Showing posts with label slamet rahardjo. Show all posts
Showing posts with label slamet rahardjo. Show all posts

Wednesday, April 29, 2026

BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU


 BANYU BIRU, SI BUNG KECIL DI FILM LANGITKU RUMAHKU, (Berita lawas). Nampak, ia anak yang berani. Omongannya ceplas ceplos, seperti orang yang sudah terlatih. Tubuhnya subur, energik dan gamang bergaul dengan siapa saja. Banyak orang yang tak tahu, ternyata dia putra sutradara Eros Djarot. 

Banyu Biru, lewat Pak Denya, Slamet Rahardjo, ia pertama kali diajak main film. Tak tanggung-tanggung memang, ia langsung mendapat peran utama dalam film Langitku Rumahku, sebagai Andry. Perannya sebagai anakorang kaya yang sudak bergaul dengan anak-anak kampung, ternyata sosok keseharian bocah yang baru berumur 11 tahun. 

"Bergaul dengan anak kampung enak saja. Mereka nggak norak, " tegas Banyu Biru dengan tegas. 

Ia kini duduk di bangku kelas I SMP Al Azhar Pusat. Barangkali karena ia putra seorang sutradara dan hidup dilingkungan orang film, ia tak merasa canggung main film. Tak juga canggung berteman dan bergaul dengan anak kampung. Tapi bagaimana rasanya bermain film untuk pertama kalinya?.

"Asik saja. Bebas kalau ngasih pengarahan. pak De sangat gampang. Jadinya ya enak. Soalnya sama Pak De sendiri sih. Jadi lebih saudara gitu, lebih gampang ngerti," jelas Banyu dengan nada bicara yang bersemangat. 

Banyu punya keinginan, kalau dapat kesempatan main film, ia akan main film terus. Tentu saja tetap mementingkan sekolahnya. Lalu soal honor bagaimana? "Honor. NGapain? Saya cuman dikasih uang saku sama Pak De. Setiap hari saya terima uang jajan sebesar Rp. 2.500, Itu juga kalau pergi keluar kota. Kalau di Jakarta sih itu tanggungan papa, " ungkap Banyu Biru ceplas ceplos. 

"Selama pembuatan film itu, saya lebih banyak mendapat pengarahan Pak De. Papa sih banyak urusan. Waktu suting di Surabaya saja papa pas pergi ke luar negeri," cerita Banyu yang dilahirkan tanggal 19 Maret 1979. 

Ternyata, bocah bernama Banyu Biru ini sepertinya sudah akrab dengan dunia film, sehingga untuk berakting di depan kamerapun ia tak merasa canggung. "Untuk akting saya cuman dikasih tahu saja perasaan bagaimana harus senang. Nggak pernah dikasih tahu gerak-geraknya bagaimana. Nangis harus bagaimana perasaannya. Cuman itu saja, " jelas pemeran Andry yang dalam film itu memaksa orang-orang untuk memanggil namanya dengan Bung Kecil. 

Kalau melihat penampilan Banyu dalam film Langitku Rumahku barangkali tak percaya kalau anak itu baru main film untuk pertama kalinya, ia begitu wajar melakoni tokoh Andry anak orang kaya yang bergaul dengan seorang pemulung bernama Gempol. Mungkin saja kewajaran itu muncul karena sang sutradara tak mau menggarap karakter anak itu secara berlebih-lebihan, apa adanya di pakai saja. 

Kewajaran anak itu menghadapi kamera sama dengan kehidupannya sehari-hari, Cerdas, enerjik, solidaritas tinggi dan mudah bergaul, Begitu kesan yang bisa dapat. Tapi apa sebenarnya yang tersembunyi dibalik nama itu?

"Itu yang ngasih Pak De. Banyu Biru maksudnya dimana ada air, disitu ada kemakmuran, " jelas bocah yang punya hobby renang, menggambar dan baca buku ini meyakinkan. ~MF109/77 Tahun VI, 1 - 14 Sept 1990

Friday, August 9, 2019

Film Indonesia Jadul " KODRAT"


Kodrat
JUDUL FILM        : KODRAT
SUTRADARA       : SLAMET RAHADJO
PRODUKSI           : PT. MULTI PERMAI FILM
PRODUSER          : ARIFIN YACOB
TAHUN PROD    : 1986
JENIS                     : FILM DRAMA
PEMAIN               : PIET PAGAU, SLAMET RAHARDJO, FRANS TUMBUAN, ANNA TAIRAS, IDA IASHA, DARUSSALAM, BAMBANG SULISTOMO, DJOKO WINARKO

SINOPSIS : 

Solikhin (Piet Pagau) mati setelah di tembak oleh polisi di Semarang. Solikhin adalah seorang penjahat yang berkomplot dengan Bosnya Marwoto (Frans Tumbuan) di Jakarta. Kodrat (Slamet Rahardjo) sahabat Solikhin berniat balas dendam. Solikhin dan Kodrat adalah bersahabat semenjak mereka tinggal sama-sama di suatu panti asuhan yang di ketuai pak Mustakim (Darussalam). Setelah mengetahui kematian Solikhin, Kodrat berangkat kerumah Susy  pacar solikhin(Anna Tairas) seorang penghibur professional dan memberitahu kalau Solikhin telah mati tertembak. Susy yang sedang bermesraan dengan seorang pria kaget atas kedatangan Kodrat. Kodrat merampas uang milik lelaki itu dan Kodrat mencari foto solikhin dengan dirinya  agar polisi tidak mengendusnya. Sementara itu polisi mencari-cari data Solikhin yang masih gelap dan hanya menemukan foto perempuan yang dibelakannya diberi nama susi. 

Kodrat semakin dibuat gelisah, sementara itu Susi disuruh tutup mulut oleh Kodrat. Namun semakin tutup mulut semakin membuat Susy tidak tenang. 

Sementara itu ditembaknya Solikhin membuat Marwoto menjadi marah dan menganggap kalau kematiannya merupakan ketololan. Apalagi setelah mereka mengetahui kalau polisi sudah mengetahui ada foto Susy bersama Solikhin. Akhirnya Kodrat disuruh menyingkirkan Susy oleh Marwoto. Kodrat sendiri adalah pacar dari anak bosnya bernama Ratna (Ida Iasha). Namun ketika Kodrat sedang missinya dengan  membawa Susy untuk di bunuh, Kodrat tidak tega dan akhirnya membiarkan Susy untuk tetap hidup.  Kodrat tidak tega kalau harus membunuh pacar sahabatnya.

****
Sementara itu di panti asuhan pak Mustakim kedatangan seorang polisi bernama Sofyan (Bambang Sulistomo), yang ternyata adalah bekas penghuni panti yang besar bersama-sama dengan Kodrat dan Solikhin. Sofyan mengingat-ingat tentang Solikhin dimasa lalu. 

Di lain tempat Susy merasa di kuntit oleh seseorang dan melaporkannya pada Kodrat melalui telpon  yang saat itu sedang bersama Ratna di kamar hotel. Kodrat mengaku kalau telpon itu adalah berasal dari Marwoto ayahnya, namun karena kemesraan di telpon akhirnya Ratna tahu kalau yang menelpon bukanlah Marwoto akan tetapi orang lain. Akhirnya terkuaklah siapa kodrat sebenarnya dan apa pekerjaan ayahnya. Ratna syok setelah mengetahui kalau Marwoto adalah kepala perampok.
Sedangkan Susy akhirnya di datangi oleh polisi di rumahnya untuk memintai keterangan, dan orang yang selama ini menguntit Susy adalah seorang polisi yang tujuannya untuk melindunginya. Kedatangan polisi kerumah Susy akhirnya diketahui oleh Kodrat yang tidak sengaja melihatnya. Namun kodrat merasa senang karena berarti Susy di lindungi oleh polisi dan tidak dibunuh oleh Marwoto. Kodratpun lega.

Kodrat akhirnya pulang ke panti asuhan untuk menyerahkan sumbanganya bersama solikhin kepada pak Mustakim. Pak Mustakim pun bertanya kepada Kodrat kenapa tidak bersama Solikhin, namun Kodrat membuat alas an. Akhirnya Pak Mustakim memberitahu pada Kodrat kalau ia sudah mengetahui kabar Solikhin yang tewas tertembak setelah diberitahu oleh Solihin, polisi yang ternyata besar dari panti asuhan tersebut. Setelah mengetahui kalau yang menembak Solikhin adalah Sofyan, kodratpun tetap dengan tujuan utamanya yaitu menuntut balas pada Sofyan, polisi yang telah membunuh sahabatnya. 

Sedangkan Marwoto tetap berpendirian akan membunuh Susy tanpa menghiraukan lagi pada Kodrat yang pertama kali mendapat perintah darinya. Dengan menyusun rencana akhirnya Marwoto menyuruh anak buahnya untuk membunuh Susy.  Susy berhasil di tusuk oleh anak buah Marwoto, Kodrat pun mengejar pelakunya. Namun sayang sekali Kodratpun ikut tertusuk.  Dengan tertatih-tatih Kodrat naik taksi menuju rumah Marwoto dan berhasil menembaknya, selanjutnya Kodrat menuju tempat dimana Sofyan menunggunya. Namun sayang sekali ketika Kodrat hendak menembak Sofyan, justru yang tertembak adalah pak Mustakim, ayah angkatnya sendiri di panti asuhan.
Kodrat akhirnya di tangkap dan di penjara. Ratna pun akhirnya hamil dan melahirkan anak dari buah percintaannya dengan Kodrat. Ratna ke penjara dengan membawa anaknya dan meminta Kodrat untuk memberinya nama. 
****
Kodrat adalah salah satu film Slamet Rahardjo yang dikemas dengan acting-akting yang bagus. Film berdurasi 91 menit ini juga dimeriahkan oleh penyanyi rock Sylvia Sarce yang terkenal pada masanya.