Showing posts with label Tertembaknya seorang residivis. Show all posts
Showing posts with label Tertembaknya seorang residivis. Show all posts

Saturday, July 4, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA


 TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN TIGA (film lawas). Wawan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahunan. Tubuhnya gagah kekar. Matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian. 

Dengan kalem ia duduk di sadel motor yang diparkir di tepi jalan. Di belakangnya membonceng si Adul yang mengunyah tahu goreng. Mata sipit Adul terlihat seperti orang setengah tidur saja, cuma mulutnya yang tak berhenti bergerak. 

Kaki Wawan bergerak menyetarter motornya. Adul melemparkan uang ke tukang tahu goreng. 

Motor meluncur menyerempet lelaki pembawa tas. Adul merebut tas itu. Si Lelaki berteriak-teriak minta tolong. orang-orang kaget. Seorang satpam berlari-lari keluar dari bank, tapi motor Wawan sudah terlalu jauh untuk di kenali apalagi dikejar. 

Malamnya Wawan, Adul, Koming dan Hasan beriringan memasuki sebuah komplek watunas liar. Sekawanan pemuda yang menjaga kompleks kelas teri ini sedang asyik minum-minum, ketika tanpa ba atau bu lagi, Wawan cs menyerang mereka. 

Dengan jotosannya yang ganas Wawan menghajar kawanan pemuda itu sampai jatuh bangun. 

Setelah tak ada seorangpun yang berani melawan lagi, Wawan mengancam, "Mulai sekarang elu mesti setor uang keamanan sama Boss gua, bilagn sama si Jupri, jangan berani-berani lagi masuk kalau mau selamat, suruh dia cari tempat lain!.

Sebuah pintu kamar terbuka dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan dada telanjang dan tangan menggenggam golok, "Kamu nantang si Jupri, bung? Ini orangnya!" teriaknya. 

Wawan menoleh. 

Jupri menyerbu dengan goloknya. Tangkas Wawan mengelak. 

Watunas-watunas menjerit ketakutan. 

Jupri bukan jago sembarangan, sudah cukup lama malang melintang di dunia hitam dengan goloknya. Sekali sabetannya menggores dada Wawan! Maka, bagai banteng terluka, Wawan mengamuk. Tangannya menjemba sebotol bir, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga kepala botak Jupri. !

Jago kawakan ini menjerit bagaikan babi di sembelih, roboh tersungkur dengan kepala mandi darah, tak sadarkan diri lagi 

Wawan berdiri mengangkang, bersikap menunggu, tapi lawannya tak juga bangun. 

Salah seorang watunas yang berambut panjang dan berwajah lumayan manis, memandang Wawan dengan mata bersinar kagum. Dalam hati, Suci, demikian nama asli si watunas, tumbuh angan-angan, alangkah bahagianya kalau bisa tidur bersama pemuda gagah ini. 

*************Bersambung


CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA


 CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN DUA (lanjutan). Dalam sebuah gubuk reot, Wawan berbaring menelungkup. Punggungnya yang telanjang telah di boboki beras kencur oleh Adul. 

"Gua nggak nyalahin elu, Wan, elu orangnya kelewatan baik sih, " ujar Adul. "Mestinya pakek perhitungan dong, jangan mentang-mentang kasihan, terus hasil elu dikasihin semua. AKibatnya? Elu sendiri yang susah".

"Tau dah", keluh Wawan. "Kadang kadang gua pengin lari dari sini. Tapi gua bingung mau kemana? Gua nggak punya orangtua, nggak punya saudara!"

"Apa bedanya dengan gua?" apa lu pikir gua betah disini? senenarnya gua nggak tahan selalu dikejar-kejar rasa takut. Badan gua selalu menggigil kalau mau nyopet".

Wawan menghela napas, meraih baju kumal yang tersampir ditambang, dan mengenakannya. 

Bocah-bocah ini memang tak pernah ingin menempuh hidup sebagai bajingan. Namun mereka sama sekali tak mengetahui jalan keluar dari kehidupan kriminal yang telah dilakoninya untuk mencari makan. 

Siang hari bolong, sekawanan bocah bergelayutan di mobil tangki minyak. Sala seorang memutar terbuka krannya. Yang lainnya menampung bensin yang mengucur dengna kaleng-kaleng bekas cat. 

Dari tempatnya yang strategis, Usin Tato terus mengawasi kerja anak buahnya yang berkeliaran di depan toko-toko. 

Wawan terheran-heran melihat Adul yang nampak lemas dan pucat,"Kenapa lu"?.

Bocah yang lain berbisik ke telinga Wawan, anunya Adul yang kepatil, gara-gara semalam nginap digubuk watunas gembel. Mendengar ini Wawan cuma bisa ngedumel sendiri. 

Sebuah mobil menepi dan diparkir di depan sebuah toko. Wawan cepat member kode kepada kedua temannya. Setelah pemilik mobil masuk ke toko, bocah-bocah ini cekatan mencongkel dop ban mobil dan melarikannya. 

Malamnya, seperti biasa Usin Tato menerima setoran anak buahnya. Adul ketakutan sendiri karena tak bisa menyetor. Wawan yang berdiri disampingnya, menjejalkan sejumlah uang ke tangannya. Barulah Adul berani maju untuk menyerahkan uang itu. 

"Biasanye lu dapat banyak Dul?" tegur Usin Tato. 

"Aye lagi sakit bang," Sahut Adul. 

Usin Tato mengalihkan perhatian pada Wawan. Sini lu cepet, jangan macem-macem lagi ye, lu tadi nimpe 10 dop mobil, gua tau sendiri. 

Wawan maju dan meletakkan sehelai ribuan. 

Usin Tato menjadi kalap, Tinju mencotos disusul tendangan. Wawan terjerembab!. 

Rotan di jemba, dan kembali punggung wawan di dera!. 

Adul setengah menangis menubruk kaki Usin Tato. 

"Jangan hajar Wawan Bang! jaritnya. "Adul yang salah. Adul sakit, nggak bisa kerja uang Wawan buat ngobatin Adul ke dokter, terus buat setor sama-sama."

Usin Tato menghentikan siksaannya. "Bilang terus terang dong, gua lebih senang, jangan dimainin terus!" bentaknya garang. Eh, asal lu pade tau ye, gua nggak segan-segan nyekek lu kalo coba-coba ngelawan! Pergi Sono!".

Buru-buru Adul memapah bangun Wawan dan membawanya  pergi dari situ. "Lu lagi yang kena ceter, Wan, gua jadi nggak enak sama elu.

Wawan berbisik Tenang Dul, kali ini aman,"

Sampai ke balik gubuk Wawan membuka bajunya. Ternyata ia memasang selembar karton tebal di pungungnya. 

Adul melongo. 

Wawan ngakak, merasa dengan kecerdikannya berhasil mengibuli Usin Tato yang cuma bisa main rotan!

**********bersambung ke Bagian 3