Saturday, March 28, 2026

ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA

 


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA (Berita lawas) Ternyata di balik wajah manis, Alba Fuad tersimpan kesedihan yang menahun. Sepintas kelihatan seperti gadis periang, tak pernah murung, tapi dibalik ceritanya tersimpan duka panjang. "Ketika masih kecil tidak pernah ada rasa rindu dengan papa. Setelah gede seperti ini rasanya butuh kehangatan kasih sayang papa," katanya mengungkap. Dia merasa dirinya orang yang paling "tol*l". Ketika papanya terbaring kaku, dan dibawa ke pemakaman, Alba tidak pernah tahu itu perpisahan dengan papa. Bocah centil malah asyik bermain. "Ketika itu umur saya baru lima tahun, tidak tahu arti kematian" , kata putri tunggal alm. Fuad Hasan, drumer beken God Bless dengan suara parau. 

Selepas SMA, dia baru kenal rasa rindu dan duka.  Sebelumnya di acewek periang, menikmati masa puber dengan gelak tawa. Di SMA dia cukup badung. Sering bolos sekolah. "Kalau bolos suka ke Ancol. Main di Dunia Fantasi kayak anak-anak," ngakunya. Mama jarang marah kepadanya. Begitu juga saudara dari mamanya, Achmad Albar dan Camelia Malik. Dimanja, tapi dia tahu diri. Mengaji pelajaran yang membosankan tapi dia jarang bolos . 

Perempuan bernama lengkap Monna Alba Fuad ini lahir di Jakarta 4 Maret, 1969. Tadinya dia seorang modelling. Bergabung dalam blantika Studio. Ketika itu dia cukup menarik perhatian. Ketika Iwan, sang boss Blantika Studio dapat order mencari artis pendatang baru dari produser, pilihan kontan jatuh kepada perempuan berbintang Pisces ini. Alba kelabakan ketika berhadapan dengan produser. Perjalanannya tidak mulus. Harus di tes dulu. "Eeh..engak tahunya saya berhasil test. Padahal saya kikuk lho. Ndak perna latihan akting, mungkin bakat dari sono kali ," cetusnya rada bangga. 

Kontan Maman Firmansyah memberikannya peran utama sebagai Mila dalam Permainan di Balik Tirai (1988). Lakonnya pertama kurang menggigit. Tapi cukup baik sebagai artis pemula. 

Lalu Abnar Romli menggarapnya lewat Tumbal Siluman Kera (1988), beberapa sutradara beruntun menggaetnya, Ratno Timoer lewat Si Buta Dari Goa Hantu (Lembah Maut) 1990, Lilik Sudjio lewat  Pembalasan Si mata Elang, Slamet Riyadi lewat Pedang Naga Pasa (1990), Lilik Sudjio lewat Misteri dari Gunung Merapi II (1990), NOrman Benny lewat Makelar Kodok II (1990), Acuk Rachman lewat Guntur Tengah Malam (1990), Abdul Kadir lewat Perjanjian Terlarang (1991) dan juga Achiel Nasrun lewat Olga dan sepatu Roda (1991). 

Ditanya Apa arti film bagi Alba Fuad, "Kalau saya bilang, film cuma hobby, itu konyol. Film tempat cari uang dan sebagai profesi saya ndak munafik. Dan bukan batu loncatan untuk ajang lain, katanya ceplas ceplos. 

Rupanya Alba mengintip profesi lain di film. Tidak semata sebagai anak wayang. Nah, ini membuatnya sering kasak kusuk. Tanya sana, tanya sini. Rasa ingin tahu soal kamera, sutradara, tata lampu, skrip, tata busana, sampai pross film di lab sangat besar sekali. "Saya tidak mau jadi artis terus sampai tua. Cuma belum tahu pilih profesi apa selain artis. Terkadang pengin jadi sutradra, terkadang ingin jadi penulis skenario, pokoknya masih ngaco deh!. 

Karena dia pintar mengambil hati kru film, jadi banyak yang suka menjelaskan kepadanya. "Modal kita kan cuma pergaulan dan keseriusan, " sergapnya tanpa tedeng aling-aling. Toh tak salah merebut hati orang untuk baik. 

 ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991

No comments:

Post a Comment