Showing posts with label artis film. Show all posts
Showing posts with label artis film. Show all posts

Tuesday, May 5, 2026

FIRDHA RAZAK, SUTING LUPUS II SAAT HAMIL


 FIRDHA RAZAK, SUTING LUPUS II SAAT HAMIL, (Berita Lawas). Seorang pembaca Majalah Film melayangkan sepucuk kartu pos ke ruang Uneg Uneg. Benarkah bintang film Firdha Razak hamil ketika main film "Lupus II Makhluk Manis Dalam Bis?".

Diingat-ingat sembari di pelototi film itu lagi, benar juga. Firdha memang benar lagi hamil 7 bulan. Saking takut perutnya yang jendul itu kelihatan, maka berkali-kali ia menutup dengan tas dan baju kompryangnya. Tapi perut biasanya tak bisa diumpetin. Saat di bonceng sepeda motor oleh tokoh Boim (Agyl Syahriar) maka lewat kamera yang setengah close up nampak perut Firdha yang hamil menjelang tua. 

Tidak dengan film itu saja perut Firdha nampak membesar. Dalam film "Kecil-kecil jadi pengantin" Firdha juga tengah mengandung putranya yang kedua. Agak beruntung dalam film ini dikisahkan Firdha yang dari anak muda lalu menjadi istri muda (maksudnya seorang wanita muda yang baru menjadi istri).

Saat adegan Firdha main sepakbola jelas sekali perutnya tak bisa disembunyiin. Celakanya lagi ia diharuskan memakai jelana pendek, jadi repot menyembunyikan perutnya. Maka saat diadakan pemutaran awal film Lupus di Jakarta oleh Majalah Film, banyak yang berkomentar setelah nonotn film itu, "Wah repot, Adik Lupus, Lulu diam-diam sudah hamil. Jangan-jangan yang menghamili si Boim atau Lupus sendiri. "Tapi tentu saja komentar ini perlu diberi peringatan, Husshhh!. Artinya, setidaknya pengamatan da kejelian penonton film telah mulai tajam. Bukti bahwa untuk bikin film baik harus lebih hati-hati dan teliti. 

Orang tentu tak akan menyangka bahwa Firdha yang masih kelihatan gres ini sudah bersuami. Waktu suting Lupus I di Jl. HOS Cokroaminoto saja, Lulu eh Firdha serign diantar jemput oleh suaminya. Namun sejauh itu Firdha tak mau buka suara. 

Betapapun bintang muda satu ini memang pantas di perhitungkan kehadirannya diantara segerombolan bintang baru dan ia nampak lain lewat bakatnya. 

Tampang Firdha baru dikenal lewat film Pesona Natalia, baru sebagai taraf figuran. Seorang sutradara muda Eddi SS tertarik lalu memasangnya dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" yang memperoleh tolehan dari banyak wartawan film. Klimaknya adalah ketika ia menokohkan peran Lulu, Adik Lupus dalam film Lupus I dan II meski tidak nongol banyak. Kemudian di film Kecil-kecil jadi Pengantin mendampingi Richie Ricardo. 

Sosok Firdha sekaligus bukti kecil tak benar artis yang sudah berkeluarga dijauhi penontonnya. ~sumber MF 51/19/Tahun ke IV, 11-24 Juni 1988

Monday, April 27, 2026

AYUNI SUKARMAN


 AYUNI SUKARMAN, (Berita Lawas), Meski usianya sangat muda, tapi Ayuni tidak takut menggeluti dunia film yang sering dilambangkan tempat orang-orang glamour. Tidak sedikit kaum remaja tergelincir, hanya lantaran silau melihat gemerlap film. 

Film dimata Yuni mungkin berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya. Awalnya ia tidak pernah berfikir tentang film, karena nonton pun hampir-hampir tidak pernah. "Habis film anak-anak jarang sih, isinya film dewasa melulu. Nyokap mana mungkin kasih izin pergi ke gedung bioskop."

Apakah Yuni pernah berkhayal main film? Pikiran itu muncul ketika Yuni sudah mulai kelas tiga SMP, manakala diam-diam sempat nyelonong ke bioskop, sepulang sekolah ramai-ramai. Tapi seperti yang diakuinya, keinginan itu cuma sekedar melintas saja di kepalanya. "Tidak pernah terbayang untuk mewujudkannya. Saya rasa waktu itu lagi melamun, ya saat itu saja," katanya tersenyum. 

Baginya film adalah film, bukan kenyataan, hanya sandiwara atau wayang. Barangkali inilah yang membuatnya tidak ragu lagi ketika mendapat kesempatan bermain dalam film laga. Lamunan yang cuma melintas itu tiba-tiba menjadi sungguhan. Mungkin juga ia sendiri sudah lupa dengan bayangan yang sempat mampir disaat pikirannya lagi kosong itu. Yuni hanya melihat apa yang sekarang dihadapi adalah sebuah kenyataan. Gadis SMP itu harus melakukan sesuatu yang sangat baru. Ia tandatangani kontrak kerja dengan PT. Simbar Intan Film, memainkan tokoh Cempluk anak Warok Suromenggolo dalam film "SUROMENGGOLO".

Sebagai pendatang baru tentu saja ia canggung pada awal-awalnya, sekalipun Dasri Yacob selaku sutradara tertarik pada potensi yang ada pada pemainnya yang paling baru ini. Penampilan cukup meyakinkan, permainan tidak mengecewakan, artinya sebagai pemain, Yuni punya potensi yang bisa diharapkan dimasa mendatang. 

Anak Pak Sukarman yang pernah punya cita-cita menjadi guru ini, mulai sering menonton film. Sejak itu ia mengaku semakin usil memperhatikan para pemain. ia perhatikan gerak gerik pemain sampai ke hal-hal yang kecil. Dan sejak itu pula ia suka berlma-lama di depan kaca, berlatih akting. 

Suatu hari Yuni mengalami "kecelakaan". PIntu kamar belum ditutup, ia sudah berakting di depan kaca, dan tanpa disadari telah jadi tontonan seisi rumah. Untung saja ibunya tahu kalau Yuni lagi belajar akting. Jika tidak bisa-bisa bikin panik orang tua karena melihat anak gadisnya bertingkah laku seperti kesurupan. Yuni sadar, segera mengunci pintu dan melemparkan tubuhnya ke kasur. 

Sampai sekarang ia masih suka bingung kalau mau belajar akting. Sementara merindukan Diklan Parfi, belum juga ada kabarnya. Secara sembunyi-sembunyi ia masih suka berlatih dirumah. Apa yang ia lakukan menurutnya paling sebatas mencari kemungkinan untuk kebutuhan adegan suting hari berikutnya. 

Kesempatan yang baik buat gadis model iklan coklat ini rupanya masih berkelanjutan. Dalang Dasri Yacob melibatkannya dalam film Bujang Jelihim, sebuah cerita rakyat dari daerah Palembang. Dalam dua film ia dukung, Yuni kebetulan mendapat peluang yang sama, kebagian peran pembantu utama. Di sini menjadi pacarnya Jelihim. Padahal murid SMA kelas I ini masih bau kencur. Belum tahu apa-apa soal pacar-pacaran, tapi Dasri senang memberinya peran itu. 

Untuk lebih menghayati peran itu, kiranya ia merasa perlu observasi dengan menonton film yang ada adegan pacarannya. Hal itu tidak terlalu sulit baginya karena di televisi toh hampir setiap malam ada. Namun dari kedua film itu semuanya mengambil cerita kuno, sehingga gaya pacarannya berbeda dengan gaya era Demi Moore. Untung saja ia pernah memergoki secara kebeutlan pembantu tetangga pacaran gaya tradisional. 

Kesempatan terus mengalir meskipun kedua film itu belum ada yang beredar. Si Cempluk yang baru berulang tahun yang ke 16 pada 16 Desember 1991, kini mendapat kesempatan menjual opak dalam serial sinetron "Mega Mega" garapan Zainal Abidin. Si cantik penjual opak itu bakal nongol di TPI . Dunia film biasanya banyak godaan, insan film selalu jadi sasaran gosip, tapi Ayuni jalan terus. ~sumber MF 143/110/THVIII 21 Des 1991 - 3 Jan 1992


Monday, February 9, 2026

CHRISTINE TERRY




CHRISTINE TERRY, Memulai karir artisnya dari level paling dasar, figuran film. Ia tetap tabah melakoninya. Pasang surut artis tidak ada yang bisa menduga. Meski terseok seok Christine Terry tetap dengan ambisinya, ngetop di jalur film. 

Maka, di tahun 1991 artis bernama lengkap Lucyana Christine Terry ini memasuki dunia film. Selang beberapa bulan, Dasri Yacob menggiringnya ke film lewat film action klasik, Warok Suromenggolo. "Dalam film ini, peran gua tak begitu besar, tapi cukup berani untuk menapak ke film, " kilahnya. 

Film berikutnya, ia cuma ketiban figuran diantaranya Masuk Kena Keluar Kena (Arizal), Kembalinya si Janda Kembang (Sisworo Gautama Putra) dan dalam film Misteri di Malam pengantin sutradara Atok Suharto memberinya peran lebih besar, sebagai pemeran pembantu wanita lewat film Rawing II bertema action klasik Tommy Burnama selaku sutradaranya. 

Saya besar dengan kepahitan, " kata cewek kelahiran Bandung 24 Desember 1973 ini. 

Tamparan yang datang dari sahabatnya cukup telak, tatkala mencemplungkan diri ke film. Macam-macam isyu dilemparkan ada yang bilang cewek gampangan, artis film breng sek, dan beraneka  gosip lainnya. "Cuek saja dengan ocehan seperti itu. Kalau dipikir bisa merusak diri sendiri. Kenyataan benar apa tidak, kan ada pada diri gua sendiri, " katanya. 

Seperti diketahui Christine Terry juga bermain dalam film Walet Merah dengan bintang utama Barry Prima dan Devy Permatasari. Ada yang masih ingat film-filmnya?


MF 

Sunday, January 11, 2026

EMMA FEBRI, PENDEKAR WANITA

 


MENGENAL EMMA FEBRI, SALAH SATU PENDEKAR WANITA. (kisah lawas) Semula hanya coba-coba ikut pemilihan calon bintang untuk iklan sabun dan meraih juara dua, Emma Febri ngakunya malah keterusan jadi bintang film beneran. "Sampai kini (1989) sudah tiga film yang ikut saya dukung. Dua kali jadi peran pembantu dan yang teakhir jadi pemeran utama, "ujar perempuan kelahiran Medan, 19 Februri 1966 ini. 

Ketiga film tersebut menurut Emma adalah "Jubah Hitam", "Peluru dan Mesiu" dan "Pendekar Lembah Kuning". Ketiganya ditangani sutradara yang sama. Untuk film-film aksi itu, Emma mengaku mulanya kaku juga. "Saya enggak pernah belajar bela diri. Tapi berkat bimbingan pak Syarif, instruktur fighting dan pengarahan M. Syarifuddin sebagai sutradara, yah jadi juga saya pendekar," katanya lagi. 

Gadis Kawanua yang besar di Medan ini ngakunya punya keinginan yang cukup besar di film. Sejak dari Medan, Emma katanya emmang sudah berniat untuk terjun ke dunia film. "Saya memang sudah menjadi anggota Parfi Medan dan juga ikut kegiatan teater di daerah itu," ujar Emma yang juga senang menari, menyanyi dan main drama ini. "Tapi rasa-rasanya saya lebih cocok di film. Soalnya film punya keasyikan tersendiri dan lokasinya tidak cuma di satu tempat," katanya. 

Untuk memantapkan pilihannya itu, Emma berencana masuk IKJ jurusan sinematografi. "Soalnya saya ingin juga jadi pekerja film, " tuturnya yang mengaku tidak pernah melakukan adegan porno di film. "Betul kok, jangankan beradegan porno, di sun saja saya belum pernah di film," katanya meyaknkan. Tapi itu kan di film? Di luar film, cewek ini justru mengaku sedang patah hati. 

"Saya pernah cinta berat dengan seorang pria waktu di Medan. "Pacaran sampai empat tahun, eh malah gagal. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989

Sunday, September 3, 2023

MURTISARIDEWI TOKOH LASMINI YANG DI CARI TERNYATA GINGSUL

 

Raden Roro Murtisari Dewi
Kutipan dari Majalah Film.


Enam bulan lamanya Imam Tantowi ubek-ubekan mencari pemeran-meran utama untuk karya terbarunya "Saur Sepuh". Ia memang kepingin menonjolkan wajah-wajah baru untuk film yang diangkat dari sandiwara bersambung di radio ini. 

"Terutama untuk pemeran Brama dan lasmini, karena rasanya kok tidak cocok kalau memakai pemeran suara mereka di radio, "kilah Tantowi

Seperti kita ketahui , tokoh Brama dalam sandiwara kondang itu disuarakan oleh Ferry Fadly, sedangkan Lasmini oleh Ivonne Rose. 

"Suara keduanya memang cukup patent, tapi tongkrongan sebagai pendekar kurang meyakinkan," sebut Tantowi lagi. 

Itu sebabnya ia mau bersusah payah memasang iklan mencari pemain untuk kedua tokoh tersebut. Lalu menyeleksi 11.719 orang calon.

Baru di akhir bulan Maret 1988 ini, Tantowi bisa bernafas lega.

"Eureka! akhirnya telah kutemukan juga!"soraknya. 

Siapakah si pemeran tokoh pendekar wanita binal Lasmini?


Dari Solo

Ternyata seorang Puteri Solo yang masih remaja Raden Roro Murti Saridewi. "Akh nggak usah pakai Raden Roro segala, cukup Murti Saridewi saja," cegah gadis hitam manis yang baru berusia 18 tahun  ini kepada Majalah Film yang pertama menemuinya.

Lahir pada tanggal 11 Desember 1971, dari keluarga R Marsam Brotokusumo, sebagai puteri ke enam dari tujuh bersaudara yang perempuan semuanya, boleh pilih deh.

"Yah memang kami cewek semua, jadi ramai sekali kalau ngumpul," geli Murti, "Apalagi yang sudah menikah baru yang paling sulung saja, Lainnya masih bersekolah."

Murti sendiri baru duduk di kelas 1 SMA. Meskipun begitu dari hobbynya menari Jawa, ia sudah menggondol sejumlah prestasi. Diantaranya menjadi Juara Kesatu Tari Jawa seSurakarta, Juara Kesatu Putri Luwes dan juara kesatu peragaan Busana Lurik. Tidak heran berprestasi seperti itu, karena Murti mengikuti group Suryosumirat, Sadupi (Sarana Duta Perdamaian Indonesia), Didi Nini Towok, dan Wayang Kawula Muda Surakarta, Mardi Budoyo.

Lalu mulai bermain dalam acara Cakrawala Budaya TVRI sebagai Amentaraga. Lha dengan seabreg kesibukan begitu, bagaimana urusan sekolahnya?

"Saya ndak pernah tinggal kelas kok, juga tak pernah berada di bawah ranking ke enam dalam setiap kwartal," sebut Murti.

Awalnya tertarik pada film ini diceritakan karena dorongan seorang kawan dekatnya yang memberitahukan, "Ada perusahaan film dari Jakarta pasang iklan mencari calon pemain Lasmin, kenapa tak coba-coba melamarnya?".

"Saya memang senagn sekali mengikuti serial "Saur Sepuh" di radio itu, hingga saya tahu tokoh-tokohnya," ungkap Murti.

"Nah saya lalu bertemu Pak Susilo Muslih, Kepala Promosi Kalbe Farma di Jawa Tengah. Beliaulah yang membawa saya ke Kanta Indah Film di Jakarta.



Gigi Gingsul

Sayangnya ketika Murti datang, Tantowi sedang hunting lokasi ke Sumba. Jadi cuma potretnya saja yang ditinggalkan. Baru kemudian pada kedatangan saya yang kedua, bis abertemu muka dengan sang sutradara. 

"Anda ini manis wajahnya. Apalagi ada gigi gingsulnya dua.," Puji Towi."Cuma ketika ditanya apa sudah pernah di cium, ia jadi malu-malu mengaku belum punya pacar. Lha gimana ini, kan ceritanya Lasmini cewek penggoda yang mengejar-ngejar Brama?".

Namun setelah melakukan test make-up, Tantowi memutuskan , "Tidak ada yang lebih tepat lagi selain Murti untuk menjadi Lasmini. Soal belum pengalaman pacaran, kan nanti bisa berakting. Cuma tidak keberatan kalau agak buka-bukaan dikit kan?".

Walau masih sama sekali asing dalam dunia film, ternyata Murti punya prinsip, "Saya kalau olahraga juga pakai short (Celana pendek) kok. Nah kalau masih sebatas Short itu, tentu saja saya tidak keberatan."Lebih dari itu, piye jeng?".

Towi jadi tertawa geli "Jangan kuatir saya tak pernah bikin film seks kok. Apalagi ini kan film silat!" Dan awas kebetulan juga, kecil-kecil Murti pernah berlatih karate. 

Cuma sekarang yang sedang menjadi kebimbangannya, ia menghadapi dua pilihan, main film atau mengikuti group tarinya tour ke Mancanegara seperti Brasilia, Australia dan Amerika.

"Saya sudah dapat izin dari sekolah selama tiga bulan untu tour tersebut'" tutur Murti. "Tapi biarin lah saya batal ikut otur itu karena saya lebih tertarik untuk main film kini."

Apa sih yang di cari dari main film?

"Pengalaman!" sahutnya polos. "Tapi cuma baru keluarga saya saja yang tahu kalau akan memerankan Lasmini, kawan-kawan di sekolah belum ada yang tahu. Biar saja nanti mereka kaget kalau kelak filmnya sudah jadi, atau baca majalah ini.


Demikian di kutip dari Majalah Film No. 047/15Tahun Ke IV tanggal 16 April - 29 April 1988