Showing posts with label Raja Ema. Show all posts
Showing posts with label Raja Ema. Show all posts

Sunday, May 3, 2026

SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN


 SEPASANG MATA MAUT, TEROR GENTAYANGAN. Gara-gara manipulasi di perusahaannya bekerja terbongkar, Supandi di pecat. Terpaksa ia pulang kampung dengan membawa isterinya. Amalia. Saat menggali sumur, Pandi menemukan satu kepala manusia yang sepasang matanya memancarkan sinar. Pandi diperbudak oleh kepala manusia berhawa jahat ini. 

Di ungkapkan kisah puluhan tahun lalu. Tarjo difitnah oleh saudara seperguruannya sendiri, Parman. Kekbalan tubuh Tarjo di punahkan oleh Parman dengan cara mengolesi goloknya memakai darah perawan Ijah, adik kandung Tarjo sendiri. Tarjo dipenggal. Kepalanya menggelinding jatuh ke jurang yang kemudian tertimbun oleh tanah longsor. Kepala Tarjo yang masih tetap utuh inilh yang sekarang menuntut balas dengan memperalat Pandi. 

Musuh-musuh Tarjo yang masih hidup satu persatu menemui kematian mengerikan, bahkan juga keluarganya. Juragan Parman yang kaya raya menuduh Mak Ijah, gelandangan tua, sebagai si pembunuh. Untung ada Ustadz Jayusman, guru silat yang membela Mak Ijah. 

Keganasan Tarjo semakin menjadi karena ia selalu haus darah. Tak puas cuma kepalanya yang bergentayangan, ia ingin bersatu lagi dengan tubuhnya. Pandi harus menggali kuburnya. Tepat pada saat itulah menyerbu Parman. Datang pula Amalia, Mak Ijah dan Jayusman yang bertekan mengakhiri teror horor kepala Tarjo. 

Film Produksi PT. Kanta Indah Film ini diangkat dari novel Abdullah Harahap yang memang sudah banyak menulis cerita seram. Di dukung oleh bintang-bintang campuran Indonesia-Malaysia, Hengky Tornando, Raja Ema, Sutrisno Wijaya, Wenny Rosaline, Ferry Irawan dan M. Rojali. 

Tak ketinggalan Torro Margens yang selain menyutradarai juga ikut berperan sebagai sang ustadz. Lewat mulutnya berucap "Kepala Tarjo yang kita lihat hanyalah wujud pinjaman setan. Menjelang akhir hidupnya ia menyerah pada kemauan setan. Dan setelah itulah yang kini berkeliaran melakukan pembantaian di sana sini sebagai imbalan penyerahan Tarjo. Jadi masalahnya berpulang pada manusia sendiri. Kekuatan mana yang ingin diraihnya dalam hidup ini. Iman kepada Tuhan atau menyerah pada kemauan Setan?.

Pada penutup film dibacakan surat Al Hijr ayat 39 yang artinya "Setan takkan pernah menyerah. Dia akan datang lagi setiap saat untuk menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Dan dia pantang menyerah, kecuali oleh orang-orang yang beriman!".


Monday, March 2, 2026

RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk

 


RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".

Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989. 

"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".

Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".

Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".

"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".

Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".

"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia. 


di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989