PERANG DI TELUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOSKOP INDONESIA (Berita Lawas). Siapa bilang perang Teluk tak berdampak bagi perfilman dan perbioskopan Indonesia? Bukti-bukti kongkrit menunjukkan merosotnya jumlah penonton sejak meletusnya perang Teluk pada tanggal 16 Januari 1991.
Masyarakat yang mendadak gandrung berita Perang Teluk selalu menanti-nantikan berita terbaru dari medan perang yang disiarkan baik oleh koran, radio, maupun televisi. Bukan kebetulan kalau TVRI menyiarkan berita Internasional justru setiap pukul 19.00 dalam bahasa Inggris dan Dunia Dalam Berita pada pukul 21.00. Justru pada jam-jam tersebut itulah bioskop baru membuka pintunya. Otomatis karena orang lebih tertarik menunggu berita di TV, maka niat untuk berangkat menonton ke bioskop pun sering diurungkan.
Akibatnya, sejumlah film Indonesia yang kebetulan mendapatkan jadwal penayangan mulai medio Januari, kontan sepi dari penonotn.Bisa disebutkan contohnya, film-film seperti "Jangan Renggut Cintaku", "Si Buta Dari Gua Hantu di Lembah Maut", "Pendekar Cabe Rawit", dan "Tak Kan lari Jodoh Di Kejar", rata-rata film ersebut cuma sempat ditayangkan satu hari saja di sinepleks pada tahap pertama.
Yang memetik keuntungan dari Perang Teluk, justru media cetak. Harian-harian melonjak tirasnya sampai 200-300 persen dalam minggu terakhir . Bagaimana dengan film impor?
"Sama saja, penonton juga merosot drastis, terutama untuk pertunjukkan terakhir pukul 21.30, jumlah penonton bisa dihitung dengan jari," ujar sumber dari booker jakarta.
Mari kita lihat jumlah penonton di Studio 21 pada pukul 21.30. Tiga dari empat layar cuma diisi di bawah angka 50 penonton. Bahkan film yang diangkat dari karya William Shakespeare cuma mendapatkan 15 penonton. Kontradiksinya adalah film action Steven Seagal "Hard To Kill" yang berhasil mengumpulkan lebih dari 90 orang, hampir separuh dari kapasitas 260 kursi!.
Sebagai perbandingan pengamatan pada sinepleks Globe 21 di kawasan ramai Pasar baru. Empat film Barat ditayangkan serentak disini. Jumlah penonton pada pukul 22.00 adalah sebagai berikut : Pretty Woman" (26 Orang), "The God Must Be CrazyII" (11 orang) , "Miami Blues" (9 orang) dan "Dean Poets Society"terpaksa tak diputar karena tiada pembeli karcis.!
Mengamati jalan di sekitar Pasar baru pada jam sekian terasa lengang. jarang orang keluyuran malam, kalau tak sangat terpaksa. Bahkan tanda-tanda penjual makanan sepanjang jalan Pacenongan yang biasanya sampai lewat tengah malam masih ramai dikunjungi orang, sekarang mengalami masa sepi juga!.
"Semoga saja perang cepat berakhir, hingga semuanya bisa pulih kembali seperti semula", itu harapan semua pihak yang merasa dirugikan.
Tapi kalau perang bakal berlarut-larut berkepanjangan sampai berbulan-bulan? Ya siapa yang tahu?
Menyiasati suasana sepi seperti ini, pihak importir pun tak buru-buru menayangkan film-film pilihan mereka yang disuguhkan dalam event "Old and New Night" lalu.
Maka film-film seru seperti "A.W.O.L", "Sea of Love", "Lethal Weapon 2" , "Desperate Hours" dan lain-lainnya disimpan saja dulu di dalam gudang. "Kuota film impor untuk tahun 1991 memang masih belum diketahui berapa jumlahnya, apakah tetap sama seperti tahun lalu, atau dikurangi sepuluh judul lagi, " ujar pihak asosiasi importir. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991 dengan judul Perang di Teluk, sepi Di Bioskop
Wah, miris juga ya kalau lihat jumlah penontonnya yang cuma hitungan jari..

No comments:
Post a Comment