CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel.
Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".
"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang.
"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu.
Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "
Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah.
Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara.
Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis.
Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."
Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."
"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu.
Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.
Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan.
Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya.
Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah.
Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".
Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi.
Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya.
Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya.
Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".
"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak.
"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk.
Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".
Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas.
"Buka, Cepat! perintah Wawan.
Si Nyonya menggeleng keras.
Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar.
"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan.
Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas.
Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya.
Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi.
Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu.
Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya.
Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan.
Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".
Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini.
Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil.
Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik.
Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari.
Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!.
Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu.
Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung.
Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah.
Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka.
Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal.
Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek.
Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur.
Kali ini Rudi yang menyetir.
Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara.
Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali.
*******Bersambung

No comments:
Post a Comment