Showing posts with label aktris film. Show all posts
Showing posts with label aktris film. Show all posts

Tuesday, June 16, 2026

SUTI KARNO

 


SUTI KARNO (berita lawas). Parasnya bersahaja. Cuma 'nyali' modalnya memeluk seni peran da bakat menggiringnya menapak di film. Sang ayah Soekarno M Noor wanti wanti melarangnya untuk menjadi artis. Alasannya, anak perempuan tidak boleh menjadi artis, sebab kehidupan artis keras, lebih baik menyelesaikan sekolah saja. Maka sejak film Roman Picisan dan Guruku Cantik Sekali ia tidak pernah lagi terlibat film. "Ayah melarang keras saya main film", katanya dengan tatapan jauh kedepan. 

Setelah sang ayah mangkat, Suti Karno melirik kembali seni peran. Pada Paket Lebaran 1990 tayangan TVRI ia nimbrung. Lalu cewek yang dipanggil akrab Uti ini ketiban berlakon dalam film Barang Titipan dan Akal-Akalan. Melihat kemampuan aktingnya yang lumayan, Harry De Fretes menelponnya melamar gabung bersama 'Lenong Rumpi'. Kontan saja, cewek bertubuh berkulit hitam legam ini menerimanya. 

"Sebenarnya, sejak SD saya sudah kenal dengan Harry De Fretes. Kami satu sekolah di SD Regina Pacis Bogor. Jadi, saya tidak canggung lagi dengannya, " komentar Uti. 

Lewat Lenong Rumpi tayangan RCTI, Uti untuk kemampuan. Ternyata pilihan Harry tidak meleset. 

Uti kelahiran Jakarta, 27 April 1966 ini, perlahan mulai beken dan mulai di bicarakan orang. Semangat dan keyakinannya semakin tajam. "Sadar dengan tubuh yang kecil, saya tidak berani ngoyo di film, tapi seni peran adalah dunia saya. Toh kemampuan seseorang tidak bisa diukur lewat kecantikan, " ujarnya berfalsafah. 

Sejak Uti bergabung dengan Lenong Rumpi, sejak itu pula ia tinggal dengan abangnya, Rano karno. "Rano Karno banyak membimbing saya dalam akting. Kami sering berdiskusi tentang peran. Bila Lenong Rumpi selesai ditayangkan, biasanya Rano memberikan komentar, " katanya sembari mengepulkan asap rokok. Bagaimana dengan Tino Karno? "Sejak bergabung dengan Lenong Rumpi, kami nggak pernah ketemu. Ia sibuk, saya juga sibuk, tapi Tino pasti tidak marah bila saya main film."

Selain bergelut dalam seni peran, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini mengerjakan apa saja. Ada saja yang dilakukannya, dari berbisnis pakaian sampai barang antik. "Bagi saya yang penting halal. Mau usaha apa saja saya nggak malu, Sebab saya ini hidup mandiri, tidak mau bergantung pada orang lain. Karena itu modal saya yang utama, sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja, " katanya. 

Bagi Uti menyandang nama keluarga ada untung ruginya. "Ruginya, kita tidak bisa sembrono. Untungnya, dengan memakai nama keluarga ada kemudahan-kemudahan. Contohnya, saya minta peran pada mbak Ida Farida (sutradara film) kontan diberikan, " katanya menyerocos. 

Soal pasagan hidup, gimana tuh? "Wah saya sekaang belum pikir. Pacar saja belum punya, nggak ada yang mau, " katanya sembari tertawa. 

Alasan yang lebih tepat bagi Uti belum punya pacar karena ingin menikmati masa remaja dengan kesendirian untuk menemukan jatidiri, kelak buat menapak masa depan. 

Selidik punya selidik, ternyata Uti pernah mencoba jalur musik. Tahun 1982 contohnya, lagu karangannya 'Sapa Pertiwi' masuk sepuluh besar dalam Lomba Cipta lagu Remaja Prambors, dibawakan oleh Vina Panduwinata. Lho, di jalur musik kenapa nggak diteruskan sih Uti? "Bidang saya bukan jalur musik. Ketika itu cuma selingan saja. Sekarang bagi saya adalah bisa berlakon dengan baik tentu bila dapat kepercayaan lagi, " katanya kalem. ~sumber : MF 145/112 Th VIII, 18 - 31 Jan 1992.

Friday, April 17, 2026

MIEKE WIJAYA


 MIEKE WIJAYA, Seorang aktor atau aktris harus senantiasa peka terhadap manusia dan lingkungannya, sebab dengan banyak mengamati kehidupan sehari-hari berbagai macam karakter dapat dihidupkan kembali bila ia dituntut berperan seperti tokoh yang pernah dilihatnya, begitu kata Mieke Wijaya pada suatu kesempatan. Mieke Wijaya istri dari aktor Dicky Zulkarnaen ini memperoleh Piala CITRA sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam Festival Film Inodnesia 1981 di Surabaya untuk filmnya "Kembang Semusim" dimana ia bermain sebagai ibu yang dihayatinya dengan baik. "Bagi saya itu, adalah prestasi tertinggi yang saya peroleh selama hampir dua puluh tujuh tahun lamanya berkecimpung di dunia film, " ucap Mieke Wijaya. 

Sebelum Mieke Wijaya mengenal dunia film, ia dulu lebih banyak dikenal sebagai seorang penyanyi di Radio Republik Indonesia Stasiun Palembang, yang waktu itu  bergabung dengan group band "Empat Sekawan" tahun 50an. Setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya Mieke yang bernama asli Mieke Maris itu hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) 1956-1957. 

Mieke yang di lahirkan di Kota Kembang Bandung 17 Maret 1940 waktu masuk ke Akademi Teater masih sangat muda "Usia saya waktu itu baru enam belas tahun,", ucapnya. Maka tak mengherankan tentu ia terbilang 'kembang' yang sedang mekar-mekarnya dikelilingi kumbang-kumbang yang berebut mengisap madu. 

Dia masih ingat dengan jelas kapan ia pertama kali mendapat kesempatan main film yakni tanggal 30 Oktober 1955 dalam film "Gagal" dimana dalam film itu Mieke mendapat kesempatan main sebagai peran Pembantu. Sejak itulah namanya mulai banyak disebut-sebut orang film, sebagai aktris yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Berturut-turut kemudian ia ditawari oleh beberapa produser untuk ikut mendukung film yang akan dibuatnya diantaranya film "Tiga Dara" yang dibuat tahun 1956 kemudian dalam film "Piso Surit" (1960), "Toha Pahlawan Bandung Selatan", (1962), film "Liburan Seniman" (1965), "Malam Jahanam" (1969), "Badai Pasti Berlalu" (1977), "Akibat Godaan" (1978) , "Cengkraman Garuda" (1978) dan banyak lagi lainya. Antara tahun 1977/1978 saja ia telah main dalam 55 film. 

"Saya lebih senang jika disodori peran tidak itu ke itu saja yang bisa membuat kita jemu", katanya. Dan seorang aktris lanjut bagi Mieke harus bisa dan mampu mewujudkan segala macam karakter yang dituntut oleh cerita dan jangan lupa membaca skenario berulang-ulang, dengan cara itu sering timbul ide-ide baru, baik dalam penggunaan dialog maupun nuansa akting. 

Hingga tahun 1983 banyak sudah penghargaan yang ia terima di berbagai event Festival Film, Sebagai The Best Actress 1963 pilihan para Wartawan di Jawa Timur untuk permainannya yagn cantik dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan",. Disamping itu mendapat penghargaan sebagai Pemain utama pada Pekan Apresiasi Film (1967) dalam film "Gadis Kerudung Putih". Disamping itu MIeke pernah pula meraih sebuah Penghargaan lain dalam pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1971) untuk permainannya dalam film "Malam Jahanam". Penghargaan sebagai Pemain Harapan Wanita kembali direbutnya pada pemilihan Best Actor & Actress PWI-Jaya (1972) untuk perannya dalam film "Akhir Cinta Diatas Bukit". Pada Festival Film Indonesia tahun 1975 yang dilangsungkan di Medan, Mieke pemperoleh penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Terbaik dalam film "Ranjang Pengantin" yang dibuat tahun 1974.


Wednesday, March 18, 2026

NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE


NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE (Berita Lawas). Butuh waktu sebulan lebih untuk menghayati perannya, Nani Wijaya masih harus membaca buku, mengamati kehidupan Keraton, melihat pertunjukkan kesenian dan nonton pertunjukkan wayang orang Sriwedari untuk bisa menyatu dengan tokoh yang dimainkan, Kanjeng Gusti Gusdini Suryo dalam film "Selamat Tinggal Jeanette".

"Inilah film terberat buat saya selama main film. Saya ditantang untuk bisa benar-benar menjadi wanita Kraton," ujar peraih Citra FFI 1978 lewat film Yang Muda Yang Bercinta. 

"Hambatan moral dan psikologis jelas ada. Tapi syukurlah sutingnya kebetulan di Kraton. Lokasi itu jelas sangat menolong saya, " tambah istri tokoh Sinematek Indonesia, H. Misbach Yusa Biran ini. 

"Saya memang berusaha sebisa mungkin untuk menyatu dengan Kraton. Menjadi wanita Kraton. Dan itu sangat berat," tuturnya Bayangkan Saja saya harus memerankan tokoh yang introvert. Tokoh yang pengetahuannya tentang dunia luar sangat terbatas. Sampai akhirnya saya harus menyerah karena saya tidak bisa mengatasi kenyataan yang terjadi, " katanya lagi. 

Dengan perannya yang seperti itu, Nani mengaku memang tidak terlalu optimis bakal tampil sebagai aktris peraih piala citra. Ia pun mengatakan tidak pesimis. "Mudah-mudahan saya deh yang meraih Citra tahun ini," katanya. Tapi tanpa citrapun saya sudah cukup senang karena orang-orang merasa puas denga permainan saya di film ini, " kilahnya. 

"Tapi kalau saya yang tampil sebagai peraih Citra, saya akan senang sekali. Soalnya saya merasa sudah bermain sebaik mungkin. Sayangnya saya tidak menyimak permainan rekan-rekan saya yang lain sih, ujarnya lagi. "Yang jelas banyak tantangan yagn aya hadapi dalam film ini. Termasuk beberapa isyarat yagn diberikan kerabat kraton agar tidak melakukan ini dan itu, cerita ibu lima anak ini. ~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988