Showing posts with label Wenny Rosaline. Show all posts
Showing posts with label Wenny Rosaline. Show all posts

Sunday, January 18, 2026

WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA

 


WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat. 

Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu"  dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama. 

Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya. 

Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini. 

Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya. 

Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?

Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya. 


~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

Monday, November 18, 2019

Barry Prima " Pendekar Ksatria "

Pendekar Ksatria

JUDUL FILM        : PENDEKAR KSATRIA
SUTRADARA       : YOPIE BURNAMA
PRODUKSI           : PT. KANTA INDAH  FILM
PRODUSER          : HANDI MULJONO
TAHUN PROD    : 1988
JENIS                     : FILM SILAT
PEMAIN               : BARRY PRIMA, RUDY WAHAB, WENY ROSALIEN, ADVENT BANGUN, YOSEPH HUNGAN, ADE ROSANTY, JIMMY PRAKOSO, DJOKO WAROK

SINOPSIS : 

Adipati Ardi Soma (Rudy Wahab) mengutus seorang bernama Brangas Waja dari perguruan tapak Sakti untuk mengirimkan surat ke Jayakarta untuk mengadu domba Cirebon dan Mataram dan menyerahkannya pada Wiranegara untuk diserahkan di Jayakarta agar menarik pasukan Wiranegara melawan kompeni. Ini jelas sebuah pengkhianatan. Namun pembicaraan Arya Ardi Soma di kuping oleh seorang penduduk, maka tak pelak lagi ia harus menemui ajalnya karena pisau yang di gunakan untuk membunuhnya beracun. 

Di dalam perjalanan menuju Jayakarta, Brangas Waja bertemu dengan Wirasaba (Barry Prima) dari perguruan Wadas Putih di sebuah warung. Akibat ulah semena-mena Brangas Waja yang membuat pemilik warung ketakutan, maka Wirasaba berusaha membantu pemilik warung dengan memberikan uang yang diberikan oleh Brangas Waja untuk membayar namun tidak bisa di ambil oleh pemilik warung. Akibatnya Brangas Waja menjadi marah dan terjadilah perkelahian dengan Wirasaba. Brangas Waja berhasil di bunuh oleh Wirasaba dan surat yang ada ditangan Brangas Waja berhasil di rebut oleh Wirasaba. 

Kejadian ini tentu membuat perguruan Tapak Sakti menjadi marah karena Wirasaba berhasil merebut surat dari tangan Brangas Waja. Ia meminta agar perguruan Wadas Putih bertanggungjawab, saat itulah muncul Wadas Putih (Advent Bangun) guru dari Wirasaba. Ia akhirnya bertanggungjawab atas Wirasaba dan ikut berkomplot dengan Adipati Ardi Soma. Wadas Putih menemui Wirasaba dan meminta agar Wirasaba menyerahkan Surat yang telah dirampas dari Brangas Waja. Wirasaba menolak dan menyerahkan kembali keris sebagai tanda ikatan batin dengan Cempaka(Wenny Rosalien) anak dari Wadas Putih. Wirasaba dianggap telah murtad dari perguruan. Wadas putih marah dan melumpuhkan Wirasaba untuk dapat mengambil surat yang ada ditangannya.  Ia meninggalkan Wirasaba dalam keadaan pingsan. Dalam Pingsannya Ia didatangi oleh Guru dari Wadas Putih dan menerima Pusaka Wadas Putih darinya. Wirasaba di perintahkan untuk menyadarkan Wadas Putih dan bersemedi sampai matahari terbit. 

Sementara itu di perguruan Wadas Putih, Cempaka akhirnya berhasil mengetahui  kalau Wirasaba telah mengembalikan lambang dari ikatan batinnya. Cempaka pun berjanji untuk membalaskan sakit hatinya pada Wirasaba. Sementara itu Wadas Putih mengutus Wajib (Yoseph Hungan) dari perguruan Tapak Sakti dengan di kawal seorang murid bernama Cagar dari Wadas Putih untuk membawa Surat menuju Jayakarta. Ia di wanti-wanti untuk berhati-hati ketika berada di daerah Karawang, karena hampir semua pendekar di daerah tersebut memihak Sultan Agung. Ditengah perjalanan Wajib dan Cagar di hadang oleh Cempaka untuk menyerahkan surat tersebut. Namun usaha Cempaka sia-sia. Ia berhasil di lumpuhkan oleh Wajib. Disaat Wajib sedang berusaha untuk memperkosa Cempaka yang sedang pingsan, datanglah Wirasaba yang menggagalkan usahanya. Ia menolong Cempaka, namun sayang sekali Cempaka menolaknya karena masih salah paham. 

Sementara itu setelah berkelahi dengan Wirasaba, Wajib melaporkan kelakuan Cempaka yang telah menghadangnya ketika di desa Ciasem dan memutar balikan fakta kalau penduduk di desa Ciasem ikut membantu Cempaka saat menghadang Wajib, dan tidak memberitahukan bahwa Wirasabalah yang mengalahkannya. Cempaka lari dari perguruan dengan dibantu kakaknya Kenanga. Kenanga pun akhirnya mati dari tangan Wadas Putih. Cempaka yang menyaksikan dari persembunyiannya tidak bisa menahan kesedihan. Wadas Putih mensinyalir kalau Cempaka akan pergi kearah barat menuju perguruan Ganda Arum milik pamannya. 

Wadas putih yang merasa gerakannya sudah diketahui akhirnya menggunakan siasat untuk menguntit Cempaka yang kearah perguruan Ganda Arum. Ia mengumpankan anak buahnya ke daerah Ciasem dengan berpura-pura sebagai korban yang terkena panah. Namun ketika orang-orang lengah Ia bangun dan balik membunuh orang yang telah menolongnya.  Dalam pertarungan dengan Wajib, Cempaka terkena panah. Situasi demikian dijadikan kesempatan bagi Wajib untuk mengadu domba pendekar dengan Wadas Putih terutama dengan perguruan Ganda Arum, tujuannya agar ia dapat mengambil keuntungan dari peristiwa tersebut. Wajib tidak perlu susah-susah membunuh Wadas Putih. Sementara itu Cempaka yang terkena panah, dengan menaiki kuda menuju perguruan Ganda Arum untuk memberitahukan kejadian tersebut. 

Perbuatan orang-orang Ardi Soma semakin menjadi-jadi dengan membunuhi rakyat yang tidak berdosa. Sedangkan Wajib memiliki kebiasaan baru yakni meminum darah perawan agar ilmunya makin kuat. 

Cempaka di temukan oleh Wirasaba ketika hampir pingsan karena panah yang menancap di punggungnya mengandung racun.  Meski pada awalnya menolak pertolongan Wirasaba, namun akhirnya Cempaka luluh setelah Wirasaba menjelaskannya. Karena racunnya sudah menjalar di tubuh, maka Wirasaba membawa Cempaka ke perguruan Ganda Arum. Setelah sembuh dari racun, Cempaka bermaksud membalaskan kematian Kenanga.

Di akhir kisah terjadi pertarungan antara perguruan Wadas Putih dengan perguruan Ganda Arum. Wirasaba yang sedianya akan membunuh Wadas Putih, namun berkat Cempaka akhirnya ia tidak jadi membunuhnya. Justru yang membunuh Wadas Putih adalah Wajib orang yang selama ini di percayainya. Wajib berkhianat karena ia mengincar jabatan ketua. Sementara itu Wajib yang telah memiliki ilmu iblis akhirnya berhasil dibunuh oleh Wirasaba setelah mengikuti saran dari Eyang Gurunya.