Showing posts with label cerita film jadul. Show all posts
Showing posts with label cerita film jadul. Show all posts

Thursday, June 18, 2026

DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON

 


DIDI PETET, NEVER SAY NEVER EMON (berita lawas). Ingat pada aktor Sean Connery yang pernah bilang sudah jenuh memerankan tokoh superspy James '007' Bond? Maka seusai merampungkan " You Only Live Twice" (1967), ia mengumumkan untuk mengundurkan diri. Film Bond beriutnya "On Her Mayestya's Secret Service" (1969), peran Connery digantikan pemain gres asal Australia, George Lazenby.

Namun Connery melakukan 'come-backe'nya yang pertama dengan kembalibermain sebagai 007 dalam "Diamonds Are Forever" (1971). Sesudahnya barulah digantikan oleh Roger Moore yang beruntun membintangi tujuh film Bond. 

Sampai 12 tahun kemudian Connery mau mengulang peran Bond lewat "Never Say Never Again" (1983). Sebenarnya cerita asli film ini merupakan remaki dari "Thunderball" (1965). Namun tajuknya bagaikan ucapan peribahaya Connery yang ingin menyatakan "Tak Pernah Bilang Tak Mau lagi".

Apa yang membuat Connery mau kembali ke James Bond? Ada yang bilang, karena film-film yang dibintangi Connery saat itu kurang laku di pasaran, hingga ia kepingin bikin kejutan. Disamping itu, tentu saja tawaran honor besar yang menggiurkan. 

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pula dalam dunia perfilman Indonesia atas diri Didi Petet. 

Seperti diketahui, namanya mendadak melejit sejak memerankan tokoh Emon dalam "Catatan Si Boy". Padahal sebelumnya, ia sudah pernah main film "Semua Karena Ginah" yang diarahkan sutradra khusus film-film komedi berbobot Nyak Abbas Akup. Namun hasil film tersebut biasa-biasa saja hingga tak mampu mendongkrak kepopuleran para pendukungnya. 

Didi beralih jadi pendukung drama serial "Losmen". Memerankan Mas Partono, agen Biro Pariwisata yang dicemburui Mas Jarot (Eeng Saptahadi) gara-gara pernah memboncengkan Jeng Sri (Dewi Yull) dengan motornya, tapi peran Partono kemudian lenyap begitu saja. 

Kekocakan Didi lewat tokoh Emon membuat ia menjadi sangat laris diminta membintangi banyak film. Tercatat empat kali memerankan Emon, selain tiga "Catatan Si Boy" juga dalam "Bayar Tapi Nyicil" bersama kelompok Bagito Group. (Saat berita ini diturunkan belum ada Catatan Si Boy 5 yang juga memerankan Emon).

Nampaknya peran stereotype model Emon, membuat Didi sangat jenuh. Maka saat suting "Joe Turun Ke Desa" yang berlokasi di pedalaman Sukabumi, ia mencetuskan "Saya nggak mau lagi memerankan tokoh kebencong-bencongan si Emon itu".

Apa sebabnya?

"Ya nggak mau saja," sahutnya ogah berpolemik.

Memang selanjutnya peran Didi semakin bervariasi. Bahkan sudah meraih piala Citra sebagai Aktor Pembantu Terbaik 1988 lewat "Cinta Anak Jaman". Iapun membintangi beragam film antara lain "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", "Si Kabayan", "Kipas-kipas Cari Angin", "Oom Pasikom" dan "Boneka Dari Indiana".

Didi berusaha keras menghapus citra Emon dengan bermacam perwatakan berbeda. Sulit dibilang berhasil karena trademark Emon sudah begitu melekat pada dirinya. 

Tegas Ia menolak ikutan pembuatan "Catatan Si Boy 4". Terpaksa sutradara Nasri Cheppy mencari tokoh kocak lain. Hasilnya tampil Wan Abud, remaja keturunan Arab yang dimainkan oleh Fuad Alkhar, tapi sempat juga Cheppy menyelipkan dialog pertelepon dari emon, "Hallo, Ms Boy sekarang Emon lagi kuliah di Paris...".

Lalu untuk pembuatan film sempalan tersendiri "Catatan Si Emon", mau tak mau Cheppy menyeleksi sosok-sosok yang rada mirip Didi. Dipasanglah pendatang Ade Faisal untuk memerankan Emon. Hasil film ini cukup lumayan. Cuma pasti lebih baik lagai kalau diperankan langsung oleh Didi yang memang sudah memahami betul perwatakannya. 

Absennya Emon ternyata tak abadi, karena tiba-tiba muncul lagi dalam "Catatan Si Boy 5". Tetap dengan kekocakan dan kemanjaannya yangkhas, ia menyusul terbang ke San Fransisco untuk bergabung dengan Boy. 

Bahkan sesungguhnay sebagaian besar cerita "Ca-Bo 5" berporos pada Emon yang menemukan anak Bule kesasar di taman kota. Dalam satu adegan, sempat Boy yang kesal karena ulahnya menghardik , "Dasar Ban ci, reseh trus!".

Kontan Emon ngambek berat. Ia tak sudi dibilang ban ci. 

Kasus Didi nampaknya serupa dan sama dengan yang dialami Connery. Maklumlah, film-film yang dibintangi Didi belakangan ini kurang laris. Dan tentu saja iming-iming imbalan (yang konon mencapai Rp. 40 juta) plus kesempatan suting sambil jalan-jalan selama sebulan di San Fransisco. 

Enak ya. hehe. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Monday, January 19, 2026

ANNA TAIRAS, KABUR DARI TEMPAT SUTING KARENA TAKUT DISURUH BUGIL

 


ANNA TAIRAS!. Film pertamanya "Bali Connection" arahan Sundjoto Adibroto. Dalam film yang seluruhnya di buat di Bali itu, Yohana yang lebih akrab di panggil Anna bermain sebagai Mei Lin gadis Cina, tujuh diantara ke 38 film yagn sempat dibintangi oleh si bungsu dari enam bersaudara keluarga Pak Tairas ini tergolong film buka-bukaan yang sempat memberikan kesan lain terhadap Anna Tairas. 

Dimulai dengan "Kupu Kupu Putih" arahan Bobby Sandy. Di sini pecinta film mulai bertanya melihat perubahan sikap Anna Tairas. Dia muncul sebagai perempuan penggoda yang menampilkan adegan cukup berani. Mulai dari cium bibir sampai ke paha, lengkaplah film itu mengekspose bagian tubuh Anna Tairas. 

Sejak film "Kupu Kupu Putih" banyak sutradara memburunya untuk mengeksploitir lekuk tubuh Anna Tairas. Diantaranya "Mandi Dalam Lumpur", "Bibir Bibir Bergincu" dan sebagainya. Semuanya ada tujuh film yang mempunyai kesan lebih khususnya dalam hal adegan seks yang dipertontonkan oleh Anna Tairas. 

Wim Umboh sutradara senior sempat juga "mengintip" celah-celah yagn bisa diangkat ke pita film dari penampilan artis berdarah campuran, Manado-Riau ini. Disodori sebuah peran untuk film "Pengantin Pantai Biru", Anna Tairas bahkan sempat suting sehari di Sukabumi. Hari pertama dia sudah mulai disuruh buka-bukaan. Mulanya bagian atas kemudian turun ke bawah sedikit. "Sedikit lagi, buka sedikit lagi," kata Wim Umboh pada suting pertama Anna Tairas itu. Begitu selesai suting langsung Anna Tairas ngabur ke Jakarta. 

"Lha kalau baru hari pertama saja sudah disuruh begitu, bagaimana nanti hari hari berikutnya. Bisa-bisa saya disuruh telanjang bulat, " katanya menceritakan pengalaman sutingnya. Tidak sesuai dengan pembicaraan sebelumnya, makanya Anna nekad meninggalkan tempat suting. Tidak bisa lain akhirnnya Wim menggantikan peran Anna Tairas kepada orang lain. 

"Sebetulnya itu bukan perubahan sikap tapi saya ingin membuktikan bahwa saya mampu main dalam film apa saja, " ucap Anna ketika ditanya awal mula dia terbawa main dalam film.

"Sekarang saya akan lebih hati-hati dalam memilih peran:, kilahnya. Apalagi untuk jenis film seks jelas dia tidak segampang dulu, yang menurut penuturannya kala itu masih kurang bisa mengontrol diri. 

Sejak kemunculannya dalam film "Kodrat" arahan Slamet Rahardjo, mantan ratu Kawanua se Jakarta 1975 inipun segera mengadakan perubahan lagi. Pelan tapi pasti dia meninggalkan kesan pemain dengan cap yang berbau vulgar. 

"Saya tidak janji tapi sejauh ini saya coba menghindari, " kilah Anna Tairas mengenai kemungkinan ia kembali main dalam film sejenis "Kupu Kupu Putih" ataupun "Mandi Dalam Lumpur".

Pada saat kosong dari tawaran main film itu datanglah sutradara Dasri Yacob menyorongkan sebuah peran utama dalam film Diantara Dia dan Aku produksi Inem Film. 

Tapi film selesai dan disusul dengan film-film berikutnya yang terdengar diluaran justru desas desus sang bintang dengan sutradara Dasri yacob. Saking seringnya main dalam film arahan Dasri, maka gosip dengan sutradara yang bersangkutan pun semakin sulit dihindari, sempat dilabrak istri Dasri. Bukan berarti gosip ini berakhir sampai disitu. Sebab ada lagi nama yang kabarnya sempat akrab dengan dia, seorang pemusik dan suami artis terkenal. Cerita tentang hubungan akrab Anna Tairas dengan pemusik beken ini memang sudah rahasia umum khususnya dikalangan insan film. 

"Biarlah burung berkicau", kilahnya. 

~MF 052/20/Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


Sunday, September 3, 2023

MURTISARIDEWI TOKOH LASMINI YANG DI CARI TERNYATA GINGSUL

 

Raden Roro Murtisari Dewi
Kutipan dari Majalah Film.


Enam bulan lamanya Imam Tantowi ubek-ubekan mencari pemeran-meran utama untuk karya terbarunya "Saur Sepuh". Ia memang kepingin menonjolkan wajah-wajah baru untuk film yang diangkat dari sandiwara bersambung di radio ini. 

"Terutama untuk pemeran Brama dan lasmini, karena rasanya kok tidak cocok kalau memakai pemeran suara mereka di radio, "kilah Tantowi

Seperti kita ketahui , tokoh Brama dalam sandiwara kondang itu disuarakan oleh Ferry Fadly, sedangkan Lasmini oleh Ivonne Rose. 

"Suara keduanya memang cukup patent, tapi tongkrongan sebagai pendekar kurang meyakinkan," sebut Tantowi lagi. 

Itu sebabnya ia mau bersusah payah memasang iklan mencari pemain untuk kedua tokoh tersebut. Lalu menyeleksi 11.719 orang calon.

Baru di akhir bulan Maret 1988 ini, Tantowi bisa bernafas lega.

"Eureka! akhirnya telah kutemukan juga!"soraknya. 

Siapakah si pemeran tokoh pendekar wanita binal Lasmini?


Dari Solo

Ternyata seorang Puteri Solo yang masih remaja Raden Roro Murti Saridewi. "Akh nggak usah pakai Raden Roro segala, cukup Murti Saridewi saja," cegah gadis hitam manis yang baru berusia 18 tahun  ini kepada Majalah Film yang pertama menemuinya.

Lahir pada tanggal 11 Desember 1971, dari keluarga R Marsam Brotokusumo, sebagai puteri ke enam dari tujuh bersaudara yang perempuan semuanya, boleh pilih deh.

"Yah memang kami cewek semua, jadi ramai sekali kalau ngumpul," geli Murti, "Apalagi yang sudah menikah baru yang paling sulung saja, Lainnya masih bersekolah."

Murti sendiri baru duduk di kelas 1 SMA. Meskipun begitu dari hobbynya menari Jawa, ia sudah menggondol sejumlah prestasi. Diantaranya menjadi Juara Kesatu Tari Jawa seSurakarta, Juara Kesatu Putri Luwes dan juara kesatu peragaan Busana Lurik. Tidak heran berprestasi seperti itu, karena Murti mengikuti group Suryosumirat, Sadupi (Sarana Duta Perdamaian Indonesia), Didi Nini Towok, dan Wayang Kawula Muda Surakarta, Mardi Budoyo.

Lalu mulai bermain dalam acara Cakrawala Budaya TVRI sebagai Amentaraga. Lha dengan seabreg kesibukan begitu, bagaimana urusan sekolahnya?

"Saya ndak pernah tinggal kelas kok, juga tak pernah berada di bawah ranking ke enam dalam setiap kwartal," sebut Murti.

Awalnya tertarik pada film ini diceritakan karena dorongan seorang kawan dekatnya yang memberitahukan, "Ada perusahaan film dari Jakarta pasang iklan mencari calon pemain Lasmin, kenapa tak coba-coba melamarnya?".

"Saya memang senagn sekali mengikuti serial "Saur Sepuh" di radio itu, hingga saya tahu tokoh-tokohnya," ungkap Murti.

"Nah saya lalu bertemu Pak Susilo Muslih, Kepala Promosi Kalbe Farma di Jawa Tengah. Beliaulah yang membawa saya ke Kanta Indah Film di Jakarta.



Gigi Gingsul

Sayangnya ketika Murti datang, Tantowi sedang hunting lokasi ke Sumba. Jadi cuma potretnya saja yang ditinggalkan. Baru kemudian pada kedatangan saya yang kedua, bis abertemu muka dengan sang sutradara. 

"Anda ini manis wajahnya. Apalagi ada gigi gingsulnya dua.," Puji Towi."Cuma ketika ditanya apa sudah pernah di cium, ia jadi malu-malu mengaku belum punya pacar. Lha gimana ini, kan ceritanya Lasmini cewek penggoda yang mengejar-ngejar Brama?".

Namun setelah melakukan test make-up, Tantowi memutuskan , "Tidak ada yang lebih tepat lagi selain Murti untuk menjadi Lasmini. Soal belum pengalaman pacaran, kan nanti bisa berakting. Cuma tidak keberatan kalau agak buka-bukaan dikit kan?".

Walau masih sama sekali asing dalam dunia film, ternyata Murti punya prinsip, "Saya kalau olahraga juga pakai short (Celana pendek) kok. Nah kalau masih sebatas Short itu, tentu saja saya tidak keberatan."Lebih dari itu, piye jeng?".

Towi jadi tertawa geli "Jangan kuatir saya tak pernah bikin film seks kok. Apalagi ini kan film silat!" Dan awas kebetulan juga, kecil-kecil Murti pernah berlatih karate. 

Cuma sekarang yang sedang menjadi kebimbangannya, ia menghadapi dua pilihan, main film atau mengikuti group tarinya tour ke Mancanegara seperti Brasilia, Australia dan Amerika.

"Saya sudah dapat izin dari sekolah selama tiga bulan untu tour tersebut'" tutur Murti. "Tapi biarin lah saya batal ikut otur itu karena saya lebih tertarik untuk main film kini."

Apa sih yang di cari dari main film?

"Pengalaman!" sahutnya polos. "Tapi cuma baru keluarga saya saja yang tahu kalau akan memerankan Lasmini, kawan-kawan di sekolah belum ada yang tahu. Biar saja nanti mereka kaget kalau kelak filmnya sudah jadi, atau baca majalah ini.


Demikian di kutip dari Majalah Film No. 047/15Tahun Ke IV tanggal 16 April - 29 April 1988