Friday, January 2, 2026

SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI

 


LOKASI SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI, Lampu lampu sudah dinyalakan, pemain juga sudah bersiap-siap untuk pengambilan gambar. Malam hari yang tanpa purnama di suaka alam Pangandaran itu, Sutradara Liliek Sudjio akan mengambil adegan fight antara Sembara (Fendy Pradana) dengan anak buah Raisman (Asrul Zulmi). Adegan baru berjalan beberapa saat ketika Liliek selesai berteriak "Kamera action," seorang pemain tiba-tiba saja keluar dari kamera dan melopat-lompat kesakitan. "Cut"! teriak Liliek melihat tingkah pemainnya. 

Orang-orang saling berpandangan. Ada apa? "Gerakan itu tak ada dalam latihan kan?", tanya Liliek pada sang pemain. Sambil terus meringis sang pemain tetap tak menjawab. Setelah di selidiki, sang pemai yang meringis bukan karena Fendy terlalu keras memukul musuhnya, tapi , nah ini pemain tersebut rupanya menginjak pecahan botol dan luka. 

Loho kok bisa ada kaca di lokasi tersebut? setelah tanya sana tanya sini, ternyata seorang bule yang teler (mabuk) memecahkan botol di lokasi itu. Dan Liliek cuma bisa geleng kepala. 

Kejadian kecil itu adalah bagian dari pernik-pernik suting "Misteri Dari Gunung Merapi", di Pangandaran, jawa Barat. Suting yang direncanakan memakan waktu selama 15 hari di lokasi tersebut memang kerap terganggu bukan cuma oleh tingkah polah monyet beneran yang usil, tapi juga oleh ledakan pengunjung yang menyaksikan suting dan sulit di terbitkan. Dan memang beberapa kali suting ditunda dari jadwal yang direncanakan hanya karena repotnya ngatur pengunjung yang ingin menyaksikan cara membuat film. 

"Saya cuma ingin melihat bintang filmnya saja kok. Bukan mau tahu bagaimana bikin film. Saya sudah tahu. Pangandaran kan sudah sering di jadikan tempat bikin film," kata Yati, salah seoran gpenduduk pangandaran. Dan motivasi seperti itu nyatanya tak cuma ada dalam diri Yati, tapi hampir semua pengunjung yang berjubel "Pengin lihat dari dekat wajah Iasha", Kata Nano, penduduk Tasik Jawa Barat yagn mengaku sengaja datang ke Pangandaran untuk santai sekaligus bertemu Ida Iasha. 

Namun masyarakat yang berjubel itu nyaris tak perduli dengan kepentingan para pembuat film. "Padahal ranting pohon patah saja di Pangandaran ini, kita diharuskan bayar ganti rugi," tutur Sindhudarma Pimpinan produksi film "Misteri Dari Gunung Merapi". Tak cuma itu beberapa kru juga sering mengombel karena tiba-tiba saja kabel lampu terseret kaki pengunjung yang hilir mudik. "Tapi kit akan tak bisa mengusir mereka?" keluh kru yang lain. 

Film yang katanya menghabiskan biaya Rp. 1 Milyar ini selain di Pangandaran juga melakukan suting di Jakarta, Bogor, Tegal, Solo dan Semarang. Tapi memang saban suting di tempat tersebut kami di serbu penonton. Yang pingin kenal lah, yang minta tanda tanganlah, Tapi kita mau bilang apa? Ya, terpaksa kita layani, Kalau nggak nanti dibilang sombong", tutur Farida Pasha yang berperan sebagai Mak Lampir. 

Di Pangandaran sendiri menurut Liliek, Suting film ini selain untuk pengambilan panorama asli cerita juga  alamnya sesuai dengan tuntutan cerita juga mengambil beberapa adegan fight dan special effectnya. 

Tapi kenapa harus di banyak lokasi? Adalah Liliek Sudjio yang kemudian menjawab "Kalau mengambil secara murni dari sandiwara radionya, mestinya lokasi dan cerita film ini terjadi di Sumatera. Tapi saya tidak mau menimbulkan imej film ini dbuat hanya untuk masyarakan Sumatera. Saya ingin menjadikan film ini film untuk semua masyarakat Indonesia, dengan wawasan nusantara," katanya. "Dan itulah alasan mengapa mengambil lokasi di banyak daerah, " tambahnya. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

No comments:

Post a Comment