JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1 Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor.
Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.
Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?
"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya.
Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini.
Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur.
Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini.
Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2
~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

No comments:
Post a Comment