Tuesday, July 7, 2026

CERITA FILM : TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT


TERTEMBAKNYA SEORANG RESIDIVIS BAGIAN EMPAT (Film Lawas). Gedung itu tak terlalu besar, namun perabotannya cukup mewah, lengkap dengan pesawat TV warna ukuran besar, video recorder, dan sofa mahal. Pemilik adalah seorang pedagang yang cukup sukses. 

Malam ini, seisi rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Dua anak asyik menonton video. Tuan Rumah membaca koran. 

Terdengar suara mobil berhenti dijalan. Menyusul dering bel pintu. 

Menoleh kearah isteri, si suami berseru, " Mah, mungkin Oom Jarwo, tadi aku janji sama dia, .

Si isteri bergegas membukakan pintu, seketika ternganga karena tamunya menodongkan pistol!. 

"Tenang, jangan ada yang berteriak kalau mau selamat, " Ancam Wawan sambil masuk diiringi dua kawannya, " Ikat mereka semua! Nyonya panggil pembantu Nyonya dengan lembut, ayo!".

Koming dan Adul dengan cepat mengikat tuan rumah dan anak-anaknya, membungkam mulut mereka dengan plester. 

Si Isteri ketakutan memanggil pembantu, "Yem, sini sebentar".

"Ya nyah, " terdengar sahutan dari dapur. 

Si Yem keluar membawa baki berisi sepiring manisan jambu. Demi melihat perampok-perampok yang sedagn mengangkat video, langsung menjerit ketakutan.  

Koming yang berdiri dekat pintu secara reflek membacokkan cluritnya ke leher si Yem. Darah muncrat. Si Yem roboh ke lantai dengan suara keras. Piringnya terbanting pecah. Manisan jamu berserakan bercampur dengan darah yang mengalir. 

Wawan yang tengah menggerayangi isi lemari dalam kamar, kaget sekali melihat pembunuhan ini. Langsung mengayunkan tangannya, menampar Koming, "Anjing Lu! umpatnya. 

Koming terjajar sempoyongan. 

Pemilik rumah dan anak-anaknya mengkeret ketakutan. 

"Tunggu, gua masukin mobil! cetus Wawan  bergegas mengangkut barang-barang rampokan mereka ke dalam mobil itu. Wawan tak menunggu lama, cepat meluncurkan mobilnya menuju ke Jalan lagi!. 

Malam itu juga, di dalam gudang di belakang sarang mereka, Wawan menghajar Koming dengan  tinjunya. Meskipun Koming biasanya sangat garang dengan brewoknya yang lebat, namun ia  sama sekali bukan lawan berarti bagi Wawan! jatuh bangun berulang kali. 

Wawan melemparkan clurit Koming yagn masih berlumur darah ke lantai. "Ambil clurit itu, ayo lawan gua!, tantangnya. 

Koming tak berani bergeming. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. 

Wawan mendekat dan melayangkan tendangan tepat masuk ke perut Koming hingga rampok kejam ini bergulingan. 

"Pengecut lu!" umpat Wawan. 

Adul, Hasan, Amin dan lain-lainnya lagi berebutan masuk ke gudang ini. 

Wawan memandang kearah mereka semua dan menantang, Ayo, kalau ada yang kagak terima sama gua, maju semua sekalian! Anjing! Gua udah bilang kagak pakai ngambil nyawa! Dalam kerja gua pantang ada pembunuhan, kita cuma perlu hartanya!" 

Tak seorangpun berani menyahut. 

Wawan makin meluap-luap. Ia menyambar leher baju Koming lalu kembali menghujaninya dengan tinju sampai meraung-raung kesakitan. 

"Kenapa elu langgar, babi? geram Wawan. Adul maju, berusaha melerai . "Cukup , Wan, elu juga nggak mau bunuh teman sendiri kan? Udah deh."

Wawan lunglai sendiri dipojokkan, bathinnya merintih. Koming yang ambruk cuma bisa menatap dengan mata menyiratkan dendam kesumat. 



No comments:

Post a Comment