RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".
Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989.
"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".
Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".
Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".
"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".
Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".
"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia.
di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

No comments:
Post a Comment