Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Thursday, September 17, 2026

SELEMBUT WAJAH ANGGUN, KAKEK NENEK YANG NORAK

 


SELEMBUT WAJAH ANGGUN, KAKEK NENEK YANG NORAK (Film Lawas). Anjuran pemerintah agar setiap daerah membuat film yang mencerminkan ciri khas daerah masing-masing, rupanya mulai diterapkan oleh PT. Virgo Putra Film, lewat cerita "Selembut Wajah Anggun" yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemda Sumatera Barat. 

Lokasi, sebagian menggambarka panorama daerah bermoto "Tuah Sakato" (kesepakatan untuk melaksanakan hasil mufakat/musyawarah merupakan langkah bertuah bagi masyarakat) meliputi kota Padang, Bukittinggi, Batu Sangkar dan Danau Singkarak. Cocok memang sebagai sarana promosi guna mendukung misi Visit Asean Year atau Visit Indonesia Year yang ditayangkan Pemerintah Tahun 1991. 

Keindahan alam yang masih asri dan gunung-gunung dan air terjunnya yang tak kalah menarik dari air terjun Niagara di New York, setidaknya bisa menjadi tolak ukur tersendri bagi film garapan sutradara Agus Elyas ini. Tentu, semua itu tergantung juga pada kejelian Akin selaku kamerawan dalam merekam momentum yang bagus. Lengah sedikit saja film ini bakal menjadi film kooperatif yang hambar , miskin keindahan. 

Dengan bintang-bintang sudah menjadi 'trade mark' Virgo Putra Film seperti Rano Karno, Paramitha Rusady dan Ayu Azhari. Inti cerita tak beda dengan film nasional lainnya ditambah skenario yang digarap O. Safar tak banyak menjanjikan sebuah kehidupan yang menarik dari masyarakat Minang, tapi dengan hadirnya Him Damsyik dan Nani Somanegara bisa menimbulkan graget penonton. Him Damsyik kita kenal baik lewat sinetron "Siti Noerbaya" berperan sebagai Datuk yang tidak hanya menimbulkan kebencian, tapi juga kegeraman. Sementara Nani Somanegara aktingnya begitu menggelitik ketika membintangi "Cas Cis Cus". Dalam film ini, Damsyik dan Nani berperan sebagai kakek-nenek kolot dari Paramitha Rusady. Saking kolotnya mereka tak mengizinkan cucunya yang cuma semata wayang pacaran dengan Pemuda Jakarta. 

"Pemuda Jakarta itu kurang ajar! Tidak tahu sopan santun!" komentarnya ketika ia tahu cucunya jalin hubungan dengan Rano Karno. 

Untuk melindungi cucunya dari laki-laki yang tak bertanggungjawab, Damsyik dan Nani hijrah ke Jakarta. Bisa dibayangkan bagaimana lucunya adegan-adegan yang kemudian muncul. Sepasang kakek-nenek yang sehari-harinya hidup dalam tradisi yang masih kental, cenderung kolot dalam menilai orang, tiba-tiba berada di kota metropolitan yang bebas dan acuh tak acuh. 

"Film ini memang termasuk drama komedi. Adegan-adegan yang dilakukan Damsyik dan nani kami  buat sewajar mungkin sebagaimana orang desa datang ke kota, "kata produser Ferry Anggriwan. 

Maka silakan  tertawa melihat betapa noraknya Damsyik dan Nani bereaksi di Dunia Fantasi, Shopping di SOGO dan  terganga melihat geung-gedung menjulang tinggi. 

Produksi Virgo yang ke 54 ini, juga menghadirkan bintang tamu dari kalangan pejabat seperti Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri During dan Menteri Perhubungan Azwar Anas, yang kemunculannya tetap sebagai pejabat. ~MF 151/118/TH VII 18 April - 1 Mei 1992


Saturday, June 27, 2026

KANG IBING


PENGALAMAN KANG IBING (berita lawas). Silakan terka, seorang laki-laki dnegan raut muka blo'on dan wajah tanpa dosa yang populer sebagai pemain film, pelawak, MC dan mubaligh. Tiada lain dialah Kang Ibing, yang film terakhirnya Babi Ngepet/Nyegik/Warisan Terlarang berpasangan dengan Yati Octavia. 

Sebagai pelawak, tentunya banyak pengalaman unik, lucu atau mengenaskan pernah di alaminya. Ketika di temui di sela-sela suting sinetron SI Kabayan dan Orang Beken, di studio TPI Jakarta, Kang Ibing yang punya nama Ibing Kusmayatna bernostalgia. 

Suatu saat dia diminta tampil melawak secara solo oleh sebuah Panitia dari instansi Angkatan Udara. Ketika pengundang datang kerumahnya, kebetulan, Kang Ibing yang waktu itu masih menjadi penyiar Radio Mara, Bandung sedang berhalo-halo di studio. Permintaan mengisi acara diterima oleh istrinya tanpa bisa memutuskan ya atau tidak, tapi berjanji jawaban segera disampaikan lewat telepon, apalagi rencana acara tinggal 3 hari lagi. 

Sore sesampai dirumah, tanpa tanya lebih jauh lagi, Kang Ibing mengangkat telepon dan langsung setuju mengisi acara tersebut. 

Acara berlangsung dan Kang Ibing sudah tahu yang akan hadir dari lingkungan Angkatan Udara. Kang Ibing seperti lazimnya melucu selalu menyelipkan bahasa Sunda, apalagi acara ini diselenggarakan di Bandung, maka banyolan-banyolannya lebih banyak menggunakan bahasa daerah. 

Anehnya, sudah hampir 1 jam, Kang Ibing melontarkan berbagai kocokan tentang kedirgantaraan, tapi tak satupun penonton tersenyum, apalagi sampai tertawa terbahak-bahak. Sedang menurutnya dimanapun melawak, penonton 99,9% pasti gerr....

Sudah memeras otak, menguras seluruh simpanan lawakannya, belum juga menimbulkan ledakan tawa, sampai-sampai keluar keringat dingin. Mimik penonton dilihatnya kaku dan mulut seolah-olah terkunci. Akhirnya kang Ibing menyudahi penampilannya dengan kecewa berat. "Seumur hidup, baru saya alami kejadian seperti ini, sumpah."

Selanjutnya, paa saat pamit sambil ..(biasa ambil honor), Ketua Penyelenggara seraya mengucapkan terima kasih juga menjelaskan, bahwa penonton yang hadir malam itu adalah para lulusan Taruna AU yang usai dilantik dan seluruhnya berasal dari Jawa Timur. 

"Pantas saja mereka tak tergelitik dengan lawakan saya yang dikuras habis-habisan. Rupanya akibat banyolan yagn saya sodorkan pakai bahasa urang (sunda), gerutu Kang Ibing sambil berlalu dari gedung pertunjukkan. ~MF No. 156/123/TH.VIII/27 Jun-10 Jul 1992


Tuesday, January 30, 2024

SUTING FILM SAUR SEPUH DI WAY KAMBAS, MALAM TERAKHIR KABEL DI PUTUS GAJAH LIAR

 


Balik lagi ya kali ini tentang saur sepuh Satria madangkara lagi saat suting di Way Kambas. Di ambil dari bonus Majalah Film No. 056/24 Tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988. berikut kutipannya.

Pertengahan Juli lalu (Tahun 1988), Majalah Film bersama 20 wartawan film Ibukota, selama tiga hari mengikuti Imam Tantowi ke Pusat Latihan Gajah (PLG), Karangsari Way Kambas, Lampung Tengah. Tantowi, Sutradara film aksi itu memang sedang merampungkan  pembuatan film kolosalnya "Saur Sepuh, Satria Madangkara," di daerah yang penduduknya mayoritas bersuku Jawa itu. 

Di Saat puluhan Kru dan para pemainnya, seperti Elly Ermawaty, Anneke Putri, Fendy Pradana, Lamting, Hengky Tornando, Atut Agustinanto, Atin Martino dan lain-lain, Tantowi berbaur  dengan puluhan figuran yang diambilnya dari penduduk setempat plus gajah-gajah yang mulai jinak di PLG itu. "Ini suting terakhir Saur Sepuh yang mengambil adegan peperangan antara pasukan Majapahit yang menunggang gajah dengan pasukan kerajaan Pamotan," ujar Tantowi.

Dan, adegan itulah yang selama tiga hari, dari pagi hingga malam, di sut kameramen Herman Soesilo di Way Kambas. Ada tembok tinggi kerajaan Majapahit yang panjangnya 26 meter dan tingginya 8 meter, terbuat dari lukisan triplek, lalu ada belasan ekor kuda dan lima ekor gajah serta puluhan figuran. 

Mengambil adegan yang serba kolosal itu, tak kurung Tantowi naik pitam. betapa tidak, puluhan orang di harapkannya menuruti komandonya. Tapi dasar para figuran itu awam terhadap dunia film, begitu Tantowi teriak "Cut!" mereka masih saja berkelahi dengan pasangannya. Atau belum lagi Tantowi teriak "Action,!", mereka sudah mendahului berakting. Tak heran kalau tantowi sambil melap keningnya yang penuh keringat karena cuaca emmang sangat  panas , harus berkali-kali mengulang adegan. 

Belum lagi kuda-kuda yang ketakutan ketika bertemu dengan gajah-gajah pasukan Majapahit. Begitu Tantowi teriak action dan camera mulai bekerja, eh kuda-kuda tunggangan para ksatria Madangkara malah lari ketakutan saat di depannya terlintas gajah-gajah itu. Terpaksa Tantowi pakai cara lain, kuda-kuda di pegangi para pemiliknya. 

Suting film sampai selesainya memakan waktu hingga 5 bulan itu, di lampung agaknya merupakan film merupakan suting punyaknya setelah di Sumba. Pangandaran dan Jakarta malam terakhir suting, seluruh kru dan Tantowi sendiri jadi kalangkabut karena munculnya seekor gajah liar yang sempat memutuskan kabel diesel. 

Rupanya, baik Tantowi maupun paawang-pawang gajah yang ada di way Kambas, tidak lebih dulu kompromi dengan 3000 ekor gajah liar yang masih berkeliaran di lokasi suting.

Syukur, Sanga Noppharwan, seorang pawang gajah asal thailan, berhasil menghalau gajah liar itu, jika tidak?" Bisa bisa suting di Way Kambas ditambah waktunya", tutur seorang kru Tantowi. 

Selain Tantowi selama tiga hari ini juga yang cukup repot, Elly dan Annake karena terpaksa memenuhi permintaan foto bersama dari penduduk setempat. Kerjaan yang menyenangkan tentunya.