Friday, January 30, 2026

SUTING LANGITKU RUMAHKU


SUTING PERTAMA "LANGITKU RUMAHKU". Dua jam usai syukuran, siang itu juga suting film "Langitku Rumahku" yang digarap sutradara Slamet Rahardjo, di tempat yang sama. Tepatnya lokasi itu sekitar 2km, sejajar pintu gerbang masuk Taman Impian Jaya Ancol kearah Tanjung Priok. Tempatnya di tata sedemikian rupa, hingga bila suting dilakukan, nampak mudah di kenal lewat tenda pita biru yang bersemat di baju mereka. Di balik tenda besar tempat pesta syukuran, nampak dibangun perkampungan kumuh, laik gubuk gubuk liar, yang sudah lama ada. Sepuluh hari lamanya Satari bagian artistik dari PT. Ekapraya Film, membangun seting untuk film. 

Sementara kegiatan suting belum dimulai, nampak puluhan figuran yang kumal dan Kusam, menunggu di gubug-gubug kardus mereka. Suasananya, memang seperti berada ditengah perkampungan pemulung atau gembel saat itu. Kepulan asap dari tiap gubuk, lewat tungku dan kompor butut, berbaur dengan tumpukan karton-karton, botol-botol bekas serta rongsokan barang nampak menyampah disana. Gerobak sampah dan delapan ekor anjing yang berkeliaran, serta timbangan kusam ada tergantung di sudut kanan. Wajah para figuran yang kotor serta anak-anak yang banyak bertelanjang dada, cukup mewarnai kemelaratan saat itu. Konon para figuran yang dikerahkan dan dilibatkan untuk adegan ni, dicomot dari orang-orang asli penduduk seperti yang dituntut skenario dari daerah Rawasari dan kawasan rel kereta api Senen dan sekitarnya Ancol. 

"Tadi juga banyak yang datang untuk figuran, tapi kebanyakan disuruh pulang lagi. Dipilih yang jelek-jeleknya saja mungkin yang disuruh pulang itu kecakepan nggak cocok?, celoteh seorang sopir unit film. 

Scene 32, sedang dipersiapkan untuk diambil. Beberapa kru membantu memberikan instruksi pada para pemain. Dipinggir sungai keruh, kamera Sutomo GS sedang di set, mencoba panning, bergerak memutar 220 derajat. 

"Siap. ya...? Masing-masing sibuk. Jangan lihat kamera. Lihat tangan saya, disebelah sini mulai bergerak. Ya, mulai ya...? teriak Slamet Rahardjo sambil bertelanjang dada kepanasan. 

Lensa kamera mulai bergerak dari seberang sungai, lalangnya lalu lintas kendaraan, ke kesibukan transaksi barang-barang bekas, bapak dengan sepeda butut dan anak kecil yang kumal, serta pemulung sampai suasana perkampungan dengan kegiatan mereka. Sementara itu di dekat posisi kamera, Phil Judd , penata suara, saat itu sedang kebingungan lantaran jarum indikator bergerak nggak beres. Tangnnya sibuk mengutak ngatik peralatan, pijit tombol, goyang goyang kabel, akhirnya memberikan kode, lewat jemolan yang diarahkan ke bawah. Suara nggak jalan, Eros Djarot yang dari tadi berada dekat mereka langsung kompromi. Saat itu juga dia menyuruh kru lainnya untuk mencari alat yang rusak, ke Singapura. Akhirnya yang tadinya adegan itu akan direkam secara langsung (Direct Sound) gagal. 

Kurang lebih 3 jam, hari pertama suting dilakukan untuk mengambil adegan itu. Panasnya udara Jakarta, saat itu cukup membuat orang pada nyengir kegerahan. Christine Hakim yang saat itu berada di lokasi dengan kacamata hitamnya, langsung mojok ke tempat yang agak teduh. Sutradara yang tadi bertelanjang dada, tukar baju dengan baju kakaknya, Eros yang lebih tipis. Sementara Phill Judd yang sudah pakai topi minta untuk dipayungi disaat kerjanya. Selesai semua kegiatan, orang lebih suka untuk berada di dekat tenda besar sambil berteduh dan beristirahat. Sementara, para figuran bersama anak-anak yang ikut terlibat, langsung menyerbu meja yang ada makanan sisa syukuran. Mereka capek dan lahap atau memang mumpung ada sisa makanan? Anak-anak tampak ceria, sementara beberapa membungkus sisa makanan untuk dibawa pulang. Kacang panjang yang dibuat pagar hiasan makanan yang banyak itu, terlihat menumpuk di kepalan tangan kecil yang masih kotor lantaran make up. Mereka nampak suka untuk memanfaatkan situasi seperti itu. 

Film anak-anak yagn dibintangi oleh Banyu Biru Djarot, Pietrajaya Burnama, Reynaldo Thamrin, Totok Sutrisno, Sunaryo , dan Andri Sentanu ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak yang berbeda karena kelas ekonomi keluarganya. Keduanya memang jadi anak jaman yang hidup sekarang yang lagi ramai dibuat film anak-anak. Semua kan beda seleranya. Saya cuma tertarik untuk mencoba karena film ini dibuat secara 'direct sound', tadinya kan saya sedang mempersiapkan film "Harimau Harimau". Tapi saya juga masih mau untuk membuat film anak-anak yagn kedua, ketiga... tapi tidak mau untuk jadi spesialis film anak-anak lho?, Komentar Slamet Rahardjo yang mengakui belum punya metode untuk bikin film anak-anak ini. 

"Pokoknya untuk seting dengan figuran ini saja, satu hari harus mengeluarkan dana setengah juta, " kata Eros Djarot selaku produser film yang diangkat dari cerita Harry Tjahyono ini. 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988



No comments:

Post a Comment