Tuesday, June 30, 2026

PRILLY PRISCILIA


 PRILLY PRISCILIA (berita lawas). Trio Centil. Itu nama grup voal yang melibatkan Prilly Priscilia. Mungkin nama komplotan yang semunya cewek ini identik dengan watak Prilly. Sekilas, tak ada bagian tubuh tertentu yang berkesan menggoda dari mahasiswi Universitas Pancasila ini. Asal tahu saja, kalau sudah bicara dengannya, asal mampu menahan goncangan perut. Apa lantaran ia doyoan humor hingga memilih pacar pun kebingungan? "Nggak tahu, tuh. Mama juga bingung, kok yang namanya cewek kalau sudah ngakak kedengarannya kayak raksasa. Sampai ia bilang lama-lama mulut saya bisa cablak. Enak kan cablak. Buktinya Sophia Loren punya bibir cablak malah laku keras, " celoteh Prilly yang lagi-lagi memasang jurus candanya. 

Prilly jelas bukan Sophia Loren yang kadangkala bersaing dengan Elizabeth Taylor dalam hal koleksi pacar. "Rasanya tiada hari tanpa ketawa. Mungkin sayalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Saya bisa kurang ajar juga, lho. Kalau teman marahan, lantaran tersinggung. Saya melawannya dengan humor. Jadi, jangan harap marahannya bertahan lama, " ucap pesinden lagu-lagu ceria yang pernah main di film Lintar, Ketika Musim Duren Tiba racikan Abdi Wiyono. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Sunday, June 28, 2026

LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat

 


LELA MONICA, Mulanya... Mandi Keringat (kisah lawas).  Betapa riangnya Lela Monica dapat kesempatan berlakon dalam film Bangkit Dari Kubur (1988). Sudah lama keinginan main film dipendamnya dan sekarang kesempatan itu datang. 

Dirumah sebelum berangkat ke lokasi suting, ia harus "bertempur" dengan orangtua. "Mulanya saya tak direstui main film, padahal hari itu sudah harus berangkat ke lokasi suting. Saya harus mati-matian meyakinkan orangtua, " katanya. Tekad Lela yang kuat sampai orangtua tak kuasa menahan keinginan anaknya. 

Tiba di lokasi suting, di kawasan Dago Bandung, Lela masih yakin akan kemampuan dirinya berlagak di depan kamera. Begitu suting akan dimulai, baru merasakan betapa jantungnya berdebar kencang, rasa takut menghantui. Dari dahinya yang putih mulus mengucur deras keringat. 

"Kok saya jadi demam kamera? Lalu, saya coba menarik nafas dalam-dalam untuk konsentrasi. Terasa kini seluruh tubuhnya basah kuyup, padahal Dago tempat yang sejuk," ujarnya mengenang. Saat kamera mulai berputar tetap saja Lela buat kesalahan. Sutradara "ngebomnya" dengan omelan-omelan pedas. 

"Saat itu saya ingin lari dari lokasi. Habis Lela belum pernah dihina seperti itu sih".

"Sejak mendapat pengalaman itu, saya tak berani lagi sok yakin. Hikmah kenangan itu sekarang adalah, setiap mendapat tawaran main film atau nyanyi, selalu minta restu orang tua, " katanya. 

Memang, sejak melakoni film perdananya itu Lela semakin gencar mendapat tawaran difilm, sinetron maupun rekaman lagu. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992

Saturday, June 27, 2026

FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN


FILM "JANGAN BILANG SIAPA SIAPA", KECEMBURUAN JADI BIANG KEKALUTAN (berita lawas). Bagaimana menyuguhkan sebuah film komedi yang utuh cerita dan leluconnya, bukan cuma penggalan dagelan sudah menjadi obsesi insan film sejak lama. Hal ini coba diwujudkan lewat film gess PT. Parkit Film yang trio produsernya Raam-Dhamoo-Gobind Punjabi kian lihai meracik ide-ide lucu. Apalagi ditangani Chaerul Umam yang punya Sense of Humor Tinggi. 

Dengan barisan pemain langganan Parkit, Ray Sahetapi, Lydia Kandou, Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Zaenal Abidin, Baby Zelvia, Ida kusumah, Kadir, Doyok plus Pak Tile, maka bom tawa dipasang pada setiap adegan sampai meledak dalam huru hara klimaksnya. 

Cerita berporos pada pengantin baru Rio-Anita yang tinggal di Gedung mewah mertua. Sejak mengantar keberangkatan ayahnya ke bandara, sudah terjadi kesalahpahaman gara-gara Rio dikecup cewek yang salah kira. 

Kecemburuan Anita berkembang saat  Rio tak pulang dari rapat di Puncak. Padahal ia diajak atasannya menghadiri ultah rekanan. Untuk melunakkan isteri ngambek, Rio cari akal bulus. Advis Kadir untuk mengajak teman fiktif bernama unik, Hamid Hamad bin Himad Hamid, disambar bulat-bulat. Sobat lama Oskar Hutajunjung, yang diminta menyamar langsung akur. 

Padahal orang bernama Hamid Hamad bin Himad Hamid itu benar ada. bahkan Anita datang kerumahnya untuk mengundang makan. Maka semuanya tumplek bleg datang, termasuk Om Bowo, Tante Emma, Nyonya Hamid, bahkan Nyonya Oskar, semua rahasia terbongkar!. Ditengah kekacauan tinggal Kadir yang bernafsu melahap hidangan lezat. Tak terduga selop Tante Emma melayang ke mulutnya. 

Kalau dalam film-film terdahulu biasanya Anita diperankan Ida Iasha, sekarang digantikan Lydia Kandou yang ternyata bermain lebih matang sebagai isteri pencemburu. Begitu pula Nurul kebagian peran jadi istri muda Doyok yang galak dengan suara melengking-lengking. 

Deddy sebagai anak lelaki Batak yang sok tinggal di hotel mewah, padahal masih menganggur dan cuma mengandalkan isteri yang bekerja, tinggal juga di losmen murahan, bagai mengulang peran Eddy Pasaribu dalam "Kanan Kiri Oke". Begitu pula halnya dengan Ray, Zaenal dan Idakusumah, tetap dengan stereo-type peran mereka biasanya.

Adalah Kadir, yang diberi porsi lebih. Kendati begitu, tokoh batur (pelayan) sok pintar yang sering diminta advisna oleh majikan jelas di comot dari pakem "Srimulat". Bedanya, pengarahan Mamang membuat segala gimmick dan jogetan Kadir lebih kocak. Dan sekali urat syaraf geli penonton sudah tergelitik, sekedar bunyi-bunyian bel atau  telepon yang unik saja bisa jadi letusan gerrr!. Iseng-iseng cobalah hitung berapa kali pesan "Jangan Bilang Siapa Siapa!" diucapkan sepanjang film.   ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

NENO WARISMAN


 NENO WARISMAN (berita lawas). Selepas berlakon di film Cipluk Semua Sayang Kamu (1989) karya sutradara Ida Farida, Neno Warisman tak pernah muncul lagi di kancah produksi film. Seakan tenggelam "dilautan" arus artis muda. Untung saja ia dapat bermain bagus dalam sinetron Sayekti dan Hanafi, garapan almarhum Irwinsyah, yang kembali mengorbitkan namanya dalam seni peran. 

Isyu terakhir yang tersiar mengatakan, bahwa perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman ini, akan menanggalkan baju kerartisannya untuk mendalami Islam. Ternyata itsyu itu hanya berita burung. Sampai saat ini Neno Warisan merasa tetap eksis menggeluti seni. Lalu, bagaimana dengan isyu tidak akan melepaskan jilbab?

"Itu baru berita benar", katanya tanpa komentar panjang lagi. 

Bukankah jilbab akan membatasi kegiatan dalam berkesenian? "Saya kira tidak, tergantung materi yang disodorkan," kilahnya. Tekadnya untuk tidak membuka jilbab sudah "membatu". Meski dibayar mahal, ini tantangan lain yang harus diwaspadainya. 

Disaat artis lagi mau-maunya buka-bukaan, mengapa kamu menutup diri, jeng?

"Itu prinsip hidup," katanya singkat. karena alasan itu pula Neno Warisman bersedia menjadi pelayan masyarakat yang berangkat menunaikan Haji. Kalau tahun lalu ia ke Mekkah menjadi tamu Allah tok, "tapi sekali ini saya harus bisa melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Ini tugas yang berat juga."

Untuk membuktikan keberadaanya bergelut akrab dalam napas Islam, Neno mencoba tetap eksis dalam jalur musik dakwah. Kenyataan itu erat kaitannya dengan meledaknya album "Mutiara Hikmah, produksi Rintop Record yang dirilis awal tahun 1992 ini. Sepulang dari Mekah Neno akan membuat gebrakan baru lagi, yaitu satu ini adalah kesinambungan album sebelumnya, Senandung Mutiara, demikian nama album itu. 

"Dengan adanya "Senandung Mutiara" ini adalah salah satu kiat berdakwah lewat jalur musik, " katanya singkat. Alasan itu sudah menggambarkan maksudnya. lalu bagaimana dengan seni peran? "Saya masih pikir-pikir, " lanjutnya. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


LUCY DAHLIA, MENANGIS DIJULUKI PEREK


 LUCY DAHLIA, MENANGIS DIJULUKI PEREK (berita lawas).  Lucy Dahlia namanya, Lela Monica Kakaknya. Pemain film plus sinetron keduanya dirangkul. Dan Lucy putri bungsu dari Lies dan Suhendar ayah ibunya. Dara berbintang Taurus ini, kian naik daun setelah melakonkan Nyi Iteung dalam serial sinetron Si Kabayan dan Orang Beken produksi TPI. 

Lucy alias Uci yang memulai debut di film Ricky Nakalnya Anak Muda, pernah menyesali diri terjun ke dunia glamour ini. Gara-gara memainkan "Rini" perek dalam Bunga-Bunga Kusam di pekan sinetron TVRI sehingga dimanapun Lucy berada, sering mendapat kecaman dan lirikan sinis, plus telepon gelap yang isinya mengajak berbuat tidak senonoh. "Dikiranya saya diluar film punya watak dan kelakuan sebagai perek. Seolah-olah saya cewek gampangan, " cerita Lucy Ketus. 

Sampai pernah ia menangis terguguk-guguk, ketika pada suatu kesempatan berjalan ditemani Lela Monica di Alun-alun Bandung. Beberapa remaja yang ada disitu, tak hentinya meneriaki Lucy. "Daag perek, main yuk, godain kita dong! Semalam , berapa tarifmu?" walau bergurau tapi tentu menyakitkan kalbu Lucy. 

Setengah berlari, Lucy alias Rini, alias Nyi Iteung langsung saja masuk taksi dan disana ia menangis meraung-raung. betapa ibanya hati Lela Monica. Sebagai kakak dengan bijaksana. Lela memberi pengertian, bahwa itulah risiko artis. 

Kini, jangan harap Lucy berani keluyuran sembarangan, apalagi ketempat-tempat keramaian untuk menghindari sakit hati. Ikhwal sakit hati ada kaitan dengan 4 kali putus cinta. "Setiap ketemu pacar, bentrok melulu. Kemanapun pergi dicurigai. Ngobrol dengan pemain pria yang keren atau penggemar dicemburui, jengkel juga kan?" sergah Lucy. 

Kuliah di STBA Bandung, Jurusan Bahasa Inggris, terpaksa Lucy cutikan saat semester tiga. Karena repot mengatur waktu, dengan kesibukan sebagai pemain film dan sinetron. 

"Nggak apa-apa. Nanti suatu saat kuliah akan saya tekuni lagi.~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


KANG IBING


PENGALAMAN KANG IBING (berita lawas). Silakan terka, seorang laki-laki dnegan raut muka blo'on dan wajah tanpa dosa yang populer sebagai pemain film, pelawak, MC dan mubaligh. Tiada lain dialah Kang Ibing, yang film terakhirnya Babi Ngepet/Nyegik/Warisan Terlarang berpasangan dengan Yati Octavia. 

Sebagai pelawak, tentunya banyak pengalaman unik, lucu atau mengenaskan pernah di alaminya. Ketika di temui di sela-sela suting sinetron SI Kabayan dan Orang Beken, di studio TPI Jakarta, Kang Ibing yang punya nama Ibing Kusmayatna bernostalgia. 

Suatu saat dia diminta tampil melawak secara solo oleh sebuah Panitia dari instansi Angkatan Udara. Ketika pengundang datang kerumahnya, kebetulan, Kang Ibing yang waktu itu masih menjadi penyiar Radio Mara, Bandung sedang berhalo-halo di studio. Permintaan mengisi acara diterima oleh istrinya tanpa bisa memutuskan ya atau tidak, tapi berjanji jawaban segera disampaikan lewat telepon, apalagi rencana acara tinggal 3 hari lagi. 

Sore sesampai dirumah, tanpa tanya lebih jauh lagi, Kang Ibing mengangkat telepon dan langsung setuju mengisi acara tersebut. 

Acara berlangsung dan Kang Ibing sudah tahu yang akan hadir dari lingkungan Angkatan Udara. Kang Ibing seperti lazimnya melucu selalu menyelipkan bahasa Sunda, apalagi acara ini diselenggarakan di Bandung, maka banyolan-banyolannya lebih banyak menggunakan bahasa daerah. 

Anehnya, sudah hampir 1 jam, Kang Ibing melontarkan berbagai kocokan tentang kedirgantaraan, tapi tak satupun penonton tersenyum, apalagi sampai tertawa terbahak-bahak. Sedang menurutnya dimanapun melawak, penonton 99,9% pasti gerr....

Sudah memeras otak, menguras seluruh simpanan lawakannya, belum juga menimbulkan ledakan tawa, sampai-sampai keluar keringat dingin. Mimik penonton dilihatnya kaku dan mulut seolah-olah terkunci. Akhirnya kang Ibing menyudahi penampilannya dengan kecewa berat. "Seumur hidup, baru saya alami kejadian seperti ini, sumpah."

Selanjutnya, paa saat pamit sambil ..(biasa ambil honor), Ketua Penyelenggara seraya mengucapkan terima kasih juga menjelaskan, bahwa penonton yang hadir malam itu adalah para lulusan Taruna AU yang usai dilantik dan seluruhnya berasal dari Jawa Timur. 

"Pantas saja mereka tak tergelitik dengan lawakan saya yang dikuras habis-habisan. Rupanya akibat banyolan yagn saya sodorkan pakai bahasa urang (sunda), gerutu Kang Ibing sambil berlalu dari gedung pertunjukkan. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


Thursday, June 25, 2026

BELLA ESPERANCE, FIGUR CEWEK "AUSTRALIA"


BELLA ESPERANCE (berita lawas). Empat judul film sudah disabetnya, tapi belum mampu menggedor pecandu film nasional. Terakhir Edwar Pesta Sirait memasangnya di film Getar-Getar Melodi mendampingi Onky Alexander. Sayang, film ini tertunda lama dalam peredaran. Sedikitnya ini merupakan pukulan berat bagi Bella Esperance. bagaimana tidak, film ini pula yang mengangkatnya sebagai pemegang rol utama. 

Film-film Bella sebelumnya Catatan Si Boy III dan Perasaan Perempuan, ia mejeng selaku pemeran pembantu saja, tapi bukan lantaran itu, kemudian Bella cari kompensasi main di sinetron HALIMUN produksi RCTI . "Susah ya, kalau udah ngebet di film. Terkadang saya menyesal kenapa dulu mau diajak Cabo III, " Ujar Bella, entah apa maksud dari omongannya ini.

Berlakon sebagai Poppy pada Halimun, terasa pas. Poppy adalah lambang wanita materialistis. Sampai memilih tunangan saja, harus orang kaya, "Saya bilang pas, Poppy dalam kesehariannya senang pesta, Itu saja!.  Sedangkan mengukur segalanya dari uang, wah najis bagi saya. Bagaimana mungkin kebahagiaan hidup bisa tercipta? Uang itu sebetulnya membahayakan manakala kita mengabdi padanya, " papar Bella saat dihubungi di suting Halimun di Sukamindi, jabar. 

Dengan istilah lain, peran Poppy menurut Bella adalah cewek asusila. Waktu di Cabo III, ia juga sebagai wanita lesbi. Justru yagn punya ciri lain ya dalam film Getar-Getar Melodi itu. Konon oleh PT. Mega Artha Film yang mengeluarkan film tersebut, Bella di bayar cukup mahal, setelah proses tawar menawar harga sampai satu bulan. Kenapa sih kamu minta dibayar mahal dari film sebelumnya?

"Lumrah, tapi saya juga tidak menuntut. Tanpa gebrakan begitu, selamanya pemain pendatang baru dianggap murahan. Saya  kan mencoba membela yang lain, " cetusnya. 

Dalam menentukan honor, Bella boleh selangit, tapi kesehariannya Bella sederhana, bahkan ada kesan sangat ekonomis dalam pengeluaran uang. Buktinya makan yang dilahap setiap pagi cukup merebus mie. 

"Sekarang lagi paceklik, main sinetron, berapa sih honornya? Ketimbang gue ngecerin diri kan lebih adil ngirit. Tul nggak?ha..ha...ha, Bella mengumbartawa, tawa persembahan Poppy yang khas sebagaimana terlihat di sinetron Halimun. ~sumber mf No. 142/109/TH VIII, 7 - 20 Des 1991


Tuesday, June 23, 2026

NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT

 


NUNU DATAU DISERUDUK BANDOT (berita lawas). Nunu Datau yang adik kandung mantan artis Mutia Datau ini, boleh diharapkan sebagai bintang remaja potensial. Pengalaman main film memang sudah dikenalnya sejak usia anak-anak, antaranya di tahun 1985, pernah memerankan adik Iwan Fals dalam "Damai Kami Sepanjang Hari"nya Sophan Sophiaan. 

Kini, memasuki usia remaja, Nunu pun sering ikut mendukung film-film bertemakan keremajaan. Sebutlah misalnya serial "Lupus" yang mempertemukannya dengan sang gacoan Ryan Hidayat. Namun memang hampir selalu Nunu cuma kebagian peran pembantu saja, masih belum mendapatkan kesempatan untuk memainkan peran utama. 

Begitu juga dalam filmnya yang beredar medio Januari 1992 ini, "Pesta" arahan Eduard Pesta Sirait. Disini ia berperan sebagai teman sebangku si tokoh utama Desy Ratnasari di sebuah SMA. Walau tetap jadi pemeran pembantu, namun penampilannya yang manis ceria bisa mencuri perhatian penonton. 

Menyusul untuk pembuatan "Rini Tomboy" menjelang akhir tahun 1991, Nunu pun ikutan ke Pantai Kukup di selatan Yogya. Terjadi suati peristiwa yang sangat menggelikan menjelang suting. Untuk menghidupkan suasana alam pedesaan, sutradara Noto Bagaskoro meminta Yadi dari Bagian Unit untuk menyiapkan beberapa ekor kambing yang disewa dari penduduk setempat. 

Ternyata seekor kambing jantan besar yang lazimnya disebut bandot, sangat nakal. Yadi yagn membawanya dengan tali pengikat leher sempat diseruduk sampai tunggang langgang. 

Eh, di pantai kebetulan Nunu sedang membungkuk sampai nungging, untuk membetulkan tali sepatunya. Si Bandot langsung nafsu melihat pinggul Nunu yang membulat didepannya. Mungkin disangkanya Nunu sengaja menantangnya dengan menunggung begitu. Tanpa bisa di cegah lagi, si bandot langsung menerjang, "Brasss?!)

Nunu tersungkur ke pasir sambil menjerit.

Noto, Yadi, Adjie, Jujur Prananto dan lain-lainnya buru-buru menolong Nunu dan mengamankan si bandot galak. Bagi Nunu, mungkin sakitnya sih tak seberapa, tapi kagetnya itu lho! Untungnya, tak sampai terluka, tapi beritanya cepat tersiar malah di bumbu-bumbui menjadi "Nunu Diseruduk bandot birahi!~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.


Monday, June 22, 2026

MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN'

 


MENINJAU SUTING RINI TOMBOY DI PANTAI KUKUP, RINI BERSEPEDA 'JANTAN' (berita lawas). Suting film "Rini Tomboy" nyaris terhenti pada saat sudah mencapai 75 persen. Produser Handi Muljono dari PT. Kanta Indah Film, bagai kehabisan nafas karena beberapa film produksinya berbujet besar sebutlah seperti "Saur Sepuh 4", "Tutur Tinular 2" dan "Balada Cinta Anglingdarma" kurang begitu berhasil dalam peredarannya. Akibatnya modal sekitar 3 milyar rupiah, sulit kembali. 

Maka, kelanjutan penyelesaian tiga film produksi terakhirnya pun menjadi tersendat-sendat. Tiga film tersebut adalah "Badai Laut Selatan", "Kamandaka" dan "Rini Tomboy" ini. 

Untunglah kemudian dicapai kesepakatan dengan pihak Subentra Bank yang bersedia mendukung dana untuk merampungkan film-film diatas. 

Di pimpin Megawati Santoso yagn melanjutkan kerjanya sebagai Produser Pelaksana, sutradara, pemain dan kru Rini Tomboy berangkat ke Yogya. Seperti di ketahui, pemeran Rini adalah pendatang baru Cornelia Agatha Dachlia, didukung oleh bintang-bintang muda seperti : Adjie Massaid, Titi Dwi Jayati, Nunu Datau serta dua remaja gres lainnya, Ninette Maritya dan Hendri Hendarto. 

Mereka berenam nampak kompak bersepeda berkeliling desa di Pantai Kukup, sekitar 60 kilometer di selatan Yogya. Dalam foto diatas terlihat Titi memboncengkan Nunu, dan Adjie memboncengkan Hendri masing-masing dengan sepeda perempuan. Tapi lihatlah Lia yang  memboncengkan Ninette, sengaja tampil beda dengan sepeda jantan.!

"Ho..ho..hoo, itu memang disengaja, " tawa sutradara Noto Bagaskoro yang setambun Samo Hung, " itu ciri khas untuk menunjukkan watak tomboy Rini yang selalu ingin tampil sportif dan boyish, kendati begitu ia masih tetap nampak manis kan?.~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Sunday, June 21, 2026

ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU


ARIFIN C NOER, TAK ADA KEINGINAN ULUR-ULUR WAKTU (berita lawas). Ada semacam rasa ketakutan dari para produser film bekerjasama dengan sutradara yang biasa kerja berlambat-lambat, sekalipun dengan alasan untuk menghasilkan film yang kualitasnya lebih baik. Logikanya memang, bekerja dengan waktu yang cukup, tidak terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. 

Namun bukan jaminan. Semua tergantung dari orang yang mengerjakan dan tergantung dari kebutuhannya. Arifin C Noer, sutradara kenamaan itu memberikan contoh dari film yang dikerjakannya. Ketika membuat film G 30 S/PKI, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sebab film yang menggambarkan salah satu perjuangan bangsa itu harus di dukung oleh data sejarah yang lengkap dan penanganan yang teliti. Demikian pula untuk film lanjutannya, Super Semar. 

Waktu menggarap G. 30.S / PKI, mulai dari persiapan sampai edar, memakan waktu hampir dua tahun. Sedangkan Super Semar, lebih lama lagi. Bila kualitas kedua film tersebut diukur melalui Festival Film Indonesia (FFI), kualitasnya masih di bawah Taksi, yang digarapnya. Karena kedua film diatas tidak terpilih seabgai film terbaik, sedangkan Taksi terpilih sebagai film terbaik FFI 1990. Dengan contoh tersebut, memperkuat argumentasinya, bahwa bukan waktu yang menentukan baik buruknya hasil pekerjaan. 

"Saya kira, memang tidak ada satu orangpun yang mempunyai suatu keinginan mengulur-ulur waktu, kalau memang kebutuhannya tidak banyak. Mengulur waktu, tidak saja akan merugikan produser seabgai partner, tapi juga merugikan diri sendiri!" Tegas Arifin C Noer yang oleh sementara produser di klasifikasikan sebagai sutradara yang suka mengulur ulur waktu. Walaupun ia sudah membuktikan bisa bekerja cepat dengan kualitas terbaik dan punya nilai ekonomi tinggi. 

Sekarang ini, katanya, untuk menyelesaikan Bibir Mer, iapun akan berusaha bekerja maksimal, cepat dan tentu cermat. Alasannya masuk akal, karena katanya ia harus segera bersiap-siap mementas lagi dengan Teater Kecil yang dipimpinnya. "Setelah sukses di Singapura dengan Ozon, datang tawaran lagi untuk tampil disana , dilanjutkan ke Hongkong dan Tokyo. "Kami sudah menerima tawaran itu lewat faksimili, tapi kami belum memberi jawaban. Kami pikir, memang perlu diterima tawaran tersebut agar kita juga di kenal lebih luas di luar negeri. Kesempatan-kesempatan semacam ini, akan memberikan pengalaman yang berharga.,"katanya seraya menjelaskan pementasannya di luar negeri menggunakan dialog bahasa Inggris. Karena dialognya dalam bahasa Inggris, mau tidak mau kita berlatih lebih serius. Hal demikian dapat mematangkan diri kita sendiri. 

Mengomentari tentang pemain film Indonesia, Arifin bilang "Pada dasarnya pemain Indonesia itu berbakat, cuma katanya, penempatan untuk mematangkan kemampuan pemain tersebut diperlukan keseriusan dari para sutradara. ~sumber mf No. 145/112/Th. VIII, 18 - 31 Jan 1992.


Friday, June 19, 2026

ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT


 ALDONNA VIVERONICA, GADIS IMUT IMUT (berita lawas). Ia terbilang 'gres', bahkan masih 'bau kencur'. Terakhir kali ia terlibat film Blok M. Siapa dia? Dia Aldonna Viveronica. Biasa dipanggil Donna saja. Dengan celana jeans dan T.shirt menempel di badannya, sebagaimana layak pada gadis usia tujuh belasan. Apalagi dengan melihat foto-fotonya yang sempat menjadi sampul di beberapa penerbitan ibukota. Padahal 14 Januari (1992) yang lalu berusia 13 tahun. Dilahirkan di Bandung, 14 Januari 1979 dari pasangan Aldo Toncic dan Ika. 

"Hanya badan saya saja yang kelihatan bongsor, padahal saya ini masih kecil. Kalau tidur saja masih suka dikeloni oleh mama dan papa, " kata si bontot dari 6 bersaudara ini. 

Bagi Donna, bidang seni pada umumnya tidaklah asing. Tahun 1989 pernah tampil sebagai penyanyi cilik. Dua album yang dihasilkannya adalah "Apa Namanya" dan "Jangan Menangis Isabella". Waktu itu saya sering muncul di TVRI, lewat acara lagu Anak-Anak, sehingga dilirik oleh produser dan selanjutnya diajak rekaman. Karena kesempatan itu sangat menarik, tentu saya tidak sia-siakan. Kebetulan mama, papa dan seluruh keluarga memberi dorongan, " cerita Donna. 

Bicara soal kesempatan main film pun tidak dilewatkan. "Mama berpesan, semua yang terbaik untuk Donna tidak akan dilarang. Menyangkut soal gosip dalam kehidupan artis, tentu saja saya harus pandai-pandai menjaga diri. Soal gosip itu sendiri sudah konsekuensi semua artis, " kata pemilik tinggi dan berat 160 cm dan 39 kg ini, sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. 

Film dan musik memang sudah jadi obsesinya. Untuk itu dalam bidang tarik suara ia belajar vokal di Tripel M Production dan untuk meningkatkan kemampuan di bidang akting ia gabung dengan Channel 2000.

Pelajar SMP pengagum Madonna dan Michael Jackson ini, pernah juga jadi peragawati cilik. Lantas apa cita-cita Donna sebenarnya.?. Ia tidak lantas menjawab, pikirannya menerawang, "Wah sebenarnya Donna ingin menjadi wanita yang sukses di bidang apa saja. Pokoknya menjadi orang sukses deh, kalau bisa sebagai wanita karier. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Thursday, June 18, 2026

DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON

 


DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON (berita lawas). Ingat pada aktor Sean Connery yang pernah bilang sudah jenuh memerankan tokoh superspy James '007' Bond? Maka seusai merampungkan " You Only Live Twice" (1967), ia mengumumkan untuk mengundurkan diri. Film Bond beriutnya "On Her Mayestya's Secret Service" (1969), peran Connery digantikan pemain gres asal Australia, George Lazenby.

Namun Connery melakukan 'come-backe'nya yang pertama dengan kembalibermain sebagai 007 dalam "Diamonds Are Forever" (1971). Sesudahnya barulah digantikan oleh Roger Moore yang beruntun membintangi tujuh film Bond. 

Sampai 12 tahun kemudian Connery mau mengulang peran Bond lewat "Never Say Never Again" (1983). Sebenarnya cerita asli film ini merupakan remaki dari "Thunderball" (1965). Namun tajuknya bagaikan ucapan peribahaya Connery yang ingin menyatakan "Tak Pernah Bilang Tak Mau lagi".

Apa yang membuat Connery mau kembali ke James Bond? Ada yang bilang, karena film-film yang dibintangi Connery saat itu kurang laku di pasaran, hingga ia kepingin bikin kejutan. Disamping itu, tentu saja tawaran honor besar yang menggiurkan. 

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pula dalam dunia perfilman Indonesia atas diri Didi Petet. 

Seperti diketahui, namanya mendadak melejit sejak memerankan tokoh Emon dalam "Catatan Si Boy". Padahal sebelumnya, ia sudah pernah main film "Semua Karena Ginah" yang diarahkan sutradra khusus film-film komedi berbobot Nyak Abbas Akup. Namun hasil film tersebut biasa-biasa saja hingga tak mampu mendongkrak kepopuleran para pendukungnya. 

Didi beralih jadi pendukung drama serial "Losmen". Memerankan Mas Partono, agen Biro Pariwisata yang dicemburui Mas Jarot (Eeng Saptahadi) gara-gara pernah memboncengkan Jeng Sri (Dewi Yull) dengan motornya, tapi peran Partono kemudian lenyap begitu saja. 

Kekocakan Didi lewat tokoh Emon membuat ia menjadi sangat laris diminta membintangi banyak film. Tercatat empat kali memerankan Emon, selain tiga "Catatan Si Boy" juga dalam "Bayar Tapi Nyicil" bersama kelompok Bagito Group. (Saat berita ini diturunkan belum ada Catatan Si Boy 5 yang juga memerankan Emon).

Nampaknya peran stereotype model Emon, membuat Didi sangat jenuh. Maka saat suting "Joe Turun Ke Desa" yang berlokasi di pedalaman Sukabumi, ia mencetuskan "Saya nggak mau lagi memerankan tokoh kebencong-bencongan si Emon itu".

Apa sebabnya?

"Ya nggak mau saja," sahutnya ogah berpolemik.

Memang selanjutnya peran Didi semakin bervariasi. Bahkan sudah meraih piala Citra sebagai Aktor Pembantu Terbaik 1988 lewat "Cinta Anak Jaman". Iapun membintangi beragam film antara lain "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", "Si Kabayan", "Kipas-kipas Cari Angin", "Oom Pasikom" dan "Boneka Dari Indiana".

Didi berusaha keras menghapus citra Emon dengan bermacam perwatakan berbeda. Sulit dibilang berhasil karena trademark Emon sudah begitu melekat pada dirinya. 

Tegas Ia menolak ikutan pembuatan "Catatan Si Boy 4". Terpaksa sutradara Nasri Cheppy mencari tokoh kocak lain. Hasilnya tampil Wan Abud, remaja keturunan Arab yang dimainkan oleh Fuad Alkhar, tapi sempat juga Cheppy menyelipkan dialog pertelepon dari emon, "Hallo, Ms Boy sekarang Emon lagi kuliah di Paris...".

Lalu untuk pembuatan film sempalan tersendiri "Catatan Si Emon", mau tak mau Cheppy menyeleksi sosok-sosok yang rada mirip Didi. Dipasanglah pendatang Ade Faisal untuk memerankan Emon. Hasil film ini cukup lumayan. Cuma pasti lebih baik lagai kalau diperankan langsung oleh Didi yang memang sudah memahami betul perwatakannya. 

Absennya Emon ternyata tak abadi, karena tiba-tiba muncul lagi dalam "Catatan Si Boy 5". Tetap dengan kekocakan dan kemanjaannya yangkhas, ia menyusul terbang ke San Fransisco untuk bergabung dengan Boy. 

Bahkan sesungguhnay sebagaian besar cerita "Ca-Bo 5" berporos pada Emon yang menemukan anak Bule kesasar di taman kota. Dalam satu adegan, sempat Boy yang kesal karena ulahnya menghardik , "Dasar Ban ci, reseh trus!".

Kontan Emon ngambek berat. Ia tak sudi dibilang ban ci. 

Kasus Didi nampaknya serupa dan sama dengan yang dialami Connery. Maklumlah, film-film yang dibintangi Didi belakangan ini kurang laris. Dan tentu saja iming-iming imbalan (yang konon mencapai Rp. 40 juta) plus kesempatan suting sambil jalan-jalan selama sebulan di San Fransisco. 

Enak ya. hehe. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Wednesday, June 17, 2026

REBUTAN KONTRAK BINTANG


REBUTAN KONTRAK BINTANG (BERITA LAWAS)

FERRY FADLY

Kasus rebutan bintang sandiwara radio "Saur Sepuh", Ferry Fadly antara PT. Kanta Indah Film dan PT. Tobali Indah Film, toh masih berbuntut.

Pasalnya Ferry Fadly telah di kontrak oleh Kanta untuk bermain dalam sebuah film (bukan Saur Sepuh) yang skenarionya akan di garap oleh Niki Kosasih. Ferry telah menerima uang muka kontraknya, tapi sebelum pembuatan film tersebut di mulai, Ferry melompat ke Tobali yang memasangnya sebagai pemeran utama dalam "Brahmana Manggala"

Sudah barang tentu pihak Kanta merasa berang, namun Ferry berdalih, "terlalu lama menunggu, sudah empat bulan terkatung-katung, pembuatan filmnya belum dimulai. Lamanya ini karena  menunggu skenarionya Niki yang baru selesai sekarang, " kila Produser Hendi Mulyono sambil menunjukkan skenario "Bisma Untara".

Tapi karena Ferry dianggap telah melanggar kontrak , kemungkinan besar pihak Kanta emoh memakainya lagi. Lalu bagaimana dengan uang muka yang telah di terima Ferry? Rasanya uang tersebut akan di relakan hangus saja, itu sudah menjadi milik risiko Produser. 

Justru sekarang Ferry yang akan berbalik menuntut pihak Kanta lewat pengacaranya. Dalihnya "Meskipun sudah kontrak, tapi kalau terlalu lama belum juga dimulai pembuatan filmnya, itu sangat merugikan saya"!.  Menghadapi tuntutan dari Ferry ini, pihak Kanta sudah pasaang ancang-ancang. "Ada bukti-bukti tertulis kami sudah berulangkali menghubungi Ferry untuk datang ke kantor tapi ia tidak pernah muncul sekalipun. Oh , lala. 

ONKY ALEXANDER

Masih belum selesai urusan Ferry Fadly, pihak Kanta harus berebutan Onky "Boy" Alexander dengan PT. Bola Dunia Film dan PT. Virgo Putra Film. "Lho kami tidak mencari-cari Onky, tapi dia sendiri yang datang ke kantor kami, ditemani oleh Marwan Alkatiri (penulis skenario) dan Iwan (dari Blantika Agency), untuk menawarkan dirinya,"Cerita Handi Mulyono. 

"waktu ditanya bagaimana kontraknya dengan Bola Dunia, di jawab cuma satu film saja, lanjutan "Catatan Si Boy", hingga dalam bulan Agustus bisa bermain untuk Kanta".

Padahal kemudian baru ketahuan kalau pada PT. Bola Duna Film, Onky selain bermain dalam "Catatan Si Boy II" di bawah arahan Nasry Cheppy ia juga masih harus bermain dalam dua film lagi. 

"Pacar Ketinggalan Kereta arahan Teguh Karya sebagai permeran utama menggantikan Alex Komang yang turun menjadi pemeran pembantu. Lalu satu judul film lagi, yang masih belum ditentukan siapa sutradaranya dan apa judulnya. Sedangkan sampai pertengahan Juli 1988, sutin "Catatan Si Boy II", masih belum rampung juga. 

Kemelut ini bertambah dengan kontrak yang dibuat Onky pada PT. Virgo Putra Film, menurut Ferry Angriawan, "Onky dikontrak sampai bulan Desember 1989 oleh kami. Diharapkan bisa menyelesaikan tiga film setidaknya!". 

Ada cara untuk bisa lebih cepat memakai Onky, yakni dengan membuat film patungan , joint-venture antara Virgo dan Bola Dunia. "Boleh saja,kami setuju dengan syarat pihak virgo harus mengajukan cerita-skenario untuk kami pelajari dulu", sebut Hasrat Djoeir, Produser Pelaksana Bola Dunia, "Kalau memang bagus kami tak keberatan bekerjasama dalam penggarapannya. 

FENDY PRADANA

Menyusul kasus rebutan Fendy, Si Brama Kumbara dalam "Saur Sepuh Satria Madangkara". Memang yang semula mengajak Fendy bermain film adalah Sisworo Gautama Putra untuk produksi PT. Soraya Film, "Malam Satu Suro", sebagai kekasih Suzanna. 

Sebenarnya Fendy sudah di kontrak untuk hanya bermain pada Soraya film dalam tahun 1988 ini," ujar orang Soraya, tapi kami memberinya izin secara tertulis untuk ikut mendukung Saur Sepuh demi pengembangan kariernya."

Padahal Imam Tantowi meminjam Fendy pada saat suting "Malam Satu Suro" masih belum rampung.  Kini menjelang "Saur Sepuh" melanjutkan suting ke Lampung, berbalik pihak Soraya yang ingin meminjam Fendy untuk film baru mereka "Ngepet Aji Pelebur Nyawa" (judul sementara) dengan peran utama wanita Suzanna dan Joice Erna.

Permintaan Soraya ini ditolak oleh Kanta mengingat lokasi suting yang sangat berjauhan. Apalagi seusai suting "Saur Sepuh" episode pertama akan langsung dilanjutkan dengan episode keduanya. 

"Memang benar saya pernah menandatangani surat kontrak pada Soraya, tapi saya tak menerima uang pengikat barang satu rupiahpun" mengakui Fendy Pradana yang di jumpai di studio "Saur Sepuh" di Cengkareng. 

Pasal rebutan bintang ini bisa di tambah lagi dengan kasus Hengky Tornando yang juga terlibat dua produksi bersamaan "Saur Sepuh" dan Kisah Anak-anak Adam" untuk lokasi suting di tempat yang sama di Pangandaran;

BOLEH DUA FILM

Kasus-kasus diatas seolah-olah menggambarkan para produser diadudomba oleh bintang-bintang laris. Sebenarnya kasus serupa sudah bukan merupakan hal baru dalam perfilman nasional. Bahkan pada masa jayanya Roy Marten, Yati Octavia atau Lydia Kandou, mereka biasa main rangkap empat lima judul berbarengan. 

Akibatnya terjadilah 'saling culik bintang' dari lokasi yang satu ke lokasi yang lainnya. Pimpinan unit harus lihai mengintip dimana saja sang bintang sedang bermain, begitu 'break' langsung di sabet, diboyong ke lokasi lain. 

Maka muncullah kebijaksanaan dari PARFI, "Seorang pemain utama hanya boleh bermain dalam dua judul film pada waktu yang sama".

Pada kenyataannya, bermain dalam dua judul yang di produksi oleh dua perusahaan film, tetap saja menimbulkan problema. Nampaknya peraturan itu perlu di tinjau kembali, karena bisa menjadi senjata bagi sang bintang. "Lha, organisasi kami saja mengizinkan untuk main dalam dua film berbarengan kok?! Mumpung ada kesempatan bagus, kapan lagi?! Sumber : Majalah Film NO. 057/25 tanggal 3 September - 16 September 1988


Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

HENDRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA !

 


HENRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA ! (berita lawas). Nasib memang penuh misteri, begitu juga garis kehidupan yang dialami aktor muda berbakat macam Henry Hendarto yang lagi laris ini. 

Pelakon di Kucing-kucing Hitam, jalan Makin Membara, Deru Debu, Jaka Sembung, Sinta dan Misteri, Rumahku Istanaku, Harta dan Nyawa dan masih banyak lagi, semasa kecilnya ambisi sekali ingin menjadi tentara. 

Untuk menggapai cita-citanya itu cowok keren ini mempersiapkan diri sejak SMP sudah dimulainya. Caranya. ia aktif di organisasi OSIS, ikut olahraga, renang, polo air, berlatih ilmu bela diri, Karate, Kungfu, Yoga dan berbagai aktivitas lainnya.

Pokoknya saat itu konsentrasinya hanya satu, yaitu masuk AKABRI. Maka di tempalah dirinya, bagaimana caranya supaya ia lolos seleksi. Niat itu tanpa kaya akan tercapai kalau saja pemuda yang murah senyum ini tak ada test ulang saat ia sudah melalui berbagai seleksi ke Magelang, tempat pusat pendidikan militer itu. 

Itulah yang disebut garis kehidupan alias nasib. Meski Henry yang datang dengan penuh percaya diri, justru gagal saat ia diharuskan test ulang psikotes yang sudah ditentukan itu. "Padahal saat masih di Jakarta , saya lulus begitu di test tentang psikotes. Itulah namanya nasib, siapa yang tahu," ujar Henry pasrah. 

berikut petikan wawancara dengan Henry Hendarto : 

Apakah Henry kecewa karena gagal jadi tentara? 

Kecewa sekali, karena persiapan yang saya lakukan begitu panjang dan matang. 

Anda sempat Frustasi? 

Alhamdulillah tidak, karena saya menyadari kalau manusia itu tidak selamanya berhasil dalam menggapai apa yang di cita-citakan. 

Apakah Anda tidak mencobanya sekali lagi?

Niat itu sebetulnya ada, Begitu saya koreksi ulang, langkah yagn saya lakukan saya pikir menjadi mundur. Akhirnya saya batalkan niat itu. Saya pilih untuk kuliah di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan TV. 

Mengapa bisa berubah 360 derajat dari cita-cita semula?

Kalau melihat seperti itu, memang keputusan yang saya ambil jauh berbeda. Alasan saya mengapa ingin kuliah di IKJ, karena saya punya feeling kalau jurusan yang saya pilih itu punya prospek bagus di masa akan datang. Sekedar tahu saja, saya bukan orang yagn suka mengekor kalau melakukan sesuatu termasuk dalam memilih sekolah. Misalnya belakangan ini orang ramai memilih kuliah jurusan perbankan, karena menjamurna Bank, saya malah berpikir jauh ke depan sesuai kebutuhan jaman. 

Maksudnya?

Artinya saya tidak ingin dunia menguasai saya, tapi harus dunia yang saya kuasai. 

Anda nampak cepat matang ya?

Dulu sifatku terbalik dengan sekarang. Maksudnya, dulu saya orangnya gampang marah dan emosian sekali hingga sering kali berkelahi!. 

Kenapa sifat emosi itu sulit diredam?

Mulanya saya ini anak yang penakut. Lantaran Papa yang mengajarkan saya harus berani hingga timbul niat tak mau mengalah terhadap semua orang. 

Kalau begitu Henry termasuk anak yang bandel juga ya?

Saya memang termasuk anak bandel. Bahkan waktu disekolah tepatnya di SMA 7 tempat saya bersekolah, dimana sering disebut bikin keributan. Kita semua pernah mendapat pengarahan dari Muspida yang dihadiri banyak wartawan. Ternyata dari pertemuan itu pula ada beberapa wartawan yang menawari saya untuk jadi model dan darisana pula dunia seni saya mulai. 

Selanjutnya bagaimana emosi itu akhirnya bisa hilang?

Emosi yang tinggi membuat saya jadi orang yang ringan tangan. nah, pada suatu hari begitu saya lagi berjalan bersama teman-teman, ada orang Ambon berbadan kekar yang terus memperhatikan saya. Melihat seperti itu, langsung saja darah muda saya naik hingga meng hajarnya sampai tak berkutik. 

Hati saya begitu terhenyut ketika tahu kalau dia memperhatikan saya. Sebab, katanya wajah saya mirip dengan kakaknya yang disebut Ambon putih. Peristiwa itu pula yang menyadarkan saya tidak selalu menggunakan power dalam bertindak. 

Saya mulai menyadari ternyata masih ada cara lain yang bisa kita kendalikan dengan memakai otak atau mulut kita tanpa harus dengan kekerasan. 

Pemberani dengan sesama jenis untuk selalu adu jotos, apakah dengan cewek kamu jagoan juga?

Wah, dengan wanita saya justru nggak PeDe. Makanya kalau saya suka dengan seorang wanita, saya tidak berani mengatakan cinta terlebih dahulu. Jadi jangan kaget kalau selama saya pacaran dengan wanita selalu dia yang menyatakan suka terlebih dahulu. 

Apa sebabnya hingga tidak PeDe sama wanita?

Takut di tolak saja. 

Jika diberi kesempaan hidup dua kali, Anda ingin jadi siapa?

Saya tetap ingin jadi Henry seperti sekarang. Karena saya bangga dengan diri saya sendiri. Makanya saya tetap ingin jadi diri sendiri. 

Bicara tentang karir di dunia seni, apakah diawalinya dari model?

Benar, dari model terus ke layar lebar dan baru ke layar kaca. 

Mengapa Anda sekarang lebih fokus pada layar kaca dari layar lebar?

Saya ingin serius di layar kaca saja. 

Rencana apa yagn ada di benak anda sekarang?

Setelah menekuni sebagai pemain, saya ingin juga mengembangkan karir menjadi sutradara. Mudah-mudahan saja niat itu terwujud suatu hari kelak. 

~sumber : MF 290/256/XIII/26 Juli - 8 Agustus 1997



Monday, June 15, 2026

"SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN"


 FILM "SUDAH DONG" diganti jadi "KEPINGIN SIH KEPINGIN" (berita lawas). Raviman Film sudah mulai memproduksi film ketiganya. Kembali di sutradarai Henky Solaiman berdasarkan cerita-skenario rekaan Asrul Sani. Bintang-bintang yang dipasang antara lain Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Firdha Razak, Wahab Abdi, Jajang C Noer,  dan sutradaranya sendiri ikutan pegang peranan juga. 

Judul semula "Sudah Dong" namun kemudian produsernya, manu Sukmajaya kaget sendiri manakala menyadari betapa banyak film Indonesia yang eblakangan ini pakai judul "dong-dongan". Coba saja lihat mulai "Gantian Dong", "Sabar Dulu Dong", "Antri Dong" sampai "Jangan Paksa Dong". "Wah penonton bisa kisruh nanti karena judul-judul tersebut serupa tapi tak sama," keluh Manu. 

Omong punya omong dengan beberapa relasi, akirnya ketemu juga judul baru yang dirasa lebih tepat "Kepingin Sih Kepingin". Namun judul ini nyaris di tolak pihak Deppen, dengan dalih asosiasinya ke arah yagn rada miring. Karuan saja Manu ngotot mempertahankannya. "Ceritanya tentang seseorang yang kepingin sukses dalam usaha banyak tapi tak kunjung berhasil, jadi ia cuma bisa kepingin sih kepingin. Pak Asrul sendiri sudah setuju denan judul ini."

"Terus terang ide ceritanya dari film komedi "Tootsie" (di bingangi Dustin Hoffman) yang belum lama ini ditayangkan di TVRI sebagai film cerita lepas", mengaku Manu. 

Kalau dalam film itu Hoffman harus menyamar jadi wanita agar memperoleh peran dalam sebuah serial televisi, maka sekarang Deddy Mizwar pun kudu menyaru jadi Mience supaya dapat pekerjaan. 

Saat suting di sebuah kantor dibilangan Pulo Gadung Jakarta Timur, terlihat Deddy Mizwar datang melamar pekerjaan kantor. Mula-mula ia diterima dengan baik oleh manager personalia yang idperankan oleh Henky Solaiman. Tapi manakala datang pelamar lain, seorang wanita yang berani menyingkapkan rok untuk memamerkan pahanya, sontak mata Henky 'hijau". Deddy tak jadi diterima bekerja, diganti cewek ini. Merasa sakit hari, esoknya Deddy datang lagi dengan memakai wig dan berdandan genit. Bukan cuma Henky yang matakeranjang, tapi sang boss Wahab Abdi pun langsung menerimanya. lalu apa yang terjadi selanjutnya? ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Sunday, June 14, 2026

CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA!

 


CHRISTINE TERRY, NYARIS MENGHABISI NYAWA! (berita lawas) Begitulah judul beritanya. Sudah pernah nonton Walet Merah? Tahu Nursiah? inilah pemerannya. Cewek Indo pemilik nama Luciaya Christine Terry ini mengaku kadung cinta terhadap film. Berbau klise memang, karena niatan main filmpun katanya sudah tersirat sejak usia kanak-kanak. 

Entah kenapa, kesempatan itu malah baru terwujud setelah usianya menjelang 17 tahun. Mengakunya karena belum tahu jalan, hingga ketemu Susan Aryani yang memperkenalkannya pada seorang sutradara. 

Baru tiga film dilakoninya sejak pertama kali tampil dalam film "Lenyapnya Ilmu Misteri". lainnya film "Cinta Yang berlabu" dan "Suromenggolo" garapan Dasri yacob. 

"Ya..daripada main-main nggak puguh (tidak karuan) lebih bik coba-coba main film, " kata Christine yang bungsu dari tiga bersaudara pasangan Terry Duloney asal Kanada dan Suminawaty berdarah Sunda yang lahir di Bandung 24 Desember 1973. Mungkin sudah takdir Christine tak kenal Papanya yang memutuskan kembali ke Kanada ketika ia berusia 8 bulan. 

"Katanya wakt itu mama nggak mau ikut ke Kanada, sedang papa juga nggak kembali lagi kemari, " kata Christine. Mungkin karena itulah masa remaja Christine sekarang ini sedikit labil ketimbang remaja sebayanya. Semacam Oedipus Complex, karena ia lebih menyukai laki-laki setengah baya daripada yang tergolong masih remaja. 

Itulah awal malapetaka baginya. Keinginan mendapatkan kasih sayang dari laki-laki selalu patah di tengah jalan. Lelaki dambaannya dengan figur seorang bapak ternyata telah beranak istri. 

Cinta selalu menyakitkan buat Christine, yang membuatnya nyaris menghabisi nyawanya sendiri dengan menyilet pergelangan tangan. 

"Frustasi berat deh. namanya juga cinta pertama, " akunya. Bahkan melihat bekas-bekas luka di pergelangan tangannya, sepertinya pernah kecanduan obat-obatan terlarang. 

Sadar akan kenyataan, upaya mendapatkan kasih sayang dari laki-laki yang kebapaan, selalu menimbulkan petaka, tapi pengalaman serupa masih tetap terulang. 

"Habis sukanya sama yang sudah dewasa sih. Kalau yang sebaya kayaknya gimana, gitu," kilahnya. 

Kembali ke soal film, Christine juga tidak tahu kenapa ia menyukai bidang yagn satu ini. memang ia akui di film ia dituntut lebih dewasa dalam segala hal. Karena itulah Christine mengharapkan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bisa mengangkat namanya ke jenjang popularitas. 

Akan halnya ketika ikutan film "Suromenggolo" yang berlokasi di Gunung Bromo itu, banyak hal yang membuat Christine lebih mapan. Ya dalam kepribadian yang menyangkut pergaulan juga soal karier. Itu tentu karena bisa refreshing dan menjalin kekeluargaan dengan berbagai tipe dan perangai manusia. Kebetulan, kata Christine, perannnya cukup lumayan dan bukan figuran. Apalagi Dasri Yacob, sebagai sutradara sangat supel, penuh pengertian dan sabar dalam membimbing. 

Di Film yang satu ini, Christine berperan sebagai Putri Kuning. "Ada tantangan gitu, Putri kuning itukan nakal dan suka nyeleweng. Ya.. gitu deh..," katanya. 

Main buka bukaan dong?

"Iya sih, tapi nggak terlalu gimana-gimana kok. Cuma kesannya aja, " jelas Christine. 

Memang, Christine mengaku tidak terlalu banyak aturan untuk adegan yang cenderung mengundang birahi. Yang penting baginya, cerita dan perannya bagus serta nggak mengada ada. 

Kalau kelak mengundang kesan setelah film jadi, bagi Christine bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. "Terserah apa kata penonton. Yang penting bagi Christine, tidak melakukan dengan sebenarnya. ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Thursday, June 11, 2026

SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET


 SANDY TAROREH, BINTANG REMAJA JUARA BASKET (berita lawas). Bintang cilik sering menjadi daya tarik utama sebuah film. Sebutlah dari Hollywood misalnya ada superstar-superstar cilik seperti Shirley Temple, Jackie Coogan, atau mark Lester. Dari perfilman Manadarin da Siao Pin Pin. 

Dari perfilman negeri kita pun dari masa ke masa bermunculan bintang-bintang cilik. Sebagian diantaranya setelah dewasa kembali berkecimpung main film. Sebutlah mulai dari Rano Karno, Ryan Hidayat dan tambah lagi Sandy Taroreh. 

Pada tahun 1984 saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sandy sudah diajak main film. TIdak tanggung-tanggung, perannya sebagai Sunan Kalijaga (tentu saja pada waktu masih anak-anak dan bernama Raden Sahid) dan Sunan Kalijaga dewasa diperankan oleh Deddy Mizwar. 

Selain "Sunan Kalijaga", tercatat Sandy juga pernah bermain dua  kali di bawah arahan Sophan Sophian. Yang pertama sebagai anak penari Bali (Marissa Haque) dari hubungannya dengan pria Jakarta (Frans Tumbuan) yang sebenarnya sudah beristri (Lenny Marlina) dalam film "Saat Saat Yang Indah" kalu yang kedua "Damai Kami Sepanjang Hari", dengan peran sebagai adik Iwan Fals yang yatim piatu. Sutradara lain yang pernah menanganinya , Hengky Solaiman dalam film "Neraca Kasih". 

Kemudian, karena mencapai masa peralihan usia, yakni bukan lagi anak-anak tapi juga masih belum remaja, maka Sandy pun bagai menghilang dari kesibukan berakting. Baru di tahun 1991, ia kembali diajak Sophan Sophian dalam film "Ketika Senyummu Hadir".

Sebagai pemeran seorang remaja masa kini, ternyata Sandy di pertemukan dengan Frans Tumbuan lagi yang tetap berperan sebagai ayahnya. Sedangkan peran ibunya kali ini digantikan leh Ratna Riantiarno. 

Digambarkan Sandy merupakan remaja teladan yang bukan saja serba pintar dalam segala pelajaran sekolahnya, tapi juga menjadi andalan regu basketnya. Adegan pertandingan basket dibuat dilapangan olahraga sebuah SMA kolese di Jakarta Selatan. Disinilah Sandy memperagakan kemahirannya menggiring dan meggoalkan bola ke keranjangnya. 

Sunggu diluar dugaaan siapa pun ketika kemudian terjadi peristiwa mengemparkan saat berlatih basket, kedua tangan Sandy tepat memegang sepasang buah dada Vivi Samodtro yang mulai tumbuh. 

Peristiwa di lapangan basket ini berkembang menjadi serius ketika Kepala Sekolah (Nani Widjaya) mengajukan pertanyaan, "Perbuatanmu ini disengaja atau tidak?" dan Sandy cuma menunduk bungkam tak mampu menjawab. 

Berlanjut dengan protes keras ayah Vivi (Fendy Sukowati) , tentang pendidikan seks yang baru di terapkan di SMA tersebut. Kontflik batin Sandy berlanjut karena ayahnya sendiri pun kebingungan menghadapi problema ini. 

Apalagi ketika kemudian teman-teman abang Vivi mengeroyok di jalanan. Untunglah, ia juga punya bekal ilmu bela diri karate. Untuk dimaklumi, Sandy memang benar-benar menguasai karate yang dilatihnya semenjak kecil. Maklumlah diantara kakaknya ada yang pernah menjadi karateka andalan nasional. 

Dapat diharapkan Sandy Taroreh bakal terorbit menjadi calon remaja idola sebagai pengganti bintang-bintang remaja yang kini kian meningkat usianya.  ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Monday, June 8, 2026

ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG

 


ACHMAD ALBAR, LAIN DULU LAIN SEKARANG, (berita lawas). "Tidak seluruh masa kecil saya indah. Seperti halnya manusia lain, pasti penuh dengan pengalaman asam garam. Sebab rasanya tidak berseni kalau hanya diisi oleh satu warna saja. Indah melulu atau sebaliknya, " ujar Achmad Albar yagn lebih akrab di panggil Yik. 

Masa kecil yang sulit dilupakannya adalah usia 10 tahun, ketika namanya sudah populer di masyarakat, gara-gara pada usia 8 tahun membintangi  film Jendral Kancil yang disutradarai Nya' Abbas Akup. Namun Yik menolak kalau peran utamanya pada film tersebut disangkutpautkan dengan ayahnya sebagai produser film. "Sama sekali tidak. Saya lolos test dari ratusan anak lainnya yang melamar," gelaknya, yang juga menjelaskan, bahwa saat itu juga sudah bermain musik di kelompok Bintang Remaja dan kemudian pindah ke grup Kwarta Nada yang penyanyi serta personil musiknya adalah Titi Qadarsih dan kakak-kakaknya dari keluarga Sarjan. 

Selanjutnya, Yik pada tahun 1967 seusai menamatkan SLA, berangkat ke Belanda dan sekolah musik di Bergen of Zonn. Di negeri kincir angin itu, ia mendirikan grup band dengan Ludwig Le Mans dan pakai nama Clove Leaf (Daun Cengkeh). "Sesuai dengan kelopak cengkeh 5 buah, jumlah pemain kitapun begitu," beber Yik, yang setelah kembali ke Indonesia bersama Ian Antono, Yockie Suryoprayogo, Teddy Sunjaya dan Donny Fatah tetap meracik musik rock membentuk kelompok God Bless. 

Kecintaannya pada dunia akting tetap tidak ditinggalkan, ujar rocker yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946. Beberapa peran dimainkan lewat film "Laki Laki Pilihan", Ambisi, Laela Majenun, Si Doel Anak MOdern, Duo Kribo, dan masih banyak lagi film lainnya. 

Berkat film Laela Majenun yang dibintanginya dengan Rini S Bono tahun 1975, keduanya menjadi intim dan melangsungkan pernikahan pada tahun 1978.

Sebagai pasangan suami istri dengan profesi sama, segudang pengalaman dalam karier tentu bisa diterapkan kepada ke3 putranya, Fauzy Aldino (13 th), Fakhri Albar (10 th), dan Faldi Albar (9 tahun). Seperti halnya yang sulung, Fauzy, dia senagn bidang nyanyi dan siap rekaman dengan penata musik Harry Anggoman," jelasnya. 

Lalu ada taktik lain yang dilancarkan pemilik boutique Albara Collection serta vokalis kelompok musik Gong 2000 dalam mendidik putranya yang memilih jalur seni. "Berhubung saja tahu mana ranjau-ranjau berbahaya yang tidak boleh di jelajah oleh seorang artis, maka setidaknya hal ii diberitahukan kepada anak-anak saya, " tuturnya hati-hati. ~sumber : MF No. 146/113/TH VIII, 1 - 14 Feb 1992


Saturday, June 6, 2026

LUPUS V, Menjawab Keharusan

 


LUPUS V, Menjawab Keharusan  (film lawas). Mengefektifkan hari kerja dalam upaya menekan pembengkakan biaya produksi, atau kalau bisa tidak melampaui anggaran yang disediakan merupakan suatu keharusan. Penghematan, adalah alasan yagn selalu dilontarkan pihak produser. 

Keharusan itu rupanya disadari benar oleh sutradara yang mendapatkan job. Sebagai contoh, misalnya Yasman Yazid yang baru menyelesaikan suting film Lenong Rumpi. Dalam menggarap film, terbarunya itu, Yasman berhasil menekan hari sutingnya, selesai hanya dalam 14 hari. Baginya ini adalah rekor tercepat dalam menyutradarai film cerita. 

Achiel Nasrun, salah seorang sutradara yagn juga tergolong cekatan berusaha pula menjawab keharusan tersebut. Itu ia buktikan dengan menyelesaikan suting Lupus V lebih dini dari jadwal yang  ditentukan. 

Penyelesaian Lupus V yang tetap dibintangi Ryan Hidayat dan Firda Razak sebagai bintang utama. Memang tidak secepat Lenong Rumpi. Soalnya kalau Lenong Rumpi 80% lokasinya dalam rumah, sedangkan Lupus V banyak lokasi eksterior. "Namun yang jelas, kami sudah bisa menyelesaikan lebih awal" kata Achiel tanpa merinci hari sutingnya. 

Masih dalam upaya pengeluaran biaya ringan, serial Lupus V menampilkan Pak Tile, Diah Permatasari, Minel, dan Conny Nurlita serta Anwar Fuadi, biaya produksi di pikul ramai-ramai oleh tiga produser yaitu Anton Indracaya, Rames dan Johny Pandega. Serial sebelumnya hanya di produksi PT. Andalas Kencana. 

Keterlibata Lia Swatika Film dan Pancaran Indra Cine, konon sebagai penyandang dana lebih besar dari produser pertama. Tentang hal ini, semua pihak tidak mau membeberkan alasannya. Diperkirakan film yang bertema remaja itu akan masuk pasarang jelang akhir tahun 1991 dan menyambut Tahun baru 1992.  ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991

Thursday, June 4, 2026

KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS


 KISAH KASIH PELATIH GAJAH dalam FILM CINTAKU DI WAY KAMBAS (film lawas). Kisah pelindung suaka margasatwa yang harus berhadapan dengan pemuru liar pengincar gading gajah, sudah pernah di filmkan pada tahun 1962 oleh Howard Hawks dengan judul "Hatari!" (dari bahasa suku Swahili yang berarti "Bahaya!") yang menampilkan akrot-aktris populer seperti John Wayne, Elsa Martinelli, Red Buttons, Hardy Kruger, dan Bruce Cabot. Film yang benar-benar dibuat dilokasi suaka margasatwa Tanganyika, Afrika ini memadukan aksi-petualangan dan komedi secara sangat menarik. Sampai sekarangpun, musik instrumentalnya "Baby Elephant Walk", garapan Henry ancini masih sering disiulkan orang. 

Kendati ide cerita dari Pemda Tingkat I Lampung dan PT. Inter Ksatrya Film yang dituliskan menjadi skenario oleh Teguh Karya dan difilmkan dengan judul "CINTAKU DI WAY KAMBAS" oleh sutradara pemula Iwan Wahab ini, tak bisa dibilang sebagai jiplakan, namun rasanya tetap ada pengaruh dari kesuksesan "Hatari!" tersebut. 

Di bintang utamai oleh Mathias Muchus sebagai Jaru, si pelatih gajah Ira Wibowo sebagai Mega, Perally merangkap wartawan, dan Rini S Bono memerankan si Drh, Intan. Di dukung oleh pemain-pemain Harry Capri, WD Mochtar, Chitra Dewi, Nani Somanegara, Bram Adrianto serta Krisno Bossa yang kocak-konyol sebagai pembantu pelatih gajah. 

Pertemuan pertama antara Mega dan Jaru terjadi diatas kapal Ferry dari Merak ke Lampung. Mega dan Diana mendaftarkan diri sebagai peserta rally mobil. Namun perjalanan mereka terhambat oleh amukan gajah liar yang memporakporandakan sebuah perkampungan. 

Jaru menyelamatkan Mega dan Diana yang nyaris diterjang gajah liar. Batal ikut rally, Mega yang demam panas dirawat Jaru di Pusat Latihan Gajah di Way kambas. 

Kalau semula Mega memandang Jaru sebagai lelaki kasar yang pernah dilihatnya "menyiksa" gajah, perlahan-lahan ia mulai memahami. Jaru dan kawan-kawannya sebenarnya mengemban tugas luhur dan penuh tantangan untuk memasyarakatkan gajah dalam kehidupan manusia, bahkan melindungi mereka dari ancaman pemburu liar yang mengincar gadingnya. 

Mega menyibukkan diri dengan memotret seluruh kegianan Jaru. ia tak mengikuti Diana yang pulang ke Jakarta, agar bisa lebih jauh mendokumentasikan romantika kehidupan para pelatih gajah. Sementara benih cinta mulai tumbuh dihatinya. 

Padahal ada Drh. Intan yang tengah membaktikan dirinya di PLG ini. Kecantikan dan kelembutannya membuat Jaru diam-diam mencintainya. Namun ia tak pernah berani mencetuskannya. Sesungguhnya Intan memang telah bersuamikan Budi. Tapi pengusaha muda dari Jakarta ini, pernah dipergokinya menyeleweng, berpacaran dengan Hilda. Peristiwa inilah yang membuat Intan meninggalkan rumah dan kedua anaknya. 

Konflik terjadi ketika Budi menyusul datang. Intan berkeras tak mau diajak pulang. Jaru yang berusaha melerai malah membakar kecemburuan Budi hingga menghajarnya. Anehnya polisi setempat membiarkan Budi kabur begitu saja. 

Sekarang berbalik, Mega yang merawat Jaru. Pemuda inipun mengakui dirinya lebih paham tentang gajah daripada perempuan. Tapi tak tahukah Jaru akan kasih Mega terhadapnya? Ataukah ia mengharapkan agar Intan bercerai dari Budi?Diseling dengan adegan penangkapan pembajak gading yang diorganisir, akhirnya Jarupun menemukan cinta sejatinya. pesta perkawinan Jaru pun dimeriahkan oleh pertunjukkan gajah-gajah main sepakbola. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


Wednesday, June 3, 2026

JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT"

 


JASAD KESURUPAN ARWAH BROMOCORAH "PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT" (film lawas). Ada sutradara  yang seolah mengkhususkan diri hanya menggarap film-film bertema drama, ada pula yang spesial pengarah komedi, tapi Sisworo Gautama Putra nampaknya lebih memilih untuk bikin film-film bertema horor-mistik. 

Begitu pula halnya dengan bintang langganannya, Suzanna, sejak sukses diarahkannya lewat "Sundelbolong" sampai sekarang telah bermain dalam belasan judul film dengan tema serupa. Belakangan ini, hampir semua film arahan Sisworo dan juga dibintangi Suzanna di produksi oleh PT. Soraya Intercine Film. 

Produsernya Raam Soraya memang punya dua tema film yang dijamin kelarisannya dalam peredaran. Yang pertama, serial komediannya Warkop dan yang kedua serial horornya Suzanna, "Rata-rata produksi kami berhasil mengumpulkan diatas 300ribu penonotn untuk bioskop-bioskop di Jakarta saja!" berbangga Raam sambil menunjuk bukti autentik dari catatan P.T. Perfin. 

Kali ini, Raam dan Soraya menjajal mempertemukan  Suzanna dengan Elly Ermawatie , bintang yang melejit lewat peran Mantili dalam serial "Saur Sepuh". Kalau Suzanna tetap memerankan tokoh wanita yang kemasukan arwah, bahkan jari tangannya bisa berubah menjadi pisau-pisau runcing ala iblis Freddy Krueger dalam serial horor "A Nightmare on Elm Street?. Sebaliknya Elly diserahi peran sebagai guru pesantren yang sakti. 

Kedua pemeran utama tersebut di dukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi, antaranya Yenny Farida, TIno Karno, Soendjoto Adibroto dan Clift Sangra. 

Cerita diawali dengan diangkatnya Hendro yang punya reputasi kerja gemilang, menjadi Pimpinan Proyek. Sekaligus ia menggantikan kedudukan. Burhan yang diturunkan jabatannya menjadi wakil pimpinan. 

Kedengkian Burhan kian menjadi, demi melihat Presdir Perusahaan juga menghadiahkan pada Hendro sebuah rumah besar plus berlibur bersama seluruh keluarga di Swiss. 

Dibakar rasa sirik, Burhan diam-diam menghubungi kawanan Teddy, manusia-manusia tak bermoral yang bersedia melakukan apa saja asalkan dibayar. Burhan menginstrusikan Teddy cs untuk melenyapkan Hendro yang dituduhnya telah merebut jabatannya. 

Maka pada malam, sepulang dari serah terima jabatan itulah, rumah Hendro disatroni kawanan Teddy. Dengan kebuasan tak kepalang, bukan saja Hendro yang di habisi, tapi juga isterinya, Kartika, serta putera puteri mereka, Dina dan Dino yang masih kecil-kecil. 

Berbarengan dengan berlalunya kawanan Teddy dari rumah berdarah itu, tanpa terlihat oleh mata telanjang, terjadi suatu peristiwa gaib. Jasad Kartika disusupi arwah gentayangan seorang bromocorah yang semasa hidupnya telah melakukan serangkaian pembunuhan sadis. 

Maka, pada saat-saat angker, muncullah sosok Kartika yagn menghantui penghuni baru bekas rumahnya. Demi desas desus ini didengar oleh Burhan. Iapun memanggil kembali kawanan Teddy. Di kutuknya mereka yang telah begitu kejam menghabisi nyawa seluruh keluarga, bahkan yang hendak disingkirkannya hanya Hendro seorang saja. 

Sosok Kartika yang ditunggangi arwah bromocorah mulai berkeliaran mencari orang-orang yang mencelakainya. Satu persatu anak buah Teddy, dimulai dari Mario, Petrus, Vivi sampai Tino menemui kematian mengenaskan dengan  berbagai macam cara. Sesudah Teddy sendiri juga tewas secara mengerikan, tinggallah Burhan sebagai otak kejahatan yang diteror ketakutan sendiri. 

Kejadian-kejadian menggemparkan yang sulit dijelaskan dengan logika ini, menarik perhatian Fitria, guru pesantren yang mendalami ilmu supernatural. Dengan kewaskitaannya, Fitria bisa mengetahui kalau jasad kartika ditunggangi arwah jahat. Maka dengan cara-cara khusus ia ingin membebaskan Kartika. 

Dalam pada itu, Letnan Polisi Hartono juga sibuk melacak serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi. Kendati Fitria dan Hartono menggunakan metode masing-masing yang sangat berbeda, namun akhirnya bersama-sama berhasil mengungkapkan semua rahasia. 

Melalui pertarungan seru dengan Kartika, akhirnya Fitria yang melafalkan ayat-ayat suci berhasil mengusir arwah gentayangan si bromocorah. Jasad Kartika yang terkulai, dikebumikan secara sewajarnya. Bersamaan, Hartono pun membekuk Burhan sang otak kejahatan.~~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991


LENONG RUMPI!

 


LENONG RUMPI! (film lawas). Lenong, Kesenian tradisional Betawi seakan-akan identik dengan ciri khas : Pemain patuh menggunakan dialek Betawi, berwajah kumal dan tampang "kampungan".

Sebagai kesenian tradisional, nasibnya tidak berbeda jauh dengan kesenian tradisional lainnya, dijauhi penggemar. Karena itu, tidaklah heran bila kehidupan grup lenong yang adapun bernafas Senen-Kemis. 

Dengan niat mengangkat dan mempopulerkan kembali Lenong, RCTI menyajikan acara daegelan kocak Lenong Rumpi. Lenong yang satu ini berbeda dengan lenong yang selama ini kita kenal. 

Lenong Rumpi mencoba melepaskan diri dari pakem, mengungkap tema cerita yang aktual dan yagn paling mencolok para pemainnya berwajah kece. 

Dan ternyata, acara yang ditayangkan RCTI tiap malam Minggu mencapai sasaran. Mulai anak-anak kecil sampai orang tua menggemarinya. 

Karena digandrungi masyarakat, maka produser film pun ikut gambling untuk mencari keuntungan. Adalah Parkit Film yang mengangkatnya ke layar perak.

Latah? mungkin saja ada yang bilang demikian. Sang cukong cuma bilang, "kita kan ingin ikut mempopulerkan". Maksudnya lanjut produse itu, mempopulerkan lewat bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kalau RCTI kan hanya terbatas di daerah Jabotabek atau mereka yang punya parabola, " katanya beri alasan. 

Yasman Yazid, sutradara yang mendapat kepercayaan menggarap film tersebut, mengatakan "Sekarang ini, untuk membuat film drama memang agak riskan. Pemasarannya kurang menguntungkan. Mungkin itu sebabnya produser memproduksi yang ringan-ringan saja."

Yasman Yazid pun mengaku sudah agak lama rindu menggarap tema drama, tapi, ia mau mengerti keadaan sekarang. "Birunya biru yang sudah lama siap, terpaksa harus  menunggu lagi. Dan entah sampai kapan harus menunggu. Yang jelas kita mesti s harus bersabar dulu!" Tegasnya mencoba mengerti keadaan.

Tentang film terbarunya, Lenong Rumpi yang tetap dibintangi pemain aslinya : Ira Wibowo, Roby Tumewu, Debby Sahertian, Harry De Fretes, dan Era Gloria, sutradara yang cukup lama ngendon di Parkit Film itu, mengakui cerita yang ditampilkannya adalah cerita ringan. "Namanya film komedi, kalau ceritanya berat, jadi film drama!" kata Yasman memberi alasan. 

Lalu, lanjutnya sebagai Lenong, kewajibannya yang tak ditinggalkan adalah dialek Betawinya. Cerita yang diangkat Yasman adalah tentang mahasiswa yang berasal dari daerah : Padang, Manado, Majalengka yang kuliah di Jakarta. Karena dari daerah, maka mereka harus mencari tempat kos. Dan tentu saja mereka mencari kos-kosan yang murah. 

Adalah mpok Hamida, Bang Maruloh yagn menyediakan kos-kosan murah itu. Cuma ada kewajiban. Siapapun yang kos dirumah pasangan suami-istri yang Betawi asli itu, diharuskan menggunakan dialek Betawi. Maksudnya, tentu saja agar para mahasiswa atau kalangan intelektual mau mempertahankan salah satu budaya bangsanya dan menyebarluaskan kesenian Betawi. 

Persyaratan menggunakan dialog Betawi, bagi mereka yang berasal dari daerah, memang agak merepotkan. Hanya bayar kosnya murah, merekapun menerima persyaratan tersebut. 

"Disinilah saya menggarap komedinya!" jelas Yasman. Lenong Rumpi beredar akhir tahun 1991 untuk menyambut tahun baru 1992. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991



ONKY-MITHA CINTA LOKASI

 


ONKY-MITHA CINTA LOKASI (kisah lawas). CINLOK- Cinta Lokasi? Paramitha Rusady dengan Onky Alexander terlihat intim saat suting film Catatan Si Boy V garapan Nasri Cheppy. Sikap itu 'mekar' ketika di Las Vegas, Amerika Serikat. Tiga bulan adalah waktu yang panjang untuk saling menjajaki, seiring panjangnya hari suting. 

Keduanya, menyembunyikan benang kasih itu dihadapan kru film, namun tercium juga,  Sebab di sela berak suting, mereka selalu menghindar dari yang lain. Sepulang dari luar negeri keduanya semakin intim. 

Disinggung tentang cinta itu, Onky dan Mitha mencoba menepis. Alasannya mereka sengaja melakukan pendekatan untuk mengekspresikan peran. "Yah itu terserah penilaian orang. Saya memang belum punya pendamping, semua itu tergantung Allah," kata Mitha pelan. Onky pun mengatakan hbungannya dengan Paramitha biasa-biasa saja. 

"Ia melakukan pendekatan untuk mencari ekspresi perannya di film Cabo V" katanya sambil melirik Paramitha. Selanjutnya Onky menjelaskan sesama artis selayaknya berkomunikasi. 

"Saya pasrah jika Allah menghendaki. Tul nggak mas?" cetus Onky tersenyum dan kembali melirik Paramitha yang berdiri disampingnya. 

"Kawin itu untuk selamanya. Buat saya nggak usah tergesa-gesa. Yang penting saya siap mental dalam segala-galanya", jelas Mitha mengakhiri Obrolan. ~ sumber : MF 141/108/TH.VII/23 Nov - 6 Des 1991