RITA ZAHARA, Mengejar Sutradara Mati Hidup di Film (Cerita Lawas). Ada orang yang senang mem bunuh? Dengan menghunus rencong di tangan kanan, dan tanpa ragu-ragu ia hunjam senjata khas daerah Aceh itu ke tubuh wanita di hadapannya. Bles. Darahpun bersimbah di sekujur tubuh fatimah. Wanita itu mengerang dan roboh disaksikan banyak orang.
Mengapa itu dilakukan, tanya pemimpinnya. Maafkan saya, jawab wanita yang memegang senjata rencong itu.
"Diantara semua adegan, cuma adegan diatas yang paling saya senangi," ujar Rita Zahara yang berperan sebagai Nya' Bantu dalam film "Tjoet Nja' Dhien". Meski jawaban Nya' Bantu singkat, menurut Rita, mempunyai arti yang sangat dalam. "Karena adegan tersebut dapat dikatakan titik puncak kemarahan Tjoet Nja Dhien kepada pengkhianat, yang dapat dirasakan, lalu di terjemahkan oleh Nya' Bantu. Bagi pengkhianat hukumannya kan jelas mati. Maka secara spontan saya, eh maksudnya Nya' Bantu, harus membunuhnya, ' tutur Rita di kediamannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.
"Film ini memang banyak memeras tenaga, waktu dan biaya. Tapi hasilnya dong, luar biasa sekali, cetus Rita Zahara sambil menggeleng-gelengkan kepala kagum. Dan ia sendiri salut pada keberanian Eros yang memvisualkan wanita Aceh itu. Dikatakannya bahwa Eros tekun dan teliti. Tak pelak, Rita pun dituntut untuk menghayati peran, yang meurutnya boleh dikatakan agak berat juga. Karena itu Rita melakukan observasi secara langsung hidup dan bergaul dengan masyarakat terutama di Sigli. Maka ia mengerti dan memahami bahasa setempat, yang bicaranya tidak lemah lembut, cara berjalan yang gagah berani. Pokoknya saya tidur dan bergaul dengan mereka, sehingga tahu cara hidup mereka, kata Rita.
Ria Zahara, Ibu 7 anak dan lahir di Singapura pada 5 Desember 1942, sedang magang sebagai asisten sutradara dalam film "Pacar Ketinggalan Kereta" garapan Teguh Karya. Lulusan ATNI tahun 1964 ini berniat mengisi profesi sutradara wanita yang masih langka di negeri ini. Sebelumnya, ia pun telah menjajal kemampuannya sebagai pembuat skenario sekaligus pengatur laku dalam sandiwara "Rona Rona" di TVRI. Juga ia telah merampungkan beberapa skenario film dan teve, yang ia beri judul "Darah Hitam", "Tangismu Milikku", "Keramat Batu Lebur" serta "Usia dan Cinta".
"Saya sangat mencintai dunia film ini. Saya tidak akan menyeleweng dari dunia seni. Kalau film lagi sepi, maka saya berusaha nyanyi, main drama atau menulis skenario. Saya hidup sekaligus membesarkan anak-anak dari hasil dunia ini. Saya nggak punya bakat bisnis, misalnya," tutur istri Piet Pagau yang juga pemain film. "Dan mudah-mudahan cita-cita sutradara itu tercapai. Namun saya beranjakdari tidak punya duit, yang saya andalkan adalah kemampuan dan pengalaman serta dorongan sutradara Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, " ungkap Rita sungguh sungguh.
Rita Zahara pertama kali terjun ke layar putih lewat film "Gaya Remaja" (1960) Film-film selanjutna seperti "Teror Di Sulawesi Selatan", Macan Kemayoran", "Fajar Di Tengah Kabut", "Senja Di Jakarta", "Honey Money & Jakarta Fair", Misteri Di Borobudur, "Panji Tengkorak", "Manusia terakhir", "Kemasukan Setan", "Pembalasan Si Pitung" serta ikut pula dalam Jakarta 66" dan Noesa Penida".
Rita menceritakan bahwa kehidupan keluarganya yang berdarah seni itu telah di tularkan pada anak-anaknya. Ketujun anaknya, bahkan cucunya telah mencicipi dunia seni, entah di film, teve maupun nyanyi. Pokoknya saya menganjurkan pada mereka menggeluti dunia seni. Kan seni tak begitu banyak memerlukan pendidikan dan biaya, " katanya. "Apalagi sekarang betapa sulitnya cari kerjaan", tambahnya, Rita yang pernah terkenal sebagai penjaga gawang sepakbola pertama di Indonesia selain menikah 3 kali. sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

No comments:
Post a Comment