Friday, January 30, 2026

GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON


GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON, (Cerita Lawas) Boleh percaya  tidakpun tak apa. Di zaman modern serba canggih sekarang ini, ternyata sebagian masyarakat, khususnya orang-orang tua di Jawa baik itu Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat, masih menganggap malam Jumat adalah malam "keramat" terlebih lagi malam Jumat Kliwon. 

Karena dianggap keramat, orang yang melakukan aktivitas kerja, sesaat, harus berhenti dan istirahat. Bila dilanggar akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Sekali lagi, inipun boleh percaya, tidak pun tak apa. 

Mungkin hanya kebetulan mungkin pula malam "keramat" itu minta korban. Gino Makasutji, di malam Jumat Kliwon ketika suting film "Perempuan Berambut Api" menjadi korban. Ia jatuh dari pohon besar, dari ketinggian sekitar 3,5 meter. Karena patah tulang, malam itu ia tak lagi bisa melanjutkan sutingnya. Ia dilarikan ke dokter terdekat, lalu siangharinya diobati dukun ahli patah tulang. 

Sebenarnya tengah malam keramat itu, seluruh kru dan pemain sudah istirahat menikmati kopi hangat dan makan tengah malam. Kebiasaan seperti ini menurut Lilik Sudjio, sutradara film tersebut, memang bukan hanya pada malam Jumat tapi setiap malam. 

"kita kerja, harus ada istirahatnya. Sebab kalau di paksakan pasti hasilnya juga tidak baik. Apalagi kerja di malam hari, kondisi kesehatan mudah rapuh karena angin malam. Karena itu tak mau terlalu forsir," tutur Lilik. 

Sebagian karyawan waktu itu sambng Subekto, pimpinan unit film, memang sudah ada yang mulai bekerja, mengatur lampu dan set agar segera bisa suting lagi. "Disaat karyawan itu sedang sibuk kerja, tiba-tiba Gino teriak : "Oke!" lalu ia lari memanjat pohon besar yang dijadikan rumahnya .  Sampai di atas, ...buk... ia lepas, jatuh menimpa cabang pohon, baru kemudian jatuh ke tanah, " jelas Bekto. Kalau tidak jatuh kepala Gino pasti pecah karena jauthnya kepala duluan. 

"Pohon besar itu memang angker, " tukas Gino. Waktu itu, lanjutnya , perasaan sutradara sudah memberi aba-aba siap action. "Maka sayapun segera lari," tegasnya. 

Jangankan aba-aba action, menurut Bekto, menata lampu pun belum selesai. 

Ia juga bilang, sebagai orang Jawa, juga atas saran warga setempat untuk mengadakan selamatan, telah dilakukan. "Namanya juga mohon keselamatan.Setiap kita akan melangkah, kita kan harus berdoa. Apalagi kerja di tengah hutan, dimana masih banyak pohonnya yang besar. Roh roh halus, masih banyak. Kita harus hati-hati, " kata Bekto. 

Memang, sambung Lilik Sudjio, sebagai orang beragama, berdoa sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, menjadi keharusan. "Soal tempat angker, roh halus dan sebagainya kita ini ya percaya nggak percaya.

Akibat kejadian malam Jumat Kliwon itu, sutradara, kameramen, pemain dan siapa saja yang terlibat dalam produksi film Perempuan Berambut Api selalu berhati-hati. "Apalagi film ini sutingnya hampir 75% harus adegan malam, " jelas Lilik Sudjio. 

Menceritakan pengalaman naasnya di malam Jumat Kliwon itu, Gino Makasutji pemain film tampang Indo itu bilang "Saya sebenarnya baru kali ini mengalami kecelakaan suting film. Soal adegan-adegan keras yang menuntut ketramprilan, bagi saya hal yang biasa. memang saya lebih banyak main film action. Dan kali inipun sebagai Datuk Panglima Kumbang, tokoh orang sakti , tentu saja saya harus menunjukkan ketrampilan saya. Di samping mungkin benar, tempat itu angker, saya lagi naas,".

Menurut perasaan Gino, sebelum jatuh, ada orang yang menepuk nepuk bahunya, lalu mendorongnya. Setelah itu, ia tak tahu apa-apa lagi. "Saya sadar setelah digotong, " kenangnya. 


~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

No comments:

Post a Comment