Showing posts with label Film Tertembaknya seorang Residivis. Show all posts
Showing posts with label Film Tertembaknya seorang Residivis. Show all posts

Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH (Film Lawas). Rumah tinggal Wawan dan Suci adalah sebuah rumah tembok sederhana. Memang tidak mewah tapi ditata cukup serasi. Di pojokan, dalam cahaya temaram, Wwan sedang menenggak minumannya. Wajahnya sangat muram. Matanya merah sayu. Sudah setengah teler tapi masih belum mau berhenti minum. 

Suci keluar dari ruang dalam. Memperhatikan keadaan Wawan, ia merasa sangat iba, mendekat untuk menghibur tapi Wawan sama sekali tak mengacuhkannya. 

"Apa sesudah minum sampai mabuk segala keruwetan Mas Wawan bisa hilang?" tanya Suci hati-hati. 

Wawan menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke sandaran kursi. "Jangan ganggu gua!" cetusnya ketus. 

"Apa tidak lebih baik kita sama-sama pecahkan, kalau memang keruwetan itu sangat membebani mas Wawan?" saran Suci. 

Malah kena bentak Wawan, "Gua bilang jangan Ganggu!".

"Mas?" tegur Suci. 

Wawan meluap murka menyambitkan gelas ditangannya sampai pecah berderai mengenai tembok. Suci terbeliak.  Wawan menceracau, "Semua orang mendesak gua, semua orang sok mau kasih nasihat sama gua! Enggak ada yang mau mengerti gua! Biar setan demit juga kagak bakal bisa! Ini urusan gua! lalu mendelik kearah Suci yang mulai ketakutan. "Apalagi perepuan, ada yang bisa dia pikir kecuali airmata? Sok mau kasih nasihat, anjing semuanya! Bangsat semuanya! Mampus lu ambulans tengik, biar nabrak pohon lu!".

Dengan perasaan kacau Wawan menyapu semua botol minuman dan gelas yang ada diatas meja sampai berantakan di lantai. Wawan tersengguk-sengguk sambil menangkupkan wajah ke tembok. 

Suci menitikkan airmatanya, hati-hati mendekat dan mengelus rambut Wawan. Tapi Wawan menyentakkan tangan Suci dengan kasar, lalu mengangkat tangannya ingin menampar. 

"Pukul! kalau itu memang bisa memuaskan amarah Mas Wawan,  tantang Suci. "Asal sesudah itu Mas Wawan bisa tenang".

Tangan Wawan bagai membeku ditengah udara. Matanya yang merah masih tetap nyalang. Tapi perlahan tangannya turun, kemudian berganti memeluk Suci dan mulai menangis seperti anak mengadu kepada ibunya, "Gua nggak sengaja bunuh orang."

Suci terperangah, tapi tangannya mengelus kepala Wawan dengan penuh pengertian. 

Demi Tuhan, gadis itu mau lari, sirene ambulans sialan, "tutur Wawan. "Gua selalu diburu rasa salah. Gua pengin tobat tapi agama mana yang mau terima maaf bajingan macam gua?".

"Yang mengampuni tobat bukan agama, Mas, yang mengampuni dosa cuma Tuhan, "

"Dosa yang lain mungkin bisa, tapi tidak bagi pembunuh macam gua">

"Waktu anak-anak saya pernah mengaji, guru agama itu bilang, bahwa Gusti Allah akan mengampuni dosa-dosa umatNya kalau dia benar-benar tobat biar dosa itu selebar jagad seluas langit, "desah Suci. 

Pelan Wawan melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah Suci yang memberikan harapan dengan senyum penuh kasih.

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN(Film Lawas). Upacara pemakaman Mariana berjalan khidmat, Seluruh Keluarga dan kerabat hadir dalam kedukaan. Terlebih-lebih sang Ibu, berkali-kali meraung dan jatuh pingsan. 

Tapi kedukaan yang paling mendalam justru pada seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Daniel. Ya, dialah yang paling berduka, karena Mariana adalah tunangannya, bahkan beberapa hari lagi sudah akan melangsungkan pernikahan. 

Dengan tabah Daniel memapah calon mertuanya menyiramkan kembang ke pusara sang kekasih tercinta. 

Jauh diujung kerumunan para pelayat terlihat seorang pemuda berwajah hitam sendirian menekuri sebuah makam lain. Wawan! Ia berpura-pura saja sedang berziarah, padahal memang sengaja datang untuk menghadiri upacara pemakaman Mariana gadis korbannya. 

Wajah kuyu, penuh penyesalan. Tangannya memegang seikat bunga yang terangkai cantik.  Lambat laun para pelayat berjalan meninggalkan makam Mariana. 

Setelah ayah, ibu almarhumah berlalu, tinggallah Daniel yang dengan hati berat membelai nisan baru bertuliskan : 

MARIANA

Lahir 14 Juni 1963 

Wafat 21 Mei 1985

Daniel terpekur. Mulutnya komat kamit membacakan doa. Setelah selesai baru bangkit dan berjalan menyusul calon mertuanya. 

Wawan pura-pura sedang khusuk, menunduk terus, ketika rombongan pelayat melewatinya. 

"Kasihan Daniel, " keluh ibu Mariana. "Tuhan, sebulan lagi mereka akan menikah, kenapa Kau panggil si Ana?".

"Jangan meratap terus ma, " bujuk suaminya. "Semua sudah takdir.

"Ana dibunuh bajingan, pa!".

"Ya, itu takdir, Tuhan takdirkan kematian seperti itu, mungkin untuk peringatan buat kita,  tawakal si ayah. 

Wawan semakin menunduk mendengar percakapan mereka, diam-diam matanya melirik kearah kubur Mariana. 

Terlihat Daniel bangkit berdiri, menyeka matanya dengan punggung tangan, lalu berjalan melintasi Wawan yang masih tetap jongkok.

Setelah suasana sekelilingnya benar-benar sepi, Wawan bangkit. Langkah kakinya berat sekali mendekati timbunan tanah merah penuh karangan bunga itu. 

Matanya sudh memerah ketika berjongkok. Ikatan bunganya diletakkan di depan nisan dengan hati-hati. "Demi Tuhan, gua minta maaf, gua nggak bermaksud membunuh, gua bukan pembunuh, tapi kenapa kamu lari waktu itu?" desahnya. "Gua panik, sumpah!Terkutuk kalau bohong. 

Dekat gerbang taman pemakaman, diantara mobil yang diparkir, berdiri Usin Tato, Adul, Rudi, Koming dan lain-lainnya lagi. Mereka mengawasi apa yang dilakukan Wawan dari kejauhan. 

"Udah gila kali dia," gumam Usin Tato kesal. "Pakai ngelayat lagi! Monyong! Nah gua yang empot-empotan!".

Rudi berdesah," Dia benar-benar nyesal, Bang, dari semalam, Mas Wwan uring-uringan terus."

"Ah, cengeng!" cela Usin Tato, Kalau mau jadi kyai, kyai sekalian! Sok nggak mau membunuh! Kita kan bajingan, masalahnya kalau nggak membunuh ya dibunuh, itu risiko!."

Si Raja Kunci campur bicara, " Tapi selama ini memang dia tidak pernah melakukannya, Boss, melukai orangpun ibarat kata nggak pernah. Dan harus kita akui, bahwa operasi dia selalu sukses,"

Usin Tato mengakui, "Memang sih, tapi  yang dia lakukan kemarin kan karena terpaksa."

Wawan tak mendengarkan pembicaraan mereka, terlalu khusuk berdoa di depan nisan gadis korbannya, Tuhan masukkan dia dalam sorga, biar semua dosa-dosa dia punya, saya yang tanggung, Tuhan kabulkan doa saya, "

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DELAPAN (film lawas). Antara petang dan malam menjelang waktu isya, berhentilah sebuah mobil di depan sebuah gedung mewah. Si Raja Kunci turun dari mobil itu. Menjinjing tasnya. berjalan ke pintu pagar dan memijat tombol bel. 

Seorang pembantu rumah muncul dari pintu samping bergegas menyambut, "Ada perlu apa?".

"Mau setor emas," sahut si Raja kunci tenang. 

"Besok pagi saja, biasanya kalau malam Nyonya nggak mau terima tamu, " tolak si pembantu. 

Si Raja Kunci berdecak meyakinkan, "Bilang saja Dul Manan, saya kenalan baik beliau. "

Si Pembantu meragu sesaat, tapi kemudian masuk juga kedalam rumah. 

Si Raja Kunci senyum kecil. Tangannya bergerak cepat, cukup dengan sebatang peniti, ia berhasil membuka gembok pagar, Wawan, Adul dan Rudi menyelinap masuk hampir tanpa suara. 

Di ruang makan, Tuan dan Nyonya Rumah sedang bersantap bersama sepasang anak mereka yang sudah menjadi perjaka dan gadis. 

Pembantu melaporkan,"Ada tamu, Bu katanya mau setor emas."

Nyonya Rumah menoleh dan dengan logat Padangnya menyalahkan, "Hei, kan aku sudah bilang, kalau malam tidak terima tamu urusan bisnis."

"Katanya dia sudah kenal baik sama Ibu, namanya Dul Manan, "tambah si pembantu. 

Nyonya Rumah mengomel. "Ah , si Manan itu bagaimana, kan sudah kubilang setornya besok saja di pasar, brengsek dia!.

Mau tak mau terpaksa ia bangkit meninggalkan meja makan. 

Tuan Rumah tak banyak bicara melanjutkan makannya, sedangkan gadisnya yang sudah selesai makan, beranjak bangkit untuk masuk ke kamarnya. 

Di beranda, si Raja Kunci sudah berhasil membuka kunci pintu depan dengan mudah. 

Nyonya Rumah sampai keruang depan bertepatan dengan terbukanya pintu, dan masuklah Wawan sambil menodongkan pistol, "Jangan bersuara!", desissnya, "Cepat masuk!".

Pucat pasi wajah si Nyonya, tapi ia menurut saja digiring masuk kedalam lagi. 

Adul, RUdi dan Raja Kunci dengan cekatan telah menguasai ruang tengah. Pistol yang ditodongkan membuat tuan rumah dan anak lelakinya, juga si pembantu sama sekali tak berkutik. Mereka pasrah saja diikat dan disumpal mulutnya. 

Si gadis, Mariana yang sedang berhias dalam kamar tidurnya terkesiap mendengar kegaduhan diruang tengah. Curiga ia mengitip lewat lubang kunci. Astaga, ada lelaki-lelaki bersenjata yang menawan ayah ibu dan saudaranya. 

Wawan mendorong, Nyonya RUmah masuk ke kamar tidur utama. Membuka lemari dan membongkar isinya, "Cepat tunjukkan brankas! Gua akan perlakukan Nyonya baik-baik kalau menurut!".

"Bajingan!", umpat si Nyonya dengan emosi bagai hendak meledak. 

"Plak!"tampar Wawan tepat mengenai pipi si Nyonya gemuk. 

Si Nyonya sudah membuka mulut ingin menjerit minta tolong, tapi Wawan menodongkan pistolnya. "Jangan macem-macem, gua udah biasa mampusin orang yang pake macem-macem! Cepat tunjukkin brankas, gua jamin selamat lu!".

Ketakutan Si Nyonya memalingkan wajah kearah bawah lemari pakaian. Wawan memijat tombol yang ada disitu, maka terbukalah sebuah pintu rahasia tempat penyimpanan brankas. 

"Buka, Cepat! perintah Wawan. 

Si Nyonya menggeleng keras. 

Wawan tak sabaran menamparnya sekali lagi sampai roboh menggelepar. 

"Peyot! Buka nih!", panggil Wawan. 

Si Raya Kunci bergegas masuk. Membuka tasnya, mengeluarkan alat-alat untuk membongkar brankas. 

Wawan mengawasi sejenak, lalu menyeret Nyonya Rumah kembali keruang tengah untuk dikumpulkan dengan keluarganya. Adul dan Rudi cepat mengikat tangan si Nyonya dan menyumpal mulutnya. 

Dalam kamar tidur, Mariana menggigil menyaksikan semua yang terjadi. 

Wawan balik mengawasi si Raja Kunci yang masih belum juga berhasil membuka brankas itu. 

Adul saking tegangnya sampai gemetaran lututnya. 

Dengan tekun si Raja Kunci mengutak atik lubang kunci. Rudi sudah ampir tak tahan. 

Wawan gelisah, "Cepat, peyot, dua menit lagi, gua udah nggak tahan nih!".

Raja Kunci senyum-senyum kecil, ia yakin sesaat lagi pasti berhasil membuka brankas ini. 

Wawan merasa sangat tak enak. PIstol ditangannya agak menggigil. 

Tepat pada saat itu mendadak terdengar lengkingan sirene dari kejauhan. Semua menjadi panik. 

Dalam kamar, Mariana memutuskan untuk nekad lari keluar rumah dan mencegat mobil polisi yang akan lewat itu. Tak berpikir dua kali, ia membuka pintu kamarnya dan menghambur lari. 

Wawan kaget sekali, secara reflek menembak, "Dor"! tepat kena! Si Gadis tersungkur jatuh sebelum berhasil mencapai pintu depan!. 

Wawan ternganga melihat tubuh yang sudah tak bergerak lagi itu. 

Di jalan yang mulai gelap melintas kencang sebuah mobil ambulans dengan sirene meraung-raung. 

Wawan lunglai menyadari bukan mobil polisi yang lewat. Rudi terperangah. 

Tuan dan Nyonya Rumah ingin meronta melihat pembunuhan putri sulung mereka. 

Raja Kunci baru saja berhasil membuka brankas dan menguras seluruh isinya. Gepokan-gepokan uang kertas dan perhiasan-perhiasan yang tak ternilai jumlahnya, semuanya dimasukkan kedalam sebuah sarung bantal. 

Tuan dan Nyonya Rumah yang terikat tangan dan kakinya berusaha merangkak menuju ke tempat tubuh Mariana tergolek. 

Dalam paniknya Wawan masih sempat menyerukan kawan-kawannya agar secepatnya kabur. 

Kali ini Rudi yang menyetir. 

Wawan duduk terpaku, penuh penyesalan. Adul mendampinginya tanpa bersuara. 

Paling belakang, Raja Kunci sedang menghitung tumpukan duit dan perhiasan, "Gila!" Enggak keitung. Semilyar ada kali. 

*******Bersambung


Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



Thursday, July 9, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM (Film lawas). Rumah bilyard itu cukup ramai oleh anak-anak muda yang menjadi langganannya. Diambang pintu muncul Wawan, Adul dan beberapa kawan mereka lainnya. Dengan kasar Wawa menyingkirkan seorang pemuda kerempeng berjenggot yang ingin menyodok bola. Pemuda itu menjadi sangat kesal dan mengomel-ngomel, tapi tatapan mata Wawan yang angker kontan menciutkan nyalinya. 

Adul sudah sampai ke bar yang letaknya di sudut,"Mana Boss kalian?".

Pelayan di belakang bar balik bertanya, "Ada perlu apa?".

"Ada surat buat dia," ujar Adul sambil menyodorkan sepucuk surat. 

Si pelayan menerima surat itu dan ingin membukanya, langsung lehernya dicenkeram dan di jemba Adul," Gua bilang surat ini buat Boss lu, jangan lancang lu!".

Si pelayan mengkeret ngeri buru-buru masuk ke pintu di belakang yang menghubungkan bar dengan kantor. 

Beberapa orang tukan pukul penjaga keamanan Rumah Bilyard itu mendekat. Tapi Wawan Cs memang sengaja mencari ribut. Mereka mendahului menyerang. Orang-orang yang sedang asyik bermain billyard bubar ketakutan. Apalagi melemparkan lawan-lawannya keatas meja bilyar malah menggunakan stick bilyard untuk menghajar mereka. Dalam sekejap keadaan menjadi porak poranda. 

Boss pemilik rumah bilyar tergopoh-gopoh keluar dari kantornya. Menjerit-jerit panik melihat meja-meja bilyard dijadikan arena bantingan , "Aduh, cukup, cukup stoplah! Ancurrr semuanya, Ai bisa bangkrut,".

Wawan tengah menghantamkan stick bilyard ke perut lawannya yang bertubuh gede. Saking sakitnya mulut si gede sampai ternganga lebar. Wawan menjejalkan sebuah bola ke mulut itu lalu menyodorkannya, kontan si gede terjungkal!. 

Adul masih baku hantam dengan lawannya, ketika Wawan mendekati. 

"Kalau lu mau selamat, tinggalin tempat ini!", hardiknya. "Daerah ini jadi milik kami, lu tau Usin Tato? Itu Boss gua, dia nggak segen-segen ngarungin elu kalau tetap bandel!".

Si tukang pukul manggut manggut gentar. 

"Sekarang semua anak buah lu mesti setor sama Boss gua, paham?!, tegas Wawan. 

Sekali lagi si tukang pukul cuma bisa manggut manggut. 

Wawan menoleh ke arah Boss Bilyard yang menggigil ketakutan. "Tuan pemilik Rumah Bilyard ini?" tanyanya sambil berjalan mendekat. "Ingat tiap tanggal lima, anak buah gua datang kesini. Jangan cari kesulitan. Kalo ada yang bikin onar disini, laporkan sama orang gua, Jelas Boss!?".

Boss Bilyard manggut-manggut bagaikan burugn pelatuk tanda mengerti. 

Wawan memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk berjalan keluar. 


*****Bersambung

Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN LIMA (film lawas). Rel Kereta Api memanjang jauh. Lengang dan kosong. Sepasang insan berjalan berangkulan. Wawan dan kekasihnya,si watunas Suci. Tangan Wawan merangkul pinggang ramping Suci. Tangan Suci memegang payung yang berkembang untuk melindungi dari terik matahari. Tangan-tangan mereka yang lain menenteng tas plastik berisi barang-barang belanjaan. 

"Ayah saya tidak pernah tau bahwa anaknya menjadi pelacur di ibukota," gumam Suci. Dia menyangka saya bekerja di pabrik seperti isi surat yang selalu saya kirimkan."

Wawan mesem pahit, "Pasti elu juga nggak kasih tau bahwa calon mantunya seorang bajingan, kan?.

Suci mencubit pinggang wawan sampai pemuda ini menggelinjang geli, "Mosok yang begitu mesti dibilangin sih?".

"Kali aje pacar gue nggak tau politik, " sindir Wawan. 

Suci menerawang jauh. Kadang-kadang rasanya seperti mimpi bisa lepas dari dunia lon te yang kukira akan menjeratku sampai keriput,".

Tiba-tiba suci berhenti melangkah. Wawan tertegun dan menoleh. 

Suci menatap kearahnya dengan mata polos. "Mas Wawan benar-benar mau mengawiniku, kan?, tanyanya. 

Sipemuda manggut dengan mantap, "Apa musti gua sumpah lagi?".

Si Watunas menatap sendu. "Mas tidak akan galak sama Suci? Janji?".

"Eh , ni anak masih nggak yakin juga, elu akan gua sayang seperti gua nyayangin ibu gua, adik gua, kakak gua sekaligus, "tegas Wawan. "Karena gua nggak punya siapa-siapa lagi. Gua benar-benar sebatang kara!.

Suci senyum bahagia memeluk pinggang si pemuda dan menyesapkan wajahnya ke dada yang bidang itu. 

Sejak berkenalan memang Suci telah jatuh hati pada Wawan. Sebaliknya si pemuda pun bisa merasakan kelembutan dan perhatian Suci yang lain daripada watunas-watunas biasa. Maka Wawanpun melarang Suci melanjutkan prakteknya dan memintanya hanya untuk menjadi miliknya seorang saja!

******Bersambung

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT


TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT (Film Lawas). Gedung itu tak terlalu besar, namun perabotannya cukup mewah, lengkap dengan pesawat TV warna ukuran besar, video recorder, dan sofa mahal. Pemilik adalah seorang pedagang yang cukup sukses. 

Malam ini, seisi rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Dua anak asyik menonton video. Tuan Rumah membaca koran. 

Terdengar suara mobil berhenti dijalan. Menyusul dering bel pintu. 

Menoleh kearah isteri, si suami berseru, " Mah, mungkin Oom Jarwo, tadi aku janji sama dia, .

Si isteri bergegas membukakan pintu, seketika ternganga karena tamunya menodongkan pistol!. 

"Tenang, jangan ada yang berteriak kalau mau selamat, " Ancam Wawan sambil masuk diiringi dua kawannya, " Ikat mereka semua! Nyonya panggil pembantu Nyonya dengan lembut, ayo!".

Koming dan Adul dengan cepat mengikat tuan rumah dan anak-anaknya, membungkam mulut mereka dengan plester. 

Si Isteri ketakutan memanggil pembantu, "Yem, sini sebentar".

"Ya nyah, " terdengar sahutan dari dapur. 

Si Yem keluar membawa baki berisi sepiring manisan jambu. Demi melihat perampok-perampok yang sedagn mengangkat video, langsung menjerit ketakutan.  

Koming yang berdiri dekat pintu secara reflek membacokkan cluritnya ke leher si Yem. Darah muncrat. Si Yem roboh ke lantai dengan suara keras. Piringnya terbanting pecah. Manisan jamu berserakan bercampur dengan darah yang mengalir. 

Wawan yang tengah menggerayangi isi lemari dalam kamar, kaget sekali melihat pembunuhan ini. Langsung mengayunkan tangannya, menampar Koming, "Anjing Lu! umpatnya. 

Koming terjajar sempoyongan. 

Pemilik rumah dan anak-anaknya mengkeret ketakutan. 

"Tunggu, gua masukin mobil! cetus Wawan  bergegas mengangkut barang-barang rampokan mereka ke dalam mobil itu. Wawan tak menunggu lama, cepat meluncurkan mobilnya menuju ke Jalan lagi!. 

Malam itu juga, di dalam gudang di belakang sarang mereka, Wawan menghajar Koming dengan  tinjunya. Meskipun Koming biasanya sangat garang dengan brewoknya yang lebat, namun ia  sama sekali bukan lawan berarti bagi Wawan! jatuh bangun berulang kali. 

Wawan melemparkan clurit Koming yagn masih berlumur darah ke lantai. "Ambil clurit itu, ayo lawan gua!, tantangnya. 

Koming tak berani bergeming. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. 

Wawan mendekat dan melayangkan tendangan tepat masuk ke perut Koming hingga rampok kejam ini bergulingan. 

"Pengecut lu!" umpat Wawan. 

Adul, Hasan, Amin dan lain-lainnya lagi berebutan masuk ke gudang ini. 

Wawan memandang kearah mereka semua dan menantang, Ayo, kalau ada yang kagak terima sama gua, maju semua sekalian! Anjing! Gua udah bilang kagak pakai ngambil nyawa! Dalam kerja gua pantang ada pembunuhan, kita cuma perlu hartanya!" 

Tak seorangpun berani menyahut. 

Wawan makin meluap-luap. Ia menyambar leher baju Koming lalu kembali menghujaninya dengan tinju sampai meraung-raung kesakitan. 

"Kenapa elu langgar, babi? geram Wawan. Adul maju, berusaha melerai . "Cukup , Wan, elu juga nggak mau bunuh teman sendiri kan? Udah deh."

Wawan lunglai sendiri dipojokkan, bathinnya merintih. Koming yang ambruk cuma bisa menatap dengan mata menyiratkan dendam kesumat. 



Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


Wednesday, July 1, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS

Produksi : PT. Kanta Indah Film

Produser : Handi Mulyono

Sutradara : Imam Tantowi

Cerita : Teddy Purba

Skenario : Imam Tantowi

Pemain : Barry Prima sebagai Wawan

               Advent Bangun sebagai Daniel

              Wieke Widowati sebagai Suci

              Teddy Mala sebagai Usin Tato

             Yoscano sebagai Koming

             Nana Marziz sebagai mariana

            Belqis Rahman sebagai Raja Kunci


Prakisah : Jakarta, tahun tujuh puluhan........ Disalah satu sudutnya yang kumuh dengan mobil-mobil yang di parkir malang melintang diantara bangunan-bangunan tua jorok tak terawat. Terlihat disana sini sedang dibangun gedung-gedung pencakar langit. Dentang besi-besi pemancang beton bagaikan aba-aba melajunya pembangunan di negeri ini. 

Di belakang Sebuah Pasar yang semrawut, berdiri seorang pemuda remaja bertubuh krempeng bertato dan berwajah kriminal. Inilah Usin Tato, kepala geng bocah-bocah yang berusia diantara delapan sampai dua belas tahunan. 

Bocah-bocah anak buah Usin Tato menyebar kedalam pasar. Ada yang mencuri ayam dari bakul ayam yang sibuk, ada yang mencuri gula pasir dari warung dan bermacam-macam kegiatan maling kecil-kecilan lainnya. 

Salah seorang anak buah Usin Tato bernama Setiawan atau biasa dipanggil dengan nama kecil Wawan. Usianya kira-kira baru sebelas tahun. Matanya jernih dan memancarkan kecerdasan. Ia masih tengang-tenang berdiri ditempatnya tak seperti kawan-kawannya yang sudah jelalatan. Baru ketika Usin Tato memberi isyarat bocah ini mulai bergerak 

Berjalan mendatangi seorang nyonya bertubuh gemuk. Perhiasan yang  dikenakannya memang menantang, pertanda dari golongan makmur. Ia berhenti di depan tukang sayur untuk memilah-milah. 

Gesit Wawan menyelinap diantara orang-orang yang lewat sampai tepat berada di belakang si nyonya. Cepat sekali tangannya menyambar dompet di ketiak si nyonya. 

"Jambreeettt!! jerit si nyonya kaget, tapi Wawan sudah berlari zigzag menerobos kerumunan orang banyak. 

Sampai di depan pasar, Wawan melompat bergelantungan keatas truk sampah yang melintas. 

Dari tempatnya mengawasi Usin Tato tersenyum sendiri. 

Wawan nangkring seenaknya diatas truk sampah yang melaju ke jalanan keluar kota. Ketika truk agak melambat barulah bocah ini melompat turun dengan cekatan. 

Membungkuk bungkuk  lari ke kolong jembatan untuk  memeriksa perolehannya. Ternyata dompet yang kelihatanny atebal itu cuma berisi bon-bon pembelian barang, surat surat dan beberapa helai uang kertas ribuan. 

Acuh tak acuh Wawan mengambil uangnya, lalu membuang dompet ke kali. 

Lorong kecil, semrwatut, Wawan berjalan riang sendirian, sampai mendadak merandek karena melihat gadis cilik yang menjaga adiknya yang masih bayi dan digeletakkan begitu saja diatas karton bekas. Tidak jauh, ibunya yang gembel tengah mengumpulkan butiran beras yang tercecer di depan toko beras.

Wawan merasa iba melihat gadis cilik yang merengek-rengek kelaparan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang hasil operasi tadi, dan menjejalkannya ke tangan gadis cilik. 

Si Gadis Cilik tercengang. Begitupun ibunya . Tapi wawan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. 

BAGIAN SATU

Mentari Senja memanarkan sinarnya yang terakhir untuk hari ini di celah-celah gubuk kaum gelandangan. 

Disalah satu lorong, kumuh itu, Usin Tato tengah menerima setoran anak buahnya. 

Usin Tato tak segan main tampar pada anak buahnya yang cuma menyetorkan sedikit uang. Tapi kepada mereka yang mendapatkan jumlah lumayan, iap un cuma membagi sekedarnya saja dengan sewenang-wenang. 

Adul meringis-ringis ketakutan kena bentak Usin Tato. "Sedikit amat lu! Lain kali lebih berani dikit dong, kalau elu memang mau terus idup! Ini ni hebat, si Koming selalu aje dapet lebih dari  seceng! Entar lu gua beliin baju di Pasar Senen, Ming!. Eh, Si Wawan mane?".

Dari jauh berjalan mendatangi Wawan sambil mengunyah singkong goreng. Tangannya yang lain memeriksa isi sakunya, cuma tinggal beberapa helai ratusan kumal saja. Wajah riangnya berubah cemas, tapi dengan memberanikan diri, ia meneruskan langkahnya. 

Bocah-bocah pencoleng yang mengelilingi Usin Tato berlagak seperti anak gede, ada yang kebal kebul merokok, ada yang petantang petenteng, ada yang terus menyisir rambut gondrongnya. 

Udin Tato tersenyum menyambut kedatangan Wwan. Tapi senyumnya seketika punah demi melihat uang recehan yang di setorkan si bocah. Tangannya langsung menggaplok.  Tidak tanggung-tangung kerasnya, karena Wawan sampai terpental jatuh!. 

"Lu jangan coba-coba ngibulin gua!" bentak Usin Tato. "Gua tahu dengan mata gua sendiri, dompet nyonya yang elu copet itu cukup tebal! Lu sembunyiin dimana uang yang lain, hah?"

"Ampun bang, saya ketangkap polisi, sumpah," kilah si bocah. "Masih untung saya bisa lari waktu mau dibawa ke kantor Polisi",

"Haram Jadah Lu!", tendang si bos cilik, "Gua paling nggak suka dikibulin!" 

Wawan tertelungkup dengan sudut bibir berdarah. masih belum puas, Usin Tato meraih sebatang rotan, lalu menyabetkannya ke punggung si bocah. 

Bocah-bocah yang lain tak tega melihat penyiksaan ini, Malah Adul, kawan karib Wawan membuang muka dengan kecut. 

Seorang lelaki tua yang sedang mengguntingi kaleng bekas di pojokan tak tahan melihat kebiadaban ini. Ia bangkit dan berlari untuk menangkap tangan Usin Tato, "Jangan kelewatan dong!" cegahnya. "heh kalau elu memang jago coba sekali-sekali elu sendiri yang nyo long, apa ngeram pok, jangan berani-berani cuma meres anak kecil. 

Usin Tato menepiskan tangan si tua, "Jangan ikut campur, Kong! Gua juga berani ngeram pok!".

"Ala, paling juga nyolong punya tetangga sendiri", cemooh si tua, lalu menganjurkan Wawan, " Pergi lu , Tong". 

Wawan Merangkak bangun dan bergegas ngeloyor. Adul cepat mengejarnya untuk jalan berendeng. 


*****bersambung ke Bagian DUA