DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET, (Kabar lawas), Memasuki bulan Februari 1991, suting film "Saur Sepuh IV" dengan episode "Titisan Darah Biru" berlangsung di hutan belantara di Pangandara, Jawa Barat. Suting yang berlangsung siang dan malam didaerah cagar alam tersebut sungguh mengasyikan, selain Kijang, Banteng serta berbagai jenis burung, hidup pula segerombolan monyet, jumlahnya ribuan ekor dan memang binatang ini paling dominan.
Awalnya, bergaul dengan monyet-monyet itu cukup menyenangkan, mereka lucu-lucu dan bisa diajak bercanda. Tapi akibatnya monyet-monyet tersebut berani usil. Dasar monyet nakalnya pun timbul kendati para kru Saur Sepuh IV sudah ngajak "berdamai".
Udara yang cukup panas membuat para kru kegerahan, makin siang yang disiapkan ibu Ita dan bagian konsumsi sudah tersedia, tapi kru tetap menunggu aba-aba break dari sutradara Imam Tantowi. Begitu Imam teriak "break" para kru langsung menyerbu sayur asem yang masih ngebul itu. Sial, begitu penutup panci besar sayur asem dibuka, mengujur air dari atas pohon, posisinya tetpat masuk ke panci. Usut punya usut, si monyet badung yang kencing. Pantas, nggak ada hujan kok ada air ngucur dari atas, maka terpaksalah sayur asem satu panci besar di buang. Dasar Monyet.
Ulah monyet-monyet hutan lindung memang sudah kelewatan, bangunan, pertapaan Brama jadi sasaran. Kerja keras art Delsy berantakan, atap-atap bangunan dan bahan karen hitam mungkin disangka codot. Akibatnya begitu hujan turun bangunan kebanjiran sebab atapnya bocor....!.
Imam Tantowi sang sutradara dan William Samara - Kameraman penasara dengan ulah si monyet yang brutal. Tiap hari ada saja yang diambil, bila tidak gelas, piring ya peralatan lain, bahkan seringkali mengecohkan para kru, piringnya yang 'dicuri' itu dilempar dari atas dan pecah. Untuk menakut-nakuti para monyet, mereka membuat ketapel alias jepretan terbuat dari karet gelang. Maka mulailah perang melawan gerombolan monyet. Memang buat menakut-nakuti monyet kecil mereka berhasil tapi giliran monyet besar..justru sebaliknya monyet yang sebesar manusia itu balik menyerang. William yang semula gagah berani, jadi sasaran. Dia di kejar-kejar William kalang kabut menyelamatkan diri. "Busyet, ngeri gua habis yang nyerang dedengkotnya," kata William dengan nafas masih tersengal-sengal.
Partisipasi masyarakat Pangandaran dan sekitarnya untuk pembuatan film Saur Sepuh IV ini cukup besar. Hampir setiap hari mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan suting, tak peduli siang ataupun malam, panas terik ataupun hujan. Bukan cuma para pejalan kaki, tapi yang naik mobil omprengan atau berkendaraan motor cukup banyak. Bahkan dengan truk mereka datang dari Bandung, Ciamis dan Tasikmalaya. Untungnya pihak keamanan dari Koramil dan Polsek setempat cukup tanggap sehingga suting tetap berjalan lancar.
Yang menarik masyarakat rupanya Istana yang dibangun si Badrun dan stafnya. Karang Tirta yang biasa-biasa saja diubah menjadi bangunan Keputren, ada tamannya, ada bangunan desa Madangkara serta tembok istana setinggi 6 meter, bahkan gapura raksasa setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Persis ketika zaman baheula, ini rupanya yang menarik minat masyarakat.
Maka, sekejap Karang Tirta berubah menjadi seperti pasar malam. Banyak pedagang bergelar, mulai dari tukang rokok, bakso, buah-buahan bahkan warung nasipun ada.
Puncak dari lubernya masyarakat terjadi tanggal 23 Maret yaitu ketika terjadi pertarungan antara Bentar dan Dewi Harnum melawan dua iblis kecil yang diperankanoleh Wartono dan Mamat. Dua iblis ini dimodifikasi oleh El Badrun dan Delsy Sjamsyumar menjadi makhluk siluman, wajahnya hijau dan merah menyeramkan. Ketika terjadi pertarungan tak sedikit orang yang menjerit ngeri. Yang paling parah lagi, ada bocah yang saking takutnya akhirnya sawan, pingsan dan terpaksa dibawa ke Puskesmas.
~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

No comments:
Post a Comment