WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat.
Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu" dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama.
Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya.
Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini.
Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya.
Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?
Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya.
~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

