Showing posts with label Aktor Jadul. Show all posts
Showing posts with label Aktor Jadul. Show all posts

Friday, July 24, 2026

ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Tuesday, June 16, 2026

HENDRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA !

 


HENRY HENDARTO, GAGAL JADI TENTARA : KECEWA ! (berita lawas). Nasib memang penuh misteri, begitu juga garis kehidupan yang dialami aktor muda berbakat macam Henry Hendarto yang lagi laris ini. 

Pelakon di Kucing-kucing Hitam, jalan Makin Membara, Deru Debu, Jaka Sembung, Sinta dan Misteri, Rumahku Istanaku, Harta dan Nyawa dan masih banyak lagi, semasa kecilnya ambisi sekali ingin menjadi tentara. 

Untuk menggapai cita-citanya itu cowok keren ini mempersiapkan diri sejak SMP sudah dimulainya. Caranya. ia aktif di organisasi OSIS, ikut olahraga, renang, polo air, berlatih ilmu bela diri, Karate, Kungfu, Yoga dan berbagai aktivitas lainnya.

Pokoknya saat itu konsentrasinya hanya satu, yaitu masuk AKABRI. Maka di tempalah dirinya, bagaimana caranya supaya ia lolos seleksi. Niat itu tanpa kaya akan tercapai kalau saja pemuda yang murah senyum ini tak ada test ulang saat ia sudah melalui berbagai seleksi ke Magelang, tempat pusat pendidikan militer itu. 

Itulah yang disebut garis kehidupan alias nasib. Meski Henry yang datang dengan penuh percaya diri, justru gagal saat ia diharuskan test ulang psikotes yang sudah ditentukan itu. "Padahal saat masih di Jakarta , saya lulus begitu di test tentang psikotes. Itulah namanya nasib, siapa yang tahu," ujar Henry pasrah. 

berikut petikan wawancara dengan Henry Hendarto : 

Apakah Henry kecewa karena gagal jadi tentara? 

Kecewa sekali, karena persiapan yang saya lakukan begitu panjang dan matang. 

Anda sempat Frustasi? 

Alhamdulillah tidak, karena saya menyadari kalau manusia itu tidak selamanya berhasil dalam menggapai apa yang di cita-citakan. 

Apakah Anda tidak mencobanya sekali lagi?

Niat itu sebetulnya ada, Begitu saya koreksi ulang, langkah yagn saya lakukan saya pikir menjadi mundur. Akhirnya saya batalkan niat itu. Saya pilih untuk kuliah di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan TV. 

Mengapa bisa berubah 360 derajat dari cita-cita semula?

Kalau melihat seperti itu, memang keputusan yang saya ambil jauh berbeda. Alasan saya mengapa ingin kuliah di IKJ, karena saya punya feeling kalau jurusan yang saya pilih itu punya prospek bagus di masa akan datang. Sekedar tahu saja, saya bukan orang yagn suka mengekor kalau melakukan sesuatu termasuk dalam memilih sekolah. Misalnya belakangan ini orang ramai memilih kuliah jurusan perbankan, karena menjamurna Bank, saya malah berpikir jauh ke depan sesuai kebutuhan jaman. 

Maksudnya?

Artinya saya tidak ingin dunia menguasai saya, tapi harus dunia yang saya kuasai. 

Anda nampak cepat matang ya?

Dulu sifatku terbalik dengan sekarang. Maksudnya, dulu saya orangnya gampang marah dan emosian sekali hingga sering kali berkelahi!. 

Kenapa sifat emosi itu sulit diredam?

Mulanya saya ini anak yang penakut. Lantaran Papa yang mengajarkan saya harus berani hingga timbul niat tak mau mengalah terhadap semua orang. 

Kalau begitu Henry termasuk anak yang bandel juga ya?

Saya memang termasuk anak bandel. Bahkan waktu disekolah tepatnya di SMA 7 tempat saya bersekolah, dimana sering disebut bikin keributan. Kita semua pernah mendapat pengarahan dari Muspida yang dihadiri banyak wartawan. Ternyata dari pertemuan itu pula ada beberapa wartawan yang menawari saya untuk jadi model dan darisana pula dunia seni saya mulai. 

Selanjutnya bagaimana emosi itu akhirnya bisa hilang?

Emosi yang tinggi membuat saya jadi orang yang ringan tangan. nah, pada suatu hari begitu saya lagi berjalan bersama teman-teman, ada orang Ambon berbadan kekar yang terus memperhatikan saya. Melihat seperti itu, langsung saja darah muda saya naik hingga meng hajarnya sampai tak berkutik. 

Hati saya begitu terhenyut ketika tahu kalau dia memperhatikan saya. Sebab, katanya wajah saya mirip dengan kakaknya yang disebut Ambon putih. Peristiwa itu pula yang menyadarkan saya tidak selalu menggunakan power dalam bertindak. 

Saya mulai menyadari ternyata masih ada cara lain yang bisa kita kendalikan dengan memakai otak atau mulut kita tanpa harus dengan kekerasan. 

Pemberani dengan sesama jenis untuk selalu adu jotos, apakah dengan cewek kamu jagoan juga?

Wah, dengan wanita saya justru nggak PeDe. Makanya kalau saya suka dengan seorang wanita, saya tidak berani mengatakan cinta terlebih dahulu. Jadi jangan kaget kalau selama saya pacaran dengan wanita selalu dia yang menyatakan suka terlebih dahulu. 

Apa sebabnya hingga tidak PeDe sama wanita?

Takut di tolak saja. 

Jika diberi kesempaan hidup dua kali, Anda ingin jadi siapa?

Saya tetap ingin jadi Henry seperti sekarang. Karena saya bangga dengan diri saya sendiri. Makanya saya tetap ingin jadi diri sendiri. 

Bicara tentang karir di dunia seni, apakah diawalinya dari model?

Benar, dari model terus ke layar lebar dan baru ke layar kaca. 

Mengapa Anda sekarang lebih fokus pada layar kaca dari layar lebar?

Saya ingin serius di layar kaca saja. 

Rencana apa yagn ada di benak anda sekarang?

Setelah menekuni sebagai pemain, saya ingin juga mengembangkan karir menjadi sutradara. Mudah-mudahan saja niat itu terwujud suatu hari kelak. 

~sumber : MF 290/256/XIII/26 Juli - 8 Agustus 1997



Thursday, April 2, 2026

S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON


 S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. 

Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah. 

"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu. 

Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar. 

Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia. 

Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang. 

Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu. 

Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja  bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama  kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film. 

Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.

Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.



Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun. 

Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang. 

Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku. 

Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988