Monday, April 6, 2026

SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI


SUTING SAUR SEPUH V, MEROMBAK TRADISI! Sejak Senja, Elly Ermawatie dan Murti Sari Dewi sudah bermake up dibantu oleh kru rias. Lepas magrib keduanya belum juga usai 'mempermak' wajah. Kru film telah siap untuk bekerja. Penata lampu telah pula menarik kabel dan menempatkan lampu-lampu di depan dan di belakang set rumah, yang berlokasi di Kebon Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. 

Kamerawan, Tantra Suryadi lama duduk santai sendiri disebuah kursi, merenung, memperhatikan kru yang bekerja dan artis yagn pasa make-up. Matanya sesekali memperhatikan sekeliling halaman rumah, tentulah yang dipikirkan dimana dan bagaimana ia memantek kameranya. Om Tan, demikian panggilan akrabnya seorang ssok yang tak banyak omong. 

"Mas Torro mana?,' tanya seorang kru kepada rekannya. 

"Dia lagi dubbing, barangkali ia tak muncul, " kata seorang kru menjawab sekenanya. 

"Lantas siapa yang menyutradarai?".

"Eddy Jonathan, kan hari ini pengambilan gambar cuma adegan perkelahian. Biasakan, kalau film action, dimanapun seorang instruktur kelahi semacam bung Eddy Jonathan, biasa untuk menyutradrai, " lajut seorang kru muda menjelaskan setelah mengumpulkan gelas-gelas agn berserakan, iapun berlalu. 

Meski semangat kru untuk bekerja masih prima, namun nampak di wajah mereka keletihan dan rasa jenuh. Sebab, nyaris selama dua minggu berturut-tutur suting selepas Magrib sampai azan Subuh menggema, mengusik sepinya pagi. 

Ketika semua kru sudah siap, Elly Ermawatie dan Murtisari Dewi belum juga usai di make up. Beberapa kru datang untuk membantu, supaya kedua artis tersebut cepat 'mempermak' wajahnya. 

"Mas, kostum Saur Sepuh V, jauh berbeda dengan Kostum saur sepuh sebelumnya. Kalau saur sepuh terdahulu, garis Jawanya begitu kentara. Sekarang, sedikit agak ke Bali Balian " ujar seorang kru dari departemen artistik.

Memang terasa sekali perbedaan kostum Saur Sepuh V dengan Saur Sepuh sebelumnya. Kalau dahulu, dengan kombinasi hijau dan kuning keemasan membuat kostum terkesan mewah, layaknya pembesar-pembesar Istana Tempoe Doeloe. Kostum saur sepuh V, dirancang khusus oleh seorang designer. 

Sebagai Designer, Nelwan Anwar mencoba merombak tradisi, bahwa setiap film action klasik tidak mesti seperti kostum sandiwara rakyat: Wayang Orang. Pemilihan warna yang lembut, membuat pemain saur sepuh V, bila berada di interior seperti tenggelam dengan warna latar belakang. Sebab, setiap rumah tradisional Jawa warna catnya selalu rada gelap, bahkan sering memakai warna coklat.

Atribut yang dipakai Mantili dan Lasmini maupun para pembesar Madangkara terasa aneh, begitu apik sehingga terkesan bahwa kostum jaman sekarang yang disulap menjadi kostum jaman Madangkara. Karena kostum yang rada jelimet itu, sehingga membuat artis untuk berdandan bisa menelan waktu dua sampai tiga jam. 

Menjelang Isya, barulah suting dimulai, adegan malam itu hanya mengambil adegan perkelahian. Sebagai sutradara, Torro Margens memang tak perluh hadir. Eddy Jonathan, selaku instruktur perkelahian begitu teliti memilih shot demi shot. 

"Suting ini memakan waktu tiga bulan penuh. Kita mulai dari bulan Desember 1992 dan usai bulan Februari 1993. Film ini dibikin untuk diedarkan pada saat lebaran 1993. Mau tidak mau film nini harus selesai sesuai target, " ujar Khisore, selaku produser pelaksana. 

Menengok proses dubbing saur Sepuh V di studio Perfini, pada tanggal 12 Januari, kelihatan Torro Margens lagi sibuk mengatur emosi suara dubber supaya sesuai engan emosi gambar. Karena suting dan dubbing berjalan seiring, matu tidak mau artis yang mendub suaranya sendiri, harus ekstra kerja keras. 

"Saya ketika pulagn suting pagi hari paling banyak hanya tidur satu atau dua jam, setelah itu saya harus berada di studio Perfini, untuk mendub suara sendiri, ' kata Elly Ermawati, ketika break dubbing. 

Torro Margens mengakui bahwa film garapannya ini mencoba merombak tradisi yang telah baku. Maksudnya, supaya zaman "keemasan" tema tema action klasik supaya pulih kembali seperti di tahun 1990 dan 1992. 

"Kira kira begini hitungan kasarnya. 60% dramatik, 30% action dan trik filmnya 10%. Dengan kita seperti ini, saya mencoba menjelaskannya. Tentu dengan kembalinya kepercayaan penonton terhadap film nasional, sudahlah pasti, perfilman nasional akan bangkit kembali, begitulah harapan saya ketika awal menggarap film ini, " ujarnya.

Film produksi PT. Elang Perkasa Film ini dihiasi oleh taburan bintang seperti Fendy Pradana, Elly Ermawatie, Murti Sari Dewi, Candy Satrio, Hans Wanaghi, Fitria Anwar, Baron Hermanto, Agus Kuncoro, dan Golden Kasmara. Dengan kru Torro Margens sebagai sutradara, Dellsy Sjamsumar penata artistik dan Kamerawan Tantra Suryadi. 

Anggaran produksi film Saur Sepuh V bisa menelan 500 juta. Dengan hadirnya bintang-bintang spesialis film laga yang cukup beken, diperkirakan akan menghasilkan rupiah yang lumayan. 

Waktu produksi Saur Sepuh IV masih di sutradarai Imam Tantowi dan masih di pegang PT. Kanta Indah Film, sang sutradara pernah meminta supaya Elly ermawatie, Murtisari Dewi dan Fendy Pradana ikut nimbrung, tapi pihak produser menolaknya. Anehnya ketika Saur Sepuh V dipegang Torro Margens, ketiga artis tersebut sang produser memintanya.~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993

Nah ini nih, di alinea terakhir. andai saur sepuh IV mereka tetap dilibatkan bisa jadi ceritanya jadi lain kan, kan jeblok




No comments:

Post a Comment