Showing posts with label titisan darah biru. Show all posts
Showing posts with label titisan darah biru. Show all posts

Wednesday, April 15, 2026

DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET

 


DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET, (Kabar lawas), Memasuki bulan Februari 1991, suting film "Saur Sepuh IV" dengan episode "Titisan Darah Biru" berlangsung di hutan belantara di Pangandara, Jawa Barat. Suting yang berlangsung siang dan malam didaerah cagar alam tersebut sungguh mengasyikan, selain Kijang, Banteng serta berbagai jenis burung, hidup pula segerombolan monyet, jumlahnya ribuan ekor dan memang binatang ini paling dominan. 

Awalnya, bergaul dengan monyet-monyet itu cukup menyenangkan, mereka lucu-lucu dan bisa diajak bercanda. Tapi akibatnya monyet-monyet tersebut berani usil. Dasar monyet nakalnya pun timbul kendati para kru Saur Sepuh IV sudah ngajak "berdamai".

Udara yang cukup panas membuat para kru kegerahan, makin siang yang disiapkan ibu Ita dan bagian konsumsi sudah tersedia, tapi kru tetap menunggu aba-aba break dari sutradara Imam Tantowi. Begitu Imam teriak "break" para kru langsung menyerbu sayur asem yang masih ngebul itu. Sial, begitu penutup panci besar sayur asem dibuka, mengujur air dari atas pohon, posisinya tetpat masuk ke panci. Usut punya usut, si monyet badung yang kencing. Pantas, nggak ada hujan kok ada air ngucur dari atas, maka terpaksalah sayur asem satu panci besar di buang. Dasar Monyet. 

Ulah monyet-monyet hutan lindung memang sudah kelewatan, bangunan, pertapaan Brama jadi sasaran. Kerja keras art Delsy berantakan, atap-atap bangunan dan bahan karen hitam mungkin disangka codot. Akibatnya begitu hujan turun bangunan kebanjiran sebab atapnya bocor....!.

Imam Tantowi sang sutradara dan William Samara - Kameraman penasara dengan ulah si monyet yang brutal. Tiap hari ada saja yang diambil, bila tidak gelas, piring ya peralatan lain, bahkan seringkali mengecohkan para kru, piringnya yang 'dicuri' itu dilempar dari atas dan pecah. Untuk menakut-nakuti para monyet, mereka membuat ketapel alias jepretan terbuat dari karet gelang. Maka mulailah perang melawan gerombolan monyet. Memang buat menakut-nakuti monyet kecil mereka berhasil tapi giliran monyet besar..justru sebaliknya monyet yang sebesar manusia itu balik menyerang. William yang semula gagah berani, jadi sasaran. Dia di kejar-kejar William kalang kabut menyelamatkan diri. "Busyet, ngeri gua habis yang nyerang dedengkotnya," kata William dengan nafas masih tersengal-sengal. 

Partisipasi masyarakat Pangandaran dan sekitarnya untuk pembuatan film Saur Sepuh IV ini cukup besar. Hampir setiap hari mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan suting, tak peduli siang ataupun malam, panas terik ataupun hujan. Bukan cuma para pejalan kaki, tapi yang naik mobil omprengan atau berkendaraan motor cukup banyak. Bahkan dengan truk mereka datang dari Bandung, Ciamis dan Tasikmalaya. Untungnya pihak keamanan dari Koramil dan Polsek setempat cukup tanggap sehingga suting tetap berjalan lancar. 

Yang menarik masyarakat rupanya Istana yang dibangun si Badrun dan stafnya. Karang Tirta yang biasa-biasa saja diubah menjadi bangunan Keputren, ada tamannya, ada bangunan desa Madangkara serta tembok istana setinggi 6 meter, bahkan gapura raksasa setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Persis ketika zaman baheula, ini rupanya yang menarik minat masyarakat. 

Maka, sekejap Karang Tirta berubah menjadi seperti pasar malam. Banyak pedagang bergelar, mulai dari tukang rokok, bakso, buah-buahan bahkan warung nasipun ada.

Puncak dari lubernya masyarakat terjadi tanggal 23 Maret yaitu ketika terjadi pertarungan antara Bentar dan Dewi Harnum melawan dua iblis kecil yang diperankanoleh Wartono dan Mamat. Dua iblis ini dimodifikasi oleh El Badrun dan Delsy Sjamsyumar menjadi makhluk siluman, wajahnya hijau dan merah menyeramkan. Ketika terjadi pertarungan tak sedikit orang yang menjerit ngeri. Yang paling parah lagi, ada bocah yang saking takutnya akhirnya sawan, pingsan dan terpaksa dibawa ke Puskesmas. 

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

Sunday, November 30, 2025

DEVI PERMATASARI, KABAR DUKA DAN BAHAGIA

 


Di saat isak tangis dan kesedihan menyelimuti keluarganya pada tanggal 30 Juli 1990, Dewi Fortuna tiba tiba datang saat kepergian Abdullah Musa, papa tercinta Devi Permatasari ke haribaanNya.

Singkat cerita via anak Djun Saptohadi yang orang film, Devi Permatasari, maka jadilah ia tokoh Garnis, kakak kandung Raden Bentar anak tiri Brama Kumbara raja dari kerajaan Madangkara yang dalam film saur Sepuh IV di perankan oleh Denny Porlen. Dalam film Saur Sepuh IV akan menumpas pemberontakan Dursila Cs. Bersama sutradara beken Imam Tantowi, Devi langsung mendapat peran utama dalam film Titisan Darah Biru. 

Sutingnya berlokasi di daerah Garut, Pangandaran dan Gresik. Devi, kelahiran Jakarta 11 Juni 1974, kontraknya pada PT. Kanta Indah Film selama satu tahun dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. 


~MF 120/88 TH. VII 2 - 15 Feb 1991

Thursday, November 27, 2025

ANAS ROIZAEN, MURID MANTILI


INILAH PEMERAN MURID MANTILI YANG BERSAMA GARNIS DALAM SAUR SEPUH 4. ANAS ROIZAEN, Pada jaman Sultan Agung dan Diponegoro  para pendekar bergabung menentang kolonial, para empu menciptakan ajang di Timur Tengah untuk menyalurkan para pendekar modern dengan senjata otomatisnya. Para pendekar di jaman kerajaan dulu , telah mewarisi sisa-sisa kepatriotan dan budaya. Silat adalah salah satu warisan budaya yang terus berkembang menjadi seni olahraga bela diri. Pendekar-pendekar silat tidak sedikit yang berangkat ke medan laga untuk menyalurkan lewat dunia film, Anas Roizaen adalah salah satu diantaranya. Pria asal Tegal ini berniat berlaga di film. Di Tegal, ia aktif di organisasi film club, selepas SMA dalam masa-masa pencarian jati dirinya ia sempat nongkron di IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon, itu terjadi pada tahun 1987, pada tahun yagn sama pula ia lari dari Sunan Gunung Jati dan mengeram di Pondok Pesantren Kadu Sumur Banten. Akan tetapi tidak lama kemudian kembali lagi ke Tegal dan memperkuat perguruan Silat Trenggani yang di pimpin oleh Benhur. 

Benhur sangat percaya pada bakat anaknya, maka Anas panggilan akrab yang bernama lengkap Mokhamad Nasucha bin Zaenudin Benhur ditugasi menjadi instruktur di perguruan Trenggani. 

Pertama kali bertemu dengan Ki Dalang Imam Tantowi pada acara Film Club di Jakarta. Pada tahun 1989 ia langsung bergabung dalam film "Pancasona" kemudian disusul dengan "Ajian Nyimas Gandasari" "Pertarungan" , "Saur Sepuh III dan berlaga di Saur Sepuh IV. Sampai dengan film kelima tersebut ia belum pernah mendapat kesempata untuk memegang peran utama , kecuali peran peran pembantu. 

Sesuai dengan nama aslinya Nasucha, ia tidak mau meninggalkan sholatnya dan dimana ada kesempatan ia selalu berusaha untuk membaca kitab suci Al Quran baik itu dirumah , masjid maupun di lokasi suting. Ia pernah mengalami kecelakaan kecil di lokasi suting, justru ketika ia hendak menjalani ibadah sholat. Di waktu subuh, ia terpeleset dan masuk kolam comberan, untung ada yang menolong sehingga ia cuma pingsan. Mungkin pagi itu masi cukup gelap sementara kabut menghalangi pemandangan di Sukabumi, sehingga ia tidak bisa melihat daerah yang rawan. Kali ini si jago silat tak bisa berkutik menghadapi comberan. 

"Ya jika mungkin saya ingin menjadi instruktur" tuturnya malu-malu . Anas setiap usai subuhan ia langsung berlatih silat secara rutin serutin sholat itu sendiri. "Menurut saya pesilat jika menjadi instruktur justru akan semakin maju, karena disana mau tidak mau dia dituntut mengembangkan jurus-jurus baru seperti layaknya kerja seorang koreografer", jelas Imam Tantowi. Barangkali itulah yang embuat ia semakin bergairah. 

~MF 120/88 Tahun VII 2 -15 Feb 1991

Saturday, March 2, 2024

SAUR SEPUH IV, TERAKHIR BUAT IMAM TANTOWI


 Serial sandiwara radio Saur Sepuh, yang sampai kini masih di gandrungi masyarakat. Barangkali memang masih akan setia hadir di tengah-tengah penggemarnya. Tapi Saur Sepuh yang juga sukses di layar putih, nampaknya akan berakhir setelah seri keempat di selesaikan Imam Tantowi. 

Lho kenapa? Tantowi sendiri sadar, memang lewat Saur Sepuh imaginasinya bisa tertuang tuntas. Lewat film itu pula namanya menjadi tenar, yang tentu saja diikuti rezeki. "Tapi, rasanya saya akan segera meninggalkan dunia film. Lalu, mengalihkan profesi", tukas sutradara asal kota Tegal, Jawa Tengah, yang kini sedang mempersiapkan Saur Sepuh IV, kepada Majalah Film. 

Yang di jadikan alasan untuk meninggalkan dunia film, di samping sedikit protes terhadap keadaan, juga rasa lelah setelah 8 tahun menjadi sutradara. Tentang protesnya, Towi panggilan akrabnya memang tak mau membeberkan. "Sekarang ini saya masih kerja di film. Kurang baik kalau protes itu di besar-besarkan!" kilah Towi memberi alasan. 

Tentang Saur Sepuh IV, yang katanya film terakhir, setidaknya keterlibatannya dengan PT, Kanta Indah Film, perusahaan yang selama ini memproduksi Saur Sepuh, kabarnya juga tidak melibatkan bebrapa bintang pendukung Saur Sepuh terdahulu, Elly Ermawati, Murtisaridewi, Fendy Pradana. "Dalam seri ini, ceritanya memang Mantili tak ada. Juga Lasmini, yang di mainkan Murti. Sedangkan Fendi Pradana memang mengundurkan diri karena kontraknya sudah habis!", jelas Towi. 

Ia juga jelaskan, rencana suting film "terakhirnya itu," katanya, akan mulai sekitar pertengahan Januari 1991. Lokasinya masih tetap di daerah Pangandaran, Jawa Barat. "Mudah mudahan, walaupun dengan pemain baru, yang selama ini belum banyak di kenal, tapi masih mendapat sambutan Masyarakat. Dulu, pemain-pemain yang kemudian tenar itupun, tak pula di kenal orang kecuali Elly lewat radio!" katanya. 


Demikian kutipan singkat tentang film Saur Sepuh terakhir yang di sutradarai oleh Imam Tantowi yang di ambil dari Majalah film No. 118/86 Tahun VII , 5 - 18 Januari 1991.