Showing posts with label Torro margens. Show all posts
Showing posts with label Torro margens. Show all posts

Sunday, March 8, 2026

TORRO MARGENS

 


WAWANCARA DENGAN TORRO MARGENS! (Berita Lawas). Sementara sutradara lain tengah membelot ke sinetron sebagai pelarian tidak adanya produksi film, Torro Margens sutradara muda (kala itu) kelahiran Tegal (Pemalang?) Jawa Tengah ini justru laris manis. 

Di paruh tahun 1994 ini Torro kembali menyutradarai film Sorgaku Nerakaku dan film ini cukup sukses di gedung-gedung bioskop kelas B di Jabotabek. Sementara film sejenis sudah jeblok dan dijauhi pentonton. Karenanya, Parkit Film perusahaan yang cukup produktif memproduksi film memberikan kepercayaan lagi pada sutradara yang juga seorang dubber tangguh ini untuk menggarap film drama percintaan yang dibumbui adegan-adegan syurr. 

Apa resepnya dalam menggarap film sehingga film-filmnya banyak meraih penonton? Apakah Torro hanya mampu menggarap film-film tema esek-esek atau "Action tanggung" macam Anglingdarma 3 atau Saur Sepuh V? berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film No. 216/182/ThXI/24 Sept - 7 Okt 1994 di lokasi suting film Kabut Asmara di Anyer Jawa Barat (sekarang Banten).

Apa Yang membuat anda begitu menggebu untuk tetap menyutradarai film, sementara sutradara lain lari ke sinetron?

Kalau boleh bicara sombong, kembalinya saya menyutradarai film karena saya merasa prihatin dengan keadaan film sekarang ini yang kata orang mengalami kelumpuhan. Nah supaya jangan lumpuh total, saya berkewajiban untuk menyembuhkan kelumpuhan itu. Memang saya bukan dokter, tapi paling tidak saya berharap bisa ikut menyembuhkan dari sisi yang saya bisa. Karenanya saya cukup bangga dan senang apabila ada produser yang mengontrak saya untuk menyutradarai film. Sekarang ini saya malah sampai menolak tawaran. 

Apa alasan Anda untuk bertahan di film sementara para sutradara lain serta para produser begitu pesimis akan perkembangan dunia film kita saat ini?

Nggak tahu ya, saya kok berkeyakinan kalau film kita akan terus bertahan. Kenapa? Karena dengan perkembangan penduduk Indonesia yang begitu pesat, tentunya membutuhkan pasokan film yang begitu besar. Nah sekarang bagaimana insan film kita mencari formoulanya agar film Indonesia bisa digemari lagi. 

Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat kita di pedesaan masih membutuhkan film Indonesia. Hanya masalahnya sekarang sampai nggak film kita ke polosok tanah air. 

Ada beberapa sutradara dan produser yang mengeluhkan sistem peredaran film Indonesia yang dilakukan PT. Perfin karena tidak seperti yang diharapkan mereka. Seperti kasus film Langitku Rumahku. Apa komentar anda?

Buat saya dan film saya nggak ada masalah, buktinya Sorgaku Nerakaku bisa bertahan 3 hari di Studio 21, di Roi saya lihat sendiri sampai 14 hari, begitu juga di Kramat. Saya yakin kalau tidak ada kasus penurunan poster, akan bisa bertahan lebih lama lagi. 

Anda begitu yakin kalau film anda, Sorgaku Nerakaku bisa bertahan lama di bioskop Jakarta dan daerah. Apa alasan anda?

Karena saya punya kartu As, yakni yang mengedarkan film itu jagonya pengedar film. Selain itu film ini kan hasil kerja bareng beberapa produser (konsorsium). Begitu juga film saya sebelumnya, alhamdulillah banyak meraih penonton. 

Apa resep anda dalam menggarap film jenis action dan "esek-esek". Sehingga film anda selalu meraih penonton?

Mungkin karen saya dalam menggarap film tema esek-esek tidak terlalu nge-seks, apalagi digarap secara serampangan. Karena saya selalu memegang prinsip bahwa film bukan sekedar tontonan tapu juga tuntunan dan panutan. Dan saya selalu menggarapnya seartistik dan sehalus mungkin, sehingga tidak dibabat BSF. 

Seperti film Sorgaku Nerakaku , sebagai contoh itu film sebenarnya juga "esek-esek" tapi karena di dukung cerita yang menyentuh sehingga film itu bisa diterima masyarakat. 

Apakah film anda selalu menganut falsafah, tontonan, tuntunan dan panutan?

Selalu. Kalau hiburannya 80% tuntunannya 20%.

Sangat disayangkan oleh sebagian insan film bahwa kegairahan sesaat produksi film dibarengi ulah produser yang membuat poster film yang seronok sehingga muncul protes, dan klimaksnya terjadi penurunan poster oleh Bapfida-bapfida setempat. Apa komentar anda tentang hal ini?

Terus terang saya sangat menyayangkan dengan sikap sebagian produser kita, yang justru terlalu mengeksploitisir poster. Padahal kalau dipilih ada gambar yang bagus dan artistik yang pantas untuk dijadikan poster. Tapi anehnya produser memilih gambar yang murahan seperti itu. Akhirnya terjadi protes. Kalau sudah terlanjur seperti ini, semua kan kena getahnya. 

Pernahkah anda mengajukan keberatan pada produser masalah poster yang nggak sesuai dengan harapan anda?

Pernah!. Tapi kalau kemudian produser memberikan alasan apa yang dilakukaknya untuk meraih penonton, itu kan kaitannya dengan bisnis, jasi sudah bukan wewenang saya. 

Dengan kasus penurunan poster beberapa waktu lalu, menurut anda siapa yang salah. Produserkah, Bapfida atau BSF sebagai penjaga gawang?

Bapfida, karena poster sendiri sebelum di pasang dan diedarkan sudah diseleksi melalui badan sensor film. Nah kalau BSF sudah meloloskan itu artinya baik poster maupun filmnya sudah layak di konsumsi masyarakat. Tapi pada kenyataannya kok terjadi penurunan poster. Saya juga nggak habis pikir dengan kejadian seperti ini. 

Kalau begitu Bapfida melangkahi BSF?

Ya. Jelas dong! Karenanya untuk menjernihkan masalah ini antara Bapfida dan BSF perlu lobying serta mengadakan dialog. Supaya bisa satu kata dan satu pandangan supaya kasus penurunan poster tidak terulang lagi. 

Kenapa anda selalu menggarap tema "esek-esek" dan semi action. Apa nggak kepingin menggarap tema lain?

Lha, kalau yang datang film-film tema "esek-esek" seperti itu. Apa saya harus menolak? Sementara hati kecil saya sedih melihat film nasional lumpuh seperti sekarang. Soalnya keinginan menggarap tema lain, saya juga punya keinginan. Malah saya punya obsesi untuk menggarap film musikal seperti film-film Rhoma Irama. 

Dulu anda produktif menulis skenario, kenapa sekarang tidak lagi?

Biasanya, saya menulis kalau saya berkeinginan untuk menggarap tema lain. Seperti ketika saya menggarap film Pernikahan Berdarah dulu, saya yang menulis skenarionya. Keinginan untuk menulis skenario terus menyala dalam dada saya, cuma waktunya yang agak sulit. Karena beberapa kesibukan saya akhir-akhir ini seperti dubbing. 

Sepertinya anda setiap selesai menggarap film, kemudian break beberapa saat. Apa alasannya?

Terus terang saya tidak ingin tubuh saya di peras untuk suatu pekerjaan, dan tubuh ini kan butuh keseimbangan. Jadi begitu kerj yang melelahkan, saya mesti istirahat. Kalau dalam satu minggu kerja enam hari, ya saya mesti istirahat satu hari . Ini namanya keseimbangan Setelah itu baru kerja kembali.

Sebagai sutradara nampaknya anda sangat disiplin soal waktu, terbukti anda tidak pernah melakukan syuting hingga diatas jam 24.00 WIB?

Alasannya, jiwa raga saya dan kru, ini kan butuh istirahat dan butuh keseimbangan seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi buat apa kita kerja mati-matian, tapi kemudian  kerja teman-teman nggak maksimal. Dan saya punya jam kerja 8 jam, misalnya kita bekerja mulai pukul 10.00 pagi, pukul 18.00 mesti break. 

Disiplin waktu itu mulai anda terapkan sejak kapan?

Sejak saya mulai merasakan capai dan jenuh menyutradarai, karena sebelumnya kerja saya tidak kenal waktu. Sehingga badan saya merasakan cepat capek dan jenuh. Setelah break panjang, saya kemudian menemukan formula disiplin 8-10 jam itu tadi. 

Gaya kerja anda beda dari sutradara yang ada. Anda nampak santai dan terkesan guyon. Apa anda tidak takut dilecehkan kru anda?

Dengan sikap saya yang santai dan penuh guyon, mereka justru enjoy dalam bekerja. Bahkan mereka lebih menghargai , lebih serius dalam bekerja. 

Kenapa setiap anda menyelesaikan satu adegan kemudian anda minta tepuk tangan kepada para hadirin yang ada?

Saya hanya memberi semangat  kepada para pemain yang telah bekerja dengan baik. Karena dengan tepuk tangan, buat pemain itu merupakan penghargaan. Kalau sudah begitu bisanaya mereka akan bekerja lebih giat lagi. 

Friday, February 20, 2026

SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI

 


SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI (Cerita Lawas). Saur sepuh yang pernah memecahkan rekor sebagai film terlaris sepanjang masa dalam sejarah perfilman Indonesia, dilanjutkan pembuatannya. Setelah episode pertama, Satria Madangkara, disusul Pesanggrahan Keramat, Kembang Gunung Lawu dan Titisan darah Biru yang kesemuannya digarap Imam Tantowi, kini di episode ke 5, Istana Atap Langit, pengarahannya beralih ke tangan Torro Margens. 

Para pemain utama kembali bermain  Murti Sari Dewi si pendekar genit Lasmini, Fendy Pradana Prabu Brama Kumbara raja Madangkara, Elly Ermawatie si ketus judes Mantili, adik Brama, dibantu duet Lamting-Joseph Hungan sebagai Lugina dan Kijara, sepasang tokoh aneh musuh Brama serta Candy Satrio melanjutkan perannya sebagai Bentar. 

Munculnya tokoh-tokoh baru, dua rahib sakti dari Tibet, Biksu Kampala dan Biksu Targu di perankan oleh Golden Kasmara dan Hans Wanaghi, Datuk Saluntung penguasa Tanah Malaka diperankan oleh Baron Hermanto, Pendekar Ilalang oleh bintang tamu Gito Gilas, Raden Wanapati oleh Agus Kuncoro, juga Fitria Anwar yang berperan sebagai Harnum setelah sebelumnya di Saur Sepuh 3 berperan sebagai Dewi Paramitha. Plus 4 murid Lasmini yang diperankan oleh empat remaja, Hilda Ridwan Mas, Anita Hakim Ida, Dagmar, Gusti Retno. Tokoh-tokoh yang tak asing bagi pendengar setia serial sandiwara radio karangan Niki Kosasih yang berjaya di era pertengahan 80an .

Di banding empat episode pertama, nampak jelas berbeda kostum parara tokoh.  Penata Busana Nelwan Anwar berdalih "Cerita ini sebenarnya fiktif. Terjadi di negeri dan zaman antah berantah, jadi sah saja kalau busana Lasmini dan murid-muridnya dibuat sensual dan glamour, tak sekedar kone cepol dan berkain batik. 

Tiga grup fighting instructor bekerjasama menata adegan-adegan pertarungan seru yang meyakinkan dibawah pimpinan Sutrisno Wijaya, Eddy S Yonathan dan Robert Santosa . 

Sementara Kamerawan kawakan Tantra Suryadi mempin tiga kamera Ari-3 untuk pengambilan gambar jernih di lokasi Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan. Suting berlangsung tiga bulan. Kendati bujet tak sebesar produski pertama (Satu Milyar) namun sudahmenghabiskan lebih dari 600juta. 

Petualangan Cinta Lasmini. Episode ke 5 ini merupakan kelanjutan langsung episode ke 3 Kembang Gunung lawu. Pada akhir film terlihat Lasmini  yang pingan seelah duel sengit dengan Mantili, dilarung ke laut. Seperti bisa di duga ia belum ditakdirkan ajal. Ditolong Datuk Saluntung tokoh sakti dari Tanah Malaka. 

Lasmini di sembuhkan, dan di peristri oleh Datuk Saluntung. Tibalah dua rahib sakti dari Tibet. Biksu Targhu dan Biksu Kampala untuk bertemu Datuk Saluntung. Mereka ingin pergi ke Jawa Dwipa untuk mencari Brama Kumbara. Melihat kesaktian mereka, Lasmini menjadi cemas. Dalam hati kecilnya ia memang masih mencintai Brama. Maka iapun pamit pada Saluntung untuk memberi bisikan pada Brama tentang ancaman dua biksu tersebut. 

Ketika Lasmini sendiri mencoba mencegah, ia dikalahkan dengan mudah. Berita pun bertiup ke istana Madangkara. Justru sang Prabu tengah bersemedi untuk menciptakan gabungan ilmu-ilmu puncak. Maka Panglima Ringkin mengutus Daha dan Landu untuk melacak niat kedua Biksu. Namun kedua utusan pontang panting kena labrak. Saat lari, Daha dan Landu bertemu Lasmini yang mengingatkan adanya ancaman terhadap Brama. 

Mantili malah salah paham. Menduga Lasmini yang sengaja mendatangkan kedua Biksu. Iapun mengundang Ki Jara dan Lugina, sedang Raden Bentar resah sendiri karena masih menyimpan rasa terhadap Lasmini. 

Bentruk antar pendekar berbuntut tewasnya Biksu Targhu dan Lugina secara Sampyuh. Gugurnya sang saudara seperguruan membuat Kampala murka tak kepalang. Ki Jara dihajar ringsek. Ada orang yagn secara sembunyi menambah penderitaan dengan mempercepat kematian dengan senjatanya anggrek. Tepat pada saat itulah Lasmini muncul seolah melerai. Kampala yang dilanda emosi diajak ke padepokan Anggrek Jingga milik Lasmini. 

Usai memperabukan jenazah Biksu Targhu, Kampala yang berduka di rayu Lasmini. Ternyata iman sang Biksu tidak tergoyahkan. Lasmini menghalalkan segala cara, menuang racun kedalam minuman. Hebatnya meski keracunan, Kampala masih bisa menggebah keempat murid Lasmini sebelum melesat kabur. Lasmini batal mengejar karena di cegat oleh Mantili yang tiba-tiba muncul. Dua pendekar wanita ini langsung saja adu mulut dan pedang. 

Biksu Kampala ditolong Bentar, kembali ke padepokan Anggrek Jingga. Bertepatan dengan Robohnya Mantili dan Lasmini yagn sama-sama luka dalam. Lasmini ditolong oleh Aki Kolot, tokoh sakti yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sedangkan mantili diobati oleh Biksu Kampala. 

Mantili menghadap Brama, mengungkapkan tujuan Biksu Kampala yang sebenarnya ingin bertukar ilmu secara persahabatan. Brama dan Kampala mulai tertanding. Sama tinggi ilmunya dan hasilnya dihitung seri karena sama-sama terluka. Di akhir kisah, Bentar ikut berguru ke Tibet bersama Biksu Kampala. 


Tuesday, November 18, 2025

KIAT SAUR SEPUH SUPAYA LAKU, ARTIS IMPORPUN DI KONTRAK


 Siang itu udara cerah, cuaca yang bagus untuk dimulainya suting film Saur Sepuh V, sutradara Torro Margens.  Kebun Binatang Ragunan, Jakarta tempat lokasi suting menjadi penuh sesak. Masyarakat yang berleha di Kebun Binatang itu banyak yang menyempatkan diri melihat suting film action klasik yang diangkat dari Sandiwara radio. Kru dan pemain serta sutradara sejak pukul 11.30 WIB telah berada di lokasi suting. Kelihatan wajah kru rada loyo sebab tenaga dan pikiran mereka terkuras. Karena tak jarang suting berakhir sampai Subuh datang menjemput, siangnya suting berlanjut kembali. Kru berlomba dengan waktu. 

Kondisi seperti ini cukup sering dalam produksi film nasional. Tak jarang pula kru film di bayar dengan honor ala kadarnya. Apalagi dalam kondisi perfilman lesu darah. Kru film hanya bisa manggut manggut yang penting masih ada pekerjaan. 

Rupanya binatangpun bisa menggangu konsentrasi artis pendukung film saur sepuh V ini, meski semua binatang di sekap dalam terali besi. Begitu suting mau dimulai seekor monyet cukup cerewet, suaranya melengking. Melihat kenyataan itu seorang kru punya siasat, lalu memberikan makanan pada sang monyet. Sutingpun berjalan lancar, tak ada film yang dibuang percuma karena kesalahan pengadegan. Satu take, adegan langsung jadi. Kamerawan William Samara, hafal betul selera Torro Margens. 

Ketika Saur Sepuh di filmkan untuk pertama kalinya film ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ketika itu Imam Tantowi sebagai sutradara dapat mencari pemain dengan tepat dan mengorbitkan karenanya.

Diantaranya Murtisaridewi, Elly Ermawatie dan Fendy Pradana. Imam Tantowi hanya di berikan keperjacaan oleh produser kala itu masih pakai bendera PT. Kanta Indah Film hanya sampa Saur Sepuh IV dengan penata artistik El Badrun dan Delsy Sjamsumar. Kini Saur Sepuh V memakai bendera PT. Elang Perkasa Film. Massa Tantowi menjadi sutradara film Saur Sepuh I sampai IV, film ini digarap secara kolosal. 

Kala Imam Tantowi menjadi sutradara serial Saur Sepuh, selalu mengutamakan keartistikan, selain laga menjadi prioritas utama. Lihat saja Saur Sepuh I sampai IV, kentara betul kalau Imam Tantowi menampilkan suatu keartistikan, "Saya tidak ingin saur Sepuh menjadi film biasa," Kata Imam Tantowi. 

Sekarang, Era Tantowi di Saur Sepuh sudah berlalu, masa Torro Margens kini memegang kendali. Torro punya kiat tersendiri supaya film Saur Sepuh V dapat simpati dari penonton. Maka untuk itu ia memakai artis Hongkong, Wan Chen Lie. Siapa tahu kalau memakai artis Hongkong film ini bisa meledak. 

"Meski akan menghabiskan dana yang cukup besar, tapi saya yakin film ini setidaknya akan kembali modal. Sebab saya tahu kalau masyarakat lagi haus hiburan film action," Ujar Torro Margens. 

~MF 167/134/TH.IV 28 Nov-11 Des 1992