Showing posts with label Liliek Sudjio. Show all posts
Showing posts with label Liliek Sudjio. Show all posts

Monday, May 25, 2026

LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU


 LILIEK SUDJIO : JAKA SWARA SESUATU YANG BARU(berita lawas). Kenapa Liliek Sudjio mau menangani film musik? Bukankah dia seorang pembuat film-film horor dan laga? "Mas Lili zaman film hitam putih sudah banyakbikin film. Saya cukup percaya, dan dia juga sudah membuktikannya. Bikin film besar mampu, bikin film sederhana mampu," ucap Shindu Dharma BA, Pemimpin produksi film Jaka Swara produksi PT. Firman Mecu Alam Film.

"Jaka Swara" sendiri kalau melihat dari para pendukungya memang tak salah lagi, film musik. Ada Rhoma irama, Camelia Malik, Heidy Diana, Diana Yusuf. Semuanya penyanyi, dibantu dan diperkuat oleh Arman Effendi, Piet Pagau, Bung Salim, Ade Irawan, dll. Tapi sebenarnya film ini adalah film laga. 

Liliek sutradara yang dikenal sebagai bapak trick, syarat dengan bekal dan pengalaman yang dimilikinya. Lahir di Makassar, 14 Mei 1930. Pendidikan Sekolah Tekhnik, kemudian belajar Teknik Montage di LVN Manila, Sekolah Sinematografi di Los Angeles A.S selama dua tahun dari 1960-1962.

Menurut pengakuannya, dulu lebih banyak menggeluti dunia panggung. terjun ke film pada tahun 1949 sebagai pemeran pembantu untuk film "Sapu Tangan" yang dibikin pada tahun 1949. Tahun 1951 beralih menjadi clepperboy dan pencatat skrip di Persari. 

Akhirnya menjadi sutradara penuh pada tahun 1957 untuk film "Anakku Sayang". Dalam FFI 1955, terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya "Tarmina" Kemudian mencapai prestasi di bidang editing sebagai penyuntik terbaik pada Pekan Apresiasi film Nasional '67 untuk film Yudha Saba Desa. 

"Jaka Swara" ini, film laga dengan biaya besar. Selain kolosal, ada trick, juga ada set dan menggunakan miniatur. Film besar, biayanya juga besar. Tapi ada yang lain, ada istimewanya. jadi ada sesuatu yang baru disini, yaitu laga. Dimana Rhoma irama sebagai penyanyi, tidak hanya menyanyi kemudian ada jalinan cinta yang membalut cerita, tapi juga full laga. 

Rhoma disini terbang melayang dalam duel dengan para jawara pribumi yang jadi kaki tangan orang-orang Portugis. Reaksi Rhoma "Memang lebih berat ketimbang film-film sebelumnya. Tapi saya harus bisa, karena ini tuntutan".

Untuk pembuatan trick di film ini Liliek tidak mengalami kesulitan. "Sudah terbiasa", katanya. Ketika sekolah di Amerika dia menemui hal yang aneh-aneh dalam pembuatan film yang menggunakan trick. Terus dikembangkan disini. 

"Kita harus membuat dengan cara kita. Kalau di Amerika mereka membuat dengan peralatan yang canggih, disini ada saja gantinya, minsalnya menggunakan peralatan bambu. Tapi semua itu sebetulnya sama. Seperti glass shot dibikin efect untuk hantu. Saya pelajari dan bisa dikembangkan untuk adegan kebakaran orang tidak kena api. Jadi adegan berbahaya  itu tidak berbahaya jadinya. Dalam film "Jaka Swara"  tak ada kesukaran, karena tim kerja, misalnya untuk effect diserahkan pada El Badrun, Juru Kamera Suryo Susanto yang bsudah biasa dengan glass shot dan bekerjasama dengan saya cukup lama."

"Jaka Swara" yang baru saja menyelesaikan proses dan menuju pintu sensor menurut keterangan Liliek Sudjio punya alasan mendasar sebagai film yang memiliki nilai tambah. Rhoma sebagai raja dangdut punya penggemar dengan balutan lagu-lagu terbaru. Tambah lagi dengan penggemar film-film laga yang lagi trend masa kini sesuai tema film tersebut. ~sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990

Friday, January 2, 2026

SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI

 


LOKASI SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI, Lampu lampu sudah dinyalakan, pemain juga sudah bersiap-siap untuk pengambilan gambar. Malam hari yang tanpa purnama di suaka alam Pangandaran itu, Sutradara Liliek Sudjio akan mengambil adegan fight antara Sembara (Fendy Pradana) dengan anak buah Raisman (Asrul Zulmi). Adegan baru berjalan beberapa saat ketika Liliek selesai berteriak "Kamera action," seorang pemain tiba-tiba saja keluar dari kamera dan melopat-lompat kesakitan. "Cut"! teriak Liliek melihat tingkah pemainnya. 

Orang-orang saling berpandangan. Ada apa? "Gerakan itu tak ada dalam latihan kan?", tanya Liliek pada sang pemain. Sambil terus meringis sang pemain tetap tak menjawab. Setelah di selidiki, sang pemai yang meringis bukan karena Fendy terlalu keras memukul musuhnya, tapi , nah ini pemain tersebut rupanya menginjak pecahan botol dan luka. 

Loho kok bisa ada kaca di lokasi tersebut? setelah tanya sana tanya sini, ternyata seorang bule yang teler (mabuk) memecahkan botol di lokasi itu. Dan Liliek cuma bisa geleng kepala. 

Kejadian kecil itu adalah bagian dari pernik-pernik suting "Misteri Dari Gunung Merapi", di Pangandaran, jawa Barat. Suting yang direncanakan memakan waktu selama 15 hari di lokasi tersebut memang kerap terganggu bukan cuma oleh tingkah polah monyet beneran yang usil, tapi juga oleh ledakan pengunjung yang menyaksikan suting dan sulit di terbitkan. Dan memang beberapa kali suting ditunda dari jadwal yang direncanakan hanya karena repotnya ngatur pengunjung yang ingin menyaksikan cara membuat film. 

"Saya cuma ingin melihat bintang filmnya saja kok. Bukan mau tahu bagaimana bikin film. Saya sudah tahu. Pangandaran kan sudah sering di jadikan tempat bikin film," kata Yati, salah seoran gpenduduk pangandaran. Dan motivasi seperti itu nyatanya tak cuma ada dalam diri Yati, tapi hampir semua pengunjung yang berjubel "Pengin lihat dari dekat wajah Iasha", Kata Nano, penduduk Tasik Jawa Barat yagn mengaku sengaja datang ke Pangandaran untuk santai sekaligus bertemu Ida Iasha. 

Namun masyarakat yang berjubel itu nyaris tak perduli dengan kepentingan para pembuat film. "Padahal ranting pohon patah saja di Pangandaran ini, kita diharuskan bayar ganti rugi," tutur Sindhudarma Pimpinan produksi film "Misteri Dari Gunung Merapi". Tak cuma itu beberapa kru juga sering mengombel karena tiba-tiba saja kabel lampu terseret kaki pengunjung yang hilir mudik. "Tapi kit akan tak bisa mengusir mereka?" keluh kru yang lain. 

Film yang katanya menghabiskan biaya Rp. 1 Milyar ini selain di Pangandaran juga melakukan suting di Jakarta, Bogor, Tegal, Solo dan Semarang. Tapi memang saban suting di tempat tersebut kami di serbu penonton. Yang pingin kenal lah, yang minta tanda tanganlah, Tapi kita mau bilang apa? Ya, terpaksa kita layani, Kalau nggak nanti dibilang sombong", tutur Farida Pasha yang berperan sebagai Mak Lampir. 

Di Pangandaran sendiri menurut Liliek, Suting film ini selain untuk pengambilan panorama asli cerita juga  alamnya sesuai dengan tuntutan cerita juga mengambil beberapa adegan fight dan special effectnya. 

Tapi kenapa harus di banyak lokasi? Adalah Liliek Sudjio yang kemudian menjawab "Kalau mengambil secara murni dari sandiwara radionya, mestinya lokasi dan cerita film ini terjadi di Sumatera. Tapi saya tidak mau menimbulkan imej film ini dbuat hanya untuk masyarakan Sumatera. Saya ingin menjadikan film ini film untuk semua masyarakat Indonesia, dengan wawasan nusantara," katanya. "Dan itulah alasan mengapa mengambil lokasi di banyak daerah, " tambahnya. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989