CHRISTINE ARIESTA. Namanya sempat mencuat lewat film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta". Dalam film yang sarat konflik itu, Christine Ariesta berperan sebagai Tasia berpasangan dengan pemain kelas Citra Deddy Mizwar dan bintang remaja Gusti Randa.
Tasia yang Christine perankan, dikisahkan sebagai remaja yang lahir dari keluarga broken home. Lantaran kekurangan kasih sayang, Tasia akhirnya menjadi cewek pemberontak yang badung bukan kepalang. Peran yagn dibawakan itu betul-betul menantang dan katanya bertolak belakang dengan watak aslinya.
Padahal, mahasiswi Akademi Bisnis Manajemen, Jakarta ini baru pertama kali itu terjun main film. Ia memang terbilagn bintang film berbakat. Kemampuan aktingnya cukup lumayan, diatas rata-rata pemain sekelasnya.
Sebelum main film, gadis berbibir tipis ini dikenal sebagai foto model. Wajahnya yang unik dan fotogenic kerap nampang menghiasi sampul majalah, kalender, dan iklan. Terutama iklan yang berbau kecantikan seperti shampo , bedak dan sabun.
Selain itu, Christine juga aktif di bidang drama. Khusus di bidang yang satu ini, dia sempat berlakon unik dalam sandiwara rakyat Sunda, "Nyai Kadarsih" produksi TVRI Stasiun pusat Jakarta.
Sejak tampil dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" Christine sempat berkali-kali ditawari main film panas yang berbau "ranjang" tapi tawaran itu ditampiknya mentah-mentah. Takut adegan syur? "Ah enggak, melakukan adegan seperti itu bagi saya sih nggak terlalu jadi masalah, itu kan cuma di film. Saya nggak munafik kok, " kilahnya.
"Soalnya saya melihat ada itikad tiak baik di balik tawaran tersebut. Tahu kan itikad tidak baik?, nah itulah yang bikin saya ngeri," tukasnya lagi.
Lantaran kukuh terhadap prinsip, untuk sementara ini Christine terpaksa cabut dulu dari dunia film. Daripada nganggur dan kesepian, dia kemudian minggat ke Pulai Bali. Ngapain? "Cari uang dan pengalaman, " sahutnya singkat.
Di Bali cewek kelahiran 19 April 1967 ini bekerja di Sube'c Disco Mirror Club. Konon gajinya lumayan besar. Paling tidak cukup buat 'menghidupi' diri sendiri, tanpa harus bergantung pada orangtua.
Konon Orangtua semula menentang keras dan sempat uring-uringan melihat putri tercintanya nekat jadi pekerja malam. Apalagi di diskotik yang konon selalu sesak dan ramai dibanjiri bule-bule. Christine sendiri mengakui selama bekerja disana, banyak pengunjung yang suka iseng, juga tak sedikit yagn terang-terangan mengajak kencan.
Cukup lama juga Christine malang melintang di Bali. Setelah bosan, dia lantas balik ke kota asalnya Jakarta. Lewat bantuan seorang kenalan, Christine akhirnya bekerja di Ebony Diskotik, sebagai lighting jockey.
"Tugas Saya di Ebony mengatur lampu disco, agar ruangan lebih hidup dan alunan musik terasa lebih manis bersma paduan lampu-lampu itu.
~076/44/Th.V/27 Mei-9 Juni 1989

No comments:
Post a Comment