Showing posts with label neno warisman. Show all posts
Showing posts with label neno warisman. Show all posts

Monday, August 31, 2026

NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992

 


NENO WARISMAN, MERAIH PIALA VIDIA PADA FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1992 (berita lawas). MADE DARMI, wanita bisu tuli yang tertindas. Sebagai wanita bersuami, dia bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya. Suaminya hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk sabung ayam. Puncaknya, wanita yang dirundung duka panjang itu ditinggal minggat suaminya ke luar negeri mengkuti pacarnya yang berasal dari negeri seberang. 

Neno "Made Darmi" Warisman, Sabtu malam, 21 November 1992 tak sanggup menyimpan tangis kegembiraan ketika Dewan Juri Festival Sinetron Indonesia (FSI) menobatkannya sebagai  aktris terbaik dalam festival  yang baru pertama kalinya dipisahkan dari Festival Film Indonesia (FFI) itu. "Kalau saya boleh mengucap doa, dan terima kasih saya tujukan kepada Bang Irwinsyah, guru saya. Juga pada Aji, guru pertama saya di Teater Bulungan, "kata Neno Warisman. 

Piala Vidia yang direngkuhnya kali ini, adalah Piala Vidia kedua. Artis yang bernama asli Titi Widoretno itu, pernah memperoleh ketika terlibat dalam Sayekti dan Hanafi, dua tahun lalu. "Sungguh, saya tidak pernah menyangka dan mengharap memperoleh PIala Vidia. Kalau teman-teman wartawan jauh-jauh hari sudah menelpon dan mengucapkan selamat, saya sendiri kaget. Mereka sekarang ini amatannya sudah tidak pernah meleset, "ungkapnya. 

Terus Terang, Neno mengukap, sampai saat ini dia merasa berutang budi pada Irwinsyah. "Saya tidak bisa begitu saja menghilangkan nama Bang Irwin dalam benak saya. Sampai saat ini pun, apalagi ketika Aksara Tanpa Kata disebut-sebut sebagai nominator, hati saya banyak berdebar-debar mengingat ketelatenan dan kesabaran Bang Irwin mengarahkan saya hingga maksimal, "ungkapnya membuka catatan lama. 

Dalam Aksara Tanpa Kata, selain langsung observasi ke Bali, Neno belajar banyak kepada penderita cacat tunarungu-wicara di Jakarta. Bahkan, dia harus beberapa kali berkunjung ke sekolah luar biasa tunarungu-wicara untuk mempelajari karakter penderita tersebut. 

"Disini selama satu bulan saya harus belajar Isado,"katanya. 

Bukan hanya itu dia amati dan pelajari gaya bicara maupun lagak mereka ketika jengkel maupun marah. "Pertama tentu lewat cermin dulu."

Semua itu diperlukan untuk kesempurnaan akting maupun perubahan emosi yang harus dilakukan agar sinetron itu punya nafas tersendiri. Gaya hidup wanita Bali dipelajarinya untuk beberapa lama di perkampungan-perkampunan desa di Bali yang tidak jauh dari tempat wisata. "Syutingnya, sebagian besar memang di daerah Kuta, "akunya. 

Karenanya, Neno Warisman mengaku terus terang, tingkat kesulitan yang diperolehnya dalam casting Made Darmi, lebih tinggi dibanding ketika ia harus memerankan Sayekti dalam Sayekti dan Hanafi beberapa waktu yang lalu. "Kalau boleh menyebut, memang tingkat kesulitan yang saya peroleh dalam Made Darmi lebih berat, "akunya. 

Neno barangkali bukan potret artis kita kebanyakan. Sebelum dikukuhkan menjadi artis terbaik versi FSI '92, Neno mengaku tidak mengharapkan banyak dari permainannya. "Biasa biasa saja. Pokoknya, skenario yang disodorkan sutradara saya pelajari dengan baik sesuai dengan kemampuan yang saya miliki",katanya. 

Karena, dengan apa yang diperolehnya sekarang, "Saya harus semakin selektif memilih peran," katanya. ~MF 167/134/TH IV, 28 Nov - 11 Des 1992



Saturday, June 27, 2026

NENO WARISMAN


 NENO WARISMAN (berita lawas). Selepas berlakon di film Cipluk Semua Sayang Kamu (1989) karya sutradara Ida Farida, Neno Warisman tak pernah muncul lagi di kancah produksi film. Seakan tenggelam "dilautan" arus artis muda. Untung saja ia dapat bermain bagus dalam sinetron Sayekti dan Hanafi, garapan almarhum Irwinsyah, yang kembali mengorbitkan namanya dalam seni peran. 

Isyu terakhir yang tersiar mengatakan, bahwa perempuan bernama lengkap Titi Widoretno Warisman ini, akan menanggalkan baju kerartisannya untuk mendalami Islam. Ternyata itsyu itu hanya berita burung. Sampai saat ini Neno Warisan merasa tetap eksis menggeluti seni. Lalu, bagaimana dengan isyu tidak akan melepaskan jilbab?

"Itu baru berita benar", katanya tanpa komentar panjang lagi. 

Bukankah jilbab akan membatasi kegiatan dalam berkesenian? "Saya kira tidak, tergantung materi yang disodorkan," kilahnya. Tekadnya untuk tidak membuka jilbab sudah "membatu". Meski dibayar mahal, ini tantangan lain yang harus diwaspadainya. 

Disaat artis lagi mau-maunya buka-bukaan, mengapa kamu menutup diri, jeng?

"Itu prinsip hidup," katanya singkat. karena alasan itu pula Neno Warisman bersedia menjadi pelayan masyarakat yang berangkat menunaikan Haji. Kalau tahun lalu ia ke Mekkah menjadi tamu Allah tok, "tapi sekali ini saya harus bisa melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Ini tugas yang berat juga."

Untuk membuktikan keberadaanya bergelut akrab dalam napas Islam, Neno mencoba tetap eksis dalam jalur musik dakwah. Kenyataan itu erat kaitannya dengan meledaknya album "Mutiara Hikmah, produksi Rintop Record yang dirilis awal tahun 1992 ini. Sepulang dari Mekah Neno akan membuat gebrakan baru lagi, yaitu satu ini adalah kesinambungan album sebelumnya, Senandung Mutiara, demikian nama album itu. 

"Dengan adanya "Senandung Mutiara" ini adalah salah satu kiat berdakwah lewat jalur musik, " katanya singkat. Alasan itu sudah menggambarkan maksudnya. lalu bagaimana dengan seni peran? "Saya masih pikir-pikir, " lanjutnya. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


Tuesday, July 29, 2025

SEMUA SAYANG KAMU


 SEMUA SAYANG KAMU, NOMINASI FFI 1989

NAMA PERUSAHAAN : PT. Sinar Permatamas Film
Penanggungjawab : Puji Agung
Cerita, Skenario, Sutradra : Ida Farida
Penata Kamera : Trasta Sembiring
Penata Artistik : Luftianes
Penyunting : S.K. Syamsuri
Penata Suara : Rizki Ichwan
Pemeran Utama Wanita : Neno Warisma, Uci Bing Slamet
Pemeran Utama Pria : Eeng Saptahadi, Dian Hasri
Pemeran Pembantu Wanita : Rina Hassim, Ade Irawan
Pemeran Pembantu Pria : ----

CERITA :

NURAINI melahirkan bayinya lebih awal dari KARTINI. Salahnya tia telah mengambil bayi dari kamar bayi untuk disusui tanpa seizin Suster Puskesmas. Sementara itu KARTINI mulai curiga karena bayi yang ada disisnya brambut hitam lebat, padahal dia tahu pasti bayi yang dilahirkan berambut tipis dan berdahi lebar.

Baik KARTINI maupun suaminya SURIPNO merasa yakin bahwa bayi mereka telah tertukar dengan bayi NURAINI. Kejadian itu segera di laporkan kepada suster untuk diadakan pemeriksaan kembali.

NURAINI menolak, dia tetap bersikeras bahwa bayi itu adalah bayinya sendiri. Apalagi setelah ada surat keterangan dari dokter yang menguatkan pengakuannya. Sambil menunggu proses selanjutnya KARTINI membawa pulang bayi yang berambut hitam itu. Tetapi karena usahanya gagal, maka bayi tersebut dikembalikan ke Puskesmas.

Sejak itu masalah tertukarnya bayi menjadi bahan pembicaraan orang, yang akhirnya sampai ke meja hijau.
Sidang yang berlangsung berbulan bulan berakhir dengan keputusan bahwa NURAINI dinyatakan bersalah karena telah menggelapkan bayi yang bukan haknya.

~sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang tertukarnya bayi
Film ini masuk nominasi pada FFI 1989 sebagai :
1. Unggulan Film Terbaik
2. Unggulan Pemeran Utama Wanita Terbaik (Neno Warisman)
3. Unggulan Pemeran Utama Pria Terbaik (Eeng Saptahadi)
4. Unggulan Cerita Asli Terbaik (Ida Farida)
5. Unggulan Penata Artistik Terbaik (Lutfianus)
6. Unggulan Sutradara Terbaik (Ida Farida)
7. Unggulan Skenario Terbaik (Ida Farida)
8. Unggulan Penata Suara Terbaik (Rustam Effendy)

dan dari 8 Unggulan tersebut akhirnya yang membuahkan 1 Piala Citra melalui :

Penulis Skenario Terbaik (Ida Farida)