Showing posts with label Sutradara. Show all posts
Showing posts with label Sutradara. Show all posts

Monday, March 16, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


 EDWARD PESTA SIRAIT, Periode 88/89 Edward Pesta Sirait sempat menghilang, namun kemudian muncul kembali menyutradarai film. "Soalnya proyek saya tentang film alternatif lewat video gagal, " katanya. 

Dan kegagalan itulah yang agak membawa Edo, begitu ia akrab di panggil, kembali ke Jakarta dan kembali menyutradarai film bioskop. 

Adalah "Dua diatara tiga pria" film pertamanya setelah come back. Produksi PT. Raviman Film yang berkisah tentang penyelewengan kaum lelaki seperti penelitian yang dilakukan Dr. Naek L Tobing yang pernah menghebohkan itu.

Sutradara jebolan ATNI dan Kino WOrkshop ini, memang di kenal sebagai sutradara berbakat yang melahirkan film-film bagus. Beberapa kali ia masuk sutradara unggulan FFI karena film-film yang digarapnya. Film Tinggal Sesaat Lagi juga masuk dalam film nominasi FFI 1987. 

Memulai kariernya sebagai pembantu Sutradara tahun 1966. Edo yang pernah jadi asisten show manager Sarinah ini mengawali karir sutradaranya secara penuh lewat film "Chica" tahun 1976 dan berhasil mendapatkan penghargaan pada Festival Film di Kairo setahun kemudian. Setelah itu beberap afilm lahir dan tampil sebagai film yang berhasil dan menjadi pembicaraan. Mala filmnya "Gadis Penakluk" berhasil menempatkan namanya sebagai sutradara muda berbakat dan mendapat perhatian kalangan film. 

Lantas mengapa Edo kini menyutradarai film komedi?. Hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain saja". kilahnya. Dan sesuatu yang lain itu isa jadi sesuatu yang menghibur. Dan sama seperti film-film Edo yang terdahulu, kali inipun sutradara ini tetap  melibatkan Remy Silado sebagai salah seorang pemainnya. "Soalnya saya cocok dan seide dengan Remy, " begitu dia pernah bilang. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Sunday, March 8, 2026

TORRO MARGENS

 


WAWANCARA DENGAN TORRO MARGENS! (Berita Lawas). Sementara sutradara lain tengah membelot ke sinetron sebagai pelarian tidak adanya produksi film, Torro Margens sutradara muda (kala itu) kelahiran Tegal (Pemalang?) Jawa Tengah ini justru laris manis. 

Di paruh tahun 1994 ini Torro kembali menyutradarai film Sorgaku Nerakaku dan film ini cukup sukses di gedung-gedung bioskop kelas B di Jabotabek. Sementara film sejenis sudah jeblok dan dijauhi pentonton. Karenanya, Parkit Film perusahaan yang cukup produktif memproduksi film memberikan kepercayaan lagi pada sutradara yang juga seorang dubber tangguh ini untuk menggarap film drama percintaan yang dibumbui adegan-adegan syurr. 

Apa resepnya dalam menggarap film sehingga film-filmnya banyak meraih penonton? Apakah Torro hanya mampu menggarap film-film tema esek-esek atau "Action tanggung" macam Anglingdarma 3 atau Saur Sepuh V? berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film No. 216/182/ThXI/24 Sept - 7 Okt 1994 di lokasi suting film Kabut Asmara di Anyer Jawa Barat (sekarang Banten).

Apa Yang membuat anda begitu menggebu untuk tetap menyutradarai film, sementara sutradara lain lari ke sinetron?

Kalau boleh bicara sombong, kembalinya saya menyutradarai film karena saya merasa prihatin dengan keadaan film sekarang ini yang kata orang mengalami kelumpuhan. Nah supaya jangan lumpuh total, saya berkewajiban untuk menyembuhkan kelumpuhan itu. Memang saya bukan dokter, tapi paling tidak saya berharap bisa ikut menyembuhkan dari sisi yang saya bisa. Karenanya saya cukup bangga dan senang apabila ada produser yang mengontrak saya untuk menyutradarai film. Sekarang ini saya malah sampai menolak tawaran. 

Apa alasan Anda untuk bertahan di film sementara para sutradara lain serta para produser begitu pesimis akan perkembangan dunia film kita saat ini?

Nggak tahu ya, saya kok berkeyakinan kalau film kita akan terus bertahan. Kenapa? Karena dengan perkembangan penduduk Indonesia yang begitu pesat, tentunya membutuhkan pasokan film yang begitu besar. Nah sekarang bagaimana insan film kita mencari formoulanya agar film Indonesia bisa digemari lagi. 

Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat kita di pedesaan masih membutuhkan film Indonesia. Hanya masalahnya sekarang sampai nggak film kita ke polosok tanah air. 

Ada beberapa sutradara dan produser yang mengeluhkan sistem peredaran film Indonesia yang dilakukan PT. Perfin karena tidak seperti yang diharapkan mereka. Seperti kasus film Langitku Rumahku. Apa komentar anda?

Buat saya dan film saya nggak ada masalah, buktinya Sorgaku Nerakaku bisa bertahan 3 hari di Studio 21, di Roi saya lihat sendiri sampai 14 hari, begitu juga di Kramat. Saya yakin kalau tidak ada kasus penurunan poster, akan bisa bertahan lebih lama lagi. 

Anda begitu yakin kalau film anda, Sorgaku Nerakaku bisa bertahan lama di bioskop Jakarta dan daerah. Apa alasan anda?

Karena saya punya kartu As, yakni yang mengedarkan film itu jagonya pengedar film. Selain itu film ini kan hasil kerja bareng beberapa produser (konsorsium). Begitu juga film saya sebelumnya, alhamdulillah banyak meraih penonton. 

Apa resep anda dalam menggarap film jenis action dan "esek-esek". Sehingga film anda selalu meraih penonton?

Mungkin karen saya dalam menggarap film tema esek-esek tidak terlalu nge-seks, apalagi digarap secara serampangan. Karena saya selalu memegang prinsip bahwa film bukan sekedar tontonan tapu juga tuntunan dan panutan. Dan saya selalu menggarapnya seartistik dan sehalus mungkin, sehingga tidak dibabat BSF. 

Seperti film Sorgaku Nerakaku , sebagai contoh itu film sebenarnya juga "esek-esek" tapi karena di dukung cerita yang menyentuh sehingga film itu bisa diterima masyarakat. 

Apakah film anda selalu menganut falsafah, tontonan, tuntunan dan panutan?

Selalu. Kalau hiburannya 80% tuntunannya 20%.

Sangat disayangkan oleh sebagian insan film bahwa kegairahan sesaat produksi film dibarengi ulah produser yang membuat poster film yang seronok sehingga muncul protes, dan klimaksnya terjadi penurunan poster oleh Bapfida-bapfida setempat. Apa komentar anda tentang hal ini?

Terus terang saya sangat menyayangkan dengan sikap sebagian produser kita, yang justru terlalu mengeksploitisir poster. Padahal kalau dipilih ada gambar yang bagus dan artistik yang pantas untuk dijadikan poster. Tapi anehnya produser memilih gambar yang murahan seperti itu. Akhirnya terjadi protes. Kalau sudah terlanjur seperti ini, semua kan kena getahnya. 

Pernahkah anda mengajukan keberatan pada produser masalah poster yang nggak sesuai dengan harapan anda?

Pernah!. Tapi kalau kemudian produser memberikan alasan apa yang dilakukaknya untuk meraih penonton, itu kan kaitannya dengan bisnis, jasi sudah bukan wewenang saya. 

Dengan kasus penurunan poster beberapa waktu lalu, menurut anda siapa yang salah. Produserkah, Bapfida atau BSF sebagai penjaga gawang?

Bapfida, karena poster sendiri sebelum di pasang dan diedarkan sudah diseleksi melalui badan sensor film. Nah kalau BSF sudah meloloskan itu artinya baik poster maupun filmnya sudah layak di konsumsi masyarakat. Tapi pada kenyataannya kok terjadi penurunan poster. Saya juga nggak habis pikir dengan kejadian seperti ini. 

Kalau begitu Bapfida melangkahi BSF?

Ya. Jelas dong! Karenanya untuk menjernihkan masalah ini antara Bapfida dan BSF perlu lobying serta mengadakan dialog. Supaya bisa satu kata dan satu pandangan supaya kasus penurunan poster tidak terulang lagi. 

Kenapa anda selalu menggarap tema "esek-esek" dan semi action. Apa nggak kepingin menggarap tema lain?

Lha, kalau yang datang film-film tema "esek-esek" seperti itu. Apa saya harus menolak? Sementara hati kecil saya sedih melihat film nasional lumpuh seperti sekarang. Soalnya keinginan menggarap tema lain, saya juga punya keinginan. Malah saya punya obsesi untuk menggarap film musikal seperti film-film Rhoma Irama. 

Dulu anda produktif menulis skenario, kenapa sekarang tidak lagi?

Biasanya, saya menulis kalau saya berkeinginan untuk menggarap tema lain. Seperti ketika saya menggarap film Pernikahan Berdarah dulu, saya yang menulis skenarionya. Keinginan untuk menulis skenario terus menyala dalam dada saya, cuma waktunya yang agak sulit. Karena beberapa kesibukan saya akhir-akhir ini seperti dubbing. 

Sepertinya anda setiap selesai menggarap film, kemudian break beberapa saat. Apa alasannya?

Terus terang saya tidak ingin tubuh saya di peras untuk suatu pekerjaan, dan tubuh ini kan butuh keseimbangan. Jadi begitu kerj yang melelahkan, saya mesti istirahat. Kalau dalam satu minggu kerja enam hari, ya saya mesti istirahat satu hari . Ini namanya keseimbangan Setelah itu baru kerja kembali.

Sebagai sutradara nampaknya anda sangat disiplin soal waktu, terbukti anda tidak pernah melakukan syuting hingga diatas jam 24.00 WIB?

Alasannya, jiwa raga saya dan kru, ini kan butuh istirahat dan butuh keseimbangan seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi buat apa kita kerja mati-matian, tapi kemudian  kerja teman-teman nggak maksimal. Dan saya punya jam kerja 8 jam, misalnya kita bekerja mulai pukul 10.00 pagi, pukul 18.00 mesti break. 

Disiplin waktu itu mulai anda terapkan sejak kapan?

Sejak saya mulai merasakan capai dan jenuh menyutradarai, karena sebelumnya kerja saya tidak kenal waktu. Sehingga badan saya merasakan cepat capek dan jenuh. Setelah break panjang, saya kemudian menemukan formula disiplin 8-10 jam itu tadi. 

Gaya kerja anda beda dari sutradara yang ada. Anda nampak santai dan terkesan guyon. Apa anda tidak takut dilecehkan kru anda?

Dengan sikap saya yang santai dan penuh guyon, mereka justru enjoy dalam bekerja. Bahkan mereka lebih menghargai , lebih serius dalam bekerja. 

Kenapa setiap anda menyelesaikan satu adegan kemudian anda minta tepuk tangan kepada para hadirin yang ada?

Saya hanya memberi semangat  kepada para pemain yang telah bekerja dengan baik. Karena dengan tepuk tangan, buat pemain itu merupakan penghargaan. Kalau sudah begitu bisanaya mereka akan bekerja lebih giat lagi. 

Friday, February 27, 2026

SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG

 


SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG . Mengaku lebih enak main di kelas menengah kebawah, Sisworo Gautama Putra punya prinsip yang diakuinya tidak berbelit. Dalam membuat film, katanya yang harus kita utamakan adalah penonton. "Dan itu sama seperti membuat  majalah atau koran. Pembaca harus dinomorsatukan, " ujar sutradra kelahiran Kisaran, Sumatera Utara ini. 

Karena mengutamakan keinginan penonton itulah mengapa Sisworo, seperti katanya, tak ingin menyajikan film dengan cerita yang rumit-rumit."Enak dinikmati, dan mudah dicerna, itu yang saya pegang, " kata pria kelahiran 26 Mei 1938 ini. Dan itu dibuktikannya tak cuma lewat film-film horor yang sudah menjadi trade marknya. Tapi juga lewat film komedi. "Mudah-mudahan semua film-film saya laku kok, " katanya sambil tertawa. 

Sutradara yang memulai karirnya tahun 1972 lewat "Dendam Anak Haram" ini mengaku tak punya prosensi lain dalam membuat film kecuali menyajikan hiburan pada penontonnya. Tidak juga untuk jadi sutradara terbaik?. "Itu terserah penilaian orang saja, " ujarnya diplomatis. 

Biar begitu toh Sisworo merasa bangga juga setelah sekian tahun menggeluti dunianya "Banyak bintang yang lahir dari tangan saya, " katanya sambil menyebut beberapa nama.

Dan bintang-bintang  itu menurutnya kini sudah jadi semua. Mereka jadi bintang yang populer dan terkenal . Dan saya sendiri akan terus mencari  bibit-bibit potensial untuk main film, " kata sutradara yang oleh teman-temannya ini dianggap sebagai sutradara spesialis penemu bintang. 

Tentang anggapan itu, Sisworo tak menolak tapi juga tidak menerimanya. "Yah saya pikir tidak juga. Saya cuma memulainya saja kok, " tuturnya merendah. Sisworo yang ditemui saat menyelesaikan film ke 72nya berjudul Wanita Harimau atau Santet II menyebutkan kini iapun tenggah menggodok bintang baru. 

"Pokoknya memakai bintang baru lebih mudah ngaturnya. Beda dengan bintang lama", ujarnya. 

Namun Sisworo membuktikan ucapannya ketika suting film Santet II berlangsung. Ia marah dan kesal ketika bintang-bintang tua itu harus beberapa kali latihan adegan. "Wah kalin ini gimana sih. Sudah berkali-kali main film kok main bodoh," katanya kesal setelah itu ia kembali tertawa. 

Tapi kini biar katanya ia mengacu pada selera penonton, tapi Sisworo tak ingin melakukan kesalahan lagi setelah filmnya dulu "Petualangan Cinta Nyi Blorong" menimbulkan heboh. "Sekarang saya sadar kok bahwa masyarakat kita semakin kritis, sekarang saya akan bikin film yang wajar-wajar saja dan tidak bikin penonton marah, "katanya. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Saturday, February 7, 2026

WAWANCARA KHUSUS : IMAM TANTOWI MESIN PENDOBRAK SINETRON BARU

 


WAWANCARA KHUSUS : IMAM TANTOWI MESIN PENDOBRAK SINETRON BARU.

Di tahun 80an Imam Tantowi dikenal sebagai sutradara action classic nomor wahid. Disaat maraknya sinetron action klasik, sineas kelahiran Tegal, 13 Agustus 1946 ini telah memilih menjadi penggagas, pendobrak dan penulis skenario. Tidak itu saja, sineas yang memulai kariernya di film sebagai Penata Artistik ini kut membantu produser PT. Genta Buana Pitaloka dalam menyusun adegan, trik, mendesain produksi dan ide-ide baru. Akhir tahun 2001 Imam Tantowi Sibuk melayangkan gagasan barunya, mengangkat kisah Subali dan Sugriwa, cerita wayang dengan format sinetron. 

Ditengah kesibukan suting 5 istana miniatur untuk sinetron Subali dan Sugriwa, Imam Tantowi berhasil di wawancarai di studio alam PT. Genta Buana Pitaloka di kawasan bumi perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.  berikut petikannya. 

Sinetron Borobudur membuka jalan bagi sinetron Misteri Gunung Merapi yang sudah ditayangkan lebih dari empat tahun tapi masih digemari penonton. bahkan mengalahkan sinetron-sinetron modern yang di lakoni artis model tampan dan cantik. Apa resepnya?

Ya betul sekali. Sinetron Misteri Gunung Merapi dan Angling Dharma cukup luar biasa. Kedua sinetron tersebut mendapat ranking 5 besar dari 150 judul sinetron . Ini bukti bahwa sinetron bernuansa klasik kalau digarap serius akan menjadi berkualitas dan mampu mendapat rating baik. Buktinya kedua sinetron tersebut mampu mengalahkan bintang sinetron drama dengan bayaran 20 juta. 

Kalau produser dan pembuat sinetron cepat puas dan hanya menampilkan trik dan adegan yang itu ke itu juga maka akan ditinggalkan penonton atau akan "dimakan" saingan tema klasiknya yang menjadi pengekor. 

Banyak sinetron yang di produksi akan tetapi hanya satu dua judul yang berkualitas dan memiliki pesan moral. Mengapa sinetron kita menjenuhkan?

Karena produsernya hanya mengejar keuntungan. Sehingga produser seperti itu hanya menjual mimpi dan kemewahan sehingga drama yang di produksi pun dibuat tanpa melakukan pembaruan-pembaruan. Menjadi monoton. Akibatnya sinetron yang di produksi pun tidak memiliki pesan moral. 

Dorongan yang membuat Anda memproduksi Subali dan Sugriwa yang kisahnya diangkat dari cerita wayang?

Saya tertarik menggarap Subali dan Sugriwa karena tema. Cerita wayang yang dibuat dalam konsep sinetron belum pernah tersentuh para sineas neger ini. Saya yakin tema subali dan Sugriwa mempunyai daya pikat. Karena cerita yang khas, Lewat sinetron Subali dan Sugriwa saya ingin memperkenalkan kepada generasi muda tentang budaya wayang. Cerita wayang yang sudah di popkan. Jika generasi muda sudah akrab dengan cerita wayang yang sudah dipopkan, maka saya berkeyakinan mereka akan tertarik juga dengan wayang yang sebenarnya. 

Bukankah Cerita wayang identik dengan falsafah yang biasanya memerlukan perenungan?

Tentu falsafah yang ada dalam cerita wayang akan disinetronkan tidak seberat kalau dalang Ki Mantep Sudarsono manggung. Sinetron Subali dan Sugriwa adalah cerita wayang yang diformat kedalam sinetron action klasik seperti Misteri Dari Gunung Merapi atau Angling Dharma. 

Menurut Anda apa yang jadi kendala persinetronan kita dewasa ini? 

Yang kurang dari dunia persinetronan kita adalah skenario yang bagus. Cerita boleh klasik tapi harus cerdas. Sekarang ini yang saya inginkan membuat sinetron klasik tapi cerdas dan dialognya tidak membudekan telinga. 

Sebagai penulis skenario cerita baik modern maupun action klasik saya selalu mempertanggungjawabkan dialog. Saya bersedia berhenti nulis atau menyutradarai jika konflik dengan produser mengenai dialog. 

Apa maksudnya?

Setiap membuat skenario saya selalu menjaga dan memperhatikan dialog. Kalau membuat dialog asalan saya yakin bisa menyelesaikan skenario 8 episode dalam satu bulan. Karena itu sekarang ini paling banyak 3 episode skenario yang saya selesaikan dalam satu bulan. Sebelum skenario yagn saya tulis dinyatakan selesai saya selalu membacanya berulang-ulang. Untuk apa? karena saya benar-benar memperhatikan dialog. Sekarang ini saya menemukan kepuasan dalam menulis skenario. 

Kekecewaan apa yang anda rasakan ketika skenario diubah seenaknya?

Sangat kecewa sekali. Karena sikap penulis yang seperti itu tidak diapresiasi sutradara, sering dialog diubah seenaknya. Apalagi dialog diubah ketika menunggu kamerawan sedang mengubah lampu. Skenario itu mewakili nama saya, Imam Tantowi. Saya tidak terima dong. Sekarang ini sutradara bejibun, kalau penulis skenario cuma satu dua yang berkualitas. Dalam menulis skenario action klasik seperti Angling Dharma dan Borobudur saya berusaha tidak memakai kosakata dari bahasa Inggris dan eropa lainnya, kecuali bahasa Sanskerta, Jawa dan Arab. 

Apakah Anda sekarang hanya menulis skenario untuk tema klasik?

Tidak juga, Saya sekarang menulis skenario drama modern untuk PT. Persari Film. Materi yang saya angkat cukup sederhana., cukup cerdas yakni tentang poligami dalam perspektif Islam. Ajaran Islam membolehkan pria menikah dua, tiga dan sampai empat, tapi kalau tidak mampu adil satu cukup. Tapi tema itu saya formulasikan dengan kondisi kehidupan keseharian dan digarap secara mendetail sehingga sinetron ini bisa menjadi berbobot.

Bulan Puasa yang lalu banyak sinetron bertema agama. Apa pendapat Anda?

Sinetron Ramadhan yang mereka produksi rata-rata adalah sinetron biasa yang ditambahkan Assalamu'alaikum dan adegan sholat. Adegan selingkuh tetap ada. Apakah itu Islami? Apakah dengan adanya ucapan Assalamu'alaikum sinetron itu sudah islami? Menurut produser keturunan yagn selama ini mengumbar kemewahan mungkin sinetron Islami itu ya cukup ada Assalamu'alaikum , adegan sholat dan pakai peci! Ini saya anggap tidak bermoral!

Idealnya?

Kalau mau bikin sinetron Islami maka persoalanya harus persoalan islam. Ya mengenai persoalan kehidupan umat Islam. 

Kenapa Anda sekarang lebih cenderung menjadi pencetus, penggagas dan penulis skenario daripada menjadi sutradara?

Usia saya sudah 55 tahun (2002) dan saya tahu diri bahwa usia saya sekarang ini sudah tidak cukup produktif untuk terjun kembali ke lapangan. Dalam kreatifitas tidak kenal umur tapi bagi saya sutradara yang dilapangan mengenal umur. 

Demikian kutipan wawancara dari MF No 405/371/XVII, 21 Des 2001 - 4 Jan 2002

Monday, December 29, 2025

OBITUARI NAWI ISMAIL

 


OBITUARI NAWI ISMAIL. Perginya seorang Tokoh. Nawi Ismail adalah sutradara 3 jaman, Sosok seorang tokoh perfilman yang dirawat di RS St. Carolus dan beliau meninggal dunia pada pukul 13.33 Kamis 8 Februari 1990 dan dikebumikan keesokan harinya. 

Sebelum meninggal dunia, Nawi Ismail sudah menderita penyempitan syaraf tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan, juga mengidap penyakit darah tinggi. Sementara sebelum meninggal, terjadi komplikasi karena asma kronisnya kambuh, paru-parunya terisi air dan jantungnya terserang. Sehari sebelum meninggal tepatnya Rabu Sore, almarhum Nawi Ismail dinyatakan dalam keadaan koma dan dirawat di Unit Perawatan Intensif. 

Perjalanan karirnya mulai terjun ke film setelah menyelesaikan pendidikan MULO. Film pertama, Macan Ketawa telah melibatkannya sebagai pemain film figuran, dibuat tahun 1940 setelah itu, tahun 1941 sebagai pemain pembantu dalam Melati Van Agam.

Tahun 1940an, almarhum mulai mengabdi di film sebagai pembantu juru kamera, pembantu editor dan petugas lab. Kemudian ia juga ikut main dalam film Ikan Doejoeng dan Selendang Delima pada tahun 1941.

Ia jadi tentara waktu perang kemerdekaan dan berhenti pada tahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Sebelumnya, almarhum bekerja pada Nippon Eigasha sebagai pembantu editor dan pencatat skrip film-film berita Nampo Hodo. 

Di tahun 1950, setelah keluar dari TNI, bekerja pada PFN, mengedit film cerita seperti Sedap Malam dan untuk Sang Merah Putih, sambil menuliskan skenarionya yang pertama Inspektur Rachman dimana ia juga sebagai pembantu sutradara. 

Film pertama yang di sutradarainya berjudul "Akibat" yang dibuatnya pada tahun 1951. Menyusul film Solo Di Waktu malam, yang dibuat tahun 1952. Namanya kemudian mulai diperhitungkan setelah pembuatan film berjudul Berabu produksi pertama Dewi Film tahun 1960. Sedang tahun 1970an, namanya kembali terangkat setelah film Si Pitung. Film-filmnya yang banyak melibatkan Benyamin S sebagai pemain, sangat di gemari masyarakat. Dia pulalah yang mengangkat nama Warkop lewat bisokop pada tahun 1979. Film terakhir yang di sutradarai , Si Pitung Murid yang Baik (judulnya berganti ya), tahun 1986

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Thursday, November 6, 2025

CERITA WIM UMBOH DIBALIK SUTING SERPIHAN MUTIARA RETAK!


CERITA WIM UMBOH DIBALIK SUTING SERPIHAN MUTIARA RETAK! Kalau ada orang yang paling nekat waktu menyelesaikan filmnya barangkali bisa di sebut nama Wim Umboh.  Oran gyang dekat dengan Wim saat membuat film tentu memiliki sejumlah kisah tetang kenekatan Wim. Bagi Wim Umboh sendiri , semboyan apapun bisa di kerjakan dan didapat selalu di pegang. Dan ucapan khas Wim selalu : Bisa kok! Bisa Kok!. 

Suatu ketika Wim Shooting film Serpihan Mutiara Retak di Rumah Sakit Budi Kemulyaan. Ceritanya bintang cilik Arbis lagi sakit jantung dan Wim membutuhkan  alat pernafawan. Karena tanpa persiapan apapun tentu saja alat itu susah di dapat. Asisten sutradara Wim, Ucik Supra di suruh cari kesana kemari namun tidak ada. 

"Semua di pakai pasien Oom" ujar Ucik. Tapi Wim tak mau tahu. "Alat itu harus di dapat, " perintah Wim. 

Akhirnya WIm dan Ucik cari sendiri alat tersebut dari ruang ke ruang, "Semua di pakai Oom, nggak bisa sekarang," ujar suster. 

"Harus bisa dan cari lagi. Bisa kok, balas Wim. Akhirnya Wim dan Ucik naik turun gedung rumah sakit dan keluar masuk ruang. Setiap pasien di tengok tapi memang alat pernafasan di pakai semua. Wim akhirnya menuju kamar emergency. Tak peduli larangan suster, Wim memeriksa alat yang di carinya dari tempat tidur ke tempat tidur . Semua di cari. "Nggak bisa Oom," Ucik sudah nyerah. "Bisa kok, bisa kok," timpal Wim. 

Setelah membuka  tiap ruang dan selimut pasien, akhirnya Wim menemukan alat pernafasan yang di carinya dari pasien yang baru saja meninggal dunia. Alat itu langsung di comot dan diberikan pada Ucik. "Ci, bisa kok, bisa. Nih cepat bawa ke lokasi suruh anak-anak siap shooting," perintah Wim dengan nafas ngos ngosan. Maklum untuk mencari alat ini saja Wim terpaksa memasuki hampir tiap ruang di rumah sakit tersebut dan memakan waktu sekitar 4 jam lebi. 


~Film 012 Oktober 1985

Saturday, April 19, 2025

R A KARTINI, KARYA PUNCAK SJUMANDJAYA, MAHA KARYA DALAM KHASANAH FILM NASIONAL


KARYA PUNCAK SJUMANDJAYA, RA KARTINI MAHA KARYA DALAM PERFILMAN NASIONAL. Anda pasti pernah menonton berpuluh dan mendengar tentang beratus film nasional, tapi film apakah yang benar-benar membuat anda merasa begitu bangga, begitu terharu, begitu tersengsam, dan begitu berkesan?

Kalau jawabannya belum ada, maka itu berarti anda belum nonton film "R.A. KARTINI"- yang merupakan salah satu monumen kebanggaan dunia perfilman Indonesia. 

Semenjak masih dalam penjajagan pembuatannya, film ini memang telah menggemparkan. Tiada satu massmedia cetak pun yang tak menulis tentang kegiatan shooting dan aneka seluk beluknya hingga kliping tentang R.A Kartini bisa menjadi satu buku tersendiri setebal beratus-ratus halaman. 

Yah siapakah yang belum tahu tentang RA KARTINI, pahlawan pencetus ide emansipasi di kalangan wanita Indonesia? Begitu banyak buku dan risalah yang telah di tulis mengenai dirinya, bahkan tak sedikit pula yang di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing seperti : Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang dan lain-lainnya lagi. 

Kini, Asosiasi Importir Film Eropa-Amerika bekerjasama dengan PT. NUsantara Film, mewujudkan riwayat hidup lengkap R.A. KARTINI, dari awal kelahirannya, kehidupannya, sampai pada tarikan nafas terakhirnya. Dituangkn ke dalam bahasa film dengan luar biasa cermatnya oleh Sutradara Terbaik Sjumandjaya dan aktris Terbaik Jenny Rachman sebagai R.A KARTINI. Di hiasi pula oleh musik indah yang ditata jitu sekali pada setiap adegannya oleh musisi kenamaan, Sudharnoto!.

Reputasi Sjuman tak usah di ragukan lagi. Hampir dalam setiap Festival Film-film karyanya memborong sejumlah Piala Citra antara lain di film "Si Mamad", "Si Doel Anak Modern", "Laila Majenun" dan "Kabut Sutra Ungu".

Jenny Rachman sendiri secara berturutan dalam dua tahun terakhir terpilih menjadi Pemeran Wanita Terbaik dalam film "Kabut Sutra Ungu" dan "Gadis Marathon".

Pemeran-pemaran penting lainnya dalam film besar ini, terdiri dari pemain-pemain watak yang telah terseleksi ketat. 

BAMBANG HERMANTO, yang pernah merebut gelar "The Best Actor" di Festival Film International Moskow 1962 berkat permainannya dalam film "PEJUANG" karya sutradara  Usmar Ismail, dalam film RA Kartini berperan sebagai suami R.A Kartini, Bupati REMBANG, R.M.A.A Djojodiningrat.

NANNY WIJAYA, pemain kawakan yang sudah tidak asing lagi, dalam peranan yang paling menantang sepanjang kariernya, sebagai Ibu Kandung R.A KARTINI, Yu Ngasirah, wanita biasa berhati emas yang cuma bernasib sebagai garwa ampel (selir) dari Bupati R.M.A.A Sosroningrat.

WISNOE WARDHANA merupakan pemain pilihan Sjumandjaya sendiri untuk menghidupkan pribadi Bupati Jepara, R.M.A.A Sosroningrat yang teramat mengasihi putrinya, RA. Kartini.

ADI KURDI, aktor penuh harapan, berperan sebagai kakak kandung RA Kartini, R.M. Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang membela bangsa dalam forum Internasional.

DANNY DAHLAN, peragawati populer, sebagai adik kandung R.A Kartini, R.A Kardinah yang menjadi isteri Bupati Pekalongan. 

CHINTAMI ATMANAGARA, bintang dan biduanita remaja top sebagai LETSY DETMAR, gadis Belanda yang menjadi Sahabat baik R.A Kartini.

dan masih banyak lagi pendukung-pendukung film besar ini. 

R.A Kartini merupakan film yang panjang lebih dari 2 jam, hampir dua kali panjang rata-rata film nasional biasa, namun sama sekali tak terasa kejenuhan dalam menyimak adegan demi adegan yang di shoot oleh Juru Kamera Soetomo Ganda Soebrata dan kemudian di sunting oleh Editor kawakan Soemardjono. 

Menurut para kritisi, film ini bukan sekedar mengenai riwayat dan zaman R.A Kartini, namun juga dengan indah sekali menggugak semangat perjuangan bangsa kita sampai kapanpun. 

R.A Kartini merupakan teladan film cultural educatif . R.A Kartini tayang tepat pada hari ulang tahun RA. Kartini, 21 April 1983 serentak di bioskop utama di kota-kota besar di tanah air. 


~~ sumber tulisan Indonesian Film Festival Information 1983~~

Wednesday, April 16, 2025

BUDIATI ABIYOGA

 


BUDIATI ABIYOGA, PRODUSER PT. PRASIDI TETA FILM

Budiati Abiyoga sudah terkenal sebagai produser film yang idealis. Film-film produksinya diawali dengan "Hati Yang Perawan' dan "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" keduanya di sutradarai oleh Chairul Umam , sampai ke "Noesa Penida" dan "Cinta Dalam Sepotong Roti", kendati tak selalu meraih sukses komersial, namun diakui mempunyai bobot artistik. 

Kalau bicar hasil pemasarannya, memang yang paling berhasil adalah "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" sedangkan "Hati Yang perawan" , "Ayahku" dan "Noesa Penida" terus terang merugi. Bahkan "Jawara Sok Kota" juga belum beredar (cat. juli tahun 1991).

Tapi tidak berarti Budiati lantas macet berproduksi. Tidak, justru ia merencanakan terobosan baru. Menjalin kerjasama dengan pihak Belanda untuk memproduksi sebuah film idealis lagi. 

Ceritanya diangkat dari novel berjudul "Oeroeg" karya Hella Hassa, Novelis wanita berkebangsaan Belanda yang pernah tinggal di Indonesia, sudah memberi persetujuan bahkan merasa gembira kalau kelak masih sempat menonton filmnya. 

Untuk merintis upaca ini, berangkatlah Budiati bersama sutradara Garin Nugroho ke Amsterdam Belanda di sambut oleh produser Paul Vorthuyasen yang menyiapkan sutradara Hans H. Problemnya "Siapakah Co Sutradara dari Indonesia yang berbakat mendampinginya?.

Semula memang di calonkan Garin, sayangnya ia sudah mulai terlibat proyek lain. Kemungkinan akan diminta Arifin C Noer, atau Chaerul Umam untuk bekerjasama dengan Hans.

Oeroeg menceritakan tentang nasib seorang blasteran yang beribu perempuan Jawa berayahkan pria Bellanda. dengan seting lokasi awal abad ini. Untuk keperluan ini, tengah di cari tokoh ibu yang dominan perempuan Jawa. Semula Budiati mengusulkan artis Rima Melati yang kebetulan masih berinteraksi di Belanda. Namun Vorthuyyesen menilainya kurang mewakili sosok wajah perempuan Jawa yang lugu. Suami Rima, Frans Tumbuan yang pernah bersekolah di Belanda masih ingat betul, "Pada dekade1950an novel Itu malah di jadikan bacaan sastra wajib di sekolah-sekolah. 

Sayangnya di Indonesia sendiri novel tersebut tak populer. 

Thursday, October 24, 2024

NAWI ISMAIL

 


NAWI ISMAIL merupakan seorang sutradara film handal yang sudah banyak menyutradarai film. Pada kesempatan ini komunitas kpfij mencoba mengupas Nawi Ismail di kutip dari buku petunjuk FFI 1983. Lahir 18 April 1918. Nawi Ismail namanya lebih di kenal sebagai sutradara film-film Benyamin S.

Selesai sekolah Nawi bekerja di percetakan Kolf Jakarta dan berhenti tahun 1930 untuk main dalam film "Macan Tertawa" seabgai figuran, lalu "Melati Van Agam"(1940) sebagai pemain pembantu. Tahun 1940 dia bekerja pada "Standard Film" sebagai pembantu juru kamera merangkap pembantu editor di laboran sambil juga ikut main, diantaranya dalam "Ikan Duyung" (1941), "Selendang Delima" (1941). Pada jaman Jepang Nawi bekerja pada "Nippon Eigasha" sebagai pembantu editor dan juru catat skrip film-film berita Nampo Hodo. 

Waktu perang Kemerdekaan dia masuk TNI dan berhenti ditahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Dalam tahun itu juga dia kembali ke film menjadi karyawan PFN. Waktu itu, selain film-film berita dan dokumenter dia juga mengedit film-film cerita, diantaranya "Untuk Sang Merah Putih" (1950), "Sedap Malam" produksi perdana PERSARI (1950).

Sementara itu dia juga mulai menulis skenario, yang pertama untuk "Inspektur Rachman" (1950) sembari merangkap sebagai pembantu Sutradara. Tahun "A1951 dia mulai menyutradarai sendiri pertama kali untuk "Akibat", kemudian "Solo di Waktu Malam" (1952). Setelah itu Nawi banyak menyutradarai, namun namanya lebih dikenal sesudah "Berabe" produksi pertama Dwi Film tahun 1960, lalu diulanginya lagi lewat film-film seri "Si Pitung" diawal 1970-an yang juga di produksi Dewi FIlm. 

Ketrampilan memilih dan mengolah film-film yagn di senangi masyarakat makin tampak lewat film-film seri Benyamin, seperti "Benyamin Biang Kerok" (1973), "Benyamin Brengsek" (1974, "Benyamin Koboi Ngungsi" (1973), "Benyaming", lalu di awal 1978 menyutradarai "Zaman Edan".

Tidak hanya film komedi , film film drama dan laga juga menjadi film yang di garap oleh Nawi Ismail. 

Nawi Ismail tutup usia pada 8 Februari 1990. 

Ada yang masih ingat film-filmnya? 





Tuesday, September 10, 2024

ALAM RENGGA SURAWIDJAYA, AKTOR DAN SUTRADARA FILM


 ALAM RENGGA SURAWIDJAYA atau lebih di kenal dengan Alam Surawidjaya memiliki nama lengkap Alam Rengga Rasiwan Kobar Surawidjaya, lahir di Sindang Laut Cirebon, 24 Desember 1924. Lepas dari sekolah Menengah Teknik Tinggi, ia belajar akting di "Cine Drama Institut" di Yogya pada masa revolusi. Sebelum ke film, Alam aktif main drama panggung dan menjadi sutradara grup "Reaksi Seni" Yogya disamping menyelenggarakan acara Sastra di RRI setempat. Sosoknya yang sederhana, namun siapa sangka karyanya banyak sekali baik sebagai pemain maupun sutradara film.


Terjun ke film sebagai Asisten Sutradara "Taufan" (1952) dan menjadi sutradara penuh untuk film "Manusia Suci" (1956). Ia di kenal sebagai sutradara spesialis pembuat film perang, walaupun ia menolak gelar itu dan mampu membuat film jenis lain seperti ia buktikan dengan "Nyi Ronggeng" (1970).

Alam di kenal sebagai sineas yang punya dedikasi tinggi dan gigih dalam berkarya. Ia sempat menjadi Anggota Dewan Film Nasional, Ketua Kine Klub DKJ, dan dengan istrinya Deliana Surawidjaya, ia pun membina anak-anak lewat perkumpulan sandiwara "Kak Yana".
Alam Surawidjaya tidak saja terkenal sebagai Sineas, tetapi ia pun sering tampil sebagai pemain seperti dalam film "Menyusuri Jejak berdarah" (1967), "Si Bongkok" (1972), "Cinta Pertama" (1973), Dimana Kau Ibu (1973), "Perkawinan Dalam Semusim" (1977), "Matinya Seorang Bidadari", "Perawan Buta" dan permainannya yang sangat menonjol dan mendapat sambutan dalam film "Si Buta Dari Goa Hantu".

Dalam menangani setiap filmnya, Alam selalu sungguh-sungguh dan sangat hati-hati, karena itulah ia tidak terlalu produktif. Hasil karyanya yang menarikyaitu "Daerah Tak Bertuan" (1963), "Perawan di Sektor Selatan" (1972), "Bandung Lautan Api " (1975) dan "Janur Kuning" (1979).

Anak Lurah yang punya saudara 13 orang ini, juga membuat film-film Dokumenter, antara lain : "Keluarga Berencana", "Wayang Golek", "Bursa Efek Efek", dll. Oleh karena Serangan penyakit jantung, Sutradara yang tak ada duanya dalam soal film perang ini menghembuskan nafas yang terakhir hari Senin dinihari tanggal 12 Mei 1980 di ruang ICCU RS Ciptomangunkusumo.

Sumber : Buku FFI 1985

Dikutip dari wikipedia, berikut film-film yang pernah di bintangi maupun yang di sutradarai oleh Alam Surawidjaya

SEBAGAI AKTOR
Taufan (1952)
Si Djimat (1960)
Suzie (1966)
Mendjusuri Djejak Berdarah (1967)
Si Buta dari Gua Hantu (1970)
awan Djingga (1970)
Perawan Buta (1971)
Banteng Betawai (1971)
Kabut Kintamani (1972)
Si Bongkok (1972)
Flamboyan (1972)
Pemburu Mayat (1972)
Anjing-Anjing Geladak (1972)
Tabah Sampai Akhir (1973)
Pencopet (1973)
Dimana Kau Ibu (1973)
Si Rano (1973)
Rio anaku (1973)
Si Mamad (1974)
Cinta Remaja (1974)
Lupa Daratan (1975)
Jinak Jinak Merpati (1975)
Wulan Di Sarang Penculik (1975)
Anak Emas (1976)
Perkawinan Dalam Semusim (1976)
Christina (1977)
Pembalasan Si Pitung (1977)
Istriku Sayang Istriku Malang (1977)
Ridho Allah (1977)
Pahitnya Cinta Manisnya Dosa (1978)

SEBAGAI SUTRADARA
Manusia Sutji (1955)
Detik detik Revolusi (1959)
Kenangan Revolusi (1960)
Sehelai Merah Putih (1960)
Sipendek dan Sri Panggung (1960)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Ekspedisi Terakhir (1964)
Luka Tiga Kali (1965)
Cheque AA (1966)
Nyi Ronggeng (1969)
Perawan di Sektor Selatan (1971)
Bandung Lautan Api (1974)
Janur Kuning (1979)

Monday, July 29, 2024

SISWORO GAUTAMA PUTRA

 


SISWORO GAUTAMA PUTRA orang mengenalnya sebagai sutradara dari film horor, padahal menurut pengakuannya yang di kutip dari Majalah film, ia bisa membuat film apa saja. Sutradara kelahiran Kisaran, Sumatera Utara pada tanggal 26 Mei 1938 tersebut membuat film horor karena kontraknya demikian. 

Sisworo menjadi sutradara secara penuh pada tahun 1972 melalui film "Dendam Anak Haram". Pemilihan Suzanna sebagai pemain pada film-filmnya yang 75% merupakan film Horor sejak ia bergabung dengan PT Soraya Intercine Film pada tahun 1978, bukanlah atas kehendaknya namun semata-mata karena Sisworo dan Suzanna sama-sama di kontrak oleh PT. Soraya. 

Sisworo biasanya membuat film jenis horor legenda semacam Nyi Roro Kidul. Dari tangannya pula nama SUZANNA melambung sebagai Ratu Horor. 

Perjalanan Sisworo Gautama Putra dalam dunia film dimulai dengan kursus Asisten Sutradara oleh Kotot Sukardi tahun 1961 di Sanggabuana Studio - Jakarta. Putra pasangan dari Chose Gautama dan Aminah ini sebelum ikut kursus asisten sutradara telah menjadi karyawan film dengan profesi pencatat skrip dan asisten unit. Kemudian menjadi asisten sutradara di lanjutkan Gema Masa Film. Selain sebagai sutradara, Sisworo juga pernah menjadi pengisi suara (Dubber). 

Film-film yang pernah terlibat adalah Tujuh Prajurit, Jakarta By Pass, Bhakti, Buruh Pelabuhan, Ekspedisi Terakhir Pisau Komando dengan jabatan profesi dari tahun 1962 sampai 1965. Sisworo juga sempat bekerja di beberapa perusahaan seperti di PT. Cerana Film sebagai asisten Sutradara (1964), PT. Kartika Bina Prima, Honey Money (1970) sebagai asisten sutradara. Di CV Indonesia Film Production (Film Rakit, Impas), di PT Daya Isteri Film (1972) Film Pendekar Bambu Kuning sebagai asisten Sutradara, baru pada tahun 1972 Sisworo menjadi Sutradara Penuh dalam film "Dendam Si Anak Haram". Sejak saat itulah Sisworo menjadi sutradara hingga puluhan film ia sutradarai, 

Di lokasi suting Sisworo terkenal orang yang keras, bicaranya blak blakan hingga banyak artis menangis dibuatnya meski sebenarnya ia adalah sosok yang humoris.


Sisworo Gautama Putra meninggal dunia karena Serangan jantung pada tanggal 5 Januari 1993 jam 05.30 WIB di RS Tebet - Jakarta Selatan. 

Sumber tulisan : Majalah Film 

Berikut film-film dari Sisworo Gautama Putra baik sebagai Asisten Sutradara, Sutradara maupun sebagai penulis naskah yang di kutip dari wikipedia. 

1962Tudjuh Prajurit
1963Djakarta by Pass
1964Ekspedisi Terakhir
1965Buruh Pelabuhan
1970Honey, Money and Djakarta Fair
1971Di Udjung Badik
1972Angkara Murka
1972Dendam si Anak Haram

Lima Jahanam
1973Marabunta
Manusia Terakhir
1976Rajawali Sakti
Cinta Kasih Mama
1977Papa
Dua Pendekar Pembelah Langit
1978Primitif
1980Aladin dan Lampu Wasiat
Pengabdi Setan
1981Jaka Sembung Sang Penakluk
Srigala
Sundel Bolong
1982Nyi Blorong
1983Nyi Ageng Ratu Pemikat
Perkawinan Nyi

Blorong

1984Usia Dalam Gejolak
Telaga Angker
1985Bangunnya Nyi Roro Kidul
Ratu Sakti Calon Arang
1986Malam Jumat Kliwon
Petualangan Cinta Nyi Blorong
1987Samson dan Delilah
1988Malu Malu Mau
1989Wanita Harimau / Santet II
Pusaka Penyebar Maut
1990Titisan Dewi Ular
1991Perjanjian di Malam Keramat
1992Kembalinya si Janda Kembang
1992Ajian Ratu Laut Kidul
1993Misteri di Malam Pengantin