Thursday, April 30, 2026

MARCELLINO, PEMERAN SEMBARA


 MARCELLINO, PEMERAN SEMBARA, (Berita Lawas), Marcellino, perannya sebagai Sembara, pemuda berilmu tinggi dalam sinetron Misteri Gunung merapi ternyata mampu membuat kagum para penggemarnya. Marcellino, pria kelahiran Jakarta, 21 Mei 1974 yang mengawali karirnya lewat dunia modelling, dinilai cukup pas dalam memerankan tokoh tersebut. 

Ketika Marcellino masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia pernah mengikuti sandiwara radio yang cukup terkenal ketika itu, yakni Misteri dari Gunung Merapi dengan sembara sebagai tokoh pendekar yang selalu ditunggu kehadirannya. 

"Saya pernah mengikuti sandiwara itu diradio, tapi bukan berarti saya ngefans berat. Hanya sekedar tahu saja, " katanya. 

Namun ia tidak menyangka sama sekali, ketika cerita itu akhirnya diangkat menjadi sebuah sinetron seri, ia yang ditawari untuk memerankan tokoh Sembara. Barangkali, karena ia sudah 'mengenal' tokoh itu sejak kecil dulu, mak aiapun bisa menjiwai karakter tokoh sembara dengan cukup baik. Suara dan pakaiannya yang khas serta sifat kepahlawanan yang tinggi, membuat penonton terlena dengan sosok Sembara yagn diperankannya. 

Lantas, bagaimana dengan sikap kedua orang tuanya terhadap semua kegiatan yang dilakukannya selama ini?

"Sejak dulu, mereka tidak pernah melarang saya ikut dalam berbagai kegiatan nilai positif, mereka akan tetap memberikan kebebasan. Menurut mereka, saya ini sudah dewasa, jadi sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, " tutur Marcel yang sudah 'kadung kepincut' di dunia seni peran. 

Meski menurutnya , ia sudah 'kadung kepincut' di dunia seni peran, namun menurut Marcell, ketertarikannya bermain dalam sinetron  "Misteri Gunung Merapi" itu, lebih disebabkan oleh keinginannya untuk mengetahi suka dukanya ikut bereran dalam sinetron laga. 

"Saya memang bnar-benar ingin merasakan, bagaimana suka dukanya ikut terlibat dalam pembuatan sinetron laga. Tentu berbeda dengan sinetron drama. Sebab dalam sinetron laga kita harus berkonsentrasi tinggi, tidak boleh main-main. Jika tidak hati-hati kita bisa terpukul oleh lawan main kita sendiri, " komentar Marcel. "Pernah juga saya kena pukul , tapi itu biasa. Dan menurut saya itu kesalahan kita. kalau kita serius dan hati-hati, tentu tidak akan terjadi, " tambah Marcel yang ternyata cukup menguasai olahraga beladiri Tae Kwon Do ini. 

Marcellino di temui di sela-sela suting Misteri Gunung Merapi  yang saat itu suting tengah dilakukan di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Dan siang itu Marcel tampak gagah dengan pakain pendekarnya. 

"Bila mereka melihat saya berpakaian seperti ini, mereka lebih mengenal saya sebagai Sembara daripada Marcelino. Apalagi kalau mereka datang ke lokasi suting, mereka selalu memanggil saya Sembara. .. Sembara, " kata sang pendekar yang selalu berprinsip  "jalani kehidupan ini apa adanya. Selami dunia ini dan jangan berhenti untuk belajar". ~ Majalah Kartini nomor milenium 2007-  6 sampai 20 April 2000

Wednesday, April 29, 2026

BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU


 BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU, (Berita lawas). Nampak, ia anak yang berani. Omongannya ceplas ceplos, seperti orang yang sudah terlatih. Tubuhnya subur, energik dan gamang bergaul dengan siapa saja. Banyak orang yang tak tahu, ternyata dia putra sutradara Eros Djarot. 

Banyu Biru, lewat Pak Denya, Slamet Rahardjo, ia pertama kali diajak main film. Tak tanggung-tanggung memang, ia langsung mendapat peran utama dalam film Langitku Rumahku, sebagai Andry. Perannya sebagai anakorang kaya yang sudak bergaul dengan anak-anak kampung, ternyata sosok keseharian bocah yang baru berumur 11 tahun. 

"Bergaul dengan anak kampung enak saja. Mereka nggak norak, " tegas Banyu Biru dengan tegas. 

Ia kini duduk di bangku kelas I SMP Al Azhar Pusat. Barangkali karena ia putra seorang sutradara dan hidup dilingkungan orang film, ia tak merasa canggung main film. Tak juga canggung berteman dan bergaul dengan anak kampung. Tapi bagaimana rasanya bermain film untuk pertama kalinya?.

"Asik saja. Bebas kalau ngasih pengarahan. pak De sangat gampang. Jadinya ya enak. Soalnya sama Pak De sendiri sih. Jadi lebih saudara gitu, lebih gampang ngerti," jelas Banyu dengan nada bicara yang bersemangat. 

Banyu punya keinginan, kalau dapat kesempatan main film, ia akan main film terus. Tentu saja tetap mementingkan sekolahnya. Lalu soal honor bagaimana? "Honor. NGapain? Saya cuman dikasih uang saku sama Pak De. Setiap hari saya terima uang jajan sebesar Rp. 2.500, Itu juga kalau pergi keluar kota. Kalau di Jakarta sih itu tanggungan papa, " ungkap Banyu Biru ceplas ceplos. 

"Selama pembuatan film itu, saya lebih banyak mendapat pengarahan Pak De. Papa sih banyak urusan. Waktu suting di Surabaya saja papa pas pergi ke luar negeri," cerita Banyu yang dilahirkan tanggal 19 Maret 1979. 

Ternyata, bocah bernama Banyu Biru ini sepertinya sudah akrab dengan dunia film, sehingga untuk berakting di depan kamerapun ia tak merasa canggung. "Untuk akting saya cuman dikasih tahu saja perasaan bagaimana harus senang. Nggak pernah dikasih tahu gerak-geraknya bagaimana. Nangis harus bagaimana perasaannya. Cuman itu saja, " jelas pemeran Andry yang dalam film itu memaksa orang-orang untuk memanggil namanya dengan Bung Kecil. 

Kalau melihat penampilan Banyu dalam film Langitku Rumahku barangkali tak percaya kalau anak itu baru main film untuk pertama kalinya, ia begitu wajar melakoni tokoh Andry anak orang kaya yang bergaul dengan seorang pemulung bernama Gempol. Mungkin saja kewajaran itu muncul karena sang sutradara tak mau menggarap karakter anak itu secara berlebih-lebihan, apa adanya di pakai saja. 

Kewajaran anak itu menghadapi kamera sama dengan kehidupannya sehari-hari, Cerdas, enerjik, solidaritas tinggi dan mudah bergaul, Begitu kesan yang bisa dapat. Tapi apa sebenarnya yang tersembunyi dibalik nama itu?

"Itu yang ngasih Pak De. Banyu Biru maksudnya dimana ada air, disitu ada kemakmuran, " jelas bocah yang punya hobby renang, menggambar dan baca buku ini meyakinkan. ~MF109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990

Tuesday, April 28, 2026

LENONG RUMPI, KOMEDI "KOST" ALA BETAWI


 LENONG RUMPI, KOMEDI "KOST" ALA BETAWI (Berita Lawas). Sejak Medio tahun 1990, Lenong Rumpi (LR) mulai di tayangkan di RCTI. Maka sejak itu pulalah bertambah satu lagi kelompok orang-orang jenaka yang berprofesi sebagai pengocok perut. Dalam waktu relatif singkat, grup lawak ini berhasil melejit menjadi tontonan kegemaran masyarakat ibukota. Bahkan boleh dibilang sudah mampu menyaingi grup-grup senior seperti Warkop DKI atau bagito - yang kini berada pada papan teratas percaturan dunia lawak. 

Tidak heran kalau kemudian Raam Punjabi produser PT. Parkit Films yang tersohor kejeliannya, menarik mereka untuk  bermain dalam film produksinya. Problema utamanya , kalau untuk penayangan di RCTI cuma 30 menit (minus iklan), maka kini untuk sebuah film bioskop membutuhkan tempo sampai 90 menit. berarti hampir tiga kali lipat. 

Dan tentu saja bukanlah merupakan cerita pendek yang sengaja di ulur-ulur menjadi panjang. Maka, Harry De Fretes sebagai pimpinan LR bekerjasama dengan sutradara Yazman Yazid menggarap satu cerita utuh dengan peluang-peluang improvisasi di sana sini. 

Sebagai benang merah cerita adalah sebuah rumah kost. Induk semangnya, suami istri Marulloh - Hamide (Robby Tumewu - Ira Wibowo) . Nama asli Marulloh sebenarnya Liong A Soe, namun ia sudah resmi ganti nama menjadi Steve Marulloh, Pasal nama ini sempat diributkan Hamide yang pin-pin bo, "Ngapain pake nama Setip-setip segala, nggak pensil sekalian?!.

Penampilan Ira sebagai Hamide yang selalu berkain kebaya dan berkaos kaki seperti lagi meriang ini, memang sangat berbeda dengan sosok Ira dalam suma film sebelumnya. 

Anak-anak kostnya berasal dari berbagai suku, Bonny (Harry De Fretes) yang Sunda, Mungky (Debby Sahertian) yang Manado, Niar (Era Gloria) yang Padang, Juwita (Ade Libertifa) yang Irian dan Tariganov (Jimmy Gideon) yang Indon Batak Rusia. 

Dengan anak semang beraneka ragam ini, bertaburanlah kelucuan dalam setiap adegan. Tapi pada dasarnya, cerita film ini bisa dibagi menjadi dua babak. 

Pertama, cerita datangnya Bonny, Mungki dan Niar kerumah kost Marulloh. Persyaratan agar bisa diterima sangat unik, berdalih demi kebudayaan Betawi, maka sehari-hari mereka semua harus berbahasa Betawi. Kendati serba kikuk, ketiganya berusaha ngomong Betawian sebisanya.  Klimaks terjadi pada saat Marulloh memerintahkan mereka  membuat bak sampah. Tengah malam dibongkar lagi oleh Bony yang hehilangan cincin pusakanya . Padahal cincin itu diikuti oleh Hamide.

Kedua, Bony bertiga ikut Kuis tetangga Baik yang diselenggarakan oleh Radio ABS. Kesempatan ketika Marulloh dan Halime main Lenong di studio TV digunakan oleh Bony dan Mungki untuk menyamar sebagai mereka. Kekacauan terjadi karena dua anak kost lainnya Juwita dan Tariganov ikutan menyamar sebagai orang jompo. Tapi semua muslihat mereka terbongkar oleh Marulloh ang pulang mendadak. 

Ketiga, Marulloh yang tak bisa menghilangkan hobi ngintip orang mandi, minta petunjuk teman lamanya, Mawi yang pernah menuntut ilmu di Banten. Tariganov berhasil menyadap pembicaraan telepon mereka. Lalu si usil Bony, nimbrung mengajarkan cara menghilang. Marulloh mempraktekkan ajaran sesat tersebut. Berbugil berjingkrakan, mengira Bony semua tak bisa melihatnya. Puncak kelucuan terjadi saat Marulloh yang bugil dipergoki Mpok Siti mertuanya sendiri. 

Kendati hampir keseluruhan pemain (kecuali Ira Wibowo) baru untuk pertama kalinya main film, namun karena sudah sering melenong di televisi dan panggung, maka mereka pun nampak tak begitu canggung lagi. 

SUTING TERAKHIR "TAKSI"


 SUTING TERAKHIR"TAKSI", (Berita Lawas). Larut malam di minggu ketiga bulan Agustus 1990, ada kesibukan di jalan Blora. Sebuah taksi "Kosti" mondar mandir di jalan itu sampai belasan kali. Diamati dengan cermat dari pinggiran oleh belasan orang. Ternyata sopir taksi yang berpotongan rambut crewcut itu bukan lain daripada Rano karno. Sedangkan yang terus memberikan pengarahan adalah sutradara Arifin C Noer, lalu yang terus mengintip dari lubang intai kamera adalah kamerawan George Kamarullah. 

Itulah suting terakhir film gressnya Arifin, "Taksi" yang diangkat dari cerbernya Eddy Suhendro di harian "Kompas". Suting baru rampung pada pukul 03.00 dinihari, menjelang subuh!. Hebatnya, para pemain dan kru tak menampakkan tanda-tanda kepayahan. Tapi diatas mereka semua adalah Rahma Melati, seorang bocah yang baru berusia setahun, yang menjadi maskot film ini. 

"Melati benar-benar boleh dibilang bayi ajaib. Tidak kalah dengan si Michelle, bayi perempuan yang pintar sekali (dalam komedi serial TV "Fullhouse). Semua kami jatuh hati pada anak ini, cetus Hengky Solaiman produser pelaksana PT. Raviman Film. 

Rencana semula hendak memasang anak Ikang Fawzi-Marissa Haque, tai dibatalkan,diganti Rahma Melati ini. "Bukan anak orang film, anak orang biasa saja kok, " ujar Rano yang sering gemas pada si kecil. Maklum sejak lama sekali sudah mendambakan kepingin punya momongan, tapi belum juta terkabul. "Anak ini kelewat menyenangkan, cepat sekali akrab dengan saya.".

Dalam ceritanya, Rano jadi sopir taksi Giyon, suatu malam mengantar seorang wanita ke klab. Wanita itu, Dessy (Meriam Bellina) sebenarnya seorang biduanita. Lama tak keluar lagi, Giyon tak sabaran menunggu, menjalankan taksinya untuk cari muatan baru. Padahal di belakang ada anak Dessy yang tidur lelap. Maka terbawalah si bayi menjadi beban sisopir taksi. 

Sepanjang suting, Melati didampingi babysitternya, selain tertawa dan bercanda riang. Justru suatu sat ia diharuskan menangis. Tentu saja Arifin tak bisa memerintahkan, "Ayo kamu harus berakting menangis. Apa akal?.

Jajang Pamontjak alias nyonya sutradara yang magang sebagai scriptgirl (pencatat adegan) bertindak cepat, diam-diam mencubit paha Melati. Karuan saja ia menangis kesakitan. Kesempatan ini buru-buru digunakan Rano untuk berakting. 

Ketika adegan menangis harus diulang. Jajang pun mau cubit lagi. Kendati maklum Jajang melakukannya karena terpaksa , namun terlanjur sayang pada Melati, tak urung Rano mendesis "Sadis lu! Anak orang dicubitin terus!. 

Akting Rano yang lain dari biasanya dalam film ini. ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990


Monday, April 27, 2026

AYUNI SUKARMAN


 AYUNI SUKARMAN, (Berita Lawas), Meski usianya sangat muda, tapi Ayuni tidak takut menggeluti dunia film yang sering dilambangkan tempat orang-orang glamour. Tidak sedikit kaum remaja tergelincir, hanya lantaran silau melihat gemerlap film. 

Film dimata Yuni mungkin berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya. Awalnya ia tidak pernah berfikir tentang film, karena nonton pun hampir-hampir tidak pernah. "Habis film anak-anak jarang sih, isinya film dewasa melulu. Nyokap mana mungkin kasih izin pergi ke gedung bioskop."

Apakah Yuni pernah berkhayal main film? Pikiran itu muncul ketika Yuni sudah mulai kelas tiga SMP, manakala diam-diam sempat nyelonong ke bioskop, sepulang sekolah ramai-ramai. Tapi seperti yang diakuinya, keinginan itu cuma sekedar melintas saja di kepalanya. "Tidak pernah terbayang untuk mewujudkannya. Saya rasa waktu itu lagi melamun, ya saat itu saja," katanya tersenyum. 

Baginya film adalah film, bukan kenyataan, hanya sandiwara atau wayang. Barangkali inilah yang membuatnya tidak ragu lagi ketika mendapat kesempatan bermain dalam film laga. Lamunan yang cuma melintas itu tiba-tiba menjadi sungguhan. Mungkin juga ia sendiri sudah lupa dengan bayangan yang sempat mampir disaat pikirannya lagi kosong itu. Yuni hanya melihat apa yang sekarang dihadapi adalah sebuah kenyataan. Gadis SMP itu harus melakukan sesuatu yang sangat baru. Ia tandatangani kontrak kerja dengan PT. Simbar Intan Film, memainkan tokoh Cempluk anak Warok Suromenggolo dalam film "SUROMENGGOLO".

Sebagai pendatang baru tentu saja ia canggung pada awal-awalnya, sekalipun Dasri Yacob selaku sutradara tertarik pada potensi yang ada pada pemainnya yang paling baru ini. Penampilan cukup meyakinkan, permainan tidak mengecewakan, artinya sebagai pemain, Yuni punya potensi yang bisa diharapkan dimasa mendatang. 

Anak Pak Sukarman yang pernah punya cita-cita menjadi guru ini, mulai sering menonton film. Sejak itu ia mengaku semakin usil memperhatikan para pemain. ia perhatikan gerak gerik pemain sampai ke hal-hal yang kecil. Dan sejak itu pula ia suka berlma-lama di depan kaca, berlatih akting. 

Suatu hari Yuni mengalami "kecelakaan". PIntu kamar belum ditutup, ia sudah berakting di depan kaca, dan tanpa disadari telah jadi tontonan seisi rumah. Untung saja ibunya tahu kalau Yuni lagi belajar akting. Jika tidak bisa-bisa bikin panik orang tua karena melihat anak gadisnya bertingkah laku seperti kesurupan. Yuni sadar, segera mengunci pintu dan melemparkan tubuhnya ke kasur. 

Sampai sekarang ia masih suka bingung kalau mau belajar akting. Sementara merindukan Diklan Parfi, belum juga ada kabarnya. Secara sembunyi-sembunyi ia masih suka berlatih dirumah. Apa yang ia lakukan menurutnya paling sebatas mencari kemungkinan untuk kebutuhan adegan suting hari berikutnya. 

Kesempatan yang baik buat gadis model iklan coklat ini rupanya masih berkelanjutan. Dalang Dasri Yacob melibatkannya dalam film Bujang Jelihim, sebuah cerita rakyat dari daerah Palembang. Dalam dua film ia dukung, Yuni kebetulan mendapat peluang yang sama, kebagian peran pembantu utama. Di sini menjadi pacarnya Jelihim. Padahal murid SMA kelas I ini masih bau kencur. Belum tahu apa-apa soal pacar-pacaran, tapi Dasri senang memberinya peran itu. 

Untuk lebih menghayati peran itu, kiranya ia merasa perlu observasi dengan menonton film yang ada adegan pacarannya. Hal itu tidak terlalu sulit baginya karena di televisi toh hampir setiap malam ada. Namun dari kedua film itu semuanya mengambil cerita kuno, sehingga gaya pacarannya berbeda dengan gaya era Demi Moore. Untung saja ia pernah memergoki secara kebeutlan pembantu tetangga pacaran gaya tradisional. 

Kesempatan terus mengalir meskipun kedua film itu belum ada yang beredar. Si Cempluk yang baru berulang tahun yang ke 16 pada 16 Desember 1991, kini mendapat kesempatan menjual opak dalam serial sinetron "Mega Mega" garapan Zainal Abidin. Si cantik penjual opak itu bakal nongol di TPI . Dunia film biasanya banyak godaan, insan film selalu jadi sasaran gosip, tapi Ayuni jalan terus. ~sumber MF 143/110/THVIII 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


PEMBUATAN PUSAKA PENYEBAR MAUT


SELAMATAN PEMBUATAN FILM PUSAKA PENYEBAR MAUT, (Berita Lawas). Pada awal berdirinya, Ram Soraya dari PT. Soraya Intercine Film sudah pernah memproduksi film dakwah kolosal "Sembilan Wali". Tapi kemudian ia lebih banyak bikin film-film bertema komedi (Warkop) dan horor mistik (Suzanna). Baru sekarang untuk produksi terbarunya "Pusaka Penyear Maut", bertekad bikin kejutan lagi. 

Sutradara andalannya, Sisworo Gautama Putra yang juga sudah menjabat sebagai produser pelaksana, menyebutkan "Untuk produksi kolosal ini disediakan bujet sebesar satu setengah milyar rupiah!".

Bintang-bintang mahal dipasang sebagai tokoh-tokoh utama adalah : Suzanna, Fendy Pradhana, Murtisari Dewi, Willy Dozan dan puluhan bintang pembantu plus ratusan figuran. 

Upacara selamatan berlangsung di Rumah Yatim PIatu Muslimin di Kwitang, Jakarta Pusat. Maka Minggu Siang, 12 Agustus 1990 itu puluhan anak-anak yatim piatu bisa berhadapan muka langsung dengan bintang-bintang populer dari layar putih. Menjadi itikad baik produser untuk menyisihkan sebagian dananya sebagai sumbangan kepada Panti Asuhan tersebut. Tapi yang membuat anak-anak sangat girang adalah munculnya Dono Warkop yang bertindak sebagai Pembawa Acara. 

"Cerita film ini berpusat pada keris pusaka Empu Gandring yang terus menyebar maut pada zaman Singasari, " ungkap Sisworo yang menunjuk Willy Dozan sebagai tokoh Ken Arok, sedangkan Suzanna sebagai Nyi Polok. 

"Saya bermain sebagai puteri Nyi Polok yang menjadi kekasih Fendy, " sambung Murti Saridewi,. Jadi kalau dalam serial "Saur Sepuh " sebagai Lasmini ia terus mengejar cinta Brama Kumbara yang diperankan oleh Fendy Pradana, sekarangnlah baru kesempatan untuk 'bermesraan' diperoleh Murti. 

"Kalau saya justru film pertama saya main bersama Suzanna, " ujar Fendy yang debutnya lewat "Malam Satu Suro" dan mengakui Sisworo sebagai sutradara pertama yang mengontraknya main film. 

Willy Dozan yang datang berdua dengan Betharia Sonata, cuma senyum-senyum saja. "Peran untuk saya tidak banyak kok, boleh dibilang cuma sebagai bintang tamu saja, " ujarnya merendah. 

Suting dimulai pada awal September 1990 di lokasi Pelabuhan Ratu, Pangandaran dan Ciseeng. (Ada yang nonton sutingnya?~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990


     

YENNY FARIDA


 YENNY FARIDA (Berita lawas),,  "BOM SEKS" begitu julukan bintang yang satu ini. Yenny Farida hadir didunia film nasional memang dengan penuh keberanian, hingga di adijuluki artis spesialis adegan panas. 

Memang, bicaranyapun ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling, baik dalam persoalan pribadi maupun soal keresahannya di dunia film. 

Yenny tidak takut sama cowok, kendati dia sering gonta ganti pasangan, tapi tetap tidak kapok. "Biarin, kalau pergi gampang cari laki-laki lain" katanya tegas. Ketika ditanya bagaimana resepnya menaklukkan lelaki, Yenny cuma menjawab dengan senyum. Tapi dia mengakui bahwa untuk itu ada ilmunya, tapi bukan ilmu dukun tentunya. 

Namun begitu, bukan berarti dia mau "blangsak" terus, hatinya sama seperti hati manusia lainnya. Dan dia sadar bahwa pada lubuk hatinya juga teringat akan kebesaran Allah. Karenanya diapun punya niat untuk menunaikan ibadah haji, rukun islam ke lima. Sayangnya maksud tersebut belum kesampaian. 

Yenny, sempat terbaring di rumah sakit. Katanya kena penyakit ginjal hingga di aperlu di rawat di MMC Kuningan. Hampir satu minggu dia dirawat disana, bahkan harus diinfus segala. Sakitnya kebetulan jatuh pada akhir bulan puasa, hingga mau tak mau dia harus lebaran tergeletak di rumah sakit. Inilah yang banyak membawa hikmah bagi diri Yenny. 

Anehnya, saat ketemu Yenny di lokasi suting film, "Angkara Membara" arahan sutradara Yoppy Burnama beberapa waktu lewat, Yenny tampak cerah dan badannya agak gemuk. 

"Memang aneh kok saya sendiri nggak ngerti, badan bisa tambah lima kilo beratnya. Celana dalamyang biasa saya pakai no. 29 sekarang mesti pakai nomor 3 ucapnya gurau".

Sekarang, walau keadaanya belum sehat betul, pinggang masih terasa sakit-sakit, pegel begitu, tapi kalau sudah bicara suting maka penyakit itu lenyap. Yenny nongol di lokasi suting jadi bintang tamu film "Angkara membara" produksi PT. Surya Artiwibawa Film. Gimana sih, gua kan nggak bisa lari dari dunia film, sebab dunia ini yang membesarkan dan membuat populer, hingga gue terkenal sampai sekarang ini, " begitu kata Yenny. 

Dari Perjalanannya di dunia film, Yenny sudah banyak mengisi frame perfilman nasional. Boleh dikatakan segala tema dan sudah menjadi ciri bila Yenny muncul pasti punya daya pikat tersendiri. Untuk film pengalaman baru inidimanfaatkannya benar walau sebagai bintang tamu. 

Sudah banyak film yang dimainkan Yenny, tapi rata-rata film itu memanfaatkan kemontokan dan kemulusan tubuh Yenny, barangkali inilah yang menjadi salah satu daya pikat. ~MF ~MF 109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990



Friday, April 24, 2026

TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, MENENTANG FILM IMPOR


 TIADA TITIK BALIK DENGAN ULTRA STEREO SOUND, (Film Lawas). Mencari nilai jual yang tinggi merupakan angan-angan pertama yang melintas di benak pedagang. Termasuk produser film, tentunya. Pemikiran mereka sangat sederhana dan wajar, ingin untuk. Syukur bila keuntungan besar. 

Untuk meraih apa yang diharapkan, para produser itu selalu berusaha menggali dan menampilkan sesuatu yang baru dan menarik. Memilih cerita yang baik, berbobot dan cukup populer dikalangan masyarakat luas, merupakan langkah awal dari upaya mereka. 

Bila produser telah mendapatkan cerita yang diharapkan dan dinilai cukup komersil, memilih bintang pendukung pun segera dilakukan. Tentu saja, pilihan jatuh kepada aktor dan aktris yang masih menjadi idola masyarakat. Soal resiko salah casting, bagi produser biasanya menomorduakan. Yang penting bagi pedagan ini adalah Filmnya bisa laku. 

Judul yang komunikatif dan gampang memasyarakat, juga diyakini sebagai salah satu faktor penting atas sukses tidaknya peredaran film tersebut. Begitu besar pranan sebuah judul, sering menimbulkan keributan diantara sesama produser. 

Kitapun tak perlu heran mendengar terjadi jual beli judul film. Kabarnya pasarannya cukup tinggi. Sebuah judul bisa mencapai jutaan rupiah, bila produser menganggapnya punya nilai komersil. 

Dan soal judul ini, sering pula dikaitkan dengan urusan mistik. Judul yang baik, komunikatif dan komersil, menurut keyakinan produser, setengah perjalanan untuk mencapai sukses. Sebaliknya, judul yang aneh-aneh konon sering pula berdampak negatif dan membawa malapetaka. 

Dalam upaya mencari nilai jual yang tinggi itu, Gope T Samtani, Produser PT. Rapi Film nampak lebih serius. Mengontrak bintang termahal saat ini, Meriam Bellina juga dilakukan untuk mengangkat film Saat Kukatakan Cinta. 

Untuk Film keduanya, Tiada Titik Balik, Gope kembali mengimpor bintang bule, Cindy Rothrock bersama beberapa pemain bule lainnya untuk mengadu ketangkasan dengan aktor laga kita Advent Bangun. 

Masih dalam upaya mencari terobosan, Tiada Titik Balik yang melibatkan ribuan pemain, termasuk figuran, diboyong ke Amerika untuk penggarapan sound effect yang menggunakan system ultra stereo . Menurut Gope yang menguras kocek hampir  satu miliar rupiah, sekarang ini kita memang harus berani mencari terobosan baru dan mengeluarkan biaya yang relatif besar. 

Dengan menggunakan ultra stereo sound katanya, film ini diharapkan mampu menembus kelesuan pasar dan dominasi film impor di bioskop kelas atas. "Kalau bisa sukses di bioskop atas, biasanya di bioskop bawahnya juga sukses," katanya.

Sasaran lain yang ingin di capai, kata Gope penuh optimisme, menerobos pasaran luar negeri. Bahkan diharapkan dari pasaran luar negeri itu biasa produksinya sudah bisa tertutup, sehingga hasil pemasaran di dalam negeri sudah merupakan keuntungan. 

Menyinggung entang penyelesaian film yang agak lambat, Gope bilang "Prosessing tidak mengalami hambatan, hanya karena banyak pembuatan spesial effect dan animasi yang harus digarap di Hongkong dan ultra stereo sound-nya di Amerika, membuatnya lebih lama".

Ia mengaku dibandingkan dengan pembuatan biasa yang semua di kerjakan di dalam negeri film ini lebih lama sekitar satu bulan. "Biasanya , empat bulan setelah suting, sudah selesai copy A-nya tapi dengan menggunakan ultra stereo, baru selesai sekitar 5-6 bulan, ' jelasnya. 

Setelah berkutat di Amerika untuk menyelesaikan penggarapan ultra stereonya, Tiada Titik Balik tidak akan bisa langsung pulang ke Indonesia. Kata Gope, ia harus mampir lagi ke Hongkong, prosesing berikutnya sampai Copy A. ~MF No. 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Thursday, April 23, 2026

SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL

 


SUTING AJIAN RATU LAUT KIDUL, Hujan deras berganti gerimis, angin sepoi membawa uap air, bumi Jakarta pun kian dingin. Sementara dibalik malam yang dingin itu kru film terseok seok, penat dan letih membaur jadi satu. Ya, orang film harus bisa bekerja segala cuaca. 

"Ok! Kamera go (action) pekik Sisworo Gautama Putra selaku sutradara. Seorang pemeran pembantu bertubuh kekar bergerak, sementara Suzanna menatap dengan sorotan tajam. Ternyata Sisworo tahu persis meramu tema film horor. Penempatan kamera yang dipegang Partogi Simatupang begitu pas dengan seleranya. Suting pun berjalan mulus dengan target 26 hari harus selesai. 

Sekali ini Sisworo dihadapkan pada tantangan untuk mampu menghasilkan karya baik dengan waktu yang singkat serta anggaran standar. Soal akal-akalan set, misalnya sebuah bangunan mewah yang belum rampung bisa disulap jadi set angker sebagai markas para bandit. 

Meski malam telah larut, penata artistik masih bekerja, menyiapkan boneka-bonekaan dan perangkat efek lainnya. Skedul suting tidak rapi. Berantakan karena para pemainnya sebagian suting di tempat lain. Tak jarang suting break gara-gara pemain. 

"kita sudah membuat dua ribu tigak kali glass shot, masak kalian tidak bisa. Ayo cepat dong, " teriak Sisworo memlihat persiapan adegan glass shot, dimana Suzanna masuk ke dalam jasad orang lain. Ia ngomel karena siraman tata lampu tidak tepat membuat pengambilan gambar terganggu. Satu jam untuk persiapan glass shot, membuat Suzanna letih. Berkali-kali latihan dan istirahat . Pada saat-saat tertentu Sisworo galak di lokasi suting. Tekadang omelannya mujarab juga untuk kerja cepat dengan hasil maksimal.

Malam itu pengambilan gambar dengan glass shot termasuk cepat. "Bukan kita takut dengan omelannya, sehingga kerja jadi cepat. Temperamennya memang begitu, tapi terkadang ada gangguan teknis yang menghambat suting, " ujar seorang penata lampu. 

Paling seru selama suting berlangsung adalah adegan pembotakan rambut pemeran pembantu. Suasana ketika itu agak ramai, sebab adegan pembotakan itu dilakukan masyarakat di lingkungan suting berlangsung. Ada yagn tertawa, prihatin dan kagum kepada seorang ibu  rumah tangga yang mau kepalanya di botaki! Tapi bagi Sri Rahayu Agustin yagn menjadi korban merupakan kebanggaan. "Sebab cukup lama saya ingin mendapat peran besar tapi baru sekali ini saya dapati, " katanya. 

Film Ajian Ratu Laut Kidul yang di produksi PT. Libra Inter Delta Film dibintangi oleh Suzanna, Clift Sangra, Tino Karo, Ratu Dhenok, Saigian Sugaja, Yornania, Johny Indo, Rita Sheba, Erfan Yudha dan Sri Rahayu Agustin Film horor ini dipenuhi balas dendam dari wanita yagn sakit hati kepada orang yang menjerumuskannya sehingga wajahnya cepat dan jabatanya sebagii Lurah di comot.

Karena tak tahan, eks lurah ini pergi meninggalkan desanya sampai  suatu ketika berjumpa dengan lelaki tua jelek yang monolongnya, dengan syarat mau dipersunting. Apa salahnya menerima  lamaran  itu . Tiba-tiba wajahnya menjadi cantik seperti Ratu laut Kidul. 

MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992

Wednesday, April 22, 2026

RENGGA TAKENGON, TENTANG DUBBING FILM TV


 RENGGA TAKENGON, TENTANG DUBBING FILM TV, (Berita Lawas), Dubbing film TV di cap jelek, kontan saja Rengga Takengon berang. Sebab tidak semua dubbing film asing dibuat asal jadi. "Jangan dibandingkan dengan 'Little Missy' , karena TVRI membelinya dari Malaysia dan di dub dalam bahasa Melayu, " kata Rengga Takengon. 

Persaingan mutu siaran semakin ketat antara TVRI, RCTI, SCTV dan TPI (saat stasiun tv belum banyak seperti sekarang) untuk merebut hati pemirsa. Akibatnya, mutu pengisian suara film TV pun diusahakan bertambah baik. Lalu TVRI melatih dubber untuk film seri 'Rin'.

Menurut Rengga, yang perlu dilakukan adalah perbaikan segi non teknis, yakni kemampuan  dubber seperti vokal, karakter suara dan penghayatan serta sinkronisasi emosi. "Terus terang, ketika saya menjadi dubber film Nasional ada rasa ketidakpuasan. Perusahaan Viva Pro memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin penggarapan dubbing film TV. Rengga Takengon membuktikan hasilnya lewat seri TPI Emilie, Shanon Deal, Tika dan Family serta beberapa film lepas. 

"Pertama yang dibenahi adalah emosi. Saya selalu menyuruh para dubber berakting kembali. Supaya emosi pelakon dan dubber bisa sinkron, " kata Rengga, ketika ditemui di studio Irama Tara saat dubbing. Diakui pula oleh kelompok dubber seperti Nuraini Lubis, Dennis, Ariyo Sugiarto dan Anies bahwa "Rengga selalu tidak puas, sehingga menuntut kami bekerja keras."

Kendala yang dihadapi dubber adalah perbedaan gerak bibir bahasa asing dengan bahasa Indonesia. "Penerjemah juga punya peranan penting. Supaya sinkron harus kayak perbendaharaan sinonim kata. Gunaya untuk mencari kesamaan gerak bibir dengan kalimat, " ujar Anis. Film-film TV biasanya dibeli dari berbagai negara. Bahasa aslinya bermacam-macam. Contohnya film Emilie bahasa aslinya Prancis. 

Keapikan hasil dubbing tergantung bahan baku tersedia. Sebab cara kerjanya menggunakan alat elektronik tak sama dengan memakai seluloid (film), Alat elektronik semua unsurnya, seperti musik dan efek telah menyatu dengan gambar. "Ketika proses dubbing tidak bisa dihapus suaranya saja. maka, harus membuat musik dan efek sendiri. Bila film itu memiliki master, tanpa suara, hanya musik dan efek, kami hanya mendub. Hasilnya akan lebih apik, " kata Aguston, pimpinan Viva Pro. Musik dan efek yagn dikerjakan sendiri, hasilnya kuran memadai. "Kemampuan kerja alat efek kita belum memadai. Padahal asam garamnya film tergantung efek dan musik, " ujar Aguston memaparkan. 

Tidak semua film TV layak di dub ke bahasa Indonesia. Sebab kalau dilakukan akan mengurangi keapikan. Di dub supaya pemirsa cepat mencerna, semisal film anak-anak. "Kan nggak lucu kalau Mac Gyver di dub bahasa Indonesia. Tentu keapikannya hilang. Kalau film LA Law, tentang kehakiman itu perlu, sebab bicara soal hukum, agar pemirsa dapat menangkap maksud cerita film itu sendiri, " tambahnya. ~dikutip dari MF 143/110/TH VIII, 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


Tuesday, April 21, 2026

HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN

 


HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN, Idham Sjamsuddin bin Taha ini lebih terkenal dengan Hadisyam Tahax, "profesi film' kan selalu menuntut yang praktiks dan khas, " begitu kilahnya. Lahir di Tanjung Balai , 15 Agustus 1927, menyelesaikan pendidikannya di Anglo Indonesia School, Medan, sampai kelas VII. 

Mengenal dunia film, juga ditanah kelahirannya 1955, ketika dibuat film berjudul, " Peristiwa Danau Toba". Sebagai pemain juga "Sungai Ular" (1961). 

Hijrah ke Jakarta, pusat kegiatan perfilman nasional, Tahax makin memantapkan nama. 1965 dia tampil sebagai pemeran utama dalam "Luka 3 kali", wajahnya yang khas, membuat namanya cepat terserap oleh ingatan masyarakat. Apalagi, dalam kebanyakan filmnya yang puluhan judul, Tahax sering kali tampil sebagai lawan main pemegang peran utama. Peran-peran antagonis, yang umumnya berkarakter jahat. Tahax sempat mendapat julukan "The bad boy on teh screen," Si Buruk di layar putih. 

Peran-peran demikian, ruanya tetap menjadi "langganan"nya sampai dasawarsa 1980an, dia tetap kebagian peran-peran sebagai antigone. "Itulah rejeki abang" tanggapnya. Menekur, mengingat sekian banyak mulut dalam keluarganya yang mesti dibela dan diperjuangkannya lewat kesempatan-kesempatan main film itu. 

Dalam umurnya yang semakin menua, peran-peran yang dipercayakan sutradara maupun produser kepadanya, memang semakin kurang. Tetapi bagi Tahax, kepercayaan itu cukuplah seabgai tanda bahwa orang masih mengingat diri dan prestasinya. Demikian, tak terkirakan senang dan bangganya, ketika "Musang Berjanggut" mencantumkan namanya sebagai salah seorang pemain. Senang dan bangga, karena kesempatan dalam tahun ke 28 karir filmnya, justru dari daerah kelahirannya sendiri. Produser dari Medan dan film itu dibuat justru untuk menghadapi festival film Indonesia di Medan. Diapun bangga, merasakan tanah kelahirannya mampu menjadi tuan rumah, sebuah peristiwa kebudayaan yang besar dalam catatan sejarah negaranya. 

Kebanggaan yang tersisa, setelah aktivitas dalam sandiwara dipentas maupun televisi, berlangsung surut. ~buku ffi 83

BUDIYANTO, HIDUPKAN KUNTILANAK


BUDIYANTO, HIDUPKAN KUNTILANAK, (Berita lawas), Nama Budiyanto sudah dikenal di dunia model dan perfilman. Dari tangan lelaki inilah lahir nama-nama artis yang sekarang jadi populer seperti Harry Capri, Lela Anggraeni, Hengky Tornando, Ayu Lestari dan banyak nama lagi. Tapi ketika nama tersebut diingatkan pada suami artis Lina Budiarti ini, dia mengelak, "ah jangan ngungkit-ngungkit itu lagi. Nanti disangka saya cari perhatian, " ucap Budiyanto dilokasi suting sinetron Gadis Kuntilanak di Cibubur. 

Apa saja kerja Budiyanto setelah sekian lama tak terdengar kiprahnya? "Saya masih tetap sibuk seperti dulu. Memang banyak orang mengira saya vakum. Tapi tengok saja rumah saya, masih tetap sibuk menerima calon-calon model, ' tutur Budiyanto. 

Banyak yang merasa kehilangan jejak Budiyanto yang dikenal bertangan dingin dalam mengorbitkan model ini. Dari kawasan Tomang di Jakarta barat, Budiyanto belakangan menghuni rumah di Graha Indah, Jati Mekar Pondok Gede Jakarta Timur. Disini pula Budiyanto tetap menulis cerita komik yang diantaranya pernah difilmkan seperti Angkara Murka, Angling Darma, Ibuku seorang Pelacur serta Tante dan Sex. 

Gadis Kuntilanak adalah komik karya terakhirnya yang sedang digarap kedalam sinetron. Dibintangi oleh Gitty Srinita, Fitri Handayani, Abe Fauzi dan Lina Budiarti, cerita horor ini dikemas dengan gaya modern. 

 ~Mf 275/241/XIII/28 Des 96 - 10 Jan 1997

JALAN MAKIN MEMBARA II, MENGURANGI UNSUR EKSYEN


 JALAN MAKIN MEMBARA II, MENGURANGI UNSUR EKSYEN, Jalan Makin Membara II sebanyak 14 episode, Dede Yusuf tidak lagi tampil ganas seperti dalam tahap sebelumnya. Bahkan unsur laga hanya sekitar tiga puluh persen dan karakter Handoko berangsur-angsur berubah menjadi manusia biasa. 

Yang lebih menarik, setelah Dede dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa artis pemula, (sempat beredar berita tersebut) dia justru menangkat berbagai problema dari banyak kalangan wanita. Kata H. Rahayu Effendy, produser Jalan Makin Membara, mengangkat kehidupan berbagai kalangan wanita, merupakan kepedulian mereka anak hak-hak wanita. "ini tidak ada kaitannya dengan kasus Dede, atau kepura-puraan kami. Kami mengambil tema wanita semata-mata berdasarkan untuk membuat karya yang lebih baik dan memasyarakat, karena memang masalah wanita selalu universal dengan keadaan bagaimanapun. Ini juga yang membuat kami mengajak salah seorang penduduk Bantul yagn semasa mudanya pernah main film untuk kembali main sinetron, " kata Rahayu Effendy sambil menunjuk seorang wanita tua. 

Kehadiran Arswendo menjadi sangat dominan dengan menampilkan adegan-adegan lucu diwarnai eksyen ala film Jackie Chan, "Justru unsur komedinya yagn saya perbanyak, " ujar Dede Yusuf. Untuk mendukung unsur komedi itu, Dede merekrut pelawak Taufik Savalas. "Selebihnya saya banyak pakai pemain wanita, sesuai dengan ceritanya, " lanjut Dede. 

Dede menampilkan tokoh Handoko berpetualang menyelami permasalahan berbagai status wanita, yang pada akhirnya Handoko datang sebagai dewa penyelamat. "Di sini saya menekankan unsur drama ceritanya. Sementara adegan perkelahiannya sebagai akhir permasalahan, " ujar Dede lagi. 

Jalan Makin Membara II juga banyak menampilkan bintang-bintang muda yang gress seperti Anne Junita Coto. Sementara pemain sebelumnya yang masih dipakai Dede adalah Henry Hendarto. 

Pihak SCTV mengaku jauh-jauh hari memang meminta pada pihak Sepro Karya Pratama untuk meneruskan sinetron Jalan Makin Membara I. "Masalah pengurangan unsur eksyen itu adalah hak Sepro. Kita lihat saja, apakah dengan pengurangan unsur eksyen itu akan membuat sinetron ini tetap sukses atau tidak," kata RM Soenarto. "Kami masih menganggap ini sinetron laga yang kental dengan unsur komedi, ' lanjut Soenarto. 

Jalan Makin Membara II ditayangkan mulai pertengahan Desember 1996 setiap Sabtu pukul 19.30 Wib selama satu jam di SCTV. ~Mf 275/241/XIII/28 Des 96 - 10 Jan 1997

Saturday, April 18, 2026

AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR


 AMRIN MEMBOLOS, DEMI AMANAT PAK KASUR, 

Amrin Membolos, kata Bu Guru, Jangan membolos, Menyusahkan Ibu....

Itulah bait awal lagu anak-anak Amrin Membolos karya Pak Kasur yang pernah populer pada 1960an. Seperti diketahui guru Taman Kanak Kanak paling terkenal di Indonesia itu, juga menciptakan banyak lagu anak-anak, dua diantaranya yang merupakan karya abadi adalah Naik Delman dan Naik Becak. 

Kembali pada lagu Amrin Membolos, kemudian juga dijadkan theme-song dan judul film anak-anak yang dibuat sendiri oleh Pak Kasur pada tahun 1961. Saat itu film Indonesia masih hitam putih. Murid-murid Sekolah Dasar pun digiring guru-guru mereka beramai-ramai menonton film tersebut ke bioskop. Perlu diketahui, bahwa Pak Kasur juga sempat berkiprah di dunia film. Antara lain karya filmnya adalah Siulan Rahasia dan Harmonikaku (dibuat ulang dua kali). 

Setelah 35 tahun kemudian, Amrin Membolos pun di remake (dibuat ulang) , tentu saja dengan versi baru yang di sesuaikan dengan zaman. Bertindak selaku produser adalah Bu Kasur yang bertekad mewujudkan amanat almarhum suaminya. 

"Semasa hidupnya, Pak Kasur punya dua obsesi yang sering di cetuskanny apada saya, " tutur Bu Kasur. "begini katanya", Mbok ya aa film anak-anak Indonesia Lalu yang kedua, kapan ya ada lagu anak-anak Inodnesia yang digelar dengan simphoni orkestra lengkap'. Sekarang, sudah seribu hari terlampaui dari wafatnya Bapak, namun belakangan ini justru amanatnya itu terngiang terus di benak saya".

Gagasan untuk membuat film anak-anak yang menjadi idaman Bu Kaur ini mendapat sambutan dari Agus Setiawan, direktur Sea World, Ancol. Modal pembuatan sebuah film Indonesia masa kini yang minimal 200 juta, bisa di sediakan oleh Agus. Berlanjut dengan dihubunginya Sjamsuddin, Kamerawan kawakan yang punya perusahaan film Sjam Studio . 

Maka Yayasan Setia Balita Pak Kasur memprokamirkan pembuatan film anak-anak Indonesia yang sudah sangat langka dibuat untuk masa kini (terakhir tercatat cuma Si Badung 1989 karya Imam Tantowi). 

Di dapuk sebagai dalangnya Yonky Souhoka, sutradara muda yang biasanya engarahkan film-filmnya Sally Marcellina. 

Sebagai kamerawannya tentu saja Sjam sendiri. Sedangkan ide cerita asli dari Bu Kasur di tulis skenario barunya oleh Rizky Prasetya. 

Bagaimana dengan Amrin Membolos versi 1996)

Tampil seorang bocah berambut rada gondrong yang bernama keren Don Bogard. Tapi jangan salah paham dia bukan bule atau blasteran, karena memang anak kandung Sjamsuddin sendiri. 

"Saya sudah duduk di kelas 6 SD 07 Pagi," seru Don ketika memperkenalkan dirinya. Dipilihnya Don memerankan Amrin, karena ia punya ketrampilan main sepatu roda in-line. Hobinya ini dikembangkan saat bergabung dengan Kelompok Sepatu Roda Monas Group asuhan Dr Pohan. 

"Ceritanya, Amrin membolos karena tergila-gila main sepatu roda. Lalu secara kebetulan melihat kawanan penjahat sedang merampok sebuah rumah. Akibatnya ia dikejar-kejar penjahat. Tapi dengan kelincahannya bermain sepatu roda, Amrin selalu bisa lolos malah penjahatnya jatuh bangun sendiri, " tutur Bu Kasur. 

Sjam merancang adegan seru, seperti Don melayang bagai terbang dengan sepatu rodanya melompati atap mobil. Sebagai penolong Amrin pada klimaksnya adalah pamannya sendiri yang diperani bintang karateka ADVENT BANGUN. Sedangkan ayah ibunya dimainkan oleh NIZAR ZULMI dan DEBBY CYNTHIA DEWI. 

"Tak lupa kami berterima kasih sekali pada Rano Karno yang telah meminjamkan bintang-bintang sinetron serial Si Doel seperti Mandra, Suti Karno dan Pak Tile untuk ikut bermain di film ini. "

Diramaikan lagi oleh nenek rocker Laela Sari, kawanan penjahat dimainkan oleh wajah-wajah kriminil, Herman Bule, Firmansyah, Satrio dan Amir Koto. Gadis pra remaja Putri Ayu bermain sebagai kakak Amrin dan si cilik Imbow sebagai adik Amrin. Banyak murid-murid Yayasan Setia Balita disertakan juga rombongan Cheerleader Tuti Girl dengan ilustrasi musik tatanan Sudharnoto. 

Suting di Jakarta dan sekitarnya yang dimulai pada 11 Maret 1996 dengan di kebut karena direncanakan filmnya bisa ditayangkan pada 26 Juli bertepatan dengan ultah Pak Kasur (tercatat kelahiran Serayu, Banyumas, 26 Juli 1914). ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

Ada yang sudah nonton filmnya?


Friday, April 17, 2026

GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG

 


GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG, Kesuksesan sebuah film nasional acap dipengaruhi judulnya. Demikian mitos yang terdapat di perfilman nasional. Simak saja judul film nasional belakangan ini begitu bombastis dan penuh dengan adegan yang menggiurkan  hawa nafsu, meskipun terkadang materi cerita tidak sesuai dengan judul filmnya. Dengan judul film yang "luar biasa" itu diniatkan memancing minat penonton untuk melirik perfilman nasional. 

Film Gairah Malam III diproduksi PT. Elang Perkasa Film ini, ceritanya tidak ada kaitan dengan Film Gairah Malam  I dan Gairah Malam II. Hanya artis sexy Malvin Shayna pemain tetap film Gairah Malam I,II dan III. Diakui para booker film daerah, artis panas ini masih punya nilai jual yang cukup tinggi. Teruji dari sekian banyak film yang dibintanginya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan ke kocek produsernya. Akibatnya sering akhir-akhir ini Malvin Shayna tampil di layar perak sampai melahirkan anekdot, Malvin Shayna penyelamat film nasional. Karena dengan tubuh mulusnya menggairahkan penonton untuk datang ke bioskop. Gairah Malam III juga yang dibintangi Eddy Chaniago, Sonny Dewantara, Diaz Astuty, Malvin Shayna, Hengky Sonny RB, Thea Novita, dan Shinta DS ini. 

Ketiga serial film, Gairah Malam ceritanya secuilpun tidak memiliki continuity atau kesinambungan. Dipakainya judul Gairah Malam III hanyalah kiat produser mencuri perhatian. 

"Judul film Gairah Malam semacam ada 'garansi' dalam meraih keuntungan," komentar sutradara Prawoto Soeboer Rahardjo.

Adanya 'garansi' dari judul Gairah Malam bukan membuat sutradara jebolan IKJ ini berlaha. Dalam pengadeganan dan pembuatan trik-trik effect ia mencoba menampilkan gagasan baru. Antara alam mistik dan alam nyata. Dari materi skenario yang ditulis Prawoto, film ini 'bermain-main' dalam alam imaginasi. Rumusan seks dan kekerasan yang menjadi handalan tetap dipelihara. 

Materi cerita tentang perebutan pusaka. Mirip seperti kisah nyata Brandon Lee ketika suting film The Crow. Hanya saja alur ceritanya dilencengkan kealam mistik. 

Dalam suting sebuah film tiba-tiba pemeran utamanya tanpa di sengaja kena tembak dan mati. Kemudian dibawa kerumah sakit. Akan tetapi begitu Jodi sadar ia sudah berada disebuah alam gaib, alam antara hidup dan mati. Dalam alam itu ia bertemu dengan teman-temannya yang telah lama mati. ANehnya semua jadi mayat hidup. Hanya Jodi yang masih bernafas. Kiranya pembunuhan Jodi disengaja oleh Bu Darmi, seorang wanita yang memiliki ilmu tinggi. 

Bu Darmi dendam melihat Jodi anak musuh bebuyutannya sukses sebagai bintang film. Apa lagi musuh yang sekaligus kakak seperguruannya, Darman belum dapat dikalahkan. Sakit hati Darmi bermula karena merasa Darman mengabaikan anaknya yang dititipkan untuk menuntut ilmu. Akibat keteledoran itu anak Bu Darmi yang dititipkan kepada Darman sejak kecil menjadi gila. 

75% dari film ini penuh dengan adegan laga sedang sisa 25% untuk love scene. Sutradara muda ini mencoba memadukan unsur penuturan Amerika dan Mandarin dengan peralatan yagn ada di perfilman nasional. Para awak film yang terilbat dalam film ini adalah Prawoto Soeboer Rahardjo (Sutradara), Heru Susanto (Kamerawan), R.A Maktal (Penata Artistik), Chris (Penata Kelahi) dan Andy Burnama (unit Manager) ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

MIEKE WIJAYA


 MIEKE WIJAYA, Seorang aktor atau aktris harus senantiasa peka terhadap manusia dan lingkungannya, sebab dengan banyak mengamati kehidupan sehari-hari berbagai macam karakter dapat dihidupkan kembali bila ia dituntut berperan seperti tokoh yang pernah dilihatnya, begitu kata Mieke Wijaya pada suatu kesempatan. Mieke Wijaya istri dari aktor Dicky Zulkarnaen ini memperoleh Piala CITRA sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam Festival Film Inodnesia 1981 di Surabaya untuk filmnya "Kembang Semusim" dimana ia bermain sebagai ibu yang dihayatinya dengan baik. "Bagi saya itu, adalah prestasi tertinggi yang saya peroleh selama hampir dua puluh tujuh tahun lamanya berkecimpung di dunia film, " ucap Mieke Wijaya. 

Sebelum Mieke Wijaya mengenal dunia film, ia dulu lebih banyak dikenal sebagai seorang penyanyi di Radio Republik Indonesia Stasiun Palembang, yang waktu itu  bergabung dengan group band "Empat Sekawan" tahun 50an. Setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya Mieke yang bernama asli Mieke Maris itu hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) 1956-1957. 

Mieke yang di lahirkan di Kota Kembang Bandung 17 Maret 1940 waktu masuk ke Akademi Teater masih sangat muda "Usia saya waktu itu baru enam belas tahun,", ucapnya. Maka tak mengherankan tentu ia terbilang 'kembang' yang sedang mekar-mekarnya dikelilingi kumbang-kumbang yang berebut mengisap madu. 

Dia masih ingat dengan jelas kapan ia pertama kali mendapat kesempatan main film yakni tanggal 30 Oktober 1955 dalam film "Gagal" dimana dalam film itu Mieke mendapat kesempatan main sebagai peran Pembantu. Sejak itulah namanya mulai banyak disebut-sebut orang film, sebagai aktris yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Berturut-turut kemudian ia ditawari oleh beberapa produser untuk ikut mendukung film yang akan dibuatnya diantaranya film "Tiga Dara" yang dibuat tahun 1956 kemudian dalam film "Piso Surit" (1960), "Toha Pahlawan Bandung Selatan", (1962), film "Liburan Seniman" (1965), "Malam Jahanam" (1969), "Badai Pasti Berlalu" (1977), "Akibat Godaan" (1978) , "Cengkraman Garuda" (1978) dan banyak lagi lainya. Antara tahun 1977/1978 saja ia telah main dalam 55 film. 

"Saya lebih senang jika disodori peran tidak itu ke itu saja yang bisa membuat kita jemu", katanya. Dan seorang aktris lanjut bagi Mieke harus bisa dan mampu mewujudkan segala macam karakter yang dituntut oleh cerita dan jangan lupa membaca skenario berulang-ulang, dengan cara itu sering timbul ide-ide baru, baik dalam penggunaan dialog maupun nuansa akting. 

Hingga tahun 1983 banyak sudah penghargaan yang ia terima di berbagai event Festival Film, Sebagai The Best Actress 1963 pilihan para Wartawan di Jawa Timur untuk permainannya yagn cantik dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan",. Disamping itu mendapat penghargaan sebagai Pemain utama pada Pekan Apresiasi Film (1967) dalam film "Gadis Kerudung Putih". Disamping itu MIeke pernah pula meraih sebuah Penghargaan lain dalam pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1971) untuk permainannya dalam film "Malam Jahanam". Penghargaan sebagai Pemain Harapan Wanita kembali direbutnya pada pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1972) untuk perannya dalam film "Akhir Cinta Diatas Bukit". Pada Festival Film Indonesia tahun 1975 yang dilangsungkan di Medan, Mieke pemperoleh penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Terbaik dalam film "Ranjang Pengantin" yang dibuat tahun 1974.


PERTEMPURAN SEGITIGA MENGANDALKAN CINDY ROTHROCK

 


PERTEMPURAN SEGITIGA MENGANDALKAN CINDY ROTHROCK, (Berita Lawas). Mengimpor bintang bule bagi Rapi Film bukan lagi hal baru. Sudah terlalu sering, Christ Mitchum sudah beberapa kali dikontrak untuk membintangi film-film produksinya. 

Gope T Samtani produser Rapi Film, mengimpor bintang bule cewek yang sudah punya penggemar di kawasan Asia. Cindy Rothrock ratu karateka tingkat dunia itu yang dikontraknya. Film yang dibintangi di beri judul "Pertempuran Segitiga" yang sudah mulai beredar  sejak 9 Mei 1991 di bioskop  superhall di Jakarta. 

Di beberapa daerah, Medan, Jambi telah beredar lebih dulu saat umat Islam merayakan Lebaran. Hasil peredarannya, kata Gope sangat memuaskan. Ia kemudian mengharapkan di Jakarta juga mendapat sambutan masyarakat. 

Tentang ema film perdana Cindy ini, jelas film action (laga). Sesuai judulnya, Pertempuran Segitiga yagn melibatkan Roy Marten, Minati Atmanegara, Zaenal Abidin dan lain-lain. 

Ceritanya dibuka dari kegilaan memiliki komputer canggih yang bergerak di bidang komputer. TCI nama perusahaan itu. Perusahaan ini memproduksi komputer yang sangat canggih dan sangat berguna untuk segala macam pekerjaan. Dan pengumpulan data sampai mengerahkan penembakan senjata nuklir. Begitu hebatnya berita tentang komputer tersebut membuat banyak orang ingin memilikinya. 

Nancy Bolan, salah seorang pimpinan TCI yang ahli komputer mendapat tugas untuk membawa komputer itu ke Indonesia dan menyerahkannya ke anak perusahaan TCY di Indonesia yang di pimpin oleh David. 

Benny, kekasih Nancy yang sudah lama menghilang, tiba-tiba muncul lagi. Kali ini dalam kancah perebutan komputer canggih itu, tapi juga untuk melindungi Nancy. 

Bill Stewart, tokoh teroris internasional juga keluar dari tempat persembunyiannya untuk merebut komputer tersebut. Ternyata, barang canggih itu dikririm dalam beberapa cara dalam waktu yang berlainan, tapi komputer yang asli hanya satu. 

Pertempuran antara mereka yang saling menginginkan komputer itu menjadi sangat seru karena masing-masing tidak tahu mana sebenarnya yang asli. Dan bahaya selalu mengancam Nancy, karena memang hanya gadis itu yagn tahu komputer mana yang asli dan hanya dia pula yang bisa mengaktifkannya. 

Pertempuran itu tidak hanya terbatas pada aksi tembak menembak di udara yagn menggunakan lima pesawat  helikopter , tapi juga seru bertempur di laut mengunakan kapal boat. 


Thursday, April 16, 2026

FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA

 


FILM LEGENDA BERBAHASA JAWA, BALADA CINTA ANGLINGDARMA, Sebuah terobosan baru di lakukan sutradara Torro Margens lewat film ini, menggunakan dialog bahasa Jawa. Cerita rakyat yang sudah melegenda ini sudar tersohor sejak 1950an lewat panggung ketoprak. Denga sendirinya memang teasa lebih pas bila para pemainnya berbahasa Jawa. Namun kemudian PT Kanta Indah Film memproduksi dua versi sekaligus, untuk peredaran di Jatim dan Jateng, khusus yang berbahasa Jawa, sedangkan di lain daerah dalam versi bahasa Indonesia. 

Di dukung oleh pemain-pemain : Baron Hermanto, Fitria Anwar, Okky Irwina Savitri, Atin Martino, Basuki, dan Prof. Dr. RM Wisnoe Wardhana sebagai Prabu Bojonegoro, merangka penasihat bahasa Jawa. 

Ketika Berburu, Prabu Anglingdarma memergoki keserongan Nagagini dengan seekor ular sanca. Untuk menutupi keserongannya, Nagagini menghasut suaminya, Nagaraja. Maka Nagarajapun menyatroni keraton Malawapati. Justru Anglingdarma sedang bercerita pada permaisurinya, Setyowati. 

Merasa malu, Nagaraja kemudian mewariskan Aji Gineng yang membuat Anglingdarma memahami bahasa hewan. 

Gara-gara ilmu inilah, Setyowati ngambek menyangka sang Prabu menertawakannya. Padahal Anglingdarma geli mendengar rayuan cicak jantan. Tak mungkin ia mewariskan Aji Gineng pada Setyowati, karena bisa membawa kematian. 

Sang permaisuri nekad pati obong. Anglingdarma tersadar demi mendengar kecaman seekor kambing. Untuk menebus rasa dukanya, ia ingin mengembara urusan kerajaan diserahkan pada Patih Batik Madrim. 

Ditengah rimba, Anglingdarma bertemu tiga wanita siluman yang merayunya, karena identitas mereka terbongkar, Anglingdarma ditenung menjadi belibis. 

Sang belibis terbang ke BOjonegoro. Dipikat si Klungsur dan dipersembahkan pada Dewi Anggorowati, putri Prabu Bojonegoro. Kasih sayang sang puteri memulihkan Anglingdarma. 

Namun Prabu Bojonegoro membuka sayembara, barang siapa bisa membekuk maling dalam keputrennya, akan diangkat menjadi menantu. Justru Batik Madrim  yang menantang 'maling' yang bukan lain daripada rajanya sendiri itu. 

Legena yang menarik ini selain menampilkan para bintang juga sejumlah binatang seperti ular, cicak, kambing, gagak dan belibis, harus berakting juga. 

Wednesday, April 15, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


EDWARD PESTA SIRAIT : Sebelum terjun didunia film, Edo (Panggilan akrabnya) pernah menjadi asisten Show Manager Sarinah, bekerja di Miraca Sky Club (1967-1970).

Kemudian setelah 4 tahun belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) ia mengikuti Kinoworkshop (1973), Edo, yang putra Batak itu dilahirkan di Siraituruk, Tapanuli 7 Agustus 1942. 

Memulai  karirnya di dunia film sebagai pembantu Sutradara sejak 1966 untuk film-film dokumenter, disamping sebagai pembantu editor dan sutradara film-film iklan pada perusahaan Ariza Jaya Flm. Film-filmnya ketika masih jadi pembantu sutradara antara lain : Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974), dan Malin Kundang (1973). Sedangkan karyanya yang pertama sebagai sutradara penuh adalah film "Chicha" (1976). Film tersebut mendapat penghargaan pada Festival Film Kairo (1977). 

Karya-karyanya kemudian menyusul berturut-tutur diantaranya "Sang Guru", Manis-manis Sombong, Gadis Penakluk dan Bukan Istri Pilihan dan sebagainya. 

Dalam film "Gadis Penakluk" Edward menempatkan namanya pada deretan Sutradara Muda berbakat dan banyak jadi perhatian oleh kalangan insan perfilman dan para kritisi film. Dalam film tersebut Edward Pesta Sirait meraih dua buah Piala "Citra" FFI 1981 di Surabaya untuk Ita Mustafa Pemeran Pembantu Wanita Terbaik dan Parakitri Tahi Simbolon untuk Penulis Skenario Terbaik. 

Sedang yang masuk dalam deretan unggulan (nominasi) : Edward Pesta Sirait untuk Sutradara Terbaik (Gadis Penakluk), Norman Benny (Editor) dan Adi Kurdi (Pemeran Utama Pria). Dalam Festival Film Indonesia 1982 di Jakarta, Edo berhasil mengikutsertakan dua buah filmnya : "Bukan Istri Prilihannya" dan "Sang Guru" . Dari kedua film tersebut beberapa diantaranya masuk dalam deretan unggulan antara lain Edo sendiri Sutradara - untuk filmnya "bukan Istri Pilihan" dan beberapa lagi yang lainnya. 

WD MOCHTAR


 WAGINO DACHRIN MOCHTAR atau WD Mochtar adalah aktor Indonesia yang lahir di Pontianak, 9 Mei 1928. 

Dalam Bidang kesenian ia mula mula dikenal dikalangan terbatas sewaktu bergabung dengan suatu kesatuan tentara Jepang antara tahun 1942 - 1945 di Pontianak Kalbar. Dalam kesatuan itu ia suka tampil sebagai penyanyi dan penari. Tahun 1946 ia hijrah ke Jawa dan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Karawang, lalu hijrah ke Yogyakarta dan bergerilya di Jawa Barat. 

Keluar dari ketentaraan selepas peralihan kekuasaan, ia langsung terlibat dalam film  "Tirtonadi" 1950 kemudian sampai tahun 1955 ia menjadi pemain tetap  studio Tan & Wong Bross yang kemudian berganti nama jadi Cenderawasih Film. Namanya kemudian beberapa tahun tengelam di dunia perfilman waktu itu antara 1955-1956, baru muncul lagi pada tahun 1960 lewat film "Badai Selatan" lewat tangan sutradara Sofia Waldy yang kemudian menjadi istrinya (Sofia WD). Mengisi kegiatan dari masa kosong pembuatan film, WD Mochtar bersama istrinya mendirikan "Libra Music Al Show" yang menyelenggarakan pertunjukkan ke berbagai pelosok tanah air. 

Memasuki era film berwarna ia mulai banyak tampil lagi seperti di film "Macan Kemayoran" 1965.Namanya tiba-tiba melambung berkat permainannya yang bagus, sejak saat itu ia mulai bermain di film film  yang disutradarai Wim Umboh. 

Berkat permainannya di film "Sanrego" ia dinobatkan sebagai The Best Actor dalam pemilihan Best actor/actress PWI Jaya pada tahun 1971. Film-film berikutnya : Pengantin Remaja, Melawan Badai, Tokoh, Mama, Badai, Petualang-petualang, Krakatau, Si Ayub, yuyun, Jaka Sembung dan Juga Ratu Ilmu Hitam. 

Pada tahun 1980 ia masuk Nominasi dalam FFI sebagai peran utama dalam film Yuyun garapan Arifin C Noer dan dalam FFI 1982 juga menjadi nominasi dalam sebagai peran pembantu terbaik dalam film "Ratu Ilmu Hitam"

Telah puluhan film yang dibintangi oleh WD Mochtar. Bermain bagus dalam film Lara Jonggrang dan Roro Mendut dan juga film-film lainnya termasuk beberapa kali bermain dalam film yang dibintangi Rhoma Irama. Kerap bermain antagonis meski juga bermain protagonis.

WD Mochtar tutup usia pada 13 Desember 1997 .

#wdmochtar #aktorindonesia

Sumber buku ffi 83

MENGENANG DHALIA, AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA


DHALIA,  AKTRIS PERTAMA PERAIH PIALA CITRA, Menjelang Idul Fitri 1941 H tepatnya Minggu, 14 April 1991, Dhalia tutup usia. Aktris kelahiran Medan 10 Februari 1927 itu erat berkait dengan sejarah Festival Film Indonesia. Dialah Aktris Utama Terbaik Festival Film Indonesia yang pertama (1955) dalam film Lewat Djam Malam (LDM).

Dalam LDM itu juga terpilih aktor utama A.N. Alcaff serta 2 aktor pembantu, Awaludin dan Bambang Hemanto. Film terbaik adalah LDM yang disutradarai Usmar Ismail. Tapi yang terpilih sebagai sutradara terbaik adalah Lilik Sudjio dalam Tarmina.

Pada Festival pertama itu muncul pemenang ganda untuk aktor utama dan aktris utama. Selain Dhalia dan Alcaff, terpilih pula Fifi Young dan A. Hadi dalam Tarmina. Film ini juga menghasilkan aktris pembantu terbaik, Endang Kusdiningsih. Diantara pemenang lain terdapat Harimau Tjampa untuk skenario. 

Festival dimaksud untuk memasyarakatkan film nasional, yang saat itu sedang tergencet oleh film-film impor. Bioskop-bioskop kelas satu terutama dikota-kota besar di dominasi produksi Holywood. Film Indonesia diputar hanya di bioskop kelas dua. Tapi disitu pula di putar film-film Malaya (Malaysia) dan India yang ternyata lebih disenangi publik. 

Usmar, bersama Djamaluddin Malik ikut dalam pembentukan Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA) di Manila, November 1953. Diantara usaha FPA adalah menyelnggarakan festival regional. Mulai tahun 1954 Tokyo, Jepang, tapi Indonesia belum sempat berpartisipasi. 

Ketika Festival Film Asia (Tenggara) diadakan di Singapura tahun 1955, maka tampillah Indonesia dengan film-film pilihan dari festival. Termasuk LDM dan Harimau Tjampa, yang dibintangutamai Bambang Hermanto dan Nurnaningsih. Harimau Tjampa berhasil meraih piala untuk ilustrasi musik terbaik. Kemenangan Indonesia pertama dalam Festival antar Bangsa. 

Mulai 1957 kata "Tenggara" dibuang di ganti Festival Film Asia (FFA), Festival 1955 ternyata tak dapat berlangsung setiap tahun. Baru terselenggara lagi 5 tahun kemudian, 1960 kembali tak ada Festival. keramian serupa itu muncul pada 1967, disebut Pekan Apresiasi Film Indonesia. 

Yang berkesinambungan terselenggara sejak 1973 , Festival Film Indonesia (FFI), Pelopor festival 1956, telah meninggal dunia, Djamaludin Malik (1970), dan Usmar Ismail (1971). Begitu pula dengan A Hadi (1971), dan Fifi Young (1975). Disusul oleh Awaludin kelahiran Padang 11 November 1916 pada 24 Februari 1980 di Jakarta. 

A.N Alcaff lahir di Jambi pada 17 Agustus 1925, main pertama kali dalam produksi Perfini, dosa Tak Berampun (1951), Menyusul Embun 1951, LDM 1954, Serta Mendung Sendja Hari (1960), Apa Jang Kau Tngisi (1965), dan Krakatau - 1977 , Intan Perawan Kubu 1972.Alcaff meninggal dunia di Jakarta pada 22 Desember 1987.

Bambang Hermanto juga menorehkan prestasi di usia senja, terpilih sebagai aktor pembantu terbaik pada FFI 1984 lewat film Ponirah Terpidana. Sebelum itu, Dhalia cuma masuk nominasi sebagai aktris pembantu masing-masing dalam Usia 18 pada FFi 1981 dan Bukan Isteri Pilihan pada FFI 1981.

Melanjutkan tradisi keluarga, Miss Intan (Ibu) adalah primadona sebuah rombongan sandiwara, Dhalia memulai karir seninya juga diatas pentas. Kemudian terjun pula ke dunia film, melalui Pantjawarna (40) dan Moestika dari Djenar (41). Dimasa pendudukan Jepang, selain main sandiwara, juga tampil dalam film Berdjoang (44) lalu ke panggung dan kembali ke film mulai Sangkar Emas tahun 1952.

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET

 


DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET, (Kabar lawas), Memasuki bulan Februari 1991, suting film "Saur Sepuh IV" dengan episode "Titisan Darah Biru" berlangsung di hutan belantara di Pangandara, Jawa Barat. Suting yang berlangsung siang dan malam didaerah cagar alam tersebut sungguh mengasyikan, selain Kijang, Banteng serta berbagai jenis burung, hidup pula segerombolan monyet, jumlahnya ribuan ekor dan memang binatang ini paling dominan. 

Awalnya, bergaul dengan monyet-monyet itu cukup menyenangkan, mereka lucu-lucu dan bisa diajak bercanda. Tapi akibatnya monyet-monyet tersebut berani usil. Dasar monyet nakalnya pun timbul kendati para kru Saur Sepuh IV sudah ngajak "berdamai".

Udara yang cukup panas membuat para kru kegerahan, makin siang yang disiapkan ibu Ita dan bagian konsumsi sudah tersedia, tapi kru tetap menunggu aba-aba break dari sutradara Imam Tantowi. Begitu Imam teriak "break" para kru langsung menyerbu sayur asem yang masih ngebul itu. Sial, begitu penutup panci besar sayur asem dibuka, mengujur air dari atas pohon, posisinya tetpat masuk ke panci. Usut punya usut, si monyet badung yang kencing. Pantas, nggak ada hujan kok ada air ngucur dari atas, maka terpaksalah sayur asem satu panci besar di buang. Dasar Monyet. 

Ulah monyet-monyet hutan lindung memang sudah kelewatan, bangunan, pertapaan Brama jadi sasaran. Kerja keras art Delsy berantakan, atap-atap bangunan dan bahan karen hitam mungkin disangka codot. Akibatnya begitu hujan turun bangunan kebanjiran sebab atapnya bocor....!.

Imam Tantowi sang sutradara dan William Samara - Kameraman penasara dengan ulah si monyet yang brutal. Tiap hari ada saja yang diambil, bila tidak gelas, piring ya peralatan lain, bahkan seringkali mengecohkan para kru, piringnya yang 'dicuri' itu dilempar dari atas dan pecah. Untuk menakut-nakuti para monyet, mereka membuat ketapel alias jepretan terbuat dari karet gelang. Maka mulailah perang melawan gerombolan monyet. Memang buat menakut-nakuti monyet kecil mereka berhasil tapi giliran monyet besar..justru sebaliknya monyet yang sebesar manusia itu balik menyerang. William yang semula gagah berani, jadi sasaran. Dia di kejar-kejar William kalang kabut menyelamatkan diri. "Busyet, ngeri gua habis yang nyerang dedengkotnya," kata William dengan nafas masih tersengal-sengal. 

Partisipasi masyarakat Pangandaran dan sekitarnya untuk pembuatan film Saur Sepuh IV ini cukup besar. Hampir setiap hari mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan suting, tak peduli siang ataupun malam, panas terik ataupun hujan. Bukan cuma para pejalan kaki, tapi yang naik mobil omprengan atau berkendaraan motor cukup banyak. Bahkan dengan truk mereka datang dari Bandung, Ciamis dan Tasikmalaya. Untungnya pihak keamanan dari Koramil dan Polsek setempat cukup tanggap sehingga suting tetap berjalan lancar. 

Yang menarik masyarakat rupanya Istana yang dibangun si Badrun dan stafnya. Karang Tirta yang biasa-biasa saja diubah menjadi bangunan Keputren, ada tamannya, ada bangunan desa Madangkara serta tembok istana setinggi 6 meter, bahkan gapura raksasa setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Persis ketika zaman baheula, ini rupanya yang menarik minat masyarakat. 

Maka, sekejap Karang Tirta berubah menjadi seperti pasar malam. Banyak pedagang bergelar, mulai dari tukang rokok, bakso, buah-buahan bahkan warung nasipun ada.

Puncak dari lubernya masyarakat terjadi tanggal 23 Maret yaitu ketika terjadi pertarungan antara Bentar dan Dewi Harnum melawan dua iblis kecil yang diperankanoleh Wartono dan Mamat. Dua iblis ini dimodifikasi oleh El Badrun dan Delsy Sjamsyumar menjadi makhluk siluman, wajahnya hijau dan merah menyeramkan. Ketika terjadi pertarungan tak sedikit orang yang menjerit ngeri. Yang paling parah lagi, ada bocah yang saking takutnya akhirnya sawan, pingsan dan terpaksa dibawa ke Puskesmas. 

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

Sunday, April 12, 2026

DALANG DALANG SAUR SEPUH


DALANG DALANG SAUR SEPUH, Film memang kerja kolektif. Tidak seorangpun berhak mengklaim diri sebagai yang paling berperan dalam proses pembuatannya. Catatan kecil tentang 3 dalang saur sepuh ini sekedar memperlihatkan posisi mereka pada peta perfilman nasional. 

Imam Tantowi, Sutradara kelahiran Tegal, patut untuk disebut "dalang" film-film laga handal. Ketika mam Tantowi dipercaya PT Kanta Indah Film untuk mengangkat cerita fiktif berlatar belakang kerajaan Majapahit itu, capaian penontonnya diatas capaian penonton film Indonesia lain, Malah melebihi jumlah penonton film impor kala itu. 

Ia sutradara keras, Menumpas Teroris, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh juga Soerabaia 45, menempatkan film tersebut dalam daftar film nominasi festival film Indonesia. Malah Soerabaia 45 memberikan Piala Citra kedua dalam karier Towi. Sutradara ini juga dikenal sebagai penulis skenario. Si Badung, memberkan Piala CItra buatnya dalam kapasitas sebagai penulis skenario. 

Torro Margens, dalam Istana Atap Langit, lebih dulu dikenal sebagai pemain teater handal. Dia, pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival teater se DKI, Sanggar Prakarya yang dipimpinnya, berulangkali muncul sebagai grup terbaik dalam festival teater SLTA di Jakarta. 

Sebagai sutradara nama Torro diperhitungkan ketika berhasil memasuki film Pernikahan Berdarah dalam film pilihan di festival film Indonesia tahun 1988.

Di banding keduanya, Abdul Kadir terbilang sutradara "wajah baru" dalam pembuatan film laga. Toh begitu, film Pendekar Cabe Rawit yang ceritanya diilhami dari film Big Boss, masuk dalam 18 besar film pilihan Komite Seleksi FFI 1990. "Saya bangga, karena film gedebag gedebug yagn selama ini disepelekan, mulai dihargai, dinilai dan diperhitungkan, ini satu langkah yang menggembirakan. 

Abdul Kadir dipercaya PT. Global Sarana Media Nusantara yang bekerjasama dengan produsen obat PT. Kalbe Farma membuat Saur Sepuh ke panggung sinetron yang ditayangkan di TPI dengan bintang utama George Rudy sebagai Brama Kumbara. 

Jam terbangnya sebagai sutradara terbilang masih pendek namun sebagai astrada, Abdul Kadir terbilang lebih dari cukup. Duapuluh empat film dengan sutradara-sutradara beken lain, pernah diikuti mantan mahasiswa ASDRAFI Yogya tahun 1972 ini. "Saya sempat jenuh dan ingin meninggalkan dunia film, " katanya suatu ketika. ~MF 179/146/Th IX, 15 Mei - 18 Mei 1993

Selain tiga dalang diatas, ada satu lagi yang juga 'dalang' Saur Sepuh meski mengambil judul lain yaitu Singgasana Brama Kumbara. Dia adalah Denny HW yang di peraya oleh PT. Menara Gading Citra Perkasa yang menggarap Singgasana Brama Kumbara dengan bintang utama Anto Wijaya sebagai Brama Kumbara dan tayang di ANTEVE. 

TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER


 TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER, Tatkala selamatan suting sinetron Tirai Kasi Yang Terkoyak, produksi Starvision, Ismail Soebardjo sutradaranya, ditanya seorang wartawan apakah 'perkosaan telah menjadi suatu masalah universal sehingga layak diangkat sebagai tema sinetron?

Dalam jawabannya, Ismail Soebardjo memberi suatu ilustrasi. Sepuluh tahun lalu, kita tercengang dan terkesiap mendengar berita-berita perkosaan. Tapi saat ini, tak jarang kita membaca berita koran tentang seorang ayah memperkosa anak kandungnya. Di Bekasi kerap terjadi perkosaan beruntun. Kita juga kerap masih mempersoalkan sebutan 'anak haram' kepada seorang anak yang lahir dari wanita korban perkosaan.

"Sinetron ini justru menggugat melalui gambaran bagaimana nasib wanita korban perkosaan, anak yang lahir dari korban, dan apa latar belakang hal itu bisa terjadi, kata peraih Piala Citra Sutradara Terbaik FFI 1981 itu. 

Ungkapan Ismail bisa diartikan, gambaran itu akan membuat seseorang berpikir lebih jauh untuk melakukan tindak pemerkosaan. Korbannya bukan hanya wanita yang diperkosa tapi juga anak serta masa depan dan lingkngan yang kompleks. Untuk mengantarkan teman ini, dibutuhkan peran-peran dengan berbagai karakter. Skenario yagn ditulis oleh Eddy D Iskandar bersama Ismail Soebardjo ini cukup cerdik menghadirkan karakter-karakter yang menciptakan multikonflik. 

KEMALA (Bella Esperance), seorang pramugari yang siap menikah dengan HARRY (Ponco Buwono), diculik lalu di perkosa DION (Ryan Hidayat) yang dendam karena lamarannya di tolak. Akibat perkosaan itu, juga karena kematian ayahnya yang dibunuh kawan-kawan Dion, Kemala terganggu jiwanya. Perkawinan Harry dengan DIANA (Lia Waroka) bersamaan dengan kelahiran anak hasil perkosaan, membuat jiwa Kemala makin parah. Goncangan jiwanya tak terusik oleh kesetiaan dan pengabdian SATRIA kecil (Alam Putra) , anak yang ia lahirkan itu dalam merawatnya selama di RS jiwa. 

Beruntung ada dr. LEO (ZO Kotten) yang simpatik atas penderitaan Kemala meski ia sendiri harus sering berselisih dengan isterinya. Meski iunya tak menghendaki kelahirannya, Satria tak pernah putus asa merawat Kemala. Bagi Satria (yang setelah dewasa di perankan SULTAN DJORGHI), kebahagiaanya akan tergapai bila ibunya sembuh. 

Pengabdiannya tak pernah surut walau bertemu kembali dengan DEWI (Inneke Koesherawati) anak majikannya semasa kecil, yang kemudian menyatakan cintanya. 

Kendati demikian, ia sangat menghargai hak Dewi yang menolak dijodohkan dengan GERRY (Teguh Julianto), anak KEVIN JONES (Rudy Wowor). Kevin Jones ini tak lain adalah nama samaran Dion, yang buron setelah memperkosa Kemala, dan berarti ayah kandung Satria. 

Satu persoalan menarik ditawarkan sinetron ini, menyangkut perkembangan jiwa Satria dan Gerry yang sebenarnya saudara seayah. Satria yang sempat dipelihara oleh PAK RIDWAN pegawai RS Jiwa yang sangat toleran terhadap penderitaan orang lain, tumbuh menjadi pemuda yagn bertanggungjawab dan peduli terhadap derita orang lain meski dalam dirinya mengalir darah seorang ba jingan seperti Dion alias Kevin Jones. Berbeda dengan Gerry yang sejak kecil berada dalam asuhan ayahnya, lebih senang berfoya-foya dan malas bahkan arogan seperti bapaknya. Kedua karakter ini dipertemukan pada suatu adegan ketika Gerry hendak memperkosa TANTI (Mirelle Sulilatu) anak Harry dan Diana di sebuah hotel, muncul Satria yang bermaksud menolong Tanti. Tampaknya Ismail Soebardjo ingin memberi pesan, karakter dan pribadi seseorang lebih tergantung pada lingkungan ketimbang darah keturunan. 

Casting merupakan suatu hal patut dipujikan dari sinetron ini setidaknya dari sudut persamaan wajah. 

Ryan Hidayat yang memerankan Dion ddan Alam Putra yang memerankan Satria kecil, memiliki kesamaan raut wajah. Demikian juga Anggi yagn memerankan Dewi masa kecil dengan Inneke Koesherawati yang memerankan Dewi dimasa dewasa. Semula, Satria dewasa akan diperankan oleh Ryan Hidayat juga. Namun berhubung Ryan meninggal setelah suting beberapa episode, peran itu diberikan pada Sultan Djorghi. Memang ada garis kemiripan tapi perbedaannya pun sangat kentara pula. 

Namun , agaknya, Ismail Soebardjo memiliki beberapa alasan mengenai pemilihan Sultan Djorghi untuk menggantikan Ryan Hidayat. Sultan Djorghi adalah bintang baru, yang belum banyak dikenal sebagai pemain sinetron dan belum memberi image tertentu pada publik penonton. Sebelum madin dalam Tirai Kasih Yang Terkoyak, ia hanya main dalam sinetron diantaranya Keluargaku Sorgaku produksi Starvision ~MF 285/252/XIII/17-30 Mei 1997