BANDIT-BANDIT FILM INDONESIA. (Bahasan Lawas). Tukang per kosa, peram pok, pembuat onar, pengganggu rumahtangga orang, pembacking rumah pelacu ran, penculik anak gadis, lalu ber kelahi, main keroyok, gebrak-gebrak meja, akhirnya kalah, menyerah, bertobat atau mati sekalian.
Itulah potret paling kentara dari sosok bandit-bandit dalam film Indonesia sejak dulu . Gambaran yang muncul selalu saja beringas pada awalnya, kemudian loyo dan kalah diakhir cerita. Biasa.
"Memang begitu. Masa ada sih bandit yang bisa jadi pemenang? Di luar negeri mungkin ada. Tapi di negara kita kan lain? kondisinya berbeda. Belum banyak masyarakat kita yang bisa menerima kemenangan bandit-bandit dalam sebuah cerita, " ujar Advent Bangun, bintang laga yang sering jadi bandit. "Tapi masalahnya bukan itu. Bermain dengan peran antagonis. Semua harus total. Semuanya menuntut kemampuan, " tambahnya.
Namun Advent menyadari, terus menerus bermain dalam peran bandit membuatnya sering kesal. "Efek psikologisnya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga saya memang ada. Tapi saya tidak bisa berbuat lain. Produser meminta dengan alasan para booker yang menuntut, padahal saya yakin bisa main tidak cuma jadi bandit ", tutur lawan main Barry Prima ini. "Memang istri saya pernah menjadi kurus ketika menonton film saya dimana saya melakukan adegan per kosaan, "tambahnya. Soalnya istri saya bukan dari kalangan orang film. Orang batak lagi, wajar kalau ia menjadi shock. Tapi sekarang istri saya kayaknya sudah mulai ngerti, " kata Advent.
Tapi Advent tidak sendiri. Banyak bandit-bandit lain dalam film Indonesia. Baik yang terus menerus kebagian peran bandit maupun yang satu dua kali menyelinginya sebagai hero. Ada Farouk Afero, Pong Harjatmo, Muni Cader, Harun Syarief, Hendra Cipta atau Soultan Salading, adalah beberapa nama yang akrab sebagai pemain antagonis dalam film-film Indonesia.
"Memang betul keberhasilan kita berperan sebagai bandit, sering membuat produser ketagihan dan terus menerus meminta kita main jadi bandit. Akibatnya memang terasa. Masyarakat ikut-ikutan antipati pada kita. Sosok kita sebagai bandit akhirnya mengental dalam diri mereka, " ujar Farouk Afero, bandit yang melonjak lewat film "Bernafas Dalam Lumpur" itu. Tapi sekarang masyarakat kita sudah maju. Mulai mengerti bahwa semua itu cuma dalam film. Saya akui efek psikologis memang ada.
Beda dengan Advent dan Farouk, Harun Syarief mengaku tidak punya beban apa-apa. "Wong itu permintaan sutradara," katanya. Namun tak cuma itu yang membuat Harun tak merasa perlu menanggungkan dosa. "Saya ini bandit yang selalu bertobat. Dan itu meringankan beban saya, "ujar bintang yang akrab dengan drama panggung dan TV ini. Tapi Harun mengakui memang itdak enak terus menerus ditokohkan sebagai bandit. "Saya memang pernah main tidak sebagai bandit, tapi itu belum cukup untuk menghilangkan citra kebanditan saya. Sekalipun saya tahu masyarakat tidak pernah menggugat saya.
Sama seperti ketiga bandit diatas, HIM Damsyik juga merasakan hal yang seperti itu. Cuma Damsyik agaknya lebih realistis. Sadar akan potensi yang dimilikinya, Damsyik mengaku sulit untuk memilih-milih peran begitu produser menyodorkan skenario kepadanya, "Sebenarnya saya sih kepingin sama seperti rekan-rekan yang lain, tapi imej penonton memang sudah terbentuk sedemikian rupa bahwa saya ini bandit. Melulu jadi tokoh antagonis, " ujarnya.
Lalu apakah tidak ada gugatan dari keluarga? "Enggak juga. Saya sering ditanya teman-teman dan saudara-saudara saya, kenapa mau memerankan tokoh itu. Dan saya berusaha keras menjelaskannya. Sampai mereka mengerti bahwa semua yang saya lakukan itu, hanya trick-trick kamera saja, " jawab Advent. "Kalau saya sih enggak punya anak. jadi enggak ada tuntutan macem-macem," tutur Harun Syarief pula.
Kenyataan-kenyataan seperti itu, memang dihadapi oleh hampir semua bintang yang kerap kebagian peran antagonis. Pong Harjatmo, Soultan Salading, Muni Cader juga mengalami nasib yang sama. Sekalipun mereka menginginkan peran yang lain, menjadi hero misalnya, tapi imej yang sudah terbentuk seperti pengakuan mereka, sulit sekali di hapuskan. Meskipun mereka sendiri pernah menjadi tokoh baik-baik dalam beberapa film yang mereka bintangi.
"Itulah yang selalu menuntut saya. Saya ingin tidak terus-terusan menjadi bayang-bayang Barry. Menjadi lawan Barry. Saya ingin tampil bukan sebagai tokoh antagonis. Tapi produser selalu saja menolak dengan alasan yang sama. Produser takut kalau saya yang jadi hero film tidak bakal laku Pahadal saya berani jamin, fans saya ini banyak. Mereka malah selalu mengirim surat pada saya kenapa sih saya enggak main sebagai orang yang menang", Ujar Advent Bangun kesal. Dan kalau sekarang saya coba-coba kerjasama dengan Dedi Setiadi untuk main dalam drama TV, itu saya lakukan karena saya ingin sesuatu yang baru. Peran-peran yang tidak keras melulu, " katanya lagi.
Kekerasan itu memang menjadi gambaran yang sangat identik dengan mereka, tokoh-tokoh antagonis ini. Muni Cader, Faouk Afero, Rachmat Hidayat, Hendra Cipta, Harun Syarief, dan Advent Bangun adalah bintang-bintang yang selalu menggebrak, memelototkan mata, menyandang sejata api atau menyelipkan senjata tajam di pinggangnya. Memang ada kekecualian. Damsyik atau Pong Harjatmo malah sama sekali tanpa wajah yang keras dan garang. Namun kesan sebagai bandit yang licik tak bisa mereka elakkan. Dan itu semuanya merupakan satu bangunan yang mempertebal sosok mereka dalam imej masyarakat. ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

No comments:
Post a Comment