SELEMBUT WAJAH ANGGUN, KAKEK NENEK YANG NORAK (Film Lawas). Anjuran pemerintah agar setiap daerah membuat film yang mencerminkan ciri khas daerah masing-masing, rupanya mulai diterapkan oleh PT. Virgo Putra Film, lewat cerita "Selembut Wajah Anggun" yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemda Sumatera Barat.
Lokasi, sebagian menggambarka panorama daerah bermoto "Tuah Sakato" (kesepakatan untuk melaksanakan hasil mufakat/musyawarah merupakan langkah bertuah bagi masyarakat) meliputi kota Padang, Bukittinggi, Batu Sangkar dan Danau Singkarak. Cocok memang sebagai sarana promosi guna mendukung misi Visit Asean Year atau Visit Indonesia Year yang ditayangkan Pemerintah Tahun 1991.
Keindahan alam yang masih asri dan gunung-gunung dan air terjunnya yang tak kalah menarik dari air terjun Niagara di New York, setidaknya bisa menjadi tolak ukur tersendri bagi film garapan sutradara Agus Elyas ini. Tentu, semua itu tergantung juga pada kejelian Akin selaku kamerawan dalam merekam momentum yang bagus. Lengah sedikit saja film ini bakal menjadi film kooperatif yang hambar , miskin keindahan.
Dengan bintang-bintang sudah menjadi 'trade mark' Virgo Putra Film seperti Rano Karno, Paramitha Rusady dan Ayu Azhari. Inti cerita tak beda dengan film nasional lainnya ditambah skenario yang digarap O. Safar tak banyak menjanjikan sebuah kehidupan yang menarik dari masyarakat Minang, tapi dengan hadirnya Him Damsyik dan Nani Somanegara bisa menimbulkan graget penonton. Him Damsyik kita kenal baik lewat sinetron "Siti Noerbaya" berperan sebagai Datuk yang tidak hanya menimbulkan kebencian, tapi juga kegeraman. Sementara Nani Somanegara aktingnya begitu menggelitik ketika membintangi "Cas Cis Cus". Dalam film ini, Damsyik dan Nani berperan sebagai kakek-nenek kolot dari Paramitha Rusady. Saking kolotnya mereka tak mengizinkan cucunya yang cuma semata wayang pacaran dengan Pemuda Jakarta.
"Pemuda Jakarta itu kurang ajar! Tidak tahu sopan santun!" komentarnya ketika ia tahu cucunya jalin hubungan dengan Rano Karno.
Untuk melindungi cucunya dari laki-laki yang tak bertanggungjawab, Damsyik dan Nani hijrah ke Jakarta. Bisa dibayangkan bagaimana lucunya adegan-adegan yang kemudian muncul. Sepasang kakek-nenek yang sehari-harinya hidup dalam tradisi yang masih kental, cenderung kolot dalam menilai orang, tiba-tiba berada di kota metropolitan yang bebas dan acuh tak acuh.
"Film ini memang termasuk drama komedi. Adegan-adegan yang dilakukan Damsyik dan nani kami buat sewajar mungkin sebagaimana orang desa datang ke kota, "kata produser Ferry Anggriwan.
Maka silakan tertawa melihat betapa noraknya Damsyik dan Nani bereaksi di Dunia Fantasi, Shopping di SOGO dan terganga melihat geung-gedung menjulang tinggi.
Produksi Virgo yang ke 54 ini, juga menghadirkan bintang tamu dari kalangan pejabat seperti Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri During dan Menteri Perhubungan Azwar Anas, yang kemunculannya tetap sebagai pejabat. ~MF 151/118/TH VII 18 April - 1 Mei 1992

No comments:
Post a Comment