktif saat itu. Bahkan dia bisa disebut pelopor pengarang buku-buku komik bergambar bertemakan remaja. Tahun 67 Budyanto S menghentikan kegiatan lamanya membuat cerita komik dan bersama-sama sang istri terus mengarungi dunia film. Sang istri terus menekuni akting sementara Budyanto S jadi penata busana. Lantas dia pulalah yang mendorong istrinya jadi foto model. Kalau perlu pakai bikini atau menampilkan bagian-bagian yang sensual. Bermunculanlah foto-foto Lina Budiarti sebagai penghias kalender atau majalah dengan pose ngeseks. 

Penampilan yang seksi ini terus berlanjut di film. Tak lain karena banyak sutradara memanfaatkan postur tubuhnya. Seperti diakui sendiri oleh Lina ,"Dalam film saya ini memang pantesnya jadi perempuan penggoda, hostess atau pela cur"itulah peran-peran yang pas buat saya, "katanya sambil memberi contoh perannya dalam film "Ponirah terpidana" (Slamet Rahardjo) , dia bermain sebagai pela cur, dari satu lelaki pindah ke lelaki lain, "Itulah film yang palin gberkesan selama say aikut membintangi film, "katanya. 

Meski di cap perempuan penggoda dalam film, tetapi diluar itu, Lina mengaku tak seburuk sangkaan orang. Lina tetap Lina Budiarti, ibu lima anak dan istri setia.

"Film kan cuma bohon-bohongan, ya saya lakukan itu dengan bohong-bohongan pula. Selesai suting ya sudah," katanya yang megnaku tidak pernah risi melakukan adegan ranjang atau ciuman dengan setiap lawan main. Umumnya semua lawan main sudah kenal atau bahkan kawan-kawan dekat, timpal Budiyanto. "Lagi pula adegan ranjang ataupun cium yang dilakukan LIna selama ini masih dalam batas-batas terlalu wajar. Busana dibuka sedikit atau cium dikening atau leher. Ya, lumrah saja, "sergah Budiyanto yang sudah 20 tahun kawin sama Lina Budiarti. 

Karena penampilannya yang cenderung ngesek itu, Lina Budiarti sering diperingati induk oraganisasinya Parfi. Sudah berkali-kali dapat peringatan keras tapi Lina cuek saja. "Lha menurut saya foto bikini adalah pekerjaan yang paling sopan dan halal, ketimbang di film harus telanjang bulat, "celotehnya. Kalau parfi mau peringati, itu dong artis-artis yang tiba-tiba naik mobil bagus, punya rumah, padahal tidak pernah dapat peran utama. Darimana duitnya tuh, kata Budyanto setengah menuding. Siapa bud? Akh ya nggak perlu kita sebut.Pokoknya kita taulah permainannya mereka, lanjutnya. ~sumber : MF 073/41/TH.V/15-28 April 1989


Saturday, July 25, 2026

DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA

 


DIDI PETET JUARA MASAK ANTAR PRIA, (berita lawas). Didi Petet tak yanya jago berakting, ternyata juga ahli memasak. Paling tidak hal itu dibuktikanny apada acara khusus "Lomba Masak Antar Pria" yang diselenggarakan oleh majalah Femina dalam rangka peringatan hari ulangtahunnya ke 18 bulan September lalu. (1990).

Dengan gaya meyakinkan dan dengan kepala masih plontos (untuk kepentingan peran sebagai Oom Pasikom dalam film "Parodi Ibukota"). Didi memakai celemek dan topi kokinya, lantas dengan cermat mulai memilih-milih bahan yang akan dimasak. Ada daging sapi has dalam, sayuran sawi, petai dan sebagainya. 

Apa gerangan yang dimasak oleh Didi? Tak lain dan tak bukan adalah "Sambal Goreng Pete". Itulah nama masakannya. Didi suka pete? Jelas kelihatan. Mengingat peranannya sebagai si Kabayan dalam film laris "Si Kabayan Saba Kota" atau "Si Kabayan dan Gadis Kota". Dalam film tersebut, si Kabayan memang suka makan pete, klop dengan Didi sehari hari. 

Aktor andal yang tahun-tahun ini punya 'koleksi beberapa judul film ini tak banyak komentar mengenai hobinya memasak maupun kansnya dalam Festival Film Indonesia yang mulai marak bulan ini. Tahun ini ia diharapkan unggul lewat garapan Chaerul Umam, "Joe Turun Kedesa" , Boleh-boleh saja kita berspekulasi sebelum dewan juri FFI memutuskan pilihannya. 

Yang terang, dalam Lomba masak yang diselenggarakan di Hotel Hilton Jakarta itu Didi tidak mendapat nomor. Ia dikalahkan oleh Direktur Erasmus Huis, sebagai juara I, Addie MS, penata musik beken sebagai juara II dan Dr. Sugianto (Suami penyiar TVRI Unun Sugianto) sebagai juara III. Juara Favorit diraih oleh pelawak Darto Helm, Didi tidak tampak kecil hati. Ia tertawa-tawa melihat suasana penjurian yang meriah. Sebab rekan-rekannya yang sama-sama kalah juga banyak. Antara lain Sutradara Eros Djarot, Dramawan Putu Wijaya, Pemusik Reynold Panggabean dan sebagainya. "Ini cuma iseng, mencari suasana baru kok, " ujar Didi ceria. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ALDI RIZALDY, AKTOR 90an


 ALDI RIZALDY, AKTOR 90an (berita lawas). Kali ini mari kita berkenalan dengan aktor dan juga bintang iklan era 90an. Aldi Rizaldy. Aldi Rizaldy, mengaku kadang sulit jika ditanya aslinya darimana. Maklumlah cowok handsome kelahiran Palembang, 2 Agustus 1971 ini mengaku lahir dari buah cinta pasangan campuran. 

Bintang Iklan Rexona dan Minak Djinggo Internasional terlahir dari ayahnya asli Arab Irak, mamanya Arab Saudi dan Neneknya Malaysia China. 

"Aku ini bisa disebut anak gado-gado. Jelasnya, sih anak Indonesia dong!, terang bintang andalan layar lebar di "GAIRAH YANG PANAS" , "JARINGAN TABU" dan GAIRAH HILDA" ini. 

Tentang dunia artis menurut wajah baru yang mirip bintang India Kumar Gaurav ini baru ditekuninya sekitar dua tahun. Walau begitu ia merasa betah untuk terus berkiprah sebagai pelakon. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di MF  No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


T : Kok langsung betah berprofesi sebagai artis?

J : Habis enak sih!. Lagi pula jadi artis memang sudah cita-citaku sejak kecil. 

T : Usia berapa cita-cita itu muncul?

J : Sejak Usia 10 tahun aku sudah sering berkhayal ingin jadi bintang film. 

T : Keinginan yang kuat itu datang setelah Aldy melihat permainan siapa?

J : Ketika melihat permainannya Rano Karno, Widyawati, dan Sophan Sophiaan. Saat itu setiap mereka main aku selalu menghayati permainan mereka dan begitu kagum dengan kepiawaiannya bermain dalam perannya. 

T : Bagaimana reaksi ortu begitu Aldy memutuskan terjun sebagai pelakon?

J : Mereka setuju dan mendukung saja. 

T : Profesi Papimu sendiri apa ?

J : Papiku, pengusaha kayu. 

T : Kenapa kamu tidak mengikuti jejak papimu saja, toh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi artis?

J : Aku pernah mengikuti jejak papi sebagai pengusaha kayu. Tapi  aku ini bosenan. Akhirnya aku tinggalkan pekerjaan itu. 

T : Setelah jadi artis, kalau bosen lagi, ditinggal lagi?

J : Kalau sebagai artis aku nggak bosenan,  karena seperti yang sudah dikatakan tadi, profesi ini aku cinta sekali. (Profesi Aldi sebagai artis, katanya diawali dari model, dimana ia disalurkan lewat sebuah agency. Sedang tentang ilmu akting, menurut Aldi ia dapat dari banyak nonton film-film di bioskop dan televisi).

T : Siapa saja teman cowokmu dikalangan artis?

J : Denny Malik, Thomas Djorghie dan Jamil Reza

T : Kalau yang ceweknya?

J : Mila Karmelia, Anne J Coto dan beberapa model lainnya. 

T : Sebelum hijrah ke Jakarta, kamu tinggal dimana? 

J ; Aku tinggal di Palembang

T : Begitu kamu memutuskan untuk meniti karir di Jakarta, apakah langsung direstui ortu?

J : Tentu saja. Bahkan saat melepas kepergian aku ke tanah rantau, diadakan selamatan segala dengan mengundang pengajian. 

T : Saat orangtua melepaskan anaknya untuk merantau, kalimat apa yang kamu ucapkan agar mereka yakin anaknya nanti tidak bermasalah?

J : Aku katakan, kalau aku akan mencari rejeki yang halal. Soal sholat lima waktu dan mengaji, aku tegaskan jangan kuatir. Itu memang sudah kewajibanku untuk menjalani dan tidak pernh untuk meninggalkannya. 

T : Apakah sebelum hijrah ke Jakarta, kamu sempat singgah di kota lain?

J : Ya, aku sempat juga tinggal di Bandung, bua usaha jual onderdil mobil dan mebel. Tapi karena bosen lagi , aku tinggalkan. 

T : Sepertinya kamu memang senang mandiri. Padahal kamu datang dari keluarga yang berkecukupan dan anak laki-laki bungsu dari 7 bersaudara. Jadi apa yang mau dicari?

J : Karena aku merasa sudah waktunya hidup tanpa bantuan orangtua. malu dong, kalau terus-terusan minta orangtua. Bahkan sekarang saatnya giliran aku yang memberi untuk orangtuaku. 

T : Maksudnya?

J : Ingin nyenengin orangtua. Salahsatu caranya, ingin mmeberangkatkan mereka ke Tanah Suci Mekah. Kalau keuangan lebih dari cukup, aku juga inign menyertainya ke tanah suci. ~

Friday, July 24, 2026

AMBU YETTY SYARIFAH


 AMBU YETTY SYARIFAH (berita lawas). Yetty Syarifah yang dikenal sebagai Ambu, bersikeras ingin mempersatukan kalangan seniman, khususnya di daerah Jawa Barat. Karena selama ini menurut  penilaian Ambu, seniman di Jabar sulit di atur, masing-masing punya keinginan sendiri, sehingga praktis sulit untuk bersatu. Betapa tidak! Dalam kaitan itu, Ambu hidup menggeluti dunia film dan sinetron yang ditekuni sejak 1972 silam. Cita-citanya lain tidak kecuali ingin memajukan seni budaya lewat persatuan dan kesatuan di kalangan para seniman, katanya saat ditemui di sela-sela syuting film "Warisan Terlarang" yang berlokasi di Kuningan arahan sutradara S.A Karim. 

Ambu yang lahir 14 Maret 1936 dari pasangan R. Opo Sumantapraja yang Opzegter Perkebunan dan Julijah asli Garut itu mengawali karirnya lewat film "Si Buta Dari Gua Hantu", menyusul puluhan film lainnya. Diantaranya film "Gadis Marathon" cukup berkesan, sejumlah sinetron termasuk "Sartika". Disitu Ambu bisa mengembangkan watak dan selalu berupaya main maksimal, sesuai arahan Sutadaran antaranya Kurnaen Suhardiman, Bambang BS dan banyak lagi , "tutur pengagum BJ Habibie. 

Darah seni mengalir dari orangtuanya. Dulu orangtua say akerap tampil dalam seni "Cianjuran" suaranya lumayan mendayu-dayu dan bisa membuat orang tertidur bila mendengar lagu "Cianjuran".

Meskipun ia sekarang berstatus janda berputra empat, ia tidak pernah kesepian, sejak ditinggal suaminya menghadap yang Maha Kuasa. Menyusul suami kedua, tapi nampaknya kurang pas dan akhirnya sekarang sendiri lagi. Saya tidak memikirkan ingin punya suami lagi, umur sudah tua dan lagi punya banyak "incu".

"Kegiatan sehari-hari bila tidak ada syuting, saya tumpahkan kasih saya seorang nenek kepada cucu-cucunya,  ujar anak bungsu dari sepuluh bersaudara ini.  ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Thursday, July 23, 2026

NIA LAVENIA


NIA LAVENIA, SI RAMBUT PANJANG YANG SELALU NGOTOT (berita lawas). Gadis berambut panjang dan berlesung pipit ini bernama Nia Lavenia. Orangnya manis seperti namanya. Karena wajahnya yang menarik ini membuat dirinya menjadi model untuk produk Coca Cola dan Shampo, karena itu dia sering mejeng di layar RCTI. Nia bukan tipe cewek yang gampang puas. Untuk sesuatu keinginannya dia selalu ngotot. Sebab ketika tapmil dalam film "DON AUFAR" dan "KETIKA MUSIM DUREN TIBA" dia hanya numpang mejeng doang. 

"Saya hanya jadi penari. Kurang puas kan kalau cuma goyang-goyang pinggul," katanya renyah. Ketika liburan sekolah tiba Neng Nia disodorkan peran. Kontan gembira ria. Suatu yang mengasyikan masa libur diisi kegiatan positif, pikirnya. Dalam film "Blok M" sutradara Edward Pesta Sirait, Nia menjadi yang suka mejeng dengan teman-temannya. Dia dan Desy Ratnasari merupakan anak-anakyang haus kasih saya, karena orang tua selalu sibuk. Sehingga lupa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Membuat anak-anaknya Mejeng di pasa Blok M , kawasan Melawai. "Saya senang main film karena berakting beneran, "kata gadis dengan tinggi 160 cm dan berat 46 kg ini. 

Kiprahnya tidak hanya dalam model-modelan. Rupanya dia terlihat juga dalam tarik menarik suara. Satu album dangdutnya telah rampung untuk lagu yang berjudul "Cinta Lahir Batin". Nia telah pula nongol di Aneka Ria Safari. 

Nia merupakan belasteran Jawa dan Sunda. Ngakunya suka nonton film apa saja. Meski dia ingin menjadi bintang film dan seorang penyanyi tenar, Nia juga punya idola. "Saya senang Christine Hakim karena aktingnya yang penuh penjiwaan. Kalau penyanyi saya senang dengan Ruth Sahanaya, selain dia memiliki vocal bagus, penampilan juga menarik"katanya. Lalu apa sih cita-citanya sebenarnya?"Kalau dipikir-pikir saya ingin jadi ahli ekonomi, " ujarnya bersemangat. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Wednesday, July 22, 2026

BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN

 


BERCINTA DENGAN MAUT, BANGKITNYA RATU KEGELAPAN (Film Lawas). Siapa Menduka kalau kru film nasional mampu membikin film action yang nyaris sekelas dengan produksi Hollywood? Film Bercinta Dengan Mautlah buktinya. Para pelakon utamanya spesial di impor dari Amerika. Pembiayaannya pun patungan antara produser Amerika dan Indonesia. Semua kru merupakan tenaga dalam negeri. Sebua langkah yang manis dilakukan PT. Soraya Intercine Films di saat sepinya tema action modern. Tjut Djalil selaku sutradara meramunya sebagai sebuah tontonan yang menarik. 

Beredar serentak di DKI, Jabar dan Jateng pada 26 November 1993, film bertema action-horor ii beredar di Amerika tahun 1994. 

Bercinta Dengan Maut dibikin dengan anggaran yang cukp mahal, dengan masa suting 3 bulan lebih. Mengambil lokasi suting di Jakarta, Jawa Barat dan Bali. Proses sutingnya dipenuhi dengan trik-trik special effect dan artistik yang cukup baik. Keberhasilan film ini juga menunjukkan bahwa kru film negeri ini cukup handal. "Kami sangat merasa ditantang diberikan kepercayaan membikin film jenis ini, " Kata Partogi Simatupang selaku kamerawan. 

Bergabungnya artis Amerika seperti : Tonny Lynn, Kristin Ann, dan Amy Marie Waber, tidak membikin kru dan artis film nasional minder. Malahan sebaliknya. Semangat semakin menggebu-gebu. "Saya mampu berlakon dengna baik, dengan artis manapun, " ujar Reynaldi Iskak. Keberanian Ronny Lynn, Kristin Ann dan Amy Marie dalam film ini cukup menggiurkan. Tapi, tidak digarap secara vulgar. 

Cerita menawarkan sesuatu yang menarik. Tiga orang perampok, Ted, Erick dan Jeff berhasil merampok perhiasan. Mereka kabur dengan mobil sedan. Sersan Dody dan anak buahnya terus memburu bandit-bandit itu. Terjadi baku tembak. Mobil para bandit terbalik, tak jauh dari rumah Linda, seorang artis foto model. Tapi , ketiga perampok tersebut mati dengan berlumuran darah. 

Jari tangan Jeff yang mengenakan cincin berlian putus secara mengerikan. Darah para perampok yang tersisa didedaunan menetes kepermukaan cermin. Darah itu seketika berbusa, lalu cermin itu menelan jari Jeff. Lalu muncul sosok wanita berwajah cantik, dengan tubuhnya dibagian perut keroak. Makhluk cantik, tpai mengerikan ini menamakan dirinya, Ratu dari Kegelapan. 

Linda sewaktu berulang tahun menerima hadiah dari Johanes, berupa buku Mystic of The East. Buku ini dipelajari oleh Susan, adik Linda yang kabur dari Amerika karena diperlakukan kasar oleh suaminya. John, suami Susan, mengidap seks maniak. Susan menemui LInda di Bali, saat sedang opname pemotretan dengan fotografer. 

"Ratu Dari Kegelapan" itu kemudian merasuk jasad Susan, tatkala Susan sedang membaca mantra-mantra buku Mystic of The East. Melalui jasad Susan, "Ratu Dari Kegelapan" membunuh dan menghisap darah mangsanya sampai kering. Ratu Iblis ii sangat doyan dengan darah-darah pemuda berwajah tampan. Setelah puas, Susan menyerahkan korbanna dengan upacara di depan cermin. 

John datang dari Amerika, mengajak Susan kembali ke Amerika. Tapi Susan menolak. Penyakit seks maniaknya kambuh, dan menganiaya Susan. Untung Bob datang hingga John tidak berhasil memperkosa Susan. 

Malam harinya, Susan yang kesurupan "Ratu Dari Kegelapan" mendatangi John di hotel dan John menjadi mangsa untuk sekian kalinya. Kematian yang berturut-turut ini membikin Sersan Dody curiga kepada Susan. Tatkala Linda pulang dari Bali, ia menemukan Susan sedang melaksanakan upacara mistiknya. Linda menyeret Susan ke dalam kamar dan menguncinya. Linda melaporkannya pada Bob, supaya berita sampai kepada Johanes. Susan terus kesurupan dan akhirnya mengamuk hendak membunuh Linda. 

Sersan Dody yang datang hendak membantu terpental di pukul Susan. Dody lari ke mobil dan mengambil senjata, tapi Susan datang dan membakar mobil dengan ilmu hitamnya. Sersan Dody ikut terbakar. 

Bob dan Johannes datang. Johanese membaca mantera-mantera dari  buku Mystic of The East. Pertarungan seru terjadi antara Johannes dan susan. Akhirnya Johannes berhasil mengahncurkan cermin itu, dan menarik Susan keluar. Mereka sempat lari dari rumah itu, sebelum rumah Linda yang besar itu meledak berkeping-keping.

Produksi : PT. Soraya Intercine Film, Produser : Ram Soraya, Sutradara : Tjut Djalil, Kamerawan : Partogi Simatupang, Editor : Sentot Sahid, Penata Musik : Dian AGP, Pemain : Shahreza S, Tony Lynn, Reynaldi Iskak, Kristin Ann, John F Waroni, Otic Pakis, Simon PS, Wilman Saragih, Amy Marie Weber.  ~MF 193/159/Th. X, 20 Nov - 3 Des 1993


CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"


 CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"(berita lawas). Mengejar da memburu Chiata "Fatima" Hendrayani, peraih piala Vidia untuk Pemeran Utama Wanita kategori Komedi seri pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1997, ternyata gampang-gampang susah. Sesudah berulangkali janjian lewat telepon maupun via handphone, akhirnya bisa bertemu di lokasi suting di Cipinang besar. Saat ditemui Chiata baru sakit. 

Selain sakit, Aya-biasa begitu disapa memang punya jam kerja tak pasti. Maklum, selain main sinetron, menjadi model, ia bekerja sebagai marketing pada sebuah pabrik cat. Tapi "Saya disana bukan karyawan tetap kok. kalau ada order dan goal, dapat bonus. 

Kok jauh benar dengan dunia entertaint? Aya tergelak. Menjadi tenaga pemasaran, kata Aya justru main jobnya, dan sudah dijalani selama tiga tahun. 

Lha kalau main sinetron? "Biar honorarium dari Fatima sudah lumayan, tapi buat saya sinetron masih side job. Kebetulan, untuk ukuran Ciganjur dan sekitarnya, wajah dan postur Aya merepet dan masih lumayan. 

Keberhasilannya meraih Piala Vidia dalam penyelenggaraan FSI akankah merubah pandangan Aya? Main sinetron bukan lagi side job tetapi sudah main job? "Nggak juga begitu. Tetapi dengan keberhasilan itu saya akan makin serius berakting dan selektif memilih peran. bener! katanya gagah. 

Ditengah menunggu pengambilan gambar, penggemar masakan ayam rica-rica, masakan sang mama ini, banyak bercerita mengenai apa saja yang dilakukannya untuk masuk ke dalam 'ruh' Fatima. Janda muda, cantik dengan seorang anak laki-laki, tinggal dalam lingkungan masyarakat Betawi yang sederhana. 

Aya mengaku, ia antara lain mengamati perilaku dan gaya bicara pembantu rumah tangganya yang berasal dari Betawi. Ia juga memerhatikan dan berbincang dengan para tetangganya di Ciganjur. "Selain itu tentu saja banyak bertanya pada Babe, Mpok Nori, Manaf, Bang Syamsul serta lainnya. Mereka sangat membantu. Terima kasih untuk bantuannya itu, "kata pemilik tinggi 175 cm ini. 

Nama Chiata Hendrayani mungkin pernah anda dengar. Mungkin juga anda lupa-lupa ingat. Untuk menyegarkan ingatan anda tentangnya, kita rewind apa siapa Chiata. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Theo H Sinnighe dengan Faizah Bahasoan ini memulai kiprahnya lewat film layar lebar Blok M (Bakal Lokasi Mejeng) garapan sutradara Edward Pesta Sirait tahun 1990. Laiknya pemain film Ia hanya mengantar seorang temannya untuk casting. Saat test, Chiata juga ikut ditest. "Kamu nggak mungkin diterima. Soalnya kamu belum pernah main film atau jadi model, "ujar Chiata menirukan ucapan temannya waktu itu dalam perjalanan pulang. "Nggak kepilih juga nggak apa-apa. Orang tua gue juga keberatan kalau gue main film,"jawab Aya. 

Eduard Pesta Sirait, sperti diungkapkan Chiata, tak selang lama malah menelponny dan mengabari ia diterima sebagai Winda. Kedua orangtuanya, tentu saja bingung. mereka keberatan Chiata main film. Image film Indonesia ketika itu masih kurang bagus dimata para orang tua. Apalagi saat itu Chiata jelang ujian SMP. Untuk meyakinkan filmnya berbeda dengan film nasional kebanyakan, Edu secara pribadi menemui orangtua Chiata. Tak lupa membawa skenario dan bagaimana karakter Winda. 

"Bokap dan Nyokap akhirnya memberi izin, dengan catatan nilai ujianku harus bagus. Dan selama suting, Mama selalu ngikutin, " paparnya. "Honorarium main film itu juga nggak gede-gede amat. Kalau tak salah ingat sekitar limaratus ribu rupiah. Mama yang ngatur duitnya,"ungkapnya mengenang. 

Film Blok M itu mungkin saja akan menjadi film pertama sekaligus terakhir Chiata Hendrayani. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


Tuesday, July 21, 2026

DESY RATNASARI, MAKE UP DI WARTEG

 


DESY RATNASARI, MAKE UP DI WARTEG (berita lawas) Ini berita penting ya hehe, make up di warteg . Masyarakat Jakarta pasti sudah akrab dengan Warung Tegal. Biasanya warteg tempat mangkalnya abang becak dan sopir bajaj dan tempat para pengangguran kongkow-kongkow (ini sih dulu ya, sekarang warteg udah mahal harganya hehe..admin). Sejak datangnya Desy Ratnasari, artis remaja si cantik manis ini membuat warteg di kawasan Rawasari semakin semarak. Kontan saja para abang becak dan sopir bajaj hengkang dari warteg itu. 

Tidak ada tempat bagi Desy untuk berlindung, kecuali di warteg itu. Sementara matahari bersinar terik. Suhu udarapun meningkat tinggi dari biasanya. Kalau bersembunyi di bawah tenda kru film "OOM PASIKOM, PARODI IBUKOTA" aroma bau busuk terasa menyengat hidung. 

"Bagi saya tidak jadi masalah bermake up di warteg. Walau kesannya kumuh tapi kesederhanaan warung membuat kita rileks, " ujar artis yang memiliki tinggi 164 cm ini. 

Karena munculnya Desy tentu saja pengunjung warteg menjadi ramai. Tapi bala juga bagi empunya warteg. Dari sekian banyak pengunjung warteg hanya beberapa orang saja yang ngopi atau makan. Sang empunya warteg hanya bisa urut dada. Kesemuanya pengunjung hanya melihat-lihat Desy. Karena jadi tontonan gratis membuat warteg membludak. Untung tidak ada yang mencolek-colek Desy. 

"Walau saya rugi waktu karena tak ada yang beli, ya tidak apa-apa. Saya bangga lho, sebab ada bintang film duduk di warung saya, "ujar ibu empunya warung. 

Tidak hanya bermake up, tapi juga untuk beristirahat tentu saja warteg yang kecil ini menjadi sesak. Di pojok lain dua remaja bertengkar. Apa pasal? Selidik punya selidik, sang cewek cemburu karena melihat sang cowok ingin berkenalan dengan Desy. 

Untung saja suting cepat berlangsung. Sehingga Desy bisa lebih dini meninggalkan warteg itu. Kalau lebih lama mungkin bakal ada yang terjadi. Sebab massa semakin banyak. Karena massa datang sendiri. Bukanlah gampang mencari massa pada tengah hari untuk menjadi figuran film. 

Ditanya soal pacar Desy menutup diri. Padahal beberapa anak muda tergila-gila padanya. Apa lagi zaman sekarang, satu dua remaja yang tidak punya pacar. Ketinggalan zaman dong?.

"Saya memang nggak punya pacar. Saya takut pacaran. Kata orang bahaya,"kilahnya berkelakar. Rupanya suting Desy kali ini tidak berjalan mulus. Kenapa Des? "Saya harus berperang dengan debu. Itu sih tidak apa-apa. Kalau bau busuk mau muntah rasanya. Kan lebih baik mangkal di warteg daripada berjemur matahari dan berteman sampah, "katanya. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Monday, July 20, 2026

REYNALDI, "MASA KANAK-KANAK SAYA PENUH PENDERITAAN"

 


REYNALDI, "MASA KANAK-KANAK SAYA PENUH PENDERITAAN" (Wawancara lawas dengan Reynaldi). Nama Reynaldi tiba-tiba mencuat ke permukaan sebagai idola baru. Wajahnya tampan keindoan, tubuhnya atletis, penampilannya selalu modis dan yang lebih penting ia ramah dan arif menghadapi publik yang kini mengelu-elukannya. Tidaklah aneh, dalam waktu yang teramat singkat, model iklan pembersih rambut berdarah Sukabumi dan besar di Belanda ini, mampu menancapkan taringnya di jajaran artis atas. 

Kini, setiap langkahnya selalu jadi perhatian cewek-cewek yang mencoba mencuri perhatiannya. Tidak itu saja, menurut pengakuan model iklan minyak ramut yang mencuat nama setelah memerankan tokoh Lorenzo di sinetron Di Bawah Matahari Bali ini, bahwa wajah kerennya juga membuat para tante pencari daun muda belingsatan. Diantaranya terjadi ketika Reynaldi tengah enjoy di salah satu diskotek di Bandung. Tiba-tiba ada seorang wanita muda yang mendekatinya dan arah pembicaraannya aneh serta menjurus ke ajakan kencan. 

"Saya kurang suka sama orang yang bertele-tele, makanya ketika ada seorang wanita yang muter-muter dulu, langsung saya tembak, "Maunya apa sih?" Baru dianya blingsatan. Saya tidak mudah untuk mengumbar seks kepada setiap wanita. Apalagi sekarang saya sudah punya istri, saya sudah nggak bebas lagi, " papar putra aktor film Boy Ishak ini dengan bahasa Indonesia terpatah-patah. 

Ketika wartawan dari MF jalan bareng dengan suami artis Alba Fuad (sekarang sudah bercerai) ini ke Ebony Diskotek, Jakarta, banyak cewek cantik salah tingkah melihat kehadirannya. Salah seorang artis penyanyi terkenal tanpa malu-malu merajuk ke Reynaldi dan memberinya kartu nama. "Telpon, telpon gue, ya di" kata penyanyi tadi manja. 

Itulah gambaran betapa diidolakannya seorang Reynaldi sebagai bintang baru. Pengagum Presley ini juga membuat produser film ikut memanfaatkan popularitasnya. Tawaran datang berhamburan, Tapi belum satupun yang diterimanya, kenapa?

"Saya nggak suka perannya, kebanyakan film-film ang ditawarkan, yang menonjolkan seksualitas, kalau perannya bagus dan menantang pasti saya mau, "tandasnya. 

Kini Reynaldi sedang mencoba menekuni dunia lamanya, musik. Sebagai pengagum penyanyi legendaris, Elvis Presley, aktor yang baru saja membintangi sinetron serial Body Kuat yang tayang di RCTI , telah membentuk kelompok musik yang berirama Rock N Roll dan diberinama "Memphis Band" dan sudah sering tampil di berbagai cafe di seputar Jakrta. 

Berikut petikan wawancara dengan Reynaldi yang dimuat di MF No. 193/159/TH X , 20 Nov - 3 Des 1993. 

T : Tanya

J : Jawab

T : Apakah yang kamu sesali setelah menjadi orang terkenal seperti sekarang ini?

J : NGgak ada tuh, malah saya ingin menekuni dunia akting lebih serius lagi, sampai saya nggak laku. 

T : Dalam penampilan seperti sekarang, apa yang membuat kamu merasa kurang sempurna?

J : Banyak. Masih banyak kekurangan saya, apa yang saya peroleh sekarang masih permukaannya. Dan lagian mana ada sih, manusia yang sempurna. 

T : Kalau kamu sedang bercermin, bagian tubuh mana yang kamu rasa menjengkelkan?

J : Nggak ada yang menjengkelkan, karena saya mensyukuri betul apa yang diberikan Allah swt, buktinya apa yang ada dalam diri saya aku dijual untuk model iklan. 

T : Eksentrikitas apa yang kamu sadari dan miliki ?

J : Saya berusaha untuk tidak tampil eksentrik karena sebagai seorang model saya harus tampil rapi dan modis. 

T : Bakat apa yang kamu sadari sejak kecil ?

J : Business serta berkesenian. Kalau kesenian turunan dari ayah saya yang aktor film. 

T : Dalam kesempatan apa kamu berbohong?

J : Saya akan berbohong, kalau memang untuk kebaikan ,  atau kedamaian orang lain. Contohnya, kalau saya ngomong sejujurnya akan ada orang yang celaka, saya mending bohong. 

T : Apa yang paling kamu cintai dalam hidup ini?

J : Ibu saya

T : Apa yang ditakuti dalam hidup ini ?

J : Ditinggalin anak saya

T : Hal-hal apa yang membuat kamu gampang menangis?

J : Kalau mengingat masa kanak-kanak saya yang penuh penderitaan

T : Kapan terakhir kali kamu menangis?

J : Tahun 1990

T : Kenapa ?

J : Karena waktu itu saya belum tahu bagaimana masa depan aya, terus terang kehidupan saya waktu masih labil. Belum seperti sekarang. 

T : Bagaimana cara kamu bersantai ?

J : Dengerin musik Rock N Roll bernyanyi dan bercanda dengan anak saya

T : Apa yang kamu lakukan bila bangun di tengah malam?

J : Saya nggak pernah bangun ditengah malam, karena kehidupan saya dua puluh empat jam. Dan saya seringnya tidur hampir subuh dan bangun siang hari. 

T : Apa yang terlewat dari masa kanak-kanak kamu?

J : Banyak, karena masa kanak-kanak saya penuh penderiaan. 

T : Keberhasilan dalam meraih apa yang selalu kamu kenang?

J : Belum ada prestasi pantas untuk dikenang. Kalau sedikit kebanggaan ada. Waktu memerankan Lorenzo di sinetron Di bawah Matahari Bali karena disitulah nama saya mulai dikenal masyarakat luas. 

T : Bagaimana cara kamu menjadi orang yang matang?

J : Saya banyak belajar dari kakek, pengalaman dan kesalahan orang lain, disamping juga belajar dari kesalahan sendiri. 

T : Terakhir kali kapan kamu mengalami puncak kebahagiaan?

J : Waktu istri melahirkan anak pertama kami. 

T : Apa yang kamu anggap jahat dalam hidup ini?

J : Kalau ada orang tua yang kasar dan jahat terhadap anaknya.