Showing posts with label Tertembaknya seorang residivis. Show all posts
Showing posts with label Tertembaknya seorang residivis. Show all posts

Wednesday, July 15, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEPULUH (Film Lawas). Rumah tinggal Wawan dan Suci adalah sebuah rumah tembok sederhana. Memang tidak mewah tapi ditata cukup serasi. Di pojokan, dalam cahaya temaram, Wwan sedang menenggak minumannya. Wajahnya sangat muram. Matanya merah sayu. Sudah setengah teler tapi masih belum mau berhenti minum. 

Suci keluar dari ruang dalam. Memperhatikan keadaan Wawan, ia merasa sangat iba, mendekat untuk menghibur tapi Wawan sama sekali tak mengacuhkannya. 

"Apa sesudah minum sampai mabuk segala keruwetan Mas Wawan bisa hilang?" tanya Suci hati-hati. 

Wawan menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke sandaran kursi. "Jangan ganggu gua!" cetusnya ketus. 

"Apa tidak lebih baik kita sama-sama pecahkan, kalau memang keruwetan itu sangat membebani mas Wawan?" saran Suci. 

Malah kena bentak Wawan, "Gua bilang jangan Ganggu!".

"Mas?" tegur Suci. 

Wawan meluap murka menyambitkan gelas ditangannya sampai pecah berderai mengenai tembok. Suci terbeliak.  Wawan menceracau, "Semua orang mendesak gua, semua orang sok mau kasih nasihat sama gua! Enggak ada yang mau mengerti gua! Biar setan demit juga kagak bakal bisa! Ini urusan gua! lalu mendelik kearah Suci yang mulai ketakutan. "Apalagi perepuan, ada yang bisa dia pikir kecuali airmata? Sok mau kasih nasihat, anjing semuanya! Bangsat semuanya! Mampus lu ambulans tengik, biar nabrak pohon lu!".

Dengan perasaan kacau Wawan menyapu semua botol minuman dan gelas yang ada diatas meja sampai berantakan di lantai. Wawan tersengguk-sengguk sambil menangkupkan wajah ke tembok. 

Suci menitikkan airmatanya, hati-hati mendekat dan mengelus rambut Wawan. Tapi Wawan menyentakkan tangan Suci dengan kasar, lalu mengangkat tangannya ingin menampar. 

"Pukul! kalau itu memang bisa memuaskan amarah Mas Wawan,  tantang Suci. "Asal sesudah itu Mas Wawan bisa tenang".

Tangan Wawan bagai membeku ditengah udara. Matanya yang merah masih tetap nyalang. Tapi perlahan tangannya turun, kemudian berganti memeluk Suci dan mulai menangis seperti anak mengadu kepada ibunya, "Gua nggak sengaja bunuh orang."

Suci terperangah, tapi tangannya mengelus kepala Wawan dengan penuh pengertian. 

Demi Tuhan, gadis itu mau lari, sirene ambulans sialan, "tutur Wawan. "Gua selalu diburu rasa salah. Gua pengin tobat tapi agama mana yang mau terima maaf bajingan macam gua?".

"Yang mengampuni tobat bukan agama, Mas, yang mengampuni dosa cuma Tuhan, "

"Dosa yang lain mungkin bisa, tapi tidak bagi pembunuh macam gua">

"Waktu anak-anak saya pernah mengaji, guru agama itu bilang, bahwa Gusti Allah akan mengampuni dosa-dosa umatNya kalau dia benar-benar tobat biar dosa itu selebar jagad seluas langit, "desah Suci. 

Pelan Wawan melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah Suci yang memberikan harapan dengan senyum penuh kasih.

******Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAG SEMBILAN(Film Lawas). Upacara pemakaman Mariana berjalan khidmat, Seluruh Keluarga dan kerabat hadir dalam kedukaan. Terlebih-lebih sang Ibu, berkali-kali meraung dan jatuh pingsan. 

Tapi kedukaan yang paling mendalam justru pada seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Daniel. Ya, dialah yang paling berduka, karena Mariana adalah tunangannya, bahkan beberapa hari lagi sudah akan melangsungkan pernikahan. 

Dengan tabah Daniel memapah calon mertuanya menyiramkan kembang ke pusara sang kekasih tercinta. 

Jauh diujung kerumunan para pelayat terlihat seorang pemuda berwajah hitam sendirian menekuri sebuah makam lain. Wawan! Ia berpura-pura saja sedang berziarah, padahal memang sengaja datang untuk menghadiri upacara pemakaman Mariana gadis korbannya. 

Wajah kuyu, penuh penyesalan. Tangannya memegang seikat bunga yang terangkai cantik.  Lambat laun para pelayat berjalan meninggalkan makam Mariana. 

Setelah ayah, ibu almarhumah berlalu, tinggallah Daniel yang dengan hati berat membelai nisan baru bertuliskan : 

MARIANA

Lahir 14 Juni 1963 

Wafat 21 Mei 1985

Daniel terpekur. Mulutnya komat kamit membacakan doa. Setelah selesai baru bangkit dan berjalan menyusul calon mertuanya. 

Wawan pura-pura sedang khusuk, menunduk terus, ketika rombongan pelayat melewatinya. 

"Kasihan Daniel, " keluh ibu Mariana. "Tuhan, sebulan lagi mereka akan menikah, kenapa Kau panggil si Ana?".

"Jangan meratap terus ma, " bujuk suaminya. "Semua sudah takdir.

"Ana dibunuh bajingan, pa!".

"Ya, itu takdir, Tuhan takdirkan kematian seperti itu, mungkin untuk peringatan buat kita,  tawakal si ayah. 

Wawan semakin menunduk mendengar percakapan mereka, diam-diam matanya melirik kearah kubur Mariana. 

Terlihat Daniel bangkit berdiri, menyeka matanya dengan punggung tangan, lalu berjalan melintasi Wawan yang masih tetap jongkok.

Setelah suasana sekelilingnya benar-benar sepi, Wawan bangkit. Langkah kakinya berat sekali mendekati timbunan tanah merah penuh karangan bunga itu. 

Matanya sudh memerah ketika berjongkok. Ikatan bunganya diletakkan di depan nisan dengan hati-hati. "Demi Tuhan, gua minta maaf, gua nggak bermaksud membunuh, gua bukan pembunuh, tapi kenapa kamu lari waktu itu?" desahnya. "Gua panik, sumpah!Terkutuk kalau bohong. 

Dekat gerbang taman pemakaman, diantara mobil yang diparkir, berdiri Usin Tato, Adul, Rudi, Koming dan lain-lainnya lagi. Mereka mengawasi apa yang dilakukan Wawan dari kejauhan. 

"Udah gila kali dia," gumam Usin Tato kesal. "Pakai ngelayat lagi! Monyong! Nah gua yang empot-empotan!".

Rudi berdesah," Dia benar-benar nyesal, Bang, dari semalam, Mas Wwan uring-uringan terus."

"Ah, cengeng!" cela Usin Tato, Kalau mau jadi kyai, kyai sekalian! Sok nggak mau membunuh! Kita kan bajingan, masalahnya kalau nggak membunuh ya dibunuh, itu risiko!."

Si Raja Kunci campur bicara, " Tapi selama ini memang dia tidak pernah melakukannya, Boss, melukai orangpun ibarat kata nggak pernah. Dan harus kita akui, bahwa operasi dia selalu sukses,"

Usin Tato mengakui, "Memang sih, tapi  yang dia lakukan kemarin kan karena terpaksa."

Wawan tak mendengarkan pembicaraan mereka, terlalu khusuk berdoa di depan nisan gadis korbannya, Tuhan masukkan dia dalam sorga, biar semua dosa-dosa dia punya, saya yang tanggung, Tuhan kabulkan doa saya, "

******Bersambung


Sunday, July 12, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH

 


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TUJUH, (film lawas). Big Boss Usin Tato telah memiliki sebuah gedung mewah, berkat kegiatan anak buahnya, kini ia menjadi sangat makmur. Lagaknya bagaikan seorang Presdir sebuah perusahaan bonafide. 

Duduk bertopang kaki di kursi putarnya yang mahal. Usin Tato bermusyawarah dengan Wawan, Koming, Adul dan lain-lainnya. Diatas meja terbentang denah sebuah rumah yang menjadi sasaran berikutnya.

"Ada tawaran kerjasama dari Joni bule buat ngedarin narkotik di daerah kita, tapi gua tolak, " ujar Usin Tato. "kita sudah sepakat bahwa tidak akan melibatkan diri dalam perdagangan obat bius. Sampai saat ini kita batasi kerja kita hanya....". menggerakan jarinya seperti orang menodongkan pistol, Entah lain waktu,"

Wawan dan yang lain-lainnya diam saja mendengarkan. 

Usin Tato menunjuk ke denah rumah diaas meja. "Pemilik seorang lintah darah, kadang-kadang jual beli emas, jadi pasti dia menimpan uang cash dirumahnya, "jelasnya. "Paling banter akan disimpan di brangkas, untuk itu si Raja Kunci gua ikutkan dalam operasi ini. 

Si Raja Kunci, seorang lelaki parobaya yang berwajah biasa-biasa saja dan berkacamata bundar cengar cengir bangga. 

Usin Tato mengalihkan pandang kearah Wawan.  "Operasi ini akan dipimpin Wawan dan Si Raja Kunci sebagai pendamping. Gimana Wan?".

Wawan mengangkat wajahnya. "Siap, Boss, tapi kalian mesti ingat syarat mutlak gua, tidak ada pembunuhan, " tegasnya sambil memandang wajah kawan-kawannya. "Kita cuma mau sikat hartanya, bukan nyawa!". 

Rudi masih bertanya, "Kalau terpaksa?".

Wawan menggoyangkan tangan, "Pokoknya tidan ada pembunuhan, setuju atau silakan mundur!".

Rudi senyum kecil. 

Wawan menggulung denah rumah diatas meja. 

Usin Tato manggut manggut senang. 

*******Bersambung



Thursday, July 9, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN ENAM (Film lawas). Rumah bilyard itu cukup ramai oleh anak-anak muda yang menjadi langganannya. Diambang pintu muncul Wawan, Adul dan beberapa kawan mereka lainnya. Dengan kasar Wawa menyingkirkan seorang pemuda kerempeng berjenggot yang ingin menyodok bola. Pemuda itu menjadi sangat kesal dan mengomel-ngomel, tapi tatapan mata Wawan yang angker kontan menciutkan nyalinya. 

Adul sudah sampai ke bar yang letaknya di sudut,"Mana Boss kalian?".

Pelayan di belakang bar balik bertanya, "Ada perlu apa?".

"Ada surat buat dia," ujar Adul sambil menyodorkan sepucuk surat. 

Si pelayan menerima surat itu dan ingin membukanya, langsung lehernya dicenkeram dan di jemba Adul," Gua bilang surat ini buat Boss lu, jangan lancang lu!".

Si pelayan mengkeret ngeri buru-buru masuk ke pintu di belakang yang menghubungkan bar dengan kantor. 

Beberapa orang tukan pukul penjaga keamanan Rumah Bilyard itu mendekat. Tapi Wawan Cs memang sengaja mencari ribut. Mereka mendahului menyerang. Orang-orang yang sedang asyik bermain billyard bubar ketakutan. Apalagi melemparkan lawan-lawannya keatas meja bilyar malah menggunakan stick bilyard untuk menghajar mereka. Dalam sekejap keadaan menjadi porak poranda. 

Boss pemilik rumah bilyar tergopoh-gopoh keluar dari kantornya. Menjerit-jerit panik melihat meja-meja bilyard dijadikan arena bantingan , "Aduh, cukup, cukup stoplah! Ancurrr semuanya, Ai bisa bangkrut,".

Wawan tengah menghantamkan stick bilyard ke perut lawannya yang bertubuh gede. Saking sakitnya mulut si gede sampai ternganga lebar. Wawan menjejalkan sebuah bola ke mulut itu lalu menyodorkannya, kontan si gede terjungkal!. 

Adul masih baku hantam dengan lawannya, ketika Wawan mendekati. 

"Kalau lu mau selamat, tinggalin tempat ini!", hardiknya. "Daerah ini jadi milik kami, lu tau Usin Tato? Itu Boss gua, dia nggak segen-segen ngarungin elu kalau tetap bandel!".

Si tukang pukul manggut manggut gentar. 

"Sekarang semua anak buah lu mesti setor sama Boss gua, paham?!, tegas Wawan. 

Sekali lagi si tukang pukul cuma bisa manggut manggut. 

Wawan menoleh ke arah Boss Bilyard yang menggigil ketakutan. "Tuan pemilik Rumah Bilyard ini?" tanyanya sambil berjalan mendekat. "Ingat tiap tanggal lima, anak buah gua datang kesini. Jangan cari kesulitan. Kalo ada yang bikin onar disini, laporkan sama orang gua, Jelas Boss!?".

Boss Bilyard manggut-manggut bagaikan burugn pelatuk tanda mengerti. 

Wawan memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk berjalan keluar. 


*****Bersambung

Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT


TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT (Film Lawas). Gedung itu tak terlalu besar, namun perabotannya cukup mewah, lengkap dengan pesawat TV warna ukuran besar, video recorder, dan sofa mahal. Pemilik adalah seorang pedagang yang cukup sukses. 

Malam ini, seisi rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Dua anak asyik menonton video. Tuan Rumah membaca koran. 

Terdengar suara mobil berhenti dijalan. Menyusul dering bel pintu. 

Menoleh kearah isteri, si suami berseru, " Mah, mungkin Oom Jarwo, tadi aku janji sama dia, .

Si isteri bergegas membukakan pintu, seketika ternganga karena tamunya menodongkan pistol!. 

"Tenang, jangan ada yang berteriak kalau mau selamat, " Ancam Wawan sambil masuk diiringi dua kawannya, " Ikat mereka semua! Nyonya panggil pembantu Nyonya dengan lembut, ayo!".

Koming dan Adul dengan cepat mengikat tuan rumah dan anak-anaknya, membungkam mulut mereka dengan plester. 

Si Isteri ketakutan memanggil pembantu, "Yem, sini sebentar".

"Ya nyah, " terdengar sahutan dari dapur. 

Si Yem keluar membawa baki berisi sepiring manisan jambu. Demi melihat perampok-perampok yang sedagn mengangkat video, langsung menjerit ketakutan.  

Koming yang berdiri dekat pintu secara reflek membacokkan cluritnya ke leher si Yem. Darah muncrat. Si Yem roboh ke lantai dengan suara keras. Piringnya terbanting pecah. Manisan jamu berserakan bercampur dengan darah yang mengalir. 

Wawan yang tengah menggerayangi isi lemari dalam kamar, kaget sekali melihat pembunuhan ini. Langsung mengayunkan tangannya, menampar Koming, "Anjing Lu! umpatnya. 

Koming terjajar sempoyongan. 

Pemilik rumah dan anak-anaknya mengkeret ketakutan. 

"Tunggu, gua masukin mobil! cetus Wawan  bergegas mengangkut barang-barang rampokan mereka ke dalam mobil itu. Wawan tak menunggu lama, cepat meluncurkan mobilnya menuju ke Jalan lagi!. 

Malam itu juga, di dalam gudang di belakang sarang mereka, Wawan menghajar Koming dengan  tinjunya. Meskipun Koming biasanya sangat garang dengan brewoknya yang lebat, namun ia  sama sekali bukan lawan berarti bagi Wawan! jatuh bangun berulang kali. 

Wawan melemparkan clurit Koming yagn masih berlumur darah ke lantai. "Ambil clurit itu, ayo lawan gua!, tantangnya. 

Koming tak berani bergeming. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. 

Wawan mendekat dan melayangkan tendangan tepat masuk ke perut Koming hingga rampok kejam ini bergulingan. 

"Pengecut lu!" umpat Wawan. 

Adul, Hasan, Amin dan lain-lainnya lagi berebutan masuk ke gudang ini. 

Wawan memandang kearah mereka semua dan menantang, Ayo, kalau ada yang kagak terima sama gua, maju semua sekalian! Anjing! Gua udah bilang kagak pakai ngambil nyawa! Dalam kerja gua pantang ada pembunuhan, kita cuma perlu hartanya!" 

Tak seorangpun berani menyahut. 

Wawan makin meluap-luap. Ia menyambar leher baju Koming lalu kembali menghujaninya dengan tinju sampai meraung-raung kesakitan. 

"Kenapa elu langgar, babi? geram Wawan. Adul maju, berusaha melerai . "Cukup , Wan, elu juga nggak mau bunuh teman sendiri kan? Udah deh."

Wawan lunglai sendiri dipojokkan, bathinnya merintih. Koming yang ambruk cuma bisa menatap dengan mata menyiratkan dendam kesumat. 



Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3