Showing posts with label rachmat hidayat. Show all posts
Showing posts with label rachmat hidayat. Show all posts

Thursday, July 2, 2026

FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG


 FILM "POTRET" , PULANGNYA SI AYAH HILANG (film lawas). Buce Malawau sudah boleh diakui sebagai salah seorang sutradara muda berbakat dalam perfilman negeri kita. Karyanya memang masih bisa dihitung dengan jari. Dimulai dari debutnya "Gerhana" kemudian beruntum menggarap "Beri Aku Waktu", "Cinta Anak Jaman", "Tragedi Bintaro", "Ketika Dia Pergi" dan yang ke enam adalah "Potret".

Ciri khas dari kelima karyanya terdahulu, kecuali Cinta Anak Jaman , semuanya kurang mendapat sambutan dalam peredarannya. Sudah begitu lagi-lagi kecuali Cinta Anak Jaman yang membuahkan Piala Citra Aktor Pembantu Terbaik untuk Didi Petet, semuanya paling banter cuma sampai pada level unggulan belaka, untuk kandas dalam final setiap FFI. 

Apakah nasib yang sama bakal menghantui "Potret"? Yang jelas, kendati sudah masuk 8 unggulan termasuk sebagai calon film, sutradara dan aktor-aktrisnya dalam FFI 1991, toh akhirnya tak satupun Citra yang bisa diraih. 

Satu-satunya yang dimenangkan hanyalah Piala S Toetoer untuk Poster Terbaik. Padahal terus terang saja, poster garapan Gunawan Paggaru dan Adjie Mamat Borneo ini kelewat sangat bersahaja untuk ukuran sebuah poster film Indonesia. Sama sekali tak punya daya tarik komersial, tapi mungkin justru karena kesederhanaannya inilah Dewan Juri Poster yang diketuai Sukanto berbelashati untuk menganugerahi piala penggembira. 

"Potret" dibintang utamai Rachmat Hidayat yang sekali lagi menampilkan kualitas keaktorannya. Di dukung sebarisan pemain mulai dari Ully Artha, Asrul Zulmi, Nani Somanegara, Nani Vidya, Rondald Kansil dan Mega Sylvia, namun yang berhasil mencuri perhatian dengan gayanya yang rada urakan justru bintang muda Gusti Randa. Sebagai anak, ia seenaknya saja memanggil ayahnya tanpa sebutan 'Bapak' atau ' Papa', tak ubahnya seperti kawan saja, langsung menyebut nama. "Man, Herman!". Boleh di puji Gusti mamppu mengimbangi akting kawakn seperti Rachmat Hidayat dengan menarik. Sejak penampilannya film yang semula terasa berlarut-larut berubah menjadi segar dan riang. 

Patut di catat pula penampilan bintang-bintang tua seperti Ema Gangga, Laelasari, Menzano, Pak Tile dan sejumlah penghuni asli Panti Jompo betulan. Hampir separoh awal film memang berlokasi di Panti Jompo. 

AYAH YANG TERBUANG. Herman Kawilarang (Rachmat Hidayat) tua dan buta, memergoki istrinya yang masih muda usia, Lisa (Ully Artha), menyeleweng dengan Robin (Ronald Kansil). Sakit hati merasa disia-siakan, ia meninggalkan rumah. Tertatih-tatih ditampung di Panti Jompo. 

Pimpinan Panti Jompo (Sinta Muin) diam-diam mencari keluarga Herman lewat fam Kawilarang. Sampai ke Victor (Asrul Zulmi) yang nampaknya cukup sukses sebagai manager. Kendati mengenali ayahnya, namun ia menolak mengakuinya. 

Pasalnya, dulu Herman meninggalkan keluarganya untuk kawin lagi. Maka, Ibu (Nani Somanegara) dibantu si sulung Victor mencari nafkah dengan berjualan gado-gado, tapi dua adik Victor, Anton (Gusti Randa) dan Vina (Mega Sylvia), berbeda pendapat dengannya. 

Anton yang bekerja di bengkel, mengangkangi mobil yang di bawa Robin, karena mengenalinya sebagai milih ayahnya. Antonpun datang menjenguk ke panti jompo. Herman yang semula rada frustasi dan sering ribut dengan sesama penghuni Panti, bagai mendapat semangat baru dari anaknya ini. Anton malah mengajaknya ke kelab malam tempat Vina menyanyi. 

Kekerasan Victor mulai runtuh ketika isterinya (Nani Vidya) pun membela adik-adiknya. Bagaimana kalau ia kelak di perlakukan serupa oleh Andri, anaknya sendir?. Lewat dialog dengan ibu dan Anton, terungkap kalau dulu pun ibu pernah tersesat menjadi wanita penghibur sampai dikawini ayah. 

Klimaks terjadi di Pengadilan yang memutuskan perceraian antara Herman dengan Lisa. Perempuan yang menjadi isteri muda ini mengungkapkan segalanya. "Aku ditipu Herman yang mengaku duda kematian isteri, hingga bersedia menjadi isterinya, ".

Herman sama sekali tak membantah. Ia pasrah menerima segalanya. Dan ternyata ia masih bisa menikmati sisa hari tuanya dalam kedamaian, karena diterima kembali dalam keluarga. 

Ini cerita memang teasa serupa tapi tak sama dengan film "Ayahku (1987)" arahan Agus Elyas. Padahal film itupun digubah dari sandiwara zaman Jepang. "Chichi Kaeru". Untuk ini, dipembuka film Buce sudah berdalih lewat pesan!. "Tidak ada yang baru dibawah matahari, yang sekarang ada dulu sudah pernah ada". ~ sumber : MF 146/113/Th VIII, 1-14 Feb 1992

Saturday, March 7, 2026

BANDIT BANDIT FILM INDONESIA

 


BANDIT-BANDIT FILM INDONESIA. (Bahasan Lawas). Tukang per kosa, peram pok, pembuat onar, pengganggu rumahtangga orang, pembacking rumah pelacu ran, penculik anak gadis, lalu ber kelahi, main keroyok, gebrak-gebrak meja, akhirnya kalah, menyerah, bertobat atau mati sekalian. 

Itulah potret paling kentara dari sosok bandit-bandit dalam film Indonesia sejak dulu . Gambaran yang muncul selalu saja beringas pada awalnya, kemudian loyo dan kalah diakhir cerita. Biasa.

"Memang begitu. Masa ada sih bandit yang bisa jadi pemenang? Di luar negeri mungkin ada. Tapi di negara kita kan lain? kondisinya berbeda. Belum banyak masyarakat kita yang bisa menerima kemenangan bandit-bandit dalam sebuah cerita, " ujar Advent Bangun, bintang laga yang sering jadi bandit.  "Tapi masalahnya bukan itu. Bermain dengan peran antagonis. Semua harus total. Semuanya menuntut kemampuan, " tambahnya. 

Namun Advent menyadari, terus menerus bermain dalam peran bandit membuatnya sering kesal. "Efek psikologisnya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga saya memang ada. Tapi saya tidak bisa berbuat lain. Produser meminta dengan alasan para booker yang menuntut, padahal saya yakin bisa main tidak cuma jadi bandit ", tutur lawan main Barry Prima ini. "Memang istri saya pernah menjadi kurus ketika menonton film saya dimana saya melakukan adegan per kosaan, "tambahnya. Soalnya istri saya bukan dari kalangan orang film.  Orang batak lagi, wajar kalau ia menjadi shock. Tapi sekarang istri saya kayaknya sudah mulai ngerti, " kata Advent. 

Tapi Advent tidak sendiri. Banyak bandit-bandit lain dalam film Indonesia. Baik yang terus menerus kebagian peran bandit maupun yang satu dua kali menyelinginya sebagai hero. Ada Farouk Afero, Pong Harjatmo, Muni Cader, Harun Syarief, Hendra Cipta atau Soultan Salading, adalah beberapa nama yang akrab sebagai pemain antagonis dalam film-film Indonesia.

"Memang betul keberhasilan kita berperan sebagai bandit, sering membuat produser ketagihan dan terus menerus meminta kita main jadi bandit. Akibatnya memang terasa. Masyarakat ikut-ikutan antipati pada kita. Sosok kita sebagai bandit akhirnya mengental dalam diri mereka, " ujar Farouk Afero, bandit yang melonjak lewat film "Bernafas Dalam Lumpur" itu. Tapi sekarang masyarakat kita sudah maju. Mulai mengerti bahwa semua itu cuma dalam film. Saya akui efek psikologis memang ada. 

Beda dengan Advent dan Farouk, Harun Syarief mengaku tidak punya beban apa-apa. "Wong itu permintaan sutradara," katanya. Namun tak cuma itu yang membuat Harun tak merasa perlu menanggungkan dosa. "Saya ini bandit yang selalu bertobat. Dan itu meringankan beban saya, "ujar bintang yang akrab dengan drama panggung dan TV ini. Tapi Harun mengakui memang itdak enak terus menerus ditokohkan sebagai bandit. "Saya memang pernah main tidak sebagai bandit, tapi itu belum cukup untuk menghilangkan citra kebanditan saya. Sekalipun saya tahu masyarakat tidak pernah menggugat saya. 

Sama seperti ketiga bandit diatas, HIM Damsyik juga merasakan hal yang seperti itu. Cuma Damsyik agaknya lebih realistis. Sadar akan potensi yang dimilikinya, Damsyik mengaku sulit untuk memilih-milih peran begitu produser menyodorkan skenario kepadanya, "Sebenarnya saya sih kepingin sama seperti rekan-rekan yang lain, tapi imej penonton memang sudah terbentuk sedemikian rupa bahwa saya ini bandit. Melulu jadi tokoh antagonis, " ujarnya. 

Lalu apakah tidak ada gugatan dari keluarga? "Enggak juga. Saya sering ditanya teman-teman dan  saudara-saudara saya, kenapa mau memerankan tokoh itu. Dan saya berusaha keras menjelaskannya. Sampai mereka mengerti bahwa semua yang saya lakukan itu, hanya trick-trick kamera saja, " jawab Advent. "Kalau saya sih enggak punya anak. jadi enggak ada tuntutan macem-macem," tutur Harun Syarief pula. 

Kenyataan-kenyataan seperti itu, memang dihadapi oleh hampir semua bintang yang kerap kebagian peran antagonis. Pong Harjatmo, Soultan Salading, Muni Cader juga mengalami nasib yang sama. Sekalipun mereka menginginkan peran yang lain, menjadi hero misalnya, tapi imej yang sudah terbentuk seperti pengakuan mereka, sulit sekali di hapuskan. Meskipun mereka sendiri pernah menjadi tokoh baik-baik dalam beberapa film yang mereka bintangi. 

"Itulah yang selalu menuntut saya. Saya ingin tidak terus-terusan menjadi bayang-bayang Barry. Menjadi lawan Barry. Saya ingin tampil bukan sebagai tokoh antagonis. Tapi produser selalu saja menolak dengan alasan yang sama. Produser takut kalau saya yang jadi hero film tidak bakal laku Pahadal saya berani jamin, fans saya ini banyak. Mereka malah selalu mengirim surat pada saya kenapa sih saya enggak main  sebagai orang yang menang", Ujar Advent Bangun kesal. Dan kalau sekarang saya coba-coba kerjasama dengan Dedi Setiadi untuk main dalam drama TV, itu saya lakukan karena saya ingin sesuatu yang baru. Peran-peran yang tidak keras melulu, " katanya lagi. 

Kekerasan itu memang menjadi gambaran yang sangat identik dengan mereka, tokoh-tokoh antagonis ini. Muni Cader, Faouk Afero, Rachmat Hidayat, Hendra Cipta, Harun Syarief, dan Advent Bangun adalah bintang-bintang yang selalu menggebrak, memelototkan mata, menyandang sejata api atau menyelipkan senjata tajam di pinggangnya. Memang ada kekecualian. Damsyik atau Pong Harjatmo malah sama sekali tanpa wajah yang keras dan garang. Namun kesan sebagai bandit yang licik tak bisa mereka elakkan. Dan itu semuanya merupakan satu bangunan yang mempertebal sosok mereka dalam imej masyarakat. ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988